KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN 1986 2006 2010 2011 2012 2,765 4,577 4,838 4,952 4,968 n/a 36,763 42,631 44,280 48,997 94,534 472,602 573,601 602,195 629,418 1,416,935 8,101,868 53,207,500 54,559,969 55,856,176
Definisi Sesuai dengan UU No. 20/2008 tentang UMKM :
Berdasarkan Asset per tahun : Usaha Mikro (<Ro. 50 juta), Usaha Kecil (Rp. 50 juta s/d Rp. 1 milyar), Usaha Menengah (>Rp. 1 milyar s/d 3 milyar), dan Usaha Besar (>Rp. 3 milyar) Atau Berdasarkan omset per tahun; Usaha Mikro (≤Rp. 300 juta), Usaha Kecil (Rp. 300 juta s/d Rp. 2,5 milyar), Usaha Menengah (lebih dari Rp. 2,5 milyar s/d 50 milyar), dan Usaha Besar (>Rp. 50 milyar)
LATAR BELAKANG
Kondisi Aktual 98,79% (± 55,85 juta)
Pelaku Usaha adalah Usaha Mikro
KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN • Perbankan Plafon 2009:129,428 milyar • UM 30,91% • UK 32,34% • UMi 36,75%
• Program KUMK SUP 005 • Program LPDB KUKM
• Perbankan
• Program Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil
• Program Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)
• Program LPDB KUKM
• Program Pemberdayaan Usaha Mikro
• Program Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)
PROGRAM PERLINDUNGAN SOSIAL (PNPM)
• Program Pemberdayaan Sosial • Program pemberdayaan Fakir
Miskin USAHA BESAR ± 4,96 ribu (0,01%) USAHA MENENGAH ± 48,98 ribu (0,09%) USAHA KECIL ± 629,42 Ribu (1,11%)
USAHA
MIKRO
± 55,85 juta
(98,79%)
FAKIR MISKIN MISKIN BELUM LAYAK USAHA DAN BELUM BANKABLE PENDUDUK MISKIN ± 29,89 juta jiwa (12,36%) (Data BPS 2011)LAYAK
GO PUBLIC
• Pasar Modal• Perbankan
• Sumber Lainnya
LAYAK USAHA DAN BELUM BANKABLE
LAYAK USAHA DAN BANKABLE Jumlah:*) ± 38,19 Jt (70%) Jumlah:*) ± 16,36 Jt (30%) Jumlah:*) ± 240,9 Rb (40%) Jumlah:*) ± 361,3 Rb (60%) Jumlah:*) ± 39,85 Rb (90%)
Deputi Bidang Pembiayaan, Diolah dari Berbagai Sumber
± 4,4 Rb (10%) KLASTER 1 KLASTER 2 KLASTER 3 KLASTER 4 KLASTER 5 KLASTER 6 POLA PEMBIAYAAN KONDISI EKSISTING
KONDISI EKSISTING & POLA
PEMBIAYAAN UMKM
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
JUMLAH UMKM DAN ESTIMASI
KEBUTUHAN PEMBIAYAAN
Jumlah Unit Jumlah Unit Berdasarkan
2012 2012 Total Tahun 2012
1 2 3 4 6
Usaha Mikro 55,890,000 Klaster1 39,123,000 Juta6 335,340,000 1 140,842,800 Klaster2 16,767,000 2 60,361,200 Usaha Kecil 629,420 Klaster3 251,768 50 Juta 31,471,000 3 7,553,040 Klaster4 377,652 4 11,329,560 Usaha Menengah 48,980 Klaster5 44,082 1,000 Juta 48,980,000 5 26,449,200 Klaster6 4,898 6 2,938,800 415,791,000 249,474,600 5 7 Kebutuhan Permodalan (Rp Milyar)/Unit Unit Usaha Klasifikasi
Asumsi Plafon Penyaluran Kredit/Pemb Per Klaster Tahun 2012 Dgn Asumsi 40% Modal Sendiri dan 60% Pinjaman 4
KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN
ASIMETRI
Akses Pasar Permodalan Peningkatan Ketrampilan Teknologi Produksi Sistem ManajemenKEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
Financial Inclusion
Financial Inclusion
Kerjasama Lintas Sektor
Peni ngk latan Ak s es Pembi ay aan Perl uas an Sum ber Pem bi ay aan Regul as i/ Kebi jak an Y g Kond us if Si s tem Informas i Program/ Kegi atan
Financial Inclusion : penyediaan akses, produk dan jasa keuangan dasar
dengan murah, aman dan mudah, khususnya kepada kelompok kurang
beruntung.
