Eksistensi Individu dalam Sistem Pendidikan Nasional
Azalinya, pendidikan merupakan aktivitas manusia untuk kepentingan
manusia. Oleh karena itu, segala bentuk usaha dalam wilayah kependidikan
semestinya diarahkan dan ditujukan untuk pemenuhan kepentingan manusia.
Hal terpenting yang harus dilakukan oleh pendidikan adalah membangun
kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari kesemestaan jagad raya.
Kesadaran ini dibutuhkan untuk menata komunikasi harmonis antara manusia
dengan alam.
Komunikasi harmonis tersebut dimaksudkan sebagai kedekatan serta
kemenyatuan manusia dengan alam, yang diniscayakan penciptaannya oleh
Tuhan guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidup manusia. Untuk itu,
pendidikan harus dapat membantu manusia dalam proses mendekatkan dan
menyatukan dirinya dengan alam: Education must teach us to live close nature
(Brumbaugh, 1963: 5).
Secara natural, harmonisasi hubungan antara manusia dengan alam telah
terjalin sejak manusia menjadi bagian dari kesemestaan jagad raya. Hubungan
tersebut kemudian membidani lahirnya pengalaman, yang dalam proses
perlintasan waktu, menjadi embrio bagi terbentuknya pengetahuan manusia.
Dengan kata lain, pengetahuan terlahir dari pengalaman manusia yang
berulang-ulang dalam proses kehidupan.
Pemaknaan tentang pengetahuan seperti tersebut di atas terungkap
dalam kajian filsafat pendidikan yang memahamkan, bahwa: All knowledge is recollection (Brumbaugh, 1963: 5). Bangunan pemaknaan ini berlandaskan pada
*)
Tulisan Disajikan dalam Kegiatan Bimbingan Teknis bagi Guru Madrasah Se-Kota Pontianak pada 2 Desember 2013.
**)
kesadaran, bahwa pengetahuan merupakan kesejatian instrumental diri manusia
yang berada dalam ruang potensi.
Untuk dapat merekoleksi pengalaman dalam bentuk eksplorasi potensi
pengetahuan tersebut, dibutuhkan sebuah upaya yang sistematis sekaligus
sistemik. Upaya dimaksud adalah pendidikan, karena didalamnya berisikan
aktivitas membimbing serta membantu manusia untuk mengembangkan segala
bentuk potensi yang dimilikinya (Salahudin, 2011: 19). Pada bagian lain,
pendidikan juga berisikan aktivitas kreatif yang mampu menumbuhsuburkan
nilai-nilai kreativitas manusia (Alwasilah, 2008: 18). Potensi nilai-nilai kreatif ini
terkandung dalam rahim kebiasaan merekoleksi pengalaman saat manusia harus
bereaksi terhadap alam guna mempertahankan hidupnya.
Sebagai negara berkembang yang sedang disibukkan dengan aktivitas
pembangunan di segala sektor kehidupan, bangsa Indonesia menyadari akan
besarnya peran pendidikan dalam memadati ruang kehasratan untuk menjadi
bangsa berperadaban maju dan modern. Pendidikan terbukti telah berjasa dalam
ikut serta mempertahankan dan memperkokoh eksistensi Indonesia sebagai
negara kesatuan republik (Kartodirdjo, 1994: 47).
Berdasarkan pada realitas tersebut, pemerintah berupaya memberikan
perhatian cukup terhadap pendidikan. Hal ini terbukti dengan dialokasikannya
20% dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk
kepentingan dunia pendidikan, sebagaimana yang tertuang dalam
Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945, Bab XIII tentang Pendidikan dan
Kebudayaan, Pasal 31 tentang Pendidikan, ayat (4) tentang anggaran pendidikan.
Ayat (4) ini merupakan tambahan setelah UUD 1945 mengalami perubahan IV
pada 2002, yang sekaligus menjadi bukti adanya perhatian serta tanggung jawab
pemerintah terhadap kebutuhan pendidikan.
Dalam Undang-Undang Dasar RI 1945 sebelum diamandemen,
pendidikan yang dimaknai pemerintah sebagai aktivitas pengajaran, hanya
diposisikan pada wilayah ‘hak’ bagi setiap warga negara, sebagaimana tersebut
pada Bab XIII, pasal 31 ayat (1). Sementara, dalam Undang-Undang Dasar RI
‘hak’ namun juga sebagai ‘kewajiban’, walau kewajiban itu baru sampai pada
tingkat pendidikan dasar, sebagaimana tersebut dalam ayat (2).
Secara formal, pendidikan merupakan salah bentuk program kebangsaan
dan kenegaraan. Oleh karenanya tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan
berada di pundak pemerintah sebagai pelaksana program kebangsaan dan
kenegaraan. Tanggung jawab ini ditegaskan dalam Undang-Undang RI 1945
dalam BAB XIII, pasal 31 ayat (3) tentang tanggung jawab penyelenggaraan, (4)
tanggung jawab pendanaan, dan (5) tanggung jawab peningkatan mutu
keilmuan.
Kesemua bentuk tanggung jawab, yang berimplikasi pada berbagai
kebijakan kependidikan ini, ditujukan untuk kepentingan kesejahteraan ummat
manusia dalam era peradaban yang berkualitas, sebagaimana tercantum pada
ayat (5). Dengan demikian, segala bentuk kehendak dalam wadah kebijakan,
yang potensial mereduksi atau bahkan menegasi kepentingan menyejahterakan
manusia, secara esensial telah melanggar Undang-Undang Dasar RI 1945.
Eksistensi manusia dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, khususnya
pada Bab XIII, Pasal 31, disimbolkan dengan term warga negara, yakni
sekelompok individu yang menghuni suatu negara. Sebagai bagian dari negara,
manusia terikat oleh aturan-aturan kenegaraan dan kebangsaan. Aturan di sini
lebih ditujukan pada aturan kependidikan.
Keterikatan tersebut ditandai dengan keharusan bagi penyelenggara
negara atau pemerintah untuk mendanai pelaksanaan program kependidikan
bagi warga negaranya. Keharusan ini sekaligus merupakan bentuk tanggung
jawab pemerintah terhadap kebutuhan pendidikan manusia yang berada dalam
wilayah kewenangannya.
Bentuk lain dari tanggung jawab pemerintah terhadap manusia Indonesia
dalam dunia pendidikan adalah, keharusan untuk merancang program
kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan manusia Indonesia. Tanggung
jawab ini direalisasikan oleh pemerintah dengan menerbitkan undang-undang
yang berisikan tentang Sistem Pendidikan Nasional dan kurikulum yang
Hingga 2013 pemerintah telah menerbitkan 4 undang-undang yang
mengatur Pendidikan Nasional, yaitu: UU nomor 4, 1950, tentang Pokok-pokok
Pengajaran dan Pendidikan; UU nomor 12, 1954, tentang Dasar-dasar Pendidikan
dan Pengajaran di Sekolah; UU nomor 2, 1989; dan UU nomor 20, 2003, tentang
Sistem Pendidikan Nasional.
Sementara hingga awal 2013, kurikulum yang pernah diberlakukan oleh
pemerintah sebanyak 11 kurikulum, yaitu: Kurikulum 1947 (Rencana Pelajaran),
Kurikulum 1952 (Rencana Pelajaran Terurai), Kurikulum 1964 (Rencana
Pendidikan), Kurikulum 1968 (Sekolah Dasar), Kurikulum 1973 (Perintis Sekolah
Pembangunan), Kurikulum 1975 (Pengembangan Sistem Instruksional),
Kurikulum 1984 (Cara Belajar Siswa Aktif), Kurikulum 1994 (Sistem
Caturwulan), Kurikulum 1997 (Revisi 94), Kurikulum 2004 (KBK), Kurikulum
2006 (KTSP). Pemerintah juga telah mempersiapkan rancangan kurikulum baru
yang akan diberlakukan di pertengahan 2013, kurikulum Integratif atau
kurikulum 2013.
Dilihat dari tahun terbit dan pemberlakuannya, kurikulum 1947
diberlakukan sebelum diterbitkannya Undang-Undang nomor 4, 1950, tentang
Pokok-pokok Pengajaran dan Pendidikan. Dengan demikian dapat dipastikan,
bahwa kurikulum 1947 (Rencana Pelajaran) tersebut merupakan implementasi
langsung dari Undang-Undang Dasar RI 1945, Bab XIII Pasal 31 ayat (2).
Berbeda dengan kurikulum 1947, masing-masing kurikulum dari sebelas
kurikulum yang telah diterbitkan dan diberlakukan oleh pemerintah, memiliki
payung legalitas berupa undang-undang dan/atau TAP MPR yang secara
khusus mengatur sistem pendidikan nasional. Kurikulum 1952 dipayungi oleh
UU nomor 4, 1950. Kurikulum 1964 berada dibawah legalitas payung UU nomor
12, 1954, dan juga TAP MPR nomor II, 1960. Kurikulum 1968 dipayungi oleh
Penetapan Presiden nomor 9, 1965, dan TAP MPRS nomor XXVII, 1966.
