• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK KONSERVATISMA TERHADAP RELEVANSI NILAI INFORMASI AKUNTANSI DI INDONESIA DISERTASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DAMPAK KONSERVATISMA TERHADAP RELEVANSI NILAI INFORMASI AKUNTANSI DI INDONESIA DISERTASI"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

DI INDONESIA

DISERTASI

Oleh:

DARSONO

99/837/PS

PROGRAM DOKTOR AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

(2)

130

RINGKASAN

A. Pengantar

Relevansi nilai informasi akuntansi sangat rendah dan terjadi penurunan dari tahun ke tahun. Hasil reviu Lev (1989) menunjukkan relevansi nilai laba bersih sekitar 4-7 persen dan Barth et al. (2001) melaporkan relevansi nilai laba bersih paling tinggi sebesar 10 persen. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan kondisi hampir sama. Selama kurun waktu 1995-2004, relevansi nilai informasi akuntansi pada perusahaan pemanufakturan berkisar 2,1-8,5 persen (Lako, 2006).

Penurunan relevansi nilai buku ekuitas dan laba bersih dilaporkan oleh Collins et al. (1997), Francis dan Schipper (1999), serta Lev dan Zarowin (1999). Brown et al. (1999) menguji ulang data yang digunakan oleh Collins et al. (1997) dengan mendeflasi variabel-variabel penelitian untuk menghilangkan bias

pengukuran. Hasilnya konsisten dengan penelitian sebelumnya, relevansi nilai buku ekuitas bersama laba bersih menurun sebesar 0,3 persen per tahun selama kurun waktu 1958-1996. Gu (2007) memperkuat hasil penelitian di atas dan mendapat bukti baru bahwa relevansi nilai informasi akuntansi menurun semakin tajam sejak tahun 1970-an.

(3)

Hasil-hasil penelitian di Indonesia menunjukkan arah tidak konsisten. Penurunan relevansi nilai buku ekuitas dan laba bersih terjadi selama kurun waktu 1995-1998 (Mayangsari, 2004). Suwardi (2005) mendapatkan bukti bahwa

relevansi nilai buku ekuitas dan laba bersih meningkat selama tahun 1992-1994, 1996-1997, dan 1999-2001, namun menurun pada tahun 1995 dan 1998. Fluktuasi relevansi nilai informasi akuntansi dideteksi juga oleh Lako (2006). Relevansi nilai informasi akuntansi tahun 1997, 1999, 2001, dan 2003 menurun sedangkan tahun 1996, 1998, 2000, 2002, dan 2004 meningkat.

Penyebab rendah dan semakin menurun relevansi nilai informasi akuntansi adalah (Lo dan Lys, 2000; Givoly dan Hayn, 2000; 2002; Watts, 2003a; Monahan, 2005): (1) mengabaikan peran informasi akuntansi dinamis dalam penelitian, dan (2) praktik konservatisma yang semakin meningkat. Barth et al. (1998), Kothari (2001), serta Pope dan Wang (2005) menyatakan bahwa nilai buku ekuitas melengkapi laba dalam kajian relevansi nilai.

Peran informasi akuntansi dinamis penting dalam menilai harga saham (Lo dan Lys, 2000). Aset/perubahan aset direspon oleh investor (Ou, 1990; Park dan Pincus, 2001). Berbagai kelompok aset seperti aset lancar (Ou, 1990; Lev dan Thiagarajan, 1993; Seng dan Hancock, 2012), aset tetap (Kerstein dan kim, 1995; Cahan et al., 2000; Osborne dan Ingles, 2003), dan aset takberwujud (Sougiannis, 1994; Nelson, 2006; Camara, 2007) berasosiasi dengan harga saham.

The Association for Investment Management and Research (AIMR)

(4)

pada pelaporan laba komprehensif (Johnson et al., 1995; Kanagaretnam et al.,

2009; PSAK No. 1, revisi 2009). Hasil penelitian Chambers et al. (2007) menunjukkan sebelum penerapan laba komprehensif (data 1994-1997), laba komprehensif lain (other comprehensive income/OCI) tidak direspon oleh investor namun setelah mengadopsi laba komprehensif (data 1998-2003), OCI

menunjukkan relevansi nilai.

Menurut Givoly dan Hayn (2000) penurunan relevansi nilai informasi akuntansi disebabkan oleh sikap managemen yang konservatif dalam menyajikan statemen keuangan. Selama kurun waktu 1956-1998, konservatisma laba

meningkat. Dalam kondisi konservatif, nilai buku aset (laba) pada statemen

keuangan disajikan bias ke bawah, yaitu lebih rendah dari nilai ekonomik aset (laba ekonomik).

Konservatisma telah menjadi praktik yang lazim sejak 500 tahun lalu (Basu, 1997). Hingga kini belum diperoleh bukti empiris yang kuat tentang pengaruh konservatisma pada relevansi nilai informasi akuntansi (Balachandran dan Mohanram, 2011).

B. Tujuan Penelitian

(5)

komprehensif lain, dan informasi akuntansi dinamis. Selain itu diuji pula pengaruh konservatisma pada relevansi nilai informasi akuntansi.

C. Kajian Pustaka

1. Penilaian Harga Saham

Kajian relevansi nilai merupakan bagian dari analisis faktor fundamental. Fokus kajian relevansi nilai adalah menguji kebermanfaatan angka-angka statemen keuangan sebagai hasil proses akuntansi (Bernard, 1995). Keberadaan kajian relevansi nilai dapat ditelusur dari teori penilaian perusahaan. Menurut Holthausen dan Watts (2001), Beaver (2002), serta Jenkins dan Kane (2006) penilaian dapat dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu; (1) pendekatan neraca, (2) pendekatan laba, dan (3) pendekatan hubungan linear nilai pasar saham dengan nilai buku ekuitas dan laba akuntansi (disebut juga diskonto laba residual).1

2. Relevansi Nilai Informasi Akuntansi

Penelitian relevansi nilai menjadi bidang kajian yang banyak dilakukan sejak dikenalkan oleh Ohlson (1995) dan didukung oleh Bernard (1995). Kajian relevansi nilai berasumsi bahwa tujuan utama statemen keuangan adalah untuk (1) mengukur nilai ekuitas atau mengukur asosiasi dengan nilai ekuitas, atau (2) menyajikan informasi yang relevan untuk menilai ekuitas. Beaver (1998) menggambarkan

1

Setiap penulis membagi model penilaian berbeda-beda. Pembagian selain di atas dilakukan juga oleh Liu et al. (2002). Mereka mengindentifikasi model penilaian berdasarkan pada aliran kas atau akrual sebagai berikut: (1) accrual flows, (2) accrual stocks, (3) cash flows, (4) forward looking information, (5) intrinsic value measures, dan (6) sum of forward earnings. Palepu et al.,

(2004) membagi metoda penilaian menjadi; (1) diskonto terhadap dividen, (2) penilaian

(6)

proses hubungan laba terhadap ekuitas ke dalam tiga urutan, yaitu (1) laba sekarang berguna untuk memprediksi laba masa depan, (2) laba masa depan adalah indikator kemampuan membayar atau membagi dividen, dan (3) dividen masa depan

didiskontokan ke nilai sekarang untuk menentukan nilai ekuitas.

Angka-angka statemen keuangan dikatakan memiliki “relevansi nilai” jika terdapat hubungan (related) dengan harga saham (Francis dan Schipper, 1999; Barth et al., 2001). Terdapat dua model untuk menguji relevansi nilai informasi akuntansi, yaitu model return dan model harga (Barth et al., 2001; Kothari dan Zimmerman, 1995). Model return digunakan untuk menguji kandungan informasi tepat pada saatnya (in timely basis) dan cocok untuk studi peristiwa (event studies) (Fama, 1991). Barth et al. (2001) menggolongkan model return dengan studi peristiwa ke dalam relevansi keputusan, bukan relevansi nilai.

Pada awalnya relevansi nilai (model harga) dianggap sebagai pesaing

relevansi keputusan (model return), tetapi kemudian mulai dipahami bahwa kedua model tersebut saling melengkapi (Kothari dan Zimmerman, 1995; Barth et al.,

2001). Sebuah penelitian sering menggunakan dua pendekatan secara bersamaan, misalnya penelitian oleh Marquardt dan Wieldman (2004), Ali dan Hwang (2000) serta Lev dan Zarowin (1999).

3. Model Harga

(7)

]

Persamaan di atas memperlihatkan harga sebagai nilai sekarang dari serangkaian dividen harapan (expected dividends) yang dibayarkan.

Dalam model harga, hubungan nilai buku ekuitas dengan laba dan dividen harus bersifat hubungan surplus bersih (clean surplus relationship). Semua

komponen pembentuk laba harus dilaporkan pada statemen laba-rugi yang disebut laba komprehensif. Nilai buku akhir tahun berasal dari nilai buku ekuitas awal tahun ditambah laba dikurangi pembagian laba (dividen). Persamaan pertama dan hubungan surplus bersih tersebut membentuk model harga Ohlson (1995). Dengan demikian, nilai ekuitas dapat dinyatakan sebagai berikut:

NBEt = nilai buku ekuitas pada tanggal t

LBKt = laba komprehensif tahun berjalan It = informasi lain.

