• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTIFIKASI MORFOMETRIKS DAN JARAK GENETIK AYAM KAMPUNG (domesticated chicken) DI KABUPATEN BATUBARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IDENTIFIKASI MORFOMETRIKS DAN JARAK GENETIK AYAM KAMPUNG (domesticated chicken) DI KABUPATEN BATUBARA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

329 IDENTIFIKASI MORFOMETRIKS DAN JARAK GENETIK AYAM KAMPUNG

(domesticated chicken) DI KABUPATEN BATUBARA

Identification of Morfometriks and Genetic Distance Ayam Kampung (Chicken Domesticated) in Batubara regency

Rhyndhyra Hummairah1, Hamdan2 dan Armyn Hakim Daulay2

1

Mahasiswa Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

2

Staf Pengajar Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

This study aims to identify the main feature size and shape of the morphometrics and the genetic distance of local chickens in various districts of Batubara. This research used survey method with 2392 number of sample of chicken and data were analized with software SAS (Statistics Analytical System) which is used as a measure of genetic distance Mahalanobis genetic distance squared minimum, and Software MEGA6 for get Phenogram tree with UPGMA method ( Unweight Pair Group Method with Arithmetic ). The results based morphometric analysis showed differences in morphology on every chicken. Based on the similarities and mix in between district and genetic distance from chicken. According to morphometric analysis, there is morphological different on every local chicken from 7 existed district in Batubara that Sei Suka and Sei Balai ( 1.26 ), Air Putih and Talawi ( 3.79 ), Medang Deras and Tanjung Tiram ( 1.73 ) and Lima Puluh (2.13 ). Conclusions showed that primary identified that appears are the length of tibia, metatarsus width and length beak , and the genetic distance of 7 districts there is one distinct districts namely at Lima Puluh (2.13), while six other districts were similarities between the two districts .

Keywords : Morfometriks , Genetic distance , Kampung Chicken, Batubara.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penciri utama ukuran dan bentuk dalam morfometriks dan jarak genetik dari ayam lokal di berbagai kecamatan di Kabupaten Batubara. Penelitian menggunakan metode survei sebanyak 2392 ekor ayam kampung dan sdata dianalisis menggunakan software SAS (Statistics Analytical System) yaitu menggunakan Jarak genetik Mahalanobis sebagai ukuran jarak kuadrat genetik minimum.

Software MEGA6 untuk memperoleh pohon fenogram dengan metoda UPGMA (Unweight Pair Group Method with Arithmetic). Hasil Penampilan fenotip berdasarkan analisis

morfometrik menunjukkan perbedaan secara morfologi untuk setiap ayam. Berdasarkan analisis morfometrik menunjukkan perbedaan secara morfologi ayam kampung dari 7 kecamatan yang ada di kabupaten Batubara yaitu Sei Suka dan Sei Balai (1,26), Air Putih dan Talawi (3,79), Medang Deras dan Tanjung Tiram (1,73) dan Lima puluh (2,13). Kesimpulan menunjukkan bahwa penciri utama yang tampak yaitu panjang tulang tibia, lebar metatarsus dan panjang paruh, dan jarak genetik terdapat satu kecamatan yang berbeda yaitu pada Lima Puluh (2,13) sedangkan 6 kecamatan lain terdapat kesamaan antar 2 kecamatan.

(2)

330 PENDAHULUAN

Ayam kampung adalah istilah yang diberikan kepada ayam yang dipelihara secara lepas atau bebas. Biasanya ayam ini dipelihara di kawasan luar bandar atau di kawasan perkampungan. Nama saintifik bagi ayam kampung ini ialah Domesticated Chicken adalah dari keturunan ayam hutan merah (Gallus gallus) di negara Barat mereka menyebutnya dengan ayam ternak lepas (free range chicken) atau disebut ayam organik (organic chicken) (Wikipedia, 2013).

Saat ini pemerintah Kabupaten Batubara kebanyakan tidak terlalu memperhatikan pertumbuhan ayam kampung di daerah ini yang adakalanya bisa memajukan suatu kabupaten itu sendiri pada sektor peternakan.Padahal ayam kampung sangat baik dikembangkan dalam sektor peterkan di sektor ayam kampung untuk mempertahankan ayam asli asal sumatera yang semakin lama semakin menghilang keasliannya.

Untuk mencapai sasaran tingkat produktivitas yang diinginkan maka semua faktor penentu dikaji potensinya dan melalui teknik pelaksanaan diramalkan prospeknya melalui penerapan syarat­syarat mutu bibit yang lazim dilakukan pada pusat pembibitan ternak (Anonimous, 1982).

