• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM SEBAGAI LITERASI VISUAL PADA PENDIDIKAN ORANG DEWASA Oleh : Rahmat Syah 1, Daddy Darmawan 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM SEBAGAI LITERASI VISUAL PADA PENDIDIKAN ORANG DEWASA Oleh : Rahmat Syah 1, Daddy Darmawan 2"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM

SEBAGAI LITERASI VISUAL PADA

PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Oleh : Rahmat Syah1, Daddy Darmawan 2

Manajemen, Fakultas Ekonomi, Institut Bisnis & Multimedia Asmi1 Pendidikan Masyarakat, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta2

[email protected]

ARTIKEL

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menggali fenomena kebutuhan literasi visual dalam pemanfaatanya

pada media sosial Instagram. Selain itu, untuk mengkaji motif, pengalaman, dan perubahan perilaku hasil yang dilakukan oleh pengguna media sosial Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metodologi penelitian fenomenologi, untuk menggali fenomena yang terjadi dan kebaruannya. Empat informan yang dipilih menggunakan teknik purposive yaitu mereka yang memanfaatkan media Instagram sebagai sarana belajar. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara dan kajian data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Instagram sebagai media pembelajaran dilatarbelakangi oleh berbagai motif kebutuhan media informasi. Pengalaman yang dirasakan oleh pengguna Instagram sebagai bentuk komunikasi pembelajaran merupakan pengalaman yang harus terus diasah sehingga kemampuan memahami media visual akan meningkat. Literasi visual sangat dibutuhkan saat ini karena dapat menangkal berita bohong dan dapat mengembangkan kemampuan masyarakat di era digitalisasi. Penggunaan Instagram didukung dengan kemampuan literasi visual dapat mendorong perubahan dalam sikap, perilaku dan kognisi kearah yang lebih baik.

Kata kunci: Literasi Visual, Media Sosial Instagram, Pendidikan Masyarakat, Digitalisasi.

VISUAL LITERACY’S UTILIZATION OF SOCIAL MEDIA INSTAGRAM

ON ADULT EDUCATION

Abstract: This study aims to explore the phenomenon of visual literacy in social media Instagram. In addition

to examining the motives, experience, and behavior change results conducted by social media Instagram users. This study used a qualitative research approach to the research methodology with Phenomenology, for wanting to explore the phenomenon occurs. The four informants were selected using a purposive technique to those who utilize media Instagram as a learning tool. Data collection techniques are used secondary data review and interviews. The results showed that the use of the media by learning as Instagram affected by a variety of motive media information needs. Experience is perceived by users as a form of communication, learning Instagram is an experience that must be continually honed so that the ability to understand visual media will increase. Visual literacy is necessary at this time because it can counteract the hoax news and can develop the ability of people in the era of digitalization. The use of literacy ability is supported with Instagram visual can encourage changes in attitudes, behaviors and cognitions towards the better.

(2)

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi digital yang didukung oleh banyaknya media berupa gambar, foto atau video bermanfaat sebagai bahan pembelajaran sepanjang hayat. Perkembangan tersebut harus didukung oleh daya serap informasi secara visual oleh penggunanya. Daya serap, membaca dan memahami arti dari informasi yang terkandung dalam media visual saat ini dikenal sebagai literasi visual. Kemampuan untuk menguasai literasi visual pada penggunaan media digital merupakan bagain dari kemampuan literasi dasar saat ini, sama halnya dengan kemampuan membaca dan menulis (Duchak, 2014).

Literasi visual dibutuhkan sama seperti literasi tekstual, hal tersebut dikarenakan keadaan lingkungan belajar saat ini tidak lagi dibatasi oleh kelas formal, sehingga masyarakat diharuskan dapat mengkonstruksi dirinya untuk berpartisipasi dalam situasi pembelajaran informal secara kondusif dibantu dengan berbagai media dan teknologi (Heiligmann & Shields, 2005). Jika masyarakat tidak menguasai kebutuhan teknologi dan informasi, maka konsekuansinya masyarakat akan tertinggal atau gagap teknologi.

Penguasaan literasi visual juga dinilai dapat membantu masyarakat dalam mengembangkan dimensi ekonomi, sosial dan budaya. Literasi visual bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan kognisi sehingga masyarakat dapat mengolah informasi secara efektif dan efi sien. Semakin mahir masyarakat membaca visualisasi pada media, maka semakin cepat perkembangan suatu informasi yang berdaya guna.

Literasi merupakan kemampuan yang berkaitan dengan keahlian memahami bacaan, berdasarkan asal katanya, litterae berarti kumpulan huruf, maka literate dapat diartikan sebagai orang yang memiliki kemampuan atau kompetensi akan suatu pengetahuan, atau ia dapat membaca atau menulis, dan punya kemampuan untuk memanfaatkan pengetahuan tersebut.

