• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH ETIKA DISTRIBUSI DALAM ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH ETIKA DISTRIBUSI DALAM ISLAM"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

ETIKA DISTRIBUSI DALAM ISLAM

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Etika Bisnis Islam

Dosen Pengampuh: Dr.Muhammad Kamal Zubair, M.Ag.

Oleh

NUR AMALIAH NASIR

NIM 14.2200.031

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH

JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

PAREPARE

(2)

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas curahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul “Etika Distribusi dalam Islam” telah dapat kami selesaikan dengan sebaik-baiknya.

Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad SAW yang selalu kita nantikan syafa’atnya di yaumul qiyamah. Amin

Dan tidak lupa, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Ahmad Sultra Rustan, M.Si, selaku Ketua STAIN Parepare yang telah bekerja keras mengelola pendidikan di STAIN Parepare.

2. Dr. Muhammad Kamal Zubair, M.Ag. selaku Dosen pengampuh mata kuliah “Etika Bisnis Islam” yang telah memberikan petunjuk dan pengarahan dalam pembuatan makalah ini.

3. Teman-teman yang telah memberikan bantuan berupa informasi, pengarahan maupun pentunjuk yang sangat bermanfaat bagi penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik..

Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini mempunyai banyak sekali kekurangan, sehingga masih jauh dari kata sempurna. Kami masih membutuhkan kritik dan saran yang dapat memperbaiki makalah kami selanjutnya.

Parepare, 26 Mei 2017

Nur Amaliah Nasir

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1 1.2 Rumusan Masalah 2 1.3 Tujuan 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian, Tujuan dan Etika Distribusi dalam Al-Qur’an 2.1.1 Pengertian Distribusi 3

2.1.2 Tujuan Distribusi 7

2.1.3 Etika Distribusi dalam Islam 9 2.2 Konsep Distribusi dalam Al-Qur’an

2.2.1 Mekanisme Ekonomi 10

2.2.2 Mekanisme Non Ekonomi 15

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 20 3.2 Saran 21

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Al-Qur’an merupakan sumber penggalian dan pengembangan ajaran Islam. Untuk melakukan penggalian dan pengembangan dipersyaratkan suatu kualifikasi dan keyakinan kuat untuk menghasilkan pemahaman yang tepat mengenai perilaku kehidupan manusia, termasuk dalam bidang ekonomi. Pengembangan ilmu ekonomi Islam yang bersumber dari al-Qur’an mempunyai peluang yang sama dengan pengembangan keilmuan lainnya. Sayang, ilmu ini dirasakan tertinggal, walaupun kebutuhan terhadap suatu sistem ekonomi baru yang lebih menjanjikan kesejahteraan dan kemaslahatan sudah sangat mendesak. Dengan demikian pengembangan ilmu ekonomi Islam menjadi sesuatu yang bersifat dharuriyah.

Perbedaan dalam kehidupan manusia merupakan ketetapan Allah, dengan inilah manusia manusia mempunyai peran lebih diantara makhluk lain dikehidupan ini. Disamping itu, perbedaan ini membawa pentingnya makna kerja sama antara satu orang dengan orang lain dalam memenuhi kepentingan-kepentingan hidupnya. Perbedaan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan, yang mana karena perbedaan inilah manusia bisa menghormati satu sama lain dan juga saling menutupi satu sama lain, tetapi dengan adanya perbedaan ini bukan alasan manusia antara satu dengan yang lain untuk melegitimasi kedudukannya dihadapan

iii

(5)

Allah SAW sebagai makhluk mulia dan hina.Produksi, distribusi dan konsumsi adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan di dalam kelangsungan hidup manusia sejak pertama kali lahir di bumi ini.

Sebagai sebuah metodologi, tafsir ekonomi al-Qur’an memberi peluang bagi pengembangan ilmu ekonomi Islam. Model ini mempunyai tahapan kerja sebagai berikut: pertama, menginventarisasi ayat-ayat yang terkait dengan permasalahan ekonomi yang akan dibahas, baik berdasar pada kata kunci maupun pada kandungan ayat secara umum maupun khusus. Kedua, menafsirkan ayat-ayat tersebut baik berdasar urutan ayat dalam mushaf atau berdasar urutan turunnya surat. Ketiga, model penafsiran yang digunakan adalah maodlui dengan corak adabi al-ijtima’i wal-iqtishadiyyah. Keempat, melakukan konstektualisasi dalam realitas perekonomian.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Pengertian, tujuan dan etika distribusi dalam al-qur’an?

