KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA WALI KELAS DI SMK NEGERI 4 PONTIANAK

Teks penuh

(1)

1

KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA WALI KELAS DI SMK NEGERI 4 PONTIANAK

Nurbaiti, H.M.Chiar, Hj.Masluyah Suib

Program Magister Administrasi Pendidikan FKIP Untan Pontianak Email:nurbaiti_1970@yahoo.com

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang komperehensip mengenai kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja wali kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak. Penelitian ini merupakan penelitain kualitatif deskriptif. Sumber datanya terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, wali kelas, guru, dan siswa. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara terstrktur dan mendalam, dan dokumentasi. Hasil kesimpulan sebagai berikut: 1) Kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja wali kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak telah berjalan dengan baik yaitu dapat dlihat dari kepemimpinan kepala sekolah dalam mempengaruhi, menggerakkan, memberi motivasi kepada wali kelas sehingga wali kelas dapat menjalankan kegiatan kelas sesuai dengan program yang disusun, 2) Kinerja wali kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak telah melaksanakan program dengan baik seperti membuat program wali kelas, melakukan bimbingan dan pembinaan terhadap siswa, mengelola kelas dan melakukan administrasi kelas dengan baik sesuai dengan tugas yang telah ditetapkan.

Kata Kunci: Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kinerja Wali Kelas

Abstract: This study aimed to obtain information komperehensip on school leadership in improving the performance of the guardian class in Vocational High School 4 Pontianak . This research is qualitative descriptive. Source data is comprised of principals, vice principals, homeroom, teachers, and students. Data collection procedures performed through observation, interviews and in-depth terstrktur, and documentation. The results of the following conclusions: 1) Leadership principals in improving the performance of the guardian class in Vocational High School 4 Pontianak has gone well that can be viewed from the principal's leadership in influencing, to mobilize, motivate homeroom so homeroom can run class activities according to the compiled program, 2) performance class teacher at the Vocational School District 4 Pontianak program has been implemented well as making program homeroom, doing counseling and guidance to students, manage the class and administering the class properly in accordance with the tasks that have been set.

(2)

2

epemimpinan yang dinamis dan efektif merupakan potensi yang paling pokok, seperti mampu memahami teori kepemimpinan, dan mampu menyadari kemampuan dirinya sehingga mengetahui kelemahan maupun kelebihan potensi yang ada dalam dirinya, serta mampu meningkatkan pemahaman tentang sebagaimana mestinya memperlakukan bawahannya. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan memiliki tugas dan wewenang penting dalam mencetak guru yang professional maka dalam hal ini kepala sekolah harus memiliki visi, misi maupun strategi dalam membawa siswa kearah prestasi yang lebih optimal serta mampu membawa siswa dalam mencapai prestasi yang lebih baik. Mulyasa, (2007: 126) mengemukakan tiga keterampilan yang harus di miliki oleh kepala sekolah untuk menyukseskan kepemimpinannya, tiga keterampilan tersebut adalah: 1) Konseptual, yaitu keterampilan untuk memahami dan mengoperasikan organisasi 2) Manusiawi, yaitu keterampilan untuk kerjasama, memotivasi dan memimpin, 3) Teknik, yaitu keterampilan dalam menggunakan pengetahuan, metode teknik, serta pelengkapan untuk menyelesaikan tugas.

Kepala sekolah mampu mengadakan hubungan yang baik dengan semua guru maupun wali kelas (human skill) dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan oleh bawahan yaitu perbuatan yang dilakukan oleh guru, siswa, staf dan orang tua siswa tidak dapat dilepaskan dari peran dan tanggung jawab kepala sekolah. Kepala sekolah harus memiliki kemampuan serta intergritas profesional yang tinggi dalam memimpin dan melaksanakan berbagai tugas dan perannya dengan didasari memiliki kemampuan meningkatkan sebuah motivasi yang tinggi terhadap kinerja guru dan wali kelas agar dapat mencapai visi sekolah yang rasional dan realistis sesuai dengan situasi dan kondisi yang dimiliki sekolah.

Kepala sekolah selalu berupaya mencurahkan kemampuannya dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan. Kemampuan yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam hal ini kepala sekolah adalah memiliki contoh yang baik dan yang menjadi teladan bagi bawahannya, kemampuan mengorganisasi, pengambilan keputusan, komunikasi dan pendelegasian wewenang. Kepemimpinan kepala sekolah di SMK Negeri 4 Pontianak dipandang sudah dilaksanakan dengan baik. Dugaan tersebut didukung oleh data jadwal pembinaan/pengarahan dan supervisi yang dilaksanakan secara intensif seperti yang terlihat pada tabel berikut :

Tabel 1

Kegiatan Pembinaan dan Penilaian Kinerja Oleh Kepala Sekolah

No Uraian Kegiatan Waktu Keterangan

1. Rapat dinas pembinaan guru, wali kelas dan tenaga kependidikan

Setiap bulan sekali 2. Rapat evaluasi program dan

kegiatan KBM

Setiap bulan sekali 3. Rapat seluruh guru dengan

pengawas

Setiap triwulan

Lihat situasi kondisi

(3)

