• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN TAPAK DARA (Catharantus roseus L) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH MENCIT PUTIH JANTAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN TAPAK DARA (Catharantus roseus L) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH MENCIT PUTIH JANTAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

311

UJI EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN TAPAK DARA (Catharantus

roseus L) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH

MENCIT PUTIH JANTAN

Surya Dharma*, Detri Cory Fitri D**, Eka Fitrianda**

*Fakultas farmasi Universitas Andalas Padang **Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

ABSTRACT

The research had been done to investigate the influence of ethanolic extract of

Catharantus roseus L on decreasing amount of total blood cholesterol on mice. The amount

of total blood cholesterol was optimided by giving high cholesterol diet (HCD), PTU tablet and chicken bile for 30days . The ethanolic extract of Catharantus roseus L was given daily in dispersed form of Na CMC 0,5% with various doses of 30, 100,and 300 mg/kg WB of mice. Amount of total blood cholesterol of mice was measured at the 10 th, 20 th, and 30 th day by using enzimatical method with Spektrofotometer Microlab®. The result showed that ethanolic extract of Catharantus roseus L leaves at three variety doses of 30, 100, and 300 mg/kg WB could decrease amount of total blood cholesterol of mice significantly (P<0,05). Keywords : total cholesterol, Catharantus roseus, female albino mice

PENDAHULUAN

Tanaman tapak dara (Catharantus roseus L) umumnya ditanam sebagai tanaman hias dan merupakan jenis tanaman yang dapat tumbuh di tempat terbuka atau terlindung pada bermacam-macam iklim, ditemukan dari dataran rendah sampai ketingggian 800 diatas permukaan laut. Tanaman ini mengandung flavonoid, saponin, tanin, dan berbagai macam alkaloid seperti alkaloid vinblastin, vinkristin, dan leurosidin. Tapak dara (Catharantus roseus L) adalah salah satu dari sekian banyak tanaman yang telah dimanfaatkan sebagai obat. Secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan penyakit malaria, sembelit, diuretika, diabetes melitus, hipertensi dan hiperkolesterol (Dalimartha, 2008; Depkes, 1995; Ganiswara, 1995; Champe, 2010).

Kolesterol adalah salah satu lipid plasma yang utama dibutuhkan tubuh karena merupakan komponen struktural membran sel dan bahan awal pembentukan asam

empedu serta hormon steroid. Senyawa ini diperoleh tubuh dari kolesterol yang terdapat dalam makanan dan dari biosintesis dalam tubuh terutama di hati. Sumber pembentukkan kolesterol adalah asetil-KoA yang dapat berasal dari senyawa karbohidrat (glukosa) dan lemak, terutama asam lemak jenuh. Menurut Murray (1997), kolesterol seperti halnya juga lipid plasma lainnya ditranspor dalam bentuk lipoprotein, terutama Low Density Lypoprotein (LDL), dan Hight Density Lypoprotein (HDL). LDL merupakan lipoprotein utama pembawa kolesterol dalam plasma, mengandung ± 50% kolesterol dan berfungsi mengangkut kolesterol dari darah ke jaringan parifer. Kadar LDL dapat meningkat bila pemasukan kolesterol ke dalam tubuh tinggi, karena sebagian besar kolesterol darah berada dalam bentuk LDL,. sedangkan HDL adalah lipoprotein yang mempunyai densitas lebih tinggi dari LDL karena komponen proteinnya lebih besar ± 50% dari pada trigliserida dan

(2)

312 kolesterolnya. HDL berperan sebagai pembawa kolesterol dari jaringan perifer ke hati untuk selanjutnya di buang ke dalam empedu dan diekskresikan melalui feses. HDL sering disebut sebagai faktor pelindung dan homeostasis sirkulasi kolesterol dalam

tubuh (Murray,1997,

Kamaludin,1993,Katzung,2010). Apabila terjadi peningkatkan kadar kolesterol darah yang tidak diikuti oleh pengeluaran yang seimbang maka akan terjadi penumpukan senyawa ini pada dinding pembuluh darah, dimana lama kelamaan akan menimbulkan penyempitan pembuluh darah tersebut. Jika hal ini terjadi pada pembuluh darah koroner,

maka akan mengganggu suplai darah ke otot jantung yang dapat mengganggu fungsi jantung. Gangguan fungsi jantung dapat menimbulkan penyakit jantung koroner yang merupakan penyebab kematian utama di dunia, termasuk Indonesia (Rifdah, 2012, Goodman, 2007, Guyton, 2007)

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas penelitian ini dilakukan pengujian untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pemberian ekstrak etanol daun tapak dara (Catharantus roseus L) terhadap kadar kolesterol total darah mencit putih jantan dengan pemberian campuran makanan lemak tinggi (MLT).