(8)

β1: β2: β3 = slope/koefisien

εt = kesalahan residual.

Persamaan 2 menjadi persamaan dasar penelitian relevansi nilai dan telah digunakan oleh banyak peneliti, diantaranya Collins et al. (1997), Barth et al.

(1998), Ou dan Sepe (2002), Landsman et al. (2007), Gu (2007), dan Landsman et al. (2011). Di Indonesia, model tersebut digunakan dalam penelitian Sasongko (2008) serta Almilia dan Sulistyowati (2007).

4. Komponen Laba Komprehensif

Model harga mensyaratkan penyajian laba komprehensif. Laba komprehensif disebutkan dalam SFAC No. 6 paragraf 70 sebagai berikut:

Laba komprehensif adalah perubahan ekuitas dari perusahaan bisnis selama suatu perioda dari transaksi dan kejadian-kejadian lain dan sejenisnya (circumstances) dari sumber nonpemilik. Hal tersebut meliputi semua perubahan ekuitas selama suatu perioda kecuali yang dihasilkan dari investasi oleh para pemilik dan distribusi kepada para pemilik.

Cheng et al. (1993) menguji relevansi nilai 3 tingkatan laba akuntansi, yaitu laba operasi, laba bersih, dan laba komprehensif. Laba operasi lebih relevan dibandingkan laba bersih, dan laba bersih lebih relevan dibandingkan laba komprehensif. Kanagaretnam et al. (2009) mendapatkan bukti di Kanada dalam kurun waktu 1998-2003, laba komprehensif lebih relevan dibandingkan dengan laba bersih untuk memprediksi aliran kas. Strong dan Walker (1993) membagi laba komprehensif ke dalam tiga komponen yang disebut preexceptional earnings,

(9)

determinasi sebesar 20 persen. Landsman et al. (2007) mendapatkan bukti bahwa

total exclusions (laba bersih dikurangi laba operasi IBES), pos khusus (laba bersih

dikurangi laba operasi), dan other exclusions (laba operasi dikurangi laba operasi IBES) memiliki relevansi nilai. Laba komprehensif terdiri atas laba bersih

ditambah laba komprehensif lain.

Sebelum diterapkan IFRS (sebelum PSAK No 1 revisi 2009), standar akuntansi di Indonesia mewajibkan statemen laba bersih. Akibatnya banyak informasi yang menerobos menjadi bagian nilai buku ekuitas tanpa melalui statemen laba-rugi, yang dinamakan pos surplus kotor. Pos surplus kotor tersebut adalah laba komprehensif lain. Pos-pos surplus kotor menurut pedoman penyajian statemen keuangan di Indonesia (SK Bapepam No. 06 tahun 2000 dan SE No. 2 tahun 2002) adalah:2 (a) selisih kurs karena penjabaran statemen keuangan, (b) selisih kurs tidak normal bilamana depresiasi mencapai 133 persen dari rata-rata tiga tahun terakhir, maka dapat dikapitalisasi, (c) selisih transaksi perubahan ekuitas perusahaan asosiasi, (d) laba (rugi) belum direalisasi dari efek tersedia untuk dijual, dan (e) selisih revaluasi aset tetap.

5. Sumber Daya Perusahaan

Menurut Lako (2006) dan Canibano et al. (2000) terdapat tiga kelompok pos neraca yang memiliki relevansi nilai, yaitu; (1) aset lancar operasi (current

2

PSAK No. 1 (revisi 2009) merinci pendapatan komprehensif lain pada paragraf 07, terdiri atas; (a) perubahan dalam surplus revaluasi, (b) keuntungan dan kerugian aktuarial atas program manfaat pasti, (c) keuntungan dan kerugian yang timbul dari penjabaran statemen keuangan dari entitas asing, (d) keuntungan dan kerugian dari pengukuran kembali aset keuangan yang dikategorikan

sebagai „tersedia untuk dijual‟, (e) bagian efektif dari keuntungan dan kerugian instrumen lindung

(10)

operating asset), (2) aset tetap, dan (3) aset takberwujud. Ketiga kelompok tersebut dinamakan akuntansi informasi dinamis (Lo dan Lys, 2000).

5.1. Aset Lancar Operasi. Aset lancar terdiri atas aset keuangan dan aset operasi.

Aset lancar operasi adalah aset lancar selain kas/bank dan investasi jangka pendek, sehingga aset lancar operasi terdiri atas piutang, sediaan barang, dan aset lancar lainnya (Fairfield et al., 2003). Peningkatan aset lancar operasi menunjukkan penambahan aset yang kurang produktif.

5.2. Aset Tetap. Investasi atau pengeluaran untuk pembelian aset tetap (capital

expenditure) adalah pertumbuhan aset tetap yang dapat meningkatkan kinerja

perusahaan di masa datang. Core et al. (2003) serta Kerstein dan Kim (1995) menyatakan bahwa pertumbuhan aset berhubungan erat dengan laba abnormal.

5.3. Aset Takberwujud. Keberadaan aset takberwujud direspon oleh investor ke

dalam dua arah, yaitu positif atau negatif (Ely dan Waymire, 1999). Respon positif terjadi bila aset takberwujud menunjukkan aset yang memiliki nilai tambah

sehingga meningkatkan harga saham, sedangkan respon negatif terjadi bila aset takberwujud merupakan biaya yang ditangguhkan pembebanannya. Penelitian Lako (2006) searah dengan hasil penelitian Canibano et al. (2000), yaitu aset

(11)

6. Konservatisma

Setiap standar akuntansi dan perusahaan memiliki tingkat konservatisma yang bervariasi (Xu dan Lu, 2008). Lo (2005) dan Juanda (2006) mengkonfirmasi bahwa praktik konservatisma terjadi juga di Indonesia.

Konservatisma telah mempengaruhi praktik akuntansi sejak 500 tahun yang lalu (Basu, 1997). Menurut Kam (1990) konservatisma di bidang akuntansi dapat ditelusur di Inggris sejak jaman pertengahan. Pada tahun 1920-an praktisi

perbankan di AS meminta agar statemen keuangan nasabah disajikan lebih konservatif agar tidak overstatement (melaporkan aset/laba lebih tinggi dari kenyataan). Selama 30 tahun terakhir praktik akuntansi semakin konservatif (Watts, 2003a) bahkan dengan aplikasi IFRS, konservatisma tetap dipraktikan (Hellman, 2008).

Konservatisma adalah prilaku melaporkan aset (pendapatan) lebih rendah dan kewajiban (biaya) lebih tinggi dari nilai ekonomiknya (Hendriksen dan Van-Breda, 1992; Suwardjono, 2005). Hal serupa dinyatakan dalam SFAC No. 2 paragraf 95

yang menyebutkan...”jika terdapat dua estimasi angka yang akan diterima/dibayar

di masa depan, maka konservatisma menghendaki angka yang digunakan adalah

nilai yang paling tidak optimis”.

Menurut Watts (2003b) konservatisma diukur dengan tiga pendekatan, yaitu aset bersih, hubungan laba terhadap return saham, laba dan akrual.3 Pendekatan

3

Wang et al. (2009) merinci metoda pengukuran konservatisma akuntansi. Mereka

mengelompokkan metoda pengukuran konservatisma, sebagai berikut: (1) Differential Timeliness

(12)

aset bersih dilakukan oleh Beaver dan Ryan (2000). Konservatisma diukur dengan cara membandingkan nilai buku ekuitas terhadap harga saham (selanjutnya

disingkat B/M). Semakin rendah rasio BM, maka semakin konservatif karena nilai buku ekuitas semakin jauh lebih rendah dari nilai pasar saham.

Pendekatan kedua dilakukan oleh Basu (1997). Konservatisma diukur dengan cara menghubungkan laba dengan return, yaitu melalui regresi perubahan laba yang dideflasi dengan harga pasar awal terhadap return yang dideflasi dari perubahan laba positif dan negatif. Koefisien (β3) menunjukkan konservatisma. Model Basu (1997) adalah sebagai berikut:

Xit / Pit-1 = α+ β1DRit + β2Rit + β3Rit*DRit + εt ………..………..(3)

Dalam hal ini,

Xit = laba per saham perusahaan i pada tahun t

Pit-1 = harga per saham perusahaan i pada awal perioda Rit = return perusahaan i untuk 12 bulan

DRit = variabel dummy, 0 bila Rit > 0, dan 1 bila Rit< 0.

εt= kesalahan residual.

Ball dan Shivakumar (2005) melakukan modifikasi terhadap model Basu (1997), dengan cara meregresi aliran kas operasi terhadap akrual.

Pendekatan ketiga, konservatisma diukur dengan cara membandingkan laba akuntansi dengan akrual. Givoly dan Hayn (2000; 2002) menyatakan bahwa tanda dan besaran akrual dalam jangka panjang menunjukkan konservatisma.

(13)

Konservatisma dalam model ini dideteksi dari akrual nonoperasi negatif (NNA), seperti pada persamaan berikut ini.

