• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Paradigma Multidisipliner (JPM)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Paradigma Multidisipliner (JPM)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

167

JPM Vol 2/ No.2/2021

Jurnal Paradigma Multidisipliner

(JPM)

PENGARUH JUMLAH SISTEM PENGOLAHAN AIR LIMBAH DAERAH (SPALD)

DAN JUMLAH PENDUDUK TERHADAP KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH DI

KOTA MAGELANG

THE EFFECT OF THE NUMBER OF REGIONAL WASTE WATER TREATMENT (SPALD) AND THE NUMBER OF POPULATION ON THE SLUM SETTLEMENT AREA IN THE CITY OF MAGELANG

Desta Purnianingtyas

1

, Whinarko Juliprijanto

2

1Fakultas Ekonomi Universitas Tidar, 1Universitas Tidar

[email protected]

Abstrak

____________________________________________________________

Pertambahan jumlah penduduk yang pesat dapat menyebabkan adanya permukiman kumuh, dikarenakan jarak rumah yang berdekatan, pembuangan limbah rumah tangga yang tidak teratur hingga kebersihan lingkungan terganggu, hal ini terjadi baik dikota besar maupun di kota kecil salah satunya yakni Kota Magelang. Kini Kota Magelang sedang merencanakan suatu pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T), tujuan dari pembuatan sistem ini adalah untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah rumah tangga ke sungai sehingga di bentuk suatu sistem pengelolaan limbah rumah tangga terpusat dan pemerintah meminta kepada para masyarakat untuk menyambungkan sistem sanitasi masing masing rumah tangga ke Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T). Hal ini di lakukan karena masih banyak warga Kota Magelang yang membuang limbah rumah tangganya ke sungai sehingga banyak sungai menjadi kotor dan keruh sehingga mengganggu ekosistem sungai dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Permukiman kumuh ada tidak konstan atau tidak pasti di sebabkan oleh jumlah SPALD, namun meningkatnya jumlah penduduk menjadi penyebab adanya permukiman kumuh karena pertambahan penduduk dapat membuah penyempitan lahan permukiman sehingga saluran pembuangan, sarana prasarana dan kelayakan tempat tinggal menjadi terbatas. Sehingga permukiman menjadi kumuh karena semakin banyak penduduk, semakin banyak sampah dan limbah yang dihasilkan. Kata kunci: Pertambahan Penduduk, Jumlah Penduduk, Jumlah SPALD, Permukiman Kumuh, Kota Magelang

Abstract

________________________________________________________________

A rapid increase in population can lead to slums, due to the proximity of adjacent houses, irregular disposal of household waste to environmental cleanliness is disrupted, this happens both in large cities and in small cities, one of which is the City of Magelang. Now the City of Magelang is planning a development of a Central Domestic Waste Water Management System (SPALD-T), the purpose of making this system is to reduce environmental pollution due to the disposal of household waste into rivers so that in the form of a centralized household waste management system and the government asks the the community to connect the sanitation system of each household to the Central Domestic Wastewater Management System (SPALD-T). This is done because there are still many residents of Magelang City who dispose of their household waste into rivers so that many rivers become dirty and turbid so that it disrupts river ecosystems and causes environmental pollution. Slums are not constant or uncertain due to the number of SPALD, but the increase in population is the cause of slums because the increase in population can result in narrowing of settlements so that the drainage, infrastructure and feasibility of housing is limited. So that settlements become slums because the more people, the more garbage and waste generated.

(2)

168

PENDAHULUAN

Setiap kota pastinya memiliki permasalahan terkait dengan permukiman yang di sebabkan karena pertumbuhan penduduk yang semakin pesat. Masalah permukiman ini apabila tidak dibarengi dengan pengembangan perumahan yang layak dan keterbatasann lahan perkotaan untuk membangun suatu permukiman yang memadahi dan sesuai dengan syarat tentu akan menyebabkan terbentuknya suatu permukiman yang kumuh. Menurut Rindrojono (2013) Urbanisasi, sarana prasarana, sosial ekonomi, tata ruang dan keterbatasan lahan perkotaan menjadi beberapa faktor yang mempengaruhi keberadaan kawasan permukiman kumuh.

Faktor yang mempengaruhi timbulya suatu permukiman kumuh menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (2014) adalah lahan perkotaan, sosial ekonomi, urbanisasi, daya tarik perkotaan dan faktor sosial budaya. Pertambahan jumlah penduduk yang pesat dapat menyebabkan adanya suatu permukiman kumuh, dikarenakan jarak rumah yang berdekatan, pembuangan limbah rumah tangga yang tidak teratur hingga kebersihan lingkungan. Salah satu yang menjadi fokus pemerintahan saat ini adalah mengenai Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD).

Penyelenggaraan SPALD adalah serangkaian kegiatan dalam melaksanakan pengembangan dan pengelolaan prasarana dan sarana untuk pelayanan air limbah domestik. SPALD Setempat yang selanjutnya disebut SPALD-S adalah sistem pengelolaan yang dilakukan dengan mengolah air limbah domestik di lokasi sumber, yang selanjutnya lumpur hasil olahan diangkut dengan sarana pengangkut ke Sub-sistem Pengolahan Lumpur Tinja.

SPALD Terpusat yang selanjutnya disebut SPALD-T adalah sistem pengelolaan yang dilakukan dengan mengalirkan air limbah domestik dari sumber secara kolektif ke Sub-sistem Pengolahan Terpusat untuk diolah sebelum dibuang ke badan air permukaaan. Khususnya di Kota Magelang, kini sedang merencanakan suatu pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T). Hal ini di lakukan karena masih banyak warga Kota Magelang yang membuang limbah rumah tangganya ke sungai sehingga banyak sungai menjadi kotor dan keruh sehingga mengganggu ekosistem sungai dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Dengan begitu tujuan dari pembuatan sistem ini adalah untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah rumah tangga ke sungai sehingga di bentuk suatu sistem pengelolaan limbah rumah tangga terpusat dan pemerintah meminta kepada para masyarakat untuk menyambungkan sistem sanitasi masing masing rumah tangga ke Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) sehingga mengurangi pembuangan limbah ke sungai dan tanah sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem serta kumuh dan tidak sehatnya lingkungan di permukiman tersebut. Sehingga tujuan dari penelitian adalah untuk melihat pengaruh jumlah penduduk dan jumlah Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) terhadap kawasan permukiman kumuh di Kota Magelang. Sehingga dapat melihat seberapa besar pengaruh dari pertumbuhan penduduk serta jumlahnya dan juga jumlah SPALD yang ada di lingkungan permukiman, sehingga berpengaruh terhadap adanya permukiman kumuh akibat dari jumlah SPALD yang kurang dan juga jumlah penduduk yang terus meningkat di Kota Magelang.

