• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

(2)

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN 1986 2006 2010 2011 2012 2,765 4,577 4,838 4,952 4,968 n/a 36,763 42,631 44,280 48,997 94,534 472,602 573,601 602,195 629,418 1,416,935 8,101,868 53,207,500 54,559,969 55,856,176

Definisi Sesuai dengan UU No. 20/2008 tentang UMKM :

Berdasarkan Asset per tahun : Usaha Mikro (<Ro. 50 juta), Usaha Kecil (Rp. 50 juta s/d Rp. 1 milyar), Usaha Menengah (>Rp. 1 milyar s/d 3 milyar), dan Usaha Besar (>Rp. 3 milyar) Atau Berdasarkan omset per tahun; Usaha Mikro (≤Rp. 300 juta), Usaha Kecil (Rp. 300 juta s/d Rp. 2,5 milyar), Usaha Menengah (lebih dari Rp. 2,5 milyar s/d 50 milyar), dan Usaha Besar (>Rp. 50 milyar)

LATAR BELAKANG

Kondisi Aktual 98,79% (± 55,85 juta)

Pelaku Usaha adalah Usaha Mikro

(3)

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN • Perbankan Plafon 2009:129,428 milyar • UM 30,91% • UK 32,34% • UMi 36,75%

• Program KUMK SUP 005 • Program LPDB KUKM

• Perbankan

• Program Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil

• Program Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)

• Program LPDB KUKM

• Program Pemberdayaan Usaha Mikro

• Program Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)

PROGRAM PERLINDUNGAN SOSIAL (PNPM)

• Program Pemberdayaan Sosial • Program pemberdayaan Fakir

Miskin USAHA BESAR ± 4,96 ribu (0,01%) USAHA MENENGAH ± 48,98 ribu (0,09%) USAHA KECIL ± 629,42 Ribu (1,11%)

USAHA

MIKRO

± 55,85 juta

(98,79%)

FAKIR MISKIN MISKIN BELUM LAYAK USAHA DAN BELUM BANKABLE PENDUDUK MISKIN ± 29,89 juta jiwa (12,36%) (Data BPS 2011)

LAYAK

GO PUBLIC

• Pasar Modal

• Perbankan

• Sumber Lainnya

LAYAK USAHA DAN BELUM BANKABLE

LAYAK USAHA DAN BANKABLE Jumlah:*) ± 38,19 Jt (70%) Jumlah:*) ± 16,36 Jt (30%) Jumlah:*) ± 240,9 Rb (40%) Jumlah:*) ± 361,3 Rb (60%) Jumlah:*) ± 39,85 Rb (90%)

Deputi Bidang Pembiayaan, Diolah dari Berbagai Sumber

± 4,4 Rb (10%) KLASTER 1 KLASTER 2 KLASTER 3 KLASTER 4 KLASTER 5 KLASTER 6 POLA PEMBIAYAAN KONDISI EKSISTING

KONDISI EKSISTING & POLA

PEMBIAYAAN UMKM

(4)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

JUMLAH UMKM DAN ESTIMASI

KEBUTUHAN PEMBIAYAAN

Jumlah Unit Jumlah Unit Berdasarkan

2012 2012 Total Tahun 2012

1 2 3 4 6

Usaha Mikro 55,890,000 Klaster1 39,123,000 Juta6 335,340,000 1 140,842,800 Klaster2 16,767,000 2 60,361,200 Usaha Kecil 629,420 Klaster3 251,768 50 Juta 31,471,000 3 7,553,040 Klaster4 377,652 4 11,329,560 Usaha Menengah 48,980 Klaster5 44,082 1,000 Juta 48,980,000 5 26,449,200 Klaster6 4,898 6 2,938,800 415,791,000 249,474,600 5 7 Kebutuhan Permodalan (Rp Milyar)/Unit Unit Usaha Klasifikasi

Asumsi Plafon Penyaluran Kredit/Pemb Per Klaster Tahun 2012 Dgn Asumsi 40% Modal Sendiri dan 60% Pinjaman 4

(5)

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN

ASIMETRI

Akses Pasar Permodalan Peningkatan Ketrampilan Teknologi Produksi Sistem Manajemen

(6)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Financial Inclusion

Financial Inclusion

Kerjasama Lintas Sektor

Peni ngk latan Ak s es Pembi ay aan Perl uas an Sum ber Pem bi ay aan Regul as i/ Kebi jak an Y g Kond us if Si s tem Informas i Program/ Kegi atan

Financial Inclusion : penyediaan akses, produk dan jasa keuangan dasar

dengan murah, aman dan mudah, khususnya kepada kelompok kurang

beruntung.