Literasi pada awalnya hanya mengacu pada orang yang memiliki kemampuan baca tulis masih sangat terbatas, dan orang-orang tersebutlah yang kemudian dianggap memiliki kompetensi yang lebih baik sehigga dapat menyebarluaskan pengetahuannya kepada orang lain. Namun dengan perkembangan peradaban dan teknologi saat ini, literasi dapat dikaitkan dengan berbagai aspek.

Manusia tidak lagi mengandalkan kemampuan baca tulis sebagai acuan atau tolok ukur untuk menilai kemampuan dan kompetensi seseorang, sehingga akhirnya muncul berbagai istilah atau berkembangnya pembahasan mengenai berbagai macam literasi yang lebih di-pahami sebagai suatu kemampuan atau penguasaan bidang tertentu. Salah satu bentuk literasi yang saat ini memiliki pengaruh besar dalam interaksi manusia dengan lingkungannya adalah literasi visual atau visual literacy.

Literasi visual merupakan pemberdayaan diri untuk mengembangkan kemampuan dan menerapkan pembelajaran dengan memanfaatkan media seperti gambar dan video serta benda tiga dimensi (Duchak, 2014). Literasi visual berperan dalam lingkup pembelajaran orang dewasa mengenai budaya dan lingkungannya. Literasi visual termasuk dalam daftar keterampilan penting abad ke-21, masyarakat harus memiliki kemampuan visual untuk menafsirkan, mengenali, menghargai dan memahami informasi yang disajikan melalui tindakan, objek dan simbol yang terlihat, alami atau buatan manusia. Benoît, College, & MA, (2015) mendefi nisikan bahwa literasi visual merupakan kemampuan untuk memahami dan menggunakan gambar, termasuk mengembangkan kemampuan untuk berpikir, belajar, dan mengekspresikan diri dalam mengelola sebuah gambar.

Menutut Riddle (2009) literasi visual adalah kemampuan untuk menafsirkan, menggunakan, dan menciptakan media visual untuk meningkatkan proses, pengambilan keputusan, komunikasi, dan pembelajaran. Defi nisi tersebut menjelaskan bahwa literasi visual merupakan sebuah kemampuan

(3)

dalam menginterpretasikan pesan visual dan menciptakan pesan dalam sebuah komunikasi sehingga komunikasi tersebut dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Masyarakat umumnya kurang memahami bagaimana penerapan pembelajaran berbasis literasi visual diterapkan khususnya pada pemanfaatan media digital. Perkembangan kesadaran pentingnya literasi visual dalam masyarakat postmodern saat ini masih dalam tahap membangun tata bahasa visual yang secara bersamaan dapat membatasi masyarakat dalam posisi yang berkaitan dengan kode dalam teks jika masyarakat tidak dapat mendorong interpretasi personal (Pengembangan diri).

Literasi visual dibutuhkan masyarakat khususnya orang dewasa karena masyarakat saat ini cenderung memiliki kebutuhan terhadap internet dan media sosial. Para ahli komunikasi menyatakan bahwa berbagai defi nisi media sosial yang ada saat ini begitu luas. Hal ini menunjukkan adanya kompleksitas, titik perhatian, serta kemampuannya diterapkan di luar disipilin ilmu yang dimiliki. Carr C & Hayes (2015:8), mendefi nisikan, “social media are internet-based, disentrained, and persistent channels of masspersonal communication facilitating perceptions of interactions among users, deriving value primarily from user-generated content”. Pengertian tersebut merujuk pada (1) teknologi digital yang menekankan pada usergenerated content atau interaksi (2) karakteristik media, dan (3) Jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain sebagai contoh model interaksi.

Salah satu media sosial saat yang ini sedang marak digunakan untuk berbagai keperluan informasi yaitu Instagram. Instagram merupakan sebuah aplikasi media sosial yang populer dalam kalangan pengguna smartphone. Instagram memiliki arti kata “Insta” yang berarti “Instan” dan “gram” yang berarti telegram”. Jadi, Instagram merupakan gabungan dari kata Instan-Telegram. Penggunaan kata tersebut dapat diartikan sebagai aplikasi untuk mengirimkan informasi dengan cepat, yakni dalam

bentuk foto yang berupa mengelola foto, mengedit foto, dan berbagi (share) ke jejaring sosial yang lain. Instagram merupakan sebuah aplikasi berbagi foto atau video yang memungkinkan pengguna dapat menerapkan fi lter digital, menyertakan caption sesuai yang diinginkan, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial (Hennig, et al., 2004).

