• Tidak ada hasil yang ditemukan

M. Nurman Dosen STIKes Tuanku Tambusai Riau ABSTRACT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "M. Nurman Dosen STIKes Tuanku Tambusai Riau ABSTRACT"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 63 PERBANDINGAN EFEKTIFITAS MADU + NaCl 0,9 % DENGAN NACL

0,9 % SAJA TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA GANGREN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI WILAYAH KERJA

PUSKEMAS BANGKINANG KOTA TAHUN 2015

M. Nurman

Dosen STIKes Tuanku Tambusai Riau ABSTRACT

Diabetes mellitus or diabetes is a chronic hormonal disorder that causes excess glucose in the blood is accompanied by a variety of metabolic disorders. Complication that often occurs is the pathological changes in the limbs that can lead to ulcers or diabetic wounds .. wound care management related to the treatment of diabetic wounds are still diverse, including the use of honey and NaCl 0.9%, while 0.9% NaCl is an antiseptic in wound care. The research design is quasi-experimental design with control time series design. The sample was 20 patients, who were divided into two groups with the details of 10 patients as the treatment of wounds using honey + NaCl 0.9% and the 10 other patients wound treatment using 0.9% NaCl Data analysis technique used is a parametric test is a statistical test test T-test or paired t-test is test dependent and independent with a value of α = 0.05. Dependent T test results showed no significant difference before and after treatment of wounds using honey + NaCl 0.9%, ie p value = 0,001 <α, as well as before and after wound treatment using 0.9% NaCl is p value = 0.003 <α. Results of the independent T is no comparison between the treatment of wounds using honey + 0.9% NaCl with 0.9% NaCl alone. Suggestions give is to apply the use of honey as a wound treatment agent because it has a good efficacy for the wound healing process. Bibliography: 52 (1997-2015)

Keywords : Comparison, Honey, NaCl 0.9%, Gangrenous Wounds, Diabetes Mellitus.

PENDAHULUAN

World Health Organization (WHO) (2011) mendefinisikan Diabetes Mellitus (DM) sebagai penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan insulin yang cukup atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkan.

Data kesehatan dari World Health Organization (WHO) tahun 2010 melaporkan bahwa 60% penyebab kematian semua umur di dunia adalah karena penyakit tidak menular. Dalam hal ini, diabetes melitus menduduki peringkat ke-6 sebagai penyebab kematian. Sekitar

(2)

Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 64

1,3 juta orang meninggal akibat diabetes dan 4% meninggal sebelum usia 70 tahun. Pada Tahun 2030 diperkirakan diabetes melitus menempati urutan ke-7 penyebab kematian dunia.

Data lain juga menunjukkan bahwa penderita diabetes melitus (DM) kurang lebih 5% hingga 10% mengalami diabetes tipe 1 yaitu diabetes tergantung insulin dan kurang lebih 90% hingga 95% penderita mengalami diabetes melitus tipe II, yaitu diabetes yang tidak tergantung insulin (Brunner & Suddarth, 2001).

Dari seluruh jumlah pasien DM, pasien dengan DM tipe II di dunia pada tahun 2010 sebanyak 285 juta jiwa dari total populasi dunia sebanyak 7 miliar jiwa dan meningkat sebanyak 439 juta jiwa pada tahun 2030 dari total populasi dunia sebanyak 8,4 miliar jiwa (Yuanita,2014)

Menurut ketua Internasional Diabetes Federation untuk kawasan Asia Pasifik (IDF-WPR) tahun 2013, Indonesia menduduki peringkat posisi kelima dunia dengan jumlah 9,1 juta penduduk hanya dalam satu tahun, jumlah penderita diabetes di Indonesia melonjak 500 orang. Diperkirakan pada 2035 nanti, ada sekitar 14,1 juta penduduk Indonesia yang menderita diabetes.

