• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 1

(2)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 2

LAPORAN AKHIR

PROFIL KEPENDUDUKAN

KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2014

LEMBAGA PENELITIAN

UNIVERSITAS PASUNDAN

(3)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 3

Kata Pengantar

Laporan Akhir Penyusunan dan Analisa Perkembangan Kependudukan Kabupaten Bandung memuat Draft Buku Profil Perkembangan Kependudukan Kabupaten Bandung merupakan pelaksanaan amanah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 65 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Profil Perkembangan Kependudukan serta Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri Nomor 474/8458/MD tanggal 20 Desember 2012 perihal Penyusunan Profil Perkembangan Kependudukan yang perlu diterbitkan secara periodik setiap tahun.

Laporan Akhir yang memuat Draft Buku Profil Perkembangan Kependudukan Kabupaten Bandung ini, meliputi gambaran umum, potensi daerah dan memperhatikan database kependudukan yang sudah diintegrasikan dengan data hasil perekaman e-KTP yang disajikan secara visualisasi deskripsi sehingga diharapkan akan lebih mudah untuk dipahami. Dengan adanya kesamaan waktu pencatatan akhir antar kabupaten/kota, propinsi dan pusat diharapkan jumlah penduduk yang tercantum dalam Profil Perkembangan Kependudukan akan sama dengan jumlah penduduk secara nasional.

Laporan Akhir ini sebagai rangkaian akhir dari pelaksanaan kegiatan Penyusunan dan Analisa Perkembangan Kependudukan Kabupaten Bandung semoga dapat memenuhi kewajiban LEMLIT UNPAS Bandung yang memenuhi harapan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bandung sebagai pemberi kerja dan di masa yang akan datang dapat terjalin kembali kerjasasama ini, amin.

Bandung, Desember 2014 LEMLIT UNPAS Bandung Ketua,

(4)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 4

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1

1.1

LATAR BELAKANG

1

1.2

Tujuan

3

1.3

Ruang Lingkup

4

1.4

Pengertian Umum Terhadap Istilah

4

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN BANDUNG

23

A

Letak Geografis

23

B

Kondisi Demografis

25

C

Gambaran Ekonomi

25

1

Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

30

2

PDRB Per Kapita

32

3

Inflasi

34

D

Potensi Daerah

36

1

Potensi Pertanian dan Perkebunan

39

2

Potensi Kehutanan

42

3

Potensi Pariwisata

46

4

Potensi Perdagangan dan Perindustrian

50

5

Potensi Energi Panas Bumi (Geothermal)

51

BAB III SUMBER DATA

52

BAB IV KUANTITAS PENDUDUK

53

A

Jumlah Dan Persebaran Penduduk

53

1

Jumlah Dan Proporsi Penduduk Menurut Jenis

Kelamin/Kecamatan/Desa

53

2

Kepadatan Penduduk

54

3

Laju Pertumbuhan Penduduk

55

B

Penduduk Menurut Karakteristik Demografi

57

1

Jumlah dan Proporsi Penduduk Menurut Umur Dan Jenis Kelamin

57

1.a. Rasio Jenis Kelamin

57

1.b. Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur

58

1.c Rasio Ketergantungan

60

2

Jumlah Dan Proporsi Penduduk Menurut Status Kawin

61

2.a. Angka Perkawinan Kasar

63

2.b. Angka Perkawinan Umum

64

(5)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 5

2.d

Angka Perceraian Kasar

66

2.e

Angka Perceraian Umum

68

3

Keluarga

69

3.a

Jumlah Keluarga Dan Rata-Rata Jumlah Anggota Keluarga

69

3.b

Karakteristik Kepala Keluarga Berdasarkan Jenis Kelamin

71

3.c

Karakteristik Kepala Keluarga Berdasarkan Pendidikan

72

3.d

Karakteristik Kepala Keluarga Berdasarkan Status Pekerjaan

75

4

Penduduk Menurut Karakteristik Sosial

76

a

Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan

76

b

Jumlah Penduduk Menurut Agama

78

c

Jumlah Penduduk Menurut Kecacatan

81

5

Kelahiran

82

6

Kematian

86

BAB V KUALITAS PENDUDUK

87

A.

Kesehatan

87

1

Kelahiran

89

1.a

Angka Kelahiran Total

89

2.b

Rasio Anak Perempuan

89

2

Kematian

90

2.a

Angka Kematian Bayi

90

2.b

Angka Kematian Neonatal

92

2.c

Angka Kematian Ibu

B

Pendidikan

97

1

Angka Melek Huruf

97

2

Angka Partisipasi Kasar

97

3

Angka Partisipasi Murni

98

4

Angka Penduduk Putus Sekolah

99

C

Ekonomi

99

1

Proporsi Dan Jumlah Tenaga Kerja Dan Angkatan Kerja

99

1.a

Proporsi Dan Jumlah Tenaga Kerja Dan Angkatan Kerja

99

1.b

Jumlah Dan Proporsi Penduduk Bekerja Dan Menganggur

102

2

Angka Partisipasi Angkatan Kerja

104

3

Jumlah Dan Proporsi Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis

Pekerjaan

106

D

Sosial

108

1

Jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial

108

(6)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 6

BAB VI MOBILITAS PENDUDUK

112

A

Mobilitas Permanen

112

1

Migrasi Masuk

112

2

Migrasi Keluar

113

3

Angka Migrasi Neto

115

B

Mobilitas Non Permanen

115

BAB VII KEPEMILIKAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN

A

Kepemilikan Kartu Keluarga

116

B

Kepemilikan Kartu Tanda Penduduk

117

C

Kepemilikan Akta

118

1

Akta Kelahiran

118

2

Akta Nikah

119

3

Akta Kematian

119

BAB VIII KESIMPULAN

121

DAFTAR TABEL

2.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010 - 2013 29

2.2 PDRB Kabupaten Bandung Tahun 2010 - 2013 31

2.3 PDRB Kabupaten Bandung atas dasar berlaku dan Harga Konstan 32

2.4 Pendapatan Per Kapita Kabupaten Bandung 33

2.5 Pendapatan Per Kapita Kabupaten Bandung dan Propinsi Jawa Barat tahun 2019 -2013

34 2.6 Inflasi Produk Domestik Bruto Kabupaten Bandung Tahun 2011-2013 35 2.7 Luas Lahan Sawah berdasarkan Jenis Irigasi di Kabupaten Bandung menurut

Kecamatan (Ha) pada tahun 2012

37 2.8 Kawasan Sentra Produksi Komoditas Unggulan Kabupaten Bandung per Kecamatan 39 2.9 Perusahaan Bergerak di Jenis Usaha Peternakan di Kabupaten Bandung Tahun 2010 42 2.10 Luas Hutan Rakyat Per Kecamatan Di Kabupaten Bandung

Tahun 2010 44

4.1 Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin dan Kecamatan 53 4.2 Kepadatan Penduduk Kabupaten Bandung per Kecamatan

Tahun 2013

54 4.3 Rasio Jenis Kelamin Penduduk Kabupaten Bandung, Tahun 2013 57 4.4 Rasio Ketergantungan Muda dan Tua per Kecamatan

di Kabupaten Bandung Tahun 2013

60 4.5 Status Kawin Penduduk Kabupaten Bandung, Tahun 2013 62

4.6 Angka Perkawinan Kasar 63

4.7 Angka Perkawinan Umum 64

(7)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 7

4.9 Angka Perceraian Umum di Kabupaten Bandung Tahun 2013 68 4.10 Jumlah Keluarga Berdasarkan Kepemilikian Kartu Keluarga Dan Rata-Rata Jumlah

Anggota Keluarga

70

4.11 Kepala Keluarga berdasarkan Jenis Kelamin 71

4.12 Kepala Keluarga berdasarkan Pendidikan per Kecamatan di Kabupaten Bandung, Tahun 2013

73 4.13 Jumlah Kepala Keluarga Berdasarkan Tingkat Pendidikan 75 4.14 Jumlah Kepala Keluarga Berdasarkan Status Pekerjaan 76 4.15 Penduduk (Laki-laki dan Perempuan) 10 Tahun ke Atas Menurut Kecamatan dan

