UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN MASTER PADA PESERTA DIDIK KELAS IV
SDN 5 PAHANDUT PALANGKA RAYA TAHUN 2014/2015
SKRIPSI
Oleh
Heni Novita Sari
NPM. 11.23.12621UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PGSD
MARET 2015
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN MASTER PADA PESERTA DIDIK KELAS IV
SDN 5 PAHANDUT PALANGKA RAYA TAHUN 2014/2015
SKRIPSI
10.
Ditulis Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam mendapatkan gelar Sarjana pendidikan
Program Studi PGSD
Oleh
Heni Novita Sari
NPM. 11.23.12621penulis me
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PGSD
MARET 2015
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat karunia-NYA sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik yang berjudul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA Dengan Menerapkan Model Pembelajaran MASTER pada Peserta Didik Kelas IV SDN-5 Pahandut Palangka Raya Tahun 2014/2015”
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan bantuan berupa arahan dan motivasi selama penulisan skripsi. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada yang terhormat:
1. Drs.H. Bulkani, M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiya Palangkaraya.
2. Drs. M. Fatchurahman, M.Pd. M.Psi selaku Deakan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan.
3. Diplan M.Pd selaku Ka Prodi PGSD Universitas Muhammadiyah
Palangkaraya.
4. Drs. H. Supardi, M.Pd dan Aam Rifaldi Khunaifi M.Pd selaku dosen
pembimbing yang telah banyak membantu, mengarahkan, membimbing dan memberikan dorongan sehingga peneliti selesai studi.
5. Kepala Dinas pendidikan kota Palangka Raya, Kepala Cabang Dinas P dan K
Kecamatan Pahandut, Kepala sekolah dasar se Kota Palangka Raya, Orang tua dan para peserta didik sekolah dasar di Kota Palangka Raya yang telah
membatu kelancaran selama penelitian.
6. Teman-teman mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhamadiyah Palangka Raya, yang telah memberikan dukungan dan motivasi sehingga penelitan selesai studi.
Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak dapat mendapat pahala yang berlipat ganda dari Tuhan, dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Amin
Palangka Raya, April 2015
HENI NOVITA SARI
ii DAFTAR ISI Halaman PERNYATAAN ... i ABSTRAK ... ii ABSTRACT ... iii LEMBAR PERSEMBAHAN ... iv LEMBAR PERSETUJUAN ... v LEMBAR PENGESAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x DAFTAR GAMBAR ... xi BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Identifikasi Masalah ... 5 C. Pembatasan Masalah ... 5 D. Rumusan Masalah ... 6
E. Alternatif Pemecahan Masalah ... 6
F. Tujuan Penelitian ... 6
G. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II KAJIAN TEORI A. Analisis Teoretis... 8
1. Pengertian Hasil Belajar ... 8
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 9
3. Ilmu Pengetahuan Alam ... 11
a. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam ... 11
b. Tujuan Pembelajaran IPA ... 12
4. Model pembelajaran ... 13
a. Pengertian Model Pembelajaran ... 13
b. Ciri-ciri Model Pembelajaran ... 14
c. Kriteria Model Pembelajaran ... 16
d. Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Pembelajaran ... 16
e. Teori-Teori Belajar Modern Yang Melandasi Model Pembelajaran... 17
5. Model Pembelajaran MASTER ... 21
a. Pengertian Pembelajaran MASTER ... 21 viii
iii
1. Tahap-tahap Model Pembelajaran MASTER ... 24
2. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran MASTER ... 37
B. Penelitian Yang Relevan ... 38
C. Kerangka Berpikir ... 39
D. Hipotesis Tindakan... 41
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 43
A. Waktu dan Tempat Pengumpulan Data... 43
B. Jenis Penelitian ... 43
C. Kehadiran dan Peran Peneliti ... 46
D. Subjek Penelitian ... 46 E. Rancangan Penelitian ... 46 1. Perencanaan ... 47 2. Pelaksanaan Tindakan ... 48 3. Observasi ... 49 4. Refleksi ... 50
F. Teknik Pengumpulan Data ... 52
G. Teknik Analisis Data ... 57
H. Indikator Keberhasilan Penelitian ... 59
I. Jadwal Penelitian ... 60
BAB IV DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN ... 61
A. Deskripsi Data ... 61
B. Pengujian Hipotesis Tindakan ... 91
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 97
BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 100 B. Rekomendasi ... 101 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Subjek Penelitian ... 46
Tabel 2 Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Peserta Didik ... 53
Tabel 3 Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Guru ... 54
Tabel 4 Kisi-kisi Instrumen Pre Test ... 55
Tabel 5 Kisi-kisi Instrumen Post Test ... 56
Tabel 6 Kriteria N-Gain ... 58
Tabel 7 Jadwal Penelitian ... 60
Tabel 8 Data sebelum Penelitian (pre test) ... 62
Tabel 9 Rekapitulasi Hasil Lembar Guru dan Observasi Aktivitas Peserta Didik Dengan Menggunakan Model Pembelajaran MASTER ... 69
Tabel 10 Rekapitulasi observasi aktivitas peserta didik pada saat diskusi ... 74
Tabel 11 Data hasil post test peserta didik siklus I ... 75
Tabel 12 Rekapitulasi Hasil Lembar Observasi Aktivitas Guru dan Aktivitas Peserta Didik Dengan Menggunakan Model Pembelajaran MASTER 83 Tabel 13 Rekapitulasi observasi aktivitas peserta didik pada saat diskusi ... 87
Tabel 14 Data hasil post test peserta didik siklus II ... 89
Tabel 15 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Peserta Didik Dengan Menggunakan Model Pembelajaran MASTER ... 92
Tabel 16 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Peserta Didik Dengan Menggunakan Model Pembelajaran MASTER ... 92
Tabel 17 Data Sebelum Penelitian (Pre test) ... 94
Tabel 18 Data hasil post test Peserta didik siklus I ... 95
Tabel 19 Data hasil post test peserta didik siklus II ... 95
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Bagan Kerangka Berpikir ... 41 Gambar 2 Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ... 45
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan masalah yang selalu menarik untuk dibahas, sebab pendidikan merupakan salah satu bidang yang mendapat perhatian yang serius baik dari pemerintah, masyarakat maupun para ahli pendidikan dalam usaha merealisasikan pembangunan bangsa dan Negara. Melalui pendidikan manusia dapat meningkatkan serta mengembangkan kapasitas dirinya.
Secara umum tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan masyarakat. Seiring dengan hal tersebut, tujuan Pendidikan yang diamanatkan dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional dapat tercapai secara efektif. Adapun isi dari UU tersebut adalah:
Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Usaha untuk meningkatkan hal tersebut antara lain meliputi pendirian gedung sekolah baru, pengembangan sekolah terbuka, penambahan program pendidikan guru, pengembangan sanggar kegiatan belajar dan kursus
keterampilan sedangkan usaha lainnya adalah melalui usaha-usaha antara lain revisi kurikulum, pengadaan buku-buku pendidikan, penataran guru,
pengembangan media pembelajaran.
Melihat begitu penting peranan pendidikan bagi kehidupan maka setiap orang wajib memperoleh pendidikan yang layak, agar dapat
dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan terbagi atas beberapa disiplin ilmu seperti Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Ilmu Pengetahuan sosial (IPS), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan sebagainya. Dalam
memperoleh pendidikan telah terjadi proses pembelajaran, yaitu terjadi aktivitas belajar dan mengajar. Dalam kegiatan pembelajaran terjadi interaksi antara guru dengan peserta didik, dimana guru sebagai pengajar, pendidik atau orang yang memberi ilmu sedangkan peserta didik adalah orang yang
menuntut ilmu atau sebagai orang yang akan memperoleh ilmu.
Tugas utama seorang guru adalah mengelola proses belajar dan mengajar sehingga terjadi interaksi aktif antara guru peserta didik. Tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran itu tergantung pada guru yang
menyampaikan materi pembelajaran.