Kurikulum 1973 dan 1975 berada dibawah payung legalitas TAP MPR nomor IV,
1973 tentang GBHN. Kurikulum 1984 dipayungi oleh TAP MPR nomor IV, 1978.
Kurikulum 1994 dan kurikulum 1997 berada di bawah payung UU Sistem
termasuk rancangan kurikulum 2013 yang baru akan diberlakukan oleh
pemerintah, dipayungi oleh UU Sistem Pendidikan Nasional nomor 20, 2003.
Landasan legalitas formal dalam bentuk undang-undang sangat penting
bagi proses pemberlakuan kurikulum. Keberadaan undang-undang dimaksud
tidak hanya untuk kepentingan pelandasan formal bagi pencapaian tujuan dari
pelaksanaan kurikulum, namun juga untuk kepentingan perlindungan hukum
terhadap manusia yang terlibat di dalamnya. Perlindungan tersebut dibutuhkan
demi rasa aman bagi manusia dalam menjalankan proses kegiatan pendidikan.
Pada bagian lain, keberadaan undang-undang juga dibutuhkan untuk
memberikan kepastian arah bagi pelaksanaan proses pendidikan. Kepastian
dimaksud berbentuk rumusan tujuan yang menjadi orientasi dalam
mewujudkan hasrat capaian pendidikan nasional. Hingga terbitnya UU
SISDIKNAS nomor 20, 2003, negara Indonesia telah melahirkan 7 rumusan
tujuan pendidikan nasional.
Rumusan tujuan pendidikan nasional pertama kali termuat dalam UU
nomor 4, 1950, tentangPokok-pokok Pengajaran dan Pendidikan,bab II pasal 3.
Dalam UU tersebut dinyatakan, bahwa: “Tujuan pendidikan dan pengajaran
membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.” Rumusan
tujuan pendidikan tersebut kemudian dituangkan kembali oleh para perancang
undang-undang dalam UU nomor 12, 1954, tentang Dasar-dasar Pendidikan dan
Pengajaran di Sekolah. UU ini sesungguhnya merupakan pemberlakuan kembali
UU nomor 4, 1950 untuk seluruh wilayah RI.
Formulasi hasrat capaian dalam rumusan tujuan tersebut sungguh
menunjukkan betapa pendidikan Indonesia ketika itu telah beradaptasi dengan
pemikiran demokrasi yang sedang berkembang di kalangan masyarakat dunia.
Pemikiran demokrasi dimaksud jelas terlihat pada karakteristik ‘manusia’ yang
hendak dibidani kelahirannya melalui proses pendidikan, yaitu: warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan
tanah air.
Pada 1960 rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut dirancang ulang
dan disesuaikan dengan kondisi kehidupan bangsa Indonesia saat itu. Rumusan
nomor II, 1960: “Tujuan pendidikan ialah mendidik anak ke arah terbentuknya manusia yang berjiwa Pancasila dan bertanggung jawab atas terselenggaranya
masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur material dan spiritual.”
Rumusan tujuan ini jelas menggambarkan adanya pengaruh pemikiran
sosialisme, namun pengaruh itu masih diikat oleh nilai-nilai keindonesiaan.
Nilai-nilai dimaksud terwakili oleh term ‘berjiwa Pancasila’.
Rumusan tujuan pendidikan tersebut kemudian direvisi sesuai dengan
pengaruh suasana sosial politik bangsa Indonesia melalui penetapan presiden
nomor 19, 1965. Dalam penetapan presiden ini, sistem pendidikan dinamai
dengan: “Sistem Pendidikan Nasional dan Pancasila.” Rumusan revisi tujuan
pendidikan yang termuat di dalamnya berbunyi: “Tujuan pendidikan nasional
kita, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta, dari
pendidikan prasekolah sampai pendidikan tinggi, supaya melahirkan warga
negara sosialis Indonesia yang susila, yang bertaggung jawab atas
terselenggaranya masyarakat sosialis Indonesia, adil dan makmur baik spiritual
maupun material yang berjiwa pancasila, yaitu: Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa;
Perikemanusiaan yang adil dan beradab; Kebangsaan; Kerakyatan; Keadilan
sosial, seperti dijelaskan dalam Manipol/Usdek.”
Rumusan tujuan pendidikan nasional dan Pancasila tersebut senyatanya
tidak bertahan lama, karena letupan peristiwa G.30 S/PKI 1965 telah
menyadarkan dan membuka mata rakyat Indonesia untuk membaca akan
adanya motif politik PKI di balik cita-cita pendidikan itu. Melalui TAP MPRS RI
nomor XXVII/MPRS/1966 tentang Agama, Pendidikan dan Kebudayaan,
pemerintah orde baru menetapkan, bahwa tujuan pendidikan adalah:
“Membentuk manusia Pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti
yang dikehendaki oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.”
Sejalan dengan perkembangan peradaban pemikiran bangsa Indonesia,
rumusan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan di awal pemerintahan orde
baru tersebut digantikan kembali dengan rumusan yang baru melalui TAP MPR
RI No. IV/MPR/1973, yang dikenal dengan Garis-garis Besar Haluan Negara
pendidikan sekaligus tujuan yang dihasratkan untuk bangsa Indonesia.
Pengertian dimaksud adalah: “Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar
untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar
sekolah dan berlangsung seumur hidup.”
Setelah berlaku selama lima tahun, rumusan tujuan pendidikan itu
direformulasikan kembali oleh para perancang undang-undang melalui TAP
MPR No. IV/MPR/1978. Di dalamnya dinyatakan, bahwa: “Pendidikan nasional
berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi
pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar
dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun
dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan
bangsa.” Rumusan tujuan pendidikan ini menggambarkan adanya pola pikir
klasifikatif tentang karakteristik manusia yang dihasratkan melalui proses
pendidikan, walau pola pikir dimaksud tidak berkesesuaian dengan aturan
logika bahasa.
Ketidaksesuaian pertautan bahasa dalam rumusan tujuan pendidikan
dengan aturan logika bahasa juga terulang kembali dalam rumusan tujuan
pendidikan nasional yang termuat dalam undang-undang nomor 20, 2003,
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jika ditilik secara cermat dapat
disimpulkan, bahwa rumusan tujuan pendidikan nasional yang kelahirannya
ikut dibidani oleh tuntutan realitas kehidupan bangsa ini, merupakan rancang
ulang dari rumusan tujuan pendidikan sebelumnya.
Undang-Undang SISDIKNAS nomor 2, 1989, pasal 3 menjelaskan tentang
fungsi dari keberadaan pendidikan nasional, yaitu: “Pendidikan Nasional
berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu
kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan
tujuan nasional.” Sementara pasal 4 dari undang-undang tentang Sistem
Pendidikan Nasional ini memaparkan tujuan pendidikan nasional dalam uraian
kalimat: “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,
memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.”
Paparan tentang perubahan tujuan pendidikan dalam sejarah kehidupan
bangsa Indonesia di atas dapat dipahami sebagai bentuk dinamika yang terjadi
di dunia pendidikan nasional. Dinamika perubahan tersebut sangat erat
kaitannya dengan dinamika realitas politik, ekonomi, serta sosio-kultural
masyarakat Indonesia.
Dalam realitas kehidupan bangsa Indonesia yang disibukkan oleh hasrat
kemajuan peradaban, pendidikan senyatanya telah menjadi wahana pencerdasan
dan pembudayaan masyarakat. Namun bagaimanapun juga, di samping faktor
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tendensi politis dan ekonomis
senantiasa ikut serta dalam berbagai pertimbangan kebijakan yang mewarnai
corak perkembangan pendidikan nasional.
Hasrat Capaian dalam Mindset Fenomena Perubahan Kurikulum
Secara umum, kurikulum merupakan sumber dan landasan operasional
bagi pelaksanaan pendidikan di suatu negara bangsa. Sebagai sumber sekaligus
landasan, kurikulum harus dapat mencerminkan wajah falsafah bangsa. Di
samping itu, kurikulum juga harus berisikan realitas kehidupan bangsa beserta
gambaran tentang orientasi kehasratan yang ingin dicapai melalui pendidikan.
