WAWANCARA DENGAN SUBJEK PENELITIAN YANG MENGALAMI KDRT INFORMAN-I

Teks penuh

(1)

WAWANCARA DENGAN SUBJEK PENELITIAN YANG MENGALAMI KDRT

INFORMAN-I

Nama: Ro Umur: 22 Tahun

Alamat: Jalan Sei Silau Kisaran. Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga Agama : Kristen

Suku : Batak

Jumlah anak 2 orang

Ciri-ciri fisik: kurus, rambut pendek kira-kira sebahu, suka mengenakan celana jeans, dengan menggunakan kacamata minus 5. Tinggi badan informan kira-kira 165 cm, dengan berat badan yaitu 50 Kg.

P = Peneliti, S1 = Subjek 1

Pertemuan 1, tanggal 10 April 2014

Lokasi : Depan rumah peneliti.

P : Siang bu, maaf sebelumnya mengganggu. S1 : Siang, ada apa bu?

P : Ibu namanya bu Ro ya? Saya bisa ngobrol-ngobrol sebentar sama ibu? Saya Fifi, mahasiswa S2 USU, lagi penelitian.

S1 : O... mahasiswa USU ya? Ada apa ya? Gini loh bu aku enggak bisa lama aku takut meninggalkan rumah, takut suamiku nanti nanya-nanya, soalnya pas tadi aku pigi, dia masih di rumah.

P : Baiklah bu, ada yang ingin saya cari tahu dari ibu menyangkut kehidupan rumah tangga ibu, saya dengar ibu ada permasalahan, apa benar demikian bu?

S1 : Kok ibu bisa tau sih?

P : Begini bu, aku kan pernah lihat ibu jalan buru-buru waktu lewat rumah aku, aku pikir bu pasti ada masalah, terus aku liat mata ibu bengkak. Aku juga dengar dari tetangga ibu, si W, dia itu teman dekat aku, waktu aku nanya dia ada orang yang KDRT sama suaminya karena aku butuh untuk penelitian, kawan aku itu nunjuk ibu. Apakah benar itu bu, bisa kita cerita-cerita bu?

S1 : Iya bu, aku mau cerita tapi enggak bisa lama ya. P : Cerita lah bu biar aku dengarkan.

(2)

Begini bu sebenarnya aku takut menceritakannya tapi ini menjadi masalah untuk aku, aku enggak ingin orang lain mengetahuinya bahwa aku kena KDRT, tapi aku juga gak tahan lagi memendamnya terus terusan.

P : KDRT itu kapan kejadiannya bu?

S1 : Yang aku ingat kali bu, Itu pas aku hamil yang kedua, pas waktu 6 bulan mau ke 7 bulan. Waktu itu aku lagi nidurkan anak yang pertama di kamar, kemudian aku dengar suamiku baru pulang ke rumah. Dengan suara keras, suamiku ngetok-ngetok pintu dan teriak-teriak “Buka pintunya!” Akupun nggak menjawabnya karena aku ngantuk kali, tapi karena terus-terusan dia teriak, aku jadi ketakutan. Dengan susah payah, aku turun tempat tidur dan buka pintu, aku lihat suamiku matanya merah, mulutnya bau minuman, gak pake basa basi dia terus dorong aku dan nampar muka aku, dia bilang “lama kali kau buka pintunya monyet...gak kau tengok aku capek manggil-manggil kau, dasar anjing”. Sakit kali rasanya hatiku bu. Belum pernah aku dibilang binatang sama orang tuaku, tapi sama dia sering kali aku disebut binatang ya monyetlah, babilah, anjinglah... (matanya berair.... menangis).

P : Kenapa ibu gak melawan

S1 : Hancurlah aku kalau melawan bu, badan dia besar kali. Kalau habis dipukul, badanku biru-biru bu. Dadaku ini seringkali sesak....

P : Oh... tega sekali suami ibu. Yang sabar ya bu..

S1 : Sudah dulu ya bu, aku takut nanti suamiku nunggu di rumah, tadi piginya gak pamitan.

P : Tapi aku masih ingin cerita-cerita sama ibu. Kapan kita bisa ketemu lagi bu?

S1 : Dua hari lagi ya bu. Nanti telp aku. Ini nomor hape aku bu. Aku besok ada acara keluarga.

P : Terima Kasih ya bu. Nanti aku pasti hubungi.

P : Bu Ro, apa kabarnya?

Pertemuan 2, tanggal 12 April 2014

S1 : Sehat bu. Ibu sendiri gimana?

P : Syukurlah. Aku sehat juga bu. Sekarang ibu sudah siap cerita-cerita lagi sama aku tentang kekerasan yang dilakukan suami ibu.

S1 : Iya bu.

P : Tapi boleh aku tahu, kisah kenalan ibu dengan suami sampai menikah? S1 : Aku memang dijodohkan sama paribanku itu. Tapi memang aku gak tahu

(3)

Suamiku namanya Ri, pendidikannya SMA. Dulu dia gak kejam, tapi sekarang temperamen tinggi, sikit-sikit marah, sikit-sikit mukul, kalo ada perkataanku yang gak cocok sama dia, dimakinya aku. Aku juga gak ngerti kenapa belakangan ini sikapnya jadi aneh. Seringkali aku dikata-katai binatang sama dia, dia seringkali bilang “anjing kau, babi kau” pernah juga punggungku dipukulnya sampe aku jatuh. Aku juga pernah diancamnya mau dibunuh.

