EVALUASI PEMBANGUNAN DESA Oleh
Imam Radianto Anwar Setia Putra1 Abstrak
Kajian pembangunan wilayah selalu menarik untuk ditulis, kebijakan pembangunan desa di indoensia sudah terjadi perubahan yang cukup baik, tetapi masih saja terdapat tantangan dalam pelaksanaan pembangunan, mulai dari pelaku/aktor pelaksana kebijakan sampai capian program yang dilaksankan di desa. Tulisan ini, menggunakan metode Goal Free Evaluation Model dengan didukung evaluasi sumatif dengan pertimbangaan kebijakan pembangunan masih berjalan sampai saat ini dengan teknik analisi isi. Politisasi pengelolaan dana desa pada tingkat kabupaten/kota yang terbentuk akibat dari transfer tidak langsung Rekenig Kas Desa, melainkan terlebih dulu singgah di Rekening kas umum daerah RKUD dari Rekening Kas Umum Negara. Pengawasan yang masih rendah dalam pengelolaan dana desa ditingkat daerah ditambah dengan praktek pemanfaatan dana desa yang masih berpihak penuh dalam pemberdayaan masyarakat.
Kata kunci: Dana desa, kebijakan pembangunan desa, Evaluasi
Pendahuluan
Pemerataan pembangunan masih menjadi isu seksi dalam target pemerintahan. Dengan membandingan pembangunan antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI), persebaran daerah tertinggi sebesar 84,42 persen dari 122 jumlah daerah tertinggal dan 49,76 persen dari jumlah seluruh kabupaten di Indonesia. Sebanyak 103 kabupaten dikategorikan sebagai daerah tertinggal yang terdapat di KTI. (Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019).
Isu pembangunan menjadi penitng mengingat pembangunan menghasilkan suatu pertubuhan dan perubahan terencana, Pembangunan menurut Sondang P. Siagian (2008: 4) adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana yag dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara, dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa. Hal ini, menjelaskan bahwa pembangunan didesa yang menjadi salah satu punggung pembangunan daerah, dimana desa menjadi bagian bagi geografis ataupun kefungsian dari wilayah kabupaten itu sendiri. Sesuai dengan pendapat Saeful hakim, dkk (2002) wilayah adalah satu kesatuan unit geografis yang antar bagiannya mempunyai keterkaitan secara fungsiona, dengan demikian mempertegas desa turut berperan dan menjadi penyokong keberhasilan pembangunan pada wilayahnya.
Pembangunan desa menjadi pengungkit pembangunan dengan target capaian yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka
1Peneliti Muda pada BPP Kemendagri & Kepala Subbagian Kerjasama Litbang Hukum, dan PUU
Menengah Nasional (RPJMN) yang memiliki dua sasaran yaitu 1) Penurunan desa tertinggal -- s.d. 5.000 desa tertinggal 2). Peningkatan desa -- Paling sedikit 2.000 desa mandiri (Buku I Agenda Pembangunan Nasional. hal 5 -11, 2014). Target tersebut menjadi ukuran dalam pencapaian nawacita membangun indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Target tersebut didukung dengan pengalokasian anggaran dana desa dalam tabel Roadmap Alokasi Dana Desa 2015-2019 sebagai berikut:
Sumber: Paparan Kebijakan dana desa dan Alokasi Dana Desa (Kemenkeu), 2016
Selain itu, tergambar dari capaian target pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional RPJMN tahun 2015-2019 yang menitikberatkan pembangunan desa dengan pengelontoran dana desa dari APBN langsung dengan Besaran dana desa diatur setiap tahunya dengam melihat londisi kemampuan keuangan Negara pada setiap tahun anggaram yang disiapkan dari tahun 2015 -2019 dimana Besaran dana desa yang dialkoasikan cendrung meningkat disetiap tahunnya, dimana pada tahun 2017 mencapai pembiayaan sebesar Rp. 1.095.700.000,- rata-rata per desa,
a. mayoritas Desa di Indonesia didominasi oleh Desa Tertinggal (Desa Pra-Madya). Untuk Desa Tertinggal (Desa Pra-Madya) berjumlah 33.592 Desa (46%) dan
b. Desa Sangat Tertinggal (Desa Pratama) berjumlah 13.453 Desa (18%).
c. Sedangkan jumlah Desa memiliki status Desa Mandiri (Desa Sembada) terdapat 174 Desa (0,24%), sementara
d. Desa Maju (Desa Pra-Sembada) adalah 3.608 Desa (5%) dan e. Desa Berkembang (Desa Madya) 31% atau 22.882 desa.
