I. PENDAHULUAN
Senyawa fenol merupakan salah satu senyawa kimia yang walaupun dalam konsentrasi kecil akan bereaksi dengan klor membentuk klorofenol yang menciptakan air berasa dan berbau (Goulden dkk., 1973). Selain itu, jika tubuh manusia terkena fenol dapat menimbulkan beberapa penyakit seperti degradasi protein, erosi jaringan, paralisis pada sistem saraf pusat serta dapat merusak ginjal, hati, dan pankreas (Knop dan Pilato, 1985).
Istilah fenol dalam air limbah tidak hanya terbatas pada fenol (C6H5OH) tetapi bermacam-macam campuran organik yang terdiri dari satu atau lebih gugus hidroksi. Fenol dan senyawa fenolat yang ada di lingkungan perairan berasal dari industri perminyakan, perkayuan dan hasil residu dari insektisida, herbisida, fungisida serta pestisida. Konsentrasi fenol pada lingkungan perairan sangat
beragam mulai dari ratusan sampai ribuan mg/L dan sangat sulit terdegradasi (Cooper dan Nicell, 1996). Di Indonesia baku mutu air untuk senyawa fenol pada semua kelas mutu air adalah 1g/L (Peraturan Pemerintah No. 82, 2001).
Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengurangi bahkan menghilangkan konsentrasi fenol dari lingkungan perairan baik itu proses hayati, kimia atau fisika. Proses hayati menggunakan lumpur aktif ternyata tidak efektif pada konsentrasi rendah dan proses oksidasi kimia memerlukan biaya yang tinggi walaupun cukup efisiensi pada konsentrasi yang encer (Wilberg, dkk., 2002). Proses biokimia dengan menggunakan enzim (Wilberg, dkk., 2002; Klibanov, dkk., 1980) sangat terbatas karena hanya enzim tertentu saja yang dapat dimanfaatkan seperti peroksidase dari kedelai atau lobak. Salah satu cara yang lebih efektif dan efisien adalah melalui proses penjerapan atau adsorpsi yang merupakan suatu gejala yang terjadi di permukaan. Gaya-gaya yang berperan untuk proses ini J.Alchemy,Vol. 5, No. 1 (Maret 2006), 23-30
ISSN 1412-4092
KITOSAN DARI LIMBAH UDANG WINDU (Penaeus monodon) SEBAGAI ADSORBEN FENOL
Matheis F.J.D.P. Tanasale1*, Amos Killay2, Meny Saily1 1). Jurusan Kimia FMIPA Universitas Pattimura, Ambon 2). Jurusan Biologi FMIPA Universitas Pattimura, Ambon
ABSTRAK
Telah dilakukan isolasi kitosan dari kulit udang windu (Penaeus monodon) dan pemanfaatannya sebagai adsorben fenol dari suatu larutan. Hasil isolasi kitosan dari kulit udang sebesar 19,07% melalui proses deproteinasi dengan basa, demineralisasi dengan asam, depigmentasi dengan aseton dan pemutih, dan deasetilasi dengan basa kuat pada temperatur tinggi. Karakterisasi isolat kitosan menggunakan spektrofotometer FTIR dan dengan metode baselinediperoleh derajat deasetilasi sebesar 28,57%. Adsorpsi fenol oleh kitosan dilakukan pada sistembatchdengan rata-rata penjerapan sebesar 34,66% pada konsentrasi yang diuji. Isoterm adsorpsi yang diikuti adalah isoterm Langmuir dengan koefisien determinasi (r2) = 99,55%, tetapan kesetimbangan adsorpsi 1,288 L/mg dan kapasitas serapan maksimumnya adalah 0,479 mg/g.
Kata kunci:kitosan, isoterm adsorpsi Langmuir, fenol
Korespondensi :
Matheis F.J.D.P. Tanasale
merupakan hasil dari kombinasi dua faktor penting, yaitu afinitas adsorbat terhadap pelarut dan afinitas adsorbat terhadap adsorben (Lynam,dkk., 1995).
