AGROWISATA
BELIMBINGAN (BOJONEGORO)
SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
..
Disusun oleh :
Rifai Anas Amirul Huda
XI IPS 4
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis,
1. Judul : Agrowisata Belimbingan Bojonegoro sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat
2. Penulis :
a. Nama : Rifai Anas Amirul Huda
b. Absen : 23
c. Kelas : XI IPS 4
Tujuan : Disusun untuk menyelesaikan tugas penelitian dari guru
pembimbing SMA N 1 Blora.
Karya tulis ini disahkan pada
tanggal ...
Mengetahui,
Kepala SMA N 1 BLORA Pembimbing
Drs. Slamet Joko Waluyo, M.Pd Anik Hanifah, S.Pd
NIP. 19670430 199802 1 002 NIP. 19841019 200903 2 008
Jangan berpikir gagal sebelum belajar
\ Pintar karena belajar, cerdas karena mengajar
Pendidikan bukan suatu modal hidup namun sesuatu yang harus hidup
Pendidikan bukan untuk usia muda tapi seumur hidup manusia
Genius adalah : 1% inspirasi & 99% keringat
Ilmu diperoleh bukan dari pendidikan tapi dari proses belajar
Pendidikan itu penting, tapi belajar lebih penting
Ayo budayakan membaca untuk menciptakan generasi masa depan
Pendidikan yang bagus syarat mutlak bangsa yang maju
Generasi yang hebat adalah generasi yang membudayakan belajar
Siswa berprestasi benteng kokoh kesejahteraan bangsa
Bangsa yang terbelakang adalah bangsa yang malas belajar
Persembahan
Karya tulis ini saya persembahkan kepada :
Ayah dan Ibu, yang telah banyak memberi doa serta dukungan.
Bapak dan Ibu guru, yang senantiasa membimbing saya untuk dapat membuat karya tulis ini.
Sahabat serta teman yang saya sayangi.
Dengan mengucapkan puji syuur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan bimbingan-Nya, saya dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Agrowisata Belimbingan (Bojonegoro) Sebagai upaya Pemberdayaan Masyarakat” dengan lancar.
Penyusun mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu Bapak/ibu guru pembimbing dan teman-teman
Penyusun menyadari karya tulis ini masih banyak kekurangannya, saya mengharapkan kritik dan saran untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada di karya tulis ini.
Diharapkan dengan karya tulis ini bermanfaat bagi saya dan teman-teman dan para pembaca sebagai sarapa penambah wawasan tentang obyek wisata tanah air Indonesia.
Blora, 12 April 2017
Penyusun
Rifai Anas Amirul Huda
HALAMAN JUDUL ...
A. Definis Ekonomi kreatif... 6
B. Ekonomi Kreatif dan agrowissata
C. Pengertian Agrowisata...
2.2 sejarah singkat agrowisata belimbingan Bojonegoro ... 19
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan sangat penting untuk setiap orang karena pendidikan itu
sendiri menyangkut masa depan, serta merupakan upayauntuk mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan tidak hanya tanggung jawab
seorang guru, pemerintah, masyarakat maupun orang tua. Namun semua lapisan masyarakat Indonesia juga ikut bertanggung jawab atas terwujudnya pendidikan nasional. Yakni dengan menjalankan tugas sesuai dengan
kemampuan dan tanggung jawab yang merupakan upaya untuk terwujudnya pendidikan nasional yang bermutu tinggi dan berbudi pekerti luhur.
Sebab itulah untuk mewujudkannya ada beberapa kegiatan yang menunjang pendidikan, salah satunya yang sangat menunjang adalah karya wisata. Dengan karya wisata, siswa dapat lebih berpengalaman dan lebih
berpengetahuan. Dikarenakan ada sebagian siswa yang tidak ikut study tour yang diadakan oleh sekolah pada bulan April ini di Malang maka oleh sebab
itu kami mencari objek sendiri untuk diteliti dan saya memutuskan untuk menulis karya tulis mengenai objek wisata Blimbingan ( Bojonegoro ).