Salah satu metode dengan melihat adanya perbedaan fenotip dan genotip akibat adanya seleksi dan mutasi dapat juga dimanfaatkan untuk mengetahui jarak genetik adalah analisis keragaman Keragaman fenotip dapat diketahui dengan mengukur bagian­bagian tubuh atau morfometrik (Komenes, 1999).

Pengukuran ukuran tubuh digunakan untuk membedakan keragaman baik ukuran maupun bentuk tubuh terhadap populasi ternak. Analisis keragaman dan korelasi banyak digunakan dalam mengkarakterisasi hubungan sifat­sifat fenotip dan genetik (Salako, 2002).

Produksi daging unggas Kabupaten Batubara pada tahun 2008 yang terbesar adalah ayam kampung yaitu sebesar 55,8 ton, untuk ternak kecil yang terbesar adalah kambing/ domba yaitu 156,6 ton dan untuk ternak besar adalah sapi dengan produksi daging sebesar 363,3 ton. Populasi unggas di Batubara dari tahun 2006­2007 semuanya mengalami peningkatan kecuali ayam kampung. Untuk ternak kecil yaitu kambing, domba dan babi serta ternak besar seperti sapi pada tahun 2007 juga meningkat jumlah populasinya dibandingkan tahun 2006 (Wikipedia, 2013).

(3)

331 BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di 7 kecamatan yang ada di Kabupaten Batubara Sumatera Utara. Lokasi di Batubara merupakan asal ayam kampung yang akan diteliti di peternakan warga yang akan di jadikan objek penelitian dari setiap Kecamatan. Penelitian ini di laksanakan dari bulan November hingga januari 2014 .

Bahan dan Alat Bahan

Ayam kampung (domesticated chicken) diperkirakan sebanyak jantan 50% dan betina 50% dari sample seluruh kecamatan yang berada di Kabupaten Batubara dengan ketentuan perhitungan pada tabel interval keyakinan penelitian pada metode Cohen Manion dan Morisson.

Adapun data yang akan diukur adalah sebanyak 60% dari populasi dan dikonfersikan melalui tabel interval keyakinan pada penelitian adalah 95% dengan alpha 0,1. Dengan demikian sampel yang digunakan terdiri dari : Medang Deras 379 ekor, Sei Suka 359 ekor, Air Putih 303 ekor, Sei Balai 321 ekor, Lima Puluh 361 ekor, Talawi 321ekor, dan Tanjung Tiram 348 ekor.

Alat

Jangka sorong dan pita ukur sebagai alat pengukur, kamera sebagai alat dokumentasi, timbangan sebagai alat pengukur bobot badan ayam kampung, serta satu unit komputer yang dilengkapi program Statistics Analytical System (SAS) untuk alat bantu pengolahan data.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriftif, analisis koomponen utama dan analisis diskriminan.

Setiap organ tubuh bagian luar diukur serta dilakukan pengamatan langsung terhadap sifat kualitatif dan di tentukan jarak genetiknya sesuai dengan objek yang ada. Pengukuran ternak dilaksanakan di kandang ternak untuk memudahkan dalam pengendalian ternak dan dapat dibantu pengawasannya oleh peternak.

(4)

332 Pengumpulan Data

Parameter yang di amati

Pengukuran ukuran linear permukaan tubuh ternak sebagai sifat kuantitatif dapat digunakan dalam seleksi (Mulliono, 1996). Dijelaskan lebih lanjut bahwa pengukuran ukuran linear permukaan tubuh tersebut dilakukan untuk memperoleh perbedaan ukuran­ukuran tubuh dalam populasi ternak. Perbedaan ukuran tubuh pada saat dewasa kelamin dapat memberikan penampakan yang berbeda pada setiap ternak.

Bagian­bagian tubuh yang akan diukur adalah dari kepala hingga bagian tarsometatarsus hingga kaki. Seluruh ukuran tubuh diukur dalam satuan cm. Bagian­bagian tubuh yang diukur antara lain:

1. Panjang badan 2. Panjang / tinggi leher 3. Panjang sayap 4. Lebar sayap 5. Lingkar dada 6. Lebar dada 7. Panjang kepala. 8. Lebar kepala 9. Panjang paruh 10. Panjang jengger 11. Tinggi jengger 12. Panjang tulang tibia 13. Lebar tulang tibia

14. Panjang Lingkar metatarsus 15. Panjang

Parameter di dalam penelitian ini adalah:

1. Jarak genetik ayam kampung

2. Morfometrik organ tubuh bagian luar

Mahalanobis

Jarak genetik Mahalanobis sebagai ukuran jarak kuadrat genetik minimum yangdigunakan sesuai petunjuk Nei (1987) adalah sebagai berikut :

(5)

333 D2( i, j ) = ( i - j ) C-1( i - j )

Keterangan :

