KATA PENGANTAR
Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, penyusunan Rencana Kerja
(Renja) SKPD Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun
Anggaran 2017 dapat terselesaikan. Penyusunan Rencana Kerja (Renja) SKPD
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun 2016 ini
merupakan manifestasi pelaksanaan Permendagri Nomor 54 Tahun 2010.
Mengamati pelaksanaan program dan kegiatan dari tahun ke tahun, peningkatan
kinerja dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam
Perencanaan Strategis telah berjalan sesuai dengan rencana kerja yang
ditetapkan. Pada tahun 2017 disamping mengoptimalkan program dan kegiatan
yang telah berjalan. Rencana Kerja (RENJA) Tahun 2017 terdiri dari
Pendahuluan, Evaluasi Pelaksanaan Rencana Kerja SKPD Tahun Lalu, Tujuan,
Sasaran, Program dan Kegiatan. Rencana Kerja (RENJA) sebagai dokumen
Perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang memuat kebijakan dan
program / kegiatan dalam satu tahun dan sebagai acuan penyusunan Rencana
Kegiatan dan Anggaran Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa
Timur Tahun Anggaran 2017 dan untuk mereview hasil evaluasi pelaksanaan
Rencana Kerja tahun lalu dan perkiraan capaian tahun berjalan. Melalui Rencana
Kerja pula diharapkan dapat memberikan kejelasan dan manfaat bagi institusi
baik pemerintah maupun mitra kerja.
Surabaya, Juni 2016
KEPALA DINAS
ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
PROVINSI JAWA TIMUR
Ir. DEWI J. PUTRIATNI, M.Sc.
Pembina Utama Madya
NIP. 19600627 198610 2 001
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Rencana Kerja (Renja) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 1 (satu) tahun, yang memuat hasil evaluasi kinerja Tahun lalu, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Penyusunan Renja SKPD dilakukan melalui dua tahapan yang merupakan suatu rangkaian proses saling berurutan, mencakup:
1. Tahap perumusan rancangan Renja SKPD. 2. Tahap penyajian rancangan Renja SKPD.
Renja Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2017 disusun dalam rangka untuk memberikan gambaran hasil – hasil capaian program kegiatan tahun lalu dan permasalahan yang menghambat, gambaran isu strategis dan target capaian program kegiatan sebagai antipasi, serta untuk menyesuaikan perkembangan prioritas pembangunan sektor Energi dan Sumber Daya Mineral sehingga merupakan kebijakan rencana pembangunan Bidang Energi Dan Sumber Daya Mineral di Jawa Timur yang selanjutnya sebagai dasar penyusunan usulan Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun Anggaran 2017.
Sebagai pedoman pelaksanaan Program Kegiatan Dinas ESDM tahun berjalan, Renja Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun 2017 harus berdasar pada Rencana Strategis (Renstra) Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun 2014-2019, serta selaras dengan RPJMD.
1.2. Landasan Hukum
Peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar atau landasan hukum penyusunan Renja Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2017 ini, antaralain :
1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 55333);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 517);
5. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 1 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 (Lembar daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 Nomor 1 Seri E) ; 6. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur Tahun 2011-2031;
7. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 2014 tentang Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2014-2019
8. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 40 Tahun 2015 tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2017.
1.3. Maksud dan Tujuan
Maksud dari penyusunan Renja Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun 2017 adalah untuk mengetahui : 1. Program dan kegiatan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral
2. Lokasi pelaksanaan program dan kegiatan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun 2017.
3. Indikator kinerja Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun 2017.
4. Kelompok sasaran Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun 2017.
5. Pagu indikatif program dan kegiatan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2017.
Sedangkan tujuan dari penyusunan Renja Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun 2017 adalah sebagai berikut :
1. Merencanakan program dan kegiatan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur
2. Mengevaluasi Renja Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun sebelumnya.
3. Mengetahui masalah, tantangan dan solusi dalam penyelengaraan tugas dan fungsi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun sebelumnya.
4. Perumusan tujuan dan sasaran Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun 2017.
5. Sebagai salah satu media pertanggung jawaban melalui penilaian terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi.
1.4. Sistematika Penulisan Renja
Rencana Kerja Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Tahun 2017 ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Landasan Hukum 1.3 Maksud dan Tujuan 1.4 Sistematika Penulisan
1.5. Potensi Energi dan Sumber Daya Mineral
1.6 Pelayanan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral
BAB II. EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA KERJA DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PROVINSI JAWA TIMUR
2.1 Kondisi Pembangunan Bidang Energi dan Sumber Daya Tahun 2016
2.2 Evaluasi Pelaksanaan Renja Dinas Energi dan Sumber Daya Provinsi Jawa Timur Tahun 2016 dan capaian Renstra Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur
2.2.1 Evaluasi Program dan Kegiatan Renja Tahun Lalu (2016)
2.2.2. Evaluasi Renstra ESDM
BAB III. PERMASALAHAN, FAKTOR PENDUKUNG KEBERHASILAN, DAN TANTANGAN (ISU STRATEGIS)
3.1 PERMASALAHAN, FAKTOR PENDUKUNG KEBERHASILAN, DAN TANTANGAN (ISU STRATEGIS)
3.1.1 Permasalahan
3.1.2. Faktor Pendukung Keberhasilan
3.2
TANTANGAN
(ISU
STRATEGIS)
PEMBANGUNANENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
BAB IV.
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN
KEBIJAKAN RENCANA KERJA TAHUN 2017
4.1 VISI 4.2 MISI
4.3 TUJUAN DAN SASARAN 4.4 STRATEGI DAN KEBIJAKAN PENUTUP
LAMPIRAN
1.5. Potensi Energi dan Sumber Daya Mineral 1.5.1 Potensi Pertambangan Umum
Potensi Pertambangan di Jawa Timur dibagi menjadi potensi pertambangan mineral (logam, bukan logam, batuan dan batubara), potensi pertambangan minyak dan gas bumi. a. Potensi Pertambangan Mineral dan Batubara
Ragam potensi pertambangan mineral tersebar hampir merata di wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur
sedangkan batubara terdapat dibeberapa kabupaten di Jawa Timur. Cadangan mineral logam terdapat di Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Blitar, Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, dan Ponorogo. Jenis kekayaan sumberdaya alam mineral logam di Jawa Timur, antara lain Pasir Besi, Tembaga, Batu Besi, Timah Hitam, Galena, Mangan, Emas. Sebaran potesi mineral logam tersaji pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1
Potensi Mineral Logam
No Mineral Logam Sebaran Potensi 1 Pasir besi Kab. Pacitan, Kab. Trenggalek, Kab.
Tulungagung, Kab. Blitar, Kab. Malang, Kab. Lumajang, Jember
2 Besi Kab. Tulungagung, Kab. Pacitan, Trenggalek
3 Emas Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Blitar
4 Tembaga Kab. Ponorogo, Kab. Tulungagung, Kab. Blitar, Trenggalek, Jember
5 Seng Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo
6 Nikel Kab. Pacitan
7 Mangaan Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Trenggalek, Kab. Tulungagung, Kab. Blitar, Kab. Kediri, Kab. Malang, Jember
8 Timah
hitam Kab. Pacitan
9 Timah
putih Kab. Pacitan
10 Galena Kab. Ponorogo
11 Pirit Kab. Ponorogo
12 Unsur
logam Au, Ag,Cu dan Zn
Kab. Bondowoso
Kekayaan pertambangan mineral bukan logam s a n g a t potensial meliputi: Bentonite, Phiropilit, Feldspar, Zeolit, Kaolin, Toseki, Pasir/Sirtu, dan Pasir Kwarsa yang tersebar di berbagai kabupaten di Jawa Timur, sebagaimana tersaji pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2
