Kolegians: Law Review
ISSN: Vol. 1 No. 1, 2020
Menuju Hukum Indonesia yang Berdikari
Resanda Suranta GintingUniversitas Diponegoro, Indonesia Email: [email protected]
Abstrak
Rrtikel ini akan memberi telaah yang berisikan wacana pembaruan konsep Hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia baik dalam tataran konsep hingga praktiknya dalam masyarakat luas, dimana seharusnya hukum tidak hadir sebagai sarana belenggu masyarakat namun harus dekat dan hidup dalam masyarakat. Keterlibatan rakyat dalam berbagai agenda negara juga menjadi sebuah kewajiban mengingat konsepsi demokrasi sudah diikrarkan secara sungguh-sungguh dan konsekuen terutama saat Bangsa ini menginjakan kaki ke babak reformasi.
Keyword: Keterlibatan masyarakat, hokum adat, pembaharuan hukum
PENDAHULUAN
Eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum secara eksplisit dicantumkan dalam Konstitusi UUD NRI 1945 yakni dalam Pasal 1 ayat (3) yang berbunyi:“Negara Indonesia adalah negara hukum. Konsepsi Negara Hukum merupakan konsep yang berprinsip bahwa hukum diidealkan sebagai panglima dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dan suatu sistem hukum yang dianut oleh sebuah Negara tentu tidak dapat dilepaskan dari ideologi yang dianut oleh Bangsa dan Negara tersebut. Namun, konsepsi Negara Hukum Indonesia sendiri pada kenyataan nya masih tidak dapat lepas dari pengaruh pemikiran hukum dunia barat yang diantaranya adalah konsep Negara Hukum
Rechtsstaat dan Konsep Negara hukum The Rule of Law.
Konsep Negara Hukum Rechtsstaat berasal tradisi hukum Negara Eropa Kontinental yang menganut sistem Civil Law (Legisme) yang menganggap bahwa hukum adalah hukum tertulis, dan cenderung menekankan nilai ‘kepastian’ dalam implementasinya. Sedangkan konsep Negara Hukum the Rule of Law berasal dari tradisi negara-negara Anglo Saxon yang menganut sistem Common Law yang menganggap bahwa hukum adalah hukum tertulis dan tidak tertulis. Dalam Konsep ini, Putusan Hakim bahkan lebih dianggap sebagai hukum yang sesungguhnya daripada hukum tertulis, karena itu negara-negara yang menerapkan konsepsi ini cenderung menekankan implementasi hukum pada nilai keadilan.
Sebagai sebuah negara yang menjunjung tinggi supremasi hukum dalam kehidupan bernegaranya maka sejatinya Indonesia masih belum dapat dikatakan secara utuh memiliki karakteristik hukumnya sendiri, sistem hukum yang sekarang diimplementasikan belum sepenuhnya lepas dari pengaruh-pengaruh perkembangan pemikiran hukum modern ala barat yang dapat dilihat seperti masih berlakunya Burgerlijk Wetboek (KUH Perdata) atau Wetboek
van Koophandel voor Indonesie (KUH Dagang) dalam sistem hukum nasional dimana produk
–produk tersebut tak lain merupakan bekas peninggalan bangsa koloni dan tentu tidak dapat mencerminkan nilai – nilai asli Bangsa Indonesia dalam spektrum teori hingga praktik hukum dalam bermasyarakat.
Pada tahapan tertentu implementasi dari kerancuan sistem hukum yang berlaku ini juga memberikan berbagai dampak yang nihil dan tak jarang menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan serta keadilan dalam masyarakat. Ditambah lagi, dalam praktiknya penerapan hukum di Indonesia bersifat terlalu kaku dan mengarah kepada peraturan-peraturan tertulis yang tentunya
24
tidak dapat sepenuhnya menjawab keterbutuhan dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara mengingat Indonesia berdiri dengan berbagai keberagaman yang berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain nya.