(3)

169

LANDASAN TEORI

Penelitian Terdahulu

Berdasarkan penelusuran peneliti, penelitian menenai Permukiman Kumuh dan juga Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) ini bukan satu-satunya serta bukan penelitian pertama yang pernah dilakukan, sebelumnya sudah ada penelitian mengenai topik pembahasan tersebut. Berikut adalah beberapa kajian yang menjadi sumber wawasan bagi peneliti:

1. Jurnal Ilmiah oleh Wiharyanto Oktiawan, Nurandani Hardyanti, Poerborini Damayanti, Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro tahun 2018 yang berjudul “Masterplan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Di Wilayah Perkotaan Kabupaten Sukoharjo” Menggunakan metode penelitian kuantitatif melalui pendekatan deskriptif, dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian tersebut adalah mengetahui bagaiamana Perencanaan masterplan ini bertujuan untuk menyediakan fasilitas sanitasi yang memadai dalam pengelolaan air limbah domestik terutama di wilayah perkotaan Kabupaten Sukoharjo.

2. Jurnal Ilmiah oleh Misia Dispa Bainamus, Ernawati, Endina Putri Purwandari, Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Bengkulu tahun 2017 yang berjudul “Identifikasi Kualitas Permukiman Kumuh Menggunakan Metode Case Base Reasoning Dan

Fuzzy K-Nearest Neighbor”

Menggunakan metode penelitian

kuantitatif melalui pendekatan deskriptif, dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian tersebut adalah mengetahui bagaiamana permasalahan permukiman kumuh di Indonesia sudah harus diidentifikasi dan ditangani, khususnya pada wilayah perkotaan.

3. Jurnal Ilmiah oleh Wulfram I. Ervianto dan Sushardjanti Felasari, Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta, tahun 2019 yang berjudul “Pengelolaan Permukiman Kumuh Berkelanjutan Di Perkotaan” Menggunakan metode penelitian kuantitatif melalui pendekatan deskriptif, dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian tersebut adalah mengetahui bagaiaman pengelolaan permukiman didasarkan pada pemanfaatan tata ruang dan disain bangunan yang mengakomodasi aspek lingkungan. Pendekatan yang digunakan didasarkan pada prinsip pembangunan berkelanjutan, dan dokumen kajian oleh Direktorat Cipta Karya. Beberapa prinsip yang diusulkan adalah mengakomoadasi tentang tata guna lahan, mobilitas penduduk, pemanfaatan energi terbarukan, meningkatkan ekonomi perkotaan, pembangunan sosial, dan aksesibilitas.

(4)

170

Kerangka Berpikir

Kajian Pustaka dan Perumusan Hipotesis

Kajian Pustaka Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendukung penelitian ini. Teori-teori tersebut akan membantu dalam proses pembentukan kerangka pemikiran untuk perumusan hipotesis.

1. Penduduk

Secara etimologi, kata “penduduk” sebenarnya merupakan kata turunan dari kosa kata “duduk” yang berarti meletakkan tubuh atau terletak tubuhnya dengan bertumpu pada pantat (ada bermacam-macam cara dan namanya seperti bersila dan bersimpuh)(KBBI Kemendikbud). Dari kata duduk ini lahir beberapa

turunan kata antara lain : duduk-duduk, menduduki, mendudukan, terduduk, penduduk, pendudukan, kedudukan, berkedudukan, dan sekedudukan.

Menurut Kamus besar bahasa Indonesia, Penduduk adalah orang atau orang-orang yang mendiami suatu tempat (kampung, negeri, pulau, dan sebagainya). Adapun mengenai definisi penduduk yang lebih spesifik dan mengenai sasaran terbagi menjadi 2 pengertian.

Penduduk adalah orang tinggal, bermukim, atau menempati sebuah daerah /wilayah tertentu.

Penduduk adalah manusia yang berdasarkan hukum memiliki hak penuh untuk tinggal atau menempati suatu daerah atau wilayah. Adapun yang dimaksud memiliki hak secara hukum yakni memiliki bukti kewarganegaraan, seperti : surat resmi untuk tinggal atau menempati suatu daerah /wilayah tertentu. Adapun cabang ilmu sosiologi mendefinisikan penduduk sebagai kumpulan atau sejumlah manusia yang menempati (mendiami) suatu wilayah geografi atau kawasan tertentu.

Luasnya masalah yang terkait dengan keberadaan penduduk, membuat kita memerlukan sebuah basis ilmu yang membahas praktek dan teori kependudukan. Ilmu kependudukan ini disebut dengan Demografi. Di dalam ilmu demografi, terdapat beberapa aspek utama yang menjadi sorotan, antara lain:

(5)

171

2. Struktur Penduduk 3. Distribusi penduduk

4. Pertambahan dan pengurangan penduduk

2. Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk baik pertambahan maupun penurunannya. Pertumbuhan penduduk di suatu wilayah dipengaruhi oleh besarnya kelahiran (Birth), kematian (Death), migrasi masuk (In Migration), dan migrasi keluar (Out Migration). Penduduk akan bertambah jumlahnya apabila terdapat bayi yang lahir dan penduduk yang datang, dan penduduk akan berkurang jumlahnya apabila terdapat penduduk yang mati dan penduduk yang keluar wilayah tersebut.

1. Kelahiran (Natalitas)

Kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang mendukung kelahiran (pro natalitas) antara lain:

a. Kawin pada usia muda, karena ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu. b. Anak dianggap sebagai sumber

tenaga keluarga untuk membantu orang tua.

c. Anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki.

d. Anak menjadi kebanggaan bagi orang tua.

e. Anggapan bahwa penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi.