Potensi Mineral Non Logam di Jawa Timur
No Mineral Non Logam Sebaran Potensi
1 Pasir Kuarsa Kab. Pacitan, Kab. Tuban, Kab. Bangkalan, Kab. Sampang, Kab. Pamekasan, Kab. Sumenep
2 Yodium Kab. Pasuruan, Kab. Jombang 3 Belerang Kab. Pasuruan, Kab. Bondowoso
4 Fosfat Kab. Pacitan. Kab. Ponorogo, Kab. Situbondo, Kab. Bojonegoro, Kab. Tuban, Kab.
Lamongan, Kab. Bangkalan, Kab. Sampang, Kab. Pamekasan, Kab. Sumenep
5 Zeolit Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Blitar, Kab. Malang
6 Kaolin Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Kediri, Kab. Malang
7 Feldspar Kab. Pacitan, Kab. Trenggalek, Kab. Blitar, Kab. Malang
8 Bentonit Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab.
Tulungagung, Kab. Blitar, Kab. Malang, Kab. Pasuruan, Kab. Bojonegoro
9 Dolomit Kab. Pacitan, Kab. Tuban, Kab. Lamongan, Kab. Gresik, Kab. Sampang, Kab. Pamekasan, Bangkalan, Sumenep
10 Kalsit Kab. Pacitan, Kab. Blitar, Kab. Bondowoso, Kab. Nganjuk, Kab. Tuban, Kab. Sampang, Trenggalek, Gresik (Bawean)
11 Rijang Kab. Pacitan. Kab. Ponorogo
12 Pirofilit Kab. Pacitan, Kab. Blitar, Kab. Malang 13 Oker Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Trenggalek
Dan untuk potensi mineral batuan tersebar di seluruh wilayah kabupaten di Jawa Timur, memiliki beranekaragam jenis komoditas industri yaitu batuan gamping, andesit, trass, marmer, tanah liat, tanah urug, opal, kalsedon, diorit, pasir, sirtu, onyx, toseki, breksi, jasper dan tuff. Tersaji pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3
Persebaran Potensi Mineral Batuan
No Mineral Batuan Sebaran Potensi
1 Trass Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Blitar. Kab. Bondowoso, Kab. Situbondo, Kab. Probolinggo, Kab. Pasuruan, Kab. Madiun, Kab. Tuban 2 Marmer Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Trenggalek,
No Mineral Batuan Sebaran Potensi
3 Andesit Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Blitar, Kab. Kediri, Kab. Malang, Kab. Banyuwangi, Kab. Bondowoso, Kab. Situbondo, Kab. Pasuruan, Kab. Mojokerto, Kab. Jombang, Kab. Nganjuk, Kab. Madiun, Kab. Ngawi, Kab. Bojonegoro 4 Tanah liat Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Trenggalek,
Kab. Blitar, Kab. Kediri, Kab. Malang, Kab. Jombang, Kab. Nganjuk, Kab. Madiun, Kab. Ngawi, Kab. Bojonegoro, Kab. Tuban, Kab. Lamongan, Kab. Gresik, Kab. Bangkalan, Kab. Sampang, Kab. Pamekasan, Kab. Sumenep 5 Tanah urug Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Mojokerto,
Kab. Jombang, Kab. Madiun, Kab. Ngawi, Kab. Bojonegoro, Kab. Gresik, Pasuruan,
Probolinggo, Nganjuk, 6 Opal dan
Kalsedon
Kab. Ponorogo, Kab. Blitar, Pacitan, Trenggalek 7 Diorit Kab. Trenggalek, Kab. Tulungagung, Kab.
Malang
8 Pasir Kab. Malang, Kab. Lumajang, Kab.
Banyuwangi, Kab. Bondowoso, Kab. Situbondo, Kab. Pasuruan, Kab. Nganjuk, Kab. Magetan, Kab. Bojonegoro, Kab. Lamongan
9 Sirtu Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Blitar, Kab. Kediri, Kab. Malang, Kab. Probolinggo, Kab. Pasuruan, Kab. Mojokerto, Kab. Jombang, Kab. Nganjuk, Kab. Ngawi, Kab. Bojonegoro, Kota Batu
10 Gamping Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Trenggalek, Kab. Tulungagung, Kab. Blitar, Kab. Malang, Kab. Bondowoso, Kab. Situbondo, Kab. Nganjuk, Kab. Ngawi, Kab. Bojonegoro, Kab. Tuban, Kab. Lamongan, Kab. Gresik, Kab. Bangkalan, Kab. Sampang, Kab. Pamekasan, Kab. Sumenep
11 Onyx Kab. Nganjuk, Kab. Bojonegoro 12 Toseki Kab. Pacitan
13 Breksi Kab. Bondowoso, Kab. Magetan 14 Jasper Kab. Pacitan
15 Tuff Kab. Ponorogo, Kab. Magetan 16 Batu
Apung Kab. Pasuruan
Sedangkan keterdapatan batubara di Jawa Timur tersebar di tiga kabupaten yaitu Trenggalek, Pacitan dan Tulungagung.
Tabel 1.4 Potensi Batubara
No. Kab. /Kota Potensi (Ton) Luas (Ha) Ket.
1 Pacitan 401.162,35 - Tidak ada data luas
2 Trenggalek 6.500.000,00 72,00 -
3 Tulungagung 842,00 2,10 -
b. Potensi Migas
Provinsi Jawa Timur merupakan daerah yang memiliki potensi migas yang cukup potensial, dimana cadangan migas terbukti maupun terduga sangat besar. Cadangannya tersebar di Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Gresik, Kabupaten Jombang, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Tuban, dan Kota Surabaya. Peta Wilayah Kerja Pertambangan migas tersaji pada Gambar 1.1.
Gambar 1.1
Peta WKP Migas Jawa Timur
Di wilayah Jawa Timur terdapat 39 blok migas, yang berstatus Produksi sebanyak 13 (tiga belas) Wilayah Kerja, status eksplorasi sebanyak 23 (dua puluh tiga) Wilayah Kerja
dan status development sebanyak 3 (tiga) Wilayah Kerja. Daftar Kontraktor migas Jawa Timur tersaji pada Tabel 1.5
Tabel 1.5
Kontraktor Minyak dan Gas Bumi
NO WILAYAH KERJA/
BLOCK OPERATOR
TANGGAL
KONTRAK TANGGAL EFEKTIF BERAKHIR TANGGAL STATUS
1 Bawean Camar Resources
Canada Inc. 12/02/1981 12/02/2011 11/02/2031 Production 2 Pangkah Hess (Indonesia
Pangkah) Limited 08/05/1996 08/05/1996 07/05/2026 Production 3 Poleng Pertamina Ep 17/09/2005 17/09/2005 16/09/2035 Production 4 Jawa Bagian
Timur Area-3 Pertamina Ep 17/09/2005 17/09/2005 16/09/2035 Production 5 Tuban Job
Pertamina-Petrochina East Java
29/02/1988 29/02/1988 28/02/2018 Production 6 Cepu Block Mobil Cepu Ltd. 17/09/2005 17/09/2005 16/09/2035 Production 7 Jawa Bagian
Timur Area-4 Pertamina Ep 17/09/2005 17/09/2005 16/09/2035 Production 8 Jawa Bagian
Timur Area-5 Pertamina Ep 17/09/2005 17/09/2005 16/09/2035 Production 9 Jawa Bagian
Timur Area-6 Pertamina Ep 17/09/2005 17/09/2005 16/09/2035 Production 10 Brantas Lapindo Brantas
Inc. 23/04/1990 23/04/1990 22/04/2020 Production 11 Madura
Offshore Block Santos (Madura Offshore) Pty. Ltd. 04/12/1997 04/12/1997 03/12/2027 Production 12 Sampang Santos (Sampang)
Pty Ltd. 04/12/1997 04/12/1997 03/12/2027 Production 13 Jawa Bagian
Timur Area-7 Pertamina Ep 17/09/2005 17/09/2005 16/09/2035 Production 14 Muriah Pc Muriah Ltd. 20/05/1991 20/05/1991 19/05/2021 Developmen
t 15 Ketapang Block Pc Ketapang Ii Ltd. 11/06/1998 11/06/1998 10/06/2028 Developmen
t 16 Titan Awe (Titan) Nz
Limited 26/11/2010 26/11/2010 25/11/2040 Exploration 17 East Muriah Pearl Oil (East
Muriah) Limited 13/11/2008 13/11/2008 12/11/2038 Exploration 18 East Bawean I East Bawean Ltd. 13/11/2008 13/11/2008 13/11/2038 Exploration 19 North Madura Awe (North Madura)
Nz Limited 18/05/2010 18/05/2010 17/05/2040 Exploration 20 Karapan Amstelco Karapan
Pte, Ltd. 18/05/2010 18/05/2010 17/05/2040 Exploration 21 North East
Madura-Iii Anadarko Indonesia Company 12/12/2004 12/12/2004 11/12/2034 Exploration 22 Bulu Krisenergy (Satria)
Ltd. 14/10/2003 14/10/2003 13/10/2033 Exploration 23 West Madura
Offshore Pt. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore
05/05/2011 07/05/2011 07/05/2031 Exploration 24 Terumbu Awe (Terumbu) Nz
Limited 05/05/2009 05/05/2009 04/05/2039 Exploration 25 Mandala Consortium Pt.
Bumi Hasta Mukti - Fortune Empire
NO WILAYAH KERJA/
BLOCK OPERATOR
TANGGAL
KONTRAK TANGGAL EFEKTIF BERAKHIR TANGGAL STATUS
Group Ltd.
26 Madura Spe Petroleum Ltd 13/11/2008 13/11/2008 12/11/2038 Exploration 27 South Madura South Madura
Exploration Company Ltd.
14/10/2003 14/10/2003 13/10/2033 Exploration 28 Randugunting
Block Pertamina Ep Randugunting 09/08/2007 09/08/2007 08/08/2037 Exploration 29 Blora Pt. Sele Raya Energi 30/11/2009 30/11/2009 29/11/2039 Exploration 30 Alas Jati Block Pt. Insani Bina
Perkasa 09/08/2007 09/08/2007 08/08/2037 Exploration 31 Gunting Exxonmobil Exploration And Production Indonesia (Gunting) Limited 13/11/2008 13/11/2008 12/11/2038 Exploration 32 South East
Madura Pt. Energi Mineral Langgeng 05/05/2009 05/05/2009 04/05/2039 Exploration 33 Madura Strait Husky Oil (Madura)
Ltd. 20/10/1982 20/10/2012 19/10/2032 Development 34 Northeast
Madura Techwin Energy Northeast Madura Ltd.
