• Tidak ada hasil yang ditemukan

218595301 Modul Bahasa Indonesia XII

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "218595301 Modul Bahasa Indonesia XII"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

Lembar Pengesahan

Penyusunan Bahan Ajar Modul

Nama : DRA. YAYUK RIBUT SR

Nip

: 19551129 198603 2 001

Jabatan

: Guru

Unit Kerja

: UPT RSMA BI Negeri 1 Sumenep

Pembuat Bahan Ajar Modul

Disyahkan pada tanggal :

Kepala Sekolah

RSMA BI Negeri 1 Sumenep

Moh. Sadik, M.Pd

(2)

DAFTAR ISI

Halaman Judul

Halaman Pengesahan

Kata Pengantar

Daftar Isi

A. Peta Konsep

B. Kegiatan Belajar

(3)

Standar Kompetensi :

A. Mendengarkan

Menanggapi pembacaan penggalan novel dari Segi vokal, intonasi, dan penghayatan

B. Berbicara

Menanggapi puisi lama tentang lafal,intonasi, dan ekspresi yang tepat C. Membaca

Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen D. Menulis

Menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain(pelaku, peristiwa, latar)

A. Menanggapi pembacaan penggalan Novel dari segi Vokal,

Intonasi,

dan Penghayatan

Kajian Teori

Pada saat mendengarkan pembacaan sebuah novel, Anda akan merasakan nada tertentu yang tersirat dari novel tersebut. Nada tersebut disebabkan oleh efek pemilihan ungkapan bahasa. Nada berhubungan dengan intonasi, lagu, dan tekanan kalimat. Orang yang sedang membacakan novel akan memberikan intonasi yang berbeda terhadap kalmiat-kalimat yang dibacakan dengan ekspresi yang berbeda pula.Untuk menanggapai pembacaan novel, hal yang diperhatikan dalah vokal, intonasi, dan penghayatan.

Tanggapan dapat berupa gagasan atau pernyataan kepuasan, kekecewaan, kritikan, pujian, saran, harapan, dan sebagainya.Tanggapan dapat berupa pernyataan setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat mengungkapkan tanggapan sebagai berikut:

1. Tanggapan tidak mengulangi pendapat yang pernah disampaikan orang lain.

2. Tanggapan disampaikan dengan kata dan kalimat yang tepat. 3. Tanggapan disampaikan dengan sikap terbuka dan sopan. 4. Tanggapan yang dikeluarkan harus bersifat objektif.

(4)

Perhatikan cuplikan novel berikut!

Sekujur tubuh Arni terasa pegal-pegal.Disusurinya jalanan becek dan berliku-liku.Dalam hatinya Arni berkata, bodohnya aku tak membawa paying di cuaca seburuk itu.Arni terlalu khawatir dan bingung, Arni sangat lelah.Kepalanya berdenyut-denyut tak karuan. Dikepalanya Cuma ada nama Kang Pardi, dan Kang Pardi. Di mana dia sekarang ? Arni tak tahu , Arni menelepon ke tempat kerjanya. Katanya Kang Pardi menghilang.Memang kejadian tersebut bukan yang pertama kalinay, tetapi Arni sungguh-sungguh jenuh dengan keadaan yang seperti itu.Gerimis masih turun. Toko dan kios yang Arni lalui hamper tutup. Terlihat pedagang kaki lima mengemasi barang-barangnya. Rintik hujan makin deras.

( Citra Dewi. 2003.Kang Pardi, hlm . 54 ) Kegiatan 1

Bacalah cuplikan novel di atas dengan baik! Tempo membacanya tidak usah tergesa-gesa. Hayati setiap penggalan dan dialog tokohnya!

1. Sebelum itu, pahami suasana cerita, alur , serta karakter tokohnya!.

2. Perhatikan cara teman Anda dalam membacakan penggalan novel tersebut. Kemudian , kemukakanlah penilaian dan tanggapan Anda berdasarkan format berikut !

Aspek Penilaian

Nilai Jumla

h

Tanggapa n

1 2 3 4 5

Kejelasan dalam vocal atau pengucapan kata Ketepatan penggunaan intonasi

Kesesuaian ekspresi dengan isi cerita

Kreativitas bercerita (improvisasi)

Keterangan:

(5)

B. MENANGGAPI PEMBACAAN PUISI LAMA

1. Puisi Lama dan Teknik Membacanya

Kajian Teori

Dalam kesusastraan Indonesia, puisi terbagi atas dua ketegori zaman, yaitu puisi lama dan puisi baru. Kategori lama antara lain, pantun, syair, gurindam, mantra, karmina, seloka, talibun , dan sebagainya. Secara umum , puisi lama sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris, larik, irama , dan sebagainya.

Pantun merupakan puisi yang memiliki ketentuan-ketentuan sebagai berikut : 1. Terdiri atas empat baris

2. Setiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata

3. Dua baris pertama merupakan sampiran dan dua baris berikutnya sebagai isi

4. Pantun mementingkan rima akhir dengan berpola a-b-a-b contoh.

Pantun

Gunung Daik timang-timangan Tempat kera berulang adil

Budi yang baik kenang-kenangan Budi yang jahat buang sekali

Talibun adalah pantun yang susunannya terdiri enam baris, delapan,atau sepuluh baris. Pembagiannya seperti pantun ada sampiran da nisi.Jika talibun itu terdiri enam baris maka tiga baris sebagai sampiran dan tiga baris sebagai isi.

Contoh.

Kalau anak pergi ke pecan Yu beli belanak beli

Ikan panjang beli dahulu Kalau anak pergi berjalan Ibu cari sanak pun cari induk semang cari dahulu

(6)

Namum ada yang membacakan dengan ekspresi, gaya, vokal, lafal, intonasi, penghayatan, dan sebagainya.

Kegiatan 1

Bacalah puisi lama berikut dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat ! Payung butut di depan rumah

Lagi di celana tersangkut paku Tuntut ilmu tiada lelah

Jadi pengusaha keinginanku

2. Menanggapi Pembacaan Puisi Lama Mengenai Lafal,

Intonasi, dan Ekspresi

Kajian Teori

Apabila kita mendengar seseorang yang sedang membacakan puisi, perhatikan lafal, intonasi, dan ekspresinya. Jika lafal atau pengucapannya tidak jelas akan mengakibatkan isi yang ada dalam puisi menjadi tidak jelas.

Hal-hal yang dapat ditanggapi saat mendengarkan pembacaan puisi sebagai berikut:

a. Lafal adalah cara seseorang mengucapkan bunyi bahas. b. Ketepatan penggunaan jeda.

c. Intonasi

d. Ekspresi wajah

Demikian dengan intonasi yang menyangkut tekanan keras, lembut, lagu naik turun, cepat, lambat , maupun jeda sangat penting . Ekspresi adalah pernyataan hasil penghayatan, penjiwaan, dan peresapan isi puisi berdasarkan hasil interprestasi. Isi puisi biasanya sedih, gembira, puisi berisi kritikan akan dibacakan dengan ekspresi yang berbeda.

Kegiatan 1

(7)

2. Tanggapan ditujukan kepada satu penampilan yang bagus dan satu penampilan yang kurang bagus. Tanggapan lebih difokuskan pada masalah intonasi, lafal, dan ekspresi.

3. Secara bergantian, kemukakan tanggapanmu itu dengan bahasa yang santun serta dengan kalimat yang efektif dan komunikatif. Berilah alasan atau argumen yang mendukung komentarmu.

4. Sebelum menyampaikan tanggapanmu, tulislah pokok-pokok tanggapan yang akan dikemukan. Gunakan tabel isian untuk menuliskannya.

Aspek Tanggapan Alasan/Argumen

Intonasi Lafal Ekspresi Intonasi Lafal Ekspresi

C.MENJELASKAN UNSUR-UNSUR INTRINSIK CERPEN 1. Membaca Cerpen dan Memahami isinya

Kajian Teori

Cerpen merupakan karangan yang dibentuk oleh unsur alur, penokohan, tema,latar, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa, saling berhubungan satu dengan yang lain.Unsur intrinsik merupakan unsur yang membangun secara langsung cerita.

1. Tema

Tema merupakan hal yang ingin di sampaikan oleh pengarang melalui ceritanya. Tema dapat berupa persoalan moral, etika, agama, sosial budaya, atau tradisi.

2. Penokohan

Pelukisan tokoh sangat dipengaruhi oleh latar. Tokoh dapat digambarkan secara dinamis akan berubah-ubah tergantung situasi, waktu, tempat, dan sosial budaya lingkungan yang dimasukinya.

3. Latar

Latar atau setting adalah gambaran tempat, waktu, atau segala situasi peristiwa dalam cerita.Latar dibagi menjadi latar tempat, waktu, dan situasi.

(8)

Alur atau plot merupakan cara pengarang menjalani peristiwa-peristiwa dalam cerita secara berurutan sehingga membentuk sebuah karya fiksi.

Tahap-tahap alur meliputi:

a. Permulaan, c. Perumitan, e. Peleraian,

dan

b. Pertikaian, d. Puncak atau Klimaks, f. Akhir.

Macam-macam alur dalam cerpen seperti berikut. 1. Alur berdasarkan urutan waktu

1) Alur kronologis/alur maju/alur progresif

2) Alur tidak kronologis/alur mundur/alur regresif/alur flash back 3) Alur campuran

a. Alur berdasarkan jumlah 1) Alur tunggal

2) Alur ganda

b. Alur bedasarkan kepadatan/kualitatif 1) Alur erat

2) Alur longgar c. Alur mananjak 5. Sudut pandang

Sudut pandang disebut juga pusat pengisahan.Sudut pandang pengarang adalah penempatan posisi pengarang terhadap tokoh untuk menampilkan cerita.

a. Sudut pandang orang ketiga

Pengisahan ceita pada umumnya mempergunakan sudut pandang orang ketiga, misalnyaia, dia, dan mereka.

b. Sudut pandang orang pertama

Dalam pengisahan cerita menggunakan sudut pandang orang pertama,misalnya ia adalah si “aku”yaitu tokoh mengisahkan diri sendiri.

c. Sudut pandang campuran

Penggunaan sudut pandang bersifat campuran berupa penggunaan sudut pandang orang ketiga dengan teknik “dia” dan orang pertama dengan teknik “aku”.

(9)

Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam sebuah cerita yang ditujukan kepada pembaca dan mencerminkan pandangan hidup pengarang .

Kegiatan 1

Bacalah cerpen berikut !

Tikar Keikhlasan

Lalu lalang kendaraan melaju cepat.Suara percikan arang yang membentur biji-biji jagung terus mengusik telingaku.Pembeli kian beradu, sampai tikar pun penuh dengan orang-orang yang singgah sambil menunggu jagung bakar tersaji. Aku duduk manis di atas dingklik panjang, sambil menunggu pembeli yang singgah ri tempat itu terpanggang.

