• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM pemberdayaan AGROWISATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM pemberdayaan AGROWISATA"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

AGROWISATA

BELIMBINGAN (BOJONEGORO)

SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN

MASYARAKAT

..

Disusun oleh :

Rifai Anas Amirul Huda

XI IPS 4

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis,

1. Judul : Agrowisata Belimbingan Bojonegoro sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat

2. Penulis :

a. Nama : Rifai Anas Amirul Huda

b. Absen : 23

c. Kelas : XI IPS 4

Tujuan : Disusun untuk menyelesaikan tugas penelitian dari guru

pembimbing SMA N 1 Blora.

Karya tulis ini disahkan pada

tanggal ...

Mengetahui,

Kepala SMA N 1 BLORA Pembimbing

Drs. Slamet Joko Waluyo, M.Pd Anik Hanifah, S.Pd

NIP. 19670430 199802 1 002 NIP. 19841019 200903 2 008

(3)

Jangan berpikir gagal sebelum belajar

\ Pintar karena belajar, cerdas karena mengajar

 Pendidikan bukan suatu modal hidup namun sesuatu yang harus hidup

 Pendidikan bukan untuk usia muda tapi seumur hidup manusia

 Genius adalah : 1% inspirasi & 99% keringat

 Ilmu diperoleh bukan dari pendidikan tapi dari proses belajar

 Pendidikan itu penting, tapi belajar lebih penting

 Ayo budayakan membaca untuk menciptakan generasi masa depan

 Pendidikan yang bagus syarat mutlak bangsa yang maju

 Generasi yang hebat adalah generasi yang membudayakan belajar

 Siswa berprestasi benteng kokoh kesejahteraan bangsa

 Bangsa yang terbelakang adalah bangsa yang malas belajar

Persembahan

Karya tulis ini saya persembahkan kepada :

Ayah dan Ibu, yang telah banyak memberi doa serta dukungan.

Bapak dan Ibu guru, yang senantiasa membimbing saya untuk dapat membuat karya tulis ini.

Sahabat serta teman yang saya sayangi.

(4)

Dengan mengucapkan puji syuur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan bimbingan-Nya, saya dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Agrowisata Belimbingan (Bojonegoro) Sebagai upaya Pemberdayaan Masyarakat” dengan lancar.

Penyusun mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu Bapak/ibu guru pembimbing dan teman-teman

Penyusun menyadari karya tulis ini masih banyak kekurangannya, saya mengharapkan kritik dan saran untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada di karya tulis ini.

Diharapkan dengan karya tulis ini bermanfaat bagi saya dan teman-teman dan para pembaca sebagai sarapa penambah wawasan tentang obyek wisata tanah air Indonesia.

Blora, 12 April 2017

Penyusun

Rifai Anas Amirul Huda

(5)

HALAMAN JUDUL ...

A. Definis Ekonomi kreatif... 6

B. Ekonomi Kreatif dan agrowissata

(6)

C. Pengertian Agrowisata...

2.2 sejarah singkat agrowisata belimbingan Bojonegoro ... 19

(7)
(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan sangat penting untuk setiap orang karena pendidikan itu

sendiri menyangkut masa depan, serta merupakan upayauntuk mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan tidak hanya tanggung jawab

seorang guru, pemerintah, masyarakat maupun orang tua. Namun semua lapisan masyarakat Indonesia juga ikut bertanggung jawab atas terwujudnya pendidikan nasional. Yakni dengan menjalankan tugas sesuai dengan

kemampuan dan tanggung jawab yang merupakan upaya untuk terwujudnya pendidikan nasional yang bermutu tinggi dan berbudi pekerti luhur.

Sebab itulah untuk mewujudkannya ada beberapa kegiatan yang menunjang pendidikan, salah satunya yang sangat menunjang adalah karya wisata. Dengan karya wisata, siswa dapat lebih berpengalaman dan lebih

berpengetahuan. Dikarenakan ada sebagian siswa yang tidak ikut study tour yang diadakan oleh sekolah pada bulan April ini di Malang maka oleh sebab

itu kami mencari objek sendiri untuk diteliti dan saya memutuskan untuk menulis karya tulis mengenai objek wisata Blimbingan ( Bojonegoro ).

Sektor pariwisata menyediakan pasar untuk menampung produksi

pertanian. Sebaliknya sektor pertanian menyediakanberbagai aspek yang dibutuhkan oleh pariwisata. Dengan demikian sektor pariwisata akan

(9)

mampu membeli barang-barang konsumsi lebih banyak dengan harga tinggi.