Terget peningkatan status desa tersebut terus diupayakan oleh pemerintah, dengan menyiapkan berbagai bentuk program yang disesuaikan dan diatur oleh pemerintah pusat dalam kerangka kebijakan. Prioritas penggunaan Dana Desa difokuskan pada pembangunan fisik di bidang pendidikan, kesehatan, sarana, prasarana, dan energi. (Permendes No. 22 Tahun 2016 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2017). Pembangunan fisik berimplikasi kepada penyusunan rencana proyek beserta anggarannya.
Pada pelaksanaanya, pengelolaan dana desa masih terus selalu disempurnakan guna menghasilkan kinerja pembangunan desa yang efektif. Tantangan dan kendala dalam pengimplementasian kebijakan tersebut juga ditemui, semenjak bergulirnya kebijakan tersebut. Terdapat beberapa isu strategis pengelolaan (transfer) dana desa yang berhasil dirangkum yaitu:
1
. BERTAHAP VSSEKALIGUS LEBIH BAIK BERTAHAP• Mengurangi Dana Idle, pada Tw I proses pembangunan masih dalam proses persiapan dan kebutuhan pembayaran terbesar (80%) diperkirakan pada bulan April-Agustus
• Cash Management, penyaluran berdasarkan kebutuhan kas di desa dan mengurangi beban Kas Negara, karena diawal tahun pemerintah juga harus menyalurkan transfer ke daerah lainnya.
• Prinsip Hati-Hati, Selain Dana Desa, Desa juga mengelola sumber-sumber pendapatan lain (ADD, BH PDRD dll). Agar sumber pendanaan yang besar tersebut tdk kontrapruduktif, perlu diberikan secara bertahap
2
. MELALUIRKUD VS LANGSUNG KE RKD
LEBIH BAIK MELALUI RKUD
• Sesuai UU No 6/2014 Dana Desa adalah dana yang bersumber dari APBN, yang ditransfer melalui APBD kab/kota
• Desa mempunyai hak untuk mengelola kewenangannya diikuti pendanaannya, namun tetap perlu mendapat supervisi dari level pemerintah di atasnya
• Ke depan, jumlah dana yang mengalir ke desa akan semakin besar, kapasitas SDM dalam pengelolaan keuangan desa belum cukup memadai.
3
FORMULA
MURNI • dan adil sesuai UU 6/2014Stabilitas, berdasarkan simulasi proporsi 90: 10 menunjukkan rasio perbedaan antara desa penerima terkecil dan terbesar, paling kecil.
• Berdasarkan simulasi, proporsi 90:10 msh mengindikasikan kebutuhan dana APBN terendah jika dikaitkan dengan Dana Desa minimal Rp1-1,4 miliar/desa.
Sumber: Data dioleh, Kementerian Keuangan, 2016
Terdapat tiga racangan pola peroses pengelolaan transfer dana desa dengan memperhatikan kemampuan dan kapasitas dana desa, dengan ketiga pola tersebut masih terdapat tantangan yang dihadapi pemerintah desa untuk dapat siap tepat waktu dalam pemerosesan dan penyerapan dana desa tersebut dengan juga memperhatikan kebutuhan pendanaan ayng diterima oleh desa-desa yang memiliki proporsi serapan dana tersebut.
