• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI EKONOMI CAGAR ALAM RIMBO PANTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "NILAI EKONOMI CAGAR ALAM RIMBO PANTI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI EKONOMI CAGAR ALAM RIMBO PANTI (Economic Valuation Of Rimbo Panti Nature Reserve)

Riswan S Siregar1, Ardinis Arbain2, Wilson Novarino3

1Prodi Pendidikan Biologi STKIP Tapanuli Selatan, 2 Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Andalas,3 Jurusan Biologi Universitas Andalas

Email1 : [email protected]

Abstract : The study on economic valuation of Rimbo Panti Nature Reserve (RPNR) had been conducted from june to july 2010 in three villages (namely Panti, Lundar, Petok) in adjacent to the border of this district of Pasaman’s protected area in West Sumatra Province. Total economic value of RPNR was calculated by incorporating the value of water in supplying holdhouses and agriculture/fishery needs, the value of fire wood, forest’s carbon sequestration capacity, existence and conservation. Data collection was performed through interviewing the households leaders. The result has revealed that RPNR holds value as many as Rp. 47.335.276.740,00 (forty seven billion three hundred thirty five million two hundred thirty five milliontwo hundred seventy six thousand seven hundred and forty Indonesian rupiah) annually. This number is composed from fire wood value was Rp. 739,440,000 (Seven hundred thirty nine million four hundred fourty thousand rupiah), from water value (domestic need and agriculture/fishery) was Rp. 9.907.450.640,00- (nine billion nine hundred seven million four hundred and fifty thousand six hundred and forty Indonesia rupiah), The carbon sequestration value was Rp. 36.040.050.000,- (Thirty six billion forty million and fifty thousand rupiah), existence value was Rp. 66,286,719 (Sixty six million, two hundreads and eighty six thousand seven hundreds and nineteen rupiah) and conservation value was Rp. 582,049,381( five hundred eighty two million forty nine thousand three hundred eighty one rupiah).

Keywords : Economic Valuation, nature Reserve, Contingent Valuation, LUVI

Pendahuluan

Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya alam hayati dan Ekosistemnya membagi kawasan konservasi menjadi kawasan pelestarian alam dan Kawasan Suaka Alam. Salah satu kawasan suaka Alam adalah Cagar Alam yang memiliki fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya juga sebagai wilayah perlindungan system penyangga kehidupan (Wiratno dkk, 2002)

Cagar Alam Rimbo Panti (CARP) dengan luas 3.120 Ha (BKSDA, 1998) berbatasan langsung dengan tiga desa yaitu Murni, Lundar, Petok (PSLH, 2000). Secara sadar maupun tidak sesungguhnya masyarakat sudah sudah menikmati sumber daya alam secara berkelanjutan oleh keberadaan kawasan suaka alam (Weis P et. Al. 2006). Sebagai kawasan pelestarian alam, keberadaan CARP memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap kesejahteraan masyarakat.

(2)

untuk kegiatan pariwisata. Secara lebih luas, CARP jugatermasuk kawasan ‘Carbon Sequestration’ yang memiliki potensi ekonomi melalui mekanisme perdagangan karbon (Saragih B, 2011)

Berdasarkan hal diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui seberapa besar potensi ekonomi CARP.

Metode Penelitian

a. Waktu dan tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – Juli 2010 pada tiga Desa yang berbatasan langsung dengan CARP yaitu Desa Murni, Petok dan Lundar Kecamatan Panti Kabupaten Pasaman.

b. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai 120 kepala keluarga yang dipilih secara Acak. Pembatasan 120 responden dalam pengambilan data dikarenakan keterbatasan biaya dan tenaga. Adapun perolehan data Jenis Hewan dan tumbuhan yang memiliki nilai penting bagi masyarakat dilakukan dengan diskusi kelompok bersama Informan kunci. (Siregar RS et al. 2012; Murniati et al. 2006; Lynam et al. 2004)

c. Penghitungan Nilai Ekonomi Total CARP

Nilai ekonomi total CARP dihitung meliputi nilai penggunaan langsung (Direct use value) dan nilai penggunaan tidak langsung (Non use value) dengan formula sebagai berikut (NRMP, 2002 ; Gunton T, 1991; Thomas L et al, 1994; Carson RT et al. 2001)) :