Faktor-faktor penghambat kelahiran (anti natalitas), antara lain:

a. Adanya program keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak.

b. Adanya ketentuan batas usia menikah, untuk wanita minimal berusia 16 tahun dan bagi laki-laki minimal berusia 19 tahun. c. Anggapan anak menjadi beban

keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

d. Adanya pembatasan tunjangan anak untuk pegawai negeri yaitu tunjangan anak diberikan hanya sampai anak ke 2.

e. Penundaaan kawin sampai selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan.

2. Kematian (Mortalitas)

Kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka kematian caranya hampir sama dengan perhitungan angka kelahiran. Banyaknya kematian sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian (pro mortalitas) dan faktor penghambat kematian (anti mortalitas). Faktor pendukung kematian (pro mortalitas):

a. Sarana kesehatan yang kurang memadai.

b. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan

c. Terjadinya berbagai bencana alam d. Terjadinya peperangan

e. Terjadinya kecelakaan lalu lintas dan industry

f. Tindakan bunuh diri dan pembunuhan.

Faktor penghambat kematian (anti mortalitas):

a. Lingkungan hidup sehat.

b. Fasilitas kesehatan tersedia dengan lengkap.

(6)

172

c. Ajaran agama melarang bunuh diri dan membunuh orang lain. d. Tingkat kesehatan masyarakat

tinggi.

e. Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk.

Faktor penyebab utama ini adalah adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama kemajuan di bidang kesehatan. Dengan kemajuan teknologi kesehatan kelahiran dapat diatur dan kematian dapat dicegah. Ini semua mengakibatkan menurunnya angka kematian secara drastis atau mencolok. Sesuai dengan tingkat kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi maka tiap-tiap masyarakat atau negara, pertumbuhan penduduknya mengalami 4 periode yaitu:

1) Periode I

Pada periode ini pertumbuhan penduduk berjalan dengan lambat yang ditandai dengan adanya tingkat kelahiran dan kematian yang rendah sehingga disebut periode statis.

2) Periode II

Tahap kedua ini angka kematian mulai turun karena adanya perbaikan gizi makanan dan kesehatan. Akibat dari itu semua pertumbuhan penduduk menjadi cepat mengingat angka kelahiran yang masih tinggi.

3) Periode III

Periode ini ditandai dengan tingkat pertumbuhan penduduk mulai turun. Tingkat kematian pada periode ini stabil sampai pada tingkat rendah dan

angka kelahiran menurun, penyebabnya antara lain adanya pembatasan jumlah anggota keluarga.

4) Periode IV

Pada masa ini tingkat kematian stabil, tetapi tingkat kelahiran menurun secara perlahan sehingga pertumbuhan penduduk rendah. Periode ini di sebut periode penduduk stasioner.

Menurut statistik demografi dalam jangka waktu sekitar seperempat abad mendatang jumlah penduduk kota di negara-negara yang sedang berkembang akan bertambah kira-kir 1,3 triliun jiwa, atau kurang lebih dua kali tipat iumlah penduduk pada tahun 1975. Jumlah penduduk kota pada tahun 1975 merupakan 28 persen dari total penduduk. ]umlah ini akan meningkat menjadi lebih dari 42 persen pada tahun 2000, yang berarti bahwa kurang lebih dua pertiga dari jumlah pertambahan penduduk berada di wilayah-wilayah perkotaan. Hal ini menciptakan pertambahan yang dramatis pula dalam unit perumahan fisik dan penyempurnaan permukiman (Rahardjo Adisasmita 2005).

3. Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD)

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/2017 tentang Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

(7)

173

1. Air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan/atau kegiatan pemukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen, dan asrama.

2. Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik yang selanjutnya disingkat SPALD adalah serangkaian kegiatan pengelolaan air limbah domestik dalam satu kesatuan dengan prasarana dan sarana pengelolaan air limbah domestik.

3. Penyelenggaraan SPALD adalah serangkaian kegiatan dalam melaksanakan pengembangan dan pengelolaan prasarana dan sarana untuk pelayanan air limbah domestik.

4. SPALD Setempat yang selanjutnya disebut SPALD-S adalah sistem pengelolaan yang dilakukan dengan mengolah air limbah domestik di lokasi sumber, yang selanjutnya lumpur hasil olahan diangkut dengan sarana pengangkut ke Sub-sistem Pengolahan Lumpur Tinja.

5. SPALD Terpusat yang selanjutnya disebut SPALD-T adalah sistem pengelolaan yang dilakukan dengan mengalirkan air limbah domestik dari sumber secara kolektif ke Sub-sistem Pengolahan Terpusat untuk diolah sebelum dibuang ke badan air permukaaan.

6. Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja yang selanjutnya disingkat IPLT adalah instalasi pengolahan air limbah yang dirancang hanya menerima dan mengolah lumpur tinja yang berasal dari Sub-sistem Pengolahan Setempat.

7. Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik yang selanjutnya disingkat IPALD adalah bangunan air yang berfungsi untuk mengolah air limbah domestik. 8. Pemerintah Pusat adalah Presiden

Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan Menteri sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 9. Pemerintah Daerah adalah Kepala

Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

10. Badan Usaha Milik Negara Penyelenggara SPALD yang selanjutnya disebut BUMN SPALD adalah badan usaha yang dibentuk untuk melakukan kegiatan Penyelenggaraan SPALD yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Negara. 11. Badan Usaha Milik Daerah

Penyelenggara SPALD yang selanjutnya disebut BUMD SPALD adalah badan usaha yang dibentuk untuk melakukan kegiatan Penyelenggaraan SPALD yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Daerah. 12. Unit Pelaksana Teknis

Penyelenggara SPALD yang selanjutnya disebut UPT SPALD adalah unit yang dibentuk khusus untuk melakukan sebagian kegiatan Penyelenggaraan SPALD oleh Pemerintah Pusat yang bersifat mandiri untuk

(8)

174

melaksanakan tugas teknis operasional tertentu dan/atau tugas teknis penunjang tertentu dari organisasi induknya.

13. Unit Pelaksana Teknis Dinas Penyelenggara SPALD yang selanjutnya disebut UPTD SPALD adalah unit yang dibentuk khusus untuk melakukan sebagian kegiatan Penyelenggaraan SPALD oleh Pemerintah Daerah untuk melaksanakan sebagian kegiatan tugas teknis operasional dan/atau kegiatan teknis penunjang yang mempunyai wilayah kerja satu atau beberapa daerah Kabupaten/Kota. 14. Badan Usaha SPALD adalah badan usaha berbadan hukum yang kegiatannya menyelenggarakan SPALD.