D2( i, j ) = Nilai statistik Mahalanobis sebagai jarak kuadrat antar galur ayam ke­I dan galur

ayam ke­j,

C­1 = Kebalikan matrik gabungan ragam peragam antar peubah

I = Vektor nilai rataan pengamatan dari galur ayam ke­i pada masing­masing peubah, j = Vektor nilai rataan pengamatan dari galur ayam ke – j pada masing­masing peubah

Jarak Mahalanobis adalah ukuran yang menyatakan jarak nilai setiap kasus dari rata – rata seluruh kasus (Siregar, 2003).Prinsip Mahalanobis Distance adalah menghitung jarak di ruang multidimensional antara sebuah pengamatan dengan pusat dari semua pengamatan (Hair dan Anderson, 1998).Untuk data atribut, diagram kontrol D2 (Mahalanobis Distance) dengan konsep menghitung jarak proporsi jumlah ketidaksesuaian sebuah pengamatan terhadap rata­rata proporsi dari seluruh pengamatan untuk setiap variable (Mukhopadhyay, 2008).

Untuk membantu analisis statistik Mahalonobis digunakan paket program SAS ver. 6.12 (SAS 1985) dengan menggunakan prosedur Proc Discrim. Dari hasil perhitungan jarak kuadrat tersebut kemudian dilakukan pengakaran terhadap hasil jarak genetik yang didapat.Hasil pengakaran terhadap hasil jarak genetik dianalisis menggunakan perangkat lunak MEGA2 seperti petunjuk Kumar et al. (2001) untuk memperoleh pohon fenogram. Teknik pembuatan pohon fenogram dilakukan dengan metoda UPGMA (Unweight Pair

Group Method with Arithmetic) dengan asumsi bahwa laju evolusi antar galur/kelompok

ternak adalah sama. Beberapa keuntungan yang didapat dari penggunaan teknik ini dikemukakan oleh Kumar et al. (2001), karena sederhana dan berguna pada kondisi kelompok yang relatif stabil.

Analisis Kanonikal

Analisis kanonikal dilakukan untuk menentukan peta penyebaran dan nilai kesamaan dan campuran di dalam dan di antara kelompok ternak (Herrera et al., 1996). Analisis ini juga dipakai untuk menentukan beberapa peubah dari ukuran fenotipik yang memiliki pengaruh kuat terhadap penyebab terjadinya pengelompokan ternak (pembeda kelompok) (Gunawan et

al., 2008).

Analisis Diskriminan

Analisis diskriminan digunakan untuk mengklasifikasikan individu­individu kedalam dua atau lebih kelompok (populasi) berdasarkan pengukuran­pengukuran tertentu (Afifi et al.,

(6)

334 1996). Populasi data yang digunakan diketahui dengan jelas dan tiap­tiap individu merupakan bagian dari salah satu populasi tersebut. Analisis diskriminan sering juga disebut sebagai analisis diskriminan linier sesuai dengan metode Fisher dan analisis kanonikal (Wiley, 1981).

Wiley (1981) menyatakan bahwa analisis diskriminan dirancang untuk meminimalkan variasi dalam kelompok dan memaksimalkan variasi antar kelompok sehingga akan diperoleh pemisahan yang terbaik.

Gazpers (1992) menyatakan bahwa analisis diskriminan dapat dipergunakan untuk memperoleh jarak mahalanobis (D2) antar kelompok dan mengetahui variabel­variabel penciri yang membedakan kelompok­kelompok populasi yang ada. Analisis diskriminan juga dapat digunakan sebagai kriteria pengelompokan berdasarkan perhitungan statistik terhadap kelompok yang telah diketahui dengan jelas pengelompokannya.

Analisis diskriminan dilakukan dengan menggunakan program SAS untuk mendapatkan jarak genetik dan kanonikal. Pohon fenogram (dendogram/pohon filogenetik) dibuat berdasarkan matriks jarak genetik dengan metode UPGMA menurut Nei (1987). Konstruksi dendogram dibuat dengan program MEGA (Kumar et al., 1993).

Pohon Fenogram (Pohon filogenik)

Pohon filogenetik merupakan sebagai diagram estimasi yang menggambarkan hubungan asal­usul atau nenek moyang dan keturunan dari spesies atau populasi. Pohon filogenetik disebut juga sebagai pohon evolusi (Freeman et al., 2004).

Pohon filogenetik menggambarkan hubungan silsilah antar organisme atau populasi dalam sebuah diagram.Pohon filogenetik menyajikan gambar yang mewakili aliran evolusi dari spesies atau individu yang lebih dahulu sampai spesies atau populasi yang terbaru (Wiley, 1981).

