Nilai-nilai dalam Sejarah Lokal Kalimantan Selatan Muhammad Azmi
[email protected] FKIP Universitas Mulawarman
ABSTRAK
Pendidikan nilai merupakan sebuah keniscayaan dalam upaya membentuk watak atau karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat. Pendidikan nilai pada dasarnya dapat diimplementasikan pada setiap mata pelajaran, tidak terkecuali sejarah. Sejarah yang mempelajari masa lalu seyogyanya dapat memberikan gambaran bagi kehidupan di sekarang dan akan datang. Sejarah sebagai mata pelajaran wajib di sekolah pada dasarnya dapat berkontribusi dalam upaya mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai peristiwa.
Peristiwa sejarah dapat dijadikan bahan untuk mengajarkan nilai-nilai yang disebutkan oleh Pusat Kurikulum. Kalimantan Selatan memiliki sejarah yang sangat panjang sebagaimana yang dijabarkan dalam Sejarah Banjar. Sejarah lokal Kalimantan Selatan dapat dijadikan alternatif bahan pendidikan nilai yang dapat mencakup nilai-nilai secara komprehensif. Studi pustaka digunakan dalam tulisan ini sebagai upaya menggali berbagai literarur yang relevan. Pembahasan dalam tulisan ini diarahkan pada periodisasi sejarah lokal Kalimantan Selatan dan nilai-nilai yang terkandung dan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran sejarah.
Kata kunci: nilai, sejarah lokal, Kalimantan Selatan
PENDAHULUAN
Menurut Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional (2010: 9-10), setidaknya ada 18 nilai dalam pembelajaran yang dapat ditanamkan kepada peserta didik antara lain jujur, semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Sejarah merupakan mata pelajaran yang mampu memberikan gambaran kepada peserta didik tentang berbagai peristiwa di masa lampau. Setiap peristiwa sejarah mempunyai hubungan satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain, mempelajari sejarah dapat memberikan peserta didik gambaran tentang keadaan di masa lalu yang dapat dijadikan bahan refleksi untuk menghadapi berbagai tantangan di masa akan datang, baik sejarah yang berada dalam ruang lingkup nasional maupun lokal.
Sejarah Lokal Kalimantan Selatan
Secara harfiah, sejarah diartikan dengan kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Sejarah dapat diartikan sebagai kejadian di masa lampau yang memiliki keunikan tersendiri yang berhubungan dengan manusia. Istilah sejarah dalam bahasa Inggris adalah history yang berasal dari kata historia dalam bahasa Yunani yang berarti informasi atau penelitian yang ditujukan untuk memperoleh kebenaran. Menurut Kochhar (2008: 3-5), sejarah adalah sebuah ilmu yang membahas tentang manusia dalam lingkup ruang dan waktu yang merupakan dialog antara peristiwa masa lampau dan perkembangan masa depan dengan menjelaskan masa kini. Adapun Helius Sjamsuddin (2012: 6) mengemukakan bahwa bahwa sejarah adalah penelitian tentang masa lalu yang berhubungan dengan manusia atau degan kata lain masyarakat manusia. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah sebuah ilmu yang membahas tentang manusia dalam lingkup ruang dan waktu yang berhubungan dengan masyarakat manusia.
unit administratif sebagai kesatuan etniskultural. Pertama, ruang sejarah lokal dapat diterima apabila berhubungan dengan sejarah politik yang menyangkut dengan wilayah lokal, seperti provinsi, keresidenan, kabupaten, kawedanan, kecamatan dan kelurahan. Kedua, ruang sejarah lokal dapat diterima apabila berhubungan dengan suatu peristiwa
yang berkaitan dengan identitas suatu etniskultural, seperti kerajaan yang dibangun dalam ruang lingkup suatu etnis. Ketiga, ruang lingkup sejarah lokal dapat diterima apabila berhubungan dengan unit administratif sebagai kumpulan etniskultural, seperti suatu wilayah yang dibentuk dengan kesepakatan sejumlah etniskultural yang mendiami daerah tersebut.