Sektor pariwisata menyediakan pasar untuk menampung produksi
pertanian. Sebaliknya sektor pertanian menyediakanberbagai aspek yang dibutuhkan oleh pariwisata. Dengan demikian sektor pariwisata akan
mampu membeli barang-barang konsumsi lebih banyak dengan harga tinggi.
Salah satu barang konsumsi yang dibeli adalah produksi pertanian, khususnya hasil-hasil hortikultura.
N O
Jenis Buah 2011 2012 2013 2014 2015 Pertumbu han/
2 BELIMBING 80.853 91.788 79.634 81.653 98.959 21,20 3 DUKU/LANG
Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura
Berdasarkan data yang dilansir Biro Pusat Stastistik (BPS) dan Pusat Data Informasi (Pusdatin) Kemenparekraf Tahun 2013, jumlah perjalanan
wisatawan domestik mencapai 236,7 juta perjalanan dengan total pengeluaran mencapai Rp 156,89 triliun. Beberapa Pemda tingkat Kabupaten salah satunya Bojonegoro, telah jeli memanfaatkanpotensi
standar, membangun sarana jalan dan transportasi yang baik. Dan salah
satunya adalah Desa Ngringinrejo yang telah ditetapkan oleh Pemda Bojonegoro sebagai lokasi primatani dan kawasan model agrowisata
belimbing, diharapkan dapat mengembangkan agrowisata belimbing yang mampu menciptakan pemberdayaan ekonomi bagi sektor pertanian kota di kawasan tersebut.
Dengan membangun Desa Ngringinrejo sebagai Lokasi
Primatani Belimbing, pemda Bojonegoro mempunyai harapan
akan menjadikannya sebagai pusat pengembangan budidaya
tanaman belimbing. Berdasarkan hal tersebut peneliti
mengadakan penelitian dengan judul Agrpwisata Belimbingan
(Bojonegoro) Sebagai upaya pemberdayaan masyarakat .
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis mengambil beberapa rumusan
masalah yaitu :
1. Bagaimana keadaan agrowisata Belimbingan ?.
2. Bagaimana pemberdayaan masyarakat dalam agrowisata Blimbingan Bojonegoro ?.
C. Tujuan Penulisan
Dalam penulisan rakya tulis ini Penulis memilih judul karya tulis ini “Agrowisata Belimbingan Bojonegoro Sebagai Upaya pemberdayaan
Masyarakat dengan tujuan :
1. Mengetahui keadaan agrowisata Belimbingan
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
Karya Tulis ini dibuat supaya penulis dapat menyelesaikan tugas
penelitian yang diberikan oleh guru pembimbing. 2. Bagi Pembaca
Karya tulis ini dibuat supaya pembaca karya tulis ini dapat
mengetahui agrowisata Belimbingan Bojonegoro 3. Bagi Sekolah
Karya tulis ini dibuat agar sekolah dapat melatih siswa supaya dapat membuat karya tulis.
4. Bagi Masyarakat
Karya tulis ini dibuat dengan tujuan supaya masyarakat awam dapat lebih paham mengenai akan potensi agrowisata di
Indonesia khususnya pada agrowisata Belimbingan Bojonegoro
E. Metode Pengumpulan Data
Pada penulisan karya tulis ini dilakukan dengan mengumpulkan buku-uku yang berisi tentang informasi Pemberdayaan masyarakat dalam agrowisata
Bojonegoro. Mencari artikel yang berhubungan dengan agrowisata di internet. Metode observasi yaitu metode tentang pengamatan, cara mengamati langsung terhadap obyek yang akan diteliti. Metode interview
atau wawancara adalah cara memperoleh data dengan mengadakan tanya jawab antara yang melakukan penelitian dengan pihak yang meneliti atau
BAB II
Kajian Pustaka
A. Definisi Industri Kreatif
Industri kreatif merupakan industri yang menggunakan sumber daya yang terbarukan, dapat memberikan kontribusi dibeberapa aspek kehidupan,
dampak positif yang ditimbulkan terutama bagi peningkatan citra dan
identitas bangsa, menumbuhkan motivasi dan kreativitas anak bangsa, serta dampak sosial lainnya.