21/11/2011 21/11/2011 20/11/2041 Exploration 35 North Kangean Petrojava North
Kangean Inc 16/01/2007 16/01/2007 15/01/2037 Exploration 36 Kangean Emp Kangean Ltd. 14/11/1980 14/11/2010 14/11/2030 Exploration 37 Sibaru Mitra Energy
(Indonesia Sibaru) 16/01/2007 16/01/2007 15/01/2037 Exploration 38 East Kangean Greenstar Assets
Limited
07/10/2005 07/10/2005 06/10/2035 Exploration 39 East Sepanjang Pt Easco East
Sepanjang 12/12/2004 12/12/2004 11/12/2034 Exploration
1.5.2 Potensi Energi dan Ketenagalistrikan a. Energi
Berdasarkan fungsi geologi Jawa timur dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu bagian utara terdiri dari formasi batugamping tersebar sepanjang kepulauan Madura, Kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban dan Bojonegoro memiliki kekayaan potensi sumber daya energi tak terbarukan mulai dari minyak dan gas bumi baik di darat (offshore) maupun di laut (onshore) dan energi terbarukan energi surya. Kemudian bagian tengah dan selatan hidrothermal, biomassa, surya, angin dan biogas. Potensi Energi di Jawa Timur tersaji pada Tabel 1.6 dan 1.7.
Tabel 1.6
Potensi Minyak dan Gas Bumi Jawa Timur
Tahun No. Jenis Sumber Energi Satuan Terbukti Potensial Total
2005 1 Minyak Bumi (crude oil) MSTB 155.304,80 551.978,10 707.282,90 2 Gas Bumi BSCF 2.533,54 2.085,77 4.619,31 2010 1 Minyak Bumi (crude oil) MSTB 229.610,80 150.535,80 380.146,60 2 Gas Bumi MSCF 4.771,55 3.717,55 8.488,61
Sumber : Ditjen Minyak dan Gas Kementrian ESDM dan Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur ,2011 *) Sudah termasuk cadangan Exxon Cepu.
Tabel 1.7
Potensi Sumber Energi Terbarukan
No. Jenis Sumber Energi Satuan Potensi Lokasi Keterangan
1 Panas Bumi MWe 1.199,5 Sebelas titik
lokasi di Jawa Timur 2 Lokasi telah di lelang, 3 telah diteliti utk WKP
2 Tenaga Air MW 489,225 Tiga belas titik
lokasi di wilyah sungai Brantas*)
No. Jenis Sumber Energi Satuan Potensi Lokasi Keterangan
3 Tenaga Air
(Skala Kecil) kW/MW 2.825/ 2,825 Tersebar di 54 titik lokasi potensi, diluar wilayah S. Brantas Hasil FS Dinas ESDM Prov. Jatim 4 Surya MW 24.866,1 Berdasarkan radiasi harian rata-rata 4,3 kW 5 Biomassa MW 2113,8 Berdasarkan produksi bagase/sekam padi 6 Biogas MW 1,84 Rata-Rata Produksi Ternak per tahun
Sumber : Ditjen EBTKE Kementrian ESDM, Perum Jasa Tirta I, BPS Provinsi Jawa Timur, dan Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur, 2012
*) Hasil kajian potensi Perum Jasa Tirta I (Ditjen SDA) bersama The Chogoku Electric Power Co. Inc, 2009
b. Ketenagalistrikan
Jawa Timur masuk dalam Region 4 dibawah Pengatur Beban Jawa Bali (PJB) membawahi Unit Pembangkit yang tersebar di beberapa lokasi wilayah di Jawa Timur dengan total kapasitas terpasang sebesar 8.860 MW, yaitu Unit Pembangkit Gresik terdiri dari Unit I: 2 PLTU (2 x 100 MW), Unit II 2 PLTU (2 x 200 MW, Unit III : 3 PLTGU (3 x 526 MW)), Unit IV 2 PLTG (2 x 20 MW) Total kapasitas 2218 MW. Kemudian Unit Pembangkit Paiton 2 Unit PLTU (2x 400 MW) total 800 MW, kemudian 12 Unit PLTA Brantas dengan total kapasitas 281 MW serta PLTU Tuban dan Pacitan. Disamping ditunjang ole 2 perusahan swasta yaitu PT. Power Energy dan PT. Indonesia Power.
Dukungan infrastruktur energi tersebut seharusnya mencukupi untuk mengaliri seluruh masyarakat di Jawa Timur, namun dikarenakan letak sosiografinya yang beraneragam ada kepulauan, pesisir dan pegunungan, sampai pada tahun 2015 elektrifikasi Jawa Timur masih sebesar 85,3 % dan jumlah desa yang berlistrik sebesar 99,67 %.
1.5.3 Potensi Air Tanah
Potensi Air Tanah di Jawa Timur cukup besar tersebar dalam 23 cekungan air tanah (CAT) terdiri dari 5 CAT dalam Kabupaten Kota, 4 CAT Lintas Provinsi dan 14 CAT lintas Kabupaten/Kota dengan luas total cekungan air tanah sebesar 32.145 Ha dengan cadangan akuifer bebas 15.377 Juta M3 dan akuifer tertekan 985 Juta M3. Peta dan potensi cekungan air tanah tersaji pada Gambar 1.2 dan Tabel 1.8.
Gambar 1.2
Peta Cekungan Air Tanah
Tabel 1.8 Potensi Air Tanah
No Nama CAT Potensi (juta m3/th) Akuifer Bebas Akuifer Tertekan 1 Banyuwangi 1.163 70 2 Wonorejo 406 27 3 Bondowoso-Situbondo 1.426 172 4 Jember-Lumajang 2.625 131 5 Besuki 446 33 6 Probolinggo 711 124 7 Pasuruan 628 43 8 Brantas 3.674 175 9 Surabaya-Lamongan 843 37 10 Sampang-Pamekasan 238 57 11 Ngawi-Ponorogo 1.547 66 12 Tuban 160 - 13 Wonosari 463 - 14 Lasem 107 9 15 Randublatung 23 9 16 Panceng 27 41 17 Bulukawang 163 - 18 Sumberbening 338 - 19 Blambangan 124 - 20 Bangkalan 77 - 21 Ketapang 137 -
No Nama CAT Potensi (juta m3/th) Akuifer Bebas Akuifer Tertekan 22 Sumenep 130 - 23 Toranggo 21 - Jumlah 15.477 994 Total 16.471 1.5.4 Potensi Kegeologian
Potensi geologi Jawa Timur yang cukup kaya akan potensi sumber daya mineral, memiliki sekitar 20 jenis bahan galian yang mendukung sektor industri maupun konstruksi, yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat lajur, yaitu :
- Lajur Rembang terbentuk oleh batu lempung napalan dan batu gamping, dolomit, pasir kuarsa.
- Lajur Kendeng terbentuk batu lempung dan batu pasir, potensi lempung, dan gamping
- Lajur Gunung Api Tengah terbentuk oleh endapan material gunung api kuarter, potensi bahan galian konstruksi berupa Andesit, Dasit, krakal, krikil, pasir, tuf
- Lajur Pegunungan Selatan terbentuk oleh batu gamping dengan instrusi batuan beku dan aliran lava yang mengalami tekanan, potensi mineral logam, marmer, batu gamping, bentonit.
Selain kekayaan sumber daya mineral potensi geologi yaitu dapat dikembangkan menjadi kekayaan wisata Jawa Timur, dikawasan karst memiliki karakteristik dan keindahan yang harus di lestarikan sebagai kekayaan geologi yang tak ternilai harganya yag disebut Kawasan Geowisata (Geopark).
Sedangkan daerah pegunungan berapi dan wilayah selatan Jawa Timur merupakan daerah dengan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana alam, seperti kerentanan gerakan tanah, gempa tektonik dan vulkanik di sepanjang “ring of fire”.
Tabel 1.9
No Nama Gunung Api Lokasi
1 Gunung Kelud Kediri, Blitar, Malang
2 Gunung Bromo Malang, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan
3 Gunung Semeru Malang, Lumajang 4 Gunung Lamongan Lumajang, Probolinggo
5 Gunung Raung Banyuwangi, Bondowoso, Jember 6 Gunung Welirang Pasuruan, Mojokerto
7 Gunung Ijen Bondowoso, Banyuwangi
Sumber data : Dinas ESDM Prov. Jatim
1.6. Pelayanan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral
Sejak terbitnya Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur mendapat tambahan kewenangan bidang urusan pemberian Rekomendasi Teknis perizinan di bidang Energi dan Sumber Daya Mineral meliputi perizinan pertambangan umum, airtanah, energi dan ketenagalistrikan. Kewenangan pemberian perizinan bidang ESDM oleh pemerintah provinsi menjadikan peningkatan fungsi pelayanan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur kepada masyarakat agar lebih makmur, sejahtera, berdaya saing, beraklak dalam bingkai keadilan.
