ix
DAFTAR ISI
HALAMAN DEPAN ... i
LEMBARAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI ... iv
KATA PENGANTAR ... v
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... viii
DAFTAR ISI ... ix
ABSTRAK ... xiii
ABSTRACS ... xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Ruang Lingkup masalah ... 7
1.4 Orisinalitas Penelitian ... 8 1.5 Tujuan Penelitian ... 9 a. Tujuan umum ... 9 b. Tujuan khusus ... 9 1.6 Manfaat Penelitian ... 9 a. Manfaat teoritis ... 10 b. Manfaat praktis ... 10 1.7. Landasan Teoritis ... 10
x
1.8. Metode Penelitian ... 20
1.8.1 Jenis penelitian ... 20
1.8.2 Jenis pendekatan ... 21
1.8.3 Sifat penelitian ... 21
1.8.4 Data dan sumber data ... 22
1.8.5 Teknik pengumpulan data ... 23
1.8.6 Teknis pengolahan dan analisis data ... 24
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PEKERJA, PEKERJA KONTRAK, DAN HAK CUTI
2.1 Tinjauan Umum Tentang Pekerja dan Pekerja Kontrak Error! Bookmark not defined. 2.1.1 Pengertian pekerja ... Error! Bookmark not defined.
2.1.2 Pengertian pekerja kontrak Error! Bookmark not defined.
2.1.3 Hak-hak dan kewajiban pekerja kontrak Error! Bookmark not defined. 2.2 Tinjauan Umum Tentang Hak Cuti Error! Bookmark not defined.
2.2.1 Pengertian hak cuti ... Error! Bookmark not defined.
2.2.2 Pengaturan mengenai hak cuti Error! Bookmark not defined.
BAB III PELAKSANAAN PEMBERIAN HAK CUTI YANG
DIBERIKAN KEPADA PEKERJA KONTRAK PADA NIRMALA SUPERMARKET DENPASAR
xi
3.2 Jenis Hak Cuti Yang Terdapat Pada Nirmala Supermarket Denpasar ... Error! Bookmark not defined. 3.3 Dasar Pertimbangan Pemberian Hak Cuti Kepada
Pekerja Kontrak Pada Nirmala Supermarket Error! Bookmark not defined. 3.4 Pelaksanaan Pemberian Hak Cuti Kepada Pekerja
Kontrak Pada Nirmala Supermarket Denpasar Error! Bookmark not defined.
BAB IV FAKTOR PENGHAMBAT DALAM PELAKSANAAN
PEMBERIAN HAK CUTI KEPADA PEKERJA
KONTRAK PADA NIRMALA SUPERMARKET
DENPASAR
4.1 Faktor Penghambat Pemberian Hak Cuti Kepada Pekerja
Kontrak Pada Nirmala Supermarket Denpasar Error! Bookmark not defined. 4.2 Upaya-Upaya Menangani Hambatan-Hambatan Yang
Terjadi Dalam Pemberian Hak Cuti Pada Nirmala Supermarket Denpasar ... Error! Bookmark not defined. 4.2.1 Upaya menangani hambatan pemberian hak cuti
dari pihak pekerja kontrak Nirmala Supermarket Denpasar ... Error! Bookmark not defined. 4.2.2 Upaya menangani hambatan pemberian hak cuti
dari pihak personalia Nirmala Supermarket Denpasar ... Error! Bookmark not defined.
xii
4.2.3 Upaya menangani hambatan pemberian hak cuti
dari pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Denpasar Error! Bookmark not defined.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ... Error! Bookmark not defined. 5.2 Saran ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RESPONDEN LAMPIRAN-LAMPIRAN RINGKASAN SKRIPSI
xiii ABSTRAK
Untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya, setiap orang harus bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara bekerja. Bekerjanya seseorang dengan orang lain menyebabkan terjadinya hubungan hukum yang kemudian menimbulkan hak dan kewajiban bagi para pekerja dan pemberi kerja yang dikenal sebagai hubungan kerja. Hubungan kerja pada dasarnya terjadi setelah diadakan perjanjian kerja. Perjanjian kerja memuat hak-hak dan kewajiban pekerja, salah satunya hak cuti. Hak cuti diatur dalam pasal 79 sampai dengan Pasal 84 Undang-Undang Ketenagakerjaan. Permasalaah yang hendak dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan pemberian hak cuti terhadap pekerja kontrak pada Nirmala Supermarket Denpasar dan menganalisis apa saja faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pemberian hak cuti tersebut.
Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah Yuridis-Empiris. Penelitian ini beranjak dari kesenjangan antara peraturan yang mengatur dan penerapannya yang ada di lapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa, pelaksanaan hak cuti terhadap pekerja kontrak pada Nirmala Supermarket Denpasar belum berjalan dengan semestinya karena peraturan perusahaan tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kurangnya pengetahuan pekerja akan haknya, serta padatnya pekerjaan yang ada di Nirmala Supermarket Denpasar membuat pekerja sulit mendapatkan haknya.