Ijazah Tertinggi Yang Dimiliki Kabupaten Bandung Tahun 2013 77 4`16 Penduduk Kabupaten Bandung berdasarkan Agama, Tahun 2013 79 4.17 Distribusi Penduduk menurut Jenis Kecacatan di Kabupaten Bandung, Tahun 2013 82 4.18 Kelahiran per Kecamatan di Kabupaten Bandung, Tahun 2013 83 5.1 Kelahiran per Kecamatan di Kabupaten Bandung, Tahun 2013 87 5.2 Rasio Anak Perempuan per Kecamatan di Kabupaten Bandung, Tahun 2013 89 5.3 Angka Kematian Bayi Kabupaten Bandung Tahun 2013 91 5.4 Angka Kematian Bayi terbanyak per kecamatan di Kabupaten Bandung Tahun 2013 93 5.5 Angka Kematian Anak Kabupaten Bandung Tahun 2013 95 5.6 Angka Partisipasi Kasar Kabupaten Bandung Tahun 2013 97 5.7 Angka Partisipasi Murni (APM) Kabupaten Bandung Tahun 2013 98 5.8 Angka Putus Sekolah (APS) Kabupaten Bandung Tahun 2013 99 5.9 Penduduk Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Umur Produktif Tahun 2013 100 5.10 Penduduk Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Bekerja Dan Menganggur Tahun

2013

102 5.11 Angka Partisipasi Angkatan Kerja (APAK) Kabupaten Bandung Tahun 2013 105 5.12 Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan di Kabupaten Bandung Tahun 2013 107 5.13 Penduduk sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Kabupaten Bandung,

Tahun 2013

108 5.14 Distribusi Penduduk menurut Jenis Kecacatan di Kabupaten Bandung Tahun 2013 111 6.1 Jumlah MigrasiMasuk ke Kabupaten Bandung Tahun 2013 112 6.2 Jumlah Migrasi Keluar dari Kabupaten Bandung Tahun 2010 114 6.3 Kepala Keluarga di Kabupaten Bandung Per Kecamatan Hingga Tahun 2013 116 6.4 Kepemilikan e - KTP di Kabupaten Bandung Per Kecamatan Tahun 2013 117 6.5 Akta Lahir di Kabupaten Bandung Per Kecamatan Tahun 2013 118

(8)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 8

DAFTAR GAMBAR

1.1

Akta perceraian

21

1.2

Akta perceraian

21

2.1

WILAYAH ADMINISTRASI KABUPATEN BANDUNG

24

2.2

Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Bandung Tahun 2007-2027

2.8

2.3

Luas Hutan Rakyat Kabupaten Bandung Tahun 2005 S/d 2010

43

4.1

Laju Pertumbuhan Jumlah Penduduk dari Tahun 2009-2013

56

4.2

Jumlah Penduduk Kabupaten Bandung Berdasarkan Umur

Tahun 2013

59

4.3

Rata-rata Umur Perkawinan Pertama Perempuan di Kabupaten Bandung, Tahun

2009-2013

66

4.4

Prosentase Kepala Keluarga berdasarkan Pendidikan

78

4.5

Persentase Penduduk Kabupaten Bandung berdasarkan Agama

dan Kepercayaan, Tahun 2013

81

4.6

Jumlah Penduduk Penyandang Cacat di Kabupaten Bandung Tahun 2013

82

5.1

Proporsi Penduduk Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Umur Produktif Per

Kecamatan Tahun 2013

102

5.2

Proporsi Penduduk Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Bekerja Dan

Menganggur Per Kecamatan Tahun 2013

104

5.3

Proporsi Penduduk Kabupaten Bandung Menurut Angka Partisipasi Angkatan Kerja

(APAK) Per Kecamatan Tahun 2013

106

5.4

Proporsi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan di Kabupaten Bandung Tahun 2013

108

5.5

Jumlah Penduduk Penyandang Cacat di Kabupaten Bandung Tahun 2013

111

6.1

Grafik Migrasi Masuk Kabupaten Bandung Tahun 2013

116

6.2

Grafik Migrasi Keluar Kabupaten Bandung Tahun 2013

117

DAFTAR GRAFIK

2.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2010 -2013 26 2.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2013 27 2.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2012 -2013 28 2.4 Laju Pertumbuhan Ekonomi Semester I dan II Tahun 2013 30

(9)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun , maka keadaan yang demikian itu menuntut pengembangan sistem administrasi kependudukan. Undang undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah

pada pasal 21 ditegaskan bahwa dalam penyelenggaraan otonomi daerah, daerah mempunyai kewajiban pengelolaan Administrasi Kependudukan. Administrasi kependudukan dibutuhkan sebagai data informasi pertambahan dan perkembangan penduduk serta persebarannya guna perencanaan pembangunan di daerah.

Data Informasi yang akurat sebagai bahan pertimbangan yang objektif dalam menetapkan suatu kebijakan dalam perencanaan dan strategi pembangunan kedepan serta evaluasi dimasa lalu. Pelaksanaan pembangunan yang semakin meningkat membawa dampak dari adanya pertambahan penduduk, untuk diketahui keadaan penduduk dan persebaran dengan berbagai kualitas yang dimiliki diharapkan pemerintah daerah dapat mengambil kebijakan dan langkah – langkah strategis yang jelas dan teratur dalam penyusunan perencanaan pembangunan dan anggaran.

Di dalam menentukan kebijakan dan perencanaan pembangunan tentu saja Informasi perkembangan kependudukan merupakan informasi strategis dan sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak. Terutama dalam menentukan kebijakan dan perencanaan pembangunan. Tidak hanya pemerintah, para stakeholders pun (akademisi, pelaku bisnis dan masyarakat umum) dalam berbagai langkah perencanaan kegiatan tidak lepas dari keperluan menggunakan informasi kependudukan aktual.

Penyusunan pelaksanaan kebijakan dan program – program pembangunan yang baik memerlukan dukungan dan kerja sama yang baik sehingga ketersediaan data yang lebih akurat,terkini/tepat waktu,relevan,komprehensif,konsisten dan berkesinambungan.Hal ini juga berlaku untuk data kependudukan sebagai dasar penyusunan kebijakan kependudukan baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota, sehingga diharapkan pendayagunaan data akan dapat dilakukan secara optimal,akurat

(10)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 10

dan mutahir dalam rangka mendukung pembangunan nasional dan pembangunan daerah. Pertumbuhan penduduk sangat berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat. Pengetahuan tentang aspek – aspek dan komponen demografi seperti fertilitas,mortalitas,migrasi,ketenagakerjaan, perkawinan dan aspek keluarga dan rumah tangga akan membantu pemerintah daerah khususnya pemerintah daerah Kabupaten Bandung dalam mengembangkan program pembangunan kependudukan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tepat sasaran.

Tugas Pokok Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bandung mempunyai Tugas Pokok Merumuskan Kebijakan Teknis dan Melaksanakan Kegiatan Teknis Operasional di Bidang Pelayanan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang, meliputi Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, Pengelolaan Informasi Kependudukan, Pendayagunaan Data dan Informasi serta Melaksanakan Ketatausahaan Dinas

Visi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Terwujudnya Tertib Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tahun 2015 sedangkan Misi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil : Meningkatkan Profesionalitas Aparatur dalam Pelayanan Publik; Meningkatkan Pelayanan Admnistrasi Kependudukan dan Catatan Sipil; Menyediakan Data Base Kependudukan; Meningkatkan Pengelolaan informasi Administrasi kependudukan, Pendayagunaan Data dan Informasi.

Sejalan dengan paradigma pembangunan berkelanjutan, perencanaan pembangunan harus disusun berdasarkan data dan informasi kependudukan. Perencanaan pembangunan berbasis data kependudukan merupakan strategi yang penting dalam rangka meningkatkan relevansi, efektivitas serta efisiensi kebijakan dan program pembangunan di Indonesia. Penggunaan data yang akurat dalam proses perencanaan telah diatur dalam peraturan perundangan. Pada Pasal 31 UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional diatur bahwa “Perencanaan pembangunan didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan

dapat dipertanggungjawabkan”. Ketentuan tersebut ditekankan kembali pada Pasal 152 UU No. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah yang menyebutkan “Perencanaan pembangunanan daerah didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Secara rinci, pada Pasal 49 UU No. 52/2009 diatur bahwa:

(11)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 11

1) “Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data dan informasi mengenai kependudukan dan keluarga”; 2) Upaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui sensus, survei, dan pendataan keluarga; dan 3) Data dan informasi kependudukan dan keluarga wajib digunakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah sebagai dasar penetapan kebijakan, penyelenggaraan, dan pembangunan.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang mengamanatkan bahwa data penduduk yang dihasilkan oleh Sistem Informas Administrasi Kependudukan (SIAK) dan tersimpan didalam database kependudukan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan perumusan kebijakan dibidang pemerintahandan pembangunan

Untuk memenuhi kebutuhan informasi kependudukan ini perlu disusun

dalam bentuk Profil Perkembangan Kependudukan Kabupaten Bandung 2014 yang disajikan secara berkelanjutan sebagaimana yang tertuang dalam Permendagri Nomor 65 tahun 2010 tentang tentang Pedoman Penyusunan Profil Perkembangan Kependudukan serta Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri Nomor 474/8458/MD tanggal 20 Desember 2012 perihal Penyusunan Profil Perkembangan Kependudukan yang perlu diterbitkan secara periodik setiap Tahun.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka Keberadaan Profil Perkembangan Kependudukan Kabupaten Bandung merupakan tindak lanjut dari amanah yang tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 65 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Profil Perkembangan Kependudukan serta Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri Nomor 474/8458/MD tanggal 20 Desember 2012 perihal Penyusunan Profil Perkembangan Kependudukan yang perlu diterbitkan secara periodik setiap Tahun.

