Dampak Pembangunan Hutan Tanaman Terhada

14  Download (0)

Teks penuh

(1)

DAMPAK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN TERHADAP LINGKUNGAN

Oleh :

Fatahul Azwar

ABSTRAK

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kayu dan non-kayu dari hutan yang semakin tidak dapat dipenuhi dari hutan alam, telah dikeluarkan kebijakan pembangunan hutan tanaman baik dalam bentuk Hutan Tanaman Industri (HTI), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), maupun Hutan Rakyat (HR) dengan berbagai pola penamanan baik secara monokultur maupun campuran. Dalam perkembangannya selain pencapaian hasil sumber bahan baku kebutuhan kayu dan non-kayu (ekomomis), hutan tanaman juga menunjukan dampak yang positif terhadap perbaikan kualitas lingkungan melalui fungsinya sebagai penyerap karbon, konservasi air dan tanah, serta konservasi keanekaragaman jenis (biodiversity). Keberadaan hutan tanaman juga memberikan manfaat dalam peningkatan kualitas habitat satwa liar dan keanekaragaman jenis tumbuhan didalamnya. Dampak positif lingkungan akibat pembangunan hutan tanaman akan terjadi apabila pembangunannya dilakukan dengan perencanaan dan pola silvikultur yang tepat.

Kata kunci : Hutan tanaman, lingkungan, karbon, tanah, air, keanekaragaman jenis

I. Pendahuluan

(2)

Namun seiring waktu dan meningkatnya populasi penduduk di Indonesia, kebutuhan akan kayu dan lahan menjadi sesuatu yang tidak dapat dipungkiri, sehingga pemanfaatan hasil hutan kayu secara berlebihan dan besarnya perubahan kawasan hutan untuk kepentingan non-kehutanan akibatnya laju degradasi hutan antara tahun 1997 – 2003 diperkirakan sebesar 2,83 juta ha per tahun, meningkat secara signifikan dari periode sebelumnya yaitu tahun 1985 – 1997 dimana laju degradasi lahan hutan hanya sebesar 1,8 juta ha per tahunnya. Pada periode tahun 1985 – 1987, penurunan penutupan vegetasi hutan yang sangat besar terjadi di pulau Sumatera dan Kalimantan, sedangkan pada periode 1997 – 2000 terjadi selain di Sumatera dan Kalimantan, juga di Papua (Departemen Kehutanan, 2007).

Terjadinya deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia antara lain disebabkan oleh : (a) kebakaran dan perambahan hutan; (b) illegal logging

dan illegal trading; (c) adanya konversi kawasan hutan secara permanen untuk pertanian, perkebunan, pemukiman, dan keperluan lain; dan (d) adanya penggunaan kawasan hutan di luar sektor kehutanan melalui pinjam pakai kawasan hutan dan pemanenan hasil hutan yang tidak memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari (PHL).

Guna mengantisipasi permasalahan deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia (khususnya hutan alam), pemerintah menggulirkan beberapa program, salah satunya ialah dengan pembangunan hutan tanaman, baik hutan tanaman industri (HTI), hutan tanaman rakyat (HTR) maupun hutan rakyat (HR). Pembangunan hutan tanaman ini diharapkan selain dapat memnuhi kebutuhan bahan baku kayu maupun non-kayu (ekonomis) juga diharapkan dapat menjadi pemelihara lingkungan hidup, seperti fungsi mengatur tata air, habitat kehidupan liar, sumber keanekaragaman hayati, penyerap karbon, pensuplai kebutuhan oksigen dan mempertahankan kesuburan tanah.

(3)

tanaman dalam skala luas adalah perubahan ekosistem asli. Jika hutan alam ditebang habis dan dilakukan pembuatan hutan tanaman, dapat dipastikan akan terjadi penurunan keanekaragaman jenis dan kerusakan habitat serta lingkungan. Sebaliknya, apabila hutan tanaman dibangun pada lahan kritis, bekas perladangan dan tanah kosong/marjinal, maka akan terjadi peningkatan kualitas habitat, keragaman jenis, kualitas tanah dan konservasi air yang lebih baik.