Masa Reformasi sejatinya merupakan deklarasi Bangsa Indonesia untuk bertransformasi menuju kebaruan-kebaruan dalam berbagai bidang kehidupan tak terkecuali bidang hukum. Pembaruan ini semakin menjadi titik terang ketika Indonesia memutuskan untuk memasukan dan menerapkan konsep demokrasi dalam kegiatan bernegara dan pemerintah nya, cita – cita Bangsa yang tertuang dalam Pembukaan Konstitusi UUD NRI 1945 secara ideal harus senantiasa diwujudkan sebab secara langsung telah menjadi hak konstitusional bagi seluruh warga Negara . Maka sejatinya, dibutuhkan rumusan – rumusan serta berbagai agenda pembaruan dalam aspek hukum Indonesia agar senantiasa mampu mengakomodir kepentingan seluruh warga negara, serta tidak usang termakan zaman yang semakin dinamis dan kompleks dalam waktu-waktu ke depan. Berangkat dari latar belakang keadaan yang telah dijabarkan tersebut , maka artikel ini akan memberi telaah yang berisikan wacana pembaruan konsep Hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia baik dalam tataran konsep hingga praktiknya dalam masyarakat luas , dimana seharusnya hukum tidak hadir sebagai sarana belenggu masyarakat namun harus dekat dan hidup dalam masyarakat.
PEMBAHASAN
1. Negara Hukum yang Berlandaskan Pancasila
Pada dasarnya, hukum merupakan refleksi dari karakteristik masyarakat di tempat hukum itu berlaku, hukum berdiri setelah melewati proses kristalisasi nilai-nilai dari suatu bangsa maka oleh karena itu hukum yang baik adalah hukum yang berasal dan hidup di dalam masyarakat itu sendiri. Manusia selalu hidup bermasyarakat, dalam kehidupan bermasyarakat tidak ada satupun masyarakat yang tidak memiliki hukum. Hal ini didasarkan pada paradigma bahwa ketika invdividu membentuk suatu kelompok masyarakat, maka mereka membutuhkan aturan main (rule of the game), pedoman, tuntutan, pedoman dan petunjuk dalam segala tingkah laku masyarakat. Hubungan yang erat antara manusia, masyarakat, dengan hukum sesuai dengan pameo Romawi yang mengatakan ubi societas ibi ius (dimana ada masyarakat di situ ada hukum).
Dalam konteks masyarakat Indonesia, nilai – nilai yang secara otentik telah eksis di tengah – tengah kehidupan dalam proses yang panjang telah menyatu dan menjadi falsafah
(grondslag) bagi keberjalanan negara, yang selanjutnya dideklarasikan sebagai Pancasila.
Pancasila hadir sebagai ideologi atau pandangan hidup (weltanschauung) bangsa Indonesia yang dideklarasikan oleh founding fathers sesaat sebelum Negara ini menjadi negara yang merdeka.Pancasila sebagai miniatur karakter kepribadian Bangsa tentu memiliki sifat yang tidak sama dengan konsep-konsep hukum negara yang mayoritas memiliki basis ideologi dengan corak yang berbeda-beda pula.
Dengan basis ideologi individualisme dan liberalisme, timbulah sistem kapitalisme yang pada praktiknya menghisap, memeras, dan menindas sesama manusia yang lain melalui modal dalam aspek ekonomi sebagai senjata utamanya. Kapitalisme sebagai cikal bakal pemikiran yang menimbulkan praktik imperialisme sebab rasa tidak pernah puas dalam diri manusia akan selalu timbul dan ahirnya muncul keingininan untuk mengeksploitasi secara terus menerus dan begitu pula hal nya dengan antitesa dari berbagai ideologi dengan corak ‘kebebasan’ yakni ideologi-ideologi yang menempatkan negara dengan porsi kontrol berlebih untuk menciptakan keteraturan bermasyarakat seperti komunisme , fasisme dan lain sebagai nya yang tentu sangat bertolak belakang dengan kepribadian Bangsa Indonesia yang mengedepankan asas-asas kekeluargaan dan gotong royong.