3 5. Penilaian Kinerja dan Supervisi

kelas

Setiap semester

Sudah terjadwal untuk setiap guru 6. Pembinaan siswa melalui upacara Setiap senin

awal bulan

Dilakukan oleh semua wali kelas

Sumber : Dokumen SMK Negeri 4 Pontianak

Jika dilihat dari tabel jadwal pembinaan dan pengawasan di atas, kemajuan kinerja wali kelas dan guru seharusnya meningkat lebih baik. Untuk mengetahui hal tersebut tentunya memerlukan penelitian yang lebih mendalam. Selanjutnya fakta menunjukkan tingkat kedisiplinan guru dan wali kelas di SMK Negeri 4 Pontianak masih relatif kurang. Hal ini dapat dilihat dari absensi (kehadiran/ketidakhadiran) dari guru dan pembinaan wali kelas setiap minggu. Tabel berikut ini data ketidakhadiran guru dan pembinaan wali kelas di SMK Negeri 4 Pontianak dalam kurun waktu semester terakhir.

Tabel 2.

Prosentasi Ketidakhadiran Guru 2015

No Ket Bulan

Rata-rata

Juli Agust Sept Okt Nop Des

1 Hari kerja Efektif

9 23 23 25 25 16

2 Jumlah

guru tidak hadir

2,6% 4,11% 4,18% 5,29% 5,92% 5,57% 4,61%

3 Pembinaan

wali kelas saat

upacara

44,4% 48,2% 51,04% 53,19% 54,67% 59,21% 51,78%

Sumber : Waka Kurikulum SMK Negeri 4 Pontianak.

Jika memperhatikan tabel di atas, ketidakhadiran dalam setiap bulannya hanya di bawah 5 %, dan pembinaan yang dilakukan oleh wali kelas sebesar 51,78% sekilas tampaknya bukan masalah besar. Tetapi sesungguhnya dalam sistem pendidikan kita saat ini, hal itu dapat membawa pengaruh buruk, siswa jadi terlantar karena gurunya absen dan wali kelasnya belum masimal dalam melakukan pembinaan. Pada tahap inilah peran kepemimpinan kepala sekolah diperlukan. Kepala sekolah harus bertindak tegas terhadap pelanggaran yang terjadi, agar semua komponen yang ada dalam sekolah memberikan pelayanan yang optimal kepada para siswa.

(4)

4

komponen manapun dalam sistem pendidikan. Guru memegang peranan utama yang sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar yang berkualitas, dan mempunyai peran yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan pendidikan yang bermutu.

Dalam hal ini guru menggunakan berbagai cara untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu yaitu mengelola pembelajaran agar diminati oleh siswa. Menurut

Sardiman AM (2014: 143) dikatakan ”Berkaitan dengan peranan tersebut guru

memiliki peranan sebagai pengajar, pendidik, pelatih dan pembimbing untuk

mencapai tujuan belajar yang telah direncanakan”. Apabila seorang guru dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dalam kegiatan pembelajaran, tentunya akan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar pada siswa tersebut. Selain itu juga dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar seorang guru yang profesional tidak terlepas dari perencanaan yang matang dengan menempatkan kompetensi yang dimiliki. Karena tanpa perencanaan yang matang tentu saja tidak akan dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan baik, oleh karena melalui suatu perencanaan yang matang ini dapat diwujudkan keberhasilan belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Kinerja guru menurut Barnawi & Mohamad Hasan (2012: 13) adalah ”tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas pendidikan sesuai dengan tugas tanggung jawab dan wewenangnya berdasarkan standar standar kinerja yang telah

ditetapkan selama periode tertentu dalam rangka mencapai tujuan organisasi”.

Permasalahan kinerja guru atau dalam hal ini wali kelas tentu dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang berpengaruhi adalah faktor kepemimpinan yang dimiliki kepala sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat Werang (2012: 3) yang menyatakan bahwa “ada hubungan yang signifikan antara kepemimpinan dengan kinerja guru”. Pernyataan tersebut didukung oleh Sagala (2010:88) yang mengemukakan bahwa “kualitas pendidikan di sekolah merupakan produk dari keefektifan kepala sekolah yang didukung oleh guru dan staf

lainnya”. Kepala sekolah harus memberikan pelayanan yang optimal kepada guru, sehingga guru juga akan memberikan pelayanan yang optimal kepada siswa.

Rendahnya kepemimpinan yang dimiliki kepala akan berimplikasi kepada kinerja wali kelas/guru. Melalui pemahaman yang diberikan kepala sekolah, guru-guru di sekolah ini memiliki kesadaran untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab sehingga hasilnya lebih optimal, serta dapat membangun hubungan kekeluargaan yang baik antara kepala sekolah dengan guru/wali kelas, maupun antara guru dengan guru serta mampu menciptakan kerjasama yang baik dalam meningkatkan prestasi sekolah.

METODE

(5)

5

untuk hubungan antara teori dan penelitian, yang tekanannya pada penempatan penciptaan teori.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Menurut Moleong (2012: 11) “penelitian deskriptif mendasar analisisnya pada data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka untuk

mendapatkan deskripsi yang objektif”. Penelitian ini hanya meneliti dan bertujuan

mendeskripsikan Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Wali Kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak.

Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 4 Pontianak. Secara geografi letak SMK Negeri 4 di pinggir kota, yaitu di kelurahan Sungai Beliung Kecamatan Pontianak Barat. Keberadaan SMK Negeri 4 ini sangat didukung oleh masyarakat setempat, tokoh agama dan pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan, faktor lain yang sangat mendukung keberadaan SMK Negeri 4 ini letaknya strategis, mudah dijangkau, oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Pontianak Barat yang sudah lama berdiri yang selalu menjadi pilihan orang tua murid, untuk memasukkan putra putrinya, karena ada nilai plus, baik dari kurikulum, kegiatan ekstra kurikulernya, maupun kegiatan-kegiatan lomba yang selalu diikuti selalu mendapatkan juara.

Peneliti harus menetapkan terlebih dahulu siapa yang akan menjadi sumber data dalam penelitian ini, sebelum peneliti turun ke lapangan. Peneliti harus mencari sumber data atau sumber keterangan yang memiliki pengetahuan secara pasti tentang permasalahan dalam penelitian, sehingga sumber data itu dapat memberikan keterangan yang jelas, akurat dan valid, (bukan rekayasa sesuai dengan fakta yang terjadi) Menurut Moloeng (2008:36), mengartikan data sebagai fakta atau informasi yang diperoleh dari yang didengar , diamati, dirasakan, dan dipikirkan peneliti dari aktor, aktifitas, dan tempat yang diteliti. Sumber data yang akan peneliti tetapkan ada 2 (dua), yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data primer adalah wali kelas, sedangkan yang menjadi sumber data sekunder Kepala Sekolah SMK Negeri 4 Pontianak.

Teknik pengolahan dan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Menurut Miles dan Huberman (2000:69) mengatakan bahwa teknik yang digunakan dalam analisis data adalah reduksi data, display data, dan verfikasi data.

Data yang berhasil dikumpulkan tidak selamanya mengandung unsur kebenaran dan sesuai dengan fokus penelitian, bisa jadi masih ada kekurangan dan kesalahan dalam data. Untuk itu diperlukan pemeriksaan keabsahan data agar data benar-benar valid. Agar data yang diperoleh objektif dan teruji keabsahan datanya, maka diperlukan adanya pemeriksaan keabsahan data. Dari sembilan cara pemeriksaan data yang dikemukakan oleh Moleong (2008: 175-183), peneliti hanya menggunakan lima cara pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian ini.

(6)

6

Setelah data dianalisis, data-data tersebut perlu diuji keakuratannya, keabsahan, dan kevalidannya, sehingga data-data tersebut dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah kebenarannya, sehingga hasil data penelitian itu dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.Salah satu cara untuk menguji keabsahan data tersebut adalah melalui member check, yaitu mengecek kembali data-data yang sudah dianalisis, apakah data –data tersebut benar-benar akurat dan valid. Data tersebut adalah mengenai Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Wali Kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak baik data yang diperoleh dari interviu peneliti dengan wali kelas, maupun data yang diperoleh dari data observasi, dokumentasi, setelah dianalisis, ditafsirkan, dan disimpulkan kemudian peneliti mengadakan pengecekan kembali atau pengecekan ulang untuk mengetahui benar atau tidaknya data tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Penelitian ini menitikberatkan pada kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja wali kelas di SMK Negri 4 Pontianak, dimana data dideskripsikan menggunakan kata-kata sehingga terpenuhi kriteria penelitian kualitatif. Data yang diperoleh dari wawancara, obsevasi, dokumen dijabarkan dalam kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja wali kelas di SMK Negri 4 Pontianak. Data yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan data dalam bentuk narasi/kalimat. Cakupan informasi yang ditelaah dari hasil wawancara didukung hasil observasi dan dokumentasi mengenai kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja wali kelas di SMK Negri 4 Pontianak dapat dijabarkan sebagai berikut:

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali Kelas dan Guru SMK Negeri 4 Pontianak sebagai berikut: 1.) Berdasarkan pernyataan kepala SMK Negeri 4 Pontianak bahwa membuat program sekolah dengan melengkapi kekurangan-kekurangan atau menambah kelemahan program yang ada, karena struktur program di SMK Negeri 4 Pontianak sudah ada dan sesuai dengan menejemen mutu yang ada. Selain itu program sekolah dibuat berdasarkan masukan-masukan dari guru dan wali kelas, dengan cara melakukan pertemuan kepada personil sekolah. Program sekolah disusun dengan melibatkan wakil-wakil kepala sekolah, ketua paket keahian, para wali kelas, dan seluruh guru. Kepala sekolah menghimbau guru/personil untuk tidak melanggar hukum melalui forum rapat dengan menekankan untuk selalu patuh dan taat terhadap aturan dan hukum yang berlaku. Cara lain dengan menyusun anggaran secara terbuka, sesuai dengan mekanisme yang sudah disepakati. Untuk tugas dan tanggung jawab bawahan kepala sekolah memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada bawahan agar mereka dapat melaksanakan tugas dengan baik, sesuai dengan peraturan yang ada.