Menurut hasil survei Asosiasi Jasa Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Polling Indonesia (2016) berjumlah 132,7 juta pengguna internet dibanding hasil survey APJII 2014 berjumlah 88 juta pengguna internet. Sementara, data perilaku pengguna internet di Indonesia terkait tempat mengakses internet paling banyak 69,9% (92,8 juta) mengakses internet secara tidak tetap dimana saja (memakai gawai), 13.3% (17,7 juta) di rumah, 11,2% (14,9 juta) memakai fasilitas internet kantor, 2.2% (2,9 juta) fasilitas internet kampus, 1.6% (2,1 juta) warnet, dan 0.9% (1,2 juta) internet café.

Penggunaan Internet yang pesat tentunya diiringi dengan masyarakat yang menggunakan media social sebagai aplikasi bagian dari dunia digital. Berdasarkan hasil penelitian oleh Alyusi (2016:181) tentang penggunaan media sosial pada komunitas online Kaskus diperoleh hasil bahwa aktivitas yang sering dilakukan anggota yaitu sharing informasi. Mengingat menarik dan update, sehingga bisa untuk menambah wawasan baru dari informasi tersebut. Pemanfaatan media sosial Instagram sebagai sarana penambah ilmu pengetahuan telah merubah cara seseorang dalam berkomunikasi dari yang awalnya one to many menjadi many to many. Kajian artikel ini berfokus pada Visible Th inking sebagai sebuah alat yang informan pelajari, especially the refl ective process of making thinking visible (Carter, 2018). Fenomena Penggunaan media sosial Instagram sebagai literasi visual oleh pengguna Instagram dan masyarakat sebagai warga pembelajaran pendidikan informal tentunya untuk keperluan mencari motif, pengalaman dalam melakukan komunikasi pembelajaran di Instagram.

(4)

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena yang terjadi di masyarakat, sehingga paradigma interpretive dari fenomena yang dikaji menjadi sesuatu yang akurat. Fokus pertanyaan penelitian yaitu fenomena pemanfaatan literasi visual dan bagaimana pemaknaan media visual pada media sosial Instagram menurut penggunanya dan pandangan pengguna yang telah mengoptimalkan literasi visual.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan kualitatif fenomenologi dengan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menemukan sumber, yaitu yang pertama adalah teknik wawancara dengan pertanyaan mendalam dan teknik studi pustaka atau dokumen. Informan yang akan diwawancara dipilih dengan teknik purposive sampling dan analisis dokumen dari berbagai literatur sekunder sebagai data penelitian. Informan yang ditentukan lebih variatif dan juga selalu dilakukan cros check terhadap data yang didapat dari setiap informan sehingga data tersebut terjaga kesahihannya. Analisis data (Moleong, 2007) yang digunakan proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uaraian dasar. Analisis dalam penelitian kualitatif terdiri dari tiga komponen pokok yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan dengan verifi kasi. Ketiga komponen ini tidak dapat dipisahkan dan saling berinteraksi dalam hal pengumpulan data. Untuk lebih jelasnya, proses analisis dalam bentuk interaktif ini dapat digambarkan pada gambar 1:

Gambar 1. Alur Penajian Data Kualitatif

Alur tersebut menunjukan bahwa data yang dikumpulkan akan direduksi dan disajikan, selanjutnya data akan dianalisis sehingga data yang telah dianalisis menghasilkan kesimpulan yang dapat dijadikan pembahasan pada penelitian ini.

Data Wawancara:

1. Pengguna Instagram dengan jumlah follower di atas 1000 dan memiliki usaha online.

2. Pengamat media sosial atau akademisi pada bidang komunikasi

3. Ibu rumah tangga pengguna Instagram dan sudah menggunakan instagram lebih dari empat tahun

Data Dokumentasi yang digunakan pada penelitian ini mengumpulkan data sekunder hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan sitasi dari artikel jurnal dan temuan penelitian lainnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil data yang telah direduksi menggambarkan bahwa media sosial Instagram dapat berkontribusi pada perkembangan komunikasi informasi yang efektif dan edukatif seperti tips merawat anak, tips kesehatan, informasi politik dan informasi rohani. Selain itu, informasi edukasi pada media sosial Instagram dapat diterapkan tidak hanya untuk pribadi tetapi juga dalam media belajar di sekolah formal dan perguruan tinggi. Lebih spesifi k lagi, hasil reduksi data menunjukan bahwa Instagram memiliki keterkaitannya dalam pemanfaatan pada literasi visual.

