• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Manusia dalam Sistem Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hakikat Manusia dalam Sistem Pendidikan"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

Eksistensi Individu dalam Sistem Pendidikan Nasional

Azalinya, pendidikan merupakan aktivitas manusia untuk kepentingan

manusia. Oleh karena itu, segala bentuk usaha dalam wilayah kependidikan

semestinya diarahkan dan ditujukan untuk pemenuhan kepentingan manusia.

Hal terpenting yang harus dilakukan oleh pendidikan adalah membangun

kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari kesemestaan jagad raya.

Kesadaran ini dibutuhkan untuk menata komunikasi harmonis antara manusia

dengan alam.

Komunikasi harmonis tersebut dimaksudkan sebagai kedekatan serta

kemenyatuan manusia dengan alam, yang diniscayakan penciptaannya oleh

Tuhan guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidup manusia. Untuk itu,

pendidikan harus dapat membantu manusia dalam proses mendekatkan dan

menyatukan dirinya dengan alam: Education must teach us to live close nature

(Brumbaugh, 1963: 5).

Secara natural, harmonisasi hubungan antara manusia dengan alam telah

terjalin sejak manusia menjadi bagian dari kesemestaan jagad raya. Hubungan

tersebut kemudian membidani lahirnya pengalaman, yang dalam proses

perlintasan waktu, menjadi embrio bagi terbentuknya pengetahuan manusia.

Dengan kata lain, pengetahuan terlahir dari pengalaman manusia yang

berulang-ulang dalam proses kehidupan.

Pemaknaan tentang pengetahuan seperti tersebut di atas terungkap

dalam kajian filsafat pendidikan yang memahamkan, bahwa: All knowledge is recollection (Brumbaugh, 1963: 5). Bangunan pemaknaan ini berlandaskan pada

*)

Tulisan Disajikan dalam Kegiatan Bimbingan Teknis bagi Guru Madrasah Se-Kota Pontianak pada 2 Desember 2013.

**)

(2)

kesadaran, bahwa pengetahuan merupakan kesejatian instrumental diri manusia

yang berada dalam ruang potensi.

Untuk dapat merekoleksi pengalaman dalam bentuk eksplorasi potensi

pengetahuan tersebut, dibutuhkan sebuah upaya yang sistematis sekaligus

sistemik. Upaya dimaksud adalah pendidikan, karena didalamnya berisikan

aktivitas membimbing serta membantu manusia untuk mengembangkan segala

bentuk potensi yang dimilikinya (Salahudin, 2011: 19). Pada bagian lain,

pendidikan juga berisikan aktivitas kreatif yang mampu menumbuhsuburkan

nilai-nilai kreativitas manusia (Alwasilah, 2008: 18). Potensi nilai-nilai kreatif ini

terkandung dalam rahim kebiasaan merekoleksi pengalaman saat manusia harus

bereaksi terhadap alam guna mempertahankan hidupnya.

Sebagai negara berkembang yang sedang disibukkan dengan aktivitas

pembangunan di segala sektor kehidupan, bangsa Indonesia menyadari akan

besarnya peran pendidikan dalam memadati ruang kehasratan untuk menjadi

bangsa berperadaban maju dan modern. Pendidikan terbukti telah berjasa dalam

ikut serta mempertahankan dan memperkokoh eksistensi Indonesia sebagai

negara kesatuan republik (Kartodirdjo, 1994: 47).

Berdasarkan pada realitas tersebut, pemerintah berupaya memberikan

perhatian cukup terhadap pendidikan. Hal ini terbukti dengan dialokasikannya

20% dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk

kepentingan dunia pendidikan, sebagaimana yang tertuang dalam

Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945, Bab XIII tentang Pendidikan dan

Kebudayaan, Pasal 31 tentang Pendidikan, ayat (4) tentang anggaran pendidikan.

Ayat (4) ini merupakan tambahan setelah UUD 1945 mengalami perubahan IV

pada 2002, yang sekaligus menjadi bukti adanya perhatian serta tanggung jawab

pemerintah terhadap kebutuhan pendidikan.

Dalam Undang-Undang Dasar RI 1945 sebelum diamandemen,

pendidikan yang dimaknai pemerintah sebagai aktivitas pengajaran, hanya

diposisikan pada wilayah ‘hak’ bagi setiap warga negara, sebagaimana tersebut

pada Bab XIII, pasal 31 ayat (1). Sementara, dalam Undang-Undang Dasar RI

(3)

‘hak’ namun juga sebagai ‘kewajiban’, walau kewajiban itu baru sampai pada

tingkat pendidikan dasar, sebagaimana tersebut dalam ayat (2).

Secara formal, pendidikan merupakan salah bentuk program kebangsaan

dan kenegaraan. Oleh karenanya tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan

berada di pundak pemerintah sebagai pelaksana program kebangsaan dan

kenegaraan. Tanggung jawab ini ditegaskan dalam Undang-Undang RI 1945

dalam BAB XIII, pasal 31 ayat (3) tentang tanggung jawab penyelenggaraan, (4)

tanggung jawab pendanaan, dan (5) tanggung jawab peningkatan mutu

keilmuan.

Kesemua bentuk tanggung jawab, yang berimplikasi pada berbagai

kebijakan kependidikan ini, ditujukan untuk kepentingan kesejahteraan ummat

manusia dalam era peradaban yang berkualitas, sebagaimana tercantum pada

ayat (5). Dengan demikian, segala bentuk kehendak dalam wadah kebijakan,

yang potensial mereduksi atau bahkan menegasi kepentingan menyejahterakan

manusia, secara esensial telah melanggar Undang-Undang Dasar RI 1945.

Eksistensi manusia dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, khususnya

pada Bab XIII, Pasal 31, disimbolkan dengan term warga negara, yakni

sekelompok individu yang menghuni suatu negara. Sebagai bagian dari negara,

manusia terikat oleh aturan-aturan kenegaraan dan kebangsaan. Aturan di sini

lebih ditujukan pada aturan kependidikan.

Keterikatan tersebut ditandai dengan keharusan bagi penyelenggara

negara atau pemerintah untuk mendanai pelaksanaan program kependidikan

bagi warga negaranya. Keharusan ini sekaligus merupakan bentuk tanggung

jawab pemerintah terhadap kebutuhan pendidikan manusia yang berada dalam

wilayah kewenangannya.

Bentuk lain dari tanggung jawab pemerintah terhadap manusia Indonesia

dalam dunia pendidikan adalah, keharusan untuk merancang program

kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan manusia Indonesia. Tanggung

jawab ini direalisasikan oleh pemerintah dengan menerbitkan undang-undang

yang berisikan tentang Sistem Pendidikan Nasional dan kurikulum yang

(4)

Hingga 2013 pemerintah telah menerbitkan 4 undang-undang yang

mengatur Pendidikan Nasional, yaitu: UU nomor 4, 1950, tentang Pokok-pokok

Pengajaran dan Pendidikan; UU nomor 12, 1954, tentang Dasar-dasar Pendidikan

dan Pengajaran di Sekolah; UU nomor 2, 1989; dan UU nomor 20, 2003, tentang

Sistem Pendidikan Nasional.

Sementara hingga awal 2013, kurikulum yang pernah diberlakukan oleh

pemerintah sebanyak 11 kurikulum, yaitu: Kurikulum 1947 (Rencana Pelajaran),

Kurikulum 1952 (Rencana Pelajaran Terurai), Kurikulum 1964 (Rencana

Pendidikan), Kurikulum 1968 (Sekolah Dasar), Kurikulum 1973 (Perintis Sekolah

Pembangunan), Kurikulum 1975 (Pengembangan Sistem Instruksional),

Kurikulum 1984 (Cara Belajar Siswa Aktif), Kurikulum 1994 (Sistem

Caturwulan), Kurikulum 1997 (Revisi 94), Kurikulum 2004 (KBK), Kurikulum

2006 (KTSP). Pemerintah juga telah mempersiapkan rancangan kurikulum baru

yang akan diberlakukan di pertengahan 2013, kurikulum Integratif atau

kurikulum 2013.

Dilihat dari tahun terbit dan pemberlakuannya, kurikulum 1947

diberlakukan sebelum diterbitkannya Undang-Undang nomor 4, 1950, tentang

Pokok-pokok Pengajaran dan Pendidikan. Dengan demikian dapat dipastikan,

bahwa kurikulum 1947 (Rencana Pelajaran) tersebut merupakan implementasi

langsung dari Undang-Undang Dasar RI 1945, Bab XIII Pasal 31 ayat (2).

Berbeda dengan kurikulum 1947, masing-masing kurikulum dari sebelas

kurikulum yang telah diterbitkan dan diberlakukan oleh pemerintah, memiliki

payung legalitas berupa undang-undang dan/atau TAP MPR yang secara

khusus mengatur sistem pendidikan nasional. Kurikulum 1952 dipayungi oleh

UU nomor 4, 1950. Kurikulum 1964 berada dibawah legalitas payung UU nomor

12, 1954, dan juga TAP MPR nomor II, 1960. Kurikulum 1968 dipayungi oleh

Penetapan Presiden nomor 9, 1965, dan TAP MPRS nomor XXVII, 1966.