Pembagian periode sejarah lokal Kalimantan Selatan didasarkan pada pembagian pembahasan di dalam buku berjudul Sejarah Banjar yang dibagi dalam enam periode, yaitu masa pra sejarah, masa kuno (Hindu), masa klasik/Islam (1500-1900), masa perintis kemerdekaan (1901-1942), masa pendudukan Jepang (1942-1945), dan masa perang kemerdekaan atau revolusi fisik (1945-1949). Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan para sejarawan lokal yang diakomodir oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan pada 2003. Pengumpulan tulisan tersebut dikepalai oleh Muhammad Suriansyah Ideham yang merupakan peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan. Adapun daftar materi yang dipelajari di setiap periode dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1 Periodisasi Sejarah Lokal Kalimantan Selatan
Periode Materi Pokok
Pra Sejarah Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut Masa bercocok tanam
Masa perundagian
Kuno (Hindu) Masuknya agama Hindu di Kalimantan Selatan
Klasik/Islam (1500-1900)
Tersebarnya agama Islam dan terbentuknya Kerajaan Banjar
Keadaan politik, ekonomi dan sosial Kerajaan Banjar Perang Banjar (1859-1905)
Perintis Kemerdekaan
(1901-1942)
Pemerintahan Hindia Belanda di Kalimantan Selatan Kondisi kehidupan masayarakat di Kalimantan Selatan Keadaan organisasi pergerakan pada tahun 1928-1942 di
Kalimantan Selatan Pendudukan
Jepang (1942-1945)
Akhir Pemerintahan Hindia Belanda di Kalimantan Selatan Pemerintahan Pendudukan Jepang
Kondisi kehidupan masyarakat di Kalimantan Selatan Perang
Kemerdekaan atau Revolusi Fisik
(1945-1949)
Reaksi rakyat Kalimantan Selatan terhadap Proklamasi 17 Agustus 1945
Tumbuh dan berkembangnya Badan-badan Kelaskaran dan ALRI DIVISI IV Pertahanan Kalimantan
Perjuangan Gerilya dan terbentuknya Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI
Kedaulatan dan perjuangan ALRI DIVISI IV Pertahanan Kalimantan diakui Pemerintah RI
Sumber: Sejarah Banjar, 2003
Pembahasan tentang pra sejarah di daerah Kalimantan Selatan sangatlah terbatas. Sumber belajar yang digunakan dalam pembahasan materi ini adalah Sejarah Banjar karya M. Suriansyah Ideham, dkk didampingi dengan Borneo Menyikap Gua Prasejarah karya Luc-Henri Fage, dkk, Sedjarah Kebudayaan Indonesia karya Soekmono dan Sejarah Nasional Indonesia I karya Sartono Kartodirdjo, dkk.
Pembahasan tentang masa klasik/Islam dibagi dalam tiga bagian, yaitu (1) tersebarnya agama Islam dan terbentuknya Kerajaan Banjar, (2) keadaan politik, ekonomi dan sosial Kerajaan Banjar, dan (3) Perang Banjar (1859-1905). Pembahasan pada bagian pertama dan kedua bersumber dari buku karangan Akhmad Gazali Usman berjudul “Kerajaan Banjar: Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi Perdagangan dan Agama Islam”. Tulisan ini merupakan rangkuman dan interpretasi penulis dari berbagai historiografi tradisional Kalimantan Selatan yang menjelaskan tentang masuknya Islam di Kalimantan Selatan dan berdirinya Kerajaan Banjar, antara lain Tutur Candi, Hikayat Banjar dan Silsilah Raja-raja Banjar dan Kotawaringin. Adapun bagian ketiga tentang perang Banjar menggunakan sumber belajar dari buku Sejarah Indonesia III dan buku berjudul “Kesultanan Banjarmasin pada abad ke-19” buah karya Ita Syamtasiyah Ahyat.
Pembahasan tentang masa perintis kemerdekaan diarahkan pada masa berlangsungnya pemerintahan Hindia Belanda di Kalimantan Selatan. Pada materi ini, pembahasan juga diarahkan pada kondisi masyarakat pada masa pendudukan Hindia Belanda pasca runtuhnya Kerajaan Banjar. Selain itu, seiring dengan pembahasan juga diarahkan pada keadaan organisasi di Kalimantan Selatan pada 1928-1942 pasca terjadinya Sumpah Pemuda di Jawa. Sumber belajar utama dalam pembahasan ini adalah buku karya Prof. Alex A. Koroh dari Program Studi Pendidikan Sejarah berjudul Sejarah Perkembangan Pemerintahan di Kalimantan Selatan (1901-1956). Adapun sumber pendamping dalam pembahasan ini adalah Sejarah Banjar dan buku berjudul Antara Dayak dan Belanda Sejarah Ekonomi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan 1880-1942 karya J. Thomas Lindblad.
masyarakat Kalimantan Selatan pada masa pendudukan Jepang. Sumber bacaan dalam pembahasan ini adalah Sejarah Perkembangan Pemerintahan di Kalimantan Selatan (1901-1956) karya Prof. Alex A. Koroh. Selain itu, Sejarah Banjar juga digunakan sebagai sumber bacaan pendukung dalam pembahasan materi ini.
Pembahasan tentang perang kemerdekaan atau revolusi fisik berbicara seputar kemerdekaan Republik Indonesia dan perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan pada masa revolusi fisik. Pembahasan pada pertemuan ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) reaksi rakyat Kalimantan Selatan terhadap Proklamasi 17 Agustus 1945, (2) perkembangan badan-badan kelaskaran dan ALRI DIVISI IV Pertahanan Kalimantan, dan (3) perjuangan gerilya dan terbentuknya Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Sumber bacaan utama dalam pembahasan materi ini adalah Sejarah Banjar. Adapun sumber bacaan pendukung adalah Sejarah Perjuangan Gerilya Menegakkan Republik Indonesia di Kalimantan Selatan (1949) karya Ahmad Gafuri, Kisah Gerilya Kalimantan Periode 1945-1949 Kodam X/Lambung Mangkurat karya Hasan Basry dan Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik karya Wajidi.