14. Kelompok Masyarakat adalah kumpulan orang yang mempunyai kepentingan yang sama, yang tinggal di daerah dengan yurisdiksi yang sama.

15. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum dan perumahan rakyat.

4. Permukiman Kumuh

a. Permukiman

Pemukiman sering disebut perumahan dan atau sebaliknya. Pemukiman berasal dari kata housing dalam bahasa Inggris yang artinya adalah perumahan dan kata human settlement yang artinya pemukiman.

Perumahan memberikan kesan tentang rumah atau kumpulan rumah beserta prasarana dan sarana ligkungannya. Perumahan

menitiberatkan pada fisik atau benda mati, yaitu houses dan land settlement. Sedangkan pemukiman memberikan kesan tentang pemukim atau kumpulan pemukim beserta sikap dan perilakunya di dalam lingkungan, sehingga pemukiman menitikberatkan pada sesuatu yang bukan bersifat fisik atau benda mati yaitu manusia (human). Dengan demikian perumahan dan pemukiman merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat erat hubungannya, pada hakekatnya saling melengkapi.

b. Pengertian Kumuh

Kumuh adalah kesan atau gambaran secara umum tentang sikap dan tingkah laku yang rendah dilihat dari standar hidup dan penghasilan kelas menengah. Dengan kata lain, kumuh dapat diartikan sebagai tanda atau cap yang diberikan golongan atas yang sudah mapan kepada golongan bawah yang belum mapan.

Menurut kamus ilmu-ilmu sosial Slum’s diartikan sebagai suatu daerah yang kotor yang bangunan-bangunannya sangat tidak memenuhi syarat. Jadi daerah slum’s dapat diartikan sebagai daerah yang ditempati oleh penduduk dengan status ekonomi rendah dan bangunan-bangunan perumahannya tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai perumahan yang sehat.

Slum’s merupakan lingkungan

hunian yang legal tetapi kondisinya tidak layak huni atau tidak memnuhi persyaratan sebagai tempat permukiman (Utomo Is Hadri, 2000).

Slum’s yaitu permukiman diatas lahan

(9)

175

(kumuh) baik perumahan maupun permukimannya (Herlianto, 1985).

Dalam kamus sosiologi Slum’s yaitu diartikan sebagai daerah penduduk yang berstatus ekonomi 22 rendah dengan gedung-gedung yang tidak memenuhi syarat kesehatan. (Sukamto Soerjono, 1985).

c. Permukiman Kumuh

Diana Puspitasari dari Dinas Tata Ruang dan Permukiman (Distarkim) Kota Depok mengatakan, definisi permukiman kumuh berdasarkan karakteristiknya adalah suatu lingkungan permukiman yang telah mengalami penurunan kualitas. Dengan kata lain memburuk baik secara fisik, sosial ekonomi maupun sosial budaya. Dan tidak memungkinkan dicapainya kehidupan yang layak bahkan cenderung membahayakan bagi penghuninya.

Menurut Diana, ciri permukiman kumuh merupakan permukiman dengan tingkat hunian dan kepadatan bangunan yang sangat tinggi, bangunan tidak teratur, kualitas rumah yang sangat rendah. Selain itu tidak memadainya prasarana dan sarana dasar seperti air minum, jalan, air limbah dan sampah. Kawasan kumuh adalah kawasan dimana rumah dan kondisi hunian masyarakat di kawasan tersebut sangat buruk. Rumah maupun sarana dan prasarana yang ada tidak sesuai dengan standar yang berlaku, baik standar kebutuhan, kepadatan bangunan, persyaratan rumah sehat, kebutuhan sarana air bersih, sanitasi maupun persyaratan kelengkapan

prasarana jalan, ruang terbuka, serta kelengkapan fasilitas sosial lainnya.

Ciri-ciri pemukiman kumuh, seperti yang diungkapkan oleh Prof. DR. Parsudi Suparlan adalah :

1. Fasilitas umum yang kondisinya kurang atau tidak memadai. 2. Kondisi hunian rumah dan

pemukiman serta penggunaan ruangnya mencerminkan penghuninya yang kurang mampu atau miskin.

3. Adanya tingkat frekuensi dan kepadatan volume yang tinggi dalam penggunaan ruang-ruang yang ada di pemukiman kumuh sehingga mencerminkan adanya kesemrawutan tata ruang dan ketidakberdayaan ekonomi penghuninya.

4. Pemukiman kumuh merupakan suatu satuan-satuan komuniti yang hidup secara tersendiri dengan batas-batas kebudayaan dan sosial yang jelas, yaitu terwujud sebagai :

a. Sebuah komuniti tunggal, berada di tanah milik negara, dan karena itu dapat digolongkan sebagai hunian liar.

b. Satuan komuniti tunggal yang merupakan bagian dari sebuah RT atau sebuah RW. c. Sebuah satuan komuniti tunggal yang terwujud sebagai sebuah RT atau RW atau bahkan terwujud sebagai sebuah Kelurahan, dan bukan hunian liar.

5. Penghuni pemukiman kumuh secara sosial dan ekonomi tidak homogen, warganya mempunyai mata pencaharian dan tingkat kepadatan yang beranekaragam,

(10)

176

begitu juga asal muasalnya. Dalam masyarakat pemukiman kumuh juga dikenal adanya pelapisan sosial berdasarkan atas kemampuan ekonomi mereka yang berbeda-beda tersebut. 6. Sebagian besar penghuni

pemukiman kumuh adalah mereka yang bekerja di sektor informal atau mempunyai mata pencaharian tambahan di sektor informil.

Berdasarkan salah satu ciri diatas, disebutkan bahwa permukiman kumuh memiliki ciri “kondisi hunian rumah dan pemukiman serta penggunaan ruangnya mencerminkan penghuninya yang kurang mampu atau miskin”. Penggunaan ruang tersebut berada pada suatu ruang yang tidak sesuai dengan fungsi aslinya sehingga berubah menjadi fungsi permukiman, seperti muncul pada daerah sempadan untuk kebutuhan Ruang Terbuka Hijau. Keadaan demikian menunjukan bahwa penghuninya yang kurang mampu untuk membeli atau menyewa rumah di daerah perkotaan dengan harga lahan/bangunan yang tinggi, sedangkan lahan kosong di daerah perkotaan sudah tidak ada.