Nilai Ekonomi Total = Nilai Penggunaan Langsung + Nilai Penggunaan Tidak Langsung NET = (NPL + NPTL)

NET = ( Nkb + NAp + Nad) + (NPc + Npel+ Nkeb) Nkb = Nilai kayu bakar

NAp = Nilai air pertanian Nad = Nilai air domestik Npel = Nilai pelestarian

NPc = Nilai penyerapan karbon Nkeb = Nilai keberadaan

c.1. Nilai Kayu Bakar

Kayu bakar yang dimaksud adalah kayu bakar yang diperoleh masyarakat sekitar CARP dari dalam kawasan CARP yag dimanfaatkan untuk memasak.Nilai kayu bakar dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut (NREA, 2003) :

NTkb = TP – TB

{∑ bkb x ∑ pst x Hb x ∑ rt} - {p x ∑pst x ∑rt} NTkb = Nilai kayu bakar

TP = total penerimaan

(3)

bkb = bundel kayu bakar pst = pengambilan setahun Hb = harga/ bundel

Rt = rumah tangga

c.2. Nilai Air Domestik

Untuk menentukan harga air berdasarkan pendekatan biaya pengadaan digunakan formula sebagai berikut (Midora L dan Anggraeni D, 2006) :

HAdi=BPAdi Kdi

Dalam hal ini :

HAdi = harga / biaya pengadaan air rsponden ke i (Rp/ satuan) BPAdi = biaya pengadaan air domestik ke i

Kdi = jumlah kebutuhan air domestik ke i

Total nilai air domestik didasarkan pada konsumsi air domestik per kapita sehingga pengganda yang digunakan adalah jumlah penduduk di lokasi penelitian yang air domestiknya bersumber dari CARP. Untuk menentukan total nilai penggunaan air domestik digunakan rumus sebagai berikut :

Nad = RNAd x P Dalam hal ini :

Nad = Nilai air domestik (meliputi total kesediaan membayar, nilai yang dibayarkan surplus konsumen)

RNAd = rata – rata nilai air domestik (Rp/kapita/tahun) P = jumlah penduduk sekitar CARP

c.3. Nilai Penyerapan Karbon (NPc)

Penentuan nilai karbon berdasarkan harga pasar pendekatan harga karbon yang berlaku di pasar internasional dengan asumsi harga hutan primer. Penentuan nilai karbon dilakukan dengan rumus sebagai berikut

NPc = Lk x Kc x Hc Dalam hal ini :

NPc = Nilai Penyerapan Karbon CARP (Rp) Lk = Luas kawasan rimbo panti (hektar)

Kc = Kemampuan menyerap karbon hutan (ton per hektar) Hc = Harga karbon (Rp per ton)

c.4. Nilai Keberadaan (Nkeb)

(4)

masa yang akan datang. Penentuan nilai potensial dilakukan dengan menggunakan formula sebagai berikut :

NKeb =

kesediaan repondenuntuk membayar(Rp)

responden

Dalam hal ini :

NKeb = Nilai keberadaan CARP

P = Proporsi populasi yang bersedia membayar nilai keberadaan kali jumlah Penduduk

c.5. Nilai Pelestarian

Nilai pelestarian (flora, fauna, plasma nutfah, habitat, dan ekosistem) ditentukan melalui pendekatan kesediaan membayar (Willingness To Pay) dari masyarakat untuk membiayai upaya pelestarian jenis tertentu dari hewan dan tumbuhan yang didapat dari penentuan nilai prioritas flora dan fauna dengan indeks tertinggi dari Local User Value Index (LUVI) (Sheil D et al.2003, Siregar RS et al, 2012) disekitar kawasan CARP dengan formula sebagai berikut :

NPel =

kesediaan repondenuntuk membayar(Rp)

responden JP

Dalam hal ini :

NPel = Nilai pelestarian spesies x .