Adapun saran dari penulis agar Nirmala Supermarket Denpasar mengatur dengan baik jadwal istirahat pekerja dan lebih memperhatikan kesejahteraan pekerjanya. Serta pemerintah rutin melakukan pengawasan dan pembinaan kepada seluruh perusahaan.
xiv ABSTRACS
To be able to maintain and develop his life, Everyone should be able to meet the needs of his life by working. The working of a person with another person results in a legal relationship which then creates rights and obligations to workers and employers known as working relationships. Work relations basically occurs after an employment agreement is established. The employment agreement contains labour' rights and obligations, one of them is the rights to regarding job rest and leave. The rights to leave is provided for in articles 79 to Article 84 of the Manpower Act. The issues that will be discussed in this research is how the implementation of giving the rights of leave to the contract labour at Nirmala Supermarket Denpasar and analyzing what are the factors that become obstacle in giving the leave rights.
Type of research used by the author is Juridical-Empirical research. This study goes from the gap between regulatory rules and its applicability in the field. The results showed that the implementation of leave entitlement to contract workers at Nirmala Supermarket Denpasar had not been running properly because the company's regulation was not in accordance with the prevailing laws and regulations, the lack of worker knowledge of his rights, and the density of work in Nirmala Supermarket Denpasar made the workers difficult Get his rights.
As for suggestions from the author for Nirmala Supermarket Denpasar to regulate well the work break schedule and pay more attention to the welfare of its workers. And the government routinely conduct supervision and guidance to the entire company.
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Memasuki era globalisasi ini, semakin pesat perkembangan pada suatu negara membuat semakin meningkatnya taraf kebutuhan hidup manusia. Untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya, manusia harus bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang beraneka ragam dengan cara bekerja. Setiap orang dituntut untuk bekerja keras, baik bekerja dengan modal sendiri maupun bekerja pada orang lain. Bekerjanya seseorang dengan orang lain menyebabkan terjadinya hubungan hukum yang kemudian menimbulkan hak dan kewajiban bagi para pekerja dan pemberi kerja yang dikenal sebagai hubungan kerja.
Dalam suatu hubungan kerja, pekerja kontrak maupun pekerja tetap merupakan faktor yang penting bagi terselenggaranya pembangunan nasional dan kemajuan kesejahteraan di Negara Republik Indonesia. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur, yang merata, baik materiil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.1
Peningkatan mutu ketenagakerjaan sesuai dengan peranan dan kedudukan pekerja sangatlah penting terutama dalam hal pemanfaatkan sumber daya manusia
1
Asri Wijayanti, 2010, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 6.
2
yang mampu bersaing, selain itu diperlukan pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas pekerja dan peran sertanya dalam pembangunan juga peningkatan perlindungan pekerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Untuk itu sangatlah diperlukan perhatian khusus kepada pekerja kontrak yang dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja kontrak serta perlakuan tanpa diskriminasi atas dasar apa pun untuk mewujudkan kesejahteraan para pekerja dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan dunia kerja.
Hubungan kerja pada dasarnya terjadi setelah diadakan perjanjian oleh pekerja dan pengusaha. Perjanjian antara pekerja dan pengusaha disebut perjanjian kerja. Perjanjian kerja merupakan dasar terbentuknya hubungan kerja. Perjanjian kerja juga di atur dalam Pasal 1 angka 14 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, selanjutnya disebut Undang-Undang Ketenagakerjaan. Adanya pelaksanaan dan penerapan perjanjian kerja merupakan suatu bentuk hubungan hukum lahir atau tercipta bagi para pekerja.
Syarat hukum dalam perjanjian kerja pada hakikatnya adalah subjek hukum dalam hubungan kerja. Yang menjadi objek dalam perjanjian kerja adalah tenaga yang melekat pada diri pekerja. Atas dasar tenaga yang telah dikeluarkan oleh pekerja maka ia akan mendapatkan upah.
Syarat-syarat perjanjian kerja pada dasarnya dibedakan menjadi dua, yaitu: syarat materiil dan syarat formil. Dalam Pasal 52 Undang-Undang Ketenagakerjaan terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam perjanjian kerja. Pasal 52 Undang-Undang Ketenagakerjaan mengatur:
3
(1) Perjanjian kerja dibuat atas dasar: a. kesepakatan dua belah pihak;
b. kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum c. adanya pekerjaan yang diperjanjikan; dan
d. pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Perjanjian kerja yang dibuat oleh para pihak yang bertentangan dengan ketentuan senagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b dapat dibatalkan.
(3) Perjanjian kerja yang dibuat oleh para pihak yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c dan d batal demi hukum.
Ketentuan Pasal 52 Undang-Undang Ketenagakerjaan ini mengadopsi ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, selanjutnya disingkat dengan KUH Perdata. Suatu peraturan perusahaan tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku, dan mulai berlaku setelah disahkan oleh pejabat yang ditunjuk. Pengusaha wajib memberitahu dan menjelaskan tentang peraturan perusahaan kepada pekerjanya. Perlindungan pekerja dari kekuasaan pengusaha terlaksana apabila peraturan dalam bidang ketenagakerjaan yang mengharuskan atau memaksa pengusaha bertindak seperti dalam peraturan perundang-undangan tersebut benar-benar dilaksanakan oleh semua pihak.