1.2 Tujuan

1) Mengetahui kuantitas penduduk, kualitas penduduk, mobilitas penduduk dan kepemilikan dokumen kependudukan serta perkembangannya di Kabupaten Bandung Tahun 2013

(12)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 12

2) Untuk mereview dan memberikan gambaran tentang perkembangan kependudukan di Kabupaten Bandung, Melakukan analisis dan evaluasi terhadap situasi kependudukan pada tingkat Kecamatan untuk kemudian dipergunakan sebagai penetapan kebijakan dan program

3) Memberi saran dan rekomendasi dalam rangka upaya peningkatan kesadaran, pengetahuan dan komitmen para perancana dan pelaku pembangunan tentang issu dan persoalan kependudukan.

1.3 Ruang Lingkup

1) Kuantitas penduduk, meliputi komposisi dan persebaran penduduk; 2) Kualitas penduduk meliputi kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sosial; 3) Mobilitas penduduk meliputi mobilitas permanen, mobilitas non

permanen dan urbanisasi

4) Kepemilikan dokumen kependudukan. 1.4 Pengertian Umum Terhadap Istilah

1. Penduduk adalah Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing yang termasuk secara sah serta bertempat tinggal di Wilayah Indonesia sesuai dengan peraturan (Undang - Undang Nomor 10 Tahun 1992);

2. Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penerbitan dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pen-catatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kepen-dudukan serta pendayagunaan hal lainnya untuk pela-yanan publik dan pembangunan sektor lain (Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006);

3. Data Kependudukan adalah data perorangan atau data agregat yang terstruktur sebagai hasil dari kegiatan pen-daftaran penduduk dan pencatatan sipil (Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006);

4. Kuantitas Penduduk adalah jumlah penduduk akibat dari perbedaan antara jumlah penduduk yang lahir, mati dan pindah tempat tinggal (Undang-Undang Nomor 10 tahun1999

(13)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 13

5. Kualitas Penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan non fisik serta ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan dasar untuk mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai manusia yang berbudaya, berkepribadian dan layak (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992);

6. Mobilitas Penduduk adalah gerak keruangan penduduk dengan melewati batas administrasi Daerah Tingkat II (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992);

7. Profil Perkembangan Penduduk adalah kumpulan data dan informasi tentang perkembangan kependudukan dalam bentuk tertulis, yang mencakup segala kegiatan yang berhubungan dengan perubahan keadaan penduduk yang meliputi kuantitas, kualitas dan mobilitas yang mempunyai pengaruh terhadap pembangunan dan lingkungan hidup;

8. Persebaran Penduduk adalah kondisi sebaran penduduk secara keruangan (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992);

9. Peristiwa Kependudukan adalah kondisi sebaran penduduk secara keruangan (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992);

10. Peristiwa Penting adalah kejadian yang dialami oleh seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir mati, perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak, perubahan nama dan perubahan status kewarganegaraan (Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006);

11. Kematian atau mortalitas menurut WHO adalah suatu peristiwa menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen yang bias terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup (Biro PusatStatistic); 12. Ratio Jenis Kelamin adalah suatu angka menunjukan perbandingan

jenis kelamin antara banyaknya penduduk laki-laki dan penduduk perempuan disuatu daerah pada waktu tertentu;

13. Perkembangan Kependudukan adalah segala kegiatan yg berhubungan dengan perubahan keadaan penduduk yang meliputi kuantitas, kualitas dan mobilitas yang mempunyai pengaruh terhadap

(14)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 14

pembangunan dan lingkungan hidup (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992);

14. Mobilitas Penduduk Permanen (Migrasi) adalah per-pindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas administratif (migrasi internal) atau batas politik/negara (migrasi internasional);

15. Mobilitas Penduduk Non Permanen (Circucaltion/ Sirkuler) adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk tidak menetap dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas administratif. Mobilitas penduduk non permanen dibagi menjadi dua yaitu ulang-alik (commuting) dan menginap/mondok.

16. Penduduk Musiman merupakan salah satu jenis obilitas penduduk non permanen yang bekerja tidak pada daerah domisilinya dan menetap dalam kurun waktu lebih dari satu hari tetapi kurang dari satu tahun dan dilakukan secara berulang;

17. Mobilitas Penduduk Ulang - Alik (Commuting) adalah gerak penduduk dari daerah asal ke daerah tujuan dalam batas waktu tertentu dan kembali ke daerah asal pada hari yang sama;

18. Migrasi Kembali (Return Migration) adalah banyaknya penduduk yang pada waktu diadakan pendataan bertempat tinggal di daerah yang sama dengan tempat lahir & pernah bertempat tinggal di daerah yang berbeda;

19. Migrasi Semasa Hidup (Life Time Migration) adalah bentuk migrasi dimana pada waktu diadakan pendataan tempat tinggal sekarang berbeda dengan tempat kelahiran-nya;

20. Migrasi Risen (Rencent Migration) adalah bentuk migrasi melewati batas wilayah administratsi (desa/kec/kab/ provinsi) dimana pada waktu diadakan pendataan bertempat tinggal didaerah yang berbeda dengan tempat tinggal lima tahun yang lalu.

21. Transmigrasi adalah perpindahan penduduk secara suka-rela untuk meningkatkan kesejahteraan dan menetap di wilayah pengembangan transmigrasi atau lokasi per-mukiman transmigrasi.

(15)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 15

22. Urbanisasi adalah suatu proses bertambahnya konsentrasi penduduk di perkotaan dan atau proses perubahan suatu daerah perdesaan menjadi perkiraan, baik secara fisik mau-pun ukuran-ukuran spasial atau bertambahnya fasilitas perkotaan, serta lembaga-lembaga sosial, maupun perilaku masyarakatnya.

23. Penduduk Usia Kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun sampai dengan 64 tahun.

24. Angka Partisipasi Angkatan Kerja adalah proporsi angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja.

25. Pengangguran adalah Orang yang termasuk angkatan kerja, namun pada saat pendataan/survey atau sensus tidak bekerja dan sedang mencari kerja.

26. Angka Pengangguran adalah proporsi jumlah pengang-guran terhadap angkatan kerja.

27. Bukan Angkatan Kerja adalah penduduk usia 15 tahun kebawah dan penduduk berusia 64 tahun keatas.

28. Lahir Hidup dan Lahir Mati

a. Lahir Hidup adalah suatu kelahiran bayi tanpa memperhitungkan lamanya didalam kandungan, dimana si bayi menunjukan tanda-tanda kehidupan pada saat dilahirkan, misalnya ada nafas, ada denyut jantung atau denyut tali pusar atau gerakan otot.

b. Lahir Mati adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu tanpa menunjukan tanda-tanda kehidupan pada saat dilahirkan.

29. Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate/TFR) adalah rata-rata banyaknya anak yang akan dimiliki oleh seorang wanita pada masa reproduksinya jika ia mengikuti pola fertilitas pada saat TFR dihitung. 30. Angka Kematian Bayi Baru Lahir adalah banyaknya kematian baru

lahir, usia kurang dari satu bulan (0-28) hari pada suatu periode per 1.000 kelahiran hidup pada pertengahan periode yang sama.

(16)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 16

31. Angka Kematian Bayi Lepas Baru Lahir adalah Banyaknya kematian bayi lepas baru lahir (usia 1-11 bulan) pada suatu periode per 1.000 kelahiran hidup pada pertengahan periode yang sama.

32. Angka Kematian Bayi / IMR adalah banyaknya kematian bayi usia kurang dari satu tahun (9-11 butan) pada suatu periode per 1.000 kelahiran hidup pada pertengahan perode yang sama.

