Sri Hudiarini
Politeknik Negeri Malang [email protected]
Abstract
Corruption in Indonesia has been worrying and has had a bad impact in various fields. Efforts to eradicate corruption itself involve two parts, namely prosecution or prevention. Both of these things will bring optimal results carried out by the government and society. Likewise, in efforts to prevent corruption, the active role of students is needed by participating in building an anti-corruption culture in society. The purpose of this research is that students are expected to be able to play an active role as agents of change and activator of the anti-corruption movement in society. This research is a quantitative research using a descriptive approach, which is insightful to explain or describe an event, state, object whether people, or everything that is interrelated. And regarding the data reading technique, the authors conducted interviews, distributed questionnaires, and also through observation. Anti-corruption education for Malang State Polytechnic students has the aim of providing sufficient knowledge about corruption and its eradication as well as instilling anti-corruption values. In addition, it is also to foster an anti-corruption culture and encourage students to be able to act in efforts to prevent corruption in Indonesia. And as a method of delivery, it is pursued in various ways, including through lectures, seminars and socialization activities.
Keywords: Anti-Corruption Education, Students, Polytechnic, Active Role, Preventive Efforts
Abstrak
Tindak Pidana Korupsi yang terjadi di Indonesia sudah mengkhawatirkan dan membawa dampak buruk di berbagai bidang. Upaya dari pemberantasan korupsi itu sendiri melibatkan dua bagian yaitu penindakan maupun pencegahan. Kedua hal ini akan membawa hasil secara optimal apabila dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Demikian pula dalam upaya pencegahan korupsi, peran aktif dari mahasiswa sangat diperlukan dengan cara ikut serta membangun budaya anti korupsi di masyarakat. Tujuan dari penelitian ini diharapkan mahasiswa akan mampu berperan aktif sebagai agen perubahan dan penggerak gerakan anti korupsi di masyarakat. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode pendekatan deskriptif, yang tujuannya untuk menjelaskan atau mendiskripsikan mengenai suatu peristiwa, keadaan, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang saling terkait. Dan mengenai teknik pengumpulan data, penulis melakukan dengan cara interview, membagikan kuesioner (angket), dan juga melalui observasi. Pendidikan anti korupsi bagi mahasiswa Politeknik Negeri Malang ini mempunyai tujuan untuk memberikan pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk korupsi dan pemberantasannya serta menanamkan nilai-nilai anti korupsi. Selain itu juga untuk menumbuhkan budaya anti korupsi dan mendorong mahasiswa agar nantinya mampu berperan aktif dalam upaya preventif pencegahan tindak pidana korupsi di Indonesia. Dan sebagai metode dalam penyampaiannya ditempuh dengan berbagai cara, diantaranya melalui perkuliahan, seminar dan kegiatan sosialisasi.
Kata kunci : Pendidikan Anti Korupsi, Mahasiswa, Politeknik, Peran aktif, Upaya Preventif
Pendahuluan
Bangsa Indonesia merupakan bagian dari masyarakat dunia, dengan
menyandang citra tingkat korupsi yang cukup tinggi. Hal ini tentu menimbulkan kerugian dan kesan
Seminar Nasional Gabungan Bidang Sosial - Polinema 2020
buruk ini di saat berhadapan dengan negara lain dan kehilangan kepercayaan pihak lain. Ketidakpercayaan pelaku bisnis dunia pada birokrasi mengakibatkan investor luar negeri berpihak ke negara-negara tetangga yang dianggap memiliki iklim yang lebih baik. Kondisi seperti ini bias merugikan perekonomian dalam segala aspeknya kehidupan. Dapat dikatakan korupsi merupakan suatu “benalu sosial” yang merusak struktur pemerintahan dan menjadi penghambat utama terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan pada umumnya. Secara praktek, korupsi hampir tidak mungkin dapat diberantas, oleh karena sangat sulit memberikan pembuktian-pembuktian yang nyata dan melibatkan banyak pihak yang terkait di dalamnya.
Pemerintah Indonesia juga telah berusaha untuk bisa memerangi korupsi dengan berbagai cara, salah satunya dengan mendirikan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau atau yang biasa disingkat dengan KPK pada tahun 2002 dengan berdasarkan Undang Undang No 30 tahun 2002. Sebagai suatu lembaga independen yang secara khusus menangani tindak korupsi, menjadi upaya pencegahan dan penindakan tindak pidana. Korupsi dipandang sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang oleh karena itu memerlukan upaya luar biasa pula untuk memberantasnya.