Pohon filogenetik pada awalnya hanya menggambarkan hubungan spesies dan taxa atau kumpulan kelompok organisme yang lebih besar dengan menggunakan garis untuk mewakili spesifikasi yang terjadi, Dendogram dan cladogram merupakan pohon filogenetik yang seluruhnya menggambarkan hubungan evolusioner spesies atau populasi, menyatakan bahwa dendogram adalah diagram bercabang yang membuat hubungan antar spesies atau populasi berdasarkan pada beberapa kriteria tertentu (Wiley, 1981).

Cladogram merupakan pohon efolusi yang dibuat dengan menyertakan pengaruh­ pengaruh synapomorphies atau pemisahan spesies (populasi) karena terjadinya perubahan dari sifat­sifat awal (Freeman et al., 2004).

(7)

335 Ridley (1991) menyatakan bahwa terdapat dua statistik jarak filogeni yaitu jarak ciri terdekat dan jarak ciri rata­rata. Jarak rata­rata terdekat secara secara berurutan akan membentuk kelompok dan menggabungkan subkelompok yang memiliki ciri terdekat sedangkan jarak ciri rata­rata akan membentuk subkelompok dengan jarak terdekat rata­rata.

Nei (1981) menyatakan bahwa metode Unweight Pair-Group Method with Arithmetic

Mean (UPGMA) merupakan metode perancangan dendogram dengan menggunakan jarak

rata­rata.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Ukuran Tubuh Ayam Kampung

Hasil penelitian perhitungan uji LSM (Last Squares Means) ayam kampung terdapat perbedaan dan persamaan ukuran tubuh yang diukur mulai dari panjang badan, panjang leher, panjang sayap, lebar sayap, lingkar dada, lebar dada, panjang kepala, lebar kepala, panjang paruh, panjang jengger, tinggi jengger, panjang tibia, panjang metatarsus, lingkar metatarsus, dan panjang jari terpanjang. Berdasarkan hasil dari Tabel 1 di bawah menunjukkan rataan simpangan baku dan koefisien keragaman dari tertinggi ke terendah yaitu Air Putih, Talawi, Lima Puluh, Sei Balai, Medang Deras, Sei Suka, dan Tanjung Tiram. Gambar 1 menunjukkan tentang penyebaran ayam kampung jantan di Kecamatan Air Putih Batubara.

Analisis Diskriminan Pada Ayam Kampung

Hasil analisis diskriminan menunjukkan bahwa secara morfologis adanya perbedaan dan persamaan bentuk dan ukuran tubuh antar ayam kampong dengan adanya garis pemisah dan adanya irisan antar ayam kampung. (ap) telihat menyebar di seluruh garis bagian sehingga membuat keseimbangan yang terlihat dibandingkan kecamatan lain. Kec. Sei Balai (sb), Kec.Lima Puluh (lp) dan Kec. Sei Suka (ss) memperlihatkan penampilan fenotipik yang berbeda lebih menyebar kesebelah kiri dan cenderung menumpuk di tengah bagian garis.Sedangkan pada Kec.Talawi (t) penyebaran terlihat merata tersebar namun cenderung penyebarannya kearah kanan dan terlihat keseimbangan letak arah bagian kanan. Pada Kec. Medang Deras (md) penyebaran terlihat rata di bagian garis penghubung tengah.Sedangkan pada Kec.Tanjung Tiram (tt) menyebar keseluruh arah kanan dan kiri. Berikut adalah peta penyebaran ayam kampung di Kabupaten Batubara pada gambar

(8)

336 Tabel 1. Karakteristik ukuran tubuh ayam kampung seluruh kecamatan di kabupaten

Gambar1 .Peta penyebaran ayam kampung jantan menurut ukuran fenotipik, ayam kampung jantan Kec. Air Putih (ap), Lima Puluh (lp), Medang Deras (md), Sei Balai (sb),

Sei Suka (ss), Talawi (t), dan Tanjung Tiram (tt).