Data Riskesdas tahun 2007 dan 2013, Badan Litbangkes Kemenkes RI Prevalensi diabetes di Indonesia berdasarkan wawancara tahun 2013 adalah 2,1%. Angka tersebut lebih tinggi dibanding dengan tahun 2007 (1,1%). Pada tahun 2014 penyandang diabetes

melitus (DM) di indonesia terjadi peningkatan sebesar 12.189.685. Sebanyak 31 provinsi (93,9%) menunjukkan kenaikan prevalensi DM yang cukup berarti. Prevalensi diabetes tertinggi terdapat di provinsi Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11,1% ), diikuti Riau (10,4% ) dan NAD (8,5%).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar, dapat diketakahui bahwa wilayah tertinggi menderita diabetes mellitus tipe II berada di kecamatan Bangkinang Kota yaitu sebanyak 110 orang penderita.

Peningkatan jumlah pasien diabetes melitus akan berdampak pada peningkatan komplikasi penyakit ini. Penyakit diabetes melitus ini merupakan penyakit yang memiliki banyak sekali komplikasi. Mungkin bisa dikatakan diantara jenis penyakit yang ada, diabetes menjadi penyakit yang paling banyak menimbulkan komplikasi (Helmawati,2014).

Salah satu komplikasi diabetes melitus yang sering dijumpai adalah terjadinya ulkus pada kaki atau sering disebut sebagai kaki diabetik. Ulkus diabetik merupakan komplikasi tersering yang dialami pasien DM tipe 2 yaitu neuropati perifer (10-60%) (Yuanita,2014).

Ulkus diabetika adalah salah satu bentuk komplikasi kronik DM berupa luka terbuka pada permukaan kulit yang dapat disertai adanya kematian jaringan setempat. Prevalensi penderita ulkus diabetika di Indonesia sekitar 15%, dengan angka amputasi 30%, angka mortalitas 32% dan ulkus diabetika

(3)

Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 65

merupakan sebab perawatan rumah sakit yang terbanyak sebesar 80% (Meilani, 2013).

Penderita DM mempunyai risiko terjadinya gangren 50 kali lebih mudah daripada yang bukan penderita DM. Hal ini disebabkan karena penderita DM mudah sekali terkena infeksi lingkungan dengan glukosa tinggi memudahkan perkembangbiakan bakteri atau kuman. Penderita gangren diabetes ditemukan pada 2,4 % sampai 14 % dari keseluruhan kasus diabetes melitus (DM) (Sunarmi dikutip dari Suyono, 1996).

Selain penanganan dengan farmakologis, penanganan luka pada diabetes terutama luka gangren dapat dilakukan dengan terapi non farmakologis. Mengoleskan madu pada bagian kaki yang luka, merupakan alternatif untuk menghindari terjadinya amputasi pada pasien diabetes. Hal tersebut dibuktikan oleh seorang dokter dari Universitas Wisconsin, AS, yang berhasil membantu pasien-pasiennya menghindari amputasi, menurut Profesor Jennifer Eddy dari University School of Medicine and Public Health, madu bisa membunuh bakteri karena sifat asamnya, selain itu madu juga efektif menghindari sifat kebal bakteri akibat penggunaan antibiotik (Furyandi,2009).

Selain dari madu, terdapat cairan Natrium Chloride (NaCl ) 0,9 % yang berguna dalam perawatan luka. Cairan NaCl 0,9 % biasanya digunakan rumah sakit dalam merawat luka karena cairan tersebut aman di gunakan untuk merawat luka (Setio,2012)

Natrium chloride (NaCl) dapat digunakan untuk membersihkan luka karena NaCL 0,9% ini sendiri mengandung isotonik dan tidak akan menggangu penyembuhan luka. Larutan NaCl ini dimaksudkan untuk mencuci dan merendam luka atau lubang operasi, sterilisasi ini sangat penting karena cairan tersebut langsung berhubungan dengan cairan dan jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi dapat terjadi dengan mudah (Inaya,2013).