Diantara berbagai ilmu pendidikan yang dipelajari, IPA adalah salah satu ilmu pendidikan yang wajib dipelajari oleh peserta didik. Pentingnya IPA ini karena IPA merupakan konsep pembelajaran tentang alam dan mempunyai hubungan yang luas terkait dengan kehidupan manusia.
Salah satu contoh pembelajaran IPA yang mempunyai hubungan yang luas dengan kehidupan manusia, yaitu materi pembelajaran tentang gaya, materi ini dipelajari pada kelas IV Sekolah Dasar (SD) semester II. Tujuan dari pembelajaran tentang gaya ini adalah Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi gerak benda Pada dasarnya sebuah pelajaran tidak cukup
hanya dipelajari begitu saja, akan tetapi perlu dipahami, diterapkan, dianalisis dan dievaluasi, agar mutu dari pelajaran tersebut meningkat dan dapat
dimanfaatkan secara baik dan benar.
Berdasarkan hasil observasi penelitian pada peserta didik kelas IV di SDN-5 Pahandut Palangka Raya bahwa dalam kegiatan pembelajaran IPA interaksi antara guru dengan peserta didik kurang aktif. Hal ini dikarenakan peserta didik kurang memahami materi yang dijelaskan oleh guru, cara guru dalam mengajar terlalu monoton sehingga minat peserta didik untuk belajar sangat rendah sehingga menimbulkan masalah rendahnya hasil belajar IPA . Karena berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran (IPA yaitu 60, dibuktikan dengan hasil belajar IPA peserta didik pada kelas IV berjumlah 20 orang. Peserta didik yang mendapatkan nilai diatas 60 hanya berjumlah 7 orang (35%), berarti 13 orang peserta didik (65%) belum
mencapai kriteria ketuntasan minimal.
Peserta didik memperoleh hasil belajar rendah disebabkan oleh guru, karena sebenarnya peran peserta didik adalah belajar dan menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru. Kenapa disebabkan oleh guru, karena apabila dalam menyampaikan materi pembelajaran tidak menggunakan prosedur yang sistematis, akan menyebabkan materi itu kurang dipahami, apabila sudah kurang dipahami maka peserta didik tidak akan menyukai pembelajaran tersebut. Rendahnya pemahaman peserta didik bisa di karena cara guru dalam menyampaikan materi pembelajaran yang monoton.
Pembelajaran yang monoton dalam arti disini guru hanya selalu menjelaskan setiap menyampaikan materi pembelajaran tanpa memberikan contoh gambar ataupun contoh yang kongkrit atau melakukan praktek secara langsung terhadap materi yang disampaikan kepada peserta didik, dapat dikatakan pada pelaksanaan pembelajaran seperti itu guru hanya menerapkan model pembelajaran konvensional, model pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran yang diterapkan berpusat pada guru, memang model pembelajaran konvensional tidak harus ditinggalkan karena guru juga melakukan setidaknya pada awal proses pembelajaran berpusat pada guru, karena sebelum mengajar guru harus memusatkan perhatian peserta pada guru agar memperhatikan penjelasan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari, namun akan lebih baik apabila ada model pembelajaran yang dapat membuat interaksi yang aktif antara guru dengan peserta didik, artinya pada saat proses pembelajaran dilaksanakan tidak hanya berpusat pada satu arah.
Untuk itu seharusnya guru menerapkan model pembelajaran yang dapat membuat interaksi antara peserta didik dengan guru menjadi aktif, yang akan menunjang proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal dengan demikian hasil belajar peserta didik dapat meningkat menjadi lebih baik.
Seorang guru harus memiliki dan menerapkan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Adapun kelebihan dari model MASTER yaitu (a) partisipasi aktif dalam kelas, (b) manajemen kelas yang dicitrai oleh adanya rencana yang detail serta realitas yang disiplin
waktu dan tugas, (c) adanya kompetisi yang sehat, (d) menghargai kerja keras, (e) kemandirian akademis. Pentingnya diterapkan model pembelajaran karena model pembelajaran adalah prosedur pembelajaran yang sistematis untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran harus disesuaikan dengan topik materi yang akan dipelajari.
Sehubungan dengan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian, apakah dengan menerapkan model pembelajaran MASTER akan membuat peserta didik beraktivitas dengan aktif dan kreatif, sehingga lebih mempermudah untuk menumbuhkan minat peserta didik untuk belajar, sehingga hasil belajar mereka dapat meningkat, tercapai dengan maksimal sesuai yang di inginkan pada mata pelajaran IPA materi gaya, maka peneliti tertarik mengadakan penelitian dengan judul “ Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA dengan Menerapkan Model Pembelajaran MASTER pada Peserta Didik Kelas IV SDN-5 Pahandut Palangka Raya Tahun 2014/2015”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang maka identifikasi masalahnya adalah: 1. Minat peserta didik masih rendah dalam belajar.
2. Peserta didik kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. 3. Kegiatan pembelajaran kurang menarik.
4. Hasil belajar peserta didik masih rendah.
C. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari luasnya masalah yang diteliti, maka penulis memberikan batasan masalah sebagai berikut :
1. Mata pelajaran yang diteliti adalah mata IPA pada materi gaya. 2. Peserta didik kelas IV SDN-5 Pahandut Palangka Raya Tahun ajaran
2014/2015. D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana aktivitas belajar peserta didik kelas IV SDN-5 Pahandut Palangka Raya dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran MASTER tahun pelajaran 2014/2015?
2. Apakah ada peningkatan hasil belajar IPA pada peserta didik kelas IV SDN Palangka Raya dengan menerapkan model pembelajaran MASTER tahun pelajaran 2014/2015 ?
E.Alternatif Pemecahan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah maka alternatif pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk memperbaiki aktivitas peserta didik yaitu dengan menerapkan model pembelajaran MASTER.
2. Untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yaitu dengan menerapkan model pembelajaran MASTER.
F. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui aktivitas peserta didik kelas IV SDN-5 Pahandut Palangka Raya dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran MASTER.
2. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA peserta didik kelas IV SDN-5 Pahandut Palangka Raya dengan menerapkan model pembelajaran MASTER tahun pelajaran 2014/2015.
G. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai penerapan model pembelajaran MASTER pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
2. Manfaat praktis
a. Bagi Kepala Sekolah
1) Sebagai bahan supervisi terhadap guru yang mengajar khususnya pada pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran MASTER.
b. Bagi Guru
1) Untuk memperbaiki kinerja dalam mengajar di sekolah. 2) Sebagai masukan dan informasi tentang penerapan model
c. Bagi Peserta Didik
Dengan model pembelajaran MASTER dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik terutama pada mata pelajaran IPA
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Analisis Teoretis
1. Pengertian Hasil Belajar
Secara umum belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif di lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan pemahaman, keterampilan dan nilai perubahan sikap itu bersifat konstan dan membekas, dari kegiatan belajar ini maka diperoleh hasil, yaitu dinamakan dengan hasil belajar.
Hasil belajar mengacu pada perolehan hasil secara kuantitatif dan kualitatif secara keterlibatan mental, emosi dan sosial dari peserta didik dalam proses pembelajaran yang aktif.
Menurut Sudjana (2010: 22) “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajar”.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 10) “Hasil belajar
merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar”. Menurut Nasution, (dalam Normi, 2013: 21)”Hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan tetapi juga membentuk kepribadian individu itu sendiri”.
Menurut Gagne, (dalam Djiwandono 2006: 217) hasil belajar dimasukkan dalam lima kategori :
1. Informasi verbal. 2. Kemahiran intelektual. 3. Pengaturan kegiatan kognitif. 4. Sikap.
5. Keterampilan motorik.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh peserta didik setelah terjadinya proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh pendidik setiap selesai memberikan materi pelajaran pada suatu pokok bahasan.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan
beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yaitu faktor yang berasal dari dalam diri sendiri dan faktor yang berasal dari luar.