1.2.2 Bagaimana konsep distribusi dalam al-qur’an?

1.3 Tujuan

1.3.1 Mengetahui pengertian, tujuan dan etika distribusi dalam al-qur’an.

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Tujuan Distribusi dalam Al-Qur’an

2.1.1 Pengertian Distribusi

Distribusi adalah suatu proses (sebagian hasil penjualan produk) kepada faktor-faktor produk yang ikut menentukan pendapatan. Dalam kamus bahasa Indonesia dijelaskan distribusi adalah penyaluran barang ketempat-tempat. Distribusi pendapatan dalam islam merupakan penyaluran dari harta yang ada, baik dimilki oleh peribadi atau umum (publik)kepada pihak yang berhak menerima yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan syariat.1 Fokus dari distribusi pendapatan dalam islam adalah pendistribusiannya. Secara sederhana bisa digambarkan, kewajiban menyisihkan sebagian harta bagi pihak yang bekecukupan diyakini sebagai kompensasi atas kekayaannya dan disisi lain merupakan instensif untuk kekayaan pihak yang kekurangan.

Konsep ekonomi islam didasarkan tauhid, keadilan, keseimbangan, kebebasan, dan pertanggungjawaban. Adapun pertanggung jawaban memiliki arti bahwa manusia sebagai pemegang amanah memikul tanggungjawab atas segala putusan-putusan yang ditetapkannya. Ekonomi islam tampaknya masi terus dalam

1Rozalinda, Ekonomi Islam: Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi (Jakarta:

PT.RajaGrafindo Persada. Cet: ke-2, 2015), h. 131

(7)

proses membentuk diri secara mandiri sebagai disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari gagasan ekonomi islam yang dikembangkan saat ini mempunyai dampak lansung kepada maysarakat, terutama maysarakat muslim sehingga dapat meningkatkan taraf hidup maysarakat hidupnya dalam menghilangkan persoalan keterbelakangan yang terjadi kepada maysarakat.ekonomi islam diharapkan dapat menciptakan tata dunia baru yang adil dan tidak bersifat hegemonistik. Juga dapat membuat sistem distribusi kekayaan dan pendapatan yang adil dan merata pada asetiap tingkatan.2

Titik berat dalam pemecahan permasalahan ekonomi adalah bagaimana menciptakan mekanisme distribusi ekonomi yang adil di tengah maysarakat. Distribusi dalam ekonomi islam mempunyai makna yang lebih luas mencakup pengaturan kepemilikan, unsur produksi dan pendapatan, baik antara unsur-unsur produksi maupun antara individu dan maysarakat serta anggota perserikatan, maupun distribusi dalam sistem jaminan sosial.

Perbedaan dalam kehidupan manusia merupakan ketetapan Allah, dengan inilah manusia manusia mempunyai peran lebih diantara makhluk lain dikehidupan ini. Disamping itu, perbedaan ini membawa pentingnya makna kerja sama antara satu orang dengan orang lain dalam memenuhi kepentingan-kepentingan hidupnya. Perbedaan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan, yang mana karena perbedaan inilah manusia bisa menghormati satu sama lain dan juga saling menutupi satu sama lain, tetapi dengan adanya perbedaan ini bukan alasan manusia antara satu dengan yang lain untuk melegitimasi kedudukannya dihadapan Allah SAW sebagai mahkluk mulia dan hina.