P : Kapan suami ibu mulai berubah? Apa saja perubahan yang ibu rasakan? S1 : Gini ya bu, suami aku mulai berubah itu sejak aku mulai hamil kedua, gak

tahu aku kenapa, karena aku kadang urusan kerja pergi di Kisaran, dalam satu minggu aku ada beberapa kali ke Medan, maklum aku ini pegawai yang disuruh-suruh sama bos aku. Jadinya aku sama suamiku sangat jarang berkomunikasi.

P : Bagaimana perhatian dan perlakuan suami pada saat ibu hamil?

S1 : Bingung aku jawabnya bu, tapi justru saat aku hamil ini suami aku, jarang berkomunikasi dan jarang bertemu, karena urusan kerjaan aku padat. Hari-hari aku lewati dengan kecapean, dan sampai rumah kadang aku cepat tidur. Tapi kalo sudah ketemu maunya berantem terus, main pukul, pokoknya kasar kali lah dia.

P : Apa gak pernah dia minta maaf sama ibu....

S1 : Minta maaf? Orang dia bilang dia gak salah kog. Dia bilang aku yang selalu salah. Katanya aku perempuan harus nurut sama laki.

P : Apa tanggapan dari keluarga ibu dan mertua ibu?

S1 : Masing-masing keluarga kami memberikan tanggapan yang hampir sama mereka justru menyalahkan aku, dibilang aku terlalu gak perhatian sama suami lah, terlalu sibuk sama kerjaan lah, istri yang gak ngerti suamilah... stres kali aku dengarnya. Dipikirnya aku ini gak peduli sama suami, sama anakku.

P : Kalo dengan kehamilan ibu apa waktu hamil suami ibu perhatian?

S1 : Apanya yang perhatian, megang atau ngelus-ngelus perutku aja dia gak mau, mana pernah dia gitu.

P : Siapa yang ngantar ibu periksa kehamilan?

S1 : Mana mau suamiku ngantar bu. Dia itu malah kadang nelpon adiknya yang perempuan suruh ngantar aku pergi ke bidan. Padahal dia di rumah cuma tidur sama nonton TV.

P : Kenapa ibu gak minta antar suami ibu?

S1 : Malas aku bu. Dulu pernah aku minta tolong antarkan sama dia, tapi waktu itu dia baru tidur-tiduran di kursi, langsung dibentaknya aku “monyet kau, gak tau kau aku baru tidur. Pigi sendiri kau bodat”

P : Jadi ibu kadang pigi sendiri kalo periksa?

S1 : Lebih sering sendiri bu, aku rasa aku mampu bu, gak perlu semua itu, aku harus kuat bu.

(4)

S1 : Ya sayalah bu. Suamiku itu gak jelas kerjanya. Dulu dia sebelum nikah memang ada kerja di perusahaan, tapi kena PHK, karena perusahaannya bangkrut. Habis itu, kadang ada kerja kadang gak ada. Keuangan keluarga, ya saya yang nanggung, karena saya yang bekerja, untung saja saudara tempat saya kerja itu orangnya baik, kadang saya dapat tambahan gaji kalo ke Medan atau keluar kota lainnya.

P : Terus gimana ibu menyimpan uang untuk masa depan?

S1 : Ya pande-pande saya lah bu. Belanja secukupnya, usaha jualan “Tupperware” sama teman-teman kerja, sama tetangga. Kalau gak gitu mana bisa nyimpan duit bu, harus pinter berhemat. Sekarang apa-apa mahal.

P : Kembali ke topik kekerasan tadi bu, seberapa sering ibu dapat perlakuan kasar dari suami ibu itu?

S1 : Cukup seringlah bu... gak ingat lagi saya...apalagi kalo dia abis mabuk, abis kalah main judi, karena dia itu kuat kali judinya. Aku dimaki-makinya, dipukulnya, dijambaknya, sakit kali hati ini kurasa bu.

Aku ini perempuan bisanya apa, hingga aku pun gak bisa berbuat banyak waktu dipukuli dia. Sempat beberapa kali aku pergi dari rumah, pulang ke rumah orangtua, tapi disusulnya lagi sambil bilang minta ampun, minta maaf, gak akan ngulangi lagi, tapi ya gitu, seminggu dua minggu baik, tapi lewat itu mulai kumat lagi dia, diulangi lagi.

P : Iya bu aku pun ikut sedih mendengarnya, jadi bu cemana kalo masalah hubungan suami istri?

S1 : Kadang-kadang suka dipaksa bu, tahu lah, aku terkadang gak mau berhubungan suami istri apalagi kadang dia minta, pas aku lagi capek kali. Jadi aku lakukan dengan terpaksa. Aku gak bisa mikir apa-apa lagi bu, jadi kami sebenarnya sudah gak harmonis lagi.

Sebenarnya aku udah malas berhubungan intim sama suamiku itu, kalo melakukan hubungan suami istri aku selalu ingat perilaku kasarnya. Gairahku juga sekarang udah hilang, udah mengalami penurunan lah bu. P : Apakah suami ibu ada kebiasaan melihat film porno sebelum melakukan

hubungan suami istri?

S1 : Memang ada bu, aku pernah lihat dia beberapa kali liat film porno di hapenya, terus dia tunjukin ke aku, dia minta adegan di film porno itu dipraktekkan samaku. Kalo yang masih wajar-wajar saja aku mau bu, tapi kalau yang sudah berlebihan seperti yang diikat-ikat, disodomi, aku gak mau bu.

(5)

S1 : Dia marah kali sama aku, pernah aku dipaksanya ngelayani, tapi aku bilang aku ngantuk kali, tapi aku ditunjangnya, terus aku didorongnya ke tempat tidur, dia gituin aku kayak kesetanan, seperti diperkosa aku rasanya.