JP = Jumlah penduduk yang tercakup dalam wilayah penelitian

Nilai pelestarian yang digunakan adalah nilai pelestarian 3 jenis hewan dan 3 jenis tumbuhan dengan nilai LUVI tertinggi dengan menggunakan metode valuasi kontingens, yaitu menduga harga pelestarian dari kesediaan membayar (WTP) penduduk setempat dengan pendekatan metode tawar menawar yang menanyakan responden apakah ia mau membayar sejumlah uang tertentu yang diajukan sebagai titik awal. Jika ya, maka besarnya nilai uang dinaikkan sampai tingkat yang disepakati. Sebaliknya jika tidak, nilai uang diturunkan sampai jumlah uang yang disepakati. Akhirnya ditanyakan berapakah jumlah maksimum dan minimum keinginannya untuk membayar.

e.1. Pendugaan Nilai Penting Keanekaragaman hayati dengan indeks LUVI

Kepentingan suatu jenis kegunaan (j) dari suatu jenis (i) akan diwakili oleh suatu nilai individu Gij. Kepentingan suatu spesies (Lokal User’s Value Indeks : LUVI/ Indeks Nilai pengguna lokal merupakan jumlah keseluruhan dari Gij suatu spesies yaitu :

LUVI = ∑ i = spesies, keseluruhan j, Gij (Persamaan 1)

(5)

RWj merupakan bobot yang diberikan untuk kelas kegunaan yang luas, dimana kegunaan tertentuj berada. RWij merupakan bobot relatif dalam kategori J dalam pemanfaatan spesies i

yang memenuhi syarat sebagai anggota-anggota J. Bila ada jenis lain yang berpeluang muncul dari para informan, sementara jenis tersebut tidak ada dalam daftar spesies yang diperoleh dari masyarakat maka nilai Gij akan diperoleh melalui :

Gij = Eij x Pij x CJ (Persamaan 3)

Dimana Eij adalah eksklusifitas spesies i, untuk kegunaan khusus j. Pij merupakan suatu parameter untuk menunjukkan pilihan yang skornya pasti lebih tinggi jika spesies ini merupakan pilihan dari kelas kegunaan ini. Cj akan ditentukan kemudian. Kombinasi Eij x Pij mempunyai tiga kemungkinan hasil : a) tidak ada pengganti, b) pilihan tetapi ada pengganti, dan c) bukan pilihan.

CJ merupakan pembobotan koreksi untuk kegunaan kelas J, dimana J berada dan dihitung berkaitan dengan seluruh set data spesies serta nilainya dalam kelas ini.

Rumus yang dapat digunakan adalah :

CJ ≈ RWJ │(∑ij J Eij x Pij (Persamaan 4)

Dimana │(∑ij J Eij x Pij merupakan jumlah dari seluruh nilai semua spesies (seluruh i dan j) yang memiliki nilai j dan termasuk dalam kelas kegunaan J.

Hasil dan Pembahasan

a. Nilai Kayu Bakar

Sebagian besar masyarakat sekitar CARP masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Dari 120 rumah tangga yang disurvey yang tidak menggunakan kayu bakar hanya 11 keluarga dan selebihnya 91 % dari seluruh responden memanfaatkan kayu bakar untuk kegiatan memasak. Dengan formulasi ini dengan jumlah rumah tangga sebanyak 3125 rumah tangga, maka yang menggunakan kayu bakar sebanyak 2844 rumah tangga. Harga kayu bakar dipasar setempat adalah Rp.

5000,-Kebutuhan rumah tangga terhadap kayu bakar bervariasi. Rata-rata setiap rumah tangga membutuhkan rata-rata 1,8 bundel kayu per minggu digenapkan menjadi 2 bundel. Pengumpulan kayu bakar setiap bundelnya membutuhkan seperempat hari kerja. Dengan rata-rata upah harian penduduk setempat adalah Rp. 20.000,- per hari maka waktu biaya yang dikeluarkan untuk mengambil kayu bakar diasumsikan Rp. 5000,-. Dengan demikian penghitungan nilai ekonomi kayu bakar dilakukan dengan pola berikut:

Tabel 1: Penghitungan Nilai kayu bakar

Nilai Perhitungan Hasil

Total penerimaan jumlah kayu bakar x pengambilan setahun x harga per bundle x rumah tangga pengguna

(6)

1,478,880,000,-Total Biaya berbeda dengan harga kayu bakar pada hutan Tesso Nilo yaitu sebesar Rp. 763,776,000,- per tahun (NRMP, 2002).

b. Nilai Air Pertanian

Nilai air pertanian dihitung berdasarkan harga yang dikeluarkan oleh para penduduk untuk menjaga terpeliharanya air masuk ke sawah mereka beserta korbanan yang dikeluarkan ketika mengaliri, memperpaiki dan memelihara stabilitas air dan juga menilai dengan metode kontingensi terhadap ketersediaan air yang diasumsikan berasal dari fungsi CARP.