2H. Abdul Mannan, Hukum Ekonomi Syariah ; Perspektik Kewenangan Peradilan Agama

(Jakarta: Kencana, 2012), h. 131

(8)

Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk memiliki kekayaan. Tetapi tidak membiarkan manusi begitu saja memiliki semua yang apa dia suka, dan menggunakan cara apa saja yang mereka kehendaki. Kekayaan adal;ah sesuatu hal yang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah cara pendistribusiannya, karena jika pendistribusi kekayaan itu tidak tepat maka sebagian kekayaaan itu akan beredar diantar orang-orang kaya saja. Akibatnya, banyak maysarakat yang menderita karena kemiskinan. Oleh karena itu, kesejahteraan rakyat tidak sepenuhnya tergantung pada hasil produksi , tetapi juga tergantung pada distribusi pendapatan yang tepat. Seperti yan diumpamakan Afzalur Rahman, jika sesuatu negara mempunyai kelebihan kekayaan, tetapi distribusinya tetapi tidak berasarkan kepada keadilan dan kebenaran, maka negara itu belum dianggap berhasil.3 Begitu juga dengan kehidupan masyarakat moderen yang mempunyai kekayaan yang melimpah namun, disekitarnya masi banyak maysarakat yang menderita kemiskinan. Hal itu di sebabkan distribusi kekayaan yang belum merata.

Konsep Islam menjamin sebuah distribusi yang memuat nilai-nilai insani, yang diantaranya dengan menganjurkan untuk membagikan harta lewat sadaqah, infaq, Zakat dan lainnya guna menjaga keharmonisan dalam kehidupan social, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 261



















































Terjemahannya

:

3Afzalur Rahman, Ekonomik Doktrines of Islami ( Yokyakarta: Darma Bakti Wakaf, 1985),

(9)

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah swt. Seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah swt. Melipatgandakan bagi siapa yang dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha mengetahui.4

Dalam ayat diatas Allah SWT menegaskan tentang harta yang digunakan dalam kepentingan social/kebajikan yang berhubungan dengan Agama Allah SWT baik yang diperintahkan/diwajibkan oleh Allah SWT seperti nafkah, Zakat dll atau hanya karena mengharapkan ridha Allah semata dengan menyisihkan sedikit harta seperti Infaq, waqaf, dll. Dengan itu Allah SWT memberikan perumpamaan, seperti menanam satu biji tanaman yang mengeluarkan dahan/ bercabang tujuh cabang, yang mana dalam setiap dahan ada satu tangkai yang kemudian dalam satu tangkai terkandung didalamnya seratus biji tanaman seperti yang ditanam pertama tadi. Seperti itulah sebuah pahala atau ganjaran bagi siapapun yang bisa benar-benar ikhlas karena Allah SWT dengan menyisihkan sebagian hartanya dijalan Allah.

Maka Allah SWT berhak melipatgandakan pahala sesuai keterangan diatas bahkan lebih dari itu kepada hamba-hambanya, maka oleh karena itu keihklasan sebuah amal baik sangat menentukan terhadap kualitas pahala yang tinggi (yang dilipatgandakan).

System ekonomi yang berbasis Islam menghendaki bahwa dalam hal pendistribusian harus berdasarkan dua sendi, yaitu sendi kebebasan dan keadilan kepemilikan. Kebebasan disini adalah kebebasan dalam bertindak yang di bingkai oleh nilai-nilai agama dan keadilan tidak seperti pemahaman kaum kapitalis yang menyatakannya sebagai tindakan membebaskan manusia untuk berbuat dan bertindak tanpa campur tangan pihak mana pun, tetapi sebagai keseimbangan antara individu

4 Usman el-Qurtuby, Al-qur’an Cordoba (Al-qur’an Tajwid dan Terjemah) ( Bandung:

(10)

dengan unsur materi dan spiritual yang dimilikinya, keseimbangan antara individu dan masyarakat serta antara suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

2.1.2 Tujuan Distribusi

Islam memberikan batas-batas tertentu dalam berusaha, memiliki kekayaan dan mentransaksikannya. Dalam pendistribusian harta kekayaan, Al-Qur’an telah menetapkan langka-langka tertentu untuk mencapai pemerataan pembagian kekayaan dalam maysarakat secara objektif, seperti memperkenalkan hukum waris yang memberikan batas kekuasaan bagi pemilik harta dengan maksud membagi semua harta kekayaan kepada semua kerabat karib apabila seseorang meninggal dunia. 5 begitu pula dengan hukum zakat, infaq, sadaqah, dan bentuk pemberian lainnya juga diatur untuk membagi kekayaan kepada maysarakat yang membutuhkan. Distribusi pendapatan dalam dunia perdagangan juga di syariatkan dalam bentuk akad kerja sama, misalnya distribusi dalam bentuk mudharaba merupakan bentuk distribusi kekayaan dengan sesama muslim dalam bentuk investasi yang berorientasi profit sharing. Pihak pemodal yang mempunyai kelebihan harta membantu orang yang mempunyai keahlian berusaha, tetapi tidak punya modal.

