Seminar Tipe 1A | STTNAS 2016 1
PETROGRAFI BATUAN ANDESIT GUNUNG JERING, DESA
SUMBERAGUNG, KECAMATAN MOYUDAN, KABUPATEN SLEMAN,
PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Irdan Syafaat
11
Jurusan Teknik Geologi Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Jl. Babarsari Cturtunggal, Depok,Sleman Yogyakarta 55281 INDONESIA
Intisari— Indonesia, gunung api dan hasil kegiatannya yang berupa batuan gunung api tersebar melimpah baik di darat maupun di laut. Pada Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, juga terdapat sebaran dari batuan beku intrusi yang membentuk perbukitan kecil, yang diduga merupakan sisa atau bekas gunung api purba. Geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi satuan perbukitan denudasional dan satuan bergelombang lemah fluvial. Stratigrafi daerah penelitian dari yang tertua kemuda dapat diurutkan mulai dari tuf tersilika, intrusi Andesit porfiri, intrusi Dasit terubah illite – smektite , intrusi Basal dan endapan produk gunung merapi. Dari data petrografi pada intrusi Andesit porfiri dapat disimpulkan merupakan intrusi dangkal (epizonal intrusion) dengan kedalaman ± 1 km, kehadirannya cenderung diskordant (memotong batuan disekitarnya), dengan suhu tubuh batuan ± 450°c dimana pada tahap awal mineral terbentuk secara perlahan pada tubuh magma yang lebih dalam ( ≥ 1 km),dan proses fraksinasi Kristal berlangsung sehingga terbentuk mineral – mineral yang berukuran besar yang bertindak sebagai fenokris, kemudian seiring bergeraknya magma naik ke permukaan juga terbentuk mineral – mineral dengan ukuran yang lebih kecil pada kedalaman yang lebih dangkal yang kemudian bertindak sebagai masa dasar Kristal. Hadirnya beberapa mineral opak pada sayatan tipis mengindikasikan adanya proses – proses Alterasi baik kerena proses pelapukan ataupun karena proses hydrothermal pada intrusi Andesit porfiri.
Kata kunci — Petrografi, Batuan intrusi, Andesit, Godean
Abstract — Indonesia, volcanoes and the results of its activities in the form of volcanic rocks spread abundant both on land and at sea. In Sumberagung Village, Moyudan Sub-district, Sleman Regency, Special Province of Yogyakarta, there is also a spreading of intrusive rock forming small hills, which are thought to be the remains or former ancient volcanoes. Geomorphology of the research area is divided into denudational hills and fluvial weak corrugated units. Stratigraphy research areas of the oldest of youth can be sorted starting from the tuffeous silica, Andesite porphyry intrusion, Dasit illite - smektite intrusion, Basal intrusion and sediment of mountain products of Merapi. From petrographic data on porphyry Andesite intrusion can be summed up as a shallow intrusion (epizonal intrusion) with a depth of ± 1 km, its presence tends to be discordant, with rock body temperature ± 450 ° c where in the early stages the minerals form slowly on the magma body which is deeper (≥ 1 km), and the crystalline fractionation process takes place to form large minerals that act as phenochris, then as magma moves up the surface also form minerals of smaller size at shallower depths then acting as the base of the Crystal. The presence of some opaque minerals on thin incisions indicates the existence of Alteration processes either because of weathering processes or due to hydrothermal processes in porphyry Andesite intrusion.
Keywords —Petrographic, Intrusif rock, Andesite, Godean
PENDAHULUAN1
Indonesia, gunung api dan hasil kegiatannya yang berupa batuan gunung api tersebar melimpah baik di darat maupun di laut. Berdasarkan umur geologi, kegiatan gunung api di Indonesia paling
Seminar Tipe 1A | STTNAS 2016 2
yang tertarik untuk mempelajari ilmu gunung api atau vulkanologi. Hal itu tentunya tidak terlepas dari
pengaruh pendidikan dasar geologi yang
diperolehnya serta atmosfer penelitian yang masih kurang mendukung (Bronto, 2003a; Bronto drr., 2004a). Sehingga, meskipun wilayah Indonesia mempunyai banyak gunung api dan batuannya tersebar luas, sementara tidak banyak ahli geologi yang mendalaminya, maka dapat dikatakan bahwa kita tidak menjadi pakar di daerahnya sendiri. Padahal, apabila lingkungan geologi (gunung api) dapat benar-benar dipahami, maka hal itu akan menjadi modal dasar untuk memanfaatkan potensi
sumber daya alam yang ada ataupun
penanggulangan terhadap bencana yang mungkin ditimbulkannya.