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
Kerjasama Lintas Sektoral
Pemerintah (K/L Terkait) Lembaga dan Otoritas Keuangan Asosiasi Pelaku Usaha Pelaku Usaha Menegah Besar DPR
UMK
Usaha Mikro KecilKEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
Pemberdayaan usaha mikro tidak mungkin didekati secara individual
Pendekatan Kelompok
Legalitas Kelompok:
KOPERASI
!
KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN
Penataan
Kelembagaan
Usaha Mikro
Sistem Kelompok Organisasi Formal (BH Koperasi) Pendekatan Sentra/Klaster Bisnis Pembinaan & Pendampingan UsahaPenataan Kelembagaan
KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN
KEBIJAKAN STRATEGIS
KEBIJAKAN STRATEGISUU No. 20/2008 tentang UMKM
UU No. 1/2013 tentang LKM UU No. 21/2011 tentang OJK
UU No. 170/2012 tentang Perkoperasian
PEMBIAYAAN YANG INKLUSIF UNTUK MEMBANGUN USAHA
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
Kualitas SDM yang rendah, dengan latar belakang pendidikan
dan pengetahuan yang sangat terbatas dan kurang
berpengalaman
Pengelolaan manajemen lemah
Produktivitas usaha rendah
Akses terhadap sumberdaya produktif lemah yaitu : informasi,
teknologi, pasar dan pembiayaan (modal).
Faktor pembiayaan yang disebut terakhir, menjadi masalah klasik
bagi UMKM yang tidak hanya membutuhkan penyelesaian
segara, tetapi telah tertinggal jauh dibanding negara-negara lain.
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
CIRI-CIRI USAHA UMK
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
KARAKTER UNIK UMK
KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN
KENDALA PEMBERDAYAAN
USAHA MIKRO
9KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
KENDALA SISI PERBANKAN (VERSI
BANK SYARIAH MANDIRI)
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
AMANAT UU NO. 20/2008 tentang UMKM
a) memperbanyak
lembaga pembiayaan dan
memperluas jaringannya
sehingga dapat
diakses oleh Usaha Mikro, Kecil dan Menengah;
b)
memberikan kemudahan
dalam memperoleh
pendanaan secara cepat, tepat, murah,
dan
tidak diskriminatif dalam pelayanan sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan;
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
Pasal 21 ayat 1
Pemerintah
dan
Pemerintah
Daerah
menyediakan
pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil
Pasal 22
Dalam rangka meningkatkan sumber pembiayaan Usaha
Mikro dan Usaha Kecil, Pemerintah melakukan upaya :
a)
Pengembangan sumber pembiayaan
dari kredit
perbankan dan
lembaga keuangan bukan bank;
b) Pengembangan lembaga modal ventura;
12
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
LANJUTAN …
c) Pelembagaan
terhadap
transaksi
anjak
piutang;
d) Peningkatan kerjasama antara Usaha Mikro
dan saha Kecil melalui koperasi simpan pinjam
dan koperasi jasa keuangan konvensional dan
syariah; dan
e) Pengembangan sumber pembiayaan lain sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
LANJUTAN ….
Pasal 23 ayat 1
Untuk meningkatkan akses Usaha Mikro dan Kecil
terhadap sumber pembiayaan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22,
Pemerintah dan
Pemerintah Daerah :
a) Menumbuhkan,
mengembangkan
dan
memperluasjaringan lembaga keuangan bukan
bank.