Permukiman tersebut muncul dengan sarana dan prasarana yang kurang memadai, kondisi rumah yang kurang baik dengan kepadatan yang tinggi serta mengancam kondisi kesehatan penghuni. Dengan begitu, permukiman yang berada pada kawasan SUTET, semapadan sungai, semapadan rel kereta api, dan sempadan situ/danau merupakan kawasan permukiman kumuh. Menurut Ditjen Bangda Depdagri, ciri-ciri permukiman atau daerah perkampungan kumuh dan miskin dipandang dari segi sosial ekonomi adalah sebagai berikut

1. Sebagian besar penduduknya berpenghasilan dan berpendidikan rendah, serta memiliki sistem sosial yang rentan.

2. Sebagaian besar penduduknya berusaha atau bekerja di sektor informal Lingkungan permukiman, rumah, fasilitas dan prasarananya di bawah standar minimal sebagai tempat bermukim, misalnya memiliki:

a. Kepadatan penduduk yang tinggi > 200 jiwa/km2

b. Kepadatan bangunan > 110 bangunan/Ha.

c. Kondisi prasarana buruk (jalan, air bersih, sanitasi, drainase, dan persampahan).

d. Kondisi fasilitas lingkungan terbatas dan buruk, terbangun

Perumusan Hipotesis

Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi linear sederhana atau dalam bahasa inggris disebut dengan nama simple linear regression digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh satu variabel bebas atau variabel independent atau variabel predictor atau variabel X terhadap variabel tergantung atau variabel dependen atau variabel terikat atau variabel Y. Syarat kelayakan yang harus Dalam penelitian ini penulis merumuskan dugaan sementara atau hipotesis sebagai berikut :

a. Jumlah SPALD

H1: tidak terdapat pengaruh antara adanya permukiman kumuh dengan jumlah SPALD

H0 : terdapat pengaruh antara adanya permukiman kumuh dengan jumlah SPALD

(11)

177

b. Jumlah Penduduk

H1: tidak terdapat pengaruh antara adanya permukiman kumuh dengan jumlah penduduk

H0: terdapat pengaruh antara adanya permukiman kumuh dengan jumlah penduduk

METODOLOGI PENELITIAN

Bentuk Penelitian

Penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang sistematis, terstruktur, tersusun mantap dari awal hingga akhir penelitian, dan cenderung penelitian ini menggunakan analisis angka-angka statistik. Maka suatu kewajaran jika dalam penelitian kuantitatif metode penggumpulan data menggunakan populasi dan sampel.

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada 13 januari 2020 – 13 februari 2020 di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Magelang yang beralamat di Jl. Pahlawan No.10, Magelang, Kec. Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa Tengah 56117.

Target/Subjek Penelitian

Subyek adalah target populasi yang memiliki karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008). Subyek dalam penelitian ini adalah pengambilan responden masyarakat pemanfaat variabel yakni jumlah SPALD yang ada dan juga jumlah penduduk.

Adapun variabel dependen dan independen dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel bebas (independent variable) yang dilambangkan dengan X, variabel independent dalam penelitian ini adalah : Jumlah SPALD di Kota Magelang

2. Variabel terikat (dependent variable) yang dilambangkan dengan Y, variabel dependen dalam penelitian ini adalah : Jumlah Penduduk di Kota Magelang

Data, Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan adalah data primer dimana data yang pertama kali dicatat dan dikumpulkan oleh peneliti (Sanusi, 2011). Data penelitian yang dikumpulkan bersifat kualitatif antara lain jumlah SPALD dan jumlah Penduduk apakah memiliki pengaruh terhadap situasi permukiman yang kumuh di Kota Magelang berdasarkan pada wawancara, observasi dan pendataan di lapangan.

Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan teknik analisis Regresi atau biasa disingkat sebagai anareg adalah metode yang digunakan untuk mengukur pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergantung. Anareg juga bisa digunakan untuk memprediksi variabel tergantung dengan menggunakan variabel bebas. Teknik ini tujuan untuk menggambarkan mengenai pengaruh jumlah penduduk dan jumlah SPALD terhadap permukiman kumuh di Kota Magelang.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil data yang di dapat di lapangan yang akan di jadikan variabel dibagi menjadi dua variabel yakni variabel bebas (independent

(12)

178

variable) yang dilambangkan dengan X, variabel independent dalam penelitian ini adalah Jumlah SPALD di Kota Magelang dan variabel terikat (dependent variable) yang dilambangkan dengan Y, adalah permukiman kumuh x 1 Jumlah SPALD x 2 Jumlah Penduduk di Kota Magelang yang akan di gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut No Kelurahan Luas Kawasan Permukiman Kumuh (Km2) Jumlah Spalds Jumlah Penduduk 1 Tidar Utara 0:04 24 7796 2 Tidar Selatan 0:00 4 5479 3 Rejowinangun Selatan 0:03 19 8026 4 Rejowinangun Utara 0:11 22 10732 5 Wates 0:04 4 6997 6 Gelangan 0:07 9 7437 7 Kedungsari 0:08 7 5328 8 Kramat Selatan 0:08 4 5119 9 Kramat Utara 0:00 6 5785 10 Cacaban 0:01 14 7809 11 Jurangombo Selatan 0:01 4 7755 12 Jurangombo Utara 0:00 4 3924 13 Panjang 0:04 11 5940 14 Kemirirejo 0:02 4 5293 15 Potrobangsan 0:04 19 6005 16 Magersari 0:05 14 7919 17 Magelang 0:04 9 7138