Menurut Dalyono (2010: 55) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut:
1) Faktor Internal (yang berasal dari dalam diri) a. Kesehatan
Kesehatan rohani dan jasmani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Bila seseorang selalu tidak sehat, sakit kepala, demam, pilek, batuk dan sebagainya, dapat mengakibatkan tidak bergairah untuk belajar. b. Intelegensi dan bakat
Kedua aspek kejiwaan (psikis) ini besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Seseorang yang memiliki intelegensi baik IQ-nya tinggi umumnya mudah belajar dan hasilnya cenderung baik.
c. Minat dan motivasi
Sebagaimana halnya dengan intelegensi dan bakat maka minat dan motivasi adalah dua aspek psikis yang juga besar pengaruhnya terhadap pencapaian prestasi belajar. Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan juga datang dari hati nurani. Sedangkan motivasi adalah daya penggerak atau pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan.
d. Cara belajar
Belajar tanpa memperhatikan teknik dan faktor fisiologis, psikologis, dan ilmu kesehatan, akan memperoleh hasil yang memuaskan.
2) Faktor Eksternal (yang berasal dari luar diri) a. Keluarga
Keluarga adalah ayah, ibu, dan anak-anak serta family yang menjadi penghuni rumah. Faktor orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan anak dalam belajar. Tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan, cukup atau kurangnya perhatian dan bimbingan orang tua, rukun atau tidaknya kedua orang tua, akrab tidaknya hubungan orang tua dengan anak, tenang atau tidaknya situasi di dalam rumah, semuanya itu turut mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak. b. Sekolah
Keadaan sekolah tempat belajar turut mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar. Kualitas pendidik, metode mengajar, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan fasilitas/perlengkapan di sekolah, keadaan ruangan, jumlah peserta didik per kelas, pelaksanaan tata tertib sekolah, dan sebagainya semua itu turut mempengaruhi keberhasilan belajar anak.
c. Masyarakat
Keadaan masyarakat juga menentukan prestasi belajar. Bila di sekitar tempat tinggal keadaan masyarakat terdiri dari orang-orang yang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik, hal itu akan mendorong anak lebih giat belajar.
d. Lingkungan sekitar
Keadaan lingkungan tempat tinggal juga sangat mempengaruhi prestasi belajar. Keadaan lingkungan, bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, iklim dan sebagainya.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa faktor
eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri peserta didik, sedangkan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri, kedua faktor tersebut dapat mempengaruhi hasil belajar merupakan hasil belajar peserta didik.
3. Ilmu Pengetahuan Alam
a. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari ilmu pengetahuan atau Sains yang berasal dari bahasa Inggris yaitu natural science adalah istilah yang digunakan merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum.
Menurut Trianto 2010: 136, pengertian IPA adalah sebagai berikut:
IPA adalah suatu kumpulan teori yang sistematis,
penerapannya secara umum terletak pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur dan sebagainya.
Menurut Fowler (dalam Trianto, 2010: 136)” IPA adalah pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan”.
Sedangkan menurut Dewiki dan Yunita (2006: 63)” IPA merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala di alam semesta, termasuk dimuka bumi ini sehingga berbentuk konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar alam”
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa IPA adalah ilmu pengetahuan yang erat hubungan dengan kehidupan
manusia dan alam sekitarnya, IPA juga merupakan ilmu yang membahas tentang fakta-fakta, konsep, prinsip dan teori ilmiah. b. Tujuan Pembelajaran IPA
Setiap pembelajaran jelas memiliki tujuan yang ingin dicapai, berikut akan diuraikan tujuan pembelajaran IPA:
Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2007:13), tujuan pembelajaran IPA di SD adalah sebagai berikut:
1. Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman
konsep-konsep IPA yang dapat bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki
alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan
segala keteraturannya sebagai ciptaan Tuhan.
7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan
IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTS.
Menurut Nasution (2007: 69), pengajaran IPA di SD bertujuan agar peserta didik dapat:
1. Memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan
kehidupan sehari-hari
2. Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda
3. Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerja sama dan mandiri.
4. Mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk
menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan
pembelajaran IPA adalah diharapkan menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan lingkungan sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.
4. Model Pembelajaran
a. Pengertian Model Pembelajaran
Pengertian model pembelajaran menurut, Joyce (dalam Trianto, 2007: 5),
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum, dan lain-lain. Setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Adapun Soekamto, dkk (dalam Trianto, 2007: 5)
mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah:”
Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar”.
Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak (dalam Trianto, 2007: 5) “bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengejar”.
Menurut, Arends (dalam Trianto, 2007: 5), pengertian model pembelajaran adalah
The term teaching model refers to a particular approach to instruction that includes its goals, syntax, environment, and management system. Istilah model pengajaran mengarah pada
suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungannya, dan sistem pengelolaannya.
Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur. Model pengajaran
mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu pedoman yang memiliki langkah-langkah dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran. b. Ciri-ciri Model Pembelajaran
1. Rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya;
2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai);
3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil: dan
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai
a. Istilah model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh.
b. Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks, (pola utamanya) dan sifat lingkungan belajarnya
c. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran tertentu menunjukan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh pendidik atau pendidik. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model
pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama. Contoh, setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian peserta didik dan memotivasi peserta didik agar terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap model
pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pelajaran, di dalamnya meliputi kegiatan merangkum pokok-pokok
pelajaran yang dilakukan oleh peserta didik dengan bimbingan guru.
d. Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan belajar yang sedikit berbeda.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran memiliki empat ciri yaitu, rasional, memiliki landasan, ada kegiatan, dan ada langkah-langkahnya.
c. Kriteria Model Pembelajaran
1. Sahih (valid), aspek validitas dikaitkan dengan dua hal yaitu:
a. Apakah model yang dikembangkan didasarkan pada rasional
teoretik yang kuat.
b. Apakah terdapat konsistensi internal.
2. Praktis, aspek kepraktisan hanya dapat dipenuhi jika:
a. Para ahli dan praktisi menyatakan bahwa apa yang dikembangkan tersebut dapat diterapkan
3. Efektif, berkaitan dengan aspek efektivitas ini, Nieveen (dalam Trianto, 2007: 11) memberikan parameter sebagai berikut:
a) Ahli dan praktisi berdasar pengalamannya menyatakan bahwa model tersebut efektif.
b) Secara operasional model tersebut memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.
Berdasarkan uraian di atas dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kriteria dalam memilih model pembelajaran meliputi tiga komponen yaitu, valid, praktis, dan efektif untuk diterapkan. d. Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Pembelajaran
Menurut Rusman (2013: 133)
1. Pertimbangan terhadap tujuan yang hendak dicapai.
2. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran.
3. Pertimbangan dari sudut peserta didik. 4. Pertimbangan lain yang bersifat nonteknis.
Dalam mengajarkan suatu pokok bahasan (materi) tertentu harus dipilih model pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Oleh karena itu, dalam memilih suatu model pembelajaran harus memiliki pertimbangan-pertimbangan. Misalnya materi pelajaran, tingkat perkembangan kognitif peserta didik, dan sarana atau fasilitas yang tersedia, sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Selain model tersebut di atas dalam melaksanakan pembelajaran berbasis kompetensi, dikembangkan pula model pembelajaran seperti
learning strategis (strategi-strategi belajar), pembelajaran berbasis inquiry, active learning, quantum learning, dan masih banyak lagi model-model
lain yang semuanya dapat digunakan untuk memperkaya pelaksana pembelajaran berbasis kompetensi di kelas.
