• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMAM BONJOL PADANG 1438H 2017M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IMAM BONJOL PADANG 1438H 2017M"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Adab dan Humaniora Sebagai Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum)

Pada Jurusan Sejarah Peradaban Islam

Oleh: SITI BULAN

1311020116

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM (SPI) FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) IMAM BONJOL PADANG

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

Siti Bulan, Bp: 1311020116 penulis skripsi yang berjudul “Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat (1929-1984)” adalah Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang tahun 2017.

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana Sejarah Pembangunan Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat, bagaimana Arsitektur Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat, dan bagaimana Sejarah Perkembangan Wilayah Nagari Ujung Gading Pasca Pembangunan Jembatan Baru.

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah melakukan tinjauan historis dengan pendekatan arkeologis, adapun cara pengumpulan data yang menyangkut tentang Jembatan Gantung kemudian pengolahan data, penafsiran data. Tahap pengumpulan data pada penelitian ini terdiri atas studi kepustakaan, dan studi lapangan. Studi lapangan meliputi peninjauan ke bangunan yang dijadikan objek penelitian dengan melakukan pendeskripsian. Pendeskripsian terbagi atas dua cara dilakukan secara verbal atau uraian dan viktorial atau gambar berupa wawancara, pengukuran, pencatatan, dan pemotretan.

Jembatan Gantung Ujung Gading merupakan sebuah Jembatan Gantung yang berada di Kenagarian Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang. Kabupaten Pasaman Barat. Jembatan Gantung ini berdiri pada tahun 1929, dan merupakan Jembatan Pertama yang dibangun Belanda yang berdiri di atas Batang Sikabau yang menghubungkan desa Kuamang dan Ujung Gading dan merupakan jalan ke Pantai Barat Sumatera daerah Air Bangis. Sebagai pekerja kasar dalam proses pembangunan jembatan gantung tersebut adalah para tokoh masyarakat setempat yang dilakukan secara bergotong royong. Dahulu Belanda membangunnya untuk memudahkan transportasi mereka dalam mengeruk kekayaan alam Indonesia serta dengan tujuan lain yaitu untuk penumpasan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Jembatan Gantung Ujung Gading merupakan sebuah kekayaan daerah yang merupakan peninggalan sejarah yang harus dipelihara dan dijaga, sehingga kekayaan ini dapat dinikmati tidak hanya masyarakat Ujung Gading tetapi juga masyarakat daerah-daerah lainnya. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana peninggalan ini tetap terjaga dan terpelihara.

(6)
(7)
(8)

DAFTAR ISI

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... ii

BAB II SEJARAH SINGKAT NAGARI UJUNG GADING A. Asal Usul Nagari Ujung Gading ... 13

B. Monografi Nagari Ujung Gading ... 18

C. Ujung Gading Masa Kolonial ... 31

D. Ujung Gading Masa Kemerdekaan ... 34

BAB III SEJARAH PEMBANGUNAN JEMBATAN GANTUNG A. Sejarah Pembangunan Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat ... 37

B. Bentuk Arsitektur Jembatan Gantung Ujung Gading ... 39

C. Sejarah Perkembangan Wilayah Nagari Ujung Gading Pasca Pembangunan Jembatan (Baru)... 45

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 55

B. Saran ... 58

(9)
(10)

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Jembatan dapat dikatakan sebagai salah satu peralatan tertua di dalam

peradaban manusia.Pada zaman dahulu, jembatan mula-mula dibuat dengan

menggunakan balok kayu yang besar dan kuat untuk menyeberangi

sungai-sungai kecil.Indonesia sebagai Negara tropis yang terdiri dari berbagai pulau

besar dan kecil serta memiliki banyak sungai memerlukan jembatan untuk

penghubung antara wilayah yang terpisah oleh sungai dan laut.Usaha yang

dilakukan untuk memperlancar hubungan antar daerah melalui darat adalah

dengan membangun jembatan-jembatan dan jalan-jalan baru maupun perbaikan

dan pelebaran jalan lama, serta perbaikan jembatan yang telah rusak, yang

sudah tidak mampu menopang arus lalu lintas yang ada.Majunya pembangunan

suatu daerah menyebabkan kegiatan dan kebutuhan manusia semakin

meningkat, sehingga dapat menyebabkan banyak permasalahan lalu lintas,

salah satunya dalam bidang transportasi.

Transportasi menjadi hal yang sangat penting, karena merupakan urat

nadi kehidupan ekonomi, sosial, politik, budaya, dan HANKAM.Oleh karena

itu, pengadaan sarana dan prasarana transportasi perlu diwujudkan dalam

menjunjung pembangunan, salah satu prasarana transportasi yang memberikan

pengaruh dalam pembangunan adalah jembatan. Jembatan sebagai prasarana

transportasi mempunyai manfaat yang dominan bagi pergerakan lalu

lintas.Jembatan juga merupakan sarana transportasi yang sangat penting dalam

(11)

kehidupan masyarakat.Jembatan istilah umum untuk konstruksi yang dibangun

sebagai jalur transportasi yang melintasi sungai, danau, rawa, jurang, maupun

rintangan lainnya.Sungai merupakan rupa bumi yang sangat dominan di

Sumatera.Ada ribuan sungai dengan berbagai ukuran yang mengalir nyaris

tidak ada daerah di Pulau tersebut yang tidak dialiri sungai.Oleh karena itu,

dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, kehidupan warga Sumatera, secara

langsung atau tidak, dipengaruhi oleh sungai.1Pada dasarnya pembangunan jembatan tidak hanya bertujuan untuk alat penghubung saja, tetapi juga

mempunyai tujuan dan fungsi di antaranya dari segi perekonomian, jembatan

dapat mengurangi biaya transportasi.Dan dari segi efisiensi waktu, dengan

adanya jembatan dapat mempersingkat waktu tempuh pada perjalanan darat

yang saling terpisah. Jembatan juga dapat meningkatkan daerah tertinggal

untuk dapat lebih berhubungan dengan daerah lain dengan mudah.2 Sedangkan fungsinya antara lain:Fungsi Ekonomifungsi pembangunan ditinjau dari segi

ekonomi antara lain, jarak tempuh antara pusat produksi dengan daerah

pemasaran semakin dekat, waktu tempuh relative singkat dan biaya transportasi

yang dikeluarkan semakin kecil. Dengan adanya penghematan jarak, waktu,

dan biaya yang dikeluarkan maka kemajuan ekonomi akan lebih

tercapai.Fungsi Sosial pembangunanjembatan dapat meningkatkan interaksi

sosial antara daerah yang dipisahkan oleh sebuah sungai, rawa atau

jurang.Interaksi sosial yang terjalin dengan baik antar kedua masyarakat di

daerah tersebut dapat memberikan dampak yang positif, antara lain yaitu

1

Gusti Asnan, Sungai dan Sejarah Sumatra, Yogyakarta: Ombak, 2016, h. 13

2

(12)

3

mereka akan merasa sebagai satu kesatuan wilayah. Fungsi

Politikmembangunjembatan akan memperlancar jalannya roda pemerintahan

dan pengawasan secara langsung terhadap jalannya pemerintahan sampai pada

daerah yang masih terisolir. Apabila terjadi bencana alam di suatu daerah,

maka jalan danjembatan merupakan prasarana yang dapat mempercepat suplai

sembako dan obat-obatan.Dengan demikian pembangunan jembatan dapat

memperlancar tindakan-tindakan pemerintah dalam mengatur kepentingan,

keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Fungsi Budayadengan adanya

jembatan maka akanmempermudah interaksi budaya daerah satu dengan daerah

lainnya, sehingga akan memperkaya budaya masing-masing daerah. Fungsi

HANKAMpentingnyajembatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa

dan bernegara yaitu dapat meningkatkan pertahanan dan keamanan suatu

negara, ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan dapat mengganggu

stabilitas Daerah maupun Nasional.

Jembatan gantung pertamayang dibangun olehBelanda.3Pada tahun 1929 yang berdiri diatas Batang Sikabau yang menghubungkan desa Kuamang

dan Ujung Gading dan merupakan jalan ke Pantai Barat Sumatera daerah Air

Bangis. Sebagai pekerja kasar dalam proses pembangunan jembatan gantung

tersebut adalah para tokoh masyarakat setempat yang dilakukan secara

bergotong royong4.Dahulu Belanda membangunnya untuk memudahkan transportasi mereka dalam mengeruk kekayaan alam Indonesia serta dengan

tujuan lain yaitu untuk penumpasan para pejuang kemerdekaan Indonesia.

3

Jamaluddin, Tokoh Masyarakat, wawancara pribadi di Ujung Gading 15 April 2017

4

(13)

Sayangnya Jembatan Gantung yang merupakan icon Ujung Gading saat ini

kurang terawat. Terlihat sudah mulai hancur sedikit demi sedikit dimakan usia.

Dilihat dari bentuk arsitekturnya masih kokoh, tetapi sudah tidak bisa

dipergunakan lagi karena Jembatan Gantung tersebut sudah rapuh dan

lantainya sudah berlobang-lobang.