Pada Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, juga terdapat sebaran dari batuan beku intrusi yang membentuk perbukitan kecil, yang diduga merupakan sisa atau bekas gunung api purba.
Lokasi penelitian berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terletak 15 km dari kota Yogyakarta, Perjalanan ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh kurang lebih 40 menit.
Gambar 1. Lokasi penelitian yang berada pada desa Sumberagung, kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
GEOLOGI REGIONAL
2Perbukitan godean dan sekitarnya termasuk bagian dari pegunungan kulonprogo (Rahardjo dkk., 1977). Bentang alam pegunungan kulonprogo membentuk struktur kubah agak lonjong (oblong dome) (van Bemmelen, 1949). Sumbu panjang kubah kulonprogo itu berarah utara tumurlaut- selatan baratdaya sepanjang 32 kilometer dan sumbu pendeknya berarh barat baratlaut- timut timur tenggara sepanjang 15 – 20 kilometer.
Gambar 2 Fisiografi pegunungan Kulon Progo dan sekitarnya (van Bemmelen, 1949 dalam Budiadi, 2008 dengan modifikasi).
Perbukitan Godean tersusun oleh batuan yang dikelompokkan ke dalam Formasi Nanggulan, Formasi Andesit Tua, dan batuan terobosan andesit serta diorit. Sementara itu bentang alam dataran di sekelilingnya tersusun oleh endapan alluvium Gunung api Merapi Muda. Sebagai bagian dari Formasi Nanggulan, (Bakar 1995) melaporkan adanya batupasir lanauan yang terletak di lereng timur Gunung Wungkal. Batuan ini dalam keadaan segar berwarna putih kekuningan, sedang yang lapuk kuning kecoklatan, bertekstur klastika, berstruktur berlapis, ukuran butir pasir halus sampai lanau, dengan komposisi mineral lempung, kuarsa, dan mineral opak. Fosil foraminifera plangton yang ditemukannya dalam spesies Globigerina yeguaensis dan Globorotalia increbescens. Berdasarkan kompilasi Blow (1969) dan Postuma (1971) fosil tersebut berumur Eosen Tengah (P13) sampai Oligosen Tengah (P19).
Seminar Tipe 1A | STTNAS 2016 3 abu-abu, sedang yang lapuk kuning kecoklatan,
tekstur holokristalin porfiritik, fenokris plagioklas andesine (55 %), piroksen (18-25 %), kuarsa (6-8 %), klorit (12-18 %) dan mineral opak ( 2 %). Berdasarkan klasifikasi Travis (1955) batuan beku tersebut dinamakan andesit piroksen. Dasit ditemukan sebagai penyusun Gunung Wungkal di Godean. Singkapan segar dijumpai pada lereng timur bagian utara Gunung Wungkal. Dalam keadaan segar dasit itu berwarna abu-abu cerah, sedang yang lapuk kuning kecoklatan, bertekstur porfiritik dan struktur massif. Berdasarkan hasil pengamatan petrografi tekstur holokristalin porfiritik afanitik. Mineral sulung terdiri atas plagioklas jenis andesine ( 30 – 38 %): sanidin (25 – 27 %): kuarsa ( 20 – 22 %): mineral ubahan klorit ( 13 – 20 %): karbonat ( 2 %) dan mineral opak ( 1 – 2 %), mengacu pada klasifikasi Travis, 1955 disebut dasit porfiri. Kemudian didasarkan atas dijumpainya xenolith fragmen andesit di dalam dasit, maka disimpulkan bahwa umur dasit ini lebih muda daripada andesit.
Endapan Gunung api Merapi Muda terdiri dari tuf, abu, breksi, aglomerat dan leleran lava tak terpisahkan. Hasil rombakannya membentuk material lepas di lereng bagian bawah dan dataran yang meluas ke sebelah selatan berupa endapan alluvium.
