KUALITAS HUTAN KOTA BERDASARKAN INDEKS KOMUNITAS BURUNG
DI HUTAN KOTA SANGGA BUANA JAKARTA SELATAN
ACHMAD CHABIB AINUL MUCHARROR
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2021/1443 H
KUALITAS HUTAN KOTA BERDASARKAN INDEKS KOMUNITAS BURUNG
DI HUTAN KOTA SANGGA BUANA JAKARTA SELATAN
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Pada Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
ACHMAD CHABIB AINUL MUCHARROR 11140950000050
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2021 M/1443 H
KUALITAS HUTAN KOTA BERDASARKAN INDEKS KOMUNITAS BURUNG
DI HUTAN KOTA SANGGA BUANA JAKARTA SELATAN
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Pada Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
ACHMAD CHABIB AINUL MUCHARROR 11140950000050 Menyetujui, Pembimbing I Dr. Priyanti, M. Si NIP. 197505262000122001 Pembimbing II Narti Fitriana, M. Si NIDN. 0331107403 Mengetahui,
Ketua Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Dr. Priyanti, M. Si NIP. 197505262000122001
i PENGESAHAN UJIAN
Skripsi berjudul “Kualitas Hutan Kota Berdasarkan Indeks Komunitas Burung di Hutan Kota Sangga Buana Jakarta Selatan” yang ditulis oleh Achmad Chabib Ainul Mucharror, NIM 11140950000050 telah diuji dan dinyatakan LULUS dalam Sidang Munaqosyah Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 11 Agustus 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) Program Studi Biologi.
Menyetujui:
Penguji I, Penguji II,
Dr. Dasumiati, M.Si Ir. Etyn Yunita, M.Si NIP. 197309231999032002 NIP.197006282014112002
Pembimbing I, Pembimbing II,
Dr. Priyanti, M.Si. Narti Fitriana, M.Si.
NIP. 197505262000122001 NIDN. 0331107403
Mengetahui:
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Ketua Program Studi Biologi,
Nashrul Hakiem, S.Si., M. T., Ph.D Dr. Priyanti, M.Si. NIP. 197106082005011005 NIP. 197505262000122001
ii PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH LAIN PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN
Ciputat, Agustus 2021
ACHMAD CHABIB AINUL M NIM. 11140950000050
iii ABSTRAK
Achmad Chabib Ainul Mucharror. Kualitas hutan kota berdasarkan indeks komunitas burung di hutan kota Sangga Buana Jakarta Selatan. Skripsi. Program Studi Biologi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2021. Dibimbing oleh Priyanti dan Narti Fitriana.
Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana (HKPSB) merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang ada di daerah Jakarta Selatan. Penilitian ini dilakukan bertujuan untuk menilai kualitas hutan kota pesagrahan sebagai ruang terbuka hijau bagi lingkungan sekitarnya. Indeks komunitas burung (IKB) digunakan sebagai salah satu parameter untuk menilai kualitas sebuah hutan kota. Penelitian ini menggunakan metode point transect dalam pengambilan sampel burung. Indeks komunitas burung diperoleh dengan menjumlahkan skor dari guild yang meliputi pakan, asal spesies, reproduksi, sarang, waktu aktif, dan habitat utama. Data burung yang berhasil didapatkan sebanyak 13 spesies burung dari 10 famili dengan tiga spesies burung yang status konservasinya dilindungi yaitu Raja udang meninting (Alcedo meninting), Cekakak sungai (Todirhamphus chloris), dan Madu sriganti (Cynnyris jugularis). Nilai IKB yang didapat sebesar (50) yang menunjukkan bahwa kualitas hutan kota Pesanggrahan Sangga Buana termasuk dalam kategori rendah.
iv ABSTRACT
Achmad Chabib Ainul Mucharror. Quality of urban forest based on bird community index in the urban forest of Pesanggrahan Sangga Buana South Jakarta. Undergraduate Thesis. Department of Biology. Faculty of Science and Technology. State Islamic University of Syarif Hidayatullah Jakarta. 2021. Advised by Priyanti and Narti Fitriana.
The Sangga Buana Pesanggrahan City Forest (HKPSB) is one of the green open spaces in the South Jakarta area. This research was conducted to assess the quality of the urban forest of Pesangrahan as a green open space for the surrounding environment. Bird community index (IKB) is used as a parameter to assess the quality of an urban forest. This study uses the point transect method in bird sampling. The bird community index was obtained by adding up the scores of the guilds which included feed, species origin, reproduction, nesting, active time, and main habitat. The bird data obtained were 13 bird species from 10 families with three bird species whose conservation status is protected, namely the king prawn meninting (Alcedo meninting), the river cuckoo (Todirhamphus chloris), and the honey sriganti (Cynnyris jugularis). The IKB value obtained is (50), which indicates that the quality of the urban forest of Pesanggrahan Sangga Buana is included in the low category.
v KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya, penulis diberikan kemudahan dalam menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Kualitas hutan kota berdasarkan indeks komunitas burung di hutan kota Sangga Buana Jakarta Selatan” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sains pada Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penyelesaian penulisan dan penyusunan skripsi ini dibantu oleh berbagai pihak baik moril maupun materiil, untuk itu dalam kesempatan ini penulis berterima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Nashrul Hakiem, S.Si., M.T., Ph.D Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Dr. Priyanti, M.Si., ketua prodi prodi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi sekaligus sebagai Pembimbing I yang telah membimbing penulis dalam melaksanakan penulisan skripsi ini.
3. Narti Fitriana, M.Si, Sekretaris Program Studi Biologi sekaligus sebagai Pembimbing II yang telah membimbing penulis dalam melaksanakan penulisan skripsi ini.
4. Dr. Fahma Wijayanti, M.Si dan Khohirul Hidayah, M.Si selaku penguji seminar proposal dan seminar hasil yang telah memberikan arahan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.
5. Dasumiyati, M.Si dan Ir. Etyn Yunita, M.Si selaku penguji sidang skripsi yang telah memberikan arahan serta bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.
6. Dr. Nani Radiastuti, M.Si selaku dosen Pembimbing Akademik yang berperan dalam memberikan arahan dalam menyelesaikan skripsi
7. Segenap jajaran dosen civitas akademika Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dengan keramahan dan kesabaran hatinya mencurahkan ilmunya dan membimbing penulis untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik.
8. Orang tua penulis yang telah memberikan izin, dukungan serta motivasi dalam melaksanakan perkuliahan jenjang SI.
vi 9. Bapak H. Idin dan seluruh KLTH Sangga Buana yang telah membantu penulis
dalam menyelesaikan penelitian ini.
10. Teman-teman Biologi angkatan 2014 yang telah membantu penulis dan memberi arahan sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.
Demikianlah skripsi ini disusun, semoga bermanfaat bagi para pembaca untuk menambah bekal ilmu pengetahuan dan wawasan. Amin.
Ciputat, Agustus 2021
vii DAFTAR ISI Halaman PERNYATAAN ... i PENGESAHAN UJIAN ... ii ABSTRAK ... iii ABSTRACT ... iv KATA PENGANTAR ... v DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
LAMPIRAN ... viii BAB I PENDAHULUAN ... x 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Rumusan Masalah ... 2 1.3. Tujuan... 2 1.4. Manfaat... 2 1.5. Kerangka Berfikir ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Hutan Kota ... 4
2.2. Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana ... 6
2.3. Habitat Burung Perkotaan ... 7
2.4. Respon Guild......8
2.5. Indeks Komunitas Burung ... 15
BAB III METODE PENELITIAN ... 17
3.1. Waktu dan Tempat ... 17
3.2. Alat dan Bahan ... 17
3.3. Prosedur Kerja ... 18
3.4. Analisis Data ... 18
BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN ... 22
4.1. Kondisi Fisik dan Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 22
4.2. Komunitas Burung ... 23
4.3. Nilai Indeks Komunitas Burung ... 24
4.4. Kualitas Hutan Kota Berdasarkan IKB ... 28
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 30
5.1. Kesimpulan... 30
5.2. Saran ... 30
viii DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Kerangka Berpikir Penelitian ... 3 Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana...12 Gambar 3. Tutupan lahan Kawasan Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana
ix DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Kategori kualitas ruang terbuka hijau berdasarkan Indeks Komunitas Burung... 14 Tabel 2. Nama dan status konservasi burung di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga
Buana ... 18 Tabel 3. Nilai Indeks Komunitas Burung di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga
x DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Pemilihan guild setiap spesies burung untuk penghitungan Indeks Komunitas Burung di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana .... 36 Lampiran 2. Skor masing-masing guid Indeks Komunitas Burung DKI Jakarta . 37
1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Jakarta Selatan sebagai kota padat penduduk tidak lepas dari beberapa permasalahan lingkungan yang diduga diakibatkan oleh pesatnya perkembangan kota namun kurang diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang memadai. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 1 Tahun 2007 tentang penataan ruang terbuka hijau kawasan perkotaan. Peraturan tersebut menyatakan bahwa perkembangan dan pertumbuhan kota/perkotaan yang disertai pesatnya alih fungsi lahan telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang dapat menurunkan daya dukung lahan dalam menopang kehidupan masyarakat sekitarnya. Undang Undang No 26 tahun 2007 telah mensyaratkan sebuah wilayah perkotaan diharuskan memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) minimal 30% dari luas total seluruh wilayahnya. Pendugaan luas RTH di Jakarta menggunakan data pengindraan jauh didapatkan bahwa telah terjadi penurunan luas RTH di DKI Jakarta, dari 29% luas kawasan pada tahun 2007 menjadi 9% dari luas kawasan pada tahun 2013 (Febrianti, 2014).
