1
(Studi Kasus Pada Orsos Kasih Sayang Desa Krebet Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo)
Rina Juwitasari
Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya
2013
ABSTRAK
Desa Krebet merupakan salah satu desa di Ponorogo yang memiliki penyandang disabilitas. Karena permasalahan tersebut desa ini terkenal dengan julukan “Kampung Idiot”. Penanganan penyandang disabilitas dilakukan dengan pendirian Orsos Kasih Sayang rintisan Kemensos RI, yaitu Orsos yang dijadikan Percontohan Nasional yang ada di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur dengan dibantu masyarakat Desa Krebet setempat yang bersedia sebagai relawan. Mengingat kinerja relawan sosial bisa dibilang berat, dan imbalan yang diterima berupa materi tidak seberapa, hal ini tentunya akan berpengaruh pada kelanjutan pengabdiannya. Penelitian ini menggunakan teori Pertukaran Peter M. Blau dan Konsep Pemberdayaan, menjelaskan interaksi dalam pertukaran yang berlangsung dalam proses pemberdayaan dan rehabilitasi sosial antara relawan dan penyandang disabilitas di Orsos Kasih Sayang. Jenis penelitian yang digunakan kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Menekankan pada metode wawancara mendalam dalam penghimpunan data (indepth interview), sedangkan penentuan informan dilakukan dengan purposive sampling sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas relawan sosial disini adalah perempuan, pola pertukaran yang terjadi lebih didasari karena kuatnya motif intrinsik dilevel mikro. Didorong motif ekstrinsik di level makro khususnya yaitu dengan adanya home industry bagi relawan, relawan menjadi semangat dalam melakukan pendampingan. Dari kedua motif tersebut terlihat bahwa pertukaran memperkuat pelaksanaan kegiatan pemberdayaan di Orsos. Proses pemberdayaan ini dilakukan melalui penumbuhan kesadaran, pendidikan, pelatihan dan ketrampilan. Hasil dari proses pemberdayaan, banyak penyandang disabilitas yang bisa mengurus dirinya sendiri, mampu baca tulis dan sholat, kemampuan ketrampilan sudah mahir dan sudah banyak yang terjual,2 orang dibawa ke Temanggung untuk disekolahkan dan 12 orang di Orsos mendapat bantuan modal 2.500.000/org dari pemerintah pusat.
Kata Kunci: Relawan, Penyandang Disabilitas, Orsos Kasih Sayang, Pemberdayaan
Pendahuluan
Penyandang disabilitas merupakan
salah satu penyandang masalah
kesejahteraan sosial yang perlu
diperhatikan, diberdayakan, serta dilatih
kemandirian mereka dalam hal sosial
ekonomi. ICIDH (International
Classification of Impairments, Disabilities
and Handicaps) memberikan definisi, bahwa dalam konteks dunia kesehatan,
disabilitas adalah setiap pembatasan atau
kekurangan (akibat gangguan) kemampuan
untuk melakukan suatu kegiatan dengan
normal untuk manusia.1Kementerian
Sosial RI melaporkan pada tahun 2007
penyandang disabilitas berjumlah
sebanyak 7,8 juta jiwa.2 Menurut data
Kementerian Kesehatan pada tahun 2011
jumlah penyandang disabilitas mencapai
6,7 juta jiwa.3Sedangkan menurut catatan
WHO (World Health Organization)
penyandang disabilitas Indonesia
mencapai 36.841.956 juta jiwa. Dalam
angka tersebut Indonesia menduduki
jumlah terbesar yang memiliki
penyandang disabilitas se-Asia Tenggara.4
Fenomena penyandang disabilitas
juga terdapat di Ponorogo, yang
sebelumnya Ponorogo sempat diberitakan
dan ditampilkan melalui media memiliki
“kampung idiot” karena di desa tersebut
beberapa diantara warganya mengalami
keterbelakangan mental, lokasi terpencil
1
Steven D. Edwards. 2005. Disability: Definition, Value and Identity. New york: Redcliffe
Publishing. Hal: 11.
2
Edi Soeharto. Penerapan Kebijakan Publik bagi
Masyarakat dengan Kebutuhan Khusus,
Pengalaman Kementerian Sosial, disampaikan pada diskusi terbatas . Pusat Kajian Manajemen Pelayanan LAN RI di Hotel SahiraBogor, 9-10 Oktober 2010.
3
Hilmia Wardhani Nugroho. 2012. Yuk Merengkuh tangan Penyandang Disabilitas. Dikases pada
http://benitoramio- nugroho.blogspot.com/2012/05/yuk-merengkuh-tangan-penyandang.html . Sumber (jpnn.com, 11/4/2012). Diakses pada tanggal 25 Februari 2013. Pukul: 09:00 WIB.
4
Ageda. 2011. Disability in Southeast Asian
Countries. Diakses pada
http://www2.agendaasia.org/index.php/information /disability-in-asean/88-disability-in-southeast-asian-countries. Diakses Pada Tanggal 10 Juni 2013 Pukul: 21:34 WIB
dengan kondisi miskin.Yang terdapat pada
lima titik lokasi, yaitu Desa Sidoharjo,
Desa Pandak, Desa Karangpatihan, Desa
Krebet.
Sebutan “Kampung Idiot” bukan
berarti warga satu kampung mengalami
idiot semua. Pada dasarnya kondisi desa
tersebut sama seperti desa pada umumnya,
yaitu kondisi masyarakatnya dengan
keluarga sejahtera, menengah, maupun pra
sejahtera. Yang membedakan, didalamnya
ada beberapa warganya yang mengalami
keterbelakanganan mental. Sebutan ”Kampung Idiot” lebih tertuju pada Desa Krebet yang merupakan lokasi dari fokus
penelitian ini. Hal tersebut lebih
disebabkan, sebelum tahun 2007 Desa
Krebet belum melakukan pemekaran
wilayah, dengan jumlah keluarga miskin
dan penyandang disabilitas kurang lebih
500 orang.
Setelah pemekaran wilayah, jumlah
keluarga miskin sebanyak 881 KK5 dan
penyandang disabilitas dengan
macam-macam disabilitasnya sejumlah 132
orang.6 Mulai dari tuna fisik, tuna grahita,
tuna wicara, tuna rungu, serta tuna fisik
dan mental mulai dari usia balita,
anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia dengan
sebagian besar berada pada usia produktif
antara 30 sampai 40 tahun. Kondisi ini
diperparah dengan penyandang disabilitas
5
Data Profil Desa Krebet. 2011.
6
mayoritas berasal dari keluarga miskin,
pendidikan rendah bahkan tidak
berpendidikan serta terbatasnya lapangan
pekerjaan di daerah setempat.