Menurut Departemen Perdagangan RI (2009;5), Industri Kreatif adalah Indutri yang berasal dari pemanfaatan krativitas, keterampilan serta bakat
individu untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan memberdayakan daya kreasi dan daya cipta individu
tersebut.1[2]
Menurut UNCTAD dan UNDP dalam Creative Economy Repor,
(2008:4), Industri Kreatif dapat didefinisikan sebagai siklus kreasi, produksi, serta distribusi barang dan jasa yang menggunakan kreativitas dan modal intelektual sebagai input utama. Industri Kreatif terdiri dari
seperangkat pengetahuan berbasis aktivitas yang menghasilkan barang-barang riil dan intelektual nonrill atau jasa-jasa artistik yang memiliki
kandungan kreatif, nilai-nilai ekonomi nonriil, dan objek pasar. Industri Kreatif tersusun dari suatu bidang yang heterogen yang paling memengarui dari kegiatan-kegiatan kreatif yang bervariasi, yang tersusun dari seni dan
kerajinan tradisional, penerbitan, musik, visual, dan pembentukan seni sampai dengan penggunaan teknologi yang intensif dan jasa-jasa yang
berbasis kelompok, seperti film, televisi, dan siaran radio, serta media baru dan desain.2[3]
Menurut UNESCO, Industri Kreatif adalah industri yang mengombinasikan kreativitas keterampilan dan kecakapan untuk
menghasilkan kekayaan dan lapangan pekerjaan. Industri Kreatif dibentuk
oleh budaya kreatif, yaitu budaya mengombinasikan kreasi (creation), produk (product) dan komersialisasi (commercialization).
Produk dari Industri Kreatif disebut produk komersialisasi (commercial product) yaitu berupa barang dan jasa kreatif (creative goods and services).
Menurut Hermawan K, yang dikutip oleh kelompok kerja Indonesia design
power Departemen Perdagangan RI (2008;73), “Komersialisasi adalah segala aktivitas yang berfungsi memberi pengetahuan kepada pembeli
tentang produk barang dan jasa yang disediakan dan juga memengaruhi konsumen untuk membelinya.”3[4]
Kegiatan Komersialisasi, meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. Pemasaran
Dalam pemasaran, kegiatan komersialisasi yang dilakukan mencakup pencitraan/ konsep merek (branding), penentuan pasar sasaran (targeting), dan menentukan posisi pasar (marketpositioning).
2. Penjualan
Dalam penjualan, kegiatan komersialisasi yang dilakukan mencakup
penjualan langsung oleh desainer, kreator, agen, distributor, pemegang lisensi, pemegang pewaralaba (franchisee), pabrikan dan lain sebagainya. 3. Promosi
Kegitan komersialisasi yang dapat dilakukan melalui promosi, seperti expo,
pameran, pertunjukan, penggunaan saluran media baru.
Sementara itu, layanan adalah segala aktivitas yang diperlukan untuk
menjaga suatu produk-barang atau jasa-tetap berfungsi dengan baik sesuai dengan harapan konsumen setelah produk tersebut dibeli oleh konsumen.
Pengembangan Ekonomi kreatif sendiri bisa dibangun salah satunya
yang dapat menopang pertanian. Pertanian sendiri diolah sebagaimana
mestinya dan dipasarkan melalui pariwisata
Agrowisata atau wisata pertanian merupakan sebuah alternatif untuk
meningkatkan pendapatan dan menggali potensi ekonomi petani kecil dan masyarakat pedesaan. Saat ini, agrowisata semakin dikembangkan sebagai
bentuk pelestarian lingkungan dan sumber daya lahan pertanian. Selain perkebunan menjadi sektor ekonomi yang dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat, perkebunan juga mampu menjadi daya tarik
wisata bagi wisatawan. Wisatawan tidak hanya dapat melihat hamparan perkebunan, namun juga dapat melihat proses berkebun yang dilakukan oleh
petani lokal. Bahkan tidak jarang beberapa agrowisata melibatkan wisatawan dalam proses perkebunan yang ada sehingga wisatawan dapat merasakan secara langsung kegiatan yang dilihat.Menurut Tirtawinata dan
Fachruddin (1999:4-5), agrowisata diberi batasan sebagai wisata yang memanfaatkan objek di bidang pertanian. Adanya kegiatan agrowisata
haruslah menjamin kelestarian lingkungan khususnya sumber daya hayati sehingga mampu menjamin kesejahteraan masyarakat di kawasan agrowisata. Pengembangan agrowisata pada konsep universal dapat
ditempuh melalui diversifikasi dan peningkatan kualitas sesuai dengan persyaratan yang diminta konsumen dan pasar global. Sedangkan pada
konsep uniqueness, konsumen ditawarkan kepada produk spesifik yang
bersifat unik. Secara umum, ruang lingkup dan potensi agrowisata dapat
dikembangkan sebagai berikut.