Informan menyetujui bahwa Instagram memberikan informasi yang bermanfaat secara edukatif dan bagaimanakah Instagram bermanfaat dan memberikan informasi yang mudah dimengerti oleh informan, Danar salah satu pengguna Instagram yang memiliki follower lebih dari 1000 orang salah satu kesempatan pada perbincangan diskusi dengan peneliti pada 25 Januari 2019 di Universitas 17 Agustus 45,

(5)

Danar mengatakan bahwa “saya menggunakan Instagram sudah lebih dari tiga tahun, selain untuk memperoleh informasi mengenai hobi saya juga memanfaatkan Instagram untuk mencari tips cara hidup sehat, tips karier dan tata cara dalam peluang bisnis”. Danar selaku orang yang sudah lama menggunakan Instagram memanfaatkan media sosial tersebut karena menampilkan banyak gambar sehingga masyarakat mudah memahami konteks informasi yang edukatif. Hasil wawancara tersebut menggambarkan bahwa media sosial sebagai sumber informasi literasi yang umum digunakan untuk pengembangan diri pribadi yang menyenangkan.

Selanjutnya, informan kedua Ghirahel selaku salah satu pengguna Instagram yang merupakan seorang ibu rumah tangga dan juga Tutor di PKBM 16 Jakarta yang memiliki follower lebih dari 500 dan juga following sebanyak 500 orang, pada perbincangan diskusi dengan peneliti pada 26 Januari 2019 di PKBM 16 Jakarta mengatakan bahwa: “Saya sebagai ibu rumah tangga, sering memanfaatkan Instagram untuk belajar memasak dan belajar bahasa karena dengan melihat gambar atau video informasi yang saya terima akan lebih mudah saya terapkan, selain itu menggunakan Instagram untuk mencari informasi yang dibutuhkan juga menjadi lebih menarik dan menyenangkan”.

Selain memanfaatkan media sosial Instagram untuk meningkatkan pengetahuan dan keperluan rumah tangga, Ibu Ghirahel juga sebagai seorang Tutor PKBM memanfaatkan visualisasi pada media sosial tersebut sebagai bahan ajar. “saya juga sering memanfaatkan Instagram sebagai media untuk mencari bahan ajar, sebagai Tutor mata pelajaran bahasa inggris saya sering mengunduh/ screenshoot gambar pada Instagram dengan menggunakan tanda pagar sebagai pencarian”. Hal tersebut menunjukan bahwa Instagram dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran informal, nonformal dan formal.

Hasil wawancara tersebut menggambarkan bahwa media sosial Instagram membantu informan memecahkan masalah akademik dan meningkatkan pengetahuan mereka. Seperti yang dikatakan oleh Reza, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta sebagai informan ketiga “Saya banyak menonton video di Instagram dan memanfaatan infografi knya untuk membantu kegiatan akademik saya di dunia perkuliahan. Hal tersebut membantu saya mempelajari dan memahami serta memberi saya inspirasi dengan ide kreatif yang bermanfaat”. Sebagai seorang mahasiswa Reza menjelaskan usaha belajarnya melalui Instagram dan bagaimana ia memecahkan masalah yang ia hadapi dalam studinya menggunakan Instagram “saya menonton video pada aplikasi Instagram beberapa kali untuk memahami salah satu topik ekonometri yang saya tidak mengerti dan pahami dari buku teks atau catatan kuliah. Video dan infografi k pada Instagram membantu saya belajar secara efektif, dan saya sekarang lebih berkembang dari pada teman sekelas saya”.

Instagram tidak hanya untuk belajar bagi para mahasiswa, mahasiswa juga menggunakannya untuk memecahkan masalah nonakademik. Berikut hasil wawancara kepada Putri salah satu karyawan swasta di Jakarta Barat “Saya menggunakan Instagram untuk memecahkan banyak masalah yang terkait dengan pekerjaan, seperti menyediakan tutorial dengan petunjuk langkah demi langkah tentang cara untuk melakukan tugas tertentu dan cara memecahkan masalah”. Putri yakin belajar dari Instagram itu mudah dan menyenangkan, selain itu visualisasi membuatnya lebih mudah untuk memahami pesan yang disampaikan, Instagram menarik bagi saya karena video dan gambar infografi k lebih menarik daripada kata berbentuk tulisan paragraf ”. Setiap kali informan tidak tahu sesuatu, mereka menggunakan Instagram, dan memahami gambar visual dalam 1 menit, seperti menunjukkan persis bagaimana untuk menghitung, tambahkan, minus, dan menyelesaikannya “.

(6)

Gambar 2. Contoh Aplikasi Instagram Sebagai Media Belajar

Hampir semua responden mengusulkan bahwa pembelajaran dengan media sosial berisi video dan gambar membuat topik edukasi informal menjadi lebih menarik. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa “Sangat bermanfaat untuk memahami teori yang dapat dijelaskan oleh video dan gambar; memiliki efek positif pada belajar karena belajar memerlukan lebih banyak penjelasan mendalam”. Informan percaya bahwa menggunakan video dan gambar membantu mereka memahami topik sulit, “saya menggunakan Instagram untuk membantu saya dengan studi saya dan sebelum setiap ujian, saya menggunakan Instagram untuk revisi karena saya lakukan tidak mengerti beberapa penjelasan dari instruktur saya di kelas”.