Gambar 3. Peta geologi regional daerah godean dan sekitarnya, dengan kotak merah sebagai area fokus penelitian (Peta geologi regional lembar Yogyakarta, Rahardjo, dkk., 1977).
METODE PENELITIAN3
Dalam menjawab permasalahan yang ada, penelitian ini menggunakan metode penelitian geologi gunung api yang secara umum dibagi menjadi tiga metode yaitu metode pengambilan contoh batuan dilapangan, metode analisis contoh batuan di laboratorium dan metode analisis di studio. Kerangka pikir yang dikembangkan untuk menyelesaikan permasalahan dapat dilihat pada gambar 4.
Gambar 4. Kerangka Pikir Penelitian.
HASIL PENELITIAN4
Geologi Gunung Jering dan Sekitarnya
Geomorfologi Gunung Jering berupa
Perbukitan denudasional dengan luasan ± 40 % dari keseluruhan daerah penelitian, Perbukitan tersebut membentang dengan arah baratlaut – tenggara dengan beda tinggi dengan dataran di sekitarnya 34 meter, berlereng terjal dengan sudut lereng ± 51° dan elevasi ± 200 meter di atas permukaan laut sementara sekelilingnya berupa dataran bergelobang lemah fluvial, mempunyai ketinggian lebih kurang 120 meter di atas permukaan laut, dengan luasan ± 60% dari keseluruhan daerah penelitian. Gunung Jering dan sekitarnya tersusun atas litologi dengan urutan dari yang paling tua ke muda yaitu Tuf tersilika, Andesit porfiri, Dasit terubah illite-smektite, dan Basal.
Seminar Tipe 1A | STTNAS 2016 4 Gambar 6. Penampang peta geologi G. Jerinng dan sekitarnya
Tuf tersilika menunjukkan kenampakan lapangan berwarna merah kecoklatan, dengan ukuran buitr berupa abu, telah terubah atau tersilikakan dengan jurus dan kemiringin N242°E/22°. Batuan ini diperkirakan menjadi batuan atap atau roof pendant dari pada batuan intrusi yang terdapat pada daerah penelitian. batuan ini tersingkap pada lereng sisi timur dan utara dari gunung Jering.
Gambar 7. Singkapan tuf tersilika pada lereng sisi utara dari g. Jering (a) koordinat X 0420686 – Y 9144111. Singakapan tuf tersilika pada lereng sisi timur dari g. Jering (b), koordinat X 420533 – Y 9144144.
Andesit porfiri di lapangan berwarna lapuk putih kekuningan dengan warna segar abu – abu cerah, bertekstur porfiri dengan fenokris terdiri atas mineral plagioklas berukuran 1 – 5 mm, dengan kelimpahan 20 – 30 % dan mineral amfibol berukuran 0.5 – 1 mm, dengan kelimapahan 5 – 10 %. Kedua fenokris tersebut tertanam dalam masa dasar yang afanit. Dijumpai adanya struktur speroidal weathering. Litologi ini tersingkap pada lereng sisi timur, utara, dan selatan dari gunung Jering.
Gambar 8. Kenampakan singkapan Andesit porfiri pada lereng sisi timur dari G. Jering, koordinat X 0420429 – Y 9144403 (a). Kanampakan contoh setangan Andesit porfiri (b).
Dasit Terubah illit - smektit menunjukkan kenampakan lapangan berwarna abu – abu cerah hingga putih, bertekstur porfiritik dengan fenokris berupa mineral kuarsa, yang tertanam dalam masa dasar berupa mineral - mineral sekunder (Illit dan smektite ) yang afanit. Satuan batuan ini menerobos Satuan Batuan Tuf Tersilika, yang dibuktikan dengan adanya efek bakar pada satuan tuf tersilika yang kontak dengan batuan intrusi serta hadirnya xenolith dari pada batuan tuf tersilika di dalam batuan intrusi dasit terubah illite - smektite.
Gambar 9. Kenampakan singakapan batuan intrusi dasit terubah illit – smektite pada lereng sisi utara dari g. Gede, koordinat X 0420524 – Y 9144144 (a),. Kenampakan contoh setangan batuan intrusi dasit terubah illite – smektite (b) mineral kuarsa hadir sebagai fenokris (Q) yang tertanam dalam masa dasar mineral mineral sekunder berupa mineral illite (i) dan smektite (s).