33. Angka Kematian Ibu/MMR adalah banyaknya kematian ibu pada waktu hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan per 100.000 kelahiran hidup, tanpa memandang lama dan tempat kelahiran yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya.

34. Angka Kematian Kasar adalah banyaknya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk.

35. Pengeluaran Untuk Makanan adalah proporsi pengeluaran yang dipergunakan untuk mengkonsumsi makanan di-bandingkan dengan total pengeluaran (makanan dan bukan makanan).

36. Penduduk Melek Huruf adalah penduduk yang berusia 15 tahun keatas yang tetah bebas dari tiga buta, yaitu buta aksara, buta Latin, dan buta angka, buta bahasa Indonesia dan buta pengalaman dasar. 37. Buta Huruf adalah penduduk yang berusia 15 tahun keatas yang

betum bebas dari tiga buta, yaitu buta aksara, Latin d angka, buta bahasa Indonesia dan buta pengataman dasar.

38. Angka Partisipasi Total adalah proporsi penduduk bersekolah menurut golongan umur sekolah yaitu umur 7-12,13-15,16-18, dan 19-24 tahun.

39. Angka Partisipasi Murni/APM adalah presentase jumlah peserta didik SD usia 7-12 tahun, jumlah peserta didik SLTP usia 13-15 tahun, jumtah peserta didik SLTA usia 16-18 tahun dan jumlah peserta didik PTN/PTS usia 19-24 tahun dibagi jumah penduduk kelompok usia dari masing-masing jenjang pendidikan.

(17)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 17

40. Angka Partisipasi Kasar /APK adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu.

40. Angka Partisipasi Kasar /APK adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu.

Penjelasan indikator

• Jumlah dan Proposi Penduduk menurut Jenis Kelamin

Untuk menghitung jumlah penduduk dapat menggunakan rumus berikut: Pt = Po + (B – D) + (Mi – Mo)

Dimana:

Pt= jumlah penduduk pada tahun t

Po= jumlah penduduk pada tahun dasar (0)

B (Birth) = jumlah kelahiran selama periode 0-t D (Death) = jumlah kematian selama periode 0-t Mi = jumlah migrasi masuk selama periode 0-t

Mo = jumlah migrasi keluar selama periode 0-t

• Kepadatan Penduduk

Rasio kepadatan penduduk dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Dimana:

D = rasio kepadatan penduduk P = jumlah penduduk (jiwa) A = luas wilayah (Km)

• Laju Pertumbuhan Penduduk

(18)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 18

Dimana :

Pt = jumlah penduduk pada tahun t

Po = jumlah penduduk pada tahun dasar (0) r = angka pertumbuhan penduduk

t = periode waktu antara tahun dasar dan tahun t e = fungsi eksponensial

• Rasio Jenis Kelamin

Data yang diperlukan untuk menghitung rasio jenis kelamin adalah jumlah penduduk laki-laki dan perempuan menurut kelompok umur lima tahunan pada suatu tahun tertentu. Rasio jenis kelamin dapat dihitung menggunakan rumus

Dimana:

RJK = rasio jenis kelamin

∑L = jumlah penduduk laki-laki ∑P = jumlah penduduk perempuan K = konstanta

• Rasio Ketergantungan

Data yang digunkana untuk menghitung rasio ketergantungan adalah jumlah penduduk usia 0-14 tahun 54 tahun. Rasio ketergantungan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Dimana:

(19)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 19

RK muda = rasio ketergantungan penduduk usia muda RK tua = rasio ketergantungan penduduk usia tua P 0-14 = jumlah penduduk usia muda (0-14 tahun) P65+ = jumlah penduduk usia tua (65 tahun keatas) P15-64 = jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun)

• Angka Perkawinan Kasar

Data yang digunakan untuk menghitung angka perkawinan kasar adalah

jumlah perkawinan pada satu tahun dan jumlah penduduk awal tahun dan akhir tahun yang sama. Angka perkawinan kasar dapat dihitung dengan

menggunakan rumus:

Dimana:

M = angka perkawinan kasar

= jumlah perkawinan dalam satu tahun

P = jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama K = konstatnta = 1000

• Angka Perkawinan Umum

Data yang digunakan dalam menghitung angka perkawinan umum yaitu jumlah perkawinan 15 tahun ke atas. Angka perkawinan umum ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Dimana :

Mu = angka perkawinan umum

M = jumlah perkawinan dalam satu tahun P15+ = jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas K = konstatnta

(20)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 20

Untuk menghitung angka perkawinan spesifik (angka perkawinan menurut kelompok umur) dapat menggunakan rumus:

Dimana:

= angka perkawinan menurut kelompok umur (i) dan jenis kelamin (s) = jumlah perkawinan menurut kelompok umur (i) dan jenis kelamin (s) pada

tahun tertentu

= jumlah penduduk menurut kelompok umur umur (i) dan jenis kelamin (s) pada pertengahan tahun yang sama

K = konstanta - 1000

• Angka Perceraian Kasar

Angka ini berguna untuk mengetahui gambaran sosiologis suatu daerah yang berkaitan dengan tingkat perceraian. Angka perceraian kasar dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Dimana:

d = angka perceraian kasar

Dv = jumlah perceraian dalam setahun

P = jumlah penduduk pada pertengahan tahun K = konstanta = 1000

• Angka Perceraian Umum

Angka perceraian umum lebih cermat dibandingkan dengan angka perceraian kasar. Angka perceraian umum dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Dimana:

AK = rata-rata jumlah anggota keluarga = jumlah penduduk

(21)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 21

= jumlah kepala keluarga • Jumlah Kelahiran

Data yang diperlukan adalah jumlah kelahiran hidup menurut jenis kelamin dalam satu wilayah tertentu pada tahun tertentu dan disajikan dalam bentuk tabel.

• Angka Kelahiran Kasar

Angka kelahiran kasar dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Dimana:

CBR = angka kelahiran kasar

B = banyaknya kelahiran pada tahun tertentu

P = jumlah penduduk pada pertengahan tahun tertentu

• Angka Kelahiran Menurut Umur

Perhitungan angka kelahiran menurut kelompok umur dengan rumus:

Dimana:

ASFR = age specific fertility rate (angka kelahiran menurut umur) untuk perempuan pada kelompok 1

Dimana:

i = 1 untuk umur 15 – 19 tahun i = 2 untuk umur 20 – 24 tahun i = 3 untuk umur 25 – 29 tahun i = 4 untuk umur 30 – 34 tahun i = 5 untuk umur 35 – 39 tahun i = 6 untuk umur 40 – 44 tahun i = 7 untuk umur 45 – 49 tahun

(22)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 22

P = jumlah penduduk perempuan pada kelompok umur i

• Rasio Anak Perempuan

Rasio anak dan perempuan adalah rasio antara jumlah anak di bawah lima tahun disuatu tempat pada suatu waktu dengan penduduk usia 15-49 tahun. Rasio ini umtuk melihat tingkat fertilitas pada suatu wilayah dan rasio ini berguna sebagai indikator fertilitas penduduk apabila tidak ada data kealahiran dan data registras. Untuk menghitung rasio anak dan perempuan digunakan rumus:

Dimana :

CWR = rasio anak perempuan

P0-4 = jumlah penduduk dibawah usia 5 tahun (0-4 tahun) P15-49 = jumlah penduduk perempuan usia 15-49 tahun

• Jumlah Kematian

Jumlah kematian menunjukan banyaknya kematian yang terjadi di suatu daerah pada tahun tertentu. Informasi mengenai jumlah kematian bermanfaat untuk memonitor kinerja pemerintah daerah dalam peningkatan kesejahteran penduduk. Selain itu, data tentang jumlah kematian merupakan dasar untuk perhitungan berbagai indicator kemtian/mortalitas lainnya.