Penggunaan literasi visual mendukung kemam puan untuk mengingat informasi dan memungkinkan mereka untuk mempresen tasi-kannya kembali dengan cara mereka sendiri.

Kemampuan literasi visual sama dengan kemampuan berpikir. Visual yang dikelola dengan baik dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dalam mempelajari pengetahuan baru. Perancangan instruksional visual dapat menjadi pilihan untuk mengembangkan literasi visual dalam proses pembelajaran.

Namun, dibalik informasi yang banyak dan baik pada media sosial Instagram terdapat penguasaan literasi visual yang harus dikuasai oleh para informan. Para informan sepakat bahwa banyak informasi yang beredar di media sosial yang mengandung unsur negatif seperti SARA, berita bohong, ujaran kebencian dan masih banyak lagi. Sehingga, kehadiaran literasi visual menjadi konteks utama penangkal gelombang negatif tersebut. Guess, Nagler, & Tucker, (2019) mengungkapkan bahwa kegagalan masyarakat yang menguasai literasi visual dipengaruhi beberapa aspek. Pertama pendidikan, kedua usia dan ketiga pengalaman. Data hasil penelitian yang dilakukan oleh Guess, Nagler, & Tucker, (2019) juga menyebutkan bahwa golongan penyebar berita palsu paling besar adalah warga usia 65 tahun atau lebih yang mencapai 11%. Sementara penyebar berita bohong untuk golongan usia 18 sampai 29 tahun hanya 3% (golongan usia termuda). Pengguna media sosial seperti Facebook dan Instagram usia 65 tahun ke atas, atau golongan tertua, menyebarkan berita palsu dua kali lebih banyak ketimbang pengguna usia 45 hingga 65 tahun, dan hampir tujuh kali lipat lebih banyak ketimbang pengguna usia 18 sampai 29 tahun. Oleh sebab itu berinteraksi dengan objek visual merupakan tantangan tersendiri yang multidimensional bagi masyarakat.

Peran literasi visual terhadap pengguna Instagram berkontribusi pada pemahaman tentang pencipta objek visual menjadi kemampuan kognitif masyarakat dalam membantu memecahkan permasalahan masyarakat. Kegunaan literasi visual pada perilaku pengelolaan media sosial merupakan

(7)

atribut yang harus dimiliki penggunanya. Hal tersebut diperlukan karena karakteristik Instagram yang tidak hanya memiliki fi tur situs jaringan sosial tapi memiliki keunggulan dalam hal foto, gambar dan video. Selain itu, media sosial Instagram juga dapat mengambil, mengedit, dan memposting foto yang sangat popular bagi generasi muda.

Literasi visual pada pengguna Instagram diperlukan karena menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Wirasti K, dkk. (1999) menjelaskan bahwa efektivitas sejumlah indera untuk menerima rangsangan penglihatan sebesar 83%, indera pendengaran 11%, indera penciuman sebesar 3,5%, indera peraba sebesar 1,5%, indera perasa sebesar 1%. Besar persentase efektivitas indera penglihatan berdasarkan informasi ini tergolong cukup signifi kan, sehingga literasi visual berpotensi besar dalam menikatkan kualitas pembelajaran.

Pemahaman literasi visual menurut Heiligmann & Shields (2005) menfokuskan dari tiga aspek tanda yaitu ikonik, indeksikal, dan simbolik. Gibson mendasarkan teori literasi visual merupakan pemaknaan terhadap arti suatu pesan dilihat dari kemiripan gambar dengan lingkungan. Kemudian Teori Perspektif Renaissance yang dipelopori oleh Brunelleschi dalam Walker (2003) dikemukakan bahwa pemahaman pesan visual didasarkan pada kemampuan pandangan menangkap kesamaan gambar dengan dunia nyata karena gambar merupakan pengganti objek yang nyata.

Perspektif kedua pada visual literasi yang diidentifi kasi dalam literatur menekankan penerapan model mental yang abstrak untuk kegiatan yang melibatkan konten digital. Model ini datang dari berbagai domain, tetapi sebagian kognitif dalam perspektif mereka, berfokus pada bagaimana individu memproses informasi pada otak manusia. Dari sudut pandang ilmu pengetahuan belajar mungkin berpikir model ini sebagai perancah metakognitif: struktur yang mendukung kegiatan keaksaraan digital individu dengan mempromosikan pemikiran refl ektif dan kesadaran individu berpikir pada tugas atau masalah. Model

ini fokus pada pemecahan masalah kapasitas, dan mereka adalah cukup abstrak yang akan berlaku untuk berbagai macam situasi dan konteks.

