Seminar Nasional Tahunan V Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 26 Juli 2008
MS-20 BEBERAPA JENIS FITOPLANKTON DOMINAN DI WADUK JATILUHUR
Yayuk Sugianti dan Mujiyanto
Loka Riset Pemacuan Stok Ikan, Jatiluhur
Abstrak
Dominansi suatu jenis fitoplankton pada suatu badan air ditentukan oleh perbandingan jenis nutrien yang terlarut dalam badan air, tapi dominasi fitoplankton di suatu perairan tidak selamanya menguntungkan perairan tersebut. Perubahan kondisi lingkungan akan merangsang fitoplankton tumbuh meledak sehingga menimbulkan blooming. Kegiatan budidaya dapat berpengaruh terhadap kondisi kualitas perairan suatu waduk, karena sisa pakan dan sisa metabolisme yang menumpuk di dasar perairan dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi pada waduk tersebut dan dapat menimbulkan blooming fitoplankton. Tulisan ini bertujuan memberikan informasi fitoplankton dominan apa saja yang terdapat di Waduk Jatiluhur dan pengaruhnya terhadap perairan tersebut. Dari hasil pengamatan, jenis fitoplankton yang dominan di Waduk Jatiluhur adalah Microcystis sp, Oscillatoria sp (filum Cyanophyta), Ceratium sp dan Peridinium sp (filum Pyrrophyta). Walaupun blooming beberapa jenis fitoplankton tidak menimbulkan racun, tapi dapat mempengaruhi sumberdaya yang ada di perairan karena menyebabkan tekanan terhadap suatu ekosistem.
Kata kunci: Fitoplankton, Waduk Jatiluhur
Pengantar
Fitoplankton dapat disebut sebagai produsen pertama, karena secara historis hidup paling dulu di dunia. Secara de facto, jika terbentuk danau baru, maka yang pertama hidup di danau tersebut adalah fitoplankton, bukan produsen lain seperti rumput air atau tumbuhan tingkat tinggi lainnya. Eksistensi fitoplankton sangatlah besar di perairan, karena fitoplanktonlah yang pertama membangun bahan organik dan penghasil oksigen terbesar di perairan melalui proses fotosintesis yaitu sekitar 90-95% (Schimittou, 1991). Faktor lingkungan fisik (abiotik) yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fitoplankton adalah angin, arus, ketersediaan makanan (kandungan unsur hara) dan aktivitas pemangsaan (Davis, 1955).
Komunitas fitoplankton di perairan waduk dan danau cenderung didominasi oleh jenis-jenis dari kelas Chlorophyceae, Cyanophyceae dan Bacillariophyceae. Dominansi suatu jenis fitoplankton pada suatu badan air ditentukan oleh perbandingan jenis nutrient yang terlarut dalam badan air. Hal ini disebabkan setiap jenis fitoplankton mempunyai respon yang berbeda terhadap perbandingan jenis nutrien yang ada terutama nitrogen dan fosfor dalam badan air. Tetapi dominasi fitoplankton di suatu perairan tidak selamanya menguntungkan perairan tersebut. Perubahan kondisi lingkungan akan merangsang fitoplankton tumbuh meledak sehingga menimbulkan blooming. Yang dimaksud dengan blooming adalah suatu peristiwa di mana suatu spesies dalam waktu singkat berkembang sangat pesat dengan jumlah yang melampau rata-rata produksi bulanan dalam keadaan normal (Basmi, 1994). Faktor-faktor yang memicu terjadinya blooming diantaranya adalah Upwelling dan hujan lebat, kedua peristiwa tersebut dapat membalikan massa air sehingga unusr hara yang terdapat di dasar perairan terangkat ke permukaan yang kaya akan sinar matahari sehingga memicu pertumbuhan fitoplankton.