Kegiatan usaha perkebunan meliputi perkebunan tanaman keras dan
tanaman lainnya yang dilakukan oleh perkebunan besar swasta
nasional ataupun asing, BUMN, dan perkebunan rakyat.
2. Tanaman pangan dan hortikultura
Lingkup kegiatan wisata tanaman pangan yang meliputi usaha
tanaman padi dan palawija serta hortikultura berupa bunga, buah,
sayur, dan jamu-jamuan. Berbagai proses kegiatan mulai dari
prapanen, pascapanen berupa pengolahan hasil, sampai kegiatan
pemasarannya dapat dijadikan objek agrowisata.
3. Perikanan
Ruang lingkup kegiatan wisata perikanan dapat berupa kegiatan
budidaya perikanan sampai proses pascapanen. Daya tarik perikanan
sebagai sumber daya wisata seperti pola tradisional dalam perikanan.
4. Peternakan
Daya tarik peternakan sebagai sumberdaya wisata antara lain pola
beternak, cara tradisional dalam peternakan, serta budidaya hewan
ternak
5 . Kehutanan
Dalam beberapa literatur tentang wisata alam dan ekowisata, objek
wisata kehutanan termasuk dalam golongan ekowisata yang
hakekatnya merupakan wisata alam
Di Indonesia, Agrowisata atau agroturisme didefinisikan sebagai sebuah bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (agribisnis)
pengalaman, rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian. Agrowisata
merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek wisata. Tujuannya adalah untuk memperluas
pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, diharapkan bisa meningkatkan pendapatan petani
sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal (indigenous knowledge) yang umumnya telah sesuai dengan
kondisi lingkungan alaminya
C. Pengelompokan Agrowisata
Agrowisata dapat dikelompokkan ke dalam wisata ekologi (eco-tourism), yaitu kegiatan perjalanan wisata dengan tidak merusak atau mencemari alam dengan tujuan untuk mengagumi dan menikmati keindahan alam, hewan
atau tumbuhan liar di lingkungan alaminya serta sebagai sarana pendidikan (Deptan, 2005)
terhadap objek dan daya tarik wisata sehingga pembangunan pariwisata
dapat dilaksanakan sesuai denga prinsip pembangunan berkelanjutan
Pengertian agrowisata
Dalam Surat Keputusan (SK) bersama antara Menteri Pertanian dan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi No. 204/KPTS/HK/050/4/1989 dan
No. KM.47/PW.DOW/MPPT/89 Tentang Koodinasi Pengembangan Wisata Agro, didefinisikan sebagai bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas
pengetahuan, perjalanan, rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian.
Antara ecotourism dan agritourism berpegang pada prinsif yang sama. Prinsif-prinsif tersebut, menurut Wood, 2000 (dalam Pitana, 2002) adalah
sebagai berikut:
Menekankan serendah-rendahnya dampak negatif terhadap alam dan kebudayaan yang dapat merusak daerah tujuan wisata.
Memberikan pembelajaran kepada wisatawan mengenai pentingnya
suatu pelestarian.
memenuhi kebutuhan penduduk lokal dan memberikan manfaat pada
usaha pelestarian.
Mengarahkan keuntungan ekonomi secara langsung untuk tujuan pelestarian, menejemen sumberdaya alam dan kawasan yang
dilindungi.
Memberi penekanan pada kebutuhan zone pariwisata regional dan penataan serta pengelolaan tanam-tanaman untuk tujuan wisata di
kawasan-kawasan yang ditetapkan untuk tujuan wisata tersebut.