Penanganan dilakukan dengan
didirikannya sebuah organisasi sosial
Kasih Sayang di Desa Krebet Kec. Jambon
oleh kementerian sosial RI pada tanggal 26
Oktober 2011. Sebagai wujud tanggung
jawab sosial dari pemerintah seperti yang
tertuang dalam Undang-Undang No. 4
Tahun 1997 tentang penyandang cacat/
penyandang disabilitas.7 Dalam
kinerjanya, Orsos Kasih Sayang ini
memiliki program untuk rehabilitasi,
sebagai upaya yang mengarah pada
pemberdayaan dan kemandiriaan
penyandang disabilitas dengan membuat
kelompok kerja kader rehabilitasi berbasis
keluarga dan kader pendamping di Orsos
berjumlah 25 orang, terdiri dari 20
perempuan dan 5 laki-laki. Awal
pelaksanaan kinerja didampingi oleh
BBRSBG (Balai Besar Rehabilitasi Sosial
Bina Grahita) Kartini Temanggung dalam
membantu penanganan penyandang
Disabilitas yang bertujuan memutus tali
rantai penyebab disabilitas.
7
Undang-Undang RI No. 4 Tahun 1997. Tentang Penyandang Cacat. Diakses Pada World Wide
Web At:
http://adgi.or.id/wp- content/uploads/2011/10/Undang-Undang-tahun-
1997-04-97-TENTANG-PENYANDANG-CACAT.pdf. Diakses Pada Tanggal: 4 Desember 2012 Pukul. 14:33 WIB.
Keberadaan relawan sosial yang
disebut sebagai kader pendamping di
Orsos Kasih Sayang, berasal dari
masyarakat Desa Krebet Kecamatam
Jambon Kabupaten Ponorogo tentunya
sangat membantu dalam menangani
masalah penyandang disabilitas di
desanya.
Mengingat saat ini di Indonesia
sedikitnya minat untuk menjadi seorang
relawan sosial dalam proses pemberdayaan
dan rehabilitasi.8 Tidak jarang iklan yang
sama harus dipasang berulang-ulang
karena tidak ada satupun yang mendaftar.
Jika formulir tersebut terisi, yang mengisi
adalah orang yang juga merangkap
menjadi relawan di beberapa organisasi.9
Realitas yang miris ketika minat
menjadi seorang relawan dari kaum muda
sangat kurang. Kebanyakan relawan
berasal dari orang-orang tua yang
menghabiskan waktunya dengan kegiatan
sosial. Kecenderungan yang terlintas
ketika kita mengingat kata „‟relawan‟‟,
persepsi masyarakat awam identik dengan
penanganan dan evakuasi terhadap korban
bencana alam. Hal tersebut tidak berbeda
halnya ketika di daerah Ponorogo, minat
8
Febriansyah. 2009. Menjadi Relawan di Australia. Diakses pada World Wide Web At: http://gusfeb99.multiply.com/journal/item/31/Menj
adi-Relawan-di-Australia?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2 Fitem. Diakses Pada Tanggal 8 Desember 2012. Pukul. 13:32 WIB
9
untuk menjadi relawan sosial dari
kalangan muda juga hampir tidak ada, di
Desa Krebet sendiri kebanyakan yang
menjadi relawan adalah dari golongan usia
35 sampai dengan 40an tahun keatas yang
ingin mengisi waktu luang mereka dengan
tujuan mengabdi dan bermanfaat bagi
orang lain sesuai kesediaannya. Setelah
setahun lebih organisasi sosial berdiri dan
pendampingan yang dilakukan oleh
relawan sosial atau kader pendamping
terhadap penyandang disabilitas, relawan
sosial di Organisasi Sosial Kasih Sayang
beberapa diantaranya mulai merasakan
kejenuhan dan mempertanyakan apa
imbalan yang diterima ketika mereka
melakukan kegiatan pendampingan
terhadap penyandang disabilitas.
Sedangkan mereka atau dalam hal ini
relawan sosial merasa bahwa untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari saja
mereka kesulitan.10
Penekanannya adalah bagaimana
kader pendamping atau dalam hal ini
disebut sebagai relawan sosial dalam
bekerja memberikan sumbangsih
tenaganya di masyarakat dengan sedikit
imbalan namun mereka mau
melakukannya. Apalagi di zaman ekonomi
yang serba sulit ini, seperti untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari saja
10
Hasil wawancara dengan Pihak Dinas Sosial Ponorogo dan Pengurus Organisasi Sosial Kasih Sayang. 26 Desember Tahun 2012
dirasa kurang. Akan tetapi para relawan
masih mau menyempatkan untuk
membantu mereka yang kurang
beruntung. 11
Beberapa referensi dan penelitian
ilmiah mayoritas membahas tentang
pemberdayaan dan aksesibilitas serta
pelayanan bagi penyandang disabilitas.
Namum tidak begitu membahas dan
menekankan pada kebutuhan akan
pentingnya tenaga kesejahteraan sosial.
Terutama relawan sosial yang terkait
dengan keberlangsungannya dalam proses
pemberdayaan penyandang masalah
kesejahteraan sosial pada penyandang
disabilitas di daerah pedesaan seperti di
Desa Krebet. Meskipun hal yang selalu
ditekankan oleh pemerintah adalah
rehabilitasi berbasis masyarakat, namun
perlu diperhatikan dan diupayakan dalam
membangun kesadaran dan kesediaan
masyarakat dalam membantu. Karena
kebanyakan masyarakat Indonesia ketika
melihat fenomena penyandang disabilitas,
perasaan yang muncul adalah perasaan
kasihan dan perasaan risih untuk
berinteraksi membantu karena takut
menyinggung perasaan dari penyandang
disabilitas itu sendiri.
11
Tinjauan Teoritis
Peter M. Blau dalam teori
pertukaran mengemukakan, bahwa pada
dasarnya orang-orang yang melakukan
interaksi dengan membantu orang lain
adalah tidak benar-benar didasari oleh rasa
ketulusan, akan tetapi selalu terdapat
maksud tertentu yang diinginkan
didalamnya. Baik itu yang bersifat
ekstrinsik (keinginan untuk dipuji,
keserakahan, dsb) maupun keinginan
untuk mendapatkan penghargaan sosial
dari orang lain yang sifatnya intrinsik,
misalnya keinginan untuk mendapatkan
kepuasan, kesenangan, kebahagiaan, dan
kebersamaan.12 Asosiasi sosial yang
didalamnya terjadi interaksi sosial sebagai
sebuah hubungan antara individu dengan
individu lainnya atau antara kelompok
yang satu dengan kelompok lain.13
Dalam proses sosial yang mendasar
tersebut terdapat dua jenis asosiasi sosial,
yaitu struktur mikro dan struktur makro.14
Struktur Mikro dipahami bahwa asosiasi
sosial berlangsung antara individu dengan
individu lainnya yang saling berinteraksi.