Pemilihan cairan NaCl 0,9% sebagai cairan yang digunakan untuk perawatan luka terutama luka DM karena cairan NaCl 0,9% merupakan cairan yang bersifat fisiologis, non toksik dan tidak mahal. NaCl dalam setiap liternya mempunyai komposisi natrium klorida 0,9 gram dengan osmolalitas 308 maOsm/1 setara dengan ion-ion Na+ 154 mEq/1 dan Cl 154 mEq/1, sehingga lebih aman digunakan untuk perawatan luka (Setio, 2012)

Menurut penelitian, pasien yang dilakukan perawatan luka DM dengan menggunakan NaCl 0,9% lebih baik tingkat kesembuhannya dari pada pasien yang menggunakan cairan lain. Hal tersebut dikarenakan sifat cairan NaCl 0,9% yang merupakan cairan fisiologis yang lebih aman digunakan.NaCl 0,9% merupakan larutan isotonis aman untuk tubuh, tidak iritan, melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering, mejaga kelembapan sekitar luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan serta mudah didapat dan harga relatif lebih murah (Setio,2012)

(4)

Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 66

Berdasarkan penelitian shazita adiba martyarin tahun 2011, efek madu dalam proses epitelisasi luka bakar derajat dua dangkal dengan hasil analisis menunjukkan bahwa tidak didapatkan perbedaan yang signifikan antara proses epitelisasi dengan madu.

Penelitian lainnya yaitu dilakukan oleh zulfa dkk tahun 2008 yang berjudul perbandingan penyembuhan luka terbuka menggunakan balutan madu atau balutan normal salin-povidone iodine, dengan hasil uji yang menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna terhadap perkembangan proses penyembuhan luka sebelum dan sesudah perawatan dengan madu maupun normal salin- povidone iodine.

Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti bagaimana perbandingan efektivitas madu + NaCl 0,9% dengan NaCl 0,9 % saja pasien diabetes melitus tipe II terhadap penyembuhan luka gangren karena berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa madu efektif untuk menyembuhkan luka, akan tetapi ada juga penelitian yang menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna penggunaan madu untuk luka. Disini peneliti akan bagaimana perbandingan efektifitas madu + NaCl 0,9% dengan NaCl 0,9% saja karna cairan NaCl 0,9% biasanya digunakan pada perawatan luka sebagai antiseptik. Cairan NaCl 0.9% juga merupakan cairan fisiologis yang efektif untuk perawatan luka karena sesuai dengan kandungan garam tubuh (Kristiyaningrum Dkk, 2013).

Rencananya pada penelitian ini ingin dilaksanakan di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, mengingat bahwa rumah sakit ini merupakan rumah sakit rujukan di Provinsi Riau, akan tetapi setelah peneliti meminta izin untuk meneliti di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, pihak bagian penelitian tidak mengizinkan peneliti untuk meneliti di RSUD Arifin Achmad, hal ini terkait dengan prosedur yang tidak sesuai menurut bagian penelitian. Setelah diketahui bahwa penelitian tidak bisa dilakukan di RSUD Arifin Achmad, peneliti melanjutkan dan melakukan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Bangkinang Kota. Peneliti menetapkan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Bangkinang Kota, karna sesuai dengan data yang di dapat dalam Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar bahwa penyakit DM di wilayah Kabupaten Kampar terbanyak yaitu di kecamatan Bangkinang Kota. METODE PENELITIAN

Desain penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah quasy experiment dengan control time series design. Sampel pada penelitian ini adalah pasien diabetes melitus tipe II dengan luka gangren diwilayah kerja Puskemas Bangkinang Kota yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 20 orang dengan pasien yang mengalami luka gangren. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.

Prosedur dalam penelitian setelah mendapatkan responden yang sesuai dengan kriteria inklusi, peneliti kemudian mendatangi rumah responden, melakukan penilaian terhadap kondisi pasien dengan luka gangren diabetes mellitus pada hari

(5)

Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 67

pertama sebelum intervensi dilakukan. Pada kelompok madu+ NaCl 0,9% dan NaCl 0,9% saja,intervensi di lakukan dengan membagi responden menjadi 2 bagian dengan waktu yang berbeda, perawatan luka dilakukan dalam dua hari sekali, pada hari ke 15 dilakukan pengukuran kembali bagaimana penyembuhan luka terjadi pada kelompok madu+NaCl 0,9% dan NaCl 0,9% saja. Analisa data dalam penelitian ini dilakukan analisa univariat dan bivariat.