Daerah Jakarta Selatan telah memiliki hutan kota bernama Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana (HKPSB). Kawasan HKPSB (Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana) merupakan ruang terbuka hijau yang berlokasi di Desa Taman Sari Kelurahan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Tutupan lahan HKPSB paling banyak ditumbuhi oleh tanaman bambu yang tersebar hampir 85% dari luas lahan total. Menurut keterangan dari babeh Idin selaku ketua kelompok tani hutan Sangga Buana, selama kurun waktu 10 tahun terakhir HKPSB telah menanam hampir 10.000 bibit bambu di kawasan HKPSB. Selain itu juga terdapat tanaman lain seperti kopi, dan tanaman rempah-rempah.
Selaian sebagai area hijau untuk masyarakat, kawasan HKPSB juga berfungsi sebagai kawasan konservasi eksitu. Keberadaan RTH di kawasan perkotaan dapat menjadi habitat alternatif yang baik bagi burung. Kawasan RTH pada umumnya dihuni oleh spesies burung generalis yakni spesies burung yang mampu beradaptasi terhadap perubahan vegetasi (Prasetyo, 2017). Selain berdasarkan luas, fungsi RTH di perkotaan juga ditentukan oleh kualitas dari RTH tersebut.
2 Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas sebuah RTH adalah dengan menggunakan indikator kualitas lingkungan. Menurut Mardiastuti et al. (2014) komunitas burung merupakan salah satu indikator yang baik untuk menilai kualitas lingkungan perkotaan. Hal ini karena komunitas burung dapat dijumpai di berbagai tipe habitat di perkotaan. Penggunaan Indeks Komunitas Burung (IKB) sebagai indikator kualitas lingkungan dipelopori oleh O’Connell et al. (2000) di Central Appalachia, Amerika Serikat dan dapat digunakan untuk menilai kualitas hutan di kawasan tersebut. Burung juga lebih mudah digunakan sebagai indikator ekologis karena, dibandingkan dengan taksa lainnya mereka lebih mudah diamati sebagai objek penelitian dan data taksonominya sebagian besar sudah diketahui dan teridentifikasi dengan baik (O’Connell et al. 2000).
Indeks Komunitas Burung yang dikembangkan di wilayah DKI Jakarta mampu menghasilkan nilai yang cukup relevan dengan kondisi kualitas RTH yang ada di DKI Jakarta (Rumblat, 2016). Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi bagi masyarakat mengenai kualitas HKPSB dan juga sebagai acuan strategi pengelolaan HKPSB bagi pemerintah dan masyarakat di sekitarnya. 1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat dirumuskan masalah tentang bagaimanakah kualitas Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana berdasarkan Indeks Komunitas Burung?
1.3. Tujuan
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kualitas Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana berdasarkan Indeks Komunitas Burung.
1.4. Manfaat
Penelitian ini diharapkan mampu memberi informasi mengenai kualitas Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana dengan menggunakan parameter Indeks Komunitas Burung. Serta diharapakan hasil penelitian ini dapat menjadi informasi bagi masyarakat dan juga sebagai acuan strategi pengelolaan bagi pemerintah dan masyarakat di sekitarnya.
3 Gambar 1 Kerangka Berpikir Penelitian Kualitas Hutan Kota Berdasarkan Indeks
Komunitas Burung di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana Jakarta Selatan
1.5. Kerangka Berfikir
Kerangka berpikir pada penelitian ini terdapat pada (Gambar 1)
Berkontribusi sebagai informasi dan saran pengelolaan lebih lanjut Hutan Kota Pesanggarahan Sangga Buana Didapatkan nilai parameter penentu
kualitas Hutan Kota Nilai indeks komunitas burung di
Hutan Kota Permasalahan lingkungan di daerah
perkotaan
Hutan Kota dengan kualitas yang baik akan menjadi solusi bagi
permasalahan lingkungan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 1 Tahun 2007 tentang penataan ruang terbuka hijau kawasan perkotaan sebagai solusi
masalah lingkungan Alih fungsi lahan &
Bertambahnya populasi penduduk
Pengelolaan lingkungan yang kurang memadai
Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana sebagai RTH di Jakarta
Selatan
Dilakukan penilitian untuk mengetahui kualitas Hutan Kota
Pesanggrahan Sangga Buana Sebagai area hijau
bagi masyarakat
Sebagai kawasan konservasi berbagai spesies flora dan fauna
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hutan Kota
Hutan kota adalah tumbuhan atau vegetasi berkayu yang berada di wilayah perkotaan. Sesuai fungsinya, diharapkan dengan keberadaan hutan kota mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan juga bagi lingkungan sekitar. Berdasarkan PP. No. 63 Tahun 2002 tentang hutan kota, disebutkan bahwa hutan kota adalah suatu hamparan lahan pertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang dan luasan hutan kota pada suatu hamparan yang kompak paling sedikit 0,25 Ha. Penjelasan tersebut selaras dengan Peraturan Menteri Kehutanan RI No. P.71/Menhut-II/2009 tentang hutan kota.
Undang-Undang No 26 tahun 2007 telah mensyaratkan sebuah wilayah perkotaan memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) minimal 30%. Hutan kota merupakan salah satu bentuk dari RTH dan dapat menjadi solusi efektif untuk menjaga kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan. Menurut Purwanto (2012) manfaat yang dapat diperoleh dari keberadaan hutan kota dapat berupa manfaat sosial, estetis dan arsitek, iklim dan fisik, ekologi, dan ekonomi. Salah satu manfaat sosial hutan kota bagi penduduk adalah dapat menjadi tempat istirahat yang sejuk dan nyaman bagi masyarakat, menjadi tempat rekreasi kelurga yang murah dan asri sehingga kebutuhan rekreasi dan wisata masyarakat perkotaan dapat terakomodir dengan adanya hutan kota ini (Dahlan 1992). Keberadaan hutan kota dapat dimaksimalkan dengan melakukan berbagai upaya pengelolaan dan pemeliharaan sehingga fungsi hutan kota tersebut dapat terus terjaga.
Dalam literatur lain, Andayaningsih (2013) menyatakan bahwa hutan kota adalah ruang terbuka hijau yang terdiri dari pohon-pohon di dalam wilayah perkotaan atau di pinggir kota, berfungsi sebagai penyangga lingkungan dalam pengaturan tata air, udara, habitat flora dan fauna. Berdasarkan pengertian hutan kota tersebut, dapat diambil kesimpulan dalam beberapa hal, yaitu:
1). Lokasi hutan kota dalam wilayah perkotaan
5 3). Memiliki fungsi ekologis bagi lingkungan perkotaan.
Hutan kota yang dibangun memiliki tujuan dan sesuai dengan tipe hutan kota yang ingin dibangun. Menurut Dachlan (2013), hutan kota memiliki beberapa tipe, yaitu:
1) Tipe pemukiman
Hutan kota di daerah pemukiman dapat berupa taman dengan komposisi tanaman pepohonan yang tinggi dikombinasikan dengan semak dan rerumputan. Taman adalah sebidang tanah terbuka dengan luasan tertentu di dalamnya ditanam pepohonan, perdu, semak dan rerumputan yang dapat dikombinasikan dengan kreasi dari bahan lainnya. Umumnya digunakan untuk olahraga, bersantai, bermain, dan sebagainya.
1) Tipe kawasan industry
Suatu wilayah perkotaan pada umumnya mempunyai satu atau beberapa kawasan industri. Limbah dari industri dapat berupa partikel, aerosol, gas dan cairan dapat mengganggu kesehatan manusia. Di samping itu juga dapat menimbulkan masalah kebisingan dan bau yang dapat mengganggu kenyamanan. Beberapa spesies tanaman telah diketahui kemampuannya dalam menyerap polutan. Dengan demikian informasi ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih spesies-spesies tanaman yang akan dikembangkan di kawasan industri.
