• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laparoskopi: Teknologi Canggih dalam Pengelolaan Pembedahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laparoskopi: Teknologi Canggih dalam Pengelolaan Pembedahan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Laparoskopi: Teknologi Canggih dalam

Pengelolaan Pembedahan

Laparoscopy: a cutting age surgical technology

Achmad Fuadi1*

ABSTRACT

An invasive surgery has long been used in which a large incision is made to reach surgical points. This report describes Laparoscopy, the cutting age surgical procedure. This surgery causes a large incision, longer discharge from the hospital, longer post operative disability at work. Laparoscopy is a surgical procedure performed through very small incisions in the abdomen, using specialized instruments. A pencil-thin instrument called a laparoscope is used, and it gives the surgeon an exceptionally clear view, on a TV monitor, of the inside of the abdominal cavity. The abdomen is inflated with carbon dioxide gas to provide a working and viewing space for the surgeon. Laparoscopy is now the standard procedure for the management for patient with cholesystostomy. The advantages of this procedure includes small incisions, little blood loss, less post-operative pain and need for pain medication leading to earlier discharge from the hospital and shorter post-operative disability at home. Laparoscopy is the cutting age surgical procedure with needs to be introduced to the society and patients and families since it has advantages, it can be a primary choise for a certain operation. It is expedted that it will develop well in the future (Sains Medika 2(1): 98-106).

Key words: Laparoscopy, surgery, cholesystostomy

ABSTRAK

Pembedahan terbuka sudah lama dikenal dalam dunia kedokteran, dimana ahli bedah untuk mencapai lokasi pembedahan memerlukan irisan yang lebar. Hal ini menyebabkan terjadinya bekas luka operasi yang lebar, nyeri pascaoperasi yang lebih terasa, lama tinggal di rumah sakit yang lebih lama, masa kerja pasien terkurangi lebih lama. Tulisan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan dan memberi informasi mengenai laparoskopi yaitu suatu teknologi canggih yang dipergunakan dalam pengelolaan pembedahan. Laparoskopi atau minimally invasive

merupakan teknologi canggih yang dipergunakan untuk mengelola pembedahan sebagai pengganti pembedahan terbuka yang sudah lama dikenal. Teknologi ini menggunakan lensa teleskop untuk mendapatkan gambaran yang jelas pada layar monitor. Operator dalam melaksanakan operasi menggunakan hand instrument. Lapangan operasi pada abdomen diperluas dengan dimasukkannya gas karbon dioksida. Bedah laparoskopi sekarang menjadi standar untuk pengelolaan pasien kolelitiasis simptomatis. Laparoskopi merupakan prosedur operasi yang menggunakan teknologi canggih yang perlu untuk lebih dikenalkan kepada masyarakat atau pasien dan keluarga. Mengingat keuntungan laparoskopi diharapkan laparoskopi dapat menjadi pilihan utama pasien untuk operasi tertentu. Diharapkan laparoskopi akan semakin berkembang di kemudian hari (Sains Medika 2(1): 98-106).

Kata kunci: laparoskopi, pembedahan, kolesistektomi

PENDAHULUAN

Bedah laparoskopi, disebut juga bedah minimally invasive, atau keyhole surgery

merupakan teknik bedah modern dimana operasi abdomen melalui irisan kecil (biasanya

0,5-1 cm) dibandingkan dengan prosedur bedah tradisional yang memerlukan irisan yang

lebih besar, dimana tangan ahli bedah masuk ke badan pasien. Beberapa praktisi

kadang-kadang menggunakan istilah yang salah yaitu bedah mikroskopik, ini mengacu pada irisan

yang kecil. Laparoskopi mencakup operasi dalam abdomen dan pelvis. Teknologi ini

(2)

menggunakan lensa teleskop untuk mendapatkan gambaran yang jelas pada layar monitor.

Operator dalam melaksanakan operasi menggunakan hand instrument. Lapangan operasi

pada abdomen diperluas dengan dimasukkannya gas karbondioksida. Laparoskopi bedah

sekarang menjadi standar untuk pengelolaan pasien kolelitiasis (Wikipedia, 2009a).