(7)

7

sekolah dan menyediakan segala keperluan bawahan. 2.) Hasil wawancara dengan wakil kepala sekolah yang menyatakan bahwa kepala sekolah selalu mengingatkan agar para guru/wali kelas melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan penuh pengabdian kepada sekolah, terutama bertanggung jawab kepada anak didik di sekolah, karena akan mengahantarkan masa depan mereka yang lebih baik. Kepala sekolah sudah membuat jadwal rapat yang disesuaikan dengan bidang program masing-masing. Untuk rapat-rapat yang sifatnya insidentil dilakukan secepat mungkin. Pelayanan yang diberikan kepala sekolah sesuai dengan rencana yang sudah ada, melengkapi kekurangan, dan meningkatkan sarana untuk menunjang kebutuhan, memberikan kesempatan bawahan untuk mengerjakan tugas sesuai kemauan tanpa paksaan asalkan sesuai dengan peraturan.

Semua guru/wali kelas diharapkan bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa dipaksa, sesuai dengan hati nurani. Perintah kepala sekolah dilaksanakan sesuai dengan perintah atasan sesuai koridor yang jelas dan tanpa ada pelanggaran, dan kepala sekolah menjalankan tugasnya sesuai peraturan yang ada memberikan informasi secara jelas, sehingga tidak menimbulakan tanfsiran ganda atau tidak menimbulkan tafsiran yang berbeda-beda dalam melaksankan tugas dan tanggung jawab selain itu secara khusus kepala sekolah memberikan arahan yang jelas kepada wali kelas mengenai tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan bidang pekerjaan masing-masing. Kepala sekolah memberikan perhatian penuh kepada bawahan, menyatukan kesamaan persepsi untuk meluruskan permasalahan dalam pencapaian tujuan sekolah. (3). Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas menyatakan bahwa dalam rapat kepala sekolah selalu menganjurkan kepada bawahannya untuk menghindari perbuatan yang melanggar hukum, dan melaksnakana tugas dan tanggung jawab dengan memberikan arahan kepada wali kelas agar menjalankan tugas sebaik-baiknya. Selain itu kepala sekolah selalu mengingatkan agar permasalahan yang terjadi di tempat kerja segera diatasi dan dimusyawarahkan dengan semua personil sekolah. Pelanggaran kepada bawahan diberikan dengan penuh perhatian seperti membantu kesulitan, menyediakan fasilitas, memberikan masukan dan arahan, melakukan dialog, melakukan komunikasi yang intensif. Guru-guru/wali kelas diberikan kesempatan untuk mengerjakan tugas sesuai kemampuan tanpa paksaan asalkan sesuai dengan aturan yang berlaku, menjalankan tugas dengan keihklasan. Selain itu kepala sekolah selalu memberikan informasi yang jelas dan mudah dipahami oleh guru/wali kelas/staf sehingga dapat diterima dengan baik. (4). Informasi yang diperoleh melalui informan menurut penjelasan dan para guru, kepemimpinan kepala sekolah dalam mempengaruhi bawahan selalu mengingatkan agar bekerja sesuai dengan hukum yang berlaku. Guru/wali kelas/staf selalu dianjurkan agar dalam melaksanakan tugas terutama dalam mendidik siswa dengan baik dan mengantarkan siswa menjadi orang yang pandai. Ketersedian sarana dan prasarana belajar berupa penyediaan media/ fasilitas terpenuhi. Kepala sekolah juga memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengerjakan tugas sesuai kemampuan tanpa paksaan asalkan sesuai dengan beban tugas dan tanggung jawab guru. Kepala sekolah selalu memberi kepercayaan kepada guru/wali kelas/staf dalam menjalankan tugas sesuai aturan.

(8)

8

harmonis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, wali kelas, guru dan siswa SMK Neger 4 Pontianak sebagai berikut: (1). Program kerja wali kelas sudah ada petunjuknya, kemudian diperbaharui oleh pimpinan sekolah dengan melibatkan para pejabat yang memegang jabatan, selanjutnya para wali kelas menindaklanjuti dan mengembangkannya sesuai dengan arahan kepala sekolah yang berhubungan dan situasi dan kondisi yang terjadi. Program wali kelas secara khusus tidak ada hanya menggnakan program yang sudah ada dengan mengacu kepada wali kelas dalam melaksanakan tugasnya.

Untuk melakukan bimbingan terhadap kelas binaan wali kelas melakukan pengecekan setiap hari menyangkut kebersihan kelas, kelengkapan kelas, dan melakukan pembianaan pada saat upacara hari senin dan hari-hari tertentu. Pengelolaan kelas yang dilakukan wali kelas dengan memberikan tugas-tugas membuat jadwal kelas, memberikan pengertian, pemahaman, memeriksa pekerjaan siswa, meminta kepada ketua kelas mengisi jurnal dan melaporkan kepada wali kelas secara periodik.