Gerak perubahan realitas kehidupan bangsa tentunya akan berpengaruh
pada arah orientasi kehasratan yang dikehendaki. Tidak hanya untuk
kepentingan hasrat capaian ilmu pengetahuan dan teknologi, namun faktor lain,
seperti: realitas sosial budaya, politik dan kepentingan ekonomi, juga menjadi
bahan pertimbangan dalam melakukan perubahan kurikulum. Realitas ini yang
seringkali dirasionalisasikan oleh pemerintah untuk kepentingan penguatan
argumentasi logis dalam menetapkan kebijakan pendidikan, khususnya dalam
Menyimak realitas kehidupan bangsa Indonesia yang berada dalam
lingkaran perubahan, upaya pembaharuan dan perubahan kurikulum menjadi
sebuah kemestian bagi pemerintah. Pembaharuan dan perubahan ini lebih
ditujukan untuk membekali manusia dengan pengetahuan dan keterampilan
dalam menjalani kehidupan yang senantiasa berubah. Di sinilah letak elastisitas
sebuah kurikulum yang dirancang sebagai sumber, dasar, dan sekaligus alat
untuk memenuhi hasrat capaian pendidikan yang telah diamanahkan dalam
Undang-Undang Dasar RI 1945, Bab XIII pasal 31, serta Undang-Undang RI
nomor 20, 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Sebagai negara berkembang, sejak kemerdekaan di 1945 hingga saat ini,
pemerintah Indonesia telah melahirkan dan memberlakukan 11 kurikulum
pendidikan. Bahkan, di 2013 ini pemerintah sudah siap memberlakukan lagi
kurikulum baru, yang rancangannya telah dirampungkan di akhir 2012. Hal ini
sekaligus menjadi gambaran betapa gerak perubahan kehidupan bangsa
Indonesia sangat dinamis, sehingga pemerintah memandang perlu untuk
melakukan pembaharuan serta perubahan kurikulum guna mengimbangi
dinamisasi perubahan tersebut.
Dua tahun setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia menerbitkan dan
memberlakukan kurikulum pendidikan, yaitu kurikulum 1947, yang secara legal
formal merupakan implementasi dari amanah Undang-Undang Dasar 1945, Bab
XIII Pasal 31. Kurikulum ini lahir dalam suasana peralihan sistem pendidikan,
dari sistem pendidikan Belanda ke sistem pendidikan nasional. Oleh karena itu,
wacana yang terkandung di dalamnya masih kental dengan hasrat
politik-patriotik.
Kurikulum 1947 pada saat itu lebih dikenal dengan istilah leer plan,
sebuah istilah dalam bahasa Belanda yang berarti ‘rencana pelajaran’. Hal ini
menjadi salah satu pertimbangan bagi penyebutan kurikulum 1947 dengan nama
‘Kurikulum Rencana Pelajaran’.
Dikarenakan oleh kondisi peralihan dari masa penjajahan ke masa
kemerdekaan, keberadaan kurikulum 1947 masih terasa kental dengan pengaruh
dapat dikatakan bahwa kurikulum 1947 hanya merupakan hasil daur ulang dari
sistem pendidikan dan pengajaran kolonial Belanda.
Titik tekan orientasi pendidikan dan pengajaran dalam kurikulum 1947
diarahkan pada upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang bebas
merdeka dan berkedaulatan. Kecintaan terhadap tanah air dan disertai kesediaan
berkorban, mewarnai hampir setiap materi pelajaran yang senantiasa dikaitkan
dengan peristiwa hidup keseharian masyarakat Indonesia saat itu. Oleh
karenanya, kurikulum 1947 lebih mengedepankan orientasi capaian hasil pada
aspek psikomotorik dan attitude melalui pembentukan watak serta prilaku, dan tidak terlalu fokus pada orientasi capaian aspek kognitif.
Secara sistematik dan sistemik, kurikulum ini hanya berisikan dua
komponen pokok, yaitu: Daftar mata pelajaran beserta jam pengajaran; dan
Garis-Garis Besar Pengajaran (GBP). Sementara, materi pelajaran yang
disuguhkan kepada murid berisikan tiga hal, yaitu:
a. Kesadaran bernegara dan bermasyarakat;
b. Problem kehidupan keseharian masyarakat;
c. Kesenian dan pendidikan jasmani.
Realitas kehidupan bangsa Indonesia yang dipadati oleh ketegangan dan
ketidakmenentuan akibat perang, memungkinkan para perancang kurikulum
1947 menggunakan paradigma pendidikan perenialisme.1) Kondisi tersebut
merupakan salah satu aspek realistis yang menjadi argumentasi logis dalam
pemberlakuan paradigma pendidikan perenialisme (Kneller, 1971: 42). Dalam
paradigma ini, pembinaan mental yang mengacu pada keluhuran nilai-nilai
masa lalu, dijadikan sebagai target utama bagi aktivitas pendidikan (Gandhi,
2011: 171).
Penggunaan paradigma pendidikan perenialisme dalam kurikulum 1947
juga tampak pada tujuan pendidikan yang menitikberatkan pembentukan
1)Secara etimologi, perenialisme berasal dari Bahasa Latin: ‘perenis’ yang berarti ‘abadi’
atau ‘perenial’ yang bermakna “tumbuh terus menerus melalui waktu.” Perenialisme merupakan
karakter manusia Indonesia bebas merdeka dan berkedaulatan. Hal ini sesuai
dengan orientasi pendidikan dalam perenialisme yang menekankan pentingnya
membantu peserta didik menjadi dirinya sendiri sebagai manusia merdeka.
Untuk kepentingan ini, pendidikan harus diarahkan pada upaya meningkatkan
otoritas kemampuan berpikir agar peserta didik memiliki kesiapan dalam
menghadapi dan menjalani kehidupan (Gandhi, 2011: 180).
Kesederhanaan kurikulum 1947 dirasakan oleh pemerintah kurang
mampu mewadahi kepentingan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat
Indonesia. Untuk menutupi kekurangan itu, pemerintah kemudian merancang
kurikulum baru yang mulai diberlakukan pada 1952. Segala aspek yang belum
termuat dalam kurikulum Rencana Pelajaran 1947, dilengkapi, disempurnakan
dan diurai dalam kurikulum 1952. Oleh karenanya, kurikulum 1952 ini disebut
juga dengan Kurikulum Rencana Pelajaran Terurai.
Jika pada kurikulum Rencana Pelajaran 1947 fokus pendidikan dan
pengajaran hanya ditujukan pada pembentukan watak dan prilaku, maka pada
kurikulum Rencana Pelajaran Terurai 1952 fokus tersebut diurai ke dalam
pengembangan pancawardhana: a. Karsa; b. Rasa; c. Cipta; d. Karya; e. Moral.
Kelima nilai ini disajikan kepada murid ke dalam mata pelajaran yang
diklasifikasikan menjadi lima kelompok: a. Moral; b. Kecerdasan; c. Emosional;
d. Keterampilan; e. Kesehatan Jasmani. Untuk sementara waktu, muatan dalam
kurikulum Rencana Pelajaran Terurai ini dianggap telah mampu mewadahi
kebutuhan pendidikan bangsa Indonesia, sehingga pemberlakuannya bisa
bertahan hingga duabelas tahun.
Pengaruh paradigma perenialisme masih tampak dalam pemberlakuan
kurikulum 1952 yang mempertahankan pentingnya pembentukan watak dan
prilaku manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Namun konstruksi
materi yang mengarah pada penyiapan murid untuk dapat memperbaiki kondisi
kehidupan diri dan lingkungannya, melalui penguatan moral dan emosional,
pendidikan rekonstruksionisme.2) Dalam paradigma rekonstruksionisme,
penyiapan peserta didik untuk dapat menghadapi dan menjalani hidup di masa
depan yang penuh tantangan, adalah sebuah keharusan (Gandhi, 2011: 191-193).
Pada 1964, di akhir masa pemerintahan orde lama, pemerintah kembali
menerbitkan dan memberlakukan kurikulum baru yang disebut Kurikulum
‘Rencana Pendidikan’. Ide utama dari kurikulum 1964 ini adalah pembelajaran
yang bersifat aktif, kreatif, dan produktif. Kemampuan siswa atau murid
memikirkan problem solving (pemecahan masalah) terhadap persoalan yang mereka hadapi, merupakan kewajiban yang diamanahkan oleh kurikulum 1964
kepada para guru.
Kurikulum 1964 dirancang dengan titik berat perhatian pada kepentingan
pembelajaran dibanding pengajaran yang terkandung dalam dua kurikulum
sebelumnya. Kehadiran kurikulum 1964 ditujukan untuk lebih melengkapi
muatan materi yang terkandung dalam kurikulum 1952 secara sistematis dan
sistemik. Materi pelajaran yang dirancang dalam kurikulum 1964 merupakan
kelanjutan dan perincian dari materi pelajaran dalam kurikulum 1952. Perincian
dimaksud dapat dilihat dari rancangan pendidikan dalam kurikulum 1964
sebagai berikut:
a. Pengembangan Moral, berisikan:
1) Pendidikan Budi Pekerti (agama);
2) Pendidikan Kemasyarakatan;
b. Pengembangan Emosional, berisikan: Pendidikan Kesenian.
c. Pengembangan Kecerdasan, berisikan:
1) Pendidikan Bahasa Daerah;
2)
Secara etimologis, rekonstruksionisme berasal dari istilah dalam bahasa Inggris,
2) Pendidikan Bahasa Indonesia;
3) Pendidikan Berhitung;
4) Pendidikan Pengetahuan Alam;
d. Pengembangan Kesehatan dan Jasmani, berisikan: Pendidikan Olah raga
dan Kesehatan.
e. Pengembangan Kepribadian, berisikan: Pendidikan Keterampilan.