2) Tipe rekreasi dan keindahan
Manusia dalam kehidupannya tidak hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan jasmani seperti makanan dan minuman, tetapi juga berusaha memenuhi kebutuhan rohani, antara lain rekreasi dan keindahan. Dewasa ini terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan minat penduduk perkotaan untuk rekreasi. Rekreasi pada kawasan hutan kota bertujuan untuk menyegarkan kembali kondisi badan yang sudah penat dan jenuh dengan kegiatan rutin.
3) Tipe pelestarian plasma nutfah
Hutan konservasi bertujuan untuk mencegah kerusakan, perlindungan, dan pelestarian terhadap sumberdaya alam. Bentuk hutan kota yang memenuhi kriteria ini antara lain yaitu kebun raya, hutan raya, dan kebun binatang. Ada dua sasaran pembangunan hutan kota untuk pelestarian plasma nutfah, yaitu:
6 b. .Sebagai habitat, khususnya untuk satwa yang akan dilindungi atau dikembangkan.
4) Tipe perlindungan
Hutan kota dapat dibangun di daerah dengan kemiringan yang cukup tinggi yang ditandai dengan tebing-tebing yang curam ataupun daerah tepian sungai agar terhindar dari bahaya erosi dan longsor. Hutan kota yang berada di daerah pesisir dapat berguna untuk mengamankan daerah pantai dari gempuran ombak laut yang dapat menghancurkan pantai. Untuk beberapa kota pantai masalah abrasi merupakan masalah yang sangat penting.
5) Tipe pengamanan
Hutan kota dengan tipe pengamanan adalah jalur hijau disepanjang tepi jalan bebas hambatan (tol) yang berfungsi mengamankan pengendara jika kendaraannya ke luar dari badan jalan. Dengan menanam perdu dan dilengkapi dengan jalur pohon pisang dan tanaman yang merambat dari legum secara berlapis-lapis, akan dapat menahan kendaraan yang keluar dari jalur badan jalan. Bahaya karena pecah ban, patah setir ataupun pengendara mengantuk dapat dikurangi. Pada kawasan ini tanaman harus betul-betul cermat dipilih yaitu yang tidak mengundang masyarakat untuk memanfaatkannya. Tanaman yang tidak enak rasanya seperti pisang hutan dapat dianjurkan ditanam disini.
2.2. Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana
Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana berlokasi di Desa Taman Sari, Kelurahan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana merupakan daerah resapan air di kawasan tersebut. Kebaradaan HKPSB menjadi sangat penting karena di dalamnya mengalir sungai Pesanggrahan yang merupakan salah satu sungai yang sering menimbulkan banjir. Sehingga perlu adanya kawasan resapan air yang mampu mengurangi potensi banjir di kawasan tersebut. Di samping itu, keberadaan Hutan Pesanggrahan Sangga Buana berperan dalam memperbaiki kualitas sungai Pesanggrahan menjadi lebih baik dari sebelumnya (Riyadi, 2016).
Kawasan HKPSB awalnya merupakan wilayah yang tidak terawat dan kemudian telah beralih fungsi menjadi tempat konservasi, edukasi, dan juga rekreasi. Kawasan HKPSB merupakan salah satu area terbuka hijau di tengah kota
7 yang pertama kali ditanami oleh seorang warga lokal Betawi dan Kelompok Tani Sangga Buana. Hutan kota ini telah ada sejak 20 tahun lalu. Idenya adalah untuk memanfaatkan lahan nonproduktif yang pada waktu itu di bawah penguasaan tuan tanah, sebab lahan kosong itu hanya digunakan sebagai tempat membuang sampah dan diterlantarkan. (Novianti & Rahadian, 2015).
Tutupan lahan HKPSB paling banyak ditumbuhi oleh tanaman bambu yang tersebar hampir 85% dari tutupan lahan secara total. Selain itu juga terdapat tanaman lain seperti kopi, dan tanaman rempah-rempah. Babeh Idin menerangkan bahwa pemilihan tanaman bambu ini juga berkaitan dengan rencana pengelolaan sungai pesanggrahan yang melintas di sisi HKPSB. Rumpun bambu yang terbentuk di sepanjang aliran sungai Pesanggrahan diharapkan mampu mencegah terjadi erosi pada tepi sungai.
Dalam studi lebih lanjut, Riyadi (2016) menjelaskan persentase manfaat keberadaan Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana yang dirasakan oleh masyarakat mencapai sekitar 53,75 %. Mereka berpendapat bahwa dengan keberadaan Hutan Kota Pesanggrahan mampu memperbaiki kualitas lingkungan menjadi lebih baik dan memberikan kesejukan bagi masyarakat sekitar dengan adanya kawasan hijau tersebut.
2.3. Habitat Burung Perkotaan
Burung perkotaan memiliki toleransi yang lebih luas pada perubahan fungsi lahan yang terjadi di wilayah perkotaan. Respon fisiologis, ekologis, dan kebiasaan hidup berkontribusi terhadap luasnya toleransi burung di perkotaan. Ketiga respon ini saling berkaitan dalam hal cara mencari makan, ketersediaan bentuk area yang dijadikan sebagai sarang, atau sumber makanan yang baru dan cocok bagi burung di perkotaan (Bonier et al., 2007).
Burung di perkotaan mengalami adanya gangguan, baik secara langsung atau tidak langsung. Gangguan secara langsung yaitu berupa perburuan burung baik sebagai pemenuhan kebutuhan bahan pangan ataupun sebagai bagian dari aktivitas olahraga. Sedangkan gangguan burung secara tidak langsung adalah gangguan burung berhubungan dengan habitatnya (Nugroho et al., 2015).
Gangguan burung terhadap habitatnya diantaranya adalah alih fungsi lahan yang mengubah habitat asli burung. Alih fungsi lahan ini berkaitan dengan proses
8 urbanisasi yang mengakibatkan punahnya suatu spesies burung (Alvares & MacGregor-Fors, 2009). Alih fungsi lahan juga menyebabkan hilangnya suatu elemen habitat, dan spesies burung yang bergantung terhadap elemen habitat tersebut juga ikut hilang (Diaz et al., 2005).
2.5. Respon Guild
Guild merupakan kelompok spesies yang memanfaatkan suatu sumber daya
yang sama dan dengan cara yang sama (Karr, 1980). Suatu kelompok spesies burung tertentu dapat dikatakan memiliki kategori guild yang sama berdasarkan cara kelompok tersebut memperoleh sumberdaya, misalnya sumberdaya pakan. Komunitas burung mempunyai banyak karakteristik yang potensial untuk dijadikan sebagai indikator ekologis dalam skala yang luas (O’Connell et al. 2000). Sebagai contoh, banyak distribusi spesies-spesies burung dipengaruhi oleh fragmentasi habitat atau parameter struktur habitat lainnya. Banyak burung menempati tingkat trofik tinggi dan dapat mencerminkan adanya perubahan pada tingkat trofik di bawahnya. Cody (1981) juga menyebutkan bahwa komposisi komunitas burung mencerminkan dinamika interspesifik dan tren populasi. Respon guild pada burung dapat digunakan untuk mengukur tingkat kerusakan ekologis atau gangguan lingkungan. Hal ini dikarenakan burung merupakan salah satu taksa terbaik yang dipelajari di daerah tropis daripada kebanyakan taksa lainnya. Dibandingkan dengan taksa lainnya burung lebih mudah dijadikan sampel dikarenakan taksonominya sudah diketahui cukup baik, serta data ekologisnya sudah terkumpul sangat lengkap (Noss 1990, O’Connell et al. 1998). Hal ini memungkinkan untuk melihat dampak dari gangguan habitat spesies dalam kaitannya dengan ekologi dan sifat mereka. Selanjutnya data tersebut dapat digunakan untuk memahami perubahan dalam struktur dan kondisi ekosistem (Hooper et al. 2005).
Menurut Rumblat, (2016) bahwa guild burung-burung di DKI Jakarta memiliki karakteristik tersendiri. Kategori-kategori tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Kategori guild pakan
Kategori guild pakan ini ditentukan berdasarkan spesies pakan utama yang dimakan oleh burung.