HASIL PENELITIAN

Hasil yang didapatkan dari penelitian yaitu hasil uji statistik menggunakan dependen t-test diperoleh rata-rata perawatan luka madu + NaCl 0,9% pada sebelum perlakuan adalah 18,20 dengan standar deviasi 2,658. Sesudah perlakuan didapat rata-rata perawatan luka menggunakan madu + NaCl 0,9% adalah 29,50 dengan standar deviasi 3,171, pada nilai mean perbedaan antara sebelum dan sesudah perlakuan adalah 11,300 dengan standar deviasi 1,889.Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,001 maka dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara perawatan luka madu + NaCl 0,9% sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan.

Rata-rata perawatan luka NaCl 0,9% pada sebelum perlakuan adalah 15,90 dengan standar deviasi 1,287. Sesudah perlakuan didapat rata-rata perawatan luka menggunakan NaCl 0,9% adalah 23,40 dengan standar deviasi 2,716, pada nilai mean perbedaan antara sebelum dan sesudah perlakuan adalah 7,500 dengan standar deviasi

2,593. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,003 maka dapat disimpilkan ada perbedaan yang signifikan antara perawatan luka NaCl 0,9% sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan.

Rata-rata Pre perawatan luka Madu + Nacl 0,9% - Pre perawatan luka Nacl 0,9% pada efektif adalah 17,00 dengan standar deviasi 0,0, sedangkan untuk tidak efektif rata-rata Pre perawatan luka dengan Madu + Nacl 0,9% - Pre perawatan luka Nacl 0,9% adalah 15,78 dengan standar deviasi 1,302. Hasil Uji Statistik didapatkan nilai p=0,399, berarti pada α 5% terlihat tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata Pre perawatan luka dengan Madu + Nacl 0,9% dan Pre perawatan luka Nacl 0,9%.

Rata-rata Post perawatan luka Madu + Nacl 0,9% - Post perawatan luka Nacl 0,9% pada efektif adalah 30,00 dengan standar deviasi 2,915, sedangkan untuk tidak efektif rata-rata Post perawatan luka dengan Madu + Nacl 0,9% - Post perawatan luka Nacl 0,9% adalah 25,00 dengan standar deviasi 0,0. Hasil Uji Statistik didapatkan nilai p=0,030, berarti pada α 5% terlihat ada perbedaan yang signifikan rata-rata Post perawatan luka dengan Madu + Nacl 0,9% dan Post perawatan luka Nacl 0,9%.

Setelah dilakukan uji T Independen maka diperoleh P value pada Pre perawatan luka Madu+Nacl 0,9% - Pre perawatan luka Nacl 0,9% adalah 0,399, sedangkan pada Post perawatan luka Madu + Nacl 0,9% - Nacl 0,9% didapatkan P value 0,030, jadi Pre perawatan luka Madu+Nacl 0,9% - Nacl 0,9% adalah tidak ada

(6)

Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 68

perbedaan yang signifikan antara Pre perawatan luka dengan Madu + Nacl0,9% dan Pre perawatan luka dengan Nacl 0,9%, sedangkan pada Post perawatan luka dengan Madu + Nacl 0,9% - Nacl 0,9% ada perbedaan yang signifikan antara Post perawatan luka dengan Madu + Nacl0,9% dan post perawatan luka dengan Nacl 0,9%.

PEMBAHASAN

Luka diabetik adalah luka yang terjadi karena adanya kelainan pada saraf, pembuluh darah dan kemudian disertai adanya infeksi (Prabowo, 2007 dalam Situmorang, 2009). Luka diabetik termasuk pada luka kronis, yaitu luka yang mengalami kegagalan proses penyembuhan integritas anatomis jaringan dan fungsi secara normal yang dapat disebabkan oleh faktor eksogen dan endogen.Luka diabetik ini dapat membentuk jaringan nekrotik dan sekresi drainase (Potter dan Perry, 2005b). Apabila luka diabetik tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan kecacatan bahkan berujung pada amputasi (Misnadiarly, 2008 dalam