Jembatan gantung Ujung Gading memiliki keunikan diantaranya dari

segi bentukJembatan Gantung tersebut merupakan jenis jembatan yang

menggunakan tumpuan ketegangan kabel dan memiliki kabel

utama,mempunyai 4 tiang yang terbuat dari bajadan masing-masing tiang

memiliki panjang 4m, sedangkan lantai jembatan terbuat dari beton, disetiap

sisi-sisinya terbuat dari baja, danpanjang jembatan gantung tersebut sepanjang

120m.5

Jembatan sebagai warisan budaya yang berbentuk fisik memberikan

kebanggaan Nasional kepada kita bangsa Indonesia.Peninggalan-peninggalan

sejarah yang berbentuk jembatan harus dijaga, dipelihara dan

dilestarikan.Karena, peninggalan itu mengandung nilai sejarah.Disamping itu

juga dapat memperkuat kepribadian bangsa, dan memberikan kebanggaaan

Nasional bangsa Indonesia.6

Dari sekian banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang berbentuk

jembatan di wilayah Indonesia, salah satunya adalah jembatan gantung Ujung

5

Satria, Tokoh Masyarakat, wawancara pribadi di Ujung Gading 22 Februari 2017.

6

Sagimun, M.D, Peninggalan Sejarah Masa Perkembangan Agama-Agama di Indonesia,

(14)

5

Gading Pasaman Barat.Jembatan ini dibangun pada tahun 1929 dan merupakan

jembatan tertua di Kenagarian Ujung Gading.7

Setelah penulis meninjau kelapangan tentang keberadaan jembatan

gantung ini peneulis prihatin sekali karena jembatan gantung ini kurang

mendapat perhatian dari masyarakat bahkan telah banyak

komponen-komponennya yang hilang.Hal inilah yang memotivasi penulis untuk menulis

tentang sejarah jembatan gantung tersebut, mulai dari awal berdiri sampai

dibangunnya jembatan baru hingga sekarang, dan mengenai arsitektur

bangunannya.

Mudah-mudahan dengan adanya tulisan ini, nanti akan menimbulkan

kesadaran dari masyarakat untuk menjaga dan memeliharanya sebagai

peninggalan di zaman dahulu.

Sehingga penulis tertarik untuk menelitinya tentang“Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat(1928-1984)”.

B.Rumusan dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari Latar Belakang Masalah diatas maka dapat di

rumuskan masalah pokok dalam penelitian ini sebagai berikut:

Untuk lebih sistematis, maka penulis merumuskan permasalahan

yaitu: Bagaimana Sejarah Pembangunan Jembatan Gantung Ujung Gading

ditinjau dari sisi arkeologisnya.

7

(15)

Sedangkan untuk tidak terlalu luas permasalahan yang akan penulis

teliti maka penulis membatasi pada aspek arkeologi bahan kajian yang akan

diteliti:

a. Bagaimanakahsejarah pembangunan jembatan gantung Ujung Gading

Pasaman Barat?

b. Bagaimana arsitektur jembatan gantung Ujung Gading Pasaman Barat?

c. Bagaimana sejarah perkembangan wilayah Nagari Ujung Gading pasca

pembagunan jembatan baru?

2. Batasan Masalah

Agar penulisan ini lebih terarah serta tidak terjadi penyimpangan,

maka penulis memberikan batasan masalah sebagai berikut:

a. Batasan Temporal

Untuk menghasilkan kesimpulan yang baik dalam penelitian ini.

Maka penulis akan membatasi waktu penelitian yaitu dari tahun

1929-1984.Dimana pada tahun 1929merupakan tahunawal dibangunnya

jembatan gantungolehBelanda untuk memudahkan transportasi mereka

dalam mengeruk kekayaan alam Indonesia serta dengan tujuan lainya

yaitu untuk penumpasan para pejuang kemerdekaan Indonesia.Mengapa

penulis membuat batasan temporalnya sampai tahun 1984?Karena, pada

tahun 1984 merupakan tahun dimana dibangunnya jembatan baru untuk

menggantikan Jembatan Gantung yang lama.

(16)

7

Untuk batasan spasial yang hendak penulis lakukan adalah di

wilayah Indonesia secara umum dan khususnya di Kenagarian Ujung

GadingPasaman Barat.

c. Batasan Tematis

Dalam penelitian ini penulis akan lebih banyak mengangkat tema

Sejarah dan arsitektur sarana transportasi umum.

C.Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahuisejarah pembangunan jembatan gantung Ujung

Gading PasamanBarat.

b. Untuk melihatarsitektur jembatan gantung ujung Gading Pasaman Barat.

c.Untuk mengetahuisejarah perkembangan wilayah Nagari Ujung

Gadingpasca pembangunan jembatan (baru).

2. Kegunaan Penelitian

a. Memberi informasi serta memperkaya wawasan ilmu pengetahuan

penulis.

b. Agar dapat menambah khazanah kepustakaan Sejarah dan Kebudayaan

Islam Fakultas Adab dan Humaniora.

(17)

Agar tidak terjadi kerancuan dan kesalahan persepsi dalam

penganalisaan diatas, maka penulis akan menjelaskan maksud dari judul

penelitian ini:

Jembatan : Merupakan struktur yang dibuat untuk

menyeberangi jurang atau rintangan seperti

sungai, rel kereta api ataupun jalan raya.8 Tinjauan Historis-Arkeoloogis:Kalimat yang terdiri dari dua bahasa Indonesia

dan Inggris. Tujuan artinya memandang dan

memperhatikan menurut aspek sejarah,

sedangkan Historis adalah bahasa Inggris

artinya sejarah.9Sedangkan arkeologis adalah sebuah ilmu yang mempelajari masa

lalu.10Arkeologi merupakan ilmu bantu yang mengungkapkan fakta-fakta sejarah pada masa

lampau.11

E.Tinjauan Kepustakaan

Sejauh pengamatan yang penulis lakukan di perpustakaan Fakultas

Adab dan Humaniora, perpustakaan Pusat UIN Imam Bonjol Padang, penulis

belum menemukan penelitian yang menyangkut judul ini.Adapun penelitian

8

https://id.wikipedia.org/wiki/Jembatan. diunduh pada tanggal 16 maret 2017, jam 10:51

9

S Wojo Wasito, Kamus Umum Inggris Indonesia, Jakarta : PT Cypress, 1947, h. 331

10

Lutfi Yondri, Dasar-Dasar Arkeologi, Jakarta: PT. Akademik Pressindo, 1985, h. 1-2

11

Hasan, Mua’rif Ambari, Menemukan Peradaban Jejak Arkeologi dan Historis Islam Indonesia, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1998, h. 1

(18)

9

yang dilakukan adalah melalui Library Interview (penelitian wawancara), penelitian buku-buku dan media sosial.

F. Metode Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian, ketetapan dalam memilih metode sangat

mementukan keberhasilan dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan.

Mengingat dan memperhatikan bahwa penelitian ini bersifat sejarah dan

arkeologi maka langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Heuristik

Heuristik merupakan langkah awal dari penulisan untuk

mengumpulkan sumber-sumber sejarah dan arkeologi, disini ada dua cara

yang dilakukan yaitu:

a. Studi Kepustakaan, yaitu penulis mencari data yang diperlukan melalui

literatur-literatur yang berkenaan dengan pembahasan yang dapat

dijadikan sumber skunder, meliputi perpustakaan Fakultas Adab dan

Humaniora, perpustakaanUniversitas Islam Negeri Imam Bonjol

Padang, perpustakaan Universitas Andalas Padang, perpustakaan

Universitas Negeri Padang, perpustakaan Daerah Sumatera Barat dan

lain-lain.

b. Studi lapangan, yaitu penulis mengumpulkan sumber sejarah dan

arkeologi melalui peninjauan langsung ke bangunan yang dijadikan

(19)

mencari data yang diperlukan melalui buku yang berkaitan dengan

permasalahan, baik sumber primer atau sumber sekunder, dan field researchpenulis mengumpulkan sumber sejarah dan arkeologi melalui dokumentasi, wawancara, observasi dan pendeskripsian. Pendeskripsian

dibagi dua cara yaitu: yang pertama dilakukan secara verbal atau uraian,

kedua viktorial, pengukuran, pencatatan, dan pemotretan, terhadap

bangunan jembatan gatung Ujung Gading Pasaman Barat.

2. Kritik Sumber

Dalam melakukan kritik sumber ini penulis melakukan dengan dua

tahap, yaitu kritik eksteren dan kritik interen.Kritik eksteren adalah kritik

dan pengujian terhadap keaslian sumber apakah masih asli atau tidak,

sedangkan kritik interen adalah melakukan seleksi terhadap

informasi-informasi yang ditemukan. Artinya sebelum informasi-informasi itu ditetapkan sebagai

sumber, maka penulis akan menyaring terlebih dahulu.

3. Sintesis

Membuat sebuah kesimpulan berdasarkan dari informasi maupun

data-data yang sudah dikumpulkan dilapangan.Disini penulis mencoba

menafsirkan berdasarkan kemampuan penulis dalam menganalisa suatu

fakta sesuai dengan topik yang penulis teliti.

4. Penulisan

Tahap terakhir dari langkah-langkah dalam penulisan sebuah

penelitian, yaitu penulisan. Pada tahapan ini penulis berusaha untuk

(20)

11

menjadi sebuah karangan ilmiah serta melakukan proses pengujian secara

kritis terhadap semua data yang telah didapatkan. Dalam hal ini juga penulis

berusaha untuk memaparkan hasil penelitian dengan mendeskripsikan dalam

bentuk karya ilmiah dengan menggunakan pendekatan deskriptif

naratif.Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan bagi penulis untuk

memaparkan dengan menggunakan deskriptif analisis.12

G.Sistematika Penulisan

Penulisan Skripsi ini menggunakan Sistematika Penulisan, yakni:

Bab Iuraiantentang,Pendahuluan yang mencakup tentang Latar

Belakang Masalah, Rumusan Masalah dan Batasan Masalah, Tujuan dan

Kegunaan Penelitian, Penjelasan Judul, Tujuan Kepustakaan,Metode

Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

Sedangkan Bab II,menjelaskan tentang Sejarah Singkat Nagari Ujung

Gading yaitu: Asal-usul Nagari Ujung Gading,UjungGading Masa Kolonial,

Ujung Gading Masa Kemerdekaan.