Buckingham’s (2003) literasi visual berfungsi sebagai konstruksi gambaran dari pendekatan kognitif sebagai persiapan menghadapi tantangan digital media. Buckingham’s literasi visual pada era digital, dan menekankan keterkaitan empat faktor-faktor dalam memahami media baru, yaitu: representasi, bahasa, produksi dan penonton.

Komponen ini menyediakan struktur untuk berpikir tentang dan mengevaluasi media visual. Hal tersebut merupakan pengulangan pemikiran kritis dan analisis, memperluas pengertian tentang keaksaraan visual pada luar keterampilan untuk ‘mengelola pikiran’ yang melintasi berbagai konteks dan tugas jenis, dari menentukan otoritas kemampuan daya serap otak dalam berselancar di web untuk menafsirkan ideologi dalam visualisasi pada media sosial populer. Perspektif ini dinilai pada seberapa baik masyarakat menerapkan kerangka kognitif pada situasi sehari-hari dan situasi akademik. Sebagai model tingkat cukup tinggi, tantangan utama adalah bahwa hal itu bergantung pada orang-orang muda untuk transfer pengetahuan dan prosedur antara konteks dan masalah. Dari perspektif ini, konteks yang tidak resmi dapat mendukung pembangunan pemuda melek digital dengan memberi mereka tantangan berbasis masalah yang mendukung berlatih aplikasi ‘kebiasaan pikiran’ situasi sehari-hari dan skenario dunia nyata.

Penggunaan Instagram sebagai bentuk literasi visual dikaji dengan perspektif fenomenologi. Schutz (1967) berpandangan bahwa fenomenologi merupakan cara dalam memahami tindakan sosial melalui penafsiran dan memperjelas atau memeriksa kebermaknaan suatu fenomena, sehingga dapat memberikan gambaran untuk dianalisis. Selain itu Schutz (1967) menyatakan bahwa proses pemahaman aktual manusia pemberian makna terhadapnya, sehingga memberikan refl eksi tingkah dalam laku. Tingkah laku yang direfl eksikan bisa berupa jawaban dari penggunaan Instagram

(8)

sebagai pembelajaran ataupun tingkah laku dari hasil belajar di dalamnya.

Semua perilaku manusia pada hakikatnya memiliki motif. Motif ini memberi tujuan dan arah kepada tingkah laku manusia. Menyangkut motif, Schutz (1967) membaginya menjadi dua, yaitu: tindakan sosial merupakan tindakan yang berorientasi pada perilaku orang atau orang lain pada masa lalu (because motif), dan sekarang atau akan datang (in-order-to). Penggunaan Instagram oleh masyarakat, memiliki suatu motif baik dari masa lalu (because motif), dan sekarang atau akan datang (in-order-to) dalam pemenuhan informasi mengenai ilmu pengetahuan.

Pesan visual membentuk konsep (thinking analyze) yang dapat mengembangkan kemampuan kognitif dan proses sosial. Namun meskipun kebutuhan untuk peningkatan literasi visual perkembangan literasi visual telah jauh upaya penelitian untuk memahami dan menjelaskan (Benoît, College, & MA, 2015).

Dalam lingkungan pendidikan masyarakat literasi visual berguna untuk: (a) dapat menentukan sifat dan tingkat bahan visual yang diperlukan untuk pembelajaran sehari-hari; (b) dapat menemukan dan akses diperlukan gambar dan visual media secara efektif dan efi sien; (c) dapat menafsirkan dan menganalisis makna gambar dan visual media; (d) dapat mengevaluasi gambar dan sumber-sumber mereka; (e) dapat mengguna-kan gambar dan visual media secara efektif; (f ) dapat merancang dan membuat gambar yang bermakna dan visual media; dan (g) dapat memahami banyak isu-isu etika, hukum, sosial dan ekonomi.

Gambar dan media visual sebagai pengembangan literasi visual yang menekankan berbagi keterampilan fi sik informasi dan menawarkan kenyamanan pribadi di luar pengaturan formal. Wawasan tentang permaslahan pendidikan ini dipandang sebagai terorganisir, disengaja dan eksplisit mempromosikan belajar untuk meningkatkan kualitas hidup melalui

pendidikan non-formal yang biasanya digambarkan sebagai pembelajaran berbasis kearifan lokal.