Secara deskriptif status luka diabetik yang dirawat menggunakan madu + NaCl 0,9% menunjukkan hasil berbeda dibandingkan status luka diabetik yang dirawat menggunakan NaCl 0,9%. Hal ini sangat tampak pada hasil penilaian status luka pada gambaran epitelisasi jaringan tampak pada sebagian besar pasien yang dirawat menggunakan madu + NaCl 0,9% maupun pasien yang dirawat menggunakan NaCl 0,9%. Hasil tersebut sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa madu dapat mempercepat penyembuhan

luka melalui peningkatan jaringan granulasi dan kolagen serta periode epitelisasi (Aljady et al, 2000). Granulasi pada luka yang dirawat menggunakan madu tumbuh dengan baik karena madu memberikan lingkungan yang lembab untuk luka. Hal ini sesuai dengan pendapat Molan (2006) yang menyatakan bahwa rata-rata penyembuhan yang sangat cepat terlihat ketika luka dibalut dengan madu, karena madu dapat menciptakan kelembaban yang tidak dipengaruhi lingkungan.

Perbedaan yang sangat signifikan antara luka yang dirawat menggunakan madu + NaCl 0,9% terlihat pada parameter jenis dan jumlah jaringan nekrotik serta jenis dan jumlah eksudat. Setelah luka dirawat menggunakan madu + NaCl 0,9% selama 7 hari, sebagian besar pasien sudah tidak memiliki jaringan nekrotik dan tidak menghasilkan eksudat. Dengan waktu perawatan luka yang sama seluruh luka pasien yang dirawat menggunakan NaCl 0,9% masih memiliki jaringan nekrotik dan menghasilkan eksudat.

Secara keseluruhan luka diabetik yang dirawat menggunakan madu tampak lebih membaik dan dalam waktu yang sama luka mengalami proses penyembuhan yang lebih cepat. Hal ini disebabkan karena madu tidak hanya sebagai antibakteri, tetapi juga sebagai aniinflamasi, menstimulasi dan mempercepat penyembuhan luka. Sedangkan NaCl 0,9% hanya sebagai cairan pembersih luka dan cairan fisiologis yang sesuai dengan garam pada tubuh.

Perbandingan efektivitas perawatan luka menggunakan madu

(7)

Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 69

+ NaCl 0,9% dan NaCl 0,9% terhadap proses penyembuhan luka diabetik dapat dilihat setelah dilakukan perawatan luka menggunakan madu + NaCl 0,95 dan NaCl 0,9% diuji menggunakan independent t-test. Hasil uji statistik menggunakan independent t-test diperoleh nilai P value 0,030. Secara statistik dapat disimpulkan bahwa ada perbandingan efektivitas perawatan luka menggunakan madu + NaCl 0,9% dan NaCl 0,9% terhadap proses penyembuhan luka gangren pasien diabetes mellitus di wilayah kerja Puskesmas Bangkinang Kota

KESIMPULAN

Setelah dilakukan penelitian, maka dapat disimpulkan ada perbandingan efektivitas perawatan luka menggunakan madu + NaCl 0,9% dan NaCl 0,9% terhadap proses penyembuhan luka gangren pasien diabetes mellitus di wilayah kerja Puskesmas Bangkinang Kota.

DAFTAR PUSTAKA

Aljady, A.M., et al. 2000. “Biochemical Studi on the Efficacy of Malaysian Honey on Inflicted Wounds: an Animal Model”. Medical Journal of Islamic Academy Science. Vol 13: 125-132. Arora, Anjali. (2008). 5 Langkah

Mencegah Dan Mengobati Diabetes. Jakarta : BIP

Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol 2. Jakarta : EGC

Departemen Kesehatan RI. (2009). Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta

Djibril muhamad. (2014). IPM Indonesia Diperingkat 108 Dari 187 Negara. Diperoleh tanggal 15 April 2015 dari m.republika.co.id

Endang Lanywati. (2001). Diabetes Mellitus Penyakit Kencing Manis. Yogyakarta : Kanisius Ervy, dkk. (2014). “ Hubungan

Antara Dukungan Kelurga Dan Kualitas Hidupa Pasien Diabetes Mellitus Tipe II Di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau”. Jurnal Penelitian. PSIK UNRI Faisal. (2012).” Perbedaan

Efektivitas Perawatan Luka Menggunakan Madu Dan Sofratulle Terhadap Proses Penyembuhan Luka Diabetik Pasien Diabetes Mellitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Rambipuji Jember”. Universitas Jember