Dari uraian di atas dengan demikian merupakan hal yang sangat penting bagi para pengajar untuk mempelajari dan menambah wawasan tentang model pembelajaran yang telah diketahui. Karena dengan menguasai beberapa model pembelajaran, maka seorang guru akan merasakan adanya kemudahan di dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan tuntas sesuai yang diharapkan.
e. Teori-teori Belajar Modern yang Melandasi Model Pembelajaran
Teori belajar pada dasarnya merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana informasi diproses di dalam
pikiran peserta didik itu. Berdasarkan suatu teori belajar, diharapkan suatu pembelajaran diharapkan dapat lebih meningkatkan perolehan peserta didik sebagai hasil belajar menurut Gagne, (dalam Trianto, 2007: 12)
Untuk terjadinya belajar pada diri peserta didik diperlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun kondisi eksternal. Kondisi
internal merupakan peningkatan memori peserta didik sebagai hasil
belajar terdahulu. Memori peserta didik yang terdahulu merupakan komponen kemampuan yang baru ditempatkannya bersama-sama.
Kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau
ditata dalam suatu pembelajaran. Sebagai hasil belajar (learning
outcomes).
Menurut, Gagne (dalam Trianto, 2007: 12) “lebih lanjut
menekankan pentingnya kondisi internal dan kondisi eksternal dalam suatu pembelajaran, agar peserta didik memperoleh hasil belajar yang
diharapkan”.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, sebaiknya memperhatikan atau menata pembelajaran yang memungkinkan mengaktifkan memori peserta didik yang sesuai agar informasi yang baru dapat dipahaminya. Kondisi eksternal bertujuan antara lain merangsang ingatan peserta didik, penginformasian tujuan pembelajaran, membimbing belajar materi yang baru, memberikan kesempatan kepada peserta didik menghubungkannya dengan informasi baru.
a) Teori Belajar Konstruktivisme
Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan dikelompokkan dalam teori pembelajaran konstruktivis (constructivist theories of
Teori konstruktivis (dalam Trianto, 2007: 13) “menyatakan bahwa peserta didik harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan itu tidak lagi sesuai”.
Bagi peserta didik agar benar-benar memahami dan dapat
menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Teori ini berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori pemprosesan informasi.
b) Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh
manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan. Pengetahuan datang dari tindakan anak. Pengalaman-pengalaman fisik dan
manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan
perkembangan. Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis.
Menurut Piaget, (dalam Trianto, 2007: 14) “setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru dilahirkan sampai menginjak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif”.
Menurut Piaget, (dalam Trianto, 2007: 14) “perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya”.
Berikut ini adalah implikasi penting dalam model pembelajaran dari teori Piaget (dalam Trianto, 2007: 14)
a. Memusatkan perhatian pada berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya. Di samping kebenaran jawaban peserta didik, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut. (Bandingkan dengan teori belajar perilaku yang hanya memusatkan perhatian kepada hasilnya, kebenaran jawaban, atau perilaku peserta didik yang dapat diamati). Pengamatan belajar yang sesuai dikembangkan dengan memperhatikan tahap kognitif peserta didik yang mutakhir, dan jika pendidik penuh perhatian terhadap metode yang digunakan peserta didik untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan pendidik berada dalam posisi memberikan pengalaman sesuai dengan yang dimaksud.
b. Memperhatikan peranan pelik dari inisiatif anak sendiri, keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Di dalam kelas Piaget, penyajian pengetahuan jadi (ready-made) tidak mendapat penekanan, melainkan anak didorong menemukan sendiri pengetahuan itu (discovery maupun inquiry) melalui interaksi spontan dengan lingkungannya. Sebab itu pendidik dituntut mempersiapkan berbagai kegiatan yang
memungkinkan anak melakukan kegiatan secara langsung dengan dunia fisik.
c. Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh peserta didik tumbuh melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan yang berbeda. Sebab itu
pendidik mampu melakukan upaya untuk mengatur kegiatan kelas dalam bentuk kelompok kecil dari pada bentuk kelas yang utuh.
Implikasi dalam proses pembelajaran adalah saat guru
memperkenalkan informasi yang melibatkan informasi yang melibatkan peserta didik menggunakan konsep-konsep, memberikan waktu yang
cukup untuk menemukan ide-ide dengan menggunakan pola-pola berpikir formal. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan model
pembelajaran adalah pedoman untuk melaksanakan kegiatan
pembelajaran. Dimana di dalam model pembelajaran terdapat langkah-langkah melaksanakan kegiatan pembelajaran, cara menggunakan media pembelajaran, serta strategi atau pun metode apa yang cocok untuk digunakan pada mata pelajaran yang akan dipelajari.
5. Pengertian Model Pembelajaran MASTER
Guru adalah anggota masyarakat yang sangat berjasa. Ia memilih membimbing tunas-tunas muda lebih dari sekedar mengajar. Ia merancang sesuatu pemikiran cemerlang bertindak dan memecahkan persoalan yang relevan.
Menurut Nggermanto, 2005: 159
MASTER merupakan akronim dari enam tahap pembelajaran yang efektif yang terdiri dari Motivate Your Mind (tumbuhkan
motivasi), Acquiring the Information (kumpulkan informasi),
Searching Out the Meaning (temukan makna), Triggering the Memory (kuncilah fakta dalam memori), Exhibiting What You Know (tunjukkan kepada orang lain) dan Reflecting on How You’ve Learned (merefleksikan bagaimana anda belajar).
Berdasarkan pengertian di atas, maka MASTER dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran yang terdiri dari enam tahapan efektif yang dapat membantu seseorang lebih mudah dalam memperoleh
informasi dan mengingat informasi tersebut.
Pengertian model pembelajaran MASTER menurut Rose dan Nicholl (dalam Rusman, 2013: 374), MASTER, yaitu para pembelajar
mulai menyadari bahwa bukan sesuatu yang dilakukan untuk pembelajar hanya pembelajar yang dapat melakukannya. Model ini meluputi Mind, artinya mendapatkan keadaan pikiran yang benar dengan menjelaskan kepada pembelajar tentang kerja otak dan gaya belajar dengan cara melihat relevansi, memvisualisasikan hasil yang bermutu, memberi peserta didik kontrol diri, menciptakan moto kelas, dan melibatkan orang tua, Aquire, artinya memperoleh informasi yang terdiri dari gagasan inti, Search Out, mencari makna melalui pembimbing mereka, membantu membuat kerangka visual pemikiran mereka berpikir mendalam dan melibatkan kecerdasan kinestetik dengan cara imajinasi terbimbing, pertanyaan menantang, dan belajar interpersonal. Trigger, artinya memicu memori.
Exhibit, memamerkan apa yang diketahui melalui teknik tantanganlah
persaingan, penilaian personal, catatan prestasi, dan nilai. Reflect, artinya merefleksikan cara belajar.
Berpijak pada kondisi-kondisi faktual di atas, beberapa gagasan berikut akan memulai suatu jalan yang panjang menuju terwujudnya suatu masyarakat pembelajaran yang ideal untuk abad ke-12, yaitu.
1. Komitmen pada belajar, bagaimana belajar, dan menjadi analis kreatif dan kritis.
2. Memberikan perhatian sungguh pada pendidikan prasekolah,
3. Kekuatan orang tua paling utama, 4. Menggunakan teknologi baru,
6. Mengoperasikan sekolah berbasis otak, 7. Melibatkan anggota masyarakat,
8. Memodernisasikan kurikulum, dan
9. Mengubah sistem ujian. Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan abad ke
21, secara lebih eksplisit ditekankan pada pengembangan
kenyamanan/kenikmatan pembelajaran serta penggunaan ilmu
pengetahuan.
1. Tahap-Tahap Model Pembelajaran MASTER
Menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, 2006: 383 Menyimpulkan bahwa pembelajaran efektif melibatkan enam tahap. Enam tahap ini dapat disimpulkan oleh akronim MASTER yaitu,
Motivate Your Mind (tumbuhkan motivasi), Acquiring the Information (kumpulkan informasi) Acquiring the Information
(kumpulkan informasi), Triggering the Memory (kuncilah fakta dalam memori), Exhibiting What You Know (tunjukkan kepada orang lain) dan Reflecting on How You’ve Learned
(merefleksikan bagaimana anda belajar).