25
Dalam era moderen dan globalisasi ini, seyogyanya suatu bangsa harus dapat bertahan dan menyesuaikan diri agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman termasuk dalam bidang pembangunan hukum. Berdirinya sistem hukum dengan fondasi yang kokoh merupakan sebuah hal wajib jika suatu negara tetap ingin mempertahankan eksistensinya bahkan terus bergerak menuju arah kemapanan. Di lain sisi, iklim persaingan dalam era moderen sudah berlangsung dalam bentuk-bentuk kemajuan teknologi informasi yang malah dijadikan peluru oleh bangsa-bangsa ‘maju’ untuk memperluas pengaruhnya terhadap negara-negara yang masih dalam tahap berkembang (negara dunia ke-3) dimana Indonesia terkategorikan di dalam nya dan tak jarang menimbulkan instabilitas bagi negara-negara berkembang sebagai wujud dari praktik imperialisme modern.
Ketika Indonesia tidak bisa secara tegas merumuskan dan mendeklarasikan pembaruan sistem hukumnya ditengah-tengah isu-isu globalisasi maka bukan tidak mungkin keberadaan NKRI menjadi terkesampingkan dan berimplikasi pada stagnasi pembangunan hukum. Reformasi hukum yang dapat dilakukan dengan memurnikan sistem dan konsepsi Negara hukum menjadi secara utuh berlandaskan pada Pancasila memberikan implikasi langsung pada berbagai aspek kehidupan Bangsa Indonesia agar kedepan dapat dilaksanakan pembangunan dengan koridor yang tepat yang sesuai dengan kepribadian masyarakat dan semata-mata untuk mensejahterakan rakyat Indonesia sendiri.
Penerapan sistem hukum yang murni berlandaskan Pancasila tentu akan merubah paradigma penegakan hukum secara mengakar dimana hukum Indonesia berpihak secara utuh terhadap seluruh warga Negara Indonesia dan menjadikan kepentingan rakyat sebagai batu landasan yang pertama dan terutama dalam setiap agenda penemuan hukum
( rechtsvinding).Pada bentuk dan tujuan yang paling mulia, adalah bahwa hukum Indonesia
tidak mudah digoyang dan diintervensi oleh pemikiran-pemikiran hukum lainya karena sejak awal sudah lahir dan dibesarkan sesuai dengan corak kemasyarakatan Bangsa Indonesia.
Menelaah lebih lanjut mengenai sistem hukum yang murni berlandaskan pada Pancasila maka corak hukum masyarakat asli Indonesia yakni hukum masyarakat adat harus secara lebih tegas dan konsekuen diakui dan diterapkan dalam berbagai aspek penegakan hukum, sebab sejatinya karakteristik orisinil tersebut terlebih-lebih mengacu pada hukum yang hidup dalam masyarakat (living law) baik dalam lingkup hukum adat dan hukum agama. Hukum yang hidup di masyarakat berupa hukum yang tidak tertulis seakan terabaikan dalam praktik-praktik teknis penegakan hukum dan cenderung terlalu berpaku dengan hukum yang bersifat tertulis, sehingga pengakuan living law hanya sebatas konsep teoritik namun secara de facto sangat sulit untuk ditemukan formulasi-formulasi yang tepat untuk menerapkan nya dalam masyarakat Indonesia terutama terlihat dalam agenda-agenda pengadilan.