Hak atas pekerjaan dan perlindungan dalam bekerja di atur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disingkat dengan UUD NKRI 1945) Pasal 27 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan, ayat (2) menyebutkan tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Kemudian hal ini diatur juga pada Pasal 28D ayat (1) yaitu setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian
4
hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum dan Pasal 28D ayat (2) merumuskan setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapatkan imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.
Pekerja kontrak juga harus mendapatkan perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun. Seperti halnya yang di atur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha. Salah satu hak dari pekerja kontrak selain pemberian upah adalah pemberian waktu istirahat dan cuti yang bertujuan untuk mengambalikan kesegaran dan kesehatan fisik, mental, dan sosial pekeja. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang mengatur mengenai waktu istirahat dan hak cuti tersebut.
Pulau Bali sebagai destinasi pariwisata yang telah mengglobal tentunya sudah sangat akrab dengan industri pariwisata dan ritel. Melihat peluang yang sangat menjanjikan di Bali, tentunya pengusaha memerlukan banyak pekerja demi menjalankan dan memajukan perusahaannya. Salah satu produk industri di Bali adalah Supermarket. Supermarket adalah sebuah toko pelayanan mandiri yang menawarkan berbagai macam makanan dan barang dagang. Keperluan rumah tangga sehari-hari dalam bentuk apapun tersedia di Supermarket. Supermarket lebih besar dan luas dibandingkan dengan toko bahan makanan tradisional atau minimarket. Selain itu, harga yang murah, ketersediaan produk dan pemilihan produk unggulan sebagai daya tarik lainnya.
5
Salah satu supermarket yang menggunakan pekerja kontrak adalah Nirmala Supermarket Denpasar. Supermarket ini memberikan pelayanan yang terbaik serta fasilitas yang memuaskan bagi para pengunjung setia yang berelanja di seupermarket ini. Nirmala Supermarket Denpasar terletak di Jalan Mahendradatta Nomor 81, Teuku Umar Barat, Denpasar. Nirmala Supermarket Denpasar memiliki 15 cabang dan memiliki direktur, general manager, manager HR.GA, kepala toko, pramuniaga, kasir dan departemen lainnya yang menunjang jalannya jasa pelayanan di supermarket tersebut. Diantara seluruh pekerja di Nirmala Supermarket beberapa dari mereka statusnya adalah pekerja kontrak.
Pekerja/buruh sebagaimana manusia pada umumnya, disamping sebagai pekerja/buruh pada perusahaan, tetapi di dalam masyarakat dan keluarga memiliki fungsi dan kewajiban sosial. Pada hakikatnya pemberian waktu istirahat dan cuti kepada pekerja atau buruh bertujuan untuk mengembalikan kesegaran dan kesehatan baik fisik, mental, dan sosial pekerja atau buruh. Pada masa istirahat dan cuti, mereka mempunyai kesempatan untuk melakukan kewajiban dan fungsi sosialnya. Bertitik tolak dari tujuan tesebut, pada prinsipnya pemberian waktu istirahat dan cuti tidak dapat dikompensasikan dalam bentuk uang.
Berikut beberapa praturan perundang-undangan yang mengatur mengenai waktu istirahat dan cuti, yaitu:
1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yaitu Pasal 79 sampai dengan Pasal 84 dan Cuti Tahunan yang berkaitan dengan Pemutusan Hubungan Kerja, yaitu Pasal 156 ayat (4).
6
2. Kepmenakertrans Nomor KEP-51/Men/IV/2004 tentang Istirahat Panjang pada Perusahaan Tertentu.
3. Kepmenkertrans Nomor KEP-234/Men/2003 tentang Waktu Kerja dan Istirahat pada Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya Mineral pada Daerah Tertentu.
Dengan demikian pekerja atau buruh berhak mendapatkan waktu istirahat dan cuti dalam bidang usaha apapun dimana mereka bekerja. Karena hal ini sudah berlandaskan hukum dan diatur dalam peraturan perundang-undangan diatas. Namun dalam prakteknya, masih banyak terjadi kasus dimana perusahaan tidak mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Padatnya pekerjaan dan ramainya pengunjung yang ada di supermarket tersebut membuat para pekerja memiliki jabatan rangkap dikarenakan kurangnya pekerja pada departemen tertentu dan mengakibatkan pekerja susah untuk mendapatkan hak kesejahteraan mereka, salah satunya hak untuk pelaksanaan waktu istirahat atau cuti. Sehingga cuti yang mereka miliki susah diambil walaupun sudah diajukan dan akhirnya menumpuk.