“Mas, numpang duduk ya?” pinta salah satu pembeli jagung bakar.

“Oh, iya Mas, silahkan,” jawabku senang.Ya, aku seneng karena cuma dia yang mau singgah di angkringanku, yang sedari tadi sepi pembeli.Aku pun langsung menuju ke tempat duduknya.

“Mau pesen minum apa, Mas?” sapaku.

“Maaf Mas, tadi aku sudah pesan minum sama penjual jagung bakar sekalia.”

Jawaban yang menyobek dadaku.Harapanku hancur.Kesenangan yang diciptakan karena ada dua insan singgah di angkringanku, tepatnya duduk di atas tikarku.Aku mengumpat meskipun dalam hati.Aku merasa jengkel.Dari Magrib sampai sekarang belum ada pembeli. Eh, ada tapi numpang duduk saja.

“Sialan, Cuma numpang duduk saja.Aku kira mau pesan minum di sini. Eh, ternyata sudah pesab duluan sama penjual jagung tadi.” Gumam hatiku yang terus memburu ke dalam prasangka buruk.Aku muak, aku cemberut, aku bosan.Aku hanya bisa menatap daganganku yang kian membisu.

(10)

“Usir saja dari tempatmu.Dia cuma numpang duduk. Ayo cepat usir mereka,” bisik Tanduk Merah dengan lembut,sambil menempelkan bibirnya di telingaku. Aku merinding, bulu kudukku seketika berdiri menantang dingin.

“Ayo cepat usir mereka. Lihat mereka duduk manis berdua sambil bercengkerama tanpa membeli daganganmu,” rayu Tanduk Merah lagi.

“Sabar,” bisik Jubah Putih.

“Sabar itu ada batasnya. Lihat jam di handphone-mu! Mereka sudah dua jam duduk di tikarmu tanpa memedulikan daganganmu,” sergah si Tanduk Merah.

“Sabar Tadho,” Jubah Putih mulai menyebut namaku.

“Walah, jangan dengerkan perkataan Jubah Putih itu. Dia membujuk,u agar kamu bangkrut dengan keadaan ini. Kalau kamu tidak bisa mengusir dengan kasar, dengan lemah lembut saja.Ingatkan. Atau kalau sudah kepepet pasti akan muncul keberanian, bentak-bentak mereka agar cepat pergi. Enak saja, makan jagung bakar dan minum kopi susu bukan dari daganganmu. Aku saja yang melihat mereka sumpek dan marah,” Tanduk Merah nyerocos sambil mengekpresikan kemarahan kepada Tadho.

“sabar Mas, ini hanya cobaan,” ucap Jubah Putih dnegan santainya.

Cobaan kok tiap hari.Cepat usir mereka.Lihat daganganmu, tuh pada cemberut semua, mereka tidak ada yang suka melihat mereka tetap disini.”Semakin antusias Tanduk Merah mengembuskan rayuannya.Angin menyibak rambutku perlahan-lahan. Bara api dalam tungku mulai memanas. Jubah Putih hanya bisa mengucapkan sepatah dua kata, dengan kata unggulan “Sabar”.

“Nah gitu, ayo bangkit dan usir mereka,” senyum Tanduk Merah semakin mengembang ke atas, mengukir langit yang saat ini dipenuhi dengan berjuta-juta bintang.Aku terhanyut dengan alur rayuannya yang terus memasuki pori-pori tubuhku.Jubah Putih hanya memandang dari jauh.Mengamatiku, meskipun aku tak melihatnya. Aku melangkah mendekati dua insan yang sudah dua jam duduk manis tanpa membeli deganganku. Ketika kaki mendekati, segerombol orang dengan naik sepeda motor berhenti di belakangku. Aku kage.

“Maaf, Ton, terlambat.” Sapa seorang di atas motor.

(11)

“Maaf banget. Soalnya ban sepeda motor Roni bocor. Kita harus nunggudulu gitu.Biar bisa sampai disini bersama-sama.”

“Ya sudahlah. Ayo duduk di sini” “Apa muat tikarnya?”

“Mas ini tikar buat kondangan ya, Mas?”Tanya salah satu gerombolan tadi kepada ku.

“Kok tahu, Mas?”Jawabku.

“Bentuknya panjang, bisa memuat orang banyak,” katanya lagi sambil tertawa.

“Aneh-aneh saja, Mas.”

“Mungkin terpal itu juga buat kondangan?” katanya sambil menuju ke bungkusan nasi kucing.

“Betul banget.Buat kondangan kalian malamini.”Tawa menggelegar.

Akulangsung kemabali ke dingklik panjangku untuk membesarkan bara api. Satai usus, satai telur, dan daganganku yang lain tertawa dengan kehadiran teman-teman Anton, anginnya benyanyi tanpa ada aba-aba. Lampu-lampu gunung semakin terang.Seterang hatiku.

“Nasi apa, Mas?”Tanya pembeli dari gerombolan tadi.

“ini Nasi bandeng, ini nasi ikan teri,” kataku sambil menunjukkan nasi kucing.

Tak kusangka, nasi kucing langsung ludes.Satai usus, satai telur, dan makanan kecil lainnya berkurang dengan kehadiran gerombolan Anton.Sampai-sampai aku kerepotan untuk melayani mereka yang berjumlah 15 orang.

“Waduh gelasnya kurang nih,” gumamku dalam hati. Telepon kerumah saja.

“Halo, Mas, bawakan lima gelas ke sini. Gelasnya kurang.”Ucapku lewat telepon kepada Masku yang berada dirumah.

“Kurang berapa gelasnya?” “Bawakan lima gelas saja, Mas.”

Sepuluh menit lagi gelas akan datang. Aku mempersiapkan minuman dengan hati-hati.Baru kali ini aku melayani pembeli yang jumlahnya sangat banyak.Meski kerepotan, hatiku berbunga-bunga.Macam yang mencakar-cakar hatiku terobati dengan rasa ikhlasku.

(12)

yang tak terlihat dengan mata telanjangku, Jubah Putih tersenyum manis melihatku, meski tadi aku sempek terhanyut dengan hasutan Tanduk Merah. Aku sedikit menyesal.Namun Tuhan selalu menolong ketika hatiku bercampur dengan iri dan dengki.Keikhlasan yang menolongku.

“Wah laris manis ya, Mas Tadho,” sapa Ibu penjual jagung bakar.

“Alhamdulillah, Bu, semua ini berkat doamu, Bu. Semoga dagangan kita cepat habis, Bu,” senyumku mengembang. Tak ada rasa sakit yang terus memupuk.

Sumber: M Maksum, “Tikar Keikhlasan” dalam

http://lakonhidup.wordpress.com/2012/03/31/tikar- keikhlasan/#mare-2983

A. Ceritakan kembali ini cerpen “Tikar keikhlasan” bedasarkan urutan peristiwa dalam cerpen!

A. Lakukan diskusi kelompok!

1. Bentuklah kelompok diskusi. Tiap-tiap kelompok terdiri atas 4-5 Siswa 2. Diskusikan unsur-usur intrinsik cerpen “Tikar Keihklasan”. Sertakan

pula bukti pendukung!

a. Tema d. Alur g. Sudut

Pendukung

b. Penokohan e. Tahap Alur

c. Latar f. amanat

C.

MENULIS CERPEN BERDASARKAN KEHIDUPAN ORANG LAIN Kajian Teori

Menulis cerpen dapat Anda lakukan beragam cara salah satunya adalah dengan mengacu pada pengalaman kehidupan orang lain, yang perlu diperhatikan situasi dan kondisi.Menulis cerpen ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Siapa pun yang mampu menyusun kalimat dengan baik, pengalaman hidup bermakna, dan unik, serta mampu berimajinasi akan mengarang cerpen.

(13)

terdapat unsur tema, tokoh,latar, sudut pandang pengarang, dan dialog. Jika ingin belajar sungguh-sungguh menulis cerpen, kamu harus mengenali sifat-sifat khas tersebut sehingga cerita yang kamu tulis benar-benar menjadi sebuah cerpen.

Untuk mengetahui ciri-ciri atau karakteristik cerpen, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut .

1. Berdasarkan jumlah kata atau halaman, berapa kira-kira panjang sebuah cerita dapat dikategorikan sebagai cerpen?

2. Umumnya, dalam sebuah cerpen terdapat berapa tokoh ?

3. Peristiwa yang dialami tokoh dalam cerpen itu bersifat fakta atau fiktif? Apa dalam cerpen ada kejadian-kejadian yang bersifai irasional/ tidak masuk akal.

4. Bagaimana kisah yang dialami tokoh, terjadi dalam kurun waktu yang panjang atau hanya berlangsung secara singkat?

5. Bagaimana dengan ruang atau tempat kejadiannya, apakah di banyak tempat atau di satu tempat saja?

6. Bagaimana alur ceritanya, tunggal atau bercabang-cabang? Berapa kali terjadi klimak dalam sebuah cerpen.

Dari jawaban-jawaban di atas, simpulkan batasan serta ciri-ciri sebuah cerpen.

Pengarang yang kreatif tidak akan kebingungan mencari ide cerita karena setiap orang punya pengalaman hidup. Pengalaman adalah sumberi inspirasi yang terus terbaryi dan tidak akan pernah habis digali. Pengalaman tidak selalu datang dari kejadian yang dialami sendiri, tetapi juga bisa berasal dari kehidupan orang lain tentu dapat diekspresikan ke dalam cerpen.Pengalaman dari orang lain bisa diperoleh secara langsung dari narasumbernya, juga dapat diperoleh secara tidak langsung melalui penuturan pihak ketiga.

Memahami Langkah-langkah Menulis Cerpen

Langkah menulis cerpen tidak jauh berbeda dengan mengarang pada umumnya.Berikut ini adalah tahapan-tahapan penulisan cerpen.

(14)

Tema merupakan permasalahan dasar yang menjadi pusat perhatian dan akandiuraikan agar menjadi jelas. Tema berkaitan dengan amanat/pesan/tujuan yang hendak disampaikan kepada diri pembaca. Tema dapat diperoleh dari proses menggali pengalaman-pengalaman yang mengendap atau refleksi peristiwa yang baru dialaminya.

1. Mengumpulkan data-data, keterangan, informasi, dokumen yang terkait dengan peristiwa/pengalaman yang menjadi sumber inspirasi cerita.