Salah satu barang konsumsi yang dibeli adalah produksi pertanian, khususnya hasil-hasil hortikultura.

N O

Jenis Buah 2011 2012 2013 2014 2015 Pertumbu han/

2 BELIMBING 80.853 91.788 79.634 81.653 98.959 21,20 3 DUKU/LANG

Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura

Berdasarkan data yang dilansir Biro Pusat Stastistik (BPS) dan Pusat Data Informasi (Pusdatin) Kemenparekraf Tahun 2013, jumlah perjalanan

wisatawan domestik mencapai 236,7 juta perjalanan dengan total pengeluaran mencapai Rp 156,89 triliun. Beberapa Pemda tingkat Kabupaten salah satunya Bojonegoro, telah jeli memanfaatkanpotensi

(10)

standar, membangun sarana jalan dan transportasi yang baik. Dan salah

satunya adalah Desa Ngringinrejo yang telah ditetapkan oleh Pemda Bojonegoro sebagai lokasi primatani dan kawasan model agrowisata

belimbing, diharapkan dapat mengembangkan agrowisata belimbing yang mampu menciptakan pemberdayaan ekonomi bagi sektor pertanian kota di kawasan tersebut.

Dengan membangun Desa Ngringinrejo sebagai Lokasi

Primatani Belimbing, pemda Bojonegoro mempunyai harapan

akan menjadikannya sebagai pusat pengembangan budidaya

tanaman belimbing. Berdasarkan hal tersebut peneliti

mengadakan penelitian dengan judul Agrpwisata Belimbingan

(Bojonegoro) Sebagai upaya pemberdayaan masyarakat .

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas penulis mengambil beberapa rumusan

masalah yaitu :

1. Bagaimana keadaan agrowisata Belimbingan ?.

2. Bagaimana pemberdayaan masyarakat dalam agrowisata Blimbingan Bojonegoro ?.

C. Tujuan Penulisan

Dalam penulisan rakya tulis ini Penulis memilih judul karya tulis ini “Agrowisata Belimbingan Bojonegoro Sebagai Upaya pemberdayaan

Masyarakat dengan tujuan :

1. Mengetahui keadaan agrowisata Belimbingan

(11)

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Penulis

Karya Tulis ini dibuat supaya penulis dapat menyelesaikan tugas

penelitian yang diberikan oleh guru pembimbing. 2. Bagi Pembaca

Karya tulis ini dibuat supaya pembaca karya tulis ini dapat

mengetahui agrowisata Belimbingan Bojonegoro 3. Bagi Sekolah

Karya tulis ini dibuat agar sekolah dapat melatih siswa supaya dapat membuat karya tulis.

4. Bagi Masyarakat

Karya tulis ini dibuat dengan tujuan supaya masyarakat awam dapat lebih paham mengenai akan potensi agrowisata di

Indonesia khususnya pada agrowisata Belimbingan Bojonegoro

E. Metode Pengumpulan Data

Pada penulisan karya tulis ini dilakukan dengan mengumpulkan buku-uku yang berisi tentang informasi Pemberdayaan masyarakat dalam agrowisata

Bojonegoro. Mencari artikel yang berhubungan dengan agrowisata di internet. Metode observasi yaitu metode tentang pengamatan, cara mengamati langsung terhadap obyek yang akan diteliti. Metode interview

atau wawancara adalah cara memperoleh data dengan mengadakan tanya jawab antara yang melakukan penelitian dengan pihak yang meneliti atau

(12)

BAB II

Kajian Pustaka

A. Definisi Industri Kreatif

Industri kreatif merupakan industri yang menggunakan sumber daya yang terbarukan, dapat memberikan kontribusi dibeberapa aspek kehidupan,

(13)

dampak positif yang ditimbulkan terutama bagi peningkatan citra dan

identitas bangsa, menumbuhkan motivasi dan kreativitas anak bangsa, serta dampak sosial lainnya.