Memberikan penekanan pada kegunaan studi-studi berbasiskan lingkungan dan sosial, dan program-program jangka panjang, untuk
mengevaluasi dan menekan serendah-rendahnya dampak pariwisata terhadap lingkungan.
Mendorong usaha peningkatan manfaat ekonomi untuk negara,
pebisnis, dan masyarakat lokal, terutama penduduk yang tinggal di wilayah sekitar kawasan yang dilindungi.
Berusaha untuk meyakinkan bahwa perkembangan pariwisata tidak melampui batas-batas sosial dan lingkungan yang dapat diterima
Mempercayakan pemanfaatan sumber energi, melindungi tumbuh-tumbuhan dan binatang liar, dan menyesuaikannya dengan
lingkungan alam dan budaya.
Pada masa kini manusia dipenuhi dengan kejenuhan, rutinitas dan segudang
kesibukan. Mungin Untuk kedepan, prospek pengembangan agrowisata diperkirakan sangat cerah. Pengembangan agrowisata dapat diarahkan dalam bentuk ruangan tertutup (seperti museum), ruangan terbuka (taman
atau lansekap), atau kombinasi antara keduanya. Tampilan agrowisata ruangan tertutup dapat berupa koleksi alat-alat pertanian yang khas dan
bernilai sejarah atau naskah dan visualisasi sejarah penggunaan lahan maupun proses pengolahan hasil pertanian. Agrowisata ruangan terbuka dapat berupa penataan lahan yang khas dan sesuai dengan kapabilitas dan
tipologi lahan untuk mendukung suatu sistem usahatani yang efektif dan berkelanjutan. Komponen utama pengembangan agrowisata ruangan terbuka
dapat berupa flora dan fauna yang dibudidayakan maupun liar, teknologi budi daya dan pascapanen komoditas pertanian yang khas dan bernilai sejarah, atraksi budaya pertanian setempat, dan pemandangan alam berlatar
belakang pertanian dengan kenyamanan yang dapat dirasakan. Agrowisata
BAB III
Pembahasan
A . Agrowisata Blimbingan Bojonegoro
Bojonegoro merupakan salah satu Kota di Jawa Timur dengan beberapa
destinasi wisata menarik yang patut anda kunjungi. Salah satunya Agrowisata Kebun Belimbing yang lokasinya berada di Jl. Letjen
Soedirman No. 57, Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu.
Rute menuju lokasi agrowisata kebun belimbing Bojonegoro cukup mudah penulis lalui, dari pusat kota bojonegoro jaraknya kurang lebih 15
km ke arah barat.dari kota kecamatan cepu, setelah melewati Gapura “Selamat Jalan” dari kota bojonegoro lurus saja sekitar 8 km dengan
silahkan belok kiri nanti akan sampai di lokasi agrowisata kebun belimbing
Bojonegoro.
Dalam rencanatata ruang pemerintah kabupaten Bojonegoro
pengembangan wisata berbasi agro lagi disemarakan bahkan untuk saat ini selain dikenal sebagai kota penghasil salak Bojonegoro sekarang juga sudah merambah dan mulai menjejakan kakinya untuk menjadi kota belimbing
dengan maskot belimbing yang hampir bisa ditemui di kota Angling Dharma ini.
Luas lahan agrowisata kebun belimbing yang menjadi salah satu wisata andalan Bojonegoro ini mencapai 19,3 hektar. Lalu ada sekitar 98 orang petani yang mengelola kebun belimbing dengan hasil produksi yang
dijual langsung ke wisatawan. Saat memasuki agrowisata kebun belimbing, penulis disambut oleh monumen buah belimbing yang menjadi icon di Desa Ngringinrejo.Berdasarkan penuturan penjual buah belimbing di lokasi, sekitar 10.000 pohon belimbing telah dibudidayakan di tempat ini, masa panen bisa 3-4 kali dalam satu taun, luar biasanya lagi dalam satu kali
panen, buah yang dihasilkan dapat mencapai 60 toh buah belimbing atau 60 kg per pohonya.