2. Menentukan garis besar alur atau plot cerita. Secara bersamaan dengan tahap ini, menciptakan tokoh dan menentukan latar cerita. 3. Menetapkan titik pusat kisahan atau sudut pandang pengarang. 4. Mengembangkan garis besar cerita menjadi cerita yang utuh.

5. Memeriksa ejaan, diksi, dan unsur-unsur kebahasaan lain serta memperbaikinya jika terdapat kekeliruan.

Kegiatan 1

Bacalah terlebih dahulu dengan seksama cerpen berikut . Maafin Nisa, Bi……

“Nisa, ada apa ini ? Malam-malam gini kok rebut. Kamu mau ngebangunin anjing tetangga?” sapa Mama yang baru pulang dari kerja di ambang pintu. “ Nisa lagi nggak mau diajak bercanda, Ma,” jawab Nisa yang lagi jengkel sekenanya, sambil terus membuka-buka lemari pakaiannya dari satu pintu ke pintu lainnya.

“Kenapa, Sayang ?”Tanya Mama lembut.

“Ini, Ma. Bi Yem ngilangin baju seragam olahraga Nisa”. “Sudah dicari?”

“Mammaaa…… dari sore baju itu udah dicari tapi nggak ketemu juga.”

“ Kok bisa gitu sih Bi?” pandangan Mama beralih kke Bi Yem yang berada di sampingnya.

“ Bibi juga nggak ngerti, Bu. Biasanya selesai disetrika langsung Bibi taruh di lemari, tapi kok kali ini aneh, sudah dicari ke mana-mana belum ketemu juga,” adunya dengan pebuh sesal dan pasrah.

Payahnya, system jaringan di otak kepalanya yang sudah berusia lebih dari kepala enam itu, tak mampu lagi untuk diajak berpikir dengan baik hingga membuatnya kehilangan akal, tak tahu lagi mesti mencari ke mana.

Pun semua orang di keluarga itu tahu betul , Nisa yang pandai olahraga takkan pernah rela kehilangan jam olahraga yang hanya sekali dalam seminggu.

“ Alaaaahhh… Bi Yem nggah usah ngelak deh, bilang aja kalau itu kaus belum dicuci, apa susahnya sih nyuci sati kaus saja? Dasar pembantu nggak becus!? Maki Nisa dengan nada tinggi.

“Nisa jaga bicaramu!” bentak Mama.

(15)

“Tuh kan, Ma !Kenapa sih pembantu macam dia masih dipertahankan? Udah tua, kerjanyalamban, suka pikun lagi. Dan sekarang , baju Nisa yang diilangin. Kenapa nggak dipecat sekalian aja sih, Ma?”

“Nisa …., kamu nggak boleh bicara seperti itu!Bisa tidak kamu

menghormati orang yang lebih tua? Mama mengeluarkan nada bicara normal seperti biasa, Cuma kali ini diberi sentuhan tekanan di dalamnya. “Bi Yem di sini bukan hanya sebagai pembantu, melainkan Bi Yem juga berperan penting dan sudah menjadi bagian dalam keluarga kita.Bi Yem sudah mengabdikan dirinya sejak kakekmu muda dulu.Bi Yem juga yang turut mengasuhmu sejak kamu bayi, Nisa.Bi Yem memang sudah tua, tapi dia selalu teliti dan hati-hati dalam mengerjakan setiap

pekerjaannya.Dibanding kita, Bi Yem lah yang jauh lebih mengerti seluk beluk dan sejarah setiap benda di rumah ini. Lagi pula, bukankah sebelum kejadian ini, belum pernah kan terjadi kesalahan yang berasal dari

keteledoran Bi Yem ?”

“Sekarang coba kamu ingat baik-baik, Nisa!”Di mana terakhir kamu menaruh baju itu?”Suasana hening sejenak dan tiba-tiba…

“Ya…. Ampun!” teriak Nisa terperanjat sambil melompat dan berlari mengambil senter di atas meja belajarnya.Dan kemudian membiarkan sinarnya menyebar rata di kolong ranjang birunya. Benar dugaanku, kaus itu ada di sana. Rupanya emosi telah menghalangi Nisa untuk berpikir jernih.Tepat seminggu lalu karena terburu-buru hendak masuk les, Nisa keluarkan seluruh isi tasnya dengan sembarangan, termasuk kaus olahraga yang sempat dia lihat terjatuh dari tempat tidur.

Pikirnya, tanggung mending diberesin saat pulang les.Tapi malah kelupaan sampai sekarang.Segera diambilnya kaus itu.

Mama menggelengkan pelan melihat kecerobohan putrinya. Kaus itu tampak begitu lusuh dan kumal yang menurut teori kesopanan sudah tak layak pakai.Bagaimana tidak?Selain debu yang menempel tebal, terdapat banyak sekali lubang gigitan tikus. Melihat hal itu, ingin sekali Nisa

menangis, tapi ia tahan karena merasa tak pantas. Dia sadar itu adalah salahnya sendiri.

“Ma, maaf!Nisa lah yang salah.”

“Bukan pada Mama, tapi Bi Yem , Nisa. Dia sudah menerima makian dan tuduhan yang benar darimu.”

“Kamu harus memetik hikmah dari kejadian ini.Kamu memiliki barang baik yang kamu sukai pun tidak punya tanggung jawab untuk merawatnya baik-baik.Ya sudah, besok pagi kamu pergi ke koperasi sekolah, beli yang baru.Sekarang temui Bi Yem.

Nisa mengangguk mantap dan keluar dari kamarnya.

Oleh : Reny Nurliana

( Dikutip dari harian Solo Agustus 2004 )

Jawablah soal-soal berikut dengan tepat secara kelompok.

1. Menceritakan kembali tentang apa cerpen tersebut? Jelaskan. 2. Bagaimana karakter tokoh-tokohnya/ Jelaskan

3. Bagaimana rangkaian alur/peristiwa cerpen tersebut? 4. Kapan dan di mana latar dalam cerpen tersebut ?

(16)

Kegiatan 2

1. Berdasarkan pengalaman hidup teman yang kamu dengarkan buatlah sebuah cerpen.

2. Tulislah cerpendi buku tugasmu ! Setelah selesai, tunjukkan kepada temanmu yang kisah kehidupannya kamu ceritakan dalam cerpen.

3. Perbaikilah cerpenmu berdasarkan masukan atau saran dari temanmu. Jika telah menjadi cerita yang memenuhi unsur cerpen dan menaruk, ketiklah cerpenmu secara rapi di atas kertas kuarto.

4. Tulislah di bagian bawah cerpenmu data tentang pengalaman yang menjadi sumber inspirasi cerita. Sebutkn nama pemilik pengalaman dan data-data peristiwanya.

(17)

BAB 2

Standar Kompetensi/ Kompetensi Dasar

A. Mendengarkan

Menjelaskan unsur-unsur intrinsik dari pembacaan penggalan novel B. Berbicara

Mengomentari pembacaan puisi baru tentang lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat

C. Membaca

Membacakan puisi karya sendiri dengan lafaldan intonasi, penghayatan, ekspresi

D. Menulis

Menulis resensi buku kumpulan cerpen berdasarkan unsur-unsur resensi

A. MENJELASKAN UNSUR-UNSUR INTRINSIK DARI PEMBACAAN PENGGALAN NOVEL

1. Menjelaskan Unsur-Unsur Pembangun Novel

Novel berasal dari bahasa Italia novella yang berart” sebuah barang baru yang kecil”. Novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh permasalahan kehidupan seseorang atau beberapa tokoh. Kisah novel berawal dari kemunculan suatu persoalan yang dialami tokoh hingga tahap pengyelesaiannya.

Struktur novel adalah sebagai berikut : a. Tema

Tema merupakan inti atau pokok persoalan yang menjadi dasar pengembangan cerita, menyangkut segala persoalan yang baik masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, kecemburuan, dan sebagainya.

b. Alur

Alur merupakan pola pengembanga cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat.

c. Latar

Latar atau setting meliputi tempat, waktu, dan suasana yang

digunakan dalam cerita, bisa bersifat faktual dan bisa imajiner. Latar berfungsi memperkuat atau memperjelas jalannya cerita.

d. Penokohan

Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokohtokoh dalam cerita. e. Point of view atau sudut pandang

(18)

1. Berperan langsung sebagai orang pertama, atau sebagai tokoh yang terlihat dalam cerita yang bersangkutan.

2. Hanya sebagai orang ketiga yang berperan sebagai pengamat ( di luar cerita )

f. Amanat

Amanat merupakan ajaran moral atau pesan yang hendak disampaikan pengarangkepada pembaca melalui karyanya. Amanat disimpan rapi dan disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi cerita. g. Gaya bahasa

Gaya bahasa berfungsi untuk menciptakan suatu nada atau suasana persuasif, serta merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan hubungan dan interaksi antara sesama tokoh. Bahasa secara cermat dapat menjelmakan suasana yang berterus terang atau

menjengkelkan, dan objektif atau emosional.

Berikut adalah contoh unsur-unsur intrinsik dari novel Namaku Hiroko karya N.H.Dini:

Tema : gambaran sebuah lingkungan tempat tinggal dan suatu adat

kebiasaan masyarakat yang dapat mengubah sifat seseorang.

Alur : Novel ini beralur maju. Pengarang menceitakan kehidupan

Hiroko, mulai dari ketika ia masih kecil di desa sampai hidup

Di kota. Ketika di desa, ia hidup serba kekurangan. Kemudian

ia pindah ke kota. Di sana , ia bekerja keras sehingga bisa

meraih segala yang diinginkannya. Ia kemudian hidup dalam

dunia yang serbagemerlap dan mewah.

Latar : Kobe, sebuah kota di Jepang Kobe merupakan kota besar.

Diceritakan di kota terdapat toko Daimaru yang atapnya

terbuka dengan warna tenda biru, terdapat pula pabrik besi

terbesar di daerah Hansai, Jepang.

Tokoh : 1. Hiroko, seorang wanita desa yang polos dan sederhana.

2. Sanao, seorang pegawai pabrik. Ia membawa Hiroko pada

Tingkat kedewasaan.

(19)

4. Yoshida, suami Natshuho, tetapi akhirnya menjadi kekasih Hiroko.

Sudut Pandang : Menggunakan sudut pandang orang pertama. Pengarang

menceritakan tokoh utama dengan kata “aku”. Amanat : Harta bukanlah satu-satunya tujuan hidup. Harta tidak dapat

memberi kesenangan secara mutlak. Ada hal lain yang dapat

memberikan kebahagiaan, yaitu cinta dan kasih sayang.

Gaya : Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana halnya gaya berceirita N.H. Dini, banyak diwarnai oleh kata-kata sederhana yang diakrabi pembaca pada umumnya.