P : Apa ibu gak curiga kalau suami ibu ada main sama wanita lain misalnya PSK?

S1 : Ya mungkin sajalah bu, aku kurang tahu, karena bisa saja dia gituan sama PSK di luar sana. Kadang-kadang aku takut juga ketularan penyakit kelamin kalo pas hubungan sama dia.

P : Apa ibu pernah keputihan?

S1 : Iya bu, belakangan ini saya mengalami keputihan.

P : Jadi bu, gimana dengan mens (menstruasi... maksudnya) ibu selama ini? S1 : Setelah melahirkan ini, sering gak teratur bu, tapi waktu hamil kan gak

ada haid. Kalau mens, kadang datangnya cepat belum sampai sebulan, kadang suka telat lebih sebulan, kadang darahnya banyak, kadang sikit, tergantung situasi keadaan aku bu.

P : Apa yang sering ibu lakukan kalo habis dipukuli suami?

S1 : Aku nangis di kamar, aku merasa orang gak berguna, jadinya aku malas makan makanya aku kurus kali, jadi malas mandi, malas bersolek kalo di rumah. Tapi udah lah bu, ini memang nasib dan jalan hidupku, gak ada lagi yang bisa kubuat. Aku bertahan karena ada anakku ini.

P : Apakah bu tahu kebiasaan suami bu selama ini, sebelum menikah dengan bu?

S1 : Gak pala tahu aku bu. Dia dulu di Tarutung. Kata saudara-saudaranya dulu dia itu gak kayak gitu, gak tukang mukul.

P : Kenapa ibu gak membalasnya...

S1 : Aku gak mau membalas kelakuan dia itu, biar hanya Tuhan saja yang membalasnya dan aku gak akan mau membalas perilaku kasar yang aku terima dari suami aku tersebut. Di keluarga kami dulu gak ada yang kayak dia itu.

P : Kenapa ibu gak melaporkan suami ibu ke polisi?

S1 : Aku gak mau ribut-ribut, malu sama keluargaku, sama tetangga, sama orang lain, aku maunya dia sadar.

P : Pas waktu hamil ibu dipukul sama suami ibu apa gak? Ada pengaruhnya sama kehamilan ibu?

(6)

gak ketulungan, dikasih obat, tapi syukurlah kandunganku tidak apa-apa, syukurlah bu, itu yang membuatku agak sedikit tenang. Abis itu aku lari ke tempat mamakku. Tapi seminggu kemudian dia datang minta-minta maaf. Akupun jadinya balik lagi ke rumah.

P : Gimana bu saat bu melahirkan, apakah keadaan/kondisi bayi bu sehat? S1 : Memang butuh pengorbanan yang sangat besar untuk kelahiran bayi,

paling penting anakku lahir sehat. P : Terus gimana cara ibu merawat bayi... S1 : Ya aku rawat sendiri, aku cuti kerja. P : Kalo suami ibu apa sayang sama bayi?

S1 : Mana mau tau dia bu, semuanya yang ngurusi aku bu. Ngasih makan aku sendiri, nyuci popoknya aku sendiri. Itu aku kerjakan pada seminggu setelah melahirkan. Kalo baru pulang melahirkan dulu yang bantuan adikku kusuruh tinggal di sini, dia yang bantuan nyuci, masak, dan lain-lain. Tapi abis itu dia pergi kuliah ke Jawa, ya mau gak mau aku sendiri yang ngerjai di rumah.

P : Gimana perasaan ibu sama bayi?

S1 : Ya sayang lah, namanya juga aku ibunya, dia anakku, darah dagingku. P : Maksud saya, apa ibu gak marah atau dendam sama dia karena dia kan

darah daging suami ibu yang suka nyiksa ibu?

S1 : Ya mau gimana lagi bu. Susah saya njelaskannya. Memang kadang timbul rasa benci saya liat dia kalau teringat bapaknya. Tapi kalo ingat darah dagingku juga, dia gak salah, gak berdosa, aku sayang sekali sama dia. P : Terus gimana kalo dia sering nangis?

S1 : Ya aku suruh diam dia, kuelus-elus, ku gendong, tapi kadang kalo gak berhenti juga aku cubit.. kesal kali aku, jadi aku teringat sama bapaknya... kadang kumarahi dia “kau sama saja sama bapak kau, bikin kesal aku aja...”

Tapi kalau aku pikir-pikir, kasihan juga anakku itu, karena dia tidak tahu apa-apa. Cuma kadang kalau ingat suamiku itu, rasanya pingin pisah saja. Kalau gak pikir-pikir dia itu paribanku, udah kutinggal dia.

P : Kalau misalnya anak ibu jatuh, apa yang ibu lakukan? S1 : Ya aku cepet tolongi lah bu....

P : Apa bayi ibu beri minum ASI?

(7)

P : Kenapa gak dikasih ASI sampai 6 bulan bu?

S1 : Ya itu tadi bu, aku kerja, aku gak bisa full dekat dia kalo sudah kerja. Paling pun nanti dia kutaruh tempat neneknya, terus pulang kerja kuambil dia.

P : Siapa yang membelikan kebutuhan bayi ibu?

S1 : Ya aku semua bu, karena aku yang kerja. Suamiku itu kadang ada kerja kadang gak. Kalau ada kerja, hasilnya pun gak nampak karena buat main judi.

P : Kalo bayi sakit gimana bu?