(7)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Kerjasama Lintas Sektoral

Pemerintah (K/L Terkait) Lembaga dan Otoritas Keuangan Asosiasi Pelaku Usaha Pelaku Usaha Menegah Besar DPR

UMK

Usaha Mikro Kecil

(8)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Pemberdayaan usaha mikro tidak mungkin didekati secara individual

Pendekatan Kelompok

Legalitas Kelompok:

KOPERASI

!

(9)

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN

Penataan

Kelembagaan

Usaha Mikro

Sistem Kelompok Organisasi Formal (BH Koperasi) Pendekatan Sentra/Klaster Bisnis Pembinaan & Pendampingan Usaha

Penataan Kelembagaan

(10)

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN

KEBIJAKAN STRATEGIS

KEBIJAKAN STRATEGIS

UU No. 20/2008 tentang UMKM

UU No. 1/2013 tentang LKM UU No. 21/2011 tentang OJK

UU No. 170/2012 tentang Perkoperasian

PEMBIAYAAN YANG INKLUSIF UNTUK MEMBANGUN USAHA

(11)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Kualitas SDM yang rendah, dengan latar belakang pendidikan

dan pengetahuan yang sangat terbatas dan kurang

berpengalaman

Pengelolaan manajemen lemah

Produktivitas usaha rendah

Akses terhadap sumberdaya produktif lemah yaitu : informasi,

teknologi, pasar dan pembiayaan (modal).

Faktor pembiayaan yang disebut terakhir, menjadi masalah klasik

bagi UMKM yang tidak hanya membutuhkan penyelesaian

segara, tetapi telah tertinggal jauh dibanding negara-negara lain.

(12)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

CIRI-CIRI USAHA UMK

(13)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

KARAKTER UNIK UMK

(14)

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN

KENDALA PEMBERDAYAAN

USAHA MIKRO

9

(15)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

KENDALA SISI PERBANKAN (VERSI

BANK SYARIAH MANDIRI)

(16)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

AMANAT UU NO. 20/2008 tentang UMKM

a) memperbanyak

lembaga pembiayaan dan

memperluas jaringannya

sehingga dapat

diakses oleh Usaha Mikro, Kecil dan Menengah;

b)

memberikan kemudahan

dalam memperoleh

pendanaan secara cepat, tepat, murah,

dan

tidak diskriminatif dalam pelayanan sesuai

dengan

ketentuan

peraturan

perundang-undangan;

(17)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Pasal 21 ayat 1

Pemerintah

dan

Pemerintah

Daerah

menyediakan

pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil

Pasal 22

Dalam rangka meningkatkan sumber pembiayaan Usaha

Mikro dan Usaha Kecil, Pemerintah melakukan upaya :

a)

Pengembangan sumber pembiayaan

dari kredit

perbankan dan

lembaga keuangan bukan bank;

b) Pengembangan lembaga modal ventura;

12

(18)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

LANJUTAN …

c) Pelembagaan

terhadap

transaksi

anjak

piutang;

d) Peningkatan kerjasama antara Usaha Mikro

dan saha Kecil melalui koperasi simpan pinjam

dan koperasi jasa keuangan konvensional dan

syariah; dan

e) Pengembangan sumber pembiayaan lain sesuai

dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

(19)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

LANJUTAN ….

Pasal 23 ayat 1

Untuk meningkatkan akses Usaha Mikro dan Kecil

terhadap sumber pembiayaan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 22,

Pemerintah dan

Pemerintah Daerah :

a) Menumbuhkan,

mengembangkan

dan

memperluasjaringan lembaga keuangan bukan

bank.

(20)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

A. PELUANG PEMBIAYAAN USAHA MIKRO

DAN KECIL DARI PEMERINTAH PUSAT

15

SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN

1. Belanja modal melalui program pemerintah

lintas KL

2. Pos Pembiayaan

BLU-LPDB

(21)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

B. PELUANG PEMBIAYAAN USAHA MIKRO

DAN KECIL DARI PEMERINTAH DAERAH

15

1. Belanja modal melalui program pemerintah

daerah

2. Pos Pembiayaan

Modal penyertaan (BUMD)

a. Perusahaan Penjamin Kredit Daerah

(PPKD)

b. Lembaga Modal Ventura Daerah

Penyertaan ke pihak ke tiga/kepada koperasi

BLUD dana bergulir

(22)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

C.