Menurut Departemen Perdagangan RI (2009;5), Industri Kreatif adalah Indutri yang berasal dari pemanfaatan krativitas, keterampilan serta bakat

individu untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan memberdayakan daya kreasi dan daya cipta individu

tersebut.1[2]

Menurut UNCTAD dan UNDP dalam Creative Economy Repor,

(2008:4), Industri Kreatif dapat didefinisikan sebagai siklus kreasi, produksi, serta distribusi barang dan jasa yang menggunakan kreativitas dan modal intelektual sebagai input utama. Industri Kreatif terdiri dari

seperangkat pengetahuan berbasis aktivitas yang menghasilkan barang-barang riil dan intelektual nonrill atau jasa-jasa artistik yang memiliki

kandungan kreatif, nilai-nilai ekonomi nonriil, dan objek pasar. Industri Kreatif tersusun dari suatu bidang yang heterogen yang paling memengarui dari kegiatan-kegiatan kreatif yang bervariasi, yang tersusun dari seni dan

kerajinan tradisional, penerbitan, musik, visual, dan pembentukan seni sampai dengan penggunaan teknologi yang intensif dan jasa-jasa yang

berbasis kelompok, seperti film, televisi, dan siaran radio, serta media baru dan desain.2[3]

Menurut UNESCO, Industri Kreatif adalah industri yang mengombinasikan kreativitas keterampilan dan kecakapan untuk

menghasilkan kekayaan dan lapangan pekerjaan. Industri Kreatif dibentuk

(14)

oleh budaya kreatif, yaitu budaya mengombinasikan kreasi (creation), produk (product) dan komersialisasi (commercialization).

Produk dari Industri Kreatif disebut produk komersialisasi (commercial product) yaitu berupa barang dan jasa kreatif (creative goods and services).

Menurut Hermawan K, yang dikutip oleh kelompok kerja Indonesia design

power Departemen Perdagangan RI (2008;73), “Komersialisasi adalah segala aktivitas yang berfungsi memberi pengetahuan kepada pembeli

tentang produk barang dan jasa yang disediakan dan juga memengaruhi konsumen untuk membelinya.”3[4]

Kegiatan Komersialisasi, meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. Pemasaran

Dalam pemasaran, kegiatan komersialisasi yang dilakukan mencakup pencitraan/ konsep merek (branding), penentuan pasar sasaran (targeting), dan menentukan posisi pasar (marketpositioning).

2. Penjualan

Dalam penjualan, kegiatan komersialisasi yang dilakukan mencakup

penjualan langsung oleh desainer, kreator, agen, distributor, pemegang lisensi, pemegang pewaralaba (franchisee), pabrikan dan lain sebagainya. 3. Promosi

Kegitan komersialisasi yang dapat dilakukan melalui promosi, seperti expo,

pameran, pertunjukan, penggunaan saluran media baru.

Sementara itu, layanan adalah segala aktivitas yang diperlukan untuk

menjaga suatu produk-barang atau jasa-tetap berfungsi dengan baik sesuai dengan harapan konsumen setelah produk tersebut dibeli oleh konsumen.

Pengembangan Ekonomi kreatif sendiri bisa dibangun salah satunya

(15)

yang dapat menopang pertanian. Pertanian sendiri diolah sebagaimana

mestinya dan dipasarkan melalui pariwisata

(16)

Agrowisata atau wisata pertanian merupakan sebuah alternatif untuk

meningkatkan pendapatan dan menggali potensi ekonomi petani kecil dan masyarakat pedesaan. Saat ini, agrowisata semakin dikembangkan sebagai

bentuk pelestarian lingkungan dan sumber daya lahan pertanian. Selain perkebunan menjadi sektor ekonomi yang dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat, perkebunan juga mampu menjadi daya tarik

wisata bagi wisatawan. Wisatawan tidak hanya dapat melihat hamparan perkebunan, namun juga dapat melihat proses berkebun yang dilakukan oleh

petani lokal. Bahkan tidak jarang beberapa agrowisata melibatkan wisatawan dalam proses perkebunan yang ada sehingga wisatawan dapat merasakan secara langsung kegiatan yang dilihat.Menurut Tirtawinata dan

Fachruddin (1999:4-5), agrowisata diberi batasan sebagai wisata yang memanfaatkan objek di bidang pertanian. Adanya kegiatan agrowisata

haruslah menjamin kelestarian lingkungan khususnya sumber daya hayati sehingga mampu menjamin kesejahteraan masyarakat di kawasan agrowisata. Pengembangan agrowisata pada konsep universal dapat

ditempuh melalui diversifikasi dan peningkatan kualitas sesuai dengan persyaratan yang diminta konsumen dan pasar global. Sedangkan pada

konsep uniqueness, konsumen ditawarkan kepada produk spesifik yang

bersifat unik. Secara umum, ruang lingkup dan potensi agrowisata dapat

dikembangkan sebagai berikut.