II. Hutan Tanaman dan Kualitas Lingkungan

Pada dasarnya pembangunan hutan tanaman seharusnya dilakukan pada lahan-lahan kritis, lahan hutan yang tidak produktif, lahan hutan yang rusak (areal bekas tebangan), dan lahan dengan penutupan vegetasi non hutan (alang-alang, semak belukar, lahan kosong). Hal ini di sebenarnya selain bertujuan pada peningkatan produktivitas hutan guna memenuhi kebutuhan bahan baku hasil hutan baik kayu maupun non-kayu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Pembangunan hutan tanaman (dalam berbagai pola dan pengusahaan) sejatinya bila dibangun dengan perencanaan yang baik tidak hanya bermanfaat secara ekonomis tetapi juga secara ekologis. Beberapa parameter penting dampak pembangunan hutan tanaman terhadap lingkungan secara ilmiah dapat dilihat dari hasil penelitian, yaitu penyerapan karbon (carbon sink), konservasi air dan tanah (hidro-orologis), serta keanekaragaman jenis (biodiversity).

A. Hutan tanaman sebagai penyerap karbon

(4)

Hutan tidak hanya sebagai penyerap karbon (bila terjaga dengan baik) namun juga bisa berpotensi sebagai sumber emisi karbon (apabila tidak terjaga dengan baik). Peningkatan serapan karbon dapat dilakukan melalui kegiatan perluasan hutan tanaman, mengingat hutan alam di Indonesia (bahkan dunia) sudah semakin menipis akibat deforestasi dan degradasi lahan. Tomich dkk. (2001) menyampaikan beberapa jenis pemanfaatan lahan di Sumatera dalam menyerap karbon, sebagaimana dirinci pada Tabel 1.

Tabel 1. Kapasitas beberapa jenis pemanfaatan lahan di Sumatera dalam menyerap karbon

Tipe Penggunaan

Lahan Skala Pengamatan Rata-rata serapanKarbon

(th/ha)

Hutan alam 25 ha 254

Hutan kemasyarakatan 35 ha 176

Hutan bekas tebangan 35.000 ha hutan konsesi 150

Agroforestry karet Petak-petak 1-5 ha 116

Monokultur karet Petak-petak 1-5 ha 97

Monokultur kelapa

sawit 35.000 ha 91

Sawah/hortikultur Petak-petak 1-2 ha 74

Ketela pohon Petak-petak 1-2 ha 39

Sumber : Tomich dkk (2001)

(5)

Tabel 2. Kandungan karbon pada berbagai jenis tanaman hutan di berbagai

Sumber : Gintings dan Prajadinata (2002, 2003, 2004, 2005)

B. Hutan tanaman bagi konservasi air dan tanah 1. Peranan hutan tanaman terhadap tata air

Fungsi hutan dalam pengendalian daur hidrologis dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a. Sebagai pengurang atau pembuang cadangan air di bumi melalui proses : evapotranspirasi, dan pemakaian air konsumtif untuk pembentukan jaringan tubuh vegetasi

b. Menambah uap air di atmosfir

c. Sebagai penghalang sampainya air ke bumi secara langsung melalui proses intersepsi

(6)

Berkaitan dengan konservasi air, banyak penelitian menunjukkan bahwa aliran air tahunan meningkat jika vegetasi hutan dihilangkan atau dikurangi (evapotranspirasi hutan cenderung lebih tinggi). Hal ini berkaitan dengan tajuk tanaman di hutan yang relatif lebih tinggi dan beraneka ragam dibandingkan pertanian monoklutur. Ada perbedaan yang signifikan dalam daur hidrologis antara tipe penggunaan lahan hutan tanaman dengan penggunaan lahan non-kehutanan yaitu terletak pada siklus keseimbangan air. Pada lahan-lahan berhutan, ketersediaan air pada musim hujan dan kemarau relatif stabil, sedangkan pada pemanfaatan lahan non-kehutanan (khususnya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan perumahan) mengakibatkan ketersediaan air jauh berbeda antara saat musim penghujan dan musim kemarau.

Laju evapotranspirasi hutan tanaman dan perkebunan relatif sama dan besar tetapi juga memberi input yang besar juga terhadap pembentukan hujan di awan khususnya pada daerah - daerah dataran rendah di mana evapotranspirasi besar, namun evapotranspirasi yang terjadi pada hutan tanaman tidak langsung dari air tanah melainkan dari hasil respirasi tanaman dan intersepsi (aliran tajuk dan batang) sehingga kondisi air tanah tetap terjaga sebagai salah satu sumber air. Peran hutan tanaman dalam meyerap dan melepas air juga masih lebih baik dibandingkan lahan yang hanya ditutupi vegetasi rumput dan semak. Hal ini ditunjukan dalam penelitian Pudjiharta (1995) dalam Wibowo dkk. (2008), bahwa persen evapotranspirasi hutan tanaman Altingia excelsa, Schima wallichii,

(7)

Penetuan strategi konservasi air dalam pengelolaan hutan tanaman membutuhkan pertimbangan geografis, dan penentuan jenis tanaman untuk kesesuaian lahannya, pemilihan tanaman fast growing yang cenderung bersifat rakus air (Acacia mangium, Pinus merkusii dan tanaman higroskopis lainnya) disarankan tidak di lakukan pada daeah bercurah hujan rendah. Selain itu manfaat terpenting dari kehadiran hutan tanaman adalah berkaitan dengan pengaturan lingkungan hidrologis melalui perlindungannya terhadap bahaya erosi dan banjir yang merupakan hasil akumulasi dari gempuran energi kinetik air hujan terhadap permukaan tanah secara langsung.