Peubah/Kecamatan Air Putih

Lima Puluh

Medang

Deras Sei Balai Sei Suka Talawi

Tanjung Tiram PB 29.01 ± 3.832A 28.36 ± 1.490A 28.28 ± 1.592B 28.26 ± 2.524B 28.20 ± 2.041B 28.97 ± 2.313B 28.38 ± 3.144B PL 13.36 ± 3.446A 11.32 ± 1.506B 11.34 ± 1.177C 11.42 ± 1.147C 11.36 ± 1.283C 12.48 ± 2.688C 11.36 ± 1.156C PS 21.79 ± 3.679A 20.75 ± 2.008B 20.25 ± 1.740D 20.09 ± 1.797C 20.07 ± 2.084D 21.38 ± 2.603D 20.30 ± 1.928D LS 23.61 ± 4.949A 21.03 ± 1.638B 20.81 ± 1.740CD 20.55 ± 1.762C 20.46 ± 1.660D 22.33 ± 3.312CD 20.74 ± 1.896 D LiD 29.01 ± 3.832A 28.36 ± 1.490A 28.28 ± 1.592C 28.26 ± 2.524B 28.20 ± 2.041C 28.97 ± 2.313C 28.38 ± 3.144C LeD 13.36 ± 3.446A 11.32 ± 1.506A 11.34 ± 1.177 B 11.42 ± 1.148 C 11.36 ± 1.283 B 12.48 ± 2.688BC 11.36 ± 1.156BC PK 21.79 ± 3.679C 20.75 ± 2.008AB 20.25 ± 1.740B 20.09 ± 1.797B 20.07 ± 2.084B 21.38 ± 2.603 A 20.30 ± 1.928A LK 23.61 ± 4.949AB 21.03 ± 1.638B 20.81 ± 1.740AB 20.55 ± 1.762AB 20.46 ± 1.660AB 22.33 ± 3.312A 20.74 ± 1.896AB PP 29.01 ± 3.832A 28.36 ± 1.490A 28.28 ± 1.592C 28.26 ± 2.524B 28.20 ± 2.041C 28.97 ± 2.313C 28.38 ± 3.144C PJ 13.36 ± 3.446A 11.32 ± 1.506A 11.34 ± 1.177BC 11.42 ± 1.149B 11.36 ± 1.283 D 12.48 ± 2.688B 11.36 ± 1.156DC TJ 21.79 ± 3.679A 20.75 ± 2.008 B 20.25 ± 1.740 C 20.09 ± 1.797B 20.07 ± 2.084C 21.38 ± 2.603C 20.30 ± 1.928C PTt 23.61 ± 4.949A 21.03 ± 1.638 B 20.81 ± 1.740B 20.55 ± 1.762E 20.46 ± 1.660ED 22.33 ± 3.312CD 20.74 ± 1.896E PM 29.01 ± 3.832A 28.36 ± 1.490 B 28.28 ± 1.592C 28.26 ± 2.524C 28.20 ± 2.041D 28.97 ± 2.313CD 28.38 ± 3.144D LM 13.36 ± 3.446A 11.32 ± 1.506 B 11.34 ± 1.177 C 11.42 ± 1.150 C 11.36 ± 1.283D 12.48 ± 2.688 C 11.36 ± 1.156 CD JT 6.39 ± 3.475AB 6.20 ± 0.843 AB 6.57 ± 0.776A 5.68 ± 0.387B 6.32 ± 0.879AB 6.51 ± 1.004C 5.79 ± 2.780C

(9)

337 Nilai Kesamaan dan Campuran Antar Kecamatan pada Ayam Kampung

Kesamaan ukuran tubuh dari beberapa Kecamatan di Kabupaten Batubara dari yang tinggi ke yang rendah, ukuran tubuh ayam kampung seperti terlihat di Tabel. Kec.Air Putih 57,95%, Kec. Sei Balai 46,58%, Kec. Lima Puluh 44,20%, Kec. Tanjung Tiram 38,11%, Kec. Sei Suka 37,78%, Kec. Talawi 36,02% dan Kec. Medang Deras 27,06%.

Perolehan hasil analisis fungsi diskriminan terhadap karakteristik ukuran tubuh dari

beberapa Kecamatan di Batubara Selatan pada ayam kampung

menghasilkan pengelompokkan berdasarkan persentase nilai kesamaan dan campuran dapat dilihat pada Tabel 2. Dari tabel tersebut dapat diduga adanya nilai kesamaan pada suatu Kecamatan dengan kemungkinan besarnya proporsi nilai campuran yang mempengaruhi kesamaan satu Kecamatan dengan Kecamatan lainnya di Batubara Berdasarkan atas persamaan karakteristik ukuran tubuh hasil pengelompokan ini juga menggambarkan persentase kemurnian setiap ayam kampung.

Tabel 2. Persentase nilai kesamaan dan campuran antar kecamatan

Kecamatan Ap Lp Md Sb Ss T Tt Ap 57.95 9.60 6.62 2.65 2.98 17.88 2.32 Lp 0.55 44.20 12.71 10.22 10.77 10.50 11.05 Md 2.39 19.89 27.06 8.22 24.93 11.94 5.57 Sb 0.31 10.56 2.48 46.58 18.01 1.24 20.81 Ss 0.28 8.61 16.39 25.00 37.78 8.06 3.89 T 27.64 10.87 13.66 0.62 7.76 36.02 3.42 Tt 1.72 17.19 5.16 26.07 9.17 2.58 38.11

(10)