Tabel 2 : Nilai Ekonomi Air Pertanian

Nilai Ekonomi Harga air (Rp/ha/thn) Luas areal Total Nilai (Rp/tahun) berdasarkan WTP adalah Rp. 120,417,- per hektar per tahun sementara biaya atau korbanan yang dikeluarkan para petani lebih kecil yaitu sebesar Rp. 98,274,-. Ini membuktikan bahwa air merupakan sumber daya yang sangat penting sehingga masyarakat bersedia berkorban untuk mendapatkannya walau dengan harga tinggi. Akan tetapi kenyataannya jumlah yang dibayarkan jauh lebih rendah karena akses terhadap air masih sangat mudah untuk didapat dan tidak perlu mengeluarkan korbanan yang lebih banyak.

(7)

mencapai Rp 574,056,742,- per hektar per tahun. Surplus konsumen sebesar Rp. 57,599,240,- per tahun merupakan nilai kesejahteraan yang diperoleh masyarakat dari CARP yang berperan penting dalam penyediaan air bagi kebutuhan mereka.

Sumber daya alam CARP merupakan sumber daya alam yang bersifat nonrivalry, sehingga penggunaan oleh seseorang tidak mengurangi fungsinya sebagai penyedia air. Dengan demikian makin luas lingkup penilaian atau makin banyak orang pemanfaat yang diperhitungkan tentu saja nilainya semakin meningkat (Widada, 2004).

c. Nilai Air Domestik

Air domestik meliputi air untuk minum dan memasak, mandi dan mencuci, serta air kakus. Total nilai air domestim masyarakat sekitar CARP dapat dilihat pada Tabel 3. Harga air per liter untuk berbagai kepentingan bervariasi. Untuk harga air minum dan Masak sebesar Rp. 193 per liter dan masing-masing individu menghabiskan rata-rata sebanyak 1487 liter air selama satu tahun. Harga air untuk mandi dan mencuci sebesar Rp. 92 per liter dengan kebutuhan rata-rata sebanyak 3365 liter per individu selama satu tahun. Harga air kakus rata-rata Rp.52 per liter dengan kebutuhan rata-rata 1878 liter per individu selama satu tahun.

Tabel 3: Total Air Domestik masyarakat sekitar CARP

Kebutuhan Air

Jumlah penduduk di 3 Desa terdiri dari Desa murni, Lundar dan petok sebanyak 13.820 jiwa (Tabel 4). Maka total nilai air domestik berjumlah Rp. 9.594.217,140 per tahun (dibulatkan menjadi 9,6 Milyar per tahun). Ini tidak berbeda jauh dengan harga air domestik Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) sebesar Rp. 7,026,571,200 per tahun (Midora dan Anggraini, 2006) sementara total air domestik di Taman Nasional Gunung Halimun sebesar Rp. 5,22 Milyar per tahun (Widada, 2004).

(8)

No Desa Jlh Penduduk

(jiwa) Jlh RT Luas Sawah(Ha)

1 Petok 7,616 1780 1533.18

2 Lundar 1,607 377 551.26

3 Murni Panti 4,057 968 516.8

TOTAL 13,820 3125 26,0124

Sumber : BPS, 2004

Rata-rata konsumsi air per individu per hari adalah 60 liter (Midora dan Anggraini, 2006). Sementara konsumsi rata-rata air per individu masyarakat sekitar CARP adalah 19,1 liter. Perbedaan ini dikarenakan air domestik yang dihitung dalam penelitian ini hanya untuk kebutuhan primer saja sementara kebutuhan sekunder lainnya seperti mencuci kendaraan, membersihkan rumah, menyiram taman dan lain-lain tidak dihitung.