Kurikulum 1973 dan 1975 berada dibawah payung legalitas TAP MPR nomor IV,

1973 tentang GBHN. Kurikulum 1984 dipayungi oleh TAP MPR nomor IV, 1978.

Kurikulum 1994 dan kurikulum 1997 berada di bawah payung UU Sistem

(5)

termasuk rancangan kurikulum 2013 yang baru akan diberlakukan oleh

pemerintah, dipayungi oleh UU Sistem Pendidikan Nasional nomor 20, 2003.

(6)

Landasan legalitas formal dalam bentuk undang-undang sangat penting

bagi proses pemberlakuan kurikulum. Keberadaan undang-undang dimaksud

tidak hanya untuk kepentingan pelandasan formal bagi pencapaian tujuan dari

pelaksanaan kurikulum, namun juga untuk kepentingan perlindungan hukum

terhadap manusia yang terlibat di dalamnya. Perlindungan tersebut dibutuhkan

demi rasa aman bagi manusia dalam menjalankan proses kegiatan pendidikan.

Pada bagian lain, keberadaan undang-undang juga dibutuhkan untuk

memberikan kepastian arah bagi pelaksanaan proses pendidikan. Kepastian

dimaksud berbentuk rumusan tujuan yang menjadi orientasi dalam

mewujudkan hasrat capaian pendidikan nasional. Hingga terbitnya UU

SISDIKNAS nomor 20, 2003, negara Indonesia telah melahirkan 7 rumusan

tujuan pendidikan nasional.

Rumusan tujuan pendidikan nasional pertama kali termuat dalam UU

nomor 4, 1950, tentangPokok-pokok Pengajaran dan Pendidikan,bab II pasal 3.

Dalam UU tersebut dinyatakan, bahwa: “Tujuan pendidikan dan pengajaran

membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta

bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.” Rumusan

tujuan pendidikan tersebut kemudian dituangkan kembali oleh para perancang

undang-undang dalam UU nomor 12, 1954, tentang Dasar-dasar Pendidikan dan

Pengajaran di Sekolah. UU ini sesungguhnya merupakan pemberlakuan kembali

UU nomor 4, 1950 untuk seluruh wilayah RI.

Formulasi hasrat capaian dalam rumusan tujuan tersebut sungguh

menunjukkan betapa pendidikan Indonesia ketika itu telah beradaptasi dengan

pemikiran demokrasi yang sedang berkembang di kalangan masyarakat dunia.

Pemikiran demokrasi dimaksud jelas terlihat pada karakteristik ‘manusia’ yang

hendak dibidani kelahirannya melalui proses pendidikan, yaitu: warga negara

yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan

tanah air.

Pada 1960 rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut dirancang ulang

dan disesuaikan dengan kondisi kehidupan bangsa Indonesia saat itu. Rumusan

(7)

nomor II, 1960: “Tujuan pendidikan ialah mendidik anak ke arah terbentuknya manusia yang berjiwa Pancasila dan bertanggung jawab atas terselenggaranya

masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur material dan spiritual.”

Rumusan tujuan ini jelas menggambarkan adanya pengaruh pemikiran

sosialisme, namun pengaruh itu masih diikat oleh nilai-nilai keindonesiaan.

Nilai-nilai dimaksud terwakili oleh term ‘berjiwa Pancasila’.

Rumusan tujuan pendidikan tersebut kemudian direvisi sesuai dengan

pengaruh suasana sosial politik bangsa Indonesia melalui penetapan presiden

nomor 19, 1965. Dalam penetapan presiden ini, sistem pendidikan dinamai

dengan: “Sistem Pendidikan Nasional dan Pancasila.” Rumusan revisi tujuan

pendidikan yang termuat di dalamnya berbunyi: “Tujuan pendidikan nasional

kita, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta, dari

pendidikan prasekolah sampai pendidikan tinggi, supaya melahirkan warga

negara sosialis Indonesia yang susila, yang bertaggung jawab atas

terselenggaranya masyarakat sosialis Indonesia, adil dan makmur baik spiritual

maupun material yang berjiwa pancasila, yaitu: Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa;

Perikemanusiaan yang adil dan beradab; Kebangsaan; Kerakyatan; Keadilan

sosial, seperti dijelaskan dalam Manipol/Usdek.”

Rumusan tujuan pendidikan nasional dan Pancasila tersebut senyatanya

tidak bertahan lama, karena letupan peristiwa G.30 S/PKI 1965 telah

menyadarkan dan membuka mata rakyat Indonesia untuk membaca akan

adanya motif politik PKI di balik cita-cita pendidikan itu. Melalui TAP MPRS RI

nomor XXVII/MPRS/1966 tentang Agama, Pendidikan dan Kebudayaan,

pemerintah orde baru menetapkan, bahwa tujuan pendidikan adalah:

“Membentuk manusia Pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti

yang dikehendaki oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.”

Sejalan dengan perkembangan peradaban pemikiran bangsa Indonesia,

rumusan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan di awal pemerintahan orde

baru tersebut digantikan kembali dengan rumusan yang baru melalui TAP MPR

RI No. IV/MPR/1973, yang dikenal dengan Garis-garis Besar Haluan Negara

(8)

pendidikan sekaligus tujuan yang dihasratkan untuk bangsa Indonesia.

Pengertian dimaksud adalah: “Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar

untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar

sekolah dan berlangsung seumur hidup.”

Setelah berlaku selama lima tahun, rumusan tujuan pendidikan itu

direformulasikan kembali oleh para perancang undang-undang melalui TAP

MPR No. IV/MPR/1978. Di dalamnya dinyatakan, bahwa: “Pendidikan nasional

berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan

terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi

pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar

dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun

dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan

bangsa.” Rumusan tujuan pendidikan ini menggambarkan adanya pola pikir

klasifikatif tentang karakteristik manusia yang dihasratkan melalui proses

pendidikan, walau pola pikir dimaksud tidak berkesesuaian dengan aturan

logika bahasa.

Ketidaksesuaian pertautan bahasa dalam rumusan tujuan pendidikan

dengan aturan logika bahasa juga terulang kembali dalam rumusan tujuan

pendidikan nasional yang termuat dalam undang-undang nomor 20, 2003,

tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jika ditilik secara cermat dapat

disimpulkan, bahwa rumusan tujuan pendidikan nasional yang kelahirannya

ikut dibidani oleh tuntutan realitas kehidupan bangsa ini, merupakan rancang

ulang dari rumusan tujuan pendidikan sebelumnya.

Undang-Undang SISDIKNAS nomor 2, 1989, pasal 3 menjelaskan tentang

fungsi dari keberadaan pendidikan nasional, yaitu: “Pendidikan Nasional

berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu

kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan

tujuan nasional.” Sementara pasal 4 dari undang-undang tentang Sistem

Pendidikan Nasional ini memaparkan tujuan pendidikan nasional dalam uraian

kalimat: “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan

(9)

dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,

memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,

kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab

kemasyarakatan dan kebangsaan.”

Paparan tentang perubahan tujuan pendidikan dalam sejarah kehidupan

bangsa Indonesia di atas dapat dipahami sebagai bentuk dinamika yang terjadi

di dunia pendidikan nasional. Dinamika perubahan tersebut sangat erat

kaitannya dengan dinamika realitas politik, ekonomi, serta sosio-kultural

masyarakat Indonesia.

Dalam realitas kehidupan bangsa Indonesia yang disibukkan oleh hasrat

kemajuan peradaban, pendidikan senyatanya telah menjadi wahana pencerdasan

dan pembudayaan masyarakat. Namun bagaimanapun juga, di samping faktor

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tendensi politis dan ekonomis

senantiasa ikut serta dalam berbagai pertimbangan kebijakan yang mewarnai

corak perkembangan pendidikan nasional.

Hasrat Capaian dalam Mindset Fenomena Perubahan Kurikulum

Secara umum, kurikulum merupakan sumber dan landasan operasional

bagi pelaksanaan pendidikan di suatu negara bangsa. Sebagai sumber sekaligus

landasan, kurikulum harus dapat mencerminkan wajah falsafah bangsa. Di

samping itu, kurikulum juga harus berisikan realitas kehidupan bangsa beserta

gambaran tentang orientasi kehasratan yang ingin dicapai melalui pendidikan.