2. Peranan hutan tanaman terhadap konservasi tanah

Peran hutan tanaman secara umum terhadap konservasi tanah pada dasarnya sama dengan prinsip konservasi tanah oleh hutan alam. Hutan dengan strata tajuk dan seresah yang ada pada permukaan tanah menjaga tanah dari ancaman erosi akibat gesekan kinetis air hujan yang jatuh ke permukaan tanah sehingga aliran permukaan yang terjadi tidak secara langsung dan unsur hara pada tanah lapisan atas juga terjaga dari proses pencucian akibat adanya penahanan dari vegetasi hutan dan seresah lantai hutan. Sistem perakaran vegetasi hutan juga mampu menjaga kekuatan tanah dari ancaman longsor pada lahan yang berlereng atau lahan dengan kemiringan yang cukup tinggi. Keberadaan seresah pada lantai hutan juga memberi masukan unsur hara pada lapisan tanah atas (top soil) akibat proses dekomposisi yang dialami seresah.

Beberapa penelitian unsur hara di lahan hutan tanaman, khususnya hutan tanaman dengan tanaman jenis fast growing (daur pendek) menunjukkan penurunan unsur hara pada tahun tanam tertentu dan unsur hara biasanya kembali meningkat setelah masa panen/penebangan seperti yang ditunjukan oleh penelitian pada hutan tanaman Eucalyptus grandis

(8)

mengalami kenaikan lagi setelah masa penebangan/pemanenan (Wibowo dkk., 2007). Hal ini menunjukkan bahwa penurunan unsur hara tertentu disebabkan oleh kebutuhan nutrisi dari jenis tanaman yang meningkat setiap tahunnya, namun masih dalam tingkat kewajaran mengingat pengembalian unsur hara melalui dekomposisi seresah pada tanaman fast growing lajunya lebih rendah dari pada jenis tanaman lain. Penelitian Purwanto dan Gintings (1995) menunjukkan bahwa pada hutan tanaman Shorea pinanga, S.

compressa dan S. palembanica sifat reaksi tanah pada ketiga jenis tegakan tersebut tidak berbeda nyata untuk setiap umur tegakan dan bahkan jenis S.

palembanica berpengaruh lebih baik terhadap bulk density serta permeabilitas tanahnya. Perubahan unsur hara N, C-organik, K, Mg, Ca dan KTK juga tidak berbeda nyata. Dari segi pengembalian hara, terlihat bahwa jenis S. pinanga lebih baik terlihat dari kadar unsur N, P, K yang terkandung dalam serasahnya.

Penelitian Kunarso dan Azwar (2007) terkait penanaman hutan tanaman (A. mangium, Mahoni, Pinus, Sungkai, Seru, dan campuran) pada lahan terdegradasi (alang-alang) menunjukkan unsur hara yang lebih baik daripada lahan yang tidak ditanami tanaman hutan (dibiarkan menjadi alang-alang), bahkan pada hutan tanaman dengan pola campuran kandungan unsur hara N, P, K, Na, Ca serta C-organiknya lebih besar daripada lahan alang-alang dan lahan hutan tanaman pola monokultur. Hal ini menunjukkan bahwa rehabilitasi lahan pada tanah kosong, tidak produktif atau rehabilitasi lahan non-hutan dengan pemilihan jenis tanaman hutan, dan dengan pola pengelolaan dan penanaman yang tepat dapat memperbaiki kualitas tanah.

C. Hutan tanaman dan keanekaragaman jenis

(9)

dan satwa. Untuk mengantisipasi hal ini pemerintah telah menetapkan kawasan-kawasan hutan konservasi (taman nasional, Tahura, hutan lindung dan lain-lain), dan perluasan pembangunan hutan tanaman. Diharapkan dengan adanya hutan tanaman yang lokasinya diarahkan pada lahan yang tidak produktif seperti tanah kosong dan padang alang-alang, semak belukar serta hutan rawa yang rusak, dapat mengembalikan fungsi hutan sebagai sumber keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis hutan tanaman tidaklah setinggi hutan alam (baik hutan alam primer dan sekunder) tetapi melalui kegiatan silvukultur di dalamnya dan komposisi vegetasi penyusunnya tetap mampu berkontribusi lebih baik terhadap keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa dibandingkan dengan pemanfaatan lahan non-kehutanan.