Idealnya, hukum yang hidup dalam masyarakat ini seharusnya dapat terus berjalan dan beriringan dengan hukum tertulis yang ditetapkan secara hierarkis/berlapis-lapis dalam sistem hukum nasional. Namun bukan berarti keberadaan hukum positif di Indonesia dapat direduksi bahkan dihilangkan sebab hal tersebut merupakan konsekuensi dari spektrum moderenitas hukum. Tetapi hukum tertulis yang diimplementasikan dengan mengabaikan eksistensi living
law juga tidak dapat dibenarkan karena secara tidak sadar akan menghilangkan nilai-nilai
keadilan yang dianggap adil oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat yang berbudaya selalu menghasilkan hukumnya masing-masing, setiap masyarakat menghasilkan tipe dan jenis hukumnya sendiri dan setiap masyarakat selalu mencitrakan hukumnya sesuai dengan budaya kemasyarakatan masing-masing maka ketika kedua dimensi hukum ini dijalankan secara bersamaan diharapkan akan memenuhi hasrat-hasrat masyarakat untuk memperoleh keadilan dan kepastian hukum disaat yang bersamaan.
26
Mengutip dari Made Hendra Wijaya, bahwa konsep ciri-ciri negara hukum Pancasila di Indonesia memiliki indikator-indikator, yakni:1
a. Adanya Supremasi Hukum yang berlandaskan pada sila-sila Pancasila ;
b. Ber-Ketuhanan Yang Maha Esa dan menjamin kebebasan beragama dan kepercayaan ;
c. Menjungjung tinggi Equality, Dignity, Liberty, dan Hak-Hak Asasi Manusia ; d. Asas kekeluargaan dan kesatuan;
e. Demokrasi yang mufakat;
f. Adanya pemisahan kekuasaan antar lembaga; g. Check and Balances antar lembaga negara ; h. Peradilan yang bebas dan adil ;
i. Pengakuan terhadap hak warga negara dan adanya lembaga perlindungan hak-hak warga negara ; dan
j. Asas keterbukaan dalam mewujudkan tujuan negara.
Lebih jauh, keberadaan hukum yang hidup dalam masyarakat diakomodir secara tegas dalam Pasal 18B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, berbunyi:
“Negara mengakui dan mengormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakay dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Maka dalam agenda pembaruan hukum Indonesia di masa mendatang pengamalan
living law menjadi suatu agenda wajib dan harus senantiasa digaungkan dalam kehidupan
masyarakat Indonesia, sebab dengan menerapkan konsepsi living law secara tegas dan lugas merupakan salah satu upaya nyata untuk mengamalkan konsepsi hukum dengan landasan Pancasila dalam praktik serta bisa memberi kebermanfaatan bagi masyarakat dan hukum tidak dipandang lagi sebagai ujung mata pisau yang dapat menusuk warga negaranya secara serampangan namun dapat berlaku adil dan memfasilitasi seluruh warga negara yang semata-mata merupakan tujuan bernegara dalam Pembukan Konstitusi UUD NRI 1945.
2. Hukum Indonesia, Hukum yang Ber-kemanfaatan.
Penjajahan Belanda selama ratusan tahun di bumi Indonesia sejatinya meninggalkan bekas tentang bagaimana hukum dipandang dan diresapi untuk pada muara nya diimplementasikan di tengah-tengah masyarakat, tipikal negara penganut rechstaat mempengaruhi Indonesia dalam menganut mazhab hukum dalam praktik-praktik bidang hukum. Pada kenyataan nya penerapan hukum di Indonesia mayoritas bercorak tekstual atau terlalu bersandar pada peraturan –peraturan tertulis , hukum diartikan dengan terlalu baku sehingga pada beberapa momentum akan menimbulkan rasa ketidakadilan dan kurangnya kebermanfataan dari kehadiran hukum itu sendiri.Pada sistem hukum modern, keadilan (justice) sudah dianggap diberikan dengan membuat hukum positif (undang-undang). Dengan kata lain, keadilan yang akan ditegakkan ditentukan melalui hukum positif, Dalam konteks sosial kemasyarakatan, hubungan-hubungan dan tindakan pemerintah kepada warga negaranya didasarkan pada peraturan dan prosedur yang bersifat impersonal dan impartial.2
Dengan pemahaman hukum yang demikian sudah pasti penegakan hukum Indonesia
dalam berbagai hal dapat berlaku dengan ‘kejam’, dan menjadi momok yang menakutkan bagi
1 Hendra Wijaya,”Karakteristik Konsep Negara Hukum Pancasila”, Jurnal Advokasi. Vol. 5, No. 2, September 2015, Hlm. 212-213.