338 Jarak Genetik

Nilai jarak genetic ayam kampung dari beberapa Kecamatan di Kabupaten Batubara digunakan untuk membuat konstruksi pohon fenogram. Berdasarkan nilai jarak genetiknya, ayam kampung yang memiliki nilai jarak genetic terkecil yaitu Sei Balai (2,72866) dan yang tertinggi terdapat pada kecamatan Medang Deras (25.23068) nilai jarak genetik terdapat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 3. Jarak Genetik

Ket : 1 = Air putih 2 = Lima Puluh 3 = Medang Deras 4 = Sei Balai 5 = Sei Suka 6 = Talawi 7 = Tanjung Tiram

Pohon fenogram menggambarkan jarak genetik keseluruhan antara ayam kampung. Ukuran jarak genetic yang relative dekat jika disilangkan tidak akan mendapatkan kemajuan ukuran kuantitatif yang mengesankan karena sifat hererosis yang didapat lebih banyak berasal dari keragaman dalam bangsa dan kemungkinan dari setiap daerah sedangkan jarak genetik yang relatif jauh yang disilangkan diharapkan sifat heterosis yang muncul dari keragaman antar bangsa juga dari setiap daerah yang disilangkan sehingga kemajuan genetic dengan keragaman genetic yang tinggi dapat diperoleh. Berikut ini adalah konstruksi pohon fenogram yang menggambarkan jarak genetic antar daerah asal ayam kampung di Kabupaten Batubara. Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 1 0 2 7.57174 0 3 44.30270 25.23068 0 4 43.95896 24.17957 3.96545 0 5 61.26845 40.73656 4.14115 8.06565 0 6 49.41269 28.56595 3.46013 4.55449 5.77957 0 7 59.23721 38.80300 6.30559 7.43059 2.51908 2.72866 0

(11)

339 Gambar 2. Pohon fenogram (filogenik)

Kecamatan Medang Deras dan Tanjung Tiram berbeda dengan Sei Suka dan Sei Balai juga berbeda dengan Lima Puluh. Jarak antara kecamatan Medang Deras dan Tanjung Tiram (1,73), Sei Suka dan Sei Balai (1,26), kecamatan Air Putih dan Talawi (3,79) dan Lima Puluh (2,13).

Peubah Pembeda Ayam Kampung

Analisis variat kanonikal digunakan untuk mendapatkan kombinasi karakter yang membedakan secara keseluruhan dan dapat digunakan untuk menggambar plot skor guna membandingkan di dalam dan diantara variabilitas populasi (ayam kampung) pada dimensi yang kecil (Wiley,1981).

Pada kanonik 1 ayam kampung diperoleh korelasi cukup tinggi pada peubah Panjang tulang Tibia (0.619251) dan Lebar Metatarsus (0.753213). Sedangkan Pada kanonik 2 ayam kampung yaitu peubah tertinggi terdapat pada Panjang Kepala (0.257826) dan Panjang Paruh (0.303927). Berikut ini tabel analisis kanonikal peubah pembeda pada ayam kampung.

Pada analisis kanonik peubah dari setiap bagian tubuh ayam terdapat perbedaan meskipun tidak terlalu menonjol namun terdapat titik terendah dari bagian kanonik 1 dan 2 dan terlihat. Pada kanonik 1 hanya ada 2 nilai minus yg terdapat pada bagian Panjang Kepala

Medang Deras Tanjung Tiram Lima Puluh Sei Suka Sei Balai Air Putih Talawi 3.79 3.79 1.73 2.13 1.26 1.73 1.26 1.61 0.40 0.74 17.91 17.00 0 5 10 15 20

(12)

340 (­0,107949) dan pada Lebar Kepala (­0,054937) sedang pada kanonik 2 terdapat 4 nilai minus

yaitu pada Panjang Leher (­0.165097, Lebar Sayap (­0.165097), Lebar Dada (­0.249071) dan Panjang tulang Tibia (­0.240621).

Tabel 4. Analisis Kanonikal

Peubah/Kecamatan Kan 1 Kan 2

PB 0.187203 0.032395 PL 0.520547 ­0.388324 PS 0.382128 0.152684 LS 0.566634 ­0.165097 LiD 0.509261 0.133457 LeD 0.232482 ­0.249071 PK ­0.107949 0.257826 LK ­0.054937 ­0.054286 PP 0.416719 0.303927 PJ 0.371204 0.187335 TJ 0.304023 0.117583 PTt 0.619251 ­0.240621 PM 0.58378 0.062584 LM 0.753213 0.305682 JT 0.140062 0.040218 Ket : PB = Panjang Badan PL = Panjang Leher PS = Panjang Sayap LS = Lebar Sayap LiD = Lingkar Dada LeD = Lebar Dada PK = Panjang Kepala LK = Lebar Kepala PP = Panjang Paruh PJ = Panjang Jengger TJ = Tinggi Jengger PTt = Panjang Tulang Tibia PM = Panjang Metatarsus LM = Lebar Metatarsus JT = Jari Terpanjang