Kegiatan budidaya ikan dalam Keramba Jaring Apung (KJA) di Waduk Jatiluhur telah dimulai pada tahun 1976 dan sejak tahun 1988 kegiatan tersebut mengalami perkembangan baik dalam jumlah unit maupun produksinya. Kegiatan budidaya ini dapat berpengaruh terhadap kondisi kualitas perairan waduk, karena adanya sisa pakan dan sisa metabolisme yang menumpuk dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi pada waduk tersebut dan dapat menimbulkan blooming fitoplankton. Tulisan ini bertujuan memberikan informasi fitoplankton dominan apa saja yang terdapat di Waduk Jatiluhur dan pengaruhnya terhadap perairan tersebut.
Seminar Nasional Tahunan V Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 26 Juli 2008
Bahan dan Metode
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan selama tahun 2004 - 2007 di Waduk Jatiluhur dengan metode survei (Stratified sampling method) (Nielsen and Johnson, 1985). Sampel diambil dari beberapa lokasi di seluruh perairan waduk yang mewakili daerah outlet, inlet, daerah penangkapan dan daerah budidaya (Gambar 1).
Gambar 1. Lokasi Penelitian Inlet Sungai Citarum
Ketinggian permukaan air 100 m, dpl
Ketinggian permukaan air 90 m, dpl
Ketinggian permukaan air 80 m, dpl Keterangan:
Seminar Nasional Tahunan V Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 26 Juli 2008
Metode Pengambilan Sampel
Lima sampai dua puluh liter sampel air diambil lpada kedalaman 0, 2, 4 dan 8 m dengan menggunakan Kemmerer Water Sampler, kemudian disaring memakai plakton net No. 25 (mesh size 60 µm). Sampel plankton hasil proses penyaringan selanjutnya diawet dengan larutan Lugol. Pengamatan dilakukan terhadap 20 lapang pandang tanpa pengulangan pada lapang pandang yang sama dengan menggunakan mikroskop binokuler pada perbesaran 100x. Rujukan yang digunakan untuk identifikasi fitoplankton adalah dari Whiple, (1947) Edmonson (1959), Needham & Needham (1963), dan Sachlan (1982).
Hasil dan Pembahasan
Jenis-Jenis Fitoplankton Dominan
Jenis fitoplankton yang ditemukan selama pengamatan didominasi oleh jenis fitoplankton dari filum Cyanophyta yaitu Microcystis sp dan Oscillatoria sp, serta filum Pyrophyta yaitu Ceratium sp dan Peridinium sp.
Filum Cyanophyta
Cyanophyta atau Alga biru, ialah tumbuhan pertama yang bisa berfotosintesis dan dianggap salah satu pelopor kehidupan yang terpenting di dunia ini. Nama Cyanophyta berdasarkan pigmen phycocyanin yang berwarna biru, selain pigmen phyco-erithrin yang berwarna merah yang terdapat di dalam sel alga-biru. Selain kedua pigmen tersebut, alga-biru mengandung pigmen chlorophyl, carotene dan xanthophyl. Alga biru juga mempunyai produk cadangan seperti karbohidrat dalam bentuk glycogen, tepung dan protein. Pada beberapa jenis terdapat banyak vauola, dan dengan struktur demikian alga-biru mudah mengatur berat jenisnya terhadap media sehingga dapat hidup sebagai plankton. Alga biru dapat hidup di dasar perairan, permukaan perairan (sebagai neuston) dan di dalam air sebagai plankton. Filum Cyanophyta lebih dapat bertoleransi terhadap kisaran suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan filum Chlorophyta dan diatom (Anonim, 2008b).
Salah satu jenis fitoplankton dari filum Cyanophyta yang dominan terdapat di waduk Jatiluhur adalah Microcystis sp. Peristiwa blooming Microcystis sp sering terjadi karena pertumbuhan fitoplankton ini sangat didukung oleh kandungan fosfat dan nitrat yang tinggi. Apabila dalam suatu perairan terdapat kegiatan budidaya ikan dengan sistem keramba, dimana makanan ikannya mengandung kadar fosfat dan nitrat yang berlebih sudah dapat diperkirakan merangsang fitoplankton ini untuk tumbuh berkembang (Sachlan, 1982). Dominasi Microcystis sp yang berlebih berdampak negatif terhadap ikan, karena fitoplankton ini mengeluarkan zat toksin yaitu microcystin yang tidak dapat dicerna atau dimanfaatkan oleh kebanyakan ikan herbivora. Akibatnya di Waduk Jatiluhur sering terjadi peristiwa kematian ikan masal di daerah KJA. Blooming jenis ini pun terjadi apabila kandungan kapur nya cukup tinggi.