Pada Bab III, deskripsi tentangSejarah Pembangunan Jembatan

Gantung Ujung Gading Pasaman Barat, Bentuk Arsitektur Jembatan Gantung

Ujung Gading, Sejarah Perkembangan Wilayah Nagari Ujung Gading Pasca

Pembagunan Jembatan baru.

12

Mardalis, Metode Penelitian suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 26

(21)

Bab IV, merupakan bagian penutupmemaparkam kesimpulan dari

penelitian serta saran-saran yang diperlukan terkait substansi penelitian baik

(22)

BAB II

SEJARAH SINGKAT NAGARI UJUNG GADING

A. Asal-Usul Nagari Ujung Gading

Terbentuknya wilayah Nagari Ujung Gading ada dua pendapat:

1. Asal-usul daerah Ujung Gading dilalui dan diapit oleh dua sungai yang

besar yaitu:

a. Sungai Batang Sikerbau

b. Sungai Batang Bayang.1

Aliran sungai ini menyatukan di daerah Tareh Jorong Koto Sawah

yang akhirnya Daratan antara dua sungai tersebut terbentuk seperti Gading

Gajah, maka terjadilah wilayah tersebut dengan nama Ujung Gading.

2. Sebelum perang dunia pertama, telah ada penghuni di wilayah Nagari Ujung

Gading, penghuni tersebut berasal dari Tapanuli Selatan yaitu Kota Nopan

dengan gelar Mangkapi Raja dengan rumah Atap Seng.

Mangkapi Raja sebagai Kepala Suku atau Ketua Banjar dari 12

orang. Yang 12 orang tersebut menggarap lahan untuk bercocok tanam

disebelah Barat Batang Sikerbau tepatnya di Kantor Polsek sekarang di

Jorong Kuamang. Disaat mengolah lahan tersebut oleh rombongan

menemukan Ujung Gading kemudian disepakati penyerahannya kepada kepala suku (Mangkapi Raja), oleh Mengkapi Raja menaruh Gading

tersebut di Ujung Perabung atap rumahnya.

1

Data Kantor Wali Nagari Ujung Gading.

(23)

Pada suatu saat setelah Mangkapi Raja Menaruh Gading tersebut di

atap rumahnya banyak perantau yang datang dari berbagai Nagari singgah

dirumahnya, mereka takjub melihat atap rumah Mangkapi Raja yang unik

dan langka, sehingga rumah tersebut dijadikan tempat peristirahatan bagi

perantau untuk sekedar melepas lelah dan menginap, pemilik rumah tersebut

sangat ramah dan menyebarlah keseluruh penjuru Nagari akan keelokan dan

keunikan pemilik rumah yang di Ujung Rumahnya ada Gading Gajah,

akhirnya mereka sepakat menamakan tempat tersebut Ujung Gading. Selanjutnya hari berganti hari, minggu berganti minggu dan tahun pun

berganti rombongan yang menetap berlalu akhirnya mereka menyeberangi

sungai Batang Sikerbau tepatnya bermukim diantara pertemuan Sungai

Batang Sikerbau dan Batang Bayang dengan nama Kampung Godang

kemudian pindah ke Pasar Lama.

Pada suatu saat Daulat Parit Batu berniat mencari tempat usaha

kearah barat tepatnya ke Ujung Gading sehingga mereka bermukim di

Kampung Koto yang sekarang ini bernama Koto Rajo. Suatu hari Daulat

Parit Batu mendatangi kelompok pendatang yang berasal dari Kota Nopan

yang saat itu berjumlah 12 Kepala keluarga seraya berkata “Hai Mangkapi Raja Banjar dan daerah ini adalah Tanah Minangkabau dan dilarang kalian semuanya untuk tinggal disini” dan terjadilah kekacauan antara kedua pihak yang berakhir dengan perasaan yang tidak menyenangkan.

Untuk menghindari kesalah pahaman tersebut pihak Mangkapi Raja

(24)

14

bekal secukupnya, ketika sampai disana sang hulu baling menghalangi

Mangkapi Raja masuk menenui Daulat Parit Batu tersebut, akhirnya bekal

dan kesabaran pun habis dan terjadilah perkelahian antara Hulu Balang dan

Mangkapi Raja berakhir dengan kematian sang Hulu Balang, Daulat Parit

Batu menyaksikan perkelahian tersebut dan bangga melihat kegigihan dan

keberanian Mangkapi Raja sehingga Daulat Parit Batu memberi gelar

Natunggang”. Mulai saat itu Daulat Parit Batu memberikan Hak untuk menguasai wilayah dengan isi perintahnya:

Bulek sudah kato lah abih Kok tanah lah dibingkahkan Kok adat lah ditentukan

Kok kalang batang lah baimpik Kok daun lah basauo

Kok dadak lah batimbun Batali ko Parik Batu

Akhirnya Raja Natunggang pulang ke Ujung Gading, sesampainya

disana segera membentuk Datuk,

a. Orang Mandailing Ampu Rajo dari Mandailing terjadi Datuk Gompo Rayo

b. Datuk Maya-maya dari Mandailing menjadi Datuk Kinaya

c. Datuk Apinis Mandailing jadi Datuk Sordang

d. Datuk Kompek Suku di daerah Kuamang

Sebelum Perang Dunia I dipenghujung semua diganti oleh Belanda

dengan pemerintahan Onder Districks dan Nagari Hoofd berupa: a. Kelarasan Agam

(25)

c. Kelarasan Sungayang

d. Kelarasan Kenaikan

e. Kelarasan Batang Sikilang

f. Kelarasan Hoofd Van di Ujung Gading (Batang Sikerbau)

Disaat sistem Pemerintahan Belanda berupa Hoofd Van di Ujung

Gading terjadi perubahan bentuk Pemerintahan Penghulu Adat dengan satu

pimpinan yaitu Pulu Palo (Kepala Penghulu) sebagai Pemimpin Nagari yang diajukan dari kesepakatan semua penghulu antara lain:

Pulu Palo (Kepala Nagari) : a. Sultan Kelebihan

b. Jasah Tan Oloan

c. Regen (Gelar Raja Bulu)

d. Muhammad Saib

Disaat situasi penghujung Pergerakan Kemerdekaan RI oleh

pengaruh penjajahan Belanda, maka habislah kepemimpinan sistim Kepala

Penghulu menjadi Wali Perang oleh :

a. Zakaria pada tahun 1950

b. Agus Yatim yang dipilih secara Demokrasi tahun 1957

c. Setelah itu dilanjutkan oleh H. Ahmad yang dibentuk oleh pemerintah

d. Dilanjutkan oleh Sutan Abu Bakar Tuanku Sati selama ± 4 tahun

e. Dilanjutkan oleh Rosali (Datuk Rajo Sampono)

f. Setelah itu dilanjutkan oleh Naumar Sutan Guru

(26)

16

h. Terjadi lagi Demokrasi sampai terpilih Sayuti Thaib

i. Dilanjutkan oleh Helmi

j. Dilanjutkan lagi oleh Sayuti Thaib

k. Dilanjutkan oleh Kulbahi

l. Kembali lagi diemban oleh Sayuti Thaib, sampai lahirnya perda

peralihan bentuk kepemimpinan kepala desa yang diatur perda tahun

1999, terjadi Reformasi secara Nasional yang mengakibatkan

kembalinya ke system pemerintahan Nagari yang dilaksanakan secara

Demokrasi dengan hasil

m. H. Zaim AR tahun 2002 s/d 2005

n. Drs. Ahmad Tamrin tahun 2005 s/d 2011 dengan masa jabatan 5 tahun

o. Burhanuddin Z. tahun 2012 s/d 2018 dengan masa jabatan 5 tahun.

Istilah dalam pepatah :

Abih tanah dek Sikabau

Seluruh aturan yang ada di Parit Batu telah diakui di Daulat

Pagaruyuang untuk Minangkabau secara adat istiadat. Kedudukan dan

bentuk wilayah telah dua kali dipindahkan bentuk pemerintahannya

sekaligus dengan wilayah pemerintahannya.2

2

Data Kantor Wali Nagari Ujung Gading.

(27)

B. Monografi Nagari Ujung Gading

Peta Nagari Ujung Gading

(28)

18

Kenagarian Ujung Gading merupakan salah satu Kenagarian di antara

yang terdapat di Kecamatan Lembah Melintang. Kecamatan Lembah

Melintang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Pasaman Barat. Kenagarin

Ujung Gading dengan orbitasi jarak ke ibu kota Provinsi (Padang) 225 Km,

jarak ke ibu kota Kabupaten (Simpang Empat) 49 Km, dengan waktu

tempuhnya ke ibu kota Provinsi 5 jam, ke Kabupaten 1 jam. Secara geografis

Nagari Ujung Gading mempunyai ketinggian tanah dari permukaan laut

15-725M DPL, topografis 28C dan letak geografis 00°33’LU 99°28’BT dan

00°05’LU 99°42’BT. Kenagarian Ujung Gading terdiri dari 16 Jorong yaitu:

Jorong Batang Gunung, Jorong Brastagi, Jorong Irian, Jorong Koto Pinang,

Jorong Koto Sawah, Jorong Kuamang, Jorong Lombok, Jorong Lubuk Alai,

Jorong Pasa Lamo, Jorong Ranah Salido, Jorong Saroha, Jorong Situak,

Jorong Situak Barat, Jorong Taluak Ambun, Jorong Tampus, Jorong Tanjung

Damai.