9 a) Pemakan biji
Tipe guild pemakan biji merupakan guild untuk spesies burung yang memakan berbagai jenis biji (hanya bagian biji) sebagai pakan utamanya, dicirikan dengan bentuk paruh yang tebal dan kuat untuk dapat memecah biji. Biji yang umum menjadi pakan kelompok burung ini adalah biji rerumputan atau berbagai jenis padi (biji tumbuhan Graminae). Kelompok burung paruh bengkok seperti betet biasa (Psittacula alexandri) yang memakan berbagai jenis biji tumbuhan dikotil juga termasuk dalam kelompok guild pemakan biji. Kelompok burung paruh bengkok ini hanya memakan bagian biji meskipun biji tersebut dilapisi daging buah. Di sebagian besar lokasi penelitian dapat ditemukan kelompok burung pemakan biji, oleh sebab itu kelompok burung pemakan biji merupakan kelompok burung yang termasuk umum dijumpai (generalis).
b) Pemakan buah
Tipe guild pemakan buah merupakan guild bagi spesies burung yang memakan berbagai jenis buah-buahan sebagai pakan utamanya. Keberadaan burung-burung spesies ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya tanaman yang berbuah. Umumnya buah pakan burung-burung ini adalah buah yang matang, bertekstur lunak, dan berukuran kecil seperti buah beringin, dan salam. Burung pemakan buah hanya memakan daging buah dan tidak memakan atau menelan biji dari buah yang dimakannya. Kelompok guild ini merupakan komunitas burung yang umum dan tersebar luas di DKI Jakarta (generalis) karena di seluruh RTH yang diamati selalu ditemukan spesies burung pemakan buah.
c) Pemakan nektar
Tipe guild pemakan nektar merupakan guild yang ditujukan bagi kelompok burung penghisap nektar (madu bunga) dan menjadikan nektar sebagai pakan utamanya. Kelompok burung ini termasuk semua spesies famili Nectariniidae. Kelompok burung pemakan nektar ini dapat ditandai dengan paruh yang panjang dan berukuran kecil khas burung pemakan nektar. Kelompok burung ini menempati relung yang lebih sempit dalam pemilihan pakan dan memiliki peran penting dalam ekosistem yaitu sebagai agen penyerbuk bagi beberapa spesies tanaman. Dengan demikian kelompok burung ini digolongkan ke dalam guild spesialis.
10 d) Pemakan ikan
Tipe guild pemakan ikan merupakan guild bagi kelompok burung air yang menjadikan ikan dan krustasea (termasuk udang dan kepiting) sebagai pakan utamanya. Kelompok burung pada guild ini berbeda dengan kelompok pemakan daging atau kelompok karnivora karena pakan yang dipilih lebih spesifik sehingga
guild ini temasuk kelompok spesialis. Kelompok burung ini dapat ditemukan pada
RTH yang menyediakan sumber pakan seperti sungai atau danau. e) Pemakan material hewan
Tipe guild pemakan material hewan merupakan guild bagi spesies burung yang menjadikan material hewan selain ikan dan serangga sebagai pakan utamanya. Anggota kelompok ini termasuk burung pemangsa yang memakan daging, reptile, dan amfibi. Selain itu, kelompok burung pantai yang memakan cacing dan moluska juga termasuk ke dalam guild pemakan material hewan. Kelompok ini termasuk ke dalam guild spesialis.
f) Pemakan serangga dengan melubangi pohon
Tipe guild pemakan serangga dengan melubangi pohon merupakan guild yang ditujukan bagi kelompok burung pelatuk yang mencari pakan berupa serangga di dahan bawah lapisan kulit kayu yang telah mati dengan cara mematuk dan melubangi kayu tersebut. Kelompok burung ini dapat dijumpai pada RTH yang minim aktivitas manusia, memiliki pepohonan yang besar, dan banyak dahan atau cabang yang sudah mati. Kelompok burung ini memiliki cara yang khas dan membutuhkan sumberdaya yang sangat spesifik dalam memperoleh pakan. Oleh karena itu kelompok burung ini dimasukkan ke dalam kelompok guild spesialis. g) Pemakan serangga sambil melayang
Tipe guild pemakan serangga sambil melayang di udara merupakan guild yang ditujukan bagi burung yang menangkap serangga yang sedang terbang dengan terus melayang di udara. Spesies burung ini menghabiskan sebagian besar aktivitasnya dengan melayang di udara untuk menangkap serangga sebagai pakannya. Kelompok burung ini dimasukkan ke dalam kelompok guild spesialis.
h) Pemakan serangga di ranting pohon
Tipe guild pemakan serangga di ranting atau kanopi pohon merupakan guild yang ditujukan bagi spesies burung yang memperoleh pakan berupa serangga (termasuk
11 larva serangga) dengan cara hinggap dan menangkap pada cabang dan kanopi pohon tersebut. Guild ini merupakan kelompok yang mendominasi guild pakan burung di DKI Jakarta. Hampir semua RTH di DKI Jakarta memiliki areal bervegetasi sehingga membentuk ekosistem hutan. Seperti yang telah diketahui bersama, bahwa sebagian besar spesies burung di hutan memang merupakan pemakan serangga. Oleh sebab itu, kelompok guild ini mendominasi dalam hal jumlah spesies dan guild ini juga termasuk guild yang umum dijumpai sehingga dimasukkan ke dalam kelompok guild generalis.
i) Pemakan serangga dengan menyambar mangsa
Pemakan serangga dengan menyambar mangsa merupakan guild yang ditujukan bagi kelompok burung yang memakan dan menangkap serangga yang sedang melayang dengan cara menyambar. Kelompok ini memiliki cara yang khas dan relung yang lebih sempit dalam memperoleh mangsanya sehingga digolongkan ke dalam guild yang spesialis.
j) Pemakan serangga di lantai hutan/di dalam serasah
Pemakan serangga di lantai hutan/di dalam serasah merupakan guild yang ditujukan bagi spesies-spesies burung terestrial yang mencari pakan di serasah atau lantai hutan. Anggota guild ini hidup dan mencari pakan area pada kawasan lantai hutan yang terbuka maupun yang ditutupi semak. Pakan dapat berupa larva, serangga atau invertebrata yang terdapat pada serasah dan lantai hutan. Spesies burung ini mendiami areal RTH yang minim gangguan manusia karena keberadaan burung terestrial ini sangat sensitif terhadap gangguan manusia. Selain itu, cara mencari pakan yang spesifik dan lebar relung yang kecil membuat guild ini termasuk guild spesialis.
2. Kategori guild asal spesies
Kategori guild asal spesies ini ditentukan berdasarkan keberadaan burung dalam periode waktu tertentu.
a) Spesies penetap
Tipe guild spesies penetap ditujukan bagi spesies burung yang dapat ditemukan atau berada di lokasi penelitian sepanjang tahun. Burung penetap ini merupakan spesies-spesies yang umum ditemui karena mampu beradaptasi pada lingkungannya dan secara terus menerus mampu menjaga generasinya. Kelompok burung ini
12 dimasukkan ke dalam kelompok guild generalis.
b) Spesies yang bermigrasi/migran
Tipe guild spesies migran merupakan guild yang ditujukan bagi spesies burung yang melakukan perjalanan atau migrasi pada periode waktu tertentu. Oleh karena itu, spesies burung ini tidak dapat diamati sepanjang tahun atau ketika melakukan migrasi. Guild ini merupakan kelompok guild spesialis.
3. Kategori guild strategi reproduksi
Kategori guild strategi reproduksi ini ditentukan dengan melihat strategi burung tersebut saat bertelur dan menetaskan telurnya. Kategori guild ini diwakili oleh tipe
guild parasit telur dan non-parasit telur.
a) Parasit telur
Tipe guild parasit telur ditujukan kepada spesies-spesies burung yang tidak menetaskan dan membesarkan anaknya sendiri. Burung tersebut bersarang di sarang burung lain dan anak burung tersebut ditetaskan dan dibesarkan oleh induk pada sarang tersebut. Spesies burung dengan guild ini yang paling dikenal dan terdapat di DKI Jakarta adalah famili Cuculidae. Tipe guild ini digolongkan ke dalam tipe guild yang spesialis karena cara reproduksinya yang unik dan mampu membatasi populasi spesies burung lain, sehingga guild ini menjadi spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan di DKI Jakarta.
b) Non-parasit telur
Tipe guild non-parasit telur merupakan kelompok burung selain kelompok parasit telur. Kelompok ini merupakan spesies-spesies burung yang bereproduksi secara umum yaitu bertelur, menetas dan merawat anaknya sendiri. Tipe guild ini merupakan kelompok guild yang generalis karena sebagian besar spesies burung yang ditemukan di DKI Jakarta merupakan kelompok guild ini.