Selain itu juga ditemukan permasalahan pada kerangka proses penyaluran dan penggunaan dana desa yang dirasa kurang tepat dan pada akhirnya membawa dampak pada pembanugunan desa. Evaluasi penyaluran dan penggunaan dana desa dilakukan dengan menghasilakan beberapa permasalah yaitu (Kemenkeu, 2016):
1. Evaluasi Penyaluran Dana desa, terdapat keterlambatan dan rendahnya penyaluran Dana desa dari Kabupaten/kota ke desa: a. Sebagian Daerah belum memasukkan Dana Desa dalam APBD
induk.
b. Sebagian Dearah terlambat menetapkan
Perbup/perwali tentang pengalokasian Dana Desa per Desa. c. Sebagian daerah harus merubah penetapan alokasi Dana Desa per desa karena jumlah desanya berbeda dengan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri.
d. Sebagian Daerah terlambat menetapkan Perbup/Perwali tentang Pedoman pengalolaan Keuangan Desa dan tentang pengadaan barang/jasa di Desa.
e. Sebagian Daerah menambahkan persyaratan penyaluran Dana Desa dari RKUD ke Rekening Kas Desa, berupa dokumen RPJMDes dan RKPDes, yang semakin menyulitkan bagi desa untuk segera menerima Dana Desa.
f. Sebagian daerah memeriksa dokumen pertanggungjawaban Dana Desa sebagai syarat penyaluran tahapan.
g. Terdapat daerah belum berani menyalurkan Dana Desa ke Desa dan sebagian desa belum berani menggunakan dana desa karena belum ada pendamping desa.
h. Sebagian Desa belum menyetapkan APBDesa.
i. Kekhawatiran perangkat desa terjerat kasus hukum. 2. Evaluasi Penggunaan Dana Desa, yaitu:
b. Pekerjaan konstruksi dilakukan seluruhnya oleh Pihak Ketiga. c. Hasil pengadaan tidak dapat digunakan/dimanfaatkan.
d. Pengeluaran Dana Desa tidak didukung dengan bukti yang memadai.
e. Kelebihan perhitungan volume RAB.
Kebijakan dan penganggaran menjadi instrument dalam mendukung pembangunan desa saat ini. Melalui kebijakan yang dikeluarkan untuk penggelolaan dana desa, pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat menjadi satu kesatuan yang saling bersinergi dan saling mendukung guna keerhasilan Pembangunan desa tersebut
Instrument pendukungnya berupa kebijakan dan penganggaran guna mendukung keberhasilan dan pencapaian target-target pembangunan itu sendiri. Dipahami Kebijakan publik/pemerintah merupakan rangkaian pilihan yang kurang lebih saling berhubungan (termasuk keputusan-keputusan untuk tidak bertindak) yang dibuat oleh badan atau pejabat pemerintah (Dunn, 2003). Pemerintahan memiliki pernan utama menentukan arah dalam pelaksanaan pembangunan dengan merumuskannya dalam sebuah norma peraturan yang dibuat dan ditetapkan sendiri guna dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan, sehingga hal ini sangat dibutuhkan guna pelaksanaan pembangunan.
Selanjunya guna memepertegas kebijakan sebagai sebuah tiidakan yang ditepakan baik dalam aturan yang mengikat atau peraturan perundan-undangan seperti disampaikan oleh (Nugroho R, 2003) kebijakan public adalah suatu aturan yang mengatur kehidupan bersama yang harus ditaati dan berlaku mengikat seluruh warganya. Guna kelancaran pembangunan tersebut peran-peran para pemangku kepentingan sangat diperlukan menciptakan kebersamaan dan kesinambungan dalam pembangunan tersebut.
Tidak berhenti pada kebijakan saja, pengganggaran menjadi hal yang sangat penting dan dibutuhkan sebagai instrument dalam terwujudnya pembangunan serta menjamin keberlangsungan suatu program yang ditetapkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Seperti yang disampaikan, Mardiasmo (2004: 63) mengungkapkan pentingnya Anggaran sektor publik karena beberapa alasan berikut:
a. Anggaran merupakan alat pemerintah untuk mengarahkan pembangunan sosial ekonomi, menjamin kesinambungan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
b. Anggaran diperlukan karena adanya kebutuhan dan keinginan masyarakat yang tak terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumber daya yang ada terbatas. Anggaran diperlukan karena adanya masalah keterbatasan sumber daya (scarcity of resources), pilihan (choice), dan trade offs.
