• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sanubari Rela Tobat1 , M.Husni Muchtar2 , Rose Dinda Martini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sanubari Rela Tobat1 , M.Husni Muchtar2 , Rose Dinda Martini"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI ADR (ADVERSE DRUG REACTION) PADA PASIEN

GERIATRI di BAGIAN/SMF RAWAT INAP PENYAKIT DALAM RSUP.

DR.M.DJAMIL PADANG

Sanubari Rela Tobat1, M.Husni Muchtar2, Rose Dinda Martini3 1

Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis Padang. 2

Fakultas Farmasi Universitas Andalas 3

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

ABSTRACT

Medication toxic effects can profound the negative impact for patient safety, especially geriatric. Polypharmacy and increasing age have been identified as two important risk factors that caused this problems. Adverse Drug Reaction (ADR) have been shown to prevail in hospitalized patients, with a reported incidence rate as high as 25%. The prospective cross sectional study was perform in an internal medicine of Hospital RSUP.DR.M.Djamil Padang during 8 weeks of period between September and November 2011. The sampling technique was done by purposive sampling. Adverse drug reactions were evaluated by The Naranjo criteria. Result of this research were presented by descriptive data as a number of percentage of ADR cases. Our study revealed that the potential ADR were happened to 2 patients possibly caused by alprazolam, 2 pasients possibly caused by amlodipine and 1 patients possibly caused by ferrous sulfate. The prevalence ADR in geriatric in patients of internal medicine ward of Hospital RSUP.DR.M.Djamil Padang were different in number to those in other countries.

Keywords : Adverse Drugs Reaction, Naranjo criteria

PENDAHULUAN

Semua obat-obatan dapat menghasilkan efek samping yang tidak diinginkan atau

Adverse Drug Reaction (ADR). Pasien usia lanjut memiliki resiko lebih besar mengalami ADR. Hal ini terjadi karena peningkatan frekuensi penggunaan obat, dimana diketahui bahwa pasien usia lanjut sering menderita berbagai jenis penyakit sehingga mengharuskan mereka mengkonsumsi berbagai jenis obat. Pasien usia lanjut juga mengalami peningkatan sensitivitas terhadap efek obat serta adanya penyakit penyerta yang dapat meningkatkan frekuensi dan keparahan kejadian DRP (Drug Related Problem) terutama ADR (Wayne, et a.l,

1990; Goldberg, et al., 1996; Juurlink, et al.,

2003).

Untuk Indonesia sendiri, menurut laporan data hasil demografi penduduk Internasional

yang dikeluarkan oleh Bureau of the Cencus

USA pada tahun 1993 dilaporkan bahwa pada

tahun 1990-2025 Indonesia akan mengalami kenaikan populasi geriatri setinggi 414 %, suatu angka yang paling tinggi di dunia. Untuk

wilayah Sumatera Barat sendiri, jumlah populasi geriatri menurut Central Bereau of Statistic yang dicatat oleh Djuhari dan Anwar pada tahun 1994, total populasi adalah 291. 930 jiwa dari seluruh populasi penduduk yaitu 3.999.622 (Martono dan Pranaka, 2009).

Terkait belum pernah dilakukannya

penelitian ADR terhadap pasien geriatri di

Bagian/SMF Penyakit Dalam

RSUP.DR.M.Djamil Padang, maka dilakukanlah penelitian terkait permasalahan ini terhadap pasien geriatri yang dirawat di ruang rawat inap

Bagian/SMF Penyakit Dalam

RSUP.DR.M.Djamil Padang. Hasil dari

(2)

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian

Penelitian dilakukan dengan studi observasional cross sectional secara prospektif dengan teknik pegambilan sampel dilakukan secara purposive sampling.

Populasi dan Sampel Populasi

Populasi penelitian adalah pasien geriatri yang dirawat inap di Bagian/SMF Penyakit Dalam RSUP.DR.M.Djamil Padang selama 8 minggu pada bulan September – November 2010.

Sampel

Sampel penelitian adalah pasien geriatri yang dirawat inap di Bagian/SMF Penyakit Dalam RSUP.DR.M.Djamil Padang selama 8 minggu pada bulan September – November 2010 yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.