Gerak perubahan realitas kehidupan bangsa tentunya akan berpengaruh

pada arah orientasi kehasratan yang dikehendaki. Tidak hanya untuk

kepentingan hasrat capaian ilmu pengetahuan dan teknologi, namun faktor lain,

seperti: realitas sosial budaya, politik dan kepentingan ekonomi, juga menjadi

bahan pertimbangan dalam melakukan perubahan kurikulum. Realitas ini yang

seringkali dirasionalisasikan oleh pemerintah untuk kepentingan penguatan

argumentasi logis dalam menetapkan kebijakan pendidikan, khususnya dalam

(10)

Menyimak realitas kehidupan bangsa Indonesia yang berada dalam

lingkaran perubahan, upaya pembaharuan dan perubahan kurikulum menjadi

sebuah kemestian bagi pemerintah. Pembaharuan dan perubahan ini lebih

ditujukan untuk membekali manusia dengan pengetahuan dan keterampilan

dalam menjalani kehidupan yang senantiasa berubah. Di sinilah letak elastisitas

sebuah kurikulum yang dirancang sebagai sumber, dasar, dan sekaligus alat

untuk memenuhi hasrat capaian pendidikan yang telah diamanahkan dalam

Undang-Undang Dasar RI 1945, Bab XIII pasal 31, serta Undang-Undang RI

nomor 20, 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sebagai negara berkembang, sejak kemerdekaan di 1945 hingga saat ini,

pemerintah Indonesia telah melahirkan dan memberlakukan 11 kurikulum

pendidikan. Bahkan, di 2013 ini pemerintah sudah siap memberlakukan lagi

kurikulum baru, yang rancangannya telah dirampungkan di akhir 2012. Hal ini

sekaligus menjadi gambaran betapa gerak perubahan kehidupan bangsa

Indonesia sangat dinamis, sehingga pemerintah memandang perlu untuk

melakukan pembaharuan serta perubahan kurikulum guna mengimbangi

dinamisasi perubahan tersebut.

Dua tahun setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia menerbitkan dan

memberlakukan kurikulum pendidikan, yaitu kurikulum 1947, yang secara legal

formal merupakan implementasi dari amanah Undang-Undang Dasar 1945, Bab

XIII Pasal 31. Kurikulum ini lahir dalam suasana peralihan sistem pendidikan,

dari sistem pendidikan Belanda ke sistem pendidikan nasional. Oleh karena itu,

wacana yang terkandung di dalamnya masih kental dengan hasrat

politik-patriotik.

Kurikulum 1947 pada saat itu lebih dikenal dengan istilah leer plan,

sebuah istilah dalam bahasa Belanda yang berarti ‘rencana pelajaran’. Hal ini

menjadi salah satu pertimbangan bagi penyebutan kurikulum 1947 dengan nama

‘Kurikulum Rencana Pelajaran’.

Dikarenakan oleh kondisi peralihan dari masa penjajahan ke masa

kemerdekaan, keberadaan kurikulum 1947 masih terasa kental dengan pengaruh

(11)

dapat dikatakan bahwa kurikulum 1947 hanya merupakan hasil daur ulang dari

sistem pendidikan dan pengajaran kolonial Belanda.

Titik tekan orientasi pendidikan dan pengajaran dalam kurikulum 1947

diarahkan pada upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang bebas

merdeka dan berkedaulatan. Kecintaan terhadap tanah air dan disertai kesediaan

berkorban, mewarnai hampir setiap materi pelajaran yang senantiasa dikaitkan

dengan peristiwa hidup keseharian masyarakat Indonesia saat itu. Oleh

karenanya, kurikulum 1947 lebih mengedepankan orientasi capaian hasil pada

aspek psikomotorik dan attitude melalui pembentukan watak serta prilaku, dan tidak terlalu fokus pada orientasi capaian aspek kognitif.

Secara sistematik dan sistemik, kurikulum ini hanya berisikan dua

komponen pokok, yaitu: Daftar mata pelajaran beserta jam pengajaran; dan

Garis-Garis Besar Pengajaran (GBP). Sementara, materi pelajaran yang

disuguhkan kepada murid berisikan tiga hal, yaitu:

a. Kesadaran bernegara dan bermasyarakat;

b. Problem kehidupan keseharian masyarakat;

c. Kesenian dan pendidikan jasmani.

Realitas kehidupan bangsa Indonesia yang dipadati oleh ketegangan dan

ketidakmenentuan akibat perang, memungkinkan para perancang kurikulum

1947 menggunakan paradigma pendidikan perenialisme.1) Kondisi tersebut

merupakan salah satu aspek realistis yang menjadi argumentasi logis dalam

pemberlakuan paradigma pendidikan perenialisme (Kneller, 1971: 42). Dalam

paradigma ini, pembinaan mental yang mengacu pada keluhuran nilai-nilai

masa lalu, dijadikan sebagai target utama bagi aktivitas pendidikan (Gandhi,

2011: 171).

Penggunaan paradigma pendidikan perenialisme dalam kurikulum 1947

juga tampak pada tujuan pendidikan yang menitikberatkan pembentukan

1)Secara etimologi, perenialisme berasal dari Bahasa Latin: ‘perenis’ yang berarti ‘abadi’

atau ‘perenial’ yang bermakna “tumbuh terus menerus melalui waktu.” Perenialisme merupakan

(12)

karakter manusia Indonesia bebas merdeka dan berkedaulatan. Hal ini sesuai

dengan orientasi pendidikan dalam perenialisme yang menekankan pentingnya

membantu peserta didik menjadi dirinya sendiri sebagai manusia merdeka.

Untuk kepentingan ini, pendidikan harus diarahkan pada upaya meningkatkan

otoritas kemampuan berpikir agar peserta didik memiliki kesiapan dalam

menghadapi dan menjalani kehidupan (Gandhi, 2011: 180).

Kesederhanaan kurikulum 1947 dirasakan oleh pemerintah kurang

mampu mewadahi kepentingan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat

Indonesia. Untuk menutupi kekurangan itu, pemerintah kemudian merancang

kurikulum baru yang mulai diberlakukan pada 1952. Segala aspek yang belum

termuat dalam kurikulum Rencana Pelajaran 1947, dilengkapi, disempurnakan

dan diurai dalam kurikulum 1952. Oleh karenanya, kurikulum 1952 ini disebut

juga dengan Kurikulum Rencana Pelajaran Terurai.

Jika pada kurikulum Rencana Pelajaran 1947 fokus pendidikan dan

pengajaran hanya ditujukan pada pembentukan watak dan prilaku, maka pada

kurikulum Rencana Pelajaran Terurai 1952 fokus tersebut diurai ke dalam

pengembangan pancawardhana: a. Karsa; b. Rasa; c. Cipta; d. Karya; e. Moral.

Kelima nilai ini disajikan kepada murid ke dalam mata pelajaran yang

diklasifikasikan menjadi lima kelompok: a. Moral; b. Kecerdasan; c. Emosional;

d. Keterampilan; e. Kesehatan Jasmani. Untuk sementara waktu, muatan dalam

kurikulum Rencana Pelajaran Terurai ini dianggap telah mampu mewadahi

kebutuhan pendidikan bangsa Indonesia, sehingga pemberlakuannya bisa

bertahan hingga duabelas tahun.

Pengaruh paradigma perenialisme masih tampak dalam pemberlakuan

kurikulum 1952 yang mempertahankan pentingnya pembentukan watak dan

prilaku manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Namun konstruksi

materi yang mengarah pada penyiapan murid untuk dapat memperbaiki kondisi

kehidupan diri dan lingkungannya, melalui penguatan moral dan emosional,

(13)

pendidikan rekonstruksionisme.2) Dalam paradigma rekonstruksionisme,

penyiapan peserta didik untuk dapat menghadapi dan menjalani hidup di masa

depan yang penuh tantangan, adalah sebuah keharusan (Gandhi, 2011: 191-193).

Pada 1964, di akhir masa pemerintahan orde lama, pemerintah kembali

menerbitkan dan memberlakukan kurikulum baru yang disebut Kurikulum

‘Rencana Pendidikan’. Ide utama dari kurikulum 1964 ini adalah pembelajaran

yang bersifat aktif, kreatif, dan produktif. Kemampuan siswa atau murid

memikirkan problem solving (pemecahan masalah) terhadap persoalan yang mereka hadapi, merupakan kewajiban yang diamanahkan oleh kurikulum 1964

kepada para guru.

Kurikulum 1964 dirancang dengan titik berat perhatian pada kepentingan

pembelajaran dibanding pengajaran yang terkandung dalam dua kurikulum

sebelumnya. Kehadiran kurikulum 1964 ditujukan untuk lebih melengkapi

muatan materi yang terkandung dalam kurikulum 1952 secara sistematis dan

sistemik. Materi pelajaran yang dirancang dalam kurikulum 1964 merupakan

kelanjutan dan perincian dari materi pelajaran dalam kurikulum 1952. Perincian

dimaksud dapat dilihat dari rancangan pendidikan dalam kurikulum 1964

sebagai berikut:

a. Pengembangan Moral, berisikan:

1) Pendidikan Budi Pekerti (agama);

2) Pendidikan Kemasyarakatan;

b. Pengembangan Emosional, berisikan: Pendidikan Kesenian.

c. Pengembangan Kecerdasan, berisikan:

1) Pendidikan Bahasa Daerah;

2)

Secara etimologis, rekonstruksionisme berasal dari istilah dalam bahasa Inggris,

(14)

2) Pendidikan Bahasa Indonesia;

3) Pendidikan Berhitung;

4) Pendidikan Pengetahuan Alam;

d. Pengembangan Kesehatan dan Jasmani, berisikan: Pendidikan Olah raga

dan Kesehatan.

e. Pengembangan Kepribadian, berisikan: Pendidikan Keterampilan.