Keadaan geografis Kenagarian Ujung Gading dapat dilihat dengan

melalui batas-batas wilayah Kenagarian Ujung Gading. Secara geografis yang

membatasi wilayah adalah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Tapsel, PT PMS

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Nagari Sungai Aur

c. Sebelah Barat berbatasan dengan Nagari Parit

d. Sebelah Timur berbatasan dengan Sungai Aur

Sarana transportasi di Kenagarian Ujung Gading sudah baik yang

(29)

transportasi yang tersedia sepeda motor, becak, ojek dan bus untuk

pengangkutan barang-barang hasil perkebunan, sepeda motor lebih cendrung

di gunakan warga Nagari Ujung Gading untuk alat transportasi sehari-hari.

Mereka berpendapat berpergian dengan sepeda motor itu lebih

menghemat waktu dan ongkos pun jauh beda dengan ojek ataupu dengan

yang lainnya. Semakin banyaknya sepeda motor yang beredar sebagai alat

transportasi semakin tersingkirnya bus dan becak yang dulunya yang dulunya

sebagai alat transportasi utama bagi warga Nagari Ujung Gading. Di

kenagarian Ujung Gading juga telah ditemukan beberapa tempat wisata

seperti lubuk king, sipagogo dan waterbum Lombok, disini banyak sekali

orang-orang dari luar Nagari Ujung Gading yang datang untuk mengunjungi

tempat-tempat wisata tersebut baik di hari-hari biasa ataupun di hari raya.

Kondisi lingkungan di Kenagarian Ujung Gading secara umum sudah

mencirikan kawasan yang bercirikan daerah permukiman, namun masih

memberikan kesan daerah yang teduh dan alami. Hal ini dikarenakan letak

yang tidak jauh dari pegunungan dan pada dasarnya kawasan hijau.

Di Kenagarian Ujung Gading mengalir dua batang sungai yaitu batang

sungai sikabau dan batang sungai air bayang. Kedua batang sungai tersebut

dapat dimanfaatkan masyarakat dalam berbagai keperluan rumah tangga dan

dapat dipergunakan untuk mengairi lahan pertanian.

Adapun data yang penulis dapat jumlah penduduk Kenagarian Ujung

Gading berjumlah 44614 jumlah jiwa dan apabila dirinci menurut umur dan

(30)

20

Pada umur 16-18 jenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir sama

dan pada umur 16-18 jumlah laki-laki dan prempuan lebih banyak dari umur

yang lainnya karena pada umur 16-18 itu kebanyakan masa pertumbuhan

remaja.

Berdasarkan data yang di peroleh oleh penulis pada umur 60-69 jauh

penurunan jumlah laki dan perempuan. Akan tetapi di umur > 70 an

laki-laki menurun di bandingkan dengan perempuan. Sehingga dengan data yang

penulis peroleh ini, maka penulis menyimpulkan bahwa jenis kelamin

laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan yang tinggal di Nagari

Ujung Gading.

1. Pendidikan dan Kehidupan Beragama a. Pendidikan

Pendidikan atau ilmu pengetahuan suatu hal yang sangat

penting dalam kehidupan ini tanpa pendidikan atau ilmu manusia akan

buta huruf dan ini pun sangat merugikan dirinya sendiri. Seseorang

yang mempunyai pendidikan akan lebih tinggi derajatnya disisi Allah

dari pada orang yang tidak mempunyai pendidikan. Sebagaimana

firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 11 yang

berbunyi:

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.3

3

Departemean Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro, 2000

(31)

Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa orang yang

berilmu dalam pandangan Allah lebih tinggi derajatnya dibandingkan

dengan orang yang tidak mempunyai ilmu dalam beramal, dan orang

Islam dianjurkan untuk menuntut ilmu, karena menuntut ilmu itu wajib

hukumnya bagi setiap orang Islam.

Maju mundurnya suatu masyarakat tergantung pada

pendidikannya karena pendidikan dan pengajaran suatu yang sangat

besar manfaatnya dalam mencapai kemajuan pembangunan.

Pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan

manusia, dengan pendidikan yang baik dan bermutu akan dapat

meningkatkan kecerdasan dan kreativitas yang dimiliki masyarakat

demi terwujudnya manusia-manusia pembangunan yang berkualitas

serta dapat mendatangkan manfaat dan pengaruh positif terhadap diri

sendiri dan lingkungan.

Salah satu faktor utama penyebab lajunya pendidikan terhadap

anak yaitu adanya dorongan serta motivasi dari orang tua untuk anak

minimal menamatkan SLTA. Namun di samping itu untuk

melanjutkan ke perguruan tinggi orang tua mulai terbentur dengan

masalah biaya atau dana. Ada juga sebagian anak yang melanjutkan ke

tingkat yang lebih tinggi dan memperoleh gelar sarjana (S1 dan S2)

hanya dalam jumlah yang sedikit. Adapun data yang penulis dapat

bahwa jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan yang ada di

(32)

22

Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa sarana

pendidikan di Kenagarian Ujung Gading sudah memadai untuk tingkat

SD ,SLTP dan SLTA. Bagi masyarakat yang ingin menyekolahkan

anaknya ke tingkat pendidikan sudah bisa di Kenagarian Ujung Gading

tidak perlu ke luar daerah karna sudah banyak pilihan. Di Kenagarian

Ujung Gading hanya terdapat 2 Universitas sehingga apabila warga

Nagari Ujung Gading ingin melanjutkan ke perguruan tinggi sudah

bisa masuk Universitas yang ada di Kenagarian Ujung Gading

Kecamatan Lembah Melintang.

Berkaitan dengan pendidikan ini di Kenagarian Ujung Gading

sistem pendidikan serta pengembangannya sudah berjalan dengan baik

karena sarana pendidikannya sudah banyak. Hal ini dapat dilihat dari

jumlah penduduk menurut tingkat pendidikannya tersebut yang ada di

Kenagarian Ujung Gading Kecamatan Lembah Melintang.

b. Kehidupan Beragama

Agama merupakan pedoman hidup yang sangat penting bagi

manusia. Dengan adanya pedoman hidup maka akan membuat manusia

menjadi tentram, damai, tabah dan tawakkal serta percaya diri, berani

berjuang untuk menegakkan kebenaran, kesiapan mengabdi dan

berkorban. Tanpa agama manusia akan terombang ambing dalam

kehidupan tanpa tujuan. Agama merupakan sumber kehidupan dan

(33)

Sarana yang dapat digunakan sebagai tempat untuk menambah

ilmu pengetahuan tentang keagamaan sebagai penuntun hidup di dunia

dan akhirat dapar diperoleh melalui lembaga pendidikan. Sedangkan

wadah pendidikan keagamaan yang terdapat di Kenagarian Ujung

Gading adalah TPA 15 buah dengan jumlah anggota 2.115 anggota.

Penduduk di Kenagaraian Ujung Gading yang beragama Islam,

laki-laki berjumlah 22102 dan perempuan 22512. Kebanyakan mereka

taat menjalankan ibadahnya, walaupun sebagian dari penduduk Nagari

Ujung Gading masih ada yang menjalankan agama sebagai rutinitas

saja tanpa mengetahui apakah yang diamalkan tersebut telah sesuai

dengan syari’ah Islam atau belum. Di setiap mesjid dan mushalla

biasanya diadakan shalat berjama’ah pada malam dan siang harinya.

Kegiatan keagamaan di Kenagarian Ujung Gading terlihat

cukup baik. Ini dapat dilihat dari banyak sisi terutama sekali pada

bulan suci ramadhan. Masyarakat melakukan shalat berjama’ah di

mesjid dan mushalla serta tadarus sehabis shalat witir. Dapat dilihat

ketika menyambut hari besar Islam para ibu-ibu juga bapak-bapak

serta pemuda dan pemudi juga ikut andil-dalam melaksanakan

pengajian dengan mendatangkan guru ceramah ataupun ustadz.

Sarana peribadatan yang ada di Kenagarian Ujung Gading

cukup baik untuk memenuhi kebutuhan ritual masyarakat dalam

pengabdian mereka kepada Allah SWT. Suatu yang sangat

(34)

24

secara maksimal hanya pada bulan ramadhan. Sehabis bulan ramadhan

masjid dan mushalla itu kurang difungsikan lagi maksudnya

masyarakat kebanyakan hanya melakukan shalat di rumah saja,

sedangkan kegiatan yang terus berjama’ah hanya sedikit saja. Sarana

ibadah yang terdapat di Kenagarian Ujung Gading. Setiap jorong ada

yang mempunyai 1 mesjid dan ada yang mempunyai 2 mesjid

perjorongnya. Sedangkan jenis sarana ibadah seperti mesjid dan

mushalla. Menurut data yang telah didapatkan oleh penulis dari profil

Nagari sarana untuk ibadah sudah memadai bagi masyarakat

Kenagarian Ujung Gading untuk melaksanakan perintah wajib Allah

SWT dan sunnah Rasul SAW.

2. Kondisi Sosial Ekonomi dan Adat Istiadat Masyarakat Kenagarian Ujung Gading

a. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

Persoalan ekonomi adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan

dari kehidupan masyarakat sehari-hari, karena faktor ekonomi selalu

dianggap sebagai faktor utama bagi kelangsungan hidup masyarakat.

