SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Adab dan Humaniora Sebagai Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora (S.Hum)
Pada Jurusan Sejarah Peradaban Islam
Oleh: SITI BULAN
1311020116
JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM (SPI) FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) IMAM BONJOL PADANG
ABSTRAK
Siti Bulan, Bp: 1311020116 penulis skripsi yang berjudul “Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat (1929-1984)” adalah Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang tahun 2017.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana Sejarah Pembangunan Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat, bagaimana Arsitektur Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat, dan bagaimana Sejarah Perkembangan Wilayah Nagari Ujung Gading Pasca Pembangunan Jembatan Baru.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah melakukan tinjauan historis dengan pendekatan arkeologis, adapun cara pengumpulan data yang menyangkut tentang Jembatan Gantung kemudian pengolahan data, penafsiran data. Tahap pengumpulan data pada penelitian ini terdiri atas studi kepustakaan, dan studi lapangan. Studi lapangan meliputi peninjauan ke bangunan yang dijadikan objek penelitian dengan melakukan pendeskripsian. Pendeskripsian terbagi atas dua cara dilakukan secara verbal atau uraian dan viktorial atau gambar berupa wawancara, pengukuran, pencatatan, dan pemotretan.
Jembatan Gantung Ujung Gading merupakan sebuah Jembatan Gantung yang berada di Kenagarian Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang. Kabupaten Pasaman Barat. Jembatan Gantung ini berdiri pada tahun 1929, dan merupakan Jembatan Pertama yang dibangun Belanda yang berdiri di atas Batang Sikabau yang menghubungkan desa Kuamang dan Ujung Gading dan merupakan jalan ke Pantai Barat Sumatera daerah Air Bangis. Sebagai pekerja kasar dalam proses pembangunan jembatan gantung tersebut adalah para tokoh masyarakat setempat yang dilakukan secara bergotong royong. Dahulu Belanda membangunnya untuk memudahkan transportasi mereka dalam mengeruk kekayaan alam Indonesia serta dengan tujuan lain yaitu untuk penumpasan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Jembatan Gantung Ujung Gading merupakan sebuah kekayaan daerah yang merupakan peninggalan sejarah yang harus dipelihara dan dijaga, sehingga kekayaan ini dapat dinikmati tidak hanya masyarakat Ujung Gading tetapi juga masyarakat daerah-daerah lainnya. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana peninggalan ini tetap terjaga dan terpelihara.
DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... ii
BAB II SEJARAH SINGKAT NAGARI UJUNG GADING A. Asal Usul Nagari Ujung Gading ... 13
B. Monografi Nagari Ujung Gading ... 18
C. Ujung Gading Masa Kolonial ... 31
D. Ujung Gading Masa Kemerdekaan ... 34
BAB III SEJARAH PEMBANGUNAN JEMBATAN GANTUNG A. Sejarah Pembangunan Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat ... 37
B. Bentuk Arsitektur Jembatan Gantung Ujung Gading ... 39
C. Sejarah Perkembangan Wilayah Nagari Ujung Gading Pasca Pembangunan Jembatan (Baru)... 45
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 55
B. Saran ... 58
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Jembatan dapat dikatakan sebagai salah satu peralatan tertua di dalam
peradaban manusia.Pada zaman dahulu, jembatan mula-mula dibuat dengan
menggunakan balok kayu yang besar dan kuat untuk menyeberangi
sungai-sungai kecil.Indonesia sebagai Negara tropis yang terdiri dari berbagai pulau
besar dan kecil serta memiliki banyak sungai memerlukan jembatan untuk
penghubung antara wilayah yang terpisah oleh sungai dan laut.Usaha yang
dilakukan untuk memperlancar hubungan antar daerah melalui darat adalah
dengan membangun jembatan-jembatan dan jalan-jalan baru maupun perbaikan
dan pelebaran jalan lama, serta perbaikan jembatan yang telah rusak, yang
sudah tidak mampu menopang arus lalu lintas yang ada.Majunya pembangunan
suatu daerah menyebabkan kegiatan dan kebutuhan manusia semakin
meningkat, sehingga dapat menyebabkan banyak permasalahan lalu lintas,
salah satunya dalam bidang transportasi.
Transportasi menjadi hal yang sangat penting, karena merupakan urat
nadi kehidupan ekonomi, sosial, politik, budaya, dan HANKAM.Oleh karena
itu, pengadaan sarana dan prasarana transportasi perlu diwujudkan dalam
menjunjung pembangunan, salah satu prasarana transportasi yang memberikan
pengaruh dalam pembangunan adalah jembatan. Jembatan sebagai prasarana
transportasi mempunyai manfaat yang dominan bagi pergerakan lalu
lintas.Jembatan juga merupakan sarana transportasi yang sangat penting dalam
kehidupan masyarakat.Jembatan istilah umum untuk konstruksi yang dibangun
sebagai jalur transportasi yang melintasi sungai, danau, rawa, jurang, maupun
rintangan lainnya.Sungai merupakan rupa bumi yang sangat dominan di
Sumatera.Ada ribuan sungai dengan berbagai ukuran yang mengalir nyaris
tidak ada daerah di Pulau tersebut yang tidak dialiri sungai.Oleh karena itu,
dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, kehidupan warga Sumatera, secara
langsung atau tidak, dipengaruhi oleh sungai.1Pada dasarnya pembangunan jembatan tidak hanya bertujuan untuk alat penghubung saja, tetapi juga
mempunyai tujuan dan fungsi di antaranya dari segi perekonomian, jembatan
dapat mengurangi biaya transportasi.Dan dari segi efisiensi waktu, dengan
adanya jembatan dapat mempersingkat waktu tempuh pada perjalanan darat
yang saling terpisah. Jembatan juga dapat meningkatkan daerah tertinggal
untuk dapat lebih berhubungan dengan daerah lain dengan mudah.2 Sedangkan fungsinya antara lain:Fungsi Ekonomifungsi pembangunan ditinjau dari segi
ekonomi antara lain, jarak tempuh antara pusat produksi dengan daerah
pemasaran semakin dekat, waktu tempuh relative singkat dan biaya transportasi
yang dikeluarkan semakin kecil. Dengan adanya penghematan jarak, waktu,
dan biaya yang dikeluarkan maka kemajuan ekonomi akan lebih
tercapai.Fungsi Sosial pembangunanjembatan dapat meningkatkan interaksi
sosial antara daerah yang dipisahkan oleh sebuah sungai, rawa atau
jurang.Interaksi sosial yang terjalin dengan baik antar kedua masyarakat di
daerah tersebut dapat memberikan dampak yang positif, antara lain yaitu
1
Gusti Asnan, Sungai dan Sejarah Sumatra, Yogyakarta: Ombak, 2016, h. 13
2
3
mereka akan merasa sebagai satu kesatuan wilayah. Fungsi
Politikmembangunjembatan akan memperlancar jalannya roda pemerintahan
dan pengawasan secara langsung terhadap jalannya pemerintahan sampai pada
daerah yang masih terisolir. Apabila terjadi bencana alam di suatu daerah,
maka jalan danjembatan merupakan prasarana yang dapat mempercepat suplai
sembako dan obat-obatan.Dengan demikian pembangunan jembatan dapat
memperlancar tindakan-tindakan pemerintah dalam mengatur kepentingan,
keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Fungsi Budayadengan adanya
jembatan maka akanmempermudah interaksi budaya daerah satu dengan daerah
lainnya, sehingga akan memperkaya budaya masing-masing daerah. Fungsi
HANKAMpentingnyajembatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara yaitu dapat meningkatkan pertahanan dan keamanan suatu
negara, ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan dapat mengganggu
stabilitas Daerah maupun Nasional.
Jembatan gantung pertamayang dibangun olehBelanda.3Pada tahun 1929 yang berdiri diatas Batang Sikabau yang menghubungkan desa Kuamang
dan Ujung Gading dan merupakan jalan ke Pantai Barat Sumatera daerah Air
Bangis. Sebagai pekerja kasar dalam proses pembangunan jembatan gantung
tersebut adalah para tokoh masyarakat setempat yang dilakukan secara
bergotong royong4.Dahulu Belanda membangunnya untuk memudahkan transportasi mereka dalam mengeruk kekayaan alam Indonesia serta dengan
tujuan lain yaitu untuk penumpasan para pejuang kemerdekaan Indonesia.
3
Jamaluddin, Tokoh Masyarakat, wawancara pribadi di Ujung Gading 15 April 2017
4
Sayangnya Jembatan Gantung yang merupakan icon Ujung Gading saat ini
kurang terawat. Terlihat sudah mulai hancur sedikit demi sedikit dimakan usia.
Dilihat dari bentuk arsitekturnya masih kokoh, tetapi sudah tidak bisa
dipergunakan lagi karena Jembatan Gantung tersebut sudah rapuh dan
lantainya sudah berlobang-lobang.