Mengelola administrasi kelas dengan membuat rogram wali kelas dan membuat aturan kelas, yang selanjutnya ditempel di dinding kelas agar semua siswa mengetahui tugas masing-masing untuk menciptakan, memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi kelas yang kondusif bagi belangsungnya proses belajar mengajar yang dinamis, efektif dan produktif dalam rangka pencapaian tujuan kurikulum sesuai dengan penjenjangan kelas menurut jenis dan tingkat sekolah masing-masing. (2). Masalah program kerja wali kelas berprinsip kepada petunjuk yang sudah ada agar tidak menyimpang dari petunjuk yang ada. Selain itu program wali kelas diperoleh dari bagian manajemen mutu, dan berpatokan kepada tugas dan tanggung jawab sehingga tidak melanggar aturan yang sudah dibuat berdasarkan program dari sekolah. Untuk bimbingan dan pembinaan terhadap kelas dengan melakukan pengecekan kelas, kebersihan kelas, kehadiran siswa, dan melakukan pembinaan pada saat upacara hari senen dan hari-hari tertentu.

Pengelolaan kelas dilakukan dengan, memberikan tugas-tugas membuat jadwal dan mengajak siswa melakukan pekerjaan sesuai dengan jawal. Secara administrasi wali kelas membuat administasi kelas dengan cara membuat program wali kelas dan membuat aturan kelas yang tempel di dinding. (3). Progam khusus wali kelas diberikan sesuai job diskription tentang tugas-tugas wali kelas, selain itu dengan menambah tugas-tugas hal-hal yang dibutuhkan seperti program bimbingan kelas dengan melakukan pembinan, pengecekan kelas, kebersihan kelas, keadaan kelas, kelengkapan kelas, kehadiran siswa di kelas, dan melakukan pembinaan pada saat upacara hari senen dan hari-hari tertentu.

(9)

9

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, wali kelas dan siswa dari hasil observasi dan dokumentasi dapat disimpulkan bahwa kinerja wali kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak adalah wali kelas telah melaksanakan kegiatan kelasnya seperti membuat program wali kelas, melakukan bimbingan dan pembinaan terhadap siswa, mengelola kelas dan melakukan administrasi kelas dengan baik sesuai dengan tugas yang telah ditetapkan.

Bedasarkan wawacara yang dilakukan dengan kepala SMK Negeri 4 Pontianak, wakil kepala sekolah, wali kelas dan siswa sebagai berikut: Informasi yang diperoleh melalui kepala sekolah sebagai upaya yang dilakukannya untuk meningkatkan kinerja wali kelas adalah dengan memberi motivasi. Motivasi berupa arahan dalam menggerakkan wali kelas seperti menyusun program kelas. Kepala sekolah memberikan motivasi kepada wali kelas dengan cara menyamakan persepsi supaya para wali kelas dalam melaksanakan tugasnya seragam dan meminimalisir kendala-kendala yang timbul. Pada momen-momen tertentu kepala sekolah memberikan pengarahan kepada wali kelas, supaya memahami pekerjaan mereka, seperti menyusun program kelas menyusun administrasi kelas, membuat tata tertib kelas dan memberikan masukan-masukan terutama mengenai beban kerja tambahan yang berarti menambah waktu wali kelas untuk bekerja lebih giat lagi.

Untuk meningkatkan disiplin kerja wali kelas, kepala sekolah dibantu oleh wakil-wakil kepala sekolah dan ketua paket keahlian dalam menilai kinerja wali kelas, selain itu kepala sekolah dibantu oleh kepala paket keahlian. Kepala sekolah secara terus menerus memperhatikan dan mengawasi kinerja wali kelas, melalui pengamatan secara langsung mengawasi kinerja wali kelas dengan memantau perkembangan secara berkala, dan kepala sekolah berdialog langsung dengan wali kelas dan menerima masukan-masukan dari wali kelas, ketua paket keahlian dan siswa.

Pemberian kompensasi bukan inisiatif kepala sekolah tetapi sudah diatur melalui pengunaan dana BOSDA,yang dalam hal ini para wali kelas mendapatkan tunjangan tambahan sebagai wali kelas yang besarnya sudah ada petunjuknya, kepala sekolah hanya menjalankan sesuai petunjuk yang ada. Pencairan tujangan dana BOSDA yang diterima oleh wali kelas setiap triwulan, artinya bahwa tunjangan wali kelas dapat diterima oleh wali kelas tidak setiap bulan, melainkan tiga bulan sekali setelah dana BOSDA cair. Motivasi yang diberikan kepada kepala sekolah memberikan pengaruh yang baik terhadap kinerja wali kelas karena kepala sekolah sudah berbuat yang terbaik sebagai pimpinan terhadap bawahanya, dan kepala sekolah memberikan insentif terhadap wali kelas yang berasal dari dana BOSDA. Arahan dan motivasi yang diberikan kepala sekolah dalam menjalankan tugas wali kelas berdampak pada kenerja wali kelas secara langsung maupun tidak langsung dan menghimbau wali kelas semaksimal mungkin melaksanakan displin kerja. Untuk pengahargaan dan hasil kerja wali kelas kepala sekolah memberikan insentif kepada wali kelas berupa penghasilan tambahan tunajangan wali kelas yang berasal dari dana BOSDA.

(10)

10

dengan baik dengan dukungan dari bawahan. Pemilihan wali kelas dengan mempertimbangkan SDM karena dibutuhkan kemampuan yang baik sebab selain berhubungan dengan siswa, juga berhubungan dengan orang tua dan masyarakat.