Adsorben yang telah banyak digunakan untuk menyerap fenol adalah arang aktif (Roostaei & Tezel, 2004; Fernandez dkkl., 2003; Salame dan Bandosz, 2003; Qadeer dan Rehan, 2002) tetapi secara ekonomis memerlukan biaya yang cukup tinggi. Walaupun mampu menyerap fenol sampai karbon (250 mg/g), arang aktif yang dibuat dari kayu karet masih memerlukan pemanasan pada suhu yang tinggi (Shunsuke, 2004). Dengan demikian diperlukan pencarian dan eksplorasi adsorbent yang lebih ekonomis dan secara teknis lebih baik untuk menjerap fenol. Viraraghavan dan Alfaro (1992) telah mencoba menggunakan tanah (peat), abu terbang dan bentonit untuk mengadsorpsi fenol. Salah satu adsorben yang masih kurang digunakan adalah kitosan yang merupakan turunan dari kitin yang banyak terkandung dalam kulit hewan krustacea dan dinding sel fungi. Kitosan diperoleh dari kitin melalui proses deasetilasi dengan dua cara yaitu menggunakan basa kuat pada suhu tinggi dan menggunakan enzim deasetilase.
Pada penelitian sebelumnya, kelompok di Universitas Hasanuddin (Makassar) telah menggunakan kitosan sebagai adsorben untuk logam berat (Frida, 2003) dan zat warna (Handayani, 2003) dengan waktu kontak 2 jam dan menghasilkan kemampuan adsorpsi yang dapat mencapai 98%. Dalam artikel ini dilaporkan kajian tentang isolasi kitosan dari kulit udang windu (Penaeus monodon) dan pemanfaatannya sebagai adsorbent fenol dari larutan.
II. METODOLOGI PENELITIAN Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah kulit udang windu dan bahan-bahan kimia berkualitas pa
seperti natrium hidroksida (NaOH), asam klorida (HCl), aseton, natrium hipoklorit (NaClO), fenol (C6H6O), 4-aminoantipirin (4-AAP), kalium persulfat (K2S2O8), asam sulfat (H2SO4), kalium bikarbonat (KHCO3), asam borat (HBO2), dan kalium hidroksida (KOH). Semua larutan disiapkan dengan menggunakan air destilata.
Alat
Alat-alat yang digunakan adalah beberapa peralatan kaca, neraca analitik, oven, termometer, hotplate, penyaring Buchner, blender, tapisan 40 mesh, spektrofotometer FTIR Perkins-Elmer 1600 dan spektrofotometergrating752W (Shanghai No 3 Analytical Instrument Factory).
Persiapan sampel
Kulit udang windu yang telah dikupas tangan dicuci dan dikeringkan di dalam oven pada suhu 80oC selama 24 jam lalu dihaluskan untuk mendapatkan partikel berukuran 40 mesh.
Isolasi kitosan dari kulit udang windu
(w/v), dibiarkan selama 30 menit pada suhu kamar, dicuci dan dikeringkan. Sampai tahap depigmentasi ini, residunya dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer FTIR. Selanjutnya melalui tahap deasetilasi, residu ditambahkan dengan larutan NaOH 50% pada suhu 100 150oC selama 6 jam, didinginkan, disaring, dicuci, dikeringkan, dan dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer FTIR.
Adsorpsi fenol oleh kitosan
Adsorpsi fenol oleh kitosan dilakukan pada sistembatch. Kitosan hasil isolasi dari kulit udang (0,25 g) ditambahkan ke dalam 5 tabung erlenmeyer yang masing-masing berisi 25 mL larutan fenol 5, 10, 15, 20, dan 25 ppm. Selanjutnya kelima larutan digoyang dengan shaker selama 2 jam kemudian disaring dan ditentukan konsentrasi fenol sisa.