Jembatan gantung Ujung Gading memiliki keunikan diantaranya dari
segi bentukJembatan Gantung tersebut merupakan jenis jembatan yang
menggunakan tumpuan ketegangan kabel dan memiliki kabel
utama,mempunyai 4 tiang yang terbuat dari bajadan masing-masing tiang
memiliki panjang 4m, sedangkan lantai jembatan terbuat dari beton, disetiap
sisi-sisinya terbuat dari baja, danpanjang jembatan gantung tersebut sepanjang
120m.5
Jembatan sebagai warisan budaya yang berbentuk fisik memberikan
kebanggaan Nasional kepada kita bangsa Indonesia.Peninggalan-peninggalan
sejarah yang berbentuk jembatan harus dijaga, dipelihara dan
dilestarikan.Karena, peninggalan itu mengandung nilai sejarah.Disamping itu
juga dapat memperkuat kepribadian bangsa, dan memberikan kebanggaaan
Nasional bangsa Indonesia.6
Dari sekian banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang berbentuk
jembatan di wilayah Indonesia, salah satunya adalah jembatan gantung Ujung
5
Satria, Tokoh Masyarakat, wawancara pribadi di Ujung Gading 22 Februari 2017.
6
Sagimun, M.D, Peninggalan Sejarah Masa Perkembangan Agama-Agama di Indonesia,
5
Gading Pasaman Barat.Jembatan ini dibangun pada tahun 1929 dan merupakan
jembatan tertua di Kenagarian Ujung Gading.7
Setelah penulis meninjau kelapangan tentang keberadaan jembatan
gantung ini peneulis prihatin sekali karena jembatan gantung ini kurang
mendapat perhatian dari masyarakat bahkan telah banyak
komponen-komponennya yang hilang.Hal inilah yang memotivasi penulis untuk menulis
tentang sejarah jembatan gantung tersebut, mulai dari awal berdiri sampai
dibangunnya jembatan baru hingga sekarang, dan mengenai arsitektur
bangunannya.
Mudah-mudahan dengan adanya tulisan ini, nanti akan menimbulkan
kesadaran dari masyarakat untuk menjaga dan memeliharanya sebagai
peninggalan di zaman dahulu.
Sehingga penulis tertarik untuk menelitinya tentang“Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat(1928-1984)”.
B.Rumusan dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari Latar Belakang Masalah diatas maka dapat di
rumuskan masalah pokok dalam penelitian ini sebagai berikut:
Untuk lebih sistematis, maka penulis merumuskan permasalahan
yaitu: Bagaimana Sejarah Pembangunan Jembatan Gantung Ujung Gading
ditinjau dari sisi arkeologisnya.
7
Sedangkan untuk tidak terlalu luas permasalahan yang akan penulis
teliti maka penulis membatasi pada aspek arkeologi bahan kajian yang akan
diteliti:
a. Bagaimanakahsejarah pembangunan jembatan gantung Ujung Gading
Pasaman Barat?
b. Bagaimana arsitektur jembatan gantung Ujung Gading Pasaman Barat?
c. Bagaimana sejarah perkembangan wilayah Nagari Ujung Gading pasca
pembagunan jembatan baru?
2. Batasan Masalah
Agar penulisan ini lebih terarah serta tidak terjadi penyimpangan,
maka penulis memberikan batasan masalah sebagai berikut:
a. Batasan Temporal
Untuk menghasilkan kesimpulan yang baik dalam penelitian ini.
Maka penulis akan membatasi waktu penelitian yaitu dari tahun
1929-1984.Dimana pada tahun 1929merupakan tahunawal dibangunnya
jembatan gantungolehBelanda untuk memudahkan transportasi mereka
dalam mengeruk kekayaan alam Indonesia serta dengan tujuan lainya
yaitu untuk penumpasan para pejuang kemerdekaan Indonesia.Mengapa
penulis membuat batasan temporalnya sampai tahun 1984?Karena, pada
tahun 1984 merupakan tahun dimana dibangunnya jembatan baru untuk
menggantikan Jembatan Gantung yang lama.
7
Untuk batasan spasial yang hendak penulis lakukan adalah di
wilayah Indonesia secara umum dan khususnya di Kenagarian Ujung
GadingPasaman Barat.
c. Batasan Tematis
Dalam penelitian ini penulis akan lebih banyak mengangkat tema
Sejarah dan arsitektur sarana transportasi umum.
C.Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahuisejarah pembangunan jembatan gantung Ujung
Gading PasamanBarat.
b. Untuk melihatarsitektur jembatan gantung ujung Gading Pasaman Barat.
c.Untuk mengetahuisejarah perkembangan wilayah Nagari Ujung
Gadingpasca pembangunan jembatan (baru).
2. Kegunaan Penelitian
a. Memberi informasi serta memperkaya wawasan ilmu pengetahuan
penulis.
b. Agar dapat menambah khazanah kepustakaan Sejarah dan Kebudayaan
Islam Fakultas Adab dan Humaniora.
Agar tidak terjadi kerancuan dan kesalahan persepsi dalam
penganalisaan diatas, maka penulis akan menjelaskan maksud dari judul
penelitian ini:
Jembatan : Merupakan struktur yang dibuat untuk
menyeberangi jurang atau rintangan seperti
sungai, rel kereta api ataupun jalan raya.8 Tinjauan Historis-Arkeoloogis:Kalimat yang terdiri dari dua bahasa Indonesia
dan Inggris. Tujuan artinya memandang dan
memperhatikan menurut aspek sejarah,
sedangkan Historis adalah bahasa Inggris
artinya sejarah.9Sedangkan arkeologis adalah sebuah ilmu yang mempelajari masa
lalu.10Arkeologi merupakan ilmu bantu yang mengungkapkan fakta-fakta sejarah pada masa
lampau.11
E.Tinjauan Kepustakaan
Sejauh pengamatan yang penulis lakukan di perpustakaan Fakultas
Adab dan Humaniora, perpustakaan Pusat UIN Imam Bonjol Padang, penulis
belum menemukan penelitian yang menyangkut judul ini.Adapun penelitian
8
https://id.wikipedia.org/wiki/Jembatan. diunduh pada tanggal 16 maret 2017, jam 10:51
9
S Wojo Wasito, Kamus Umum Inggris Indonesia, Jakarta : PT Cypress, 1947, h. 331
10
Lutfi Yondri, Dasar-Dasar Arkeologi, Jakarta: PT. Akademik Pressindo, 1985, h. 1-2
11
Hasan, Mua’rif Ambari, Menemukan Peradaban Jejak Arkeologi dan Historis Islam Indonesia, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1998, h. 1
9
yang dilakukan adalah melalui Library Interview (penelitian wawancara), penelitian buku-buku dan media sosial.
F. Metode Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian, ketetapan dalam memilih metode sangat
mementukan keberhasilan dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan.
Mengingat dan memperhatikan bahwa penelitian ini bersifat sejarah dan
arkeologi maka langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Heuristik
Heuristik merupakan langkah awal dari penulisan untuk
mengumpulkan sumber-sumber sejarah dan arkeologi, disini ada dua cara
yang dilakukan yaitu:
a. Studi Kepustakaan, yaitu penulis mencari data yang diperlukan melalui
literatur-literatur yang berkenaan dengan pembahasan yang dapat
dijadikan sumber skunder, meliputi perpustakaan Fakultas Adab dan
Humaniora, perpustakaanUniversitas Islam Negeri Imam Bonjol
Padang, perpustakaan Universitas Andalas Padang, perpustakaan
Universitas Negeri Padang, perpustakaan Daerah Sumatera Barat dan
lain-lain.
b. Studi lapangan, yaitu penulis mengumpulkan sumber sejarah dan
arkeologi melalui peninjauan langsung ke bangunan yang dijadikan
mencari data yang diperlukan melalui buku yang berkaitan dengan
permasalahan, baik sumber primer atau sumber sekunder, dan field researchpenulis mengumpulkan sumber sejarah dan arkeologi melalui dokumentasi, wawancara, observasi dan pendeskripsian. Pendeskripsian
dibagi dua cara yaitu: yang pertama dilakukan secara verbal atau uraian,
kedua viktorial, pengukuran, pencatatan, dan pemotretan, terhadap
bangunan jembatan gatung Ujung Gading Pasaman Barat.
2. Kritik Sumber
Dalam melakukan kritik sumber ini penulis melakukan dengan dua
tahap, yaitu kritik eksteren dan kritik interen.Kritik eksteren adalah kritik
dan pengujian terhadap keaslian sumber apakah masih asli atau tidak,
sedangkan kritik interen adalah melakukan seleksi terhadap
informasi-informasi yang ditemukan. Artinya sebelum informasi-informasi itu ditetapkan sebagai
sumber, maka penulis akan menyaring terlebih dahulu.
3. Sintesis
Membuat sebuah kesimpulan berdasarkan dari informasi maupun
data-data yang sudah dikumpulkan dilapangan.Disini penulis mencoba
menafsirkan berdasarkan kemampuan penulis dalam menganalisa suatu
fakta sesuai dengan topik yang penulis teliti.
4. Penulisan
Tahap terakhir dari langkah-langkah dalam penulisan sebuah
penelitian, yaitu penulisan. Pada tahapan ini penulis berusaha untuk
11
menjadi sebuah karangan ilmiah serta melakukan proses pengujian secara
kritis terhadap semua data yang telah didapatkan. Dalam hal ini juga penulis
berusaha untuk memaparkan hasil penelitian dengan mendeskripsikan dalam
bentuk karya ilmiah dengan menggunakan pendekatan deskriptif
naratif.Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan bagi penulis untuk
memaparkan dengan menggunakan deskriptif analisis.12
G.Sistematika Penulisan
Penulisan Skripsi ini menggunakan Sistematika Penulisan, yakni:
Bab Iuraiantentang,Pendahuluan yang mencakup tentang Latar
Belakang Masalah, Rumusan Masalah dan Batasan Masalah, Tujuan dan
Kegunaan Penelitian, Penjelasan Judul, Tujuan Kepustakaan,Metode
Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
Sedangkan Bab II,menjelaskan tentang Sejarah Singkat Nagari Ujung
Gading yaitu: Asal-usul Nagari Ujung Gading,UjungGading Masa Kolonial,
Ujung Gading Masa Kemerdekaan.