Kebijakan dan penaggaran menjadi hal yang penting dalam mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan guna mewujudkan capaian-capian yang ditetapkan dalam pembangunan desa khusunya. Berbagai regulasi sudah ditetapkan baik itu berupa Undang-undang sampai dengan peraturan menteri sebagai pedoman teknis bagi para pelaksana dilapangan. Dana desa merupakan kebijakan pemerintah pusat dalam mendorong perubahan dan pertumbuhan di desa. Kebijakan penggunaan Dana desa setiap tahunya diarahkan oleh pemerintah pusat dengan mengunakan peraturan menteri guna mengarahkan pelaksanaan pertumbuhan desa.
Permasalahan penggaran terutama terkait dengan bentuk/mekanisme pengelolaan dana desa serta penetapan kerangka pembangunan yang ditetapakan oleh pemerintah pusat menjadi simpul bahasan dalam evaluasi pembangunan desa ini, dimana kebijakan pembangunan dan penmanfaatan dana desa sudah berjalan beberapa tahun terakhir ini. Untuk selanjutnya, guna mendapatkan gambaran deskriptif dalam pelaksanaan pembangunan desa.
MELAKUKAN EVALUASI PROGRAM
Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar (2009: 5), evaluasi program adalah upaya menyediakan informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan. Evaluasi yang dilakukan harus memberikan manfaat guna pengambilan keputusan yang dapat mendukung pelaksanaan suatu program. Selanjutnya Anderson (dalam Arikunto, 2004: 1) memandang evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan. Mengukur tingkat keberhasilan dari pelaksanan proses yang dilakukan guna pencapian tujuan program tersebut. Dengan demikian, Tujuan utama penelitian evaluasi adalah mengukur efek melalui perbandingan dengan tujuan, dan dipersiapkan untuk berkontribusi terhadap pengambilan keputusan tentang program serta menyempurnakan program di masa akan datang. (Shadish, Jr dkk, 1991)
Menurut Kaufman dan Thomas yang dikutib oleh Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar (2009: 40), membedakan model evaluasi menjadi delapan, yaitu:
a. Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler. b. Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Scriven.
c. Formatif-Summatif Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven.
d. Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake. e. Responsive Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
f. CSE-UCLA Evaluation Model, menekankan pada “kapan” evaluasi dilakukan.
g. CIPP Evaluation Model, dikembangkan oleh Stufflebeam. h. Discrepancy Model, dikembangkan oleh Provus.
keberhasilan model Goal Free Evaluation, Scriven mengemukakan bahwa dalam melaksanakan evaluasi program evaluator tidak perlu memperhatikan apa yang menjadi tujuan program. Yang perlu diperhatikan dalam program tersebut adalah bagaimana kerjanya (kinerja) suatu program, dengan jalan mengidentifikasi penampilan-penampilan yang terjadi (pengaruh) baik hal-hal yang positif (yaitu hal yang diharapkan) maupun hal-hal yang negatif (yang tidak diharapkan). Scriven menekankan bahwa evaluasi itu adalah interpretasi Judgement ataupun explanation dan evaluator adalah pengambil keputusan dan sekaligus penyedia informasi. Dengan demikian ia membedakan antara “Goal of evaluation dan role of evaluation”2.
Penerapan model goal free Evaluation nantinya dapat mendeskripsikan kinerja program yang terjadi hingga saat ini dengan evaluasi formatif dari Scriven, Evaluasi formatif digunakan untuk memperbaiki program selama program tersebut sedang berjalan. Caranya dengan menyediakan bahan tentang seberapa baik program tersebut telah berlangsung. Melalui evaluasi formatif ini dapat dideteksi adanya ketidakefisienan sehingga segera dilakukan revisi. (Yusuf Farida T, 2008).