4. Kategori guild peletakan sarang
Kategori guild peletakan sarang ditentukan berdasarkan lokasi atau tempat burung membangun dan meletakkan sarangnya.
a) Bersarang di tanah
Tipe guild bersarang di tanah ditujukan bagi spesies burung yang membangun sarang di permukaan tanah, permukaan pasir atau padang terbuka. Komunitas burung yang membangun sarang di permukaan tanah ini umumnya bersarang di
13 kawasan yang minim aktivitas manusia untuk menghindari gangguan dan ancaman predator. Kelompok burung ini dimasukkan ke dalam kelompok guild spesialis. b) Bersarang di semak
Bersarang di semak adalah tipe guild yang ditujukan bagi spesies burung yang membangun sarang pada semak belukar, padang rumput dan ilalang. Sarang biasanya dibangun dan diletakkan tersembunyi diantara semak belukar tersebut.Kelompok burung ini dimasukkan ke dalam kelompok guild spesialis. c) Besarang di cabang dan kanopi pohon
Kelompok burung yang bersarang di cabang dan kanopi pohon adalah guild yang ditujukan bagi spesies burung yang membangun dan meletakkan sarang di bagian cabang, kanopi pohon (termasuk di celah pelepah dan lembaran daun). Kelompok burung ini umum ditemukan di sebagian besar RTH di DKI Jakarta dan dimasukkan ke dalam kelompok guild generalis
d) Bersarang di lubang pohon
Tipe guild bersarang di lubang pada batang pohon ditujukan bagi spesies burung yang bersarang pada lubang-lubang pohon atau cabang yang telah mati. Sarang berupa lubang pada pohon tersebut dapat dibuat sendiri oleh burung atau lubang pohon bekas sarang burung lain yang sudah tidak ditempati lagi. Kelompok burung ini dimasukkan ke dalam kelompok guild spesialis.
e) Bersarang di lubang tebing
Tipe guild bersarang di lubang tebing adalah guild yang ditujukan bagi kelompok burung yang membuat sarang atau bersarang pada lubang di tebing tebing batu atau tebing tanah. Kelompok guild ini dimasukkan ke dalam kelompok guild spesialis. f) Bersarang di bangunan
Tipe guild bersarang di bangunan ditujukan bagi spesies burung yang membangun atau meletakkan sarang pada bangunan buatan manusia seperti rumah, gedung, kantor, jembatan, dan menara. Tipe guild ini merupakan bentuk adaptasi burung untuk dapat hidup di lingkungan manusia khususnya di perkotaan. Kelompok burung ini dimasukkan ke dalam kelompok guild spesialis.
5. Kategori guild waktu beraktivitas
Tipe guild untuk kategori waktu beraktivitas ditentukan berdasarkan waktu burung paling banyak melakukan aktivitas. Dalam kategori ini, tipe guild dikelompokkan
14 ke dalam dua tipe guild yaitu kelompok burung yang aktif di malam hari dan aktif di siang hari.
a) Aktif di malam hari (nokturnal)
Tipe guild aktif di malam hari merupakan kebalikan dari guild aktif di siang hari. Tipe guild ini ditujukan bagi spesies-spesies burung yang mulai melakukan aktivitas saat matahari terbenam (malam hari) dan mulai kembali ke sarangnya sebelum atau saat matahari mulai terbit.
b) Aktif di siang hari (diurnal)
Tipe guild aktif di siang hari adalah tipe guild bagi spesies-spesies burung yang mulai aktif beraktivitas mulai dari matahari terbit (pagi hari) hingga matahari terbenam (sore hari). Kelompok burung ini disebut juga dengan kelompok diurnal. 6. Kategori guild habitat utama
Kategori guild habitat primer ditentukan berdasarkan tipe habitat yang paling dominan yang ditempati suatu spesies burung. Habitat primer burung ini berkaitan dengan sumberdaya yang dibutuhkan komunitas burung untuk bertahan hidup. Di DKI Jakarta, kategori guild habitat utama dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe
guild yaitu guild perairan dan lahan basah, guild areal hutan terestrial, dan guild
areal terbangun.
a) Perairan dan lahan basah
Tipe guild perairan dan lahan basah merupakan guild yang ditujukan bagi kelompok burung air yang menjadikan kawasan perairan sebagai habitat utamanya. Kelompok burung air ini dapat dicirikan dengan tungkai kaki yang panjang atau pada selah jari kaki memikiki selaput untuk berenang. Tipe guild ini dimasukkan ke dalam kelompok guild spesialis.
b) Areal hutan terestrial
Areal hutan terestrial merupakan tipe guild yang ditujukan bagi kelompok burung terestrial yang menetap atau menempati areal hutan atau RTH yang bervegetasi. Sebagian besar burung yang ditemukan di DKI Jakarta adalah kelompok ini. Syarat hidup kelompok burung ini adalah adanya daerah bervegetasi sebagai habitatnya dan RTH yang masih tersisa di DKI Jakarta dimanfaatkan oleh kelompok burung ini untuk bertahan hidup. Kelompok guild areal hutan terestrial ini dimasukkan ke dalam kelompok guild generalis.
15 c) Areal terbangun
Areal terbangun merupakan tipe guild yang ditujukan bagi kelompok burung yang mampu beradaptasi dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan perkotaan. Kelompok ini mampu memanipulasi lingkungan perkotaan seperti bangunan manusia sebagai habitat hidupnya dan dimasukkan ke dalam kelompok
guild spesialis. Berkat adaptasinya yang tinggi, kelompok burung ini dapat
dijumpai di seluruh RTH DKI Jakarta yang bervegatasi. Kelompok burung ini kerap dijumpai sedang terbang di sekitar RTH untuk mencari pakan. Bahkan, burung perkotaan ini juga dapat beradaptasi dengan memodifikasi jenis pakan menjadi lebih generalis seperti burung-gereja erasia yang ditemukan memakan pakan dari sisa makanan manusia.
2.6. Indeks Komunitas Burung
Indeks Komunitas Burung dapat dikembangkan untuk menilai kualitas atau kesehatan suatu wilayah. Penilaian ini berdasarkan perhitungan dan pengelompokkan spesies-spesies dalam komunitas burung di lokasi tersebut dan hasil pengukuran tersebut dapat diketahui kualitas ligkungan berdasarkan kelompok burung yang bersifat generalis maupun spesialis (Intari, 2011).
Suatu spesies dapat digolongkan menjadi spesies generalis jika mampu memanfaatkan berbagai sumberdaya seperti pakan, lokasi bersarang dan bahan penyusun sarang, dan tidak melakukan migrasi. Sedangkan spesies spesialis memanfaatkan sumberdaya yang lebih spesifik. Suatu lokasi yang penghuninya didominasi oleh spesies spesialis menggambarkan kondisi lingkungan yang baik atau relatif tidak terganggu karena spesies spesialis lebih rentan terhadap gangguan manusia (O’Connell et al., 1998).
Indeks Komunitas Burung (IKB) merupakan satu indeks untuk keanekaragaman yang dapat digunakan untuk menilai kesehatan atau kondisi suatu wilayah dengan menghitung dan mengelompokkan beberapa spesies yang merupakan hal baru untuk Indonesia, meskipun untuk taksa lainnya sudah pernah. Oleh karena itu, penggunaan Indeks Komunitas Burung untuk penilaian kualitas lingkungan di Indonesia sangat spesifik karena kondisi ekologis dan geografisnya sangat khas. Hal yang menjadi penting adalah bahwa hasil penilaian kualitas lingkungan di perkotaan ini belum dapat digeneralisasi sebagai model yang dapat
16 digunakan pada setiap tempat di Indonesia.
Hasil dari studi yang dilakukan Nguyen (2007), menunjukkan pada wilayah studi di bagian barat Meksiko, berdasarkan nilai Indeks Komunitas Burung, sebagian besar dapat digolongkan sebagai wilayah yang baik atau belum mengalami gangguan. Sebanyak 99% kawasan yang diamati dipastikan memiliki nilai Indeks Komunitas Burung yang mengindikasikan komunitas burung di lokasi tersebut didominasi spesies yang rentan terhadap gangguan. Persentase dari gangguan yang dialami spesies yang rentan mencerminkan kemantapan formasi hutan dan suksesi suatu habitat (Nguyen, 2007).
Namun demikian, Indeks Komunitas Burung hanya menggambarkan secara umum dari derajat gangguan pada komunitas burung (Caterbury et al. 2000). Indeks Komunitas Burung memberikan gambaran sederhana dari lingkungan dengan menggabungkan sistem integritas biotik menjadi satu nilai dan karenanya harus digunakan dalam hubungannya dengan metrik lainnya untuk memeriksa kesehatan habitat secara keseluruhan (Nguyen, 2007).
2.7. Keistimewaan Burung di dalam ayat Al-Qur’an
Burung merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah yang memiliki keistimewaan tersendiri di dalam Al-Qur’an. Allah SWT menjadikan burung dapat mengepakkan kedua sayapanya sebagai tanda atas kekuasaan-Nya. Kita sebagai umat Islam yang beriman dituntut untuk beriman kepada tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap burung terdapat dalam Q.S. Al-Mulk ayat 19.