Pada Bab III, deskripsi tentangSejarah Pembangunan Jembatan
Gantung Ujung Gading Pasaman Barat, Bentuk Arsitektur Jembatan Gantung
Ujung Gading, Sejarah Perkembangan Wilayah Nagari Ujung Gading Pasca
Pembagunan Jembatan baru.
12
Mardalis, Metode Penelitian suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 26
Bab IV, merupakan bagian penutupmemaparkam kesimpulan dari
penelitian serta saran-saran yang diperlukan terkait substansi penelitian baik
BAB II
SEJARAH SINGKAT NAGARI UJUNG GADING
A. Asal-Usul Nagari Ujung Gading
Terbentuknya wilayah Nagari Ujung Gading ada dua pendapat:
1. Asal-usul daerah Ujung Gading dilalui dan diapit oleh dua sungai yang
besar yaitu:
a. Sungai Batang Sikerbau
b. Sungai Batang Bayang.1
Aliran sungai ini menyatukan di daerah Tareh Jorong Koto Sawah
yang akhirnya Daratan antara dua sungai tersebut terbentuk seperti Gading
Gajah, maka terjadilah wilayah tersebut dengan nama Ujung Gading.
2. Sebelum perang dunia pertama, telah ada penghuni di wilayah Nagari Ujung
Gading, penghuni tersebut berasal dari Tapanuli Selatan yaitu Kota Nopan
dengan gelar Mangkapi Raja dengan rumah Atap Seng.
Mangkapi Raja sebagai Kepala Suku atau Ketua Banjar dari 12
orang. Yang 12 orang tersebut menggarap lahan untuk bercocok tanam
disebelah Barat Batang Sikerbau tepatnya di Kantor Polsek sekarang di
Jorong Kuamang. Disaat mengolah lahan tersebut oleh rombongan
menemukan Ujung Gading kemudian disepakati penyerahannya kepada kepala suku (Mangkapi Raja), oleh Mengkapi Raja menaruh Gading
tersebut di Ujung Perabung atap rumahnya.
1
Data Kantor Wali Nagari Ujung Gading.
Pada suatu saat setelah Mangkapi Raja Menaruh Gading tersebut di
atap rumahnya banyak perantau yang datang dari berbagai Nagari singgah
dirumahnya, mereka takjub melihat atap rumah Mangkapi Raja yang unik
dan langka, sehingga rumah tersebut dijadikan tempat peristirahatan bagi
perantau untuk sekedar melepas lelah dan menginap, pemilik rumah tersebut
sangat ramah dan menyebarlah keseluruh penjuru Nagari akan keelokan dan
keunikan pemilik rumah yang di Ujung Rumahnya ada Gading Gajah,
akhirnya mereka sepakat menamakan tempat tersebut Ujung Gading. Selanjutnya hari berganti hari, minggu berganti minggu dan tahun pun
berganti rombongan yang menetap berlalu akhirnya mereka menyeberangi
sungai Batang Sikerbau tepatnya bermukim diantara pertemuan Sungai
Batang Sikerbau dan Batang Bayang dengan nama Kampung Godang
kemudian pindah ke Pasar Lama.
Pada suatu saat Daulat Parit Batu berniat mencari tempat usaha
kearah barat tepatnya ke Ujung Gading sehingga mereka bermukim di
Kampung Koto yang sekarang ini bernama Koto Rajo. Suatu hari Daulat
Parit Batu mendatangi kelompok pendatang yang berasal dari Kota Nopan
yang saat itu berjumlah 12 Kepala keluarga seraya berkata “Hai Mangkapi Raja Banjar dan daerah ini adalah Tanah Minangkabau dan dilarang kalian semuanya untuk tinggal disini” dan terjadilah kekacauan antara kedua pihak yang berakhir dengan perasaan yang tidak menyenangkan.
Untuk menghindari kesalah pahaman tersebut pihak Mangkapi Raja
14
bekal secukupnya, ketika sampai disana sang hulu baling menghalangi
Mangkapi Raja masuk menenui Daulat Parit Batu tersebut, akhirnya bekal
dan kesabaran pun habis dan terjadilah perkelahian antara Hulu Balang dan
Mangkapi Raja berakhir dengan kematian sang Hulu Balang, Daulat Parit
Batu menyaksikan perkelahian tersebut dan bangga melihat kegigihan dan
keberanian Mangkapi Raja sehingga Daulat Parit Batu memberi gelar
“Natunggang”. Mulai saat itu Daulat Parit Batu memberikan Hak untuk menguasai wilayah dengan isi perintahnya:
Bulek sudah kato lah abih Kok tanah lah dibingkahkan Kok adat lah ditentukan
Kok kalang batang lah baimpik Kok daun lah basauo
Kok dadak lah batimbun Batali ko Parik Batu
Akhirnya Raja Natunggang pulang ke Ujung Gading, sesampainya
disana segera membentuk Datuk,
a. Orang Mandailing Ampu Rajo dari Mandailing terjadi Datuk Gompo Rayo
b. Datuk Maya-maya dari Mandailing menjadi Datuk Kinaya
c. Datuk Apinis Mandailing jadi Datuk Sordang
d. Datuk Kompek Suku di daerah Kuamang
Sebelum Perang Dunia I dipenghujung semua diganti oleh Belanda
dengan pemerintahan Onder Districks dan Nagari Hoofd berupa: a. Kelarasan Agam
c. Kelarasan Sungayang
d. Kelarasan Kenaikan
e. Kelarasan Batang Sikilang
f. Kelarasan Hoofd Van di Ujung Gading (Batang Sikerbau)
Disaat sistem Pemerintahan Belanda berupa Hoofd Van di Ujung
Gading terjadi perubahan bentuk Pemerintahan Penghulu Adat dengan satu
pimpinan yaitu Pulu Palo (Kepala Penghulu) sebagai Pemimpin Nagari yang diajukan dari kesepakatan semua penghulu antara lain:
Pulu Palo (Kepala Nagari) : a. Sultan Kelebihan
b. Jasah Tan Oloan
c. Regen (Gelar Raja Bulu)
d. Muhammad Saib
Disaat situasi penghujung Pergerakan Kemerdekaan RI oleh
pengaruh penjajahan Belanda, maka habislah kepemimpinan sistim Kepala
Penghulu menjadi Wali Perang oleh :
a. Zakaria pada tahun 1950
b. Agus Yatim yang dipilih secara Demokrasi tahun 1957
c. Setelah itu dilanjutkan oleh H. Ahmad yang dibentuk oleh pemerintah
d. Dilanjutkan oleh Sutan Abu Bakar Tuanku Sati selama ± 4 tahun
e. Dilanjutkan oleh Rosali (Datuk Rajo Sampono)
f. Setelah itu dilanjutkan oleh Naumar Sutan Guru
16
h. Terjadi lagi Demokrasi sampai terpilih Sayuti Thaib
i. Dilanjutkan oleh Helmi
j. Dilanjutkan lagi oleh Sayuti Thaib
k. Dilanjutkan oleh Kulbahi
l. Kembali lagi diemban oleh Sayuti Thaib, sampai lahirnya perda
peralihan bentuk kepemimpinan kepala desa yang diatur perda tahun
1999, terjadi Reformasi secara Nasional yang mengakibatkan
kembalinya ke system pemerintahan Nagari yang dilaksanakan secara
Demokrasi dengan hasil
m. H. Zaim AR tahun 2002 s/d 2005
n. Drs. Ahmad Tamrin tahun 2005 s/d 2011 dengan masa jabatan 5 tahun
o. Burhanuddin Z. tahun 2012 s/d 2018 dengan masa jabatan 5 tahun.
Istilah dalam pepatah :
Abih tanah dek Sikabau
Seluruh aturan yang ada di Parit Batu telah diakui di Daulat
Pagaruyuang untuk Minangkabau secara adat istiadat. Kedudukan dan
bentuk wilayah telah dua kali dipindahkan bentuk pemerintahannya
sekaligus dengan wilayah pemerintahannya.2
2
Data Kantor Wali Nagari Ujung Gading.
B. Monografi Nagari Ujung Gading
Peta Nagari Ujung Gading
18
Kenagarian Ujung Gading merupakan salah satu Kenagarian di antara
yang terdapat di Kecamatan Lembah Melintang. Kecamatan Lembah
Melintang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Pasaman Barat. Kenagarin
Ujung Gading dengan orbitasi jarak ke ibu kota Provinsi (Padang) 225 Km,
jarak ke ibu kota Kabupaten (Simpang Empat) 49 Km, dengan waktu
tempuhnya ke ibu kota Provinsi 5 jam, ke Kabupaten 1 jam. Secara geografis
Nagari Ujung Gading mempunyai ketinggian tanah dari permukaan laut
15-725M DPL, topografis 28C dan letak geografis 00°33’LU 99°28’BT dan
00°05’LU 99°42’BT. Kenagarian Ujung Gading terdiri dari 16 Jorong yaitu:
Jorong Batang Gunung, Jorong Brastagi, Jorong Irian, Jorong Koto Pinang,
Jorong Koto Sawah, Jorong Kuamang, Jorong Lombok, Jorong Lubuk Alai,
Jorong Pasa Lamo, Jorong Ranah Salido, Jorong Saroha, Jorong Situak,
Jorong Situak Barat, Jorong Taluak Ambun, Jorong Tampus, Jorong Tanjung
Damai.
