A. KAJIAN TEORI
1. Teknologi Informasi Gadget a. Penggunaan Gadget
Pada saat ini manusia sedang memasuki era globalisasi. Era globalisasi menjadi pintu gerbang berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi berkembang sangat cepat pada era ini. Hal demikian senada dengan pendapat Hamijoyo (1990 : 24) yang menjelaskan ciri-ciri yang berkaitan dengan globalisasi adalah bahwa globalisasi perlu didukung oleh kecepatan informasi, kecanggihan teknologi transportasi dan komunikasi yang diperkuat oleh tatanan organisasi dan manajemen yang tangguh. Menurut Kenichi Ohmae ada empat aspek yang mengalami globalisasi, yakni informasi, investasi, individu dan industri. Dari aspek tersebut yang memiliki peran nyata dalam kehidupan masyarakat adalah aspek informasi.
Berdasarkan pendapat para ahli yang di uraikan di atas menunjukan bahwa teknologi informasi memiliki peran yang nyata terhadap lahirnya gejala globalisasi informasi. Dalam satu detiknya seseorang bisa mengakses informasi dari berbagai belahan bumi, dengan ragam informasi yang beragam.
Hal senada juga di perkuat oleh Salisbury (1996 : 39) yang menyatakan bahwa teknologi adalah Aplikasi sistematik sains atau pengetahuan lain dalam tugas praktikal. Dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa bila kita mengembangkan suatu produk, kedisiplinan, prosedur-prosedur, alat-alat dan teknik-teknik yang disatukan akan menjadi suatu inovasi.
Keberadaan teknologi informasi sudah dilihat sejak lama, yakni sejak zaman manusia purba hingga mengalami perubahan dan perkembangan sampai saat ini. Dalam perkembangannya terbilang
sangat cepat, karena pada masa sekarang pertumbuhan teknologi sangat meningkat. Antropologi sudah mencatat bahwa dalam setiap tahapan perkembangannya, manusia memiliki teknologi khusus untuk membantu mempertahankan hidupnya. Mulai dari alat memburu, meramu dan alat perang serta alat komunikasi. (Momon,2014:114)
Salah satu contoh perkembangan teknologi terjadi pada masyarakat tradisional. Perkembangan teknologi pada masa ini adalah masih teknologi sederhana, yang hanya diciptakan untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya baik dalam berinteraksi maupun dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Hal ini di dukung oleh pendapat hamzah (2010 : 89)
Bahwa perkembangan teknologi pada masa masyarakat tradisional (manusia purba) dilakukan dengan penciptaan suatu produk yang berupa barang yang tadinya belum ada dengan cara membuat api dan manusia purba mulai membuat barang-barang dari tanah liat yang dapat mereka gunakan untuk menyimpan bahan makanan dengan jalan memanaskan tanah liat tersebut agar dapat menyimpan bahan makanan untuk pemenuhan kebutuhan pangannya dalam jangka waktu yang lama.
Selanjutnya keberadaan teknologi saat ini memiliki tingkat kecanggihan yang luar biasa. Penggunaan teknologi bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan pangan saja, namun fungsi teknologi saat ini adalah untuk mengendalikan diri individu itu sendiri.
Hal demikian senada dengan pendapat Foucault bahwa manusia modern pada saat ini memanfaatkan teknologi sebagai symbol, kekuasaan dan juga proses manajemen diri, hal ini dapat bermanfaat terhadap pengendalian dan perekayasaan diri serta merekayasa masyarakat. (Momon,2014:228)
Berlanjut kepada fakta zaman sekarang. Gadget muncul dengan sangat beragam. Hal demikian bermula dari perusaan apple yang dirintis oleh jobs untuk mengembangkan teknologi komputer menjadi
teknologi yang lebih canggih dan lebih efektif. Salah satu contohnya adalah munculnya smartphone, ipade, tablet hingga android. Macam-macam teknologi ini termasuk kedalam kategori gadget. (Salbino, 2014:3)
Atas dasar prakarsa perusahaan apple, maka pada saat ini muncullah berbagai teknologi informasi yang lebih canggih dan lebih mudah untuk digunakan serta dimudahkan juga dalam membawanya karena ukuran dari teknologi ini lebih kecil dibandingkan dengan komputer-komputer pada saat itu.
Selain itu juga, ciptaan teknologi informasi ini lebih memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan teknologi informasi dan komunikasi sebelumnya. Hal ini menyebabkan ketertarikan masyarakat khususnya remaja dan siswa untuk dapat memiliki dan menggunakan teknologi terbaru itu.
Melihat hal demikian, membuktikan bahwa pada saat ini terjadilah peralihan teknologi dari masa prasejarah (tradisional) hingga masa sekarang. (Ramela, 2004:56). Keberhasilan peralihan teknologi apabila ada kerjasama antar pengalih dan penerima teknologi, persiapan-persiapan secara matang guna mengatasi kendala-kendala yang terjadi di pihak pengalih dan penerima teknologi, serta kedua belah pihak harus bersikap bermartabat. Peralihan teknologi ini disambut ceria oleh semua kalangan, khususnya para siswa / remaja. Remaja yang pada dasarnya adalah seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, selalu ingin mencoba semua hal yang baru khususnya dalam perkembangan teknologi.
Dengan adanya peralihan teknologi ini, dapat memunculkan teknologi yang lebih canggih dan menarik yakni teknologi informasi gadget. Teknologi informasi gadget adalah kemampuan yang digunakan dalam pembentukan, penyimpanan, dan penyebaran informasi yang berukuran mini.
Teknologi gadget yang hadir pada saat ini sangat cocok dengan kepribadian manusia khusunya remaja dimana gadget adalah suatu istilah yang asal-muasalnya dari bahasa Inggris yang mempunyai arti alat elektronik atau digital berukuran mini yang mempunyai kegunaan khusus. Teknologi informasi gadget sangat di minati oleh semua kalangan tanpa mengenal status sosial, usia dan jenis kelamin. Kecanggihan dan keunikan dari bentuk gadget menjadi salah satu pendorong meningkatnya tingkat konsumsi gadget. Bentuk dan varian dari teknologi ini sangat beragam, seperti Laptop, Notebook, Smartphone, dan Tablet.
Gadget atau yang dapat disebut dalam isitilah gizmoz adalah sebuah benda (alat atau barang elektronik) teknologi kecil yang memiliki fungsi khusus, tetapi sering diasosiasikan sebagai sebuah inovasi atau barang baru. Jadi gadget merupakan perkembangan dari teknologi. Perkembangan teknologi itu sendiri memunculkan berbagai teori yang berhubungan satu sama lain. Ada beberapa teori yang dapat diuraikan berkaitan dengan teknologi gadget.