Dikarenakan kelahirannya sebagai pelengkap bagi kurikulum 1952, maka

nuansa paradigma pendidikan perenialisme dan rekonstruksionisme masih

tampak dalam kurikulum 1964. Namun, jika ditilik dari perluasan materi

pembelajaran, pengaruh paradigma pendidikan idealisme3) sudah mulai tampak.

Perluasan materi pembelajaran dimaksud mengarah pada prinsip dasar

paradigma pendidikan idealisme. Sebagai sebuah aliran filsafat pendidikan,

idealisme memahamkan, bahwa pendidikan merupakan sebuah realitas yang

berkeharusan memadukan nilai-nilai pengalaman, aktivitas sosial, kedisiplinan

intelektual, dan pandangan tentang idealitas moral (Brumbaugh, 1963: 26).

Pemberlakuan kurikulum Rencana Pendidikan 1964 hanya berusia empat

tahun, karena peristiwa gestapu PKI 30 September 1965 telah menggugah

pemerintah era orde baru untuk melakukan revisi terhadap kurikulum yang ada

saat itu. Revisi dilakukan guna menyesuaikan kondisi dan kebutuhan mental

kebangsaan rakyat Indonesia. Pada 1968 pemerintah menetapkan pemberlakuan

kurikulum baru yang biasa juga disebut kurikulum Sekolah Dasar atau

kurikulum 1968.

Sesuai dengan latar sejarah kelahirannya sebagai pengganti kurikulum

1964, yang diidentikkan dengan orde lama, keberadaan Kurikulum Sekolah

Dasar 1968 cenderung bersifat politis–ideologis. Jika pendidikan dalam

kurikulum 1964 bertujuan untuk menciptakan masyarakat sosialis Indonesia,

maka dalam kurikulum 1968 pendidikan diarahkan pada upaya membentuk

3)

Secara etimologis, idealisme berasal dari istilah dalam Bahasa Latin, ‘idea’ yang berarti

(15)

manusia Indonesia menjadi pancasilais sejati. Manusia pancasilais dimaknai

sebagai manusia Indonesia yang memiliki karakter: sehat jasmani ruhani, cerdas,

terampil, bermoral, berbudi pekerti luhur, berkeyakinan atau beragama.

Kurikulum Sekolah Dasar 1968 merupakan pembaharuan terhadap

kurikulum Rencana Pendidikan 1964. Pembaharuan dimaksud tampak pada

perubahan struktur materi pendidikan, dari penanaman dan pengembangan

nilai-nilai pancawardhana berubah kepada pembinaan dan penguatan nilai-nilai

luhur Pancasila. Perubahan ini sesuai dengan orientasi kurikulum 1968 yang

diarahkan pada penghayatan dan pengamalan UUD 1945 secara konsekwen.

Dilihat dari isi materi pendidikan, kurikulum 1968 lebih menekankan

pada materi pelajaran yang bersifat teoritik, dan hampir tidak mengaitkannya

dengan fakta keseharian hidup siswa atau murid. Hanya saja, struktur materi

pendidikan dalam kurikulum ini bersifat correlated subject curriculum, dimana materi pelajaran pada pendidikan tingkat bawah berkorelasi dengan materi

pelajaran pada pendidikan tingkat lanjutan.

Struktur pendidikan pada kurikulum 1968 berisikan tiga kelompok besar

bidang studi dengan 10 mata pelajaran, yaitu:

a. Bidang studi Pembinaan Jiwa Pancasila, yang terdiri dari:

1) Mata pelajaran Pendidikan Agama;

2) Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan;

3) Mata pelajaran Bahasa Indonesia;

4) Mata pelajaran Bahasa Daerah;

5) Mata pelajaran Olah raga.

b. Bidang studi Pengembangan Pengetahuan Dasar, yang terdiri dari:

1) Mata pelajaran Berhitung;

2) Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam;

3) Mata pelajaran Pendidikan Kesenian;

4) Mata pelajaran Pendidikan Kesejahteraan keluarga.

c. Bidang studi Pembinaan Kecakapan Khusus, yang berisikan: Mata

(16)

Aura politis yang ikut membidani kelahiran kurikulum 1968, sebagai

konsekuensi dari perpindahan tampuk pimpinan pemerintahan, memestikan

adanya penguatan nilai-nilai luhur yang dinilai mampu menjadi temali pengikat

persatuan dan kesatuan bangsa. Hasrat penguatan yang dititipkan dalam

program pendidikan, tampak pada muatan kurikulum 1968. Kehasratan ini

sekaligus menjelaskan, bahwa kurikulum 1968 diwarnai oleh paradigma

pendidikan esensialisme4) yang menekankan pentingnya nilai-nilai luhur sebagai

pijakan pendidikan (Gandhi, 2011: 159).

Setelah lima tahun masa pemberlakuan kurikulum Sekolah Dasar 1968,

pemerintah Indonesia menerbitkan dan memberlakukan kembali kurikulum

baru yang dikenal dengan Kurikulum Perintis Sekolah Pembangunan di 1973.

Keberadaan kurikulum 1973 ini hanyalah sebuah program tambahan bagi

kurikulum 1968, dalam bentuk proyek perintisan sekolah pembangunan.

Penyediaan fasilitas pendidikan dalam bentuk pendirian sekolah-sekolah

INPRES, merupakan wujud dari keberadaan kurikulum 1973. Sementara, sistem

dan struktur pendidikan yang terkait dengan materi pembelajaran, masih

menggunakan kerangka pikir yang termuat di dalam kurikulum 1968.

Keberadaan kurikulum 1973 tidak berumur panjang, karena setelah dua

tahun pemberlakuannya, pemerintah kembali menetapkan kurikulum baru,

yakni kurikulum 1975 yang dikenal dengan pola pikir Pengembangan Sistem

Instruksionalnya. Pemberlakuan kurikulum ini dilatarbelakangi oleh hasrat

pemerintah untuk mengisi ruang ketertinggalan bangsa Indonesia di bidang

ilmu pengetahuan dan teknologi melalui program percepatan pembangunan

yang rancangannya dititipkan dalam hasrat capaian kurikulum 1975.

Dari beberapa kurikulum yang telah diterbitkan dan diberlakukan oleh

pemerintah, baru pada kurikulum 1975 lah pemerintah menetapkan

4)

Secara etimologis, esensialisme berasal dari Bahasa Latin, ‘esse’ yang berarti: ‘menjadi’. Kata ini terambil dari kata ‘est’ dengan arti: ‘ada’. Dalam dunia pendidikan,

esensialisme biasa juga diistilahkan dengan “Education as Cultural Conservation” karena kaum

(17)

tujuan pendidikan yang harus dikuasai oleh murid. Karena sifatnya yang

hirarkis, tujuan-tujuan itu disebut “Hirarki Tujuan Pendidikan”. Rumusan

tujuan dimaksud bermula dari Tujuan Pendidikan Nasional, yakni rumusan

tujuan berskala nasional yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar RI

1945.

Tujuan pendidikan nasional tersebut kemudian diturunkan menjadi

Tujuan Institusional, yakni rumusan tujuan yang penetapannya berdasarkan

pada visi dan misi institusi penyelenggara pendidikan, sesuai dengan hasrat

capaian institusi tersebut. Selanjutnya, tujuan institusional diturunkan dalam

Tujuan Kurikuler, yaitu rumusan tujuan dalam bangunan kurikulum pendidikan

yang digunakan sebagai dasar atau pedoman pelaksanaan kependidikan.

Rumusan tujuan ini menjadi gambaran tentang hasrat capaian setelah murid

mengikuti program pendidikan.

Implementasi dari tujuan kurikuler dirancang dalam bentuk Tujuan

Instruksional Umum yang perumusannya didasarkan pada hasrat capaian setiap

mata pelajaran. Dari tujuan ini lah kemudian guru menetapkan hasrat capaian

untuk materi pelajaran yang disajikan pada setiap pelaksanaan proses

pembelajaran dalam bentuk rumusan Tujuan Instruksional Khusus.

Kelebihan kurikulum 1975 dibanding kurikulum-kurikulum sebelumnya

tampak pada sistematika komponen yang terkandung di dalamnya. Komponen

dimaksud terdiri dari:

a. Tujuan Institusional yang dirumuskan berdasar pada hasrat capaian

lembaga pelaksana proses kependidikan.

b. Struktur Program Kurikulum, merupakan kerangka umum tentang

program pendidikan dan pengajaran yang menjadi keharusan lembaga

sekolah untuk melaksanakannya.

c. Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP), berisikan:

1) Tujuan Kurikuler;

2) Tujuan Instruksional Umum;

3) Pokok Bahasan;

(18)

d. Prosedur Pengembangan Sistem instruksional, berisikan komponen:

1) Pedoman perumusan tujuan;

2) Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian;

3) Pedoman proses belajar murid;

4) Pedoman pelaksanaan kegiatan guru;

5) Pedoman pelaksanaan program;

6) Pedoman perbaikan atau revisi.

e. Sistem Penilaian, dilakukan pada setiap berakhirnya pelaksanaan satuan

pelajaran

f. Sistem Bimbingan dan Penyuluhan, dibutuhkan untuk mengimbangi

ketidaksamaan kemampuan belajar di antara murid.

g. Supervisi dan Administrasi, memberikan peluang bagi guru untuk

memainkan perannya sebagai seorang supervisor dan administrator.