1.6.1 Pelayanan Langsung
1. Pelayanan Sub Bidang Pertambangan:
a. Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP);
b. Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi;
c. Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi;
d. Perpanjangan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi
Produksi;
e. Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi Khusus
Pengangkutan dan Penjualan;
f. Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi Khusus
Pengolahan dan Pemurnian;
g. Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi Untuk
Penjualan;
h. Izin Sementara Untuk Melakukan Pengangkutan dan
Penjualan;
i. Izin Usaha Jasa Pertambangan (IUJP);
j. Surat Keterangan Terdaftar (SKT);
k. Izin Gudang Bahan Peledak;
l. Izin Kartu Izin Meledakan (KIM);
m. Rekomendasi Pembelian dan Penggunaan Bahan Peledak;
n. Izin Pertambangan rakyat (IPR);
o. Izin Kepala/Wakil Kepala Teknik Tambang;
2. Pelayanan Sub Bidang Air Tanah :
a. Surat Izin Pengeboran (SIP);
b. Surat Izin Pengusahaan Air tanah (SIPA);
c. Izin Perpanjangan SIPA;
d. Izin Peningkatan Debit Pengambilan Air Tanah;
e. Surat Izin Perusahaan Pengeboran Air Tanah
(SIPPAT).
3. Pelayanan Sub Sektor Energi dan Ketenagalistrikan : a. Rekomtek Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL)
non BUMN
b. Rekomtek Izin Penyewaan Jaringan Kepada Penyedia Tenaga Listrik dalam Daerah Provinsi.
c. Rekomtek Izin Operasi.
d. Rekomtek Izin Pemanfaatan Jaringan untuk Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika (IPJ Telematika) dari pemegang izin yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi.
e. Rekomtek Izin Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik (IUJPTL) f. Rekomtek Izin Pemanfaatan Langsung Panas Bumi Lintas
daerah Kabupaten / Kota Dalam Satu Daerah Provinsi g. Rekomtek Izin Kegiatan Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati
(Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain. h.
4. Pelayanan Jasa Laboratorium
Pelayanan jasa laboratorium yang diberikan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral adalah :
b. Pelayanan Jasa Analisa Air Bersih
c. Pelayanan Jasa Konsultasi Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral
5. Pelayanan Sistem Informasi geografis (SIG)
a. Pelayanan informasi tentang wilayah pertambangan, geologi, air tanah, energi, ketenagalistrikan dan migas; b. Pelayanan pembuatan peta;
c. Pelayanan jasa pencetakan peta. 6. Pelayanan Kesekretariatan
a. Pelayanan Surat Masuk; b. Pelayanan Surat Keluar; c. Pelayanan Kehumasan.
d. Pelayanan Data Sektor Energi Sumber Daya Mineral. 1.6.2 Pelayanan Tidak Langsung
1. Pelayananan Kesekretariatan
a. pengelolaan dan pelayanan administrasin umum; b. pengelolaan administrasi kepegawaian;
c. pengelolaan administrasi keuangan; d. pengelolaan administrasi perlengkapan;
e. pengelolaan urusan rumah tangga, humas dan protokol;
f. pelaksanaan koordinasi penyusunan program, anggaran dan perundang-undangan;
g. pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan tugas-tugas Bidang; h. pengelolaan kearsipan dan perpustakaan Dinas;
i. pelaksanaan monitoring dan evaluasi organisasi dan tata laksana;
2. Pelayanan Bidang Pertambangan Umum dan Migas a. pelaksanaan inventarisasi sumberdaya mineral dan migas; b. pengelolaan pemanfaatan dan konservasi pertambangan umum
dan migas;
c. pelaksanaan pembinaan dan pengawasan pertambangan umum dan migas.
3. Pelayanan Bidang Air Tanah
a. pelaksanaan inventarisasi air tanah (penelitian, survei dan penyelidikan hidrogeologi secara sistematis terhadap potensi air tanah pada cekungan air tanah lintas kabupaten/kota);
b. pengelolaan pemanfaatan dan konservasi air tanah;
c. pelaksanaan pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan air tanah lintas kabupaten/kota.
4. Pelayanan Bidang Energi Ketenagalistrikan
a. Pelaksanaan inventarisasi energi dan ketenagalistrikan;
b. Pelaksanaan pengelolaan pemanfaatan energi dan ketenagalistrikan;
c. Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan energi dan ketenagalistrikan.
5. Pelayanan Bidang Kegeologian :
a. Melaksanakan zonasi kerentanan gerakan tanah;
b. Melaksanakan penelitian dan penetapan kawasan Karst lintas Kabupaten/ Kota;
c. Pelayanan Data dan Informasi Daerah Rawan Bencana Geologi Teknik dan Tata lingkungan.
BAB II
EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA KERJA
DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PROVINSI
JAWA TIMUR
2.1
Kondisi Pembangunan Bidang ESDM Tahun 2016Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral merupakan urusan pilihan yang diprioritaskan mampu memberikan kontribusi bagi pertumbuhan perekonomian Jawa Timur. Berdasarkan data peranan PDRB lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian tercatat memberi kontribusi sebesar 5,34 % pada Tahun 2013 dan menjadi 5,19 % pada Tahun 2014, sedangkan kontribusi penyerapan tenaga kerja mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari 142.016 pada Tahun 2010 menjadi 171.581 pada tahun 2014.
Tabel 2.1
Peranan PDRB Menurut Lapangan Usaha 2014
Lapangan Usaha Tahun
2010 2011 2012 2013 2014 Pertambangan dan Penggalian 5,45 5,86 5,3 5,34 5,19
1. Pertambangan Minyak, Gas
dan Panas Bumi
3,73 4,2 3,73 3,85 3,58
2. Pertambangan Batubara - - - - -
3. Pertambangan Bijih Logam 0,04 0,05 0,04 0,04 0,04
4. Pertambangan dan
Penggalian Lainnya
1,68 1,62 1,52 1,45 1,57
Prioritas capaian kinerja pembangunan bidang energi dan sumber daya mineral dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan seiring pertumbuhan investasi di Jawa Timur. Perkembangan pelayanan perizinan Pertambangan Umum mengalami peningkatan dari 2013 – 2015 sebesar 10-20%. Terutama dampak terbitnya Undang - Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah pada Tahun 2015 lonjakan permohonan izin terjadi cukup signifikan dari 1099 Tahun 2015 menjadi 1292 pada Tahun 2016.
Tabel 2.2
Pelayanan Perizinan Pertambangan
No. Jenis Izin Rekomendasi Keluar 2015 2016
1 Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) 626 699
2 Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi (IUP ) Eksplorasi
186 306
3 Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP)
37 74
4 Izin Pertambangan Rakyat 1 -
5 IUP OP Khusus Pengolahan Pemurnian 19 31
6 IUP OP Khusus Pengangkutan Penjualan 124 73
7 IUP OP Untuk Penjualan 7 9
8 Izin Usaha Jasa Pertambangan (IUJP) 11 8
9 Surat Keterangan Terdaftar 37 19
10 Pembelian Bahan Peledak 15 18
11 Izin Gudang Handak 14 5
12 Kartu Izin Meledakkan 18 38
13 Izin Penimbunan Bahan Bakar Cair - 2
14 Pengesahan Kepala Teknik Tambang 4 10
Jumlah 1099 1292
Pelaksanaan kegiatan pembinaan teknis pertambangan untuk praktisi dan aparatur pertambangan di Jawa Timur meningkat, faktor keberhasilan kegiatannya nampak pada kesadaran jumlah penambang tanpa izin yang mengajukan permohonan izin, sehingga luas wilayah penambangan tanpa izin di Jawa Timur sebesar 1438,08 Ha, diperkirakan per tahun berkurang 213,23 Ha.
Perkembangan pembangunan sektor energi dan ketenagalistrikan diprioritaskan untuk meningkatkan nilai elektrisitas penduduk di Jawa Timur dari basis 78,63 pada tahun 2013, menjadi 83,60 % pada tahun 2014 dan 85,33 %pada 2015 . Sejalan dengan RPJMD Provinsi Jawa Timur 2014 – 2019 pengembangan infrastruktur energi merupakan prioritas pembangunan Gubernur terpilih lima tahun ke depan, menjadi ikon pembangunan di bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur sebagai konsekuensi indikator capaian kinerja utama, maka harus diimplementasikan dalam program/kegiatan pembangunan energi
dan ketenagalistrikan di Jawa Timur. Pencapaian target infrastruktur ketenagalistrikan pada tahun 2016 dianalogikan sebagai kapasitas daya terpasang pembangkit listrik di Jawa Timur, saat ini daya pembangkit terpasang sebesar 8.860 MW, sedangkan kebutuhan energi listrik Jawa Timur sebesar ± 7.400 MW, kelebihan daya ini masuk dalam jaringan interkoneksi Jawa - Bali. Selaras dengan kondisi Rasio Ketersediaan Listrik yang perhitungannya diukur berdasarkan jumlah daya terpasang dibanding jumlah kebutuhan listrik masih sebesar 70,53 %. Tanggung jawab pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung Kebijakan Energi Nasional dimana target yang ditetapkan untuk Energi Terbarukan sebesar 5 % pada Tahun 2025, kondisi Jawa Timur saat ini komposisi pemanfaatan bahan bakar pada pembangkit masih didominasi energi fosil diperkirakan masih sebesar 97%, EBT 3%, harapan percepatan bauran energi Jawa Timur melalui pengembangan potensi Panas Bumi belum dapat terealisasi, karena kewenangan pengelolaan panas bumi sepenuhnya menjadi pemerintah pusat.