Pertama adalah teori Difusi Inovasi. Difusi inovasi merupakan sebuah teori tentang bagaimana suatu ide dan teknologi baru tersebar dalam suatu kebudayaan. Dalam bukunya yang berjudul Diffusion of Innovations, Everett Rogers mendefinisikan bahwa difusi sebagai sebuah proses di mana sebuah inovasi dikomunikasikan melalui berbagai saluran dan jangka waktu tertentu dalam sebuah sistem sosial. Dalam hal ini penulis mengasumsikan bahwa teori difusi inovasi erat kaitannya dengan perkembangan teknologi, karena dari ide-ide atau inovasi akan muncul berbagai kecanggihan teknologi baru dan akhirnya melahirkan gadget-gadget yang bertambah kecanggihannya seiring dengan berjalannya waktu.
kedua adalah Teori Media System Depedency. Teori ini disebut juga sebagai teori ketergantungan media. Teori ini menjelaskan bahwa ketergantungan individu akan timbul ketika individu tersebut telah
memenuhi informasi melalui media yang dimilikinya. Individu tersebut dapat memenuhi kebutuhan informasinya melalui gadget. Oleh karena itu, gadget telah menjadi kebutuhan primer bagi individu. Dari teori ini penulis mengasumsikan bahwa setiap individu termasuk mahasiswa memiliki ketergantungan terhadap hal-hal yang baru dan informasi-informasi yang terkini. Para siswa tentunya akan mencari media yang semakin canggih untuk mempermudah dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dan gadget-gadget itulah yang dapat membantu mereka dengan sangat mudah. Kecanggihan dari gadget seperti smartphone, tablet, laptop akan membuat tingkat ketergantungan dan kecanduan penggunaannya semakin meningkat bila tidak dapat dikontrol dengan baik.
Ketiga adalah Teori Uses and Gratification. Teori ini disebut sebagai teori penggunaan dan pemenuhan kebutuhan. Penjelasan mengenai teori ini adalah masing-masing individu sebagai pemegang peran dalam penentu pemilihan pesan dan juga media. Keaktifan individu tersebut dalam memilih media yang diinginkan, menyebabkan kebutuhan akan informasi sudah jelas akan terpenuhi. Di samping itu, teori ini juga terdapat kekurangan yang ditemukan oleh beberapa pakar, teori ini terlalu membesar-besarkan peran individu sebagai pengguna media dalam memilih media. Dari teori ini penulis dapat mengatakan bahwa setiap individu termasuk mahasiswa selalu ingin memenuhi kebutuhan mereka, yang dalam hal ini adalah kebutuhan pesan dan media. Telah dikatakan sebelumnya bahwa media yang selalu digunakan mahasiswa untuk memperoleh informasi seluas-luasnya adalah gadget. Di dalam teori ini media (gadget) telah menjadi kebutuhan sendiri bagi tiap individu, maka tak heran bila gadget kian lama kian disalahgunakan penggunaannya karena tidak terkontrol dengan baik (Griffin, 2003: 15).
Berdasarkan teori tersebut, menurut salah satu pakar teknologi informasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Mahayana: sekitar
5-10 persen Gadget mania atau pecandu Gadget terbiasa menyentuh Gadgetnya sebanyak 100-200 kali dalam sehari. Jika waktu efektif manusia beraktivitas 16 jam atau 960 menit sehari, dengan demikian orang yang kecanduan Gadget akan menyentuh perangkatnya itu 4,8 menit sekali.
Mendukung hasil penelitian di atas, sepanjang hari rata-rata setiap orang menghabiskan waktu lebih bayak dengan media dari pada tanpa media. Beberapa bentuk media massa menyentuh masyarakat setiap hari secara ekonomis, sosial dan budaya. Realita yang seperti inilah yang akan memberikan impac/ dampak terhadap pemakai media (Biagi, 2010 : 103).
Penggunaan teknologi gadget dipengaruhi oleh suatu kebutuhan terhadap media massa. Katz, Gurevitch, dan Haas (1973 : 46) memandang media massa merupakan suatu alat yang dapat digunakan oleh individu-individu atau khalayak untuk berhubungan dengan individu yang lain. Dasar kebutuhan manusia sbb ; 1. Kebutuhan kognitif – memperoleh informasi, pengetahuan, dan pemahaman. 2. Kebutuhan afektif–emosional, pengalaman menyenangkan, atau estetis. 3. Kebutuhan integratif personal–memperkuat krediblitas, rasa percaya diri, stabilitas, dan status. 4. Kebutuhan integrative sosial– mempererat hubungan dengan keluarga, teman, dan sebagainya.
Brian Winston (1998 : 70) dalam bukunya menjelaskan perkembangan media komunikasi seperti telegraf, radio, computer, satelit bahkan gadget didukung oleh perkembangan jaringan internet. (Momon, 2014:115) Secara umum, internet diartikan sebagai jaringan kerja yang menggunakan system computer. Internet merupakan teknologi komunikasi yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat sekitar tahun 1969. (Bernadette, 2007 : 65). Hal ini didukung pula oleh pendapat Christian Fuchs (2008:2) bahwa internet itu merupakan system jaringan, atau lebih tepatnya adalah jaringan
kerja global dengan memanfaatkan kerja jaringan computer yang berbasiskan TCP/IP protocol.
Menurut Wen (2002 : 56), sekarang ini yang terpenting dan paling luas pengaruhnya adalah internet. Internetlah yang menghubungkan kita ke jaringan dunia. Selain itu layanan yang diberikan oleh internet mencakup e-mail, www, FTP dan lain sebagainya. Bentuk yang paling populer di masyarakat, yaitu media jejaring sosial seperti twitter, facebook, Hi5, Yahoo ! Meme, Tumblr, Geogle +, weibo, dan Friendster. Perkembangan lain dari internet adalah mesin pencari dan lacak seperti browser dan search enginers. Melalui mesin ini informasi atau teks dalam situs manapun dapat dilacak. (Bungin, 2006:113,136)
Berdasarkan pendapat beberapa ahli diatas mengenai perkembangan teknologi yang penggunaannya didukung oleh jaringan internet memang memberikan banyak sekali perubahan dalam kehidupan manusia khusunya para remaja dan siswa. Internet suatu media yang tidak mengenal ruang, melalui internet, kita memasuki dan menemukan desa dunia. Melalui internet kita melakukan migrasi dari dunia nyata ke dunia maya. Jika dalam dunia nyata, waktu, jarak dan tempat merupakan sesuatu yang sangat penting, maka dalam dunia maya ketiga dimensi itu tidak penting dan tidak relevan.