Semua pribadi dalam masyarakat harus memperoleh jaminan atas kehidupan yang layak. Atas dasar dapat kita lihat beberapa tujuan ekonomi islam yaitu sebagai berikut

5Yusuf Al-Qardhawi, Daur al-Qiyam wa al-Akhlaq fi alIqtishad al-Islami (Kairo: Maktaba

Wabah, 1995), h. 336

(11)

2.1.2.1 Islam menjamin kehidupan tiap pribadi rakyat serta menjamin masyarakat agar tetap sebagai sebuah komunitas yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

2.1.2.2 Islam menjamin kemaslahatan pribadi dan melayani urusan jamaah, serta menjaga eksistensi negara dengan kekuatan yang cukup sehingga mampu memikul tanggung jawab perekonomian negara.

2.1.2.3 Mendistribusikan harta orang kaya yang menjadi hak fakir miskin, serta mengawasi pemanfaatan hak milik umum maupun negara.

2.1.2.4 Memberikan bantuan sosial dan sumbangan berdasarkan jalan Allah agar tercapai maslahah bagi seluruh masyarakat

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar kaum muslim tidak menyimpan dan menimbung kekayaan untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi mereka harus memenuhi kewajiban terhadap keluarga, tetangga dan orang-orang yang harus mendapatkan bantuan. Menurut Yusuf Qardhawi, pada konsekuensi proses produksi bagi setiap proyek dalam bentuk uang ataupun nilai, lalu hasil tersebut didistribusikan pada instrumen-instrumen produksi yaitu, sebagai berikut:

a. Upah, yaitu upah bagi para pekerja, dan sering kali dalam hal upah.

b. Bunga, yaitu bunga sebagai imbalan dari uang modal yang diharuskan bagi pemilik barang proyek.

c. Sewa, yaitu ongkos untuk sewa tanah yang dipakai untuk proyek.

d. Keuntungan, yaitu keuntungan bagi pengelola yang menjalankan pengelolaan.6 Akibat dari perbedaan andil dalam produksi oleh masing-masing individu, berbeda pula pendapatan yang diambil oleh individu-individu tersebut. Dari ke-empat

6Rozalinda, Ekonomi Islam: Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi (Jakarta:

PT.RajaGrafindo Persada , 2015), h. 133

(12)

ulama telah sepakat bahwa bunga itu hara. Terhadap ketiga instrumen lainnya, seperti upah, sewa dan keuntungan dibolehkan selama terpenuhi syarat-syaratnya.

2.1.3 Etika Distribusi dalam Islam

2.1.3.1 Selalu menghiasi amal dengan niat ibadah dan ikhlas.

2.1.3.2 Transparan, dan barangnya halal serta tidak membahayakan.

2.1.3.3 Adil, dan tidak mengerjakan hal-hal yang dilarang di dalam Islam.

2.1.3.4 Tolong menolong, toleransi dan sedekah.

2.1.3.5 Tidak melakukan pameran barang yang menimbulkan persepsi.

2.1.3.6 Tidak pernah lalai ibadah karena kegiatan distribusi.7

2.1.3.7 Larangan Ikhtikar, ikhtikar dilarang karena akan menyebabkan kenaikan harga.

2.1.3.8 Mencari keuntungan yang wajar. Maksudnya kita dilarang mencari keuntungan yang semaksimal mugkin yang biasanya hanya mementingkan pribadi sendiri tanpa memikirkan orang lain.

2.1.3.9 kekayaan yang meluas, Islam mencegah penumpukan kekayaan pada kelompok kecil dan menganjurkan distribusi kekayaan kepada seluruh lapisan masyarakat.