ۥُهَّنِإ ۚ ُن ََّٰم ۡح َّرلٱ َّلَِّإ َّنُهُكِس ۡمُي اَم ۚ َن ۡضِبۡقَي َو ٍتََّّٰفَََّٰٰٓص ۡمُهَق ۡوَف ِرۡيَّطلٱ ىَلِإ ْا ۡو َرَي ۡمَل َوَأ
ِ لُكِب
ري ِصَب ٍء ۡىَش
Artinya :“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu”. (Q.S. Al-Mulk 67 : 19).
17 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana, Jakarta Selatan. Area HKPSB seluas 40 ha, 4,5 ha berada di Jakarta Selatan dan sebagian lainnya berada di daerah Tangerang Selatan (Gambar 2). Waktu penelitian dilakukan selama satu bulan pada bulan Mei-Juni 2021. Pengamatan dilakukan pada pagi hari (pukul 06.00-09.00) WIB yang merupakan waktu aktif burung untuk melakukan aktivitas (Rumblat, 2016).
Gambar 2 Peta lokasi penelitian Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana. 3.2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah binokuler, rol meter, weather meter, alat tulis, pencatat waktu, lembar pengamatan, buku panduan lapangan “Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan” (SKJB). Objek yang diamati dalam penelitian ini adalah berbagai spesies burung di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana
18 3.3. Cara Kerja
3.3.1 Pengukuran Faktor Abiotik
Pengukuran faktor abiotik dilakukan sebelum melakukan pengamatan burung. Faktor abiotik yang diukur terdiri dari suhu udara, kecepatan angin menggunakan weather meter dan curah hujan.
3.3.3 Data Indeks Komunitas Burung
Pengambilan data keanekaragaman burung dilakukan dengan pengamatan langsung. Metode sampling spesies burung yang digunakan adalah metode Point
Transect. Metode ini merupakan kombinasi dari metode point count (titik hitung)
dan metode transect line (garis transek). Metode titik hitung dilakukan dengan berjalan ke suatu titik tertentu, dan selanjutnya mencatat semua burung yang ditemukan pada titik tersebut selama jangka waktu 10 menit sebelum bergerak ke titik selanjutnya. Dalam metode garis transek, pengamat berjalan sepanjang garis transek dan mencatat semua spesies burung yang teramati di sepanjang kedua sisi jalur perjalanannya dengan menggunakan referensi dari buku panduan lapangan “Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan”. Radius pengamatan pada kedua metode ini adalah 50 m, dan jarak antar titik pengamatan adalah 200 m (Rumblat, 2016)
3.4. Analisis Data
3.4.1 Indeks Komunitas Burung di Huta Kota Pesanggrahan Sangga Buana
Indeks Komunitas Burung (IKB) pada lokasi penelitian didapatkan dari beberapa tahapan mengacu pada penelitian Mardiastuti et al., (2014), yaitu tahap pertama membuat daftar spesies burung yang memiliki habitat di lokasi penelitian. Hasil data yang didapatkan berupa spesies burung yang tinggal dan beraktivitas di kawasan hutan kota. Setelah mendapatkan daftar spesies burung, selanjutnya menentukan guild masing-masing spesies burung. Guild tersebut kemudian diberikan skor dalam bentuk persen (%) pada masing-masing guild burung yaitu pakan, asal spesies, reproduksi, sarang, waktu aktif, dan habitatnya (Tabel 1).
19 Tabel 1 Guild komunitas burung untuk wilayah DKI Jakart (Mardiastuti, 2016)
Kategori
Guild
Tipe Guild Kode
Pakan Pemakan biji BIJ
Pemakan Buah BUA
Pemakan nektar NEK
Pemakan ikan IKA
Pemangsa DAG
Pemakan serangga dengan melubangi pohon SLU Pemakan serangga sambil terbang/melayang SLY Pemakan serangga dengan cara menyambar
mangsa
SSA
Pemakan serangga di lantai hutan/di dalam serasah
SLT
Pemakan serangga di ranting pohon SRA
Asal spesies Penetap TET
Migran MIG
Reproduksi Parasit telur/anakan PAR
Bukan parasit telur/anakan NPA
Sarang Bersarang di semak SMK
Bersarang di cabang dan kanopi pohon CAB
Berarang di permukaan tanah TAN
Bersarang di lubang pohon LUB
Bersarang di lubang tebing/tanah TEB
Bersarang di bangunan GED
Waktu aktif Nokturnal MAL
Diurnal SIA
Habitat Areal perairan AIR
Areal terbangun KOT
Areal terestrial DAR
Nilai-nilai tersebut kemudian diubah menjadi skor tiap guild, kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan nilai IKB. Angka maksimum yang dapat diperoleh
20 dari skor masing masing guild adalah 125 yang diperoleh dari jumlah tipe guild dikalikan dengan nilai skor tertinggi pada masing masing tipe guild yaitu 25 x 5. Untuk mendapatkan rentang skor yang umum digunakan, pada penelitian ini ditentukan bahwa skor maksimum untuk nilai IKB adalah 100. Agar diperoleh angka maksimum 100, maka total skor dikalikan dengan 0.8 (faktor koreksi). Setelah diperoleh nilai IKB, kemudian nilai tersebut digunakan untuk mentukan kategori kualitas Ruang Terbuka Hijau (Tabel 2). Kualitas lingkungan tersebut dapat dikategorikan ke dalam 5 kelompok sesuai dengan nilai Indeks Komunitas Burung yang diperoleh (Mardiastuti et al. 2014).
Tabel 2 Kategori kualitas ruang terbuka hijau berdasarkan Indeks Komunitas Burung
Indeks Komunitas Burung Kategori Kualitas RTH
20-39,9 Sangat rendah
40-54,9 Rendah
55-69,9 Menengah
70-84,9 Baik
85-100 Sangat baik
3.4.2. Kualitas Hutan Kota Berdasarkan Indeks Komunitas Burung
Analisis ini dilakukan dengan metode deskriptif yaitu menilai kualitas hutan kota berdasarkan nilai yang didapat dari Indeks Komunitas Burung. Data Indeks Komunitas Burung yang didapatkan kemudian diolah untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi kualitas Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana.
21 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi fisik dan gambaran umum lokasi penelitian
Pengukuran faktor fisik dilakukan pada setiap titik plot sebelum pengamatan burung dilakukan. Hasil pengukuran kondisi fisik Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana didapatkan Suhu udara di kawasan HKPSB sebesar 28,0 °C dan kecepatan angin sebesar 0,55 knot. Selain itu, berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dari rentang bulan mei hingga bulan juli, rata-rata curah hujan di daerah Jakarta Selatan berkisar diantara 20-100 mm/ hari.
Pengukuran terhadap faktor fisik ini dikarenakan keadaan faktor fisik suatu lokasi sangat mempengaruhi keberadaan spesies burung di lokasi terebut. Curah hujan yang tinggi dapat mempengaruhi keberadaan burung di suatu lokasi karena burung hanya aktif saat cuaca cerah. Tidak banyak burung yang aktif saat turun hujan, oleh karena itu saat curah hujan tinggi akan menurunkan penjumpaan terhadap spesies burung di lokasi pengamatan.
Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian, terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara kawasan HKPSB dengan kawasan hutan kota lainnya. Kawasan HKPSB merupakan ruang terbuka hijau yang tutupan lahannya banyak ditumbuhi oleh tanaman bambu (Gambar 4).
Gambar 3 Tutupan lahan Kawasan Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana paling banyak ditumbuhi oleh tanaman bambu.
22 Pemilihan tanaman bambu sebagai tanaman yang paling banyak ditanam di hutan kota tersebut berkaitan erat dengan lokasi hutan kota yang berada di bantaran sungai Pesanggrahan. Tanaman bambu dipilih karena sistem perakaran yang dimiliki bambu rapat, luas, dan kuat serta akumulasi serasah yang banyak sehingga dapat memperkuat struktur tanah dan memelihara kelembapan tanah yang dapat mencegah terjadinya erosi pada tepi daerah aliran sungai tersebut ( Ardiarini, 2017). Beberapa spesies bambu yang ditemukan di kawasan HKPSB adalah Bambu Petung (Dendrocalamus asper), Bambu Tali (Gigantochloa apus), Bambu Kuning
(Bambusa vulgaris var striata), Bambu Andong (Gigantochloa
pseudoarundinaceae), dan Bambu Duri (Bambusa blumeana). Selain itu juga terdapat tanaman kopi dan beberapa spesies tanaman rempah (Sofyan, 2018).