Padahal untuk menjaga kualitas dan kuantitas hasil kerja para pekerjanya, perusahaan wajib memberikan waktu istirahat baik itu waktu istirahat harian maupun tahunan untuk para pekerjanya. Waktu cuti yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin agar pekerja menjadi lebih baik kesehatannya, baik secara fisik, mental maupun sosial dan ini amat berpengaruh terhadap produktifitas dan terjalinnya hubungan harmonis dengan sesama pekerja/buruh dan manajemen perusahaan. Terjadinya hubungan yang jelas antara
7
pengusaha dengan pekerja maka tidak akan ada pihak yang merasa dirugikan dalam hubungan kerja, baik para pekerja dan pengusaha sama-sama dapat mensejahterakan kehidupannya.
Penting untuk melakukan penelitian hukum ketenagakerjaan dengan kondisi yang ada dalam praktik lapangan. Dengan itu dapat dilihat apakah kepastian hukum dalam penerapannya di Indonesia sudah menjamin hak–hak setiap warga negaranya. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan kajian secara ilmiah dengan judul “Implementasi Pemberian Hak Cuti Terhadap Pekerja Kontrak Pada Nirmala Supermarket Denpasar.”
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pelaksanaan pemberian hak cuti terhadap pekerja kontrak di Nirmala Supermarket Denpasar?
2. Faktor apa saja yang menjadi kendala dalam pemberian hak cuti terhadap pekerja kontrak di Nirmala Supermarket Denpasar?
1.3. Ruang Lingkup Masalah
Untuk memperoleh pembahasan yang tidak jauh menyimpang dari pokok permasalahan dan terarah maka perlu diberikan ruang lingkup pemasalahan yang akan dibahas. Terhadap permasalahan pertama, yang akan dibahas adalah
8
mengenai pelaksanaan pemberian hak terhadap pekerja kontrak yang mengacu pada hak cuti tahunan, hak cuti sakit, hak cuti besar, hak cuti karena alasan penting, hak cuti bersama dan cuti yang berkaitan dengan reproduksi. Kedua, faktor apa saja yang menjadi kendala dalam pemberian hak cuti tergadap pekerja kontrak di Nirmala Supermarket Denpasar.
1.4. Orisinalitas
Penelitian ini membahas tentang pelaksanaan pemberian hak cuti terhadap pekerja kontrak pada Nirmala Supermarket Denpasar. Selain itu, penelitian ini juga meneliti faktor yang menjadi hambatan atau kendala yang ditemui dalam pemberian hak cuti terhdap pekerja kontrak tersebut. Sejauh ini belum ditemukan penelitian yang membahas tentang hak cuti dan faktor yang menjadi penghambat dalam pemberian hak cuti terhadap pekerja kontrak. Dalam rangka menghindari plagiat dalam penulisan ini, maka penulis mencantumkan beberapa karya ilmiah terdahulu yang pembahasannya berkaitan sebagai refrensi, yaitu:
No Judul Skripsi Penulis Permasalahan
1 Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Kontrak Yang Di PHK Dalam Masa Kontrak Nur Ramadani, Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” 1. Bagaimana hak-hak pekerja kontrak yang di PHK dalam masa kontrak?
2. Bagaimana upaya hukum bagi pekerja
9
1.5. Tujuan Penelitian
Setiap pembahasan pasti memiliki tujuan tertentu, baik tujuan umum maupun tujuan khusus dalam pembuatannya. Adapun tujuan tersebut adalah: a. Tujuan umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan pemberian hak cuti dan faktor yang menjadi kendala pemberian hak cuti terhadap pekerja kontrak di Nirmala Supermarket Denpasar.
b. Tujuan khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini antara lain:
1. Untuk memahami pemberian hak cuti terhadap pekerja kontrak di Nirmala Supermarket Denpasar.
2. Untuk memahami faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pemberian hak cuti terhadap pekerja kontrak di Nirmala Supermarket Denpasar.
1.6. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penulisan ini adalah: a. Manfaat teoritis
kontrak yang di PHK dalam masa kontrak?
10
1. Dapat digunakan sebagai sumbangan karya ilmiah dari penulis dalam perkembangan Hukum Ketenagakerjaan khususnya dan bermanfaat bagi penulis lain dalam penulisan dalam penulisan pada masa yang akan datang. 2. Penelitian ini dapat memberikan sumbangan pengetahuan bagi masyarakat
tentang pemberian hak cuti terhadap pekerja kontrak. b. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pedoman yang bermanfaat bagi pihak pemerintah maupun perusahaan pengelola supermarket dan para pekerja dalam pelaksanaan pemberian hak cuti terhadap pekerja.
1.7. Landasan Teoritis
Landasan teoritis dapat diidentifikasi melalui teori-teori hukum, konsep hukum, asas-asas hukum,serta norma hukum yang digunakan. Landasan teori dalam suatu penelitian adalah bersifat strategis artinya memberikan realisasi pelaksanaan penelitian.2 Dalam penulisan ini, perlu diketahui terlebih dulu mengenai hukum ketenagakerjaan.
Arah hukum perburuhan pada masa sebelum kemerdekaan banyak diwarnai oleh politik hukum pemerintah Hindia-Belanda, yang pada kenyataannya merupakan pemerintah kolonial. Pada masa itu hanya dikenal istilah perbudakan yang merupakan suatu keadaan dimana seseorang yang disebut budak melakukan pekerjaan di bawah perintah pihak yang lain yaitu pemilik budak. Seorang budak
2Kaelan M.S, 2005, Metode Penelitian Kualitatif bidang Filsafat (Paradigma bagi Pengembangan Penelitian Interdispliner Bidang Filsafat, Budaya, Sosial, Semiotika, Sastra, Hukum dan Seni), Paradigma, Yogyakarta, hlm. 239.
11
tidak memiliki hak apapun dalam hubungan kerja bahkan juga tidak memiliki hak atas kehidupannya. Kewajiban budak yaitu melaksanakan semua perintah kerja yang diberikan pemilik budak. Para pemilik budak yaitu satu-satunya pihak yang memiliki hak untuk mengatur dan memberi kerja serta hak lainnya atas budak yang dimilikinya.
Terdapat beberapa batasan mengenai hukum perburuhan. Imam Soepomo memberikan batasan pengertian hukum perburuhan adalah suatu himpunan peraturan, baik tertulis maupun tidak tertulis yang berkenaan dengan kejadian dimana seorang bekerja pada orang lain dengan menerima upah.3 Setelah proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, dibentuklah dasar yang bertujuan melindungi warga negara Indonesia yang tentunya sekaligus menjamin hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak terhadap seorang pekerja, yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal ini dapat kita lihat dalam pasal 27 ayat (2) UUD NKRI Tahun 1945 yang berbunyi, “tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.”
Dalam bekerjanya seseorang kepada orang lain harus memperhatikan perlindungan kerja yang ada. Perlindungan kerja dapat dilakukan dengan cara memberikan santunan maupun memberikan pengakuan hak-hak asasi manusia, perlindungan fisik, sosial dan ekonomi melalui norma yang berlaku dalam perusahaan.4 Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak juga diatur dalam
3Imam Soepomo, 1970, Pengantar Hukum Perburuhan, Djambatan, Jakarta, hlm. 3. 4Zaeni Asyhadie, 2013, Hukum Kerja, Hukum Ketenagakerjaan Bidang Hubungan Kerja,
12
Pasal 38 ayat (2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.
Perlindungan hukum merupakan terjemahan dari bahasa Belanda yakni “rechtbescherming”. Kata perlindungan hukum diartikan suatu usaha untuk memberikan hak-hak pihak yang dilindungi sesuai dengan kewajiban yang telah dilakukan. Menurut Fitzgerald sebagaimana dikutip Satjipto Raharjo awal mula dari munculnya teori perlindungan hukum ini bersumber dari teori hukum alam atau aliran hukum alam. Aliran ini dipelopori oleh Plato, Aristoteles, dan Zeno. Menurut aliran hukum alam menyebutkan bahwa hukum itu bersumber dari Tuhan yang bersifat universal dan abadi, serta antara hukum dan moral tidak boleh dipisahkan. Para penganut aliran ini memandang bahwa hukum dan moral adalah cerminan dan aturan secara internal dan eksternal dari kehidupan manusia yang diwujudkan melalui hukum dan moral.5
Fitzgerald menjelaskan teori pelindungan hukum Salmond bahwa hukum bertujuan mengintegrasikan dan mengkoordinasikan berbagai kepentingan dalam masyarakat karena dalam suatu lalu lintas kepentingan, perlindungan terhadap kepentingan tertentu hanya dapat dilakukan dengan cara membatasi berbagai kepentingan di lain pihak. Kepentingan hukum adalah mengurusi hak dan kepentingan manusia, sehingga hukum memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan kepentingan manusia yang perlu diatur dan dilindungi. Perlindungan hukum harus melihat tahapan yakni perlindungan hukum lahir dari suatu ketentuan hukum dan segala peraturan hukum yang diberikan oleh masyarakat,
5
13
yang pada dasarnya merupakan kesepakatan masyarakat tersebut untuk mengaturhubungan prilaku antara anggota-anggota masyarakat dan antara perseorangan dengan pemerintah yang dianggap mewakili kepentingan masyarakat.6
Perlindungan hukum pekerja dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam. Perlindungan secara ekonomis, yaitu perlindungan pekerja dalam bentuk penghasilan yang cukup, termasuk bila tenaga kerja tidak bekerja diluar kehendaknya. Perlindungan sosial, yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk jaminan kesehatan kerja, kebebasan berserikat dan perlindungan hak untuk berorganisasi. Perlindungan teknis, yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk keamanan dan keselamatan.
Selain perlindungan pekerja di atas, terdapat perlindungan lain terhadap pekerja, yaitu:
a. Bidang keselamatan kerja, meliputi keselamatan kerja yang bertalian dengan mesin, alat-alat kerja bahan dan proses pengerjaan, keadaan tempat kerja dan lingkungan serta cara melakukan pekerjaan.
b. Bidang kesehatan kerja dan higiene kesehatan perusahaan, yang meliputi pemeliharaan dan peningkatan keselamatan pekerja, penyediaan perawatan medis bagi pekerja dan penetapan standar kesehatan kerja.
6
14
c. Bidang jaminan sosial pekerja, berupa perlindungan hak pekerja secara umum baik sistem pengupahan, cuti, kesusilaan dan religius dalam rangka memelihara kinerja pekerja.
d. Bidang kecelakaan kerja, berupa pemberian ganti rugi perawatan atau rehabilitasi akibat kecelakaan kerja dan/atau menderita penyakit akibat pekerjaan, dalam hal ini ahli waris berhak untuk menerima ganti rugi. Perlindungan hukum diartikan sebagai suatu bentuk tindakan atau perbuatan hukum pemerintah yang diberikan kepada subjek hukum sesuai dengan hak dan kewajibannya yang dilaksanakan berdasarkan hukum positif di Indonesia. Perlindungan hukum timbul karena adanya suatu hubungan hukum. Hubungan hukum adalah interaksi antara subjek hukum yang memiliki relevansi hukum atau mempunyai akibat hukum (timbulnya hak dan kewajiban).7
Hubungan hukum yang terjadi akibat interaksi antar subyek hukum tersebut secara langsung maupun tidak langsung menimbulkan adanya relevansi serta adanya akibat-akibat hukum. Sehingga nantinya agar suatu hubungan hukum tersebut dapat berjalan dengan seimbang serta adil dalam arti setiap subyek hukum mendapatkan apa yang menjadi haknya serta dapat menjalankan kewajiban yang dibebankan kepadanya, maka hukum tampil sebagai aturan main yang mengatur, melindungi serta menjaga hubungan tersebut.8
Perlindungan hukum terhadap pekerja di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan, yang mana diantaranya adalah:
7
Soeroso, 2006, Pengahantar Ilmu Hukum, Cetakan Kedelapan, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 49.
8Lalu Husni, 2010, Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, PT Raja Grafindo Persada,
15
1. Penyandang cacat
Dalam masalah perlindungan terhadap pekerja, yang perlu diperhatikan secara tersendiri adalah penyandang cacat. Dalam Pasal 67 Undang-Undang Ketenagakerjaan mengatur mengenai penyandang cacat yang intinya bahwa pengusaha dapat memberikan pekerjaan penyandang cacat dengan memperhatikan atau mematuhi aturan sebagai berikut:
1. Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib memberikan perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya.
2. Pemberian perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Pekerja Anak
Bagi pekerja anak diatur dalam Pasal 68, 69 dan 72 Undang-Undang Ketenagakerjaan yang mengatur bahwa:
1. Pengusaha dilarang mempekerjakan anak, hai ini diatur dalam Pasal 68 Undang-Undang Ketenagakerjaan;
2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 dapat dikecualikan bagi anak yang berumur antara 13 tahun s.d. 15 tahun untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental dan sosial, hal tersebut diatur dalam Pasal 69 ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan;
3. Dalam hal anak dipekerjakan bersama-sama dengan pekerja dewasa, maka tempat kerja anak harus dipisahkan dari tempat kerja pekerja/buruh dewasa, hal tersebut diatur dalam Pasal 72 Undang-Undang Ketenagakerjaan.
16
3. Pekerja Perempuan
Mengenai pekerja perempuan diatur dalam Pasal 76 Undang-Undang Ketenagakerjaan, yaitu:
1. Pekerja perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 s.d. 07.00;
2. Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja perempuan hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 s.d 07.00;
3. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja perempuan antara pukul 23.00 s.d. 07.00 wajib:
a. memberikan makanan dan minuman bergizi;
b. menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja. 4. Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi
pekerja perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 s.d pukul 05.00;
5. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) diatur dengan keputusan menteri.
4. Waktu Kerja
Didalam aturan tentang ketenagakerjaan maka waktu kerja merupakan masalah penting karena disini terletak memuat tentang efisiensi kerja maupun kemampuan tenaga kerja. Oleh karena itu, setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan kerja sebagaimana dirumuskan oleh Pasal 77 ayat (2) Undang-Undang Ketenagakerjaan yang memberikan rincian waktu kerja meliputi: a. 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; b. 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.