Greenstein & Wood. (2004). At A Glace Sistem Endokrin Edisi Kedua. Jakarta : EMS

Helmawati, Triana. (2014). Hidup Sehat tanpa diabetes. Jakarta : Notebook

Hidayat, Alimul Aziz (2007).Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Selemba Medika

Hidayat, Aziz Alimul. (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Buku 1. Jakarta: Salemba Medika

(8)

Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 70

Hidayat, Aziz Alimul. (2009). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta : Salemba Medika

Hidayat, Aziz Alimul. (2012). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika

Jeffrey, A.E., dan Echazaretta, C.M. 1997. “Medical Uses of Honey”. Rev Biomed. Vol 7: 43-49

KemenKes RI. (2014). Visi Misi. Diperoleh tanggal 17 april 2015 dari www. Depkes.go.id KemenKes RI.(2014). Diabetes Mellitus Penyebab Kematian Nomor 6 Di Dunia. Diperoleh tanggal 16 April 2015 dari www.Depkes.go.id

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Profil Kesehatan Indonesia 2013. Jakarta

Kristiyaningrum, dkk (2013). “Efektifitas Penggunaan Larutan Nacl Dibandingkan Dengan D40% Terhadap Penyembuhan Luka Ulkus DM di RSUD Kudus”. Jurnal Penelitian. JIKK Vol 4 Lotfi, A. 2008. “Use of Honey as a

Medical Product in Wound Dressing (Human and Animal Studies)”. A review, Res. J. Biol Sci. Vol 3(1): 136-140. Magfirah, Afiah , dkk. (2014).

Pengaruh Perawatan Luka

Dengan Menggunakan Sodium Klorida dan Povidon Iodium Terhadap Penyembuhan Luka Diabetes Mellitus Di RSUD Labuang Baji”. Jurnal Penelitian. StiKes Nani Hasanudin Makassar

Mansjoer, A., et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. Edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius

Marshall, C. 2002. ”The Use Honey in Wound Care: A review Article”. British Journal of Podiatr. Vol 5(2): 47-49. Maryani, A., Gitarja, W.S., dan

Ekaputra, E. 2011. Metode Perawatan Luka. Dalam: Seminar Nasional Keperawatan, 13 November 2011. PSIK Universitas Jember.

Mawaddah. (2012). Perawatan Luka DM. Diperoleh tanggal 15 April 2015 dari www. Wordpress.com

Meilani. (2013). “Gambaran distribusi faktor resiko pada penderita ulkus diabetika di klinik kitamura pku muhamadiyah.” Naskah Publikasi. Universitas TanjungPura Pontianak Molan, P.C. 2006. ”Using Honey in

Wound Care”. International of Clinical Aromatherapy. Vol. 3 (2): 21-2

Moore et al. 2001. “Systemic Review of The Use of Honey as a Wound Dressing”. BMC-Complementary and

(9)

Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 71

Alternative Medicine. Vol 1: 2.

Morison, M.J. 2004. Manajemen Luka. Alih Bahasa oleh Tyasmono A.F. Jakarta: EGC Mukhlis. (2006). “Pengaruh

Pemberian Cairan Ringer Laktat Dibandingkan Nacl 0,9% Terhadap Keseimbangan Asam-Basa Pada Pasien Sectio Caesaria Dengan Anestesi Regional”. Tesis. Universitas Diponegoro Semarang

Notoatmodjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

NPUAP. 2009. Pressure Ulcer Prevention: Quick Reference Guide. Washington DC: National Pressure Ulcer Advisory Panel.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta

Pierce A Grace & Neil R Borley. (2006). At a Glace Ilmu Bedah Edisi Ketiga. Jakarta : EMS

Potter, P.A., dan Perry, A.G. 2005b. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Vol. 2. Edisi 4. Alih Bahasa oleh Renata Komalasari et al. Jakarta: EGC.

Price & Wilson. (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta : EGC

Ramaiah, Savitri. (2003). Diabetes Cara Mengetahui Gejala Diabetes Dan Mendeteksinya Sejak Dini. Jakarta : BIP Riset Kesehatan Dasar (2013). Badan

Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Riyadi, S., dan Sukarmin. 2008.