Gambar 10. Kenampakan batas kontak antara tuf tersilika (TT) dengan dasit terubah (DT) yang ditandai dengan adanya kenampakan efek bakar (EB) pada batas kontak, koordinat X 0420529 – Y 9144213 (a). Kenampakan hadirnya xenolith dari pada tuf tersilika pada tubuh batuan dasit terubah, koordinat X 0420566 – Y 9144094 (b).
Basal secara kenampakan lapangan berwarna lapuk coklat tua dengan warna segar abu – abu sangat gelap, bertekstur afanitik, strktur pejal. dijumpai adanya struktur speroidal weathering. Satuan ini memiliki dimensi kira – kira 50 meter, dan menerobos Dasit Terubah illit - smektit (Gambar 11).
Seminar Tipe 1A | STTNAS 2016 5 Gambar 11. Kenampakan singkapan Basal (IB) yang
menerobos Dasit terubah illite – smektite , koordinat X 0420522
– Y 9144052 (a). Kenampakan contoh setangan batuan Basal (b).
Petrografi batuan Andesit porfiri
Lokasi pengambilan sample untuk analisis petrografi berada bada lereng sisi timur dari gunung Jering dengan koordinat X 0420464, Y 9144339 yaitu pada batuan andesit porfiri dengan kenampakan megaskopis yaitu berwarna lapuk putih kekuningan dengan warna segar abu – abu cerah, bertekstur porfiri dengan fenokris terdiri atas mineral plagioklas berukuran 1 – 5 mm, dengan kelimpahan 20 – 30 % dan mineral amfibol.
Gambar 12. Kenampakan megaskopis contoh setangan dari batuan intrusi Andesit porfiri.
Pada pengamatan secara mikroskopis di bawah mikroskop menunjukkan beberapa tekstur yang dijumpai diantaranya yaitu :
Tekstur Porfiritik (firik) Berupa adanya kenampakan mineral – mineral besar berukran 0.1 mm hingga 1 mm yang terdiri dari mineral sanidin, plagioklas, hornblende, biotit, dan mineral aksesoris berupa magnetit, yang tertanam dalam masa dasar kristal dengan ukuran yang lebih halus.
Tekstur zoning berosilasi atau Oscillatory Zoning, terlihat pada mineral plagioklas jenis andesine (kotak kuning) dengan ukuran ± 2 mm, sebagai fenokris yang saling tumbuh dengan mineral sanidin.
Gambar .13. Kenampakan tekstur Oscillatory zoning pada mineral plagioklas pada posisi XPL (gambar kiri), dan kenampakan zooming tekstur Oscillatory zoning (garis merah, gambar kanan).
Kenampakan tekstur corona atau reaksi tepi terlihat pada tepian dari mineral plagioklas jenis andesine dan juga mineral sanidin yang saling tumbuh. Diameter tekstur corona ± 0,1 mm. Ingklusi
terlihat pada tengah tengah mineral plagioklas
jenis andesine dan juga pada mineral sanidin,
dimana mineral yang meng iklusi berupa
mineral spinel yang berukuran ± 0,1 mm, pada
posisi ppl nampak berwarna bening, dan pda
posisi XPL berwarna gelap, memiliki relief
sedang dengan bentuk subhedral hingga
anhedral.
Gambar 14. Kenampakan tekstur corona pada posisi PPL (kiri) dan Kenampakan tekstur ingklusi mineral spinel pada andesine dan sanidin pada posisi XPL (kanan).