(13)

341 KESIMPULAN

Berdasarkan analisis kanonik fenotipik pembeda ayam kampung adalah Panjang Kepala, Panjang Paruh, Panjang tulang Tibia, dan Lebar Metatarsus dapat digunakan sebagai peubah pembeda antar ayam kampung. Penampilan fenotip berdasarkan analisis morfometrik menunjukkan perbedaan secara morfologi pada setiap ayam kampung, dari 7 kecamatan yang ada di Kabupaten Batubara. Pada data tertinggi terdapat pada Kecamatan Air Putih dan Talawi yaitu sebesar 3,79 dan data terendah terdapat di Kecamatan Sei Suka dan Sei Balai yaitu sebesar 1,26. Rataan simpangan baku tertinggi yaitu pada kecamatan Air Putih dan terendah berada pada Kecamatan Tanjung Tiram. Berdasarkan nilai kesamaan dan campuran dalam antar kecamatan serta jarak genetik dari ayam kampung, membuktikan selama ini terjadi persilangan antar ayam kampung dan dengan tujuan produksi yaitu sebagai ternak konsumsi sehari – hari dan ternak hias.

DAFTAR PUSTAKA

Afifi, A.A. And V. Clark. 1996. Computer-Aided Multivariate Analysis. 3 rd

Edition.

Chapman And Hall/CRC, New York.

Anonymous. 1982. Persyaratan Teknis Pembibitan Babi. Direktorat Jenderal Peternakan. Jakarta.

Brahmantiyo, B., 2007. Budi DayaKelinci. BalaiPenelitianTernak. Ciawi, Bogor.

Brahmantiyo, B., L., H. Prasetyo, A. R, Setioko dan R H. Mulyono. 2003. Pendugaan Jarak Genetik Dan Faktor Peubah Pembeda Galur Itik (Alabio, Bali, Khaki Campbell, Mojosari Dan Pegagan) Melalui Analisis Morfometrik. Jurnal Ilmu Ternak Dan Veteriner Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 8 (L): L­7.

Chamdi AN. 2005. Karakteristik sumberdaya genetic ternak sapi Bali (Bos­bibosbanteng) dan alternative pola konservasinya (Review).Biodiversitas 6 (1):70­75.

Freeman S. and J. C. Herron. 2004. Evolutionary Analysis. 3

rd

Edition. Pearson Prentice Hall, New Jersay

Gazpers, V. 1992.Teknik Analisis dalam Perancangan Percobaan Penelitian. Tarsito, Bandung.

Gunawan A, Sumantri C. 2008. Pendugaan nilai campuran fenotipik dan jarak genetic domba Garut dan persilangannya.J Indon Trop AnimAgric33(3): 176­185.

(14)

342 Hartl, D.L. 1988. A Primer of Population Genetics. 2ndEdition. Sinauer Associates, Inc.

Publisher.

Kumar S., K. Tamura, I.B. Jakobsen, And M. Nei. 2001. MEGA2: Molecular Evolutionary Genetics Analysis Software. Arizona State University, Tempe, Arizona, USA.

Kusuma, A.S. 2002. Karakteristik Sifat Kuantitatif Dan Kualitatif Ayam Merawang Dan Ayam Kampung Umur 5­12 Minggu. Skripsi. FakultasPeternakan. InstitutPertanian Bogor. Bogor, Indonesia

Komenes, P.A. 1999. Alfa­casein and beta­lactoglobulin and growth hormone alleles frequencies and genetik distances in Nelore, GYR, Guzera, Caracu, Charolais, Canchim and Santa Getrudiscattles. Gen MolBiol22:539­541.

Mansjoer Et Al. 1990.Pencarian Galur Murni Ayam Kampung, Ayam Pelung Dan Ayam Bangkok Dalam Usaha Pelestarian Sumber Genetik Ayam Di Indonesia Laporan Penelitian IPB Bogor.

Mc Lelland, J. 1990. Avian Anatomy. Wolfe Publishing Ltd., London.

Mulyono, S. 1996. Memelihara Ayam Buras Berorientasi Agribisnis. Penebar Swadaya. Bogor.

Mulyono , R.H. dan Pangestu, R.B. 1996. Analisis statistik Ukuran­Ukuran Tubuh dan Analisis Karakter­Karakter Genetik Eksternal pada Ayam Kampung, Ayam Pelung dan Ayam Kedu. Laporan Penelitian. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Nei, M. 1987. Moleculer Evolutionary Genetic.Columbia University Press. USA.