d. Nilai Penyerapan Karbon

Menurut Brown dan Pearce (1994), hutan alam primer memiliki kemampuan penyerapan karbon 283 ton per hektar, hutam alam sekunder 194 ton per hektar dan hutan terbuka 115 ton per hektar. Adapun nilai 1 ton karbon adalah $ 10 US (Kim, 2001 cit Widada 2004) sedangkan menurut Seomarwoto ( 2001 cit Widada 2004) nilai 1 ton karbon berkisar $ 1 US sampai dengan $ 28 US. Sementar harga standar menurut World Bank sebesar $ 10 US per ton. Untuk menghindari dugaan nilai yang terlalu tinggi (overestimate), asumsi yang akan dijadikan patokan dalam penghitungan nila penyerapan karbon CARP sebesar $ 5 per ton

Cagar Alam Rimbo Panti yang memiliki luas 2830 Ha dapat dikategorikan sebagai hutan alam primer walapun ada terdapat kasus integrasi masyarakat ke dalam kawasan namun hal ini tidak berdampak signifikan terhadap kemampuan kawasan ini dalam hal penyerapan karbon, didukung oleh dilakukannya penyuluhan persuasif oleh instansi terkait setiap tahunnya.

Dengan asumsi kurs rupiah terhadap dolar amerika adalah Rp. 9,000,- per dolar nilai penyerapan karbon dapat diperoleh dengan hitungan sebagai berikut :

2830 Ha x 283 ton x $ 5 x Rp 9000 = Rp.

36,040,050,000,-Nilai Penyerapan karbon sebesar Rp 36,04 Milyar per tahun merupakan nilai manfaat yang diberikan kepada masyarakat dunia atas kualitas ekosistem CARP yang memiliki kemampuan sebagai penyerap CO2. Melalui CDM (Clean Development Mechanism) potensi penyerapan karbon CARP sebesar 800,890 ton per tahun dapat dijual ke dunia dan dapat dimanfaatkan untuk konservasi kawasan konservasi yang ada di Negara ini.

e. Nilai Pelestarian

(9)

Ketiga jenis tumbuhan dan hewan beserta harga rata-rata nilai pelestariannya adalah sebagai berikut :

Tabel 5 : Rata – rata nilai pelestarian hewan dan tumbuhan dengan nilai manfaat tertinggi

N

o Jenis SumberDaya

Nilai Rata-rata (Rp) WTP

Proporsi yang mau membayar ( %)

Jumlah Penduduk

(jiwa)

Nilai Pelestarian

1 Rusa 10,408 92,5 13,820 133,050,668

2 Kijang 8,800 91,6 13,820 111,400,256

3 Kancil 6,875 87,5 13,820 83,135,938

4 Durian 7,533 91,6 13,820 95,361,151

5 Enau 8,120 92,5 13,820 103,802,020

6 Kayu manis 4,446 90,0 13,820 55,299,348

TOTAL 582,049,381

Dari data pada Tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa total nilai pelestarian jenis sumber daya hewan dan tumbuhan adalah sebesar Rp. 582,049,381. Diantara semua jenis baik hewan dan tumbuhan nilai pelestarian tertinggi adalah Rusa (Cervus unicolor) yaitu sebesar Rp. 133.050,668,- per tahun. Untuk nilai pelestarian rusa, nilai terendah yang ingin dibayarkan agar jenis hewan ini tetap lestari adalah sebesar Rp 1000,- per tahun dan yang tertinggi adalah Rp. 100.000,- per tahun. Adapun untuk Tumbuhan, nilai pelestarian tertinggi adalah jenis Enau (Arenga pinnata) yaitu sebesar Rp. 104,000,- per tahun. Nilai tertinggi yang ingin dibayarkan agar jenis ini tetap ada di kawasan CARP adalah Rp. 100,000,- dan nilai terendah adalah Rp. 1000,-.