S1 : Ya saya yang membawa dia ke bidan atau ke dokter. Suamiku mana mau tahu. Tahunya dia anaknya sehat aja. Orang dia seringkali bangunnya siang, sore sampai malam entah kemana, pulangnya pagi. Aku stres kali kalo mikirkan dia bu..

P : Bagaimana pernikahan ini yang bu harapkan?

S1 : Gak banyak yang bisa aku harapkan pernikahan aku ini bu, aku hanya bisa berdoa untuk kelangsungan pernikahan ini atau semoga suamiku ini bisa berubah kayak awal kami nikah dulu.

Udah dulu ya, bu tolong apa yang aku bilangin sama bu, dirahasiakan, dengan benar, karena aku takut suami aku tau, bisa marah nanti dia.

P : Iya bu, terima kasih atas bincang-bincangnya bu. Semoga ibu lebih tenang lagi..

S1 : Iya bu, rasanya dada ini plong setelah cerita sama ibu. Terima kasih ya bu. Kalau ibu mau informan lagi, saya ada teman namanya Ds, dia itu kena KDRT juga waktu hamil.

P : Oh ya, terima kasih bu, dimana dia tinggal? S1 : Itu bu dekat stasiun kereta api. Nanti aku tunjukin. P : Terima kasih ya bu.

(8)

INFORMAN-II

Nama: Ds Umur: 23 tahun Alamat: Kisaran

Pekerjaan: Honorer di Kelurahan Agama : Islam

Suku : Jawa

Jumlah anak: 1 orang

Ciri-ciri fisik: bertubuh kurus memiliki tinggi 158 cm, berat badan 47 kg, waktu pertama kali bertemu mengenakan celana rok, rambut panjang sebahu dan ada nampak beberapa uban (rambut putih), dahinya mulai ada kerutan-kerutan, cenderung pendiam.

P = Peneliti, S1 = Subjek 2

Pertemuan 1 pada tanggal 13 April 2014

P : Assalamu’alaikum Selamat pagi bu, boleh kenalan? S2 : Waalaikumsalam, Ya boleh, ibu siapa?

P : Saya Fifi, mahasiswa S2 USU yang lagi penelitian, ada hal yang ingin saya tanyakan sama bu, nama ibu sapa ya?

S2 : O...ya... Nama Saya Ds, ada apa ya bu?

P : Kalau bu tidak keberatan ada sedikit yang ingin saya ketahui dari bu menyangkut pemukulan suami ibu, katanya dari ibu sejak hamil sampai sekarang suami ibu masih sering mukul?

S2 : Eh... kog ibu tahu?

P : Saya dapat ceritanya dari si Ro (Subjek 1), kawan ibu yang tinggal di jalan Sei Silau, jadi waktu saya cerita-cerita mau meneliti ibu hamil yang dipukuli sama suaminya, dia ngasih tahu kalau ibu juga waktu hamil pernah dipukuli, sama kayak dia. Apa benar itu bu?

S2 : O... jadi si Ro yang ngasih tahu ibu tentang aku. Memang benar bu, waktu hamil anakku ini dulu aku dipukuli sama lakiku sama kayak si Ro itu dipukuli lakinya waktu hamil. Gak tahu kenapa suamiku itu bu, kog jadi tukang ngamuk gitu dia...

P : Trus, gimana kejadian pemukulan waktu ibu hamil dulu itu?

(9)

ditamparnya lagi, abis itu aku dijambak sampai jatuh. Aku pun lari minta tolong dan menjerit-jerit, rasanya sakit kali, gitu ceritanya bu.

P : Saat kejadian itu bagaimana kondisi ibu?

S2 : Aku sedang mengandung anak kami yang pertama, umur kandungan aku berkisar 5 bulan, setelah kejadian itu langsung suami aku meminta aku untuk pergi dari rumah, kondisi aku saat itu tidak memungkinkan Karena, memar pada pipi bagian kiri dan kanan, hingga aku pun ngeluarkan darah segar dari mulut.

Waktu kejadian itu, gak tersengaja karena emosi dia nekan perut saya. Aku kesakitan setengah mati. Saking takutnya aku langsung mengecek kondisiku dan bayi, Alhamdulillah kata bidan tidak terjadi apa-apa. Padahal aku udah takut kalo-kalo bisa keguguran.

P : Bagaimana hubungan intim ibu sama suami?

S2 : Terkadang lakiku suka maksa, padahal aku kadang kurang sehat, di sisi lain sebagai istri aku harus memenuhi kewajiban melayani suami. Dia kadang tengah malam memaksa berhubungan, padahal aku capek dan ngantuk. Udah gitu maennya kasar kali, aku jadi gak merasakan apa-apa selain rasa sakit...

P : Kalau masalah menstruasi ibu gimana bu?

S2 : Dulu sebelum hamil, aku menstruasi lancar, tapi setelah melahirkan ini, menstruasi jadi tidak teratur, lebih sering telat.

P : Apakah kebiasaan buruk yang dilakukan oleh suami bu setelah menikah berkaitan masalah seks?

S2 : Pernah pas hari minggu sore aku liat, di teras depan rumah kami banyak berserakan sampul film porno, setelah aku tanya dia, “bang…siapa yang membuang sampul-sampul itu di depan?” eh malah dijawab dia “kenapa rupanya? Angek kau, dari pada aku kemana-mana lebih baik aku nonton itu ngerti kau... kau pun kalau disuruh ngelayani banyak kali alasan... dasar perempuan gak guna!!!”.

Maaf ya bu, aku gak bisa lama-lama bu, Itu dulu ya yang dapat aku ceritakan sama ibu nanti kita jumpa lagi.