Adapun uraian tahapan tersebut adalah sebagai berikut: a. Motivate Your Mind (tumbuhkan motivasi)
Perasaan tentang belajar sangatlah penting, Jika merasa senang dengan kemampuan belajarnya. Pada bagian pertama ini berisi berbagai ide yang akan menguatkan dan mengembangkan kepercayaan diri, akan tetapi banyak orang yang tidak percaya diri sebagai pelajar. Jadi penting sekali untuk mengetahui cara
membuat mereka mengerti bahwa mereka tidak perlu terjebak pada perasaan tersebut.
Dalam memotivasi pikiran maka seseorang harus berada dalam keadaan pikiran yang “kaya akal”, itu berarti harus dalam keadaan relaks, percaya diri dan termotivasi. Jika mengalami stress atau kurang percaya diri atau tidak dapat melihat manfaat dari sesuatu yang dipelajari, maka ia tidak akan bisa belajar dengan baik. Memiliki sikap yang benar terhadap belajar tentang sesuatu adalah persyaratan mutlak. Seseorang harus mempunyai keinginan untuk memperoleh keterampilan atau pengetahuan baru, harus percaya bahwa dirinya betul-betul mampu belajar dan bahwa informasi yang didapatkan akan mempunyai dampak yang
bermakna bagi kehidupannya. Jika belajar hanya dianggap sebagai tugas belaka, maka besar kemungkinannya akan mengalami kegagalan. Maka dari itu, sebagai langkah penting pertama untuk memulai proses belajar, harus dapat menentukan AGB (apa gunanya bagiku?) menanyai diri sendiri, memperdebatkan
informasi yang ada, menanyai diri sendiri dengan mempertanyakan seperti “apakah ini benar? apakah ini dapat dimengerti?” adalah bagian-bagian yang esensial dari proses belajar, karena
pertanyaanpertanyaan tersebut dapat menjaga fokus perhatikan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar dapat menimbulkan perasaan atau pikiran yang kaya akal tentang belajar.
1) Perasaan dan keyakinan diri
Keyakinan diri dapat berhasil dibentuk di otak tengah emosional dengan penggambaran yang jelas. Dan penggambaran tersebut tidak membedakan antara pengalaman yang benar-benar terjadi di dunia nyata dan pengalaman yang dibayangkan secara jelas di dalam pikiran.
2) Seperti apa rasanya sukses
Momen pengalaman kesuksesan, keunggulan, kepuasan batin merupakan daya kuat yang dapat dibangkitkan kembali. Kenangan akan momen ini, jika dimunculkan berkali-kali, akan memicu kembali munculnya perasaan kehebatan yang sama dalam diri. Karena ingatan akan momen itu dan perasaan yang
menyertainya tidak bisa dipisahkan. Ingatan ini adalah stimulus, perasaan saat mengalaminya adalah responnya.
3) Peneguhan positif
Peneguhan adalah pernyataan positif yang mengungkapkan apa yang dipilih untuk dicapai. Contoh: saya pembelajar yang percaya diri. Peneguhan tidak perlu sudah terjadi, justru waktu untuk menggunakan peneguhan positif adalah ketika sedang mencoba mencapai sesuatu. Pertama peneguhan menggambarkan diri kita seperti yang diingginkan, lalu ucapkan peneguhan ini dalam hati atau keras-keras secara berulang-ulang. Peneguhan ini
akan mempengaruhi pikiran dan perilaku, dan semakin lama semakin terasa benar.
4) Fokus yang tenang
Ada beberapa cara yang akan membantu belajar lebih baik dengan menciptakan fokus yang tenang, antara lain :
1. Perhatikan suara batin 2. Ubahlah posisi
3. Memaksimalkan oksigen di tubuh
4. Ganti pikiran negatif dengan peneguhan. 5. Tetapkan dan tuliskan tujuan
Memutuskan untuk mempelajari sesuatu pastilah penting, tapi jauh lebih penting untuk benar-benar mengetahui alasan mengapa mempelajarinya, apa manfaatnya dan tujuannya. Jika telah dipikirkan matang-matang tujuannya dan tidak ragu-ragu, maka tulislah di atas kertas. Maka sasarannya akan terlihat lebih nyata dan konkrit.
b. Acquiring the Information (kumpulkan informasi)
Dalam belajar seseorang perlu mengambil, memperoleh dan menyerap fakta dasar materi pelajaran yang dipelajari melalui cara yang paling sesuai dengan pembelajaran inderawi yang disukai. walaupun ada sejumlah strategi belajar yang harus di implementasikan oleh setiap orang. Tetapi juga ada perbedaan pokok sejauh mana seseorang perlu melihat, mendengar atau melibatkan diri secara fisik dalam proses
belajar. Dengan mengidentifikasi kekuatan visual, auditori dan kinestetik, maka seseorang akan dapat memainkan berbagai strategi yang menjadikan pemerolehan informasi lebih muda dari pada sebelumnya.
Menurut Colin dan Malcom (dalam Iwan Sugianto 2004: 75) Ada beberapa strategi yang ditawarkan oleh Colin dan Malco dalam memperoleh informasi lebih mudah dari pada sebelumnya, yaitu
1. Gagasan inti, setiap materi pelajaran pasti memiliki gagasan inti (gagasan pokok) masing-masing. Jika seorang peserta didk telah mengetahui gagasan inti maka hal-hal yang lainnya akan segera dimengerti oleh siswa kemudian siswa bisa
menambahkan konsep yang intinya telah dipahami.
2. Membuat sketsa dari hal yang sudah diketahui, dalam memulai proses belajar perlu membuat beberapa catatan tentang apa yang telah diketahui yang berkaitan dengan apa yang akan dipelajari. Pertama-tama anda mencatat apa yang telah diketahui, barulah kemudian mencatat apa saja yang
dibutuhkan untuk menemukan lebih banyak informasi yang berkaitan dengannya. Ini akan mendorong untuk mulai
merumuskan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran, kemudian mulai mencari jawaban-jawaban dan akhirnya akan melibatkan sepenuhnya seseorang dalam proses belajarnya.
3. Pecahkan menjadi langkah-langkah kecil. Filosof Cina, Leo Tzu pernah berkata :”perjalanan seribu kilometer dimulai dari satu langkah kecil”. Betapapun menakutkannya suatu tugas yang tampak dapat dipecahkan dengan rencana sederhana langkah demi langkah. Banyak pelajar yang gagal sebelum memulai belajar karena merasa apa yang sedang dilakukan sangat membebani, untuk mengatasi hal ini adalah dengan memecah apa yang sedang dipelajari ke dalam bagian-bagian kecil. Dengan mendapatkan informasi bagian per bagian akan memperoleh sukses kecil yang berkesinambungan tanpa tekanan mental.
4. Tetap berminat – Ajukan pertanyaan. Dengan mempertanyakan
terus apa yang belum diketahui akan membuat pikiran tetap fokus, dengan mencari dan menentukan jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan yang disusun akan menjaga ketertarikan terhadap materi yang dipelajari.