Masalah ekonomi akan berkembang seiring dengan semakin majunya

kehidupan masyarakat. Semakin maju kehidupan masyarakat, semakin

beranekaragam kebutuhan hidup yang muncul.4 Sumber mata pencarian merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan

untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Adapun mata pencaharian

4

Sukwiaty, ddk. 2007, Ekonomi, Jakarta, h. 4

(35)

ataupun jenis pekerjaan penduduk bermacam ragam. Selain turun

kesawah kegiatan lainnya seperti perikanan dan perkebunan. Tanaman

perkebunan yang sesuai dengan iklim Kenagarian Ujung Gading

adalah Coklat, sawit dan juga sayur-sayuran. Untuk Nagari Ujung

Gading mayoritas penduduk bermata pencarian sebanyak 28.008 jiwa.

Sekalipun mayoritas masyarakat hidup dengan bertani bukan

berarti pekerjaan lain tidak diminati oleh masyarakat Kenagarian

Ujung Gading. Dari data yang diperoleh oleh penulis dari prifil Nagari

Ujung Gading bahwa dapat diketahui beberapa jenis pekerjaan yang

ditekuni oleh masyarakat.

Mata pencaharian penduduk Kenagarian Ujung Gading lebih

dominan bertani, baik menjadi petani sawah ataupun buruh tani.

Apabila dilihat dari jumlah penduduk yang menekuni mata

pencaharian bertani lebih dari setengah masyarakat di Kenagarian

Ujung Gading. Mata pencaharian sebagai PNS dan wiraswasta.

Pertukangan juga menjadi mata pencarian masyarakat Kenagarian

Ujung Gading yang lumayan banyaknya mencapai 260 jiwa.

Dalam data profil Nagari Ujung Gading yang telah penulis

peroleh mata pencaharian sebagai TNI dan Polisi di Kenagarian Ujung

Gading hanya sedikit. Sedangkan karyawan swasta dan pemilik usaha

perikanan lumayan banyak berkisar 130 an. Meskipun bertani menjadi

(36)

26

mata pencaharian sebagai peternak juga termasuk banyak dari mata

pencarian sebelumnya hingga mencapai ±700 jiwa.

Dapat dilihat bahwasanya dalam sektor pertanian pemilik tanah

sawah dan pemilik tanah ladang tidak sebanding, sangat jauh berbeda.

Penyewa atau penggarap sangat banyak hampir sebanding dengan

buruh tani yang berkisar 8275 jiwa. Dalam sektor perkebunan atau

peladang pemilik tanah perkebunan lebih sedikit dibandingkan dengan

buruh perkebunan.

Berdasarkan data yang penulis dapatkan di profil Nagari Ujung

Gading sektor peternakan juga banyak diminati oleh masyarakat adalah

sebagai pemilik peternak ayam yang berjumlah 38 orang dan

emmpunyai ternak ayam sebanyak 29177 ekor. Jumlah pemilik

peternak itik 27 orang dengan jumlah 5413 ekor itik, dalam data ini

juga pemilik peternak sapi berjumlah tidak banyak mencapai 18 orang

tapi dengan jumlah 495 ekor. Peternak kambing berjumlah 34 orang

dengan jumlah 510 ekor kambing. Sedangkan dilihat peternak kerbau

sangat sedikit hanya 9 orang yang berjumlah 18 ekor kerbau. Jadi

dapat penulis analisis bahwasanya masyarakat tidak hanya menekuni

sector pertanian dan peladang saja, namun sebagai peternak juga sudah

lumayan banyak.

b. Adat Istiadat Kenagarian Ujung Gading

Adat adalah tata cara hidup untuk mengatur hubungan antara

(37)

dengan kelompok atau individu dengan kelompok, dan juga dengan

lingkungan alam sekitarnya dalam rangka menciptakan kehidupan

sosial yang harmonis dalam masyarakat. Untuk menciptakan

kehidupan sosial yang harmonis itu, dibutuhkan sarana dan prasarana

yang bisa mendukung kegiatan anak Nagari beserta masyarakatnya

tersebut dalam menjalankan aktifitas.

Karena adat itu bersandi syara’. Maka adatpun ikut mengatur

hubungan antara makhluk dan khaliknya. Jadi dengan demikian

adatistiadat merupakan prilaku yang telah menjadi peraturan bagi

masyarakat seperti Lembaga Adat Nagari (LAN).

Mengenai adat istiadat di Kenagarian Ujung Gading

masyarakat tunduk dan taat pada hukum atau aturan adat yang berlaku.

Berbicara mengenai adat istiadat di Kenagarian Ujung Gading, secara

singkat dapat dikemukakan bahwa masyarakat yang taat kepada satu

aturan hukum adat yang berlaku. 100% keturunan mandailing yang

menurut garis keturunan Ayah (patrilineal).

Adapun adat istiadat di Kenagarian Ujung Gading dalam hal

pernikahan, penulis akan menguraikan secara ringkas yaitu tahap

pertama adalah perkenalan antar keluarga atau proses pendekatan

antara keluarga dimana tujuannya untuk saling mengenal lebih jauh,

jika telah didapati kecocokan di antara kedua belah pihak maka

(38)

28

rumah pihak perempuan. Dalam pertunangan akan ditetapkan tentang

kapan dilaksanakan akad nikah dan peresmian atau pesta nikah.

Misalnya perkawinan dalam adat mandailing pihak laki-laki

akan memberikan uang jujur / tuor kepada pihak wanita, dimana uang

jujur tersebut yang diminta oleh keluarga dari pihak wanita kepada

pihak laki-laki. Yang menentukan berapa besarnya adalah orang tua

dan saudara dari pihak wanita. Setelah ada kecocokan maka pihak

laki-laki akan memberikan kepada ninik mamak, di hadapan beberapa

perangkat terpenting di dalam masyarakat juga keluarga. Ninik mamak

yang berperan dalam uang jujur, melalui ninik mamak tersebutlah

diberikan kepada calon penganten wanita.

Berdasarkan adat yang berlaku jujur (tuor) tersebut memang

dikhususkan untuk penganten wanita tanpa adanya hak dari keluarga

untuk uang tersebut, maka masalah penggunaan uang jujur tergantung

kepada wanitanya. Karena memang telah ketentuan dalam adat adat

uang tersebut telah menjadi miliknya. Apabila calon penganten wanita

membelikan uang itu untuk emas dan baju untuk pernikahannya atau

untuk acara pesta hal tersebut sudah menjadi haknya.

Dalam kehidupan masyarakat peranan ninik mamak sebagai

pemangku adat sejalan dengan agama seperti yang disebutkan bahwa

“adat basandi syara’, Syara’ basandi kitabullah. Ninik mamak itu

(39)

Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan satu persatu dari

kedudukan ke empat ninik mamak di atas yaitu:

1) Penghulu sebagai orang yang ditinggikan selangkah dalam ajaran

ninik mamak.

2) Imam adalah seorang yang memdampingi atau membantu datuk

dalam menjalankan adat. Seperti gelar yang diberikan sebagai

Imam maka Imam lebih banyak tugasnya pada semua yang

bersangkutan dengan syara’. Contohnya meimami masjid atau

memberikan do,a ketika kemenekan meminta do’a.

3) Khotik juga sebagai salah seorang pembantu penghulu. Adapun

tugasnya seperti yang diungkapkan cerdik pandai dalam

kampung. Artinya khotik lebih banyak membidangi urusan

dalam bidang tabliqh atau khotik merupakan penghubung dalam

menyelesaikan suatu urusan. Jadi khotik adalah orang yang

memberitahukan sesuatu musalnya memberitahukan adanya orang

yang meninggal dunia.

4) Pagawai adalah salah seorang yang membantu penghulu dalam

urusan adat. Tugasnya adalah segala urusan yang menyangkut

dengan adat.

Dari gambaran kehidupan masyarakat Kenagarian Ujung

Gading yang telah penulis uraikan di atas dapat diambil kesimpulan

bahwa sebagia besar dari masyarakat di Kenagarian Ujung Gading

(40)

30

kehidupan masyarakat yang seperti itu dalam memenuhi kebutuhan

hidupnya sehari-hari membuat mereka harus memiliki sarana

transportasi yang baik, untuk memasarkan hasil tani mereka ke

Wilayah lainnya. Sehingga memerlukan jembatan sebagai sarana

penghubung.

C. Ujung Gading Pada Masa Kolonial

Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia dilatar belakangi oleh peristiwa

jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani (1453). Di mana

Konstantinopel merupakan pusat perdagangan Internasional bagi bangsa

Barat. Selain jatuhnya Konstantinopel, serangkaian penemuan teknologi juga

merupakan faktor penting untuk melakukan pelayaran bagi bangsa-bangsa

Barat menuju Tanah Hindia/Kepulauan Nusantara. Dan juga semangat dan

dorongan untuk melanjutkan perang Salib juga ikut mendorong kedatangan

bangsa-bangsa Barat ke Indonesia.