Filum : Cyanophyta
Kelas : Cyanophyceae
Ordo : Chroococcales
Famili : Chroococcaceae
Genus : Microcystis
Gambar 2. Microcystis sp
Seminar Nasional Tahunan V Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 26 Juli 2008
Gambar 3. Fenomena blooming Microcystis sp di beberapa tempat
Selain Microcytis sp, fitoplankton dominan dari filum Cyanophyta di waduk Jatiluhur adalah Oscillatoria sp. Fitoplankton jenis ini adalah salah satu ganggang biru, berupa benang tebal terdiri dari sel pipih, pembiakan membelah diri dan fragmentasi atau potongan benang yang terpisah timbul menjadi benang baru yang disebut hormogonium (Anonim, 2008a). Tahan kering dan tahan panas di dalam air sampai dengan suhu 0 - 70 0C.
Filum : Cyanophyta
Kelas : Cyanophyceae
Ordo : Oscillatoriales
Famili : Oscillatoriaceae
Genus : Oscillatoria
Gambar 4. Oscillatoria sp
Filum Pyrrophyta
Filum Pyrrophyta (alga api) atau biasa disebut juga dinoflagellata, tubuhnya tersusun atas satu sel dan berdinding sel, dapat bergerak aktif. Habitat nya di laut bersifat fosforesensi (memancarkan cahaya). Sebelah luarnya terdapat celah atau alur, dengan masing-masing mengandung satu flagel. Selain itu pigmennya klorofil dan berwarna coklat kekuning-kuningan (Anonim, 2008c). Banyak jenis plankton dari filum ini memiliki fase istirahat atau berubah bentuk menjadi sista, yang merupakan perubahan sel vegetatif akibat dari kondisi lingkungan yang memburuk. Seperti perubahan iklim, kurangnya sediaan unsur-unsur hara, penolakan terhadap predator, proses reproduksi (seksual atau aseksual), dan pembubaran/penghilangan jejak (Wiadnyana & Wagey, 2004). Terkadang terjadi blooming dari filum ini dengan konsentrasi lebih dari jutaan sel per mililiter. Beberapa spesies menghasilkan neurotoxins, dimana kuantitasnya bisa membuhuh ikan. Fenomena ini disebut red tide, apabila dilihat dari warna perairan pada saat blooming. Beberapa warna dari Dinoflagellata itu terjadi karena kandungan racun, seperti Pfiesteria. Tapi tidak semua blooming Dinoflagellata berbahaya (Anonim, 2008c).
Seminar Nasional Tahunan V Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 26 Juli 2008
Florida red tide Red tide of brackish lake
Gambar 5. Fenomena red tide di beberapa tempat
Beberapa plankton ada yang memiliki sifat distribusi yang sangat luas atau disebut kosmopolitanisme. Salah satu jenis fitoplankton dari filum Pyrrophyta yang memiliki sifat kosmopolitanisme yang sangat baik adalah Ceratium hirudinella. Fitoplankton ini hanya hidup di perairan tawar mulai dari Arktik (kutub utara), hidup aktif di dalam air dan terbatas dalam waktu singkat di bulan-bulan musim panas (Basmi, 1998). Beberapa tahun terakhir kelimpahan fitoplankton jenis Ceratium sp cukup meningkat di waduk Jatiluhur, seiring dengan perubahan musim yang tidak menentu. Ceratium adalah organisme akuatik, hidup di perairan laut dan tawar. Mereka dapat ditemukan diseluruh belahan dunia. Ceratium ditemukan di permukaan perairan dimana terdapat cahaya yang cukup untuk melakukan kegiatan fotosinteis. Ceratium adalah organisme yang tidak berbahaya. Tidak mengandung racun, dan diperlukan dalam jaringan makanan. Tapi Ceratium dapat menyebabkan red tide apabila kondisinya memungkinkan untuk terjadi blooming. Walaupun red tide ini tidak mengandung racun, tapi dapat mempengaruhi sumberdaya yang ada di perairan karena menyebabkan tekanan terhadap ekosistem. Pada dasarnya Ceratium komponen yang diperlukan di habitatnya. Ceratium tidak hanya berperan sebagai nutrien untuk organisme besar, tapi melindungi organisme kecil dari predator (Anonim, 2008d).