5. Belajar multi indrawi. Jika sedang mempelajari hal baru, pada dasarnya itu berarti memasukkan informasi dari luar. Jadi baik membaca, mendengarkan, menyaksikan maupun melakukan, semuanya menggunakan indra. Oleh karena itu salah satu aspek gaya belajar pribadi adalah kesukaan seseorang terhadap
belajar visual, auditori atau fisik (kinestetik), namun idealnya anda memfokuskan semua indra ke tugas belajar tersebut. 6. Peta belajar. Peta belajar merupakan teknik meringkas materi
pelajaran yang akan dipelajari dan memproyeksikan masalah yang dihadapi dalam bentuk peta atau teknik grafik sehingga lebih mudah memahaminya. Pemetaan belajar merupakan teknik visualisasi verbal ke dalam gambar. Peta belajar sangat bermanfaat untuk memahami materi yang diberikan secara verbal. Peta belajar bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu
merekam, memperkuat dan mengingat kembali berbagai
informasi yang telah dipelajari. Aturan penting dalam membuat peta belajar adalah hanya menggunakan kata kunci. Kata kunci adalah kata penting yang jika dibaca akan mengingatkan akan gagasan keseluruhan. Itulah kata yang mencakup intisari makna gagasan itu.
c. Searching Out the Meaning (temukan makna)
Tujuan pembelajaran bukan hanya mengalihkan pengetahuan kepada para peserta didik, tetapi agar mereka bisa membuat makna bagi diri mereka sendiri untuk memahami benar-benar materi pelajaran tersebut. Mengubah fakta ke dalam makna adalah arena dimana unsur pokok dalam proses belajar. Menanamkan informasi pada memori mengharuskan seseorang untuk menyelidiki makna seutuhnya secara seksama dengan mengeksplorasi materi pelajaran yang bersangkutan. Langkah temukan makna harus dijalankan pada tahap Acquiring the
Information. Setiap materi pelajaran yang diperoleh peserta didik harus
dipahami dengan menggunakan pengetahuan lain yang telah dimiliki, sehingga menjadi pengetahuan baru yang siap digunakan. Mengubah
fakta menjadi makna adalah arena dimana kedelapan kecerdasan berperan aktif. Setiap jenis kecerdasan adalah sumber daya yang bisa diterapkan ketika mengeksplorasi dan menginterpretasi fakta-fakta dari materi pelajaran.
Teori delapan kecerdasan dikemukakan oleh Gardner, (dalam Mudjiman, 2008: 99) yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut :
1. Kecerdasan Linguistik (bahasa), yaitu kemampuan membaca, menulis dan berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa. 2. Kecerdasan Logis-Matematis, adalah kemampuan berpikir
(menalar) dan menghitung, berpikir logis dan sistematis. 3. Kecerdasan Visual-Spasial, adalah kemampuan berpikir
menggunakan gambar, membayangkan berbagai hal pada mata pikiran.
4. Kecerdasan Musikal, adalah kemampuan mengubah atau
menciptakan musik, dapat bernyanyi dengan baik atau memahami dan mengapresiasi musik.
5. Kecerdasan Kinestetik-Tubuh, adalah kemampuan
menggunakan tubuh secara terampil dalam memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi.
6. Kecerdasan Interpersonal (sosial), adalah kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian,
memperhatikan motivasi dan tujuan mereka.
7. Kecerdasan Intrapersonal, yaitu kemampuan menganalisis diri sendiri, mampu merenung dan menilai prestasi diri, serta mampu membuat rencana dan menyusun tujuan yang hendak dicapai.
8. Kecerdasan Naturalis, yaitu kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan pemilahan-pemilahan runtut dalam dunia kealaman dan menggunakan kemampuan ini secara produktif. Adapun beberapa cara yang dapat diterapkan oleh pendidik dalam membantu para peserta didik mencari makna, antara lain :
1. Kartu
Mintalah para peserta didik menyiapkan kartu yang meringkas hal-hal penting dari materi yang dipelajari.
2. Urutkan
Mintalah peserta didik mengumpulkan materi-materi yang telah dipelajari, lalu urutkanlah dan berilah nomor urut menurut tingkat kepentingannya.
3. Menyebarkan ingatan kelompok
Bagi peserta didik menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3–4 peserta didik. Berilah setiap kelompok sebagian materi pelajaran hari itu yang diringkas oleh mereka menjadi sebuah peta konsep, lalu minta setiap kelompok menampilkannya di depan kelas.
4. Buat lagu rap
Lagu rap atau pantun, lagu, irama untuk meringkaskan sebagian atau semua hal yang telah dipelajari.
5. Tukar masalah
Bentuk kelompok, setiap kelompok memikirkan satu masalah yang berhubungan dengan materi pelajaran untuk dipecahkan. Kemudian kartu tersebut ditukarkan antar kelompok. Kelompok baru mencoba mencari pemecahan masalah.
6. Menjelaskan kepada orang lain
Minta para peserta diddik pulang ke rumah dan menjelaskan kepada keluarganya tentang materi yang telah di dapatnya.
7. Mengacak urutan
Jika sedang mempelajari proses, mintalah setiap peserta didik membuat kartu yang bertuliskan satu bagian dari urutan. Lalu memikirkan urutan yang benar dan menjelaskan bagian yang dipegang.
d. Triggering the Memory (kuncilah fakta dalam memori)
Sudah jelas bahwa tidak akan ada pembelajaran tanpa ingatan. Memori menjadi bersifat menetap atau sementara, sangat tergantung pada bagaimana kekuatan informasi “didaftarkan” untuk pertama kalinya pada otak. Itulah sebabnya mengapa sangat penting untuk belajar dengan cara melibatkan indra pendengaran, penglihatan, berbicara dan bekerja, serta melibatkan emosi-emosi positif. Semua faktor tersebut membuat ingatan menjadi kuat.
Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk dapat mengingat informasi, antara lain :
1. Ambil keputusan untuk mengingat. Jika seseorang ingin belajar sesuatu, maka ia harus menentukan pilihan (keputusan) untuk mengingat atau tidak mengingatnya.
2. Ambil jeda secara teratur. Jika menginginkan menjaga kemampuan ingatan agar tetap tinggi, buatlah banyak awal dan akhir sesi belajar. Banyak orang merasa sulit untuk benar-benar berkonsentrasi lebih dari 20 menit sekali waktu. Jadi sering-seringlah berhenti dan ambil istirahat.
3. Buat daur ulang. Pengulangan adalah tahap penting dalam menciptakan ingatan jangka panjang. Contoh rancangan mengulang yang efektif :
a. Pelajari materinya
b. Ulangi materi setelah satu jam c. Ulangi lagi setelah sehari d. Ulangi lagi setelah seminggu e. Ulang lagi setelah satu bulan f. Ulangi lagi setelah enam bulan
Setiap pengulangan sebaiknya dilakukan sebentar saja, yaitu sekitar tiga hingga empat menit dan hanya mengkaji catatan yang dibuat jangan seluruh buku. Pola pengulangan ini dapat menghasilkan perbaikan mengingat yang sangat pesat.
4. Ciptakan ingatan multi indrawi. Setiap manusia memiliki ingatan terpisah atas apa yang dilihat, didengar, diucapkan dan dikerjakan. Karena itu, pengalaman multi indrawi akan memperluas potensi seseorang dalam mengingat. Maka pastikan ada
pengalaman-pengalaman visual (lihat atau pandang), auditori (dengar) dan kinestetik (gerak laku).
5. Gunakan pencintraan untuk mengingat. Untuk memperkuat citra
dapat dengan menambahkan gerakan hal yang lucu dan aneh akan dapat teringat dengan baik, jadi gunakanlah citra yang kocak dan aneh. Detail dan gerakan adalah kunci menuju citra yang jelas dan karena mudah diingat.
6. Cobalah “konser mengulang”. Musik membuat seseorang menjadi
rileks dan belajar akan lebih mudah selagi rileks. Musik juga merangsang bagian emosional otak yang memuat unsur penting ingatan jangka panjang. Dan musik memungkinkan seluruh otak terlibat dalam belajar. Ketika mendengarkan lagu, belahan otak kanan menangkap musiknya dan belahan otak kiri menangani liriknya.