Akibat dari jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani,

rempah-rempah yang merupakan salah satu komodoti yang dijual dalam perdagangan

tersebut menjadi sulit didapatkan, karena akses untuk mendapatkan

rempah-rempah yang murah di Laut Tengah menjadi tertutup. Sedangkan harga

rempah-rempah melambung tinggi di pasar Eropa. Hal tersebut

mengakibatkan keinginan untuk mencari daerah yang menghasilkan

rempah-rempah ke timur. Upaya tersebut mendapatkan dukungan dan partisipasi dari

pemerintah dan ilmuan. Portugis dan Spanyol merupakan pelopor

(41)

baru di timur. Portugis merupakan pembuka jalan, menemukan Kepulauan

Nusantara sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Kemudian disusul

Belanda dan Inggris. Tujuan mereka datang ke timur tidak semata-mata untuk

mencari keuntungan melalui perdagangan rempah-rempah, tetapi juga

mempunyai tujuan yang lain, yaitu :

a. Gold : Mencari kekayaan dan keuntungan

b. Glory : Memburu kejayaan, mencari kekuasaan

c. Gospel :Menjalankan tugas suci untuk menyebarkan agama nasrani.

Kedatangan orang-orang eropa yang pertama di asia tenggara pada

awal abad abad XVI. Eropa bukanlah kawasan yang paling maju di dunia pada

permulaan abad XV, juga bukan merupakan kawasan yang paling dinamis.

Kekuatan besar yang sedang berkembang di dunia saat itu adalah islam.5 Pada abad ke-16 M mulai terdapat suasana baru diperairan Indonesia,

yaitu kedatangan bangsa Eropa diantaranya Belanda, Belanda mendapatkan

berita mengenai kekayaan Malaka yang sangat besar. Pada awalnya

kedatangan bangsa Belanda disambut dengan baik. Lambat laun Belanda

membuat kekacauan jaringan perdagangan.

Bangsa Portugis merupakan pembuka jalan menemukan Kepulauan

Nusantara sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Kemudian disusul oleh

bangsa Belanda dengan tujuan, belanda ingin memperluas wilayah kekuasaan

dengan mengembangkan usaha perdagangan, yaitu untuk mendapatkan

rempah-rempah dan hasil bumi. Perseroan Amsterdam mengirim Armada

5

M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, Jakarta: PT. Ikar Mandiriabadi, hal 40.

(42)

32

kapal dagangnya yang pertama ke Indonesia tahun 1595, terdiri dari empat

kapal, di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Menyusul kemudian,

angkatan kedua tahun 1598 di bawah pimpinan van Nede, van Heemskerck,

dan van Warwijck. Selain dari Amsterdam, juga datang beberapa kapal dari

berbagai kota di Belanda. Angkatan ketiga berangkat tahun 1599 di bawah

pimpinan van der Hagen dan angkatan keempat tahun 1600 di bawah

pimpinan van Neck. Hingga bangsa belanda menyebar dan meluas sampai

Kekenagarian Ujung Gading Pasaman Barat. Tujuan Belanda ke Ujung

Gading yaitu mereka ingin mendapat keuntungan besar dengan berniaga,

membeli rempah-rempah dengan harga rendah dan mereka ingin menguasai

perdagangn rempah-rempah di Ujung Gading secara sendirian atau monopoli.6 Ujung Gading adalah sebuah nagari di Kecamatan Lembah Melintang,

kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Nagari ini

lebih luas dan padat penduduknya daripada Nagari Simpak Empat ibu kota

kabupaten Pasaman Barat. Sumber utama penghasilan masyarakatnya adalah

bertani. Hasil pertaniannya meliputi kelapa sawit, jagung, karet, jeruk manis

dan kakao. Bahasa sehari-hari masyarakat Ujung Gading adalah Mandailing

dan Melayu. Letak geografis wilayah kabupaten Pasaman Barat yang

berbatasan langsung dengan provinsi Sumatera Utara.7

Ujung Gading Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman

Barat Provinsi Sumatera Barat. Nagari yang ditandai dengan sebuah

peninggalan sejarah penjajahan Belanda yaitu sebuah Jembatan Gantung yang

6

Samsul Munir Amin, Sejarah Peradapan Islam, (Jakarta : AMZAH, 2009), h. 384.

7

https://id.wikipedia.org/wiki/Ujung_Gading, Lembah Melintang,Pasaman Barat.Diunduh pada tanggal 12 maret 2017, jam 20:18

(43)

sudah puluhan tahun umurnya namun tetap kokoh tanpa ada perbaikan

sekalipun dari pemerintah setempat. Jembatan Gantung ini juga menjadi

sebuah simbol kekokohan adat istiadat Nagari dan kokohnya pendirian dan

agama masyarakatnya.

Ujung Gading Nagari yang diapit dua sungai yaitu sungai Batang

Bayang dan sungai Batang Sikabau. Sehingga pada saat kedatangan bangsa

Belanda untuk memudahkan laju perjalanan mereka ke wilayah-wilayah atau

Kenagari-nagari yang lainnya, sehingga mereka membangun Jembatan

Gantung yang merupakan satu-satunya Jembatan Gantung yang ada pada saat

itu yang dijadikan sebagai akses penyeberangan Sungai Batang Sikabau. Yang

melibatkan pekerja kasarnya adalah masyarakat setempat. Pada saat

kedatangan bangsa bangsa Belanda mengakibatkan sebuah kesengsaraan yang

mendalam bagi masyarakat Ujung Gading, dimana pada saat itu setiap kaum

lakai-laki dipaksa untuk bekerja bersama dengan mereka tanpa ada upah yang

memadai, sehingga anak-anak dan istri mereka pada saat itu banyak yang

kelaparan. Hasil bumi yang mereka hasilkan pun harus diserahkan kepada para

Belanda dengan harga murah.

D. Ujung Gading Masa Kemerdekaan

Kekalahan Jepang atas sekutu tidak bisa disembunyikan oleh tentara

Jepang yang sedang berada di Indonesia, sebab bangsa Indonesia telah

(44)

34

oleh Jepang sendiri.8 Dalam situasi yang demikian bangsa Indonesia bersiap-siap untuk mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang telah

lama ditunggu-tunggu. Soekarno mengatakan bahwa sesudah proklamasi

diproklamirkan tidak ada lagi yang mengikat tanah air dan bangsa Indonesia.

Indonesia menyusun negaranya sendiri, Negara yang merdeka, Negara

Republik Indonesia yang kekal dan abadi.9 Berdirinya Negara Republik Indonesia yang merdeka, menimbulkan kegembiraan dan kebahagian lahir

batin yang berlangsung berbulan-bulan lamanya pada rakyat di seluruh

Indonesia. Suasana gembira bangsa Indonesia tidak terusik sebelum

kedatangan Belanda kembali ke Indonesia.10

Sepuluh hari kemudian, yaiu tanggal 29 September 1945 Tentara

Inggris (sekutu) mendarat di Jakarta pada pukul 10.00 Wib yang dipimpin

oleh Letjen Sir Philip Christion. Panglima besar Allied Forces Netherland East

Indies (AFNEI). Dan rombongan ini turut membonceng beberapa orang dari

serdadu Belanda. Tugas pendaratannya adalah untuk mengungsikan dan

melindungi para tawanan perang, melucuti senjata-senjata dan mengembalikan

serdadu Jepang pulang ke Nagarinya dan menjaga keamanan serta

ketentraman.11 Namun dibelakang itu tersembunyi pula tugas untuk mengembalikan Indonesia ke tangan Belanda, yang merupakan salah satu

anggota Sekutu.

8

Fatimah Enar, Sumatera Barat 1945-1949, (Padang : PEMDA Sumatera Barat, 1979), hal. 17

9

Soejitno Hardjosoedire, Dari Proklamasi ke Perang Kemerdekaan, (Jakarta : Balai Pustaka, 1987), h. 39

10

P.R.S. Mani, Jejak Revolusi 1945 Sebuah Kesaksian Sejarah, (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 1985), h. 90

11

Soejitno Hardjosoediro, Op. Cit., h. 50

(45)

Belanda ingin mengambil alih kekuasaan di Indonesia dari Inggris

(sekutu). Belanda ingin menguasai Indonesia secara menyeluruh terutama

sumber daya manusia dan sumber daya alamnya. Sesuai dengan Agresi Militer

Belanda I (Juli 1947) wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia hanya diperluas

keperbatasan daerah pesisir pantai. Sesudah Agresi Militer Belanda II pada

bulan Desember 1948, Belanda berusaha menduduki daratan tinggi yang

strategis dan mendirikan tempat berpijak di semua kota besar di Indonesia,

misalnya Yogyakarta, Surabaya, Padang dan sekitarnya. Dari sanalah Belanda

mengadakan patrol-patroli dan berusaha menanamkan kekuasaannya di

pedalaman.12 Hingga Kekenagarian Ujung Gading. Setelah di Proklamasikan Kemerdekaan Indonesia masyarakat Nagari Ujung Gading pun merasakan

gembira karena telah terhindar dari tindasan bangsa Belanda yang mana pada

saat itu tersirat kesengsaraan yang dirasakan masyarakat Ujung Gading.

Sehingga setelah kepergian bangsa Belanda ada sebuah peninggalan yang

membekas sampai saat ini yaitu Jembatan Gantung, yang merupakan sebuah

icon peninggalan yang bersejarah bagi masyarakat Ujung Gading. Dengan

diproklamirkan kemerdekaan menjadikan masyarakat Ujung Gading pun

merasakan kebahagian karena telah terlepas dari bangsa Belanda dan

dinyatakan bebas dengan sebebas-bebasnya dari tindasan bangsa Belanda

yang mengakibatakan penderitaan yang mendalam bagi mereka. Masyarakat

Ujung Gading pun pada saat itu berusaha untuk bangkit kembali dan

melanjutkan hidup dengan semestinya. Dengan melakukan

perubahan-12

Audrey Kahim, Pergolakan Daerah pada Awal Kemerdekaan, Penerjumah Satyagraha Hoerip, Judul asli “Regional Dynamics of the Indonesia Revolution”, (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 1983), Cet. Ke-1, h. 158

(46)

36

perubahan demi perkembangan Nagari Ujung Gading, terbukti dengan

semakin banyaknya para pendatang yang tinggal di Nagari Ujung Gading dan

menjadikan Nagari Ujung Gading Nagari terpadat dibandingkan dengan

Nagari-nagari yang lainnya. Nagari Ujung Gading pun terkenal dengan

tanahnya subur sehingga banyaknya para petani yang hasil taninya melimpah

ruah.