Dikarenakan kelahirannya sebagai pelengkap bagi kurikulum 1952, maka
nuansa paradigma pendidikan perenialisme dan rekonstruksionisme masih
tampak dalam kurikulum 1964. Namun, jika ditilik dari perluasan materi
pembelajaran, pengaruh paradigma pendidikan idealisme3) sudah mulai tampak.
Perluasan materi pembelajaran dimaksud mengarah pada prinsip dasar
paradigma pendidikan idealisme. Sebagai sebuah aliran filsafat pendidikan,
idealisme memahamkan, bahwa pendidikan merupakan sebuah realitas yang
berkeharusan memadukan nilai-nilai pengalaman, aktivitas sosial, kedisiplinan
intelektual, dan pandangan tentang idealitas moral (Brumbaugh, 1963: 26).
Pemberlakuan kurikulum Rencana Pendidikan 1964 hanya berusia empat
tahun, karena peristiwa gestapu PKI 30 September 1965 telah menggugah
pemerintah era orde baru untuk melakukan revisi terhadap kurikulum yang ada
saat itu. Revisi dilakukan guna menyesuaikan kondisi dan kebutuhan mental
kebangsaan rakyat Indonesia. Pada 1968 pemerintah menetapkan pemberlakuan
kurikulum baru yang biasa juga disebut kurikulum Sekolah Dasar atau
kurikulum 1968.
Sesuai dengan latar sejarah kelahirannya sebagai pengganti kurikulum
1964, yang diidentikkan dengan orde lama, keberadaan Kurikulum Sekolah
Dasar 1968 cenderung bersifat politis–ideologis. Jika pendidikan dalam
kurikulum 1964 bertujuan untuk menciptakan masyarakat sosialis Indonesia,
maka dalam kurikulum 1968 pendidikan diarahkan pada upaya membentuk
3)
Secara etimologis, idealisme berasal dari istilah dalam Bahasa Latin, ‘idea’ yang berarti
manusia Indonesia menjadi pancasilais sejati. Manusia pancasilais dimaknai
sebagai manusia Indonesia yang memiliki karakter: sehat jasmani ruhani, cerdas,
terampil, bermoral, berbudi pekerti luhur, berkeyakinan atau beragama.
Kurikulum Sekolah Dasar 1968 merupakan pembaharuan terhadap
kurikulum Rencana Pendidikan 1964. Pembaharuan dimaksud tampak pada
perubahan struktur materi pendidikan, dari penanaman dan pengembangan
nilai-nilai pancawardhana berubah kepada pembinaan dan penguatan nilai-nilai
luhur Pancasila. Perubahan ini sesuai dengan orientasi kurikulum 1968 yang
diarahkan pada penghayatan dan pengamalan UUD 1945 secara konsekwen.
Dilihat dari isi materi pendidikan, kurikulum 1968 lebih menekankan
pada materi pelajaran yang bersifat teoritik, dan hampir tidak mengaitkannya
dengan fakta keseharian hidup siswa atau murid. Hanya saja, struktur materi
pendidikan dalam kurikulum ini bersifat correlated subject curriculum, dimana materi pelajaran pada pendidikan tingkat bawah berkorelasi dengan materi
pelajaran pada pendidikan tingkat lanjutan.
Struktur pendidikan pada kurikulum 1968 berisikan tiga kelompok besar
bidang studi dengan 10 mata pelajaran, yaitu:
a. Bidang studi Pembinaan Jiwa Pancasila, yang terdiri dari:
1) Mata pelajaran Pendidikan Agama;
2) Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan;
3) Mata pelajaran Bahasa Indonesia;
4) Mata pelajaran Bahasa Daerah;
5) Mata pelajaran Olah raga.
b. Bidang studi Pengembangan Pengetahuan Dasar, yang terdiri dari:
1) Mata pelajaran Berhitung;
2) Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam;
3) Mata pelajaran Pendidikan Kesenian;
4) Mata pelajaran Pendidikan Kesejahteraan keluarga.
c. Bidang studi Pembinaan Kecakapan Khusus, yang berisikan: Mata
Aura politis yang ikut membidani kelahiran kurikulum 1968, sebagai
konsekuensi dari perpindahan tampuk pimpinan pemerintahan, memestikan
adanya penguatan nilai-nilai luhur yang dinilai mampu menjadi temali pengikat
persatuan dan kesatuan bangsa. Hasrat penguatan yang dititipkan dalam
program pendidikan, tampak pada muatan kurikulum 1968. Kehasratan ini
sekaligus menjelaskan, bahwa kurikulum 1968 diwarnai oleh paradigma
pendidikan esensialisme4) yang menekankan pentingnya nilai-nilai luhur sebagai
pijakan pendidikan (Gandhi, 2011: 159).
Setelah lima tahun masa pemberlakuan kurikulum Sekolah Dasar 1968,
pemerintah Indonesia menerbitkan dan memberlakukan kembali kurikulum
baru yang dikenal dengan Kurikulum Perintis Sekolah Pembangunan di 1973.
Keberadaan kurikulum 1973 ini hanyalah sebuah program tambahan bagi
kurikulum 1968, dalam bentuk proyek perintisan sekolah pembangunan.
Penyediaan fasilitas pendidikan dalam bentuk pendirian sekolah-sekolah
INPRES, merupakan wujud dari keberadaan kurikulum 1973. Sementara, sistem
dan struktur pendidikan yang terkait dengan materi pembelajaran, masih
menggunakan kerangka pikir yang termuat di dalam kurikulum 1968.
Keberadaan kurikulum 1973 tidak berumur panjang, karena setelah dua
tahun pemberlakuannya, pemerintah kembali menetapkan kurikulum baru,
yakni kurikulum 1975 yang dikenal dengan pola pikir Pengembangan Sistem
Instruksionalnya. Pemberlakuan kurikulum ini dilatarbelakangi oleh hasrat
pemerintah untuk mengisi ruang ketertinggalan bangsa Indonesia di bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi melalui program percepatan pembangunan
yang rancangannya dititipkan dalam hasrat capaian kurikulum 1975.
Dari beberapa kurikulum yang telah diterbitkan dan diberlakukan oleh
pemerintah, baru pada kurikulum 1975 lah pemerintah menetapkan
4)
Secara etimologis, esensialisme berasal dari Bahasa Latin, ‘esse’ yang berarti: ‘menjadi’. Kata ini terambil dari kata ‘est’ dengan arti: ‘ada’. Dalam dunia pendidikan,
esensialisme biasa juga diistilahkan dengan “Education as Cultural Conservation” karena kaum
tujuan pendidikan yang harus dikuasai oleh murid. Karena sifatnya yang
hirarkis, tujuan-tujuan itu disebut “Hirarki Tujuan Pendidikan”. Rumusan
tujuan dimaksud bermula dari Tujuan Pendidikan Nasional, yakni rumusan
tujuan berskala nasional yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar RI
1945.
Tujuan pendidikan nasional tersebut kemudian diturunkan menjadi
Tujuan Institusional, yakni rumusan tujuan yang penetapannya berdasarkan
pada visi dan misi institusi penyelenggara pendidikan, sesuai dengan hasrat
capaian institusi tersebut. Selanjutnya, tujuan institusional diturunkan dalam
Tujuan Kurikuler, yaitu rumusan tujuan dalam bangunan kurikulum pendidikan
yang digunakan sebagai dasar atau pedoman pelaksanaan kependidikan.
Rumusan tujuan ini menjadi gambaran tentang hasrat capaian setelah murid
mengikuti program pendidikan.
Implementasi dari tujuan kurikuler dirancang dalam bentuk Tujuan
Instruksional Umum yang perumusannya didasarkan pada hasrat capaian setiap
mata pelajaran. Dari tujuan ini lah kemudian guru menetapkan hasrat capaian
untuk materi pelajaran yang disajikan pada setiap pelaksanaan proses
pembelajaran dalam bentuk rumusan Tujuan Instruksional Khusus.