Kegiatan

Mintalah satu atau dua teman Anda untuk membacakan cuplikan novel” Siti Nurbaya” karya Marah Rusli brikut! Secara berkelompok,

identifikasikan unsur-unsur yang ada di dalam cerita itu! Kemudian, presentasikan di depan kelompok lainnya untuk mereka tanggapi !

XVI Peperangan antara Samsulbahri dan Datu Maringgih

Setelah masuklah kapal yang membawa Letnan Mas ke pelabuhan Teluk Bayur, turunlah sekalian bala- tentara itu ke darat, lalu langsung berjalan ke Kota Padang. Di sana , gemparlah isi kota melihat bala-tentara sekian banyaknya datang: cukup dengan alat senjata dan mariamnya.

Yang seorang bertanya kepada yang ditanyai. “ Seluruh tanah jajahan Belanda akan rusuh, sebab anak negeri hendak melawan; tak mau membayar belasting.”

(20)

Begitu pula pegawai-pegawai pemerintah berdebar-debar hatinya, takut kalau-kalau serdadu kalah. Jika demikian, tentulah mereka tiada akan mendapat ampunan dari perusuh, karena sekalian yang tiada hendak ikut melawan. Dipandang mereka sebagai musuhnya. Hanya perusuhlah yang geram melihat balatentara pemerintah datang sebanyak itu dan panas hatinya, lalu berpikir mencari akal akan memperdayakan serdadu ini.

Setelah sampailah balatentara itu ke tangsi Padang, pergilah Letnan Mas kepada kapitannya, minta izin akan pergi sebentar dengan berjanji segera akan kembali pula, karena adalah suatu keperluan yang sangat penting baginya.

Mula-mula, rupanya kapitannya tiada hendak memberi izin ini, tetapi tatkala dilihatnya Mas meminta amat sangat, diperkenankannyalah juga permintaan itu dengan pesan, supaya jangan lewat daripada pukul enam petang kembali. Sebab pada waktu itu hari baru pukul setengah lima, berpikirlah Letnan Mas dalam hatinya, “ Tentu tidak terlambat aku kembali.”

Dengan segera , dipanggilnya sebuah bensi sewaan, lalu berangkat menuju ke Muara. Setelah sampailah ia ke sana, diseberangilah Sungai Arau dengan perahu dan didakinya Gunung Padang. Di tengah jalan, bertemulah ia dengan seorang fakir, yang tinggal di atas gunung itu, lalu ditanyakannya di mana kubura Baginda Sulaiman, saudagar yang

berpulang kira-kira sepuluh tahun lalu. Walaupun fakir itu sangat heran mendengar perkataan ini dan berpikir dalam hatinya, apakah sebabnya seorang letnan menanyakan kubur seotang Melayu, tetapi ditunjukkannya juga kubur itu.

Setelah sampai ke makam ini, kelihatanlah oleh Letnan Mas tiga buah kubur dalam suatu tempat yang berpagar tembok. Dua buah daripada kubur itu, letaknya berdekat-dekatan; yang sebuah lagi agak jauh sedikit. Tatkala dibacanya huruf yang tertulis pada batu nisan itulah yang dicarinya. Karena tiada tertahan oleh Letnan Mas hatinya, segeralah ia masuk ke dalam makam ini, lalu berlutut di antara kedua kubur yang berjauh-jauhan itu, sambil memeluk keduanya dengan kedua belah

tangannya. Di situ, menangislah ia tersedu-sedu, seraya meratap demikia, “ Aduhai Nurbaya dan ibu yang hamba cintai! Mengapakah sampai hati benar meninggalkan hamba seorang diri di atas dunia ini? Berjalan tiada hendak berkata-kata, pergi tiada hendak membawa-bawa. Mengapakah tiada diajak hamba pergi bersama-sama dan tiada dinantikan hamba, supaya boleh hamba temani dalam perjalanan yang jauh itu? Tatkala telah ditinggalkan, mengapakah tidak lekas dijemput, dibiarkan sepuluh tahun lamanya hamba mengembara ke sana kemari, mencari jalan akan mengikut Bunda dan Adinda sehingga sampai kepada waktu pekerjaan itu sia-sia belaka.

Aduhai ! Bilakah masanya kita akan dapat berjumpa pula dan

bilakah waktunya kita akan dapat berkumpul dan bercakap-cakap sebagai dahulu? Bunda dan Nur, pintakanlah kepada Allah Subhanahu Wataala, supaya jangan dipanjangkan-Nya lagi umur hamba ini dan lekaslah dipertemukan-Nya kita sekalian; karena hidup bercinta seperti ini, sesungguhnyalah tiada terderita oleh hamba. Cukuplah sepuluh tahun lamanya hamba menanggung siksa dan azab yang tiada tertanggung oleh manusia dan patutlah sudah hamba dilepaskan daripada penjara uang sedemikian.

(21)

salahmu dan salahku dan salah kita ini maka beroleh nasib yang

sedemikian ini? Sudahlah di dunia ini segala pengharapan dan permintaan kita, yang kita pohonkan sebilang waktu, tiada dikabulkan. Di akhirat kelak, adakah akan disampaikan Allah segala cita-cita itu ? Ah, pada rasaku, tak adalah manusia yang malang sebagai kita ini ! Sepuluh tahun lamanya aku menanggung sengsara dan dukacita; sepuluh tahun pula aku menanggung rindu dendam kepadamu, tetapi sampai sekarang ini, belum disampaikan Tuhan juga maksudku ini. Berapakah lamanya lagi aku harus menunggu ?

Akan tetapi...., o ya Nur, aku telah beroleh alamat bahwa aku segera akan dipertemukan dengan engkau, karena inilah penghabisan sisaku. Mudah-mudahan demikianlah hendaknya; doakan bersama-sama.

Suatu yang belum kuketahui, yaitu dapatkah aku menuntutkan belaku atau tiada? Namun, biarpun tak dapat, Allah Yang Mahakuasa takan lupa bahwa tiap-tiap kesalahan itu tiada luput daripad hukuman-Nya. Biarlah bersama-sama kita kelak menyembahkan kesalahannya ini.

Setelah itu, disiumlah oleh Letnan Mas kedua kubur itu, lalu berdiri perlahan-lahan dan berkata kepada fakir yang masih tercengang berdiri di sana melihat kelakuan letnan ini, karena heran, mengapakah seorang Belanda menangis di kubur seorang Islam?

Sementara Letnan Mas pergi ke Gunung Padang, datanglah kabar dari Gubernur Padang mengatakan, malam itu perusuh akan masuk ke dalam kota, membuat huru-hara. Oleh sebab itu, dimintalah sebagian daripada serdadu yang ada itu pergi ke luar kota, mengadang musuh ini supaya jangan sampai berperang di dalam kota.

Kira-kira pukul tujuh malam, berangkatlah sepasukan serdadu yang dipimpin oleh Letnan Mas dan Van Sta, ke luar Kota Padang menuju Kota Tengah. Pukul sembilan, sampailah mereka ke Tabing dan tiada berapa lama kemudian, hampirlah mereka ke Kota Tengah. Dari jauh telah kelihatan berpuluh-puluh orang; sekaliannya memakai seragam putih, berkumpul-kumpul di pinggir jalan, di muka sebuah kedai; rupanya mereka sedang bermusyawarah, bagaimana hendak menyerang. Sekalian

bersenjata sebuah golok.

Tatkala terlihat oleh perusuh serdadu datang, gemparlah

sekaliannya , ada yang menghunus kerisnya, ada yang memencak, ada yang berteriak memanggil kawan, ada yang memaki-maki dan ada pula yang mengacung-acungkan senjatanya; berbagai –bagai kelakukan mereka. Setelah hampir kepada mereka ini, Letnan Mas menyuruh

berhenti serdadunya dan membariskan mereka. Seorang kemendur yang mengikut bersama-sama, maju ke muka, menyuruh perusuh menyerahkan dirinya. Akan tetapi, jangankan diindahkan mereka, kemendur itulah yang imaki-makinya, seraya tiga kali kemendur membujuk dengan lemah-lembut, menyuruh menembak ke udara. Seketika itu juga berbunyilah kira-kira tiga puluh bedil sekaligus. Tatkala didengar perusuh bunyi bedil ini dan dilihatnya dada seorang pun yang kena, bertambah-tambahlah berani mereka, karena pada sangkanya sesungguhnyalah mereka tiada dimakan anak bedil lagi, berkat ajimat yang diperolehnya dari gurunya. Maka bertempiklah mereka bersorak dan ratib mengucapkan “La illaha illallah” , lalu maju ke muka. Setelah hampirlah mereka, barulah Letnan Mas memerintahkan membedilnya.

(22)

bingunglah sejurus, tiada tahu apa yang dibuatnya. Ketika berbunyi bedil ketiga kalinya, pecahlah perang perusuh itu karena banyak yang mati. Mana yang tinggal, larilah cerai-berai kian kemari, membawa dirinya masing-masing.

Akan tetapi, seketika itu juga, keluarlah beberapa orang tua-tua dan haji-haji dari dalam sebuah rumah, lalu berteriak memanggil sekalian orang yang lari itu, serta mencabut kerisnya dan maju ke muka. Karena melihat keberanian ini, berbaliklah sekalian yang lari, lalu mengikut guru-gurunya dengan bertempik sorak pula, menyerang serdadu-serdadu dari dua pihak. Oleh sebab cepat datang mereka menyerbukan dirinya, serdadu-serdadu Letnan Mas tiadalah sempat menembak lagi, lalu mempergunakan bayonetnya. Dengan segera, menjadi ramailah

peperangan itu, masing-masing mencari lawannya. Ada yang bertikam-tikaman, ada yang bertetak-tetakan pedang, ada yang tangkis-menangkis, berpukul-pukulan, tangkap-menangkap, dan banting-membanting. Yang mati, jatuh, yang luka, berdarah, yang takut lari, yang berani mengejar. Ada yang maju, ada yang mundur, ada yang melompat, berbagaibagai kelakuan mereka. Suara pun bermacam-macam kedengaran, gegap gempita, tiada disangka bunyi lagi, dicampuri pula oleh bedil, pistol, pedang dan perang. Walaupun bulan terang cahayanya, tetapi di tempat itu gelap karena asap bedil. Jika pakaian mereka tiada sangat berlainan, yakni hitam dan putih, niscaya tiadalah tentu lawan dan kawan. Letnan Mas dengan kepada perusuh kelihatan sama-sama mengerahkan bala-tentaranya, menyuruh maju sambil membedil dan menetak.