SUMBER PEMBIAYAAN BUMN

15

SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN

Undang-undang (UU) No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN

Pasal 2 ayat (1) huruf e:

Salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah turut aktif

memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan

lemah, koperasi, dan masyarakat.

Pasal 88 ayat (1)

BUMN dapat menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan

pembinaan usaha kecil dan koperasi serta pembinaan masyarakat

sekitar BUMN.

Pembiayaan BUMN diambil / disediakan dari bagian laba BUMN

antara 1%-5% setiap tahun dari laba setelah pajak (Permenkeu).

(23)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

D.

SUMBER PEMBIAYAAN SWASTA NASIONAL DAN ASING

Corporate Social Responsibility

(CSR)

15

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Bab V Pasal 74:

Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau

bersangkutan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab

sosial dan lingkungan.

Tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan kewajiban perseroan yang

dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang

pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.

Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenakan sanksi sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan.

CSR diambil / disediakan sebesar 2% dari laba perusahaan setelah pajak.

(24)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

E. SUMBER PEMBIAYAAN PERBANKAN NASIONAL

15

SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN

1. Kredit Komersial

 Modal kerja

 Modal investasi

2. SUP 005 (Kredit UMK)

 Modal kerja

 Modal investasi 3. Kredit program

 KUR

 Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E)

 Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS)

 Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP)

4. Kredit Semi Korporasi

(25)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

SUMBER PEMBIAYAAN PERBANKAN NASIONAL (

lanjutan..

)

15

SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN

Optimalisasi pelaksanaan Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor

14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit Atau Pembiayaan Oleh

Bank Umum dan Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha

Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mewajibkan seluruh bank

umum menyalurkan kredit ke UMKM sekurang-kurangnya 20% dari

(26)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

F. LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA (LPEI)

Sesuai dengan UU Nomor 2 Tahun 2009 tentang LPEI telah

dikembangkan pembiayaan, penjaminan dan asuransi untuk

produk-produk UKM meliputi:

a. Kredit Modal Kerja Ekspor; adalah fasilitas yang diberikan

kepada UKM untuk membiayai kebutuhan modal kerja UKM

khususnya kebutuhan modal kerja pra- pengapalan barang ke

tujuan ekspor.

b. Kredit Investasi Ekspor; adalah fasilitas yang diberikan kepada

UKM untuk membiayai investasi barang-barang modal termasuk

pengadaan mesin dan peralatan yang dibutuhkan untuk

meningkatkan kapasitas UKM.

(27)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA (LPEI) (lanjutan...)

c. Fasilitas Pembelian Tagihan Ekspor; adalah fasilitas yang

diberikan kepada UKM dalam bentuk plafond transaksi

penjualan tagihan ekspor berjangka yang dimiliki oleh UKM.

d. Fasilitas Penjaminan Kredit Modal Kerja Ekspor Pra-Pengapalan

(Pre Export Finance Guarantee), adalah fasilitas yang diberikan

kepada UKM dalam bentuk pemberian jaminan atas resiko

wan-prestasi/default UKM kepada Kreditur UKM (yaitu perbankan)

e. Asuransi Ekspor adalah fasilitas yang diberikan kepada UKM

dalam bentuk asuransi atas resiko kerugian yang dihadapi oleh

UKM pada saat terjadi wan prestasi/default oleh buyer UKM di

luar negeri.

(28)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

MODEL PEMBIAYAAN LPEI

Pembiayaan UKM ekspor secara garis besar dilakukan melalui 3 model

pembiayaan dengan melibatkan beberapa pemangku kepentingan, yakni :

a. Model Pembiayaan Refinancing (Pembiayaan Tidak Langsung)

Pembiayaan kepada UKM ekspor yang dilakukan melalui bank atau

Lembaga Pembiayaan Mitra LPEI (Bank Pelaksana), dimana evaluasi atas

kelayakan serta risiko pembiayaan ditanggung oleh pihak financing bank

(bank pemberi pembiayaan), sedangkan peran LPEI adalah dengan cara

pemberian pembiayaan kembali (refinancing) atas dana yang diberikan

kepada UKM eksportir dengan jumlah, jangka waktu dan syarat-syarat

dan kondisi kredit sama dengan yang diberikan oleh bank pelaksana.