Filum : Pyrrophyta
Kelas : Dinophyceae
Ordo : Gonyaulacales
Famili : Ceratiaceae
Genus : Ceratium
Gambar 6. Ceratium sp.
Peridinium sp termasuk fitoplankton dari filum pyrrophyta, dimana bentuk dindingnya berkotak-kotak seperti panser, tebal (theca), mudah lepas jika ada di dalam perut konsumen. Kotak-kotak tersebut dari sellulosa, mempunyai bentuk dan sculpture bermacam-macam dan digunakan untuk mendeterminasi specimen-specimen. Sebagian dari tiap sel mempunyai sulkus yang melingkari sel dan juga dikenal sebagai ‘ekuator’ dan merupakan ciri khas untuk specimen-specimen pyrrophyta (Sachlan, 1982).
Seminar Nasional Tahunan V Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 26 Juli 2008
Filum : Pyrrophyta
Kelas : Dinophyceae
Ordo : Peridiniales
Famili : Peridinaceae
Genus : Peridinium
Gambar 7. Peridinium sp.
Kesimpulan
Selama pengamatan jenis fitoplankton yang dominan ditemukan adalah dari filum Cyanophyta yaitu Microcystis sp dan Oscillatoria sp, serta filum Pyrophyta yaitu Ceratium sp dan Peridinium sp. Perubahan kondisi lingkungan akan merangsang dan memicu fitoplankton tumbuh meledak sehingga menimbulkan blooming. Walaupun blooming beberapa jenis fitoplankton tidak menimbulkan racun, tapi dapat mempengaruhi sumberdaya yang ada di perairan karena menyebabkan tekanan terhadap suatu ekosistem.
Daftar Pustaka
Anonim, 2008a. Ilmuwan global bersama tangani masalah Cyanophyceae. indonesia.cri.cn. Diakses tanggal 18 Maret 2008.
Anonim, 2008b. Final Report : SID Rawan Kecelakaan Angkutan Sungai, Danau dan Penyebrangan. http://www.hubdat.web.id. Diakses tanggal 12 Juni 2008.
Anonim, 2008c. Dinoflagellate. http://wikipedia.org. Diakses tanggal 12 Juni 2008.
Anonim, 2008d. Ceratium. http:// microbewiki.kenyon.edu. Diakses tanggl 13 Juni 2008.
Basmi, J. 1994. Blooming Fitoplankton. Fakultas Perikanan dan Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 35 pp.
Basmi, J. 1998. Plaktonologi : Fenomena Distribusi. Fakultas Perikanan dan Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Davis, C.C, 1955. The Marine and Freshwater Plankton. Michigan State University Press.
Needham, J.G and P,R, Needham (1963). A Guide to the Study of Freshwater Biology. Fifth Edition. Revised and Enlarged, Holden Day, Inc, San Fransisco.
Edmonson, W.T. 1959. Freshwater Biology, 2 nd Ed. John Wiley & Sonc. Inc. New York.
Schmittou, H.R. 1991, Cage Culture: A Method of fish Production in Indonesia. Fisheries Research and Development Project-Cebtral Research institute for Fisheries, Jakarta
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro Semarang. 156 pp.
Seminar Nasional Tahunan V Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, 26 Juli 2008
Semnaskan_UGM/Manajemen Sumberdaya Perikanan/MS-20 7
Whipple, G.C. 1947. The Microscopy of Drinking Water. John Wiley & Sons, Inc. London : Chapman & Hall, Limited. 586 p.