Terdapat tiga bentuk mikro struktur yaitu :
1. Kebahagiaan seorang individu
meninggalkan sebuah kesedihan bagi
individu lainnya.
12 Oscar Grusky and George A. Miller. 1970. The
Sociology of Organizations. New York: The Free Press. Hal. 128
13
Loc.Cit
14
Ibid., Hlm. 132
2. Individu melakukan sesuatu untuk
individu yang lain hanya
menginginkan sebuah kebersamaan,
maupun kebahagiaan (Reward
Intrinsic).
3. Melakukan sesuatu untuk individu
lainnya sebagai bentuk untuk mencari
sebuah perhatian, dengan tujuan
mencari sorotan publik, maupun ingin
diapresiasi sebagai seorang good helper (Exstrinsic).
Sedangkan struktur makro sifatnya
lebih pada hubungan antara kelompok satu
dengan kelompok yang lain tepatnya pada
sebuah organisasi sosial, terdiri dari:
1. Legitimasi (Collective Approval) dan Organisasi
Organisasi merupakan koordinasi upaya
kolektif (coordination of collective effort) dengan beberapa orang didalamnya serta
proses dari hasil pertukaran (exchange) dan kompetisi di antara mereka.15
Kekuatan untuk mengorganisir kelompok
tersebut dengan stabil membutuhkan
adanya suatu legitimasi dan manajemen
yang baik. Dengan didalamnya terdapat
susunan (hirarki) kepengurusan.
Legitimasi ialah penerimaan kolektif
terhadap kekuasaan (power), secara kolektif mengakui kekuasaan atasan
maupun organisasi sehingga semua pihak
bersedia melakukan/melaksanakan aturan
15
atau perintah organisasi. Penerimaan
kekuasaan (power) secara kolektif adalah bagaimana si pekerja, anggota organisasi
maupun staff ini mau melakukan apa yang
menjadi tugasnya secara sukarela atau
tanpa paksaan. Namun bukan berarti tanpa
mengharapkan imbalan (reward) apa pun, justru penerimaan kolektif (collective
approval) tersebut terjadi akibat rasa hutang budi anggota, staff maupun pekerja
terhadap upah maupun penghargaan
(reward) lain sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
2. Leadership (Kepemimpinan)
Kekuasaan (Power) yang terlegitimasi didalamnya dipegang seorang pemimpin.
Sebagai seorang pemimpin memiliki
kekuasaan mengorganisasikan (organizing
power) yang terlegitimasi oleh anggota-anggotanya, sehingga pimpinan (leader)
memiliki otoritas terhadap
anggota-anggotanya untuk mengatur segala sesuatu
yang berjalan didalamnya. Terdapat
dinamika tersendiri ketika power seorang
leader diterima dan ditolak oleh anggota-anggotanya. Bagaimana penerimaan sosial
yang telah memberi legitimasi kepada
pemimpin itu berbeda dari respect (sikap menghargai dan mengakui kemampuan
pimpinannya). Jadi lebih baik pekerja
mengakui kemampuan seorang leader baru memberikan legitimasi daripada nantinya
menimbulkan sebuah pemberontakan dari
para pekerja akibat memberikan legitimasi
tanpa adanya respect terlebih dahulu. 3. Legitimate authority
Legitimate authority atau otoritas legitimasi bukan sekedar penerimaan
kolektif atas kekuasaan organisasi sebagai
balasan (exchange) dari reward yang telah diberikan organisasi terhadap anggota
maupun staff-nya. Otoritas membutuhkan legitimasi sosial. Hanya dengan nilai yang
dianut secara kolektif dapat melegitimasi
kekuasaan (power) atasan (leader)
sehingga membentuk sebuah otoritas.16
Artinya harus terdapat nilai-nilai dan
norma sosial dalam penerimaan kolektif
bawahan terhadap legitimasi leader.
Nilai dan norma sosial muncul
seiring dengan loyalitas yang cenderung
munculkan pemenuhan terhadap perintah
menjadi sebuah kewajiban yang
dipaksakan oleh bawahan itu sendiri.
Penerimaan kolektif bawahan terhadap
kinerja maupun posisi atasan yang
memberikan keuntungan secara
bersama-sama meningkatkan norma sosial yang
melegitimasi otoritas.17 Sehingga, untuk
mendapatkan otoritas legitimasi, seorang
leader bukan hanya perlu melakukan atau menyebarkan pengaruh individunya
(personal influence) saja, tetapi harus mendahulukan kepentingan kolektif
bawahan (collective interest of
16
Ibid., Hlm. 138
17
subordinate) dan menciptakan kewajiban bersama (joint obligation).18 Dari sinilah tercipta loyalitas dan nilai serta norma
sosial yang dianut oleh bawahan dalam
memberikan persetujuan atau penerimaan
kolektif (collective approval).
Selain itu otoritas ini hanya dapat
muncul pada struktur sosial.19 Kekuasaan
dari pengaruh individu dalam hubungan
struktur mikro tidak dapat menjadi
otoritas. Hanya norma-norma umum dari
kumpulan bawahan dapat melegitimasi
kontrol pengaruh atasan dan berpengaruh
pada kemauan bawahan untuk memenuhi
perintah yang justru dipaksakan oleh
bawahan itu sendiri, dalam artian bebas
dari paksaan dan tekanan atasan.
4. Organizing Collective Efforts.
Fungsi otoritas legitimasi ialah untuk
mengorganisasikan atau mengelola kinerja
kolektif pada skala besar dalam
meyakinkan akhir penerimaan secara
umum.20 Yang dimaksud dengan kinerja
kolektif ialah setiap anggota dalam
organisasi bersedia memberikan kontribusi
sebagai imbalan atas reward atau
penghargaan atas apa yang diberikan oleh
organisasi baik intrinsik maupun
ekstrinsik, materiil maupun imateriil.
Karena itulah otoritas legitimasi
diperlukan untuk mangatur, membagi
18
Loc.Cit
19 Ibid., Hlm. 140
20 Ibid., Hlm. 141-142
tanggung jawab dan mengelola kontribusi
anggota organisasi.