Keadaan geografis Kenagarian Ujung Gading dapat dilihat dengan
melalui batas-batas wilayah Kenagarian Ujung Gading. Secara geografis yang
membatasi wilayah adalah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Tapsel, PT PMS
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Nagari Sungai Aur
c. Sebelah Barat berbatasan dengan Nagari Parit
d. Sebelah Timur berbatasan dengan Sungai Aur
Sarana transportasi di Kenagarian Ujung Gading sudah baik yang
transportasi yang tersedia sepeda motor, becak, ojek dan bus untuk
pengangkutan barang-barang hasil perkebunan, sepeda motor lebih cendrung
di gunakan warga Nagari Ujung Gading untuk alat transportasi sehari-hari.
Mereka berpendapat berpergian dengan sepeda motor itu lebih
menghemat waktu dan ongkos pun jauh beda dengan ojek ataupu dengan
yang lainnya. Semakin banyaknya sepeda motor yang beredar sebagai alat
transportasi semakin tersingkirnya bus dan becak yang dulunya yang dulunya
sebagai alat transportasi utama bagi warga Nagari Ujung Gading. Di
kenagarian Ujung Gading juga telah ditemukan beberapa tempat wisata
seperti lubuk king, sipagogo dan waterbum Lombok, disini banyak sekali
orang-orang dari luar Nagari Ujung Gading yang datang untuk mengunjungi
tempat-tempat wisata tersebut baik di hari-hari biasa ataupun di hari raya.
Kondisi lingkungan di Kenagarian Ujung Gading secara umum sudah
mencirikan kawasan yang bercirikan daerah permukiman, namun masih
memberikan kesan daerah yang teduh dan alami. Hal ini dikarenakan letak
yang tidak jauh dari pegunungan dan pada dasarnya kawasan hijau.
Di Kenagarian Ujung Gading mengalir dua batang sungai yaitu batang
sungai sikabau dan batang sungai air bayang. Kedua batang sungai tersebut
dapat dimanfaatkan masyarakat dalam berbagai keperluan rumah tangga dan
dapat dipergunakan untuk mengairi lahan pertanian.
Adapun data yang penulis dapat jumlah penduduk Kenagarian Ujung
Gading berjumlah 44614 jumlah jiwa dan apabila dirinci menurut umur dan
20
Pada umur 16-18 jenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir sama
dan pada umur 16-18 jumlah laki-laki dan prempuan lebih banyak dari umur
yang lainnya karena pada umur 16-18 itu kebanyakan masa pertumbuhan
remaja.
Berdasarkan data yang di peroleh oleh penulis pada umur 60-69 jauh
penurunan jumlah laki dan perempuan. Akan tetapi di umur > 70 an
laki-laki menurun di bandingkan dengan perempuan. Sehingga dengan data yang
penulis peroleh ini, maka penulis menyimpulkan bahwa jenis kelamin
laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan yang tinggal di Nagari
Ujung Gading.
1. Pendidikan dan Kehidupan Beragama a. Pendidikan
Pendidikan atau ilmu pengetahuan suatu hal yang sangat
penting dalam kehidupan ini tanpa pendidikan atau ilmu manusia akan
buta huruf dan ini pun sangat merugikan dirinya sendiri. Seseorang
yang mempunyai pendidikan akan lebih tinggi derajatnya disisi Allah
dari pada orang yang tidak mempunyai pendidikan. Sebagaimana
firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 11 yang
berbunyi:
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.3
3
Departemean Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro, 2000
Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa orang yang
berilmu dalam pandangan Allah lebih tinggi derajatnya dibandingkan
dengan orang yang tidak mempunyai ilmu dalam beramal, dan orang
Islam dianjurkan untuk menuntut ilmu, karena menuntut ilmu itu wajib
hukumnya bagi setiap orang Islam.
Maju mundurnya suatu masyarakat tergantung pada
pendidikannya karena pendidikan dan pengajaran suatu yang sangat
besar manfaatnya dalam mencapai kemajuan pembangunan.
Pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan
manusia, dengan pendidikan yang baik dan bermutu akan dapat
meningkatkan kecerdasan dan kreativitas yang dimiliki masyarakat
demi terwujudnya manusia-manusia pembangunan yang berkualitas
serta dapat mendatangkan manfaat dan pengaruh positif terhadap diri
sendiri dan lingkungan.
Salah satu faktor utama penyebab lajunya pendidikan terhadap
anak yaitu adanya dorongan serta motivasi dari orang tua untuk anak
minimal menamatkan SLTA. Namun di samping itu untuk
melanjutkan ke perguruan tinggi orang tua mulai terbentur dengan
masalah biaya atau dana. Ada juga sebagian anak yang melanjutkan ke
tingkat yang lebih tinggi dan memperoleh gelar sarjana (S1 dan S2)
hanya dalam jumlah yang sedikit. Adapun data yang penulis dapat
bahwa jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan yang ada di
22
Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa sarana
pendidikan di Kenagarian Ujung Gading sudah memadai untuk tingkat
SD ,SLTP dan SLTA. Bagi masyarakat yang ingin menyekolahkan
anaknya ke tingkat pendidikan sudah bisa di Kenagarian Ujung Gading
tidak perlu ke luar daerah karna sudah banyak pilihan. Di Kenagarian
Ujung Gading hanya terdapat 2 Universitas sehingga apabila warga
Nagari Ujung Gading ingin melanjutkan ke perguruan tinggi sudah
bisa masuk Universitas yang ada di Kenagarian Ujung Gading
Kecamatan Lembah Melintang.
Berkaitan dengan pendidikan ini di Kenagarian Ujung Gading
sistem pendidikan serta pengembangannya sudah berjalan dengan baik
karena sarana pendidikannya sudah banyak. Hal ini dapat dilihat dari
jumlah penduduk menurut tingkat pendidikannya tersebut yang ada di
Kenagarian Ujung Gading Kecamatan Lembah Melintang.
b. Kehidupan Beragama
Agama merupakan pedoman hidup yang sangat penting bagi
manusia. Dengan adanya pedoman hidup maka akan membuat manusia
menjadi tentram, damai, tabah dan tawakkal serta percaya diri, berani
berjuang untuk menegakkan kebenaran, kesiapan mengabdi dan
berkorban. Tanpa agama manusia akan terombang ambing dalam
kehidupan tanpa tujuan. Agama merupakan sumber kehidupan dan
Sarana yang dapat digunakan sebagai tempat untuk menambah
ilmu pengetahuan tentang keagamaan sebagai penuntun hidup di dunia
dan akhirat dapar diperoleh melalui lembaga pendidikan. Sedangkan
wadah pendidikan keagamaan yang terdapat di Kenagarian Ujung
Gading adalah TPA 15 buah dengan jumlah anggota 2.115 anggota.
Penduduk di Kenagaraian Ujung Gading yang beragama Islam,
laki-laki berjumlah 22102 dan perempuan 22512. Kebanyakan mereka
taat menjalankan ibadahnya, walaupun sebagian dari penduduk Nagari
Ujung Gading masih ada yang menjalankan agama sebagai rutinitas
saja tanpa mengetahui apakah yang diamalkan tersebut telah sesuai
dengan syari’ah Islam atau belum. Di setiap mesjid dan mushalla
biasanya diadakan shalat berjama’ah pada malam dan siang harinya.
Kegiatan keagamaan di Kenagarian Ujung Gading terlihat
cukup baik. Ini dapat dilihat dari banyak sisi terutama sekali pada
bulan suci ramadhan. Masyarakat melakukan shalat berjama’ah di
mesjid dan mushalla serta tadarus sehabis shalat witir. Dapat dilihat
ketika menyambut hari besar Islam para ibu-ibu juga bapak-bapak
serta pemuda dan pemudi juga ikut andil-dalam melaksanakan
pengajian dengan mendatangkan guru ceramah ataupun ustadz.
Sarana peribadatan yang ada di Kenagarian Ujung Gading
cukup baik untuk memenuhi kebutuhan ritual masyarakat dalam
pengabdian mereka kepada Allah SWT. Suatu yang sangat
24
secara maksimal hanya pada bulan ramadhan. Sehabis bulan ramadhan
masjid dan mushalla itu kurang difungsikan lagi maksudnya
masyarakat kebanyakan hanya melakukan shalat di rumah saja,
sedangkan kegiatan yang terus berjama’ah hanya sedikit saja. Sarana
ibadah yang terdapat di Kenagarian Ujung Gading. Setiap jorong ada
yang mempunyai 1 mesjid dan ada yang mempunyai 2 mesjid
perjorongnya. Sedangkan jenis sarana ibadah seperti mesjid dan
mushalla. Menurut data yang telah didapatkan oleh penulis dari profil
Nagari sarana untuk ibadah sudah memadai bagi masyarakat
Kenagarian Ujung Gading untuk melaksanakan perintah wajib Allah
SWT dan sunnah Rasul SAW.