P : Baiklah bu, terima kasih atas cerita-ceritanya itu. Semoga 2 hari lagi kita bisa jumpa, saya minta nomor hape ibu ya, nanti saya hubungi.

S2 : Ya bu, ini nomor hapeku. Dua hari lagi kita jumpa bu di rumah ibu aja ya. Karena lebih aman.

P : Baiklah bu, besok saya hubungi.

P : Assalamualaikum. Gimana kabarnya bu? (salaman)

Pertemuan 2, tanggal 15 April 2014

S2 : Walaikumsalam. Alhamdulillah, sehat bu...

(10)

P : Bisa ibu ceritakan awal ibu pertama kali pacaran sama suami ibu sampai menikah?

S2 : Iya Bu, aku dengan lakiku dulu sama-sama sekolah di SMA Negeri 1 Kisaran, dia kakak kelas aku. Setelah tamat sekolah, tidak berapa lama akupun bekerja jadi honorer di kelurahan. Habis itu aku nikah sama dia, karena kupikir kami sudah sama-sama cocok.

P : Sejak kapan dia mulai berubah bu?

S2 : Lakiku mulai berubah setelah aku hamil anakku ini, suamiku mulai acuh tak acuh lagi sama aku. Bukannya tambah sayang sama aku dan janin yang kukandung, malah sikapnya terus berubah kasar. Kalau kutanya dia pulang kerja kog sampe malam, dijawab ketus “ya kerjalah, masa melonte....” seringkali kami gak bertegur sapa beberapa hari padahal satu rumah. Dulu selalu bilang sayang kalau pulang kerja, tapi sekarang gak pernah lagi. Malah kata-kata kasar seringkali kuterima darinya jika uang yang kuminta gak dikasih sesuai yang kuminta “diamlah kau fukimak, sibuk kali kau sama kerjaku, yang penting kan kau kukasih uang belanja”. Sakit hati ini bu. P : Bagaimana perhatian dia bu sama kehamilan, apa dia mau ngantar periksa

ke bidan?

S2 : Kadang-kadang mau, tapi kadang-kadang marah dia sama aku “Pigi aja sendiri, orang rumah bidan dekat aja kog, jalan juga nyampe” ah...beda kali dia waktu kami pacaran dulu bu, dulu sayangnya setengah mati, tapi sekarang dia acuh tak acuh.

P : Menurut ibu, apa yang membuatnya jadi begitu?

S2 : Kurang tahu ya bu, tapi aku curiga dia ada perempuan lain...mungkin dia itu selingkuh, tapi aku gak mau nuduh karena belum ada bukti. Karena ada orang pernah nyampekkan ke aku, dia itu pernah boncengan sama perempuan muda.

P : Apa gak ibu tanya ke dia?

S2 : Ya pernah lah bu, namanya laki-laki dimanapun buaya, mana ada yang mau ngaku. Kalau aku tanya, dianya malah marah-marah dan bentak-bentak, dibilangnya “kau pikir aku kerja ini melonte ya....gak kau tengok aku capek tiap hari pigi kerja” habis itu dia meninju sambil meludahi mukaku. Akhirnya mukaku pun lebam-lebam. Tapi kalo aku keluar rumah kututupi mukaku, ku pake bedak yang tebal biar orang gak tahu kalau aku abis kena tinju.

P : Ibu gak pernah melaporkan perbuatan suami ibu itu sama keluarga atau sama polisi?

S2 : Kalau sama keluarga ya udah bu, tapi ya gitu, udah ada didamaikan, dikasih nasehat, tapi dianya tetap kayak gitu, sembuh sebentar habis itu maen pukul lagi. Kalau melapor polisi, ya saya malu bu, nanti terbongkar kalau rumah tangga kami berantakan. Biarlah cukup aku aja yang merasakan ini.

(11)

S2 : Paling aku nangis di kamar, pasrah, menyesali kenapa dulu aku menikah sama dia. Tapi kalau aku sudah gak tahan, aku lari ke rumah orang tuaku. Di sana kurasa tempat yang paling aman.

P : Apa suami ibu gak pernah minta maaf sama ibu?

S2 : Kalau udah 3 hari atau empat hari aku pergi baru dia datang nyariin, jemput, di situ dia janji-janji gak berbuat gitu lagi, tapi ya itulah bu, namanya buaya, gak lama lagi dia mukuli aku lagi. Lama-lama aku depresi kalau gini terus, pernah juga aku mau bunuh diri, karena kurasa aku gak sanggup lagi, tapi kalau ingat anak di kandunganku aku gak tega, berarti aku membunuh 2 nyawa.

P : Suami ibu itu lebih banyak melakukan kekerasan secara fisik atau psikologis, maksud saya menyiksa dengan kata-kata?

S2 : Sekarang dia lebih banyak menyiksa saya dengan kata-katanya yang kasar, mungkin biar gak ketahuan orang lain kalau nyiksa fisik kan nampak orang, tapi kalau dengan kata-kata paling hati saya yang sakit, gak bisa dilihat orang. Siksaan dia itu pake kata-kata yang kasar, mencaci, memaki, menghina, dan menuduh aku tanpa bukti. Katanya aku yang selingkuh. Perih hati ini bu, lebih sakit rasanya dituduh dan dimaki dengan kata-kata kasar dia itu, aku juga diancamnya kalau sampai aku melaporkan perbuatannya sama orangtuanya atau sama orangtuaku .... (subjek terlihat sesenggukan)

P : Kenapa ibu tidak membalas perlakuan suami?