Cnit = -NAit = -(TAit-OAit) ... (4) Dalam hal ini,

Cn it = konservatisma perusahaan i perioda t

NA it = nonoperating accrual perusahaan i perioda t

TA it = total akrual perusahaan i perioda t, yaitu laba bersih + depresiasi –aliran kas dari operasi

OA it = operating accrualperusahaan i perioda t, yaitu ∆ piutang usaha + ∆ sediaan

barang + ∆ biaya dibayar di muka - ∆ hutang usaha -∆ hutang pajak.

D. Perumusan Hipotesis

Berdasarkan tinjauan pustaka dan hasil kajian seperti diuraikan di atas, dapat dirumuskan hipotesis-hipotesis di bawah ini.

1. Relevansi Nilai Ekuitas

Secara konsepsi informasi akuntansi mencerminkan sumber daya perusahaan, hak atas sumber daya perusahaan, dan perputaran sumber daya perusahaan. Hak atas sumber daya terdiri atas hak pemilik dan hak nonpemilik. Hak pemilik atas sumber daya perusahaan merupakan hak residual pemegang saham (Suwardjono, 2005).

(14)

pada nilai pasar perusahaan (Ohlson, 1995; Suwardi, 2005; Sasongko, 2008). Hipotesis relevansi nilai ekuitas sebagai berikut (dalam bentuk alternatif): H1 = Ekuitas berpengaruh positif terhadap nilai pasar perusahaan.

2. Relevansi Nilai Kinerja Perusahaan

Kinerja perusahaan dihasilkan dari perputaran aset perusahaan yang

membentuk nilai tambah. Kinerja perusahaan tercermin dari laba bersih. Chambers

et al. (2007) menyatakan bahwa laba inti (core earnings) berpengaruh pada nilai

saham dalam dua cara, yaitu (1) berpengaruh pada nilai buku ekuitas dan nilai pasar saham dollar-for-dollar, dan (2) laba inti abnormal dikapitalisasi dan berasosiasi dengan nilai pasar saham melalui muhibah harapan. Dalam

hubungannya dengan nilai pasar perusahaan, hipotesis tentang kinerja perusahaan sebagai berikut (dalam bentuk alternatif):

H2 = Kinerja perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai pasar perusahaan.

3. Relevansi Nilai Laba Komprehensif Lain

Laba komprehensif terdiri atas laba bersih dan laba komprehensif lain (OCI). OCI menunjukkan kinerja perusahaan selain pendapatan dan beban yang

(15)

Meskipun terdapat bukti yang saling bertentangan, secara konsepsi OCI berpengaruh pada nilai pasar perusahaan (Johnson et al., 2005). Dalam

hubungannya dengan nilai pasar perusahaan, hipotesis tentang OCI sebagai berikut (dalam bentuk alternatif):

H3 = Laba komprehensif lain berpengaruh positif terhadap nilai pasar perusahaan.

4. Relevansi Nilai Informasi Akuntansi Dinamis

Informasi akuntansi dinamis adalah informasi dari pos-pos statemen keuangan selain nilai buku ekuitas dan laba bersih, yaitu aset dan liabilitas.

Berbagai kelompok aset seperti aset lancar (Ou, 1990; Lev dan Thiagarajan, 1993; Seng dan Hancock, 2012), aset tetap (Kerstein dan kim, 1995; Cahan et al., 2000; Osborne dan Ingles, 2003), dan aset takberwujud (Sougiannis, 1994; Nelson, 2006; Camara, 2007) berasosiasi dengan harga saham.

4.1. Pertumbuhan Aset Lancar Operasi. Aset lancar operasi diperlukan untuk

mendukung dan meningkatkan aktivitas utama perusahaan. Ou (1990) serta Lev dan Thiagarajan (1993) mendapatkan bukti bahwa aset lancar operasi dipersepsi sebagai sediaan potensi ekonomik yang belum dimanfaatkan. Nilai aset lancar operasi meningkat karena managemen tidak dapat mengalokasi sumber daya pada aset yang lebih produktif. Hipotesis relevansi nilai aset lancar operasi adalah (ditulis dalam bentuk alternatif):

(16)

4.2. Pertumbuhan Aset Tetap. Pengeluaran untuk kapital menunjukkan keyakinan managemen atas peluang investasi guna meningkatkan kemakmuran perusahaan. Osborne dan Ingles (2003) menyatakan bahwa investasi hanya dapat meningkatkan kemakmuran jika investasi menunjukkan satu dari empat keadaan sebagai berikut. Pertama, investasi membentuk aset baru. Kedua, investasi

menambah aset yang sudah ada. Ketiga, investasi mengganti aset lama. Keempat, investasi meningkatkan masa manfaat atau kapasitas aset lama. Oleh karena itu hipotesis relevansi nilai pertumbuhan aset tetap adalah (ditulis dalam bentuk alternatif):

H5= Sumber daya perusahaan berupa pertumbuhan aset tetap berpengaruh positif terhadap nilai pasar perusahaan.

4.3. Aset Takberwujud. Aset takberwujud yang dicatat pada neraca terdiri atas

kos dari pengeluaran untuk riset, promosi, pengembangan produk baru, muhibah, dan paten. Pengaruh aset takberwujud bersifat kontingensi karena aset takberwujud dapat berupa kumpulan biaya yang ditangguhkan tanpa manfaat masa depan atau kos yang memiliki nilai tambah bagi perusahaan (Ely dan Waymire, 1999). Oleh karena itu hipotesis relevansi nilai aset takberwujud adalah (ditulis dalam bentuk alternatif):

(17)

5. Dampak Konservatisma pada Relevansi Nilai Informasi Akuntansi

Konservatisma mengakibatkan laba (aset) ditunda pengakuannya sampai terdapat bukti transaksi yang kuat tetapi kerugian (biaya) diakui segera, sehingga laba (aset) tahun ini lebih kecil dibandingkan laba (aset) ekonomik. Terjadi aliran kas dengan pengakuan aset (laba) secara akrual. Penyajian lebih rendah

mengakibatkan distorsi pada statemen keuangan.

5.1. Dampak Konservatisma terhadap Relevansi Nilai Ekuitas. Nilai buku

ekuitas bersama laba menentukan harga saham, dan satu dari kedua nilai tersebut hilang mengarah pada model yang salah spesifikasi (misspecification) (Kothari dan Zimmerman, 1995; Ohlson, 1995). Konservatisma menimbulkan nilai buku aset (laba) lebih rendah dari nilai ekonomiknya. Akibatnya laba bersifat transitory dan nilai buku ekuitas menyajikan nilai inti (Dichev, 2008; Balachandran dan

Mohanram, 2011). Investor lebih memperhatikan nilai buku ekuitas. Oleh karena itu, dapat dirumuskan hipotesis pengaruh konservatisma terhadap relevansi nilai ekuitas sebagai berikut (ditulis dalam bentuk alternatif):

H7 = Konservatisma memperkuat relevansi nilai ekuitas.

5.2. Dampak Konservatisma terhadap Relevansi Nilai Kinerja Perusahaan.

Laba merupakan perputaran sumber daya yang menghasilkan nilai tambah bagi pemilik. Laba menyediakan informasi untuk memprediksi aliran kas masuk masa depan. Konservatisma mengakibatkan terjadi mismatch antara pengakuan

(18)

Oleh karena itu hipotesis pengaruh konservatisma terhadap relevansi nilai kinerja perusahaan sebagai berikut (ditulis dalam bentuk alternatif):

H8= Konservatisma memperlemah relevansi nilai kinerja perusahaan.

5.3. Dampak Konservatisma terhadap Relevansi Nilai Laba Komprehensif

Lain. Laba komprehensif lain (OCI) menunjukkan kinerja perusahaan selain laba bersih. OCI bermakna dalam memprediksi nilai perusahaan tergantung lokasi penyajiannya (Chambers et al., (2007). Dalam penelitian ini, OCI dikutip dari nilai buku ekuitas, oleh karena itu karakter OCI mirip nilai buku ekuitas. Konservatisma akan meningkatkan relevansi pos surplus kotor. Hipotesis pengaruh konservatisma terhadap relevansi nilai OCI sebagai berikut (ditulis dalam bentuk alternatif): H9 = Konservatisma memperkuat relevansi nilai laba komprehensif lain.

5.4. Dampak Konservatisma terhadap Relevansi Pertumbuhan Aset Lancar

Operasi. Aset lancar operasi mengandung nilai yang persisten, menyajikan

informasi return masa depan (Dichev, 2008). Dalam keadaan konservatif, maka nilai aset lancar operasi menunjukkan bias ke bawah. Oleh karena itu, hipotesis dampak konservatisma terhadap pertumbuhan aset lancar operasi dirumuskan sebagai berikut (ditulis dalam bentuk alternatif):

H10 = Konservatisma memperlemah relevansi nilai sumber daya perusahaan berupa pertumbuhan aset lancar operasi.

5.5. Dampak Konservatisma terhadap Relevansi Nilai Pertumbuhan Aset

Tetap. Pengeluaran untuk kapital (aset tetap) dilakukan sejalan dengan

(19)

terhadap relevansi nilai pertumbuhan aset tetap dapat dirumuskan sebagai berikut (ditulis dalam bentuk alternatif):

H11 = Konservatisma memperlemah relevansi nilai pertumbuhan sumber daya perusahaan berupa aset tetap.