Kriteria Inklusi

1. Pasien usia

2. Menyetujui ikut penelitian.

Kriteria Ekslusi

1. Pasien stadium terminal atau pasien kritis.

2. Pasien yang pindah ke bagian/SMF lain. 3. Pasien yang tidak mendapat terapi farmakologis.

Variabel Penelitian

1. Variabel Bebas (independent) Riwayat Penyakit Pasien. 2. Variabel Tergantung (dependent)

- Jumlah dan persentase kejadian ADR

- Outcome klinis dari kejadian ADR 3. Variabel Terkendali

Pasien geriatri yang dirawat inap pada Bagian / SMF Penyakit Dalam RSUP. DR. M. Djamil Padang selama 8 minggu pada bulan September – November

2010 yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.

PROSEDUR PENELITIAN

Langkah Kerja

1. Semua penderita yang memenuhi syarat diikutkan dalam penelitian dan diminta persetujuan secara sukarela.

2. Dilakukan pengumpulan data berupa umur pasien, jenis kelamin, diagnosa, keadaan penyakit yang menyertai, riwayat medis, penggunaan obat pada pasien dan dosis. Angka laboratorium normal dari standar rumah sakit digunakan untuk menentukan adanya ketidaknormalan. Fungsi ginjal ditentukan dari klirens kreatinin (Cockroft dan Gault, 1976).

3. Identifikasi ADR berdasarkan Algoritma Naranjo.

Analisa Data dan Kesimpulan

Penyajian data berupa data kuantitatif yaitu berupa persentase kejadian ADR.

Limitasi Peneletian

limitasi dari penelitian ini adalah kemungkinan akan terdapat perbedaan respon ADR berdasarkan perbedaan ras yang diteliti, dimana akan terdapat perbedaan genomik diantara ras/suku bangsa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini diperoleh data bahwa persentase pasien geriatri berdasarkan jenis kelamin (n = 103) adalah pria 47,57 % (49 pasien) dan wanita 52, 42 % (54 pasien). Data ini memberikan gambaran tentang karakteristik populasi dan perbedaan persentase antara pria dan wanita, dimana persentase pasien wanita lebih tinggi dibandingkan pasien pria.

(3)

terbesar adalah mereka yang berusia 60 s/d 70 tahun. Hal ini terkait dengan usia harapan hidup yang lebih panjang dari pasien geriatri dalam beberapa dekade terakhir ini.

Pada penelitian studi identifikasi ADR berdasarkan Algoritma Naranjo selama 8 minggu pada bulan September s/d November 2010 terhadap pasien geriatri pada ruang rawat inap Bagian/SMF Penyakit Dalam RSUP.DR.M.Djamil Padang ini, ditemukan kejadian ADR (Adverse Drugs Reaction) / ROM (Reaksi Obat Merugikan), adalah 0,04 %. Dari total 103 pasien, terdapat 5 pasien yang mengalami ADR. Hal ini berbeda dengan penelitian sejenis sebelumnya, yaitu oleh Chang,

et al pada tahun 2001, dari keseluruhan 550 pasien diketahui 126 pasien (22,9%) yang mengalami ADR.

Kejadian ADR pada pasien geriatri di ruang rawat inap Bagian/SMF Penyakit Dalam RSUP.DR.M.Djamil Padang, dua kasus ADR terjadi setelah penggunaan alprazolam, dua kasus ADR terjadi terkait penggunaan amlodipin dan satu kasus ADR terjadi terkait penggunaan sulfa ferosus.

Pasien geriatri mengalami peningkatan sensitivitas terhadap efek obat serta adanya penyakit penyerta yang dapat meningkatkan frekuensi dan keparahan ADR. (Juurlink, et al.,

2003; Goldberg RM, et al., 1996 dan Wayne, et al., 1990). Tiga puluh persen dari pasien geriatri yang masuk rumah sakit kemungkinan disebabkan oleh ADR seperti depresi, konstipasi, kejadian jatuh, immobilitas, gangguan kesadaran dan fraktur tungkai sering terjadi pada pasien geriatri (Beers MH, 1997 dan Beers, et al., 1989).