• Angka Kematian Kasar

Angka kematian kasar merupakan angka yang menunjukan banyaknya kematian yang terjadi pada tahun tertentu per 1000 penduduk. Angka kematian kasar merupakan indicator sederhana yang tidak memperhitungkan pengaruh umur penduduk dan jenis kelamin. Angka kematian kasar (CDR) dihitung dengan rumus:

(23)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 23

CDR = angka kematian kasar

D = banayaknya kematian pada kematian tertentu

P = jumlah penduduk pada pertengahan tahun tertentu

• Angka Kematian Bayi

Angka kematian bayi atau IMR digunakan sebagai indicator yang

menggambarkan kemajuan pembangunan yang dapat menggambarkan tingkan pelayanan kesehatan ibu dan anak. IMR/AKB dapat dihitung dengan rumus:

Dimana:

AKB = angka kematian bayi

= jumlah kematian bayi kurang dari 1 tahun pada satu tahun tertentu

= jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu

• Angka Kematian Neonatal

Kematian neonatal atau kematian endogen adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan atau 28 hari per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Kematian neonatal atau kematian bayi endogen pada umumnya disebabkan oleh factor yang dibawa sejak lahir atau selama kehamilan. Angka kematian neonatal dapat dihitung dengan rumus:

Dimana:

NNDR = angka kematian bayi dibawah satu bulan

= jumlah kematian bayi umur 5-1 bulan pada satu tahun tertentu = jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu

(24)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 24

Kematian postneonatal adalah kematian yang terjadi pada bayi yang berumur 1 bulan sampai dengan kurang dari 1 tahun per 1000 kelahiran hidup selama satu tahun. Angka kematian postneonatal dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Dimana:

PNNDR = angka kematian bayi dibawah satu bulan

= jumlah kematian bayi umur 1 bulan - < 1 tahun = jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu

• Angka Kematian Anak

Data yang diperlukan untuk menghitung angka kematian anak adalah jumlah kematian anak berumur 1-4 tahun dan jumlah penduduk usia 1-4 tahun pada awal dan akhir tahun yang sama. Angka kematian anak dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Dimana:

AK balita = angka kematian balita

D0-4 = jumlah kematian anak umur 0-4 tahun pada satu tahun tertentu

∑Pdkk0-4th = jumlah penduduk usia 0-4 tahun pada pertengahan tahun

yang sama

• Proporsi Penyandang Cacat

Indicator ini merupakan jumlah dan proporsi penyandang cacat dirinci menurut jenis kelamin dan kelompok umur. Untuk menghitung angka penyandang cacat menggunakan rumus:

Dimana:

(25)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 25

∑PC = jumlah penyandang cacat ∑Pddk = jumlah penduduk

• Migrasi Masuk

Migrasi masuk menunjukan angka banyaknya migrant yang masuk per 1.000 penduduk di suatu kabupaten/kota tujuan dalam waktu satu tahun.

Dimana:

Mi = angka migrasi risen masuk/penduduk yang pernah tinggak di

daerah lain

Migmasuk = jumlah penduduk yang masuk ke daerah tujuan selama satu

Tahun/periode

P = jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama

• Migrasi Keluar

Migrasi keluar menunjukan angka banyaknya migrant keluar dari suatu kabupaten/kota per 1.000 penduduk daerah asal dengan waktu satu tahun.

Dimana:

Mo = angka migrasi risen keluar/penduduk yang keluar selama satu

tahun

Mout = jumlah penduduk yang keluar selama satu tahun

P = jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama • Migrasi Netto

Migrasi netto merupakan angka yang menunjukan selisih antara migrasi masuk dan migrasi keluar. Apabila migrasi masuk lebih besar daripada migrasi keluar maka disebut migrasi netto positif. Sedangkan jika migrasi keluar lebih besar daropada migrasi masuk disebut migrasi neto negatif.

(26)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 26

Dimana Mn = angka migrasi risen netto

• Kepemilikan Kartu Keluarga

Persentase kepemilikan kartu keluarga berguna untuk mengetahui jumlah keluarga yang memiliki kartu keluarga, dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

• Kepemilikan Kartu Tanda Penduduk

Persentase kepemilikan kartu tanda penduduk berguna untuk mengetahui jumlah penduduk yang memiliki kartu tanda penduduk, dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

• Akte Kelahiran

Persentase kepemilikan akte kelahiran berguna untuk mengetahui jumlah penduduk yang memiliki akte kelahiran, dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

• Akte Perkawinan

Persentase kepemilikan akte perkawinan berguna untuk mengetahui jumlah penduduk yang memiliki akte perkawinan, dapat dihitung dengan

menggunakan rumus:

• Akte Perceraian

Persentase kepemilikan akte perceraian berguna untuk mengetahui jumlah penduduk yang memiliki akte perceraian, dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

(27)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 27

• Akte Kematian

Persentase kepemilikan akte kematian berguna untuk mengetahui jumlah penduduk yang memiliki akte kematian, dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

a. Kepadatan Penduduk merupakan jumlah penduduk di suatu daerah per satuan luas daerah tersebut.

b. Laju Pertumbuhan Penduduk merupakan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu setiap tahunnya.

c. Rasio Jenis Kelamin perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan, rasio jenis kelamin menunjukan banyaknya penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan

d. Piramida Penduduk adalah grafik batang yang menunjukan atau menggambarkan perbandingan banyaknya jumlah laki-laki dan perempuan e. Rasio Ketergantungan adalah perbandingan jumlah penduduk yang menjadi

tanggungan dan jumlah penduduk yang bekerja.

f. Angka Perkawinan Kasar adalah suatu angka yang menunjukan persentase penduduk yang berstatus kawin terhadap jumlah penduduk keseluruhan pada pertengahan tahun untuk suatu tahun tertentu.

g. Angka Perkawinan Umum adalah suatu angka yang menunjukan proporsi penduduk yang berstatus kawin terhadap jumlah penduduk usia 15 tahun keatas pada pertengahan tahun untuk satu tahun tertentu.

h. Jumlah Perceraian dan Angka Perceraian Kasar adalah suatu angka yang menunjukan persentase penduduk yang bercerai terhadap jumlah penduduk keseluruhan pada pertengahan tahun untuk suatu tahun tertentu.

(28)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 28

i. Angka Perceraian Umum adalah suatu angka yang menunjukan proporsi penduduk yang berstatus bercerai terhadap jumlah penduduk usia 15 tahun keatas pada pertengahan tahun untuk suatu tahun tertentu.

j. Migrasi Keluar Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan melewati batas Negara atau batas administrasi dengan tujuan untuk menetap. Migrasi keluar adalah angka yang menunjukkan banyaknya penduduk yang keluar atau pindah per 1000 penduduk disuatu kota/kabupaten tujuan dalam waktu satu tahun.

k. Migrasi Masuk adalah pindahnya penduduk ke suatu daerah tujuan.

l. Migrasi Neto merupakan angka selisih antara migrasi masuk dan migrasi keluar. Apabila angka migrasi masuk lebih besar dari angka migrasi keluar maka disebut migrasi neto positif. Sedangkan jika migrasi keluar lebih besar dari migrasi masuk maka disebut migrasi neto negative.

m. Kepemilikan kartu keluarga merupakan dokumen penting yang wajib dimiliki oelh setiap keluarga, dimana didalamnya memuat data-data kelahiran, pernikahan, kepindahan dan perubahan-perubahan status dan kondisi yang lain.

n. Kepemilikan Kartu Tanda Penduduk adalah identitas resmi penduduk sebagai bukti dari yang diterbitkan oleh instansi pelaksana yang berlaku diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

o. Kepemilikan Akte terdiri dari Akte Kelahiran, Akte Perkawianan, Akte Perceraian dan Akte Kematian.

p. Kepemilikan akte kelahiran merupakan bukti yuridis, bahwa seorang anak berhak untuk mendapatkan perlindungan hak-hak kewarganegaraannya, misalnya hak atas pendidiakn, atas kesehatan, hak atas pemukiman, dan hak atas system perlindungan sosial.

q. Akta Perkawinan sebagai bukti sahnya perkawinan menurut negara (khusunya bagi penganut agama non muslim )yang diperlukan sebagai dasar legalitas kehidupan bersama. Di dalam hukum nasional, proses pen-catatan ini telah menjadi bagian dari hukum positif, karena hanya dengan proses ini maka masing-masing pihak diakui segala hak dan kewajibannya di depan hukum. Dan pencatatan perkawinan akan membawa akibat terhadap anak-anak yang

(29)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 29

dilahirkan dan pemenuhan hak-hak ,untuk pengurusan Akta Kelahiran anak yang dilahirkan, penerbitan KK, tunjangan keluarga, asuransi, pensiunan, perbankan. Sebagai perlindungan hukum bagi pasangan dan anak serta persyaratan mengajukan gugat cerai. Di dalam undang undang perkawinan

pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ” Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagi mereka yang melakukan perkawinan menurut agama Islam, pencatatan dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA). Sedangkan bagi yang beragama selain Islam (Katholik, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu, Penghayat dan lain-lain) pencatatan itu dilakukan di Kantor Catatan Sipil (KCS).

r. Akta perceraian adalah suatu bukti outentik tentang putusnya suatu ikatan perkawinan. Setiap peristiwa perceraian yang telah memiliki putusan pengadilan yang tetap (Islam dari pengadilan agama dan non muslim dari pengadilan tinggi negri ) harus di laporkan kepada dina kependudukan dan pencatatan sipil dalam jangka waktu sekurang kurangnya 60 (enam puluh) hari sejak putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

Gambar:1.1 Akta perceraian

Sumber : http://casip.bandungkab.go.id

s. Akte kematian adalah sebagai bukti kematian seseorang yang di akui oleh negara . Di dalam UU Nomor 24 tahun 2013 tentang Aministrasi kependudukan

(30)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 30

pasal 44 Ayat (1) “Setiap kematian wajib dilaporkan oleh ketua rukun tetangga

atau nama lainnya di domisili kepada Instansi Pelaksana setempat paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal kematian.