2.1.3.10Kesamaan Sosial, maksudnya dalam pendistribusian tidak ada diskriminasi atau berkasta-kasta, semuanya sama dalam mendapatkan ekonomi.8

2.2 Konsep Distribusi dalam Al-Qur’an

7Sofyan S. Harahap, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam (Jakarta: Salemba Empat, 2011),

h.140

(13)

Masalah ekonomi terjadi apabila kebutuhan pokok (al-hajatu al-asasiyah) untuk semua pribadi manusia tidak tercukupi. Dan masalah pemenuhan kebutuhan pokok merupakan persoalan distribusi kekayaan. Dalam mengatasi persoalan distribusi tersebut harus ada pengaturan menyeluruh yang dapat menjamin terpenuhi seluruh kebutuhan pokok pribadi, serta menjamin adanya peluang bagi setiap pribadi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pelengkapnya.

Dalam persoalan distribusi kekayaan yang muncul, islam melalui sistem ekonomi islam menetapkan bahwa berbagai mekanisme tertentu yang digunakan untuk mengatasi persoalan distribusi. Mekanisme distribusi yang ada dalam ekonomi islam secara garis besar dikelompokan menjadi dua kelompok mekanisme, yaitu: mekanisme ekonomi dan mekanisme nonekonomi.

2.2.1 Mekanisme Ekonomi

Mekanisme ekonomi adalah mekanisme distribusi dengan mengandalkan kegiatan ekonomi agar tercapai distribusi kekayaan. Mekanisme ini dijalankan dengan cara membuat berbagai ketentuan dan mekanisme ekonomi yang berkaitan dengan distribusi kekayaan. Dalam menjalankan distribusi kekayaan, maka mekanisme ekonomi yang ditempuh pada sistem ekonomi islam diantaranya manusia yang seadil-adilnya dengan cara berikut:

2.2.1.1 Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya sebab-sebab hak milik (asbabu tamalluk ) dalam hak milik pribadi (milkiyah al-fardiyah).

Dalam islam telah ditetapkan sebab-sebab utama seseorang dapat memiliki harta yang berkaitan dengan hak milik pribadi. Hak milik pribadi adalah hukum syara’ yang berlaku bagi zat ataupun manfaat (utility) tertentu, yang

(14)

tersebut, serta memperoleh kompensasi – baik karena barangnya diambil kegunaannya oleh orang lain (seperti disewa) ataupun karena dikonsumsi untuk dihabiskan zatnya seperti dari barang tersebut. Oleh karena itu, setiap orang bisa memiliki kekayaan yang ada di bumi. Dalam hal ini islam mengikatkan kemerdekaan seseorang dalam menggunakan hak milik pribadinya dengan ikatan-ikatan yang menjamin tidak adanya bahaya terhadap orang lain atau mengganggu kemaslahatan umum. Menimbulkan bahaya adalah penganiayaan, sedang penganiayaan itu dilarang oleh nash Al-Qur’an salah-satu upaya yang lazim dilakukan manusia untuk memperoleh harta kekayaan adalah dengan bekerja.

(15)

15

untuk memperoleh harta kekayaan adalah dengan bekerja. Islam menetapkan adanya “bekerja” bagi seluruh masyarakat. Dalam hal transaksi jual beli maupun produksi ada beberapa saluran distribusi yang ada didalamnya yaitu:

1. Produsen --- konsumen 2. Produsen --- pedagang eceran ---- konsumen 3. Produsen --- grosir --- pedagang eceran ---- konsumen 4. Produsen ---- Agen ---- grosir --- pedagang eceran ---- konsumen Darisinilah kita ketahui teknik yang digunakan oleh orang-orang untuk mengembangkan harta kekayaan

2.2.1.3 Laranagn menimbun harta benda walaupun telah dikeluarkan zakatnya.

(16)

tersebut. Cara lain yang dilakukan adalah dengan menyediakan berbagai fasilitas seperti jalan raya , pelabuhan, pasar dan lain sebagainya.

2.2.1.5 Larangan kegiatan monopoli, serta berbagi penipuan yang dapat mendistorasi pasar. Islam melarang terjadinya monopoli terhadap produk-produk yang merupakan jenis hak milik pribadi (private property). Sebab dengan adanya monopoli, maka seseorang dapat menentukan harga jual produk tidak sesuai dengan pasarnya, sehingga dapat merugikan kebanyakan orang dimuka umum. Bahkan negara tidak diperbolehkan turut terlibat dalam penetapan harga jual suatu produk yang ada dipasar, sebab hal ini akan menyebabkan terjadinya perubahan harga pasar. Islam mengharamkan penetapan harga secara mutlak.