(17)

Kegiatan usaha perkebunan meliputi perkebunan tanaman keras dan

tanaman lainnya yang dilakukan oleh perkebunan besar swasta

nasional ataupun asing, BUMN, dan perkebunan rakyat.

2. Tanaman pangan dan hortikultura

Lingkup kegiatan wisata tanaman pangan yang meliputi usaha

tanaman padi dan palawija serta hortikultura berupa bunga, buah,

sayur, dan jamu-jamuan. Berbagai proses kegiatan mulai dari

prapanen, pascapanen berupa pengolahan hasil, sampai kegiatan

pemasarannya dapat dijadikan objek agrowisata.

3. Perikanan

Ruang lingkup kegiatan wisata perikanan dapat berupa kegiatan

budidaya perikanan sampai proses pascapanen. Daya tarik perikanan

sebagai sumber daya wisata seperti pola tradisional dalam perikanan.

4. Peternakan

Daya tarik peternakan sebagai sumberdaya wisata antara lain pola

beternak, cara tradisional dalam peternakan, serta budidaya hewan

ternak

5 . Kehutanan

Dalam beberapa literatur tentang wisata alam dan ekowisata, objek

wisata kehutanan termasuk dalam golongan ekowisata yang

hakekatnya merupakan wisata alam

Di Indonesia, Agrowisata atau agroturisme didefinisikan sebagai sebuah bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (agribisnis)

(18)

pengalaman, rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian. Agrowisata

merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek wisata. Tujuannya adalah untuk memperluas

pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, diharapkan bisa meningkatkan pendapatan petani

sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal (indigenous knowledge) yang umumnya telah sesuai dengan

kondisi lingkungan alaminya

C. Pengelompokan Agrowisata

Agrowisata dapat dikelompokkan ke dalam wisata ekologi (eco-tourism), yaitu kegiatan perjalanan wisata dengan tidak merusak atau mencemari alam dengan tujuan untuk mengagumi dan menikmati keindahan alam, hewan

atau tumbuhan liar di lingkungan alaminya serta sebagai sarana pendidikan (Deptan, 2005)

(19)

terhadap objek dan daya tarik wisata sehingga pembangunan pariwisata

dapat dilaksanakan sesuai denga prinsip pembangunan berkelanjutan

Pengertian agrowisata

Dalam Surat Keputusan (SK) bersama antara Menteri Pertanian dan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi No. 204/KPTS/HK/050/4/1989 dan

No. KM.47/PW.DOW/MPPT/89 Tentang Koodinasi Pengembangan Wisata Agro, didefinisikan sebagai bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas

pengetahuan, perjalanan, rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian.

Antara ecotourism dan agritourism berpegang pada prinsif yang sama. Prinsif-prinsif tersebut, menurut Wood, 2000 (dalam Pitana, 2002) adalah

sebagai berikut:

 Menekankan serendah-rendahnya dampak negatif terhadap alam dan kebudayaan yang dapat merusak daerah tujuan wisata.

 Memberikan pembelajaran kepada wisatawan mengenai pentingnya

suatu pelestarian.

(20)

memenuhi kebutuhan penduduk lokal dan memberikan manfaat pada

usaha pelestarian.

 Mengarahkan keuntungan ekonomi secara langsung untuk tujuan pelestarian, menejemen sumberdaya alam dan kawasan yang

dilindungi.

 Memberi penekanan pada kebutuhan zone pariwisata regional dan penataan serta pengelolaan tanam-tanaman untuk tujuan wisata di

kawasan-kawasan yang ditetapkan untuk tujuan wisata tersebut.

 Memberikan penekanan pada kegunaan studi-studi berbasiskan lingkungan dan sosial, dan program-program jangka panjang, untuk

mengevaluasi dan menekan serendah-rendahnya dampak pariwisata terhadap lingkungan.

 Mendorong usaha peningkatan manfaat ekonomi untuk negara,

pebisnis, dan masyarakat lokal, terutama penduduk yang tinggal di wilayah sekitar kawasan yang dilindungi.

 Berusaha untuk meyakinkan bahwa perkembangan pariwisata tidak melampui batas-batas sosial dan lingkungan yang dapat diterima

(21)

 Mempercayakan pemanfaatan sumber energi, melindungi tumbuh-tumbuhan dan binatang liar, dan menyesuaikannya dengan

lingkungan alam dan budaya.