METODE PENELITIAN

Bahan-Bahan

Bahan yang digunakan adalah daun tapak dara (Catharantus roseus L) segar, etanol 96%, Natrium (Chlor Metyl Cellulose (Na CMC), Makanan Lemak Tinggi (MLT), cairan empedu ayam 2%, propil Tio Urasil (PTU) 1%, dan larutan pereaksi kolesterol. Alat-Alat

Alat yang digunakan adalah botol maserasi, timbangan analitik, kandang mencit, timbangan hewan, spektrofotometer Mikrolab®, sentrifuge, tabung sentrifuge, pipet mikro, gelas ukur, sonde, tisue, silet, rotary evaporator, lumpang dan stamfer. Prosedur penelitian

Pada penelitian ini digunakan dosis 30, 100, dan 300 mg/kg BB.

Sediaan uji dibuat dengan cara disuspensikan ekstrak etanol daun tapak dara dengan Na CMC 0.5 %.

Pemberian perlakuan pada hewan percobaan

Hewan percobaan yang telah dikelompokkan menjadi 5 kelompok masing – masing diperlakukan sebagai berikut:

Kelompok I : Adalah kelompok kontrol yang hanya diberikan makanan standar saja (kontrol negatif)

Kelompok II : Diberikan makanan

Lemak Tinggi (MLT), cairan empedu, dan PTU.

Kelompok III : Diberikan MLT, cairan empedu, dan PTU + ekstrak etanol daun tapak dara dosis 30 mg/kgBB

Kelompok IV : Diberikan MLT, cairan empedu, dan PTU + ekstrak dosis 100 mg/kg BB

Kelompok V : Diberikan MLT, cairan empedu, dan PTU + ekstrak dosis 300 mg/kg BB

Pemberian campuran MLT dan ekstrak etanol daun tapak dara sekali sehari per oral menggunakan sonde , selama 29 hari.

Pengukuran kadar kolesterol total darah Metode pengukuran yang akan digunakan adalah metoda enzimatis, dengan periode pengukuran setiap 10 hari dengan cara sebagai berikut :

Darah diambil dengan cara memotong pembuluh darah leher mencit dan ditampung dalam tabung sentrifus sebanyak 2 ml. Darah tersebut didiamkan selama ± 20 menit dan disentrifus selama 15 menit pada kecepatan 3000 rpm diperoleh serum. Serum dipipet

(3)

313 sebanyak 10 µl dimasukkan dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan larutan pereaksi kolesterol sebanyak 1000µl lalu dicampurkan. Diukur kadarnya dengan spektrofotometer viseble dengan panjang gelombang 520 nm.

Analisa Data

Analisa data dilakukan dengan menggunakan ANOVA dua arah dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan.

HASIL DAN DISKUSI

Sebelum penelitian dilaksanakan, sebelumnya mencit yang digunakan diaklimatisasi selama 7 hari. Proses ini bertujuan untuk membiasakan mencit pada kondisi percobaan dan menentukan kelayakan mencit yang digunakan. Dimana mencit yang digunakan tidak mengalami penurunan berat badan lebih dari 10% selama aklimatisasi. Selama aklimatisasi maupun pada saat perlakuan, mencit diberi makanan standar dan minum yang cukup. Untuk pengoptimalan kadar kolesterol total mencit diberikan cairan empedu ayam 2% dan PTU 1% dan MLT

MLT yang digunakan merupakan campuran lemak daging sapi dengan minyak goreng dengan perbandingan 1 : 5 yang terbukti dapat meningkatkan kadar kolesterol darah secara signifikan setelah pemberian 10 hari. Perbandingan ini digunakan karena menghasilkan MLT dengan konsistensi cair dan stabil pada suhu kamar sehingga memudahkan dalam pemberiannya secara per oral menggunakan sonde pada mencit percobaan

Dari hasil penelitian diperoleh kadar kolsterol mencit yang cukup beragam tiap kelompok dengan standar deviasi yang beragam pula. Hal ini kemungkinan disebabkan perbedaan kondisi fisik dan fisiologis tiap individu mencit selama penelitian. Penurunan kadar kolesterol tiap perlakuan tidak dapat diamati langsung tiap minggunya karena menggunakan mencit yang berbeda tiap minggunya. Tetapi penurunan kadar kolesterol diamati dengan perbandingan terhadap kontrol positif.