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
A. PELUANG PEMBIAYAAN USAHA MIKRO
DAN KECIL DARI PEMERINTAH PUSAT
15
SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN
1. Belanja modal melalui program pemerintah
lintas KL
2. Pos Pembiayaan
BLU-LPDB
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
B. PELUANG PEMBIAYAAN USAHA MIKRO
DAN KECIL DARI PEMERINTAH DAERAH
15
1. Belanja modal melalui program pemerintah
daerah
2. Pos Pembiayaan
Modal penyertaan (BUMD)
a. Perusahaan Penjamin Kredit Daerah
(PPKD)
b. Lembaga Modal Ventura Daerah
Penyertaan ke pihak ke tiga/kepada koperasi
BLUD dana bergulir
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
C.
SUMBER PEMBIAYAAN BUMN
15
SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN
Undang-undang (UU) No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN
Pasal 2 ayat (1) huruf e:
Salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah turut aktif
memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan
lemah, koperasi, dan masyarakat.
Pasal 88 ayat (1)
BUMN dapat menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan
pembinaan usaha kecil dan koperasi serta pembinaan masyarakat
sekitar BUMN.
Pembiayaan BUMN diambil / disediakan dari bagian laba BUMN
antara 1%-5% setiap tahun dari laba setelah pajak (Permenkeu).
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
D.
SUMBER PEMBIAYAAN SWASTA NASIONAL DAN ASING
Corporate Social Responsibility
(CSR)
15
Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
Bab V Pasal 74:
Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau
bersangkutan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab
sosial dan lingkungan.
Tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan kewajiban perseroan yang
dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang
pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenakan sanksi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
CSR diambil / disediakan sebesar 2% dari laba perusahaan setelah pajak.
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
E. SUMBER PEMBIAYAAN PERBANKAN NASIONAL
15
SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN
1. Kredit Komersial
Modal kerja
Modal investasi
2. SUP 005 (Kredit UMK)
Modal kerja
Modal investasi 3. Kredit program
KUR
Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E)
Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS)
Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP)
4. Kredit Semi Korporasi
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
SUMBER PEMBIAYAAN PERBANKAN NASIONAL (
lanjutan..
)
15
SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN
Optimalisasi pelaksanaan Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor
14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit Atau Pembiayaan Oleh
Bank Umum dan Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mewajibkan seluruh bank
umum menyalurkan kredit ke UMKM sekurang-kurangnya 20% dari
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
F. LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA (LPEI)
Sesuai dengan UU Nomor 2 Tahun 2009 tentang LPEI telah
dikembangkan pembiayaan, penjaminan dan asuransi untuk
produk-produk UKM meliputi:
a. Kredit Modal Kerja Ekspor; adalah fasilitas yang diberikan
kepada UKM untuk membiayai kebutuhan modal kerja UKM
khususnya kebutuhan modal kerja pra- pengapalan barang ke
tujuan ekspor.
b. Kredit Investasi Ekspor; adalah fasilitas yang diberikan kepada
UKM untuk membiayai investasi barang-barang modal termasuk
pengadaan mesin dan peralatan yang dibutuhkan untuk
meningkatkan kapasitas UKM.
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA (LPEI) (lanjutan...)
c. Fasilitas Pembelian Tagihan Ekspor; adalah fasilitas yang
diberikan kepada UKM dalam bentuk plafond transaksi
penjualan tagihan ekspor berjangka yang dimiliki oleh UKM.
d. Fasilitas Penjaminan Kredit Modal Kerja Ekspor Pra-Pengapalan
(Pre Export Finance Guarantee), adalah fasilitas yang diberikan
kepada UKM dalam bentuk pemberian jaminan atas resiko
wan-prestasi/default UKM kepada Kreditur UKM (yaitu perbankan)
e. Asuransi Ekspor adalah fasilitas yang diberikan kepada UKM
dalam bentuk asuransi atas resiko kerugian yang dihadapi oleh
UKM pada saat terjadi wan prestasi/default oleh buyer UKM di
luar negeri.