Data kemudian di analisis dengan analisis regresi, Regresi adalah suatu metode analisis statistik yang digunakan untuk melihat pengaruh antara dua atau lebih banyak variabel. Hubungan variabel tersebut bersifat fungsional yang diwujudkan dalam suatu model matematis. Analisis regresi dalam statistika adalah salah satu metode untuk menentukan hubungan sebab-akibat antara satu variabel dengan variabel(-variabel) yang

lain. Variabel "penyebab" disebut dengan bermacam-macam istilah: variabel penjelas, variabel eksplanatorik, variabel independen, atau secara bebas, variabel X (karena sering kali digambarkan dalam grafik sebagai absis, atau sumbu X). Variabel terkena akibat dikenal sebagai variabel yang dipengaruhi, variabel dependen, variabel terikat, atau variabel Y. Kedua variabel ini dapat merupakan variabel acak (random), namun variabel yang dipengaruhi harus selalu variabel acak. Analisis regresi adalah salah satu analisis yang paling populer dan luas pemakaiannya. Analisis regresi dipakai secara luas untuk melakukan prediksi dan ramalan, dengan penggunaan yang saling melengkapi dengan bidang pembelajaran mesin. Analisis ini juga digunakan untuk memahami variabel bebas mana saja yang berhubungan dengan variabel terikat, dan untuk mengetahui bentuk-bentuk hubungan tersebut. Berikut ini hasil analisis regresi dari penelitian ini

Asumsi Klasik 1. Normalitas 0 1 2 3 4 5 -0.04 -0.02 0.00 0.02 0.04 0.06 Series: Residuals Sample 1 17 Observations 17 Mean -3.67e-18 Median -0.000749 Maximum 0.055714 Minimum -0.038067 Std. Dev. 0.028671 Skewness 0.657254 Kurtosis 2.428374 Jarque-Bera 1.455404 Probability 0.483018

Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa nilai probabilitas Jarque-Bera sebesar 1,455404 dengan probabilitas sebesar 0,483018 lebih besar dari tingkat signifikansi yang digunakan (á = 5%) sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan berdistribusi normal.

(13)

179

1. Autokorelasi

Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:

F-statistic 2.498080 Prob. F(2,12) 0.1239 Obs*R-squared 4.997289 Prob. Chi-Square(2) 0.0822

Test Equation:

Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 07/04/20 Time: 18:04 Sample: 1 17

Included observations: 17

Presample missing value lagged residuals set to zero.

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

SPALD 0.000630 0.001361 0.462842 0.6518 PENDUDUK 1.84E-06 5.83E-06 0.315035 0.7581 C -0.019002 0.033277 -0.571048 0.5785 RESID(-1) 0.656282 0.293876 2.233193 0.0453

RESID(-2) -0.306218 0.273980 -1.117664 0.2856

R-squared 0.293958 Mean dependent var -3.67E-18 Adjusted R-squared 0.058611 S.D. dependent var 0.028671 S.E. of regression 0.027818 Akaike info criterion -4.086353 Sum squared resid 0.009286 Schwarz criterion -3.841291 Log likelihood 39.73400 Hannan-Quinn criter. -4.061994 F-statistic 1.249040 Durbin-Watson stat 1.975321 Prob(F-statistic) 0.342359

Berdasarkan Tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai Obs*R-squared 4,997289 dengan probabilitasnya sebesar 0,0822 (> á = 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa model tidak mengalami gejala autokorelasi.

2. Heteros

Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey

F-statistic 0.285516 Prob. F(2,14) 0.7559 Obs*R-squared 0.666223 Prob. Chi-Square(2) 0.7167 Scaled explained SS 0.322693 Prob. Chi-Square(2) 0.8510

Test Equation:

Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 07/04/20 Time: 18:04

Sample: 1 17

Included observations: 17

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 0.000776 0.001153 0.672714 0.5121 SPALD -3.35E-05 4.78E-05 -0.700652 0.4950 PENDUDUK 5.17E-08 2.07E-07 0.250084 0.8062

R-squared 0.039190 Mean dependent var 0.000774 Adjusted R-squared -0.098069 S.D. dependent var 0.000953 S.E. of regression 0.000999 Akaike info criterion -10.82139 Sum squared resid 1.40E-05 Schwarz criterion -10.67436 Log likelihood 94.98184 Hannan-Quinn criter. -10.80678 F-statistic 0.285516 Durbin-Watson stat 1.124960 Prob(F-statistic) 0.755899

Berdasarkan Tabel diatas dapat diketahui bahwa hasil regresi uji

Breusch-Pagan-Godfrey menunjukkan nilai Prob.

Chi-Square sebesar 0.7167 dan nilai (> á = 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa model terbebas dari heterokedastisitas.

3. Multikol

Variance Inflation Factors Date: 07/04/20 Time: 18:05 Sample: 1 17

Included observations: 17

Coefficient Uncentered Centered

Variable Variance VIF VIF

SPALD 2.15E-06 6.041402 1.773111 PENDUDUK 4.03E-11 34.86772 1.773111

C 0.001253 22.66692 NA

Berdasarkan Tabel diatas diperoleh VIF LogX1= 1,773111, LogX2= 1,77311. Sehingga nilai dari masing-masing variabel menunjukkan bahwa nilai VIF < 10. Sehingga tidak ada multikolonieritas antar variabel independen dalam model regresi.

(14)

180

Regresi

Dependent Variable: PEMKUMUH Method: Least Squares

Date: 07/04/20 Time: 18:02 Sample: 1 17

Included observations: 17

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

SPALD PENDUDUK C 0.000553 0.001467 0.377158 0.7117 6.78E-06 6.35E-06 1.068303 0.3035 -0.012655 0.035392 -0.357562 0.7260

R-squared 0.186959 Mean dependent var 0.038824 Adjusted

R-squared 0.070811 S.D. dependent var 0.031797 S.E. of

regression 0.030650 Akaike info criterion

-3.973567 Sum squared

resid 0.013152 Schwarz criterion

-3.826529 Log likelihood 36.77532 Hannan-Quinn criter. -3.958951 F-statistic 1.609655 Durbin-Watson stat 1.111703

Prob(F-statistic) 0.234847

Berdasarkan Tabel 4. maka diperoleh persamaan sebagai berikut:

Y=-0,012655+ 0,000553X1 + 6,78E-06X2 + ℮ Dari hasil persamaan tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

a. Nilai konstanta sebesar -0,012655. Hal ini berarti bahwa apabila variabel independen nilainya nol (jumlah SPALD dan jumlah penduduk) maka nilai variabel kawasan permukiman kumuh sebesar -0,012655.

b. Koefisien regresi variabel X1 yaitu jumlah SPALD sebesar 0,000553, artinya apabila nilai variabel jumlah SPALD meningkat sebesar satu satuan maka akan meningkat kawasan permukiman kumuh sebesar 0,000553 dalam setiap satuannya. Dengan

asumsi variabel jumlah penduduk tidak mengalami perubahan atau konstan.

c. Koefisien regresi variabel X2 yaitu jumlah penduduk sebesar 6,78E-06, artinya apabila nilai variabel jumlah penduduk meningkat sebesar satu satuan maka akan meningkat kawasan permukiman kumuh sebesar 6,78E-06 dalam setiap satuannya. Dengan asumsi variabel jumlah SPALD tidak mengalami perubahan atau konstan.