Pada pengamatan hari ke-10 kelompok kontrol positif kadar kolesterol

totalnya lebih tinggi dari pada kelompok kontrol negatif dan pada kelompok yang diberikan ekstrak etanol daun tapak dara dengan dosis 30, 100 dan 300 mg/kg BB mengalami penurunan kadar kolesterol total jika di bandingkan dengan kontrol positif dengan penurunan persentase secara berturut-turut adalah 1,29 %, 6,58 % dan 8,73 % Dimana pada dosis 300 mg/kg BB merupakan persentase yang tinggi dalam penurunan kadar kolesterol total jika dibandingkan dengan kelompok dosis lainnya.

Pada pengamatan hari ke-20 kelompok kontrol negatif menunjukan kadar kolesterol total rata-ratanya adalah 112,6 mg/dl, kemudian mengalami peningkatan pada kelompok kontrol positif dan pada kelompok yang diberikan ekstrak etanol daun tapak dara dengan dosis 30, 100 dan 300 mg/kg BB mengalami penurunan kadar kolesterol total jika di bandingkan dengan kontrol positif .

Pada pengamatan hari ke-30 kelompok kontrol negatif menunjukan kadar kolesterol total rata-ratanya adalah 115 mg/dl, kemudian mengalami peningkatan pada kelompok kontrol positif yang kadar kolesterol total rata-ratanya adalah 189,2 mg/dl pada kelompok yang diberikan ekstrak etanol daun tapak dara dengan dosis 30, 100 dan 300 mg/kg BB mengalami penurunan kadar kolesterol total jika di bandingkan dengan kontrol positif.

Semua data kadar kolesterol total yang diperoleh, kemudian dilakukan uji analisa varian (ANOVA) dua arah dengan SPSS 17.0 for Windows. Hasil analisa menunjukan bahwa faktor perlakuan dosis

(4)

314 memberikan pengaruh yang signifikan (p<0,05) terhadap kadar kolesterol total darah mencit putih jantan. Faktor waktu pengukuran (lamanya pemberian sediaan) juga memperlihatkan hasil yang signifikan (p< 0,05) terhadap kadar kolesterol total darah mencit putih jantan. Dari analisa statistik ini juga dapat dilihat bahwa tidak ada ketergantungan faktor hubungan antara dosis dengan lama pemberian (variabel saling bebas, p<0,05). Setelah dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Tests (DMRT), memperlihatkan pengaruh kadar kolesterol total pada dosis 100 mg/kg BB tidak berbeda nyata dengan dosis 300 mg/kg BB, bisa jadi dikarenakan pemberian makan lemak tinggi setiap hari membuat kemampuan ekstrak etanol daun tapak dara tidak mampu lagi untuk menurunkan kadar kolesterol dan terjadinya efek toleransi. ekstrak etanol daun tapak dara pada dosis 100 dan 300 mg/kg BB menunjukan penurunan kadar kolesterol total rata-rata yang baik dan yang memberikan efek penurunan kadar kolesterol total rata-rata yang optimal adalah pada hari ke-20.

Secara keseluruhan dapat dilihat bahwa semakin besar dosis yang digunakan maka kadar kolesterol total darah mencit rata-ratanya semakin kecil pula jika di bandingkan dengan kontrol positif. Mekanisme penurunan kadar kolesterol oleh daun tapak dara ini diduga mirip resin pengikat garam empedu. Dimana resin mengikat asam empedu dalam saluran cerna dan kemudian dikeluarkan melalui feses. Penurunan asam empedu ini akan meningkatkan produksinya dihati yang mana bahan bakunya (prekusornya) adalah kolesterol sehingga akan meningkatkan pengambilan terhadap kolesterol dalam darah (kadar kolesterol darah akan berkurang) (Ganiswara, 1995).

Dari hasil penelitian bahwa pemberian ekstrak etanol daun tapak dara dapat menurunkan kadar kolesterol total darah mencit putih jantan. Sehingga kecenderungan pengendapan kolesterol LDL dalam pembuluh darah dapat dicegah dan kemungkinan terjadinya atherosklerosis dapat dihindari.