Gambar:1.2 Akta perceraian

Sumber : http://casip.bandungkab.go.id

(31)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 31

BAB II

GAMBARAN UMUM KABUPATEN BANDUNG

A. Letak Geografis

Kondisi geografis wilayah Kabupaten Bandung yang terletak pada koordinat 107o 22’ – 108o -5o Bujur Timur dan 6o 41’ – 7o19’ Lintang Selatan terletak di wilayah dataran tinggi. Luas wilayah keseluruhan Kabupaten Bandung 176.238,67 Ha, sebagian besar wilayah Bandung berada diantara bukit-bukit dan gunung-gunung yang mengelilingi Kabupaten Bandung, seperti disebelah utara Bukittunggul dengan tinggi 2.200m, Gunung Tangkuban Parahu dengan tinggi 2.076 m yang dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta dan di sebelah selatan terdapat Gunung Patuha dengan tinggi 2.334 m, Gunung Malabar dengan tinggi 2.321 m, serta Gunung Papandayan dengan tinggi 2.262 m dan Gunung Guntur dengan tinggi 2.249 m, keduanya diperbatasan dengan Kabupaten Garut.

Batas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Bandung adalah :

1. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kabupaten Sumedang;

2. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut;

3. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur;

4. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung dan Kota Cimahi.

Morfologi wilayah pegunungan dengan rata-rata kemiringan lereng antara 0 – 8 %, 8 – 15 % hingga di atas 45 %. Kabupaten Bandung beriklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim muson dengan curah hujan rata-rata antara 1.500 mm sampai dengan 4.000 mm per tahun. Suhu udara berkisar antara 120 C sampai 240 C dengan kelembaban antara 78 % pada musim hujan dan 70 % musim kemarau. Dampak dari Kondisi Morfologis, dan Geografis Kabupaten Bandung membuat Potensi sumber daya air yang tersedia cukup melimpah, baik air bawah tanah maupun air permukaan. Air permukaan terdiri dari : 4 danau alam, 3 danau

(32)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 32

buatan serta 172 buah sungai dan anak-anak sungai. Sumber air permukaan pada umumnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pertanian, industri dan sosial lainnya sedangkan air tanah dalam (kedalaman 60 – 200 meter) pada umumnya dipergunakan untuk keperluan industri, non industri dan sebagian kecil untuk rumah tangga. Sebagian besar masyarakat memanfaatkan air tanah bebas (sumur gali) dan air tanah dangkal (kedalaman 24 sampai 60 meter) untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga serta sebagian kecil menggunakan fasilitas dari PDAM.

Dengan aspek hidrologis seperti ini, Kabupaten Bandung cukup potensial untuk dapat mengembangkan sektor pertanian, sektor industri dan sektor-sektor lain yang membutuhkan ketersediaan air. Sungai Citarum yang melalui Kabupaten Bandung, sejak dulu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Bandung. Sungai ini dimanfaatkan sejak lama untuk menghidupi banyak hal, tidak hanya sebagai sumber air namun menjadi lahan mata pencaharian, pengairan, transportasi, dan lain-lain.

GAMBAR : 2.1

(33)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 33

B. Kondisi Demografis

Penduduk Kabupaten Bandung cenderung mengalami peningkatan yang cukup signifikan setiap tahunnya. Salah satu penyebab terjadinya peningkatan penduduk tersebut adalah adanya perkembangan ekonomi dan tempat pendidikan atau universitas di Kabupaten Bandung. Hal ini dapat dilihat perkembangan pembangunan fisik. Sampai dengan Bulan Desember 2013 berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bandung, jumlah Penduduk Kabupaten Bandung sebanyak 3,476,420 jiwa yang terdiri atas 51,51% (1.790.645 jiwa penduduk laki-laki) dan 48,49% (1.685.775 jiwa penduduk perempuan) yang menyebar di 31 kecamatan. Kepadatan Penduduk di Kabupaten Bandung sebesar 1.901 jiwa/Ha.

C. Gambaran Ekonomi

Pada hakikatnya pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, meratakan pembagian pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional. Dengan perkataan lain arah dari pembangunan ekonomi adalah mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik. Hal ini dimaksudkan untuk mengusahakan peningkatan pendapatan masyarakat secara mantap & diikuti oleh tingkat pemerataan yang sebaik mungkin.

Untuk mengetahui tingkat dan pertumbuhan pendapatan masyarakat suatu wilayah tertentu perlu disajikan statistik pendapatan nasional/regional khususnya di bidang ekonomi secara berkala. Angka-angka pendapatan nasional/regional dapat digunakan sebagai bahan evaluasi, analisis,dan perencanaan pembangunan nasional/regional khususnya di bidang ekonomi.

Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB) pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan

(34)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 34

jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar untuk mengetahui total produksi barang dan jasa suatu daerah pada periode tertentu.

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bandung diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 pada Tahun 2013 tumbuh sebesar 5,96 persen.

Sumber : http://www.bandungkab.go.id/arsip/2366/pertumbuhan-produk-domestik-regional-bruto-(pertumbuhan-pdrb)

Jika dibandingkan dengan tahun 2012, maka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung mengalami perlambatan yaitu turun sebesar 0,19 point dari nilai pertumbuhan di tahun sebelumnya yang mencapai 6,15 persen.

Sama dengan tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung tahun 2013 didorong oleh hampir semua sektor ekonomi. Delapan dari sembilan

(35)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 35

sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif, hanya satu sektor yaitu sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami pertumbuhan negatif.

Sumber : http://www.bandungkab.go.id/arsip/2366/pertumbuhan-produk-domestik-regional-bruto-(pertumbuhan-pdrb)

Pertumbuhan beberapa sektor ekonomi mengalami peningkatan laju pertumbuhan ekonomi yang dimotori oleh pertumbuhan di sektor jasa-jasa yang mencapai 9,28 persen, kemudian diikuti oleh pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9,10 persen dan pertumbuhan sektor bangunan sebesar 8,97 persen.

Sementara itu sektor pertambangan dan penggalian kembali mengalami pertumbuhan negatif yaitu negatif 4,23 persen.

(36)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 36

Sumber : http://www.bandungkab.go.id/arsip/2366/pertumbuhan-produk-domestik-regional-bruto-(pertumbuhan-pdrb)

Grafik 2.3 menggambarkan perbandingan LPE sembilan sektor ekonomi pada tahun 2013 dengan tahun 2012. Pada umumnya sektor ekonomi mengalami perlambatan LPE, hanya di sektor bangunan, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor jasa-jasa yang mengalami peningkatan nilai LPE. Sedangkan untuk sektor lainnya mengalami perlambatan nilai LPE.

Hal yang perlu mendapat catatan bahwa untuk sektor bangunan meskipun mengalami kenaikan harga di beberapa komponen bahan bangunan namun masih memberikan kinerja yang cukup baik yaitu dari LPE 5,04 persen di tahun 2012 menjadi 8,97 persen di tahun 2013. Hal ini disinyalir dari terus berkembangnya pembangunan perumahan di wilayah Kabupaten Bandung.

Kondisi yang sama untuk sektor jasa-jasa dimana kinerjanya mengalami peningkatan yaitu dari nilai LPE 5,05 persen di tahun 2012 menjadi 9,28 persen di tahun 2013. Peningkatan kinerja ini didorong oleh meningkatnya kinerja dari sub sektor jasa hiburan maupun jasa perorangan. Hal ini memberikan gambaran bahwa meskipun terjadi gejolak ekonomi secara global namun sektor ini cukup bertahan dan justru mengalami peningkatan.