Upaya pemberantasan korupsi terdiri dari dua bagian besar, yaitu pencegahan dan penindakan tidak akan pernah berhasil optimal jika hanya dilakukan oleh pemerintah saja tanpa melibatkan peran serta masyarakat. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika mahasiswa diharapkan dapat terlibat aktif dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
Masalah pemberatasan korupsi tidak hanya dapat dilakukan oleh aparat penegak hukum saja, dunia pendidikan diharapkan dapat berperan dalam pencegahan korupsi sejak dini. Pendidikan sebagai wadah untuk membentuk generasi penerus bangsa menjadi wadah yang efektif dalam rangka pencegahan korupsi. Sebagai generasi muda penerus bangsa, mahasiswa harus mampu berbuat sesuatu untuk masyarakat, bangsa dan negaranya. Salah satu upaya jangka panjang yang terbaik mengatasi korupsi adalah dengan memberikan pendidikan anti korupsi dini kepada kalangan generasi muda sekarang khususnya mahasiswa di Perguruan Tinggi. Karena mahasiswa adalah generasi penerus yang akan menggantikan kedudukan para pejabat terdahulu.
Selain itu dapat pula dikatakan, sebagai generasi muda sangat mudah terpengaruh dengan lingkungan di sekitarnya. Jadi, kita lebih mudah mendidik dan memengaruhi generasi muda supaya tidak melakukan tindak pidana korupsi sebelum mereka lebih dulu dipengaruhi oleh budaya korupsi dari generasi pendahulunya.
Semangat yang membara tertanam dalam diri mahasiswa, dimana semangat tersebut mendasari perbuatan untuk melakukan perubahan atas keadaan yang mencerminkan nilai ketidakadilan. Dalam sejarah kita mencatat dengan tinta emas, mencatat bahwa perjuangan bangsa Indonesia tidak bisa lepas dari mahasiswa dan dari pergerakan mahasiswa akan muncul tokoh dan pemimpin bangsa. Apabila kita menengok ke belakang, sebelum masa kemerdekaan, para mahasiswalah yang mempelopori kebangkitan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan Hindia Belanda.
Demikianlah perjuangan yang dilakukan oleh mahasiswa dalam
Seminar Nasional Gabungan Bidang Sosial - Polinema 2020
mempertahankan idealismenya, untuk memerangi ketidakadilan yang terjadi. Di masa sekarang ini, mahasiswa dihadapkan pada tantangan yang tidak kalah besar dibandingkan dengan kondisi masa lampau. Kondisi yang membuat Bangsa Indonesia terpuruk, yaitu masalah korupsi yang merebak di seluruh bangsa ini. Mahasiswa harus berpandangan bahwa korupsi adalah musuh utama bangsa Indonesia dan harus diperangi.
Keterlibatan mahasiswa dalam upaya pemberantasan korupsi tentu tidak pada upaya penindakan yang merupakan kewenangan institusi penegak hukum. Peran dari para mahasiswa diharapkan lebih difokuskan pada upaya pencegahan korupsi dengan ikut membangun budaya antikorupsi di masyarakat. Mahasiswa setidaknya dapat berperan sebagai agen perubahan dan motor penggerak gerakan anti korupsi di masyarakat. Untuk dapat berperan aktif, mahasiswa perlu dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk perbuatan korupsi dan strategi dalam pemberantasannya.
Pendidikan Antikorupsi bagi mahasiswa mempunyai tujuan untuk memberikan pengetahuan yang cukup tentang permasalahan korupsi dan pemberantasannya, mendorong mahasiswa mampu berperan aktif dalam upaya pencegahan korupsi, menanamkan nilai-nilai antikorupsi serta menumbuhkan budaya antikorupsi di kalangan mahasiswa. Kampus sebagai lingkungan pencetak generasi bangsa dengan taraf yang lebih tinggi juga sangat peduli terhadap pendidikan anti korupsi di lingkungan mahasiswa. Dengan pendidikan anti korupsi maka generasi penerus bangsa akan lebih awal memahami masalah korupsi dan tidak melakukan kegiatan bejat ini
seperti apa yang dilakukan generasi sebelumnya.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah mengenai peranan dari pendidikan antikorupsi sehingga akan mampu menggali kesadaran mahasiswa sebagai upaya preventif dalam rangka mencegah terjadinya tindak pidana korupsi dan juga membahas bagaimana model pembelajaran dari pendidikan anti korupsi di lingkungan kampus Polinema. Dan penulis membatasi untuk mahasiswa Jurusan Akuntansi dan Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Malang.
Kajian Literatur
A. Pendidikan Anti Korupsi Pendidikan anti korupsi merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan sadar dan terencana untuk mewujudkan proses belajar mengajar yang kritis terhadap nilai-nilai anti korupsi. Dalam proses tersebut, maka Pendidikan Antikorupsi bukan hanya sekedar alat untuk mentransfer pengalihan pengetahuan (kognitif) namun juga menekankan pada upaya pembentukan karakter (afektif) dan kesadaran moral dalam melakukan perlawanan (psikomotorik) terhadap adanya penyimpangan perilaku yang terkait dengan perbuatan korupsi.
Korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi dari korupsi adalah “penyelewengan atau
Seminar Nasional Gabungan Bidang Sosial - Polinema 2020
penggelapan uang negara atau perusahaan, dan sebagainya untuk keperluan pribadi”. Sedangkan dalam Undang Undang No.31 tahun 1999 jo Undang Undang 20 tahun 2001 dapat diambil pengertian bahwa korupsi adalah “Tindakan melanggar hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi yang berakibat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara”.
Korupsi merupakan tindakan yang dapat menyebabkan sebuah negara menjadi bangkrut dengan efek yang luar biasa seperti hancurnya perekonomian, rusaknya sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai.
Selanjutnya Baharudin Lopa mengutip pendapat David M. Chalmers, menguraikan istilah korupsi dalam berbagai bidang, yang berkaitan dengan masalah penyuapan, yang berhubungan dengan manipulasi di bidang ekonomi, dan yang menyangkut bidang kepentingan umum. Hal ini diambil dari definisi yang berbunyi “financial manipulations and deliction injurious to the economy are often labeled corrupt” (Evi Hartanti: 2008). B. Faktor - Faktor Penyebab Tindak Pidana Korupsi
Erry Riyana Hardjapamekas (2008) menyebutkan tingginya kasus korupsi di negeri ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya (1) Kurang keteladanan dan kepemimpinan elite bangsa, (2) Rendahnya gaji Pegawai Negeri Sipil, (3) Lemahnya komitmen dan konsistensi penegakan hukum dan peraturan perundangan, (4) Rendahnya integritas dan profesionalisme, (5) Mekanisme pengawasan internal di semua lembaga perbankan, keuangan, dan birokrasi belum mapan, (6) Kondisi lingkungan kerja, tugas jabatan, dan lingkungan masyarakat,
dan (7) Lemahnya keimanan, kejujuran, rasa malu, moral dan etika.
Sedangkan Susila (dalam Hamzah: 2004) menyebutkan tindakan korupsi mudah timbul karena ada kelemahan di dalam peraturan perundang-undangan, yang mencakup adanya peraturan perundang-undangan yang bermuatan kepentingan pihak-pihak tertentu, kualitas peraturan perundang-undangan kurang memadai, peraturan kurang disosialisasikan, sanksi yang terlalu ringan, penerapan sanksi yang tidak konsisten dan pandang bulu, lemahnya bidang evalusi dan revisi peraturan perundang-undangan.
Apabila kita melihat pada teori yang dikemukakan oleh Jack Bologne atau sering disebut dengan GONE Theory, dijelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana korupsi meliputi :
1. Greeds (keserakahan) : berkaitan dengan adanya perilaku serakah yang secara potensial ada di dalam diri setiap orang.
2. Opportunities (kesempatan) : berkaitan dengankeadaan organisasi atau instansi atau masyarakat yang sedemikian rupa, sehingga terbuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan kecurangan.
3. Needs (kebutuhan) : berkaitan dengan faktor-faktor yamg dibutuhkan oleh individu-individu untuk menunjang hidupnya yang wajar.
4. Exposures (pengungkapan) : berkaitan dengan tindakan atau konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku diketemukan melakukan kecurangan.
Mengenai aspek perilaku individu, Isa Wahyudi memberikan gambaran, sebab-sebab seseorang melakukan korupsi dapat berupa dorongan dari dalam dirinya, yang
Seminar Nasional Gabungan Bidang Sosial - Polinema 2020
dapat pula dikatakan sebagai keinginan, niat, atau kesadaran untuk melakukan. Lebih jauh disebutkan sebab-sebab manusia terdorong untuk melakukan korupsi antara lain : (a) sifat tamak manusia, (b) moral yang kurang kuat menghadapi godaan, (c) gaya hidup konsumtif, (d) tidak mau (malas) bekerja keras (Isa Wahyudi : 2007). C. Strategi Dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Upaya yang paling tepat untuk memberantas korupsi adalah dengan memberikan pidana atau menghukum seberat-beratnya pelaku korupsi. Dengan demikian bidang hukum khususnya hukum pidana akan dianggap sebagai jawaban yang paling tepat untuk memberantas korupsi.
Kebijakan penanggulangan kejahatan atau yang biasa dikenal dengan istilah politik kriminal atau criminal policy oleh G. Peter Hoefnagels dibedakan menjadi kebijakan penerapan hukum pidana (criminal law application), kebijakan pencegahan tanpa hukum pidana (prevention without punishment), kebijakan untuk mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pemidanaan lewat mass media (influencing views of society on crime and punishment /mass media) (Nawawi Arief : 2008)
D. Peranan Dan Keterlibatan Mahasiswa
Seperti kita ketahui dalam perjalanan sejarah bangsa, tercatat bahwa mahasiswa mempunyai peranan yang sangat penting dimulai dari tahun 1908 sebagai Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda tahun 1928, Proklamasi Kemerdekaan NKRI tahun 1945, lahirnya Orde Baru tahun 1996, dan Reformasi tahun 1998. Merekalah yang menjadi motor penggerak dari
peristiwa peristiwa tersebut dengan berbagai gagasan, semangat jiwa muda dan idealisme yang mereka miliki.
Dengan kemampuan intelektual yang tinggi, jiwa muda yang penuh semangat, dan idealisme yang murni telah terbukti bahwa mahasiswa selalu mengambil peran penting dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Dalam beberapa peristiwa besar perjalanan bangsa ini telah terbukti bahwa mahasiswa berperan sangat penting sebagai agen perubahan (agent of change). Dalam konteks gerakan anti-korupsi mahasiswa juga diharapkan dapat tampil di depan menjadi motor penggerak. Mahasiswa didukung oleh kompetensi dasar yang mereka miliki, yaitu: intelegensia, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk menyatakan kebenaran.
Peranan pemuda dalam usaha pemberantasan korupsi di Indonesia sangatlah penting, oleh karena itu, pemuda harus mulai mengambil peran dalam setiap usaha pembangunan bangsa dan Negara, khususnya usaha pemberantasan korupsi untuk menciptakan Indonesia yang bersih dan adil. makmur serta sejahtera. Pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari usaha pemeberantasan korupsi di Indonesia, karena hanya dengan pendidikan penanaman karakter anti karupsi kepada masyarakat khususnya pemuda dapat ditanamkan. Di sinilah kaum muda dapat mengambil peranan dalam pemberantasan korupsi, mereka harus menuntut ilmu dengan giat kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Penerapan terhadap hasil pendidikannya dapat dilakukan sejak dini, misalnya dengan melakukan aksi-aksi sosial, baik dalam bentuk kerja bakti terhadap masyarakat atau dengan aksi demonstrasi untuk menyuarakan
Seminar Nasional Gabungan Bidang Sosial - Polinema 2020
aspirasinya kepada pemerintah. Dengan begitu maka pemuda dapat membawa perubahan terhadap bangsa dan Negara, karena di situlah kekuatan pemuda berada, oleh karena itu tidak ayal jika mengakatakan bahwa pemuda merupakan the agent of change. Pendidikan budi pekerti adalah salah satu pendidikan penting untuk bekal hidup setiap orang.
Untuk keterlibatan mahasiswa dalam gerakan anti-korupsi di lingkungan kampus dapat kita bedakan menjadi dua, yaitu terkait individu mahasiswa sendiri ataupun komunitas mahasiswa. Untuk konteks individu, seorang mahasiswa diharapkan dapat mencegah agar dirinya sendiri tidak berperilaku koruptif dan tidak korupsi. Sedangkan untuk konteks komunitas, seorang mahasiswa diharapkan dapat mencegah agar rekan-rekannya sesama mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan di kampus tidak berperilaku koruptif dan tidak korupsi. Agar seorang mahasiswa dapat berperan dengan baik dalam gerakan anti-korupsi maka pertama-pertama mahasiswa tersebut harus berperilaku anti-koruptif dan tidak korupsi dalam berbagai tingkatan. Dengan demikian mahasiswa tersebut harus mempunyai nilai-nilai anti-korupsi dan memahami korupsi dan prinsip-prinsip anti-korupsi. Kedua hal ini dapat diperoleh dari mengikuti kegiatan sosialisasi, kampanye, seminar dan kuliah pendidikan anti korupsi. Nilai-nilai dan pengetahuan yang diperoleh tersebut harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain seorang mahasiswa dituntut harus mampu untuk mendemonstrasikan bahwa dirinya memang bersih dan jauh dari perilaku korupsi.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, maksudnya adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat untuk menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin diketahui. (Kasiram (2008: 149) dalam bukunya Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif).
Penelitian kuantitatif adalah definisi, pengukuran data kuantitatif dan statistik objektif melalui perhitungan ilmiah berasal dari sampel orang-orang atau penduduk yang diminta menjawab atas sejumlah pertanyaan tentang survei untuk menentukan persentase tanggapan mereka.
Selain hal tersebut diatas, penelitian kuantitatif ini mempunyai tujuan untuk menyusun ilmu nomotetik yaitu ilmu yang berupaya membuat hukum - hukum dari generalisasinya. Sedangkan subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, dan sumber data yang dibutuhkan, serta alat pengumpul data yang dipakai sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran dengan menggunakan alat yang objektif dan baku. Melibatkan penghitungan angka atau kuantifikasi data. Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul.
Karena obyek dari penelitian ini adalah mahasiswa maka pemilihan metode yang akan diterapkan adalah dengan menggunakan metode pendekatan deskriptif.. Menurut Punaji (2010) yang dimaksud dengan penelitian deskriptif adalah penelitian yang tujuannya untuk
menjelaskan ataupun juga
mendeskripsikan mengenai suatu
peristiwa, keadaan, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang terkait dengan variabel-variebel yang bisa dijelaskan baik menggunakan angka - angka maupun bisa juga dengan memakai kata-kata.
Sedangkan menurut Hidayah Syah, Penelitian deskriptif adalah suatu metode
Seminar Nasional Gabungan Bidang Sosial - Polinema 2020
penelitian yang digunakan untuk
menemukan pengetahuan terhadap obyek penelitian pada suatu masa tertentu. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang berasal dari objek yang diteliti yaitu mahasiswa dan dara sekunder yang berupa data presensi mahasiswa. Materi dan berbagi teori yang mendukung penelitian.
Selanjutnya jika dilihat dari teknik
pengumpulan data, maka penulis
melakukan dengan cara :
1. Interview (Wawancara), menjadi teknik pengumpulan data saat peneliti ingin melakukan studi pendahuluan guna menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan jika peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden dengan sangat mendalam dan jumlah respondennya sedikit / kecil. Wawancara terstruktur, dipakai sebagai teknik pengumpulan data, jika peneliti atau pengumpul data sudah mengetahui dengan pasti informasi yang akan didapatkan.
Oleh sebab itu di dalam
melakukan wawancara,
pengumpul data harus sudah menyiapkan instrumen penelitian yang berupa pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun
telah disiapkan. Dengan
wawancara terstruktur ini, responden diberi pertanyaan yang sama, dan pengumpul data harus mencatatnya. Sedang wawancara tidak terstruktur merupakan
wawancara yang bebas dan
peneliti tidak memakai pedoman wawancara yang tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.
2. Kuesioner adalah alat teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi pertanyaan atau pernyataan tertulis pada responden untuk dijawabnya.
Kuesioner adalah teknik
pengumpulan data yang amat efisien jika peneliti tahu pasti variabel yang diukur dan tahu apa yang diharapkan dari responden. 3. Metode analisis data merupakan
tahapan proses penelitian dimana data yang sudah dikumpulkan di-manage untuk diolah dalam rangka
menjawab pengukuran suatu
fenomena dalam bentuk angka angka.
Hasil dan Pembahasan
Agus Wibowo menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan pendidikan
antikorupsi adalah setiap usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses dan belajar mengajar yang kritis terhadap nilai-nilai anti korupsi. Dalam proses tersebut, maka pendidikan antikorupsi bukan sekedar media bagi transfer pengalihan pengetahuan (kognitif), namun
juga menekankan pada upaya
pembentukan karakter (afektif), dan
kesadaran moral dalam melakukan
perlawanan (psikomotorik), terhadap penyimpangan perilaku korupsi. Wibowo (2013:38)
Dapat kita ambil kesimpulan bahwa pendidikan antikorupsi adalah usaha sadar
untuk memberikan pemahaman dan
pencegahan terjadinya perbuatan korupsi yang dilakukan melalui pendidikan secara formal maupun juga nonformal. Tujuan utama pendidikan antikorupsi adalah perubahan sikap dan perilaku terhadap tindakan koruptif, membentuk kesadaran akan bahaya korupsi dan kemudian mempunyai rasa untuk bisa bangkit melawannya.
Pendidikan anti korupsi juga berguna mempromosikan nilai-nilai kejujuran dan tidak mudah menyerah demi kebaikan. Seyogianya, pendidikan antikorupsi dikelola sebagai sebuah dialog, hingga tumbuh kesadaran kolektif
Seminar Nasional Gabungan Bidang Sosial - Polinema 2020
pemberantasan dan pencegahan korupsi. Kebijakan memasukkan pendidikan anti korupsi di slembaga pendidikan adalah sebuah bentuk kesadaran baru berani membentuk sikap anti korupsi sejak dini.
Maka arah dari semua langkah itu adalah membangun kultur perlawanan terhadap budaya korupsi yang dimulai dari pendidikan keluarga, dengan sifat menciptakan efek jera, menebarkan
budaya malu, menciptakan budaya
kejujuran, budaya tanggung jawab dan berupaya untuk mencegah agar para calon pelaku korupsi takut untuk berbuat serupa.
Maka sosok manusia yang
mengembangkan berbagai kecerdasan tersebut, diharapkan siap menghadapi dan memberantas perbuatan korupsi atau bersikap anti korupsi.
Untuk menggali data-data dari responden, penulis menyusun beberapa pertanyaan dalam penelitian ini, dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan
agar bisa menjawab berbagai
permasalahan yang terkait dengan rumusan masalah, yang ditujukan baik ke mahasiswa maupun para dosen pengajar yang terkait di dalamnya.
Penulis mengambil beberapa
penjelasan dari responden secara bebas agar responden bisa mengungkapkan persoalan individu yang dirasakan oleh responden secara langsung sehingga tidak terbelenggu oleh batasan pertanyaan dari penulis.
Penelitian ini menampilkan responden yang berada di wilayah kerja, dengan cara mengisi link yang disebar untuk mahasiswa.
1. Persyaratan utama untuk
memperoleh data yang akurat adalah bahwa responden harus mengisi jawaban secara jujur.
2. Sebagai penguat motivasi kepada responden agar mereka bisa mengisi kuisioner dengan sejujur-jujurnya maka penulis memberikan pengantar sebelum pengisian kuisioner, agar
responden menjawab dengan jujur dan sesuai dengan hati nuraninya. 3. Tidak boleh ada sanksi apapun
terhadap responden. Pendataan ini bersifat langsung jadi tidak boleh ada pengondisian tertentu.
4. Responden tidak perlu
mencantumkan nama, diharapkan
agar mereka dapat bebas
menyampaikan aspirasinya.
Penelitian ini memerlukan data-data riil yang diambil secara langsung dari responden yaitu mahasiswa Politeknik
Negeri Malang jurusan Teknik
Elektronika maupun jurusan Akuntansi. Dari hasil penyebaran kuesioner yang sudah dilakukan diperoleh jumlah responden yang mengisi sebanyak 200
mahasiswa. Dan untuk data yang
diperoleh dari responden tersebut disajikan dalam bentuk diagram, maka akan diperoleh hasil sebagai berikut :
Dari data diatas, dapat kita lihat prosentase pendapat mahasiswa tentang pentingnya materi Pendidikan anti korupsi yang diajarkan di Politeknik Negeri
Malang sebesar 100% responden
menyatakan setuju atau penting.
Upaya yang bisa dilakukan
sebagai wujud kepedulian diantaranya adalah dengan menciptakan suasana kampus sebagai rumah kedua. Hal ini dimaksudkan agar kampus menjadi tempat untuk mahasiswa berkarya, baik kurikuler maupun ekstra-kurikuler tanpa
Seminar Nasional Gabungan Bidang Sosial - Polinema 2020
adanya batasan ruang gerak. Selain itu yang dapat dilakukan juga adalah memberikan kesempatan bagi mahasiswa
untuk menggalang dana guna
memberikan bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa yang membutuhkan. Dengan adanya aksi tersebut maka interaksi mahasiswa satu dengan yang lain akan semakin erat. Tindakan lainnya
adalah dengan memperluas akses
mahasiswa kepada dosen di luar jam kuliah melalui pemanfaatan internet dan juga meningkatkan peran dosen sebagai fasilitator, dinamisator, dan motivator.
Membiasakan gaya hidup
sederhana, tidak boros, menganut pola hidup sesuai dengan kemampuannya merupakan hal yang sangat penting dilakukan bagi mahasiswa. Dalam menerapkan prinsip tersebut, mahasiswa dibina untuk memproritaskan kebutuhan atas keinginannya. Mengembangkan sikap keberanian demi mempertahankan
pendiriannya dan keyakinannya,
mahasiswa harus mempertimbangkan berbagai masalah dengan sebaik-baiknya.
Dapat kita cermati, mengenai beberapa alasan dari pembelajaran materi
Pendidikan anti korupsi menurut
responden adalah :
- Sebagai bekal atau modal ketika mahasiswa nantinya hidup di lingkungan masyarakat sejumlah 48,5%
- Harapan agar mahasiswa mampu mengkritisi segala kebijakan terkait tindak pidana korupsi yang
terjadi di negara kita sejumlah 20,5 %
- Kunci tindakan preventif bagi mahasiswa sebesar 31%
Peranan penting dari mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari karakteristik yang mereka miliki, yaitu dengan sifat idealisme yang cukup tinggi dan juga jiwa intelektualitas. Dengan idealisme, kemampuan intelektual yang tinggi, jiwa muda yang penuh semangat telah membuktikan bahwa mahasiswa selalu mengambil peran penting dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Dalam beberapa peristiwa besar perjalanan bangsa ini telah terbukti bahwa mahasiswa berperan sangat penting sebagai agen perubahan (agent of change).
Dampak mengikuti pendidikan antikorupsi yaitu perubahan karakter. Perubahan karakter disini yaitu perubahan karakter yang lebih baik. Yang sebelumnya biasa melakukan tindakan-tindakan korupsi menjadi meninggalkan tindakan-tindakan tersebut. Sehingga saat terjun didunia kerja orang tersebut tidak melukan tindak pidana korupsi.
Dalam konteks gerakan anti-korupsi mahasiswa juga diharapkan dapat tampil di depan menjadi motor penggerak. Mahasiswa didukung oleh kompetensi dasar yang mereka miliki, yaitu: intelegensia, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk menyatakan kebenaran. Keterlibatan mahasiswa dalam gerakan anti-korupsi di lingkungan kampus dapat dibagi ke dalam dua
wilayah, yaitu: untuk individu
mahasiswanya sendiri, dan untuk komunitas mahasiswa. Untuk konteks individu, seorang mahasiswa diharapkan dapat mencegah agar dirinya sendiri tidak berperilaku koruptif dan tidak korupsi.
Sedangkan untuk konteks
komunitas, seorang mahasiswa
diharapkan dapat mencegah agar
rekan-rekannya sesama mahasiswa dan
Seminar Nasional Gabungan Bidang Sosial - Polinema 2020
tidak berperilaku koruptif dan tidak korupsi.
Dengan demikian mahasiswa tersebut harus mempunyai nilai-nilai anti- korupsi dan memahami korupsi dan prinsip-prinsip anti-korupsi. Kegiatan sosialisasi, kampanye, seminar, pelatihan, kaderisasi, dan lain-lain dapat dilakukan untuk menumbuhkan budaya anti korupsi.
Misalnya dengan mengkampanyekan
kepada mahasiswa untuk menghadapi ujian bersih atau anti mencontek. Hal ini dapat dilakukan untuk menumbuhkan antara lain nilai-nilai kerja keras,
kejujuran, tanggung jawab, dan
kemandirian. Keberadaan dari kantin kejujuran merupakan contoh lain yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan nilai-nilai tanggung jawab dan juga kejujuran.
Dari hasil survey, dapat kita lihat prosentase dari pendapat mahasiswa mengenai pentingnya materi pendidikan antikorupsi yang menjadi mata kuliah yang berdiri sendiri dan tidak menjadi bagian dari mata kuliah Pendidikan Pancasila ataupun Kewarganegaraan adalah :
- tidak perlu menjadi mata kuliah mandiri sebanyak sebesar 72,5 %,
- perlu menjadi mata kuliah yang berdiri sendiri sebesar 27,5 %
Dengan hasil survey diatas, maka dapat kita lihat bahwa mahasiswa Politeknik Negeri
Malang yang meyatakan setuju untuk pembelajaran mata kuliah Antikorupsi sebagai mata kuliah yang berdiri sendiri sebanyak 27,5 persen saja.
Pendidikan Antikorupsi
dimaksudkan supaya setelah mengikuti pendidikan antikorupsi orang tersebut bisa lebih kritis terhadap korupsi. Dampak dari mahasiswa yang telah mengikuti pendidikan antikorupsi antara lain mengetahui bahaya dari tindak pidana korupsi. Bahaya tindak pidana korupsi antara lain dalam bidang ekonomi korupsi merusak perkembangan ekonomi suatu negara. Jika suatu aktivitas ekonomi dijalankan dengan unsur-unsur korupsi,
maka pertumbuhan ekonomi yang
diharapkan tidak akan tercapai. Menimbulkan efek pada kurangnya investasi dan kepercayaan. Hal ini dikarenakan para investor menjadi ragu
dan takut untuk mempercayakan
modalnya untuk dikelola di daerah yang korup.
Pendidikan antikorupsi memang bukan mata kuliah yang berdiri sendiri di lingkungan kampus Polinema, akan tetapi termasuk dalam bagian pembahasan mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Mengenai metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pendidikan anti korupsi di lingkungan kampus Polinema, antara lain dengan :
1. In class discussion, yaitu diskusi di dalam kelas. Dosen menyampaikan dan mendiskusikan konsep konsep terkait korupsi dan anti korupsi. Dengan tujuan untuk menumbuhkan kepekaan dan membangun kerangka berpikir mahasiswa.
2. Case study merupakan suatu studi kasus yang membahas mengenai kasus-kasus terkait dengan topik hangat yang terjadi seperti kasus
korupsi yang sedang marak
Seminar Nasional Gabungan Bidang Sosial - Polinema 2020
menjadi penyebab korupsi dan
dampaknya serta gerakan
pemberantasan korupsi yang
dilakukan oleh masyarakat ataupun pemerintah.
3. Thematic exploration, yang mana mahasiswa dibentuk menjadi satu
kelompok untuk melakukan
observasi terhadap suatu kasus terkait tindak pidana korupsi atau perilaku koruptif dari berbagai ragam perspektif misalnya dari social, budaya, ekonomi dan hukum.
4. Film discussion, menggunakan
media film sebagai pembelajaran
melalui audio visual yang
ditampilkan di saat pembelajaran berlangsung
5. General lecture, dengan cara
mengundang atau menghadirkan seorang pembicara tamu untuk berbagi pengalaman.
Simpulan Dan Saran
Dari hasil penelitian yang sudah penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan antikorupsi yang merupakan bagian dari mata kuliah
Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan diharapkan akan
mampu menggali kesadaran mahasiswa sebagai upaya preventif dalam rangka mencegah terjadinya tindak pidana
korupsi. Dengan harapan setelah
mahasiswa lulus nanti dan terjun langsung dalam masyarakat akan bisa memberikan teladan yang baik dengan bekal ilmu yang telah dimilikinya sejak di bangku
perkuliahan. Sedang untuk model
pembelajarannya di lingkungan kampus Polinema digunakan beberapa metode yaitu dengan In class discussion, Case
study, Thematic exploration, Film
discussion, General lecture.
Pendidikan antikorupsi yang dilakukan di Lembaga Pendidikan
merupakan langkah awal untuk
mencegah terjadinya korupsi di masa yang akan datang. Mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa bisa lebih mengerti apa bahaya dari korupsi sehingga tidak melakukan korupsi. Untuk itu materi pendidikan antikorupsi perlu di tingkatkan statusnya dari bagian mata kuliah umum menjadi mata kuliah yang berdiri sendiri dan wajib untuk diikuti oleh setiap mahasiswa Politeknik Negeri Malang. Selain itu, diperlukan juga contoh dan teladan dari para pendidik untuk benar benar menerapkan budaya anti korupsi.
Daftar Rujukan
Agus Wibowo. 2013. Pendidikan
Antikorupsi di Sekolah Strategi Internalisasi Pendidikan Antikorupsi di Sekolah. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
Darmawan, Deni. 2013. Metode
Penelitian Kuantitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hartanti, Evi (2008) Tindak Pidana Korupsi, Jakarta : Sinar Grafika Hudiarini, Sri. dkk, 2018, Pendidikan
Pancasila, Aditya Media, Yogyakarta Jack Bologna, Tommie Singleton.
(2006), Fraud Auditing And Forensic Accounting New Jersey : John Wiliey & Sons Ink
Kasiram, Mohammad. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif-Kualitatif. Malang:UIN Malang Press
.
Punaji, Setyosari. 2010. Metode
Penelitian Pendidikan dan
Seminar Nasional Gabungan Bidang Sosial - Polinema 2020
Sugiyono, 2013, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta
Jurnal
Arfan Faiz Muhlizi, 2014, Revolusi Mental Untuk Membentuk Budaya Hukum Anti Korupsi, Rechtsvinding Astika Nurul Hidayah, 2018, Analisis
Aspek Hukum Tindak Pidana Korupsi Dalam Rangka Pendidikan Anti Korupsi, Kosmik Hukum Ahmad Fikri Hadin dan Reja Fahlevi,
2016, Desain Bahan Ajar
Pendidikan Kewarganegaraan
Berbasis Pendidikan Anti Korupsi
Di Perguruan Tinggi, Moral
Kemasyarakatan, hal 162 sd 172
Asep Syarifuddin Hidayat, 2019,
Pendidikan Kampus Sebagai Media Penanaman Nilai-nilai Antikorupsi Bagi Mahasiswa, Sosial Dan Budaya Syar’I, hal 43 sd 54
N.S. Junaedi, Ita Susanti, Sumiyati, Model
Pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi Di Lingk Politeknik Negeri Bandung
,
file:///C:/Users/hp/Downloads/844-
Article%20Text-1649-1-1020170928%20(3).pdf, diakses 10
agustus 2020
Natal Kristiono, 2018, Penanaman Nilai AntiKorupsi Bagi Mahasiswa FIS
UNES Melalui Mata Kuliah
Pendidikan Anti Korupsi, Refleksi Edukatika, hal 40 sd 45.
Ita Suryani, 2015, Penanaman Nilai Nilai
Anti Korupsi Di Lembaga
Pendidikan Perguruan Tinggi
Sebagai Pencegahan Preventif, Visi Komunikasi, hal 285 sd 301
Putra Perdana Saifullah, 2017, Peran
Perguruan Tinggi Dalam
Menumbuhkan Budaya Anti
Korupsi, Hukum Dan Pembangunan.
Sutrisno, 2017, Implementasi pendidikan antikorupsi pada mata pelajaran PPKn berbasis project citizen di Sekolah Menengah Atas, Civic
http://id.portalgaruda.org/article.php ?article=435720&val=9230, diakses 11 agustus 2020 https://docplayer.info/41377609-Asriana-issa-sofia-haris-herdiansyah.html, diakses 11 agustus 2020