Nilai pelestarian beberapa hewan yang telah diteliti adalah Gajah dengan nilai pelestarian Rp.416.000.000,- per tahun, Harimau Rp 19,759,480,000 pertahun (NRMP, 2002), Serigala $ 93.32 per tahun (Duffield .1991), Elang $ 21.21 per tahun (Boyle and Bishop, 1987) .Munculnya variasi harga dalam menentukan nilai pelestarian sangat tergantung dengan metode yang digunakan (Richardson L dan Loomis J, 2008). NRMP (2003) menggunakan benefit transfer dalam menentukan harga harimau, yaitu dengan membandingkan harga WTP harimau di India dan untuk gajah dikonversi dari harga pelestarian gajah di Afrika.

(10)

Nilai keberadaan adalah nilai yang diberikan oleh masyarakat baik oleh penduduk setempat maupun pengunjung terhadap kawasan CARP atas manfaat spiritual, estetika dan kultural. Keberadaan CARP yang juga berdampingan dengan Taman Wisata Rimbo Panti semakin memberikan nilai tambah tersendiri bagi masyarakat sekitar.

Dari 120 responden yang diwawancarai seluruhnya (100 %) mengatakan bahwa mereka mengetahui keberadaan CARP dan keberadaan CARP banyak memberikan kontribusi positif bagi mereka, namun tidak seluruhnya bersedia membayar nilai keberadaan CARP atas jasa lingkungan yang mereka dapatkan. Sebanyak 93 orang responden (87,5 %) yang menyatakan bersedia membayar. Nilai terendah yang menyatakan bersedia membayar atas jasa CARP adalah Rp.5.000,- per tahun sementara yang paling tinggi bersedia membayar Rp. 150.000,-. Rata-rata per tahun sebesar Rp. 24.241,- Adapun Total nilai keberadaan kawasan CARP dengan metode WTP diperoleh Rp. 66,286,719,- per tahun

Kesimpulan

Total Nilai Ekonomi kawasan CARP adalah sebesar Rp. 47,335,276,740,- (Empat puluh tujuh miliar tiga ratus tiga puluh lima juta dua ratus tujuh puluh enam ribu tujuh ratus empat puluh rupiah) per tahun. Terdiri dari Nilai kayu bakar Rp. 739.440.000,- ( Tujuh ratus tiga puluh Sembilan juta empat ratus empat puluh ribu rupiah) Nilai Air Rp. 9,907,450,640,-(Sembilan miliar Sembilan ratus tujuh juta empat ratus lima puluh ribu enam ratus empat puluh rupiah) Nilai penyerapan karbon Rp. 36.040.050.000,- (Tiga puluh enam miliar empat puluh juta lima puluh ribu rupiah) Nilai pelestarian Rp. 582,049,381,- (Lima ratus delapan puluh dua juta empat puluh Sembilan ribu tiga ratus delapan satu rupiah) dan nilai keberadaan Rp.66,286,719,-.(Enam puluh enam juta dua ratus delapan puluh enam ribu tujuh ratus Sembilan belas rupiah) Dengan diskonto 10 % pada masa yang akan datang maka Nilai ekonomi CARP mencapai Rp. 52.068.804.414,-.

Ucapan Terima Kasih

Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kepala Desa Murni Panti atas bantuannya dalam memfasilitasi pertemuan dengan informan kunci.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

BKSDA.1998. Buku Informasi Kawasan Konservasi Provinsi Sumatera Barat. Pancaran Ilmu. Jakarta.

(11)

Brown, K. and Pearce,D.W. 1994. The Causes of Deforestation : The Economic and Statistical Analysis of factor Giving Rise to Lose of the Tropical Forest. University College Press, London and the University of British Columbia Press, Vancouver.

Boyle, K., Bishop, R., 1987. Valuing wildlife in benefit–cost analysis: a case study involving endangered species. Water Resources Research 23, 943–950.

Carson RT, Flores NE. and Meade NF. 2001. Contingent Valuation: Controversies and evidence.

Environmental and Resource Economics 19: 173–210, 2001. Kluwer Academic Publishers. Printed in the Netherlands

Duffield, J., 1991. Existence and non-consumptive values forwildlife: application of wolf recovery in Yellowstone National Park W-133/Western Regional Science Association Joint Session. Measuring Non-Market and Non-Use Values. Monterey,

CA.