Sebagai ciptaan manusia, masyarakat maya menggunakan seluruh metode kehidupan masyarakat nyata sebagai model yang dikembangkan dalam segi-segi kehidupan masyarakat maya. Misalnya membangun interaksi sosial dan kehidupan kelompok, stratifikasi sosial, kepemimpinan dan sebagainya. (Bungin, 2006:160-172)
Masyarakat internet tidak mengenal jenjang pendidikan. Setiap orang, jenjang pendidikan apapun, bisa mengakses dan memberdayakan internet. Hal yang memungkinkan menjadi pembeda adalah kompetensi. Kompetensi (skill) tiap individu akan menjadi pembeda anatara satu orang dengn orang lainnya. (Momon,2014:121).
b. Bentuk-Bentuk Gadget
Sesuai dengan pemaparan sebelumnya bahwa telah terjadi peralihan teknologi pada saat ini. Ini memunculkan berbagai bentuk atau varian dari teknologi tersebut. Salah satunya bentuk-bentuk gadget. Beberapa yang termasuk kedalam bentuk gadget adalah sebagai berikut :
1) Laptop
Laptop adalah sebuah hasil pembaharuan dari computer manual. Laptop merupakan komputer bergerak yang berukuran relatif kecil dan ringan, beratnya berkisar dari 1-6 kg, tergantung ukuran, bahan, dan spesifikasi laptop tersebut. Sumber daya komputer jinjing berasal dari baterai atau adaptor A/C yang dapat digunakan untuk mengisi ulang baterai dan menyalakan laptop itu sendiri. Baterai laptop pada umumnya dapat bertahan sekitar 1 hingga 6 jam sebelum akhirnya habis, tergantung dari cara pemakaian, spesifikasi, dan ukuran baterai. Ada beberapa fungsi yang di dapatkan dari laptop, yakni mengolah data, menonton Vidio dan Film, terhubung ke internet, berfoto menggunakan webcame, dan lain sebagainya.
Kecanggihan laptop dapat menarik minat masyarakat untuk menggunakannya. Berdasarkan survey yang dilakukan terlihat jumlah pengguna Laptop di indonesia sekitar 32,46 % dengan mencapai 2,18 juta unit. Hasil ini menunjukkan bagaimana tingkat konsumsi gadget di kalangan masyarakat Indonesia. (Darmansyah, 2013)
2) Notebook
Netbook merupakan salah satu varian dari komputer jinjing yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan komunikasi nirkabel dan mengakses internet. Dengan rancangan utama untuk digunakan sebagai perangkat dalam merambah web, dan menulis surat elektronik, netbook sangat bergantung pada keberadaan internet untuk akses jarak jauh terhadap aplikasi berbasis web untuk pengguna yang tidak membutuhkan keberadaan komputer berspesifikasi tinggi.
Jumlah pengguna Netbook di indonesia 15% dari populasi dengan mencapai 2,5 juta unit (Darmansyah, 2013)
3) Smartphone
Pada saat ini telepon merupakan alat komunikasi yang banyak ditemukan dalam dunia bisnis. Bahkan setiap hari sekitar lebih dari 500 juta panggilan telepon dilakukan diseluruh dunia (Morey, 2004 : 101).
Menurut Gouzali Saydam (2005 : 45), istilah telepon pada awalnya merupakan suara dari jarak jauh. Selain itu keberadaan telepon itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu telepon biasa (fix telephone) dan telepon bergerak. Disamping berfungsi sebagai alat komunikasi yang personal, ponsel juga berpotensi sebagai sarana bisnis yang efektif. Ponsel sangat bervariasi tergantung pada modelnya, yang seiring dengan perkembangan teknologi mempunyai fungsi-fungsi antara lain (Fiati, 2005 : 69) : Penyimpan informasi, pembuat daftar pekerjaan atau perencanaan kerja, Reminder (pengingat waktu) atau appointment, alat perhitungan (kalkulator), pengiriman atau penerimaan e-mail, permainan (games), integrasi ke peralatan lain seperti PDA, MP3, Chatting dan Browsing internet, video.
Indonesia Negara yang masuk dalam 5 besar pengguna teknologi terbesar didunia, khususnya dalam penggunaan smartphone. Jumlah pengguna smartphone di Indonesia pada tahun 2012 sebesar 18 juta pengguna. Data tersebut dilansir oleh analis kawakan Horace H. Dediu melalui blognya, asymco.com. Di situ tertulis jika populasi Android telah lebih 1 miliar, sedangkan iOS mencapai 700 juta. Dalam data tersebut disebutkan pula Indonesia menduduki posisi 5 besar dengan pengguna aktif sebanyak 47 juta, atau sekitar 14% dari seluruh total pengguna ponsel. Yahoo! dan Mindshare mengumumkan hasil riset mereka terkait pengguna smartphone di Indonesia. Survei yang dilakukan pada pertengahan tahun 2013 tersebut, terdapat 41 juta orang yang memiliki smartphone. "Terdapat sekitar 41,3 juta orang
pengguna smartphone di Indonesia. Smartphone, bukan feature phone," ujar Leader Business Planning Mindshare Asia Pasific Deepika Nikhilender di kantor Yahoo! Indonesia, Jakarta, pada Senin (28/10) 2013. Deepika salah satu lembaga riset memperkirakan pada tahun 2017 mendatang akan ada 103,7 juta pemilik smartphone. Ha ini didasarkan atas kurva minat pemakai smartphone yang terus meningkat. ( Darmansyah, 2013)
4) Tablet
Tablet adalah suatu komputer portabel lengkap yang seluruhnya berupa layar sentuh datar. Ciri pembeda utamanya adalah penggunaan layar sebagai peranti masukan dengan menggunakan stilus, pena digital, atau ujung jari, alih-alih menggunakan papan ketik atau tetikus. Microsoft memperkenalkan versi Windows XP untuk komputer tablet yang disebutnya Tablet PC pada tahun 2000, sedangkan Apple baru meluncurkan versi komputer tabletnya pada tahun 2010 dengan nama iPad.Pada tahun 2011 Samsung meluncurkan versi komputer tablet Galaxy Tab 7 (yang kemudian dilanjutkan dengan peluncuran Samsung Galaxy Tab 7.0 Plus) dan 10.1(P7100).
Berbagai macam fungsi tablet yang dapat menarik minat para koonsumen adalah tersedianya aplikasi-aplikasi yang sangat dibutuhkan pada saat ini, diantaranya berselancar ke dunia internet, mengecek email, melihat foto, menonton film, membaca buku (ebook), mendengarkan music.
Deepika memperkirakan pada tahun 2017 mendatang akan ada 16,2 juta pemilik tablet. Begitupun dengan tablet, 69% pengguna mengoperasikannya di rumah dan 6% pengguna tablet menggunakannya ketika dalam perjalanan. Dari sekian banyak bentuk gadget, keseragaman pemakaiannya adalah untuk berkomunikasi dan terhubung ke internet. Penggunaan tersebut tanpa mengenal tempat dan waktu. (Darmansyah,2013)
5) IPAD
Ipad merupakan sebuah produk kompuetr tablet buatan apple Inc (Al). ipade memiliki bentuk tampilan yang hamper serupa dengan ipod Touch dan iphone, hanya saja ukurannya lebih kecil dengan fasilitas yang lebih lengkap. Ipad ini merupakan perkembangan dari tablet. (Salbino,2014:3)
Dari berbagai pemaparan yang telah uraikan di atas terlihat bahwa berbagi macam jenis gadget kian terus mengalami inovasi. Bentuk-bentuk gadget ini dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia secara bersamaan.