Penggunaan model evaluasi tersebut menjadi bentuk penganalisisan terhadap pembangunan desa yang dilihat dari dua dimensi yang dijelasakan sebelumnya dengan pemilihan teknik analisis isi (content analysis). Hal tersebut dilakukan, untuk mensarikan berbagai informasi baru terkait dengan perkembangan pengelolaan dana desa
KEBIJAKAN DANA DESA
Kebijakan pembangunan desa tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari APBN, Pasal 1, ayat 2 : Dana Desa adalah Dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Selanjutnya pada PP yang sama Pasal 6 disebutkan bahwa Dana Desa tersebut ditransfer melalui APBD kabupaten/kota untuk selanjutnya ditransfer ke APB Desa.
Pengelolaan dana desa diatur menggunakan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.07/2016 tentang Tata Cara Pengalolkasian, penyaluran, penggunaan, pemantauan dan Evaluasi Dana Desa. Dengan mekanisme pelaskanaan transfer yang dipilih guna mendukung pembangunan desa. Mekanisme tersebut dibagi kedalam dua tahapan sesuai dengan pasal 14, transfer dilakukan dari rekenig kas umum Negara (RKUN) ke rekening kas umum daerah (RKUD) dengan dilanjutkan kepada Rekening Kas Desa dengan persaratan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Mekanisme transfer tidak langsung tersebut memiliki tantangan tersendiri dalam mendukung pembangunan di desa. Berbagai kepetingan diditeksi menghingapi pelaksanaan teransfer antar rekening kas tersebut. Seperti yang disampaikan pada paragraph dibawah ini.
Direktur Eksekutif Sekretariat Pemberdayaan Desa, Iwan Sulaiman Soelasno mengatakan, ada banyak evaluasi dari pelaksanaan penyaluran dana Desa pada tahun 2015. Problem yang paling mengemuka adalah terhambatnya penyaluran dana Desa di tingkat Kabupaten dan Kota. Akibatnya, program pembangunan dan Pemberdayaan Desa menjadi terhambat juga. Sekalipun dana desa disalurkan langsung ke rekening kas desa, menurutnya pemerintah provinsi dan kabupaten/kota tetap melakukan supervisi administrasi pemerintahan kepada perangkat pemerintah desa sebagaimana yang telah diatur dalam UU Desa. "Dan dana desa yang disalurkan langsung ke rekening desa akan meminimalisir politisasi dana desa oleh pemerintah kabupaten dan kota.3
Permsalahan datang dari sisi kepentingan politik penyelenggara npemerintah daerah Kabupaten/Kota, dengan melakukan alasan pembenaran terhadap ketertiban administrasi yang belum lengkap disiapkan oleh pemerintah desa. Dengan transfer dana terlebih dahulu ke kabupaten/kota, pemerintah daerah tersebut memiliki kuasa penuh dalam mengatur kepetingan daerah kepada pemerintah desa. Menurut Bowman C. Kearney (2003) terdapat empat pelaku dalam proses penganggaran yaitu Kelompok kepentingan, agenda dinas, kepala eksekutif dan badan legislatif, kelompok kepentingan melaksanakan testimony atau kesaksian pada budget hearing dan memberikan tekanan kepada tiga pelaku lainnya untuk mendukung kebijakan dan program yang diinginkan. Ada agenda dibelakang tersembunyi ditiap transfer yang dilakukan oleh para aktor pengelola dana desa ditingkat pemerintahan daerah.
Dana desa menjadi terhambat penyalurannya, dengan peran yang berlebih dari para aktor pada tingkat kabupaten/kota sebagai tempat singgah dalam pendanaan sekaligus sebagai aktor dalam pengawasan dana desa tersebut, sehingga terdapat bentuk usulan baru dalam mekanisme baru dana desa yang langsung dari RKUN ke RKD. Usulan mekanisme tersebut menjadi suatu hal yang dapat dipertimbangankan dengan terlebih dahulu melihat seberapa besar jumlah daerah yang memiliki kasus yang serupa seperti yang terjadi diinofmasikan tersebut.