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a yang mengatakan: “Bahwa ada seseorang laki-laki datang lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah tetapkan harga ini .’ Beliau menjawab: ‘(Tidak) justru, biar saja.’ Kemudian beliau didatangi laki-laki yang lain lalu mengatakan : ‘Wahai Rasulullah, tetapkan harga ini’ Belaiu menjawab . (Tidak) tetapi Allah-lah yang berhak menurunkan dan menaikkannya.

(17)

17

dikendalikan lagi. Hal itu menyebabkan yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan terus tercekik. Akan tetapi, berbeda dengan berbagai produk yang termasuk milik umum islam memperbolehkan adanya monopoli oleh negara. Namun monopoli oleh negara bukan berarti negara dapat menerapkan harga sebebas-bebasnya demi mengejar keuntungan semata. Namun negara justru berkewajiban menyediakan berbagai produk tersebut dengan harga serendah-rendahnya. Masalah lain yang dilarang oleh islam adalah adanya upaya memotong jalur pemasaran yang dilakukan oleh pedagang perantara, sehingga para produsen terpaksa menjual produknya dengan harga sangat murah, padahal harga yang ada dipasar tidak serendah yang mereka peroleh dari pedagang perantara.

Abdullah Ibn Umar r.a meriwayatkan berkata: “Kami pernah menyambut orang-orang yang datang membawa hasil panen dari luar kota lalu kami membelinya dari mereka. Rasulullah Saw melarang kami membelinya sampai hasil panen tersebut di bawa ke pasar”.

(18)

mengerjakan tugasnya menerima komisi, sementara dia telah mendapatkan gaji dari pekerjaannya.

2.2.1.7 Pemanfaatan secara optimal (dengan harga murah atau cuma-cuma ) hasil dari barang-barang dari SDA milik umum (al-milkiyah al-amah) yang dikelola negara seperti hasil hutan, barang tambang, minyak, listrik, air dan sebagainya demi kesejahteraan rakyat. Dengan disiplinnya pengelolaan dan pemanfaatan harta-harta yang menjadi milik umum, maka hasilnya dapat didistribusikan kepada seluruh masyarakat secara cuma-cuma atau dengan harga yang murah. Dan jika terjadi kenaikan harga harus megikuti kenaikan pendapatan rata-rata penduduk. Dalam islam adanya tingkat harga yang wajar atau adil bukan sebuah keringanan melainkan hak fundmental yang dijamin hukum Negara.

2.2.2 Mekanisme non ekonomi

Didukung oleh sebab-sebab tertentu yang bersifat alamiah, misalnya keadaan alam yang tandus, badan yang cacat, akal yang lemah atau terjadi musibah bencana alam, dimungkinkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan terhambatnya distribusi kekayaan kepada orang-orang yang memilki faktor-faktor tersebut. Dengan ekonomi biasa, maka distribusi kekayaan tidak akan berjalan dengan baik karena orang-orang yang memiliki hambatan yang bersifat alamiah tadi tidak dapat mengikuti aturan kegiatan ekonomi secara normal sebagimana orang lain. Bila dibiarkan maka orang-orang itu tergolong tertimpa musibah (kecelakaan, bencana alam dan sebagainya) makin terpuruk secara ekonomi.

2.2.2.1 Pemberian negara kepada rakyat yang membutuhkan.

(19)

Pemberian harta negara tersebut dengan maksud agar dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup rakyat atau agar rakyat dapat memanfaatkan pemilikan secara merata. Pemenuhan kebutuhan tersebut dapat diberikan secara langsung ataupun tidak langsung dengan jalan memberi berbagai sarana fasilitas sehingga pribadi dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mengenai berbagai pemenuhan kebutuhan hidup contohnya, negara memberi sesuatu kepada pribadi atau masyarakat yang mampu mngerjakan lahan, maka negara akan memberikan lahan yang menjadi milik negara kepada pribadi yang tidak mempunyai lahan tersebut atau negara memberikan harta kepada pribadi yang mempunyai lahan tetapi tidak mempunyai modal untuk mengelolanya.