Wibowo dkk. (2007) menunjukkan bahwa hutan tanaman jati di daerah penyangga Taman Nasional Baluran memiliki Indeks Nilai Penting (INP) pada dominasi jenis vegetasi di tinggkat semai, pancang, dan pohon masih relatif tinggi (di atas 50%) dan indeks kekayaan jenis pada tingkat tiang jauh lebih tinggi dibanding hutan alam pada taman nasional yang berbatasan. Keberadaan hutan tanaman jati masih lebih baik dalam hal perjumpaan jenis burung dibanding pada areal lahan yang telah menjadi pemukiman penduduk dan pertanian, dimana 24% jenis satwa liar di hutan alam (taman nasional yang berbatasan dengan areal penanaman hutan tanaman jati) dapat dijumpai juga di hutan tanaman jati.

(10)

0

 Aa, Ab, Ac, Ad, Ae, Af, Ag, Ah : Hutan Tanaman Acasia Mangium (monokultur) pada berbagai umur tegakan.

 Al : Lahan terbuka (lahan alang-alang)

 Kr1, Kr2, Kr3 : Kebun karet masyarakat pada berbagai tingkat umur  Ks1, Ks 2 : Kebun sawit masyarakat pada tingkat umur yang berbeda  S : Hutan Tanaman Sungkai (monokultur)

 P : Hutan Tanaman Pinus (monokultur)  Htc : Hutan Tanaman Campuran  Sf : Hutan alam sekunder

Gambar 1. Grafik jumlah jenis tumbuhan pada masing-masing tegakan

Sumber : Kunarso dan Azwar (2007, 2008, 2009)

Hutan tanaman juga merupakan habitat hewan yang lebih baik daripada areal lahan kosong atau alang-alang, khususnya di hutan tanaman daerah Benakat Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan selama periode 2007 – 2009 ( Kunarso dan Azwar, 2009). Hal ini dikarenakan pada beberapa areal hutan tanaman lebih tersedia pakan dan naungan serta sumber air sehingga lahan hutan tanaman bisa menjadi habitat permanen atau alternatif/semusim serta daerah jelajah bagi beberapa satwa liar.

(11)

beberapa satwa liar seperti burung, babi, rusa dan bahkan beruang sebagai tempat mereka mencari makan dan sebagai wilayah jelajah mereka. Selain itu komposisi vegetasi penyusun hutan tanaman juga secara tidak langsung turut memberi kontribusi terhadap keberadaan hewan makrofauna tanah sebagai salah satu bagian penting dari rantai proses dekomposisi seresah dalam siklus pengembalian hara tanah seperti yang terlihat pada Gambar 2 (Kunarso dan Azwar, 2009).

Keterangan :

 MH : Musim Hujan  MK : Musim Kemarau

Gambar 2. Grafik jumlah jenis makrofauna tanah pada musim hujan dan kemarau

Sumber : Kunarso dan Azwar (2009)

(12)

lahan, dan pemangkasan tajuk pada hutan tanaman Tembesu dengan jarak tanam yang berbeda seperti yang terlihat pada Gambar 3.

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600

3 x 2 m 3 x 1 m

Keterangan :

 Pengamatan ke-1 : sebelum dilakukan perlakuan silvikultur

 Pengamatan ke-2 : 2 minggu setelah pemangkasan tajuk dan penyiangan lahan  Pengamatan ke-3 : 8 minggu setelah pemangkasan tajuk dan penyiangan lahan

Gambar 3. Grafik jumlah total individu tumbuhan bawah sebelum dan sesudah perlakuan silvikultur

Sumber : Azwar dan Etik (2010)

III. Penutup

Pembangunan hutan tanaman dalam bentuk Hutan Tanaman Industri (HTI), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), maupun Hutan Rakyat (HR) yang ada selain sebagai penyedia bahan baku kebutuhan kayu ataupun non-kayu (aspek ekonomi) juga berfungsi sebagai salah satu upaya dalam perbaikan kualitas lingkungan (asek ekologi) seperti dalam penyerapan karbon, konservasi tanah dan air, serta konservasi sumber keanekaragaman hayati.