Teori pertukaran Peter M. Blau,
digunakan untuk melihat bahwa
pemberdayaan di Orsos Kasih Sayang
membuka akses pertukaran antara
penyandang disabilitas dan relawan sosial
Desa Krebet. Pemberdayaan menurut Jim
Ife yang berarti menyediakan sumberdaya,
kesempatan, kosakata, pengetahuan dan
keterampilan untuk meningkatkan
kemampuan mereka untuk menentukan
masa depan mereka sendiri, dan untuk
berpartisipasi serta mempengaruhi
kehidupan masyarakatnya.21
Setidaknya dari kegiatan
pemberdayaan dapat memberikan sesuatu
yang lebih bermanfaat guna pembangunan
kesejahteraan dan kemandirian dalam
suatu masyarakat. memberikan suatu
imbalan (reward) dengan memberikan peningkatan bagi sebagian besar
masyarakat yang terpinggirkan sehingga
menciptakan masyarakat yang lebih
berkeadilan seperti mereka para
penyandang disabilitas dan relawan sosial.
Dengan adanya kegiatan pemberdayaan,
para relawan memiliki keterampilan dan
berpengalaman dalam mendampingi
penyandang disabilitas. Penyandang
disabilitas yang terisolir dan tidak
21
terjangkau layanan memungkinkan
mendapatkan pelayanan, berupa
keterampilan, pendidikan, kesehatan, dan
bersosialisasi untuk membangun
kepercayaan diri mereka dalam sebuah
lingkungan masyarakat.
Metodologis
Jenis penelitian kualitatif yang
digunakan dengan pendekatan studi kasus.
Studi kasus jenis intrisik dengan kasus
tunggal, menggunakan single level analysis, dan memakai penyajian secara deskriptif. Metode tersebut digunakan
untuk melihat interaksi dalam pola
pertukaran antara relawan sosial dan
penyandang disabilitas dalam proses
pemberdayaan di Orsos Kasih Sayang.
Pelaksanaan metodologi dilakukan
dengan wawancara mendalam, observasi
langsung, dan studi dokumentasi. Analisis
data menekankan pada penggunaan
strategi umum teoritis, penjodohan pola,
analisis deret waktu sederhana, dan
observasi berulang.
Penyebab Disabilitas
Desa Krebet yang terkenal dengan
sebutan kampung idiot dikarenakan
memiliki banyak penyandang disabilitas,
Hal yang menyebabkan kampung ini
memiliki penyandang disabilitas adalah
tanah yang ada di Desa Krebet
mengandung zat kapur. Diawali dari
pemahaman orang-orang dahulu bahwa
dalam bubuk batu baterai yang digunakan
untuk radio, senter, maupun jam dinding
dianggap dapat menyuburkan tanah,
mereka gunakan untuk pupuk. Sehingga
menurut hasil penelitian dari Dinas
Kesehatan Kabupaten Ponorogo,
kandungan garam dalam tanah di Desa
Krebet dibilang hampir tidak ada.
Selain itu dulunya diduga karena
adanya perkawinan sedarah, dalam hal ini
perkawinan sedarah dimaknai sebagai
perkawinan yang terjadi antar sepupu.
Karena sifat gen adalah menurun, setelah
beberapa generasi, ada keturunannya yang
mengalami keterbelakangan mental.
Kemudian didukung oleh adanya
kemiskinan yang menyebabkan kurang
gizi, kurang informasi, sehingga muncul
kecacatan.
Relasi Relawan Sosial dan Penyandang Disabilitas dalam Interaksi Struktur Mikro
Gambar 2. Pola pertukaran Relawan dan Penyandang Disabilitas dalam Interaksi Struktur Mikro
Terdapat proses sosial yang paling
mendasar alasan relawan sosial Desa
Krebet mau melakukan interaksi
mendampingi penyandang disabilitas,
yaitu karena adanya konsep reward dan
punishment. Dalam mendapatkan reward
dan punishment tersebut terdapat 2 proses sederhana yaitu egoism dan attraction. Disebut egoism karena ketika melakukan interaksi didasarkan atas keinginan
mendapat imbalan/penghargaan sosial
(reward), baik itu yang bersifat intrinsic
seperti bahagia bisa membantu
penyandang disabilitas, kepuasan ketika
penyandang disabilitas memiliki semangat
dalam melakukan pendidikan, pelatihan
dan keterampilan. Maupun bersifat
ekstrinsic, seperti keinginan kapabilitasnya diterima sebagai relawan Orsos, ketika
tugas pendampingan dilakukan. Selain
egoism, relawan sosial melakukan interaksi dengan penyandang disabilitas
atas dasar adanya ketertarikan (attraction). Yaitu ketika ketertarikan atas dasar
panggilan dari hati yang mempunyai jiwa
sosial dan tertanam sejak lama, sebagai
ungkapan pengabdian untuk membantu
tanpa ada paksaan.
Relawan: Harus bagi waktu, berpanas-panas,medan sulit, lupa masak, untuk
dampingi penyandang disabilitas.
Penyandang Disabilitas: Senang dapat ketrampilan di Orsos, tdk menganggur, diperhatikan, makan gratis 2x/hr.
Bahagia bisa membantu, Puas Penyandang disabilitas semangat, banyak teman bisa canda tawa,
Upah Uang bensin 75rb/org/bln,
dapat ilmu, pengetahuan,
ketrampilan, sanjungan keluarga
Relawan Sosial
Rasa bersalah tdk melakukan
pendampingan ,
Panggilan hati, Jiwa
Punishment Micro
Structure
Intrinsic
Reward
Ekstrnsic
Egoism
Altruism Attraction
KeluargaPenya ndang
Disabilitas
Penyandang Disabilitas Kebahagiaan timbul
Hukuman (punishment) yang terjadi secara tidak langsung dan dirasakan oleh
relawan adalah ketika rasa bersalah tidak
melakukan pendampingan, terpaksa tidak
bisa hadir karena ada kesibukan lain,
sangsi moral, maupun kurang maksimal
dalam pendampingan. Karena itu bisa
berakibat, penyandang disabilitas tidak
terurus, dan menjadi beban tersendiri
ketika ketidakhadiran menjadi bahan
pembicaraan teman-teman relawan
lainnya.
Oleh sebab itu secara garis besar
interaksi yang terjadi diantara relawan
dengan penyandang disabilitas dalam
struktur mikro, terbagi kedalam 3 bentuk
yaitu: kebahagiaan individu menimbulkan
kesedihan bagi individu lainnya, terjadi
ketika relawan harus membagi waktu
dalam melakukan pendampingan terhadap
penyandang disabilitas, berpanas-panas
dengan medan yang sulit untuk
mengantarkan makanan bagi penyandang
disabilitas di rumah, terkadang lupa belum
memasak untuk keluarga di rumah, disisi
lain rasa bersalah ketika tidak melakukan
pendampingan, terpaksa tidak bisa hadir,
harus bisa menerima konsekuensi jika
kerjanya dalam pendampingan kurang
maksimal karena tidak pernah hadir
sehingga menjadi bahan pembicaraan
teman-teman relawan lain. Hal inilah yang
menjadi dilema tersendiri bagi relawan
ketika dihadapkan dengan pendampingan
dan kepentingan pribadi relawan.