2 Satjipto Rahardjo, “Hukum dan Birokrasi”, Makalah pada diskusi Panel Hukum dan Pembangunan dalam Rangka Catur
27
masyarakat, hukum bukan lagi untuk membahagiakan masyarakat tetapi malah menyengsarakan masyarakat. Hukum gagal memberikan keadilan ditengah masyarakat. Supremasi hukum yang selama ini didengungkan hanyalah sebagai jargon tanpa makna. Di sisi lain, pemahaman hukum yang demikian dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mencapai tujuan nya dengan menggunakan hukum sebagai alat pemenuhan hasrat kepentingan-kepentingan tertentu sebab teks-teks hukum dapat dengan mudahnya dirangkai dengan permainan bahasa (language of game) yang dapat merugikan masyarakat-masyarakat kecil.
Berbagai kejadian memilukan pernah terjadi dalam berbagai praktik penegakan hukum di Indonesia, dimana masyarakat-masyarakat awam hukum ketika harus diperhadapkan dengan penegakan hukum malah berujung pada kekecewaan sebab diberikan sanksi yang tentu tidak sepenuhnya dapat dibenarkan dengan relevansi faktor-faktor yang ada. Salah satu kejadian yang masih membekas dari banyak kejadian serupa adalah ketika pada 19 November 2009, majelis hakim Pengadilan Negeri Purwokerto yang dipimpin Muslich Bambang Luqmono memvonis Mbok Minah 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan. Majelis hakim memutus Mbok Minah bersalah melanggar Pasal 362 KUHP tentang pencurian dimana pada intinya Mbok Minah dituduh mencuri 3 buah kakao seharga Rp. 30.000,00 diwilayah kebun sebuah perusahaan di dekat dia tinggal.
Hal yang terjadi ketika penegakan hukum hanya dilihat dari sisi normatif saja, kekeliruan dari upaya penegakan tersebut adalah bahwa hukum bukan lagi ditempatkan sebagai tujuan untuk menciptakan kebermanfataan bagi masyarakat dimana seharusnya hukum bisa melindungi masyarakat dari hal-hal seperti yang Mbok Minah lewati. Idealnya, dalam penegakan hukum di Indonesia pada masa – masa mendatang hukum tidak dapat berdiri sendiri, pada praktiknya hukum harus ditemani dan berjalan beriringan dengan disiplin ilmu-ilmu lain seperti sosiologis, antropologi, dan lain sebagainya. Mudahnya, penegakan hukum tidak bisa lepas dari nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat serta juga mengedepankan hati nurani hakim dan para penegak hukum lain nya agar dapat menemukan formulasi yang paling adil namun tetap menjalankan kepastian hukum dalam berbagai fenomena dimasyarakat.
Ketika kepastian hukum,keadilan dan kebermanfaatan dapat dirasakan oleh masyarakat luas maka sebenarnya disitulah letak keberhasilan bekerjanya hukum, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam agenda pembaruan hukum Indonesia di masa mendatang pengetahuan serta kesadaran untuk menggali hukum dari berbagai perspektif harus dimiliki oleh para penegak hukum , upaya-upaya ini juga mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam implementasi hukum sebab nilai-nilai kemanusiaan menjadi tolok ukur utama dalam basis pemikiran penegakan hukum. Ketika masyarakat memang berada dalam lingkup awam dalam konteks penegakan hukum, sejatinya hal ini menjadi tugas para penegak dan praktisi hukum untuk dapat mengambil peran aktif untuk menerangkan kebingungan-kebingungan yang ada ditengah-tengah masyarakat sebagai salah satu upaya pengamalan kebermanfataan hukum.