2. Kondisi Sosial Ekonomi dan Adat Istiadat Masyarakat Kenagarian Ujung Gading
a. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat
Persoalan ekonomi adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan masyarakat sehari-hari, karena faktor ekonomi selalu
dianggap sebagai faktor utama bagi kelangsungan hidup masyarakat.
Masalah ekonomi akan berkembang seiring dengan semakin majunya
kehidupan masyarakat. Semakin maju kehidupan masyarakat, semakin
beranekaragam kebutuhan hidup yang muncul.4 Sumber mata pencarian merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Adapun mata pencaharian
4
Sukwiaty, ddk. 2007, Ekonomi, Jakarta, h. 4
ataupun jenis pekerjaan penduduk bermacam ragam. Selain turun
kesawah kegiatan lainnya seperti perikanan dan perkebunan. Tanaman
perkebunan yang sesuai dengan iklim Kenagarian Ujung Gading
adalah Coklat, sawit dan juga sayur-sayuran. Untuk Nagari Ujung
Gading mayoritas penduduk bermata pencarian sebanyak 28.008 jiwa.
Sekalipun mayoritas masyarakat hidup dengan bertani bukan
berarti pekerjaan lain tidak diminati oleh masyarakat Kenagarian
Ujung Gading. Dari data yang diperoleh oleh penulis dari prifil Nagari
Ujung Gading bahwa dapat diketahui beberapa jenis pekerjaan yang
ditekuni oleh masyarakat.
Mata pencaharian penduduk Kenagarian Ujung Gading lebih
dominan bertani, baik menjadi petani sawah ataupun buruh tani.
Apabila dilihat dari jumlah penduduk yang menekuni mata
pencaharian bertani lebih dari setengah masyarakat di Kenagarian
Ujung Gading. Mata pencaharian sebagai PNS dan wiraswasta.
Pertukangan juga menjadi mata pencarian masyarakat Kenagarian
Ujung Gading yang lumayan banyaknya mencapai 260 jiwa.
Dalam data profil Nagari Ujung Gading yang telah penulis
peroleh mata pencaharian sebagai TNI dan Polisi di Kenagarian Ujung
Gading hanya sedikit. Sedangkan karyawan swasta dan pemilik usaha
perikanan lumayan banyak berkisar 130 an. Meskipun bertani menjadi
26
mata pencaharian sebagai peternak juga termasuk banyak dari mata
pencarian sebelumnya hingga mencapai ±700 jiwa.
Dapat dilihat bahwasanya dalam sektor pertanian pemilik tanah
sawah dan pemilik tanah ladang tidak sebanding, sangat jauh berbeda.
Penyewa atau penggarap sangat banyak hampir sebanding dengan
buruh tani yang berkisar 8275 jiwa. Dalam sektor perkebunan atau
peladang pemilik tanah perkebunan lebih sedikit dibandingkan dengan
buruh perkebunan.
Berdasarkan data yang penulis dapatkan di profil Nagari Ujung
Gading sektor peternakan juga banyak diminati oleh masyarakat adalah
sebagai pemilik peternak ayam yang berjumlah 38 orang dan
emmpunyai ternak ayam sebanyak 29177 ekor. Jumlah pemilik
peternak itik 27 orang dengan jumlah 5413 ekor itik, dalam data ini
juga pemilik peternak sapi berjumlah tidak banyak mencapai 18 orang
tapi dengan jumlah 495 ekor. Peternak kambing berjumlah 34 orang
dengan jumlah 510 ekor kambing. Sedangkan dilihat peternak kerbau
sangat sedikit hanya 9 orang yang berjumlah 18 ekor kerbau. Jadi
dapat penulis analisis bahwasanya masyarakat tidak hanya menekuni
sector pertanian dan peladang saja, namun sebagai peternak juga sudah
lumayan banyak.
b. Adat Istiadat Kenagarian Ujung Gading
Adat adalah tata cara hidup untuk mengatur hubungan antara
dengan kelompok atau individu dengan kelompok, dan juga dengan
lingkungan alam sekitarnya dalam rangka menciptakan kehidupan
sosial yang harmonis dalam masyarakat. Untuk menciptakan
kehidupan sosial yang harmonis itu, dibutuhkan sarana dan prasarana
yang bisa mendukung kegiatan anak Nagari beserta masyarakatnya
tersebut dalam menjalankan aktifitas.
Karena adat itu bersandi syara’. Maka adatpun ikut mengatur
hubungan antara makhluk dan khaliknya. Jadi dengan demikian
adatistiadat merupakan prilaku yang telah menjadi peraturan bagi
masyarakat seperti Lembaga Adat Nagari (LAN).
Mengenai adat istiadat di Kenagarian Ujung Gading
masyarakat tunduk dan taat pada hukum atau aturan adat yang berlaku.
Berbicara mengenai adat istiadat di Kenagarian Ujung Gading, secara
singkat dapat dikemukakan bahwa masyarakat yang taat kepada satu
aturan hukum adat yang berlaku. 100% keturunan mandailing yang
menurut garis keturunan Ayah (patrilineal).
Adapun adat istiadat di Kenagarian Ujung Gading dalam hal
pernikahan, penulis akan menguraikan secara ringkas yaitu tahap
pertama adalah perkenalan antar keluarga atau proses pendekatan
antara keluarga dimana tujuannya untuk saling mengenal lebih jauh,
jika telah didapati kecocokan di antara kedua belah pihak maka
28
rumah pihak perempuan. Dalam pertunangan akan ditetapkan tentang
kapan dilaksanakan akad nikah dan peresmian atau pesta nikah.
Misalnya perkawinan dalam adat mandailing pihak laki-laki
akan memberikan uang jujur / tuor kepada pihak wanita, dimana uang
jujur tersebut yang diminta oleh keluarga dari pihak wanita kepada
pihak laki-laki. Yang menentukan berapa besarnya adalah orang tua
dan saudara dari pihak wanita. Setelah ada kecocokan maka pihak
laki-laki akan memberikan kepada ninik mamak, di hadapan beberapa
perangkat terpenting di dalam masyarakat juga keluarga. Ninik mamak
yang berperan dalam uang jujur, melalui ninik mamak tersebutlah
diberikan kepada calon penganten wanita.
Berdasarkan adat yang berlaku jujur (tuor) tersebut memang
dikhususkan untuk penganten wanita tanpa adanya hak dari keluarga
untuk uang tersebut, maka masalah penggunaan uang jujur tergantung
kepada wanitanya. Karena memang telah ketentuan dalam adat adat
uang tersebut telah menjadi miliknya. Apabila calon penganten wanita
membelikan uang itu untuk emas dan baju untuk pernikahannya atau
untuk acara pesta hal tersebut sudah menjadi haknya.
Dalam kehidupan masyarakat peranan ninik mamak sebagai
pemangku adat sejalan dengan agama seperti yang disebutkan bahwa
“adat basandi syara’, Syara’ basandi kitabullah. Ninik mamak itu
Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan satu persatu dari
kedudukan ke empat ninik mamak di atas yaitu:
1) Penghulu sebagai orang yang ditinggikan selangkah dalam ajaran
ninik mamak.
2) Imam adalah seorang yang memdampingi atau membantu datuk
dalam menjalankan adat. Seperti gelar yang diberikan sebagai
Imam maka Imam lebih banyak tugasnya pada semua yang
bersangkutan dengan syara’. Contohnya meimami masjid atau
memberikan do,a ketika kemenekan meminta do’a.
3) Khotik juga sebagai salah seorang pembantu penghulu. Adapun
tugasnya seperti yang diungkapkan cerdik pandai dalam
kampung. Artinya khotik lebih banyak membidangi urusan
dalam bidang tabliqh atau khotik merupakan penghubung dalam
menyelesaikan suatu urusan. Jadi khotik adalah orang yang
memberitahukan sesuatu musalnya memberitahukan adanya orang
yang meninggal dunia.
4) Pagawai adalah salah seorang yang membantu penghulu dalam
urusan adat. Tugasnya adalah segala urusan yang menyangkut
dengan adat.
Dari gambaran kehidupan masyarakat Kenagarian Ujung
Gading yang telah penulis uraikan di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa sebagia besar dari masyarakat di Kenagarian Ujung Gading
30
kehidupan masyarakat yang seperti itu dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya sehari-hari membuat mereka harus memiliki sarana
transportasi yang baik, untuk memasarkan hasil tani mereka ke
Wilayah lainnya. Sehingga memerlukan jembatan sebagai sarana
penghubung.
C. Ujung Gading Pada Masa Kolonial
Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia dilatar belakangi oleh peristiwa
jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani (1453). Di mana
Konstantinopel merupakan pusat perdagangan Internasional bagi bangsa
Barat. Selain jatuhnya Konstantinopel, serangkaian penemuan teknologi juga
merupakan faktor penting untuk melakukan pelayaran bagi bangsa-bangsa
Barat menuju Tanah Hindia/Kepulauan Nusantara. Dan juga semangat dan
dorongan untuk melanjutkan perang Salib juga ikut mendorong kedatangan
bangsa-bangsa Barat ke Indonesia.