Sedangkan penyandang disabilitas
bisa mendapat asupan gizi cukup baik,
senang mendapat kesibukan baru seperti
keterampilan, berkumpul dan
bersosialisasi, serta mendapatkan
perhatian. Bentuk yang kedua dan ketiga
struktur mikro adalah adanya imbalan
(reward) yang sifatnya instrinsik, bantuan dan imbalan (reward) yang sifatnya ekstrinsik.
Asas mengutamakan
pendampingan bagi penyandang disabilitas
(altruism) yang didalamnya juga mengandung unsur egoism, yaitu keinginan untuk mendapatkan imbalan
(reward). Terlihat ketika keinginan mendampingi penyandang disabilitas
datang kerumah mencoba memberikan
pengertian dan pemahaman kepada
keluarga penyandang disabilitas, yang
tadinya ditolak oleh keluarga penyandang
disabilitas, sampai akhirnya merekapun
mau menerima, menganggap penting
pendampingan dari relawan sosial. Hal ini
karena relawan sosial lebih memahami apa
yang seharusnya dilakukan dalam
mendampingi penyandang disabilitas,
respon senang dari keluarga penyandang
disabilitas ketika mereka masih ada yang
memperhatikan merupakan bentuk
imbalan (reward) bahwa kapabilitas (kemampuan) relawan dalam melakukan
keluarga penyandang disabilitas.
Motif intrinsik ternyata disini lebih
dominan dalam relasi relawan sosial
melakukan pendampingan terhadap
penyandang disabilitas. Dibanding
imbalan yang diterima tidak sebanding
dengan pengabdian mereka selama ini,
semangat inilah yang harus tetap dipupuk.
Keterlibatan relawan yang mayoritas
perempuan, menunjukkan begitu penting
peran perempuan dalam mengupayakan
sebuah perubahan dalam suatu
pembangunan kehidupan masyarakat
Pertukaran Relawan Sosial di Orsos Kasih Sayang dalam Interaksi Struktur Makro
Gambar 3. Pola Pertukaran Relawan dalam Struktur Makro
Kekuasaan (power) pimpinan dalam Orsos ini mendapat legitimasi dari para
relawan sebagai anggotanya, meskipun
manajemen organisasi yang dilakukan oleh
pimpinan kurang bagus. Hal ini terlihat
dari hierarki kepengurusan yang terdiri
dari 2 ketua, yaitu Ketua I dan Ketua II,
kemudan garis komando juga tidak jelas,
apakah itu sifatnya koordinatif (kerjasama)
atau sifatnya konstruktif (perintah secara
langsung). Secara kolektif relawan
mengakui kekuasaan (power) ketua sebagai pimpinan Orsos dan bersedia
melakukan perintah pimpinan dalam
kinerja organisasi yaitu rehabilitasi dan
pemberdayaan bagi penyandang
Macro Structure
Legitimasi dan Organisasi
Leader ship
Legitimate Authority
Organizing Collective Effort Tdpt Hierarki kepengurusan,
Relawan mengakui keberadaan
pimpinan adl TKSK dan
adanya pendirian Orsos.
Tidak mengetahui kemampuan TKSK sebelumnya, Rasa tidak puas dengan pemimpin tetapi tetap melaksanakan tugas niat mengabdi .
Relawan Sosial
Pimpinan Orsos (TKSK) Mengusulkan bantuan ketrampilan
ekonomi produktif untuk relawan, pelaksanaan home industry
Mengumpulkan relawan di Orsos dan rapat
disabilitas. Relawan yang bersedia
melakukan apa yang menjadi tugasnya
secara sukarela dalam organisasi, karena
niat mereka dari awal untuk mengabdi,
berdasarkan motif instrinsik dalam
pembahasan mikro struktur sebelumnya.
Meskipun pimpinan dalam Orsos Kasih
Sayang tersebut bukan murni dari pilihan
mereka.
Kekuasaan pimpinan atau dalam hal
ini TKSK untuk mengorganisasi
(Organizing Power), terlegitimasi oleh relawan. Namun bisa dibilang dari
kekuasaan untuk mengorganisasikan Orsos
ini memiliki tata kelola yang tidak stabil.
Tidak ada kekompaskan yang terjalin
meskipun keduanya sama-sama relawan
sekaligus pengurus, rapat koordinasi
sesama penguruspun juga jarang
dilakukan.
Meski kekuasaan (power) untuk mengorganisasi tidak bisa stabil,
keberadaan mereka terlegitimasi oleh
anggota. Namun demikian semua proses
pemberdayaan dan rehabilitasi bagi
penyandang disabilitas berjalan cukup
lancar. Karena memang sebelum
organisasi terbentuk, relawan sudah
mengetahui akan tugas-tugas organisasi
yang harus dijalankan. Yang didalamnya
bukan berarti tanpa mengharapkan sebuah
imbalan (reward), justru penerimaan kolektif tersebut karena imbalan (reward) yang diharapkan penyandang disabilitas
bisa ditangani. Penerimaan kolektif
tersebut juga disisi lain tiap bulannya
relawan mendapat upah atau mendapat
imbalan materi (reward ekstrinsic) seperti relawan bisa mendapatkan ilmu,
pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan
ketika mereka mendampingi penyandang
disabilitas.
Kinerja tersebut diberikan imbalan
berupa uang bensin dan uang tali asih
untuk transportasi per bulannya lebih
kurang sebesar Rp. 75.000,00/orang.
Selain itu imbalan lainnya untuk
memelihara keberlanjutan relawan
diberikan dalam bentuk pelatihan home indutry untuk para relawan khususnya ibu-ibu, dalam pembuatan misalnya krupuk
singkong, kacang telur. Semenjak ada
pelatihan home industry ini, relawan sosial khususnya para ibu-ibu menjadi lebih giat
untuk datang melakukan pendampingan di
Orsos Kasih Sayang. Karena sebelum ada
kegiatan home industry tersebut, relawan kadang rajin dan terkadang tidak untuk
melakukan pendampingan.
Kepemimpinan (Leadership) dan
kekuasaan yang dimiliki oleh pimpinan
dalam Orsos mendapat legitimasi dari para
relawan. Hal ini dikarenakan dari 25
relawan yang berasal dari Krebet, 20
diantaranya mayoritas relawan adalah
perempuan, dan relawan yang laki-laki
hanya berjumlah lima orang. Kekuasaan
TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial
Kecamatan) menjadi ketua Orsos yang
ditunjuk secara langsung oleh pihak Dinas
Sosial Kabupaten Ponorogo. Relawan
yang kebanyakan perempuan dan
mengetahui bahwa TKSK sebagai
tunjukan dinsos, maka mereka menerima
begitu saja pimpinan tersebut secara
sukarela. Karena alasan sudah tunjukan
Dinsos, yaitu Dinsos merupakan salah satu
pemangku kepentingan yang ada di
Ponorogo, sedangkan TKSK sebagai
pemangku kepentingan yang ada di
Kecamatan Jambon sebagai lokasi
pendampingan dan pembinaannya.