Sistematika komponen tersebut di atas terjabarkan dalam tebaran mata

pelajaran yang menjadi muatan inti kurikulum 1975, yaitu:

a. Pendidikan Agama; f. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA);

b. Pendidikan Moral Pancasila (PMP); g. Olahraga dan Kesehatan;

c. Bahasa Indonesia; h. Kesenian;

d. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS); i. Keterampilan Khusus.

e. Matematika;

Sementara, untuk tingkatan SMA diberikan mata pelajaran pilihan, dimana

murid dikelompokkan ke dalam tiga rombongan belajar, yaitu: kelas IPA, kelas

IPS dan kelas Bahasa.

Kehadiran kurikulum 1975 dalam bangunan sistem pendidikan nasional

menjadi gambaran tentang gerak modernisasi pembangunan bidang pendidikan

di Indonesia. Hal ini ditandai dengan struktur materi pembelajaran di dalamnya

yang tersusun secara sistematis dan sistemik. Sistemisasi materi itu dirancang

berdasarkan rumusan tujuan pendidikan yang juga sistematis.

Keteraturan program, dari rumusan tujuan hingga rancangan materi

(19)

pendidikan nasional, yakni paradigma kependidikan realisme.5) Penekanan pada

keteraturan yang mekanis dalam program pendidikan merupakan karakteristik

paradigma kependidikan realisme (Gandhi, 2011: 144).

Tepat di tahun kesembilan pemberlakuan kurikulum 1975, pemerintah

mulai merasakan kekurangmampuan kurikulum yang ada dalam memfasilitasi

kebutuhan pendidikan bangsa Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh realitas

pendidikan yang belum mampu membekali murid dengan ilmu pengetahuan

dan teknologi praktis–aplikatif. Salah satu sebab dari persoalan kependidikan ini

adalah, padatnya materi pelajaran teoretis yang harus ditampung oleh murid

selama mengikuti program pendidikan.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, melalui keputusan politis sidang

MPR yang dituangkan dalam GBHN 1983, pemerintah memutuskan mengganti

kurikulum 1975 dengan kurikulum baru, yakni kurikulum 1984. Kehadiran

kurikulum baru ini tidak hanya sekedar menggantikan peran kurikulum 1975,

namun juga sekaligus melakukan perombakan terhadap sistem kurikulum

tersebut.

Keberadaan kurikulum 1984 ditandai dengan karakteristik yang sekaligus

membedakannya dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Karakteristik

dimaksud adalah:

a. Pertimbangan pentingnya pemberian pengalaman pengetahuan secara

fungsional dan efektif kepada murid menjadi dasar dalam menetapkan

tujuan instruksional sebagai orientasi pembelajaran.

b. Pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan pendekatan Cara Belajar

Siswa Aktif (CBSA), yakni pendekatan yang memberikan keleluasaan

kepada murid untuk aktif secara fisikal, mental, intelektual, dan

emosional terlibat dalam proses pembelajaran guna memperoleh

pengalaman pengetahuan maksimal, baik pada wilayah afektif, kognitif,

maupun psikomotorik.

5)Secara etimologis, realisme berasal dari Bahasa Latin, ‘real’ yang berarti: ‘nyata’ atau

(20)

c. Pendekatan spiral digunakan dalam mengemas materi pelajaran dengan

berdasar pada tingkat kedalaman dan keluasan materi.

d. Pembentukan konsep pengetahuan murid dilakukan melalui penanaman

pengertian dan dilanjutkan dengan pemberian latihan. Untuk membantu

memudahkan murid menangkap pengertian tentang pengetahuan dalam

proses belajarnya, penggunaan alat peraga sebagai media pembelajaran

menjadi penting.

e. Tingkat kesiapan dan kematangan mental murid menjadi pertimbangan

dalam menentukan materi yang disajikan dengan menggunakan pola

pikir induktif, dari mudah ke sukar, dari sederhana ke kompleks.

f. Keterampilan Proses menjadi pendekatan dalam pelaksanaan proses

pembelajaran.

Struktur mata pelajaran dalam kurikulum 1984 dipilah menjadi mata

pelajaran inti dan mata pelajaran pilihan. Mata pelajaran inti berisikan 16 mata

pelajaran, yaitu:

a. Agama; i. Fisika;

b. Pendidikan Moral Pancasila (PMP); j. Biologi;

c. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB); k. Matematika;

d. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia; l. Bahasa Inggris;

e. Geografi Indonesia; m. Kesenian;

f. Geografi Dunia; n. Keterampilan;

g. Ekonomi; o. Pendidikan Jasmani dan Olahraga;

h. Kimia; p. Sejarah Dunia dan Nasional.

Pada bagian mata pelajaran tambahan disesuaikan dengan jurusan

masing-masing. Jika dalam kurikulum 1975, program pendidikan tingkat SMA

dikelompokkan ke dalam tiga jurusan: IPA, IPS dan Bahasa, maka di dalam

kurikulum 1984, jurusan tersebut diganti dengan Program A dan Program B.

Program A terdiri dari:

a. A1, menitikberatkan pada mata pelajaran Fisika;

(21)

c. A3, menitikberatkan pada mata pelajaran Ekonomi;

d. A4, menitikberatkan pada mata pelajaran Bahasa dan budaya.

Sementara, program B belum dapat diterapkan, karena ia berisikan

aktivitas keterampilan yang memberikan peluang kepada murid untuk terjun

langsung dalam lingkungan masyarakat. Kegiatan ini membutuhkan sarana dan

fasilitas sekolah yang cukup besar, sehingga sangat sulit untuk dilaksanakan.

Secara teoretis, kurikulum 1984 merupakan kurikulum yang fasilitatif

terhadap aktivitas murid dalam belajar. Penyediaan ruang bagi murid untuk bisa

belajar secara aktif merupakan perwujudan dari hasrat membekali mereka

dengan pengalaman pengetahuan secara fungsional dan efektif.

Hasrat tersebut sejalan dengan prinsip dasar yang dipahamkan oleh

paradigma pendidikan progresivisme. Paradigma ini memahamkan, bahwa

pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa

mendatang. Karenanya, cara terbaik mempersiapkan para murid untuk suatu

masa depan yang tidak diketahui adalah, membekali mereka dengan

pengetahuan dan keterampilan untuk mengatasi tantangan-tantangan baru

dalam kehidupan (Kneller, 1971: 48).

Kurikulum 1984 yang sarat dengan prinsip-prinsip pemikiran

kependidikan progresivisme6) ini merupakan kurikulum terlama kedua masa

pemberlakuannya, yakni selama sepuluh tahun, setelah kurikulum 1947 yang

diberlakukan selama duabelas tahun. Setelah sepuluh tahun pemberlakuan

kurikulum 1984, pemerintah baru menyadari pentingnya payung hukum, dalam

bentuk undang-undang, yang secara khusus mengatur sistem pendidikan

nasional, sesuai dengan amanah Undang-Undang Dasar 1945.

Kesadaran tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah Indonesia

dengan menerbitkan Undang-Undang RI nomor 2, 1989, tentang Sistem

Pendidikan Nasional. Setelah lima tahun usia undang-undang ini pemerintah

6)Secara etimologis, progresivisme berasal dari Bahasa Inggris, ‘progress’ yang berarti:

(22)

kemudian menetapkan perubahan atau penggantian kurikulum, karena di dalam

kurikulum 1984 terdapat bagian yang belum sesuai dengan ketentuan dalam

Undang-Undang RI nomor 2, 1989.

Tepat pada 1994 pemerintah memberlakukan kurikulum baru, yakni

kurikulum 1994. Kurikulum ini merupakan bentuk penyempurnaan dari

kurikulum 1984, namun ia memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu:

a. Pelaksanaan proses pembelajaran berorientasi pada muatan atau isi

pelajaran (content oriented).

b. Bersifat populis dengan memberlakukan satu sistem kurikulum inti

untuk seluruh murid di Indonesia, dan memberikan kesempatan bagi

daerah khusus untuk mengembangkan program pembelajaran sesuai

dengan kebutuhan lingkungan masyarakatnya.

c. Pemilihan strategi pembelajaran harus mempertimbangkan keterlibatan

murid secara aktif.

d. Penyajian materi pengajaran harus memperhatikan perkembangan

berpikir murid guna menghasilkan keserasian antara pemahaman akan

konsep pengetahuan dengan keterampilan.

e. Pengulangan sajian materi dianggap penting untuk dilakukan guru

apabila ditemukan materi pelajaran yang sulit untuk dipahami murid.

f. Tahapan pembelajaran di sekolah diatur dengan menggunakan sistem

caturwulan.