Penentuan konsentrasi fenol
Metode yang digunakan untuk menentukan fenol mengikuti Goulden dkk. (1973) yang dimodifikasi. Bufer 4-AAP disiapkan dengan melarutkan 25 g KHCO3, 25 g HBO2, dan 45 g KOH dalam 1 L air destilata dan ditambahkan 2 g 4-aminoantipirin. Sebanyak 5 mL larutan standar fenol 5 ppm direaksikan dengan 1 mL bufer 4-AAP dan 1 mL larutan K2S2O82,5%. Kemudian larutan dibiarkan selama 10 menit sampai terbentuk zat warna yang stabil dan diukur absobansnya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 650 nm. Cara yang sama dilakukan untuk larutan standar fenol 10, 15, 20, 25 ppm dan sampel larutan fenol setelah diserap kitosan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Isolasi Kitosan dari Kulit Udang Windu
Kitin yang terdapat dalam kulit udang windu yang dikupas tangan masih tercampur protein, mineral dan zat warna sehingga diperlukan pemisahan yang meliputi deprotenisasi,
demineralisasi dan depigmentasi. Hasil penelitian tentang massa dan komposisi zat kimia dalam kulit udang windu dapat dilihat pada Tabel 1.
Protein akan larut dalam suasana basa sehingga selisih antara bobot sampel dengan bobot setelah tahap deproteinasi merupakan kadar protein yang ada dalam kulit udang windu. Demikian juga pada selisih bobot antara sebelum dan setelah tahap demineralisasi merupakan bobot mineral. Purwantiningsih (1993) mengemukakan bahwa mineral utama yang ada pada kulit udang windu adalah CaCO3 dan Ca3(PO4)2 yang larut dalam suasana asam klorida menurut reaksi :
CaCO3 (s) + 2 HCl(aq) CaCl2(aq) + H2O(g) + CO2 (g)
Ca3(PO4)2 (s) + 4 HCl(aq) 2 CaCl2 (aq) + Ca(H2PO4)2 (aq)
Proses demineralisasi ditandai dengan terbentuknya gas CO2, sedangkan kadar zat warna diperoleh setelah tahap depigmentasi karena zat warna pada kulit udang windu larut dalam aseton. Purwantiningsih (1993) memperkirakan bahwa zat warna pada kulit udang windu adalah astasantin dan kantasantin yang merupakan golongan karotenoid. Residu yang dihasilkan adalah kitin berbentuk serbuk putih agak halus.
Kitosan merupakan produk deasetilasi dari kitin dengan NaOH pekat panas. No dan Meyers (1997) menyatakan bahwa konsentrasi NaOH yang
Tabel 1. Bobot dan komposisi zat kimia dalam kulit udang windu.
Zat Bobot (g) Kadar (%)
Protein 37,65 25,10
Mineral 39,68 26,45
Zat warna 22,26 14,84
Kitin 50,42 33,61
digunakan untuk deasetilasi antara 40 50% pada suhu 80 150oC. Kondisi ini digunakan karena struktur sel-sel kitin tebal dan kuatnya ikatan hidrogen intramolekul antara atom hidrogen pada gugus amin dan atom oksigen pada gugus karbonil. Proses deasetilasi dalam basa kuat panas menyebabkan hilangnya gugus asetil pada kitin melalui pemutusan ikatan antara karbon pada gugus asetil dengan nitrogen pada gugus amin.
Karakterisasi Residu Kitin dan Kitosan dengan Spektrofotometri FTIR
Untuk mendukung hasil isolasi, residu kitin dan kitosan dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer FTIR. Gambar 1 menampilkan spektrum FTIR kedua residu tersebut.
Spektrum FTIR residu kitin (Gambar 1a) memperlihatkan beberapa pola serapan, yaitu serapan yang muncul pada 3448 cm-1(lebar) adalah serapan dari gugus OH, 1660 cm-1 (tajam) adalah vibrasi ulur C=O, dan 1566 cm-1 adalah vibrasi
tekuk N-H yang merupakan ciri khas dari kitin yaitu gugus N-H dalam NH-CO- (gugus amin yang terasetilasi). Serapan CH3 dari kitin pada 1313 1378 cm-1 saling berimpit dengan serapan C-N amida di sekitar 1400 cm-1. Serapan gugus amin kitin pada 3260 3771 cm-1 berada posisi saling berimpit dengan serapan OH karena dalam amin ikatan hidrogen lebih lemah dan sebagian kurang polar maka serapan ikatan N-H menjadi kurang intensif jika dibandingkan dengan OH. Serapan lain ada pada 2931 cm-1yang adalah uluran C-H alifatik yang menyatu dengan pita uluran OH. Serapan ini lemah karena struktur kitin didominasi oleh R3C-H (metin) yang memiliki serapan lemah (Sastrohamidjojo, 1992). Adanya pita serapan pada 1020 1155 cm-1 menunjukkan vibrasi C O dalam cincin kitin dan memiliki banyak puncak karena hidroksida dari kitin yang mengandung ikatan tunggal C- O juga menunjukkan serapan di sini. Serapan-serapn yang muncul mengindikasikan
bahwa residu hasil isolasi merupakan kitin.