Bentuk-bentuk gadget juga mendukung terhadap dunia pendidikan, yang menyebabkan banyak siswa yang memiliki dan menggunakannya. Setiap siswa tidak hanya memiliki satu gadget, namun bisa dua bahkan tiga gadget yang dimilikinya. Mengganti bentuk gadget yang lama dengan bentuk gadget yang baru pun bukan menjadi hal yang tabu, karena para siswa selalu ingin mencoba hal-hal yang baru.
c. Dampak Penggunaan Gadget
Berkembangnya teknologi gadget menyebabkan anak-anak, remaja, pelajar bahkan orang tua pun mulai mempelajari dan menggunakan gadget. Tidak jarang ditengah jalan ada saja orang yang berjalan namun asyik bicara sendiri, dan merengut di depan layar (Multahada,2010). Hal tersebut senada dengan pendapat Ayunita (2012) bahwa sering dijumpai anak-anak remaja membawa gadget smartphone dan menggunakannya kapanpun dan dimanapun hingga tidak bisa terlepas dari genggamannya. Dengan demikian penggunaan gadget pada masyarakat sudah tidak mengenal tempat dan waktu. Hal ini akan menyebabkan perubahan-perubahan khususnya perubahan sosial pada diri masyarakat tersebut.
Perubahan-perubahan sosial selalu dipengaruhi oleh ha-hal baru di masyarakat yang menciptakan suatu keadaan yang berbeda dengan keadaan sebelumnya dalam sistem sosial. (Bungin, 2008 : 40)
Pengaruh media terhadap pemikiran, sikap dan perilaku masyarakat itu ada yang bersifat langsung dan ada juga yang tidak langsung. Dampak itu sangat erat kaitannya dengan perkembangan psikologi, dan intelektual para pengguna itu sendiri. Bagi anak-anak kata atau ungkapan serta penampilan mungkin akan menjadi variabel pokok yang mempengaruhi perilakunya. Sementara untuk kalangan remaja, ide, pemikiran, nilai atau norma akan jauh lebih menarik dibandingkan sekedar gambar atau ungkapannya. (Sudarma, 2014:93)
Dua wajah yang berbeda, teknologi komunikasi (gadget) seolah mendekatkan dan menjauhkan manusia. Memberikan informasi dan mengucilkan informasi. Dengan adanya teknologi komunikasi, bisa mencerdaskan manusia sekaligus melemahkan kecerdasan manusia. Hal ini sependapat dengan Brian Winston (1998 : 105) yang memandang bahwa revolusi teknologi informasi itu ibarat gelombang badai dari surga. Dua kata yang bertolak belakang, satu sisi adalah badai symbol dari bencana alam dan surga symbol dari keindahan dan kesempurnaan.
Menurut beberapa ahli, dampak yang sangat dirasakan dengan adanya kemajuan dan pembaharuan teknologi ini adalah dalam bidang sosial yang menunjukan terhadap perilaku sosial, dimana perilaku sosial ini adalah suasana saling ketergantungan yang merupakan keharusan untuk menjamin keberadaan manusia (Rusli Ibrahim, 2001 : 23).
Akibat yang di berikan oleh pengguna gadget terbagi menjadi dua, yakni dampak secara positif dan negatif. Diantaranya sebagai berikut :
(1) Dampak Positif a. Bidang Sosial
Pertama, Meningkatnya rasa percaya diri. Perkembangan dan kemajuan ekonomi telah meningkatkan rasa percaya diri dan ketahanan diri sebagai suatu bangsa akan semakin kokoh. Kedua, Pola interaksi antar manusia yang berubah. Kehadiran komputer pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Ketiga, Dengan kemajuan teknologi pada dunia internet. seseorang dapat mengenal serta menjalin komunikasi dengan banyak orang dari berbagai belahan di dunia. Keempat, Dalam hal ini dengan adanya gadget dapat mempermudah komunikasi dengan orang lain yang berada jauh dari kita dengan cara sms, telepon, atau dengan semua aplikasi yang dimiliki dalam gadget kita. Kelima, MenambahTeman. Dengan banyaknya jejaring sosial yang bermunculan akhir-akhir ini kita dapat dengan mudah menambah teman melalui jejaring sosial yang ada melalui gadget yang kita milki.
b. Bidang Pendidikan
Pertama, Menambah pengetahuan. Dalam hal pengetahuan kita dapat dengan mudah mengakses atau mencari situs tentang pengetahuan dengan menggunakan aplikasi yang berada di dalam gadget kita Contoh aplikasi : Detik, Kompas.com, dll. Kedua, Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru. Dengan adanya metode pembelajaran ini, dapat memudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Dengan kemajuan teknologi terciptalah metode-metode baru yang membuat siswa mampu memahami materi-materi yang abstrak, karena materi tersebut dengan bantuan teknologi bisa dibuat abstrak. Ketiga, Anak yang bergaul dengan dunia gadget cenderung lebih kreatif. Akibat kemajuan teknologi, banyak permainan-permainan kreatif dan menantang yang ternyata banyak disukai oleh anak-anak. Dan hal
ini secara tidak langsung sangat menguntungkan untuk anak-anak karena sangat memberi pengaruh terhadap tingkat kreativitas anak. Keempat, Mempermudah melaksanakan tugas. Dengan adanya kemajuan dalam bidang teknologi dan peralatan hidup, masyarakat pada saat ini dapat bekerja secara cepat dan efisien karena adanya peralatan yang mendukungnya sehingga dapat mengembangkan usahanya dengan lebih baik lagi.
Selanjutnya secara garis besar akibat yang ditimbulkan dari penggunaan gadget adalah pertama, memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan. Kedua, sebagai sumber tambahan pelajaran yang belum di mengerti di sekolah. Ketiga, membuat pelajar terbiasa dengan teknologi komputer dan informasi. Keempat, menggunakan teknologi “teleconference” (konferensi interaktif secara on line dari jarak jauh), karena dapat menghemat waktu, tenaga pengajar, kapasitas ruang belajar serta tidak mengenal letak geografis. Kelima, surat menyurat (e-mail), fasilitas ini sudah sering kali kita dengar karena dengan fasilitas ini tidak hanya untuk saling mengirim pesan yang pnjang tapi juga dapat digunakan untuk mengirim tugas dalam proses belajar. Keenam, sebagai sarana komunikasi. (http://dampak-internet-terhadap-siswa.blogspot.com)
(2) Dampak negatif a. Bidang Sosial
Pertama, Ubiquity, Ubiquity menunjuk kepada sifat dimana media hadir dimana-mana. Dengan perkembangan teknologi, media massa makin mudah untuk diakses dan dinikmati oleh kalangan umum dengan memanfaatkan fasilitas gadget untuk bisa terhubung ke internet. Kedua, Status Quo. Arti harfiah status quo adalah tidak berubah, tidak bergerak, diam , dan stagnan, tidak aktif atau berada dalam kondisi serta situasi yang sama. Kritikus sosial melihat media dengan kekuatan dan segala daya yang dimilikinya dapat mempertahankan status quo terutama dalam
kehidupan bidang ekonomi dan sosial-politik. Sebagai contoh : media massa dapat digunakan oleh kelompok kepentingan (interest group) untuk mempengaruhi pemerintah mempertahankan kebijakan suku Bunga tinggi. Kebijakan ini sangat memukul masyarakat bawah-menengah. Dengan kebijakan suku bunga tinggi, masyarakat bawah-menengah tidak akan dapat memiliki perkakas rumah tangga, sepeda motor atau rumah secara kredit karena harganya menjadi sangat mahal.