Sumber - sumber energi baru terbarukan di Jawa Timur sangatlah potensial, seharusnya ada prioritas bagi percepatan produksinya untuk mendukung ketahanan energi di Jawa Timur terutama yang berasal dari panas bumi. Kontribusi nyata energi baru terbarukan masih sebatas pada pengembangan energi surya, dan energi hydropower, sedangkan biomassa, dan biogas meskipun demikian sumber energi tersebut masih perlu penelitian lebih lanjut apabila dikembangkan secara komersial.
Walaupun rasio elektrisitas desa berlistrik telah mencapai 99,60 %, pada kenyataannya pemerataan suplai listrik belum menjangkau keseluruhan wilayah Jawa Timur. Masih banyak daerah daerah terpencil dan pesisir harus disegerakan untuk mendapatkan uluran tangan pemerintah agar dapat menikmati fasilitas ketenagalistrikan di Jawa Timur.
Berdasarkan perkiraan potensi sumber daya alam tercatat tidak kurang dari 28.672,7 MW potensi energi terbarukan dari panas bumi, hidro, surya, dan bioenergi yang apabila dikelola dapat disubstitusikan ke dalam infrastruktur energi primer, dimanfaatkan langsung untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat di daerah-daerah terpencil dan pesisir yang memiliki potensi.
Tabel 2.3
Perbandingan Potensi EBT Jawa Timur No. Jenis Energi Baru Terbarukan Potensi
1. Panas Bumi 8.636,4 Ribu SBM.
2. PLTS 54.874,3 Ribu SBM.
3 PLTMH 4.438,52 Ribu SBM.
4. Biomassa 47.485,3 Ribu SBM
5. Biogas 4,1 ribu SBM.
Gambar 2.5
Grafik Potensi EBT di Jawa Timur
Dalam implementasi pelayanan izin energi ketenagalistrikan pada tahun 2015 belum berjalan sebagaimana mestinya, Undang – Undang 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah baru diberlakukan pada bulan November 2014, sedangkan pelaksanaan izin, baru dapat dilaksanakan pada triwulan II tahun 2015 menunggu terbitnya Pergub 16 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pemberian Izin Bidang ESDM. Proses peralihan izin dari Kabupaten/Kota maupun Instansi teknis lain membutuhkan waktu disamping kesiapan internal Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur.
Prospek perizinan usaha ketenagalistrikan sangat besar, baik izin operasi maupun jasa penunjang sehingga masih diperlukan konsolidasi internal maupun eksternal secara intensif dan harus dipersiapkan
secara matang dan terencana. Akuisisi database dan sarana prasarana pelayanan beserta sosialisasi baik ditujukan ke aparatur Kabupaten Kota maupun pelaku usaha telah menjadi prioritas kegiatan, dan secara paralel disusun peraturan teknis pelaksanaan pengelolaannya.
Tabel 2.4
Potensi Ketenagalistrikan Jawa Timur 2014
No. Jenis Obyek Jumlah Potensi
1 Daya Terpasang 8.860 MW
2 Jumlah Captive Power 3100 Unit
3 Daftar Tunggu Sambungan Baru 6024 KK
4 Desa Belum Berlistrik 32 Desa
Potensi minyak dan gas bumi Jawa Timur sangat besar, baik dari sisi potensi maupun kontribusi bagi pembangunan pemerintah pusat dan daerah. Tidak kurang 39 kontraktor minyak dan gas beroperasi di Jawa Timur baik onshore maupun offshore, sedangkan yang telah beroperasi (eksploitasi) 10 kontraktor. Namun demikian pemerataan kesejahteraan sosial serta keterlibatan daerah dalam pengelolaan migas belum optimal baik di sektor hulu maupun hilir, sehingga diperlukan akselerasi kebijakan daerah untuk mensinergikan peran Dinas ESDM dengan stakeholder migas di Pusat dan Daerah agar potensi migas dapat lebih dirasakan manfaatnya bagi daerahnya.
Tabel 2.5
Data Produksi Minyak Bumi Tahun 2014
No. Nama KKKS Jumlah Produksi (BPOD)
1 Kangean Energy 1.138
2 Lapindo Brantas 150
3 PHE West Madura Office 243.694
4 Camar Resources Canada 8.812
5 Santos (Sampang) 17.950
6 Saka Pangkah Indonesia 71.851
7 Mobil Cepu Ltd 368.753
8 JOB Petrochina East Java 72.727
Tabel 2.6
Data Produksi Gas Bumi 2015
No. Nama KKKS Jumlah Produksi (MMSCFD)
1 Kangean Energy 521,67
2 Lapindo Brantas 8,14
3 PHE West Madura Office 227,7
4 Camar Resources Canada 2
5 Santos (Sampang) 144,21
6 Santos (Madura Offsore) 144,23
7 Hess Pangkah 79,62
8 Mobil Cepu Ltd 4,51
9 JOB Petrochina East Java 8,69
10 Tac Kodeco Poleng 1,28
Total 1142,05
Kemudian permasalahan mendasar yang harus segera dilaksanakan oleh urusan air tanah adalah:
1) Pemetaan zona konservasi dan pemanfaatan air tanah; 2) Pembangunan sumur pantau pada daerah padat pemakaian; 3) Pengendalian pemanfaatan dan pelayanan perizinan air tanah. Hal ini dapat berbentuk updating maupun kegiatan baru. Realitas sekarang, semakin tahun nilai komoditas air tanah semakin tinggi dan telah menjadi komoditas yang dibutuhkan oleh berbagai sendi kehidupan masyarakat.
Sedangkan apabila ditinjau dari kacamata teknokratis ketiganya merupakan indikator capaian keberhasilan pengelolaan air tanah ke depan, disamping pemerataan pemanfaatan air tanah untuk masyarakat daerah sulit air.
Kondisi pengelolaan air tanah tahun 2016 nampak dari realisasi program/kegiatan sebagaimana Tabel 2.7 berikut :
Tabel 2.7
Realisasi Program Pengelolaan Air Tanah
No. Jenis Program/Kegiatan Realisasi
1 Pelayanan Rekomendasi Teknis 911
2 Bantuan Sumur Bor Air Bersih 4
3 Penelitian Zona Konservasi 2
5 Pembinaan Teknis 2
Ancaman pengelolaan air tanah di Jawa Timur pada tahun 2017 diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk, perkembangan investasi (kawasan industri di Jawa Timur), penyempitan bukaan lahan dan kesalahan pengelolaan, yang dampak panjangnya dapat mengancam kesinambungan (sustainable) pemanfaatan airtanah. Ketiga faktor ancaman tersebut memerlukan usaha extra keras, hanya 1 (satu) faktor yang dapat dikendalikan oleh Dinas ESDM yaitu pemberian rekomendasi teknis izin. Langkah evaluasi harus dilakukan secara utuh dengan merefleksikan apa kegiatan yang telah dilakukan dan apa yang belum dilakukan sebagai konsekuensi pengelolaan air tanah di Jawa Timur berbasis konservasi.
Tabel 2.8
Cekungan Air Tanah Yang belum dilakukan Pemetaan Konservasi
No. Nama Cekungan Air Tanah
Potensi Tidak
Tertekan Tertekan
1 Banyuwangi (Tunggal) 1.163 70
2 Wonorejo (Lintas Kab/Kota) 406 27
3 Bondowoso-Situbondo (Lintas Kab/Kota) 1.426 172
4 Jember Lumajang (Lintas Kab/Kota) 2.625 131
5 Besuki (Lintas Kab/Kota) 446 33
6 Brantas (Lintas Kab/Kota) 3.674 175
7 Sampang-Pamekasan (Lintas Kab/Kota) 238 57
9 Tuban (Lintas Kab/Kota) 160 -
10 Panceng (Lintas Kab/Kota) 27 41
11 Bululawang (Lintas Kab/Kota) 163 -
12 Sumberbening (Tunggal) 338 -
13 Blambangan (Tunggal) 124 -
14 Bangkalan (Tunggal) 77 -
15 Ketapang (Lintas Kab/Kota) 137 -
16 Sumenep (Lintas Kab/Kota) 130 -
Gambar 2.6
Urusan geologi di daerah tetap memerlukan penanganan, pemerintah provinsi sebagai kepanjangan pemerintah pusat, harus dapat memberikan peran dan kehadiran pemerintah di dekat masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Antipasi terhadap prmasalahan krusial memerlukan data ilmiah, sedangkan pelaksanaan pembangunan harus didasari data ilmiah sehingga masih diperlukan penelitian kegeologian. Latar belakang kebumian Jawa Timur yang memiliki karakteristik kegunungapian, berpotensi terjadinya kerawanan bencana geologi kategori cukup tinggi sehingga mitigasi bencana dan pemetaan detil kegeologian masih perlu untuk dilakukan penelitian guna bahan rekomendasi rencana pembangunan dan tata ruang.