Kasus tersebut merupakan prilaku dalam implementasi kebijakan yang mendorong terjadinya disfungsi kewenangan di dalamnya. Aktor didalamnya memanfaatkan ruang-ruang yang kosong (tidak diatur) dalam kebijakan, sehingga memperlambat berbagai alur pelaskanaan dilapangan. Wildavsky dan Caiden (2004) penganggaran merupakan
3
proses dimana bermacam-macam orang atau kelompok kepentingan mengekspresikan keinginankeinginan berbeda dan membuat keputusan yang berbeda. Pengelolaan keuangan menjadi isu sentitif dan seringkali dimanfaatkan dan dipolitisasi oleh kelompok tertentu untuk dapat menekan ataupun memaksakan sesuatu hal yang bukan merupakan tuntutan dalam kebijakan yang ditetapkan.
Sekalipun pemerintah pusat telah mengsimplifikasi tata laksana adminsitrasi penyaluran dana desa, masih juga hambatan yang sama tetap terjadi dan walhasil pembangunan desa tidak tepat sasaran dan tidak memenuhi target pembangunan desa. Seperti yang disampaikan dalam kutipan bertia dibawah ini.
Keputusan Pemerintah yang memangkas persyaratan administrasi dan birokrasi sudah tepat. Namun alangkah baiknya jika Pemerintah mau menyalurkan dana itu dari pemerintah pusat ke desa secara langsung. Dikarenakan dana desa yang tersalurkan lewat pemerintah kabupaten/kota rawan dijadikan lahan korupsi. Selain itu dana itu rawan disalahgunakan oleh pihak kabupaten untuk pembangunan infrastruktur yang tidak tepat sasaran dan tidak menaungi pembangunan desa itu sendiri4
Evaluasi capat dan tanggap dari pemerintah menghasilkan kebijakan untuk memangkas jalur administrasi, tapi sayangnya hal tersebut tidak menyelesaikan permasalahan utama dalam pengelolaan dana desa. Keluhan adanya “ganguan” dari pelaksanaan transfer tersebut masih tetap berlangung dalam pengelolaan dana desa. Sementara itu, pemerintah desa mengingikan transfer langsung dari RKUN ke RKD. Lewat pemelintiran politik dan korupsi politik (Porta, 1996) bisa saja agenda publik yang sudah dengan susah payah digelar rapi sejak di tingkat desa akan mudah dikebiri dan dikalahkan oleh agenda institusional yang penuh muatan politik. Hal ini menjadi permasalahan dalam implementasi kebijakan pengelolaan dana desa. Berbagai kebijakan yang sudah disusun oleh desa dalam mencapai target pembangunan desa menjadi bergeser sedikit agendanya guna memenuhi kebutuhan pembangunan kabupaten/kota.
Adanya perlakuan demikian terhadap pengelolaan dana desa dari paihal kabupaten/kota dimana tempat anggaran tersebut singgah sebentar, maka anggaran sebagai intrumen pembangunan yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan keterbatasan sumberdaya, pilihan sector pembangunan, dan trade ofs yang pada akhirnya menghasilkan capian pembangunan social dan ekomomi guna peningkatan kualitas hidup dan mendorong terciptanya kesinambungan didalamnya dirasakan makin jauh untuk dapat terwujud dengan sesegera mungkin.
Pemilihan metode transfer pendanaan desa menjadi area kritis guna mendukung pembangunan desa di Indonesia saat ini. Hal itu, menjadi pertimbangan kedepanya dalam penetapan kebijakan pengelolaan dana desa. Apa yang sudah terjadi saat ini, menjadi rumusan permasalahan untuk menyiapkan kebijakan anggaran yang 4
lebih baik lagi bagi pembangunan desa. Juga menjadi perhatian dalam penetapan kebijakan yang berkesinambungan dalam pengelolaan dana desa yang mennopang pembangunan desa dengan sinergitas pembangunan di dalam satu kawasan atau wilayah di kabupaten/kota
PEMILIHAN SASARAN CAPAIAN PADA KEBIJAKAN PEMBANGUNAN pembangunan desa di Indonesia. Todaro (2000) melalui pembangunan dapat dirumuskan kegiatan pembangunan yang secara efesien dan efektif serta dapat memberi hasil yang optimal dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan mengembangkan potensi yang ada.