Teknik pembedahan dengan laparoskopi sekarang menjadi pilihan (Leo et al., 2006)

dan gold standard (Tayeb et al., 2005) untuk kolesistektomi. Teknik ini memberikan banyak

keuntungan yaitu meningkatkan pemulihan pasien dengan mengurangi nyeri, waktu tinggal

di rumah sakit lebih pendek, dan lebih cepat kembali ke aktivitas harian yang normal

(Vittimberga et al., 1998; MacFadyen, 2004; Tayeb et al., 2005; Leo et al., 2006). Bedah

laparoskopi berhubungan dengan insisi kulit yang kecil sehingga membuat kondisi setelah

operasi lebih menyenangkan bagi pasien (Schietroma et al., 2004). Pendekatan ini juga

lebih hemat bagi penyelenggara kesehatan (MacFadyen, 2004).

Tulisan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan dan memberi informasi mengenai

laparoskopi yaitu suatu teknologi canggih yang dipergunakan dalam pengelolaan

pembedahan. Laparoskopi diharapkan dapat lebih dikenal oleh masyarakat dan menjadi

pilihan utama pasien dalam pengelolaan pembedahan. Laparoskopi diharapkan akan lebih

berkembang untuk pengelolaan pembedahan atas indikasi banyak penyakit.

TINJAUAN PUSTAKA

Sejarah Laparoskopi

Pada tahun 1901 dilakukan percobaan untuk menciptakan metoda baru untuk

mengontrol perdarahan gastrointestinal dengan menggunakan pneumoperitoneum (udara

dimasukkan ke dalam rongga abdomen). George Killing menempatkan cystoscope ke dalam

rongga peritoneum untuk mengobservasi efek peningkatan tekanan pneumoperitonium

pada usus halus. Penemuan laparoskopi sederhana diawali oleh Killing, seorang peneliti

dari Universitas Leipzig, Dresden, Jerman yaitu teknik Lufttamponade melalui penelitian

kontrol perdarahan gastrointestinal dengan memompakan udara 50-100 mmHg ke dalam

rongga abdomen (Soper et al., 2004).

Pada tahun 1910, seorang ahli bedah dari Stockholm, Hans Christian Jacobaeus,

(3)

telah melakukan laparoskopi pada 72 pasien. Pada tahun yang sama Killing melaporkan

penggunaan cystoscop untuk peritoneoscopy pada 45 pasien. Bernheim merupakan seorang

ahli bedah dari rumah sakit Universitas John Hopkins yang pertama kali mengaplikasikan

laparoskopi di Amerika Serikat (Soper et al., 2004).

Pada awalnya pneumoperitoneum dalam prosedur laparoskopi dilakukan dengan

memompakan udara ke dalam rongga abdomen menggunakan tangan, kemudian Goetze

pada tahun 1921 pertama kali melakukan insuflasi (memasukkan gas menggunakan alat).

Penggantian udara menjadi karbondioksida diawali pada tahun 1924 oleh Zollikofer dengan

pertimbangan keamanan. Selanjutnya, prosedur laparoskopi lambat laun menjadi lebih

canggih dengan visualisasi organ abdomen yang lebih baik (Soper et al., 2004).

Perubahan besar pada teknologi laparoskopi terjadi pada awal tahun 1950 melalui

penggunaan cahaya dingin oleh Forestier. Teknik ini menggunakan fiberglass yang

menghasilkan cahaya yang sangat baik dan suhu rendah, sehingga mengurangi resiko

terbakar organ intraabdomen dan meningkatkan ketajaman dan kualitas gambar. Selain

itu, teknik ini juga menggunakan lensa batang sehingga ahli bedah dapat melihat lapangan

operasi dengan sangat jelas, terang, seperti gambar aslinya (Soper et al., 2004).

Pemanfaatan laparoskopi untuk diagnostik maupun terapeutik dengan

menggunakan insufflator otomatis diawali pada tahun 1970. Semm pada tahun 1983,

memulai melakukan apendektomi. Saat ini telah dipergunakan charge-couple device (CCD),

three chip camera, video monitor, high-definition camera, true color image, sehingga

diperoleh gambaran lapangan operasi yang makin jelas (Soper et al., 2004).

Instrumen Laparoskopi

Elemen kunci pada laparoskopi adalah penggunaan laparoskop. Ada dua tipe

laparoskop yaitu: (1) sistem teleskop batang, yang biasanya dihubungkan dengan kamera

video (single chip atau three chip); (2) laparoskop digital dimana charge-couple device

ditempatkan pada ujung laparoskop. Laparoskopi juga menggunakan lampu yang dingin

seperti halogen atau xenon. Lapangan operasi dilihat dengan hand instrument yang

dimasukkan abdomen melalui trokar 5 mm atau 10 mm. Gas karbondioksida dimasukkan

(4)

menjadi seperti kubah untuk menghasilkan ruang bekerja. Penggunaan gas

karbondioksida karena gas terdapat tubuh manusia dan dapat diserap oleh jaringan

dan dibuang melalui sistem pernafasan. Selain itu, karbondioksida juga tidak mudah

terbakar, sehingga tidak mengganggu alat kauter selama prosedur laparoskopi

(Wikipedia, 2009a).