Selain dalam ranah penegakan hukum, upaya pembaruan sistem hukum nasional juga harus difikirkan dari arah hilir yakni pembuatan hukum yang digagas oleh para wakil rakyat sebagai representasi politik maupun representasi daerah di parlemen. Seperti halnya para penegak hukum, kesadaran hukum yang berbasis kemanusiaan juga sejatinya sangat butuh untuk diterapkan sebagai palang pintu bagi para legislator dalam merumuskan kebijakan, dengan harapan hasil dari kontemplasi yang demikian dapat sebesar-besarnya menyumbang kebermanfaatan untuk masyarakat. Sebagai representasi masyarakat maka sudah menjadi barang tentu seharusnya keberpihakan juga menuju kepada masyarakat. Jika menilik dalam waktu-waktu kebelakang dalam berbagai agenda legislasi kerap kali berbagai golongan masyarakat menyuarakan ketidaksetujuan terhadap produk-produk legislasi yang dicanangkan oleh para legislator.
Fenomena ini muncul bukan tanpa alasan , dalam hal ini masyarakat dari berbagai kalangan merasa kepentingan nya bukanlah menjadi yang terutama dalam berbagai produk
28
hukum yang dihasilkan , belum lagi permasalahan keterlibatan berupa sosialisasi peraturan kepada masyarakat luas nampaknya menjadi sedang hangat dalam berbagai agenda penysunan peraturan di waktu- waktu ke belakang. Maka, reorientasi hukum secara fundamental menjadi sebuah urgensi untuk ditanamkan dan membentuk mental para pelaku hukum di NKRI serta selain persoalan mental para pelaku hukum, pengamalan nilai-nilai demokrasi juga harus diperkuat dalam agenda pembaruan hukum di masa mendatang.
Agenda-agenda pembaruan hukum kedepan harus diawali dari basis pemikiran mengapa NKRI memasuki babak reformasi, implementasi demokrasi dalam seluruh aspek harus dikuatkan baik dalam lingkup pemerintahan melalui mekanisme check and balances dan terlebih lebih keterlibatan masyarakat dalam berbagai agenda berbangsa dan bernegara. Keterlibatan masyarakat dalam porsi besar dapat membantu pemerintah untuk menjaga keutuhan bangsa dan menjauhkan bangsa Indonesia dari potensi-potensi disintegrasi, sebab dengan gaungan reformasi mengartikan bahwa NKRI bersepakat bahwa negara diselenggarakan dari, oleh dan untuk rakyat. Serta dengan melibatkan masyarakat luas dalam pembangunan hukum berarti mempermudah tugas negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat sesuai cita-cita di Pembukaan Konstitusi, sebab rakyat adalah pihak yang paling mengetahui apa yang mereka butuhkan.
3. Amandemen Konstitusi UUD NRI 1945 Dalam Rangka Pembaruan Hukum
Konsitusi merupakan hukum yang paling tinggi kedudukan nya, maka tujuan yang ingin dicapain dengan keberlakuan nya sebuah konstitusi merupakan tujuan yang bermakna tertinggi pula. Maka pada dasarnya, Indonesia menganut supremasi konstitusi sebagai konsekuensi langsung dari keberadaan nya sebagai Negara hukum. Konstitusi Indonesia merupakan kandungan yang terdapat dalam Pancasila serta Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang merupakan naskah tertulis dasar Negara Indonesia sebagai satu kesatuan sistem konstituisional yang tidak dapat dipisahkan , yang merupakan produk dari hasil kesepakatan tertinggi sebuah bangsa.