Ketiga, Kemerosotan cita rasa estetis. Para kritikus sosial melihat media massa dengan segala kekuatan dan pengaruh yang dimilikinya, bisa juga membawa gaya hidup baru (life style) yang serba pragmatis, serba gampangan, serba instan. Gaya hidup yang dibawa dari barat dan belum tentu cocok dengan masyarakat timur ini, seolah-olah dicangkokkan begitu saja pada masyarakat dan kebudayaan kita. Segala sesuatu dilihat hanya menurut fungsi atau nilai guna dan tak lagi memperhatikan kaidah atau nilai lain. Keempat, Penghilangan sukses sosial, Para kritikus sosial dan kalangan budayawan kerap mengkhawatirkan sikap dan perilaku medi massa yang tidak segan-segan menghapus peta sukses sosial suatu masyarakat atau bangsa yang telah dibangun oleh para pendahulu atau tokoh-tokoh pembaharu selama beberapa decade.
Sukses sosial ini bukannya tanpa perlawanan. Dalam beberapa hal, media massa kerap menggampangkan masalah dan tidak segan-segan untuk melupakan sejarah. Para kritikus sosial curiga, media massa modern lebih banyak membawa kepentingan kaum kapitalis dari pada menyuarakan kepentingan kaum populis.(Haris, 2014 : 174-177)
Pemaparan diatas juga didukung oleh salah satu psikolog berpendapat tentang efek candu yang di timbulkan gadget bisa berupa gangguan komunikasi verbal dalam berkomunikasi secara langsung di dalam masyarakat dan juga dalam tingkatan yang
lebih tinggi dapat membuat individu menjadi hiperealitas. Hiperealitas adalah kecenderungan membesarkan sebagian fakta dan sekaligus menyembunyikan fakta lain atau tanda lenyapnya realitas atau objek representasi digantikan dengan hal-hal yang bersifat fantasi, fiksi dan halusinasi. Dalam kasusnya apabila individu pengguna gadget terjangkit dalam hiperealitas maka ia akan kehilangan makna interaksi sosial. Hal ini diperkuat dengan gambaran dalam sebuah gambar yang tertera dibawah ini :
Kerusakan Sosial Akibat Efek Media Massa (Digital) Kerusakan tahap Satu
Kerusakan Tahap Dua
Gambar. 2.1 Kerusakan Sosial Akibat Media Massa Sumber : McQuali
Melihat dari gambar diatas, ditunjukkan bagaimana kerusakan sosial itu terjadi akibat dari penggunaan gadget untuk terhubung ke internet dengan mengakses media massa digital secara lebih mudah. Hal yang sangat terlihat dari gambar diatas bahwa dampak penggunaan gadget itu mempengaruhi dari perilaku atau siap baik secara individu ataupun kelompok.
Gambaran – gambaran seperti ini juga didukung oleh seorang pengamat yang memaparkan data yang cukup mengejutkan (Ratna Megawangi, 2004 : 40) dan berbagai berita yang dilansir Efek Media Massa Merusak
system perilaku
Merusak perilaku kelompok perilaku masyarakat
Efek Media Massa Merusak sikap dan system kepribadian
Merusak system sosial, system budaya, dan lingkungan yang lebih luas
dari Koran, televisi, internet dan hasil penelitian menunjukkan pelanggaran yang fantastis.
b. Bidang Pendidikan
Penggunaan tidak sesuai kondisi, misalnya, menggunakan gadget pada saat proses belajar mengajar berlangsung untuk sms-an dengsms-an temsms-an atau pacar atau membuka situs jejaring sosial (facebook, twitter, plurk, yahoo koprol, dll) pada saat belajar.
Selain itu Kemajuan teknologi, terutama teknologi komunikasi elektronik telah menimbulkan dampak pada siswa dan cenderung menyisihkan hastrat membaca buku di kalangan pelajar (Uchjana, 2005 : 90)
Selain dampak negatif yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui juga bahwa penggunaan gadget dapat berpengaruh terhadap perilaku siswa, diantaranya, Pertama, kejahatan penculikan terhadap remaja melaui jejaring sosial di dunia maya (internet). Kedua, penipuan dalam jual beli online. Ketiga, membuat remaja menjadi malas, karena waktu untuk bekerja membantu orang tua atau belajar tersita untuk berinternet, sehingga tugas-tugas sekolah sering terlantar. Keempat, para remaja menjadi terlalu bergantung pada internet dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Padahal tugas sekolah yang seharusnya dibuat sendiri, sering dikerjakan dengan copy paste dari suatu alamat wap atau blog. Kelima, pikiran para remaja teracuni oleh sesuatu yang dapat merusak moral seperti film,gambar, foto, bacaan, dll. yang bersifat pornografi. Keenam, sosialisasi remaja dalam masyarakat berkurang, karena para remaja menjadi lebih suka dan nyaman bersosialisasi dalam dunia maya. Mereka jarang keluar rumah, mereka lebih suka menatap komputer atau laptopnya untuk berinternet hingga lupa waktu. Benar kata Jacgues Ellu dan Gaulet, jika ingin menggambarkan zaman ini, maka yang terbaik adalah dengan cara melihat bagaimana masyarakat teknologi bekerja. Fungsi teknologi adalah kunci utama perubahan dalam masyarakat (Ellu,1980:1). Dengan demikian menurut Ellu dan Gaulet (1997:7) teknologi secara fungsional telah menguasai masyarakat. Bahkan
dalam dunia media informasi, system teknologi juga telah menguasai jalan pikiran masyarakat seperti tampak pada istilah theatre of mind (Bungin, 2006:173)
2. Usia Remaja
a. Pengertian Remaja
Pada periodenya masa remaja merupakan masa yang krusial. Bagi individu itu sendiri termasuk kepada tahapan mencari jati diri. Bagi orang tua, merupakan fase tersulit untuk membangun, membina dan mengarahkan serta melayani kebutuhan dan hastrat eksistensinya. Ruang aktifitas utamanya yaitu sekolah, teman pergaulan dan tempat bermain. Media komunikasinya sudah menggunakan teknologi. (Momon, 2014:101)
b. Karakteristik Usia Remaja
Masa remaja adalah masa pertumbuhan jasmani cepat dengan puncak perkembangan cerdas yang disertai dengan kegoncangan emosi, ketidakpastian diri dan masa memuncaknya kebutuhan kepada agama, pada umur itulah seseorang dituntut untuk melaksanakan agaman secara penuh, karena ia telah mencapai umur balig berakal (Zakiah Daradjat, 1995 :80)
Fase remaja merupakan segala perkembangan individu yang sangat penting yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Menurut Konopka (Pikunas, 1976 : 15) masa remaja ini meliputi (a) remaja awal : 12-15 tahun, (b) remaja madya : 15-18 tahun, dan (c) remaja akhir : 19-22 tahun. Sementara Salzman mengemukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua kea rah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral (Syamsu Yusuf, 2004:184)
Remaja itu sendiri adalah suatu tingkat umur dimana anak-anak tidak lagi anak, akan tetapi belum dipandang dewasa (Zakiah Daradjat,1976:28).