Akibat dari jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani,
rempah-rempah yang merupakan salah satu komodoti yang dijual dalam perdagangan
tersebut menjadi sulit didapatkan, karena akses untuk mendapatkan
rempah-rempah yang murah di Laut Tengah menjadi tertutup. Sedangkan harga
rempah-rempah melambung tinggi di pasar Eropa. Hal tersebut
mengakibatkan keinginan untuk mencari daerah yang menghasilkan
rempah-rempah ke timur. Upaya tersebut mendapatkan dukungan dan partisipasi dari
pemerintah dan ilmuan. Portugis dan Spanyol merupakan pelopor
baru di timur. Portugis merupakan pembuka jalan, menemukan Kepulauan
Nusantara sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Kemudian disusul
Belanda dan Inggris. Tujuan mereka datang ke timur tidak semata-mata untuk
mencari keuntungan melalui perdagangan rempah-rempah, tetapi juga
mempunyai tujuan yang lain, yaitu :
a. Gold : Mencari kekayaan dan keuntungan
b. Glory : Memburu kejayaan, mencari kekuasaan
c. Gospel :Menjalankan tugas suci untuk menyebarkan agama nasrani.
Kedatangan orang-orang eropa yang pertama di asia tenggara pada
awal abad abad XVI. Eropa bukanlah kawasan yang paling maju di dunia pada
permulaan abad XV, juga bukan merupakan kawasan yang paling dinamis.
Kekuatan besar yang sedang berkembang di dunia saat itu adalah islam.5 Pada abad ke-16 M mulai terdapat suasana baru diperairan Indonesia,
yaitu kedatangan bangsa Eropa diantaranya Belanda, Belanda mendapatkan
berita mengenai kekayaan Malaka yang sangat besar. Pada awalnya
kedatangan bangsa Belanda disambut dengan baik. Lambat laun Belanda
membuat kekacauan jaringan perdagangan.
Bangsa Portugis merupakan pembuka jalan menemukan Kepulauan
Nusantara sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Kemudian disusul oleh
bangsa Belanda dengan tujuan, belanda ingin memperluas wilayah kekuasaan
dengan mengembangkan usaha perdagangan, yaitu untuk mendapatkan
rempah-rempah dan hasil bumi. Perseroan Amsterdam mengirim Armada
5
M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, Jakarta: PT. Ikar Mandiriabadi, hal 40.
32
kapal dagangnya yang pertama ke Indonesia tahun 1595, terdiri dari empat
kapal, di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Menyusul kemudian,
angkatan kedua tahun 1598 di bawah pimpinan van Nede, van Heemskerck,
dan van Warwijck. Selain dari Amsterdam, juga datang beberapa kapal dari
berbagai kota di Belanda. Angkatan ketiga berangkat tahun 1599 di bawah
pimpinan van der Hagen dan angkatan keempat tahun 1600 di bawah
pimpinan van Neck. Hingga bangsa belanda menyebar dan meluas sampai
Kekenagarian Ujung Gading Pasaman Barat. Tujuan Belanda ke Ujung
Gading yaitu mereka ingin mendapat keuntungan besar dengan berniaga,
membeli rempah-rempah dengan harga rendah dan mereka ingin menguasai
perdagangn rempah-rempah di Ujung Gading secara sendirian atau monopoli.6 Ujung Gading adalah sebuah nagari di Kecamatan Lembah Melintang,
kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Nagari ini
lebih luas dan padat penduduknya daripada Nagari Simpak Empat ibu kota
kabupaten Pasaman Barat. Sumber utama penghasilan masyarakatnya adalah
bertani. Hasil pertaniannya meliputi kelapa sawit, jagung, karet, jeruk manis
dan kakao. Bahasa sehari-hari masyarakat Ujung Gading adalah Mandailing
dan Melayu. Letak geografis wilayah kabupaten Pasaman Barat yang
berbatasan langsung dengan provinsi Sumatera Utara.7
Ujung Gading Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman
Barat Provinsi Sumatera Barat. Nagari yang ditandai dengan sebuah
peninggalan sejarah penjajahan Belanda yaitu sebuah Jembatan Gantung yang
6
Samsul Munir Amin, Sejarah Peradapan Islam, (Jakarta : AMZAH, 2009), h. 384.
7
https://id.wikipedia.org/wiki/Ujung_Gading, Lembah Melintang,Pasaman Barat.Diunduh pada tanggal 12 maret 2017, jam 20:18
sudah puluhan tahun umurnya namun tetap kokoh tanpa ada perbaikan
sekalipun dari pemerintah setempat. Jembatan Gantung ini juga menjadi
sebuah simbol kekokohan adat istiadat Nagari dan kokohnya pendirian dan
agama masyarakatnya.
Ujung Gading Nagari yang diapit dua sungai yaitu sungai Batang
Bayang dan sungai Batang Sikabau. Sehingga pada saat kedatangan bangsa
Belanda untuk memudahkan laju perjalanan mereka ke wilayah-wilayah atau
Kenagari-nagari yang lainnya, sehingga mereka membangun Jembatan
Gantung yang merupakan satu-satunya Jembatan Gantung yang ada pada saat
itu yang dijadikan sebagai akses penyeberangan Sungai Batang Sikabau. Yang
melibatkan pekerja kasarnya adalah masyarakat setempat. Pada saat
kedatangan bangsa bangsa Belanda mengakibatkan sebuah kesengsaraan yang
mendalam bagi masyarakat Ujung Gading, dimana pada saat itu setiap kaum
lakai-laki dipaksa untuk bekerja bersama dengan mereka tanpa ada upah yang
memadai, sehingga anak-anak dan istri mereka pada saat itu banyak yang
kelaparan. Hasil bumi yang mereka hasilkan pun harus diserahkan kepada para
Belanda dengan harga murah.
D. Ujung Gading Masa Kemerdekaan
Kekalahan Jepang atas sekutu tidak bisa disembunyikan oleh tentara
Jepang yang sedang berada di Indonesia, sebab bangsa Indonesia telah
34
oleh Jepang sendiri.8 Dalam situasi yang demikian bangsa Indonesia bersiap-siap untuk mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang telah
lama ditunggu-tunggu. Soekarno mengatakan bahwa sesudah proklamasi
diproklamirkan tidak ada lagi yang mengikat tanah air dan bangsa Indonesia.
Indonesia menyusun negaranya sendiri, Negara yang merdeka, Negara
Republik Indonesia yang kekal dan abadi.9 Berdirinya Negara Republik Indonesia yang merdeka, menimbulkan kegembiraan dan kebahagian lahir
batin yang berlangsung berbulan-bulan lamanya pada rakyat di seluruh
Indonesia. Suasana gembira bangsa Indonesia tidak terusik sebelum
kedatangan Belanda kembali ke Indonesia.10
Sepuluh hari kemudian, yaiu tanggal 29 September 1945 Tentara
Inggris (sekutu) mendarat di Jakarta pada pukul 10.00 Wib yang dipimpin
oleh Letjen Sir Philip Christion. Panglima besar Allied Forces Netherland East
Indies (AFNEI). Dan rombongan ini turut membonceng beberapa orang dari
serdadu Belanda. Tugas pendaratannya adalah untuk mengungsikan dan
melindungi para tawanan perang, melucuti senjata-senjata dan mengembalikan
serdadu Jepang pulang ke Nagarinya dan menjaga keamanan serta
ketentraman.11 Namun dibelakang itu tersembunyi pula tugas untuk mengembalikan Indonesia ke tangan Belanda, yang merupakan salah satu
anggota Sekutu.
8
Fatimah Enar, Sumatera Barat 1945-1949, (Padang : PEMDA Sumatera Barat, 1979), hal. 17
9
Soejitno Hardjosoedire, Dari Proklamasi ke Perang Kemerdekaan, (Jakarta : Balai Pustaka, 1987), h. 39
10
P.R.S. Mani, Jejak Revolusi 1945 Sebuah Kesaksian Sejarah, (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 1985), h. 90
11
Soejitno Hardjosoediro, Op. Cit., h. 50
Belanda ingin mengambil alih kekuasaan di Indonesia dari Inggris
(sekutu). Belanda ingin menguasai Indonesia secara menyeluruh terutama
sumber daya manusia dan sumber daya alamnya. Sesuai dengan Agresi Militer
Belanda I (Juli 1947) wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia hanya diperluas
keperbatasan daerah pesisir pantai. Sesudah Agresi Militer Belanda II pada
bulan Desember 1948, Belanda berusaha menduduki daratan tinggi yang
strategis dan mendirikan tempat berpijak di semua kota besar di Indonesia,
misalnya Yogyakarta, Surabaya, Padang dan sekitarnya. Dari sanalah Belanda
mengadakan patrol-patroli dan berusaha menanamkan kekuasaannya di
pedalaman.12 Hingga Kekenagarian Ujung Gading. Setelah di Proklamasikan Kemerdekaan Indonesia masyarakat Nagari Ujung Gading pun merasakan
gembira karena telah terhindar dari tindasan bangsa Belanda yang mana pada
saat itu tersirat kesengsaraan yang dirasakan masyarakat Ujung Gading.
Sehingga setelah kepergian bangsa Belanda ada sebuah peninggalan yang
membekas sampai saat ini yaitu Jembatan Gantung, yang merupakan sebuah
icon peninggalan yang bersejarah bagi masyarakat Ujung Gading. Dengan
diproklamirkan kemerdekaan menjadikan masyarakat Ujung Gading pun
merasakan kebahagian karena telah terlepas dari bangsa Belanda dan
dinyatakan bebas dengan sebebas-bebasnya dari tindasan bangsa Belanda
yang mengakibatakan penderitaan yang mendalam bagi mereka. Masyarakat
Ujung Gading pun pada saat itu berusaha untuk bangkit kembali dan
melanjutkan hidup dengan semestinya. Dengan melakukan
perubahan-12
Audrey Kahim, Pergolakan Daerah pada Awal Kemerdekaan, Penerjumah Satyagraha Hoerip, Judul asli “Regional Dynamics of the Indonesia Revolution”, (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 1983), Cet. Ke-1, h. 158
36
perubahan demi perkembangan Nagari Ujung Gading, terbukti dengan
semakin banyaknya para pendatang yang tinggal di Nagari Ujung Gading dan
menjadikan Nagari Ujung Gading Nagari terpadat dibandingkan dengan
Nagari-nagari yang lainnya. Nagari Ujung Gading pun terkenal dengan
tanahnya subur sehingga banyaknya para petani yang hasil taninya melimpah
ruah.
Dilihat dari segi pembangunan Nagari Ujung Gading pada tahun 1984
ada sebuah pembangunan jembatan baru yang berada disamping Jembatan
Gantung, selain menjadikan lajunya sarana prasarana, jembatan yang baru itu
juga berperan menjadikan jarak tempuh semakin lancar. Dari segi ekomoni
masyarakat Ujung Gading lebih mudah untuk memasarkan hasil panen yang
mereka dapat ke Nagari-nagari yang lainnya. Jarak tempuh antara pusat
produksi dengan daerah pemasaran semakin dekat, waktu tempuh relative
singkat dan biaya transportasi yang dikeluarkan semakin kecil. Dengan adanya
penghematan jarak, waktu, dan biaya yang dikeluarkan maka kemajuan
ekonomi akan lebih tercapai.
BAB III
SEJARAH PEMBANGUNAN JEMBATAN GANTUNG
A. Sejarah Pembangunan Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat
Kebijakan pembangunan jembatan Gantung Ujung Gading sebagai
salah bentuk infrastruktur transportasi secara esensial yang dapat merangsang
dan memberi peluang pertumbuhan sosial maupun ekonomi khususnya di
Kenagarian Ujung Gading.
Jembatan adalah sebagai prasarana transportasi yang memiliki manfaat
yang dominan bagi pergerakan lalu lintas. Jembatan juga merupakan sarana
transportasi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Jembatan
istilah umum untuk konstruksi yang dibangun sebagai jalur transportasi yang
melintasi sungai, danau, rawa, jurang, maupun rintangan lainnya.
Pada dasarnya pembangunan jembatan tidak hanya bertujuan untuk
alat penghubung saja, tetapi juga mempunyai tujuan dan fungsi di antaranya
dari segi perekonomian, jembatan dapat mengurangi biaya transportasi. Dan
dari segi efisiensi waktu, dengan adanya jembatan dapat mempersingkat
waktu tempuh pada perjalanan darat yang saling terpisah. Jembatan juga dapat
meningkatkan daerah tertinggal untuk dapat lebih berhubungan dengan daerah
lain dengan mudah. Pembangunan jembatan juga dapat meningkatkan
interaksi sosial antara daerah yang dipisahkan oleh sebuah sungai, rawa atau
jurang. Interaksi sosial yang terjalin dengan baik antar kedua masyarakat di
daerah tersebut dapat memberikan dampak yang positif, antara lain yaitu
mereka akan merasa sebagai satu kesatuan wilayah. Dari segi efisien budaya
38
dengan adanya jembatan maka akan mempermudah interaksi budaya daerah
satu dengan daerah lainnya, sehingga akan memperkaya budaya
masing-masing daerah.1
Jembatan Gantung Ujung Gading terletak di Kenagarian Ujung
Gading, Kecamatan Lembah Melintang, kabupaten Pasaman Barat, Provinsi
Sumatra Barat, Indonesia. Nagari ini lebih luas dan padat penduduknya
daripada Nagari Simpak Empat ibu kota kabupaten Pasaman Barat. Adapun
Batasan-batasan wilayah Jembatan gantung antara lain, sebelah Utara
berbatasan dengan Sungai Batang Sikerbau, sebelah Selatan berbatasan
dengan Jembatan baru, sebelah Barat berbatasan dengan rumah penduduk,
sedangkan sebelah Timur berbatasan dengan jalan.
Jembatan Gantung Ujung Gading pertama kali dibangun oleh Belanda
pada tahun 1929 yang berdiri diatas Batang Sikabau yang menghubungkan
desa Kuamang dan Ujung Gading dan merupakan jalan ke Pantai Barat
Sumatera daerah Air Bangis. Sebagai pekerja kasar dalam proses
pembangunan jembatan gantung tersebut adalah para tokoh masyarakat
setempat yang dilakukan secara bergotong royong2. Bangsa Belanda membangunnya untuk memudahkan transportasi mereka dalam mengeruk
kekayaan alam Nagari Ujung Gading serta dengan tujuan lain yaitu untuk
penumpasan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Pada awalnya, tujuan
kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia hanya untuk membeli
rempah-rempah dari para petani Indonesia. Namun, dengan semakin meningkatnya
1
http://scholar.unand.ac.id/12523/2/BAB%20I.pdf
2
Fajri, Tokoh Masyarakat, wawancara pribadi di Ujung Gading 14 April 2017.
kebutuhan industri di Eropa akan rempah-rempah, mereka kemudian
mengklaim daerah-daerah yang mereka kunjungi sebagai daerah
kekuasaannya. Di tempat-tempat ini, bangsa Eropa memonopoli perdagangan
rempah-rempah dan mengeruk kekayaan alam sebanyak mungkin. Dengan
memonopoli perdagangan rempah-rempah, sehingga meluas keberbagai
daerah di Indonesia, termasuk ke Nagari Ujung Gading Pasaman Barat.
Karena, pada saat itu akses transportasi sangat memadai dan sulit sehingga
untuk melancarkan jalan mengeruk kekayaan alam sehingga bangsa Belanda
membangun Jembatan Gantung.
B. Bentuk Arsitektur Jembatan Gantung Ujung Gading
Kata arsitek berasal dari Yunani berarti ahli bangunan, jadi arsitektur
berarti seni bangunan yang di ciptakan untuk memenuhi keperluan manusia
yang berbudaya.3
Tipe jembatan gantung yang lebih konvensional adalah jembatan
gantung yang menggunakan kabel menerus yang ditahan oleh menara pada
setiap ujung Jembatan. Kabel tersebut digunakan untuk menahan atau sebagai
penyangga batang penggantung lantai jembatan. Jembatan gantung terdiri dari
4 buah tiang penyangga, makna yang terkandung dalam tiang penyangga itu
tidak hanya sebagai penyangga saja tetapi setelah sistim pemerintahan
Belanda berupa Hoofd Van di Ujung Gading terjadi perubahan bentuk
pemerintahan penghulu Adat dengan satu pimpinan yaitu Pulu Palu (Kepala
3
Departeman Pendidikan dan kebudayaan, Arsitektur Tradisional Minangkabau Selayang Pandang, (Jakarta: Proyek Media Kebudayaan, 1982-1993), h. 11
40
Penghulu) sebagai pimpinan Nagari yang diajukan dari kesepakatan semua
penghulu antara lain: Sultan Kelebihan, Jasah Tan Oloan, Regen (Gelar Rajo
Bulu), Muhammad Said.4 Dan terdapat 2 kabel yang berfungsi sebagai penopang, terdapat disisi kanan dan kiri dan setiap sisi terdapat 28 kabel yang
berfungsi sebagai penjaga keseimbangan, dan dibawah lantai dasar terdapat 4
buah kabel besi yang berfungsi sebagai penahan berat.
Sketsa tipe jembatan ini dapat dilihat pada Gambar 1. Lantai jembatan
dapat lentur atau kaku, tetapi harus cukup kuat menahan beban lalulintas
antara kabel dan juga untuk menahan beban angin. Bagian ujung menara harus
cukup tinggi untuk memungkinkan kabel utama melengkung, dengan rasio
antara 1 : 8 dan 1 : 11.
Gambar I
Skema Jembatan Gantung Ujung Gading.
Sumber : Arsip TU Pasaman Barat
Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam perancangan jembatan
gantung. Tahapan-tahapan dalam pembangunan Jembatan Gantung Ujung
Gading, terdiri atas:
1. Menetapkan lokasi jembatan dengan mempertimbangkan aspek teknik.
4
Yunaldi, Wawancara, Di Ujung Gading pada tanggal 04 Juni 2017
2. Melakukan pengukuran dan pembuatan peta lokasi jembatan.
3. Melakukan pengukuran bentang sungai ditambah 50 m ke setiap sisi
dengan koridor 15 m ke arah hulu dan hilir rencana lokasi jembatan.
4. Melakukan identifikasi kondisi hidrolik, elevasi air banjir, tinggi tebing,
serta kondisi geoteknik setempat.
5. Membersihkan lapangan dan membuat lintasan kabel untuk mengangkut
bahan-bahan ke setiap sisi jembatan.
6. Melakukan pengukuran jembatan, yang meliputi menara, angkur, dan
fondasi, penentuan ketinggian lantai jembatan, ketinggian blok angkur,
fondasi menara, serta fondasi gelagar pengaku jembatan.
7. Membuat blok angkur, fondasi menara, dan fondasi gelagar pengaku.
8. Memberi tanda-tanda lokasi batang penggantung, sumbu pelana, dan
angkur pada kabel utama sesuai hasil perhitungan dan pengukuran
lapangan.