Pada masa kini manusia dipenuhi dengan kejenuhan, rutinitas dan segudang

kesibukan. Mungin Untuk kedepan, prospek pengembangan agrowisata diperkirakan sangat cerah. Pengembangan agrowisata dapat diarahkan dalam bentuk ruangan tertutup (seperti museum), ruangan terbuka (taman

atau lansekap), atau kombinasi antara keduanya. Tampilan agrowisata ruangan tertutup dapat berupa koleksi alat-alat pertanian yang khas dan

bernilai sejarah atau naskah dan visualisasi sejarah penggunaan lahan maupun proses pengolahan hasil pertanian. Agrowisata ruangan terbuka dapat berupa penataan lahan yang khas dan sesuai dengan kapabilitas dan

tipologi lahan untuk mendukung suatu sistem usahatani yang efektif dan berkelanjutan. Komponen utama pengembangan agrowisata ruangan terbuka

dapat berupa flora dan fauna yang dibudidayakan maupun liar, teknologi budi daya dan pascapanen komoditas pertanian yang khas dan bernilai sejarah, atraksi budaya pertanian setempat, dan pemandangan alam berlatar

belakang pertanian dengan kenyamanan yang dapat dirasakan. Agrowisata

(22)

BAB III

Pembahasan

A . Agrowisata Blimbingan Bojonegoro

Bojonegoro merupakan salah satu Kota di Jawa Timur dengan beberapa

destinasi wisata menarik yang patut anda kunjungi. Salah satunya Agrowisata Kebun Belimbing yang lokasinya berada di Jl. Letjen

Soedirman No. 57, Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu.

Rute menuju lokasi agrowisata kebun belimbing Bojonegoro cukup mudah penulis lalui, dari pusat kota bojonegoro jaraknya kurang lebih 15

km ke arah barat.dari kota kecamatan cepu, setelah melewati Gapura “Selamat Jalan” dari kota bojonegoro lurus saja sekitar 8 km dengan

(23)

silahkan belok kiri nanti akan sampai di lokasi agrowisata kebun belimbing

Bojonegoro.

Dalam rencanatata ruang pemerintah kabupaten Bojonegoro

pengembangan wisata berbasi agro lagi disemarakan bahkan untuk saat ini selain dikenal sebagai kota penghasil salak Bojonegoro sekarang juga sudah merambah dan mulai menjejakan kakinya untuk menjadi kota belimbing

dengan maskot belimbing yang hampir bisa ditemui di kota Angling Dharma ini.

Luas lahan agrowisata kebun belimbing yang menjadi salah satu wisata andalan Bojonegoro ini mencapai 19,3 hektar. Lalu ada sekitar 98 orang petani yang mengelola kebun belimbing dengan hasil produksi yang

dijual langsung ke wisatawan. Saat memasuki agrowisata kebun belimbing, penulis disambut oleh monumen buah belimbing yang menjadi icon di Desa Ngringinrejo.Berdasarkan penuturan penjual buah belimbing di lokasi, sekitar 10.000 pohon belimbing telah dibudidayakan di tempat ini, masa panen bisa 3-4 kali dalam satu taun, luar biasanya lagi dalam satu kali

panen, buah yang dihasilkan dapat mencapai 60 toh buah belimbing atau 60 kg per pohonya.

Saat pertama penulis memazuki kawasan kebun Belimbing kawasannya sangat sejuk karena ditumbuhi banyak pohon belimbing tentunya. Beberapa fasilitas sudah tersedia di kebun belimbing Bojonegoro,

(24)

untuk pengunjung mencapai 500 m2. Biaya parkir hanya sebesar Rp 2000

untuk kendaraan R2 dan Rp 5000 untuk kendaraan R4.

untuk masuk ke kawasan hanya dipungut biaya Rp : 2000/orang, bahkan

saat penulis datang di agrowisata belimbing penulis masuk dengan gratis karena tidak ada penjaganya soalnya hari sudah menjelang sore. Hari-hari biasa maupun hari libur kawasan agrowisata ini sangat ramai pengunjung

bahkan malah tambah ramai saat liburan, seperti contoh saat kemarin liburan akhir tahun.