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
MODEL PEMBIAYAAN LPEI
Pembiayaan UKM ekspor secara garis besar dilakukan melalui 3 model
pembiayaan dengan melibatkan beberapa pemangku kepentingan, yakni :
a. Model Pembiayaan Refinancing (Pembiayaan Tidak Langsung)
Pembiayaan kepada UKM ekspor yang dilakukan melalui bank atau
Lembaga Pembiayaan Mitra LPEI (Bank Pelaksana), dimana evaluasi atas
kelayakan serta risiko pembiayaan ditanggung oleh pihak financing bank
(bank pemberi pembiayaan), sedangkan peran LPEI adalah dengan cara
pemberian pembiayaan kembali (refinancing) atas dana yang diberikan
kepada UKM eksportir dengan jumlah, jangka waktu dan syarat-syarat
dan kondisi kredit sama dengan yang diberikan oleh bank pelaksana.
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
MODEL PEMBIAYAAN LPEI (lanjutan...)
b. Model Outsourcing
LPEI bekerja sama dengan instansi pembina usaha kecil yang kredibel, untuk
tujuan memperoleh kepanjangan tangan dalam hal membangun customer base,
penyaringan awal potensi-potensi usaha kecil yang layak dibiayai, analisa
kelayakan kredit tahap I, dokumentasi berkas-berkas pembiayaan, mekanisme
pencairan pembiayaan, monitoring dan perkembangan usahaa mitra binaan,
serta colection pembanyaran pokok dan bunga dari mitra binaan. Kerjasama
penyaluran pembiayaan ini antara lain dengan perusahaan modal ventura
seperti PT Bahana Artha Ventura (BAV), PT Sarana Jateng Ventura (SYV) di
Semarang, PT Sarana Yogya Ventura (SYV) di Yogyakarta, PT Sarana Jatim
Ventura (SJV) di Surabaya, PT Sarana Bali Ventura (SBV) di Bali dan PT
Sarana NTB Ventura (SNTBV) di NTB.
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
MODEL PEMBIAYAAN LPEI (lanjutan...)
c.
Model Business Linkages
Yaitu pemberian fasilitas kepada UKM yang skemanya melibatkan
perusahaan/korporat pelaku ekspor yang telah memiliki sama dengan LPEI
dan kerja sama dengan UKM yang akan dibiayai. Di dalam model Business
Linkage ini terdapat 2 model yang akan dikembangkan yaitu :
1) Skema Inti Plasma
a) Fasilitas diberikan kepada UKM yang merupakan anggota
kelompok plasma dari inti yang telah dibiayai oleh LPEI
b) Jenis-jenis fasilitas yang dapat diberikan dalam skema ini adalah
(1) Kredit Modal Kerja Ekspor
(2) Kredit Investasi Ekspor
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
MODEL PEMBIAYAAN LPEI (lanjutan....)
2) Skema Supply Chain
a) Fasilitas diberikan kepada UKM yang merupakan pemasok atau
pembeli dari perusahaan/korporat yang melakukan aktivitas
ekspor.
b) Jenis-jenis fasilitas yang dapat diberikan dalam skema ini adalah
(1) Kredit Modal Kerja Ekspor
(2) Kredit Investasi Ekspor
(3) Fasilitas Pembelian Tagihan Ekspor
(4) Fasilitas Penjaminan Kredit Modal Kerja Ekspor Pra
Pengapalan (Pre Export Finance Guarantee)
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
G. SUMBER PEMBIAYAAN
LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK
15
1. Modal ventura
2. Leasing
H. SUMBER PEMBIAYAAN
MASYARAKAT (ZISWAF)
1. Potensi Zakat
217 triliun
(BAZNAS 2012)
2. Potensi Wakaf
3,7 triliun
(BWI 2011)
KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN
1.
Pembiayaan/kredit
2. Anjak Piutang
3. Fiducia
4. Gadai
5. Sewa beli/
leasing
6. Modal Ventura
BENTUK PEMBIAYAAN
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
1. Pembiayaan/kredit merupakan suatu fasilitas keuangan
yang memungkinkan bagi (UMKM) untuk meminjam uang
untuk suatu keperluan dan membayarnya kembali dalam
jangka waktu yang ditentukan.
2. Anjak piutang adalah penjualan piutang dagang dari suatu
perusahaan (
Clien
) kepada
factor
(UMKM) dengan harga
yang telah didiskon, dimana piutang dagang tersebut
berasal dari transaksi bisnis miliknya si perusahaan.