S2 : Aku gak mau, biarlah Tuhan yang membalas. Aku pikir dia itu akan berubah seiring adanya anak kami, karena aku tahu sifat dia dari dulu, karena kami teman SMA, dia kakak kelas saya. Aku hanya berdoa dia sadar dan kembali sifatnya seperti dulu. Atau mungkin dia kena pengaruh sama cewek selingkuhannya itu, aku gak tahu.

P : Kalau kehidupan ekonomi keluarga ibu gimana?

S2 : Sebenarnya kalau pas lagi dia dapat bonus, kami dapat membeli barang-barang yang kami inginkan, tapi kalau pas gak dapat bonus, kadang gaji dia gak cukup untuk beli keperluan kami, belum lagi susu bayi. Makanya aku heran juga, belakangan ini, udah hampir 6 bulan lebih, kog dia jarang dapat bonus, makanya aku curiga apa dia selingkuh, uangnya dikasih ke ceweknya itu.

P : Kalo masalah hubungan intim, apa suami ibu juga pernah maksa?

S2 : Sering bu.... kalo minta hubungan waktu aku hamil dulu sering kali maksa, padahal perutku mulai besar, aku kadang capek, ngantuk, dia maksa aku ngelayani dia. Kadang aku ngerasa perutku sakit habis hubungan sama dia.. P : Bagaimana waktu ibu melahirkan, sapa yang menemani?

S2 : Yang nemani waktu itu ibu kandungku, sama mertua perempuan. Kalau suamiku waktu itu pergi keluar kota. Kelahiran anakku ini termasuk prematur, belum genap 8 bulan, jadi suamiku gak ada di tempat.

(12)

S2 : Ya gitulah bu. Aku sayang sama dia. P : Waktu bayi, siapa yang merawatnya?

S2 : Ya aku lah bu, dibantu sama ibu kandung yang tinggal di rumah. Kadang-kadang mertua perempuanku juga datang.

P : Sampai berapa lama ibu kandung sama mertua membantu ibu?

S2 : Hampir sebulan juga, setelah aku mulai sehat, aku yang merawatnya. Kalau kurang tahu, aku nanya atau nelpon ibuku, karena ini kan anakku yang pertama, aku memang kurang paham kali ngerawat bayi.

P : Apa ibu memberi ASI?

S2 : Nggak bu, karena dari pertama kali aku melahirkan, ASI gak keluar, jadinya bayi kukasih susu botol aja, makannya pake nasi tim, atau kalau gak bayi dikasih biskuit.

P : Apa gak ada upaya untuk makan apa gitu, biar ASInya lancar dan banyak? S2 : Aku disuruh makan pake sayur daun katuk, tapi aku gak suka. Karena

selama ini aku gak pernah makan daun katuk, jadi waktu disuruh makan pake daun katuk gak suka.

P : Bagaimana cara ibu memberikan perhatian pada bayi ibu?

S2 : Ya gitulah.... mandiin, gendong, ngayun, kalo nangis diidemin, ngasih makan, bikin susunya....

P : Kalau suami ibu bagaimana perhatiannya sama bayi?

S2 : Dia itu kadang kelihatan sayang sama anak kami, tapi kadang tidak peduli. Kadang hari libur dia lebih suka lihat orang main catur di warung dibanding momong anak kami.

P : Apakah ibu pernah dendam jika lihat anak ibu, karena dia itu kan darah daging suami ibu?

S2 : Sama sekali aku gak dendam sama anakku atau sama suamiku. Aku sayang mereka. Karena kadang suamiku itu lembut, tapi kadang kalau sedang stres suka kasar gitu, mungkin juga masalah pekerjaan, masalah maen cewek lagi atau masalah lain aku kurang ngerti.

P : Bagaimana ibu merawat bayi?

S2 : Ya saya yang merawat dari pagi pagi sampai malam.

P : Bagaimana reaksi ibu jika bayi sakit? Apakah ibu selalu mengaitkan perilaku anak ibu dengan perilaku suami?

S2 : Kalau dia sakit ya saya bawa ke bidan, kadang ke dokter. Aku gak mau mengaitkan anakku sama perilaku bapaknya. Semoga anakku sifatnya gak nurun bapaknya itu.

P : Kalau bayi nangis, bagaimana reaksi ibu?

S2 : Ya, aku langsung cepat ngangkatnya, kugendong, kuajak keluar rumah biar dia gak nangis lagi. Kubelai-belai biar diam atau biar tidur.

P : Apa pernah ibu kalau sedang kesal dengan suami, ibu lampiaskan pada anak ibu?

(13)

yang membuat aku kuat, karena dia itu lucu kali bu, kadang dia seperti mengajakku selalu senyum... pokoknya lucu lah.

P : Ya sudah, bu. Saya doakan semoga suami ibu kembali lagi seperti dulu, dan anak ibu tambah lucu. Semoga keluarga ibu menjadi harmonis.

S2 : Amiin

P : Terima kasih wawancaranya ya bu.

S2 : Ya bu sama-sama, terima kasih sudah dengar curhat saya, dada saya sekarang rasanya plong. Kalau ibu mau cerita lagi, ada teman saya juga yang kena KDRT waktu hamil.

P : Siapa bu?

S2 : Itu si Rd, dulu kawan maen saya waktu masih gadis. Rumahnya di Jalan Penggalang. Nanti saya antar ibu kalau mau ketemu dia.