Di sepanjang jalan penulis disuguhi pemandangan beberapa pohon belimbing yang banyak buahnya, di samping kanan dan kiri bisa ditemu gasebo dan banyak penjual beliming. Harga belimbing disini rupanya begitu

murah, penulis menjumpai dan membeli 1 kg belimbing hanya Rp : 5000,00 Ada yang 10.000 bahkan 15.000 termasuk ukuran yang murah bukan ?.

Penulis juga menjumpai banyak penjual minuman dan makanan disana dan bahkan penulis dapat menyaksikan langsung bagaimana sibuknya petani belimbing mengurus kebunnya. Kebun di area ini semuanya milik warga

setempat dan dikelola oleh warga desa sendiri yang berkerjasama dengan pemkab Bojonegoro

Nah, disini kita bisa memetik buah belimbing sendiri untuk kita nikmati saat berada di dalam kebun atau bisa juga untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Soal rasanya, kita tidak perlu hawatir, buah belimbing yang dihasilkan

kebuh ini sangat manis dan segar karena bibit yang ditaman merupakan varietas unggul yaitu belimbing madu. Ukuran buah blimbing disini

(25)

Selain dapat memetik sendiri buah belimbing, anda juga bisa

bersantai di gazebo yang merupakan salah satu fasilitas di kebun blimbing bojonegoro. Sambil bersantai, anda dapat menikmati buah blimbing yang

sudah anda petik sediri atau menikmati hidangan dari rumah makan kawasan agrowisata kebun blimbing, bersantai di tengah kebun dengan nuansa rindang yang menyegarkan

2.2 Sejarah singkat Agrowisata Belimbingan Bojonegoro

Sejarah keberadaan agrowisata kebun Belimbing Bojonegoro tidak lepas dari perjuangan tokoh masyarakat Desa Ngringinrejo dan penyuluh

pertanian sekitar tahun 1984 lalu. Pada awalnya, masyarakat Desa Ngringinrejo menjadikan komuditas palawija sebagai tanaman yang mereka

budidayakan di bantaran sungai Bengawan Solo, namun kala itu petani terus mengalami kegagalan karena palawija yang ditanam hanya bisa produktif pada saat musim penghujan saja, dari latar belakang ini lah timbul inisiatif

tokoh masyarakat setempat dan penyuluh pertanian untuk memusyawarahkan solusi pertanian di Desa Ngringinrejo. Alhasil disepakati

Komuditas Belimbing yang menjadi pilihan untuk dibudidayakan setelah mendengar informasi Budidaya Belimbing di Desa Siwalan Tuban.

Berbagai kendala perspektif negatif yang menghadang tidak membuat petani belimbing di Desa Ngringinrejo menurun, mereka terus

(26)

lakukan mulai mebuahkan hasil, hasil buah belimbing jauh lebih besar dari

pada saat membudidayakan palawija. Dari sini Kelompok Tani Mekar Sari juga ikut tertarik untuk membudidayakan buah belimbing. Hingga saat ini

Budidaya Belimbing terus berkembang dan menjadi buah unggulan Kota Bojonegoro serta Agrowisata Kebun Belimbing.

B

.

Pemberdayaan Masyarakat di Belimbingan Desa

Ngringinrejo

Pembangunan di Indonesia dari tahun ke tahun terus berlanjut, kata pembangunan sebenarnya dipopulerkan oleh pemerintahan masa Orde baru,

b

ahkan, kata pembangunan menjadi trade mark kabinet pemerintahan di bawah kepemimpinan Soeharto. Pembangunan mencakup beberapa aspek

termasuk memodernisasikan desa-desa, dalam hal ini maka desa tidak lagi lokasi bagi pemerintah untuk mengambil dam membelanjakan sumber daya

negara. Dalam katannya dengan hal itu maka di era sekarang muncullah ide kreatif masyarakat untuk mendirikan sebuah agrowisata untuk memakmurkan petani serta diharapkan mampu memperdayakan masyarakat

dengan sokongan pemerintah desa dan pemerintah kabupaten.

Dalam proses pengembangan agrowisata untuk pemberdayaan

(27)

1.

Harus adanya perpaduan antara desa dan kabupaten Dalam hal

ini pemerintah Kabupaten menyatakan bahwa seharusnya yang

lebih berperan di sini adalah pihak desa yang secara sadar dan mandiri mengelola desanya untuk menjadi kawasan agropolitan.

Sedangkan pihak Kabupaten membantu mengarahkan dalam perencanaan tersebut danmenyiapkan regulasinya.