Obat-obat tertentu memiliki resiko khusus terhadap pasien geriatri terkait dengan perubahan tersebut, contoh : golongan obat benzodiazepin, dimana lama kerja dan efek

sedasi dari obat ini akan lebih panjang pada pasien usia

tua, dan dapat meningkatkan resiko kejadian jatuh pada pasien tersebut, hal ini merupakan contoh bagaimana penggunaan obat dan peningkatan sensitivitas terhadap efek obat dapat menimbulkan resiko terjadinya cidera serius dan dapat membahayakan jiwa. Karena angka kejadian insomnia meningkat seiring dengan peningkatan usia, akan terjadi peningkatan penggunaan obat-obat golongan

sedatif pada pasien lanjut usia (Tinetti M, 2003 dan Q.R. Regestein, 1984.

Penggunaan alprazolam terhadap 9 orang pasien geriatri yang dirawat inap pada Bagian/SMF Penyakit Dalam RSUP.DR.M.Djamil Padang ini sejumlah 6 pasien tidak menunjukkan reaksi ADR dalam bentuk apapun, namun pada 3 pasien geriatri lainnya timbul berbagai tingkatan keparahan ADR. Kejadian ADR mendapatkan skor 6, 7 dan 7 berdasarkan Algoritma Naranjo. Skor ini dapat diartikan bahwa ADR yang terjadi adalah menunjukkan probable (dapat mungkin) disebabkan oleh alprazolam. Rentang kategori

probable (dapat mungkin) adalah 5 s/d 8 Kejadian ADR yaitu pada pasien yang menggunakan amlodipin. Pada pasien ini terjadi anemia dan trombositopenia. ADR ini memiliki

delayed onset time (waktu muncul tertunda) karena terjadi setelah lebih dari 72 jam paparan. Pemberian amlodipin dimulai pada tanggal 25/9-2010 dan muncul ADR setelah 3 hari konsumsi obat, yaitu tanggal 28/9-2010. Pasien ini merupakan pasien post cystostomi dan mengalami keluhan berupa tidak bisa BAK sejak 1 hari yang lalu. ADR yang terjadi pada pasien ini tergolong kepada ADR moderate

(menengah) yaitu memerlukan perubahan terapi obat, perawatan khusus, atau perpanjangan masa perawatan di RS sekurang-kurangnya satu hari. Skor Naranjo ADR pada pasien ini adalah 4, yaitu possible (mungkin) disebabkan oleh penggunaan amlodipin.

ADR aktual lain yang muncul terkait penggunaan obat yang termasuk dalam Kriteria Beer tahun 2003 adalah penggunaan tablet FeSO. Kejadian ADR yang muncul adalah diare yang dialami pasien setelah sehari penggunaan FeSO4 tersebut. Reaksi yang muncul memiliki

accelerated onset time (waktu muncul dipercepat), yaitu ADR muncul setelah 6-72 jam terjadinya paparan obat.

Pasien masuk RS dengan keluhan utama badan letih – lesu sejak 2 minggu yang lalu. Diagnosa pasien ini adalah anemia ringan normositik normokrom ec penyakit kronis, TB paru, hiponatremia ec low intake dan hiperkalemia ec low intake. Skor Naranjo ADR yang terjadi pada pasien ini adalah 7. FeSO4

(4)

saluran pencernaan yang dapat terjadi adalah diare atau konstipasi. ADR ini dapat dikurangi dengan mengkonsumsi FeSO4 bersama makanan

atau setelah makan (bukan pada saat perut kosong) atau dengan jalan mengawali terapi dengan dosis terkecil, kemudian baru ditingkatkan secara bertahap.

Hindari penggunaan FeSO4 selama lebih

dari 6 bulan pada pasien geriatri, kecuali pada pasien yang mengalami pendarahan terus menerus. Hindari penggunaan bersamaan antara terapi oral dan parenteral. Hindari juga penggunaan pada penyakit terganggunya penyimpanan dan absorbsi zat besi, contoh :

haemochromatosis (kelainan yang menyebabkan tubuh menyerap besi yang berlebih dari makanaan) dan haemoglobinopathies (gangguan darah karena perubahan secara genetika struktur hemoglobin). Penggunaan juga harus dihindari pada penyakit saluran pencernaan, contoh :

inflammatory bowel disease ( penyakit inflamasi pada usus); intestinal strictures (penyempitan pada saluran usus); peptic ulcer disease

(penyakit tukak lambung); enteritis dan

ulcerative colitis (colitis dengan luka bernanah). Sulfa ferosus (FeSO4) bekerja dengan

jalan menfasilitasi transport O2 oleh hemoglobin.