Kepala sekolah menyediakan kebutuhan wali kelas, guru dan siswa seperti formulir, brosur, data kasus yang diperlukan dalam menangani dan membantu siswa, menyediakan alat dan bahan yang diperlukan pada proses pengecatan dalam rangka mengadakan lomba kebersihan kelas yang kreativitas. Dalam melakukan komunikasi dengan bawahannya kepala sekolah selalu terbuka dan menerima masukan dan selalu bermusyawarah, serta menghimbau agar tidak selalu mengikuti perintah kepala sekolah, tetapi dengan melakukan diskusi bersama, dan membicarakan setiap masalah secara bersama. Untuk saat ini tugas wali kelas sangat berat karena dituntut penguasaan komputer yang baik yang akan menjadi pegangan mereka dalam bekerja. Oleh karena itu semua kebutuhan yang diperlukan oleh wali kelas sudah disiapkan oleh sekolah, tinggal bagaimana wali kelas saja yang memanfaatkan fasilitas tersebut secara maksimal.

Komunikasi antara kepala sekolah dengan bawahan tidak mengalami kendala yang berarti karena kepala sekolah menjalankan kepemimpinan yang demokratis dengan mengajajak bawahannya megutamakan musyawarah dalam memutuskan suatu persoalan. Hal lain kepala sekolah menghendaki wali kelas mengerti tentang komputer untuk mengikuti latihan komputer agar tidak ketinggalan, utamanya ketingalan dalam menguasai IPTEK. Untuk keperluan tersebut sekolah menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan wali kelas dalam bentuk alat dan bahan-bahan.

Kepala sekolah tidak mengalami kendala yang berarti saat melakukan komunikasi dan bertukarpikiran dengan wali kelas, karena kepala sekolah menjalankan kepemimpinan secara demokratis karena megutamakan musyawarah dalam mencapai mufakat, tidak semata-mata memberikan tugas sebagai seorang atasan. Masalah tugas wali kelas kepala sekolah menghimbau untuk menguasai IPTEK sebagai pendukung pekerjaan wali kelas dengan menyediakan sarana prasarana yang dibutuhkan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan wali kelas dapat disimpulkan bahwa faktor pendukung kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja wali kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak ditinjau dari komunikasi kepala sekolah dengan bawahannya, kepemimpinan kepala sekolah yang demokratis, sumber daya manusia yang dimiliki, dan adanya dukungan sarana dan prasarana yang memadai.

Faktor penghambat kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja wali kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak yaitu dengan banyaknya jumlah guru (150 orang), masih ada guru yang menjalankan tugas-tugasnya tidak sesuai dengan tupoksinya, tidak membuat program kegiatan kelas secara lengkap, masih ada guru yang mengajar tidak sesuai dengan program yang disusunnya.

Pembahasan

1. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Wali Kelas

(11)

11

menonjolkan kekuasaannya saja, akan tetapi lebih ditanamkan fungsinya sebagai pemimpin. Lembaga pendidikan senantiasa mendambakan profil pemimpin yang ideal dan dapat dijadikan contoh bagi kelompok yang dipimpinya, dikarenakan dunia yang dipimpin adalah dunia pendidikan. Maka kepala sekolah harus mampu menjadi contoh bagi para tenaga kependidikan yang ada disekolahnya.

Kepala SMK Negeri 4 Pontianak senantiasa memperhatikan kebutuhan bawahan dengan berusaha menciptakan suasana saling percaya dan mempercayai, berusaha menciptakan saling menghargai, simpati terhadap sikap bawahan, memiliki sifat bersahabat, menumbuhkan peran serta bawahan dalam pembuatan keputusan dan kegiatan lain. Sehingga apa yang menjadi tugas merupakan hasil keputusan bersama dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kepala sekolah mampu menggerakkan, mempengaruhi serta memberikan dorongan kepada seluruh personil yang ada dalam lembaga pendidikan yang dipimpinnya untuk meningkatkan kinerjanya sebagai wali kelas atau sebagai pengajar bagi para siswa.

Hal ini didukung oleh pendapat Wahjosumidjo (2013: 108) mengemukakan bahwa salah satu fungsi kepemimpinan kepala sekolah adalah mampu menimbulkan dan menggerakkan semangat para guru/wali kelas, sataf dan siswa dalam pencapaian

tujuan yang telah ditetapkan”.

2. Kinerja Wali Kelas

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, wali kelas dan siswa dari hasil observasi dan dokumentasi dapat disimpulkan bahwa kinerja wali kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak adalah wali kelas telah melaksanakan kegiatan kelasnya seperti membuat program wali kelas, melakukan bimbingan dan pembinaan terhadap siswa, mengelola kelas dan melakukan administrasi kelas dengan baik sesuai dengan tugas yang telah ditetapkan.