Dilihat dari segi pembangunan Nagari Ujung Gading pada tahun 1984

ada sebuah pembangunan jembatan baru yang berada disamping Jembatan

Gantung, selain menjadikan lajunya sarana prasarana, jembatan yang baru itu

juga berperan menjadikan jarak tempuh semakin lancar. Dari segi ekomoni

masyarakat Ujung Gading lebih mudah untuk memasarkan hasil panen yang

mereka dapat ke Nagari-nagari yang lainnya. Jarak tempuh antara pusat

produksi dengan daerah pemasaran semakin dekat, waktu tempuh relative

singkat dan biaya transportasi yang dikeluarkan semakin kecil. Dengan adanya

penghematan jarak, waktu, dan biaya yang dikeluarkan maka kemajuan

ekonomi akan lebih tercapai.

(47)

BAB III

SEJARAH PEMBANGUNAN JEMBATAN GANTUNG

A. Sejarah Pembangunan Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat

Kebijakan pembangunan jembatan Gantung Ujung Gading sebagai

salah bentuk infrastruktur transportasi secara esensial yang dapat merangsang

dan memberi peluang pertumbuhan sosial maupun ekonomi khususnya di

Kenagarian Ujung Gading.

Jembatan adalah sebagai prasarana transportasi yang memiliki manfaat

yang dominan bagi pergerakan lalu lintas. Jembatan juga merupakan sarana

transportasi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Jembatan

istilah umum untuk konstruksi yang dibangun sebagai jalur transportasi yang

melintasi sungai, danau, rawa, jurang, maupun rintangan lainnya.

Pada dasarnya pembangunan jembatan tidak hanya bertujuan untuk

alat penghubung saja, tetapi juga mempunyai tujuan dan fungsi di antaranya

dari segi perekonomian, jembatan dapat mengurangi biaya transportasi. Dan

dari segi efisiensi waktu, dengan adanya jembatan dapat mempersingkat

waktu tempuh pada perjalanan darat yang saling terpisah. Jembatan juga dapat

meningkatkan daerah tertinggal untuk dapat lebih berhubungan dengan daerah

lain dengan mudah. Pembangunan jembatan juga dapat meningkatkan

interaksi sosial antara daerah yang dipisahkan oleh sebuah sungai, rawa atau

jurang. Interaksi sosial yang terjalin dengan baik antar kedua masyarakat di

daerah tersebut dapat memberikan dampak yang positif, antara lain yaitu

mereka akan merasa sebagai satu kesatuan wilayah. Dari segi efisien budaya

(48)

38

dengan adanya jembatan maka akan mempermudah interaksi budaya daerah

satu dengan daerah lainnya, sehingga akan memperkaya budaya

masing-masing daerah.1

Jembatan Gantung Ujung Gading terletak di Kenagarian Ujung

Gading, Kecamatan Lembah Melintang, kabupaten Pasaman Barat, Provinsi

Sumatra Barat, Indonesia. Nagari ini lebih luas dan padat penduduknya

daripada Nagari Simpak Empat ibu kota kabupaten Pasaman Barat. Adapun

Batasan-batasan wilayah Jembatan gantung antara lain, sebelah Utara

berbatasan dengan Sungai Batang Sikerbau, sebelah Selatan berbatasan

dengan Jembatan baru, sebelah Barat berbatasan dengan rumah penduduk,

sedangkan sebelah Timur berbatasan dengan jalan.

Jembatan Gantung Ujung Gading pertama kali dibangun oleh Belanda

pada tahun 1929 yang berdiri diatas Batang Sikabau yang menghubungkan

desa Kuamang dan Ujung Gading dan merupakan jalan ke Pantai Barat

Sumatera daerah Air Bangis. Sebagai pekerja kasar dalam proses

pembangunan jembatan gantung tersebut adalah para tokoh masyarakat

setempat yang dilakukan secara bergotong royong2. Bangsa Belanda membangunnya untuk memudahkan transportasi mereka dalam mengeruk

kekayaan alam Nagari Ujung Gading serta dengan tujuan lain yaitu untuk

penumpasan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Pada awalnya, tujuan

kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia hanya untuk membeli

rempah-rempah dari para petani Indonesia. Namun, dengan semakin meningkatnya

1

http://scholar.unand.ac.id/12523/2/BAB%20I.pdf

2

Fajri, Tokoh Masyarakat, wawancara pribadi di Ujung Gading 14 April 2017.

(49)

kebutuhan industri di Eropa akan rempah-rempah, mereka kemudian

mengklaim daerah-daerah yang mereka kunjungi sebagai daerah

kekuasaannya. Di tempat-tempat ini, bangsa Eropa memonopoli perdagangan

rempah-rempah dan mengeruk kekayaan alam sebanyak mungkin. Dengan

memonopoli perdagangan rempah-rempah, sehingga meluas keberbagai

daerah di Indonesia, termasuk ke Nagari Ujung Gading Pasaman Barat.

Karena, pada saat itu akses transportasi sangat memadai dan sulit sehingga

untuk melancarkan jalan mengeruk kekayaan alam sehingga bangsa Belanda

membangun Jembatan Gantung.

B. Bentuk Arsitektur Jembatan Gantung Ujung Gading

Kata arsitek berasal dari Yunani berarti ahli bangunan, jadi arsitektur

berarti seni bangunan yang di ciptakan untuk memenuhi keperluan manusia

yang berbudaya.3

Tipe jembatan gantung yang lebih konvensional adalah jembatan

gantung yang menggunakan kabel menerus yang ditahan oleh menara pada

setiap ujung Jembatan. Kabel tersebut digunakan untuk menahan atau sebagai

penyangga batang penggantung lantai jembatan. Jembatan gantung terdiri dari

4 buah tiang penyangga, makna yang terkandung dalam tiang penyangga itu

tidak hanya sebagai penyangga saja tetapi setelah sistim pemerintahan

Belanda berupa Hoofd Van di Ujung Gading terjadi perubahan bentuk

pemerintahan penghulu Adat dengan satu pimpinan yaitu Pulu Palu (Kepala

3

Departeman Pendidikan dan kebudayaan, Arsitektur Tradisional Minangkabau Selayang Pandang, (Jakarta: Proyek Media Kebudayaan, 1982-1993), h. 11

(50)

40

Penghulu) sebagai pimpinan Nagari yang diajukan dari kesepakatan semua

penghulu antara lain: Sultan Kelebihan, Jasah Tan Oloan, Regen (Gelar Rajo

Bulu), Muhammad Said.4 Dan terdapat 2 kabel yang berfungsi sebagai penopang, terdapat disisi kanan dan kiri dan setiap sisi terdapat 28 kabel yang

berfungsi sebagai penjaga keseimbangan, dan dibawah lantai dasar terdapat 4

buah kabel besi yang berfungsi sebagai penahan berat.

Sketsa tipe jembatan ini dapat dilihat pada Gambar 1. Lantai jembatan

dapat lentur atau kaku, tetapi harus cukup kuat menahan beban lalulintas

antara kabel dan juga untuk menahan beban angin. Bagian ujung menara harus

cukup tinggi untuk memungkinkan kabel utama melengkung, dengan rasio

antara 1 : 8 dan 1 : 11.

Gambar I

Skema Jembatan Gantung Ujung Gading.

Sumber : Arsip TU Pasaman Barat

Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam perancangan jembatan

gantung. Tahapan-tahapan dalam pembangunan Jembatan Gantung Ujung

Gading, terdiri atas:

1. Menetapkan lokasi jembatan dengan mempertimbangkan aspek teknik.

4

Yunaldi, Wawancara, Di Ujung Gading pada tanggal 04 Juni 2017

(51)

2. Melakukan pengukuran dan pembuatan peta lokasi jembatan.

3. Melakukan pengukuran bentang sungai ditambah 50 m ke setiap sisi

dengan koridor 15 m ke arah hulu dan hilir rencana lokasi jembatan.

4. Melakukan identifikasi kondisi hidrolik, elevasi air banjir, tinggi tebing,

serta kondisi geoteknik setempat.

5. Membersihkan lapangan dan membuat lintasan kabel untuk mengangkut

bahan-bahan ke setiap sisi jembatan.

6. Melakukan pengukuran jembatan, yang meliputi menara, angkur, dan

fondasi, penentuan ketinggian lantai jembatan, ketinggian blok angkur,

fondasi menara, serta fondasi gelagar pengaku jembatan.

7. Membuat blok angkur, fondasi menara, dan fondasi gelagar pengaku.

8. Memberi tanda-tanda lokasi batang penggantung, sumbu pelana, dan

angkur pada kabel utama sesuai hasil perhitungan dan pengukuran

lapangan.

9. Membuat menara, kabel, dan pelana.

10.Memasang dan menyetel awal kabel utama.

11.Menempatkan dan mengikat kabel-batang penggantung.