Seperti yang tertuang dalam pendahuluan hasil evaluasi DJPK-Kemenkeu dan yang bukan menjadi prioritas pembangunan desa. Sebagaimana sasaran pembangaunan tersebut disesuaikan dengan karakteritik desa yang sudah diidentifikasi terlebih dahulu dalam lapangan kerja dan atau usaha baru, serta bantuan penyiapan infrastruktur bagi terselenggaranya kerja dan usaha warga atau masyarakat baik dari proses produksi sampai pemasaran produk, serta masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kerja dan atau proses produksi sampai pemasaran produk, serta pemenuhan kebutuhan atau akses modal/fasilitas keuangan; kegiatan pemberdayaan masyarakat yang visioner dengan menjadikan desa sebagai lumbung ekonomi atau kapital rakyat, dimana desa dapat menghidupi dirinya sendiri atau memiliki kedaulatan ekonomi, serta mampu mengembangkan potensi atau sumberdaya ekonomi atau manusia dan kapital desa secara berkelanjutan.
Sumber: data dioleh dari berbagai sumber, 2017
prioritas pembangunan di desa dengan pengalokasian dana desa yang sudah ditetapkan. Sampai dengan tahun 2016 dana desa diarahkan untuk pembangunan fisik dengan persentase yang cukup besar dan direncanakan kedepannya pembangunan desa tersebut mengarah pada pemberdayaan masyarakat:
Rapat terbatas bersama Presiden terkait percepatan pembangunan desa, Menteri Desa PDTT juga menyampikan fokus pada tahun sebelumnya dana desa banyak dialokasikan untuk infrastruktur sarana dan prasarana desa, keseluruhan hampir 29,51 triliun atau 81,14 persen. Sementara untuk pembangunan SDA dan lingkungan berkelanjutan 0,90 triliun atau hanya 0,25 persen. Untuk pemberdayaan masyarakat 2,58 triliun atau hanya 7,10 persen.5
Besarnya pendanaan fisik tersebut memancing pemerintah desa untuk mencari strategi dalam pelaksanaan pembangunannya, sehingga kurang memperhatikan keterlibatan masyarakat pelaksanaannya. Dengan masih banyak ditemuai penggunaan dan pemanfaatan dana desa yang memprioritaskan pada pembangunan fisik yang dikerjakan oleh pihak ketiga. Menurut Mashoed (2004: 12-13) salah satu program pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan perbaikan fisik lingkungan (prasarana) pemukiman kampung, meliputi antara lain perbaikan jalan lingkungan, saluran, fasilitas persampahan, dan MCK umum. Sayangnya pekerjaan masih diberikan pada pihak ketiga dan kurang memberdayakan masyarakat.
Salah satu kerangka acuan yang wajib dipenuhi dalam pengelolaan dana desa, termasuk tidak mempihak ketigakan terutama pembangunan fsik. “Untuk meningkatkan kesejahteraan serta kualitas hidup masyarakat, setiap kegiatan yang sudah direncanakan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes) hendaknya melibatkan masyarakat desa. Sehingga dengan demikian masyarakat merasa dilibatkan dalam setiap pemanfaatan anggaran maupun proses pengawasan,”6
Pembangunan dengan melibatkan masyarakat secara menyeluruh menjadi penekanan dalam pemanfaatan dana desa, dengan demikian masyarakat memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga serta memelihara prasarana fisik yang dibangun bersama-sama dengan pemerintah desanya. Manfaat selanjunya juka dikerjakan oleh masyarakat terjadi tambahan perputaran uang dalam wilayah tersebut yang turun dari pemerintah pusat. Sedangkan menurut Suhendra (2006: 86) menyatakan “Masyarakat yang berdaya akan mampu dan kuat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, mampu
5
http://www.nu.or.id/post/read/76560/rp60-triliun-dana-desa-2017-untuk-infrastruktur-dan-produktivitas-ekonomi ; Rp60 Triliun Dana Desa 2017 untuk Infrastruktur dan Produktivitas Ekonomi
6
mengawasi jalannya pembangunan dan juga menikmati hasil pembangunan”.