Kemudian aspek Geologi Tata Lingkungan juga diharapkan mampu mengidentifikasi proyeksi suatu wilayah untuk dikembangkan sesuai tata guna lahan, pariwisata, maupun potensi mineralnya. Capaian kinerja Bidang Geologi sebagaimana Tabel 2.9
Tabel 2.9
Realisasi Program Pengelolaan Air Tanah
No. Jenis Program/Kegiatan Realisasi
1 Penelitian Kegeologian Untuk Mendukung 2 0 200 400 600 800 1000 2012 2013 2014 2015 Tahun
PERKEMBANGAN REKOMTEK
AIR TANAH
JumlahTata Guna Lahan
2 Sosialisasi dan FGD Bencana dan Geologi Tata Lingkungan
4
2.2 Evaluasi Pelaksanaan Renja Tahun Lalu (2016) dan Capaian Renstra Periode pelaksanaan anggaran Tahun 2016 adalah merupakan awal dari pelaksanaan Renstra 2015-2019. Dalam Renja Tahun 2016 indikator kinerja utama yang ditetapkan target program/kegiatan harus dicapai adalah sebagai berikut:
A. Program Prioritas
1. Program Inventarisasi, Pemanfaatan, dan Pengawasan Energi dan Ketenagalistrikan
Kegiatan pokok yang dilaksanakan, antara lain meliputi :
a. Pengembangan dan pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan dan Ketenagalistrikan;
b. Inventarisasi Potensi Sumber Energi Terbarukan Dan Ketenagalistrikan;
c. Peningkatan Sumber Daya Manusia dan Fasilitasi bidang energi dan Ketenagalistrikan;
d. Pengawasan dan Pengendalian bidang energi
ketenagalistrikan;
2. Program Pengelolaan Air Tanah
Kegiatan pokok yang dilaksanakan, antara lain meliputi : a. Penyediaan Data Base dan Informasi Air Tanah; b. Peningkatan Kegiatan dan Konservasi Air Tanah; c. Pengembangan Pengelolaan Air Tanah.
3. Program Inventarisasi, Pemanfaatan dan Konservasi serta Pengawasan Pertambangan Umum dan Migas
Kegiatan pokok yang dilaksanakan, antara lain meliputi :
a. Inventarisasi, Penyusunan Neraca, Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Daya Mineral dan Migas;
b. Pengelolaan, Pemanfaatan dan Konservasi Sumber Daya Mineral dan Migas;
c. Pengendalian, Pengawasan, dan Pembinaan Kegiatan Usaha Pertambangan dan Migas.
4. Program Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Kegiatan pokok yang dilaksanakan, antara lain meliputi :
a. Penyusunan Data Base Sumber Daya Geologi, Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana Geologi;
b. Sosialisasi dan Mitigasi Bencana Geologi;
c. Peningkatan Informasi Dini pada Daerah Rawan Bencana dan Pengembangan Wilayah;
B. Program Penunjang
1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran; Kegiatan Pelaksanaan Administrasi Perkantoran; 2. Program Peningkatan Sara dan Prasarana Aparatur;
a. Penyediaan Peralatan dan Kelengkapan Sarana dan Prasarana;
b. Pemeliharaan Peralatan dan Kelengkapan Sarana dan Prasarana
3. Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah Daerah;
a. Koordinasi dan Konsultasi Kelembagaan Pemerintah Daerah
b. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur
4. Program Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Dokumen Penyelenggaraan Pemerintah
a. Penyusunan Dokumen Perencanaan;
b. Penyusunan Laporan Hasil Pelaksanaan Rencana Program dan Anggaran
c. Penyusunan, Penembangan, Pemeliharaan dan
Pelaksanaan Sistem Informasi Data
2.2.1 Evaluasi Program dan Kegiatan Renja Tahun Lalu (2016) Untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan kegiatan pembangunan di Sektor ESDM sebagai perwujudan dari periode kedua Renstra Tahun 2015 – 2019 serta sebagai dasar penentuan indikator maupun pelaksanaan Renstra Tahun 2018 – 2019, perlu dilakukan evaluasi Renja 2016. Pencapaian terhadap Indikator Kinerja Utama diukur melalui :
1. Program Inventarisasi, Pemanfaatan dan Pengawasan Energi dan Ketenagalistrikan
a. Hasil pelaksanaan kegiatan pada periode pertama Renstra tahun 2015-2019 yang dicapai oleh kinerja sektor energi ketenagalistrikan melalui Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan listrik direalisasikan tahunan dari energi terbarukan PLTMH seperti pada Tabel 2.10.
Tabel 2.10
Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan listrik dari PLTMH Tahun 2016
Indikator Kinerja Target/ Realisasi Tahun 2016 Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan listrik dari PLTMH Target 200 RT Realisasi 0 RT % Realisasi Capaian Target 0 % % Realisasi Capaian target Periode 0 %
Indikator Kinerja Persentase Rumah Tangga yang menggunakan energi baru terbarukan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) selama 5 tahun adalah 1.400 RT.
Adapun capaian pada tahun 2016 ditargetkan 200 RT dan tidak realisasi, maka persentase capaian target tahun 2016 sebesar 0,00 %, sedangkan persentase capaian per periode 5 tahun adalah sebesar 0,00 %.
p. Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan listrik dari PLTS. Capaian Indikator Kinerja Rumah Tangga yang menggunakan listrik dari energi terbarukan PLTS selama 5 tahun adalah 500 RT dengan masing-masing target dan capaian tahunan sebagaimana Tabel 2.11
Tabel 2. 11
Perkembangan Jumlah Rumah Tangga yang menggunakan PLTS C a p a i
an pada tahun 2016 ditargetkan 100 RT (Unit PLTS) dan tidak terealisasi, maka Persentase Capaian Target Tahunan : 0,00 %, sedangkan untuk Persentase capaian Per Periode 5 tahun sebesar 0,00 %.
q. Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan energi terbarukan Biogas
Capaian Indikator Kinerja Persentase Rumah tangga (RT) yang menggunakan energi terbarukan Biogas selama 5 tahun adalah 250 RT dengan masing-masing target dan realisasi tahunan sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2.12.
Tabel 2.12
Perkembangan Jumlah Rumah Tangga yang menggunakan Biogas
C a p a i a n R u
Indikator Kinerja Target/ Realisasi Tahun 2016
Persentase Peningkatan Rumah tangga (RT) yang menggunakan listrik dari PLTS Target 100 RT Realisasi (Peningkatan) 0 RT % Realisasi Capaian Target 0,00 % % Realisasi Capaian target Periode 0,00 %
Indikator Kinerja Target/ Realisasi Tahun 2016 Persentase Rumah tangga (RT) yang menggunakan Biogas Target 50 RT Realisasi 45 RT % Realisasi Capaian Target 90,00 % % Realisasi Capaian target Periode 18,00 %
mahtangga yang menggunakan energi terbarukan Biogas Tahun 2016 ditargetkan 50 RT dengan realisasi 45 RT. Persentase Capaian Target Tahunan : 90,00%, sedangkan Persentase capaian Per Periode 5 Tahun : 18,00 %.
r. Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan Listrik melalui IR/SR
Capaian Indikator Kinerja Persentase Rumah tangga (RT) yang menggunakan energi listrik dari Sambungan Instalasi Rumah selama 5 tahun adalah 2000 RT dengan masing-masing target dan realisasi tahunan sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2.13.
Tabel 2.13
Perkembangan Jumlah Rumah Tangga yang menggunakan Listrik dari IR/SR Indikator Kinerja Target/ Realisasi Tahun
2016 Persentase Rumah tangga (RT) yang menggunakan IR/SR Target 400 RT ( Realisasi 677 RT % Realisasi Capaian Target 169,25 % % Realisasi Capaian target Periode 33,85 %
Capaian Rumah Tangga yang menggunakan energi listrik dari sambungan instalasi rumah Tahun 2016 ditargetkan 400 RT dengan realisasi 677 RT. Persentase Capaian Target Tahunan : 169,25%, sedangkan Persentase capaian Per Periode 5 Tahun : 33,85 %.