7. Kilasan ingatan. Cara mengingat dengan teknik kilasan ingatan sangat efektif dan sederhana, yaitu :
a. Siapkan catatan dalam bentuk peta belajar atau daftar ringkas b. Pelajari dengan cermat selama satu sampai dua menit
c. Kesampingkan catatan tersebut, lalu buat peta belajar berdasarkan ingatan
d. Bandingkan kedua peta belajar, akan terlihat ada yang terlewat e. Buat peta belajar atau catatan yang ketiga. Lalu bandingkan
8. Kartu pengingat. Beberapa materi pelajaran cukup ideal bagi kartu-kartu belajar, misalnya rumus-rumus ilmiah atau kata-kata asing. Gunakan kartu-kartu tersebut pada waktu santai untuk mengulang atau menguji diri sendiri.
9. Peta kilasan. Peta kilasan merupakan versi lanjut kartu pengingat. Yang perlu dilakukan hanya mengumpulkan semua peta belajar yang sudah dibuat dalam sebuah ring binder dengan lembar pemisah diantara topik-topik.
10. Ciptakan memonik. Memonik merupakan alat Bantu ingatan. Salah satu yang paling bermanfaat adalah akronim.
11. Biarkan mengendap dalam semalam. Jika mengulang catatan di suatu topik beberapa saat sebelum bersiap tidur, pembelajaran akan memetik manfaat karena otak menggunakan tidur sebagai waktu untuk “mengarsipkan” informasi baru.
12. Memberi nomor hal-hal yang perlu diingat. Jika memberi nomor pokok, gagasan atau tindakan yang perlu diingat, maka akan secara otomatis akan tahu jika terlupa satu.
e. Exhibiting What You Know (tunjukkan kepada orang lain)
Untuk mengetahui bahwa seseorang telah paham dengan apa yang dipelajarinya, bisa dilakukan dengan beberapa teknik, yaitu :
1. Ujilah diri anda
Jika membuat pengujian diri sebagai bagian proses belajar yang otomatis, maka akan mampu memandang secara realistis
kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Kesalahan menjadi umpan balik bermanfaat yang dapat mengukur kemajuan seseorang, memperbaiki bagian-bagian yang telah ragu atau tidak bisa. Kesalahan yang kemudian diperbaiki adalah tanda kemajuan. Kesalahan memberikan kesempatan untuk melihat hal yang perlu diperhatikan. Jadi lebih baik berkonsentrasi pada jenis kesalahan yang telah diperbuat bukan berapa banyak kesalahannya.
2. Terapkan apa yang telah dipelajari
Mempraktekkan apa yang dipelajari kepada teman. Jika seseorang bisa mengajarkan apa yang diketahuinya kepada orang lain, maka hal ini menunjukkan bahwa dirinya telah paham. 3. Gunakanlah
Penelitian menunjukkan bahwa, jika suatu gagasan
digunakan dalam 24 jam setelah dilihat atau didengar, gagasan itu lebih mungkin digunakan secara permanent. Amati orang lain dan catat dengan seksama cara mereka menggunakan keterampilan yang sedang kita pelajari. Penelitian juga menunjukkan bahwa jika belajar lebih dari satu orang akan lebih mampu menggunakan keterampilan ini dalam beragam situasi.
4. Mencari dukungan
Mencari dukungan dari orang lain, baik orang tua, guru atau teman belajar, yaitu dengan cara melakukan diskusi. Melalui cara ini akan didapatkan umpan balik langsung tentang ketepatan dan
keefektivan cara belajar yang digunakan serta cara
mempersentasikannya selain itu juga akan mendapat sudut pandang yang berbeda atas materi yang dipelajari.
f. Reflecting on How You’ve Learned (merefleksikan bagaimana anda
belajar)
Tahap refleksi merupakan tahap terakhir dalam proses pembelajaran guna memecahkan sesuatu masalah. Seseorang perlu merefleksikan pengalaman belajarnya, bukan hanya pada apa yang dipelajari, tetapi juga pada bagaimana mempelajarinya. Dalam langkah ini seseorang meneliti dan menguji cara belajarnya sendiri, kemudian menyimpulkan teknik-teknik dan ide-ide yang terbaik untuk diri sendiri. Secara bertahap seseorang akan dapat mengembangkan suatu pendekatan cara belajar yang paling sesuai dengan kemampuan dirinya. Langkah terakhir dalam rencana belajar ini adalah berhenti, kemudian
merenungkan dan menanyakan pertanyaan berikut pada diri sendiri. Bagaimana pembelajaran berlangsung? Bagaimana pembelajaran dapat berjalan lebih baik? dan apa makna pentingnya bagi saya? Mengkaji dan merenungkan kembali pengalaman belajar dapat membantu mengubah karang penghalang yang keras menjadi batu pijakan untuk melompat ke depan. Sekali bisa mempelajari kombinasi personal kecerdasan dan cara belajar yang disukai, maka potensi belajar akan terbuka lebar.
Pemantauan diri, evaluasi diri dan introspeksi terus menerus adalah karakteristik kunci yang harus dimiliki pembelajar yang punya motivasi diri.
a. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran MASTER
Adapun kelebihan dari model Accelerated Learning tipe MASTER, antara lain:
a. Partisipasi aktif dalam kelas.
b. Manajemen kelas yang dicitrai oleh adanya rencana yang detail serta realitas disiplin waktu dan tugas.
c. Adanya kompetisi yang sehat d. Menghargai kerja keras. e. Kemandirian akademis.
Kelemahan Model Accelerated Learning Tipe MASTER. Adapun kelemahan dari model Accelerated Learning tipe MASTER, antara lain: a. Masih kentalnya pendekatan belajar yang berorientasi pada guru.
b. Kurangnya fasilitas yang mendukung dapat mempengaruhi kegiatan
Hubungan model pembelajaran MASTER dengan mata pelajaran IPA adalah karena model pembelajaran MASTER efektif untuk
diterapkan pada mata pelajaran IPA dilihat dari pengertian model MASTER yaitu prosedur, sistematika pembelajaran yang dimulai dari memotivasi fikiran peserta didik, dari motivasi tersebut akan diperoleh informasi, peserta didik akan menyelidiki makna dari informasi dari penyelidikan akan memicu memori peserta didik untuk berpikir,
memahami, mengingat, kemudian hasil dari pemikiran setelah tahu makna informasi, peserta didik akan memamerkan menyampaikan apa yang diketahui mengenai informasi, tahap terakhir adalah mengevaluasi dari proses dan hasil belajar. Sedangkan pembelajaran IPA adalah suatu pembelajaran Ilmu Pengetahuan yang ruang lingkupnya berisi tentang kehidupan manusia dan alam semesta yang berupa fakta-fakta konsep prinsip dan teori ilmiah. Jadi penerapan model pembelajaran MASTER efektif untuk diterapkan pada mata pelajaran IPA.
B. Penelitian yang Relevan
Adapun hasil-hasil penelitian terdahulu yang mendukung penelitian ini seperti :
1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ari Karini Putri dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran MASTER Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas V SD 1 Banyuning Kecamatan Buleleng Tahun 2013. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut. Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan rumus uji-t ditemukan bahwa thitung = 10,05 ttabel = 2,075 sehingga terdapat perbedaan hasil tes kemampuan berpikir kritis yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran MASTER dan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran Langsung pada siswa kelas V SD 1 Banyuning. Hal ini terbukti bahwa hasil tes kemampuan berfikir kritis kelas Vb sebagai kelompok eksperimen lebih tinggi daripada hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa kelas Va sebagai
kelompok kontrol SD 1 Banyuning. Dengan demikian, bahwa penerapan model pembelajaran Master berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SD 1 Banyuning.