Tiada beberapa lamany berperang itu banyaklah yang mati dan yang luka pada kedua belah pihak. Darah mengalir di jalan raya dan mayat tersia-siar di sana-sini. Oleh sebab dari kampung tiadaputus-putusnya datang bantuan perusuh, tiadalah tertahan oleh Letnan Mas serangan musuhnya, sehingga disuruhnya serdadunya mundur perlahan-lahan. Bila tiada datang bantuan dari Letnan Van Sta pastilah pecah perang Letnan Mas.Untunglah pada waktu itu juga kedengaran tempik sorak serdadu Letnan Van Sta, yang menyeburkan diri ke medan

peperangan. Tiada beberapa lamanya kemudian daripada itu, mundurlah perusuh perlahan-lahan, akhirnya, tatkala bantuan mereka tak datang lagi, pecahlah perang mereka, lalu lari kian kemari, bertemperasan, diburu oleh serdadu-serdadu kedua letnan itu.

Tatkala mengejar perusuh, kelihatan oleh Letnan Mas seorang daripada kepala mereka. Bangun badan, perjalanan, dan suaranya serupa benar dengan bangun badan, perjalanan dan suara Datuk Maringgih, musuhnya yang sekianlama dicari-carinya. Maka berdebar-debarlah hati Letnan Mas dan gemetar tangannya serta berubah mukanya sebagai suka bercampur duka. Suka karena ada pengharapan akan dapat membalaskan saki hatinya dan duka karena ingat segala kejahatan yang telah diperbuat jahanam itu. Ketika kepala perusuh ini hendak melarikan dirinya,

diburunyalah orang itu dengan tiada berpikir panjang lagi. Setelah berhadap-hadapan mereka, nyatalah pada Letnan Mas, bahwa

persangkaannya tadi benar, karena sesungguhnya Datuk Maringgih, algojo Nurbaya, yang berdiri di mukanya lalu berkatalah ia ,” Datuk Maringgih! Benarkah engkau ini?”

“Ya, akulah Datuk Maringgih, saudagar yang kaya di Padang in,” jawab kepala perusuh itu. “ Engkau ini siapa, maka kenal kepadaku?”

(23)

Seketika itu juga, melompatlah ia kembali ke muka, hendak menetak Letnan Mas. Letnan Mas melompot ke kana, lalu berkata, “Tunggu dahulu, Datuk Maringgih! Karena banyak yang terasa dalam hatiku yang hendak kukatakan kepadamu, sebelum aku terpaksa mencabut nyawamu.”

Mendengar perkataan ini, berdirilah Datuk Maringgih karena hendak mengetahui apakah yang akan dikatakan musuhnya itu.

“Datuk Maringgih! Sesungguhnya akulah Samsulbahri, yang sepuluh tahun lalu sudah mati, tetapi yang dikeluarkan kembali dari dalam kubur, untuk menghukum engkau atas segala kejahatanmu yang keji itu. Tatkala aku membedil diriku di Jakarta, karena terlebih suka mati daripada hidup menanggung sengsara yang asalnya daripada perbuatanmu, tiadalah disampaikan Tuhan maksudku itu. Rupanya, aku terlebih dahulu harus menuntut bela atas segala kesalahanmu. Itulah sebabnya maka peluru yang kutujukan ke kepalaku, tiada menembus otakku. Karena aku

terperanjat mendengar suara sahabatku, Arifin, yang tatkalal itu berteriak, dan tanganku bergoyang, sehingga anak bedil sekadar merusak tulang kepalaku saja. Ketika aku sadar akan diriku, kupintalah kepada dokter dan sekalian orang yang tahu akan halku, supaya kabar aku hidup kembali, tiada disiarkan kemana-mana, karena pada pikiranku, lebih baik aku disangka orang telah mati daripada hidup sedemikian. Beberapa kali aku mencari kematian, tetapi tiada juga dapat, karena Tuhan masih

memanjangkan umurku, supaya dapat menghukum engkau atas segala dosamu.

Sepuluh tahun lamanya aku menanggung sengsara dan dukacita yang tiada terderita. Sepuluh tahun pula aku menaruh dendam dalam hatiku kepadamu. Sekarang barulah disampaikan Tuhan maksudku itu; sekarang barulah dapat aku menuntut bela sekalian orang yang telah engkau aniaya, hai penjahat yang sebesar-besarnya! Karena kekayaanmu, menjadikan engkau sombong dan angkuh serta takabur kepada Tuhan, yang telah memberimu kekayaan itu. Pada sangkamu dengan kekayaan itu tentulah ‘kan dapat engkau berbuat sekendak hatimu. Yang tinggi kaujatuhkan, yang mulia kauhinakan, yang kaya kaumiskinkan dengan tiada pandang-memandang, tiada tilik-menilik, dan tiada menaruh belas kasihan, asal nafsumu yang jahat dan hina itu dapat kaupenuhi.

Hai, Datuk durhaka! Kekayaanmu itu tiaga memberi faedah kepada teman sejawatmu, sahabat kenalanmu, sesamamu manusia, dan kepada dirimu sendiri sekalipun, melainkan mendatangkan segala bahaya,

sengsara, duka nestapa kepada isi negeri. Tiada layak engkau dikaruniai Tuhan senjata yang sekuat itu.

Dengan kekayaanmu itu, kauceraikan anak daripada bapanya, adik daripada kakaknya, asyik daripada masyuknya, sahabat daripada

karibnya. Dengan kekayaanmu itu, kaujatuhkan Baginda Sulaiman, sampai berpulang ke rahmatullah karena dukacita. Dengan kekayaanmu itu, kaupaksa anaknya menurut kesukaanmu yang keji, kekasih dan

saudaranya kauaniaya sampai hampir mati di dalam laut. Kemudian, kau dakwa ia mencuri barang-barangmu yang kau peroleh dengan tipu daya, darah keringat orang lain. Tatkala engkau tiada berdaya lagi akan

memaksa Nurbaya, yang tiada bersalah itu, kaubunuhlah ia dengan racun. Dengan kekayaanmu itu, kauceraikan aku daripada ibu-bapa dan kaum keluargaku, dan kauputuskan pengharapanku akan menjadi orang baik-baik,sehingga ibuku meninggal dunia karena kesedihan hati.

(24)

Hai Datuk Maringgih! Tiadakah terasa olehmu kesalahanmu itu? Tiadakah takut engkau kepada Tuhan yang memberikan segala kekuasaan itu kepadamu? Tiadakah malu engkau kepada sesamamu manusia yang engkau perdayakan? Tiadakah belas kasihan engkau kepada sekalian mereka yang telah menjadi kurbanmu?”

Samsulbahri berhenti sejurus berkata-kata itu karena penuh rasa dadanya dan sesak rasa napasnya, menahan hatinya yang tak dapat direncanakan di sini.

Datuk Maringgih tiada menjawab sepatah katapun, sebab baru dirasanya waktu itu kebenaran perkataan Samsulbahri ini. Di situlah baru nyata padanya bahwa sebenarnya sampai kepada waktu itu, belumlah lagi ia berbuat kebaikan dengan hartanya yang sekian banyaknya itu. Bila ia mati dalam peperangan ini, tentulah segala hartanya itu akan terbagi-bagi kepada yang tinggal, dan apakah akan dibawanya ke dalam kubur? Tak lain nama yang jahat, sumpah, umpat, dan maki segala mereka yang telah dianiaya. Tentulah sekalian itu akan memberatinya dalam kuburnya. Bila ada ia berbuat kebaikan, barangkali adalah juga akan mendoakan

arwahnya.

(Marah Rusli, 1990. Sitti Nurbaya, hlm. 256-261)

6.2

E. MENGOMENTARI PEMBACAAN PUISI BARU 1. Membaca Puisi dan Menandai Jeda

Membaca puisi umumnya dilakukan dengan nyaring. Dalam berpuisi, pembaca tidak sekedar membunyikan kata-kata. Lebih dari pada itu, ia pun bertugas mengekspresikan perasaan dan pesan penyair dalam puisi tersebut. Untuk itu, pembaca hendaknya;

a. Memaknai puisi itu secara utuh, serta

b. Memperhatikan lafal, tekanan, dan intonasi dalam menyampaikannya, sesuai struktur fisik dan batin puisi itu.

Seperti yang telah dilakukan dalam pelajaran terdahulu, untuk keperluan tersebut, Anda harus menandai jeda pada puisi yang akan Anda bacakan itu. Dengan cara demikian, Anda akan dapat membacakannya secara lebih tertib.

Latihan

1. Bacalah dalam hati puisi berikut. Kemudian, bubuhkanlah penjedaan yang tepat pada puisi tersebut berdasarkan satuan-satuan maknanya.

2. Bandingkanlah hasil pekerjaan Anda itu dengan hasil teman. Adakah perbedaan pada keduanya?

(25)

ku tak punya pong

pinggir ping kumau pong tak tak bilang ping

pinggir pong kumau ping tak tak bilang pong

sembilu jarak-Mu merancap nyaring 2. Membacakan Puisi

Pembacaan puisi yang indah dilakukan dengan menitikberatkan perhatian pada ketepatan pemahaman, keindahan olah vokal, dan ketepatan ekspresi. Dibandingkan dengan membaca indah, pembacaan puisi juga menekankan pada ketepatan pemahaman, keindahan olah vokal, dan ketepatan ekspresi wajah. Hal seperti itulah yang juga perlu Anda lakukan ketika membacakan puisi “Shang Hai” di atas. Anda harus memperhatikan lafal, intonasi,dan ekspresinya.

Latihan

Bacakanlah puisi “Shang Hai” di atas dengan memperhatikan penjedaan yang telah Anda buat sebelumnya. Perhatikan pula lafal, intonasi,dan ekspresi Anda ketika membacakan puisi tersebut.

Kegiatan

Jika memungkinkan, putarlah rekaman video membaca puisi yang telah disediakan guru Anda. Berdasarkan rekaman tersebut, komentarilah teknik pembacaan puisi dengan tepat.

Kegiatan

Lakukan parade membacakan puisi. Perhatikanlah teman Anda ketika

membacakan puisi “Shang Hai” ataupun puisi-puisi lainnya! Perhatikanlah cara dia membacakan puisi itu, terutama dalam lafal, intonasi,dan ekspresinya!

Telusur Makna

Carilah makna dari kata-kata berikut dalam kamus.

- bedil - mutlak - sugesti - visa

- inspirasi - notula - saudagar

- mental - notulis - serdadu

Tes Kognitif

Tulislah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut dalam kertas HVS/polio. Kemudian, kumpulkan hasilnya kepada guru Anda untuk dinilai.

1. Sebutkan kekurangan dan kelebihan pidato manuskrip/naskah?

2. Sebutkan solusi alternatif untuk mengurangi kendala dalam berpidato? 3. Sebutkanlah unsur-unsur identitas buku!

4. Hal-hal apasajakah yang perlu dicermati ketika meresensi buku nonfiksi! 5. Sebutkan unsur-unsur yang terdapat dalam laporan diskusi!