Setelah tiga tahun kurikulum 1994 diberlakukan, para pelaksana dan

pengelola pendidikan menemukan beberapa persoalan yang dinilai dapat

mengurangi sekaligus mengganggu pelaksanaan proses pendidikan secara

nasional. Persoalan ini merupakan akibat dari pendekatan content oriented yang digunakan dalam kurikulum 1994. Persoalan dimaksud adalah, kepadatan beban

materi pelajaran disertai tingkat kesukaran yang tidak sebanding dengan tingkat

perkembangan berpikir murid. Hal ini menjadikan proses pembelajaran sebagai

beban bagi murid sehingga kurang efektif dan aplikatif untuk kehidupan.

Persoalan tersebut direspon oleh pemerintah dengan melakukan revisi

(23)

1997 sebagai kurikulum baru. Pada dasarnya keberadaan kurikulum 1997 hanya

untuk kepentingan mengatasi persoalan yang ada di dalam kurikulum 1994,

dengan hanya melakukan perbaikan di beberapa bagian, dan tidak tampak

adanya perombakan total, sehingga dapat dikatakan, bahwa kurikulum 1997

bukanlah bentuk kurikulum baru.

Orientasi penguasaan materi pembelajaran yang cenderung teoretis

merupakan salah satu karakter dari kurikulum 1994. Walau ruang untuk belajar

secara aktif bagi murid masih tersedia, namun ruang tersebut dipadati oleh

program teorisasi dalam proses pembelajaran. Kepadatan beban materi

pembelajaran seakan menjelaskan landasan paradigma pendidikan yang dianut

oleh kurikulum 1994, yaitu idealisme. Namun sistemisasi akademis yang

dirancang dalam struktur mekanik pada kurikulum ini mengisyaratkan adanya

pengaruh paradigma pendidikan realisme.

Setelah sepuluh tahun usia pemberlakuan kurikulum 1994 berikut

revisinya di 1997, muncul sebuah persoalan urgen yang dirasakan oleh

masyarakat Indonesia sebagai pengguna lulusan pendidikan formal. Persoalan

dimaksud terkait dengan mutu lulusan yang dirasakan kurang memiliki

kemampuan aplikatif. Kekurangmampuan tersebut tentunya berdampak pada

lemahnya daya saing lulusan pendidikan formal dalam memperoleh dan

mengisi peluang kerja yang tersedia. Kondisi ini senyatanya sudah tidak sesuai

dengan kebutuhan bangsa Indonesia yang sudah memasuki arena persaingan

dunia global.

Munculnya persoalan tersebut disebabkan oleh orientasi kurikulum yang

dominan mengarah pada capaian tujuan, sehingga mengabaikan kepentingan

penguasaan keterampilan aplikatif (skill). Adanya kesenjangan antara lulusan pendidikan formal dengan tuntutan kebutuhan bangsa Indonesia yang terlibat

dalam pertarungan dunia global, menjadi argumen realistis bagi pemerintah

untuk melakukan perubahan sekaligus penggantian kurikulum.

Pada 2004 pemerintah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan

kurikulum 1994, termasuk revisinya kurikulum 1997. Keputusan ini dilanjutkan

(24)

baru yang dikenal dengan sebutan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Pemberlakuan KBK disertai hasrat capaian cukup besar sesuai kepentingan

bangsa Indonesia yang membutuhkan lulusan pendidikan formal dengan

kompetensi holistik.

Kompetensi holistik dimaksudkan sebagai karakteristik manusia holistik,

yakni manusia Indonesia yang memiliki kemampuan utuh, bermoral serta

berakhlak luhur, berprilaku mulia, berpengetahuan aplikatif, terampil dalam

berkarya seni dan olah raga. Secara teoretis manusia holistik dapat dimaknai

sebagai: “Human beings who maintain wholeness, balance and interconnectedness throughout their lives” (Alwasilah, Jakarta Post: 28 januari 2012).7)

Berbeda dengan kurikulum-kurikulum di era orde lama dan orde baru,

KBK cenderung tidak terlalu memperbincangkan proses pembelajaran, karena

hal itu telah dipetakan sebagai wilayah kewenangan guru. KBK menjadikan

kompetensi yang harus dimiliki oleh murid sebagai perhatian utama.

Kompetensi dalam kurikulum ini dipahamkan sebagai sebuah kemenyatuan

antara pengetahuan, keterampilan, sikap serta nilai yang mampu direfleksikan

dalam prilaku pikir dan prilaku tindak.

Berdasarkan amanah dari Kepmen 045/U/2002, KBK menetapkan 5

unsur pengembangan pada diri murid sebagai pebelajar, yaitu: Pengembangan

Kepribadian (MK); Pengembangan Keahlian dan Keterampilan (MKK);

Pengembangan Keahlian Berkarya (MKB); Pengembangan Perilaku Berkarya

(MPB); Pengembangan Berkehidupan Bermasyarakat (MBB). Kelima komponen

ini dimuati oleh empat jenis kompetensi, yaitu:

a. Factual Knowledge, merupakan pengetahuan tentang dasar-dasar dari sebuah disiplin ilmu yang terdiri dari: Pengetahuan tentang terminologi

ilmu; dan elemen-elemen dasar ilmu.

b. Conceptual Knowledge: pengetahuan dalam bentuk pemahaman tentang keterhubungan antar elemen dasar dalam sebuah bangunan keilmuan.

Pengetahuan ini meliputi: pengetahuan tentang kategori dan klasifikasi;

7)

(25)

pengetahuan tentang generalitas serta prinsip kerja ilmu; dan

pengetahuan tentang struktur dasar, model, paradigma dan teori

keilmuan.

c. Procedural Knowledge: pengetahuan tentang kriteria, teknik dan metode dalam memanfaatkan keterampilan. Pengetahuan ini meliputi:

pengetahuan tentang kriteria dan prosedur; pengetahuan tentang teknik

dan metode khusus; pengetahuan tentang keterampilan khusus.

d. Metacognitive Knowledge: pengetahuan tentang kesadaran akan kognisi diri sendiri. Pengetahuan ini meliputi: pengetahuan tentang diri sendiri;

pengetahuan tentang strategi mengenal diri; dan pengetahuan tentang

tugas-tugas kognisi.

Penguasaan kompetensi tersebut ditandai dengan penguasaan materi

pelajaran oleh murid setelah mengikuti proses pembelajaran yang menggunakan

metode keterampilan proses, sesuai dengan silabi hasil rancangan guru.

Penilaian atas penguasaan materi dimaksud menggunakan sistem evaluasi yang

mengkombinasikan keseimbangan tiga ranah, yaitu: ranah kognitif, ranah afektif

dan ranah psikomotorik. Namun, titik tekan utama dalam evaluasi tetap pada

aspek kognitif dalam bentuk penilaian berbasis kelas.

Proses pembelajaran dalam KBK mengacu pada paradigma pembelajaran

dari UNESCO, yaitu: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to leave together. Paradigma pembelajaran ini diaplikasikan ke dalam empat komponen, yaitu:

a. Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah (PKBS);

b. Kurikulum dan Hasil belajar (KHB);

c. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM);

d. Penilaian Berbasis Kelas (PBK).

Ditilik dari orientasi capaian yang berhasrat mengembangkan potensi

peserta didik, KBK terbaca sebagai aplikasi dari paradigma pendidikan

idealisme. Paradigma ini memahamkan, bahwa peserta didik memiliki bakat dan

(26)

mengembangkan pikiran dan kepribadiannya sesuai dengan bakat dan

kemampuannya.

Di sisi lain, hasrat untuk melakukan perombakan total terhadap

kurikulum sebelumnya, menjelaskan bahwa keberadaan kurikulum 2004 atau

KBK diwarnai oleh paradigma pendidikan rekonstruktivisme.8) Sementara, jika

ditilik dari rancangan program pembelajarannya, KBK justru berorientasi pada

paradigma pendidikan behaviorisme.9)

Setelah setahun Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang tampak

fasilitatif terhadap kehasratan dan kebutuhan bangsa Indonesia diberlakukan,

pemerintah menerbitkan sebuah aturan tentang Standar Nasional Pendidikan

melalui Peraturan Pemerintah RI nomor 19, 2005. Diterbitkannya peraturan ini,

selain untuk menjalankan amanah Undang-Undang RI nomor 20, 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional, juga merupakan reaksi pemerintah terhadap

realitas keragaman serta kemajemukan potensi dunia pendidikan dari berbagai

wilayah dan daerah di Indonesia.

Berdasar pada Peraturan Pemerintah RI nomor 19, 2005, pada 2006

pemerintah menetapkan pemberlakuan kurikulum baru yang dikenal dengan

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusunan KTSP yang telah

dimulai sejak 2005 berorientasi pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi

Lulusan (SKL). Hal ini kemudian ditegaskan melalui Peraturan Menteri

Pendidikan Nasional nomor 24, 2006, tentang Pelaksanaan Standar Isi (SI) dan

Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Standar Isi (SI) yang dimaksudkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan

Nasional nomor 24, 2006 berisikan ruang lingkup materi, persyaratan

8)

Rekonstruktivisme berasal dari Bahasa Inggris, ‘reconstruct’ yang berarti “menyusun kembali.” Rekonstruktivisme merupakan kelanjutan dari aliran progresivisme yang dipelopori oleh John Dewey (1859-1952). Rekonstruktivisme memandang pendidikan sebagai reconstruct of experiences (pembangunan kembali pengalaman-pengalaman) yang berlangsung secara terus-menerus dalam hidup.