2.2.2.2 Zakat

Pemberian harta zakat yang dibayarkan oleh muzakki kepada mustahik adalah bentuk lain dari mekanisme nonekonomi dalam hal distribusi zakat. Zakat adalah ibadah yang dapat dilaksanakan oleh para muzakki. Dalam hal ini, negara wajib memaksa siapapun yang termasuk muzakki untuk membayar zakatnya. Kemudian dari itu, Allah SWT telah menjadikan zakat sebagai salah-satu asas agamanya. Lalu dijelaskan olehnya bawa dengan berzakat seorang hamba dapat mencapai penyucian dirinya dari sifat kikir.9

2.2.2.3 Warisan

Ketika mati orang itu tidak lagi memiliki hak apa-apa atas badan dan hartanya. Sekalipun harta tersebut milik si mayit, tetapi ketika mati ia tidak berhak memberikan kepada siapa saja sesuka dia. Wasiat menyangkut harta

9Al Ghazali, Rahasia Puasa dan Zakat (Bandung : Karisma,2003), h. 47.

(20)

saja. Dengan cara ini, akan berlangsung peredaran harta milik mayit kepada ahli warisnya. Dan ahli waris bisa mendapatkan harta tanpa melalui ekonomi biasa. Pribadi ahli waris dapat memperoleh harta dengan mendapatkan warisan. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah nash al-quran yang penunjukannya secara qathiy. Waris mempunyai hukum-hukum tertentu yang sifatnya tauqify yakni suatu ketentuan hukum yang bersifat dari Allah Swt.

2.2.2.4 Shadaqah

Dalam distribusi non ekonomi kita juga mengenal distribusi pendapatan yang berada dalam konteks rumah tangga. Distribusi pendapatan dalam konteks rumah tangga tidak lepas dari terminologi shadaqah. Pengertian shadaqah disini bukan berarti sedekah dalam pengertian bahasa Indonesia. Karena shadaqah dalam kontek terminologi Alquran dapat dipahami dalam dua aspek, yaitu shadaqah wajibah yang berarti bentuk-bentuk pengeluaran rumah tangga yang berkaitan dengan instrument distribusi pendapat berbasis kewajiban. Untuk kategori ini bisa berarti kewajiban personal seseorang sebagai muslim, seperti warisan dan bisa juga berarti kewajiban seorang muslim dengan muslim yang lain. Kedua: shadaqah nafilah (sunnah) yang berarti bentuk-bentuk pengeluaran rumah tangga yang berkaitan dengan instrument distribusi pendapatan berbasis amal karikatif, sedekah. Zakat dinamai shadaqah, karena zakat adalah sebuah ibadah yang bersifat shadaqah.10

(21)

21

Sebagaimana dalam surah al-Tawbah ayat 103 yang berbunyi:



































Terjemahannya:

Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha mendengar, Maha mengetahui.11

2.2.2.5 Ganti rugi terhadap kejahatan yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Distribusi harta dapat juga terjadi karena adanya ganti rugi (kompensasi) dari kemudharatan yang menimpa seseorang. Seseorang bisa mendapatkan harta tanpa harus mengeluarkan curahan harta tenaga karena dia mendapat ganti rugi sebagai akibat kemudaharatan yang dilakukan orang lain kepadanya.

2.2.2.6 Barang Temuan.

Salah satu bentuk distribusi harta secara nonekonomi adalah penguasaan seseorang atas harta temuan sehingga apabila ada seseorang telah menemukan suatu barang dijalan atau disuatu tempat umum, maka harus diteliti terlebih dahulu. Apabila barang tersebut memungkinkan untuk disimpan dan diumumkan. Misalnya emas, perak, permata dan pakaian, maka barang tersebut harus disimpan dan diumumkan untuk dicari siapa pemiliknya. Jika selama dalam pengumuman ada pemiliknya yang datang maka harta tersebut harus diserahkan. Akan tetapi jika tidak ada yang datang atau tidak ada yang dapat membuktikan bahwa harta tersebut memang

11Usman el-Qurtuby, Al-qur’an Cordoba (Al-qur’an Tajwid dan Terjemah) ( Bandung:

(22)

miliknya maka harta tersebut menjadi milik orang yang menemukan dan harus dikeluarkan khums (1/5) dari harta tersebut sebagai zakatnya.