Dari tabel 2.10, tabel 2.11, tabel 2.12 dan 2.13 tersebut diatas, merupakan hasil pengukuran pencapaian kinerja program Program Inventarisasi, Pemanfaatan dan Pengawasan Energi dan Ketenagalistrikan, realisasi 2 indikator kinerja tercapai, dan 2 indikator tidak tercapai,
namun pembangunan sektor energi ketenagalistrikan dari hasil capaian pengukuran sasaran dari total 4 indikator kinerja peningkatan penyediaan ketenagalistrikan guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum menikmati listrik tahun 2016 memiliki prestasi capaian cukup baik, dari target 950 RT terealisasi 722 RT ( 76 % ).
2. Program Inventarisasi, Pemanfaatan dan Konservasi serta Pengawasan Pertambangan Umum dan Migas
Program Inventarisasi, Pemanfaatan dan Konservasi serta Pengawasan Pertambangan Umum dan Migas terdapat 2 (dua) kegiatan yang menjadi Indikator Kinerja Utama untuk mengukur Kinerja yaitu:
a. Persentase Peningkatan Rekomendasi Teknis Izin Usaha Pertambangan
Capaian Indikator Kinerja Persentase Peningkatan Rekomendasi Teknis Izin Usaha Pertambangan selama 5 tahun adalah 750 rekomtek dengan masing-masing target dan realisasi tahunan sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2.14.
Tabel 2.14
Jumlah Rekomendasi Teknis Izin Usaha Pertambangan
Indikator Kinerja Target/ Realisasi Tahun
2016
Persentase Peningkatan Rekomendasi Izin Usaha Pertambangan Target 150 Rekom Realisasi 1282 Rekom % Realisasi Capaian Target 854,67 % % Realisasi Capaian target Periode 170,93 %
Capaian Jumlah Rekomendasi Teknis Izin Usaha Pertambangan Tahun 2016 ditargetkan 150 Rekom dan realisasi 1282 Rekom, maka Persentase Capaian Target Tahunan : 854,67 %, Persentase dengan capaian Per Periode 5 Tahun : 170,93 %
Dari tabel 2.14, tersebut diatas, merupakan hasil pengukuran pencapaian kinerja program Program Inventarisasi, Pemanfaatan dan Konservasi serta Pengawasan Pertambangan Umum dan Migas, realisasi 1 indikator kinerja tercapai, dan 1indikator tidak tercapai, namun pembangunan sektor pertambangan umum dan migas dari hasil capaian pengukuran sasaran dari indikator kinerja terwujudnya pengelolaan pertambangan secara optimal untuk peningkatan nilai tambah komoditas tambang dan rekomendasi teknis tahun 2016 memiliki prestasi capaian sangat baik.
3. Program Pengelolaan Air Tanah
Program Pengelolaan Air Tanah terdapat 2 (dua) kegiatan yang menjadi Indikator Kinerja Utama untuk mengukur Kinerja yaitu:
a. Persentase Peningkatan masyarakat daerah sulit air yng mendapat air bersih dari air tanah
Capaian Indikator Peningkatan masyarakat daerah sulit air yng mendapat air bersih selama 5 tahun adalah 3000 rumah tangga dengan masing-masing target dan realisasi tahunan sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2.15.
Tabel 2.15
Jumlah Rumah Tangga Yang Mendapat Bantuan Sumur Bor Air Bersih dari Air Tanah
Indikator Kinerja Target/ Realisasi Tahun
2016
Persentase Peningkatan masyarakat daerah sulit air yang mendapat air bersih
Target 600 RT Realisasi 400 RT % Realisasi Capaian Target 66,67 % % Realisasi Capaian target Periode 13,33 %
Capaian Jumlah
masyarakat daerah sulit air
yang mendapat air bersih
Tahun 2016 ditargetkan 600 RT dan realisasi 400 RT, maka Persentase Capaian Target Tahunan : 66,67 %, Persentase dengan capaian Per Periode 5 Tahun : 13,33 %.b. Persentase Peningkatan Rekomendasi Teknis Izin Pengambilan Air Tanah
Capaian Indikator Kinerja Persentase Peningkatan Rekomendasi Teknis Izin Pengambilan Air Tanah selama 5 tahun adalah 3250 rekomtek dengan masing-masing target dan realisasi tahunan sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2.16.
Tabel 2.16
Jumlah Rekomendasi Teknis Izin Pengambilan Air Tanah
Indikator Kinerja Target/ Realisasi Tahun
2016
Persentase Peningkatan Rekomendasi Izin Pengambilan Air Tanah
Target 650 Rekom Realisasi 911 Rekom % Realisasi Capaian Target 140,15 % % Realisasi Capaian target Periode 24,29 %
Sedangkan capaian Jumlah Rekomendasi Teknis Izin Pengambilan Air Tanah Tahun 2016 ditargetkan 650 Rekom dan realisasi 911 Rekom, maka Persentase Capaian Target Tahunan : 140,15 %, Persentase dengan capaian Per Periode 5 Tahun : 24,29 %
Dari tabel 2.15, dan 2.16 tersebut diatas, merupakan hasil pengukuran pencapaian kinerja program Program Pengellaan Air Tanah, realisasi 1 indikator kinerja tercapai, dan 1 indikator tidak tercapai, namun pembangunan sektor air tanah dari hasil capaian pengukuran sasaran dengan total 2 indikator kinerja yaitu meningkatkan penyediaan air bersih bagi daerah sulit air dan jumlah rekomendasi teknis tahun 2016 memiliki prestasi capaian sangat baik, dengan realisasi rata-rata 103,41 %.
4. Program Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Sehubungan dengan terbitnya Undang Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, kewenangan sub urusan geologi hilang dan menjadi kewenangan pemerintah pusat, sehingga indikator kinerja utama Persentase Alat Deteksi Longsor juga tidak dapat diukur dan seluruh asetnya akan diserahkan pengelolaannya menjadi kewenangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan hasil perhitungan pengukuran
pencapaian sasaran (PPS) yang telah dilakukan di atas dengan membandingkan antara rencana pencapaian target dengan realisasi yang ada berdasarkan indikator-indikator yang telah ditetapkan, dapat diketahui bahwa Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya pada tahun anggaran 2016 dengan kategori baik.
2.2.2. Evaluasi Renstra ESDM.
Walaupun hasil penilaian terhadap kinerja tahunan termasuk kategori sangat baik, diperlukan juga komparasi kinerja sebagai evaluasi capaian terhadap target yang telah ditetapkan dalam Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur tahun 2015-2019, yang dapat dilihat pada tabel 2.17 berikut :
Tabel 2.17
Capaian Kinerja Program/Kegiatan Urusan Energi dan Sumberdaya Mineral
No. Indikator Kinerja
Target RENSTRA Tahun 2019 Target RENJA Tahun 2016 Realisasi RENJA Tahun 2016 Ket 1. Prosentase Peningkatan Rumah Tangga (RT) yg mengguna kan listrik dari energi terbarukan PLTMH
1400 RT 400 RT - <
2. Prosentase Peningkatan Rumah Tangga (RT) yg mengguna kan energi terbarukan PLTS. 500 RT 100 RT - < 3. Prosentase Rumah Tangga (RT) yg mengguna kan Biogas. 250 RT 50 RT 45 RT > 50% 4. Prosentase Peningkatan Rumah Tangga (RT) yang menggunakan listrik melaui IR/SR
1100 RT 400 RT 677 RT >
5. Prosentase peningkatan rekomendasi teknis izin usaha pertambangan
750 Rekom 150 Rekom 1282 Rekom >
6. Prosentase masyarakat daerah sulit air yang mendapatkan air bersih dari air tanah.
3000 RT 600 RT 400 RT > 50%
7. Prosentase peningkatan rekomendasi teknis izin pengambilan air tanah
3250 Rekom 650 Rekom 911 Rekom > Keterangan simbol : > : Tercapai/Terlampaui
< : Perlu upaya keras jika terdapat rasio selisih target RENSTRA > 50 %
Dari tabel diatas dapat dilihat capaian 7 indikator kinerja utama yang telah ditargetkan, adalah sebagai berikut :
1. Terdapat 3 (tiga) Indikator telah tercapai/terlampaui.
a. Jumlah Rumah Tangga (RT) yang menggunakan listrik melalui IR/SR dari target 400 RT realisasi 2016 sebanyak 677 RT, sementara target Renstra selama lima tahun sebanyak 2000 RT (per tahun 67,70%).
b. Jumlah Rekomendasi Teknis Izin Usaha Pertambangan dari target 150 rekom realisasi 2016 sebanyak 1292 rekom, sementara target Renstra selama lima tahun sebanyak 750 rekom (per tahun 172,27%).
c. Jumlah Rekomendasi Teknis Izin Pengambilan Air Tanah dari target 650 rekom realisasi 2016 sebanyak 911 rekom, sementara target Renstra selama lima tahun sebanyak 3250 rekom (per tahun 28,03%).