Masyarakat adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan bersama. Menurut ilmu perkembangan, setiap individu dalam masyarakat selalu dinamis artinya berkembang dan mengalami perubahan.
Ada beberapa fase perkembangan dalam diri individu, hal ini digambarkan oleh Syamsu Yusuf dalam sebuah tabel sebagai berikut :
TAHAP PERKEMBANGAN USIA
Masa usia pra sekolah 0,0 – 6,0
Masa usia sekolah dasar 6,0 – 12,0
Masa usia sekolah menengah 12,0 – 18,0
Masa usia mahasiswa 18,0 – 25,0
Tabel 2.1 fase perkembangan individu
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa masa remaja masuk dalam kategori masa usia sekolah menengah, yakni berkisar antara 12 hingga 18 tahun. Hal ini diperkuat dengan pendapat Hurlock (1981 : 50) bahwa remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Dalam klasifikasinya masa remaja dibagi menjadi remaja awal, remaja tengah dan remaja akhir.
Kata remaja atau adolescence berasal dari kata latin adolescere yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Bangsa primitive, demikian pula orang-orang zaman purba memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode-periode lain dalam rentang kehidupan, anak sudah dianggap dewasa apabila sudah mampu untuk bereproduksi. (Elizabeth,1999: 206)
Berlanjut mengenai istilah adolescence yang saat ini masih dipergunakan, istilah ini mempunyai arti yang cukup luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Pandangan ini diungkapkan oleh piaget (121 : 78) dengan mengatakan :
Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama.
Berdasarkan hal tersebut, kita bisa mengetahui bahwa masa remaja adalah masa transisi dimana perubahan dari fase anak-anak menuju dewasa. Dalam perubahan ini mencakup berbagai aspek kehidupan yang dialami oleh remaja itu sendiri.
Selanjutnya masa remaja juga bisa diartikan suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja, yaitu : peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. (Aaro, 1990 : 89 ).
Dengan adanya perubahan dan perkembangan yang terjadi pada fase remaja, pasti hal tersebut akan memunculkan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan remaja. Hal ini sesuai dengan statemen bapak psikologi remaja yaitu Stanley Hall :
Masa remaja adalah masa yang penuh permasalahan. Masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (strom and stress).
Pernyataan tersebut dikeluarkan sejak abad ke-20 karena melihat banyak sekali permasalahan-permasalahan yang timbul dan terjadi pada diri remaja, diantaranya permasalahan pelecehan seksual, obat-obatan terlarang dan kriminalitas.
Dengan adanya pernyataan tersebut Gunarsa (1989 : 45) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu: pertama, kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan. Kedua, ketidakstabilan emosi. Ketiga, adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup. Keempat, adanya sikap menentang dan menantang orang tua. Kelima, pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal
penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua. Keenam, kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya. Ketujuh, senang bereksperimentasi, Kedelapan, senang bereksplorasi, dan Kesembilan, mempunyai banyak fantasi, khayalan dan bualan.
Selanjutnya ciri-ciri perilaku yang menonjol pada usia-usia ini terutama terlihat pada perilaku sosial. Dalam masa-masa ini teman sebaya mempunyai arti yang amat penting. Mereka ikut dalam klub-klub, klik-klik atau geng-geng sebaya yang perilaku dan nilai-nilai kolektifnya sangat mempengaruhi perilaku serta nilai-nilai individu-individu yang menjadi anggotanya. Inilah proses dimana individu membentuk pola perilaku dan nilai-nilai baru yang pada gilirannya bisa menggantikan nilai-nilai serta pola perilaku yang dipelajarinya di rumah atau disekolah. (Melly, 2010 : 78)
Berdasarkan uraian diatas, bisa ditelaah bahwa apabila dalam masa remaja ini ditunjang dengan lingkungan yang positif, pasti akan mencetak remaja-remaja yang unggul. Namun sebaliknya, apabila remaja berada dalam lingkungan yang negative, maka akan menciptakan generasi yang dapat menhancurkan bangsa, karena remaja adalah salah satu penerus generasi bangsa.
Menyikapi hal yang demikian, solusi yang bisa ditawarkan adalah dengan menyediakan pendidikan yang berkarakter bagi remaja. Seperti yang sudah diketahui bahwa remaja adalah masuk dalam usia sekolah menengah, jadi dalam hal ini remaja harus dapat diberikan pondasi melalui pendidikan karakter.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. (UU Sisdiknas)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.
Selanjutnya, pendidikan karakter mau tidak mau melibatkan proyek pendidikan nilai. Dalam proses ini pendidik memiliki tanggung jawab agar anak didik mampu melihat implikasi berbagai macam perubahan dalam masyarakat yang berasal dari kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan (Sastraprateja,1993 : 89)
Dengan adanya pendidikan karakter ini, diharapkan remaja dapat diajarkan, diberi keteladanan dan di kembangkang kearah yang positif agar remaja dapat menjadi identitas suatu bangsa.
3. Perilaku Sosial
a. Pengertian Perilaku Sosial
Kartini Kartono (1994:297) menjelaskan perilaku atau attitude merupakan organisasi kognitif yang dinamis, yang banyak dimuati unsur-unsur emosional (afektif) dan disertai kesiagaan untuk beraksi.
Selanjutnya pandangan dari aristoteles menyatakan bahwa perilaku dalam bahasa inggris adalah behavioristic, dimana behavioristic adalah sebuah aliran dalam pemahaman tingkah laku. Dalam hal ini, asumsi dasar mengenai tingkah laku adalah bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan-aturan, bisa diramalkan, dan bisa dikendalikan (Desmita, 2014:44).
Tiap orang mempunyai sikap atau perilaku yang berbeda-beda terhadap sesuatu perangsang. Ini disebabkan oleh beberapa factor yang ada pada individu masing-masing sepertinya adanya perbedaan bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas perasaan, dan juga situasi lingkungan ( Ngalim Purwanto, 1992:140)
Perilaku sosial adalah suasana saling ketergantungan yang merupakan keharusan untuk menjamin keberadaan manusia (Rusli Ibrahim, 2001 : 35). Sebagai bukti bahwa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak dapat melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain. Ada ikatan saling ketergantungan diantara satu orang dengan yang lainnya. Artinya bahwa kelangsungan hidup manusia berlangsung dalam suasana saling mendukung dalam kebersamaan. Untuk itu manusia dituntut mampu bekerja sama, saling menghormati, tidak menggangu hak orang lain, toleran dalam hidup bermasyarakat.