5.6. Dampak Konservatisma terhadap Relevansi Nilai Aset Takberwujud. Aset

takberwujud adalah sumber daya yang paling sulit dinilai karena sumbangan terhadap kemakmuran perusahaan sulit diukur. Dalam keadaan konservatif, aset takberwujud cenderung dinilai lebih rendah dari nilai ekonomiknya. Managemen lebih cepat membebankan kos menjadi biaya, akibatnya terjadi bias ke bawah. Oleh karena itu, hipotesis dampak konservatisma terhadap relevansi nilai aset

takberwujud dapat dirumuskan sebagai berikut (ditulis dalam bentuk alternatif): H12 = Konservatisma memperlemah relevansi nilai sumber daya perusahaan berupa

aset takberwujud.

E. Metoda Penelitian

1. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat tiga jenis variabel, yaitu variabel dependen berupa harga saham, variabel independen berupa nilai buku ekuitas neto, laba bersih, OCI, pertumbuhan aset lancar operasi, pertumbuhan aset tetap, dan aset takberwujud, serta variabel pemoderasi adalah konservatisma.

9. Harga Saham. Harga saham dikutip dari harga penutupan pada hari publikasi

(20)

10.Nilai Buku Ekuitas. Penelitian ini menggunakan nilai buku ekuitas neto, yaitu nilai buku ekuitas akhir tahun (NBE) dikurangi laba bersih tahun berjalan (LB) dan pos surplus kotor (OCI). Nilai buku ekuitas neto per saham, yaitu nilai buku ekuitas neto dibagi saham beredar akhir tahun (SHM) dengan perhitungan sebagai berikut:

11.Laba Bersih. Laba bersih adalah laba setelah pajak dan dinyatakan per saham

(EPS), yaitu laba bersih setelah pajak (LB) dibagi rata-rata bobotan saham beredar (SHMb) dengan perhitungan sebagai berikut:

) (SHMb

LB

EPS

12.Laba Komprehensif Lain (OCI). OCI adalah pos surplus kotor yang dikutip

dari nilai buku ekuitas. Pos surplus kotor diukur dengan dummy. Angka 1 mewakili perusahaan yang melaporkan surplus kotor dan 0 sebaliknya.

13.Pertumbuhan Aset Lancar Operasi. Pertumbuhan aset lancar operasi diukur

dari perubahan nilai aset lancar operasi per saham. Perubahan nilai aset lancar operasi per saham (ALOPS) dihitung dari aset lancar operasi (ALOP) per saham akhir tahun berjalan dikurangi dengan aset lancar operasi per saham tahun sebelumnya dengan perhitungan sebagai berikut:

1

14.Pertumbuhan Aset Tetap. Penambahan aset tetap berwujud per saham (INV)

(21)

saham dikurangi harga perolehan aset tetap akhir tahun sebelumnya per saham

15.Aset Takberwujud. Aset takberwujud adalah pengeluaran yang membentuk

kos dan memiliki potensi menghasilkan pendapatan. Aset takberwujud diukur dengan dummy, angka 1 mewakili perusahaan yang memiliki aset takberwujud dan 0 sebaliknya.

16.Konservatisma. Konservatisma adalah ukuran perbedaan antara nilai buku aset

dengan nilai ekonomiknya. Untuk mengukur konservatisma, dalam penelitian ini digunakan negative nonoperating accrual (NNA) per saham yang dihitung dengan persamaan 4.

2. Teknik Analisis

Persamaan statistik untuk menguji hipotesis adalah sebagai berikut: HSuit = α+ β1NBEnit + β2EPSit + β3DAKOTit + β4ALOPSit + β5INVit +

β6DATWit + β7Cnit + β8Cnit*NBEnit + β9CnitEPSit+ β10Cnit*DAKOTit +

β11Cnit*ALOPSit+ β12Cnit*INVit + β13Cnit*DATWit + εit ...(5)

Dalam hal ini,

HSuit = harga saham perusahaan i pada hari publikasi statemen keuangan tercepat di bursa/surat kabar.

NBEnit = nilai buku ekuitas neto perusahaan i pada tanggal t (akhir tahun) EPSit = laba bersih perusahaan i perioda t

(22)

ALOPSit = Pertumbuhan aset lancar operasi per saham perusahaan i perioda t. INVit = Pertumbuhan aset tetap per saham perusahaan i perioda t.

DATWit = Aset takberwujud perusahaan i pada tanggal t (dummy). Cnit = Konservatisma perusahaan i pada perioda t.

α = konstanta/intersep

β1:…β13 = slope/koefisien

εit = kesalahan residual.

F. Hasil Penelitian

1. Pemilihan Sampel

Penelitian ini menggunakan data perusahaan-perusahaan dalam industri pemanufakturan yang mempublik di Bursa Efek Indonesia (BEI) perioda tahun 2000-2009. Data statemen keuangan, tanggal publikasi, dan harga saham diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM), Pojok BEJ Universitas Diponegoro, dan pusat referensi PT Bursa Efek Jakarta/Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel dipilih melalui metoda penyampelan bersasaran (purposive sampling) dengan kriteria: (a) statemen keuangan disajikan dalam mata uang rupiah, (b) perusahaan

mengeluarkan satu jenis saham biasa, (c) nilai buku ekuitas positif, dan (d) perioda akuntansi adalah tahun takwim.

(23)

pemanufakuran tahun tersebut), sedangkan terendah pada tahun 2000 sebanyak 69 observasi (44,52%). Terdapat 506 observasi yang melaporkan pos surplus kotor (60,24% dari seluruh sampel) dan sebanyak 364 observasi memiliki aset

takberwujud (43,33%).

2. Hasil Pengujian Relevansi Nilai Informasi Akuntansi

Hasil uji asumsi klasik terhadap data untuk menguji relevansi nilai informasi menunjukkan bahwa: (1) tidak terdapat autokorelasi, (2) tidak terdapat masalah multikolinearitas, (3) terdapat masalah heteroskedastisitas, dan (4) menunjukkan data tidak normal.

Upaya memecahkan masalah heteroskedastisitas telah dilakukan dengan melakukan deflasi, log/log natural namun tidak berhasil. Penelitian ini

menggunakan data besar (840 observasi), sehingga diasumsikan data berdistribusi normal (Hair et al., 2010; Gujarati, 2003).

Persamaan relevansi nilai informasi akuntansi adalah sebagai berikut. HSuit = 31,846 + 0,544NBEnit + 3,431EPSit + 244,549DAKOTit - 0,344LOPSit

+ 0,158INVit + 170,469DATWit ... (6) R2 (Adj.) = 0,840 (0,839)

Nilai F kalkulasian sebesar 727,067 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 yang berarti secara statistik signifikan pada tingkat 1 persen. Nilai R2 (adj.)

menunjukkan variasi nilai perusahaan dapat dijelaskan dengan 6 variabel

(24)

2.1.Hasil Uji Hipotesis 1. Hipotesis satu menyebutkan bahwa Ekuitas (NBEn) berpengaruh positif terhadap nilai pasar perusahaan. Hasil uji statistik

menunjukkan t kalkulasian sebesar 20,028 dan nilai probabilitas sebesar 0,000 serta koefisien bertanda positif, maka Ho1 berhasil ditolak. Hasil uji tersebut

mengkonfirmasi penelitian sebelumnya (misalnya Ohlson, 1995; Cahan et al.,

2000; Sasongko, 2008).

2.2.Hasil Uji Hipotesis 2. Hipotesis dua menyebutkan bahwa kinerja perusahaan

(EPS) berpengaruh positif terhadap nilai pasar perusahaan. Hasil uji statistik

menunjukkan t kalkulasian sebesar 28,588 dan nilai probabilitas sebesar 0,000 serta koefisien bertanda positif, maka Ho2 berhasil ditolak. Hasil tersebut

mengkonfirmasi penelitian sebelumnya (misalnya Cahan et al., 2000; Mayangsari, 2004; Naimah dan Utama, 2006; Sasongko, 2008).

2.3.Hasil Uji Hipotesis 3. Hipotesis tiga menyebutkan bahwa laba komprehensif

lain (DAKOT) berpengaruh positif terhadap nilai pasar perusahaan. Hasil uji statistik menunjukkan t kalkulasian sebesar 4,016 dan nilai probabilitas sebesar 0,000 dan koefisien bertanda positif, maka Ho3 berhasil ditolak. Hasil uji tersebut searah dengan temuan Cahan et al. (2000), Kanagaretnam et al. (2009) serta Jones dan Smith (2011).

2.4. Hasil Uji Hipotesis 4. Hipotesis empat menyebutkan bahwa pertumbuhan

(25)

tersebut mengkonfirmasi hasil penelitian Ou (1990), Lev dan Thiagarajan (1993), Machfoedz (1994) serta Seng dan Hancock (2012).