Gambar 1. Diagram batang kadar kolesterol total darah mencit putih jantan setelah pemberian ekstrak etanol daun Catharanthus roseus L pada berbagai dosis.

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200

Hari ke 10 Hari ke 20 Hari ke 30

K a d a r k o le st e ro l to ta l (m g /d l) Kontrol negatif Kontrol positif Dosis 30 mg/kg BB Dosis 100 mg/kg BB Dosis 300 mg/kg BB

(5)

315 KESIMPULAN

Dari penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh ekstrak etanol daun tapak dara terhadap kadar kolesterol total darah mencit putih jantan, maka dapat disimpulkan: 1. Pemberian ekstrak etanol daun tapak dara dengan variasi dosis 30, 100, dan 300 mg/kg BB dapat menurunkan kadar

kolesterol total darah mencit putih jantan dengan signifikan (P < 0,05).

2. Efek maksimal penurunan kadar kolesterol darah mencit diperlihatkan pada pemberian dosis 100 dan 300 mg/kg BB pada pengamatan hari ke-20.

DAFTAR PUSTAKA

Champe, P.C, Harley, R.A.Harey, Denise R.Ferrier, 2010, Biokimia Ulasan

Bergambar, Edisi III, Penerbit Buku

Kedokteran EGC, Jakarta.

Dalimartha, S., 2008, Atlas Tumbuhan Obat

Indonesia, Jilid I, Trubus Agriwidya,

Jakarta.

Departemen kesehatan Republik Indonesia, 1995, Materia Medika Indonesia, (Jilid VI), Depkes RI, Jakarta.

Ganiswara, S.G, 1995, Farmakologi dan

terapi, edisi 4, Bagian Farmakologi

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Goodman dan Gilman, 2007, Dasar Farmakologi Terapi, Volume I,

Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Guyton and Hall, 2007, Buku Ajar Fisiologi

Kedokteran, Edisi Ke-9, Penerbit

Buku Kedokteran, EGC, Jakarta. Kamaludin, M. Totong., 1993, Cermin Dunia

Kedokteran, Farmakoogi Obat Anti Hiperlipidemia, Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang. Katzung, B. G., 2010, Farmakoogi Dasar

dan Klinik, Edisi 10, Fakultas

Kedokteran Universitas Airlangga, Salemba Medika, Jakarta.

Murray, R.K, D.K Granner, P.A. Mayes and V.W.Rodwell. 1997, Biokima Harper, edisi ke-24, Diterjemahkan oleh A.Hartono. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Rifdah, S, 2012, Pahami Waspadai Cegah

dan musnahkan kolesterol, Cable

Gambar

Gambar  1.    Diagram  batang  kadar  kolesterol  total  darah  mencit  putih  jantan  setelah  pemberian  ekstrak  etanol  daun  Catharanthus  roseus  L  pada  berbagai  dosis.

Referensi

Dokumen terkait

UJI EFEKd{IANGOSTIN TERHAOAP XADAR KOLESTEROL.. ENCIT PUTIH

Hasil pengujian diketahui bahwa rubraxanthon terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol- LDL dan menaikkan kadar

Terdapat perbedaan kadar kolesterol total pada mencit tiap kelompok yang cukup signifikan yakni kelompok kontrol negatif dengan mengalami kenaikan yang signifikan sebesar

Penurunan kolesterol tertinggi dari tiap kelompok dosis terdapat padakelompok III, yaitu penurunan rata-rata sebanyak 16,33 mg/dl, pada kelompok ini kadar kolesterol darah

Penurunan kolesterol tertinggi dari tiap kelompok dosis terdapat padakelompok III, yaitu penurunan rata-rata sebanyak 16,33 mg/dl, pada kelompok ini kadar kolesterol darah

Terjadinya penurunan kadar kolesterol pada kelompok kontrol positif yang diberi simvastatin membuktikan bahwa simvastatin merupakan obat yang sudah terbukti untuk

2.3 Pengujian Kadar Kolesterol Total dan Berat Badan Mencit yang sudah hiperkolesterolemia dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol positif, kelompok pembanding simvastatin

Uji Post Hoc Mann-Whitney U Test Kolesterol Sebelum Dan Sesudah Mendapatkan Ekstrak Daun Sereh Perlakuan III 300 mg/Kgbb n=4 Nilai p Kolesterol Hari ke- 21 .083 Kolesterol Hari ke