• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip Produksi Distribusi Dan Konsumsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Prinsip Produksi Distribusi Dan Konsumsi"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PRINSIP PRODUKSI, DISTRIBUSI, DAN KONSUMSI DALAM ISLAM

Oleh : Choiruddin Nadir Dosen Pengampu :

Masruchin, M.E.i

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARI’AH FAKULTAS SYARI’AH

INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAI BAFA) TAMBAK BERAS JOMBANG

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

Seiring dengan berkembangnya sistem ekonomi Islam di era globalisasi ini, maka sudah saatnya ekonomi liberal dengan model produksi kapitalistik menengok model ekonomi yang lain, seperti ekonomi Shari’ah, karena memiliki konsep yang lebih adil dan prudent. Dengan adanya ekonomi Shari’ah, kita bisa mengembangkan semua sistem ekonomi dengan sistem ekonomi yang berbasis Islami. Mulai dari prinsip produksi, distribusi, dan konsumsi yang berbasis Islami.

Karena prinsip produksi yang berbasis Shari’ah mempunyai peranan penting dalam menentukan taraf hidup manusia dan kemakmuran suatu bangsa. Al-quran telah meletakkan landasan yang sangat kuat terhadap produksi. Dalam Al-quran dan Sunnah Rosul banyak dicontohkan bagaimana umat Islam diperintahkan untuk bekerja keras dalam mencari penghidupan agar mereka dapat melangsungkan kehidupannya dengan lebih baik, seperti dalam (QS Al-Qashash [28]: 73)

Yang artinya sebagaimana berikut :

“supaya kamu mencari karunia Allah, mudah-mudahan kamu bersyukur.”

Ayat diatas menunjukkan, bahwa mementingkan kegiatan produksi merupakan prinsip yang paling mendasar dalam ekonomi Islam. Keunikan konsep ekonomi Islam ini juga untuk kesejahteraan ekonomi yang mempertimbangkan kesejahteraan umum yang lebih luas yang menekankan pada persoalan moral, pendidikan, agama, dan persoalan lainnya. Kesejahteraan yang dimaksudkan M.A. Mannan adalah bertambahnya pendapatan yang diakibatkan oleh peningkatan produksi dari pemanfaatan sumber daya secara maksimal, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam dalam proses produksi. Perbaikan sistem produksi dalam Islam, tidak hanya berarti peningkatan pendapatan yang dapat di ukur dengan uang, tetapi juga perbaikan dalam memaksimalkan pemenuhan kebutuhan manusia dengan tetap memperhatikan tuntunan Islam dalam konsumsi.1

Dalam sistem ekonomi Islam, prinsip distribusi merupakan penyaluran harta yang ada, baik dimiliki oleh pribadi atau umum (publik) kepada pihak yang berhak menerima yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan Shari’at.

(3)

Dan didalam sistem ekonomi Islam ada juga yang namanya prinsip konsumsi, didalam teori ekonomi, konsumsi adalah sebuah proses kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Dalam teori ini ada pula yang dinamakan dengan kebutuhan, baik itu bersifat fisik maupun spiritual. Islam sangat mementingkan keseimbangan kebutuhan fisik dan nonfisik yang didasarkan atas nilai-nilai Shari’ah. Seorang muslim untuk mencapai tingkat kepuasan harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu barang yang di konsumsi halal, baik secara zat maupun cara memperolehnya, tidak bersikap isrof (royal) dan tabzir (sia-sia). Oleh karena itu, kepuasan seorang Muslim tidak didasarkan banyak sedikitnya barang yang dikonsumsi, tetapi berdasarkan atas berapa nilai ibadah yang didapatkan dari yang dikonsumsinya.2

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari produksi, distribusi, dan konsumsi dalam Islam?

2. Apa saja tujuan dan faktor dari prinsip produksi, distribusi, dan konsumsi dalam Islam?

C. Tujuan penulisan

1. Untuk memberikan suatu pengertian tentang produksi, distribusi, dan konsumsi dalam Islam.

2. Mengetahui tujuan dan faktor dari prinsip produksi, distribusi, dan konsumsi dalam Islam.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Produksi dalam Islam

Produksi adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan barang atau jasa yang kemudian dimanfaatkan oleh konsumen. Secara teknis, produksi adalah proses mentransformasikan dari input menjadi output. M.N Siddiqi berpendapat, bahwa

(4)

produksi merupakan penyediaan barang atau jasa dengan memperhatikan nilai keadilan dan kemaslahatan bagi masyarakat.