Nishida, t., k. Nozawa, k. Kondo, s.s.mansjoer and h. Martojo. 1980. Morphological AndGenetical Studies In The Indonesian Native Fowl. The Origin And Phylogeny Of Indonesian Native Livestock. Vol 1. Pp. 47­70.

Nishida, T., Hayashi, Y., andMansjoer, S. S.1982.Distribution and identification of Jungle Fowl in Indonesia.The Origin and Phylogeny of Indonesia Native Livestock.

Noor RR. 1995. GenetikaTernak..PenebarSwadaya. Jakarta.

Noor RR. 2008. GenetikaTernak. Ed ke­4.Penebar Swadaya. Jakarta.

Rasyaf, M. 1997. PengelolaanPeternakanUnggasPedaging.Kanisius.Yogyakarta.

Reynal, P. H. 2013. Morfologi dan morfometrik serta sifat kualitatif warna bulu pada puyuh liar (Turnix suscitatoratro gularis) dan puyuh domestikasi. Skripsi .Fakultas Pertanian. Prodi Peternakan. Medan, Indonesia.

Ridley, M. 1991. Masalah­Masalah Evolusi.Penerjemah A.F. Saifuddin. Universitas Indonesia, Jakarta.

Romdhani, S. 2004. Face Rekognition using Prinsipal Component Analysis. http:// www. Elec. Gla.ac. uk­romdhani.

(15)

343 Salako, A.E., and L. O Ngere. 2002. Application of multifactorial discriminant analysis in the

morphometric structural differentiation of the WAD and Yankasa sheep in the humid southwest Nigeria. Nig. J. Anim. Prod. 29(2):163­7.

Sartika, T. 2000. Studi Keragaman Fenotipik Dan Genetik. Gramedia. Jakarta. Sarwono B.1995. Berternak Ayam Buras.:Penebar Swadaya. Jakarta.

Suprijatna, E., Atmomarsono, U., dan Kartasudjana, R. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.

Statistics Analytical System. 1985. SAS User's Guide.SAS Inst., Inc., Cary. NC.

Suthama, S. 2010. Organ dalam pada unggas. Http://Www.Suthama.Blogspot. Com.[DiaksesPadaTanggal 20 Maret 2013 Pukul 24.00].

Wiley, E. O. 1981. Phylogenetics: The Theory and Practice of Phylogenetic Systematics. Jhon Wiley & Sons Inc.Sulandari, S.,M.S.A. Zein And T. Sartika. 2008. Molecular Characterization Of Indonesian Indigenous Chicken Based On Mitochondrial DNA Displacement (D)­Loop Sequences. Hayati J. Biossci. 15: 145­154. http://setabasri01.blogspot.com/2012/04/cara­menentukan­sampel­penelitian.html. Wikipedia. 2010. Jarak_Genetik, http://id.wikipedia.org/wiki/ [23 April 2013]

Wikipedia. 2012. Morphometrics, http://en.wikipedia.org./ [23 April 2013]

Wikipedia. 2012. Morphometrics, Http://En.Wikipedia.Org./ [23 April

Gambar

Tabel 2. Persentase nilai kesamaan dan campuran antar kecamatan
Tabel 4. Analisis Kanonikal

Referensi

Dokumen terkait

Metode ini digunakan untuk pengujian kebutuhan oksigen kimiawi ( COD ) dalam air dan air limbah dengan reduksi Cr2O7 2- secara spektrofotometri pada kisaran nilai COD

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa umur memiliki nilai korelasi positif kuat pada tingkah laku makan sehingga dapat dijadikan dasar penentuan waktu sapih

Penelitian yang telah dilakukan oleh Yusriani Sapta Dewi dan Indri Hapsari pada tahun 2012 menunjukkan kemampuan tanaman puring (Codiaeum variegatum) dalam menyerap logam

  Effect  of  NaCl  of  Root  Exudation in  Asparagus  and  Suppression  of  Fusarium  Crown Rot...   Biological  Control  of 

Simpulan dalan penelitian ini adalah terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar fisika antara siswa yang menggunakan pendekatan kemampu- an argumentasi oral

Kursus ini memberi fokus kepada para pelajar mengenai kepentingan aspek pemasaran dalam institusi kewangan dan perbankan serta teknik dan alat pemasaran yang

Wawancara dengan Sajiman (seniman, Ketua Grup Kuda Kepang Bina Satria) tanggal 11 Juli 2012 di Durian Sawahlunto.. semakin baik dengan campur tangan berbagai kreativitas semua

transmittermaupun receiver [1-3]. Sehingga satu antenna dapatdigunakan baik menerima atau mengirimkan.. 166 sinyal.Properti penting pada RF-frontend atau antena