Kelebihan kurikulum 1975 dibanding kurikulum-kurikulum sebelumnya
tampak pada sistematika komponen yang terkandung di dalamnya. Komponen
dimaksud terdiri dari:
a. Tujuan Institusional yang dirumuskan berdasar pada hasrat capaian
lembaga pelaksana proses kependidikan.
b. Struktur Program Kurikulum, merupakan kerangka umum tentang
program pendidikan dan pengajaran yang menjadi keharusan lembaga
sekolah untuk melaksanakannya.
c. Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP), berisikan:
1) Tujuan Kurikuler;
2) Tujuan Instruksional Umum;
3) Pokok Bahasan;
d. Prosedur Pengembangan Sistem instruksional, berisikan komponen:
1) Pedoman perumusan tujuan;
2) Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian;
3) Pedoman proses belajar murid;
4) Pedoman pelaksanaan kegiatan guru;
5) Pedoman pelaksanaan program;
6) Pedoman perbaikan atau revisi.
e. Sistem Penilaian, dilakukan pada setiap berakhirnya pelaksanaan satuan
pelajaran
f. Sistem Bimbingan dan Penyuluhan, dibutuhkan untuk mengimbangi
ketidaksamaan kemampuan belajar di antara murid.
g. Supervisi dan Administrasi, memberikan peluang bagi guru untuk
memainkan perannya sebagai seorang supervisor dan administrator.
Sistematika komponen tersebut di atas terjabarkan dalam tebaran mata
pelajaran yang menjadi muatan inti kurikulum 1975, yaitu:
a. Pendidikan Agama; f. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA);
b. Pendidikan Moral Pancasila (PMP); g. Olahraga dan Kesehatan;
c. Bahasa Indonesia; h. Kesenian;
d. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS); i. Keterampilan Khusus.
e. Matematika;
Sementara, untuk tingkatan SMA diberikan mata pelajaran pilihan, dimana
murid dikelompokkan ke dalam tiga rombongan belajar, yaitu: kelas IPA, kelas
IPS dan kelas Bahasa.
Kehadiran kurikulum 1975 dalam bangunan sistem pendidikan nasional
menjadi gambaran tentang gerak modernisasi pembangunan bidang pendidikan
di Indonesia. Hal ini ditandai dengan struktur materi pembelajaran di dalamnya
yang tersusun secara sistematis dan sistemik. Sistemisasi materi itu dirancang
berdasarkan rumusan tujuan pendidikan yang juga sistematis.
Keteraturan program, dari rumusan tujuan hingga rancangan materi
pendidikan nasional, yakni paradigma kependidikan realisme.5) Penekanan pada
keteraturan yang mekanis dalam program pendidikan merupakan karakteristik
paradigma kependidikan realisme (Gandhi, 2011: 144).
Tepat di tahun kesembilan pemberlakuan kurikulum 1975, pemerintah
mulai merasakan kekurangmampuan kurikulum yang ada dalam memfasilitasi
kebutuhan pendidikan bangsa Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh realitas
pendidikan yang belum mampu membekali murid dengan ilmu pengetahuan
dan teknologi praktis–aplikatif. Salah satu sebab dari persoalan kependidikan ini
adalah, padatnya materi pelajaran teoretis yang harus ditampung oleh murid
selama mengikuti program pendidikan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, melalui keputusan politis sidang
MPR yang dituangkan dalam GBHN 1983, pemerintah memutuskan mengganti
kurikulum 1975 dengan kurikulum baru, yakni kurikulum 1984. Kehadiran
kurikulum baru ini tidak hanya sekedar menggantikan peran kurikulum 1975,
namun juga sekaligus melakukan perombakan terhadap sistem kurikulum
tersebut.
Keberadaan kurikulum 1984 ditandai dengan karakteristik yang sekaligus
membedakannya dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Karakteristik
dimaksud adalah:
a. Pertimbangan pentingnya pemberian pengalaman pengetahuan secara
fungsional dan efektif kepada murid menjadi dasar dalam menetapkan
tujuan instruksional sebagai orientasi pembelajaran.
b. Pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan pendekatan Cara Belajar
Siswa Aktif (CBSA), yakni pendekatan yang memberikan keleluasaan
kepada murid untuk aktif secara fisikal, mental, intelektual, dan
emosional terlibat dalam proses pembelajaran guna memperoleh
pengalaman pengetahuan maksimal, baik pada wilayah afektif, kognitif,
maupun psikomotorik.
5)Secara etimologis, realisme berasal dari Bahasa Latin, ‘real’ yang berarti: ‘nyata’ atau
c. Pendekatan spiral digunakan dalam mengemas materi pelajaran dengan
berdasar pada tingkat kedalaman dan keluasan materi.
d. Pembentukan konsep pengetahuan murid dilakukan melalui penanaman
pengertian dan dilanjutkan dengan pemberian latihan. Untuk membantu
memudahkan murid menangkap pengertian tentang pengetahuan dalam
proses belajarnya, penggunaan alat peraga sebagai media pembelajaran
menjadi penting.
e. Tingkat kesiapan dan kematangan mental murid menjadi pertimbangan
dalam menentukan materi yang disajikan dengan menggunakan pola
pikir induktif, dari mudah ke sukar, dari sederhana ke kompleks.
f. Keterampilan Proses menjadi pendekatan dalam pelaksanaan proses
pembelajaran.
Struktur mata pelajaran dalam kurikulum 1984 dipilah menjadi mata
pelajaran inti dan mata pelajaran pilihan. Mata pelajaran inti berisikan 16 mata
pelajaran, yaitu:
a. Agama; i. Fisika;
b. Pendidikan Moral Pancasila (PMP); j. Biologi;
c. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB); k. Matematika;
d. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia; l. Bahasa Inggris;
e. Geografi Indonesia; m. Kesenian;
f. Geografi Dunia; n. Keterampilan;
g. Ekonomi; o. Pendidikan Jasmani dan Olahraga;
h. Kimia; p. Sejarah Dunia dan Nasional.
Pada bagian mata pelajaran tambahan disesuaikan dengan jurusan
masing-masing. Jika dalam kurikulum 1975, program pendidikan tingkat SMA
dikelompokkan ke dalam tiga jurusan: IPA, IPS dan Bahasa, maka di dalam
kurikulum 1984, jurusan tersebut diganti dengan Program A dan Program B.
Program A terdiri dari:
a. A1, menitikberatkan pada mata pelajaran Fisika;
c. A3, menitikberatkan pada mata pelajaran Ekonomi;
d. A4, menitikberatkan pada mata pelajaran Bahasa dan budaya.
Sementara, program B belum dapat diterapkan, karena ia berisikan
aktivitas keterampilan yang memberikan peluang kepada murid untuk terjun
langsung dalam lingkungan masyarakat. Kegiatan ini membutuhkan sarana dan
fasilitas sekolah yang cukup besar, sehingga sangat sulit untuk dilaksanakan.
Secara teoretis, kurikulum 1984 merupakan kurikulum yang fasilitatif
terhadap aktivitas murid dalam belajar. Penyediaan ruang bagi murid untuk bisa
belajar secara aktif merupakan perwujudan dari hasrat membekali mereka
dengan pengalaman pengetahuan secara fungsional dan efektif.
Hasrat tersebut sejalan dengan prinsip dasar yang dipahamkan oleh
paradigma pendidikan progresivisme. Paradigma ini memahamkan, bahwa
pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa
mendatang. Karenanya, cara terbaik mempersiapkan para murid untuk suatu
masa depan yang tidak diketahui adalah, membekali mereka dengan
pengetahuan dan keterampilan untuk mengatasi tantangan-tantangan baru
dalam kehidupan (Kneller, 1971: 48).
Kurikulum 1984 yang sarat dengan prinsip-prinsip pemikiran
kependidikan progresivisme6) ini merupakan kurikulum terlama kedua masa
pemberlakuannya, yakni selama sepuluh tahun, setelah kurikulum 1947 yang
diberlakukan selama duabelas tahun. Setelah sepuluh tahun pemberlakuan
kurikulum 1984, pemerintah baru menyadari pentingnya payung hukum, dalam
bentuk undang-undang, yang secara khusus mengatur sistem pendidikan
nasional, sesuai dengan amanah Undang-Undang Dasar 1945.
Kesadaran tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah Indonesia
dengan menerbitkan Undang-Undang RI nomor 2, 1989, tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Setelah lima tahun usia undang-undang ini pemerintah
6)Secara etimologis, progresivisme berasal dari Bahasa Inggris, ‘progress’ yang berarti:
kemudian menetapkan perubahan atau penggantian kurikulum, karena di dalam
kurikulum 1984 terdapat bagian yang belum sesuai dengan ketentuan dalam
Undang-Undang RI nomor 2, 1989.