(37)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 37

Hal yang sama untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran dimana kinerja masih mengalami peningkatan yaitu dari 8,67 persen di tahun 2012 menjadi 9,10 persen di tahun 2013. Meskipun ada deraan melemahnya nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2013. Rupiah bahkan menembus level Rp 12.300 per dolar Amerika Serikat (AS) di pengujung tahun. Data Bank Indonesiamenyebutkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada 30 Desember 2013 tercatat sebesar Rp 12.270 per dolar AS, dengan kurs jual sebesar Rp 12.331 dan kurs beli sebesar Rp 12.209. Adapun sektor dominan

yaitu industri pengolahan, sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran di tahun 2013 kinerjanya mengalami perlambatan di bandung tahun 2012, hanya sektor perdagangan, hotel dan restoran yang masih memberikan kinerja lebih baik

Tabel 2.1

Laju Per tumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010 - 2013 (Per sen LAPANGAN USAHA ) 2011*) 2012** 2013*** [1] [2] [3] [4] I. Primer 9,01 9,12 9,09 1. Pertanian 7,76 7,92 8,04 2. Pertambangan dan Penggalian 1,25 1,2 1,05 II. Sekunder 61,99 61,01 60,67 3. Industri Pengolahan 58,72 57,67 57,08 4. Listrik, Gas dan Air 1,61 1,67 1,81 5. Bangunan 1,66 1,66 1,78 III. Tertier 29,00 29,87 30,24 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 17,39 18,29 18,33 7. Pengangkutan dan Komunikasi 4,21 4,16 4,13 8. Keuangan, Persewaan & Js Prshaan 1,93 1,97 1,89 9. Jasa jasa 5,47 5,46 5,88 KABUPATEN BANDUNG 100,00 100,00 100,00 Catatan : *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

(38)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 38

Sumber : http://www.bandungkab.go.id/arsip/2366/pertumbuhan-produk-domestik-regional-bruto-(pertumbuhan-pdrb)

Untuk sektor industri pengolahan, melemahnya kinerja di tahun ini, kemungkinan besar akibat naiknya harga BBM bersubsidi yang berakibat pada berkurangnya volume produksi industry pengolahan.

Seperti halnya dengan tahun-tahun sebelumnya, laju pertumbuhan Kabupaten Bandung secara semesteran tumbuh lebih baik di semester I dibanding dengan semester II. LPE semester I Kabupaten Bandung tercatat sebesar 3,94 persen cukup jauh dibanding LPE semester II yang tumbuh sebesar 2,32 persen dibanding semester sebelumnya.

Sumber http://www.bandungkab.go.id/arsip/2366/pertumbuhan-produk-domestik-regional-bruto-(pertumbuhan-pdrb)

1. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Perekonomian Kabupaten Bandung yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2013 mencapai Rp 64,33 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp 25,90 triliun.

Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, PDRB atas dasar harga berlaku mengalami kenaikan sebesar Rp 7,26 triliun atau meningkat sebesar 12,73

(39)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 39

persen dari tahun sebelumnya. Demikian pula PDRB atas dasar harga konstan 2000, yang mengalami kenaikan sebesar Rp 1,4 triliun dari Rp 24,44 triliun pada tahun sebelumnya. Tabel 2.2 PDRB Kabupaten Bandung Tahun 2009 - 2013 (Juta rupiah) Catatan : *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara Sumber http://www.bandungkab.go.id/arsip/2366/pertumbuhan-produk-domestik-regional-bruto-(pertumbuhan-pdrb)

Sektor industri pengolahan mempunyai nilai tambah terbesar tahun ini yaitu mencapai Rp 36,72 triliun, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar Rp 11,79 triliun; sektor pertanian sebesar Rp 5,17 triliun; sektor jasa-jasa sebesar Rp 3,78 triliun; sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar Rp 2,66 triliun; sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar Rp 1,22 triliun; sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar Rp 1,17 triliun; sektor bangunan sebesar Rp 1,14 triliun; dan terakhir sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 0,67 triliun.

Sementara itu berdasarkan kelompok sektor ekonomi, total nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dari kelompok sekunder yang mencakup sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air, dan sektor bangunan mencapai Rp 39,03 triliun atau meningkat sebesar 12,10 persen dibanding tahun sebelumnya. Adapun kelompok sektor primer dan kelompok tertier pada tahun ini masing-masing menghasilkan nilai tambah bruto sebesar Rp 5,85 triliun dan Rp 19,46 triliun, atau mengalami kenaikan masing-masing sebesar 12,31 persen dan 14,12 persen dibanding tahun sebelumnya.

Uraian 2009 2010 2011* 2012** 2013*** PDRB 41.262.098,75 46.092.238,72 51.291.762,65 57.071.406,68 64.334.227,32 A D H BERLAKU 20.527.539,56 21.734.661,19 23.026.237,14 24.443.222,17 25.901.171,60 PDRB A D H KONSTAN

(40)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 40

Sumber : BPS Kabupaten Bandung, PDRB Semesteran Kabupaten Bandung 2013

2. PDRB Per Kapita

Berbeda dengan pertumbuhan ekonomi yang merupakan proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan PDRB, pembangunan ekonomi diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk meningkat dalam jangka panjang.

PDRB perkapita merupakan gambaran rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk sebagai hasil dari proses produksi. Data ini diperoleh dengan cara membagi nilai PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun di wilayah tersebut. Secara kasar dapat dikatakan bahwa semakin tinggi PDRB yang diterima

(41)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 41

oleh penduduk di suatu wilayah maka tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah yang bersangkutan dapat dikatakan bertambah baik, namun pada dasarnya penghitungan nilai PDRB mengesampingkan kepemilikan, dengan demikian bisa jadi nilai PDRB perkapita suatu wilayah tinggi namun tidak menggambarkan tingkat kemakmuran penduduk setempat karena sebagian besar aktivitas produksi yang terjadi di wilayah tersebut bukan milik dari penduduk setempat, demikian pula sebaliknya.

Tabel 2.4

Pendapatan Per Kapita Kabupaten Bandung ( Ribu Rupiah )

Tahun PDRB Perkapita PDRB Perkapita

ADH Konstan ADH Konstan

2010 6.804,80 14.430,81

2011 7.116,49 15.852,25

2012 7.390,47 17.255,69

2013 7.582,98 18.834,86

Sumber : Data BPS Kabupaten Bandung tahun 2013 yang sudah diolah

Selama kurun tahun 2010 hingga tahun 2013, PDRB per kapita atas dasar berlaku Kabupaten Bandung terus menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Secara nominal PDRB per kapita atas dasar harga berlaku mampu tumbuh sebesar 30,52 persen, nilai PDRB per kapita atas dasar harga berlaku Kabupaten Bandung pada tahun 2010 tercatat sebesar Rp 14.430.805 per tahun meningkat menjadi Rp 18.834.858 per tahun di tahun 2013.

Namun tidak demikian dengan tingkat pertumbuhan nilai PDRB per kapita atas dasar konstan yang menggambarkan pendapatan riil penduduk Kabupaten Bandung, dimana tingkat pertumbuhannya termasuk kecil yaitu hanya sekitar 11,44 persen dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Pada tahun 2010 nilai PDRB per kapita atas dasar harga konstan 2000 tercatat sebesar Rp 6.804.804 per tahun dan di tahun 2013 hanya sedikit meningkat menjadi Rp. 7.582.976 per tahun.

Sebagai perbandingan, untuk kurun waktu tiga tahun terakhir, pertumbuhan pendapatan per kapita penduduk Provinsi Jawa Barat tercatat sebesar 18,74 persen,

(42)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 42

angka ini relatif masih lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan per kapita penduduk Kabupaten Bandung yang mencapai 19,58 persen untuk kurun waktu tahun 2010 sampai tahun 2012.

Begitu pula dengan rata-rata tingkat pendapatan per tahun, secara nominal rata-rata pendapatan yang diterima penduduk Kabupaten Bandung relatif tidak berbeda terlalu jauh dengan pendapatan yang diterima oleh penduduk di Provinsi Jawa Barat seperti yang terlihat pada tabel Selisih pendapatan yang diterima antara penduduk Kabupaten Bandung dan penduduk Provinsi Jawa Barat tahun 2010 terhitung sebesar 24,04 persen dan berkurang secara bertahap menjadi 23,17 persen di tahun 2012.

