• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KORELASI GETARAN MESIN FRAIS HORIZONTAL TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN BAJA KARBON DALAM PROSES PEMOTONGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS KORELASI GETARAN MESIN FRAIS HORIZONTAL TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN BAJA KARBON DALAM PROSES PEMOTONGAN"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KORELASI GETARAN MESIN FRAIS

HORIZONTAL TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN

BAJA KARBON DALAM PROSES PEMOTONGAN

CORRELATE VIBRATION ANALYSIS ON THE SURFACE

ROUGHNESS OF CARBON STEEL IN THE CUTTING

PROCESS OF THE SLAB MILLING

YAFET BONTONG

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2011

(2)

ANALISIS KORELASI GETARAN MESIN FRAIS

HORIZONTAL TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN

BAJA KARBON DALAM PROSES PEMOTONGAN

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Magister

Program Studi

Teknik Mesin / Konstruksi Mesin

Disusun dan diajukan oleh

YAFET BONTONG

P2202209004

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2011

(3)

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

Yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama : YAFET BONTONG

Nomor Pokok : P2202209004

Program studi : Teknik Mesin / Konstruksi Mesin

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini

benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan

pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian

hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis

ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan

tersebut.

Makassar, 20 Mei 2011

Yang menyatakan,

(4)

KATA PENGANTAR

Segala Puji dan Syukur kami panjadkan kehadirat Tuhan yang

Maha Kuasa, oleh karena berkat dan pertolongannyalah sehingga tesis ini

dapat diselesaikan, sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi

program magister pada Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin

Makassar.

Dalam penyusunan tesis ini kami tidak luput dari beberapa kendala,

namun karena adanya bantuan dan bimbingan dari berbagi pihak

sehingga tesis ini kami dapat selesaikan. Oleh karena itu, penulis dengan

tulus mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Hammada Abbas, MSME selaku ketua komisi

penasehat dan bapak Rafiuddin Syam, ST, M.Eng, Ph.D sebagi

anggota komisi penasehat, atas bimbingannya mulai dari pemilihan

judul sampai selesainya tesis ini

2. Bapak Rafiuddin Syam, ST, M.Eng, Ph.D sebagai ketua Program

Studi Teknik Mesin Program Pascasarjana Unhas yang telah

banyak membantu dalam penyusunan tesis ini

3. Seluruh Dosen penguji yang telah turut memberikan masukan pada

saat seminar proposal dan seminar hasil penelitian

4. Seluruh Dosen Program Pascasarjana Fakultas Teknik Program

Studi Teknik mesin yang telah turut membimbing selama ini

5. Seluruh rekan-rekan Politeknik Negeri Ujung Pandang, yang telah

(5)

6. Seluruh rekan-rekan yang tidak sempat kami tulis namanya satu

persatu atas segala bantuan dan sarannya, penulis juga tidak lupa

mengucapkan terima kasih.

Penulis telah berusaha untuk menyelesaikan tesis ini dengan

sempurna tapi menyadari sepenuhnya masih terdapat kekurangan. Oleh

karena saran dan kritik demi kesempurnaan penulisan ini, dengan senang

hati kami terima. Semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, Mei

2011

Penulis

(6)

ABSTRAK

YAFET BONTONG . Analisis Korelasi Getaran Mesin Frais Horizontal

Terhadap Kekasaran Permukaan Baja Karbon Dalam Proses Pemotongan

(dibimbing oleh Hammada Abbas dan Rafiuddin Syam ).

Tujuan penelitian ini untuk mencari besar pengaruh variabel-variabel proses pemesinan pada mesin frais, seperti : material, putaran, kedalaman potong, gerak insut terhadap amplitudo getaran mesin dan kekasaran permukaan benda kerja. Kegunaan penelitian ini memberikan informasi mengenai amplitudo getaran mesin dan kekasaran permukaan benda kerja khususnya pada pengaruh putaran, gerak insut, dan kedalaman potong pada proses pemotongan mesin frais. Dari hasil analisa dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut : Pengaruh variabel material, putaran, gerak insut, dan kedalaman potong sangat signifikan terhadap amplitudo getaran mesin dan kekasaran permukaan benda kerja. Korelasi variabel material terhadap amplitudo getaran 57.5 % dan kekasaran permukaan 63.3 %, putaran terhadap amplitudo getaran 57.2 % dan kekasaran permukaan 31.5 %, gerak insut terhadap amplitudo getaran 33.4 % dan kekasaran permukaan 45.6 %, kedalaman potong terhadap amplitudo getaran 37.6 % dan kekasaran permukaan 44.4 %, serta amplitudo getaran terhadap kekasaran permukaan 90.0 %.

Kata kunci : material, putaran, kedalaman potong, gerak insut, getaran dan kekasaran permukaan.

(7)

ABSTRACT

YAFET BONTONG . Correlate Vibration Analysis on the Surface

Roughness of Carbon Steel in the Cutting Process of the Slab Milling

(supervised by Hammada Abbas and Rafiuddin Syam ).

The aims of this research are to determine the of effects of varible in the slab milling process such as : material, spindel rotation, feeding, and depth of cut , vibration and surface roughness . The purpose of this research provides information on the amplitude of vibration of the machine and workpiece surface roughness, especially on the effect of rotation, insut motion, and depth of cut on the milling process. From the analysis and discussion can be summarized as follows: Effect of material variables, rotation, insut motion, and depth of cut is very significant on the amplitude correlation factor between material with vibration and material with roughness were 57.5% and 63.3%, respectively. Then it was found also the corelation factor between spindel with vibration and spindel rotation with roughness are 57.2% and 31.5% respectively. For feeding variable it was faund 33.4% for vibration and 45.6% for roughness factor. Finally, the corelation between depth of cut with vibration and roughness were 44.4% and 90.0%.

Key word : material , rotation, depth of cut, feeding, vibration, and surface roughness

(8)

DAFTAR ISI

Halaman judul i

Halaman Pengajuan ii

Lembar Pengesahan iii

Lembar Pernyataan Keaslian Tesis iv

Kata Pengantar v

Abstrak vi

Abstract vii

Daftar Isi viii

Daftar Gambar xi DaftarTabel xv Daftar Lampiran xvii Daftar Notasi xviii I. PENDAHULUA A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 4 C. Tujuan Penelitian 4 D. Manfaat Penelitian 5 E. Batasan Masalah 6

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Getaran 7 B. KarakteristikGetaran 8

C. Parameter Getaran 10

(9)

E. Kekasaran Permukaan 12

F. Tinjauan Umum Tentang Proses Mesin frais14 1. Elemen Dasar Proses Frais 15 2. Bentuk Pahat frais Horisontal 16

3. Gaya Pemotongan Pada Proses Frais 18

G. Analisis Regresi 20

1. Model Regresi Linier Sederhana 2. Asumsi-asumsi Penting dalam Analisa Regresi 21

3. Metode Kuadrat Terkecil Untuk Regresi Linier 22

4. Regresi Tak Linier 22 5. Regresi Linier Berganda 23

H. Analisis Korelasi III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian 29

B. Bahan yang Digunakan 29 C. Alat yang Digunakan 29 D. Rancangan Penelitian 30

E. Skema Peralatan 31 F. Pelaksanaan Penelitian 32

G. Prosedur Percobaan dan Pengambilan 33

H. Skema Pelaksanaan Penelitian 34

I . Teknik Analisa 35

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 36

(10)

1. Uji Tarik 36

2. Analisis Getataran 37

3. Analisis Kekasaran Permukaan 46

4. Analisa Korelasi 56

B. Hasil Tabel dan Grafik 60 1. Perbandingan Kekasaran 47

2. Analisa Regresi Kekasaran 53

3. Korelasi antara Variabel Bebas dengan Getaran 59

4. Korelasi antara Variabel bebas dengan Kekasaran 60

5. Korelasi antara Getaran dengan Kekasaran 61

C. Pembahasan 81 V. PENUTUP A. Kesimpulan 87 B. Saran 87 DAFTAR PUSTAKA 88 Lampiran – Lampiran 1.a Tabel Pengamatan St 42 90

1.b Tabel Pengamatan St 60 91

2.a Hasil Uji Tarik St 42 92

2.b Hasil Uji Tarik St 60 93

3. Foto Penelitian 94

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Pegas dengan Gerakan Harmonik Sederhana