Secara teoritis literasi visual termasuk dalam pendidikan informal dan nonformal, Rogers (2008) menjelaskan pembelajaran sepanjang hayat dalam kaitannya dengan bentuk lain dari pendidikan formal dalam masyarakat yang partisipasi pendidikan informal. Ada tiga karakteristik yang membuat literasi visual termasuk dalam pendidikan informal pertama rasa Kategori: fl eksibilitas (program responsif kebutuhan), kedua partisipasi (bersama pengambilan keputusan antara pendidik dan dan ketiga kontektualisasi (gelar Standardisasi). Pendidikan non-formal biasanya dilihat sebagai agak partisipatif, fl eksibel, kurang standar, lebih responsif terhadap kepentingan lokal Selain itu, pengalaman pendidikan non-formal dapat memberikan keluasan bagi pendidik. Refl eksi kritis pada pembelajaran keaksaraan atau literasi visual mengubah pendidikan yang formal menjadi lebih fl eksibel dan menyenangkan. Literasi visual dirancang untuk masyarakat berpikir secara visual dan untuk memusatkan perhatian masyarakat pada aspek pembelajaran berbasis visual. Produksi media social memberikan individu pembelajar menjadi berpikir kritis dapat meningkatkan kemampuan untuk bekerja dan berhasil.

Literasi visual memiliki dua kemampuan utama, pertama kemampuan menafsirkan makna visual. Makna dari gambar yang ada di lingkungan sekitar tidak dapat dipahami betul jika tidak dipelajari. Untuk mengajarkan kemampuan memahami dan menafsirkan gambar perlu diketahui beberapa hal yang mempengaruhinya yaitu usia, budaya dan kesukaan anak. Kedua kemampuan membuat visual. Membuat gambar-gambar dengan makna tertentu merupakan kemampuan lebih lanjut dari literasi visual. Untuk memproduksi gambar tentu saja seseorang akan dituntut untuk mengaktifkan kemampuan berpikir dan berimajinasi.

Literasi visual merupakan hal yang wajib dan perlu dikuasai sebelum seseorang mengungkapkan gagasannya melalui visual tersebut, diperlukan agar

(9)

pesan dari gagasan tersebut dapat sampai dengan sama bagi siapa saja yang melihatnya. Membaca visual memang tidak semudah mengerti bahasa tulisan, dikarenakan untuk mengurai makna (menafsirkan) visual perlu menginterpretasi banyak gambar dan pengetahuan gambar lain sebagai referensi dan sebagai kosakata visual. Misalnya dalam mengungkap makna visual pada relief candi yang berusia ratusan tahun diperlukan wawasan tentang sejarah, budaya, hingga antropologi yang terjadi saat itu. Namun jika seseorang mampu membaca dan menuliskan sebuah gambar, maka ia telah mampu untuk menggunakan seluruh proses berpikirnya.

Pembelajaran menggunakan literasi visual dapat dilakukan dengan beberapa cara pertama aktivitas menjelajahi atau mendalami teks visual dengan konteks yang terjadi, mengajarkan kode dan struktur teks untuk mendukung pembelajar menyusun teks sendiri, menggunakan serangkaian strategi untuk membaca teks visual dan dilanjutkan dengan aktivitas menulis/menggambar mengenai pemahaman yang didapatkan, mengintegrasikan teks visual dan verbal. menulis ulang; yaitu membaca informasi dalam satu bentuk tertentu dan meringkasnya dalam bentuk lain (seperti diagram atau tabel). aktivitas ini memerlukan pemikiran mengenai apa informasi yang ditangkap sebelum meringkasnya sebagai teks dalam bentuk visual

Media sosial instagram visual menjadi pilihan konten belajar dalam mengkomunikasikan atau melengkapi informasi. Konsepnya cukup sederhana, manusia telah menggunakan visual untuk berkomunikasi dan visual membantu menceritakan kisah yang lebih baik. Karena visual memiliki sifat ikonik, maka visual dapat memotivasi pembelajar melalui atraksi perhatian, menarik perhatian, dan pemakaiannya dalam proses pembelajaran, sehingga menjadi pilihan dalam mengkomunikasikan sesuatu dengan bahasa yang sama dan universal.

PENUTUP

Literasi visual dibutuhkan masyarakat untuk berkomunikasi secara efektif sehingga masyarakat memberikan kontribusi terhadap dialog analitis pada penggunaan media social.

Selain itu fenomena penggunaan Instagram sebagai literasi visual dipengaruhi oleh penguasaan literasi yang lainnya, hal tersebut karena kebutuhan literasi dasar seperti membaca dan menulis menjadi dasar untuk penguasaan literasi lanjutannya. Pengalaman, pendidikan dan usia juga mempengaruhi kebijaksanaan masyarakat dalam mengoptimalkan literasi visual. Pengguna Instagram sebagai media penunjang kemampuan literasi visual dan pembelajaran dibagi menjadi 2 kategori yaitu, pertama pengalaman menyenangkan dimana pengguna intagram mendapatkan aktivitas pembelajaran secara visual dan tak terbatas dan mendapatkan pengertian dari perubahan yang telah didapati setelah belajar. Penggunaan

Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan instagram sebagai komunikasi pembelajaran menghasilkan perubahan sikap maupun tampilan dari proses belajar didalam komunikasi pembelajaran, yaitu perubahan-perubahan dalam kognisi, afeksi, dan konasi atau psikomotor di kalangan masyarakat.