Spektrum FTIR residu kitosan (Gambar 1b) terdapat pita serapan lebar pada 3436 cm-1 yang menunjukkan vibrasi ulur gugus OH yang berikatan hidrogen. Pita serapan pada 2919 cm-1 merupakan vibrasi ulur dari gugus C H metilena dan pada 1084 cm-1 merupakan gugus C O. Pita-pita serapan kitosan sama dengan yang dimiliki kitin. Perbedaan yang terjadi setelah tahap deasetilasi adalah perubahan spektrum serapan pada 1660 cm-1 yang menandai regangan C = O. Pergeseran pita serapan C = O pada 1660 cm-1ke 1654 cm-1dan pita serapan N H dalam bidang CONH pada 1566 cm-1 yang menurun pada kitosan dan muncul sebagai pita serapan baru yang lemah pada 1595 cm-1.
Adanya perubahan spektra FTIR residu kitin dan kitosan dapat diduga bahwa kitin yang dideasetilasi telah berubah menjadi kitosan. Akan tetapi masih adanya pita serapan gugus karbonil pada 1654 cm-1 menunjukkan bahwa residu kitosan tidak sempurna terdeasetilasi. Untuk itu maka diperlukan perhitungan derajat deasetilasi (DD) berdasarkan metode baseline yang diusulkan oleh Domszy dan Roberts (1985) menurut Persamaan1.
1655
dengan A1655 dan A3450 berturut-turut adalah absorbans pada 1655 cm-1 (gugus N asetil) dan
absorbans pada 3450 cm-1 (gugus OH) sebagai standar internal untuk mengoreksi ketebalan film
atau untuk perbedaan dalam konsentrasi kitosan berbentuk serbuk. Faktor 1,33 merupakan nilai perbandingan A1655/A3450 untuk kitosan yang terdeasetilasi sempurna. Dari spektrum residu kitosan (Gambar 1b), hasil perhitungan derajat deasetilasi sebesar 55,19%. Artinya bahwa hanya sekitar 55,19% residu kitin yang telah terdeasetilasi menjadi kitosan. Kitosan yang dijual untuk keperluaan industri memiliki derajat deasetilasi 75 85%. Dengan demikian, residu kitosan yang dihasilkan belum termasuk kitosan yang digunakan untuk keperluan analitik.
Adsorpsi Fenol oleh Kitosan
Adsorpsi fenol oleh kitosan dikaji dengan menggunakan kapasitas adsorpsi (q) berdasarkan Persamaan2 dan persen adsorpsi (%q) berdasarkan Persamaan3,
dengan C0 dan Ce adalah konsentrasi fenol mula-mula dan pada saat kesetimbangan tercapai, V adalah volume larutan, sertaxadalah jumlah adsobat (mg) yang teradsorpsi oleh m gram adsorbent. Tabel 2. menampilkan hasil penelitian adsorpsi fenol oleh kitosan.
Kapasitas adsorpsi fenol oleh kitosan
semakin meningkat dan mencapai nilai tertinggi pada konsentrasi mula-mula 15,00 ppm kemudian Tabel 2. Kapasitas dan persen adsorpsi fenol oleh kitosan
kembali menurun dengan meningkatnya konsentrasi. Hal ini menunjukkan bahwa ada batas maksimum dari kapasitas adsorpsi fenol oleh kitosan. Tentang hal ini akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Hasil penelitian juga memperlihatkan penurunan persen adsorpsi dengan bertambahnya konsentrasi adsorbat yang disebabkan oleh keterbatasan tempat pada adsorbent. Ini berarti bahwa adsorpsi fenol oleh kitosan akan lebih baik pada konsentrasi yang rendah sedangkan untuk konsentrasi yang tinggi disarankan untuk melakukan adsorpsi secara bertahap sampai mencapai konsentrasi fenol yang diperbolehkan. Persen rata-rata adsorpsi pada penelitian ini adalah 34,66%.