Apabila pengusaha mempekerjakan pekerja melebihi waktu kerja harus membayar atas lembur, maka wajib bagi pengusaha memiliki persetujuan dari
17
pekerja dan waktu lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam waktu 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam waktu 1 (satu) minggu. Selain membayar uang lembur, maka pengusaha wajib memberikan waktu istirahat kepada pekerja. Waktu istirahat sebagaimana diatur oleh Pasal 79 Undang-Undang Ketenagakerjaan adalah: “Pengusaha wajib memberikan waktu istirahat dan cuti kepada pekerja”. Pelaksanan hak pekerja tentang waktu istirahat dan hak cuti biasanya diatur dalam perjanjian kerja bersama, hal tersebut diatur dalam Pasal 79 ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) Undang-Undang Ketenagakerjaan. Hak lain yang perlu diperhatikan adalah hak untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya. Di dalam Pasal 81, Pasal 82, dan Pasal 83 Undang-Undang Ketenagkerjaan, bagi pekerja perempuan terdapat perlindungan khusus yang berkaitan dengan reproduksi, yaitu:
a. Pekerja perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid, hal tersebut diatur dalam Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan;
b. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama, hal tersebut diatur dalam Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Ketenagakerjaan;
c. Pekerja perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah
18
melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan, hal tersebut diatur dalam Pasal 82 ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan;
d. Pekerja yang mengalami keguguran berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan, hal tersebut diatur dalam Pasal 82 ayat (2) Undang-Undang Ketenagakerjaan;
e. Pekerja perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja, hal tersebut diatur dalam Pasal 83 Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan juga mengatur bahwa mengerjakan pekerjaan tidak seharusnya melakukan pekerjaan tanpa waktu istirahat dan pekerja berhak menolak karena didalam hari-hari libur pekerja tidak wajib bekerja. Sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 85 ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan yaitu, “Pekerja tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi”. Akan tetapi, jika pengusaha terpaksa harus mempekerjakan pekerjanya pada hari libur resmi karena sesuatu kepentingan dari jenis dan sifat pekerjaan harus dijalankan dan dilaksanakan secara terus-menerus atau keadaan karena kesepakatan antara pengusaha dengan pekerja maka, bekerja pada hari libur harus dibayar sesuai dengan aturan pembayaran lembur upah kerja. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 85 ayat (2) Undang-Undang Ketenagakerjaan, yaitu “Pengusaha dapat mempekerjakan pekerja untuk bekerja pada hari-hari resmi
19
apabila jenis dan sifat pekerjaan tersebut harus dilaksanakan atau dijalankan secara terus-menerus atau pada keadaan lain berdasarkan kesepakatan antara pekerja dengan pengusaha”.
Meskipun peraturan perundang-undangan sudah cukup mengakomodir hak pekerja untuk beristirahat dan cuti, kenyataannya masih ada pekerja yang belum bisa bergembira lepas dari kelelahan kerja karena ambisi perusahaan. Dalam rangka menciptakan hubungan kerja yang harmonis, dinamis dan berkeadilan, pengusaha dan pekerja harus bersama-sama menjalankan hak dan kewajiban masing-masing sesuai perjanjian kerja yang sudah disepakati serta berlandaskan Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Menurut Philipus M. Hadjon, perlindungan hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dan kesewenangan.9 Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa perlindungan hukum sebagai suatu gambaran tersendiri dari fungsi hukum itu sendiri, yang memiliki konsep bahwa hukum memberikan suatu keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaatan dan kedamaian. Perlindungan hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan kepada subyek hukum ke dalam bentuk perangkat baik yang bersifat preventif maupun bersifat represif, baik yang lisan maupun yang tertulis.
Perlindungan hukum preventif adalah perlindungan hukum yang diberikan kepada subyek hukum untuk mengajukan pendapat sebelum keputusan pemerintah mendapatkan bentuk yang definitif, Dengan adanya hukum preventif,
9
Philipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Bina Ilmu, Surabaya, hlm. 19.
20
pemerintah harus berhati-hati dalam mengambil keputusan yang didasarkan pada diskresi dan tujuan dari perlindungan hukum preventif adalah untuk mencegah terjadinya sengketa. Sedangkan Perlindungan hukum represif bertujuan untuk menyelesakan sengketa.
Dalam membahas permasalahan pertama, apabila terjadi kesenjangan antara peraturan yang mengatur mengenai pelaksanaan pemberian hak cuti bagi tenaga kerja kontrak dengan praktiknya (dasolen dan dasein) maka diperlukan teori efektivitas hukum di dalam masyarakat. Efektivitas hukum dalam tindakan atau realita hukum dapat diketahui apabila seseorang menyatakan bahwa suatu kaidah hukum berhasil atau gagal mencapai tujuannya, maka hal itu biasanya diketahui apakah pengaruhnya berhasil mengatur tindak atau perilaku tertentu hingga sesuai dengan tujuan atau tidak.
1.8. Metode Penelitian 1.8.1 Jenis penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka penelitian yang digunakan adalah penelitian Yuridis-Empiris. Pertimbangan dalam penggunaan jenis penelitian ini dikarenakan obyek kajian yang diteliti terdapat kesenjangan antara peraturan dengan pelaksanaanya atau kenyataan yang ada dalam masyarakat dan dalam hal ini berkenaan dengan implementasi serta kendala yang dihadapi dalam pemberian hak cuti terhadap pekerja kontrak di Nirmala Supermarket Denpasar.
21
1.8.2 Jenis pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fakta (The Fact Approach) dan pendekatan perundang-undangan (The Statue Approach). Pendekatan fakta (the fact approach) dilakukan dengan melihat keadaan nyata di wilayah penelitian. Sedangkan pendekatan perundang-undangan (The Statute Approach) adalah pendekatan yang dilakukan dengan kajian terhadap undang-undang yang dikaitkan dengan permasalahan yang ada di lapangan.10
Pendekatan fakta ini, merupakan data primer yang diperoleh dalam penelitian di lapangan, sedangkan data penelitian sekunder diperoleh melalui pendekatan perundang-undangan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani, yaitu pemberian hak cuti terhadap pekerja kontrak.
1.8.3 Sifat penelitian
Sifat penelitian yang digunakan adalah deskriptif, sifat penelitian deskriptif ada pada penelitian secara umum, termasuk pula didalamnya penelitian ilmu hukum karena bermaksud menggambarkan secara jelas hubungan hukum antara pekerja kontrak dengan pihak Nirmala Supermarket, apabila terjadi kelalaian dalam perjanjian kerja yang mengakibatkan kerugian pada salah satu pihak, dan upaya-upaya penyelesaiannya.
10
22
1.8.4 Data dan sumber data
Pada penelitian ini digunakan data yang bersumber dari:
1. Data primer, yakni data yang didapat langsung dari lapangan sebagai sumber pertama dengan melalui penelitian di lapangan, dilakukan oleh responden baik melalui wawancara atau interview.11
Penentuan informan awal, dilakukan terhadap beberapa informan yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Mereka yang menguasai dan memahami fokus permasalahannya melalui proses ekulturasi.
b. Mereka yang terlibat dengan (didalam) kegiatan yang tengah diteliti. c. Mereka yang mempunya kesempatan dan waktu yang memadai untuk
dimintai informasi. Sehingga didalam penelitian ini yang akan menjadi informan awal adalah:
1) HRD atau Personalia Nirmala Supermarket Denpasar. 2) Pekerja kontrak Nirmala Supermarket Denpasar.
2. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari tangan kedua atau dengan kata lain data yang bukan berasal dari sumber utama yang digunakan untuk menggali data melalui buku-buku yang terkait dengan masalah hukum ketenagakerjaan, Peraturan Perundang-undangan maupun data-data lainnya. Data sekunder terdiri dari tiga bahan hukum, yaitu:
23
a. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mempunyai otoritas (autoritatif).12
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan pengertian dan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti buku-buku hukum yang berkaitan dengan Hukum Ketenagakerjaan dan perlindungan terhadap pemenuhan hak-hak pekerja.
c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti Kamus Umum Bahasa Indonesia dan internet.
1.8.5 Teknik pengumpulan data
Menurut Soerjono Soekanto, dalam penelitian lazimnya dikenal tiga jenis pengumpulan data, yaitu studi dokumen atau bahan pustaka, pengamatan atau observasi, wawancara atau interview.13
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui wawancara atau interview yaitu situasi peran antar pribadi bertatap muka (face to face), ketika seseorang yakni pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban-jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada seorang responden. Dalam penelitian ini wawancara dilakukan kepada narasumber yang bekerja di Nirmala Supermarket Denpasar.
12Zainuddin Ali, 2011, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 47. 13Soerjono Soekanto, 1990, Ringkasan Metodelogi Penelitian Hukum Empiris, Cetakan I,
24
1.8.6 Teknik penentuan sampel penelitian
Teknik pemgambilan sampel dengan menggunakan teknik non probability sampling memberikan peran yang sangat besar untuk menentukan pengambilan sampelnya. Hasil penelitian yang menggunakan teknik sampel ini tidak dapat digunakan untuk membuat generalisasi tentang populasinya, karena sesuai dengan ciri umum dari non probability sampling tidak semua elemen dalam populasi mendapat kesempatan yang sama untuk menjadi sampel.
Bentuk dari teknik non probability sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling. Penarikan sampel dilakukan berdasarkan tujuan tertentu, yaitu sampel dipilih atau ditentukan sendiri, yang mana penunjukan dan pemilihan sampel didasarkan pertimbangan bahwa sampel telah memenuhi kriteria dan sifat-sifat atau karakteristik tertentu yang merupakan ciri utama dari populasinya, yaitu:
1. Dapat menjawab rumusan masalah 1 dan rumusan masalah 2.
2. Dapat menguasai dan mengalami sendiri terkait pelaksanaan hak cuti pada pekerja kontrak.
1.8.7 Teknik analisis data
Data yang telah terkumpul dan telah diolah akan dibahas dengan menggunakan metode analisis kualitatif atau analisis deskriptif. Oleh karena itu, keseluruhan data yang terkumpul dari data primer maupun sekunder akan diolah
25
dan dianalisis data yang diperoleh dari peraturan perundang-undangan, bahan– bahan pustaka yang berkaitan dengan fokus permasalan kemudian akan didiskusikan dengan data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara obyek penelitian sehingga akan ditemukan hukum dalam kenyataan. Data disusun secara sistematis, digolongkan ke dalam pola dan tema, dikategorikan dan diklasifikasikan, dihubungkan antara satu dengan yang lainnya, dilakukan interpretasi untuk memahami makna data dalam situasi sosial,dan dilakukan penafsiran dari perspektif peneliti setelah memahami keseluruhan kualitas data dan proses analisis tersebut dilakukan terus menerus sejak pencarian data di lapangan dan berlanjut terus hingga pada tahap analisis, kemudian dilakukan analisis secara kualitatif, kemudian data akan disajikan secara deskriptif, kualitatif dan sistematis.