12.Memasang gelagar melintang, memanjang, dan pengaku secara bertahap.

13.Memasang lantai jembatan dan sandaran.

14.Menyetel akhir kabel utama pada blok angkur.

15.Memasang dan menyetel kabel angin, serta Membuat jalan masuk ke

(52)

42

16.Pembuatan blok angkur, terdiri atas: Membuat blok angkur pada lokasi

dan ketinggian yang tepat terhadap menara.

17.Menyesuaikan sumbu blok angkur dengan sumbu pen yang menjadi

hubungan akhir antara baut angkur yang tertanam dalam blok dan kabel

utama.

18.Mempertahankan tanah asli pada waktu penggalian tanah untuk blok

angkur.

19.Membuat acuan untuk baut angkur dengan kedalaman minimum 30 cm

pada waktu pengecoran blok angkur.

20.Menyetel baut angkur sebelum mortar mulai mengeras dan mengisi acuan

dengan mortar yang menggunakan campuran dengan perbandingan air :

semen : pasir adalah 0,4 : 1 : 1, sampai penuh dan tidak terjadi kantong

udara dalam mortar.

21. Pembuatan fondasi menara, terdiri atas: Memastikan dasar fondasi

tertanam dalam tanah asli.

22.Memeriksa kembali ketinggian perletakan kemudian mengisikan mortar

kering dengan komposisi semen dan pasir dengan perbandingan 1 : 2 di

bawah pelat.

23.Pemasangan kabel utama dan pelana, terdiri atas: Melindungi kabel utama

terhadap korosi dengan galvanisasi atau bungkus selubung polietilena

yang diberi pelumas. Membuat dan memasang pelana sehingga dudukan

(53)

rencana. Menggunakan kabel semu mendahului kabel utama untuk

menarik kabel utama melintasi sungai.

24.Memberi tanda pada kabel utama penempatan pada sumbu pelana (sumbu

perletakan atas menara) dan posisi batang penggantung dan angkur pada

kondisi kabel diletakkan lurus di atas tanah dan belum ditegangkan.

Mengurangi panjang kabel dengan perpanjangan yang diperhitungkan

sesuai dengan tegangan kabel akibat beban mati jembatan dan ditambah

dengan lengkungan kabel di pelana. Memasang kabel utama pada satu sisi

dan selanjutnya memasang pada sisi lainnya. Melaksanakan pemasangan

kabel dengan bantuan kabel semu untuk menarik kabel perlahan-lahan ke

kiri atau ke kanan agar berada pada titik pusat menara. Pemasangan batang

penggantung, memasang batang penggantung dengan klem-klem agak

longgar sehingga batang-batang tersebut mudah ditempatkan pada lokasi

yang tepat.

25.Pemasangan gelagar melintang dan memanjang, memasang gelagar

melintang dan memanjang secara bersamaan kemudian dilanjutkan dengan

pemasangan lantai papan dan sandaran.

26.Memperkuat bangunan atas jembatan dengan kabel-kabel penahan yang

diikatkan ke dalam tebing untuk mengurangi goyangan jembatan dalam

(54)

44

penyetelan, dengan sambungan profil dan baut harus memenuhi

persyaratan kekuatan dengan kawat.5

27.Memasang ikatan angin untuk memperkuat gelagar-gelagar. Ilustrasi

ikatan angin ditunjukkan padaGambar 2.

Gambar II

Kabel-kabel Ikatan Angin

Sumber : Arsip TU Pasaman Barat

Sebagai studi kasus dibuat suatu Detail Engineering Design (DED) Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat. Berdasarkan hasil survei

topografi diperoleh peta lokasi Jembatan Gantung yang akan dibuat, seperti

ditunjukkan pada Gambar 3.

5

Edifrizal, Perencanaan Struktur Jembatan. Pusat Pengembangan Bahan

Ajar. Jakarta: Universitas Mercubuana, 2012, h. 65

(55)

Gambar III

Hasil Pengukuran Topografi

Sumber : Arsip TU Pasaman Barat

C. Sejarah Perkembangan Wilayah Nagari Ujung Gading Pasca Pembangunan Jembatan (Baru).

Pembangunan jembatan baru membawa dampak yang positif bagi

masyarakat Nagari Ujung Gading. Jembatan baru yang melintas di atas sungai

Batang Sikabau dan merupakan jembatan baru sebagai pengganti Jembatan

Gantung dengan total panjang bentang utama 120 meter dengan lebar 9 meter,

(56)

46

Gambar IV

(57)

Sumber : Foto Hasil Pemotretan Melalui Kamera Secara Pribadi tahun 2017

Kondisi eksisting Jembatan adalah Jembatan tipe gantung, kondisi ini

jelas membutuhkan pemeliharaan yang berkala untuk mencegah terjadinya

gejala korosi utamanya pada kabel suspensi. Sebagai alternatif lain untuk

mengganti Jembatan Gantung yang sudah tidak bisa dipergunakan lagi karena

sudah rapuh dan berlobang-lobang ini dapat dilihat pada Gambar 3. Karena

dengan mempertimbangkan faktor psikologis masyarakat setempat dan juga

(58)

48

bahan permanen beton tipe ini dimaksudkan untuk memperkokoh Jembatan

dari hal-hal yang tidak diiginkan.

Gambar V

(59)

Sumber : Foto Hasil Pemotretan Melalui Kamera Secara Pribadi tahun 2017

Jembatan merupakan salah satu prasarana transportasi yang sangat

penting bagi manusia. Jembatan dapat menghubungkan jaringan ruas jalan

yang terputus karena aliran sungai. Jadi Jembatan merupakan bagian yang tak

terpisahkan dari jaringan jalan. Jalan yang baik tidak ada artinya apabila

jembatan-jembatan yang ada di ruas jalan tersebut belum memadai sesuai

dengan kebutuhannya. Untuk itu jembatan memegang peranan penting dalam

sistem transportasi. Jembatan merupakan bagian dari jaringan ruas jalan.

(60)

50

daerah lainnya. Di Perdesaan banyak lahan produktif tidak dapat dimanfaatkan

hanya karena dipisahkan oleh sungai yang belum ada jembatan.

Perkembangan Wilayah Nagari Ujung Gading Pasca Pembangunan

Jembatan (Baru). Dilihat dari beberapa bidang yaitu, sebagai berikut:

1. Dampak Pembangunan dalam Bidang Sosial-Ekonomi kemasyarakatan

Jembatan baru merupakan sebuah anugerah karena dengan di

bangunnya Jembatan yang baru menjadikan sarana prasarana menjadi

lancar, dan memudahkan untuk bepergian ke Nagari-nagari yang lain

seperti Kekenagarian Air Bangis, Air balam, Silaping, Desa Baru dll.

Dengan demikian masyarakat dapat dengan mudah memasok akses

kebutuhan hidupnya karena adanya jembatan yang baru. Fungsi

pembangunan ditinjau dari segi ekonomi antara lain, jarak tempuh antara

pusat produksi dengan daerah pemasaran semakin dekat, waktu tempuh

relative singkat dan biaya transportasi yang dikeluarkan semakin kecil.

Dengan adanya penghematan jarak, waktu, dan biaya yang dikeluarkan

maka kemajuan ekonomi akan lebih tercapai.

Sedang dalam bentuk sosial pembangunan Jembatan dapat

meningkatkan interaksi sosial antara daerah yang dipisahkan oleh sebuah

sungai, rawa atau jurang. Interaksi sosial yang terjalin dengan baik antar

kedua masyarakat di daerah tersebut dapat memberikan dampak yang

positif, antara lain yaitu mereka akan merasa sebagai satu kesatuan

(61)

2. Dampak Pembangunan Jembatan baru dalam bidang pendidikan

Dampak pembangunan Jembatan yang baru dari segi pendidikan

membawa dampak yang positif bagi masyarakat Nagari Ujung Gading,

Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman Barat. Dapat dilihat

bahwa sarana pendidikan di Kenagarian Ujung Gading sudah memadai

yaitu terdapat sarana pendidikan mencapai 16 buah SD, 8 buah SLTP, dan

7 buah SLTA. Bagi masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya ke

tingkat pendidikan sudah bisa di Kenagarian Ujung Gading tidak perlu ke

luar daerah karna sudah banyak pilihan. Di Kenagarian Ujung Gading juga

terdapat 2 Universitas sehingga apabila warga Nagari Ujung Gading ingin

melanjutkan ke perguruan tinggi sudah bisa masuk Universitas yang ada di

Kenagarian Ujung Gading Kecamatan Lembah Melintang. Berkaitan

dengan pendidikan ini di Kenagarian Ujung Gading sistem pendidikan

serta pengembangannya sudah berjalan dengan baik karena sarana

pendidikannya sudah banyak. Muncul dua sekolah Negeri baru yakni

SMK dan SMP. Terlihat bahwa ada usaha untuk membangun SDM yang

berkualitas sehingga masyarakat menjadi pelaksana dalam pembangunan

di daerahnya sendiri sebagai persiapan ketika kawasan Ujung Gading di

kembangkan lebih baik.

3. Dampak Pembangunan Jembatan baru dalam bidang Budaya

Berdampak positif adanya Jembatan Ujung Gading berkaitan

dengan mulai berubahnya status Nagari Ujung Gading dari daerah plosok

Gambar

Gambar I Skema Jembatan Gantung Ujung Gading.
Gambar II Kabel-kabel Ikatan Angin
Gambar III Hasil Pengukuran Topografi
Gambar IV
+3

Referensi

Dokumen terkait