Obat ini digunakan sebagai sumber zat besi, dimana obat ini akan menggantikan zat besi yang ditemukan pada hemoglobin, myoglobin dan enzim-enzim lainnya (Martindale, 2007).

KESIMPULAN DAN SARAN

Dilaporkan kejadian ADR pada pasien geriatri yang dirawat di Bagian/SMF Penyakit Dalam RSUP.DR.M.Djamil Padang adalah 0,04 %. Angka ini lebih rendah dengan beberaapa penelitian lain yang sudah pernah dilakukan di lokasi yang berbeda.

Disarankan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang angka kejadian ADR dengan sampel yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama.

DAFTAR PUSTAKA

American Society of Hospital Pharmacist., 1993, “ASHP statement on Pharmaceutical care”, Am.J. Hosp. Pharm, 50 : 1720-3.

Beers, M.H., 1997, “Explicit Criteria for

Determining Potentially

Inappropriate Medication Use By Elderly”, an update, Arch Intern Med/Vol 157, 1532- 6.

Beers, M.H dan Ouslander, J.G., 1989, “Risk factors in geriatric drug prescribing A practical guide to avoiding problems”,Drugs, 37:105– 12. Drug Reactions Among First-Visit Elderly Outpatients”, Pharmacotherapy Publications edisi 25(6):831-838, 2005 Cockcroft D W; Gault M H., emergency department: analysis of high-risk population”,Am J Emerg

Med, 14: 447-50.

Juurlink, D.N., Mamdami, M., Koop, A., 2003, “ Drug-drug interaction among elderly patients hospitalized for

drug toxicity”, JAMA 289:1652. Martindale., 2007, “The complete drug

reference”, Pharmaceutical Press. Martono, H dan Pranaka, K.,

Geriatrics” edisi 2, 2009

(5)

Prescribers and Patients, ed. J.P. Morgan and D.V. Kagan (Lexington, Mass.:Lexington Books, 1983), 137–154. Tinetti M, “Preventing falls in elderly persons”,

New Eng J Med, 2003; 384 : 42-9 World Health Organization., 1975,

Requirements for Adverse Drug Monitoring”, Geneva, Switzerland. Wayne A Ray, Marie R Griffin, dan Ronald I

Referensi

Dokumen terkait

Dasar pemikirannya, dengan waktu tidur yang cukup maka akan memperbaiki kondisi pengemudi dan masinis saat bekerja sehingga kelelahan, dalam hal ini kantuk, tidak cepat

Terutama dalam metode sorongan, ketika seorang ustadz melaksanakan proses pembelajaran tanpa bisa membaca kitab maka akan menghambat pendukung pembelajaran kitab

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam menghadapi tantangan globalisasi dimana perkembangan dan persaingan di dunia bisnis terus berkembang pesat, tingkah

Berdasarkan kasus diatas penulis mencoba membandingkan dengan Penelitian yang dilakukan oleh Damaiyanti Ema Novelina Sihombing dengan judul “Sistem Informasi Pemesanan

Berdasarkan nilai peluang yang diperoleh pada matriks peluang transisi satu langkah ( P ) tersebut, dapat diketahui bahwa apabila pada hari ini jumlah penyebutan #2019gantipresiden

Hasil penelitian ini adalah rendahnya pemberian ASI ekslusif oleh ibu menyusui berdasarkan karakteristik yaitu ibu berusia 20-35 tahun (80,6%), tidak bekerja (66,7%),

Laporan skripsi dengan judul ”Game Pengenalan Konsep Pemrograman Dasar Menggunakan Blockly Berbasis Website” ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam

Penataan ruang Kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat yang didasarkan pada karakteristik fisiknya yang rawan bencana alam dan daya dukungnya serta oleh teknologi