BAB III

PENUTUP

(23)

Distribusi dalam KBBI diartikan sebagai penyaluran (pembagian, pengiriman) kepada beberapa orang atau ke beberapa tempat. Dalam ekonomi Islam, distribusi dibagi menjadi dua, yaitu distribusi pendapatan dan distribusi kekayaan. Distribusi pendapatan bersumber dari tanah dan sejenisnya disebut dengan sewa, sedangkan yang bersumber dari tenaga kerja disebut dengan upah. Adapun distribusi kekayaan bersumber dari dana zakat, infaq, shadaqah, warisan, hibah, wasiat, wakaf, qurban, dan lain-lain.

Beberapa dampak yang ditimbulkan dari distribusi pendapatan yang didasarkan atas konsep islam, diantaranya yaitu: (1) dalam konsep islam perilaku distribusi pendapatan masyarakat merupakan bagian dari bentuk proses kesadaran masyarakat dalam mendekatkan diri kepada Allah, (2) seorang muslim akan menghindari praktek distribusi yang menanggung barang-barang yang merusak masyarakat misalnya, minuman keras, obat terlarang, (3) Negara bertanggung jawab terhadap mekanisme distribusi dengan mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan kelompok, (4) Negara mempunyai tanngung jawab untuk menyediakan fasilitas public yang berhubungan dengan masalah optimalisasi distribusi pendapatan, seperti sekolah, rumah sakit.

Jadi inti dari teori distribusi islami itu adalah untuk memberikan kemaslahatan kepada umat, dimana semuanya itu diterapkan berdasarkan sumbernya yaitu al-qur’an dan hadits.

3.2 Saran

Dengan makalah ini, kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari

21

(24)

makalah ini berguna untuk kita semua. Amin

DAFTAR PUSTAKA

(25)

Harahap, Sofyan S. 2011. Etika Bisnis dalam Perspektif Islam. Jakarta: Salemba Empat.

Mannan, H. Abdul. 2012. Hukum Ekonomi Syariah ; Perspektik Kewenangan Peradilan Agama . Jakarta: Kencana.

Mujahidin, Akhmad. 2010. Ekonomi Islam 2. Pekanbaru: Mujtahadah Press.

Rahman, Afzalur. 1985. Ekonomik Doktrines of Islami. Yokyakarta: Darma Bakti Wakaf.

Rozalinda. 2015. Ekonomi Islam: Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada.

Usman el-Qurtuby. 2016. Al-qur’an Cordoba (Al-qur’an Tajwid dan Terjemah). Bandung: Cordoba.

Al Ghazali. 2003. Rahasia Puasa dan Zakat. Bandung : Karisma.

Referensi

Dokumen terkait

Mannan dalam penjelasan tentang Konsep Hak Milik Pribadi mengatakan bahwa konsep hak milik pribadi dalam Islam bersifat unik, dalam arti bahwa pemilik mutlak segala sesuatu yang ada

etika bisnis Islam adalah tindakan dan perilaku seseorang dalam

a. Agama Islam mengakui adanya hak milik pribadi yang berhak mendapat perlindungan. Hak milik pribadi jika memenuhi nisabnya, wajib dikeluarkan zakatnya dan kewajiban

Semua ikatan ini pada dasarnya kembali pada pandangan Islam tentang hak milik 1 Orang-orang yang mengamati nash- nash di dalam Al-Qur’an akan menemukan dasar-dasar

Mannan dalam penjelasan tentang Konsep Hak Milik Pribadi mengatakan bahwa konsep hak milik pribadi dalam Islam bersifat unik, dalam arti bahwa pemilik mutlak segala sesuatu yang ada

Untuk membangun kultur yang sehat dalam bisnis maka dalam etika bisnis Islam terdapat beberapa prinsip diantaranya adalah tentang Barometer Ketaqwaan Seseorang dan

membahas moralitas Islam secara utuh, maka tipe etika ini sejalan dengan pengembangan etika bisnis Islami. Workshop By Afifudin PSEI FE Unisma

Etika Islam atau adab dan akhlak Islamiyah adalah etika dan moral yang dianjurkan dalam ajaran Islam yang tercantum dalam Al-Quran dan