6. Sebutkan dan jelaskan unsur intrinsik pembangunan novel!

7. Apa saja yang harus dilakukan pembca ketika mendengarkan pembacaan puisi?

8. Ketika membacakan sebuah puisi, hal-hal apa yang harus ditekankan?

(26)

1. Pidato dengan membacakan naskah disebut pidato manuskrip atau pidato naskah. Dalam pidato naskah, kita memiliki kesempatan luas dalam

mengumpulkan dan menyusun bahan yang akan kita sampaikan.

2. Hal-hal yang perlu kita cermati dalam buku nonfiksi, antara lain kelengkapan data, bobot keilmuan yang disajikan, dan daya tarik ilustrasi, (tabel, bagan, dan yang lainnya). Adapun isi resensi itu sendiri meliputi identitas buku, isi pokok atau hal-hal penting/menarik dari buku itu, serta kelebihan dan kelemahannya.

3. Novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh atas problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang tokoh. Kisah novel berawal dari kemunculan suatu persoalan yang dialami tokoh hingga tahap

penyelesaiannya. Struktur novel dibentuk oleh unsur tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, amanat, dan gaya bahasa.

4. Pembaca puisi harus mengekspresikan perasaan dan pesan penyairnya. Untuk itu, ia perlu memaknai puisi itu secara utuh serta memperhatikan lafal, tekanan, dan intonasinya, sesuai dengan struktur fisik dan batin puisi itu.

Uji Kompetensi

Kerjakan soal-soal berikut dengan tepat.

1. Banyak hal yang bisa berubah setelah melakukan tindakan-tindakan model terakhir. Saya tidak tahu, apa ini sebuah sugesti, atau ada tangan-tangan kekuatan alam yang membuatnya demikian. Yang jelas, alam bisa demikian perkasa dan bertahan lama karena bergerak dalam siklus memberi,

memberi, dan memberi. Rumput hijau memberi kesejukan. Matahari membawa energi. Air menghadirkan kehidupan. Adakah mereka membutuhkan imbalan lebih?

(Sumber: www.taruna-nusantara-mgl.scb.id)

a. Apa yang diinginkan juru pidato dari pendengarnya lewat cuplikan uraian di atas?

b. Bagaimana cara menyampaikan cuplikan pidato di atas: dengna nada informatif ataukah dengan nada persuatif? Jelaskan dengan disertai alasan.

2. Ada beberapa tulisan yang masih “di permukaan” dan sebenarnya bisa lebih diperdalam. Namun sekali lagi, sebagai pembaca, saya tidak terlalu

terganggu dengan hal itu karena buku ini memang tidak disetujukan untuk membahas sesuatu secara detail, lengkap, dan dalam. Ini adalah kisah-kisah sederhana dari orang-orang sederhana dengan pesan indah.

(Sumber: Dee dalam deeyand.multiply.com)

a. Apa yang dikemukakan dalam cuplikan renensi di atas? b. Apa yang dimaksud dengan “di permukaan”?

3. Unsur apa saja yang tergolong ke dalam unsur intrinsik novel? Jelaskanlah. 4. Setelah masuklah kapal yang membawa Letnan Mas ke pelabuhan Teluk

Bayur, turunlah sekalian bala tentara itu ke darat, lalu langsung berjalan ke Kota Padang. Di sana gemparlah isi kota melihat bala tentara sekian

banyaknya datang; cukup dengan alat senjata dan meriamnya.

Unsur apakah yang dominan dalam cuplikan novel Sitti Nurbaya di atas? 5. Bacalah kutipan puisi berikut.

(27)

Ping ping bilang pong Pong pong bilan ping Mau pong? Bilang ping

(Shang Hai, Sutardji Calzoum Bachri) a. Apa maksud cuplikan puisi itu?

b. Katakan apa saja yang memerlukan tekanan yang lebih tegas dalam puisi tesebut?

6. Secara bergiliran, bacalah puisi berikut di depa kelas. Gunakan lafal, jeda, intonasi, dan ekspresi yang tepat pada saat Anda membacakannya. Kemudian, lakukan penilaian atas cara pembacaan puisi yang dilakukan teman Anda. Sepakati terlebih dahulu aspek-aspek yang harus dinilai dalam membacakan puisi tersebut. Jika sudah sepakat lakukan penilaian secara objektif!

Damai yang Menular

Sebuah rantiing yang sedang berkata kepada ranting di dekatnya “Hari ini sungguh hampa dan membosankan”

Dan ranting lainnya pun menjawab “Memang kosong dan membosankan”

Ketika itu seekor burung pipit hinggp di salah satu ranting itu, Lalu ada seekor burung pipit lainnya, di ranting di dekatnya

Dan salah satu burung pipit itu berkicau dan berkata “Aku baru ditinggalkan oleh pasanganku”

Dan burung lainnya berkata

“Pasanganku juga pergi, dan ia takkan kembali. Apa pedulinya aku”

Lalu kedua burung itu mulai bertengkar riuh rendah

Tiba-tiba saja dua ekor burung pipit lainnya datang dari langit Dan hinggap diam-diam disamping kedua burung yang pertama tadi.

Lalu suasananya menjadi tenang, damai.

Lalu keempat burung itu pun terbang berpasang-pasangan

Dan kata ranting yang satu kepada sesamanya

“Bising sekali tadi ya”

Dan jawab ranting yang lain

(28)

tinggal di bawah juga damai. Tidak maukah kamu bergoyang tertiup angin lebih dekat kepadaku?”

Dan ranting yang satu berkata

“Oh, kebetulan lebih damai, musim semi toh sudah berakhir” Lalu ia bergoyang tertiup angin kencang

Dan merangkul temannya.

Dikutip dari Sang Peengembara, karya Kahlil Gibran

Refleksi Diri

Pokok Bahasan

Tingkat Pemahaman

A B C D

A. Membaca nyaring teks pidato dengan intonasi yang tepat.

B. Menuliskan laporan diskusi dengan melampirkan notulen dan daftar hadir.

A. Menuliskan resensi buku pengetahuan berdasarkan format baku.

B. Menjelaskan unsur-unsur intrinsik dari pembacaan novel.

C. Mengomentari pembacaan puisi baru tentang lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat.

7.1.

D.MEMBACAKAN PUISI KARYA SENDIRI 1. Memahami Isi Puisi

Membacakan puisi berarti menekankan ketepatan pemahaman, keindahan vokal, dan ekspresi wajah. Kegiatan tersebut acapkali disertai dengan gerak-gerik tubuh yang lebih bebas dan ekspresi wajah yang lebih kuat

dibandingkan dengan membaca indah. Pembaca memperagakan puisi dengan lakuan tubuh (acting) yang sesuai. Pembacaan puisi kadang-kadang diiringi pula dengan musik yang sesuai dengan suasana isi puisi.

Bacalah puisi di bawah ini dalam hati Berdiri Aku

karya Amir Hamzah

Berdiri aku di tepi pantai

(29)

Ombak datang bergulung-gulung Balik kembali ke tengah segara Aku takjub berdiri temenung

Beginilah rupanya permainan masa

Hatiku juga seperti dia

Bergelombang-gelombang memecah ke pantai Arus suka beralih duka

Payah mendapat perasaan damai . . . .

Kegiatan

Berdasarkan puisi di atas, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat.

1. Puisin di atas menceritakan apa?

2. Bagaimana kesan yang ditunjukkan penyair terhadap objek yang diceritakan itu?

3. Adakah pengalaman yang sama antara yang diceritakan penyair dengan pengalaman Anda sendiri? Jelaskan.

4. Setelah membaca puisi itu, perasaan apa yang muncul? Kemukakan alasan-alasannya.

5. Ada sebuah pelajaran berharga yang dinyatakan dalam puisi itu? Tunjukkan.

2. Menandai Jeda

Jeda adalah hentian sebentar dalam ujaran. Jeda penting diperhatikan dalam pembacaan puisi agar maksudnya dapat terekspresikan dengan jelas. Oleh karena itu, sebelum membacakannya, Anda perlu menandai puisi itu berdasarkan satuan-satuan maknanya. Penandaan biasanya dilakukan menggunakan tanda garis miring. Tanda miring ganda (/ /) menunnjukkan hentian yang lebih panjang dari pada tanda miring tunggal (/). Sebagai contoh, perhatikan penjedaan untuk puisi “Berdiri Aku” berikut ini.

Berdiri Aku karya Amir Hamzah

Berdiri aku/ di tepi pantai//

Memandang lepas/ ke tengah laut// Ombak pulang/ memecah berderai// Keribaan pasir/ rindu berpaut//

Ombak datang/ bergulung-gulung// Balik kembali/ ke tengah segara// Aku takjub/ berdiri temenung//

Beginilah rupanya/ permainan masa//

Hatiku juga/ seperti dia//

(30)

Arus suka/ beralih duka//

Payah/ mendapat perasaan damai . . . .//

Kegiatan

1. Tulislah sebuah puisi dengan mengekspresikan perasaan, pikiran, ataupun pengalaman Anda sendiri.

2. Bubuhkanlah jeda pada puisi Anda itu berdasarkan satuan-satuan maknanya. 3. Bacakanlah puisi tersebut di depan teman-teman Anda. Perhatikanlah

jedanya, perhatikan pula lafal, intonasi, mimik, dan gerak-gerik Anda dalam membicarakannya.

4. Mintalah teman Anda untuk mengomentarinya dengan menggunakan format berikut.

No PembacaNama 1 Aspek yang Dinilai2 3 4 Jumlah Ket

Keterangan: Berikan nilai 10-50 1. penjedaan

2. pelafalan 3. intonasi

4. ekspresi muka/mimik

3. Menentukan Makna Puisi Karya Teman

Puisi “Berdiri Aku” menyatakan perasaan penyair ketika berdiri di tepi pantai. Kemudian, ia menggambarkan perasaannya itu seperti ombak yang bergulung-gulung. Perasaannya tersebut muncul silih berganti: ada suka dan duka. Ia pun merasa lelah dengan perasaannya itu. Ia berharap kedamaian akan ia dapatkan.

Pemaknaan terhadap puisi tersebut dibuat berdasarkan kata-kata yang dominan dan semakna.

Contoh:

Berdiri aku di tepi pantai, Ombak datang, Ombak datang bergulung-gulung

Hatiku juga seperti dia

Bergelombang-gelombang . . . . Arus suka beralih duka

Payah mendapat perasaan damai

Penjelasan terhadap puisi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut

dengan memaknai kata-kata lainnya. Dengan demikian, pemaknaan terhadap puisi tersebut akan lebih utuh dan tidak sepenggal-sepenggal.