Saat pertama penulis memazuki kawasan kebun Belimbing kawasannya sangat sejuk karena ditumbuhi banyak pohon belimbing tentunya. Beberapa fasilitas sudah tersedia di kebun belimbing Bojonegoro,
untuk pengunjung mencapai 500 m2. Biaya parkir hanya sebesar Rp 2000
untuk kendaraan R2 dan Rp 5000 untuk kendaraan R4.
untuk masuk ke kawasan hanya dipungut biaya Rp : 2000/orang, bahkan
saat penulis datang di agrowisata belimbing penulis masuk dengan gratis karena tidak ada penjaganya soalnya hari sudah menjelang sore. Hari-hari biasa maupun hari libur kawasan agrowisata ini sangat ramai pengunjung
bahkan malah tambah ramai saat liburan, seperti contoh saat kemarin liburan akhir tahun.
Di sepanjang jalan penulis disuguhi pemandangan beberapa pohon belimbing yang banyak buahnya, di samping kanan dan kiri bisa ditemu gasebo dan banyak penjual beliming. Harga belimbing disini rupanya begitu
murah, penulis menjumpai dan membeli 1 kg belimbing hanya Rp : 5000,00 Ada yang 10.000 bahkan 15.000 termasuk ukuran yang murah bukan ?.
Penulis juga menjumpai banyak penjual minuman dan makanan disana dan bahkan penulis dapat menyaksikan langsung bagaimana sibuknya petani belimbing mengurus kebunnya. Kebun di area ini semuanya milik warga
setempat dan dikelola oleh warga desa sendiri yang berkerjasama dengan pemkab Bojonegoro
Nah, disini kita bisa memetik buah belimbing sendiri untuk kita nikmati saat berada di dalam kebun atau bisa juga untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Soal rasanya, kita tidak perlu hawatir, buah belimbing yang dihasilkan
kebuh ini sangat manis dan segar karena bibit yang ditaman merupakan varietas unggul yaitu belimbing madu. Ukuran buah blimbing disini
Selain dapat memetik sendiri buah belimbing, anda juga bisa
bersantai di gazebo yang merupakan salah satu fasilitas di kebun blimbing bojonegoro. Sambil bersantai, anda dapat menikmati buah blimbing yang
sudah anda petik sediri atau menikmati hidangan dari rumah makan kawasan agrowisata kebun blimbing, bersantai di tengah kebun dengan nuansa rindang yang menyegarkan
2.2 Sejarah singkat Agrowisata Belimbingan Bojonegoro
Sejarah keberadaan agrowisata kebun Belimbing Bojonegoro tidak lepas dari perjuangan tokoh masyarakat Desa Ngringinrejo dan penyuluh
pertanian sekitar tahun 1984 lalu. Pada awalnya, masyarakat Desa Ngringinrejo menjadikan komuditas palawija sebagai tanaman yang mereka
budidayakan di bantaran sungai Bengawan Solo, namun kala itu petani terus mengalami kegagalan karena palawija yang ditanam hanya bisa produktif pada saat musim penghujan saja, dari latar belakang ini lah timbul inisiatif
tokoh masyarakat setempat dan penyuluh pertanian untuk memusyawarahkan solusi pertanian di Desa Ngringinrejo. Alhasil disepakati
Komuditas Belimbing yang menjadi pilihan untuk dibudidayakan setelah mendengar informasi Budidaya Belimbing di Desa Siwalan Tuban.
Berbagai kendala perspektif negatif yang menghadang tidak membuat petani belimbing di Desa Ngringinrejo menurun, mereka terus
lakukan mulai mebuahkan hasil, hasil buah belimbing jauh lebih besar dari
pada saat membudidayakan palawija. Dari sini Kelompok Tani Mekar Sari juga ikut tertarik untuk membudidayakan buah belimbing. Hingga saat ini
Budidaya Belimbing terus berkembang dan menjadi buah unggulan Kota Bojonegoro serta Agrowisata Kebun Belimbing.
B
.