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Eksokrin dan Endokrin pada Pankreas. Yogyakarta: Graha Ilmu

Setiawan, B., dan Suhartono, E. 2005. “Stres Oksidatif dan Peran Antioksidan pada Diabetes Melitus”. Maj Kedokt Indon. Vol 55 (2): 86-91.

Setio. (2012). Artikel Kesehatan Wanita. Diperoleh tanggal 15 April 2015 dari http://artikelkesehatanwanita. com

Situmorang, L.L. 2009. “Efektivitas Madu terhadap Penyembuhan Luka Gangren Diabetes Mellitus di RSUP H. Adam Malik Medan”. Tidak Diterbitkan. Skripsi. Sumatera Utara: PSIK FK Universitas Sumatera Utara Smeltzer, S.C., dan Bare, B.G. 2002.

Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Vol. 1. Edisi 8. Alih Bahasa oleh Agung Waluyo et al. Jakarta: EGC.

Subarkah, Taufik. (2014). Indonesia Peringkat 5 Jumlah Penderita Diabetes. Diperoleh tanggal

(10)

Jurnal Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 72

16 April 2015 dari www.tempo.co

Sudarmoko, Arif . (2010). Tetap Tersenyum Melawan Diabetes. Yogyakarta : Atma Media Press

Suguna, L., et al. 1993. “Influence of Honey on Collagen Metabolism During Wound Healing in Rats”. J. Clin. Biochem. Nutr. Vol 14: 91-99 Sukatemin. (2013). “Kejadian Ulkus

Kaki Diabetik Kajian Hubungan Nilai Hba1c, Hiperglikemia, Dislipidemia Dan Status Vaskuler (Berdasarkan Pemeriksaan Ankle Brachial Index/ABI)”. Naskah Publikasi. PSIK Muhamadiyah Yogyakarta Supriyatin, Saryono, dan Latifah, L.

2007. ”Efektivitas Penggunaan Kompres Metronidazol dan NaCl 0,9%

terhadap Proses

Penyembuhan Luka Diabetik di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto”. The Soedirman Journal of Nursing. Vol. 2 (1): 11-16.

Veronika, Maria. (2012). “ Pengaruh Terapi Kompres Madu Terhadap Kecepatan Penyembuhan Luka Jahitan Perineum”. Sinopsis Tesis Wirawan. (2011). Jenis Cairan Infus.

Diperoleh tanggal 15 April 2015 dari www.academia.edu Yuanita, Alvinda, dkk. (2014).

“Pengaruh Diabetes Self Management Education (DSME) terhadap Resiko Terjadinya Ulkus Diabetik pada Pasien Rawat Jalan dengan Diabetes Mellitus (DM) Tipe 2 di RSD dr. Soebandi Jember”. e-Jurnal Pustaka Kesehatan vol 2. PSIK Jember

Zulmataram. (2010). Jenis Cairan desinfektan. Diperoleh tanggal 15 April 2015 dari www.Wordpress.com

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini, terminologi yang digunakan adalah IRHR (Increase Ratio of Heart Rate). IRHR adalah Indeks perbandingan denyut jantung seseorang saat melakukan suatu

Jika fasilitas suplai tegangan input dari elemen termal digunakan untuk mengalibrasi tegangan DC− (V UUC ) dengan menggunakan standar tegangan DC+ (V STD ), berdasarkan per-

Lebih rinci, information Literacy dapat didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk: (1) mengenali kebutuhan informasi, (2) mengidentifikasi dan mencari sumber-sumber

Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari lesson study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi

Je Dis Que Rien Ne M'epouvante (Aku Bilang Tidak Ada Yang Dapat Menakutiku) merupakan aria dari opera Carmen karya Georges Bizet, libretto oleh Henri Meilhac

Dasar Entiti Kecemerlangan UiTM – Pindaan 1/2020 | 7 CoE perlu memilih satu bidang tujahan (niche area) penyelidikan/perkhidmatan selari dengan Bidang Keutamaan Negara

Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, panjang malai, dan jumlah gabah isi pada tapin lebih baik dibanding dengan cara tabela tegel

Tgk Jafar Daud,beliau merupakan alumni Dayah Budi Lamno dan merupakan salah seorang Guru senior di dayah budi Lamno, beliau memimpin Dayah Darussa’adah