Dana desa lebih banyak untuk infrastruktur, ada sekitar 90 persen. Tujuannya agar meningkatkan pertumbuhan di desa. Sedangkan untuk tahun depan lebih banyak untuk pemberdayaan," kata Eko dalam acara dialog Rembuk Desa Nasional, di Jakarta,7
Perubahan capaian sasaran pembangunan desa dengan pemanfaatan dana desa juga didesain guna meningkatkan keterlibatan masyarakat secara aktif melalui pemberdayaan. Hal tersebut didorong dalam pelaksanan pembangunan desa pada tahun 2017, sehingga nantinya masyarkat difasilitasi untuk membuka lapangan usaha dengan pemberian berbagai keterampilan dan pembukaan berbagai pelauang usaha yang dilakukan bersama dengan pemerintah desa.
Perubahan capaian pembanguan tersebut mendorong terciptanya pembangunan secara sinergi dengan menekankan pada azaz pembangunan yang ada. Tjokrowinoto (1999:35) yaitu teori pembangunan yang terdapat 3 azaz dalam pelaksanaan pembangunan, diantaranya: (1) azas pembangunan integral, (2) azas kekuatansendiri, (3) azas pemufakatan bersama. Untuk itu, pembangunan tersebut hanya melulu pembanguann fisik dan ekonomi tetapi pembanguann manusia juga menjadi sasaran pada setiap upaya yang dilakukan untuk menciptakan dan mengembangakan hal yang lebih baik dari pada sebelumnya.
Simpulan
Perlu ditinjau pergeseran bentuk transfer dana desa dengan memperhatikan juga peningkatan pengawasan transfer dana desa guna kelancaran pemanfaatan dana desa dalam pembangunan.
Kebijakan pembangunan fisik yang dilakukan sampai dengan saat ini, belum banyak membawa perubahan yang nyata dan massif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di desa sehingga perlu melakukan reorientasi pada kebijakan pembangunan desa dengan keterlibatan masyarkat secara utuh dan menyeluruh.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi dan Cepi Safrudin Abdul Jabar. 2009. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2004. Prosedur Penelitian: Suatu pendekatan Praktek. Bandung: Rineka Cipta.
7http://www.beritasatu.com/investor/398062-mendes-2017-dana-desa-dipakai-untuk-pemberdayaan.html ; Mendes: 2017,
Ann. O’m. Bowman dan Richard C. Kearney, 2003. State and Local Government, The Essentials, Hought Mifn Company. Boston New York.
Dunn, William N. (2003). Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Farida Yusuf Tayibnapis, 2008. Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi. Peneribit Rineka Cipta. hal.13 – 41
Mardiasmo. 2004. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Nugroho, Riant. 2003. Kebijakan Publik Formulasi, Implementasi, dan Evaluasi, Jakarta. Elex Media Komputindo
Porta, Della, Donatella, 1998. Actors in Corruption: Business Politicians in Itali: Unesco.
Saefulhakim, dkk. 2002. Studi Penyusunan Wilayah Pengembangan Strategis (Strategic Development Regions). IPB dan Bapenas. Bogor.
Shadish, William R, Cook, Thomas D, Levitan Laura C. 1991. Foundation of Program Evaluation. London: SAGE Publications
Siagian, Sondang P. 2008. Administrasi Pembangunan Konsep, Dimensi, dan Strateginya. Jakarta: Bumi Aksara.
Wildavsky. Aarone Naomi Caider, 2004. The New Politic of The Budgetary Process Fifth Edition Published by Pearson Education Inc.
Peraturan/Regulasi:
1. Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2015-2019
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.07/2016 tentang Tata Cara Pengalolkasian, penyaluran, penggunaan, pemantauan dan Evaluasi Dana Desa.
3. Peraturan Menteri Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 22 Tahun 2016 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2017
Dokumen:
1. Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019.