Mineral – mineral yang dijumpai dari hasil pengamatan mikroskopis adalah sebagai berikut :
Plagioklas Feldspar ( Andesin An 44 (Ca0,9Na1,2)2Al2Si3O8)
Seminar Tipe 1A | STTNAS 2016 6 Hornblende (Ca2(Mg,Fe,Al)5(OH)2[(Si,Al)4O11]2))
Kehadiran mineral hornblende pada sayatan batuan mencapai 20 % dari total seluruh mineral, dan hadir sebagai fenokris dengan warna coklat kehijauan dengan bias rangkap sedang ornde ke dua, bentuk mineral secara umum subhedral prismatic, dengan ukuran yang bervariasi mulai dari 0,3 mm hingga 1 mm, relief sedang dengan pleokroisme yang kuat, indeks bias mineral > n balsam dengan belahan berupa garis lurus satu arah yang diduga tersayat umum subhedral memiliki warna coklat kekuningan, coklat kemerahan, , relief sedang dengan Pleokroisme yang kuat, indeks bias mineral > n balsam, belahan sempurna 1(satu) arah. Memiliki birefringence kuat, coklat kekuningan orde kedua, maupun hadir sebagai masa dasar dalam ukuran Kristal yang lebih halus yaitu ≤ 0,1 mm, dengan betuk yang tidak teratur sehingga sangat sulit untuk diamati.
Sanidin ((K,Na)AlSi3O8)
Persentase kehadiran mineral ini sekitar 10 % dan hadir sebagai fenokris dengan ukuran yang beragam mulai dari 0,3 mm hingga 2 mm, dengan bentuk Kristal secara umur subherdal prismatik, tak berwarna hingga berwarna putih, dengan relief yang rendah hingga sedang, dan memiliki kembaran jenis kalsbar, dan sudut pemadaman yang parallel.
Magnetit (Fe2O4)
Merupakan mineral aksesoris yang dijumpai memiliki warna yang gelap, (kedap cahaya) dengan relief yang tinggi, dengan bentuk anhedral, tidak memiliki pleokroisme, dengan kelimpahan sebesar 8 %.
Spinel MgAl2O4
Mineral ini ditemukan sebagai ingklusi di dalam fenokris mineral plagioklas jenis andesine dan juga sanidin yang saling tumbuh, mineral ini teramati pada posisi PPL tidak berwarna hingga putih dan pada posisi XPL berwarna gelap, dengan bentuk yang subhedral hingga anhedral dengan ukuran rata – rata 0,1 mm . mineral ini hadir dalam persentase 2 %.
Gambar 15. Kenampakan mineral – mineral yang teramati, pada posisi XPL. Mineral sanidin (1), plagioklas jenis andesine (2), hornblende (3), biotit (4), magnetit (5), dan mineral spinel (6).
PEMBAHASAN5
Secara umum batuan yang menyusun daerah penelitian merupakan batuan asal gunung api berupa batuan intrusi yang terdiri dari batuan intrusi Andesit porfiri, batuan intrusi dasit terubah illite – smektite,dan batuan intrusi basal, serta batuan piroklastika berupa tuf tersilika yang keseluruhanya secara umum berumur tersier, yang kemudian dilingkupi oleh endapan material produk gunung merapi berumur kuarter.
Dari hasil pengamatan petrografi pada batuan intrusi andesit porfiri ditemukan beberapa tekstur khsus yang dapat menceritakan petrogenesa dari batuan intrusi andesit porfiri seperti tekstur porfiri (firik) merupakan tekstur khusus pada batuan beku yang terbentuk akibat adanya perbedaan ukuran kristal mineral yang menyusun suatu batuan beku. Dalam tekstur khusus ini dikenal 2 terminologi yaitu fenokris (mineral dengan ukuran lebih besar) dan masa dasar (penyusun batuan dengan ukuran lebih kecil). Tekstur ini terbentuk akibat adanya kristalisasi magma yang terjadi padadua kondisi berbeda. Fenokris akan cenderung terbentuk terlebi dahulu ketika magma masih mengalami pendinginan relatif lambat,lalu saat magma bergerak naik, suhu sekitar membuat magma mendingin lebih cepat sehingga akan terbentuk kristal berukuran relatif lebih kecil dari pada kristal yang terbentuk terlebih dahulu. Tekstur Zoning adalah fitur dari kristal di mana adanya zona pertumbuhan yang berbeda, dari kristal memiliki komposisi yang berbeda. Zonasi
kimia menelusuri garis kristal selama
Seminar Tipe 1A | STTNAS 2016 7
mineral milik solusi seri padat yang mengkristal dengan komposisi yang berbeda pada temperatur yang berbeda (dan / atau tekanan). Hal ini juga menunjukkan ketidakseimbangan karena untuk zona kimia harus dipertahankan difusi kimia harus cukup terhambat untuk mencegah homogenisasi komposisi kristal. Biasanya zonasi kimia menunjukkan tingkat pendinginan yang lebih tinggi. Zonasi berosilasi adalah bentuk zonasi kimia di mana zona kimia berosilasi secara rutin melalui kristal. Zona kimia berulang pada jarak yang teratur di zonasi osilasi,. Zonasi kimia menunjukkan pengulangan dengan spasi yang tidak teratur, kadang-kadang dibedakan dengan beberapa zonasi jangka. Zonasi osilasi biasanya terjadi karena pertumbuhan kristal dalam arus konveksi dalam tubuh magma sehingga sirkulasi menyebabkan perubahan dalam suhu dan dan tekanan, yang berarti adanya proses fraksinasi kristal yang berlangsung pada tubuh magma.