2.5. Hasil Uji Hipotesis 5. Hipotesis lima menghubungkan pertumbuhan

(investasi) sumber daya perusahaan berupa aset tetap dengan nilai pasar

perusahaan. Investasi pada aset tetap (INV) berpengaruh positif terhadap nilai pasar perusahaan. Hasil uji statistik menunjukkan t kalkulasian sebesar 2,237 dan nilai probabilitas sebesar 0,026 dan koefisien bertanda positif, maka Ho5 berhasil ditolak. Hasil tersebut mengkonfirmasi hasil penelitian sebelumnya (misalnya Kerstein dan Kim, 1995; Cahan et al., 2000; Sasongko, 2008).

2.6. Hasil Uji Hipotesis 6. Hipotesis enam menyatakan bahwa sumber daya

perusahaan berupa aset takberwujud (DATW) berpengaruh positif terhadap nilai pasar perusahaan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa t kalkulasian sebesar 2,776 dan nilai probabilitas sebesar 0,006 dan koefisien bertanda positif, maka Ho6 berhasil ditolak. Hasil tersebut mengkonfirmasi hasil penelitian sebelumnya (misalnya Sougiannis, 1994; Ely dan Waymire, 1999; Lako, 2006).

3. Hasil Pengujian Dampak Konservatisma terhadap Relevansi Nilai

Informasi Akuntansi

(26)

Persamaan regresi tentang pengaruh konservatisma pada relevansi nilai adalah di bawah ini.

HSuit = 71,318+ 0,490NBEnit + 3,815EPSit + 161,975DAKOTit - 0,303ALOPSit + 0,222INVit + 146,566DATWit + 0,363Cnit+ 0,001Cnit*NBEnit – 0,001Cnit*EPSit + 1,124Cnit*DAKOTit –

0,001Cnit*ALOPSit-0,001Cnit*INVit - 0,590Cnit*DATWit ………...………..…(7) R2 (Adj.) = 0,858 (0,855)

Nilai F kalkulasian sebesar 382,874 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000, signifikan pada tingkat 1 persen. Nilai R2 (adj.) menunjukkan bahwa variasi nilai perusahaan dapat dijelaskan dengan 13 variabel independennya sebesar 85,5 persen, sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak masuk dalam model.

3.1.Hasil Uji Hipotesis 7. Hipotesis tujuh menyatakan bahwa konservatisma

memperkuat relevansi nilai ekuitas (Cn*NBEn). Hasil uji statistik menunjukkan nilai t kalkulasian Cn*NBEn sebesar 2,047, probabilitas sebesar 0,041dan koefisien bertanda positif, Ho7 berhasil ditolak. Dalam keadaan konservatif, investor lebih memperhatikan ekuitas dalam menilai harga saham (Barth et al., 1998; Collins et al., 1999).

3.2. Hasil Uji Hipotesis 8. Hipotesis delapan menyatakan konservatisma

memperlemah relevansi nilai kinerja perusahaan (Cn*EPS). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa t kalkulasian Cn*EPS sebesar -4,329, probabilitas sebesar 0,000 dan koefisien bertanda negatif, maka Ho8 berhasil ditolak. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi pernyataan Watts (2003a) dan hasil penelitian Barth et al.,

(1998), Collins et al., (1999), dan Gu, (2007).

3.3. Hasil Uji Hipotesis 9. Hipotesis sembilan menyatakan bahwa konservatisma

(27)

statistik menunjukkan nilai t kalkulasian sebesar 5,984, probabilitas sebesar 0,000 dan koefisien bertanda positif, maka Ho9 berhasil ditolak. Dalam penelitian ini, OCI dikutip dari nilai buku ekuitas berupa pos surplus kotor, maka memiliki sifat seperti nilai buku ekuitas. Temuan ini mendukung hasil penelitian Chambers et al.

(2007) yang menyatakan bahwa lokasi OCI berpengaruh pada perhatian investor.

3.4. Hasil Uji Hipotesis 10. Hipotesis sepuluh menyebutkan bahwa konservatisma

memperlemah relevansi nilai sumber daya perusahaan berupa aset lancar operasi (Cn*ALOPS). Hasil uji statistik menunjukkan nilai t kalkulasian sebesar -1,735 dan probabilitas sebesar 0,083, signifikan pada tingkat 10 persen dan koefisien bertanda negatif. Oleh karena itu Ho10 berhasil ditolak pada tingkat moderat. Pertumbuhan aset lancar operasi direspon oleh investor sebagai pertambahan aset yang kurang produktif (Ou, 1990; Seng dan Hancock, 2012).

3.5. Hasil Uji Hipotesis 11. Hipotesis sebelas menyebutkan bahwa konservatisma

memperlemah relevansi nilai investasi pada sumber daya perusahaan berupa aset tetap (Cn*INV). Hasil uji statistik menunjukkan nilai t kalkulasian sebesar -1,825 dan probabilitas sebesar 0,068. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Cn*INV signifikan pada tingkat moderat (10 persen) dan koefisien bertanda negatif, maka Ho11 berhasil ditolak. Dalam keadaan konservatif, pertumbuhan aset tetap

menunjukkan bias ke bawah. Investor merespon negatif atas pertumbuhan aset tetap (Lev dan Zarowin, 1999; Gu (2007).

3.6. Hasil Uji Hipotesis 12. Hipotesis duabelas menyebutkan bahwa

(28)

sebesar -3,093, probabilitas sebesar 0,002 dan koefisien bertanda negatif, maka Ho12 berhasil ditolak. Dalam keadaan konservatif, aset takberwujud dilaporkan lebih kecil dari nilai ekonomiknya. Investor merespon negatif aset takberwujud (Watts, 2003a).

G. Analisis Tambahan

Untuk mengetahui pengaruh konservatisma pada perusahaan berkinerja positif dan negatif, maka sampel dibagi ke dalam dua kelompok. Pembagian ke dalam dua sub sampel penting karena proporsi perusahaan merugi semakin meningkat dan memiliki relevansi nilai yang berbeda (Hayn, 1995; Joos dan

Plesko, 2005). Perusahaan berkinerja positif sebanyak 660 observasi dan berkinerja negatif sebanyak 180 observasi. Hasil uji statistik terhadap kedua kondisi

menunjukkan bahwa konservatisma berpengaruh berbeda pada Cn*NBEn, Cn*EPS, Cn*DAKOT, Cn*ALOPS, Cn*INV, dan Cn*DATW bagi perusahaan berkinerja positif dan negatif.

Hasil uji pada perusahaan yang berkinerja positif menunjukkan hasil yang konsisten dengan hasil uji hipotesis tujuh-sembilan dan duabelas. Dampak

konservatisma terhadap relevansi nilai pertumbuhan aset lancar operasi (ALOPS) dan aset tetap (INV) tidak signifikan. Pada perusahaan berkinerja negatif,

konservatisma hanya berpengaruh pada NBEn dan INV. Hasil uji terhadap

(29)

Pada perusahaan berkinerja positif, konservatisma memperlemah relevansi nilai EPS, DATW lebih kuat dibandingkan perusahaan berkinerja negatif. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam keadaan konservatif, EPS dan DATW

mengandung nilai transitory. Sebaliknya pada perusahaan yang berkinerja negatif, konservatisma memperkuat relevansi nilai NBEn, lebih tinggi dibanding pada perusahaan berkinerja positif. Pada perusahaan merugi, investor lebih memilih nilai buku ekuitas untuk menilai harga saham.

H. Uji Sensitivitas

Dalam penelitian ini dilakukan uji sensitivitas dengan dua cara sebagai berikut.

1. Validasi Dengan Data Normal pada Harga Publikasi Tercepat di Bursa

atau Surat Kabar

Uji sensitivitas pertama dilakukan dengan data hasil trimming data utama sehingga sampel menunjukkan distribusi normal pada 538 observasi (64,04% dari sampel terpilih). Hasil uji asumsi klasik menunjukkan data normal dan tidak terdapat masalah autokorelasi dan multikolinearitas namun masalah

heteroskedastisitas belum dapat diobati.

(30)

Hasil uji interaksi konservatisma dengan variabel informasi akuntansi menunjukkan bahwa konservatisma memperlemah relevansi nilai EPS, DAKOT, INV, dan DATW dan memperkuat relevansi nilai NBEn tetapi tidak berpengaruh pada relevansi nilai ALOPS. Hasil uji tersebut konsisten dengan hasil uji data utama (840 observasi) dalam hal NBEn, EPS, INV, dan DATW yang menunjukkan hasil yang signifikan. Meskipun hasil uji statistik signifikan, Cn*DAKOT bertanda negatif, berbeda arah dengan Cn*DAKOT data utama.

2. Validasi dengan Variabel Dependen Harga Saham Penutupan pada Hari

Publikasi di Surat Kabar

Uji validasi kedua dilakukan dengan mengganti variabel dependen menjadi harga pada saat publikasi di surat kabar yang dibatasi sampai akhir masa

penyampaian statemen keuangan ke Bapepam, yaitu sampai dengan akhir April (untuk data tahun 2002 dan sebelumnya) dan akhir Maret mulai statemen

keuangan tahun 2003. Harga saham pada kedua macam sampel memiliki korelasi sangat kuat (100%). Harga pasar saham pada kedua jenis sampel memiliki nilai minimum dan nilai rerata yang tidak jauh berbeda.