2. Pembiayaan dilakukan berdasarkan sistem sharing anggaran. Pembiayaan dalam pelaksanaan kebijakan pengembangan kawasan agropolitan Desa Ngringinrejo dpat diperoleh melalui

Anggaran pendaatan dan belanja desa (APBDes), maupun diperoleh adri pihak swasta

3. Pemerintah kabupaten memegang peranan untuk mengawasi dan memberikan arahan terhadap pelaksanaan kebijakan

pengembangan kawasan budidaya Agropolitan.

Bentuk- bentuk pemberdayaan masyarakat di desa Ngringinrejo Bojonegoro

:

1. Pemberdayaan masyarakat kawasan agropolitan Desa Ngringinrejo memiliki tanaman belimbing sebagai komoditas

produk yang dihasilkan untuk menunjang dan menambah perekonomian warga desa sebagai suatu konsep desa mandiri.

2. Pemberdayaan masyarakat kawasan agropolitan Desa Ngringinrejo melibatkan campur tangan masyarakat setempat, Pemerintah Desa, dan Pemerintah Kabupaten.

(28)

Ngringinrejo antara lain adalah warga sekitar dan kelompok tani

sebagai pelaksana (pengolah sumber daya yang ada) dan memiliki Pemerintah Desa sebagai penyumbang dana yang

didapat dari APBDes; Pemerintah Kabupaten sebagai pengawas maupun pembantu dalam hal pelatihan dan promosi dari kawasan agrowisata Desa Ngringinrejo yang bertujuan untuk

memberdayakan masyarakat desa dengan tujuan desa mandiri

2.2. Tantangan dalam pengembangan agrowisata di

Blimbngan desa Ngringinrejo Bojonegoro

a. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)

Pengembangan SDM pertanian dapat ditempuh melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, penyuluhan pertanian, pendampingan kelompok, pengembangan kelembagaan masyarakat yang diarahkan dan terfokus untuk

pengembangan kawasan agropolitan, dan lain sebagainya. Pengembangan SDM di kawasan agropolitan menjadi tangungjawab bersama, antara

pemerintah, swasta, dan masyarakat.

b. Pengembangan Sistem dan Usaha Agribisnis

. Para pelaku agribisnis dan petani di kawasan agropolitan harus mampu

menganalisis keuntungan usahataninya dengan mengembangkan model usahatani terpadu dan berkelanjutan, pengolahan produk pertanian yang

mampu memiliki nilai tambah dan daya saing, dll.

(29)

Modal kerja yang diberikan haruslah berdasarkan kebutuhan yang dirasakan

oleh masyarakat kawasan agropolitan dan mengarah kepada masyarakat. Untuk itu, sebelumnya harus dilakukan identifikasi dan analisis kebutuhan

masyarakat kawasan.

d. Pengembangan Sarana dan Prasarana

(30)

BAB IV

Penutup

A.Kesimpulan

Pembangunan perdesaan sangat diperlukan bagi Indonesia.

Pasalnya, sebagian besar penduduk Indonesia, yaitu sekitar 60% tinggal di pedesaan dan memiliki mata pencaharian sebagai petani. Pembangunan atau pengembangan perdesaan (rural development) mempunyai tujuan yaitu: (1) Pertumbuhan sektor pertanian; (2) Integrasi nasional, yaitu membawa seluruh penduduk ke dalam pola utama kehidupan yang sesuai; (3) Keadilan

ekonomi, yakni bagaimana pendapatan itu dibagi-bagi ke seluruh penduduk.

Maka salah satu ide yang dikemukakan adalah mewujudkan kemandirian pembangunan perdesaan yang didasarkan pada potensi wilayah

desa itu sendiri (salah satunya adalah melalui agrowisata), dimana

(31)

upaya percepatan pembangunan perdesaan, diperlukan komitmen yang kuat

dan kerjasama yang erat antara pemerintah, masyarakat maupun swasta. Untuk hal tersebut, Pengembangan Kawasan Budidaya Agropolitan

merupakan salah satu pendekatan pembangunan perdesaan berbasis

pertanian dalam artian luas (termasuk kegiatan agrowisata, minapolitan dan sebagainya),

perdesaan untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

B.Saran

1. Pemberdayaan kawasan agropolitan Desa Ngringinrejo harus dapat ditiru oleh desa-desa lainnya supaya dapat meningkatkan

kesejahteraan masyarakat desa maupun menambah penghasilan masyarakat desa dan dapat pula menambah pendapatan daerahnya. 2. Kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta sangat d

iperlukan untuk lebih memaksimalkan pemberdayaan desa demi t erwujudnya desa mandiri.