Dengan demikian hasil analisis data diatas dapat di tarik sebuah kesimpulan bahwa permukiman kumuh ada tidak konstan atau tidak pasti di sebabkan oleh jumlah SPALD, namun meningkatnya jumlah penduduk menjadi penyebab adanya permukiman kumuh karena pertambahan penduduk dapat membuah penyempitan lahan permukiman sehingga saluran pembuangan, sarana prasarana dan kelayakan tempat tinggal menjadi terbatas. Sehingga permukiman menjadi kumuh karena semakin banyak penduduk, semakin banyak sampah dan limbah yang dihasilkan.

Jumlah SPALD tak selalu jadi faktor adanya permukiman kumuh, namun jumlah SPLAD juga dapat mendorong adanya permukiman kumuh karena jika saluran pengolahan limbah yang minim tentunya akan menghambat dan menimbun limbah di sekitar permukiman sehingga lingkungan menjadi kumuh, kotor dan tidak sehat karena adanya pencemaran lingkungan.

(15)

181

KESIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pertambahan jumlah penduduk yang pesat dapat menyebabkan adanya suatu permukiman kumuh, dikarenakan jarak rumah yang berdekatan, pembuangan limbah rumah tangga yang tidak teratur hingga kebersihan lingkungan. Salah satu yang menjadi fokus pemerintahan saat ini adalah mengenai Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD).

Khususnya di Kota Magelang, kini sedang merencanakan suatu pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T), tujuan dari pembuatan sistem ini adalah untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah rumah tangga ke sungai sehingga di bentuk suatu sistem pengelolaan limbah rumah tangga terpusat dan pemerintah meminta kepada para masyarakat untuk menyambungkan sistem sanitasi masing masing rumah tangga ke Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) sehingga mengurangi pembuangan limbah ke sungai dan tanah sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem serta kumuh dan tidak sehatnya lingkungan di permukiman tersebut.

Sehingga tujuan dari penelitian adalah untuk melihat pengaruh jumlah penduduk dan jumlah Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) terhadap kawasan permukiman kumuh di Kota Magelang. Sehingga dapat melihat seberapa besar kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dari pencemaran dan kesadaran akan penggunaan sanitasi rumah tangga sehingga tidak mencemari lingkungan.

Dengan demikian hasil analisis data diatas dapat di tarik sebuah kesimpulan

bahwa permukiman kumuh ada tidak konstan atau tidak pasti di sebabkan oleh jumlah SPALD, namun meningkatnya jumlah penduduk menjadi penyebab adanya permukiman kumuh karena pertambahan penduduk dapat membuah penyempitan lahan permukiman sehingga saluran pembuangan, sarana prasarana dan kelayakan tempat tinggal menjadi terbatas. Sehingga permukiman menjadi kumuh karena semakin banyak penduduk, semakin banyak sampah dan limbah yang dihasilkan.

Jumlah SPALD tak selalu jadi faktor adanya permukiman kumuh, namun jumlah SPLAD juga dapat mendorong adanya permukiman kumuh karena jika saluran pengolahan limbah yang minim tentunya akan menghambat dan menimbun limbah di sekitar permukiman sehingga lingkungan menjadi kumuh, kotor dan tidak sehat karena adanya pencemaran lingkungan.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian di atas, penulis memberikan saran kepada pemerintah dan juga masyarakat agar dapat mengatasi adanya permukiman kumuh yang dikarenakan kurangnya jumlah Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD) dan juga pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat , diantaranya :

1. Pemerintahan memperhatikan jarak pembangunan saluran induk, atau menambah saluran induk di dekat lokasi warga yang memiliki hambatan mengenai jarak.

2. Pemerintah memperhatikan masyarakat (KK) yang belum mampu melaksanakan pembangunan saluran sanitasi rumah tangganya karena terhalang biaya

(16)

182

3. Masyarakat harus lebih meningkatkan ladi kesadaran dan kepedulian terhadap pentingnya sanitasi lingkungan dan juga dampak pencemaran lingkungan yang di sebabkan jika tidak adanya sanitasi rumah tangga yang baik.

4. Pemerintah harus mulai merapikan tatanan permukiman terutama permukiman kumuh agar tidak menimbulkan permasalahan baru.

5. Pemerintah terus memantau laju pertambahan penduduk dan kuga kebutuhan SPALD di lingkungan Kota Magelang

Implikasi dan Keterbatasan Implikasi

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikemukakan implikasi secara teoritis dan praktis sebagai berikut:

1. Implikasi Teoritis

a) Berdasarkan analisis regresi dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa variabel dependen dan independen yakni jumlah SPALD dan jumlah penduduk adalah menjadi penyebab terjadinya permukiman kumuh

b) Jumlah SPALD menjadi variable independen karena tidak selalu menjadi pokok penyebab adanya permukiman kumuh

c) Sedangkan jumlah penduduk menjadi variabel dependen atau terkait karena pertumbuhan laju penduduk yang terus menerus mempengaruhi jumlah

penduduk dan juga menjadikan sebab adanya permukiman kumuh karena luas wilayah tidak sepadan dengan penduduk yang menempati sehingga tidak seimbang antara fasilitas dan jumlah penggunanya. Serta menjadikan lingkungan kumuh karena kurangnya akses pembuangan limbah rumah tangga karena jarak rumah yan sangat berhimpitan

2. Implikasi Praktis

Hasil penelitian ini digunakan sebagai masukan bagi pemerintah terutama pemerintah Kota Magelang agar lebih memperhatikan kondisi permukiman di Kota Magelang dan juga memantau pertumbuhan dan jumlah menduduk serta akses jumlah akses Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) sehingga tidak menjadikan penyebab munculnya pemukiman kumuh yang tentunya dapat menimbulkan masalah baru seperti masalah pemcemaran dan juga kesehatan.