(10)

D AFTAR PUSTAKA

Alyusi, S. D. (2016). Media Sosial: Interaksi, Identifi kasi,

dan Modal Sosial. Jakarta: Kencana.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia - Apjii.

(2017). Retrieved from apjii.or.id/survei2017 Benoît, G., College, S., & MA, B. (2015). Visual

communication as an Information Activity.

Journal of Visual Literacy, 34(2), 51-68.

Buckingham, D. (2003). Media education: Literacy,

learning and contemporary culture. Cambridge:

Polity Press.

Carr, C., & Hayes, R. (2015). Social media: Defi ning, developing, and divining. Atlantic Journal of

Communication, 23(1), 46-65.

Carter, D. (2018). The narrative of visual literacy: a framework for understanding the personal, social, and diachronic aspects of learning.

Journal of Visual Literacy, 1-16.

Chen, Y.-L., Lai, T.-S., Yasuda, T., & Yokoi, S. (2012). A museum exhibits support system based on history and culture literacy. International

Journal of Humanities and Arts Computing, 1(2),

148–159. doi:10.3366/ijhac.2012.0045

Duchak, O. (2014). Visual literacy in educational practice. Czech-Polish Historical and Pedagogical

Journal, 6(2), 41–48.

Gibson , J. (2015). The Ecological Approach to Visual

Perception. New York: Psychology Press is an

imprint of the Taylor & Francis Group.

Guess, A., Nagler, J., & Tucker, J. (2019). Less than you think: Prevalence and predictors of fake news dissemination on Facebook. Science Advance,

5(1), 1-8.

Heiligmann, R., & Shields, V. (2005). Media Literacy, Visual Syntax, and Magazine Advertisements: Conceptualizing the Consumption of Reading by Media Literate Subjects. Journal of Visual

Literacy, 25(1), 41-66.

Hennig, T., Thorsten, Kevin P. , G., Gianfranco , W., & Dwayne D, G. (2004). “Electronic Word-of-Mouth via Consumer-Opinion Platforms: What Motivates Consumers to Articulate Themselves on the Internet? Journal of Interactive Marketing,

18(1), 38-52.

Moleong, J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Riddle, J. (2009). Engaging the eye generation: visual

literacy strategies for the K-5 classroom. New

York: Stenhouse Publishers.

Rogers, A. (2008). Informal learning and literacy.

Encyclopedia of Language and Education, 2,

1-12.

Schutz, A. (1967). The phenomenology of the social

world. London: Northwestern University Press.

Walker, P. (2003). The feud that sparked the renaissance:

How brunelleschi and ghiberti changed the art .

California: William Morrow Paperbacks.

Wirasti, M. K. (1999). Komunikasi Visual. Yogyakarta: UNY PERS.

Wulandari, R. (2017). Pemberdayaan aksara masyarakat pedesaan : evaluasi program keaksaraan fungsional pada kelompok “ngudi kawruh” di kelurahan pasar kliwon kota surakarta. Cendekia: Jurnal Studi Keislaman,

Gambar

Gambar 1. Alur Penajian Data Kualitatif

Referensi

Dokumen terkait

Instagram merupakan salah satu platform media sosial yang sangat digandrungi oleh semua kalangan, khususnya millennials dalam beberapa tahun terakhir. Instagram yang

Pemanfaatan media sosial Instagram dan Twitter ini juga digunakan oleh salah satu brand yang bergerak pada penyediaan on-demand yang multi-service platform and digital payment

Survei yang sama juga menyebut Instagram sebagai salah satu media sosial yang paling aktif digunakan oleh generasi milenial.. Selain Instagram, aplikasi yang

Faktor utama yang menyebabkan mereka tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan serta nilai sosio-kultural

Menurut Mulia (2007), isolat bakteri A.hydrophila strain GPl-02 dan GPl-03 merupakan salah satu isolat yang dapat menyerang ikan air tawar dan mampu menyebabkan kematian 100%

Oleh karena itu, ia menggunakan data ketinggian tempat 200 m dalam perhitungan penentuan waktu shalatnya untuk mengcover waktu shalat didaerah Semarang yang

bahwa penggunaan media sosial instagram hanya sebagai hiburan semata. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa apabila ada orang lain yang memblokir. akun media sosial

Media sosial “Instagram” adalah salah satu media sosial yang paling berpengaruh saat ini. “Instagram” memiliki jutaan pengguna diseluruh dunia, dengan kaum muda