(29)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

MODEL PEMBIAYAAN LPEI (lanjutan...)

b. Model Outsourcing

LPEI bekerja sama dengan instansi pembina usaha kecil yang kredibel, untuk

tujuan memperoleh kepanjangan tangan dalam hal membangun customer base,

penyaringan awal potensi-potensi usaha kecil yang layak dibiayai, analisa

kelayakan kredit tahap I, dokumentasi berkas-berkas pembiayaan, mekanisme

pencairan pembiayaan, monitoring dan perkembangan usahaa mitra binaan,

serta colection pembanyaran pokok dan bunga dari mitra binaan. Kerjasama

penyaluran pembiayaan ini antara lain dengan perusahaan modal ventura

seperti PT Bahana Artha Ventura (BAV), PT Sarana Jateng Ventura (SYV) di

Semarang, PT Sarana Yogya Ventura (SYV) di Yogyakarta, PT Sarana Jatim

Ventura (SJV) di Surabaya, PT Sarana Bali Ventura (SBV) di Bali dan PT

Sarana NTB Ventura (SNTBV) di NTB.

(30)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

MODEL PEMBIAYAAN LPEI (lanjutan...)

c.

Model Business Linkages

Yaitu pemberian fasilitas kepada UKM yang skemanya melibatkan

perusahaan/korporat pelaku ekspor yang telah memiliki sama dengan LPEI

dan kerja sama dengan UKM yang akan dibiayai. Di dalam model Business

Linkage ini terdapat 2 model yang akan dikembangkan yaitu :

1) Skema Inti Plasma

a) Fasilitas diberikan kepada UKM yang merupakan anggota

kelompok plasma dari inti yang telah dibiayai oleh LPEI

b) Jenis-jenis fasilitas yang dapat diberikan dalam skema ini adalah

(1) Kredit Modal Kerja Ekspor

(2) Kredit Investasi Ekspor

(31)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

MODEL PEMBIAYAAN LPEI (lanjutan....)

2) Skema Supply Chain

a) Fasilitas diberikan kepada UKM yang merupakan pemasok atau

pembeli dari perusahaan/korporat yang melakukan aktivitas

ekspor.

b) Jenis-jenis fasilitas yang dapat diberikan dalam skema ini adalah

(1) Kredit Modal Kerja Ekspor

(2) Kredit Investasi Ekspor

(3) Fasilitas Pembelian Tagihan Ekspor

(4) Fasilitas Penjaminan Kredit Modal Kerja Ekspor Pra

Pengapalan (Pre Export Finance Guarantee)

(32)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

G. SUMBER PEMBIAYAAN

LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK

15

1. Modal ventura

2. Leasing

H. SUMBER PEMBIAYAAN

MASYARAKAT (ZISWAF)

1. Potensi Zakat

217 triliun

(BAZNAS 2012)

2. Potensi Wakaf

3,7 triliun

(BWI 2011)

(33)

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN

1.

Pembiayaan/kredit

2. Anjak Piutang

3. Fiducia

4. Gadai

5. Sewa beli/

leasing

6. Modal Ventura

BENTUK PEMBIAYAAN

(34)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

1. Pembiayaan/kredit merupakan suatu fasilitas keuangan

yang memungkinkan bagi (UMKM) untuk meminjam uang

untuk suatu keperluan dan membayarnya kembali dalam

jangka waktu yang ditentukan.

2. Anjak piutang adalah penjualan piutang dagang dari suatu

perusahaan (

Clien

) kepada

factor

(UMKM) dengan harga

yang telah didiskon, dimana piutang dagang tersebut

berasal dari transaksi bisnis miliknya si perusahaan.

3. Jaminan Fiducia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu

benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa

benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam

penguasaan pemilik benda.

BENTUK PEMBIAYAAN…

(35)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

LANJUTAN …

4. Gadai adalah hak yang diperoleh kreditor atas suatu

barang yang bergerak yang diberikan kepadanya oleh

debitor atau orang lain atas namanya untuk menjamin

suatu utang.