Kegiatan produksi dan konsumsi merupakan sebuah mata rantai yang saling berkaitan satu sama lainnya. Oleh karena itu, kegiatan produksi harus sejalan dengan kegiatan dengan kegiatan konsumsi. Misalnya, adanya keharusan mengkonsumsi makanan dan minuman halal serta pelarangan mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram. Kegiatan produksi juga harus sejalan dengan Shari’at, yakni hanya memproduksi makanan dan minuman yang halal.3

Dan menurut Kahf mendefinisikan kegiatan produksi dalam prespektif Islam sebagai usaha manusia untuk memperbaiki tidak hanya kondisi fisik materialnya, tetapi juga moralitas, sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup sebagaimana digariskan dalam agama Islam, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.

1. Prinsip-prinsip produksi

Pada prinsipnya kegiatan produksi terkait seluruhnya dengan shari’at Islam, di mana seluruh kegiatan produksi harus sejalan dengan tujuan dari konsumsi itu sendiri. Konsumsi seorang muslim dilakukan untuk mencari falah (kebahagiaan) demikian pula produksi dilakukan untuk menyediakan barang dan jasa guna

falah tersebut. Di bawah ini ada beberapa implikasi mendasar bagi kegiatan produksi dan perekonomian secara keseluruhan, di antaranya:

a. Seluruh kegiatan produksi terikat pada tataran nilai dan teknikal yang secara Islami.

Sejak dari kegiatan mengorganisir factor produksi, proses produksi hingga pemasaran dan konsumen pelayanan kepada konsumen semuanya harus mengikuti moralitas Islam. Metwally (1992) mengatakan ”perbedaan dari perusahaan-perusahaan non Islami tak hanya pada tujuannya, tetapi juga pada kebijakan-kebijakan ekonomi dan strategi pasarnya”. Produksi barang dan jasa yang dapat merusak moralitas dan menjauhkan manusia dari nilai-nilai religius tidak akan diperbolehkan. Terdapat lima jenis kebutuhan yang dipandang bermanfaat untuk mencapai falah, yaitu : 1. Kehidupan, 2. Harta, 3. Kebenaran, 4. Ilmu pengetahuan dan 5. Kelangsungan keturunan. Selain itu Islam juga mengajarkan adanya skala prioritas (dharuriyah, hajjiyah dan tahsiniyah) dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi serta melarang sikap berlebihan, larangan ini juga berlaku bagi segala mata rantai dalam produksinya.

(5)

lingkungan sosial dan lingkungan hidup dalam masyarakat dalam skala yang lebih luas. Selain itu, masyarakat juga berhak menikmati hasil produksi secara memadai dan berkualitas. Jadi produksi bukan hanya menyangkut kepentingan para produsen (stake holders) saja tapi juga masyarakat secara keseluruhan (stake holders). Pemerataan manfaat dan keuntungan produksi bagi keseluruhan masyarakat dan dilakukan dengan cara yang paling baik merupakan tujuan utama kegiatan ekonomi.

c. Permasalahan ekonomi muncul bukan saja karena kelangkaan tetapi lebih kompleks. Masalah ekonomi muncul bukan karena adanya kelangkaan sumber daya ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan manusia saja, tetapi juga disebabkan oleh kemalasan dan pengabaian optimalisasi segala anugerah Allah, baik dalam bentuk sumber daya alam maupun manusia. Sikap tersebut dalam Al-quran sering disebut sebagai kezaliman atau pengingkaran terhadap nikmat Allah. Hal ini akan membawa implikasi bahwa prinsip produksi bukan sekedar efisiensi, tetapi secara luas adalah bagaimana mengoptimalisasikan pemanfaatan sumber daya ekonomi dalam kerangka pengabdian manusia kepada Tuhannya.4

Kegiatan produksi dalam perspektif Islam bersifat global, sehingga produsen tidak hanya mengejar keuntungan maksimum saja. Produsen harus mengejar tujuan yang lebih luas sebagaimana tujuan ajaran Islam yaitu falah di dunia dan akhirat. Kegiatan produksi juga harus berpedoman kepada nilai-nilai keadilan dan kebajikan bagi masyarakat. Prinsip pokok produsen yang Islami, yaitu :

1.) Memiliki komitmen yang penuh terhadap keadilan.