Menurut Krech Crutchfield dan Ballachey (1982 : 102) dalam Rusli Ibrahim (2001 : 45), perilaku sosial seseorang itu tampak dalam pola respons antar orang yang dinyatakan dengan hubungan timbal balik antar pribadi. Perilaku sosial juga identik dengan reaksi seseorang terhadap orang lain (Baron & Byrne, 1991 dalam Rusli Ibrahim, 2001). Perilaku itu ditunjukkan dengan perasaan, tindakan, sikap keyakinan, kenangan, atau rasa hormat terhadap orang lain. Perilaku sosial seseorang merupakan sifat relatif untuk menanggapi orang lain dengan cara-cara yang berbeda-beda. Misalnya dalam melakukan kerja sama, ada orang yang melakukannya dengan tekun, sabar dan selalu mementingkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadinya. Sementara di pihak lain, ada orang yang bermalas-malasan, tidak sabaran dan hanya ingin mencari untung sendiri. Sesungguhnya yang menjadi dasar dari uraian di atas adalah bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial (W.A. Gerungan, 1978:28).
Selanjutnya Krech et. al. (1962:104-106) mengungkapkan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu, dapat dilihat dari kecenderungan-kecenderungan ciri-ciri respon interpersonalnya, yang terdiri dari : (1) Kecenderungan Peranan (Role Disposition); yaitu kecenderungan yang mengacu kepada tugas, kewajiban dan posisi
yang dimiliki seorang individu, (2) Kecenderungan Sosiometrik (Sociometric Disposition); yaitu kecenderungan yang bertautan dengan kesukaan, kepercayaan terhadap individu lain, dan (3) Ekspresi (Expression Disposition), yaitu kecenderungan yang bertautan dengan ekpresi diri dengan menampilkan kebiasaaan-kebiasaan khas (particular fashion).
Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditunjukkan bahwa perilaku sosial dapat meliputi (1) Dapat diterima atau ditolak oleh orang lain, (2) Suka bergaul dan tidak suka bergaul, (3) Sifat ramah dan tidak ramah, (4) Simpatik atau tidak simpatik.
Selanjutnya Menurut Douglas (1973 : 67) menjelaskan bahwa ada dua kajian dalam sosiologi, yakni mikrososiologi yang mempelajari situasi dan makrososiologi yang mempelajari struktur. George C. Homans yang mempelajari mikrososiologi mengaitkan struktur dengan perilaku sosial elementer dalam hubungan sosial sehari-hari, sedangkan Gerhard Lenski lebih menekankan pada struktur masyarakat yang diarahkan oleh kecenderungan jangka panjang yang menandai sejarah. Talcott Parsons yang bekerja pada ranah makrososiologi menilai struktur sebagai kesalingterkaitan antar manusia dalam suatu sistem sosial. Coleman melihat struktur sebagai pola hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia atau masyarakat. Kornblum (1988 : 23) menyatakan struktur merupakan pola perilaku berulang yang menciptakan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat.
Mengacu pada pengertian struktur sosial menurut Kornblum yang menekankan pada pola perilaku yang berulang, maka konsep dasar dalam pembahasan struktur adalah adanya perilaku individu atau kelompok. Perilaku sendiri merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya yang didalamnya terdapat proses komunikasi, ide dan negosiasi.
Dari beberapa pendapat yang dipaparkan oleh beberapa ahli dapat ditarik sebuah garis yang menjelaskan bahwa perilaku sosial dapat terlihat dari respon yang diberikan atas interaksi yang timbal balik dengan melihat kecenderungan-kecenderungan yang di dalamnya terdapat proses komunikasi, ide dan negosiasi.
b. Ciri-ciri Perilaku Sosial
Ciri adalah suatu tanda yang ada pada sesuatu. Dalam hal ini ciri-ciri dari perilaku sosial siswa adalah tanda-tanda yang dapat menmberikan prtunjuk dalam menunjukan perilaku sosial siswa.
Buhler (Abin Syamsuddin Makmun, 2003 : 15) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu dapat diljelaskan sebagai berikut :
Pertama, Tahap kanak-kanak awal (0-3) subyektif, segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri, kedua, Kritis (3-4), pembantah dan keras kepala, ketiga, Masa kanak-kanak akhir (4-6) masa subyektif menuju masa obyektif, mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan, keempat, Anak Sekolah (6-12) masa Obyektif, membandingkan dengan aturan-aturan, kelima, Kritis II (12-13) Masa Pre Puber, perilaku coba-coba, serba salah,, ingin diuji, keenam, Remaja Awal (13-16) masa subjektif menuju masa objektif, mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya. Ketujuh, Remaja Akhir (16-18) masa objektif, berperilaku sesuai dengan tuntutan mayarakat dan kemampuan dirinya.
c. Aspek-aspek Perilaku Sosial
Tiap-tiap sikap atau perilaku memiliki tiga aspek, diantaranya :
a) Aspek Kognitif, yaitu yang berhubungan dengan gejala mengenai pikiran
b) Aspek afektif, yaitu berwujud proses yang menyangkut perasaan, seperti : ketakutan, kedengkian, simpati, empati, antipasti, dan sebagainya
c) Aspek konatif, yaitu berwujud proses tedensi/kecenderungan untuk berbuat sesuatu objek, mislnya kecenderungan memberi pertolongan, menjauhkan diri dan sebagainya
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sosial Remaja
Perilaku merupakan suatu tanggapan atau reaksi dari suatu keadaan baik yang ada dalam diri remaja maupun lingkungan sekitar, oleh karena itu, dalam mempengaruhi perilaku remaja semua kalangan harus ikut memperhatikan agar terbentuk suatu perilaku yang positif. Disamping itu ada juga factor-faktor yang mempengaruhi perilaku remaja antara lain :
1) Peranan agama
Kepatuhan kepada hukum, pelaksanaan keadilan secara jujur, harus datang dalam diri remaja bukan dari luar. Factor yang amat penting dalam hal ini adalah agama.
2) Peranan keluarga
Keluarga merupakan fungsi yang penting dalam menciptakan ketentraman batin remaja. Adapun pelaksanaan pendidikan agama di dalam keluarga meliputi antara lain : keteladanan orang tua dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan keimanan dan ketaatan beribadah, perlakuan anak sesuai dengan ketentuan agama, dipenuhi kasih saying dan pengertian agama.
3) Peranan sekolah
Guru dan semua tenaga kependidikan di sekolah mempunyai peranan yang amat penting dalam penanggulangan sikap dan perilaku menyimpang pada anak. Guru adalah tenaga pendiidk yang secara teknis mempunyai bekal ilmu dan keterampilan untuk membantu anak didik memperoleh sikap dan perilaku terpuji (Zakiah Daradjat, 1995 : 64-84).