Mereka sebagian besar tidak
mempermasalahkan, namun beberapa
diantaranya secara tidak langsung
mengungkapkan kekecewaannya atas
dasar karena pimpinan jarang ke Orsos,
ego yang tinggi dari pimpinan, kurang
pandai dalam mengarahkan organisasi,
serta kurang berpengalaman. Dari bahasan
tersebut, dinamika yang terjadi dalam
kinerja relawan di Orsos Kasih Sayang
yaitu adanya keberpihakan kelompok.
Antara kelompok yang memihak pada
posisi ketua I dan kelompok yang
memihak pada ketua II, serta kelompok
yang netral.
TKSK sebagai pimpinan organisasi
memiliki kekuasaan mengorganisasi
(Organizing Power) yang terlegitimasi oleh anggotanya. Sehingga TKSK sebagai
seorang pemimpin (Leader) memiliki kewenangan untuk mengatur segala
sesuatu yang berjalan, mulai dari
pelaksanaan pendampingan, distribusi
makanan, persiapan tempat ketika ada
kunjungan dari pihak luar. Penerimaan
sosial relawan terhadap pimpinan ini
dikarenakan menghargai TKSK sebagai
pimpinan (Leader).
Karena sebelumnya relawan tidak
mengetahui akan kemampuan dari
pimpinan, maka pemberontakan dan
pembicaraan oleh teman-teman relawan
sering terjadi tanpa sepengetahuan
pimpinan. Keadaan tersebut
memperlihatkan bahwa konflik laten
berlangsung disini, dalam hal ini teori
pertukaran tidak memperhatikan peran
perempuan yang memiliki pengaruh dalam
keputusan perjalanan kinerja organisasi,
sehingga leadership yang terlegitimasi memunculkan otoritas legitimasi.
Otoritas legitimasi terlihat dalam
kinerja Orsos ini ketika relawan merasa
jenuh melakukan pendampingan, mereka
menginginkan sebuah keterampilan yang
bermanfaat bagi mereka. Selain itu
keterampilan Home Industry yang telah
diberikan terbukti memacu semangat
relawan untuk datang ke Orsos melakukan
pendampingan.
Nilai-nilai dan norma sosial yang
diminta dan disepakati atasan dan bawahan
melaksanakan perintah organisasi, terlihat
jika ada bantuan datang mereka
memberikan bantuan terhadap tetangga
kiri kanan Orsos dan PMKS (Penyandang
Masalah Kesejahteraan Sosial), sehingga
tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
Selain itu mereka juga menginginkan suatu
ketrampilan, dan direspon oleh pengurus
seperti home industry, dan pembuatan usulan proposal untuk bantuan ternak lele,
bebek, keterampilan menjahit, membatik
serta keterampilan lainnya untuk para
relawan dan penyandang disabilitas ringan
yang diajukan ke Pemerintah Pusat melalui
Dinas Sosial. Jadi untuk mendapatkan
otoritas legitimasi, seorang leader harus mendahulukan kepentingan bawahan.
Sehingga dalam hal ini relawan
melaksanakan tugas pemberdayaan bagi
penyandang disabilitas tanpa paksaan dari
atasan, namun dipaksakan oleh bawahan
itu sendiri.
Otoritas legitmasi untuk
mengorganisasikan dan mengelola kinerja
kolektif pimpinan digunakan untuk
mengorganisasikan kinerja dalam Orsos
Kasih Sayang meskipun rasa tidak puas
terhadap pimpinan ada, namun kinerja
para relawan tetap semangat apalagi
semenjak ada home industry yang dilaksanakan setiap malam rabu. Sehingga
tinggal pengurusnya yang harus dilakukan
pembenahan, karena terdapat
ketidakpuasan dan jalannnya organisasi
tidak bisa maksimal. Rasa ketidakpuasan
atas kinerja pimpinan sebagai pemegang
kekuasaan memperlihatkan bagaimana
sebenarnya, pertukaran yang terjadi adalah
tidak seimbang .
Maka atas inisiatif dari pendiri
Orsos, dilakukanlah pembenahan pengurus
pada tanggal 9 Februari 2013 bertempat di
rumah Kepala Desa Krebet.
Proses Pemberdayaan dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas
Gambar 4. Proses Pemberdayaan Orsos Kasih Sayang
Kegiatan pemberdayaan yang
berlangsung didalam Rumah Kasih Sayang
berawal dari instruksi Kementerian sosial
menunjuk Balai Besar Bina Rehabilitasi
Sosial (BBRSBG) Kartini Temanggung
untuk mendampingi dan mengarahkan
dalam kinerja Orsos Kasih Sayang.
Sebelum melaksanakan rehabilitasi dengan
tujuan pemberdayaan bagi penyandang
disabilitas, maka terlebih dahulu para
relawan diberi pelatihan dalam
pemberdayaan dan rehabilitasi bagi
penyandang disabilitas.
Pemberdayaan yang dilakukan
dalam Orsos Kasih Sayang ini harapan
kedepannya dapat digunakan sebagai
sebentuk layanan berbasis masyarakat.
Dilihat dari aspek kegiatan yang ditangani,
pemberdayaan dan rehabilitasi sosial ini
ditekankan pada pengembangan dan
pemberian pelayanan kemanusiaan seperti
kesehatan, pendidikan, pelatihan
ketrampilan, dan pendampingan secara
personal bagi penyandang disabilitas.22
Pelatihan dibidang pendampingan
dan pelayanan penyandang disabilitas,
seperti pertama, memberikan pelayanan gizi makanan tambahan kepada
penyandang disabilitas. Bertujuan agar
penyandang disabilitas mendapatkan
22
Jim Ife dan Frank Toseriero. Op.Cit. Hal: 474
Relawan
Relawan Sosial Kegiatan pemberdayaan
Mikro
Struktur
Organizing Collective Effort Makro
Struktur
Pimpinan Penyandang Disabilitas
Hasil
Tindak Lanjut
-Penanaman
Kesadaran -Pendidikan -Pelatihan dan keterampilan
- Pemberian bantuan
modal bagi 12
Penyandang disabilitas
- Pengusulan bantuan
latihan dan keterampilan baik bagi relawan maupun
-Kesadaran keluarga
penyandang disabilitas, kemandirian penyandang disabilitas mengurus diri -Ketrampilan bikin keset, bunga2an, 2 Penyandang disabilitas disekolahkan di SLB temanggung
Reward Intrinsic Reward Intrinsic & Ekstrinsic/
Kementerian Sosial RI
asupan gizi yang cukup, yang sebelumnya
dimasak di Orsos Kasih Sayang, kemudian
di diantarkan oleh relawan ke
rumah-rumah penyandang disabilitas setiap
harinya.