2.)Memiliki dorongan untuk melayani masyarakat sehingga segala keputusan perusahaan harus mempertimbangkan hal ini.

3.) Optimasi keuntungan diperkenankan dengan batasan kedua prinsip di atas.5

2. Tujuan produksi

Menurut Nejatullah Ash-Shiddiqi, tujuan produksi sebagai berikut: a. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan individu secara wajar.

b. Pemenuhan kebutuhan keluarga c. Bekal untuk generasi mendatang

d. Bantuan kepada masyarakat dalam rangka beribadah kepada Allah.

e. Menurut Ibnu Khaldun dan beberapa ulama lainnya berpendapat, bahwa kebutuhan manusia dapat digolongkan kepada tiga kategori, yaitu:

dharuriyah, hajjiyat, dan tahsiyyat.

4 Adiwarman, Karim, Ekonomi Mikro Islami, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada 2007), 58

(6)

3. Faktor-faktor produksi

a. Tanah dan segala potensi ekonomi di anjurkan Al-Quran untuk di olah dan tidak dapat dipisahkan dari proses produksi.

b. Tenaga kerja terkait langsung dengan tuntutan hak milik melalui produksi. c. Modal, manajemen, dan teknologi.

B. Pengertian Distribusi dalam Islam

Distribusi dalam ekonomi Islam mempunyai makna yang lebih luas mencakup pengaturan kepemilikan, unsur-unsur produksi, dan sumber-sumber kekayaan. Dalam ekonomi Islam sudah di atur kaidah distribusi pendapatan, baik antara unsur-unsur produksi maupun antara individu dan masyarakat dan anggota perserikatan, maupun distribusi dalam sistem jaminan sosial.

Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk memiliki kekayaan, tetapi tidak membiarkan manusia begitu saja untuk memiliki semua apa yang dia suka, dan menggunakan cara apa saja yang mereka kehendaki. Kekayaan adalah suatu hal yang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah cara pendistribusiannya, karena jika distribusi kekayaan itu tidak tepat maka sebagian kekayaan itu akan beredar di antara orang kaya saja. Akibatnya, banyak masyarakat yang menderita karena kemiskinan. Oleh karena itu, kesejahteraan rakyat tidak sepenuhnya tergantung pada hasil produksi, tetapi juga tergantung pada distribusi pendapatan yang tepat.6

Sistem ekonomi yang berbasis islam menghendaki bahwa dalam hal pendistribusian harus berdasarkan dua sendi, yaitu sendi kebebasan dan keadilan kepemilikan. Kebebasan di sini adalah kebebasan dalam bertindak yang di bingkai oleh nilai-nilai agama dan keadilan, tidak seperti pemahaman kaum kapitalis yang menyatakannya sebagai tindakan membebaskan manusia untuk berbuat dan bertindak tanpa campur tangan pihak manapun, tetapi sebagai keseimbangan antara individu dengan unsur materi dan spiritual yang dimilikinya, keseimbangan antara individu dan masyarakat serta antara suatu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya.

Keberadilan dalam pendistribusian ini tercermin dari larangan dalam Al-quran agar supaya harta kekayaan tidak diperbolehkan menjadi barang dagangan yang hanya beredar di antara orang-orang kaya saja, akan tetapi diharapkan dapat memberi kontribusi kepada kesejahteraan masyarakat sebagai suatu keseluruhan.7

6 Rozalinda, Ekonomi Islam ,131-132

(7)

1. Tujuan Distribusi dalam Ekonomi Islam

a. Tujuan dakwah, yakni dakwah kepada islam dan menyatukan hati kepadanya. b. Tujuan pendidikan, tujuan pendidikan dalam distribusi adalah seperti dalam

surat At-Taubah ayat 103 yang bermaksud menjadikan insan yang berakhlaq karimah.

c. Tujuan sosial, yakni memenuhi kebutuhan masyarakat serta keadilan dalam distribusi sehingga tidak terjadi kerusuhan dan perkelahian.

d. Tujuan ekonomi, yakni pengembangan harta dan pembersihannya, memberdayakan SDM, kesejahteraan ekonomi dan penggunaan terbaik dalam menempatkan sesuatu.