8

Gambar 2.2 Gerak Harmonik 10

Gambar 2.3 Profil Kekasaran Permukaan 13

Gambar 2.4 Proses Frais Datar

15

Gambar 2.5 Proses Frais dengan Pahat Bergigi Miring 17

Gambar 2.6 Gerakan Sikloidal gigi Pahat Frais 18

Gambar 2.7 Jenis-jenis Korelasi

24

Gambar 3.1 Skema Peralatan Pengujian 31

Gambar 3.2 Skema Pelaksanaan Penelitian 34

Gambar 4.1 Spesimen uji tarik 36

Gambar 4.2 Hubungan antara kedalaman potong terhadap getaran

st 42, n 180 38

Gambar 4.3 Hubungan antara kedalaman potong terhadap geteran,

St 60, n 180 38

Gambar 4.4 Hubungan antara Putaran terhdap Ampl getaran,

st 42, a 0.2 40

Gambar 4.5 Hubungan antara putaran terhadap Ampl getataran

(12)

Gambar 4.6 Hubungan antara kedalaman potong trehadap kekasaran

Permukaan st 42 ,n 180 47

Gambar 4.7 Hubungan antara Kedalaman potong terhadap kekasaran

Permukaan st 60, n 180 47

Gambar 4.8 Hubungan antara putaran terhadap kekasaran

permukaan st 42, a 0.4 49

Gambar 4.9 Hubungan antara putaran terhadap kekasaran

Permukaan st 60, a 0.4 49

Gambar 4.10 Hubungan Amplitudo Getaran terhadap Kekasaran 56

Gambar 4.11Hubungan Amplitudo Getaran terhadap kedalaman

Potong St42,n220 60

Gambar 4.12 Hubungan Amplitudo Getaran terhadap Kedalaman

Potong St 60, n 220 61

Gambar 4.13 Hubungan Amplitudo Getaran terhadap Kedalaman

Potong st 42, n 240 62

Gambar 4.14 Hubungan Amplitudo Getaran terhadap kedalaman

Potong st 60, n 240 62

Gambar 4.15 Hubungan Amplitudo Getaran terhadap Putaran

St 42, a 0.4 63

Gambar 4.16 Hubungan Amplitudo Getaran terhadap putaran

St 60, a 0.4 64

Gamabar 4.17 Hubungan antara Amplitudo Getaran terhadap Putaran

(13)

Gambar 4.18 Hubungan antara Amplitudo Getaran terhadap Putaran

St 60, 0.6 65

Gambar 4.19 Hubungan antara Amplitudo Getaran terhadap putaran

St 42, a 0.8 66

Gambar 4.20 Hubungan antara Amplitudo getaran terhadap putaran

St 60, a 0.8 67

Gambar 4.21 Hubungan Amplitudo terhadap putaran st 42,a 1.0 68

Gambar 4.22 Hubungan Amplitudo terhdap putaran st 60, a 1.0 68

Gambar 4.23 Hubungan Kekasaran terhadap kedalaman potong

St 42, n 200 69

Gambar 4.24 Hubungan kekasaran terhadap kedalaman potong

St 60, n 200 70

Gambar 4.25 Hubungan Kekasaran terhadap kedalaman potong

St 42, n 220 71

Gambar 4.26 Hubungan Kekasaran terhadap kedalaman potong

St 60, n 220 71

Gambar 4.27 Hubungan Kekasaran terhadap kedalaman potong

St 42, n 240 72

Gambar 4.28 Hubungan Kekasaran terhadap kedalaman potong

St 60, n 240 73

Gambar 4.29 Hubungan kekasaran terhadap kedalaman potong

(14)

Gambar 4.30 Hubungan kekasaran terhadap kedalaman potong

St 60, a 0.2 74

Gambar 4.31 Hubungan kekasaran terhadap kedalaman potong

St 42, a 0.6 75

Gambar 4.32 Hubungan kekasaran terhadap kedalaman potong

St 60, a 0.6 76

Gambar 4.33 Hubungan kekasaran terhadap kedalaman potong

St 42, 0.8 78

Gambar 4.34 hubungan kekasaran terhadap kedalaman potong

St 60, 0.8 78

Gambar 4.35 Hubungan kekasaran terhadap kedalaman potong

St 42, a 1.0 78

Gambar 4.36 Hubungan kekasaran terhadap kedalaman potong

St 60, 1.0 79

Gamabar 4.37 Hubungan Amplitudo Getaran terhadap Kekasaran

n 200 80

DAFTAR TABEL

No. Tabel Halaman

4.1 Respon Kedalaman Potong Terhadap Ampl. Getaran, 37

4.2 Respon Getaran dari gerak ingsut terhadap putaran kedalaman

Potong 0.2 39

(15)

4.4 Respon Indeks Determinasi 43

4.5 Analisa Varian Amplitudo Getaran 43

4.6 Koefisien Variabel Bebas 45

4.7 Respon Kekasaran terhadap Gerak insut Vs Kedalaman Potong 47

4.8 Respon kekasaran dengan hubungan gerak ingsut 48

4.9 Hasil Analisa Ragam Kekasaran Permukaan terhadap Bahan Putaran, Gerak Insut, dan Kedalaman Potong 50

4.10 Indeks Determinasi 52

4.11 Analisa Varian Kekasaran Permukaan 52

4.12 Koefisien Variabel Bebas 54

4.13 Respon Amplitudo Getaran Terhadap Kekasaran Permukaan Pada Putaran 180 55

4.14 Analisa Korelasi Variabel Bebas dengan Ampl. Getaran 56

4.15 Analisa Korelasi Variabel Bebas dengan Kekasaran 58

4.16 Analisa Korelasi Amplitudo Getaran dengan Kekasaran 59 4.17 Amlitudo Getaran pada Putaran 220 60

4.18 Amplitudo Getaran pada Putaran 240 61

4.19 Amlitudo Getaran Pada Kedalaman potong 0.4 63

4.20 Amlpitudo Getaran Pada Kedalaman Potong 0.6 64

4.21 Amplitudo Getaran pada Kedalaman Potong 0.8 66

4.22 Amplitudo Getaran pada kedalaman potong 1.0 67

(16)

4. 24 Kekasaran Permukaan Pada Putaran 220 70

4. 25 Kekasaran Permukaan pada Putaran 240 72

4.26 Hubungan Kekasaran Permukaan Terhadap Kedalaman Pot. 73

4.27 Kekasaran Permukaan pada Kedalaman Potong 0.2 75

4.28 Kekasaran Permukaan terhadap Kedalaman Potong 0.8 76

4.29 Kekasaran Permukaan terhadap kedalaman potong 1.0 78

4.30 Respon Amplitudo Getaran terhadap Kekasaran 79

DAFTAR LAMPIRAN No. Lampiran Halaman 1 Data Penelitian Material 90

2 Data Uji Tarik Material 92

11 Foto – Foto Penelitian 94

DAFTAR NOTASI

Simbol Arti Satuan

a Kedalaman Potong mm

B Material

(17)

F Fiher test G Amplitudo Getaran μm n Putaran rpm N Jumlah data t test X Variabel bebas

Y Variabel tidak bebas

df Derajat kebebasan

fz Gerak makan pergigi mm/gigi

Ra Kekasaran Permukaan μm

Vc Kecepatan potong mm/det

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Getaran secara umum terjadi pada suatu mesin perkakas yang

berinteraksi dengan gaya eksitasi paksa atau eksitasi sendiri . Eksitasi

paksa misalnya berupa gaya yang berfluktuasi pada proses frais, ketidak

seimbangan massa berputar dan sebagainya.

Kualitas suatu produk pada proses permesinan disebabkan

beberapa faktor antara lain kecepatan potong, kecepatan pemakanan,

kedalaman potong, waktu pemotongan, kecepatan penghasilan geram.

Disamping itu faktor yang sering terjadi dilapangan seperti setting alat

potong yang kurang tepat, pencekaman benda kerja, kondisi mesin dan

operator.

Dua jenis utama pahat frais adalah pahat frais selubung/mantel dan

pahat frais muka. Sesuai dengan jenis pahat yang digunakan dikenal dua

macam cara yaitu mengefrais datar (slab milling) dengan sumbu putaran

pahat frais selubung sejajar permukaan benda kerja, dan mengefrais

tegak (face milling) dengan sumbu putaran pahat frais muka tegak lurus

permukaan benda kerja. Selanjutnya mengefrais datar dibedakan menjadi

dua macam cara yaitu, mengefrais naik dan mengefrais turun.

Proses pemotongan pada mesin frais yang terjadi adalah benda

(19)

suatu saat (secara periodik) gaya dorongnya akan melebihi gaya dorong

ulir/ roda gigi penggerak meja, sehingga menimbulkan getaran yang besar

yang dapat menurunkan kualitas permukaan benda kerja.

Pengamatan dari Oegik S. (2002) menyimpulkan bahwa tebal

geram sebelum terpotong akan berpengaruh pada pemakanan dan sudut

potong utama berarti juga mempengaruhi kekasaran permukaan.

Penelitian yang dilakukan oleh A.M. Anzarih (2004) melakukan

analisa untuk mendapatkan pengaruh getaran pada baja karbon dengan

variasi sudut potong pahat HSS memberikan hasil bahwa pengaruh

getaran dan kekasaran permukaan sebagai berikut : material terhadap

getaran 80 % dan terhadap kekasaran 87 %, kedalaman pemakanan

terhadap getaran 87 % dan terhadap kekasaran 98 %, sudut pahat

terhadap getaran 77 % dan terhadap kekasaran 98 %.

Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Yusran (2002) melakukan

Perubahan sudut pahat bubut untuk mendapatkan optimasi umur pahat

pada material baja karbon dengan varianle permesinan berpengaruh

terhadap umur pahat, konstribusi masing – masing variable permesinan

(getaran) adalah 33,88 % kecepatan pemakanan 25,84 % kecepatan

pemotongan 25,24 % sudut potong utama dan 15,03 % kedalaman.

M. Bidangan (2004) menyatakan bahwa, “Variabel permesinan

berpengaruh terhadap amplitudo simpangan pahat dengan

(20)

bantu, 0.03% sudut geram belakang, 3.52% kecepatan potong, dan 5.46%

kecepatan pemakanan”

Kesimpulan penelitian Amirulla Abdulla (2005), bahwa Korelasi

variabel benda kerja terhadap amplitudo getaran 55,3 %, dan kekasaran

permukaan 63,4 %, putaran terhadap amplitudo getaran 58,7 %, dan

kekasaran permukaan 36,4 %, gerak insut terhadap amplitudo getaran

33,4 %, dan kekasaran permukaan 44,2 %, kedalaman potong terhadap

amplitudo getaran 37,2 %, dan kekasaran permukaan 42,2 %, serta

Amplitudo getaran terhadap kekasaran permukaan 90,8 %.

Berdasarkan uraian di atas, maka akan diteliti lebih lanjut

faktor-faktor (kedalaman potong, putaran spindel, gerak insut) yang dapat

mempengaruhi getaran dan kekasaran permukaan material dalam bentuk

penelitian berjudul “Analisis Korelasi Getaran Mesin Frais Horizontal

Terhadap Kekasaran Permukaan Baja Karbon Dalam Proses Pemotongan”.

Penyelesaian permasalahan di atas diharapkan dapat melengkapi

penelitian sebelumnya, sehingga sedapat mungkin menjadi salah satu

acuan dalam perencanaan proses pemotongan pada mesin frais

(21)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka beberapa masalah dapat

dirumuskan sebagai berikut :

1. Berapa besar pengaruh benda kerja, kedalaman potong, putaran

spindel, dan gerak insut, terhadap amplitudo getaran, dan

kekasaran permukaan baja karbon selama proses pemotongan

pada mesin frais horizontal.

2. Bagaimana korelasi masing-masing variable benda kerja,

kedalaman potong, putaran spindel, dan gerak insut, terhadap

amplitudo getaran, dan kekasaran permukaan baja karbon pada

mesin frais horizontal.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui pengaruh benda kerja, kedalaman potong, putaran

spindel, dan gerak insut terhadap getaran dan kekasaran

permukaan baja karbon selama proses pemotongan pada mesin

(22)

2. Mencari korelasi masing-masing variabel benda kerja, kedalaman

potong, putaran spindel, dan gerak insut terhadap getaran dan

kekasaran permukaan baja karbon pada mesin frais horizontal.

3. Mengetahui besar gaya potong dalam proses pemotongan pada

mesin frais horizontal.

D. Manfaat Penelitian

Kegunaan penelitian diharapkan sebagai berikut :

1. Dapat dijadikan sebagai informasi untuk meningkatkan kualitas

benda kerja dalam proses pemotongan pada mesin frais horizontal.

2. Dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam menganalisa

yang berhubungan dengan getaran dan kekasaran permukaan

pada mesin frais horizontal.

3. Sebagai bahan acuan bagi para operator mesin frais untuk

membuat dan merencanakan proses kerja guna mendapatkan

(23)

E. Batasan Masalah

Mengingat kompleksnya permasalahan mengenai getaran

dan keterbatasan alat uji maka pada penelitian ini dibatasi beberapa

masalah sebagai berikut :

1. Bahan yang diuji adalah baja karbon yang terdiri dari dua jenis yaitu

: st 42 dan st 60 yang diperoleh dari pasaran dengan asumsi

homogen pada seluruh bagian.

2. Material dan jenis pahat yang akan digunakan pada penelitian ini

adalah HSS dengan dimensi pahat ø 50 mm, lebar 40 mm, jumlah

gigi pemotong = 6 buah, dengan sudut heliks = 250.

3. Percobaan dan pengukuran dalam batas kemampuan pada mesin

frais horizontal dalam kondisi baik.

4. Dimensi dan bahan uji disesuaikan dengan peralatan pengukuran

getaran dan kekasaran permukaan itu sendiri.

5. Pengaruh variabel pada proses pemotongan dianaliasa dengan

metode garfik dan statistik.

6. Proses pemotongan dilakukan dengan cairan pendingin jenis

Dromus + air dengan perbandingan 1 : 20.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Getaran

Getaran adalah gerakan yang berulang dengan sendirinya pada

suatu selang waktu tertentu yang dapat terjadi pada sistem dimana

memiliki massa dan sifat elastis serta padanya bekerja gangguan. Mesin

terdiri dari berbagai elemen yang berpasangan dan bergerak yang dapat

menimbulkan getaran. Bentuk dan besarnya getaran dipengaruhi oleh

kondisi elemen-elemen itu sendiri. Getaran yang berlebihan dari gaya

yang bekerja pada mesin dapat menimbulkan suatu kerusakan.

Setiap benda atau sistem yang memiliki massa dan sifat elastis jika

diberi gangguan, maka benda atau sistem tersebut akan bergetar

berdasarkan gangguan yang diberikan pada benda atau sistem, getaran

yang timbul dapat diklasifikasikan sebagai getaran bebas dan getaran

paksa.

Getaran bebas terjadi jika tanpa pengaruh gaya luar, sistem

berosilasi disebabkan oleh gaya yang berada dalam sistem itu sendiri.

Gaya luar hanya diperlukan untuk menentukan frekwensi pribadi sistem.

Frekwensi pribadi sistem adalah merupakan karakteristik yang dimiliki

oleh sistem yang bergetar. Penentuan frekwensi pribadi sistem yang

mengalami getaran adalah sangat penting untuk mencegah terjadinya

(25)

Jika sistem diberi gangguan berupa gaya luar, maka sistem akan

bergetar pada frekwensi eksitasinya sama dengan salah satu atau lebih

dari frekwensi pribadi sistem, maka akan terjadi resonansi. Dengan

adanya simpangan yang besar maka kondisi resonansi dapat dicegah

dengan menggunakan peredam.

B. Karakteristik Getaran

Dengan cara yang sederhana getaran dapat dilihat pada suatu

pegas tarik yang diberi beban, kemudian beban ditarik dan dilepaskan.

Pada pegas akan terlihat gerakan bolak balik dari posisi netral ke posisi

maksimum dan kembali ke posisi netral. Getaran pada pegas sederhana

disebut getaran harmonis sederhana (lihat gambar 2.1).

Batas Atas Netral Batas Bawah

(26)

Pada gerakan harmonik sederhana, grafiknya berbentuk sinusoidal.

Simpangan getaran (displacement) dinyatakan dalam :

xXsin( t) (2.1)

Kecepatan getaran dinyatakan dalam :

x cosX

 

t (2.2) Percepatan getaran dinyatakan dalam :

x2Xsin

 

t

(2.3)

Kecepatan dan percepatan juga harmonik dengan frekwensi osilasi yang

sama, tetapi mendahului simpangan, berturut-turut dengan /2 dan 

radian. Gambar 2.2 menunjukkan baik perubahan terhadap waktu maupun

hubungan fasa vektor antara simpangan, kecepatan dan percepatan pada

(27)

x X x x x 1800 900 t X x x 2X

Gambar 2.2 Gerak harmonik, kecepatan dan percepatan mendahului

simpangan dengan /2 dan  ( Thomson, 1981 )

C. Parameter Getaran

Kondisi mesin dan gangguan pada mesin dapat ditentukan dengan

mengukur parameter atau ukuran getaran yang terjadi. Parameter getaran

yang sering dipakai adalah :

1. Frekwensi (freqwency)

2. Simpangan (displacement)

3. Kecepatan (velocity)

(28)

Frekwensi (f) dapat diartikan sebagai jumlah siklus yang dapat

ditempuh setiap satuan waktu. Pada umumnya frekwensi dinyatakan

dalam Hertz, yaitu jumlah siklus dalam detik. Sedangkan periode (T) yaitu

waktu yang dibutuhkan untuk menempuh satu siklus sehingga :

f T  1 atau

T

f  1 (2.4)

Simpangan getaran dari puncak ke puncak (peak to peak) diartikan

sebagai jarak yang ditempuh oleh getaran dari puncak atas sampai

puncak bawah. Kecepatan getaran (vibration velocity) dari netral ke

puncak (peak) diartikan sebagai kecepatan gerakan, diukur dari sumbu

netral ke batas maksimum. Kecepatan getaran dinyatakan dalam satuan

inch per detik atau milimeter per detik. Percepatan getaran (vibration

acceleration) diukur dari sumbu netral hingga puncak (peak) dinyatakan

dalam satuan “g”, inch/s2 atau mm/det2. Satuan “g” adalah percepatan

yang dihasilkan gaya gravitasi pada permukaan bumi. Menurut perjanjian

internasional “g” besarnya 980,665 cm/det2 atau 386,087 inch/det2 atau

sama dengan 32,1739 feet/det2.

D. Pemilihan Parameter Pengukuran

Pemilihan parameter pengukuran getaran didasarkan atas rentang

frekwensi dan jenis mesin. Parameter pengukuran getaran berdasarkan

(29)

1. Simpangan

Pengukuran simpangan digunakan untuk mesin yang berputar

pada frekwensi rendah yaitu dibawah 600 rpm.

2. Kecepatan

Pengukuran kecepatan digunakan untuk mesin yang berputar pada

frekwensi antara 600 rpm hingga 60.000 rpm.

3. Percepatan

Pengukuran percepatan digunakan pada mesin yang berputar pada

frekwensi tinggi yaitu lebih dari 60.000 rpm.

Pemeriksaan getaran mesin dapat dilakukan secara permanen, semi

permanen maupun secara off line, pengukuran dapat dilakukan terlebih

dahulu, kemudian analisa. Setiap pengukuran getaran diperlukan

tranduser yang berfungsi sebagai sensor atau penangkap getaran dan

perubahan getaran mekanik menjadi sinyal elektrik.

E. Kekasaran Permukaan

Kekasaran permukaan adalah merupakan tekstur permukaan yang

diperoleh dari hasil pengerjaan yang secara umum dapat dilihat dengan

visual ataupun diraba sehingga kita mengatakan permukaan itu kasar atau

halus. Akan tetapi dalam dunia teknik, kekasaran permukaan suatu benda

(30)

parameter yang bisa digunakan untuk menyatakan kekasaran permukaan

antara lain :

1. Kekasaran rata-rata Aritmatik (mean roughness index), Ra adalah

kekasaran yang diukur dari rata-rata luasan yang terbentuk dari

profil permukaan. Yang dirumuskan sebagai berikut :

l dx hi l Ra 0 1 (2.5)

2. Kekasaran total (peak to valley), Rt yaitu kekasaran yang diukur

dari puncak profil tertinggi ke bagian profil yang terendah.

3. Kekasaran perataan (depth of surface smoothness), Rp yaitu jarak

rata-rata antara profil referensi dengan profil terukur, dapat

dirumuskan sebagai berikut

l dx yi l Rp 0 1 (2.6)

Lihat gambar dibawah ini :

(31)

F. Tinjauan Umum Tentang Proses Mesin Frais

Mesin frais (milling machine) dikelompokkan pada mesin-mesin

perkakas, mesin yang dapat menghasilkan permukaan yang rata dan

berbagai bentuk lainnya, dimana gerakan memotong dilakukan secara

rotasi oleh pahat (cutter) frais dan gerakan meyayat dilakukan oleh

gerakan meja.

Pahat frais dengan diameter tertentu dipasang pada poros utama

(spindel) mesin frais dengan perantaraan poros pemegang untuk pahat

frais selubung atau langsung melalui hubungan dan lubang konis untuk

frais muka yang mempunyai poros konis. Seperti halnya mesin bubut,

putaran poros utama dapat dipilih sesuai dengan tingkatan putaran yang

terasedia pada mesin frais. Posisi sumbu poros utama mesin frais dapat

horizontal dan vertikal, tergantung pada jenis mesinnya. Benda kerja yang

dipasangkan pada meja dapat diatur kecepatan makannya tergantung

pada nilai gerak insut per gigi. Besarnya kecepatan potong antara lain

dipengaruhi oleh jumlah gigi pahat frais (z). Untuk kecepatan potong yang

sama maka gerak insut per gigi (fz) beda jika jumlah gigi tidak sama.

Kedalam potong (a) diatur dengan cara menaikkan meja melalui roda

(32)

1. Elemen dasar proses frais

Elemen-elemen dasar pada proses frais dapat ditentukan dengan

merhatikan gambar 2.4 Dalam hal ini persamaan yang digunakan berlaku

bagi kedua cara mengefrais, mengefrais tegak atau mengefrais datar.

n fz = vf/(nz) Kr a w 4 3 5 6 a 2 1 vf

Gambar 2.4 Proses frais datar (Rochim Taufik, 1993)

2. Bentuk pahat frais horizontal

Pahat frais bergigi miring (s  0, Kr = 90)

Bagi pahat frais bergigi miring (bersudut heliks), lebar pemotongan

(33)

kedalaman potong aksial (w), diameter pahat frais (d) serta sudut posisi

(Ф). Karena adanya sudut miring yang umumnya berharga positif, maka

pojok pahat (perpotongan antara S dengan S’) akan menempati posisi

didepan ujung lain untuk mata potong yang sama pada tepi luar (tepi

permukaan benda kerja yang belum terpotong). Oleh karena itu untuk

menyatakan sudut posisi bagi salah satu gigi pahat frais harus dengan

menyebutkan lokasi ujung depan (leading edge) dan lokasi ujung

belakang (trailing edge), lihat gambar 2.5.

Untuk suatu pahat frais dengan diameter dan sudut miring yang

tertentu, maka kedalam potong aksial w akan menentukan pertemuan

antara mata potong dengan benda kerja sehingga didefinisikan suatu

sudut persentuhan heliks (helical engagement angle), , yaitu :

rad d a s ; 2 / tan

 (2.7)

Sudut persentuhan heliks ini bersama-sama dengan sudut

persentuhan c akan menetukan jumlah gigi efektif z , yaitu : e

z z c z c e / 2          (2.8) cos1

d/2x

 

/ d/2

(2.9) cos2

d/2xw

 

/d/2

Keterangan : rad n persentuha sudut c 2 1 ;     rad heliks n persentuha sudut ;   

(34)

rad gigi sektor sudut z  ;  rad masuk sudut ; cos1rad keluar sudut ; cos2mm pahat diameter d  ; mm frais posisi x  ; mm pemotongan lebar w  ;

Gambar 2.5 proses frais dengan pahat bergigi miring

(Rochim Taufik,1993)

3. Gaya pemotongan pada proses frais

Gerakan dari setiap mata potong pahat frais relatif terhadap benda

kerja merupakan gerakan sikloidal, lihat gambar 2.6. Oleh sebab itu,

bagaimanapun posisi pahat frais relatif terhadap lebar pemotongan (pada

(35)

memotong benda kerja dengan ketebalan geram yang berubah. Jarak

antara sikloidal yang berurutan, pada arah kecepatan makan, akan selalu

sama dan jarak ini dinamakan gerak makan pergigi fz, (feed pertooth,

mm). Gerak makan pergigi

merupakan variabel yang penting dalam proses frais dan harganya

ditentukan oleh gerak insut vf, putaran pahat n, serta jumlah gigi z

Gambar 2.6 Gerakan sikloidal gigi (mata potong) pahat frais

Penampang geram rata-rata pergigi :

           c s z m f d A cos 1 cos 2 sin 2 . (2.10)

Penampang geram rata-rata maksimum tercapai pada saat lebar

geram mencapai harga maksimum dan ujung depan gigi menempati posisi

2 

Amaxbmax.hmax (2.11)

(36)

z d b   sin 2 max  (2.12)

Tebal geram rata-rata dan maksimum :

       c z f h   1 2 max cos cos (2.13)

Gaya pemotongan pergigi maksimum dan rata-rata dapat dihitung

dengan persamaan berikut :

Ftmaxks.Amaxks1.1hmp.Amax (2.14)

p m m s m s tm k A k h A F . 1.1  . (2.15)

Fluktuasi gaya pemotongan :

tm t Ft F Fmax   (2.16) G. Analisis Regresi

Jika kita mempunyai data yang terdiri atas dua atau lebih variabel,

adalah sewajarnya untuk mempelajari cara bagaimana variabel-variabel

itu berhubungan. Hubungan yang didapat umumnya dinyatakan dalam

bentuk persamaan matematik yang menyatakan hubungan fungsional

antara variabel-variabel. Studi yang menyangkut masalah ini dikenal

(37)

1.Model Regresi Linier Sederhana

Seperti pada statistika, analisa regresi juga menentukan hubungan

fungsional yang diharapkan berlaku untuk populasi, berdasarkan sampel

yang diambil dari populasi yang bersangkutan. Untuk analisa regresi

dibedakan atas dua jenis variabel, yaitu antara variabel bebas dan

variabel tak bebas. Model regresi linier sederhana dengan sebuah

variabel adalah :

yx

1

2X

(2.17)

Parameter-parameter 1 dan 2 perlu ditaksir, yaitu oleh a dan b. Dengan

demikian persamaan regresinya adalah :

YabX (2.18)

Dimana Y adalah variabel tak bebas dan X adalah variabel bebasnya.

2. Asumsi-Asumsi Penting dalam Analisa Regresi

1) Hubungan antara Y dan X adalah linier.

2) Galat yang terjadi memiliki rataan nol.

3) Varians dari galat harus konstan.

4) Tidak terjadi keterkaitan antara galat (saling bebas).

(38)

3. Metode Kuadrat Terkecil untuk Regresi Linier

Metode ini berpangkat pada kenyataan bahwa jumlah kuadrat dari

pada jarak antara titik-titk dengan garis regresi yang sedang dicari harus

sekecil mungkin. Untuk fenomena yang terdiri dari sebuah variabel bebas

dan sebuah variabel tak bebas, maka taksiran harga-harga 1 dan 2 oleh

a dan b adalah sebagai berikut :



   2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 X X n Y X X X Y a (2.19)



   2 1 2 1 1 1 1 1 X X n Y X Y X n b (2.20)

4. Regresi Tak Linier

Untuk model regresi tak linier, persamaannya harus dikembalikan

pada model linier, sebagai contoh, dibawah ini akan ditinjau salah satu

model regresi tak linier yang akan dikembalikan ke bentuk linier.

Model eksponensial :

Y = abx

Persamaan diatas dapat dikembalikan pada model linier apabila diambil

logaritmanya. Persamaannya menjadi :

(39)

5. Regresi linier berganda

Model regresi berganda yang mengandung lebih satu variabel

bebas disebut regresi linier berganda. Regresi Y atas X1, X2,... Xk ,

akan ditaksir oleh :

Ya0a1X1a2X2 ...akXk (2.21)

dengan a0, a1, a2,... ak merupakan koefisien-koefisien yang harus

ditentukan berdasarkan data hasil pengamatan.

Koefisien-koefisien a0, a1, a2,... ak , ditentukan dengan

mengunakan metode kwadrat terkecil, seperti halnya menentukan

koefisien-koefisien a dan b untuk regresi linier sederhana.

H. Analisis Korelasi

Menurut Usman dan Husaini (1995) korelasi adalah istilah statistik

yang menyatakan derajat hubungan linier antara dua variabel atau lebih,

yang ditemukan oleh Karl Perason pada awal 1900. Oleh sebab itu

terkenal dengan nama korelasi Perason Product Moment (PPM). Korelasi

merupakan salah satu teknik analisis statistik yang paling banyak

digunakan. Hubungan antara dua variabel bukanlah merupakan hubungan

sebab akibat timbal balik melainkan merupakan hubungan akibat searah.

Menurut Hasan dan Iqbal (1999) pada analisa korelasi dikenal

(40)

bebas (Vriabel independent) yang merupakan penyebab. Variabel bebas

biasanya dilambangkan dengan huruf X , sedangkan variabel terikat

biasanya dilambangkan dengan huruf Y . Variabel bebas adalah variabel

yang nilai-nilainya tidak bergantung pada variabel lain dan digunakan

untuk meramalkan atau menerangkan nilai variabel lain. Variabel terikat

adalah variabel nilai-nilainya bergantung pada variabel lain dan

merupakan variabel yang diramalkan atau diterangkan nilainya. Korelasi

digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel bebas atau lebih

yang secara bersama-sama dihubungkan dengan variabel terikat.

Korelasi yang terjadi antara dua variabel dapat berupa korelasi positif,

negatif, sempurna atau tidak ada korelasi.

1. Korelasi positif adalah korelasi dari dua variabel, yaitu apabila

variabel X meningkat maka variabel Y cendrung meningkat pula.

2. Korelasi negatif adalah korelasi dari dua variabel, yaitu apabila

variabel X meningkat maka variabel Y cendrung menurun.

3. Korelasi sempurna adalah korelasi dari dua variabel, yaitu apabila

kenaikan atau penurunan variabel X berbanding dengan kenaikan

atau penurunan variabel Y .

4. Tidak ada korelasi, yaitu apabila kedua variabel X dan variabel Y

(41)

• • • • • • • • • • •• • • • • • • • a. Korelasi positif b. Korelasi negatif

• • • • • • • • • • • • • • • •• •• • • • • ••• • • • • •

c. Tidak ada korelasi d. Korelasi sempurna

Gambar 2.7 Jenis-jenis Korelasi ( Hasan Iqbal.1999 )

Korelasi dibedakan 2 kelompok, yaitu :

1. Korelasi biasa, bila variabel bebasnya hanya satu

2. Korelasi ganda, bila variabel bebasnya lebih dari satu.

Koefisien korelasi merupakan indeks atau bilangan yang digunakan

untuk mengukur kedekatan hubungan antara variabel. Koefisien korelasi

disimbolkan “r”, yang memiliki nilai -1 dan +1 (-1  r  1).

a. Jika r bernilai positif maka variabel-variabel berkorelasi positif.

Semakin dekat nilai r ke +1 semakin kuatkorelasinya, demikian pula

(42)

b. Jika r bernilai negatif maka variabel-variabel berkorelasi negatf.

Semakin dekat nilai r ke -1 semakin lemah korelasinya, demikian

pula sebaliknya.

c. Jika r bernilai 0 (nol) maka variabel-variabel tidak menunjukkan

korelasi.

d. Jika r bernilai +1 atau -1 maka variabel-variabel menunjukkan

berkorelasi positif negatif sempurna.

Jika r dikuadratkan, akan menjadi koefisien determinasi atau koefisien

penentu. Artinya, penyebab perubahan pada variabel Y datang dari

variabel X sebesar r2.Ada beberapa jenis koefisien korelasi, antara lain

sebagai berikut :

1. Koefisien korelasi linier

Koefisien korelasi linier adalah indeks atau angka yang digunakan

untuk mengukur keeratan hubungan antara dua variabel yang sifatnya

linier. Koefisien korelasi linier dapat dihitung dengan menggunakan

metode least square atau metode product moment.

a. Metode least square

 

    2 2 2 2 . X X n X X n Y X XY n r (2.22)

(43)

b. Metode product moment

 

 2 2. y x xy r (2.23) Keterangan : r = koefisien korelasi

x = deviasi rata-rata variabel X

= X X

y = deviasi rata-rata variabel Y

= Y Y

2. Koefisien korelasi linier berganda

Koefisien korelasi linier berganda adalah indeks atau angka yang

digunakan untuk mengukur keeratan hubungan antara tiga variabel atau

lebih. Koefisien korelasi berganda dirumuskan :

2 23 23 13 12 2 13 2 12 23 . 1 1 2 r r r r r r R     (2.24) keterangan :

R1.23 = koefisien korelasi linier tiga variabel

r12 = koefisien korelasi variabel 1 dan 2

r13 = koefisien korelasi variabel 1 dan 3

(44)

3. Koefisien korelasi rank

Koefisien korelasi rank adalah indeks atau angka yang dipakai untuk

mengukur keeratan korelasi antara dua variabel yang didasarkan atas

renking atau tingkatan.

1

6 2 2 '  

n n d r (2.25) keterangan :

r’ = koefisien korelasi rank

d = selisih dalam rank

n = banyaknya pasangan rank

4. Koefisien korelasi bersyarat

Koefisien korelasi bersyarat digunakan untuk data kualitatif. Data

kualitatif adalah data-data yang tidak berbentuk angka-angka, melainkan

berupa kategori-kategori, misalnya data yang berkategori kurang, cukup,

sangat cukup atau tinggi, menengah atau sedang, rendah, atau

gejala-gejala yang bersifat nominal. Koefisien korelasi bersyarat dirumuskan :

n X X C   2 2 (2.26) keterangan : X = chi kuadrat

n = jumlah semua frekwensi

(45)

5. Koefisien korelasi parsial

Koefisien korelasi parsial adalah indeks atau angka yang digunakan

untuk mengukur keeratan hubungan antara dua variabel, jika variabel

lainnya konstan, pada hubungan yang melibatkan lebih dari dua variabel.

koefisien korelasi parsial untuk tiga variabel dirumuskan sebagai berikut :

a. Koefisien korelasi antara Y dan X2, apabila X3 konstan dirumuskan :



2

23 2 13 23 13 12 3 . 12 1 1 . r r r r r r     (2.27)

b. Koefisien korelasi antara Y dan X3, apabila X2 konstan dirumuskan :



2

23 2 12 23 12 13 2 . 13 1 1 . r r r r r r     (2.28)

c. Koefisien korelasi antara X2 dan X3, apabila Y konstan dirumuskan :



2

13 2 12 13 12 23 1 . 23 1 1 . r r r r r r     (2.29)

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Teknologi Mekanik

Politeknik Negeri Ujung Pandang Januari sampai Maret 2011.

B. Bahan yang Digunakan

Material yang akan diuji ada dua yaitu st 42 dan st 60 (hasil uji tarik

terlampir). Pada penelitian ini respon yang dilakukan akan diamati berupa

amplitudo getaran dan kekasaran permukaan. Untuk setiap kedalaman

potong dan putaran spindel dilakukan lima kali pengambilan data dengan

empat tingkat gerak insut dan dua jenis bahan yang berbeda.

C. Alat yang Digunakan

Mesin perkakas yang dipakai sebagai alat penelitian adalah mesin

frais Horizontal dengan spesifikasi sebagai berikut :

Jenis : Konvensional Type 2735

Merek : Schaublin SA 13

Buatan : Swiss

Putaran Spindel : 58 sampai 2000 rpm

Daya Motor : 0,9 – 1,5 kW ; 380 V

(47)

Surface Test (pengukur kekasaran permukaan)

Merek : Surtronic 3+

Buatan : Italia

Sistem Gerak : Bolak-balik

Kecepatan Gerak : 2 – 6 mm/det

Panjang Gerakan : 2 – 20 mm

Bahan stylus : intan

D. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian ini dimaksudkan sebagai cara mendapatkan

data berupa penentuan variabel penelitian dan penentuan jenis material.

Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah :

1. Gerak Insut (vf):

Pada rancangan penelitian ini digunakan empat tingkat gerak insut,

yaitu masing-masing 12, 18, 26 dan 38 (mm/mnt)

2. Kedalaman potong (a) :

Kedalaman potong dirancang sebanyak lima yaitu masing-masing

0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 0,8 ; dan 1.0 (mm).

3. Putaran spindel (n) :

Putaran spindel untuk baja permesinan antara 180 – 250 rpm,

dalam hal ini dipilih empat putaran spindel masing-masing 180,

200, 220, dan 240 (rpm).

4. Dimensi benda kerja, benda kerja berbentuk balok dengan ukuran

(48)

E. Skema Peralatan

Pada pengujian ini digunakan mesin frais horizontal dan skema

perlatan diperlihatkan pada gambar 3.1

1 2 3 4 5 Keterangan gambar :

1. Mesin frais horizontal

2. Sensor vibration

3. Cutter frais

4. Benda kerja

5. Vibrocord

(49)

F. Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan penelitian ini dibagi beberapa tahap, yaitu tahap persiapan,

tahap pembuatan benda uji, pembuatan benda kerja, tahap pengujian dan

tahap analisa. Baja karbon sebagai benda uji dibentuk sesuai dengan

standar uji SI. Dari hasil uji material akan diperoleh hasil berupa tegangan

ultimate dan perpanjangan, selanjutnya pembuatan benda kerja berbentuk

persegi panjang dengan ukuran (60 x 40 x 600) mm sebanyak 4 buah.

Benda kerja tersebut diuji pada mesin frais horisontal dengan variabel

yang divariasikan (lihat rancangan penelitian), dari hasil uji didapatkan

amplitudo getaran dan kekasaran permukaan benda kerja dengan

mengunakan alat vibrocord dan sutronic 3+. Data-data yang diperoleh dari

uji amplitudo getaran dan kekasaran permukaan dianalisa secara grafik

(50)

G. Prosedur Percobaan dan Pengambilan Data

Untuk mendapatkan data penelitian seperti yang telah dirancang,

maka diperlukan suatu prosedur pengambilan data sebagai berikut :

1. Meja mesin frais dileveling terlebih dahulu dengan tingkat toleransi

yang diijinkan 0,02 sesuai dengan buku manual Schaublin.

2. Kondisi mesin frais keadaanya bersih dari sisa geram pemotongan,

kemudian pemasangan ragum yang diset dengan memakai dial

indikator untuk kondisi ragum sejajar dengan meja frais.

3. Sensor vibrocord diletakkan pada kepala mesin frais horizontal (lihat

gambar 3.1) yang telah dihubungkan dengan monitor.

4. Benda kerja dicekam ragum dan siap untuk mengambil data

5. Spindel mesin frais telah ditentukan putaran, gerak insut dan

kedalaman potong.

6. Pengamatan dilakukan selama proses pemotongan dan hasil getaran

yang terlihat pada monitor vibrocord dicatat.

7. Setelah proses pengambilan data getaran maka benda kerja dilepas

dari ragum, kemudian dibersihkan dari geram pemotongan dan

dilakukan pengambilan data kekasaran permukaan.

8. Pengambilan data berulang sesuai dengan yang dirancang dari dua

bahan dan empat tingkat gerak insut yang berbeda.

9. Kumpulkan dan susun semua data yang digunakan untuk dianalisa

(51)

Gambar 3.2 Skema Pelaksanaan Penelitian Dimensi benda uji

standar SI

ao = 5 mm, bo = 16 mm, Lo = 50,5 mm

Gaya tarik maksimum (N)

Dimensi benda kerja (40 x 40 x 600) mm

Variabel yang divariasikan B = St 42 dan St 60

n = 180, 200, 220, 240 rpm w = 0.2,0.4, 0.6, 0.8, 1.0 mm Vf= 12, 18, 26, 38 mm/mnt

Uji Amplitudo Getaran dan Kekasaran Permukaan Mesin Frais Vibrocord Sutronic 3+ Stop Pustaka Persiapan Pembuatan Benda Kerja Uji Tarik Mulai

(52)

G. Teknik Analisa Data

Dari proses pemotongan pada mesin frais data pengukuran yang

diperoleh berupa amplitudo getaran dan kekasaran permukaan diolah

secara garfik dan statistik. Data-data yang diperoleh diploting dalam

grafik, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh putaran, gerak

insut, kedalaman potong terhadap amplitudo getaran dan kekasaran

permukaan pada kedua jenis benda kerja (st 42 dan st 60), analisa

selanjutnya ialah analisa statistik dengan menggunakan program SPSS

(Statistical Package for Social Sciences), dengan metode regresi dan

korelasi, untuk mengetahui berapa besar pengaruh dan hubungan

variabel-variabel (benda kerja, putaran, gerak insut, dan kedalaman

potong) terhadap amplitudo getaran dan kekasaran permukaan, serta

(53)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Teknologi Mekanik

Politeknik Negeri Ujung Pandang Januari sampai Maret 2011.

B. Bahan yang Digunakan

Material yang akan diuji ada dua yaitu st 42 dan st 60 (hasil uji tarik

terlampir). Pada penelitian ini respon yang dilakukan akan diamati berupa

amplitudo getaran dan kekasaran permukaan. Untuk setiap kedalaman

potong dan putaran spindel dilakukan lima kali pengambilan data dengan

empat tingkat gerak insut dan dua jenis bahan yang berbeda.

C. Alat yang Digunakan

Mesin perkakas yang dipakai sebagai alat penelitian adalah mesin

frais Horizontal dengan spesifikasi sebagai berikut :

Jenis : Konvensional Type 2735

Merek : Schaublin SA 13

Buatan : Swiss

Putaran Spindel : 58 sampai 2000 rpm

Daya Motor : 0,9 – 1,5 kW ; 380 V

(54)

Surface Test (pengukur kekasaran permukaan)

Merek : Surtronic 3+

Buatan : Italia

Sistem Gerak : Bolak-balik

Kecepatan Gerak : 2 – 6 mm/det

Panjang Gerakan : 2 – 20 mm

Bahan stylus : intan

D. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian ini dimaksudkan sebagai cara mendapatkan

data berupa penentuan variabel penelitian dan penentuan jenis material.

Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah :

5. Gerak Insut (vf):

Pada rancangan penelitian ini digunakan empat tingkat gerak insut,

yaitu masing-masing 12, 18, 26 dan 38 (mm/mnt)

6. Kedalaman potong (a) :

Kedalaman potong dirancang sebanyak lima yaitu masing-masing

0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 0,8 ; dan 1.0 (mm).

7. Putaran spindel (n) :

Putaran spindel untuk baja permesinan antara 180 – 250 rpm,

dalam hal ini dipilih empat putaran spindel masing-masing 180,

200, 220, dan 240 (rpm).

8. Dimensi benda kerja, benda kerja berbentuk balok dengan ukuran

(55)

E. Skema Peralatan

Pada pengujian ini digunakan mesin frais horizontal dan skema

perlatan diperlihatkan pada gambar 3.1

1 2 3 4 5 Keterangan gambar :

6. Mesin frais horizontal

7. Sensor vibration

8. Cutter frais

9. Benda kerja

10. Vibrocord

(56)

F. Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan penelitian ini dibagi beberapa tahap, yaitu tahap persiapan,

tahap pembuatan benda uji, pembuatan benda kerja, tahap pengujian dan

tahap analisa. Baja karbon sebagai benda uji dibentuk sesuai dengan

standar uji SI. Dari hasil uji material akan diperoleh hasil berupa tegangan

ultimate dan perpanjangan, selanjutnya pembuatan benda kerja berbentuk

persegi panjang dengan ukuran (60 x 40 x 600) mm sebanyak 4 buah.

Benda kerja tersebut diuji pada mesin frais horisontal dengan variabel

yang divariasikan (lihat rancangan penelitian), dari hasil uji didapatkan

amplitudo getaran dan kekasaran permukaan benda kerja dengan

mengunakan alat vibrocord dan sutronic 3+. Data-data yang diperoleh dari

uji amplitudo getaran dan kekasaran permukaan dianalisa secara grafik

(57)

G. Prosedur Percobaan dan Pengambilan Data

Untuk mendapatkan data penelitian seperti yang telah dirancang,

maka diperlukan suatu prosedur pengambilan data sebagai berikut :

10. Meja mesin frais dileveling terlebih dahulu dengan tingkat toleransi

yang diijinkan 0,02 sesuai dengan buku manual Schaublin.

11. Kondisi mesin frais keadaanya bersih dari sisa geram pemotongan,

kemudian pemasangan ragum yang diset dengan memakai dial

indikator untuk kondisi ragum sejajar dengan meja frais.

12. Sensor vibrocord diletakkan pada kepala mesin frais horizontal (lihat

gambar 3.1) yang telah dihubungkan dengan monitor.

13. Benda kerja dicekam ragum dan siap untuk mengambil data

14. Spindel mesin frais telah ditentukan putaran, gerak insut dan

kedalaman potong.

15. Pengamatan dilakukan selama proses pemotongan dan hasil getaran

yang terlihat pada monitor vibrocord dicatat.

16. Setelah proses pengambilan data getaran maka benda kerja dilepas

dari ragum, kemudian dibersihkan dari geram pemotongan dan

dilakukan pengambilan data kekasaran permukaan.

17. Pengambilan data berulang sesuai dengan yang dirancang dari dua

bahan dan empat tingkat gerak insut yang berbeda.

18. Kumpulkan dan susun semua data yang digunakan untuk dianalisa

(58)

Gambar 3.2 Skema Pelaksanaan Penelitian Dimensi benda uji

standar SI

ao = 5 mm, bo = 16 mm, Lo = 50,5 mm

Gaya tarik maksimum (N)

Dimensi benda kerja (40 x 40 x 600) mm

Variabel yang divariasikan B = St 42 dan St 60

n = 180, 200, 220, 240 rpm w = 0.2,0.4, 0.6, 0.8, 1.0 mm Vf= 12, 18, 26, 38 mm/mnt

Uji Amplitudo Getaran dan Kekasaran Permukaan Mesin Frais Vibrocord Sutronic 3+ Stop Pustaka Persiapan Pembuatan Benda Kerja Uji Tarik Mulai

(59)

G. Teknik Analisa Data

Dari proses pemotongan pada mesin frais data pengukuran yang

diperoleh berupa amplitudo getaran dan kekasaran permukaan diolah

secara garfik dan statistik. Data-data yang diperoleh diploting dalam

grafik, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh putaran, gerak

insut, kedalaman potong terhadap amplitudo getaran dan kekasaran

permukaan pada kedua jenis benda kerja (st 42 dan st 60), analisa

selanjutnya ialah analisa statistik dengan menggunakan program SPSS

(Statistical Package for Social Sciences), dengan metode regresi dan

korelasi, untuk mengetahui berapa besar pengaruh dan hubungan

variabel-variabel (benda kerja, putaran, gerak insut, dan kedalaman

potong) terhadap amplitudo getaran dan kekasaran permukaan, serta

(60)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil analisis dan pembahasan data penelitian proses

pengefraisan pada mesin frais horisontal dapat disimpulkan sebagai

berikut :

1. Pengaruh getaran sangat signifikan berpengaruh terhadap

kekasaran permukaan dimana getaran semakin naik, kekasaran

permukan pada benda kerja juga semakin meningkat.

2. Korelasi variabel benda kerja terhadap amplitudo getaran 57.5 %

dan kekasaran permukaan 63.3 %, putaran terhadap amplitudo

getaran 57.2 %, dan kekasaran permukaan 31.5 %, gerak insut

terhadap amplitudo getaran 33.4 %, selanjutnya kekasaran

permukaan 45.6 %, kedalaman potong terhadap amplitudo getaran

37.6 %, dan kekasaran permukaan 44.4 %, serta Amplitudo getaran

terhadap kekasaran permukaan 90.0%.

(61)

Untuk kegiatan penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan

proses mengefrais dengan variabel sudut pahat atau jenis pahat yang

(62)

Lampiran 1. a Tabel Pengamatan Data St 42 No n a Vf 12 18 26 38 G Ra G Ra G Ra G Ra 1 180 0.2 3.9 2.2 4.8 3.4 6.4 4.0 7.0 5.0 2 0.4 4.8 2.4 6.0 3.6 7.0 5.0 8.2 5.4 3 0.6 5.9 3.0 7.2 4.0 7.8 5.6 9.0 6.0 4 0.8 6.5 3.3 8.0 4.5 8.6 5.9 10.8 6.4 5 1.0 7.9 3.7 8.9 4.9 10.5 6.0 12.0 6.8 1 200 0.2 3.6 2.2 4.0 3.2 5.4 4.0 6.0 4.4 2 0.4 5.0 2.4 5.2 3.6 6.0 4.4 7.2 4.8 3 0.6 5.4 2.6 6.4 3.8 7.0 4.9 8.0 5.2 4 0.8 5.8 2.9 7.0 4.2 7.8 5.4 8.9 6.0 5 1.0 6.2 3.2 8.0 4.4 9.2 5.6 9.4 7.0 1 220 0.2 2.6 1.6 2.8 3.0 4.0 3.6 5.0 4.4 2 0.4 3.0 1.9 3.0 3.4 4.3 3.8 5.8 4.9 3 0.6 3.2 2.0 3.8 3.6 5.0 4.4 6.2 5.4 4 0.8 4.0 2.6 4.6 3.8 5.8 4.9 7.0 5.6 5 1.0 5.0 2.9 5.2 4.0 6.0 5.2 7.8 5.9 1 240 0.2 1.0 1.4 1.7 2.6 3.2 3.0 3.8 3.6 2 0.4 2.4 2.0 2.2 2.9 3.6 3.8 4.4 4.0 3 0.6 2.8 2.4 3.2 3.0 4.0 4.0 4.9 4.6 4 0.8 3.0 2.8 3.6 3.4 4.6 4.4 5.2 4.9 5 1.0 3.9 3.0 4.0 3.8 5.0 4.8 6.0 5.4 Keterangan : n = Putaran spindel (rpm) a = Kedalaman potong (mm) Vf = Gerak insut (mm/menit) G = Amplitudo getaran (μm) Ra = Kekasaran permukaan

(63)

No n a Vf 12 18 26 38 G Ra G Ra G Ra G Ra 1 180 0.2 8.0 5.2 9.0 6.0 12.0 6.4 13.4 7.0 2 0.4 9.2 5.8 10.2 6.4 12.6 6.9 14.2 7.8 3 0.6 10.6 6.4 11.0 7.4 13.4 8.0 15.6 8.2 4 0.8 12.0 7.2 12.0 8.9 14.0 9.8 16.0 8.9 5 1.0 13.0 8.4 13.8 9.0 15.8 10.0 17.0 11.0 1 200 0.2 6.9 4.4 7.4 4.6 8.0 5.0 8.0 5.6 2 0.4 7.4 5.2 7.9 5.8 8.4 6.0 8.8 6.4 3 0.6 7.8 5.8 8.8 6.0 9.0 6.6 9.8 7.2 4 0.8 8.6 6.2 9.4 6.4 10.4 7.2 11.0 8.0 5 1.0 9.0 7.0 10.9 7.8 12.9 8.4 13.4 8.9 1 220 0.2 6.0 3.6 6.4 4.2 7.2 4.6 7.8 4.6 2 0.4 6.4 4.0 7.2 5.6 7.9 6.0 8.8 6.8 3 0.6 7.0 5.2 7.9 6.0 8.4 6.6 9.6 7.6 4 0.8 7.6 6.0 8.4 6.4 9.2 7.2 10.4 7.8 5 1.0 8.2 7.4 9.2 7.2 10.8 8.4 11.9 8.8 1 240 0.2 4.8 3.2 6.0 4.0 4.0 4.2 6.8 4.8 2 0.4 5.4 3.4 6.6 4.4 4.6 5.4 7.6 5.8 3 0.6 6.2 3.9 7.2 4.8 4.9 5.8 8.4 6.4 4 0.8 6.8 4.2 7.6 5.6 5.6 6.4 9.6 7.4 5 1.0 7.6 4.8 8.6 7.0 6.2 7.4 10.2 8.4 Keterangan : n = Putaran spindel (rpm) a = Kedalaman potong (mm) Vf = Gerak insut (mm/menit) G = Amplitudo getaran (μm) Ra = Kekasaran permukaan

Lampiran 2.a : Tabel Data Pengujian Tarik 1.Bahan baja St 42

Dimensi awal

Panjang ukur Lo : 50 mm Diameter awal : 8.9 mm Diameter patah : 7.1 mm

(64)

A. Tabel Data Hasil Pengujian

No Gaya Tarik Penampang Penampang Panjang F (N) Awal Ao (mm2) patah A1 (mm2 ) patah Lo (mm) 1 17920 2 26160 62.21 39.59 62.38 3 21240 Tabel Hasil Analisa Data No

Tegangan Regangan Reduksi

Ket Tarik σt (N/mm2) ε(%) Penampang Ar (%) 1 288.05 Yield 2 420.5 24.76 36.36 Maks 3 341.42 Patah

Lampiran 2. b Bahan baja St 60 Dimensi Awal :

Panjang Ukur (Lo) : 50 mm Diameter Awal (Do) : 9 mm Diameter Patah (Di) : 7.9 mm II. Tabel Data Hasil Pengujian

(65)

No

Gaya Tarik Penampang Penampang Panjang

F (N) Awal Ao (mm2) patah A1 (mm2) patah Lo (mm) 1 22050 2 38430 63.62 49.02 55.46 3 32140

Tabel Hasil Analisa Data

No

Tegangan Regangan Reduksi

Ket Tarik σt (N/mm2) ε(%) Penampang Ar (%) 1 346.6 Yield 2 604.08 10.92 22.95 Maks 3 505.21 Patah

(66)
(67)
(68)

Poto Pengambilan Data Amplitudo Getaran Poto Pengambilan Data Amplitudo Getaran

(69)

Poto Pengukuran Kekasaran Poto Pengukuran Kekasaran St 42

(70)

Poto Pengukuran Kekasaran Poto Pengukuran Kekasaran St 60

(71)
(72)
(73)
(74)

DAFTAR PUSTAKA

Anzarih, A.M., 2004, Analisis Getaran Terhadap Kekasaran Permukaan

Baja Karbon pada Prosess Frais dengan Variasi Sudut Potong Pahat HSS, Tesis, Pascasarjana Universitas Hasanuddin,

Makassar.

Oegik, S, “ Simulasi Komputer untuk Memprediksi Besarnya Daya

Pemotongan pada Proses Cylindrical Turning Berdasarkan Parameter Underformed Chip Thickness ” , Jurnal UK Petra ,

Vol. 4 No. 1 April 2002 .

Bidangan, M, 2004, Analisis Simpangan Pahat pada Pembubutan Baja

Karbon, Tesis, Pasca Serjana Universitas Hasanuddin Makassar.

Yusran Aminy, A. 2002. Optimasi Umur Pahat pada Pembubutan Material

Baja Karbon. Tesis , Pascaserjana Universitas Hasnuddin

Makassar

Richim Taufik, 1993, Teori & Teknologi Prosese Permesinan, Higher Education Development Support Projet, ITB, Bandung

Alhusain Syahri, 2003, Aplikasi Statistik Praktis dengan SPSS. 10 For

Windows, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Boothroyd, Geoffrey, 1986, Fundamentals of Meat Machining and

Machine tools, Washinton D.C.

Castillo, E.D., and Montgomery, D.C. 1999, A Non-Linier Programming

solution To the Dual Response Problem. Journal of Quality Teknology.

Cook, N.H., 1973, Tool Wear and Tool life, Journal of Enginering for

(75)

Hasan Iqbal, 1999, Pokok-pokok Materi Statistik 1 dan 2, Bumi Aksara,

Jakarta.

Holowenko, H.R., 1955, Dynamics of Mchines, Jonh Wiley and Sonc, Inc, New York.

Farago, T. Franchis, 1969, Handbook of Dimension Measurment, Pres Inc.,200 Madison Avenue, New York.

Rochim Taufik, Wirjomartono, dan Sri Hardjoko, 1993, Spesifikasi dan

Meteorologi Industri, Jurusan Teknik Mesin ITB. Bandung.

Sudjana, 1996, Metode Statistika, Tarsito, Bandung

Thompson, W.T. 1981, Teori Getaran dengan Penerapan, Erlangga, Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

 Untuk data hasil pengaruh interaksi kedalaman potong dan gerak makan terhadap Ra permukaan poros bertingkat pada proses bubut dengan mesin. didapat nilai Ra yang

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mencari seberapa besar pengaruh parameter potong seperti viskositas cairan pendingin, kedalaman pemakanan dan putaran spindel yang

Nilai kekasaran dan kedalaman potong 1mm dengan nilai Ra 1,28 permukaan yang paling besar adalah pada kecepatan potong 17m/detik, gerak makan 0,40mm/put dan kedalaman

Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekasaran permukaan dipengaruhi oleh kondisi pemotongan seperti panjang penjuluran, besar feeding dan kedalaman potong yang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi arah pemakanan dan sudut permukaan bidang kerja pada proses mesin frais CNC pada material S45C menggunakan

Permasalahan yang diteliti adalah untuk mengetahui analisis pengaruh variasi kecepatan potong, gerak makan dan kedalaman potong terhadap nilai kekasaran permukaan material

Gerak makan sangat mempengaruhi kekasaran permukaan, diikuti kecepatan potong, dan kedalaman pemotongan dengan mempergunakan Response Surface Methodology [1].Parameter

Saran Sebagai saran dari hasil penelitian ini adalah bahwa setiap operator mesin bubut hendaknya memperhatikan pemilihan atau kesesuaian antara putaran mesin dan kedalaman potong