Tepat pada 1994 pemerintah memberlakukan kurikulum baru, yakni
kurikulum 1994. Kurikulum ini merupakan bentuk penyempurnaan dari
kurikulum 1984, namun ia memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu:
a. Pelaksanaan proses pembelajaran berorientasi pada muatan atau isi
pelajaran (content oriented).
b. Bersifat populis dengan memberlakukan satu sistem kurikulum inti
untuk seluruh murid di Indonesia, dan memberikan kesempatan bagi
daerah khusus untuk mengembangkan program pembelajaran sesuai
dengan kebutuhan lingkungan masyarakatnya.
c. Pemilihan strategi pembelajaran harus mempertimbangkan keterlibatan
murid secara aktif.
d. Penyajian materi pengajaran harus memperhatikan perkembangan
berpikir murid guna menghasilkan keserasian antara pemahaman akan
konsep pengetahuan dengan keterampilan.
e. Pengulangan sajian materi dianggap penting untuk dilakukan guru
apabila ditemukan materi pelajaran yang sulit untuk dipahami murid.
f. Tahapan pembelajaran di sekolah diatur dengan menggunakan sistem
caturwulan.
Setelah tiga tahun kurikulum 1994 diberlakukan, para pelaksana dan
pengelola pendidikan menemukan beberapa persoalan yang dinilai dapat
mengurangi sekaligus mengganggu pelaksanaan proses pendidikan secara
nasional. Persoalan ini merupakan akibat dari pendekatan content oriented yang digunakan dalam kurikulum 1994. Persoalan dimaksud adalah, kepadatan beban
materi pelajaran disertai tingkat kesukaran yang tidak sebanding dengan tingkat
perkembangan berpikir murid. Hal ini menjadikan proses pembelajaran sebagai
beban bagi murid sehingga kurang efektif dan aplikatif untuk kehidupan.
Persoalan tersebut direspon oleh pemerintah dengan melakukan revisi
1997 sebagai kurikulum baru. Pada dasarnya keberadaan kurikulum 1997 hanya
untuk kepentingan mengatasi persoalan yang ada di dalam kurikulum 1994,
dengan hanya melakukan perbaikan di beberapa bagian, dan tidak tampak
adanya perombakan total, sehingga dapat dikatakan, bahwa kurikulum 1997
bukanlah bentuk kurikulum baru.
Orientasi penguasaan materi pembelajaran yang cenderung teoretis
merupakan salah satu karakter dari kurikulum 1994. Walau ruang untuk belajar
secara aktif bagi murid masih tersedia, namun ruang tersebut dipadati oleh
program teorisasi dalam proses pembelajaran. Kepadatan beban materi
pembelajaran seakan menjelaskan landasan paradigma pendidikan yang dianut
oleh kurikulum 1994, yaitu idealisme. Namun sistemisasi akademis yang
dirancang dalam struktur mekanik pada kurikulum ini mengisyaratkan adanya
pengaruh paradigma pendidikan realisme.
Setelah sepuluh tahun usia pemberlakuan kurikulum 1994 berikut
revisinya di 1997, muncul sebuah persoalan urgen yang dirasakan oleh
masyarakat Indonesia sebagai pengguna lulusan pendidikan formal. Persoalan
dimaksud terkait dengan mutu lulusan yang dirasakan kurang memiliki
kemampuan aplikatif. Kekurangmampuan tersebut tentunya berdampak pada
lemahnya daya saing lulusan pendidikan formal dalam memperoleh dan
mengisi peluang kerja yang tersedia. Kondisi ini senyatanya sudah tidak sesuai
dengan kebutuhan bangsa Indonesia yang sudah memasuki arena persaingan
dunia global.
Munculnya persoalan tersebut disebabkan oleh orientasi kurikulum yang
dominan mengarah pada capaian tujuan, sehingga mengabaikan kepentingan
penguasaan keterampilan aplikatif (skill). Adanya kesenjangan antara lulusan pendidikan formal dengan tuntutan kebutuhan bangsa Indonesia yang terlibat
dalam pertarungan dunia global, menjadi argumen realistis bagi pemerintah
untuk melakukan perubahan sekaligus penggantian kurikulum.
Pada 2004 pemerintah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan
kurikulum 1994, termasuk revisinya kurikulum 1997. Keputusan ini dilanjutkan
baru yang dikenal dengan sebutan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Pemberlakuan KBK disertai hasrat capaian cukup besar sesuai kepentingan
bangsa Indonesia yang membutuhkan lulusan pendidikan formal dengan
kompetensi holistik.
Kompetensi holistik dimaksudkan sebagai karakteristik manusia holistik,
yakni manusia Indonesia yang memiliki kemampuan utuh, bermoral serta
berakhlak luhur, berprilaku mulia, berpengetahuan aplikatif, terampil dalam
berkarya seni dan olah raga. Secara teoretis manusia holistik dapat dimaknai
sebagai: “Human beings who maintain wholeness, balance and interconnectedness throughout their lives” (Alwasilah, Jakarta Post: 28 januari 2012).7)
Berbeda dengan kurikulum-kurikulum di era orde lama dan orde baru,
KBK cenderung tidak terlalu memperbincangkan proses pembelajaran, karena
hal itu telah dipetakan sebagai wilayah kewenangan guru. KBK menjadikan
kompetensi yang harus dimiliki oleh murid sebagai perhatian utama.
Kompetensi dalam kurikulum ini dipahamkan sebagai sebuah kemenyatuan
antara pengetahuan, keterampilan, sikap serta nilai yang mampu direfleksikan
dalam prilaku pikir dan prilaku tindak.
Berdasarkan amanah dari Kepmen 045/U/2002, KBK menetapkan 5
unsur pengembangan pada diri murid sebagai pebelajar, yaitu: Pengembangan
Kepribadian (MK); Pengembangan Keahlian dan Keterampilan (MKK);
Pengembangan Keahlian Berkarya (MKB); Pengembangan Perilaku Berkarya
(MPB); Pengembangan Berkehidupan Bermasyarakat (MBB). Kelima komponen
ini dimuati oleh empat jenis kompetensi, yaitu:
a. Factual Knowledge, merupakan pengetahuan tentang dasar-dasar dari sebuah disiplin ilmu yang terdiri dari: Pengetahuan tentang terminologi
ilmu; dan elemen-elemen dasar ilmu.
b. Conceptual Knowledge: pengetahuan dalam bentuk pemahaman tentang keterhubungan antar elemen dasar dalam sebuah bangunan keilmuan.
Pengetahuan ini meliputi: pengetahuan tentang kategori dan klasifikasi;
7)
pengetahuan tentang generalitas serta prinsip kerja ilmu; dan
pengetahuan tentang struktur dasar, model, paradigma dan teori
keilmuan.
c. Procedural Knowledge: pengetahuan tentang kriteria, teknik dan metode dalam memanfaatkan keterampilan. Pengetahuan ini meliputi:
pengetahuan tentang kriteria dan prosedur; pengetahuan tentang teknik
dan metode khusus; pengetahuan tentang keterampilan khusus.
d. Metacognitive Knowledge: pengetahuan tentang kesadaran akan kognisi diri sendiri. Pengetahuan ini meliputi: pengetahuan tentang diri sendiri;
pengetahuan tentang strategi mengenal diri; dan pengetahuan tentang
tugas-tugas kognisi.
Penguasaan kompetensi tersebut ditandai dengan penguasaan materi
pelajaran oleh murid setelah mengikuti proses pembelajaran yang menggunakan
metode keterampilan proses, sesuai dengan silabi hasil rancangan guru.
Penilaian atas penguasaan materi dimaksud menggunakan sistem evaluasi yang
mengkombinasikan keseimbangan tiga ranah, yaitu: ranah kognitif, ranah afektif
dan ranah psikomotorik. Namun, titik tekan utama dalam evaluasi tetap pada
aspek kognitif dalam bentuk penilaian berbasis kelas.
Proses pembelajaran dalam KBK mengacu pada paradigma pembelajaran
dari UNESCO, yaitu: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to leave together. Paradigma pembelajaran ini diaplikasikan ke dalam empat komponen, yaitu:
a. Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah (PKBS);
b. Kurikulum dan Hasil belajar (KHB);
c. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM);
d. Penilaian Berbasis Kelas (PBK).
Ditilik dari orientasi capaian yang berhasrat mengembangkan potensi
peserta didik, KBK terbaca sebagai aplikasi dari paradigma pendidikan
idealisme. Paradigma ini memahamkan, bahwa peserta didik memiliki bakat dan
mengembangkan pikiran dan kepribadiannya sesuai dengan bakat dan
kemampuannya.
Di sisi lain, hasrat untuk melakukan perombakan total terhadap
kurikulum sebelumnya, menjelaskan bahwa keberadaan kurikulum 2004 atau
KBK diwarnai oleh paradigma pendidikan rekonstruktivisme.8) Sementara, jika
ditilik dari rancangan program pembelajarannya, KBK justru berorientasi pada
paradigma pendidikan behaviorisme.9)
Setelah setahun Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang tampak
fasilitatif terhadap kehasratan dan kebutuhan bangsa Indonesia diberlakukan,
pemerintah menerbitkan sebuah aturan tentang Standar Nasional Pendidikan
melalui Peraturan Pemerintah RI nomor 19, 2005. Diterbitkannya peraturan ini,
selain untuk menjalankan amanah Undang-Undang RI nomor 20, 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, juga merupakan reaksi pemerintah terhadap
realitas keragaman serta kemajemukan potensi dunia pendidikan dari berbagai
wilayah dan daerah di Indonesia.