Ruang laparoskopi modern dapat dilihat pada Gambar 1a. Adapun perlengkapan

yang dibutuhkan dalam laparoskopi menurut Scott-Conner (2006) adalah sebagai berikut:

meja operasi elektrik (bila tersedia), dua video monitor, suction irrigator, electrosurgical

unit dengan bantalan ground, ultrasonically activated scissors, scalpel, perlengkapan

laparoskop lain: sumber cahaya, insufflator, video cassette recorder (VCR), color printer,

monitor on articulating arm, camera-processor unit (Gambar 1b), c-arm x-ray unit (jika

direncanakan cholangiography), meja mayo yang dilengkapi instrumen laparoskopi,

antara lain: scalpel nomor 11 dan 15 beserta pegangannya, towel clips, Veress needle

(Gambar 1c), pipa insufflator dengan micropore filter, kabel fiberoptik dihubungkan ke

laparoskop dengan sumber cahaya, video kamera dengan kabelnya, kabel yang

dihubungkan instrumen laparoskopi ke electrosurgical unit, curved hemostatic forceps,

retraktor kecil untuk umbilikus, trokar (Gambar 1c dan 1d), laparoscopic instruments, antara

lain: atraumatic graspers; Locking toothed jawed graspers; needle holders; dissectors: curved,

straight, right-angle; bowel grasping forceps; babcock clamp; scissors: metzenbaum, hook,

microtip; fan retractors: 10mm, 5mm; specialized retractors, seperti endoscopic curved

retractors; biopsy forceps; tru-Cut biopsy-core needle, monopolar electrocautery dissection

tools, yang terdiri dari: L-shaped hook dan spade-type dissector/coagulator (Gambar 1e),

ultrasonically activated scalpel, antara lain: scalpel, ball coagulator, hook dissector, dan

scissors dissector/coagulator/transector (Gambar 1d), endocoagulator probe, basket yang

terdiri dari: clip appliers, endoscopic stapling devices, pretied suture ligatures, endoscopic

(5)

Gambar 1. Instrumen laparoskopi: (a) ruang laparoskopi modern; (b) Laparoscpy set;

(c) Veress needle dan trokar; (d) Irrigator, cauter monopolar dan bipolar; (e)

Grasper, disector, scissor; (f) Clip applicator

Penggunaan Laparoskopi

Prosedur laparoskopi dapat dipergunakan untuk bermacam-macam pembedahan

sepertilaparoscopic cholecystectomy, laparoscopic common bile duct surgery, laparoscopic

fundoplication for GERD, laparoscopic Nissen and Toupet fundoplication, laparoscopic

gastric banding for morbid obesity, laparoscopic Heller esophagomyotomy for achalazia,

laparoscopic splenectomy, laparoscopic appendectomy, laparoscopic left colectomy,

laparoscopic right colectomy, laparoscopic total colectomy, laparoscopic rectopexy for rectal

(6)

Kolesistektomi

Kolesistektomi terbuka merupakan tindakan pembedahan abdomen yang besar,

dimana ahli bedah mengambil kandung empedu melalui irisan panjang 10-18 cm.

Kolesistektomi terencana pertama dilakukan oleh Karl Lungenbach dari Jerman pada tahun

1882. Lebih dari satu abad, kolesistektomi terbuka menjadi standar pengelolaan kolelitiasis

simtomatis. Pasien biasanya harus menginap di rumah sakit untuk beberapa hari dan

membutuhkan pemulihan beberapa hari di rumah (Wikipedia, 2009b).

Laparoskopi kolesistektomi pertama dilakukan oleh Phillipe Mouret tahun 1987.

Banyak ahli bedah kemudian berusaha mencoba teknik baru ini. Awalnya banyak operasi

yang didorong oleh permintaan yang kuat dari masyarakat dan didukung oleh perusahaan

komersial (MacFadyen, 2004). Pada saat ini, kolesistektomi per laparoskopi merupakan

metode pilihan (Leo et al., 2006; Schietroma et al., 2004) dan menjadi gold standart

pengelolaan kolelitiasis simtomatis (Tayeb et al., 2005). Bedah laparoskopi mempunyai

beberapa keuntungan antara lain pasien cepat pulih, sedikit nyeri, dan lebih cepat kembali

bekerja (Vittimberga, 1998). Bedah laparoskopi berhubungan dengan insisi kulit yang kecil

sehingga membuat kondisi setelah operasi lebih menyenangkan bagi pasien (Schietroma et

al., 2004).