9)Behaviorisme berasal dari Bahasa Inggris, ‘behavior’ yang berarti: “tingkah laku.”

(27)

kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi bahan ajar, yang

kesemuanya dituangkan dalam silabus pembelajaran untuk kepentingan peserta

didik ketika mengikuti jenis dan jenjang pendidikan tertentu. Standar Isi ini

menjadi pedoman dalam pengembangan kurikulum pada tingkat satuan

pendidikan yang berisikan:

a. Kerangka dasar beserta Struktur Kurikulum;

b. Beban Belajar peserta didik;

c. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dijabarkan di Tingkat Satuan

Pendidikan;

d. Kalender Pendidikan.

Sementara, Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam Peraturan Menteri

Pendidikan Nasional nomor 24, 2006, berisikan uraian tentang kompetensi untuk

seluruh mata pelajaran dan rumpun mata pelajaran. SKL ini menjadi pedoman

penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik pada satuan pendidikan.

Kompetensi lulusan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dimaksudkan

sebagai kualifikasi kemampuan lulusan pendidikan yang mencakup:

pengetahuan, keterampilan dan sikap, sesuai dengan standar nasional yang telah

ditetapkan.

Secara umum, pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(KTSP) ditujukan pemerintah untuk memberdayakan satuan pendidikan di

daerah dengan memberikan kewenangan kepada pihak lembaga pendidikan.

Pemberian kewenangan dimaksud akan memotivasi setiap sekolah di daerah

untuk bersikap mandiri dalam menetapkan keputusan tentang pengembangan

kurikulum secara partisipatif.

Sementara, secara khusus pemberlakuan KTSP ditujukan oleh pemerintah

untuk kepentingan peningkatan mutu pendidikan melalui kemandirian dalam

mengembangkan kurikulum serta memberdayakan sumberdaya manusia yang

tersedia di daerah. Selain itu, pemberlakuan KTSP juga ditujukan untuk

melibatkan kepedulian masyarakat daerah dalam mendorong peningkatan

kualitas lembaga pendidikan guna menghasilkan lulusan yang siap bersaing

(28)

Secara teoretis, penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah, dimana Standar Isi (SI) dan

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) ditetapkan oleh kepala sekolah, setelah

mendapatkan pertimbangan dari pihak komite sekolah. Untuk kepentingan

perumusan KTSP, pihak sekolah harus melibatkan berbagai elemen sekolah,

seperti: guru sebagai tenaga pendidik, karyawan sebagai tenaga kependidikan,

komite sekolah sebagai perwakilan orang tua dan masyarakat. Bahkan jika

dibutuhkan, pihak sekolah dapat melibatkan tenaga ahli dari perguruan tinggi

yang terkait dengan kebutuhan.

Pelibatan komite sekolah, sebagai perwakilan dari orang tua atau wali

murid dan masyarakat, ditujukan untuk menampung serta menyerap aspirasi

masyarakat. Dengan demikian, muatan kompetensi yang dirumuskan oleh pihak

sekolah akan sesuai dengan harapan masyarakat, sehingga lulusan pendidikan

berpotensi untuk memenuhi hasrat kepentingan masyarakat, sesuai dengan

situasi dan kondisi, serta karakteristik sosial budaya kehidupan daerah setempat.

Dalam proses pengembangan dan pelaksanaan Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan (KTSP), pihak sekolah harus memperhatikan prinsip-prinsip

yang telah ditentukan oleh Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22,

2006. Prinsip-prinsip dimaksud adalah:

a. Potensi peserta didik: pengembangan kurikulum harus mengacu pada

kesadaran bahwa peserta didik merupakan fokus sentral dari proses

pendidikan. Oleh karenanya, pendidikan yang berusaha membentuk

peserta didik menjadi manusia bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, dan

bersikap demokratis, harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan

dan kebutuhan potensi dirinya.

b. Keberagaman dan keterpaduan: pengembangan kurikulum harus

memperhatikan nilai-nilai keberagaman dari peserta didik, seperti: suku,

agama, budaya, adat, status ekonomi serta aspek gender. Kesemua nilai

keberagaman ini harus diberdayakan secara terpadu tanpa ada unsur

(29)

c. Tanggap atas perkembangan ilmu pengetahuan: pengembangan

kurikulum harus didasarkan pada kesadaran, bahwa ilmu pengetahuan,

teknologi dan seni senantiasa bergerak dinamis serta berkembang secara

cepat.

d. Relevansi kebutuhan: pengembangan kurikulum harus mengacu pada

kebutuhan dan kepentingan perkembangan potensi peserta didik yang

akan bersaing dalam dunia kerja, serta kepentingan kemajuan sosial

budaya masyarakat daerah.

e. Kemenyeluruhan dan kesinambungan: pengembangan kurikulum harus

dirancang secara menyeluruh untuk kepentingan penyajian secara

berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.

f. Long life education: pengembangan kurikulum harus dirancang untuk kepentingan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik dalam

rentang waktu sepanjang hayat.

g. Keseimbangan kepentingan: pengembangan kurikulum harus selalu

memperhatikan nilai keseimbangan antara kepentingan global, nasional,

dan lokal guna meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Prinsip-prinsip dasar pemberlakuan KTSP di atas berisikan paparan

tentang kecenderungan paradigmatis yang menjadi kiblat kurikulum ini, yaitu

perenialisme. Kecenderungan dimaksud semakin jelas ketika prinsip long life education dimaknai sebagai alur keberlangsungan proses pembudayaan sekaligus pemberdayaan ragam potensi yang bersumber dari nilai-nilai luhur kultural

dalam kehidupan masyarakat bangsa. Namun di bagian lain, khususnya pada

prinsip keseimbangan kepentingan, KTSP juga menggambarkan adanya

pengaruh pemikiran paradigma kependidikan pragmatisme.10)

Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tidak serta

merta dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul dalam dunia

pendidikan, seperti: rendahnya angka kelulusan murid; lemahnya daya saing

10)Secara etimologis, pragmatisme berasal dari Bahasa Yunani, ‘pragma’ yang berar ti:

‘tindakan’. Pragmatisme memahamkan, bahwa hakikat dari tujuan pendidikan adalah:

(30)

lulusan di dunia kerja; meningkatnya kenakalan dan tindak asusila serta

kriminal di kalangan pelajar. Demikian pula dengan harapan masyarakat yang

masih belum mampu dijawab oleh lulusan pendidikan setelah KTSP

diberlakukan.

Persoalan tersebut senyatanya bukanlah potret kegagalan total dari KTSP,

karena di bagian lain terbukti betapa KTSP telah berhasil memberikan ruang

berekspresi bagi pihak sekolah. Ruang tersebut kemudian diisi oleh pihak

sekolah dengan prestasi dan karya nyata. Hadirnya mobil listrik karya pelajar

SMK di daerah Solo setidaknya menjadi salah satu bukti keberhasilan dari pihak

sekolah dalam menerapkan KTSP. Demikian pula dengan berbagai prestasi yang

berhasil diraih oleh para pelajar, dalam bidang science, seni dan olah raga, baik di dalam maupun di luar negeri, yang tidak terpublikasikan ke ruang publik.

Raut wajah kegagalan pendidikan dengan KTSP yang terpublikasikan

secara heboh ternyata mampu menutupi wajah keberhasilannya. Rendahnya

nilai kelulusan hampir di setiap tahun pelaksanaan Ujian Nasional (UN)

langsung dipersangkakan oleh pemerintah sebagai akibat dari kegagalan KTSP,

tanpa mengevaluasi kebijakan yang menetapkan keseragaman soal untuk

pelaksanaan ujian tersebut.

Berkaca dari cermin dugaan kegagalan penerapan Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan, dan juga disertai hasrat klasik untuk lebih meningkatkan

mutu pendidikan, pemerintah kemudian merancang kembali kurikulum baru

yang dinamai dengan Kurikulum Integratif atau kurikulum 2013. Rencananya

kurikulum ini akan mulai diberlakukan oleh pemerintah pada awal 2013. Hingga

penelitian ini penulis lakukan, rancangan kurikulum tersebut masih

mendapatkan reaksi penolakan dari beberapa pihak di kalangan dunia

pendidikan, baik dari pelaksana dan pelaku pendidikan maupun dari kalangan

pengamat pendidikan.

Hasrat pemerintah untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada

peserta didik untuk berkreasi diwujudkan dengan merubah pemaknaan tentang

eksistensi guru. Jika pada kurikulum-kurikulum sebelumnya eksistensi guru

(31)

pembelajaran, namun dalam kurikulum 2013 semua rancangan yang dibutuhkan

oleh guru sudah disediakan.