(31)

ALOPS signifikan pada tingkat 1% bertanda negatif. Pertumbuhan aset tetap (INV) tidak menunjukkan relevansi nilai.

Hasil uji terhadap 6 variabel tersebut konsisten dengan hasil uji hipotesis kesatu-keempat dan keenam. Koefisien (β) dari lima variabel yang signifikan menunjukkan tanda yang sama dengan hasil uji sampel utama (840 observasi). Hasil yang berbeda pada variabel kelima, yaitu INV menunjukkan tidak signifikan.

Hasil uji interaksi konservatisma dengan variabel informasi akuntansi menunjukkan bahwa konservatisma memperlemah relevansi nilai EPS, INV, dan DATW serta memperkuat NBEn dan DAKOT. Pengaruh konservatisma pada relevansi nilai pertumbuhan aset lancar operasi tidak signifikan.

Dari hasil dua uji sensitivitas di atas, dapat disimpulkan bahwa hasilnya cukup konsisten dengan hasil regresi data utama (840 observasi). Konsistensi tersebut adalah: (1) nilai buku ekuitas dan laba bersih memiliki relevansi nilai, (2) pos surplus kotor memiliki relevansi nilai, (3) informasi akuntansi dinamis berupa penambahan aset tetap memiliki relevansi nilai, (4) konservatisma berfungsi sebagai variabel pemoderasi, memperlemah relevansi nilai laba bersih, pos surplus kotor, investasi aset tetap, dan aset takberwujud serta memperkuat relevansi nilai buku ekuitas.

I. Kesimpulan

(32)

1. Informasi komponen kunci statemen keuangan (nilai buku ekuitas neto dan laba bersih) memiliki relevansi nilai. Semakin tinggi ekuitas dan kinerja perusahaan, semakin tinggi nilai pasar perusahaan. Penggunaan nilai buku ekuitas neto (NBEn) hasilnya searah dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan nilai buku ekuitas (NBE).

2. OCI memiliki relevansi nilai informasi akuntansi. Hal itu searah dengan

harapan AIMR dan IFRS bahwa laba komprehensif menunjukkan kemanfaatan bagi pengambilan keputusan, khususnya dalam menentukan harga saham. 3. Informasi akuntansi dinamis berupa penambahan aset tetap dan adanya aset

takberwujud memiliki relevansi nilai informasi akuntansi dan hubungannya bertanda positif. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menambah investasi pada aset tetap dan memiliki aset takberwujud dapat meningkatkan nilai pasar perusahaan.

4. Informasi akuntansi dinamis berupa pertumbuhan aset lancar operasi direspon negatif oleh investor. Pertumbuhan aset lancar operasi dipersepsi sebagai ketidakseimbangan antara kinerja perusahaan dengan aliran kas masuk/ pemanfaatan sumber daya perusahaan.

5. Konservatisma sebagai pemoderasi memperlemah relevansi nilai kinerja perusahaan (EPS), pertumbuhan aset lancar operasi (ALOPS), investasi aset tetap (INV), dan aset takberwujud (DATW), namun memperkuat relevansi nilai ekuitas dan pos surplus kotor.

(33)

positif dan negatif. Hal itu memperkaya temuan Hayn (1995) dan Joos dan Plesko (2005) yang hanya membedakan relevansi nilai laba (rugi).

J. Saran

Beberapa hal yang dapat diperbaiki dan dikembangkan adalah sebagai berikut.

8. Standar akuntansi keuangan berbasis IFRS memberi peluang pada kajian relevansi nilai, baik angka statemen keuangan sebagai agregat maupun individu (pos per pos).

9. Ekuitas sebaiknya diukur dengan nilai buku ekuitas neto karena bebas dari pengaruh laba bersih dan pos surplus kotor.

10.Penelitian yang menggunakan harga saham perlu memperhatikan likuiditas perdagangannya. Saham yang aktif diperdagangkan berhubungan erat dengan informasi terpublikasi, sedangkan saham yang pasif cenderung diperdagangkan dalam jumlah yang sangat kecil dan tidak berkaitan dengan informasi

terpublikasi.

11.Untuk memecahkan masalah heteroskedastisitas, perlu dicarikan skala pengukuran dan transformasi data yang tepat.

(34)

---o0o---162

SUMMARY

A. Introduction

Value relevance of accounting information is very low and declines continuously. Based on the review of Lev (1989), the value relevance of net income was about 4-7 percent and Barth et al. (2001) reported the highest of value relevance of net income was up to 10 percent. The study in Indonesia showed almost the same conditions. During the period of 1995-2004, the value relevance of accounting information ranged from 2.1 to 8.5 percent for manufacturing

companies (Lako, 2006).

Declining in value relevance of equity book value and net income is reported by Collins et al. (1997), Francis and Schipper (1999), and Lev and Zarowin (1999). Brown et al. (1999) reexamined the data that were used by Collins et al. (1997) with deflate of their variables to eliminate the measurement bias. The conclusions are consistent with previous research, the value relevance of the book value of common equity and net income has been declined by 0.3 percent yearly during the period of 1958-1996. Gu (2007) reinforces the above findings and got a new evident that the value relevance of accounting information dropped more sharply since the 1970s.

Relevance is a primary decision-specific quality of information. Value

(35)

making by investors, potential investors and other parties (Sinha and Watts, 2001; Dontoh et al., 2004).

The results of the study in Indonesia on the value relevance of accounting information showed inconsistent. There was declining in value relevance of equity book value and net income during the period of 1995-1998 (Mayangsari, 2004). Suwardi (2005) found the value relevance of equity book value and net income has been increased during the years 1992-1994, 1996-1997, and 1999-2001, but

declined in 1995 and 1998. Fluctuation in the value relevance of accounting information also was detected by Lako (2006). Value relevance of accounting information in 1997, 1999, 2001, and 2003 has been decreased, while the 1996, 1998, 2000, 2002, and 2004 increased.

Factors that cause of low and declining of the value relevance of accounting information are (Lo and Lys, 2000; Givoly and Hayn, 2000; 2002; Watts, 2003a; Monahan, 2005): (1) ignores the role of dynamic accounting information in research model, and (2) increasing in conservatism practice. Barth et al. (1998), Kothari (2001), as well as the Pope and Wang (2005) stated that the book value of equity is complement to net income in predicting an equity value.

(36)

Since the proposal of the Association for Investment Management and Research (AIMR) to adopt all-inclusive approach, global accounting standards including Indonesia led to the reporting of comprehensive income (Johnson et al., 1995; Kanagaretnam et al., 2009; SFAS No. 1, revised 2009). The study of Chambers et al. (2007) showed that before the implementation of comprehensive income (data 1994-1997), other comprehensive income (OCI) didn‟t responded by the investor, but after the adoption of comprehensive income (data 1998-2003), the OCI was responded by investors.

According to Givoly and Hayn (2000) declining in the value relevance of accounting information is caused by an attitude of management to perform

conservatively in presenting of the financial statements. During the period of 1956-1998, conservatism in reporting income has increased. In a conservative condition, the book value of asset (income) on the financial statements is presented downward biased, which is lower than the economic value of asset (economic income).

Conservatism has been practicing since 500 years ago (Basu, 1997). Up to now, it has no strong empirical evidence about the effect of accounting

conservatism on the value relevance of the accounting information (Balachandran and Mohanram, 2011).

B. Purposes of Research

(37)

components of financial statements (the book value of equity and net income), other comprehensive income, and dynamic accounting information. In addition, this study is conducted to test the effect of accounting conservatism on the value relevance of accounting information.

C. Literature Review

1. Valuation of Common Stock

Value Relevance is a part of the analysis of fundamental factors. The focus of the study is to test the usefulness of the value relevance of the financial statement figures as an output of accounting practice (Bernard, 1995). The existence of value relevance studies can be traced from the theory of corporate valuation. According to Holthausen and Watts (2001), Beaver (2002), and Jenkins and Kane (2006) valuation can be done by the three approaches, namely: (1) the balance sheet approach, (2) income approach, and (3) the linear relationship of book value of equity and accounting earnings to stock price approach (also called the discounted of residual income).1

2. Value Relevance of Accounting Information

Value relevance becomes an interesting area of research since it‟s introduced

by Ohlson (1995) and supported by Bernard (1995). It assumes that the primary

1

(38)

objective of financial statements is to (1) measure value of equity or association to equity value, or (2) provide relevant information for assessing equity. Beaver (1998) described the relationships between earnings and equity value into three sequences, namely (1) current earnings are useful for predicting future earnings, (2) future earnings is an indicator of liquidity or ability to pay dividends, and (3) future dividends are discounted to present value to determine the value of equity.

Financial statement figures are said to have "value relevance" if they

associated to the stock price (Francis and Schipper, 1999; Barth et al., 2001). There are two models to assess the value relevance of the accounting information, e.g. the return and price models (Barth et al., 2001; Kothari and Zimmerman, 1995). Return model is used to assess the information content in timely basis and suitable for the event studies (Fama, 1991). Barth et al. (2001) classified the return model into the decisional relevance, not the value relevance.