Teknik ini memberikan banyak keuntungan yaitu meningkatkan pemulihan pasien

dengan mengurangi nyeri, waktu tinggal di rumah sakit lebih pendek, dan lebih cepat

kembali ke aktivitas harian yang normal (Vittimberga et al., 1998; MacFadyen, 2004; Tayeb

et al., 2005; Leo et al., 2006). Bedah laparoskopi berhubungan dengan insisi kulit yang

kecil, sehingga membuat kondisi setelah operasi lebih menyenangkan bagi pasien (Haris,

2008). Pendekatan ini juga lebih hemat bagi penyelenggara kesehatan (Schietroma et al.,

2004).

Prosedur

Laparoskopi kolesistektomi merupakan prosedur laparoskopi yang paling sering

dijalankan. Pada prosedur ini, instrumen 5-10 mm (seperti grasper, gunting, clip applicator)

dapat dimasukkan oleh ahli bedah ke dalam abdomen melalui trokar (pipa lubang dengan

(7)

Laparoskopi kolesistektomi umumnya menggunakan empat port, yaitu (1) Port

untuk laparoskop yang ditempatkan dekat umbilicus (port A), ukuran port tergantung dari

ukuran laparoskop yang akan dipergunakan (10 mm atau 5 mm); (2) Port untuk operasi

merupakan port operasi utama, diletakkan di bawah liver sedikit di kanan ligamentum

falsifarum (port B) dan diletakkan setelah visualisasi laparoskopi dapat terlihat dengan

jelas, untuk menghindari cidera arteri epigastrica inferior pada sarung rectus, maka

dibutuhkan transiluminasi dinding abdomen; (3) dan (4) Port pembantu, jumlahnya dua

buah, ditempatkan pada lateral sarung rectus dan di bawah tepi bawah liver (port C dan

D) (Whelan, 2006).

Pneumoperitoneum dapat dilakukan dengan menggunakan veress needle atau

secara open. Kemudian ditempatkan empat trokar dengan posisi seperti yang terlihat pada

Gambar 2. Proses laparoskopi disajikan pada Gambar 3. Laparoskop digunakan untuk

melihat seluruh rongga abdomen. Usus halus dimobilisir. Lobus kiri hepar diangkat untuk

memperlihatkan kandung empedu. Kandung empedu dipegang dengan forcep yang tidak

traumatik. Tarik kandung empedu ke arah luar untuk memperlihatkan Calot’s triangle.

Peritoneum dekat leher kandung empedu dibuka untuk identifikasi ductus cysticus.

Selanjutnya, dilakukan klip tiga buah pada ductus cysticus, sedangkan ductus cysticus

dipotong dengan meninggalkan dua buah klip. Arteri cystica diidentifikasi dengan cara klip

dua buah dan dipotong diantaranya. Kandung empedu dibebaskan dari perlekatannya di

liver, kemudian dikeluarkan melalui port A atau B (Dulucq, 2005).

(8)

Gambar 3. Proses laparoskopi: (a) Mulai insuflasi menggunakan Veress needle, memasukkan trokar serta memasukkan kamera; (b) Identifikasi ductus

cysticus dan arteri cystica; (c) Melakukan klip; (d) Membebaskan kandung

empedu dari perlekatan di liver

PEMBAHASAN

Laparoskopi merupakan bedah minimally invasive yang memerlukan akses kecil

untuk mencapai daerah operasi. Prosedur ini menggunakan teknologi yang canggih,

sehingga memerlukan investasi yang cukup banyak dan operator yang berpengalaman,

serta tim perawat yang dapat memelihara peralatan dengan baik sehingga alat akan lebih

awet.

Teknologi laparoskopi telah banyak digunakan pada beberapa operasi, akan tetapi

belum banyak yang menjadikan laparoskopi sebagai standar untuk prosedur operasi. Pada

saat ini, standar laparoskopi telah digunakan pada operasi kolesistektomi. Standar

laparoskopi terus-menerus dikembangkan, sehingga dimasa yang akan datang diharapkan

laparoskopi akan dipilih sebagai standar prosedur operasi.