C. Lampiran

(32)
(33)

Penjual Buah Belimbing

(34)
(35)
(36)

Struktur Organisasi

(37)

Bengawan Solo di sebelah Kawasan Agrowisata

(38)

Daftar Pustaka :

Referensi jurnal online :

Rahmiyati, Liana dkk (2015). “Rencana Tata Ruang Kawaan Strategis

Sektor Migas & Agro Kabupaten Bojonegoro tahun 2015-2035”. Jurnal Laporan Tata Ruang Kabupaten Bojonegoro. 140 & 143.

Wibowo, Fx Setiyoet al ( ). “Pemberdayaan Masyarakat Dalam Agrowisata Belimbing |Dewa Di Kelurahan Pasir \Putih Depok”. Jurnal Perjalanan wisata, sekolah tinggi pariwisata Sahid Jakarta. 1-10. Diakses

melaluihttps://www.academia.edu/11479314/PEMBERDAYAAN_MASYA RAKAT_DALAM_AGROWISATA_BELIMBING_DEWA_DI_KELURA

HAN_PASIR_PUTIH_DEPOK

Supriyanto, Joko. (2016). “Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui Program Pengembangan kawasan Agropolitan di Desa Ngringinrejo,

Kecamatan |Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro.

https://kebunbelimbingbojonegoro.files.wordpress.com/2016/11/tugas-uts-pemberdayaan-kawasan-agropolitan-kebun-belimbin . Diakses pada 11

April 2017

Nurulitha, Andini.(2013) Pengorganisasian komunitas dalam pengembangan

agrowisata di desa wisata.

http://www.sappk.itb.ac.id/jpwk/wp-content/uploads/2014/02/Jurnal-2-Nurulitha.pdf. Diakses pada 10 April 2017

(39)

Wijaya, Ananta. (2013). Agrowisata.

https://www.academia.edu/8683321/agrowisataDiakses pada 10 April 2017

Sulaksana, Jaka. (2016). Tantangan Pengembangan Agrowisata Buah Lokal.

(online). http://www.cirebontrust.com/tantangan-pengembangan-agrowisata-buah-lokal.html . Diakses pada 12 April 2017

Suryana. 2013. Ekonomi Kreatif EKONOMI BARU: Mengubah Ide dan Menciptakan

Peluang. Jakarta: Salemba Empat. Sinopsis (cover belakang).

Utama , I gusti Bagus Rai. (2013). AGROWISATA SEBAGAI PARIWISATA ALTERNATIF.

http://belajarilmukomputerdaninternet.blogspot.co.id/2013/06/agrowisata-sebagai-pariwisata.html. 10 April 2017

Anonym. (2008). Manfaat Pengembangan

Agrowisata.http://iguidepost.blogspot.co.id/2008/06/manfaat-pengembangan-agrowisata.html . Diakses pada 12 April 2017.

(40)
(41)
(42)
(43)

Referensi

Dokumen terkait

Kota Batu merupakan salah satu destinasi wisata yang banyak diminati oleh para wisatawan. Pembangunan pariwisata salah satunya diterapkan melalui kegiatan agrowisata yang

Jika di lihat dari keadaan dan letak geografis Kecamatan Tombolo Pao maka dapat di kembangkan sebagai objek wisata agro, Potensi objek wisata tersebut merupakan

Islam datang untuk menghapus pemahaman negatif yang berlawanan dengan (makna) wisata. Kemudian islam datang untuk meninggikan pemahaman wisata dengan mengaitkannya

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Kasi Pembinaan dan Pengembangan Sarana Objek dan Daya Tarik Wisata di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung Barat,

Desa Wisata Segajih memiliki atraksi yang belum terdokumentasi secara tertulis maupun visual sebagai bagian dari story telling destinasi pariwisata serta pengelola desa

Desa wisata Sidoakur merupakan desa wisata yang terletak di 22 Km kearah selatan Kota Kabupaten Sleman yakni didesa Sidokarto, Kecamatan Godean, Kabupaten

Wisata yang menjadi pendukung pengelolaan dalam bidang pariwisata di Kabupaten Lombok. upaya pengembangan yaitu melalui perencanaan dalam pengembangan potensi wisata

Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpilkan sebagai berikut: Upaya yang dilakukan wisata Kampung Coklat dalam