Wali kelas merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama, dan utama. Figur yang satu ini akan senantiasa menjadi sorotan strategis ketika berbicara masalah pendidikan, karena wali kelas yang juga merupakan seorang guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam sistem pendidikan. Wali kelas sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar, dan merupakan komponen yang berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Dalam kaitanya dengan kinerja wali kelas, di SMK Negeri 4 Pontianak para wali kelas sudah melakukan kerja yang cukup baik, ini bisa dilihat: 1) Dalam proses belajar mengajar wali kelas dan juga selaku guru sudah mengikuti standar pendidikan yang saat ini digunakan yaitu menggunakan kurikulum tahun 2013, 2) Wali kelas sudah disiplin dalam menjalankan tugasnya, 3) Wali kelas juga sudah memberikan motivasi kepada para siswa untuk lebih giat belajar.

Seorang wali kelas harus pintar dalam menarik perhatian siswanya. Wali kelas harus bisa menyamakan persepsi/pandangan dirinya dengan persepsi yang dimililki siswanya. Teori penyeragaman persepsi ini disebut apersepsi. William James (2012: 78), seorang psikolog pernah membahas apersepsi dalam tulisannya sebagai berikut :

Many teachers are inquiring, “What is the meaning of apperception in educational

(12)

12

Now apperception is an extremely useful word in paedagogics, and offers a

convenient name for a process”

Guru berbeda dengan wali kelas. Jika guru hanya bertanggung jawab terhadap siswanya selama proses pembelajaran saja, maka wali kelas bertanggung jawab terhadap kelas yang dibina juga diluar proses pembelajaran. Karena itu, wali kelas wajib menguasai teknik-teknik dan metode-metode yang efektif agar siswanya mau terbuka.

Dengan demikian, untuk meningkaka kinerja kinerja wali kelas dengan baik. Maka ada banyak hal yang perlu dilakukan dan diperlihatkan wali kelas dalam tugasnya. Sehingga wali kelas harus bisa memahami akan tugasnya sebagai pengelola pembelajaran, melaksanakannya, dan berhasil dalam mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik sangat ditentukan oleh konsekuensi dalam bekerja.

3. Upaya Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Wali Kelas

Berdasarkan data yang diperoleh dari upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja wali kelas dengan cara memberikan motivasi, meningkatkan disiplin keja wali kelas, dan memberikan kompensasi berupa tunjangan tambahan kepada wali kelas.

Secara teoritik kepemimpinan pada dasarnya kemampuan menggerakkan, memberikan motivasi dan mempengaruhi orang-orang yang bersedia melakukan tindakan-tindakan yang terarah pada tercapainya tujuan melalui keberanian pengambilan keputusan tentang kegiatan yang harus dilakukan. Pendekatan perilaku merupakan konsep kepemimpinan yang sesuai dengan prinsip-prinsip mendidik. Tidak seorangpun akan mengingkari bahwa salah satu pendidikan adalah mengubah tingkah laku, apakah itu tingkah laku siswa ataupun tingkah laku subyek didik lainnya. Setiap pendidik didalam melakukan tugasnya perlu memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan perilaku subyek didiknya. “Motivasi merupakan proses yang mempengaruhi kebutuhan dasar atau dorongan yang memberikan semangat,

menyalurkan, dan mempertahankan perilaku”. (Hemawati, 2014: 86).

Jadi kepemimpinan pendidikan adalah segenap kegiatan dalam usaha mempengaruhi orang lain yang ada dilingkungan pendidikan pada situasi tertentu agar orang lain melalui kerja sama mau bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dan ikhlas demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Kepala sekolah merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan sekolah, yang akan menentukan bagaimana tujuan-tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya direalisasikan (Husna Asmara, 2005: 18). Disamping itu kepala sekolah juga berperan penting dalam meningkatkan kinerja guru dan prestasi siswa. Berkenaan dengan ini kepala sekolah harus mampu menjadi pemimpin yang dapat memberi contoh dalam memotivasi peserta didik untuk meningkatkan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan.

(13)

13

perencanaan, mengatur pelaksanaan, mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan tugastugas, serta menyusun laporan pelakasnaan kegiatan dari kepala sekolah tersebut. Namun demikian, dilingkungan sekolah juga terdapat tuntutan agar kepala sekolah juga mampu untuk berkomunikasi serta mampu memobilisasi partisipasi masyarakat.

Adapun upaya yang di lakukan kepala sekolah SMK Negeri 4 Pontianak dalam meningkatkan kerja wali kelas antara lain dengan: 1) Memberikan dorongan timbulnya kemauan yang kuat kepada wali kelas agar percaya diri dan semangat dalam menjalankan tugasnya. 2) Memberi bimbingan, pengarahan dan dorongan untuk berdiri didepan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan. 3) Membujuk dan memberi keyakinan kepada wali kelas dalam mengerjakan tugasnya. 4) Menghindari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras dalam memberikan tugas kepada para wali kelas. Kepala sekolah di SMK Negeri 4 Pontianak juga memberikan pelatihan bagi para guru dengan cara mengikut sertakan guru dalam berbagai pelatihan sesuai dengan bidangnya masing-masing. selain itu kepala sekolah juga memberikan pelatihan penguasaan teknologi (komputer) kepada para wali kelas dan guru, terutama wali kelas yang akan mengerjakan tugas menggunakan aplikasi. Pelatihan komputer ini bertujuan untuk melatih para wali kelas agar menguasai computer dengan baik bagi dirinya sendiri, dan mampu menemukan jati dirinya.