2. Etika Distribusi

a. Selalu menghiasi amal dengan niat ibadah dan ikhlas. b. Transparan, dan barangnya halal serta tidak membahayakan. c. Adil, dan tidak mengerjakan hal-hal yang dilarang di dalam islam. d. Tolong menolong, toleransi, dan sedekah.

e. Tidak melakukan pameran barang yang menimbulkan presepsi. f. Tidak pernah lalai beribadah karena kegiatan distribusi.

g. Larangan ikhtikar, ikhtikar dilarang karena akan menyebabkan kenaikan harga.

h. Mencari keuntungan yang wajar, maksudnya kita dilarang mencari keuntungan yang semaksimal mungkin yang hanya mementingkan pribadi sendiri tanpa memikirkan orang lain.

i. Distribusi kekayaan yang meluas, islam mencegah penumpukan kekayaan pada kelompok kecil dan menganjurkan distribusi kekayaan kepada seluruh lapisan masyarakat.

j. Kesamaan Sosial, maksudnya dalam pendistribusian tidak ada diskriminasi atau berkasta-kasta, semuanya sama dalam mendapatkan ekonomi.8

C. Pengertian Konsumsi dalam Islam

Salah satu persoalan penting dalam kajian ekonomi islam adalah konsumsi. Konsumsi berperan sebagai pilar dalam kegiatan ekonomi seseorang (individu), perusahaan maupun Negara. Konsumsi secara umum diformulasikan dengan : “pemakaian dan pengunaan barang-barang dan jasa, seperti pakaian, makanan, minuman, rumah, peralatan rumah tangga, kendaraan, alat-alat hiburan, media cetak dan elektronik, jasa telepon, jasa konsultan hukum, belajar/kursus, dsb”.

Berangkat dari pengertian ini, maka dapat dipahami bahwa konsumsi sebenarnya tidak identik dengan makan dan minum dalam istilah teknis sehari-hari, akan tetapi juga meliputi pemanfaatan atau pendayagunaan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Namun, karena yang paling penting dan umum dikenal

(8)

masyarakat luas tentang aktifitas konsumsi adalah makan dan minum, maka tidaklah mengherankan jika konsumsi sering di identikan dengan makan dan minum.

Tujuan konsumsi adalah untuk mewujudkan maslahah duniawi dan ukhrowi. Maslahah duniawi ialah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, seperti makanan, minuman, pakaian, perumahan, kesehatan, dan pendidikan (akal). Kemaslahatan akhirat ialah terlaksananya kewajiban agama, seperti sholat dan haji. Artinya, manusia akan makan dan minum agar bisa beribadah kepada Allah. Manusia berpakaian untuk menutup aurat agar bisa sholat, haji, bergaul dan terhindar dari kemaksiatan.

Sebagaimana disebut di atas, banyak ayat dan hadits yang berbicara tentang konsumsi, diantaranya Surat Al-A’raf ayat 31. Ayat ini tidak saja membicarakan makanan dan minuman, tetapi juga pakaian. Bahkan pada ayat selanjutnya ( ayat 33) dibicarakan tentang perhiasan.

Etika konsumsi menurut Naqvi adalah sebagai berikut: a. Adil (Equilibrium/Keadilan)

Kata ‘adl dapat di artikan seimbang (balance) dan setimbang (equilibrium). Atas sebab dasar itu ia menyebutkan konsep Al-’Adl dalam prespektif Islam adalah Keadilan Ilahi.

b. Free Will (Kehendak Bebas)

(9)

konsumsi merupakan antisipasi dari adanya keburukan yang ditimbulkan oleh barang tersebut.

e. Sederhana

Sederhana dalam konsumsi mempunyai arti jalan tengah dalam berkomunikasi. Di antara dua cara hidup yang ekstrim antara paham materialistis dan zuhud. Ajaran Al-Quran menegaskan bahwa dalam berkonsumsi manusia dianjurkan untuk tidak boros dan kikir.9

(10)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Dengan penjelasan yang ada di atas yang menerangkan tentang kondisi perekonomian pada zaman era globalisasi ini, sebaiknya ekonomi yang berbasis ekonomi liberal dengan model produksi kapitalistik menengok model ekonomi yang lain, seperti ekonomi Shari’ah, karena memiliki konsep yang lebih adil dan prudent. Dengan adanya ekonomi Shari’ah, kita bisa mengembangkan semua sistem ekonomi dengan sistem ekonomi yang berbasis Islami. Mulai dari prinsip produksi, distribusi, dan konsumsi yang berbasis Islami.