Gunton T. 1991. Economic Valuation of Non Market Values for Forest Land Planning. Natural Resources Management Program. Simon Fraser University. Burnaby BC Lynam T, Cunliffe R, Mapaure I. 2004. Assessing the Importance of Woodland Landscape

Locations for Both Local Communities and Conservation in Gorongosa and Muanza Districts, Sofala Province, Mozambique. Ecology and Society 9(4) : 1. Midora L dan Anggraeni D, 2006. Economic Valuation of Watershed Services Batang Gadis

National Park, Mandailing Natal, North Sumatera.

Murniati, Padmanaba M, Basuki I, der Ploeg Jvd. 2006. Gunung Lumut Biodiversity Assessment Socio-economic Study. Topendos International Indonesia. Balikpapan. Report. pp : 49-56

Natural Resource Management Program. 2003. Peranan Evaluasi Ekonomi dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam. Pelatihan Valuasi Ekonomi Sumber Daya alam. PSLH. 2000. Rencana Pengelolaan Cagar Alam Rimbo Panti. Provinsi Sumatera Barat

(2001-2005). Universitas Andalas. Padang. pp : 7-8

Richardson L dan Loomis J. 2008. The total economic value of threatened, endangered and rare species: An updated meta-analysis. Ecological econom ics 68 (2009) 1535–1548. Elsevier.

Saragih B. 2011. Economic value of non-timber forest products Among paser indigenous People of East Kalimantan. Desa Putera, Jakarta, Indonesia

Sheil D. 2000. Mengekplorasi Keanekaragaman hayati, Lingkungan dan Pandangan Masyarakat lokal Mengenai Berbagai Lanskap hutan. Metode-metode Penilaian Lanskap secara Multidispliner. Kirab. Jakarta.

(12)

Sheil D, Puri RK, Basuki I, Vans Heist M, Wan M, Liswanti N, Rukmiyati Sardjono MA (and authors). 2003. Exploring Biological Diversity, Environment and Local People’s Perspectives in Forest Landscapes. CIFOR. Bogor. Indonesia. pp : 1-20

Thomas L, Dixon J, Green M, Hughes G, Kelleher G, Sheppard D, Sumardja E, Vorhies F. 1994. Economic Assesment of Protected Area : Guidelines For Their Assessment. IUCN draft. Australia.

Weis P, Igoe Jand Brockington Dan. 2006. Parks and Peoples: The Social Impact of Protected Areas. The Annual Review of Anthropology is online at

anthro.annualreviews.org

Widada. 2004. Nilai Manfaat Ekonomi dan Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Halimun Bagi Masyarakat. Disertasi Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor.

Wiratno, Indriyo D, Syarifuddin A, Kartikasari A. 2002. Berkaca Di Cermin Retak. Refleksi Konservasi dan Implikasi Bagi Pengelolaan Taman Nasional. Publikasi Forest Press, The Gibbon Foundation Indonesia, PILI-NGO Movement.

Gambar

Tabel 1: Penghitungan Nilai kayu bakar
Tabel 2 : Nilai Ekonomi Air Pertanian
Tabel 4 : Gambaran Kependudukan 3 Jorong yang berbatasan dengan CARP
Tabel 5 : Rata – rata nilai pelestarian hewan dan tumbuhan dengan  nilai manfaat tertinggi

Referensi

Dokumen terkait

EUNIKE MISELIA EVA WANDITA SMP Johannes Bosco Yogyakarta Diterima.. ASAL SMP NO

Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak dijadikan sebagai studi kasus penelitian dengan asumsi bahwa kedua pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan dengan

Sedangkan faktor dominan yang mempengaruhi preferensi mahasiswa terhadap mata kuliah wajib institut adalah media pembelajaran yang digunakan dosen dengan tingkat

Kita maklumi bersama bahwa sebagian besar petani di Indonesia merupakan petani ”kecil” yang sebagian besar hasil pertaniannya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga atau

melakukan pengembangan dari penelitian sebelumnya dengan menguji pengaruh family control, ukuran perusahaan, profitabilitas dan rasio kas terhadap dividen dan leverage serta

[r]

Kehidupan keluarga yang menerapkan kebebasan berpikir secara demokratis dengan adanya pola komunikasi yang terb.'ka yaitu adanya diskusidiskusi antara anggota keluarga

Puji syukur dan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis berhasil menyelesaikan Laporan Perancangan Proyek Akhir