2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dwiani Safitri dengan judul “ Pengaruh Model Pembelajaran MASTER Berbantuan Media Cerita Rakyat Terhadap Keterampilan Membaca Siswa Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas V SDN 12 Padang sambian Tahun 2014. Dari perhitungan uji-t pada bab terdahulu, diperoleh thitung sebesar 5,327 dan ttabel sebesar 2,000. Kedua nilai tersebut dibandingkan maka diperoleh thitung ttabel (5,327 2,000). Dari perbandingan ini maka hipotesis observasi ditolak dan hipotesis alternatif diterima, yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan keterampilan membaca antara siswa yang dibelajarkan dengan menerapkan model pembelajaran Master berbantuan media cerita rakyat dengan siswa yang dibelajarkan dengan menerapkan pembelajaran konvensional. Hal tersebut menyatakan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Master berbantuan media cerita rakyat terhadap
keterampilan membaca dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas
V SDN 12 Padang sambian. C. Kerangka Berpikir
Hasil belajar adalah segala sesuatu yang diperoleh setelah mengikuti sebuah pembelajaran, hasil belajar yang diperoleh dapat berupa nilai yang negatif ataupun positif, jadi nilai tergantung pada saat mengikuti proses pembelajaran berlangsung. IPA adalah ilmu pengetahuan yang ruang
lingkupnya berisi tentang kehidupan manusia dan alam semesta yang berupa fakta-fakta, konsep, prinsip dan teori ilmiah.
Hasil Belajar IPA adalah segala sesuatu yang telah diperoleh setelah mengikuti pembelajaran IPA.
Model pembelajaran adalah prosedur ataupun sistematika dalam melaksanakan pembelajaran. Model pembelajaran MASTER (Mind, Acquire,
Search Out, Trigger, Exhibit, Reflect) adalah prosedur, sistematika
pembelajaran yang dimulai dari memotivasi fikiran peserta didik, dari motivasi tersebut akan diperoleh informasi, peserta didik akan menyelidiki makna dari informasi dari penyelidikan akan memicu memori peserta didik untuk berpikir, memahami, mengingat, kemudian hasil dari pemikiran setelah tahu makna informasi, peserta didik akan memamerkan menyampaikan apa yang diketahui mengenai informasi, tahap terakhir adalah mengevaluasi dari proses dan hasil belajar.
Guru IPA dalam suatu proses pembelajaran harus berusaha untuk membuat peserta didiknya memiliki penguasaan materi ajar sesuai jenjang pada setiap ranah secara bertahap. Penguasaan ini harus sesuai dengan kompetensi dasar sampai indikator hasil belajar yang ingin dicapai. Hal ini juga sesuai dengan salah satu prinsip pengajaran, yaitu dimulai dari hal-hal yang mudah sebelum melangkah kepada hal-hal yang lebih kompleks. Jadi pada pencapaian ranah kognitif misalnya, guru bisa memulai dengan melatih mengingat fakta-fakta di alam. Setelah mereka bisa mengingatnya dengan baik, guru melangkah kepada upaya untuk membuat peserta didik memahami
mengapa fakta-fakta itu bisa terjadi, sampai akhirnya peserta didik bisa memberikan penilaian terhadap fakta-fakta yang terjadi, gambaran dalam kerangka berpikir ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 1. Bagan kerangka berpikir D. Hipotesis Tindakan
Secara umum hipotesis adalah merupakan jawaban sementara. Menurut Sugiyono (2010: 96)” Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian
Kondisi Awal
1. Minat peserta didik masih rendah dalam belajar
2. Peserta didik kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran
3. Kegiatan pembelajaran kurang menarik 4. Hasil belajar peserta didik masih rendah
5. Kurang menerapkan model
pembelajaran yang efektif.
Peserta didik kurang aktif dalam pembelajaran IPA sehingga hasil belajar
IPA rendah
Guru menerapkan model pembelajaran MASTER
Guru menerapkan model pembelajaran MASTER
Siklus n Tindakan
Terdapat peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar peserta didik pada mata
pelajaran IPA materi “Gaya” Kondisi Akhir
telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan”. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.
Menurut Iskandar (2008:5)” Hipotesis merupakan jawaban sementara setelah peneliti mengumumkan landasan teori dan kerangka berpikir melalui rumusan masalah penelitian mengikuti format pertanyaan” Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah jawaban dari rumusan masalah setelah dilakukan penelitian. Adapun yang menjadi hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana aktivitas belajar peserta didik kelas IV SDN-5 Pahandut Palangka Raya dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran MASTER tahun pelajaran 2014/2015?
2. Ada peningkatan hasil belajar IPA pada peserta didik kelas IV SDN 5 Pahandut Palangka Raya dengan menerapkan model pembelajaran MASTER tahun pelajaran 2014/2015.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari bulan Februari sampai Juni tahun pelajaran 2014/2015.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN-5 Pahandut Palangka Raya jalan, Pepaya pada kelas IV tahun 2014/2015. Tempat tersebut dipilih
berdasarkan fenomena yang dikemukakan pada latar belakang, sekolah ini juga sebagai tempat peneliti PPL (Program Pengalaman Lapangan). B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dan merefleksikan secara kolaboratif suatu
alternatif pembelajaran.
Menurut Suhardjono (2007:58) “penelitian tindakan kelas adalah
penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik pembelajaran”.
Dari definisi tersebut, maka penelitian tindakan kelas dapat diidentifikasikan sebagai suatu bentuk penelitian yang reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki dan meningkatkan
praktik pembelajaran di kelas secara lebih berkualitas sehingga peserta didik dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik.
Suharjdono (2007:62) mengemukakan beberapa karakteristik inti dari penelitian tindakan kelas yaitu:
1. Masalah berasal dari pendidik.
2. Tujuannya memperbaiki pembelajaran.
3. Metode utama adalah refleksi diri dengan tahap mengikuti kaidah-kaidah penelitian.
4. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran. 5. Guru bertindak sebagai pengajar atau peneliti.
Dalam konteks tujuan penelitian tindakan kelas ini, Suharjdono (2007: 6) secara rinci mengemukakan sebagai berikut:
1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dalam pembelajaran di sekolah.
2. Membantu pendidik dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam kelas.
3. Meningkatkan sikap professional pendidik dan tenaga kependidikan.
4. Menumbuh kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah
sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (sustainable). Secara ringkas pada dasarnya penelitian tindakan kelas memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Membantu guru memperbaiki kualitas pembelajarannya.
2. Meningkatkan profesionalisme guru. 3. Meningkatkan rasa percaya diri guru.
4. Memungkinkan pendidik secara aktif mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai.
C. Kehadiran dan Peran Peneliti
Berdasarkan jenis penelitian yang digunakan yaitu menggunakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas), maka kehadiran peneliti sangat diperlukan dalam setiap kegiatan pembelajaran berlangsung karena peneliti berperan sebagai perencana, pelaksana tindakan, pengamat, pengumpul dan penganalisis data serta sebagai pelapor hasil penelitian. Peneliti juga berkolaborasi dengan guru kelas dan teman sejawat untuk berperan sebagai pengamat (observer) yang bertugas mengumpulkan data dengan lembar pengamatan yang telah disediakan oleh peneliti.
D. Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas IV SDN-5 Pahandut Palangka Raya, yang dilibatkan hanya satu kelas dengan jumlah peserta didik sebanyak 20 orang, yang meliputi 9 orang peserta didik perempuan dan 11 orang peserta didik laki-laki.
Tabel 1 Subjek Penelitian
No Kelas Banyak Subjek Jumlah
Laki-laki Perempuan
1 IV 11 9 20
Sumber data: SDN 5 Pahandut Palangka Raya
E. Rancangan Penelitian
Dalam Penelitian ini menggunakan model PTK Kemmis (Enjah Takari 2008 : 5) Prosedur dalam penelitian tindakan kelas ini didasarkan pada empat komponen penelitian yaitu:
1. Perencanaan 2. Tindakan
3. Observasi 4. Refleksi
Adapun rancangan penelitian dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 2
Siklus PTK (Kemmis dan Mc. Tanggart) Sumber : Nur Hidayah (2013 : 19) Perencanaan Refleksi Pengamatan Perencanaan Pengamatan Refleksi Siklus Selanjutnya atau Siklus N Siklus II Siklus I Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan Tindakan