Isoterm Adsorpsi
Isoterm adsorpsi merupakan suatu gambaran tentang keadaan kesetimbangan yang telah terjadi sehingga tidak ada perubahan dalam konsentrasi adsorbat pada permukaan adsorbent dan yang ada pada larutan ruah. Isoterm adsorpsi diperoleh dengan memetakan distribusi kesetimbangan adsorbat dalam fase padat dan cair pada temperatur tetap. Ada dua isoterm adsorpsi yang biasa digunakan untuk kasus adsorpsi spesies tunggal dalam fase padat dan cair yaitu isoterm Langmuir dan isoterm Freundlich yang secara berturut-turut dinyatakan oleh Persamaan4dan5.
1
e e
m m
C
C
q q K q
(4)1
ln
q
ln
K
F
n
ln
C
e (5)dengan K adalah tetapan kesetimbangan adsorpsi menurut proses kesetimbangan dinamika:
a
d
k (g) (permukaan) k
A +M
AM
ad
k
K
k
(6)kadankdberturut-turut adalah tetapan laju sorpsi dan desorpsi, qm adalah kapasitas adsorpsi maksimum, danKFserta1/nadalah parameter perubahan.
Nilai-nilai tersebut dapat diperoleh dengan mengalurkan kurva hubungan antara Ce terhadap (Ce/q) untuk isoterm Langmuir dan ln (Ce) terhadap ln (q) untuk isoterm Freundlich dengan koefisien korelasi (r2) di atas 95%. Isoterm Freundlich dikembangkan untuk permukaan adsorbent yang heterogen sedangkan isoterm Langmuir berlaku untuk adsorpsi lapisan tunggal (monolayer) pada permukaan adsorbent yang homogen (Lynam,et al., 1995).
Isoterm Langmuir dan Freundlich dari adsorpsi fenol oleh kitosan dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3 serta parameter adsorpsi
pada Tabel 3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isoterm adsorpsi yang diikuti adalah isoterm Gambar 2. Isoterm adsorpsi Langmuir fenol oleh
kitosan
Langmuir karena memiliki koefisien determinasi (r2) yang lebih tinggi, yaitu 99,54%. Hasil ini berbeda dengan yang dilakukan oleh Rheeet al.(1998) yang menggunakan sistem adsorpsi kolom dan menyatakan bahwa adsorpsi fenol oleh kitosan mengikuti isoterm Freundlich karena kitosan pada penelitian ini memiliki derajat deasetilasi yang masih rendah (28,57%) dan sistem adsorpsi yang digunakan juga berbeda. Ini akan mempengaruhi afinitas adsorbat terhadap adsorbent (Lynam,et al., 1995).
Parameter adsorpsi yang diperoleh dari isoterm Langmuir adalah tetapan kesetimbangan adsorpsi sebesar 1,288 L/mg dan kapasitas adsorpsi maksimum sebesar 0,479 mg/g. Lynamet al.(1995) menyatakan bahwa parameter K merupakan suatu tetapan yang berhubungan dengan energi atau entalpi adsorpsi bersih. Cukup kecilnya nilai K menandai bahwa energi adsorpsi rendah dan laju proses sorpsi tidak jauh berbeda dengan laju proses desorpsi (ka kd) karena waktu pengadukan yang relatif lebih singkat sehingga proses kesetimbangan adsorpsi belum terjadi secara sempurna. Hal ini juga diperkuat dengan nilaiqmsecara teoretis yang masih lebih kecil dari kapasitas adsorpsi pada konsentrasi fenol mula-mula 15,00 ppm yang dapat mencapai 0,482 mg/g (Tabel 2).
IV. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
kadar kitosan dalam kulit udang windu sebesar 19,07% dan derajat deasetilasi sebesar 55,19% serta dapat dimanfaatkan adsorben fenol dari larutan dengan persen adsopsi rata-rata sebesar 34,66%. Selain itu, isoterm adsorpsi yang diikuti adalah isoterm Langmuir dengan koefisien determinasi (r2) 99,55% dan kapasitas serapan maksimumnya adalah 0,479 mg/g.
V. UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pusat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Ditjen Dikti Depdiknas yang membantu sebagian dana penelitian lewat Program Kreativitas Mahasiswa tahun anggaran 2005 dan kepada J. Ralahalu yang membantu selama penelitian ini berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA
Cooper, V.A. dan Nicell, J.A. 1996. Removal of phenol from a foundry wastewater using horseradish peroxidase. Water Researh, 30, 954 - 964
Domszy, J.G. dan Roberts, G.A.F. 1985. Evaluation of infrared spectroscopy techniques for analyzing chitosan . Makromol. Chem.,186, 1671 1677
Fernandez, E., Hugi-Cleary, D., Lopez-Ramon, M.V., dan Stoeckii, F. 2003. Adsorpsi of phenol from dilute and concentrated aqueous solutions by activated carbons. Langmuir,19, 9719 - 9723
Frida, I.F. 2003. Pemanfaatan kitosan sebagai Tabel 3. Parameter isoterm adsorpsi fenol oleh kitosan
Isoterm
Adsorpsi Persamaan
Koefisien Determinasi
(r2)
Parameter Adsorpsi K
(L/mg) (mg/g)qm
KF (mg/g)
(L/mg)1/n 1/n
Langmuir e
1,6214 2,0881
eC
C
q
99,10% 1,288 0,479adsorben terhadap logam berat Pb dan Cd dalam air Skripsi Sarjana. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Hasanuddin, Makassar Goulden, P.D., Brooksbank, P. dan Day, M.B.
1973. Determination of submicrogram levels of phenol ini water. Anal. Chem.,45, 2430 2433
Handayani, N. 2003. Adsorpsi zat warna tartrazine pada khitosan . Skripsi Sarjana. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Hasanuddin, Makassar
Klibanov, A.M., Alberti, B.N., Morris, E.D., dan Felshin, L.M. 1980. Enzymatic removal of toxic phenols and anilines from waste waters. J. Appl. Biochem.,2, 414 - 421
Knop, A. dan Pilato, L.A. 1985. Phenolic Resins Chemistry, Applications and Performance. Springer-Verlag
Lynam, M.M., Kilduff, J.E. dan Weber, W.J., Jr. 1995. Adsorption of p-nitrophenol from dilute aqueous solution. J. Chem. Edu.,72, 80 84 No, H.K., Meyers, S.P., dan Lee, K.S. 1989.
Isolation and characterization of chitin from crawfish shell waste. J. Agric. Food Chem., 37, 575 579
No, H.K. dan Meyers, S.P. 1997. Preparation of chitin and chitosan, dalamR.A.A. Muzzarelli dan M.G. Peter, Chitin Handbook, European Chitin Society, 475 489
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001, tanggal 14 Desember 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
Purwantiningsih. 1993. Isolasi kitin dan
senyawaan kimia dari limbah udang windu (Penaeus monodon) . Buletin Kimia,8, 1 - 13 Qadeer, R. dan Rehan, A.H. 2002. A study of the
adsorption of phenol by activated carbon from aqueous solutions. Turk. J. Chem.,26, 357 361
Rhee, J-S., Jung, M-W., dan Paeng, K-J. 1998. Evaluation of chitin and chitosan as a sorbent for the preconcentration of phenol and chlorophenol ini water. Anal. Sci.,14, 1089 -1092
Roostaei, N. dan Tezel, F.H. 2004. Removal of phenol from aqueous solution by adsorption . J. Enviro. Manag.,70, 157 164
Salame, I.I. dan Bandosz, T.J. 2003. Role of surface chemistry in adsorption of phenol on activated carbons . J. Coll. Interf. Sci.,264, 307 312
Sastrohamidjojo, H. 1992. Spektroskopi Inframerah, Liberty, Yogyakarta
Shunsuke, K. 2004. Adsorption of harmful substances by activated carbon from rubberwood, Bachelor Thesis, Department of International Development Engineering, School of Engineering, Tokyo Institute of Technology, Tokyo
Viraraghavan, T. dan Alfaro, J. 1992. Removal of phenol from wastewater by adsorption on peat, fly ash and bentonite . J. Environ. Engng.,5, 311 - 317