Dan didalam ekonomi Shari’ah ada tiga aspek yang juga berbasis Shari’ah/Islami, yaitu : produksi Islam, distribusi Islam, dan konsumsi Islam.

Adapun Produksi dalam Islam adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan barang atau jasa yang kemudian dimanfaatkan oleh konsumen. Secara teknis, produksi adalah proses mentransformasikan dari input menjadi output. M.N Siddiqi berpendapat, bahwa produksi merupakan penyediaan barang atau jasa dengan memperhatikan nilai keadilan dan kemaslahatan bagi masyarakat. Di dalam sistem produksi yang berbasis Islami ini juga ada banyak prinsip-prinsip, sebagaimana yang sudah tercantum di atas.

Dan Distribusi dalam islam mempunyai makna yang lebih luas mencakup pengaturan kepemilikan, unsur-unsur produksi, dan sumber-sumber kekayaan. Dalam ekonomi Islam sudah di atur oleh kaidah distribusi pendapatan, baik antara unsur-unsur produksi maupun antara individu dan masyarakat dan anggota perserikatan, maupun distribusi dalam sistem jaminan sosial. Dan di dalam sistem distribusi ini juga mempunyai banyak tujuan yang baik, sebagaimana yang sudah tertulis diatas.

Dan yang terakhir dari pembahasan kali ini adalah sistem konsumsi dalam Islam, konsumsi dalam Islam ini. Konsumsi berperan sebagai pilar dalam kegiatan ekonomi seseorang (individu), perusahaan maupun Negara. Konsumsi secara umum diformulasikan dengan: “pemakaian dan pengunaan barang-barang dan jasa, seperti pakaian, makanan, minuman, rumah, peralatan rumah tangga, kendaraan, alat-alat hiburan, media cetak dan elektronik, jasa telepon, jasa konsultan hukum, belajar/kursus, dsb”. Di dalam sistem konsumsi ini juga sudah tertera beberapa tujuan yang baik dalam ekonomi Islam, sebagaimana yang sudah tercantum diatas.

(11)

MA Mannan, Islamic Economic Theory And Practice A Comparative Study, India: Idarah Al-Adabiyah, 1988.

Rozalinda, Ekonomi Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014.

Karim, Adiwarman, Ekonomi Mikro Islami, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007. http://zfadly.blogspot.com produksi-konsumsi-dan-distribusi-dalam.html 14 Januari 2013.

Referensi

Dokumen terkait

8.. sumber daya manusia khususnya pendidikan. Pendidikan mempunyai peranan penting, bukan saja untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga dari hasil

Kajian ekonomi pembangunan mencakup lebih luas, selain berkaitan dengan pengalokasian sumber daya produktif yang langka secara efisien dan keberlangsungan pertu,buhan sumber daya

Ajaran agama Islam dalam perilaku ekonomi manusia dan bisnis Indonesia makin mendesak penerapannya bukan saja karena mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam,

Distribusi merupakan kegiatan yang fungsinya sangat bermanfaat bagi sektor ekonomi. Pengertian Distribusi menurut definisi para ahli mengatakan bahwa pengertian

Saat ini pendidikan Islam terus dihadapkan pada berbagai problema yang kian kompleks. Oleh karena itu, upaya berbenah diri melalui penataan sumber daya manusia

Pertumbuhan usaha sektor UMKM bukan diukur melalui capaian laba saja tetapi lebih pada peningkatan akses sumber daya yang semakin luas, pengelolaan sumber daya

Kelangkaan sumber daya alam atau alat pemuas kebutuhan terjadi karena beberapa faktor dibawah ini: Persediaan sumber daya alam yang terbatas.. Keterbatasan manusia mengolah sumber

Biaya peluang muncul karena sumber-sumber daya ekonomi bersifat terbatas sehingga memaksa manusia untuk melakukan pilihan dalam memenuhi kebutuhannya yang tentunya didasarkan pada skala