Kegiatan

Lakukan kegiatan berikut dengan teman Anda!

(31)

2. Jelaskanlah maknanya secara jelas dan lengkap! Apakah pemaknaan Anda tersebut sesuai dengan maksud teman Anda?

Apersepsi

Apa judul novel yang paling menarik yang pernah anda baca? Perasaan apakah yang muncul setelah membaca novel itu? Jelaskanlah!

8.1

B. MENULIS RESENSI BUKU PENGETAHUAN BERDASARKAN FORMAT BUKU 1. Membaca Buku

Sebagaimana yang telah Anda pelajari di Pelajaran 1, dalam menulis resensi buku, Anda harus mencatat identitas bukunya, antara lain:

a. judul,

b. nama pengarang,

c. kota dan nama penerbit,

d. tahun atau edisi penerbitan, dan e. tebal buku.

Meresensi buku berarti mencermati bagian-bagian penting dari buku itu beserta keunggulan dan kekurangannya. Hal yang perlu Anda perhatikan adalah komentar pada buku nonfiksi (ilmiah populer). Hal-hal yang perlu Anda cermati pada buku nonfiksi, antara lain kelengkapan data, bobot keilmuan yang disajikannya, dan daya tarik ilustrasi (tabel, bagan, dan yagn lainnya).

Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh resensi buku nonfiksi di bawah ini.

Judul : Hari Ini Aku Makin Cantik Penulis : Azimah Rahayu

Penerbit : Syaamil Tahun : 2005

Kejelian memotret kehidupan, menggoresnya dengan pena, kisah-kisah indah dan menyentuh. Ya, itulah yang dilakukan Azimah, dengan buku

terbarunya Catatan Seorang Ukhti 7: Hari Ini Aku Makin Cantik (HIAMC). Jangan bingung ya dengan label ‘7’. Catatan Seorang Ukhti 7 adalah buku seri kisah-kisah kehidupan yang diterbitkan oleh Syaamil Cipta Media dari berbagai penulis.

Kisah sederhana tentang orang-orang sederhana dengan pesan indah, itulah yang saya bisa tangkap dari buku ini. Memang untuk bukunya ini–setelah menulis Catatan Seorang Ukhti 2: Pagi Ini Aku Cantik Sekali (PIACS)–Azi mengaku banyak terinspirasi dari orang-orang sederhana yang memiliki pengalaman hidup, pemikiran, dan kekuatan yang luar biasa alias tak sederhana orangnya.

Sejujurnya saya bingung meresensi buku ini. Bukan karena buku ini tidak bagus, karena buat saya tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini bukanlah untuk dijelaskan kembali, tetapi untuk diselami kedalaman maknanya, direnungkan pesannya, dan yang juga penting diejawantakan dalam keseharian hidup.

(32)

meracuni hati kita, kontrol emosi, mencintai diri sendiri, sampai--soal yang

kelihatan sepele–jerawat. Namun, Azi dapat membuat sesuatu yang kelihatannya sepele, remeh, menjadi hal yang penting. Penting untuk kita resapi karena

seringkali hal yang remeh itu sebenarnya penting.

Azi sudah cukup terlatih merangkai kalimat demi kalimat. Buku Catatan Seorang Ukhti pertamanya (PIACS) menjadi bukti. PIACS meraih penghargaan Anugerah Pena FLP untuk kategori buku nonfiksi.

Memang ada beberapa tulisan yang masih “di permukaan”, padahal sebenarnya bisa lebih diperdalam. Namun, sekali lagi pembaca, saya tidak terlalu terganggu dengan hal itu karena buku ini memang tidak ditujukan untuk membahas sesuatu secara detail, lengkap, dan dalam. Ini adalah kisah-kisah sederhana dari orang-orang sederhana dengan pesan indah.

Kesederhanaan kalimat demi kalimat yang Azi rangkai tak sesederhana pesan yang ia ingin sampaikan. Pesan-pesan yang layak untuk kita renungkan.

(Sumber: Dee dalam deeyand.multiply.com, dengan pengubahan)

Selain mengemukakan identittas buku, hal-hal yang dikemukakan dalam resensi di atas adalah sebagai berikut.

a. Isi pokok buku

Catatan Seorang Ukhti adalah uku seri kisah-kisah kehidupan yang diterbitkan oleh Syaamil Cipta Media dari berbagai penulis.

b. Karakter isi buku

... buat saya, tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini bukanlah untuk dijelaskan kembali, tetapi untuk diselami kedalaman maknanya, direnungkan pesannya, dan yang juga penting diejawantakan dalam keseharian hidup.

c. Kelebihan buku

1) Azi sudah cukup terlatih merangkai kalimat demi kalimat

2) Ini adalah kisah-kisah sederhana dari orang-orang sederhana dengan pesan indah ...

d. Kelemahan buku

Memang ada beberapa tulisan yang masih “di permukaan”, padahal sebenarnya bisa lebih diperdalam.

2. Menulis Resensi

Resensi ditulis berdasarkan bahan-bahan yang telah kita persiapkan sebelumnya: identitas buku, isi pokok atau hal-hal penting/menariknya, serta kelebihan dan kelemahannya. Kemudian, bahan-bahan itu disusun secara sistematis menjadi sebuah tulisan.

Kegiatan

1. Bacalah sebuah buku nonfiksi. Catatlah identitas, pokok-pokonya, serta kelebihan dan kekurangannya.

2. Kembangkanlah catatan tersebut menjadi sebuah resensi yang lengkap. 3. Presentasikanlah resensi itu di depan teman-teman untuk mereka tanggapi

(33)

b. kejelasan pemaparannya, c. keruntunan penyajiannya,

d. keefektifan kalimat-kalimatnya, dan e. ketepatan ejaan dan tanda bacanya.

Lintas Akademika

1. Bacalah sebuah buku ilmiah populer yang berhubungan langsung atau merupakan pengayaan dari salah satu bidang pelajaran. Misalnya, buku pengayaan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah teknik berpidato dan teknik berdiskusi. Buku pengayaan untuk mata pelajaran Fisika atau Biologi adalah 100 Ilmuan Terkemuka Dunia.

2. Resensi buku itu dengan langkah-langkah yang telah Anda pelajari di atas. Lakukanlah silang baca dengan teman-teman untuk saling memberikan koreksi.

3. Kirimkanlah resensi tersebut ke media massa yang sesuai! Siapa tahu tulisan Anda akan di muat di media yang bersangkutan.

Apersepsi

Kapankah Anda melakukan diskusi untuk terakhir kalinya?Apa saja yang harus dipersiapkan pada saat berdiskusi? Jelaskan!

C. MENULIS LAPORAN HASIL DISKUSI 1. Membaca Contoh Laporan Diskusi Hari,Tanggal : Rabu, 21 April 2010 Waktu : Pukul 10.20-12.00 WIT Tempat : Kelas XII B

Tema Diskusi : Peningkatan Gemar Belajar

Tujuan : 1. Mencari penyebab lemahnya keinginan membaca 2. Merumuskan cara-cara meningkatkan budaya gemar

membaca di kalangan siswa Pelaksana diskusi

1. Moderator : Iin Mulyati 2. Notulis : Suci amalia

3. Anggota : a. Immadi Ali Rahman b. Nurul Hidayati c. Meli Nuramelia d. Guruh Nugraha Hasil-hasil Diskusi

1. Pengusul/penanggap:

a. Immadi : Penyebab lemahnya keinginan membaca adalah

karena koleksi bukunya sangat minim dan ketinggalan zaman. b. Meli : Penyebab lemahnya keinginan membaca karena budaya

(34)

c. Nurul : Penyebab lemahnya keinginan membaca karena faktor lingkungan yagn kurang mendukung, seperti pergaulan dengan sebaya ataupun lingkungan keluarga yang belum menjadikan membaca sebagai kebutuhan hidup.

d. Guruh : Minat baca dapat ditingkatkan dengan adanya dorongan dari luar, seperti perlombaan kecepatan membaca, meresensi buku, menulis karya ilmiah.

e. Immadi: Koleksi perpustakaan perlu ditambah dengan buku-buku baru dan sesuai dengan keperluan dan minat siswa.

f. Meli : Perlu ada pemeran buku secara berkala yang melibatkan penerbit-penerbit dan diskusi buku dengan para penulis. 2. Kesimpulan (hasil-hasil yang disepakati)

a. Faktor penyebab lemahnya keinginan membaca: koleksi perpustakaan sekolah yang minim, daya tarik televisi yang lebih kuat, serta budaya membaca di lingkungan keluarga dan teman sebaya masih rendah. b. Minat membaca dapat ditingkatkan dengan adanya lomba-lomba,

seperti lomba kecepatan membaca, meresensi buku, dan menulis karya ilmiah. Selain itu, minat baca dapat ditingkatkan dengan menambah koleksi perpustakaan, pameran buku, dan diskusi buku dengan penulis.

Bontang, 21 April 2010 Notulis Suci Amalia

Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.

1. Apakah tema diskusi di atas penting dan bermanfaat? 2. Apakah unsur-unsur dalam laporan itu sudah lengkap?

3. Apakah laporan itu sudah menggambarkan jalannya diskusi secara jelas? 4. Sesuaikan kesimpulan dengan isi pembicaraan para pesertanya?

5. Bagaimana tanggapan Anda atas keaktifan para peserta diskusi itu?

2. Mengidentifikasi Unsur-Unsur Laporan Diskusi

Jika kita cermati, contoh laporan di atas terdiri atas beberapa komponen pokok:

a. judul laporan,

b. identitas pelaksanaan diskusi, seperti tanggal dan tempat, serta tema dan tujuan diskusi,

c. para pelaksana diskusi, seperti moderator, notulis, dan peserta,

d. hasil-hasil diskusi yang meliputi isi tanggapan para peserta dan kesimpulan, e. tempat dan tanggal penulisan laporan,

f. tanda tangan dan nama jelas penulisan laporan.

Model format lainnya yang dapat Anda pertimbangkan dalam penyusunan laporan diskusi:

1. Judul

2. Pendahuluan

(35)

b. Tujuan diskusi

c. Tema atau masalah diskusi d. Waktu dan tempat diskusi 3. Pelaksana Diskusi

a. Pembicara b. Notulis c. Moderator d. Peserta 4. Hasil Diskusi

a. Pokok-pokok materi diskusi sebagai pokok-pokok isi masalah yang disajikan oleh pemakalah.

b. Pernyataan-pernyataan serta tanggapan yang disampaikan oleh peserta diskusi (floor)

5. Kesimpulan

6. Lampiran-lampiran a. makalah

b. notulen c. acara

d. daftar hadir peserta

Studi Pustaka

Carilah model laporan diskusi lainnya. Identifikasilah unsur-unsur laporan tersebut.