Dalam sila keempat dari Pancasila yang berbunyi: Kerakyatan yang Dipimpin oleh
Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan mengandung nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Secara eksplisit menjelaskan bahwa perubahan pada naskah konstitusi dimungkinkan untuk dilaksanakan yaitu melalui lembaga perwakilan yang merupakan sebuah wujud keterwakilan suara rakyat. Hal ini memang terkadang dibutuhkan dengan meninjau kondisi-kondisi tertentu sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan zaman dengan tajuk ‘kemajuan’ yang masuk ke dalam hampir seluruh aspek kehidupan, menuntut konstitusi untuk selalu siap memayungi seluruh rakyat nya agar dapat secara mapan mempertahankan kehidupan bernegara. Naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengatur mengenai jalan yang harus diampuh untuk melakukan perubahan terhadap naskah konstitusi , yakni dalam Bab XVI , Pasal 37 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ;
a. Usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar dapat diagendakan dalam sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat apabila diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat.
b. Setiap usul-usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar diajukan secara tertulis dan ditunjukan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya.
c. Untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar, sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat dihadiri oleh sekurangkurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat.
29
d. Putusan untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar dilakukan dengan persetujuan sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat.
e. Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat dilakukan perubahan
Dapat dikatakan bahwa sejatinya perubahan konstitusi bukanlah sebuah hal yang tabu dan sangat dapat dilakukan, mengingat hukum harus selalu bergerak mengikuti kompleksitas dan relevansi berbagai permasalahan dalam masyarakat nya. Ketika ingin melakukan terobosan-terbosan dalam lingkup perbaikan terhadap bidang hukum di NKRI maka sejatinya harus dilakukan dari yang paling mendasar yakni Konstitusi UUD NRI 1945. Agenda amandemen konstitusi dilakukan pada sektor-sektor yang membutuhkan perhatian lebih agar dapat berkembang menuju ke arah yang lebih sempurna sebab secara konseptual konstitusi berisikan hal-hal dalam tataran ideal yakni pengejawantahan cita-cita bangsa Indonesia.
Ketika perubahan dari segi yang paling mendasar dapat dilakukan dengan mekanisme amandemen barulah selanjutnya agenda-agenda perubahan dan pembangunan yang bersifat lanjutan dapat dilakukan, sebab jika tidak dimulai secara mendasar maka perubahan-perubahan yang akan dilaksanakan tidak kokoh dan tidak bersifat fundamental. Amandemen konstitusi yang tepat sasaran dapat menunjang pertumbuhan iklim demokrasi dalam kehidupan bernegara, demokrasi tanpa hukum tidak akan terbangun dengan baik bahkan mungkin menimbulkan anarki, sebaliknya hukum tanpa sistem politik yang demokratis hanya akan menjadikan hukum yang statis dan represif, maka sebenarnya antara demokrasi dan hukum memiliki keterikatan antara satu dengan yang lain nya dan hubungan korelatif ini secara riil sesuai dengan arah pembentukan hukum yang sedang dicanangkan di dalam Negara Republik Indonesia
Dalam rangka mewujudkan tujuan negara, maka harus dapat terlaksananya agenda pembangunan hukum nasional. Hal ini sejalan dengan pemahaman bahwa, hukum adalah sarana untuk mewujudkan tujuan negara. Tujuan negara sendiri dapat di capai melalui hukum nasional yang ada, dengan tercapainya hukum nasional akan mempermudah langkah bangsa dalam mencapai tujuan negara. Sebagai sebuah konstitusi, Undang-Undang Dasar negara Republik Indonesia tahun 1945 merupakan dasar dari sumber hukum tertulis berupa Peraturan perundang-undangan yang berjiwa Pancasila sebagai patokan pembuatan produk hukum dibawahnya dan tak kalah penting agenda amandemen konstitusi kedepan juga harus memperhatikan eksistensi living law sehingga keduanya berjalan beriringan dan saling menopang dalam upaya Bangsa Indonesia mewujudkan sebuah sistem hukum yang dewasa dan mampu berdiri di kaki sendiri.