(13)

keseimbangan daur hidrologis. Oleh karena itu pemilihan jenis dan pengelolaan lahan yang tepat dalam pengelolaan hutan tanaman dapat melindungi kestabilan air sepanjang musim. Keberadaan hutan tanaman juga berkontribusi dalam perbaikan kualitas tanah, baik dalam proses pengembalian hara maupun perbaikan struktur tanah melalui komposisi vegetasi penyusunnya.

Pembangunan hutan tanaman juga berdampak positif terhadap keanekaragaman hayati di dalamnya, karena dapat menjadi sumber pakan, tempat bernaung (habitat), serta daerah jelajah bagi satwa liar. Perlakuan silvikultur dalam pengelolaan hutan tanaman tidak menggangu terhadap pengkayaan jenis vegetasi penyusun selain tanaman utama bahkan dengan perlakuan silvikultur yang tepat dapat memicu pengayaan jenis vegetasi penyusun di dalamnya.

Fungsi ekologis dari hutan tanaman sebagai upaya perbaikan kualitas lingkungan dapat berjalan dengan baik apabila pembangunannya dilakukan dengan perencanaan yang tepat, seperti pemilihan lokasi lahan, pemilihan jenis, pola tanam dan perlakuan silvikultur yang tepat. Dengan demikian tidak ada alasan untuk tidak membangun hutan tanaman sebagai salah satu upaya perbaikan kualitas lingkungan.

Daftar Pustaka

Azwar, F. dan Etik Ernawati Hadi. 2010. Laporan Hasil Penelitian Budidaya Tembesu ; Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Kehutanan - Palembang. Palembang.

(14)

Departemen Kehutanan. 2007. Statistik Kehutanan Indonesia 2006. Badan Planologi Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Gintings, A. N. dan S. Prajadinata. 2002, 2003, 2004, dan 2005. Assesment of the Potency Of Reforestation and Afforestation Activities in Mitigating the Climate Change. Interim Reports. Cooperation between Forest and Nature Conservation Research and Development Center (FNCRCDC) and Japan International Forestry Promotion and Cooperation Center (JIFPRO).

Kunarso, A. dan Azwar, F. 2007, 2008, dan 2009. Laporan Hasil Penelitian Perubahan Keanekaragaman Jenis dan Lingkungan Akibat Pembangunan Hutan Tanaman. Balai Penelitian Kehutanan - Palembang. Palembang

Purwanto, Ign. dan Gintings, A. N. 1995. Pengaruh Berbagai Jenis Vegetasi Terhadap Kapasitas Infiltrasi Tanah di Cijambu, Sumedang, Jawa Barat. Buletin Penelitian Kehutanan No. 573, 1995, pp ; 13 – 25. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Bogor

Tomich, T. P., H. de Foresta, K. Dennis, D. Murdiyarso, Q. M. Katterings, F. Stolle, Suyanto, dan M. Van Noordwijk, M. 2001. Carbon Sequestration for Conservation and Development in Indonesia. Submitted to American Journal of Alternative Agriculture

Wibowo, A., Yunita L., P. Tambunan, dan Zuraida. 2007. Sintesa Hasil Penelitian Pengelolaan Lingkungan Hutan Tanaman. Prosiding Workshop Sintesa Hasil Litbang Hutan Tanaman. Pusat Penelitian Hutan Tanaman. Bogor

Figur

Tabel   1.   Kapasitas   beberapa   jenis   pemanfaatan   lahan   di   Sumatera   dalam menyerap karbon

Tabel 1.

Kapasitas beberapa jenis pemanfaatan lahan di Sumatera dalam menyerap karbon p.4
Tabel 2. Kandungan karbon pada berbagai jenis tanaman hutan di berbagai lokasi hutan tanaman di Indonesia

Tabel 2.

Kandungan karbon pada berbagai jenis tanaman hutan di berbagai lokasi hutan tanaman di Indonesia p.5
Gambar 1. Grafik jumlah jenis tumbuhan pada masing-masing tegakan Sumber : Kunarso dan Azwar (2007, 2008, 2009)

Gambar 1.

Grafik jumlah jenis tumbuhan pada masing-masing tegakan Sumber : Kunarso dan Azwar (2007, 2008, 2009) p.10
Gambar 2. Grafik jumlah jenis makrofauna tanah pada musim hujan dan kemarau

Gambar 2.

Grafik jumlah jenis makrofauna tanah pada musim hujan dan kemarau p.11
Gambar 3. Grafik jumlah total individu tumbuhan bawah sebelum dan sesudah perlakuan silvikultur

Gambar 3.

Grafik jumlah total individu tumbuhan bawah sebelum dan sesudah perlakuan silvikultur p.12

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di