1. Berdasarkan unsur-unsurnya, adakah persamaan atau perbedaan dengan contoh ataupun model format laporan diskusi di atas?

2. Jelaskanlah kelebihan atau kelemahan dari laporan itu berdasarkan isi, susunan, dan bahasanya.

3. Menulis Laporan Diskusi

Kegiatan diskusi sangat perlu untuk disusun laporannya. Dengan cara itu akan tergambar keputusan-keputusan penting yang dihasilkannya, juga proses berlangsungnya rapat itu sendiri. Hasil diskusi yang terdokumentasikan dengan baik tentu akan mempermudah pemantauan pelaksanaannya daripada yang diskusi hanya berupa lembaran-lembaran kertas yang tercecer.

Dengan adanya laporan itu, proses beserta hasil-hasil dapat terdokumentasikan dengan baik. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan administrasi, tetapi juga bagi tindak lanjut pelaksanaannya.

Berdasarkan laporan itulah, akan diketahui keputusan apa yang sudah berhasil direalisasikan dan keputusan apa yang pelaksanaannya belum optimal.

Kegiatan

1. Lakukanlah diskusi bersama beberapa orang teman Anda, sesuai dengan kelompok yang sudah terbentuk. Setiap kelompok terdiri 4-5 orang.

2. Tema dan tujuan diskusi boleh Anda tentukan sendiri berdasarkan kesepakatan antar anggota kelompok. Tentukan pula moderator dan notulisnya.

(36)

4. Kemukakanlah laporan tersebut oleh seorang wakil kelompok untuk kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya berdasarkan aspek-aspek berikut.

a. keakuratan dengan fakta yang terjadi dalam diskusi, b. kelengkapan dan kejelasan dalam penyampaiannya, c. keruntunan sistematika penyajian,

d. ketepatan penggunaan bahasa (pilihan kata dan ejaan).

Apersepsi

Apa judul novel yang sudah Anda baca pada minggu ini? Ceritakan kembali isi dan daya tarik novel tersebut secara ringkas.

Ulangan Semester 1

Pilih salah satu jawaban yang paling tepat.

1. Perlu teman-teman ketahui bahwa di sekolah kami, pada tanggal 7-8 Maret telah diadakan pentas seni. Kegiatan tersebut diikuti oleh para siswa dari semua kelas. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, antara lain, pementasan drama, musikalisasi puisi, dan panduan suara.

Ilustrasi di atas melaporkan . . . . a. pementasan drama

b. musikalisasi puisi c. paduan suara

d. kegiatan pentas seni e. peran serta para siswa

2. Kalimat yang mengandung pendapat adalah . . . . a. Mereka ikut berbalas pantun.

b. Acara-acara tersebut berlangsung sangat meriah.

c. Masyarakat sekitar sekolah banyak yang mengikuti acara tersebut. d. Merekah terlibat dalam acara-acara yang bersifat interaktif itu. e. Mereka membacakan puisi kreasi mereka dengan diiringi alat musik. 3. Pertanyaan : . . . .

Pernyataan : Di samping para siswa dan guru, masyarakat sekitar sekolah banyak yang mengikuti acara tersebut.

Kalimat yang tepat untuk melengkapi tanya jawab di atas adalah . . . . a. Siapa saja yang mengikuti acara tersebut?

b. Mengapa para siswa, guru, dan masyarakat sekitar mengikuti acara tersebut?

c. Adakah orang yang mengikuti kegiatan tersebut di samping para siswa dan guru?

d. Berapa banyak orang yang mengikuti kegiatan tersebut bersama para siswa dan guru?

e. Di samping para siswa dan guru, masyarakat sekitar sekolah mengikuti acara tersebut?

(37)

persiapkan akan menjadi terlalu besar, sedangkan para siswa kita umumnya berasal dari keluarga kurang mampu.

Pernyataan yang menjadi alasan atas dukungan yang dikemukakan pembicara adalah . . . .

a. Kita berasal dari keluarga kurang mampu. b. Dana yang dikeluarkan terlalu besar.

c. Perpisahan tidak perlu mendatangkan group band dari luar. d. Acara perpisahan tidak perlu dilaksanakan dengan besar-besaran e. Sebuah acara memerlukan kekhidmatan dari para pesertanya.

5. Kita kembali ke berita aktual siang ini. Lapisan es Antartika di Kutub Selatan kembali mengalami kondisi kritis. Bagian barat benua beku tersebut pecah sehingga bongkah es seluas tujuh kali Kota Manhatta, AS atau sekitar sepertiga luas Jakarta, lepas ke lautan lepas.

Hal utama yang dilaporkan di dalam cuplikan di atas adalah . . . . a. berita aktual siang ini

b. Jakarta setengah bongkahan es c. kondisi kritis di Antartika

d. pecahnya lapisan es di Kutub Selatan e. Kota Manhattan yang terancam

6. Laporan tentang mencairnya es di Antartika sangat menarik buat saya. Akan tetapi, data-data yang disajikan saya rasa masih lemah karena tidak

menyertakan gambar-gambar, terutama tentang keadaan mencairnya esnya itu. Kalau saja gambar-gambar itu dapat disertakan, laporan itu akan lebih jelas dan meyakinkan.

Masalah yang dikritik pada tanggapn di atas adalah . . . . a. isi laporan

b. bahasa laporan c. susunan laporan d. tampilan isi laporan e. bagian-bagian laporan

7. (1) Sepadan dengan sosoknya yang keras, Sansiviera termasuk tumbuhan tahan banting.(2) Ia tak akan merongrong waktu dan ketelatenan Anda untuk merawatnya agar tumbuh subur. (3) Singkatnya, Sansiviera tak butuh

perawatan rumit. (4) Tak disiram beberapa hari pun tetap segar. (5) Maklumlah, sebagai keluarga tanaman sukulen(kaktus), tanaman ini memang tidak boleh diguyur banyak air.

Gagasan pokok paragraf di atas dinyatakan oleh kalimat . . . .

a. (1) d. (4)

b. (2) e. (5)

c. (3)

8. Pada tahap ini, remaja sering berhadapan dengan emosi yang kadangkala agresif. Hal ini disebabkan oleh perubahan hormon-hormon tertentu. Remaja perlu mengendalikan emosi tersebut secara baik dengan pengrahan dari orang tua. Kekerasan dan kelonggaran yang ekstrem ketika mengendalikan emosi tersebut akan mengganggu pembentukan disiplin remaja, bahkan perkembangan remaja secara keseluruhan.

(38)

a. emosi remaja yang agresif

b. perkembangan remaja yang ekstrem c. timbulnya kekerasan di kalangan remaja

d. peranan orang tua dalam mengarahkan remaja

e. pentingnya pembentukan kedisiplinan di kalangan remaja

9. Saya seorang wanita lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia,

Jurusan Manajemen tahun 2006, usia 25 tahun. Saya berpengalaman dalam bidang pemasaran selama dua tahun dan dapat berbahasa inggris secara aktif. Selain itu, saya pun pernah kursus komputer selama satu tahun. Aspek yang dikemukakan di dalam penggalan surat lamaran kerja di atas adalah . . . .

a. hobi pelamar b. identitas pelamar c. kompetensi pelamar d. pengalaman pelamar e. latar belakang pelamar

10. Baru-baru ini, saya mendengar informasi dari Bapak Hilman Tanjung, salah seorang karyawan Anda, yang menyatakan bahwa ada lowongan kerja sebagai tenaga pengajar di lembaga yang Anda pimpin.

Dalam cuplikan surat lamaran kerja di atas, kata Anda dapat diganti dengan . . . .

a. kamu d. rekan

b. Saudara e. Tuan

c. Bapak/Ibu

11. Dengan surat ini kami beritahukan bahwa dalam rangka penuntasan rencana lomba musikalisasi antarkelas, ada beberapahal penting yang perlu

dibicarakan.

Kata yang salah penulisannya adalah . . . .

a. beritahukan d. antarkelas

b. penuntasan e. dibicarakan

c. musikalisasi

12. Ketika saya tanya balik, mengapa ia demikian bersahabat setelah tahu kami dari Bali? Petugas tadi menceritakan pengalaman pribadinya yang pernah ditolong orang Bali, ketika mengalami kecelakaan saat berwisata di Pulau Dewata ini. Singkat cerita, semua urusan menjadi beres hanya karena ada kata Bali di paspor.

Kata-kata yang menjadi penanda penting dalam paragraf di atas adalah . . . .

a. ketika saya d. petugas tadi

b. mengapa demikian e. singkat cerita c. pengalaman pribadi

13. Boleh percaya boleh tidak, saya mengalami kejadian-kejadian seperti ini dalam frekuensi yang cukup sering. Sejumlah rekan Tionghoa yang mengerti petunjuk hoki, mnyebut saya manusia hoki karena bentuk hidung, telinga, dab dagu yang cocok dengan ciri-ciri hoki. Sebagai manusia biasa, saya memang memiliki banyak kekurangan.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, Anda pun akan belajar menulis gagasan secara logis dan sistematis dalam bentuk paragraf eksposisi, menemukan nilai-nilai yang dikandung cerpen dan membacakan puisi

Ingat, dalam membacakan pengumuman harus memperhatikan penggunaan intonasi dan lafal yang jelas, kamu juga harus dapat menyampaikan isi pengumuman tersebut kepada teman-teman

 Mengemu ka-kan persetujuan atau penolakan dengan alasan yang logis  Mengajuk an pertanyaan dan atau persetujuan dengan menggunakan kata sambung dalam kalimat  Mengajuk an

Fokus pembahasan kegiatan belajar ini adalah membahas perihal pemilihan area isi pembinaan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Dengan mempelajari fokus pembahasan tersebut,

Modul ini akan membahas peran bangsa Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia yaitu Indonesia menjadi pemrakarsa diadakannya Konferensi Asia Afrika (KAA), Indonesia

Antonomasi adalah gaya bahasa yang menyebutkan nama orang dengan sebutan lain yang sesuai dengan ciri atau watak orang tersebut.. Bahasa Indonesia

Berikanlah tanggapan singkat 1 paragraf mengenai “Penyakit zoonotik apa yang sedang menjadi perhatian di daerah Anda sekarang?” 3.. Bacalah artikel mengenai “Surveillans pada Hewan”

Kegiatan Belajar 2 Permasalahan Lingkungan Hidup etelah Anda mengetahui beberapa definisi penting yang berkaitan dengan ilmu lingkungan, maka sekarang kita akan membahas secara