Gambar 16. (a) Proporsi relatif dari meleleh ke kristal pada setiap tahap kristalisasi dapat dihitung dengan menggunakan
Peraturan Lever. (b) kristalisasi pecahan dalam system yang sama. (Robin gill, 1994).
Tekstur corona sering timbul karena reaksi antara kristal host dan bahan sekitarnya untuk menghasilkan fase mantling, namun, beberapa tekstur korona juga timbul dengan pertumbuhan epitaxial melibatkan nukleasi fase mantling pada kristal tanpa reaksi. Bukti untuk reaksi di tekstur corona termasuk embayments atau pembulatan dari kristal host, atau rims berlapis-lapis yang terdiri dari beberapa tahapan muncul secara berurutan dengan jarak dari kristal.
Berdasarkan data yang diperoleh baik berasal secara petrologi maupun secara petrografi, pada daerah penelitian merupakan batuan – batuan intrusi dangkal atau epizonal intrusion yang menurut Buddington (1959) memiliki kisaran kedalaman
kurang dari 1 km. Kehadirannya cenderung diskordant (memotong batuan disekitarnya), dengan suhu tubuh batuan ± 450°c (gambar 5.18), dimana awal nya mineral terbentuk secara perlahan pada tubuh magma yang lebih dalam ( ≥ 1 km),dan proses fraksinasi kristal (gambar 5.17) berlangsung sehingga terbentuk mineral – mineral yang berukuran besar yang bertindak sebagai fenokris, kemudian seiring bergeraknya magma naik ke permukaan juga terbentuk mineral – mineral dengan ukuran yang lebih kecil pada kedalaman yang lebih dangkal yang kemudian bertindak sebagai masa dasar Kristal.
Gambar 17. Ilustrasi proses fraksinasi kristalisasi pada dapur
magma (Tarbuck & Lutgens, 2004).
KESIMPULAN6
Seminar Tipe 1A | STTNAS 2016 8 DAFTAR PUSTAKA7
Asikin, S., 1982, Geologi Struktur Indonesia, Lab. Geologi Dinamis – Geologi ITB, Bandung.
Borisova, A.Y., Martel, C., Gouy, S., Pratomo, I., Sumarti, S., Toutain, J., Bindeman, I.N., Parseval, P., Metaxian, J.P., Surono, 2013, Highly explosive 2010 Merapi eruption: Evidence for shallow-level crustal assimilation and hybrid fluid, Journal of Volcanology and Geothermal Research 261 (2013) 193–208.
Bronto, dkk., 2014, Longsoran Raksasa Gunung Api Merapi Yogyakarta- Jawa Tengah, Jurnal Geologi Sumberdaya Mineral, Vol. 15 No.4 November 2014: 165-183.
Bronto, S., 2013, Geologi Gunung Api Purba, Badan Geologi, Bandung.
Gill, R., 2010, Igneous Rocks and Processes A Partical Guide, WILLEY-BLACKWELL Ltd, Publication, UK, ISBN : 978-1-4443-3065-6.
Hartono, G., 2009, Petrologi Batuan Beku dan Gunung Api, 104h, Unpad Press, Bandung.
Hartono, G., 2010, Petrologi Batuan Beku dan Gunung Api, UNPAD Press. Bandung, ISBN: 978-602-8743-07-5. 116 hal. Rahardjo, W., Sukandarrumidi dan Rosidi, H.M.D.,
1977, Peta Geologi Lembar Yogyakarta, skala 1:100.000, Direktorat P3G, Bandung.