Rancangan kurikulum 2013 pada intinya berisikan perubahan pada

elemen-elemen kurikulum, yaitu:

a. Kompetensi Lulusan: adanya peningkatan keseimbangan antara soft skill

dengan hard skill yang meliputi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Rumusan ini berlaku untuk SD, SMP, SMA, dan SMK.

b. Kedudukan Mata Pelajaran: kompetensi tidak lagi diturunkan dari mata

pelajaran, namun mata pelajaran yang dirancang dan dikembangkan

berdasarkan kompetensi. Perubahan arah ini berlaku untuk SD, SMP,

SMA, dan SMK.

c. Pendekatan: Tematik integratif untuk semua mata pelajaran pada tingkat

SD; pendekatan Mata pelajaran untuk tingkat SMP dan SMA; pendekatan

Vokasional untuk SMK.

d. Struktur Kurikulum yang berisikan mata pelajaran dan alokasi waktu:

1) Sekolah Dasar (SD):

a) Holistik berbasis sains (alam, sosial dan budaya);

b) Jumlah mata pelajaran berkurang, dari 10 menjadi 6;

c) Jumlah jam pelajaran bertambah 4 jam perminggu, sebagai akibat

perubahan pendekatan pembelajaran.

2) Sekolah Menengah Pertama (SMP):

a) Tujuan Instruksional Khusus menjadi media bagi semua mata

pelajaran;

b) Pengembangan diri terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan

kegiatan ekstra kurikuler;

c) Jumlah mata pelajaran berkurang, dari 12 menjadi 10;

d) Jumlah jam pelajaran bertambah 6 jam perminggu, sebagai akibat

perubahan pendekatan pembelajaran.

3) Sekolah Menengah Atas (SMA):

a) Mata pelajaran dibagi menjadi: mata pelajaran wajib dan mata

(32)

b) Pengurangan mata pelajaran yang harus diikuti oleh siswa;

c) Jumlah jam pelajaran bertambah 1 jam perminggu, sebagai akibat

perubahan pendekatan pembelajaran.

4) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK):

a) Penambahan jenis keahlian sesuai spektrum kebutuhan, dengan

rincian: 6 program keahlian – 40 bidang keahlian – 12 kompetensi

keahlian;

b) Pengurangan pola belajar adaptif dan normatif yang disertai dengan

penambahan pola belajar produktif;

c) Produktivitas hasil disesuaikan dengan trend dunia industri.

e. Proses Pembelajaran:

1) Standar proses yang pada awalnya terfokus pada eksplorasi, elaborasi

dan konfirmasi, dilengkapi dengan: mengamati, menanya, mengolah,

menyajikan, menyimpulkan, serta mencipta;

2) Belajar tidak hanya di dalam kelas, namun juga dapat dilakukan di

lingkungan sekolah dan di lingkungan masyarakat;

3) Guru bukan lah satu-satunya sumber belajar;

4) Materi tentang sikap tidak disajikan secara verbal, namun melalui

contoh keteladanan;

5) Untuk tingkat SD: semua mata pelajaran disajikan secara tematik dan

terpadu; untuk tingkat SMP: mata pelajaran IPA dan IPS disajikan

secara terpadu; untuk tingkat SMA: mata pelajaran wajib dan pilihan

disesuaikan dengan bakat dan minat peserta didik; untuk SMK:

kompetensi keterampilan disesuaikan dengan standar industri.

f. Penilaian Hasil Belajar:

1) Penilaian berbasis kompetensi;

2) Pergeseran dari penilaian melalui tes yang mengukur kompetensi

pengetahuan berdasar pada hasil saja, kepada penilaian otentik yang

mengukur semua kompetensi: sikap, keterampilan dan pengetahuan,

(33)

3) Memperkuat Penilaian Acuan Patokan (PAP), yaitu pencapaian hasil

belajar berdasar pada posisi skor yang diperoleh peserta didik dalam

posisi skor ideal atau maksimal;

4) Penilaian tidak hanya dilakukan pada tahap kompetensi dasar, namun

juga pada tahap kompetensi inti sesuai Standar Kompetensi Lulusan

(SKL);

5) Memotivasi pemanfaatan portofolio yang dirancang oleh siswa sebagai

instrumen utama dalam penilaian;

g. Ekstrakurikuler:

1) Sekolah Dasar (SD): Pramuka (wajib diikuti oleh seluruh peserta didik);

UKS; PMR; dan Bahasa Inggris.

2) Sekolah Menengah Pertama (SMP): Pramuka (wajib diikuti oleh seluruh

peserta didik); OSIS; UKS; PMR; dan kegiatan lain yang dianggap perlu.

3) Sekolah Menengah Atas (SMA): Pramuka (wajib diikuti oleh seluruh

peserta didik); OSIS; UKS; PMR; dan kegiatan lain yang dianggap perlu.

4) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK): Pramuka (wajib diikuti oleh seluruh

peserta didik); OSIS; UKS; PMR; dan kegiatan lain yang dianggap perlu.

Beberapa hal yang menjadi catatan menarik dari rancangan kurikulum

2013 adalah:

a. Tuntutan capaian kompetensi yang sedemikian besar pada peserta didik;

b. Ketersediaan semua bentuk rancangan program pembelajaran untuk

guru dalam melaksanakan tugas kependidikannya;

c. Penempatan mata pelajaran IPA dan IPS sebagai mata pelajaran

integrative science serta integrative social studies, dan bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu pada tingkat SMP;

d. Integrasi mata pelajaran IPA / IPS ke dalam mata pelajaran Bahasa

Indonesia pada tingkat Sekolah Dasar;

e. Penambahan jam pelajaran bagi peserta didik pada tingkat SD, SMP dan

(34)

Di satu sisi, rancangan kurikulum yang sedemikian terstruktur secara

sistematis dan mekanis, menggambarkan betapa kurikulum 2013 diwarnai oleh

pola pikir paradigma kependidikan rekonstruksionisme. Di sisi lain, perluasan

ruang belajar formal yang tidak hanya dapat dilakukan di dalam kelas, tapi juga

di luar kelas, mengisyaratkan bahwa rancangan kurikulum 2013 ikut diwarnai

oleh paradigma pendidikan behaviorisme.11)

Secara keseluruhan, sulit untuk memastikan landasan filosofis dari sistem

kurikulum yang pernah diberlakukan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Hasil pembacaan terhadap keseluruhan kurikulum tersebut hanya akan

mengidentikkannya dengan bangunan filsafat pendidikan, dan itupun hanya

sebatas serpihan paradigma yang terkandung di dalamnya.

Hal tersebut di atas disebabkan oleh ketidakutuhan proses pelandasan

filosofis dan berlanjut ke arah absurditas (kekaburan) warna dari sistem kurikulum yang telah dan akan diberlakukan. Landasan filosofis yang tidak utuh

itu adalah: landasan ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis.

Namun, dari realitas ketidakutuhan dan absurditas (kekaburan) itu terlihat satu warna yang jelas pada keseluruhan bangunan kurikulum di Indonesia, yaitu

positivisme.12) Warna ini tampak nyata dalam sistem evaluasi pada seluruh

kurikulum yang berlaku di Indonesia.

A.

Individu dan Realitas Pendidikan Nasional

11)Behaviorisme berasal dari Bahasa Inggris, ‘behavior’ yang berarti: tingkah laku, tabiat, tindakan, perangai. Behaviorisme merupakan salah satu aliran pemikiran dalam ruang keilmuan psikologi yang beranggapan, bahwa untuk mengkaji prilaku individu harus dilakukan dengan mengamati aktivitas individu, dan bukan pada peristiwa hipotesis dalam diri individu. Secara tegas behaviorisme memahamkan, bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya reaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukan perubahan pada tingkah lakunya.

12)

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu metode yang digunakan untuk meningkatkan perilaku asertif dalam berpacaran pada siswa yang berpacaran kelas X di SMA Negeri 1 Porong menggunakan

Berbeda dengan asam asetat, ketika asam phosfat yang berupa cairan dipanaskan, memang pada mulanya larutan tersebut mendidih, tapi setelah larutan tersebut panas,

SELEKSI KOMPETENSI DASAR LOKASI TES PROVINSI JAWA TENGAH GOR PATRIOT KODAM IV/DIPONEGORO SEMARANG. PENGADAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN SOSIAL TAHUN

ICRA Indonesia juga memahami bahwa franchise dan posisi operasional yang menguntungkan, terutama bagi perusahaan asuransi jiwa swasta yang baru, memiliki kemungkinan lebih

Batasan Masalah Dalam penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui tingkat kompetensi guru yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi

KSLL adalah suatu sistem kombinasi yang lahir sebagai sistem baru dengan bentuk yang sederhana yaitu mengubah suatu ketebalan tertentu dari lapisan tanah teratas

Penelitian etnografi dalam hal ini berfungsi untuk mengkonsepsi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Bali Aga di desa Trunyan sebagai pusat pembudayaan,

Frame adalah sebuah kolom yang berada pada timeline yang berfungsi untuk membuat suatu pergerakan objek dari satu titik ke titik yang lain.. Open Mini Curve