4.2. Komunitas Burung
Setelah dilakukan pengamatan di kawasan Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana, didapatkan data sebanyak 13 spesies burung dari 10 famili di lokasi tersebut. Keseluruhan status konservasi spesies burung yang ditemukan berdasarkan kategori keterancaman terhadap kepunahan IUCN tergolong kedalam status Least Concern (LC) atau beresiko rendah (Tabel 2). Kategori beresiko rendah merupakan kategori yang diberikan terhadap spesies burung yang telah dilakaukan evaluasi informasinya namun belum termasuk kedalam kategori spesies burung yang terancanm punah dikarenakan kriterianya belum terpenuhi.
Tabel 2 Spesies dan status konservasi burung yang ditemukan di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana.
Ordo Famili Nama Lokal
Burung Nama Ilmiah
Status Konservasi (IUCN)
Apodiformes Apodidae Kapinis Rumah Apus nipalnsis LC
Walet Linci Collocalia linchi LC
Columbiformes Columbidae Tekukur
Streptopelia
chinensis LC
Coraciiformes Alcedinidae Cekakak Sungai
Todirhamphus
chloris LC
Raja Udang
23
Passeriformes Aegithinidae Cipoh Kacat Aegitina tiphia LC
Cisticolidae Perenjak Jawa Prinia familiaris LC
Dicaidae Cabai Jawa
Dicaeum
trochileum LC
Nectariniidae Madu Sriganti Cynnyris jugularis LC
Passeridae Gereja Erasia Passer montanus LC
Pycnonotidae Cucak Kutilang
Pycnonotus
aurigaster LC
Merbah Cerukcuk
Pycnonotus
goiavier LC
Zosteropidae Kaca mata Biasa
Zosterops
palpebrosus LC
Keterangan : LC = Least Concern (Beresiko Kurang)
Selain berdasarkan status keterancaman menurut IUCN, menurut Permen LHK No. 106 tahun 2018 dari 13 spesies burung yang ditemukan di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana terdapat 3 spesies burung yang termasuk spesies yang dilindungi yaitu Raja udang meninting (Alcedo meninting), Cekakak sungai (Todirhamphus chloris), dan Madu sriganti (Cynnyris jugularis).
Penetapan kategori dilindungi terhadap tiga spesies burung dilakukan dengan mempertimbangan kondisi faktual populasi. Terjadinya ganguan terhadap habitat seperti penecemaran perairan sebagai tempat sepesies burung ini mencari makan menyebabkan burung-burung ini tergeser dari habitatnya aslinya sehingga lambat laun jumlah populasinya akan semakin menurun. Rumblat (2016) menyatakan bahwa famili Alcedinidae merupakan indikator habitat terutama perairan karena memiliki tingkat alergi yang tinggi terhadap kerusakan habitatnya. 4.3. Nilai Indeks Komunitas Burung
Nilai Indeks Komunitas Burung (IKB) disusun berdasarkan penghitungan total dari nilai karakter ekologis burung yang disebut guildI atau relung. Setiap tipe
guild memiliki nilai yang berbeda untuk masing-masing frekuensi komunitas
burung (Mardiastuti et al. 2014). Untuk penentuan skor setiap guild terlebih dahulu ditentukan jumlah karakter masing-masing guild dari 13 spesies burung yang
24 didapatkan selama penelitian (Lampiran. 1). Jumlah karakter ini menggambarkan banyaknya komunitas burung yang memilih cara memanfaatkan suatu sumberdaya dengan cara yang sama. (Rumblat, 2016). Setelah diketahui jumlah karakter pada setiap guild langkah berikutnya adalah dengan menentukan berapa persentase jumalah karakter dari total keseluruhan sampel burung yang didapat. Nilai persentase merupakan rentang proporsi tertentu pada setiap guild berupa skor yang memiliki nilai untuk dapat menggambarkan kualitas lingkungan secara umum. Proporsi setiap tipe guild ini dipadukan dengan skor untuk masing-masing guild. Sebanyak 25 guild dikelompokkan dalam masing masing kategori guild dan masing-masing guild tersebut memiliki skor untuk rentang proporsi tertentu untuk selanjutnya dilakuan penghitungan nilai Indeks Komunitas Burung (Lampiran. 2).
Kategori guild ini disesuaikan dengan respon guild dari komunitas burung yang ada di Indonesia khususnya di daerah DKI Jakarta. Kategori tersebut antaralain: guild pakan (feeding guild), asal spesies (origin), strategi reproduksi (reproductive strategy), peletakan sarang (nest placement), waktu beraktivitas, dan habitat utama.
Tabel 3 Nilai Indeks Komunitas Burung di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana
Kategori
Guild Tipe Guild
Jumlah Karakter
(%)
Karakter Nilai
Pakan Pemakan biji BIJ 2 15,4 4
Pemakan Buah BUA 3 23,1 3
Pemakan nektar NEK 1 7,7 4,5
Pemakan ikan IKA 1 7,7 4,5
Pemangsa DAG 1 7,7 4,5 Pemakan serangga dengan melubangi pohon SLU 0 0 1 Pemakan serangga sambil terbang/ melayang SLY 2 15,4 5 Pemakan serangga dengan cara menyambar mangsa SSA 0 0 1
25 Pemakan serangga di
lantai hutan/di dalam serasah SLT 0 0 1 Pemakan serangga di ranting pohon SRA 3 23,1 2 Asal spesies Penetap TET 13 100 1 Migran MIG 0 0 1
Reproduksi Parasit telur/anakan PAR 0 0 1 Bukan parasit
telur/anakan
NPA 13 100 1
Sarang Bersarang di semak SMK 2 15,4 3,5
Bersarang di cabang dan kanopi pohon
CAB 6 46,2 2 Bersarang di permukaan tanah TAN 0 0 1 Bersarang di lubang pohon LUB 0 0 1 Bersarang di lubang tebing/tanah TEB 3 23,1 5
Bersarang di bangunan GED 2 15,4 5
Waktu aktif Nokturnal MAL 0 0 1
Diurnal SIA 13 100 1
Habitat Areal perairan AIR 0 0 1
Areal terbangun KOT 3 23,1 5
Areal terestrial DAR 10 76,9 2,5
Jumlah Nilai
62,5
IKB 50
Berdasarkan kode dan proporsi guild yang telah di tetapkan oleh Mardiastuti
at al, (2016) seperti yang tertera pada tabel di atas, Hutan Kota Pesanggrahan
Sangga Buana memiliki jumlah nilai guild sebesar (62,5). Nilai ini adalah hasil dari penjumlahan skor setiap masing-masing karakter guild. Total nilai dari setiap
26 karakter guild ini kemudian dikalikan dengan faktor koreksi (0,8) untuk mendapatkan nilai Indeks Komunitas Burung (IKB). Nilai IKB yang didapatkan adalah sebesar (50). Dengan mengacu pada tabel kategori kualitas lingkungan berdasarkan nilai IKB maka kualitas Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana masih tergolong rendah.
Dari kategori guild pakan didapatkan 8 spesies burung bertipe generalis dan 5 spesie burung bertipe spesialis. Spesies burung bertipe generalis terdiri dari 2 spesies burung pemakan biji, 3 spesies burung pemakan buah, dan 3 spesies burung pemakan serangga pada ranting pohon. Spesies burung bertipe spesialis terdiri dari 1 spesies burung pemakan nektar, 1 spesies burung pemangsa, 1 spesies burung pemakan ikan dan 2 spesies burung pemakan serangga melayang.
Ditemukannya beberapa spesies burung pemakan serangga diduga karena rumpun bambu yang terdapat di kawasan Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana dapat menyediakan sumber makanan bagi burung yaitu berupa serangga-serangga yang menjadi hama pada bambu. Pada saat pengamatan juga ditemukan burung yang termasuk pemakan biji (gramnivore). Keberadaan burung pemakan biji ini dimungkinkan berkaitan dengan temuan beberapa bambu yang sedang pada fase generatis. Spesies burung pemakan biji menggunakan biji bambu sebagai sumber pakannya. Menurut Mariani (2017) penjumpaan beberapa spesies burung pemakan biji pada vegetasi bambu disebabkan bambu sedang dalam masa generative jadi bambu sedang dalam fase memproduksi biji. Selain itu, sungai Pesanggrahan juga menjadi habitat yang cocok untuk beberapa spesies burung pemakan ikan sebagai tempat mencari sumber makanannya.
Dari kategori guild asal, guild waktu aktif burung dan guild reproduksi didapatkan data keseluruhan spesies burung yang ditemukan bertipe penetap, mayoritas aktif di siang hari dan melakukan reproduksi dengan tipe non-parasit telur yaitu reproduksi burung secara umum dimulai dari bertelur, menetas dan merawat anaknya sendiri (Rumblat, 2016).
Dari kategori guild sarang ditemukan 6 spesies burung bertipe generalis yang mebuat sarang pada cabang pohon dan 7 spesies burung bertipe spesialis. Terdiri dari 2 spesies burung yang mebuat sarang pada semak, 3 spesies burung di gedung atau atab bangunan dan 2 spesies burung pada tepi tebing atau lubang tanah.