Keterbatasan

Penelitian ini telah diusahakan dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur ilmiah, namun demikian masih memiliki keterbatasan yaitu:

1. Faktor-faktor yang dapat di ambil di lingkungan penelitian terkait permukiman kumuh hanya ada dua variabel yakni jumlah SPALD dan jumlah penduduk karena keterbatasan waktu di lapangan dan data yang di dapatkan.

2. Adanya keterbatasan penelitian dengan menggunakan data karena peneliti baru mendapatkan beberpa komponen data saja yang kemudian dianalisis

(17)

183

menggunakan regesi untuk melihat pengaruh antara variable dengan permasalahan yang di teliti.

DAFTAR PUSTAKA

Celesta, A. G., & Fitriyah, N. (2019). Gambaran Sanitasi Dasar Di Desa Payaman, Kabupaten Bojonegoro Tahun 2016. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 11 No. 2, 83 - 90.

Dispa Bainamus, M., Ernawati, & Purwandari, E. P. (2017). Identifikasi Kualitas Permukiman Kumuh Menggunakan Metode Case Base Reasoning Dan.

Jurnal Pseudocode, Volume Iv Nomor 1.

Ervianto, W. I., & Felasari, S. (2019). Pengelolaan Permukiman Kumuh Berkelanjutan Di Perkotaan. Jurnal

Spektran Vol. 7 No. 2, 178 - 186.

Junaedi, A., & Hasanah, U. A. (2014). Penyuluhan Tentang Penanganan Limbah Rumah. Jurnal Inovasi Dan

Kewirausahaan Vol. 3 No. 2, 111-114.

BPS, Kota Magelang (2019, September 26).

Kecamatan Magelang Selatan Dalam Angka 2019. Retrieved From Badan

Pusat Statistik Kota Magelang:

Https://Magelangkota.Bps.Go.Id/Publ ication/2019/09/26/Bbebb1f6fcb91efe7

c31a3fd/Kecamatan-Magelang-Selatan-Dalam-Angka-2019.Html

BPS, Kota Magelang. (2019, Sepetmber 26).

Kecamatan Magelang Tengah Dalam Angka 2019. Retrieved From Badan

Pusat Statistik Kota Magelang:

Https://Magelangkota.Bps.Go.Id/Publ ication/2019/09/26/424e1e47a6e95395

8f2cfc1e/Kecamatan-Magelang-Tengah-Dalam-Angka-2019.Html

BPS, Kota Magelang. (2019, September 26).

Kecamatan Magelang Utara Dalam Angka 2019. Retrieved From Badan

Pusat Statistik Kota Magelang:

Https://Magelangkota.Bps.Go.Id/Publ ication/2019/09/26/Bf97d90a381426ed d0fdd52e/Kecamatan-Magelang-Utara-Dalam-Angka-2019.Html

Krisandriyana, M., Astuti, W., & Fitriarini, E. (2019). Faktor Yang Mempengaruhi Keberadaan Kawasan Permukiman Kumuh Di Surakarta . Desa Kota Vol 1

No 1, 24-33.

Kristiana, E. (2018). Rencana Penanganan Lingkungan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan Di Kabupaten Rembang. Lakar Jurnal Arsitektur Vol

1 No. 1, 32 – 38.

Medawaty, I. (2008). Sanitasi Taman Salah Satu Alternatif Sistem Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga. Jurnal Pusat

Litbang Permukiman.

Ningrum, P. T. (2013). Gambaran Sanitasi Dasar Pengelolaan Limbah Rumah Tangga Di Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. Jurnal Ikesma

Volume 9 Nomor 2 , 83-97.

Oktiawan, W., Hardyanti, N., & Damayanti, P. (2018). Masterplan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Di Wilayah Perkotaan Kabupaten. Jurnal

(18)

184

Pengembangan Teknik Lingkungan, Vol. 15 No.2 .

Ulum, G. H., Suherman, & Syafrudin. (2015). Kinerja Pengelolaan Ipal Berbasis Masyarakat Program Usri Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunung Pati, Kota.

Jurnal Ilmu Lingkungan , 65-71 .

Adisasmita, Rahardjo. 2005. Dasar-dasar

Ekonomi Wilayah. Penerbit Graha

Ilmu.

Sumber lain ;

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan

Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/2017

tentang Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan

Air Limbah Domestik

Referensi

Dokumen terkait

Sinoviosit yang mengalami peradangan akan menghasilkan Matrix Metalloproteinases (MMPs) dan berbagai sitokin yang akan dilepaskan ke dalam rongga sendi dan merusak

13 Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah penelitian yaitu: implementasi religious culture in school sebagai fokus penelitian yang pertama, Keterkaitan

Hasil penelitian ini diperoleh bahwa dampak yang ditimbulkan karena adanya bencana banjir adalah dampak sosial ekonomi yang berada di klasifikasi sedang,

Risk of indonesia samarinda kalimantan selatan, lambung moundir tennis academy tarif provinsi di indonesia padang palangkaraya palembang palu log into facebook. Pekan ilmiah

PADA TANGGAL 5 SEPTEMBER 2016 YANG LALU PEMERINTAH KOTA BALIKPAPAN TELAH MENGADAKAN PERTEMUAN DENGAN PELAKU USAHA DAN TOKOH MASYARAKAT SE-KOTA BALIKPAPAN UNTUK

Segitiga memiliki garis berat dan titik berat. Garis berat adalah garis yang ditarik dari titik sudut suatu segitiga dan membagi sisi di hadapan sudut tersebut menjadi

unggulan yang akan menjadi fokus dalam pengembangan pariwisata Kota Magelang sekaligus dijadikan sebagai icon pariwisata daerah. 2) Belum optimalnya komitmen pemerintah Kota

Terhadap Produk Domestik Regional Bruto Kota Ambon dengan hasil yang menunjukkan bahwa pembangunan infrastuktur jalan berpengaruh signifkan terhadap PDRB Kota Ambon