Berdasar pada Peraturan Pemerintah RI nomor 19, 2005, pada 2006
pemerintah menetapkan pemberlakuan kurikulum baru yang dikenal dengan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusunan KTSP yang telah
dimulai sejak 2005 berorientasi pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi
Lulusan (SKL). Hal ini kemudian ditegaskan melalui Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional nomor 24, 2006, tentang Pelaksanaan Standar Isi (SI) dan
Standar Kompetensi Lulusan (SKL).
Standar Isi (SI) yang dimaksudkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional nomor 24, 2006 berisikan ruang lingkup materi, persyaratan
8)
Rekonstruktivisme berasal dari Bahasa Inggris, ‘reconstruct’ yang berarti “menyusun kembali.” Rekonstruktivisme merupakan kelanjutan dari aliran progresivisme yang dipelopori oleh John Dewey (1859-1952). Rekonstruktivisme memandang pendidikan sebagai reconstruct of experiences (pembangunan kembali pengalaman-pengalaman) yang berlangsung secara terus-menerus dalam hidup.
9)Behaviorisme berasal dari Bahasa Inggris, ‘behavior’ yang berarti: “tingkah laku.”
kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi bahan ajar, yang
kesemuanya dituangkan dalam silabus pembelajaran untuk kepentingan peserta
didik ketika mengikuti jenis dan jenjang pendidikan tertentu. Standar Isi ini
menjadi pedoman dalam pengembangan kurikulum pada tingkat satuan
pendidikan yang berisikan:
a. Kerangka dasar beserta Struktur Kurikulum;
b. Beban Belajar peserta didik;
c. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dijabarkan di Tingkat Satuan
Pendidikan;
d. Kalender Pendidikan.
Sementara, Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional nomor 24, 2006, berisikan uraian tentang kompetensi untuk
seluruh mata pelajaran dan rumpun mata pelajaran. SKL ini menjadi pedoman
penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik pada satuan pendidikan.
Kompetensi lulusan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dimaksudkan
sebagai kualifikasi kemampuan lulusan pendidikan yang mencakup:
pengetahuan, keterampilan dan sikap, sesuai dengan standar nasional yang telah
ditetapkan.
Secara umum, pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) ditujukan pemerintah untuk memberdayakan satuan pendidikan di
daerah dengan memberikan kewenangan kepada pihak lembaga pendidikan.
Pemberian kewenangan dimaksud akan memotivasi setiap sekolah di daerah
untuk bersikap mandiri dalam menetapkan keputusan tentang pengembangan
kurikulum secara partisipatif.
Sementara, secara khusus pemberlakuan KTSP ditujukan oleh pemerintah
untuk kepentingan peningkatan mutu pendidikan melalui kemandirian dalam
mengembangkan kurikulum serta memberdayakan sumberdaya manusia yang
tersedia di daerah. Selain itu, pemberlakuan KTSP juga ditujukan untuk
melibatkan kepedulian masyarakat daerah dalam mendorong peningkatan
kualitas lembaga pendidikan guna menghasilkan lulusan yang siap bersaing
Secara teoretis, penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah, dimana Standar Isi (SI) dan
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) ditetapkan oleh kepala sekolah, setelah
mendapatkan pertimbangan dari pihak komite sekolah. Untuk kepentingan
perumusan KTSP, pihak sekolah harus melibatkan berbagai elemen sekolah,
seperti: guru sebagai tenaga pendidik, karyawan sebagai tenaga kependidikan,
komite sekolah sebagai perwakilan orang tua dan masyarakat. Bahkan jika
dibutuhkan, pihak sekolah dapat melibatkan tenaga ahli dari perguruan tinggi
yang terkait dengan kebutuhan.
Pelibatan komite sekolah, sebagai perwakilan dari orang tua atau wali
murid dan masyarakat, ditujukan untuk menampung serta menyerap aspirasi
masyarakat. Dengan demikian, muatan kompetensi yang dirumuskan oleh pihak
sekolah akan sesuai dengan harapan masyarakat, sehingga lulusan pendidikan
berpotensi untuk memenuhi hasrat kepentingan masyarakat, sesuai dengan
situasi dan kondisi, serta karakteristik sosial budaya kehidupan daerah setempat.
Dalam proses pengembangan dan pelaksanaan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), pihak sekolah harus memperhatikan prinsip-prinsip
yang telah ditentukan oleh Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22,
2006. Prinsip-prinsip dimaksud adalah:
a. Potensi peserta didik: pengembangan kurikulum harus mengacu pada
kesadaran bahwa peserta didik merupakan fokus sentral dari proses
pendidikan. Oleh karenanya, pendidikan yang berusaha membentuk
peserta didik menjadi manusia bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, dan
bersikap demokratis, harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan
dan kebutuhan potensi dirinya.
b. Keberagaman dan keterpaduan: pengembangan kurikulum harus
memperhatikan nilai-nilai keberagaman dari peserta didik, seperti: suku,
agama, budaya, adat, status ekonomi serta aspek gender. Kesemua nilai
keberagaman ini harus diberdayakan secara terpadu tanpa ada unsur
c. Tanggap atas perkembangan ilmu pengetahuan: pengembangan
kurikulum harus didasarkan pada kesadaran, bahwa ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni senantiasa bergerak dinamis serta berkembang secara
cepat.
d. Relevansi kebutuhan: pengembangan kurikulum harus mengacu pada
kebutuhan dan kepentingan perkembangan potensi peserta didik yang
akan bersaing dalam dunia kerja, serta kepentingan kemajuan sosial
budaya masyarakat daerah.
e. Kemenyeluruhan dan kesinambungan: pengembangan kurikulum harus
dirancang secara menyeluruh untuk kepentingan penyajian secara
berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
f. Long life education: pengembangan kurikulum harus dirancang untuk kepentingan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik dalam
rentang waktu sepanjang hayat.
g. Keseimbangan kepentingan: pengembangan kurikulum harus selalu
memperhatikan nilai keseimbangan antara kepentingan global, nasional,
dan lokal guna meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Prinsip-prinsip dasar pemberlakuan KTSP di atas berisikan paparan
tentang kecenderungan paradigmatis yang menjadi kiblat kurikulum ini, yaitu
perenialisme. Kecenderungan dimaksud semakin jelas ketika prinsip long life education dimaknai sebagai alur keberlangsungan proses pembudayaan sekaligus pemberdayaan ragam potensi yang bersumber dari nilai-nilai luhur kultural
dalam kehidupan masyarakat bangsa. Namun di bagian lain, khususnya pada
prinsip keseimbangan kepentingan, KTSP juga menggambarkan adanya
pengaruh pemikiran paradigma kependidikan pragmatisme.10)
Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tidak serta
merta dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul dalam dunia
pendidikan, seperti: rendahnya angka kelulusan murid; lemahnya daya saing
10)Secara etimologis, pragmatisme berasal dari Bahasa Yunani, ‘pragma’ yang berar ti:
‘tindakan’. Pragmatisme memahamkan, bahwa hakikat dari tujuan pendidikan adalah:
lulusan di dunia kerja; meningkatnya kenakalan dan tindak asusila serta
kriminal di kalangan pelajar. Demikian pula dengan harapan masyarakat yang
masih belum mampu dijawab oleh lulusan pendidikan setelah KTSP
diberlakukan.
Persoalan tersebut senyatanya bukanlah potret kegagalan total dari KTSP,
karena di bagian lain terbukti betapa KTSP telah berhasil memberikan ruang
berekspresi bagi pihak sekolah. Ruang tersebut kemudian diisi oleh pihak
sekolah dengan prestasi dan karya nyata. Hadirnya mobil listrik karya pelajar
SMK di daerah Solo setidaknya menjadi salah satu bukti keberhasilan dari pihak
sekolah dalam menerapkan KTSP. Demikian pula dengan berbagai prestasi yang
berhasil diraih oleh para pelajar, dalam bidang science, seni dan olah raga, baik di dalam maupun di luar negeri, yang tidak terpublikasikan ke ruang publik.
Raut wajah kegagalan pendidikan dengan KTSP yang terpublikasikan
secara heboh ternyata mampu menutupi wajah keberhasilannya. Rendahnya
nilai kelulusan hampir di setiap tahun pelaksanaan Ujian Nasional (UN)
langsung dipersangkakan oleh pemerintah sebagai akibat dari kegagalan KTSP,
tanpa mengevaluasi kebijakan yang menetapkan keseragaman soal untuk
pelaksanaan ujian tersebut.