(14)

INFORMAN-III

Nama: Rd Umur: 24 tahun

Alamat: Jl. Penggalang kisaran Pekerjaan: ibu rumah tangga Agama : Islam

Suku : Mandailing Jumlah anak: 1 orang

Ciri-ciri fisik: menggunakan penutup kepala (jilbab), mengenakan baju panjang dengan balutan rok panjang sampai mata kaki. Alasan menggunakan jilbab, selain mengikuti ajaran agama, Rd juga ingin menutupi bekas luka-luka akibat kekerasan yang dilakukan suaminya, biak karena pukulan maupun bekas luka yang disebabkan salah satu sulutan api berupa rokok.

P : Assalamu’alaikum...

Pertemuan 1, tanggal 20 April 2014

S3 : Walaikum’salam. Ada apa ya bu?

P : Gini ibu, saya Fifi mahasiswa S2 USU lagi penelitian tentang KDRT. Saya dapet informasi dari temen ibu, Ds (subjek 2), katanya ibu juga sama kayak Ds, waktu hamil dipukuli suami ibu?

S3 : O.. Ds ya bu yang ngasih tau ibu... aku sama Ds dulu masih gadis teman akrab, sampe sekarang pun kami sering ngobrol.... memang bener bu, aku pas hamil bahkan sekarang pun kadang-kadang suamiku masih mau mukuli...

P : Boleh tau apa masalah kira-kira yang sering bikin suami ibu marah?

S3: : Gini, pada hari itu aku dipanggil oleh suamiku pulang kerja, secara bersamaan aku sedang membereskan pakaian, “dek, dimana kau, lama kali buka pintu”, “di kamar bang lagi lipat pakaian” “tuli rupanya kau ya, udah dipanggil dari tadi gak datang buka pintu ”, “aku gak dengar bang”, “halah alasan kali.. diam mulut kau itu kutepok pula kau nanti”, tiba-tiba seperti kesetanan ditamparnya aku bu sambil bilang “kalau lakimu ini pulang buka pintunya, kau pikir gak capek aku kerja hah.” Ditinjunya kepalaku sampai aku jatuh. Tega kali dia bu, padahal waktu itu aku lagi hamil 5 bulan.

P : Setelah kejadian itu apakah ada upaya bu melakukan pembalasan terhadap perilaku suami bu, pada saat itu?

(15)

P : Kenapa gak dilawan.

S3 : Aku ngomong dikit aja dia udah main pukul, apalagi kalau kulawan, bisa-bisa ditunjangnya aku bu. Ngomongnya pun sekarang kasar kali bu.

P : Bagaimana hubungan suami istri bu?

S3 : Ya, jujur aja bu aku nggak terima atas kejadian itu, tapi aku masih sayang bu dengan suami aku itu, saat berhubungan dengan suami aku itu aku tetap melayani.

P : Apakah dalam hubungan intim dia suka maksa ibu?

S3 : Kadang-kadang maksa dia bu. Kadang aku capek seharian bersih-bersih di rumah, malamnya cepat tidur. Tapi dia banguni aku, disuruh ngelayani dia, padahal aku juga ngantuk, kalau gak dilayani didorongnya kepala aku di tempat tidur, jadi ya terpaksa bu.

P : Bagaimanakah pengaruh menstruasi bu saat sekarang ini?

S3 : Abis melahirkan ini, menstruasiku sering gak teratur bu, kadang lambat kadang cepat, gak bisa ditentukan lagi. Darahnya pun kadang banyak kadang sikit.

P : Oh gitu ya bu... dulu sebelum hamil gimana?

S3 : Waktu belum hamil sih lancar bu, tapi setelah melahirkan ini kog jadi gitu, aku gak tahu bu. Bu maaf ya aku gak bisa lama-lama ngobrolnya, karena suamiku tadi minta dibelikan mi goreng... maaf ya bu saya pamit dulu. P : Baiklah bu.., tapi kita masih bisa ngobrolkan bu...

S3 : Iya bu... saya juga ingin punya teman cerita. P : Kapan kita bisa ngobrol lagi bu...

S3 : Kebetulan aku besok mau pigi bu dua hari ke tempat kakak... jadi tanggal 23 aja kita jumpa ya bu. Ibu telpon aku aja, kita nanti atur tempatnya.... Ini nomor hape saya bu...

P : Baiklah bu... terima kasih ya atas waktunya...ini juga nomor hape saya bu. S3 : Sama-sama bu...

P : Selamat pagi bu.

Pertemuan 2, tanggal 23 April 2014

S3 : Pagi bu.

P : Gimana bu, sudah bisa kita ngobrol-ngobrol. S3 : Ya, bu saya sudah siap.

P : Bisa ibu menceritakan awal perkenalan ibu dengan suami sampai dengan menikah?

S3 : Aku awalnya dikenalkan sama dia sama si Ds (Subjek 2), kami terus kenalan, sms-an, teleponan, akhirnya kami pacaran.

(16)

S3 : Ya memang dulu waktu pacaran pun dia suka mukul, tapi karena memang sudah cinta, aku pikir dia nanti akan berubah setelah berumah tangga, tapi ternyata tidak, malah makin jadi.

P : O. begitu.... sejak kapan dia mulai kasar setelah menikah bu?

S3 : Awal-awal nikah sih biasa. Masih sayang-sayangan, tapi pas aku mulai hamil 4 bulan, aku lihat dia udah berubah, mulai kasar samaku.

P : Apa jenis kekerasan yang sering dilakukan suami ibu itu?

S3 : Kalo kata-kata kotor sih sering kali bu, segala penghuni kebon binatang dibilangnya ke aku. Ya anjing, babi, monyet, apalagi kalo kulawan dia, makin tambah beringas dia maki aku, sambil nampar muka ku, pernah juga aku ditunjangnya waktu aku balas gigit dia. Sakit hati kali aku dibuatnya bu..