Nilai dalam Pendidikan
Pembukaan UUD 1945 alinea keempat menyebutkan bahwa salah satu tujuan utama adalah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyebutkan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak/ karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa...”.
terdapat setidaknya 18 nilai karakter yang dapat diajarkan kepada peserta didik selama
proses pembelajaran berlangsung sebagaimana yang dirangkum dalam Tabel 2
Tabel 2 Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
No Nilai Deskripsi
1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. 2 Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan
dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. 5 Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya
sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6 Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7 Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas 8 Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai
sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9 Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10 Semangat
Kebangsaan
11 Cinta Tanah Air Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12 Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13 Bersahabat/ Komuniktif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14 Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15 Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16 Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17 Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18 Tanggung-jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
Sumber: Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, 2010: 9-10
sebagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dapat menjadi wahana dalam mengajarkan nilai-nilai yang disebutkan sesuai dengan amanah undang-undang.
Nilai-nilai dalam Sejarah Lokal Kalimantan Selatan
Sejarah lokal Kalimantan Selatan meliputi periodisasi masa prasejarah sampai dengan masa revolusi fisik berdasarkan Sejarah Banjar. Nilai-nilai yang terkandung dalam periodisasi sejarah tersebut secara ringkas dapat dilihat dalam Tabel 3.
Tabel 3 Rangkuman Nilai dalam Sejarah Lokal Kalimantan Selatan
Periode Nilai Karakter
Pra Sejarah Religius, Disiplin, Toleransi, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Rasa Ingin Tahu, Peduli Lingkungan, dan Tanggung-jawab Kuno (Hindu) Religius, Disiplin, Jujur, Toleransi, Kerja Keras, Kreatif,
Mandiri, Rasa Ingin Tahu, Komunikatif, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggung-jawab
Klasik/Islam (1500-1900)
Religius, Disiplin, Toleransi, Kreatif, Mandiri, Rasa Ingin Tahu, Komunikatif, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggung-jawab
Perintis Kemerdekaan
(1901-1942)
Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Demokratis, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Komunikatif, Gemar Membaca, dan Tanggung-jawab
Pendudukan Jepang
(1942-1945)
Jujur, Disiplin, Kerja Keras, Semangat Kebangsaan, Menghargai Prestasi, dan Tanggung-jawab
Jujur, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Peduli Sosial, dan Tanggung-jawab
Berdasarkan tabel 3 di atas, setiap periode dalam sejarah lokal Kalimantan Selatan dapat dijadikan sebagai wahana dalam mengajarkan nilai-nilai yang dijabarkan oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. Sejarah seyogyanya diajarkan untuk memberikan pemahamanan tentang masa lalu yang dapat dijadikan sebagai
Peristiwa prasejarah secara umum dapat memberikan gambaran bagaimana
kerjasama masyarakat di masa lalu dalam usahanya untuk mempertahankan
keberlagsungan hidup mereka. Pembagian kerja yang jelas antara satu kelompok untuk
berburu dan kelompok lain untuk meramu makanan memberikan gambaran bahwa
adanya nilai disiplin di dalam satu komunitas. Perkembangan kehidupan masyarakat
pada masa Hindu-Budha dapat menjadi contoh bagaimana toleransi antara pribumi dan
pendatang. Raja pertama Negara Dipa yang merupakan pendatang dari luar dapat
mendirikan sebuah kerajaan di daerah asing. Di sisi lain, suku Dayak yang merupakan
penduduk pribumi juga tidak pernah disebutkan melakukan perlawanan terhadap para
pendatang.
Kehidupan masyarakat di masa Islam yang ditandai dengan berdirinya
Kesultanan Banjar dapat dijadikan sebuah pelajaran yang mampu memberikan
gambaran betapa merasuknya sifat religius ke dalam kehidupan masyarakat di
Kalimantan Selatan. Tak bisa dipungkiri, Islam telah menjadi bagian yang tak
terpisahkan dalam masyarakat Banjar. Menengok masa Revolusi Fisik di Kalimantan
Selatan dapat memberikan deskripsi betapa tingginya semangat kebangsaan dan cinta
tanah air masyarakat Kalimantan Selatan terhadap Indonesia. Kesetiaan terhadap
Indonesia ditandai dengan dibacakannya proklamasi bergabungnya Kalimantan dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kesimpulan
memberikan sumbangsihnya dalam kemajuan pendidikan di Indonesia, terutama para guru dan stakeholder yang terkait. Semoga, ke depannya sejarah dapat memberikan kontribus besar dalam pembangunan nilai-nilai kebangsaan yang diharapkan dapat membentuk karakter masyarakat Indonesia yang kreatif, inovatif dan cinta tanah air dan memiliki semangat kebangsaan yang tinggi yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di mata dunia.
Referensi
Adisusilo, S. 2014. Pembelajaran Nilai-Karakter, Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ideham, M. S., dkk. 2003. Sejarah Banjar. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan.
Kochhar, S.K. 2008. Pembelajaran Sejarah. Terj. H. Purwanta dan Yovita Hardiwati. Jakarta: Grasindo.
Mulyana, R. 2011. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.
Priyadi, S. 2012. Sejarah Lokal: Konsep, Metode dan Tantangannya. Yogyakarta: Penerbit Ombak
Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. 2010. Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.