PENUTUP
Agenda pembaruan hukum Indonesia di masa depan haruslah direncanakan dengan sangat matang. Berbagai kekurangan dari implementasi bidang hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini harus dijadikan bahan dialektika untuk dapat menyusun suatu formulasi dengan orientasi yang baru. Perubahan yang paling mendasar dapat dilakukan adalah dengan mempertegas posisi dan bentuk hukum seperti apa yang paling sesuai dengan jiwa dan kepribadian Bangsa Indonesia. Nilai-nilai Pancasila menjadi hal yang sangat harus diijadikan bahan utama dalam tiap agenda pembangunan hukum di Indonesia, dan serta merta menjadi fondasi dalam bidang-bidang kehidupan lainnya.
Pembangunan hukum hendaknya dilihat secara utuh melalui pendekatan holistik, mengingat hukum bukan sekedar formalitas atau berurusan dengan soal-soal normatif semata, melainkan unsur kulturnya perlu mendapat perhatian lebih disamping struktur dan substansinya. Pembangunan hukum untuk masa mendatang, bukan semata-mata kepatuhan hukum semata, tetapi bagaimana hendaknya hukum benar-benar dapat mewujudkan keadilan dan kebermanfatan dalam masyarakat. Maka mental para pelaku hukum mulai dari ranah
30
pembuatan, eskekusi hingga penegakan harus benar-benar dibekali dengan kesadaran dan keberpihakan yang sama yakni dari, oleh, dan untuk rakyat. Keterlibatan rakyat dalam berbagai agenda negara juga menjadi sebuah kewajiban mengingat konsepsi demokrasi sudah diikrarkan secara sungguh-sungguh dan konsekuen terutama saat Bangsa ini menginjakan kaki ke babak reformasi.
DAFTAR PUSTAKA
Dey Ravena, “Wacana Konsep Hukum Progresif Dalam Penegakan Hukum di Indonesia” Jurnal Wawasan Hukum, Vol. 23 , No. 02 September 2010/
Hendra Wijaya, “Karakteristik Konsep Negara Hukum Pancasila”, Jurnal Advokasi, Vol. 5, No. 2, September 2015.
Maryanto, “Urgensi Pembaharuan Hukum Indonesia Berdasarkan Nilai-Nilai Pancasila”, Jurnal Hukum, Vol 25, No. 1, April 2011.
Muhammad Ridio, “Mbok Minah dan Catatan Hitam Peradilan di Hari Kehakiman”, liputan6.com, 1 Maret 2019. Diakses dari
https://www.liputan6.com/news/read/3901107/mbok-minah-dan-catatan-hitam-peradilan-di-hari-kehakiman pada 3 Agustus 2020 pukul 04.43
Satjipto Rahardjo, “Hukum dan Birokrasi”, Makalah pada diskusi Panel Hukum dan
Pembangunan dalam Rangka Catur Windu Fakultas Hukum UNDIP, Desember 1998, Hlm.
31 Biografi
Resanda Suranta Ginting, Lahir di Jambi tanggal 14 April 2000. Telah menyelesaikan studi pendidikan dasar di SD Mehodist 1 Medan pada tahun 2006-2012, lalu setelah nya melanjutkan pendidikan pada jenjang menengah di SMP Santo Thomas 1 Medan dengan sisitem pembelajaran akselerasi/percepatan selama 2 tahun pada tahun 2012-2014 dan selanjutnya menempuh pendidikan di SMA Santo Thomas 1 Medan hingga lulus pada tahun 2017.
Saat ini sedang menempuh masa studi di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro dan secara intens mengikuti kegiatan-kegiatan dalam lingkup kemahasiswaan seperti Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (BEM FH UNDIP), Organisasi kedaerahan dan berbagai wadah kegiatan kemahasiswaan lainnya.