Kedua yaitu memberikan bimbingan dan pendampingan terhadap penyandang
disabilitas dengan berbasis keluarga.
Pendampingan ini sifatnya lebih pada
pendampingan secara personal dengan
mengutamakan penumbuhan kesadaran.
Penumbuhan kesadaran dilakukan
terhadap orang tua penyandang disabilitas
untuk sekaligus berperan serta mendorong
anaknya bisa mandiri. Pendampingan
berbasis keluarga yang dilakukan lebih
ditekankan pada pendekatan secara
personal ke rumah-rumah. Meskipun pihak
keluarga sempat menolak untuk didatangi.
Hasilnyapun juga cukup
menggembirakan, mereka yang tadinya
tidak mau mandi, tidak mengetahui cara
merawat diri, menjadi bisa hidup mandiri
minimal bisa mandi sendiri, mencuci baju
sendiri, menjaga kebersihan diri, awalnya
tidak mau dandan akhirnya mau
berdandan.
Sedangkan untuk menunjang
tersebut, pihak BBRSBG memberikan
sabun, pasta gigi, sikat, gayung, bedak,
minyak wangi pada penyandang
disabilitas. Hal ini dimaksudkan dengan
tujuan penyandang disabilitas mampu
merawat dirinya sendiri, menjaga
kesehatan dan kebersihan tubuh, bisa
melakukan aktivitas di rumah seperti
membersihkan rumah, mencuci piring,
bersosialisasi dengan orang. Namun,
tentunya juga memerlukan bantuan dan
dampingan dari pihak orang tua maupun
keluarga. Selain itu bagi penyandang
disabilitas dewasa juga diberikan hewan
ternak kambing oleh pihak BBRSBG
Temanggung, agar mereka punya
kesibukan di rumah. Ada juga penyandang
disabilitas yang telah menikah dengan
sesama penyandang disabilitas, namun
anak mereka juga normal. Pendampingan
dilakukan terhadap penyandang disabilitas
yang telah menikah tersebut dengan cara
memberikan pemahaman pengertian
berkeluarga, cara-cara merawat dan
mendidik anaknya.
Ketiga, pemberian pendidikan dilakukan melalui kegiatan membaca,
menulis, mewarnai, sholat dan mengaji.
Kegiatan tersebut dilakukan di Orsos
Kasih Sayang Setiap hari minggunya,
dengan didampingi oleh relawan
pendamping di Orsos Kasih Sayang.
Tujuan dari kegiatan tersebut, penyandang
disabilitas bisa membaca, menulis,
mengenal warna, bisa sholat dan
pembinaan akhlak kepada mereka.
Keempat, pelatihan, merupakan peran edukatif yang paling spesifik, karena
hal tersebut melibatkan bagaimana
sesuatu.23 Kegiatan Pelatihan ketrampilan
membuat keset, merangkai bunga,
gantungan kunci, jepitan rambut, bando
rambut, bros jilbab, sulak rafia, anyaman
parsel, tempat tisu, dan menghias guci.
Hasilnya keterampilan membuat
keset lumayan bagus dan banyak,
ketrampilan membuat bunga-bungaan,
bros, gantungan kunci, jepitan rambut,
cukup bagus dan hasilnya juga banyak
terjual waktu ada kunjungan-kunjungan
bakti sosial dari berbagai instansi dan
masyarakat, serta ketika ada bazar. Untuk
keterampilan seperti tempat tisu, bando
rambut, menghias guci, dan anyaman
terkendala masalah bahan selain itu tidak
semua relawan selalu hadir di setiap hari
minggu untuk pendampingan.
Program-program tersebut
disesuaikan dengan kemampuan
penyandang disabilitas, mengingat
penyandang disabilitas intelektual adalah
yang perlu diberdayakan melalui pelatihan,
sisanya yang mereka dibilang idiot dan
tidak mampu bahkan berat diberi
phisyotherapi terutama anak usia balita dan sedang dalam masa pertumbuhan,
dilakukan setiap hari selasa dan kamis
sebelumnya namun sudah berakhir pada
Desember 2012.
Dari 132 data penyandang disabilitas
yang bisa dan mau datang ke Orsos
23
Ibid., Hal: 590
awalnya sebanyak 16 orang, dua
diantaranya dibawa ke Temanggung untuk
sekolah, dua lagi tidak aktif, dan sisanya
12 orang masih aktif. Sedangkan
penyandang disabilitas yang lainnya ada
kesibukan sendiri di rumah seperti
memelihara ternak, pergi ke sawah, kerja
bangunan, fisik yang tidak memungkinkan
untuk pergi ke Orsos Kasih Sayang,
sisanya karena akses jalan ke Orsos yang
cukup jauh dari rumah mereka dan mereka
tidak ada yang mengantarkan.
12 orang yang aktif di Orsos Kasih
Sayang ini diusulkan oleh pihak pengurus
untuk dikasih modal terkait keberlanjutan
akan kemahiran mereka berketerampilan,
dan hasilnya telah di respon oleh
pemerintah pusat untuk dikasih bantuan
modal sebesar Rp. 2.500.000,00/orang.
Untuk penggunaan modal tersebut terkait
penggunaannya untuk pembelian bahan
dan pemasaran hasilnya tetap didampingi
oleh pihak Orsos Kasih Sayang.
Kesimpulan dan Saran
1. Pembahasan relasi relawan sosial dan
penyandang disabilitas dalam struktur
mikro menunjukkan, motif yang
mendasari dari kesediaan relawan sosial
dalam penanganan penyandang disabilitas
melalui kegiatan pemberdayaan di Orsos
Kasih Sayang dikarenakan adanya motif
jiwa sosial tinggi yang dimiliki oleh para
relawan. Yaitu keinginan agar rantai
penyebab disabilitas dapat terputus, dan
penyandang disabilitas di desanya dapat
mandiri.
2. Otoritas yang dimiliki pimpinan
digunakan untuk menjalankan organisasi.
Meskipun keberadaan pimpinan bukan
atas pilihan anggota yang tergabung dalam
Orsos, namun relawan tetap menjalankan
perintah organisasi. Hal ini dikarenakan
selain adanya motif ekstrinsic, mayoritas yang menjadi relawan disini adalah ibu-ibu
dan mereka menganggap pimpinan atau
yang menjadi ketua berasal dari tunjukan
Dinsos.