Keuntungan laparoskopi dapat berupa irisan kulit yang kecil sehingga dari segi

(9)

lama tinggal di rumah sakit lebih pendek sehingga pasien akan lebih cepat kembali

bekerja. Meskipun laparoskopi disebut sebagai minimally invasive bukan berarti

mempunyai resiko operasi yang minimal. Resiko operasi masih tetap seperti operasi

terbuka, mengingat dimungkinkan terjadi komplikasi laparoskopi.

KESIMPULAN

Laparoskopi merupakan prosedur operasi dengan teknologi canggih yang perlu

untuk lebih dikenalkan kepada masyarakat atau pasien dan keluarga. Laparoskopi memiliki

banyak keuntungan, sehingga patut dipertimbangkan sebagai pilihan utama pasien untuk

operasi tertentu. Laparoskopi diharapkan akan semakin berkembang di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Dulucq, J. L., 2005, Tips and Techniques in Laparoscopic Surgery, Springer, 1-243.

Haris, H. W., 2008, Surgery Basic Science and Clinical Evidence, Biliery System, Springer, 47: 911-943.

Leo, J., Filipovic, G.,Krementsova, J., Norblad, R., and Söderholm,M., 2006, Open Cholecystectomy for All Patients in the Era of Laparoscopic Surgery – A Prospective Cohort Study, BMC Surger, 6:1471-82.

MacFadyen, V., 2004, Laparoscopic Surgery of the Abdomen, Bruce, 71:115.

Schietroma, M., Cartel, F., Franchi, L., Mazzotta, C., Sozio, A., et al., 2004, A comparison of Serum Interleukin-6 Concentrations in Patients Treated by Colecystectomy via Laparotomy or Laparoscopy, Hepato-gastroenterology, 51:1595-99.

Scott-Conner, C. E.H., 2006, The SAGES Manual Fundamentals of Laparoscopy,Thoracoscopy, and GI Endoscopy, Springer, 5-6.

Soper, N. J., Swanstrom, L. L, and Eubanks, W.S., 2004, Mastery of Endoscopy and Laparoscopic Surgery, Lippincott Williams & Wilkins, 2-5.

Tayeb, M., Raza, S. A., Khan, M. R., and Azami, R., 2005, Conversion from Laparoscopic to Open Cholecystectomy: Multivariate analysis of preoperative risk factors, 51:17-20.

Vittimberga, F. J., Foley, D. P., Meyers, W. C., and Caller ,M. P., 1998, Laparoscopic Surgery and the Systemic Immune Response, Ann Surg, 227: 326–34.

Whelan, R. L., 2006, The SAGES Manual Perioperative Care in Minimally Invasive Surgery,

Springer, 69-71.

Wikipedia, 2009a, Laparoscopic surgery, The Free Encyclopedia,.

Gambar

Gambar 1.Instrumen laparoskopi: (a) ruang laparoskopi modern; (b) Laparoscpy set;(c) Veress needle  dan trokar; (d) Irrigator, cauter monopolar dan bipolar; (e)Grasper, disector, scissor; (f) Clip applicator
Gambar 2.Posisi trokar
Gambar 3.Proses laparoskopi: (a) Mulai insuflasi menggunakan Veress needle,

Referensi

Dokumen terkait

Pada permukaan dinding beton/bata merah yang ada, keramik dapat langsung diletakkan, dengan menggunakan perekat spesi 1Pc :3Ps, diaduk baik memakai larutan supercement,

artemia dengan pemberian campuran selco yaitu sebesar 36,6 %, hal ini dikarenakan pengaruh peningkatan kadar nutrisi berupa asam lemak di dalam tubuh artemia yang

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah, Jika Guru menerapkan gaya mengajar komando, maka hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa Kelas VII SMP Negeri

Cara untuk membangkitkan motivasi belajar menurut (Nanang dan Cucu Suhana, 2010:28) antara lain: 1) Siswa memperoleh pemahaman (comprehension) mengenai proses

3. Standar memberikan informasi dasar tentang technologi know-how  yang dikembangkan oleh industri maju, terutama dikaitkan dengan keputusan investasi dan penggunaan sumberdaya

Sejumlah pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa tidak tunggal mahasiswa dan alumni Program Studi (prodi) Psikologi Islam yang bekerja tidak sesuai dengan

Berdasarkan pendapat yang dikemukakan Aiginger dan Hansberg (2003), kontribusi tenaga kerja subsektor industri kecil dan menengah S di kecamatan i terhadap tenaga

bahwa dengan telah diundangkannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 98,