5. Sewa beli/

Leasing

adalah setiap kegiatan pembiayaan

perusahaan dalam bentuk penyediaan barang

– barang

modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk

jangka waktu tertentu

6. Modal Ventura adalah suatu pembiayaan oleh suatu

perusahaan kepada suatu perusahaan pasangan

usahanya

yang

prinsip

pembiayaanya

adalah

penyertaan modal

(36)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

REKOMENDASI

1. Dibutuhkan SKIM pembiayaan jangka menengah dan

panjang bagi industri mikro dan kecil;

2. Perlu syarat dan mekanisme pembiayaan yang

sederhana untuk industri mikro dan kecil;

3. Suku bunga yang terjangkau oleh industri mikro dan

kecil;

4. Perlu pengembangan pembiayaan dengan intervensi

penjaminan dari pemerintah

5. Program pembiayaan dengan pola subsidi pemerintah;

6. Keringanan pajak (

tax holiday

) bagi industri yang baru

berdiri hingga 5 tahun.

7. Perlu dimasukkan dalam RUU pembiayaan industri

kecil struktur skema pembiayaan UMK secara nasional;

(37)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

KEBIJAKAN STRATEGIS

1. Amanat UU No. 20/2008 Tentang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) a) Pasal 7 ayat 1 :

1) memperbanyak lembaga pembiayaan dan memperluas jaringannya sehingga dapat diakses oleh Usaha Mikro, Kecil dan Menengah;

2) b) memberikan kemudahan dalam memperoleh pendanaan secara cepat, tepat, murah, dan tidak diskriminatif dalam pelayanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b) Pasal 21 ayat 1

Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyediakan pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil

c) Pasal 21

Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyediakan pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil

(38)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Dalam rangka meningkatkan sumber pembiayaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil, Pemerintah melakukan upaya :

a) Pengembangan sumber pembiayaan dari kredit perbankan dan

lembaga keuangan bukan bank;

b) Pengembangan lembaga modal ventura;

c) Pelembagaan terhadap transaksi anjak piutang;

d) Peningkatan kerjasama antara Usaha Mikro dan saha Kecil melalui koperasi simpan pinjam dan koperasi jasa keuangan konvensional dan syariah; dan e) Pengembangan sumber pembiayaan lain sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan.

d) Pasal 22

Lanjutan…

e) Pasal 23 ayat 1

Untuk meningkatkan akses Usaha Mikro dan Kecil terhadap sumber pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, Pemerintah dan Pemerintah Daerah :

a) Menumbuhkan, mengembangkan dan memperluas jaringan lembaga keuangan bukan bank.

(39)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Lanjutan…

2. Amanat UU No. 1/2013 Tentang Lembaga Keauanga Mikro (LKM) a) Pasal 3

LKM bertujuan untuk :

1) meningkatkan akses pendanaan skala mikro bagi masyarakat;

2) membantu peningkatan pemberdayaan ekonomi dan produktivitas masyarakat; dan

3) membantu peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat miskin dan/atau berpenghasilan rendah.

b) Pasal 5

Bentuk Badan Hukum LKM : 1) Koperasi

2) Perseroan Terbatas

c) Pasal 11

1) Kegiatan usaha LKM meliputi jasa pengembangan usaha dan

pemberdayaan masyarakat, baik melalui Pinjaman atau Pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan Simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha.

(40)

KEMENTERIAN KUKM

DEPUTI PEMBIAYAAN

Lanjutan…

3. Amanat UU No. 21/2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) a) Pasal 5

OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan

pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan.

b) Pasal 6

OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap :

1) kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan;

2) kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal; dan

3) kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.

(41)

KEMENTERIAN KUKM

Referensi

Dokumen terkait

Saat ini proses perencanaan pembuatan sistem pengelolaan air terpadu akan dilaksanakan mulai semester kedua, tetapi karena kondisi curah hujan mulai menunjukkan

biasa, sehingga mampu meningkatkan motivasi dalam proses pembelajarannya, dan nilai hasil belajar yang diperoleh siswa pun lebih baik daripada siswa yang proses

Berdasarkan uji one way Anova maka nilai perbedaan data dE*ab pdad masing- masing konsentrasi didapatkan nilai signifikansinya p=0.742 (p&gt;0,05) yang berarti tidak

Temuan peneliti yang berbeda tersebut menunjukkan bahwa kreativitas siswa tidak hanya diukur dari kreativitas verbalnya saja, tetapi dengan menggunakan model

Sedangkan tujuan penyusunan Rencana Strategis ini adalah untuk menindak lanjuti perwujudan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Malang, maka

Berdarasarkan hasil penilitian dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai Pemanfaatan Daana Desa Dalam Pembangunan Desa Biring Ere Kecamatan Bungoro Kabupaten

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat penurunan tekanan darah dan peningkatan ketenangan jiwa setelah diberikan pelatihan dzikir pada lansia