Dalam kaitannya dengan disiplin, Kepala sekolah SMK Negeri 4 Pontianak sudah menegakkan disiplin kepada para wali kelas agar berangkat lebih awal dari siswanya pada hari senin, disini dikenakan adanya jadwal upacara dan pembinaan lingkungan. Disiplin disini tidak hanya untuk para siswa saja, tetapi wali kelas juga harus disiplin untuk memberikan contoh kepada para siswa.

Wali kelas sebagai pendidik mempunyai peranan penting dalam mengembangkan disiplin diri. Rusdinal (2005: 90) mengemukakan bahwa tujuan disiplin merupakan persiapan bagi masa dewasa, saat tergantung kepada disiplin

diri”. Di dalam penataan perilaku, maka secara berangsur ditanamkan rasa kesetiaan,

ketaatan terhadap tertib hidup atau aturan hidup sehari-hari. Dengan demikian disiplin yang diterapkan pada wali kelas diharapkan dapat mengajarkan rasa tanggung jawab dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai wali kelas dituntut untuk dapat melakukan kontrol eksternal dengan melakukan tindakan-tindakan yang dapat

membentuk “self discipline” sehingga diharapkan siswa dapat mentaati peraturan, norma-norma dan batasan-batasan perilaku dirinya. Upaya untuk mengembangkan disiplin diri adalah melalui penanaman disiplin . Dengan penanaman disiplin ini wali kelas berusaha menciptakan situasi proses belajar mengajar yang dapat mendorong siswa untuk berdisiplin diri dalam belajarnya.

(14)

14

4. Faktor Pendukung dan Penghambat yang Dihadapi Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Wali Kelas

Kesulitan dalam laporan pertanggungjawaban merupakan kendala yang utama di dalam pelaksanaan kebijakan pendidikan gratis. Kesulitan ini dapat dipengaruhi karena singkatnya jangka waktu penyusunan laporan pertanggungjawaban BOS, kurangnya kejelasan tentang pertanggungjawaban pada saat sosialisasi dan pengg unaan dana yang sangat dibatasi dengan aturan-aturan yang dalam pembuatan laporan pertanggungjawabannya harus sesai dengan batasan yang sudah diatur di buku pedoman.

Keterlambatan pencairan dana disini pencairan dana yang tidak tepat biasanya terjadi pada awal periode, yaitu yang seharusnya bulan januari itu sudah keluar tapi bulam april baru terealisasi. Oleh sebab itu, maka pihak sekolah harus mencari dana talangan terlebih dahulu dengan cara mencari pinjaman, misalnya meminjam dana yang dari APBD karena keluarnya kadang tidak bersamaan, tetapi setelah dana BOS di naikkan dana yang dari APBD malah diturunkan, jadi ya masih kurang dan harus mencari dana talangan yang lain untuk membiayai operasional sekolah tersebut. Terkadang sekolah juga bingung karena sudah terlanjur menggunakan dana dari pinjaman ternyata dana yang keluar lebih sedikit dari pinjaman tersebut.

Tapi memang harus begitu kalau ingin proses pembelajarannya tidak terhambat, karena sumber dana sekolah sekarang hanya mengandalkan dari pemerintah pusat dan daerah saja. Yang penting semua keperluan yang penting didahulukan dan yang lain ditunda terlebih dahulu sampai dananya sudah ada.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Secara umum kesimpulan dalam penelitian ini adalah “Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Wali Kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak adalah kemimpinan yang efektif dan demokratis, dengan rincian sebagai berikut: 1) Kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja wali kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak telah berjalan dengan baik. 2)Kinerja wali kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak telah melaksanakan program dengan baik seperti membuat program wali kelas, melakukan bimbingan dan pembinaan terhadap siswa. 3) Upaya kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja wali kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Pontianak dengan melakukan komunikasi yang baik, memberikan motivasi dan arahan yang jelas, meningkatkan disiplin kerja wali kelas, dan memberikan kompensasi berupa tunjangan tambahan kepada wali kelas.

Saran

(15)

15

studi lanjutan selain dari upaya yang telah dilakukannya, 2) Untuk wali kelas agar memanfaatkan fasilitas yang ada secara optimal sesuai tugas pokoknya, 3) Sebaiknya wali kelas meminimalisir segala bentuk hambatan dalam melaksanakan tugas dengan cara melaksanakan sesuai perencanaan sehingga dapat berjalan dengan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Barnawi & Mohamad Hasan. (2012). Kinerja Guru Profesional Instrumen Pembinaan, Peningkatan dan Penilaian. Jogjakarta: Ar: Ruzz Media

Helmawati. (2014). Meningkatkan Kinerja Kepala Sekolah/Madrasah Melalui Managerial Skills. Jakarta: Rineka Cipta

Lexy Moloeng. (2008). Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT.Remadja Rosda Karya

Mulyasa, (2009). Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya

---, (2007), Menjadi Guru Profesional, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Sardiman AM. (2014). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grasindo Persada

Syaiful Sagala. (2010). Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta

Ulber Silalahi. (2009). Metode Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...