2. Terdapat 2 (dua) indikator mendekati target realisasi karena rasio selisih dengan target RENSTRA > 50 % yaitu : a. Rumah tangga yang menggunakan energi baru
terbarukan dari Biogas, dari target 50 RT realisasi 2015 sebanyak 45 RT, sementara target Renstra selama lima tahun sebanyak 250 RT (per tahun 18,00%).
b. Jumlah masyarakat daerah sulit air yang mendapat air bersih dari sumur bor air tanah, dengan target 600 RT realisasi 2016 sebanyak 400 RT, sementara target Renstra selama lima tahun sebanyak 2000 RT (per tahun 20,00 %).
3. Sedang 2 (dua) indikator tidak terealisasi yaitu :
a. Rumah tangga yang menggunakan listrik dari energi baru terbarukan (PLTMH) dari target 400 RT, sementara target Renstra selama lima tahun sebanyak 1400 RT (per tahun 0,00%).
b. Jumlah Rumah Tangga yang menggunakan PLTS, dari target 100 RT, sementara target Renstra selama lima tahun sebanyak 500 RT (per tahun 0%).
BAB III
PERMASALAHAN, FAKTOR PENDUKUNG KEBERHASILAN, DAN
TANTANGAN (ISU STRATEGIS)
3.1 Permasalahan dan Faktor Pendukung Keberhasilan 3.1.1 Permasalahan
Permasalahan atau hambatan yang berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan pembangunan sektor ESDM Tahun 2016 dalam pencapaian sasaran adalah sebagai berikut :
a. Keterbatasan Anggaran pada indikator kinerja tertentu serta belum didukung oleh kesiapan standarisasi teknologi sehingga keberhasilan pembangunan rendah;
b. Kondisi sosial masyarakat pada lokasi kegiatan kurang mendukung sehingga capaian indikator kerja kurang optimal; c. Pemilihan sumberdaya manusia pelaksana kegiatan terbatas,
berpengaruh terhadap kualitas hasil kegiatan serta ketepatan waktu peyelesaian pekerjaan.
d. Masih banyak daerah terpencil dan dusun yang belum berlistrik serta potensi energi terbarukan belum dimanfaatkan secara optimal;
e. Biaya operasional energi baru terbarukan, bagi masyarakat daerah terpencil masih termasuk tinggi sehingga berpengaruh pada ketertarikan dan keberhasilan;
d. Data pendukung belum akurat;
e. Masih banyak daerah yang kesulitan air bersih, yang daerahnya sulit diprediksi potensi akuifer airtanahnya sehingga berpengaruh terhadap hasil pendugaan dengan pelaksanaan;
f. Bertambahnya kewenangan pemerintah provinsi di bidang pertambangan, ketenagalistrikan, dan air tanah utamanya pelayanan perizinan dan pengawasan yang menjadi kewenangan pusat dengan terbitnya Undang-Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Data permasalahan tersebut diatas, merupakan hasil evaluasi dan pelingkupan hambatan yang menjadi kendala
keberhasilan sehingga merupakan koreksi untuk bahan pijakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pencapaian sasaran tahun mendatang.
3.1.2 Faktor Pendukung Keberhasilan
Faktor Pendukung Keberhasilan Pencapaian Sasaran pada 4 indikator, adalah sebagai berikut :
a. Ketersediaan anggaran yang cukup;
b. Akurasi data perencanaan baik didapat dari Kabupaten/Kota maupun sumber lain;
c. Tersedianya potensi (usulan dari kabupaten/kota) dan komitmen terhadap pelaksanaan indikator kinerja penentu ;
d. Ketepatan pemilihan penyedia pelaksana kegiatan yang profesional dan memiliki integritas dan komitmen terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
e. Tambahan kewenangan yang tertuang dalam Undang-Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Upaya yang dilakukan untuk pemenuhan capaian sasaran sesuai dengan target yang telah ditetapkan dalam RENSTRA 2015 -2019 adalah sebagai berikut:
1. Mengusulkan indikator kinerja yang belum memenuhi target, sebagai prioritas usulan pada APBD dan APBN tahun 2017.
2. Melakukan inventarisasi, penelitian dan koordinasi dengan instansi terkait, untuk mendukung kelengkapan dan akurasi data usulan;
3. Sosialisasi pra bantuan untuk mempersiapkan peran serta masyarakat pada lokasi kegiatan serta penyediaan sumberdaya manusia untuk pengelola pasca bantuan.
4. Meminta komitmen Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pelaksana kegiatan agar mencermati target dan sasaran yang telah ditetapkan dalam Renstra, mempertahankan kualitas pelaksana yang berhasil dan mengevaluasi yang tidak berhasil sehingga keberhasilan capaian target dan sasaran lebih optimal terpenting selesai pada waktunya.
3.2 Tantangan (Isu Strategis)
Pembangunan Energi Dan Sumber Daya MineralIsu strategis terkait dengan pembangunan Energi dan Sumber Daya Mineral di Jawa Timur adalah :
1. Terbitnya Undang – Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah membawa konsekuensi bertambahnya kewenangan pemberian pelayanan perizinan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral yang meliputi Pertambangan Umum, Geologi/Airtanah, Ketenagalistrikan dan Energi Baru Terbarukan. Besarnya peluang ini hendaknya dapat dimanfaatkan untuk peningkatan investasi di bidang ESDM dan memberikan stimulus bagi peningkatan nilai PDRB dari sektor pertambangan dan penggalian, ketersediaan infrastruktur energi serta pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat dan industri. Disisi lain, Pemerintah Provinsi dapat menyelesaikan akar permasalahan perizinan yang mendasar yaitu yang selama ini ada kecenderungan proses izin lama dan berbelit-belit, ketepatan dan akurasi hasil perizinan rendah, serta biaya mahal.
2. Jawa Timur masih memiliki beraneka ragam potensi pertambangan mineral logam, non logam dan batuan yang sangat besar apabila dikelola menghasilkan komoditas berharga sebagai bahan baku industri di Jawa Timur, namun pengelolaan pertambangan di Jawa Timur belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku industri di Jawa Timur karena sering kalah bersaing dengan produk impor (luar Jawa Timur). Kendala utama disebabkan oleh rendahnya mutu produk, kontinuitas produksi, sistem pertambangan konvensional, serta masih kurangnya kesadaran pentingnya peningkatan nilai tambah produksi.
3. Tingginya aktivitas penambangan tanpa izin (PETI) di Jawa Timur yang bahkan sering berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait sangat berdampak semakin luasnya kerusakan lahan akibat penambangan sehingga memerlukan upaya represif dan intensif untuk mencegahnya.
4. Masih rendahnya tingkat diversifikasi energi, yang ditunjukkan oleh tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM). Pembangunan dan pangsa penggunaan energi selama ini masih bertumpu pada pengguna energi tidak terbarukan, seperti
minyak bumi, padahal cadangan minyak bumi semakin menipis. 5. Masih kurangnya pemenuhan kebutuhan gas mengakibatkan
upaya menarik investasi di Jawa Timur belum optimal.
6. Potensi energi alternatif di Jawa Timur yang sangat besar belum banyak dikembangkan untuk dimanfaatkan sebagai energi secara langsung maupun sebagai energi pembangkit tenaga listrik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya anggaran yang tersedia dan belum terjangkaunya teknologi untuk memanfaatkan energi alternatif. 7. Rasio elektrifikasi di Jawa Timur termasuk terendah di Jawa baru
mencapai 83,60 % dan rasio desa berlistrik 99,62 %;
8. Potensi energi alternatif di Jawa Timur seperti energi surya, air, angin, panas bumi, gelombang, biomassa dan lainya belum dimanfaatkan secara optimal sebagai energi pembangkit tenaga listrik khususnya untuk memenuhi kebutuhan listrik pedesaan. 9. Beberapa kendala pembangunan listrik pedesaan adalah kondisi
geografis, kurangnya kemampuan pendanaan pemerintah, serta letak pusat beban yang jauh dari pembangkit listrik dan tingkat beban yang secara teknis dan ekonomis belum layak untuk dipasok oleh pembangkit skala besar. Penggunaan Pembangkit Skala Kecil (PSK) Tersebar di wilayah Jawa Timur, khususnya untuk substitusi program listrik pedesaan, masih kecil.
10. Pemerintah Daerah belum diberi peran aktif dalam pengelolaan migas, sehingga tidak memahami potensi yang ada di daerahnya dan belum mendapatkan hak-hak yang memadai.
pemerintah daerah hanya memberikan fasilitasi berupa keikutsertaan dalam perhitungan lifting migas, sosialisasi pembukaan blok migas baru, dan pemantauan serta mediasi setiap dampak sosial atau konflik antara kontraktor dengan masyarakat yang terjadi akibat eksplorasi migas dan memberikan dorongan kepada BUMD Provinsi untuk ikut serta dalam pengelolaan migas di Jawa Timur.
11. Perkembangan industri manufaktur di wilayah Jawa Timur harus ditunjang oleh pasokan gas yang cukup agar dapat bersaing secara sehat di sektor global seringnya terjadi kekurangan pasokan gas di Jawa Timur akan berdampak pada terhambatnya kegiatan ekonomi dan investasi.