At the first time introduction, value relevance (pricing model) is considered as a competitor of decision relevance (return model), but now to be accepted as complement (Kothari and Zimmerman, 1995; Barth et al., 2001). Some studies using two approaches simultaneously, for example, research by Marquardt and Wieldman (2004), Ali and Hwang (2000), and Lev and Zarowin (1999).

3. Price Model

(39)

]

The equation above shows the price as the present value of a series of expected dividends.

All components of earnings must be reported on the statement of income that be called as comprehensive income. Price model requires clean surplus relationship that is the year-end book value of equity comes from the beginning book value of equity plus income reduced by income distributions (dividends). The first model and clean surplus relationship formulated a price model of Ohlson (1995). Thus, the equity value can be expressed as follows:

LBKt = comprehensive income current year It = other information.

α = constant / intercept

β1: β2: β3 = slope / coefficient

(40)

Equation 2 is the basic equation of value relevance that has been used by many researchers, including Collins et al. (1997), Barth et al. (1998), Ou and Sepe (2002), Landsman et al. (2007), Gu (2007), and Landsman et al. (2011). In

Indonesia, that model was used in the study by Sasongko (2008) and Almilia and Sulistyowati (2007).

4. Component of Comprehensive Income

Price model requires the presentation of comprehensive income (all inclusive approach). Comprehensive income stated in SFAC No.6 paragraph 70 as follows:

Comprehensive income is the change in equity of a business enterprise during a period from transactions and other events and circumstances from nonowner sources. It includes all changes in equity during a period except those resulting from investments by owners and distributions to owners.

Cheng et al. (1993) compared the value relevance of the three levels of accounting income, i.e. the operating income, net income and comprehensive income. Operating income is more relevant than net income, and net income is more relevant than comprehensive income. Kanagaretnam et al. (2009) reported in Canada for sample period of 1998-2003, comprehensive income is more relevant than net income to predict cash flow. Strong and Walker (1993) divided

(41)

income minus operating income), and other exclusions (operating income minus operating earnings IBES) have a value relevance.

Before adoption of IFRS (before revision of SFAS No.1, 2009), accounting standards in Indonesia require statement of income based on current operating approach. In that circumstance, a lot of information goes through the book value of equity, called the dirty surplus relationship. Dirty surplus items under the

guidelines of the presentation of financial statements in Indonesia (regulation of Bapepam No.06 of 2000 and No. 2 of 2002) are:2 (a) foreign currency translation of financial statements, (b) abnormal foreign exchange when the depreciation reaching 133 percent of the average of the last three years, so that it can be capitalized, (c) differences arising from transaction of changes in equity of

associated companies, (d) unrealized gain (loss) of securities available for sale, and (e) the revaluation effect of fixed asset.

5. Corporate Resources

According to Lako (2006) and Canibano et al. (2000) there are three groups of balance sheet items which have value relevance, namely: (1) current operating asset, (2) fixed asset, and (3) intangible asset.

5.1. Current operating asset. Current asset consist of financial asset and operating

asset. Current operating asset are current asset other than cash / bank and

2

(42)

term investments, therefore the current operating asset consist of accounts receivable, inventory, and other current asset (Fairfield et al., 2003). Increase in current operating asset shows that the addition of less productive asset.

5.2. Fixed Asset. Capital expenditures or investment of fixed asset is the growth of

fixed asset that can improve the performance of companies in the future. Core et al. (2003) and Kerstein and Kim (1995) stated that fixed asset growth is closely linked to abnormal earnings.

5.3. Intangible asset. Intangible asset is responded by investors in two directions,

i.e. positive or negative (Ely and Waymire, 1999). Positive response occurs when intangible asset show asset that has added value and increases common stock value, whereas a negative response occurs when an asset is deferred expenses. Findings of Lako (2006) have the same direction of research results by Canibano et al. (2000), which intangible asset as a source of economic income in the future, so it should be recognized as an asset.

6. Conservatism

Each accounting standards and companies have varying levels of

conservatism (Xu and Lu, 2008). Lo (2005) and Juanda (2006) confirmed that the practice of accounting conservatism is common in Indonesia.

(43)

order to anticipate overstatement. Over the last 30 years accounting practices is more conservative (Watts, 2003a) even with the application of IFRS, conservatism still exists (Hellman, 2008).

Conservatism is the behavior to report asset (income) are lower and liabilities (the expense) is higher than the economic value (Hendriksen and Van-Breda, 1992; Suwardjono, 2005). The similar statement is expressed in SFAC No. 2 paragraph 95 which states ... "if two estimates of amounts to be received or paid in the future are about equally likely, conservatism dictates using the less optimistic

estimate…".

According to Watts (2003b) conservatism is measured by three approaches, namely the net asset, earnings relationship of stock returns, earnings and accruals.3 The net asset approach undertaken by Beaver and Ryan (2000). Conservatism is measured by comparing the book value of equity shares to price of common stock (hereinafter referred to as B/M). The lower BM ratio, the more conservative because of the equity book value is much lower than the price of common stock.

The second approach was formulated by Basu (1997). Conservatism is measured by connecting earnings to return, i.e. through a regression of earnings changes are deflated by beginning price of common stock to return deflated by positive and negative earnings changes. Coefficient (β3) shows an accounting

3

Wang et al. (2009) classified conservatism measurement methods, as follows: (1) Differential Timeliness (Basu, 1997), (2) Asymmetric Accrual-to-Cash-Flow (Ball and Shivakumar, 2005), (3) BTM or MTB (Beaver and Ryan, 2000), (4) Negative Accrual (Givoly and Hayn, 2000), (5) Hidden reserve as measured by the index conservatism (Penman and Zhang, 2002), (6)

(44)

conservatism. Model of Basu (1997) is as follows:

Xit / Pit-1 = α+ β1DRit + β2Rit + β3Rit*DRit + εt ………...(3)

In this case,

Xit = earnings per share of firm i in year t

Pit-1 = price per share of firm i at the beginning of period Rit = return of firm i in 12 months

DRit = dummy variable, 0 if Rit > 0, and 1 if Rit< 0.

εt= residual error.

Ball and Shivakumar (2005) modified the model of Basu (1997) by regressed of operating cash flow to accrual.

The third approach, conservatism is measured by comparing earnings to accrual accounting. Givoly and Hayn (2000; 2002) stated that the sign and

magnitude of long-term accruals indicate conservatism. Conservatism in that model is detected from the negative non operating accrual (NNA), as stated in the

following equations.

Cnit = -NAit = -(TAit-OAit) ... (4) In this case,

Cn it = conservatism of firm i period t

NAit = non operating accrual of firm t period t

TAit = total accruals firm i period t, i.e. net income + depreciation - cash flow from operations

OAit = operating accrual firm t period t, i.e. Δ account receivable + Δ inventory +

(45)

D. Hypothesis Developments

Based on a literature review as described above, it can be formulated hypotheses below.

1. Value Relevance of Equity

Financial statement reflects the company's resources, the owner‟s claim to resources, and turnover of resources. The claim over resources consists of equity

and creditor‟s right. The equity is the residual claim of the company‟s resources

(Suwardjono, 2005).

Residual rights of shareholders or equity is reported in the balance sheet as book value of equity. Equity refers to economic value that has a positive effect on the company's market value (Ohlson, 1995; Suwardi, 2005; Sasongko, 2008). The hypothesis of value relevance of equity as follows (in alternative form):

H1 = Equity positively influences on the company's market value.

2. Value Relevance of Firm Performance

(46)

alternative form):

H2 = Firm performance is positively influences on the company's market value.

3. Value Relevance of Other Comprehensive Income

Comprehensive income consists of net income and other comprehensive income (OCI). OCI shows the performance of companies in addition to revenues and expenses are reported on the statement of net income. In current operating approach, OCI is reported on book value of equity as dirty surplus accounts. OCI has no effect on the company's market value especially prior to the adoption of accounting standards of comprehensive income (Chambers et al., 2007; Dhaliwal et al., 1999; Cheng et al., 1993) however it has effect after the adoption of IFRS (Chambers et al., 2007; Cahan et al., 2000).

Although there is conflicting evidence, the concept is that OCI influences on the company's market value (Johnson et al., 2005), therefore the hypothesis of OCI as follows (in alternative form):

H3 = Other comprehensive income positively affects the company's market value.

4. Value Relevance of Dynamic Accounting Information

(47)

2000; Osborne and Ingles, 2003), and intangible asset (Sougiannis, 1994; Nelson, 2006; Camara, 2007) associated with stock prices.

4.1. Value Relevance of Current Operating Asset Growth. Current operating

asset is needed to support and enhance the company's activity. Ou (1990) and Lev and Thiagarajan (1993) reported that the current operation asset was perceived as a stock of potential economic value that is not used yet. Current operating asset

increases due to management can‟t allocate resources to more productive asset.

Hypothesis of value relevance of current operating asset is (stated in alternative form):

H4 = Company resource in the form of a growth of current operating asset negatively affects the company's market value.