Bagi mereka perintah dari ketua
harus dilaksanakan karena kewenangan
yang dimiliki oleh ketua tersebut. Dari
situlah kewenangan yang dimiliki oleh
pimpinan menjadi basic dalam
mengorganisasikan kinerja kolektif
relawan dalam organisasi. Hal tersebut
menunjukkan bahwa kekuasaan yang
dimiliki pimpinan adalah tidak
membangun dan justru membuat
pertukaran menjadi tidak seimbang yang
mengakibatkan terjadilah perombakan
pengurus.
3. Proses pemberdayaan yang berlangsung
didalam Orsos Kasih Sayang ini karena
didalamnya terdapat reward intrisik dan ekstrinsik, ini berarti dengan adanya
pertukaran semakin memperkuat
pemberdayaan yang kemudian bisa
semakin dikembangkan. Kegiatan dalam
pemberdayaan dan rehabilitasi sosial
penyandang disabilitas diharapkan dapat
memungkinkan penyandang disabilitas
mandiri minimal untuk merawat diri dan
mandiri secara sosial ekonomi untuk
jangka panjang bagi mereka yang bisa
diberdayakan.
Pelatihan dan keterampilan
relawan menjadikan kinerja relawan lebih
bersemangat dalam melakukan
pendampingan. Sehingga perlu diupayakan
usaha-usaha lanjutan untuk memotivasi
kinerjanya. Karena mereka merupakan
bagian dari proses terwujudnya sebuah
proyek pemberdayaan, baik bagi
penyandang disabilitas khususnya dan
jangka panjang untuk keberlanjutan
pemberdayaan berbasis masyarakat di
Desa Krebet. Melihat peran perempuan
tersebut, mereka memegang peran yang
strategis dalam terwujudnya sebuah
pemberdayaan, alam mengupayakan
kemandirian bagi penyandang disabilitas.
Saran yang kemudian dapat
diberikan dengan mempertimbangkan
masa depan organisasi sebagai
percontohan nasional pertama yang ada di
kabupaten Ponorogo. Maka terkait dengan
efektifitas dalam pengelolaan dan
keberlanjutan organisasi, dapat dilakukan
dengan memperjelas struktur
pengurus dan divisi-divisinya di orsos.
Memperhatikan ketertiban dalam
administrasi Orsos. Seminimal mungkin
dalam waktu 2 atau 3 bulan sekali
diadakan briefing, rapat koordinasi, transparansi, dan evaluasi dalam kinerja
organisasi dengan melibatkan semua
anggota sehingga tidak menimbulkan
kecemburuan sosial.
Membentuk perkumpulan khusus
perempuan untuk mengembangkan
kegiatan pelatihan dan keterampilan
dengan melibatkan masyarakat setempat
yang diorientasikan pada perkembangan
home industry di lingkungan Desa Krebet. Dinas sosial perlu mengupayakan
perkembangan Orsos melalui
pendampingan dan pengarahan yang
berkelanjutan. Dinas UMKM dapat
memberikan bantuan pelatihan
ketrampilan dan manajemen untuk
orientasi kewirusahaan secara
berkelanjutan khususnya untuk home
industry bagi penyandang disabilitas dan relawan sosial. Bagi penerima manfaat
(relawan, penyandang disabilitas,
keluarga) kegiatan industri ini bisa
diorientasikan untuk kepentingan usaha
bagi relawan dan penyandang disabilitas
dibawah naungan Orsos untuk pemasaran
dan perrmodalan. Sedikit banyak kegiatan
ini akan memberikan keuntungan dengan
sendirinya dalam mengusahakan
kesejahteraan.
Teori Pertukaran Peter M. Blau
Berlaku dalam analisis penelitian Relasi
relawan Sosial dan Penyandang Disabilitas
dalam Proses Pemberdayaan di Orsos
Kasih Sayang Desa Krebet Kecamatan
Jambon Kabupaten Ponorogo. Bagi
akademisi yang ingin melanjutkan
penelitian ini, bisa diadakan penelitian
tindak lanjut terkait kinerja pengurus yang
baru dengan melihat dari perkembangan
kegiatan pemberdayaan, pola
strukturasinya dan menganalisisnya dari
sisi pemberdayaan, agen, dan struktur yang
berperan dalam organisasi tersebut. Selain
itu teori pertukaran ini juga bisa
diaplikasikan untuk melihat beragam
pertukaran yang terjadi didalam struktur
masyarakat kita sehari-hari yang terkadang
tanpa disadari, serta dapat digunakan
untuk kepentingan pengembangan teori
pertukaran itu sendiri.
Daftar Pustaka
Data Profil Desa Krebet. 2011.
Data Orsos Kasih Sayang.. 2011.
Edwards. Steven D. 2005. Disability: Definition, Value and Identity. New york: Redcliffe Publishing.
Jim Ife dan Frank Toseriro. 2008.
Community Development. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Miller, George A. dan Grusky, Oscar. 1970. The Sociology of Organizations. New York: The Free Press.
Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Salim, Agus. 2006. Teori dan Pardigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Yin, Robert K. 2008. Studi Kasus: Desain dan Metode. Yogyakarta: Raja Grafindo Persada.
Soeharto, Edi. Penerapan Kebijakan Publik bagi Masyarakat dengan Kebutuhan Khusus, Pengalaman Kementerian Sosial, disampaikan pada diskusi terbatas . Pusat Kajian Manajemen Pelayanan LAN RI di Hotel SahiraBogor, 9-10 Oktober 2010.
Ageda. 2011. Disability in Southeast Asian Countries. Diakses pada http://www2.agendaasia.org/index.p
hp/information/disability-in- asean/88-disability-in-southeast-asian-countries. Diakses Pada
Tanggal 10 Juni 2013 Pukul: 21:34 WIB.
Wardhani Nugroho, Hilmia. 2012. Yuk Merengkuh tangan Penyandang Disabilitas. Dikases pada
http://benitoramio- nugroho.blogspot.com/2012/05/yuk-merengkuh-tangan-penyandang.html . Sumber (jpnn.com, 11/4/2012). Diakses pada tanggal 25 Februari 2013. Pukul: 09:00 WIB.
Undang-Undang RI No. 4 Tahun 1997.
Tentang Penyandang Cacat. Diakses Pada World Wide Web At:
http://adgi.or.id/wp- content/uploads/2011/10/Undang- Undang-tahun-1997-04-97-
TENTANG-PENYANDANG-CACAT.pdf. Diakses Pada Tanggal: 4 Desember 2012 Pukul. 14:33 WIB.
Febriansyah. 2009. Menjadi Relawan di Australia. Diakses pada World Wide
Web At: