• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci : Karakteristik vulkanisasi, kompon karet, pegangan setang,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kata kunci : Karakteristik vulkanisasi, kompon karet, pegangan setang,"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

THE INFLUENCE PARTICLE SIZE RICE HUSKS ASH AND ANTIOXIDANT TO VULCANIZATION CHARACTERISTIC OF COMPOUND GRIP HANDLE MOTOR

VEHICLE

Hari Adi Prasetya

Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri, Kementerian Perindustrian RI e-mail : [email protected]

ABSTRACT

The objectives of this research were to study the effect of particle size fillers of

rice husk ash and antioxidants from rice husk to the grip handle motor vehicle

compound vulcanization characteristics. The research was designed as factorial

Completely Randomized Design, and each combination of the treatment was

repeated three times. The first factor was the rice husk ash particle size (100 mesh,

200 mesh, 300 mesh and 400 mesh) and the second factor of the antioxidant phenol

concentration (0.5 phr, 1 phr and 1.5 phr). The parameters were scorch time,

optimum vulcanization time and torsion modulus. The results showed that all the

treatments and their interactions have a significant influence on the vulcanization

characteristics of compound grip handle. The best treatment is a combination handle

grip compound treatment A3F3 (rice husk ash size of 300 mesh size and 1.5 phr of

antioxidant phenols), the vulcanization characteristics scorch time by 1,34 minutes,

the optimum vulcanization time of 1.01 minutes and torsion modulus 10,37 kg.cm.

(2)

PENGARUH UKURAN PARTIKEL ABU SEKAM PADI DAN ANTIOKSIDAN TERHADAP KARAKTERISTIK VULKANISASI KOMPON PEGANGAN SETANG

KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA

Hari Adi Prasetya

Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri, Kementerian Perindustrian RI e-mail : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran partikel bahan

pengisi abu sekam padi dan antioksidan dari sekam padi terhadap karakteristik

vulkanisasi kompon pegangan setang. Rancangan yang digunakan pada penelitian

ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial, setiap perlakuan diulang 3

(tiga) kali. Faktor pertama adalah ukuran partikel abu sekam padi (100 mesh, 200

mesh, 300 mesh dan 400 mesh) dan faktor kedua konsentrasi antioksidan fenol (0,5

phr, 1 phr dan 1,5 phr). Parameter yang diamati meliputi waktu scorch, waktu

vulkanisasi optimum dan modulus torsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua

perlakuan dan interaksinya mempunyai pengaruh yang nyata pada karakteristik

vulkanisasi kompon pegangan setang. Perlakuan terbaik kompon pegangan setang

adalah kombinasi perlakuan A3F3 (campuran ukuran abu sekam padi ukuran 300

mesh dan antioksidan fenol 1,5 phr), dengan karakteristik vulkanisasi waktu scorch

sebesar 1,34 menit, waktu vulkanisasi optimum sebesar 1,01 menit dan modulus

torsi 10,37 kg.cm.

(3)

PENDAHULUAN

Tahapan proses dalam industri barang jadi karet sebagai upaya memperbaiki

kelemahan karet, meliputi pencampuran, pembentukan kemudian vulkanisasi.

Pencampuran dimulai dengan mastikasi (pelunakan), kemudian ditambahkan

bahan-bahan penyusun kompon dengan jenis dan jumlah tertentu sesuai kemampuan

proses, ketersediaan biaya dan sifat fisik akhir vulkanisat yang diinginkan (Rihayat,

2007; Chuayjuljit et al., 2001). Vulkanisasi adalah proses pembentukan ikatan silang

(cross-linking) kimia dari rantai molekul yang berdiri sendiri, meningkatkan elastisitas

dan menurunkan plastisitas. Reaksi ini dapat terjadi jika di dalam molekul-molekul

karet berkontak dengan bahan-bahan tertentu. Proses vulkanisasi merupakan proses

terjadinya reaksi kimia antara molekul karet dengan bahan pemvulkanis (vulcanizing

agent) dengan bantuan bahan pencepat (accelerator) dan bahan penggiat (activator)

membentuk ikatan silang dengan struktur jaringan tiga dimensi dan akan terjadi

perubahan sifat karet dari plastis menjadi elastis. Sebelum proses vulkanisasi,

biasanya kompon karet diuji kematangannya (curing) dengan menggunakan

rheometer. Rheografnya diperoleh pada suhu tertentu dan menunjukkan juga bahwa

reaksi vulkanisasi ini berlangsung dengan waktu tertentu. Rheograf ini biasanya

digunakan sebagai acuan untuk suhu dan waktu vulkanisasi produk (Hasan et al,

2012).

Karakteristik vulkanisasi dan sifat fisik vulkanisat karet dipengaruhi oleh sistem

vulkanisasi dan bound rubber. Pertama, sistem vulkanisasi karet termasuk di

dalamnya rancangan formula karet, menghasilkan jenis dan jumlah ikatan silang total

(total crosslink density) monosulfida, disulfida, dan/atau polisulfida, dimana

ikatan-ikatan ini sangat berhubungan dengan sifat fisik vulkanisat karet (Fath, 1993) dan

karakteristik vulkanisasinya. Ikatan silang merupakan ikatan yang menghubungkan

diantara rantai molekul karet melalui jembatan belerang. Pembentukan ikatan silang

dapat diamati melalui peningkatan nilai torsi sebagai fungsi waktu dan suhu

vulkanisasi. Ikatan silang yang terbentuk adalah sebanding dengan torsi dan

diperoleh dari rheograf yang diamati dengan menggunakan rheometer. Ikatan silang

yang terbentuk menyebabkan peningkatan pada elastisitas karet (prinsip vulkanisasi

(4)

Penggunaan bahan pengisi pada kompon karet mempengaruhi karakteristik

vulkanisasi. Bahan pengisi dapat dicampurkan lebih awal pada proses mastikasi dan

penggilingan karet, dilakukan dengan cara mempersingkat waktu mastikasi karet,

atau dapat juga dilakukan dengan metode mencampurkan bahan pengisi tersebut

setelah proses mastikasi dan selanjutnya diikuti dengan pencampuran bahan kimia

ke dalam karet. Ukuran partikel kecil menyebabkan dispersi bahan pengisi di dalam

karet menjadi lebih mudah. Selain itu, viskositas karet rendah dan panas yang

dihasilkan oleh gesekan antara karet dan gilingan, bahan pengisi, dan antar molekul

karet, berpengaruh terhadap karakterisitik vulkanisat yang dihasilkan. Luas

permukaan lebih besar dan dispersi dari bahan pengisi semakin baik menyebabkan

pembentukan bound rubber meningkat dan proses urutan pencampuran seperti ini

sangat berhubungan dengan peningkatan sifat fisik pada vulkanisat karet.

Antioksidan berfungsi melindungi karet terhadap suhu tinggi, sinar matahari,

kerusakan karena oksigen dan ozon di udara, keretakan dan kelenturan, serta

ion-ion prooksidan, yaitu ion-ion tembaga, ion-ion mangan atau ion-ion besi (Haris, 2004). Selain itu

antioksidan dapat memberikan perlindungan terhadap degradasi yang padat di

dalam kondisi-kondisi operasi dinamis dan statis, melawan degradasi katalitis oleh

tembaga dan logam berat lainnya, antiozonant dan antioksidan kuat pada temperatur

tinggi dan tahan retak lentur pada campuran karet serta memberi perlindungan ozon

dan perlawanan jangka panjang lebih baik.

Karet pegangan setang sepeda motor (grip handle) merupakan salah satu

bentuk diversifikasi produk barang jadi karet. Dalam penggunaannya sering

mengalami keretakan atau pecah akibat panas matahari dan pengaruh ozon

sehingga terjadi pengusangan. Pengusangan akan mempengaruhi ketahanan fisik

karet pegangan setang sepeda motor, akibatnya akan mempengaruhi lama

pemakaian. Penggunaan antioksidan dari fenol sekam padi merupakan salah satu

usaha untuk substitusi impor antioksidan serta meningkatkan mutu barang jadi karet.

Selain itu fenol dari sekam padi sebagai bahan alami alternatif pengganti antioksidan

sintetis yang tidak bersifat degradable.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana ukuran partikel abu

sekam padi dan konsentrasi fenol sekam padi akan berpengaruh terhadap

(5)

kompon tetap elastis selama pengangkutan, pemakaian maupun dalam

penyimpanan.

METODE PENELITIAN Bahan dan Alat

Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah SIR 20,

N-Butadiena rubber (NBR), Minarex oil, sulfur, ZnO, asam stearat,

N-Cyclohexyl-2-benzothiazylsulfenamide (CBS), caumaron resin, Mercaptodithiobenzothiazol

(MBTS), Tetramethylthiuram disulfide (TMTD), dietylen glikol, n-hexane, metanol,

kloroform, abu sekam padi dan fenol sekam padi.

Alat

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah timbangan metler p1210

kapasitas 1200 g, timbangan duduk merek Berkel kapasitas 15 kg, open mill L 40 cm

D18 cm kapasitas 1 kg, cutting scraf besar, alat press, cetakan sheet, autoclave,

glassware, peralatan ekstraksi dan gunting.

Rancangan Percobaan

Faktor yang dipelajari pada penelitian ini meliputi pengaruh bahan pengisi abu

sekam padi secara kombinasi dengan antioksidan fenol dari sekam padi untuk

pembuatan kompon karet. Konsentrasi abu sekam padi yang digunakan adalah 45

phr. Adapun kombinasi perlakuan sebagai berikut :

Faktor pertama ukuran partikel abu sekam padi :

A1 = ukuran 100 mesh

A2 = ukuran 200 mesh

A3 = ukuran 300 mesh

A4 = ukuran 400 mesh

Faktor kedua konsentrasi antioksidan fenol :

F1 = konsentrasi 0,5 phr

F2 = konsentrasi 1 phr

F3 = konsentrasi 1,5 phr

(6)

Prosedur Pembuatan abu Sekam Padi

Sekam padi yang telah dicuci dikeringkan, ditimbang 500 g masukkan ke

dalam cawan, lalu dibakar pada suhu 350 oC menggunakan tanur selama 24 jam.

Pengabuan dilanjutkan lagi pada suhu 700 oC selama 48 jam. Abu sekam padi yang

diperoleh didinginkan dalam desikator, selanjutnya dihaluskan sesuai ukuran pada

rancangan percobaan.

Pembuatan antioksidan fenol dari sekam padi dengan proses ekstraksi

Sekam padi dibersihkan dan dihaluskan kemudian diayak menggunakan

ayakan 50 mesh, sebanyak 25 g sampel dibungkus kertas filter dimasukkan dalam

tabung soxhlet kemudian dilakukan proses ekstraksi. Sampel pertama kali

diekstraksi dengan n-heksana untuk menghilangkan minyak dari sekam. Selanjutnya

diekstraksi dengan 1 : 1 campuran kloroform dan metanol. Setelah ekstraksi selesai,

residu disaring menggunakan kertas whatman No. 40. Metanol dan kloroform

dihilangkan dengan cara diuapkan pada suhu 80 0C.

Prosedur Pembuatan Kompon Karet

Pembuatan kompon dilakukan dengan menimbang semua bahan-bahan

sesuai dengan formulasi, kemudian dengan menggunakan alat two roll mill,

dilakukan penggilingan, mula-mula karet SIR 20 digiling sampai plastis, kemudian

tambahkan karet sintetis NBR, digiling sampai plastis dan tercampur sempurna

dengan karet SIR 20. Kemudian berturut-turut tambahkan asam stearat, ZnO, abu

sekam padi (sesuai rancangan percobaan) sampai homogen, kemudian tambahkan

CBS, TMTD, MBTS, fenol, caumoron resin, minyak minarex sampai homogen,

terakhir ditambah sulfur dan digiling sampai homogen. Selama penggilingan

temperatur dipertahankan 70 + 5 0C, dan sebelum divulkanisasi kompon dikondisikan

dulu selama 24 jam. Sampel diambil untuk diuji karakteristik vulkanisasinya

menggunakan rheometer.

Peubah yang diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian ini meliputi parameter waktu scorch

(7)

HASIL DAN PEMBAHASAN Waktu Scorch (ts2) (menit)

Waktu scorch dilakukan untuk mengetahui waktu yang ditempuh kompon dari

awal pemanasan hingga awal vulkanisasi, atau disebut juga waktu induksi

(Wicaksono et al., 2004). Hasil pengujian waktu scorch kompon karet tertinggi

diperoleh pada perlakuan A1F3 (campuran ukuran abu sekam padi ukuran 100 mesh

dan antioksidan fenol 1,5 phr ), yaitu 4,07 menit dan hasil pengujian waktu scorch

kompon karet terendah diperoleh pada perlakuan A3F3 (campuran ukuran abu sekam

padi ukuran 300 mesh dan antioksidan fenol 1,5 phr), yaitu 1,34 menit. Hasil

pengujian waktu scorch kompon karet dapat dilihat pada Gambar 1.

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5

A1F1 A1F2 A1F3 A2F1 A2F2 A2F3 A3F1 A3F2 A3F3 A4F1 A4F2 A4F3

3.65 3.59 4.07 3.92 2.87 2.76 1.41 2.35 1.34 1.5 2.17 2.2 Kombinasi Perlakuan Wak tu S c or ch, meni t

Gambar 1. Pengaruh perlakuan bahan pengisi abu sekam padi dan antioksidan fenol dari sekam padi terhadap waktu scorch kompon karet.

Gambar 1 menunjukkan bahwa nilai waktu scorch tertinggi diperoleh pada

perlakuan A1F3 (campuran ukuran abu sekam padi ukuran 100 mesh dan

antioksidan fenol 1,5 phr) sebesar 4,07 menit. Waktu scorch yang semakin besar

menunjukkan kompon karet akan semakin matang. Waktu scorch merupakan

indikasi waktu yang diperlukan untuk proses awal pembentukan ikatan silang

molekul karet (Egwaikhide, 2013). Selain itu, adanya aktivitas karet terhadap bahan

(8)

alam mempunyai ikatan rangkap C dalam tiap unit monomernya, dengan adanya

pemanasan selama proses vulkanisasi dapat memutuskan rantai karbon karet,

sampai terbentuk monomer-monomer atau depolimerisasi (Schnabel, 1999).

Vulkanisasi merupakan proses irreversible (tidak dapat balik) yang menggabungkan

rantai-rantai molekul karet secara kimiawi dengan molekul belerang membentuk

ikatan tiga dimensi, sehingga karet mentah yang semula plastis setelah vulkanisasi

berubah menjadi elastis, kuat dan liat.

Waktu Vulkanisasi Optimum (tc90), menit

Waktu matang optimum (tc90) merupakan waktu yang diperlukan sejak awal

pemanasan untuk mematangkan kompon sampai kematangan optimum (Wicaksono

et al., 2004). Hasil pengujian waktu vulkanisasi optimum kompon karet terendah

diperoleh pada perlakuan A3F3 (campuran ukuran abu sekam padi ukuran 300 mesh

dan antioksidan fenol 1,5 phr ), yaitu 1,01 menit dan hasil pengujian waktu

vulkanisasi optimum (tc90) kompon karet tertinggi diperoleh pada perlakuan A1F1

(campuran ukuran abu sekam padi ukuran 100 mesh dan antioksidan fenol 0,5 phr),

yaitu 5,43 menit. Hasil pengujian waktu vulkanisasi optimum kompon karet dapat

dilihat pada Gambar 2.

(9)

Gambar 2 menunjukkan bahwa nilai waktu vulkanisasi optimum (tc90) terbaik

diperoleh pada perlakuan A3F3 (campuran ukuran abu sekam padi ukuran 300 mesh

dan antioksidan fenol 1,5 phr) sebesar 1,01 menit. Perlakuan panas cenderung

memecah unit-unit besar dan melunakkan molekul karet. Semakin tinggi suhu

vulkanisasi maka proses pemasakan kompon akan semakin cepat, dan mencapai

optimum pada suhu tertentu. Suhu vulkanisasi pada penelitian ini 140 0C, selain itu

pemasakan kompon karet juga dipengaruhi perbedaan viskositas campuran

bahan-bahan kimia yang ditambahkan. Perbedaan viskositas yang makin besar dapat

memperlambat pembentukan campuran yang homogen, akibatnya bahan-bahan

kimia yang digunakan tidak terdistribusi merata dalam campuran (Haghigat, 2007).

Modulus Torsi (t) (kg.cm)

Berlangsungnya proses vulkanisasi ditandai dengan meningkatnya modulus

torsi. Besarnya nilai modulus torsi dapat digunakan sebagai indikator banyaknya

ikatan silang yang terbentuk sebagai hasil vulkanisasi (Manna et al., 1997). Ikatan

silang yang terbentuk sebanding dengan angka modulus torsi dan diperoleh dari

rheograf yang diamati dengan menggunakan rheometer. Ikatan silang yang

terbentuk menyebabkan peningkatan pada elastisitas karet (Almosawi, 2013).

Hasil pengujian modulus torsi kompon karet tertinggi diperoleh pada

perlakuan A3F3 (campuran ukuran abu sekam padi ukuran 300 mesh dan

antioksidan fenol 1,5 phr ), yaitu 10,37 kg.cm dan hasil pengujian modulus torsi

kompon karet terendah diperoleh pada perlakuan A1F1 (campuran ukuran abu sekam

padi ukuran 100 mesh dan antioksidan fenol 0,5 phr), yaitu 5,91 kg.cm.

Hasil pengujian Modulus Torsi kompon karet dapat dilihat pada Gambar 3.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai modulus torsi terbaik diperoleh pada

perlakuan A3F3 (campuran ukuran abu sekam padi ukuran 300 mesh dan

antioksidan fenol 1,5 phr) sebesar 10,37 kg.cm. Modulus torsi yang tinggi akan

meningkatkan rapat ikatan silang karet dan menggambarkan kekuatan vulkanisat

yang baik (Honggokusumo, 2002). Rapat ikatan silang yang efektif selama proses

vulkanisasi sangat menentukan karakteristik fisik dan mekanik produk karet (Kahar,

2003). Perlakuan suhu 140 0C akan meningkatkan viskositas kompon akibatnya

(10)

sebagai bahan penguat dalam kompon karet sehingga meningkatkan viskositas.

Perlakuan suhu yang tinggi akan melunakkan karet sehingga viskositasnya lebih

rendah. Hal tersebut menyebabkan modulus torsi kompon karet lebih kecil

(Jovanovic et al, 2010).

Gambar 3. Pengaruh perlakuan bahan pengisi abu sekam padi dan antioksidan fenol dari sekam padi terhadap modulus torsi kompon karet.

KESIMPULAN

Ukuran partikel abu dan konsentrasi fenol sekam padi berpengaruh terhadap

karakteristik vulkanisasi kompon karet. Perlakuan terbaik kompon karet adalah

kombinasi perlakuan A3F3 (campuran ukuran abu sekam padi ukuran 300 mesh dan

antioksidan fenol 1,5 phr), dengan karakteristik vulkanisasi waktu scorch sebesar

1,34 menit, waktu vulkanisasi optimum sebesar 1,01 menit dan modulus torsi 10,37

kg.cm.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mosawi, Maamori, Mohammad and Ali, I. 2013. Effect of Shells Powder on Scorch and

Cure Time of Elastomer Material. American Journal of Materials Engineering and

(11)

Chuayjuljit, S, Eiumnoh, S, and Potiyaraj, P. 2001. Using Silica From Rice Husk As A

Reinforcing Filler in Natural Rubber. Journal of Science. Chula University, 26(2) :

127-138.

Egwaikhide, A.P, Okieimen, F. E, Lawal, U. Rheological and Mechanical Properties of

Natural Rubber Compounds Filled with Carbonized Palm Kernel Husk Andcarb on

Black (N330). 2013. Science Journal of Chemistry, 1(5): 50-55.

Haghighat, M., A., Khorasani, S.NM., Zadhoush. 2007. Filler–Rubber Interactions in A

Cellulose-Filled Styrene Butadiene Rubber Composites. Journal of Applied Polymer

Science, 10 :748 – 754.

Hasan, A, Rochmadi, Sulistyo, H, and Honggokusumo, S. 2012. The Effect Of Rubber

Mixing Process on The Curing Characteristics of Natural Rubber. Makara,

Teknologi. 16 (2) : 109-115.

Honggokusumo, S., Bahar, N. 2002. Penggunaan Lignin Termodifikasi sebagai Bahan

Pelunak Kompon Karet. Prosiding Simposium Nasional Polimer II.

Jovanović, O, Budinski-Simendić, J.B, Milić, J, Aroguz, A, Ristić, I, Slobodan, P dan Korugic

-Karasz, L. 2010. The Effect of Filler Particles on the Properties of Elastomeric

Materials Based on Different Network Precursors. Contemp Sci Polym Mater,

1061(12); 167-193.

Kahar, N. 2003. Rapat Ikatan Silang pada Karet Alam yang Divulkanisir. Teknologi

Indonesia Jilid VIII. No. 2.

Manna, A.K., P.P.De, D.K. Tripathy. 1997. Chemical Interaction between Surface

Oxidizided Carbon Black and Epoxidized Natural Rubber. Rubber Chemical

Technology. 70(4): 624-633.

Meon, W., Blume, A and Luginsland, H.D. 2004. Rubber Compounding, Chemistry and

Applications : Silica and Silanes. Marcel Dekker, Inc. New York P : 293:372

Omofuma FE, Adeniye, SA and Adeleke, AE. 2011. The Effect of Particle Sizes on the

Performance of Filler: A Case Study of Rice Husk and Wood Flour. World Appl. Sci.

J., 14 (9): 1347-1352.

Schnabel, W. 1999. Polymer Degradation: Principles and Practical Applications. Hanser

International. Macmillan Publishing Co., Inc. New York

Wicaksono, R. Sutardi dan Herminiwati. 2004. Pembuatan Karet Riklim dari Ban Bekas

dengan Microwave Ditinjau dari Karakteristik Vulkanisasi Kompon. Majalah Kulit,

Gambar

Gambar 1.  Pengaruh perlakuan bahan pengisi abu sekam padi dan antioksidan fenol dari sekam padi terhadap waktu scorch kompon karet
Gambar 2.  Pengaruh Perlakuan bahan pengisi abu sekam padi dan antioksidan fenol dari sekam padi terhadap waktu vulkanisasi optimum kompon karet
Gambar 3. Pengaruh  perlakuan bahan pengisi abu sekam padi dan antioksidan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap pengaruh pengisi Kalsium Karbonat dan waktu vulkanisasi terhadap kekuatan tarik dan swelling index filem lateks karet alam

Perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah kombinasi perlakuan P 2 W 1 (ukuran partikel arang aktif dari ampas tebu 150 mesh dan waktu vulkanisasi 20 menit dengan

Karakteristik Kompon Karet dengan Bahan Pengisi Arang Aktif.. Tempurung Kelapa dan Nano Silik

Penelitian ini menggunakan bahan pencepat TBBS yang menghasilkan laju reaksi paling cepat dan energi aktivasi paling rendah pada kompon dengan sistem vulkanisasi

Pemanfaatan arang cangkang sawit sebagai bahan isian akan dapat mengurangi biaya bahan baku pembuatan kompon sol karet cetak, selain itu permasalahan yang dihadapi saat

Pemanfaatan arang cangkang sawit sebagai bahan isian akan dapat mengurangi biaya bahan baku pembuatan kompon sol karet cetak, selain itu permasalahan yang dihadapi saat

Teknologi yang digunakan dalam pembuatan kompon karet dengan menggunakan bahan pengisi/ filler carbon black dan abu sabut kelapa yang tidak beresiko bagi

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tipe ADC sebagai bahan pengembang dalam formulasi karet selular berbasis karet alam dan bobot kompon karet yang akan diproses vulkanisasi