9. Membuat menara, kabel, dan pelana.
10.Memasang dan menyetel awal kabel utama.
11.Menempatkan dan mengikat kabel-batang penggantung.
12.Memasang gelagar melintang, memanjang, dan pengaku secara bertahap.
13.Memasang lantai jembatan dan sandaran.
14.Menyetel akhir kabel utama pada blok angkur.
15.Memasang dan menyetel kabel angin, serta Membuat jalan masuk ke
42
16.Pembuatan blok angkur, terdiri atas: Membuat blok angkur pada lokasi
dan ketinggian yang tepat terhadap menara.
17.Menyesuaikan sumbu blok angkur dengan sumbu pen yang menjadi
hubungan akhir antara baut angkur yang tertanam dalam blok dan kabel
utama.
18.Mempertahankan tanah asli pada waktu penggalian tanah untuk blok
angkur.
19.Membuat acuan untuk baut angkur dengan kedalaman minimum 30 cm
pada waktu pengecoran blok angkur.
20.Menyetel baut angkur sebelum mortar mulai mengeras dan mengisi acuan
dengan mortar yang menggunakan campuran dengan perbandingan air :
semen : pasir adalah 0,4 : 1 : 1, sampai penuh dan tidak terjadi kantong
udara dalam mortar.
21. Pembuatan fondasi menara, terdiri atas: Memastikan dasar fondasi
tertanam dalam tanah asli.
22.Memeriksa kembali ketinggian perletakan kemudian mengisikan mortar
kering dengan komposisi semen dan pasir dengan perbandingan 1 : 2 di
bawah pelat.
23.Pemasangan kabel utama dan pelana, terdiri atas: Melindungi kabel utama
terhadap korosi dengan galvanisasi atau bungkus selubung polietilena
yang diberi pelumas. Membuat dan memasang pelana sehingga dudukan
rencana. Menggunakan kabel semu mendahului kabel utama untuk
menarik kabel utama melintasi sungai.
24.Memberi tanda pada kabel utama penempatan pada sumbu pelana (sumbu
perletakan atas menara) dan posisi batang penggantung dan angkur pada
kondisi kabel diletakkan lurus di atas tanah dan belum ditegangkan.
Mengurangi panjang kabel dengan perpanjangan yang diperhitungkan
sesuai dengan tegangan kabel akibat beban mati jembatan dan ditambah
dengan lengkungan kabel di pelana. Memasang kabel utama pada satu sisi
dan selanjutnya memasang pada sisi lainnya. Melaksanakan pemasangan
kabel dengan bantuan kabel semu untuk menarik kabel perlahan-lahan ke
kiri atau ke kanan agar berada pada titik pusat menara. Pemasangan batang
penggantung, memasang batang penggantung dengan klem-klem agak
longgar sehingga batang-batang tersebut mudah ditempatkan pada lokasi
yang tepat.
25.Pemasangan gelagar melintang dan memanjang, memasang gelagar
melintang dan memanjang secara bersamaan kemudian dilanjutkan dengan
pemasangan lantai papan dan sandaran.
26.Memperkuat bangunan atas jembatan dengan kabel-kabel penahan yang
diikatkan ke dalam tebing untuk mengurangi goyangan jembatan dalam
44
penyetelan, dengan sambungan profil dan baut harus memenuhi
persyaratan kekuatan dengan kawat.5
27.Memasang ikatan angin untuk memperkuat gelagar-gelagar. Ilustrasi
ikatan angin ditunjukkan padaGambar 2.
Gambar II
Kabel-kabel Ikatan Angin
Sumber : Arsip TU Pasaman Barat
Sebagai studi kasus dibuat suatu Detail Engineering Design (DED) Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat. Berdasarkan hasil survei
topografi diperoleh peta lokasi Jembatan Gantung yang akan dibuat, seperti
ditunjukkan pada Gambar 3.
5
Edifrizal, Perencanaan Struktur Jembatan. Pusat Pengembangan Bahan
Ajar. Jakarta: Universitas Mercubuana, 2012, h. 65
Gambar III
Hasil Pengukuran Topografi
Sumber : Arsip TU Pasaman Barat
C. Sejarah Perkembangan Wilayah Nagari Ujung Gading Pasca Pembangunan Jembatan (Baru).
Pembangunan jembatan baru membawa dampak yang positif bagi
masyarakat Nagari Ujung Gading. Jembatan baru yang melintas di atas sungai
Batang Sikabau dan merupakan jembatan baru sebagai pengganti Jembatan
Gantung dengan total panjang bentang utama 120 meter dengan lebar 9 meter,
46
Gambar IV
Sumber : Foto Hasil Pemotretan Melalui Kamera Secara Pribadi tahun 2017
Kondisi eksisting Jembatan adalah Jembatan tipe gantung, kondisi ini
jelas membutuhkan pemeliharaan yang berkala untuk mencegah terjadinya
gejala korosi utamanya pada kabel suspensi. Sebagai alternatif lain untuk
mengganti Jembatan Gantung yang sudah tidak bisa dipergunakan lagi karena
sudah rapuh dan berlobang-lobang ini dapat dilihat pada Gambar 3. Karena
dengan mempertimbangkan faktor psikologis masyarakat setempat dan juga
48
bahan permanen beton tipe ini dimaksudkan untuk memperkokoh Jembatan
dari hal-hal yang tidak diiginkan.
Gambar V
Sumber : Foto Hasil Pemotretan Melalui Kamera Secara Pribadi tahun 2017
Jembatan merupakan salah satu prasarana transportasi yang sangat
penting bagi manusia. Jembatan dapat menghubungkan jaringan ruas jalan
yang terputus karena aliran sungai. Jadi Jembatan merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari jaringan jalan. Jalan yang baik tidak ada artinya apabila
jembatan-jembatan yang ada di ruas jalan tersebut belum memadai sesuai
dengan kebutuhannya. Untuk itu jembatan memegang peranan penting dalam
sistem transportasi. Jembatan merupakan bagian dari jaringan ruas jalan.
50
daerah lainnya. Di Perdesaan banyak lahan produktif tidak dapat dimanfaatkan
hanya karena dipisahkan oleh sungai yang belum ada jembatan.
Perkembangan Wilayah Nagari Ujung Gading Pasca Pembangunan
Jembatan (Baru). Dilihat dari beberapa bidang yaitu, sebagai berikut:
1. Dampak Pembangunan dalam Bidang Sosial-Ekonomi kemasyarakatan
Jembatan baru merupakan sebuah anugerah karena dengan di
bangunnya Jembatan yang baru menjadikan sarana prasarana menjadi
lancar, dan memudahkan untuk bepergian ke Nagari-nagari yang lain
seperti Kekenagarian Air Bangis, Air balam, Silaping, Desa Baru dll.
Dengan demikian masyarakat dapat dengan mudah memasok akses
kebutuhan hidupnya karena adanya jembatan yang baru. Fungsi
pembangunan ditinjau dari segi ekonomi antara lain, jarak tempuh antara
pusat produksi dengan daerah pemasaran semakin dekat, waktu tempuh
relative singkat dan biaya transportasi yang dikeluarkan semakin kecil.
Dengan adanya penghematan jarak, waktu, dan biaya yang dikeluarkan
maka kemajuan ekonomi akan lebih tercapai.
Sedang dalam bentuk sosial pembangunan Jembatan dapat
meningkatkan interaksi sosial antara daerah yang dipisahkan oleh sebuah
sungai, rawa atau jurang. Interaksi sosial yang terjalin dengan baik antar
kedua masyarakat di daerah tersebut dapat memberikan dampak yang
positif, antara lain yaitu mereka akan merasa sebagai satu kesatuan
2. Dampak Pembangunan Jembatan baru dalam bidang pendidikan
Dampak pembangunan Jembatan yang baru dari segi pendidikan
membawa dampak yang positif bagi masyarakat Nagari Ujung Gading,
Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman Barat. Dapat dilihat
bahwa sarana pendidikan di Kenagarian Ujung Gading sudah memadai
yaitu terdapat sarana pendidikan mencapai 16 buah SD, 8 buah SLTP, dan
7 buah SLTA. Bagi masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya ke
tingkat pendidikan sudah bisa di Kenagarian Ujung Gading tidak perlu ke
luar daerah karna sudah banyak pilihan. Di Kenagarian Ujung Gading juga
terdapat 2 Universitas sehingga apabila warga Nagari Ujung Gading ingin
melanjutkan ke perguruan tinggi sudah bisa masuk Universitas yang ada di
Kenagarian Ujung Gading Kecamatan Lembah Melintang. Berkaitan
dengan pendidikan ini di Kenagarian Ujung Gading sistem pendidikan
serta pengembangannya sudah berjalan dengan baik karena sarana
pendidikannya sudah banyak. Muncul dua sekolah Negeri baru yakni
SMK dan SMP. Terlihat bahwa ada usaha untuk membangun SDM yang
berkualitas sehingga masyarakat menjadi pelaksana dalam pembangunan
di daerahnya sendiri sebagai persiapan ketika kawasan Ujung Gading di
kembangkan lebih baik.
3. Dampak Pembangunan Jembatan baru dalam bidang Budaya
Berdampak positif adanya Jembatan Ujung Gading berkaitan
dengan mulai berubahnya status Nagari Ujung Gading dari daerah plosok