Pemberdayaan Masyarakat di Belimbingan Desa
Ngringinrejo
Pembangunan di Indonesia dari tahun ke tahun terus berlanjut, kata pembangunan sebenarnya dipopulerkan oleh pemerintahan masa Orde baru,
b
ahkan, kata pembangunan menjadi trade mark kabinet pemerintahan di bawah kepemimpinan Soeharto. Pembangunan mencakup beberapa aspektermasuk memodernisasikan desa-desa, dalam hal ini maka desa tidak lagi lokasi bagi pemerintah untuk mengambil dam membelanjakan sumber daya
negara. Dalam katannya dengan hal itu maka di era sekarang muncullah ide kreatif masyarakat untuk mendirikan sebuah agrowisata untuk memakmurkan petani serta diharapkan mampu memperdayakan masyarakat
dengan sokongan pemerintah desa dan pemerintah kabupaten.
Dalam proses pengembangan agrowisata untuk pemberdayaan
1.
Harus adanya perpaduan antara desa dan kabupaten Dalam halini pemerintah Kabupaten menyatakan bahwa seharusnya yang
lebih berperan di sini adalah pihak desa yang secara sadar dan mandiri mengelola desanya untuk menjadi kawasan agropolitan.
Sedangkan pihak Kabupaten membantu mengarahkan dalam perencanaan tersebut danmenyiapkan regulasinya.
2. Pembiayaan dilakukan berdasarkan sistem sharing anggaran. Pembiayaan dalam pelaksanaan kebijakan pengembangan kawasan agropolitan Desa Ngringinrejo dpat diperoleh melalui
Anggaran pendaatan dan belanja desa (APBDes), maupun diperoleh adri pihak swasta
3. Pemerintah kabupaten memegang peranan untuk mengawasi dan memberikan arahan terhadap pelaksanaan kebijakan
pengembangan kawasan budidaya Agropolitan.
Bentuk- bentuk pemberdayaan masyarakat di desa Ngringinrejo Bojonegoro
:
1. Pemberdayaan masyarakat kawasan agropolitan Desa Ngringinrejo memiliki tanaman belimbing sebagai komoditas
produk yang dihasilkan untuk menunjang dan menambah perekonomian warga desa sebagai suatu konsep desa mandiri.
2. Pemberdayaan masyarakat kawasan agropolitan Desa Ngringinrejo melibatkan campur tangan masyarakat setempat, Pemerintah Desa, dan Pemerintah Kabupaten.
Ngringinrejo antara lain adalah warga sekitar dan kelompok tani
sebagai pelaksana (pengolah sumber daya yang ada) dan memiliki Pemerintah Desa sebagai penyumbang dana yang
didapat dari APBDes; Pemerintah Kabupaten sebagai pengawas maupun pembantu dalam hal pelatihan dan promosi dari kawasan agrowisata Desa Ngringinrejo yang bertujuan untuk
memberdayakan masyarakat desa dengan tujuan desa mandiri
2.2. Tantangan dalam pengembangan agrowisata di
Blimbngan desa Ngringinrejo Bojonegoro
a. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
Pengembangan SDM pertanian dapat ditempuh melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, penyuluhan pertanian, pendampingan kelompok, pengembangan kelembagaan masyarakat yang diarahkan dan terfokus untuk
pengembangan kawasan agropolitan, dan lain sebagainya. Pengembangan SDM di kawasan agropolitan menjadi tangungjawab bersama, antara
pemerintah, swasta, dan masyarakat.
b. Pengembangan Sistem dan Usaha Agribisnis
. Para pelaku agribisnis dan petani di kawasan agropolitan harus mampu
menganalisis keuntungan usahataninya dengan mengembangkan model usahatani terpadu dan berkelanjutan, pengolahan produk pertanian yang
mampu memiliki nilai tambah dan daya saing, dll.
Modal kerja yang diberikan haruslah berdasarkan kebutuhan yang dirasakan
oleh masyarakat kawasan agropolitan dan mengarah kepada masyarakat. Untuk itu, sebelumnya harus dilakukan identifikasi dan analisis kebutuhan
masyarakat kawasan.
d. Pengembangan Sarana dan Prasarana
BAB IV
Penutup
A.Kesimpulan
Pembangunan perdesaan sangat diperlukan bagi Indonesia.