4.2. Value Relevance of Fixed Asset Growth. Capital expenditure shows that

management believes on investment opportunities in order to increase the

prosperity of the company. Osborne and Ingles (2003) stated that investment can only improve welfare if it represents one of four conditions as follows. First, forms a new asset. Second, adds to the existing asset. Third, replaces an old asset. Fourth, increases the useful life or capacity of the old asset. Therefore hypothesized of value relevance of fixed asset growth is (written in an alternative form):

H5 = Company resource in the form of fixed asset growth positively influences on the company's market value.

4.3. Value Relevance of Intangible asset. Intangible asset consists of research and

(48)

without effect in the future or actual cost that has added value to the company (Ely and Waymire, 1999). It is therefore hypothesized of value relevance of intangible asset is (written in alternative form):

H6 = Company resource in the form of intangible asset positively influences on the company's market value.

5. Impact of Conservatism on the Value Relevance of Accounting Information

Conservatism recognizes income (asset) delayed until there is strong evidence that the transaction occurred but the loss (expense) are recognized immediately, so that the income (asset) is lower than economic income (asset). There is different between cash inflow and recognition of asset based on accrual basis. Presentation of understatement distorts the financial statements figures.

5.1. Impact of Conservatism on the Value Relevance of Equity. The book value

of common equity and earnings determine stock prices, if one of the two values is lost leading to the misspecification model (Kothari and Zimmerman, 1995; Ohlson, 1995). Conservatism cause the book value of asset (income) is lower than the economic value. As a result, earnings are transitory and book value of equity presents the core value (Dichev, 2008; Balachandran and Mohanram, 2011). Investors pay more attention to the book value of equity. Therefore, the hypothesis of the impact of accounting conservatism on the value relevance of equity as follows (written in alternative form):

(49)

5.2. Impact of Conservatism on the Value Relevance of company performance. Earning as company performance is the movement of the resources that generate added value for owners. It provides information to predict future cash flow. Conservatism resulting mismatch between the recognition of revenues and

expenses, so that the earning downward bias. Net income as accrual basis is lower than cash flow. Earnings that contain a lot of transitory items are negatively responded by investors. Therefore, the hypothesis of the accounting conservatism that influence the value relevance of the company‟s performance as follows (written in an alternative form):

H8 = Conservatism weaken the value relevance of the company's performance.

5.3. Impact of Conservatism on the Value Relevance of Other Comprehensive

Income. Other comprehensive income (OCI) shows the company's performance

other than net income. OCI affects in predicting the company's value depends on the location of it (Chambers et al., (2007). In this study, OCI quoted from the book value of equity, therefore the OCI character similar to the book value of equity. Conservatism will increase the relevance of dirty surplus items. Hypothesis on influence of conservatism to the value relevance of the OCI as follows (written in alternative form):

H9 = Conservatism strengthen the value relevance of other comprehensive income.

5.4. Impact of Conservatism on the Value Relevance of Current Operating

Asset Growth. Current operation asset contains the value that is persistent,

(50)

hypothesis of conservatism impact on the growth of current operating asset is defined as follows (written in alternative form):

H10 = Conservatism weaken the value relevance of the growth of current operating asset.

5.5. Impact of Conservatism on the Value Relevance of Fixed Asset Growth.

Expenditures for capital (fixed asset) are in line with company growth. In a conservative condition, fixed asset reported less than its economic value.

Therefore, the hypothesis of conservatism impact on the value relevance of fixed asset growth can be formulated as follows (written in alternative form):

H11 = Conservatism weaken the value relevance of the growth of fixed asset.

5.6. Impact of Conservatism on the Value Relevance of Intangible Asset.

Intangible asset is resource that is most difficult to measure because of the contributions to the prosperity of the company is difficult to be measured. In a conservative condition, intangible asset is reported lower than its economic value. Management is faster expensing intangible asset, so that it‟s downward bias. Hypothesis of conservatism impact on the value relevance of intangible asset can be formulated as follows (written in alternative form):

H12 = Conservatism weaken the value relevance of intangible asset.

E. Research Design

1. Interest Variables

(51)

equity, net income, OCI, current operating asset growth, growth in fixed asset, and intangible asset, as well as a moderating variable, i.e. conservatism.

(1). Stock Price. Stock price is quoted from closing price on the day of

publication of financial statements in organized stock market or the

newspaper, where the faster. The stock price is measured by the market price per share.

(2). Book Value of Equity. This study uses the net book value of equity, i.e. the

end of the book value of equity (NBE) minus current year's net income (LB) and dirty surplus items (OCI). Net book value of equity per share, i.e. the net book value of equity divided by shares outstanding at the end of year (SHM) is calculated as follows:

(3). Net Income. Net income is earning after tax and declared per share (EPS),

the net income after tax (LB) divided by average shares outstanding (SHMb) is calculated as follows:

) (SHMb

LB

EPS

(4). Other Comprehensive Income (OCI). OCI is dirty surplus item that quoted

from the book value of equity. Dirty surplus item is measured by a dummy. Figure 1 represents the company reported a dirty surplus and 0 otherwise.

(5). Current Operating Asset Growth. Growth in current operating asset is

(52)

the current operating asset (ALOP) per share at the end of the current year is reduced by the current operating asset per share at the previous year,

calculated as follows:

(6). Growth of Fixed Asset. The growth of tangible fixed asset per share (INV)

is obtained by the historical cost of fixed asset (AT) at the end of the year per share minus it of fixed asset per share beginning of the year, calculated as follows:

(7). Intangible asset. Intangible asset is expenditure that makes up the cost and

has the potential economic value to generate revenue. Intangible asset is measured with a dummy, figure 1 represents a company that has intangible asset and 0 otherwise.

(8). Conservatism. Conservatism is a measurement of the difference between the

book value of asset to its economic value. To measure conservatism, this study uses the negative non-operating accruals (NNA) per share, calculated by equation 4.

2. Technical Analysis

Statistical equation to test the hypotheses is as follows:

HSuit = α + β1NBEnit + β2EPSit + β3DAKOTit + β4ALOPSit + β5INVit +

β6DATWit + β7Cnit + β8Cnit*NBEnit + β9CnitEPSit + β10Cnit*DAKOTit +

(53)

In this case,

HSuit = stock price of firm i on the day of publication of financial statements fastest in the organized stock market or a newspaper.

NBEnit = net book value of equity of firm i on date t (the year ended) EPSit = net income of firm i period t

DAKOTit = dirty surplus items of firm i at the year ended (dummy). ALOPSit = Growth in current operating asset per share of firm i period t. INVit = Growth of fixed asset per share of firm i period t.

DATWit = intangible asset of firm i on date t (dummy). Cnit = Conservatism firm i in period t.

α = constant/intercept

β1: … β13 = slope/coefficient

εit = residual error.

F. Empirical Results

1. Sample Selection

(54)

statements are presented in the rupiah currency, (b) the company issued one type of common stock, (c) the book value of equity is positive, and (d) the accounting period is the year calendar.

The number of manufacturing companies that is listing in BEI for years of 2000-2009 is 1502 firm-years. After the selection process is done, obtained a selected sample is 840 observations. Samples distributed in 10 years of

observation, the most is 94 observations in 2006 (66.20% of the manufacturing companies), while the lowest in 2000 is 69 observations (44.52%). There are 506 observation reported dirty surplus items (60.24% of all samples) and 364

observations have intangible asset (43.33%).

2. Empirical Results of Value Relevance on the Accounting Information

Classical assumptions of data show that: (1) no autocorrelation, (2) no multicollinearity problem, (3) there is a heteroscedasticity problem, and (4) indicate not normal ditstribution. Efforts have been made to solve the problem of

heteroscedasticity by deflation, logs/ natural logs, but it doesn‟t solve the problem. This study uses a large data (840 observations), so the assumed as normal

distribution (Hair et al., 2010; Gujarati, 2003). Equation of value relevance of accounting information is as follows.

HSuit = 31,846 + 0,544NBEnit + 3,431EPSit + 244,549DAKOTit - 0,344LOPSit + 0,158INVit + 170,469DATWit ………... (6) R2 (Adj.) = 0,840 (0,839)

Referensi

Dokumen terkait

Penilaian berdasarkan standar (prosedur dan kriteria yang jelas). Hal ini dilakukan dengan cara guru akan membuat rubrik atau pedoman dalam memberi skor. 2)

Stasiun televisi lokal X adalah salah satu stasiun televisi lokal yang bertahan setelah kurang lebih 20 tahun berkiprah dalam sektor media dan broadcasting, untuk menentukan

Kepala Bagian Umum... K.eadaan

Berdasarkan dari data Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan dan uraian dari salah seorang staff dinas tersebut (Iswan Hadi, SP) menyatakan bahwa pengetahuan

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Struktur komunitas fitoplankton yang ada di perairan Sungai Jang terdapat 7 kelas dan 20 genus yaitu Kelas Bacillanophyta terdiri

Tujuan dari rancangan output untuk mengubah data menjadi informasi yang berkualitas dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang tepatB. Laporan penyingkat data

Authors and/or their employers shall have the right to post the accepted version of articles pre-print version of the article, or revised personal version of