27 Banyaknya spesies burung yang ditemukan bertipe pembuat sarang pada cabang pohon berkaitan dengan kondisi vegetasi yang ada di kawasan HKPSB. Rumpun bambu seperti spesies bambu duri sering digunakan oleh beberapa spesies burung sebagai tempat bersarang. Hal ini disebabkan rumpun bambu duri yang karakteristiknya cukup rapat dan memiliki duri yang mengelilinginya sehingga aman dari ganguan predator (Mariani, 2017).
Dari kategori guild habitat ditemukan 10 spesies burung bertipe generalis yang berhabitat pada areal hutan terestrial dan 3 spesies burung bertipe spesialis yang memiliki habitat pada areal terbangun. Ketiga tipe spesies burung ini merupakan kelompok burung yang mampu beradaptasi dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan perkotaan. Kelompok ini mampu memanipulasi lingkungan perkotaan seperti bangunan manusia sebagai habitatnya. Bahkan, burung perkotaan ini juga dapat beradaptasi dengan memodifikasi jenis pakan menjadi lebih generalis seperti burung-gereja erasia yang ditemukan memakan pakan dari sisa makanan manusia (Rumblat, 2016)
4.4. Kondisi Lingkungan Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana berdasarkan Indeks Komunitas Burung
Berdasarkan hasil penghitungan nilai IKB terhadapap Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana, kondisi lingkungan di lokasi tersebut tergolong rendah (nilai 50). Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena HKPSB memiliki tutupan vegetasi yang seragam. Sedikitnya jumlah temuan spesies burung bertipe spesialis seperti pada guild pakan, habitat dan sarang mengindikasikan hubungan langsung anatara burung dan kondisi habitatnya. Hampir keseluruhan perilaku burung yang teramati pada rumpun bambu yaitu beristirahat (resting) hanya beberapa yang sedang makan (eating). Tidak ditemukannya perilaku burung lain seperti bergerak (moving) membuat sarang (nesting), komunikasi (communicating), dan kawin (mating). Penelitian yang dilakukan oleh Mariani, (2017) mengenai asosiasi burung terhadap vegetasi bambu, menjelaskan bahwa perilaku dominan yang dilakukan oleh burung yang berasosiasi yaitu mencari makan (eating) dan beristirahat (resting). Karena adanya ketergantungan burung terhadap bambu yang menyediakan sumber pakan baginya. Apabila sumber pakannya sudah tak tercukupi lagi, burung akan cenderung melakukan migrasi ke
28 lokasi yang memungkinkannya untuk bertahan hidup dengan sedikit persaingan.
Selain itu, menurut (Hagenbuch et.al, 2011), burung akan tetap bertahan lama pada suatu ekositem dikarenakan ekosistem tersebut menyediakan lokasi bertenggengr yang potensial. Lokasi beretengger potensial biasanya berupa tutupan vegetasi yang berdaun rapat, batang lebar, distribusi tegakan yang merata, dan kebutuhan sumber daya akan makanan yang terpenuhi sehinggga aman dijadikan tempat perlindungan. Bambusa blumeana memang memiliki bagian perlindungan berupa duri, namun tidak merata sehingga cukup poten sial untuk menjadi tempat beristirahat bagi beberapa spesies burung akan tetapi tidak potensial sebagai lokasi pemilihan sarang. Bambu spesien Bambusa blumeana tidak memiliki daun yang rapat dan batang yang lebar sehingga burung tidak memilih bambu sebagai tempat bersarang dan hanya sebagai tempat singgah atau beristirahat (resting).
Nilai IKB di lokasi penelitian tidak berkorelasi secara langsung terhadap banyaknya jumlah individu pada setiap spesies burung yang ditemukan. Intari (2011) menjelaskan bahwa prinsip IKB tidak selalu tergantung terhadap banyaknya jumlah individu pada setiap spesies burung yang ditemukan, namun pada seberapa banyak komunitas burung yang bersifat generalis maupun spesialis yang mampu memanfaatkan sumberdaya di suatu lokasi.
Berdasarkan pengelompokkan guild burung yang dibuat dapat diketahui seandainya suatu wilayah didominasi oleh komunitas burung yang bersifat spesialis maka suatu wilayah tersebut merupakan perwujudan kualitas lingkungan yang lebih baik. Hal ini dikarenakan spesies spesialis membutuhkan kondisi sarang dan pakan yang spesifik. Mengingat kominitas burung dengan karakter spesialis rentan terhadap gangguan manusia, maka keberadaan mereka pada suatu lokasi mencerminkan kualitas lingkungan yang baik. Berdasarkan nilai Indeks Komunitas Burung di bagian barat Meksiko Nguyen (2007) menemukan bahwa sebagian besar wilayah dengan kategori baik atau belum mengalami gangguan dipastikan memiliki komunitas burung yang didominasi spesies yang rentan terhadap gangguan suksesi suatu habitat (Nguyen 2007). Dengan demikian, untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan daya dukung habitat di Hutan Kota Pesanggraha Sangga Buana perlu dilakukan penambhan variasi habitat berupa penanaman spesies tanaman baru dan penyediaan berbagai tipe habitat yang lebih beragam
29 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
1) Spesies burung yang berhasil didapatkan di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana sebanyak 13 spesies burung dari 10 famili. Terdapat tiga spesies burung yang status konservasinya dilindungi yaitu Raja udang meninting (Alcedo
meninting), Cekakak sungai (Todirhamphus chloris), dan Madu sriganti
(Cynnyris jugularis).
2) Nilai Indeks Komunitas Burung dari Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana adalah (50). Berdasarkan nilai tersebut maka kualitas Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana tergolong masih rendah.
5.2 Saran
1) Dalam upaya peningkatan pengelolaan HKPSB perlu adanya penambahan variasi tanaman baru untuk semakin memperkaya habitat di lokasi tersebut. Karena dengan semakin beragamnya habitat yang dapat dimanfaatkan burung maka nilai keragaman burung di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana juga akan tinggi.
30 DAFTAR PUSTAKA
Andayananingsih, D. (2013). Keanekaragaman tumbuhan paku terestrial di Hutan
Kota DKI Jakarta (Tesis). Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Bonier, F., Martin, P. R., Sheldon, K. S., Jensen, J. P., Foltz, S. L. & Wingfield, J. C. (2007). Sex-specific consequences of life in the city. Behav. Ecol. 18, 121–129.
Canterbury GE, Martin TE, Petit LJ, Bradford DF. (2000). Bird communities and habitat as ecological indicator of forest condition in regional monitoring.
Conservation Biology 14 (2): 544-558.
Clark JR, Matheny NP, Cross G, Wake V. (1997). A model of urban forest sustainability. Journal of Arboriculture. 23(1): 17-30.
Cody LM. 1981. Habitat Selection in Birds: The Roles of Vegetation Structure, Competitors and Productivity. Bioscience . 31 (2): 107-113.
Dachlan, E.N. (2013). Kota hijau hutan kota. Bogor. ISBN: 979-8381-00-9. Diaz, Sandra & Tilman, D. & Fargione, Joe. (2005). Biodiversity regulation of
ecosystem services. Ecosystems and Human Well-being: Current State and
Trends. 297-329.
Dimyati, A. (2011). Kualitas hutan kota berdasarkan faktor lingkungan dan Indeks
Komunitas Burung pada tiga hutan di Jakarta Timur (skripsi). Intitut
Pertanian Bogor.
Gunawan w, Basuni S, Indrawan A, Praseto L. (2011). Analisis Komposisi dan Struktur Vegetasi Terhadap Upaya Restorasi Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. JPSL. 2(1): 93-105
Hooper DU, Chapin FS, III, Ewel JJ, Hector A, Inchausti P, Lavorel S, Lawton JH, Lodge DM, Loreau M, Naeem S, Schmid B, SetaLa H, Symstad AJ, Vandermeer J, dan Wardle DA. 2005. Effects of Biodiversity on Ecosystem Functioning: a Consensus of Current Knowledge. Ecological Monographs. 75 (1):3–35.
Intari NMRS. (2011). Pengembangan Indeks Komunitas Burung dan analisis
tutupan lahan di kawasan pulau Nusa Penida kabupaten klungkung bali.
(tesis). Universitas Indonesia. Depok.
Irwanto. (2010). Analisis vegetasi Parameter Kuantitatif. UI Press. Jakarta.
Karr JR.1980. Geographical variation in the avifaunas of tropical fores undergrowth. Auk 97: 283-298.
Londo, P. (2013). Aneka ragam masalah lingkungan membelit Jakarta. LS2LP. Jakarta.