Berkaca dari cermin dugaan kegagalan penerapan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan, dan juga disertai hasrat klasik untuk lebih meningkatkan
mutu pendidikan, pemerintah kemudian merancang kembali kurikulum baru
yang dinamai dengan Kurikulum Integratif atau kurikulum 2013. Rencananya
kurikulum ini akan mulai diberlakukan oleh pemerintah pada awal 2013. Hingga
penelitian ini penulis lakukan, rancangan kurikulum tersebut masih
mendapatkan reaksi penolakan dari beberapa pihak di kalangan dunia
pendidikan, baik dari pelaksana dan pelaku pendidikan maupun dari kalangan
pengamat pendidikan.
Hasrat pemerintah untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada
peserta didik untuk berkreasi diwujudkan dengan merubah pemaknaan tentang
eksistensi guru. Jika pada kurikulum-kurikulum sebelumnya eksistensi guru
pembelajaran, namun dalam kurikulum 2013 semua rancangan yang dibutuhkan
oleh guru sudah disediakan.
Rancangan kurikulum 2013 pada intinya berisikan perubahan pada
elemen-elemen kurikulum, yaitu:
a. Kompetensi Lulusan: adanya peningkatan keseimbangan antara soft skill
dengan hard skill yang meliputi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Rumusan ini berlaku untuk SD, SMP, SMA, dan SMK.
b. Kedudukan Mata Pelajaran: kompetensi tidak lagi diturunkan dari mata
pelajaran, namun mata pelajaran yang dirancang dan dikembangkan
berdasarkan kompetensi. Perubahan arah ini berlaku untuk SD, SMP,
SMA, dan SMK.
c. Pendekatan: Tematik integratif untuk semua mata pelajaran pada tingkat
SD; pendekatan Mata pelajaran untuk tingkat SMP dan SMA; pendekatan
Vokasional untuk SMK.
d. Struktur Kurikulum yang berisikan mata pelajaran dan alokasi waktu:
1) Sekolah Dasar (SD):
a) Holistik berbasis sains (alam, sosial dan budaya);
b) Jumlah mata pelajaran berkurang, dari 10 menjadi 6;
c) Jumlah jam pelajaran bertambah 4 jam perminggu, sebagai akibat
perubahan pendekatan pembelajaran.
2) Sekolah Menengah Pertama (SMP):
a) Tujuan Instruksional Khusus menjadi media bagi semua mata
pelajaran;
b) Pengembangan diri terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan
kegiatan ekstra kurikuler;
c) Jumlah mata pelajaran berkurang, dari 12 menjadi 10;
d) Jumlah jam pelajaran bertambah 6 jam perminggu, sebagai akibat
perubahan pendekatan pembelajaran.
3) Sekolah Menengah Atas (SMA):
a) Mata pelajaran dibagi menjadi: mata pelajaran wajib dan mata
b) Pengurangan mata pelajaran yang harus diikuti oleh siswa;
c) Jumlah jam pelajaran bertambah 1 jam perminggu, sebagai akibat
perubahan pendekatan pembelajaran.
4) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK):
a) Penambahan jenis keahlian sesuai spektrum kebutuhan, dengan
rincian: 6 program keahlian – 40 bidang keahlian – 12 kompetensi
keahlian;
b) Pengurangan pola belajar adaptif dan normatif yang disertai dengan
penambahan pola belajar produktif;
c) Produktivitas hasil disesuaikan dengan trend dunia industri.
e. Proses Pembelajaran:
1) Standar proses yang pada awalnya terfokus pada eksplorasi, elaborasi
dan konfirmasi, dilengkapi dengan: mengamati, menanya, mengolah,
menyajikan, menyimpulkan, serta mencipta;
2) Belajar tidak hanya di dalam kelas, namun juga dapat dilakukan di
lingkungan sekolah dan di lingkungan masyarakat;
3) Guru bukan lah satu-satunya sumber belajar;
4) Materi tentang sikap tidak disajikan secara verbal, namun melalui
contoh keteladanan;
5) Untuk tingkat SD: semua mata pelajaran disajikan secara tematik dan
terpadu; untuk tingkat SMP: mata pelajaran IPA dan IPS disajikan
secara terpadu; untuk tingkat SMA: mata pelajaran wajib dan pilihan
disesuaikan dengan bakat dan minat peserta didik; untuk SMK:
kompetensi keterampilan disesuaikan dengan standar industri.
f. Penilaian Hasil Belajar:
1) Penilaian berbasis kompetensi;
2) Pergeseran dari penilaian melalui tes yang mengukur kompetensi
pengetahuan berdasar pada hasil saja, kepada penilaian otentik yang
mengukur semua kompetensi: sikap, keterampilan dan pengetahuan,
3) Memperkuat Penilaian Acuan Patokan (PAP), yaitu pencapaian hasil
belajar berdasar pada posisi skor yang diperoleh peserta didik dalam
posisi skor ideal atau maksimal;
4) Penilaian tidak hanya dilakukan pada tahap kompetensi dasar, namun
juga pada tahap kompetensi inti sesuai Standar Kompetensi Lulusan
(SKL);
5) Memotivasi pemanfaatan portofolio yang dirancang oleh siswa sebagai
instrumen utama dalam penilaian;
g. Ekstrakurikuler:
1) Sekolah Dasar (SD): Pramuka (wajib diikuti oleh seluruh peserta didik);
UKS; PMR; dan Bahasa Inggris.
2) Sekolah Menengah Pertama (SMP): Pramuka (wajib diikuti oleh seluruh
peserta didik); OSIS; UKS; PMR; dan kegiatan lain yang dianggap perlu.
3) Sekolah Menengah Atas (SMA): Pramuka (wajib diikuti oleh seluruh
peserta didik); OSIS; UKS; PMR; dan kegiatan lain yang dianggap perlu.
4) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK): Pramuka (wajib diikuti oleh seluruh
peserta didik); OSIS; UKS; PMR; dan kegiatan lain yang dianggap perlu.
Beberapa hal yang menjadi catatan menarik dari rancangan kurikulum
2013 adalah:
a. Tuntutan capaian kompetensi yang sedemikian besar pada peserta didik;
b. Ketersediaan semua bentuk rancangan program pembelajaran untuk
guru dalam melaksanakan tugas kependidikannya;
c. Penempatan mata pelajaran IPA dan IPS sebagai mata pelajaran
integrative science serta integrative social studies, dan bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu pada tingkat SMP;
d. Integrasi mata pelajaran IPA / IPS ke dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia pada tingkat Sekolah Dasar;
e. Penambahan jam pelajaran bagi peserta didik pada tingkat SD, SMP dan
Di satu sisi, rancangan kurikulum yang sedemikian terstruktur secara
sistematis dan mekanis, menggambarkan betapa kurikulum 2013 diwarnai oleh
pola pikir paradigma kependidikan rekonstruksionisme. Di sisi lain, perluasan
ruang belajar formal yang tidak hanya dapat dilakukan di dalam kelas, tapi juga
di luar kelas, mengisyaratkan bahwa rancangan kurikulum 2013 ikut diwarnai
oleh paradigma pendidikan behaviorisme.11)
Secara keseluruhan, sulit untuk memastikan landasan filosofis dari sistem
kurikulum yang pernah diberlakukan dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Hasil pembacaan terhadap keseluruhan kurikulum tersebut hanya akan
mengidentikkannya dengan bangunan filsafat pendidikan, dan itupun hanya
sebatas serpihan paradigma yang terkandung di dalamnya.
Hal tersebut di atas disebabkan oleh ketidakutuhan proses pelandasan
filosofis dan berlanjut ke arah absurditas (kekaburan) warna dari sistem kurikulum yang telah dan akan diberlakukan. Landasan filosofis yang tidak utuh
itu adalah: landasan ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis.
Namun, dari realitas ketidakutuhan dan absurditas (kekaburan) itu terlihat satu warna yang jelas pada keseluruhan bangunan kurikulum di Indonesia, yaitu
positivisme.12) Warna ini tampak nyata dalam sistem evaluasi pada seluruh
kurikulum yang berlaku di Indonesia.
A.
Individu dan Realitas Pendidikan Nasional
11)Behaviorisme berasal dari Bahasa Inggris, ‘behavior’ yang berarti: tingkah laku, tabiat, tindakan, perangai. Behaviorisme merupakan salah satu aliran pemikiran dalam ruang keilmuan psikologi yang beranggapan, bahwa untuk mengkaji prilaku individu harus dilakukan dengan mengamati aktivitas individu, dan bukan pada peristiwa hipotesis dalam diri individu. Secara tegas behaviorisme memahamkan, bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya reaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukan perubahan pada tingkah lakunya.
12)