Tabel 2.5

Pendapatan Per Kapita Kabupaten Bandung dan Propinsi Jawa Barat Tahun 2010 – 2012 ( Ribu Rupiah )

Tahun Jawa Barat Kab Bandung

2010 17.9 14.431

2011 19.645 15.852

2012 21.255 17.256

Data BPS Kabupaten Bandung tahun 2013 yang sudah diolah

3. Inflasi

Definisi inflasi secara sederhana dapat diartikan sebagai kenaikan tingkat harga rata - rata barang dan jasa secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya.

Inflasi yang stabil menjamin keberlangsungan kegiatan perekonomian, inflasi yang tinggi akan mempengaruhi nilai real dari pendapatan masyarakat, selain itu ketidakstabilan inflasi akan meningkatkan ketidakpastian yang akan berpengaruh pada pengambilan keputusan masyarakat terkait faktor-faktor investasi, konsumsi, dan produksi yang tentunya akan berdampak pada pencapaian kinerja ekonomi.

Inflasi PDRB Kabupaten Bandung selama tahun 2013 (Januari-Desember) terhitung sebesar 6,38 persen, jauh meningkat dari inflasi PDRB tahun sebelumnya yang terhitung sebesar 4,82 persen. Namun walaupun meningkat nilai ini masih

(43)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 43 LAPANGAN USAHA 2011 * 2012** *** 2013 [1] [2] [3] [4] 1. Pertanian 8,76 7,28 9,09 2. Pertambangan dan Penggalian 7,39 8,69 2,46 3. Industri Pengolahan 4,22 3,69 6,22 4. Listrik, Gas dan Air 2,82 2,90 2,91 5. Bangunan 3,09 5,78 10,80 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 6,06 7,66 3,60 7. Pengangkutan dan Komunikasi 3,80 1,89 5,26 8. Keuangan, Persewaan & Js Prshaan 2,90 4,77 4,33 9. Jasa jasa 7,76 5,66 11,13 KABUPATEN BANDUNG 5,04 4,82 6,38

masuk pada kategori inflasi ringan (dibawah 10 persen per tahun). Inflasi ini terjadi hampir merata di semua daerah di Indonesia, tekanan inflasi disinyalir disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi dan kenaikan harga komoditas makanan dan bahan makanan.

Tabel 2.6

Inflasi Produk Domestik Bruto Kabupaten Bandung Tahun 2011-2013 (Persen)

Sumber : Data BPS Kabupaten Bandung tahun 2013 yang sudah diolah

Jika dirinci menurut sektor ekonomi, inflasi tertinggi pada tahun ini terjadi pada sektor listrik, gas dan air yang mencapai hingga 12,91 persen. Tingginya inflasi pada sektor listrik, gas dan air merupakan dampak dari kenaikan tarif dasar listrik yang naik sebesar 15 persen secara bertahap setiap triwulan sepanjang tahun ini.

Inflasi tertinggi selanjutnya pada tahun ini terjadi pada sektor jasa-jasa yang mencapai 11,13 persen dan sektor bangunan sebesar 10,80 persen. Sementara itu inflasi terendah terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian yang terhitung sebesar 2,46 persen. Inflasi untuk sektor pertanian yang mencapai 9,09 persen dipicu oleh kenaikan harga bahan makanan, seperti harga produk dari pertanian yaitu padi-padian dan hortikultura, produk peternakan dan produk perikanan.

(44)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 44

D. Potensi Daerah

Luas wilayah Kabupaten Bandung adalah 176.238,67 Ha. Hingga tahun 2012,secara administratif Kabupaten Bandung terdiri dari 31 Kecamatan, 270 desa (sebelumnya 267 desa) dan 10 kelurahan (sebelumnya 9 kelurahan). Luas wilayah terbesar berada pada Kecamatan Pasirjambu dengan luas sebesar 23.957,64 Ha, sedangkan luas wilayah tersempit atau paling kecil adalah kecamatan Margahayu dengan luas sebesar 1.054,33 Ha

Berdasarkan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Bandung Tahun 2007-2027, wilayah Kabupaten Bandung dibagi kedalam 8 Wilayah Pengembangan: (1) WP Baleendah; (2) WP Banjaran; (3) WP Cicalengka; (4) WP Cilengkrang-Cimenyan; (5) WP Cileunyi-Rancakek; (6) Majalaya; (7) Margahayu-Margaasih; (8) Soreang-Kutawaringin-Katapang.

Potensi sektor pertanian hampir di seluruh Wilayah Pengembangan sehingga kebijakan pengembangan sistem kota-kota dan wilayah diarahkan pada pengembangan kawasan pertanian, terutama di WP Soreang-Kutawaringin-Katapang, WP Baleendah, WP Banjaran, WP Majalaya, WP Cileunyi-Rancaekek, WP Cicalengka, dan WP Cilengkrang-Cimenyan.

Sektor pertanian memiliki peranan yang penting dalam perekonomian Kabupaten Bandung hal ini dikarenakan sektor pertanian berfungsi sebagai basis atau landasan pembangunan ekonomi di Kabupaten Bandung. Peranan sektor pertanian bukan hanya terhadap ketahanan pangan, tetapi juga memberikan andil

(45)

Profil Kependudukan Kabupaten Bandung Tahun 2013 45

yang besar terhadap kesempatan kerja, sumber pendapatan serta perekonomian regional. Di Kabupaten Bandung, sektor pertanian menempati urutan ketiga sektor yang berkontribusi relatif tinggi terhadap pembentukan nilai PDRB Kabupaten Bandung.

Potensi lahan merupakan sumberdaya alam yang paling penting dalam usaha budidaya pertanian. Potensi Lahan di Kabupaten Bandung, terdiri dari Lahan Sawah seluas 36.212 hektar atau 20,55% dari luas wilayah Kabupaten Bandung (176,239 Ha), Lahan Kering seluas 140.027 hektar (79,45 %), terdiri dari lahan kering pertanian seluas 74.778 Ha (42,43 %) dan lahan kering bukan pertanian 65.249 Ha (37,02 %). Lahan Sawah : 36.212 Ha baik yang diairi irigasi teknis, irigasi setengah teknis, irigasi sederhana, irigasi Non-PU, maupun sawah tadah hujan, secara lengkap tersaji pada Tabel 2.7.

Tabel 2.7

Luas Lahan Sawah berdasarkan Jenis Irigasi di Kabupaten Bandung menurut Kecamatan (Ha) pada tahun 2012

Sumber : http://www.bandungkab.go.id/arsip/2345/gambaran-umum-sumber-daya-alam update kamis 5 januari 2012

Gambar

Grafik 2.3 menggambarkan perbandingan LPE sembilan sektor ekonomi pada  tahun  2013  dengan  tahun  2012
Gambar  2.2    Rencana  Tata  Ruang  dan  Wilayah  Kabupaten  Bandung  Tahun  2007-2027
Gambar 2.4 Peta Wisata yang Ada di Kabupaten Bandung  Potensi pariwisata yang khas dimiliki Kabupaten Bandung, antara lain :
Tabel 4.2. Kepadatan Penduduk Kabupaten Bandung per Kecamatan   Tahun 2013  No  Kecamatan  Jumlah  Penduduk  Luas Area (KM2)  Kepadatan (per KM2)  1  Cileunyi  159,244  31.58  5,043  2  Cimenyan  101,634  53.08  1,915  3  Cilengkrang  47,852  30.12  1,589
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Dokumen Eksternal : Pedoman pengelolaan keuangan program dari Dinkes Kab/Kota 2.3.16.5 Dokumen bukti pelaksanaan dan tindak lanjut dari audit pengelolaan keuangan 2.3.17.1

(n) Uang Pengakhiran adalah uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak, yang diterima oleh pekerja atau ahli warisnya pada saat terjadi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi analisis yang terpilih untuk menetapkan kadar etanol dalam hair tonic dan hair spray adalah suhu kolom 50°C, suhu injektor 70°C,

Penentuan batas wilayah Desa Babalan Kidul dapat dilakukan secara kartometrik dengan partisipasi masyarakat dan perangkat desa serta operator dalam membantu

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan komposit tepung kentang dengan prosentase yang berbeda 100%, 90%, dan 80% terhadap

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa gen ketahanan terhadap penyakit powdery mildew terdeteksi di tanaman melon hasil

Hasil penelitian sebagaimana disajikan pada Tabel 2 terkait dengan pengaruh edukasi gizi oleh kader terlatih dalam meningkatkan asupan energi dan protein pada

Selain dari hasil perhitungan algoritme SOM berdasarkan rata-rata nilai rapor peserta PMB UNISBA tahun 2016, dapat digunakan juga identitas peserta menurut daerah