P : Pada waktu kapan suami ibu paling sering marah bu?

S3 : Pada waktu minta uang belanja. Aku kan gak kerja, dia itu kadang kerja kadang enggak, tapi kan perut ini gak bisa ditahan kalo gak makan. Setiap minta uang belanja dia bilang nanti..nanti... ya kumarahi jugalah dia, bukannya cari kerja malah di rumah aja nonton TV.

Tapi kadang juga sering marah dia kalau pulang malam hari, bukannya pulang malam-malam bawa duit, malah yang ada aku dengar dari kawannya dia itu sering duduk di kafe sama cewek. Katanya suamiku sering boncengan sama perempuan dari kafe. Banyak juga tetanggaku yang bilang gitu bu. Dia kalau sms-an sembunyi-sembunyi. Apa itu gak selingkuhan bu. Hati siapa yang gak panas bu.

P : Tapi itukan bu masih kata orang bu?

S3 : Gak gitu juga bu, kan aku ada kawan namanya Annisa, dia yang kusuruh mata-matai suami aku, dan terbukti suamiku bonceng cewek, malah duduknya meluk-meluk dari belakang, apa itu gak cukup bukti. Fotonya pun ada sama aku. Tapi waktu suamiku pulang dan kutunjukin foto di hape, malah hapenya dibanting, memorinya dihancurkan dia. Abis itu aku ditampar terus disundut rokok sama dia, ini masih ada bekasnya. Ditampar aja sudah sakit bu, apalagi tahu dia selingkuh... lebih sakit..

P : Itu kapan kejadiannya bu.

S3 : Pas aku hamil 7 bulan. Mungkin karena aku sudah gak melayani dia lagi, karena ngangkat perut aja aku sudah sakit, apalagi kalau melayani dia, apalagi dia itu kalau berhubungan suka kasar, gak hati-hati, gak romantis. P : Apa ibu gak pernah membicarakan ini sama keluarga?

S3 : Sudah bu, aku juga pernah minta cerai saja. Tapi keluarga bilang keluarga ini baru berapa tahun, anak baru satu masa minta cerai. Kalau masih bisa disatukan lagi itu lebih baik.

P : Trus gimana tanggapan suami?

S3 : Suamiku kalau udah gitu minta-minta maaf, janji gak ngulangi lagi, tapi ya itu bu, sebulan baik, bulan berikutnya kumat lagi. Aku capek bu.

(17)

S3 : Sering telat sekarang bu, gak tahu kenapa, dulu waktu belum hamil lancar kok, udah gitu darahnya kadang banyak, kadang dikit.

P : Trus waktu ibu melahirkan, siapa yang nunggui?

S3 : Ya mamak ku, bu, suamiku di luar aja. Gak mau masuk, katanya takut. Iya, mukuli istri mau, tapi ngelihat istrinya berjuang hidup mati untuk melahirkan dia gak mau. Mau enaknya aja dia bu.

P : Bagaimana perasaan ibu sama anak ibu kalau ngelihat bapaknya kayak gitu. S3 : Aku kadang gondok juga nengok anakku itu bu. Apalagi kalau nangis gak

bisa diem...Pernah juga kucubit anakku itu saking palaknya aku. Kadang abis dimarahi suami itu aku lampiaskan juga ke dia... kayaknya dia itu kog nurun sama suamiku itu, wajahnya pun mirip kali.. jadi kadang gemes kali aku liat dia kalo rewel.

P : Tindakan apa aja yang ibu lakukan sama bayi ibu....

S3 : Ya gitu bu, kadang kubiarin dia nangis, sampai dia diem sendiri. Habis, anakku itu kalo nangis susah diemnya, lama-lama diem sendiri terus tidur. P : Kalau anak ibu sakit bagaimana ibu merawatnya?

S3 : Kalo panas badannya kubawa dia ke bidan. P : Apa anak ibu gak dikasih ASI?

S3 : Kasih bu, waktu umur 2 hari langsung kasih ASI, sampe sekarang ini dia umur 4 bulan, masih kukasih ASI.

P : Bayi ibu gak diberi roti atau biskuit.

S3 : Ya dikasih bu, umur seminggu dia udah dikasih biskuit promina, kadang nasi tim. Abis susuku gak cukup, dia itu rewel aja kalau masih lapar.

P : Siapa yang mandiin bayi?

S3 : Ya saya bu, dulu baru lahir dibantu sama kakak ipar. Tapi sekarang sudah saya mandiin sendiri.

P : Apa suami ibu gak bantuan ibu?

S3 : Boro-boro suami saya bantui bu, kalau hari libur malah dia pergi entah kemana, kalau kutanya katanya ada urusan. Entah urusan apa, aku juga heran kog dia gak ada perhatian sama anaknya sendiri.

P : Kalau ibu gimana cara merawat anaknya?

S3 : Ya seperti ibu lainnya, digendong, diayun, diganti celana kalo pipis. P : Apa yang ibu harapkan dari pernikahan ini bu?

S3 : Aku maunya suamiku itu sayang sama aku, sama anakku, kami jadi keluarga yang benar, gak ada masalah, gak ada pukul-pukulan. Karena dalam hati aku masih sayang dia.

P : Bu, apa ibu ada tahu lagi perempuan yang waktu hamil dianiaya sama suaminya...

S3 : Gak tahu saya bu.

P : Ya sudah bu. Terima kasih atas bincang-bincangnya, semoga ibu menjadi lega, dan menjadi lebih sabar menjalani hidup.

(18)
(19)

DOKUMENTASI 1. Subjek 1

(20)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...