3. Jaminan Fiducia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu
benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa
benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam
penguasaan pemilik benda.
BENTUK PEMBIAYAAN…
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
LANJUTAN …
4. Gadai adalah hak yang diperoleh kreditor atas suatu
barang yang bergerak yang diberikan kepadanya oleh
debitor atau orang lain atas namanya untuk menjamin
suatu utang.
5. Sewa beli/
Leasing
adalah setiap kegiatan pembiayaan
perusahaan dalam bentuk penyediaan barang
– barang
modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk
jangka waktu tertentu
6. Modal Ventura adalah suatu pembiayaan oleh suatu
perusahaan kepada suatu perusahaan pasangan
usahanya
yang
prinsip
pembiayaanya
adalah
penyertaan modal
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
REKOMENDASI
1. Dibutuhkan SKIM pembiayaan jangka menengah dan
panjang bagi industri mikro dan kecil;
2. Perlu syarat dan mekanisme pembiayaan yang
sederhana untuk industri mikro dan kecil;
3. Suku bunga yang terjangkau oleh industri mikro dan
kecil;
4. Perlu pengembangan pembiayaan dengan intervensi
penjaminan dari pemerintah
5. Program pembiayaan dengan pola subsidi pemerintah;
6. Keringanan pajak (
tax holiday
) bagi industri yang baru
berdiri hingga 5 tahun.
7. Perlu dimasukkan dalam RUU pembiayaan industri
kecil struktur skema pembiayaan UMK secara nasional;
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
KEBIJAKAN STRATEGIS
1. Amanat UU No. 20/2008 Tentang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) a) Pasal 7 ayat 1 :
1) memperbanyak lembaga pembiayaan dan memperluas jaringannya sehingga dapat diakses oleh Usaha Mikro, Kecil dan Menengah;
2) b) memberikan kemudahan dalam memperoleh pendanaan secara cepat, tepat, murah, dan tidak diskriminatif dalam pelayanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b) Pasal 21 ayat 1
Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyediakan pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil
c) Pasal 21
Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyediakan pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
Dalam rangka meningkatkan sumber pembiayaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil, Pemerintah melakukan upaya :
a) Pengembangan sumber pembiayaan dari kredit perbankan dan
lembaga keuangan bukan bank;
b) Pengembangan lembaga modal ventura;
c) Pelembagaan terhadap transaksi anjak piutang;
d) Peningkatan kerjasama antara Usaha Mikro dan saha Kecil melalui koperasi simpan pinjam dan koperasi jasa keuangan konvensional dan syariah; dan e) Pengembangan sumber pembiayaan lain sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
d) Pasal 22
Lanjutan…
e) Pasal 23 ayat 1
Untuk meningkatkan akses Usaha Mikro dan Kecil terhadap sumber pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, Pemerintah dan Pemerintah Daerah :
a) Menumbuhkan, mengembangkan dan memperluas jaringan lembaga keuangan bukan bank.
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
Lanjutan…
2. Amanat UU No. 1/2013 Tentang Lembaga Keauanga Mikro (LKM) a) Pasal 3
LKM bertujuan untuk :
1) meningkatkan akses pendanaan skala mikro bagi masyarakat;
2) membantu peningkatan pemberdayaan ekonomi dan produktivitas masyarakat; dan
3) membantu peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat miskin dan/atau berpenghasilan rendah.
b) Pasal 5
Bentuk Badan Hukum LKM : 1) Koperasi
2) Perseroan Terbatas
c) Pasal 11
1) Kegiatan usaha LKM meliputi jasa pengembangan usaha dan
pemberdayaan masyarakat, baik melalui Pinjaman atau Pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan Simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha.
KEMENTERIAN KUKM
DEPUTI PEMBIAYAAN
Lanjutan…
3. Amanat UU No. 21/2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) a) Pasal 5
OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan
pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan.
b) Pasal 6
OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap :
1) kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan;
2) kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal; dan
3) kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
KEMENTERIAN KUKM