Pasalnya, sebagian besar penduduk Indonesia, yaitu sekitar 60% tinggal di pedesaan dan memiliki mata pencaharian sebagai petani. Pembangunan atau pengembangan perdesaan (rural development) mempunyai tujuan yaitu: (1) Pertumbuhan sektor pertanian; (2) Integrasi nasional, yaitu membawa seluruh penduduk ke dalam pola utama kehidupan yang sesuai; (3) Keadilan
ekonomi, yakni bagaimana pendapatan itu dibagi-bagi ke seluruh penduduk.
Maka salah satu ide yang dikemukakan adalah mewujudkan kemandirian pembangunan perdesaan yang didasarkan pada potensi wilayah
desa itu sendiri (salah satunya adalah melalui agrowisata), dimana
upaya percepatan pembangunan perdesaan, diperlukan komitmen yang kuat
dan kerjasama yang erat antara pemerintah, masyarakat maupun swasta. Untuk hal tersebut, Pengembangan Kawasan Budidaya Agropolitan
merupakan salah satu pendekatan pembangunan perdesaan berbasis
pertanian dalam artian luas (termasuk kegiatan agrowisata, minapolitan dan sebagainya),
perdesaan untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
B.Saran
1. Pemberdayaan kawasan agropolitan Desa Ngringinrejo harus dapat ditiru oleh desa-desa lainnya supaya dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat desa maupun menambah penghasilan masyarakat desa dan dapat pula menambah pendapatan daerahnya. 2. Kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta sangat d
iperlukan untuk lebih memaksimalkan pemberdayaan desa demi t erwujudnya desa mandiri.
C. Lampiran
Penjual Buah Belimbing
Struktur Organisasi
Bengawan Solo di sebelah Kawasan Agrowisata
Daftar Pustaka :
Referensi jurnal online :
Rahmiyati, Liana dkk (2015). “Rencana Tata Ruang Kawaan Strategis
Sektor Migas & Agro Kabupaten Bojonegoro tahun 2015-2035”. Jurnal Laporan Tata Ruang Kabupaten Bojonegoro. 140 & 143.
Wibowo, Fx Setiyoet al ( ). “Pemberdayaan Masyarakat Dalam Agrowisata Belimbing |Dewa Di Kelurahan Pasir \Putih Depok”. Jurnal Perjalanan wisata, sekolah tinggi pariwisata Sahid Jakarta. 1-10. Diakses
melaluihttps://www.academia.edu/11479314/PEMBERDAYAAN_MASYA RAKAT_DALAM_AGROWISATA_BELIMBING_DEWA_DI_KELURA
HAN_PASIR_PUTIH_DEPOK
Supriyanto, Joko. (2016). “Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui Program Pengembangan kawasan Agropolitan di Desa Ngringinrejo,
Kecamatan |Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro.
https://kebunbelimbingbojonegoro.files.wordpress.com/2016/11/tugas-uts-pemberdayaan-kawasan-agropolitan-kebun-belimbin . Diakses pada 11
April 2017
Nurulitha, Andini.(2013) Pengorganisasian komunitas dalam pengembangan
agrowisata di desa wisata.
http://www.sappk.itb.ac.id/jpwk/wp-content/uploads/2014/02/Jurnal-2-Nurulitha.pdf. Diakses pada 10 April 2017
Wijaya, Ananta. (2013). Agrowisata.
https://www.academia.edu/8683321/agrowisataDiakses pada 10 April 2017
Sulaksana, Jaka. (2016). Tantangan Pengembangan Agrowisata Buah Lokal.
(online). http://www.cirebontrust.com/tantangan-pengembangan-agrowisata-buah-lokal.html . Diakses pada 12 April 2017
Suryana. 2013. Ekonomi Kreatif EKONOMI BARU: Mengubah Ide dan Menciptakan
Peluang. Jakarta: Salemba Empat. Sinopsis (cover belakang).
Utama , I gusti Bagus Rai. (2013). AGROWISATA SEBAGAI PARIWISATA ALTERNATIF.
http://belajarilmukomputerdaninternet.blogspot.co.id/2013/06/agrowisata-sebagai-pariwisata.html. 10 April 2017
Anonym. (2008). Manfaat Pengembangan
Agrowisata.http://iguidepost.blogspot.co.id/2008/06/manfaat-pengembangan-agrowisata.html . Diakses pada 12 April 2017.