B. KAJIAN PENELITIAN YANG RELEVAN
Berdasarkan kajian penelitian yang relevan dari skripsi Ina Astari Utaminingsih yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Ponsel pada Remaja
Terhadap Interaksi Sosial Remaja, yang disusun pada tahun 2006”, dijelaskan bahwa tingkat penggunaan ponsel pada remaja cenderung tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ponsel sebagai media komunikasi dan juga media hiburan dianggap menjadi kebutuhan sehari-hari yang penting bagi remaja, baik remaja laki-laki maupun perempuan. Mengenai fasilitas pada ponsel, remaja cenderung tinggi memanfaatkan dalam kesehariannya. Tetapi dari jenis-jenis fasilitas yang dimanfaatkan tersebut dapat terlihat bahwa remaja juga mempertimbangkan faktor-faktor biaya, sehingga tidak terlalu memberatkan pihak orang tua sebagai sumber biaya pengeluaran seharihari. Karakteristik internal yang mempengaruhi penggunaan ponsel adalah status ekonomi keluarga dan tujuan penggunaan ponsel. Status ekonomi keluarga yang dilihat dari penghasilan orang tua tiap bulannya dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel. Semakin tinggi status ekonomi keluarga maka dapat meningkatkan pembelian pulsa, menyangkut penggunaan ponsel remaja.
Karakteristik eksternal yang mempengaruhi penggunaan ponsel remaja adalah keberadaan teman dekat. Teman dekat tersebut sebagian besar mempunyai pengaruh yang kuat terhadap remaja dan pada umumnya mendukung penggunaan ponsel dalam kehidupan sehari-hari mereka. Disini kelompok remaja memiliki kecenderungan untuk mengikuti bagaimana atau seperti apa keadaan teman-teman dekatnya yang merupakan kelompok sebaya (peer-group).
Penggunaan ponsel remaja (laki-laki maupun perempuan) memang cenderung tinggi. Tetapi dalam hal interaksi tatap muka antara remaja dengan lingkungan sosialnya tetap saja cenderung kurang. Dapat disimpulkan bahwa interaksi remaja tersebut tidak hanya disebabkan oleh tingkat penggunaan ponsel yang tinggi. Banyak terdapat faktor-faktor lainnya dalam karakteristik remaja, seperti semakin tingginya beban akademik, mulai mengkonsumsi media-media massa atau teknologi dengan tinggi serta cenderung lepas dengan lingkungan sosial keluarganya.
Adapun skripsi Hasan Jamani yang berjudul “Perilaku siswa pengguna handphone studi kasus pada siswa SMP Negeri 4 sungai raya kabupaten Kubu raya” mengungkapkan Dalam perilaku siswa pengguna handphone secara umum, ada beberapa perilaku yang berdasarkan pengamatan atau hasil observasi yaitu;
a. Suka SMS pada saat proses belajar mengajar berlangsung b. Berkawan hanya kepada teman yang mempunyai handphone c. Mengambil dan mengirim gambar temannya saat berada di WC d. Sikap hidup individualistic
e. Suka pindah tempat dudu f. Melakukan tindakan criminal
Siswa pengguna HP sangat berantusias memiliki dan menggunakan HP baik dari harga yang murah sampai harga yang mahal dengan harapan ingin dianggap sebagai orang yang didahulukan dan dinomorsatukan oleh teman-temannya serta dianggap modern dan tidak ketinggalan jaman. Namun untuk membeli pulsa mereka minta uang dengan orang tua, saudara, temannya bahkan mereka bekerja mencari uang sendiri, akibatnya mereka harus meninggalkan proses belajar mengajar di sekolah dalam jangka waktu tertentu, banyak pelajaran yang tidak dapat dituntaskan, dan akhirnya tidak dapat mempertanggungjawabkan dirinya sebagai seorang pelajar.
Selanjutnya Skripsi Rr.Sukma Ayu Dewi Anggrahini (2013) dengan judul Dinamika Komunikasi Keluarga Pengguna Gadget. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
Intensitas komunikasi keluarga menjadi berkurang. Selain itu, sejak menggunakan gadget, anak menjadi susah diajak berkomunikasi, tidak peduli, sering badmood, tidak mendemgarkan nasihat orang tua, tidak terbiasa mengutarakan pendapat dan masalah pada keluarga, lebih sering berkomunikasi dan menceritakan masalah dengan teman, serta sangat lambat responyya saat diperintah orang tua untuk mengerjakan sesuatu.
Penggunaan gadget memang menjadi penghambat komunikasi keluarga informan Karen anggota keluarga menjadi asyik sendiri dengan gadget-nya.
Selain itu, ego dari masing-masing anggota keluarga juga menjadi penghambat komunikasi keluarga. Walaupun gadget menjadi penghambat komunikasi, keluarga ini juga mengatakan bahwa gadget mendukung komunikasi keluarga mereka ketika mereka sedang berjauhan atau sedang tidak dirumah. Selain itu, mereka juga memiliki pendukung komunikasi yang lain yaitu kedewasaan pikiran dan pengalaman berkeluarga.
Sedangkan Skripsi Made Witrianti yang diajukan pada tahun 2013 dengan judul Pola Komunikasi Orang Tua dengan Anak Pengguna Gadget Aktif yang menghasilkan kenyataan sebagai berikut :
Memang setiap orang tua memiliki cara mereka sendiri dalam mendidik anaknya khususnya dalam bermain gadget Diperoleh dari 3 informan, 2 bersikap permissive (membebaskan), dan 1 bersikap authoritative yang cenderung demokratis dengan anak.
Berdasarkan penelitian relevan yang berhasil ditelusuri, ternyata tidak ada satu pun yang sama perisi dengan penelitian yang penulis lakukan. Oleh karena itu, penelititan yang berjudul “ Dampak Penggunaan Gadget terhadap Perilaku Sosial Siswa di MAN Cirebon 1 Kabupaten Cirebon” layak dilakukan karena masalah yang akan diteliti tidak sama persis dengan penelitian yang sudah ada atau terdahulu.
C. KERANGKA PIKIR
Dalam dunia modern saat ini tentu kita tak mungkin lagi untuk dapat menyangkal adanya berbagai kemajuan dengan munculnya bermacam-macam teknologi canggih, seperti alat-alat komunikasi, transportasi dan sebagainya.
Ketika kita ingin menggambarkan zaman ini, kata Jacques Ellul (1980), maka gambaran yang terbaik untuk dijelaskan mengenai suatu realitas masyarakat adalah masyarakat dengan system teknologi, yang baik atau masyarakat teknologi. Untuk mencapai masyarakat teknologi maka suatu masyarakat harus memiliki system teknologi yang baik (Goulet, 1997). Dengan demikian maka fungsi teknologi adalah kunci utama perubahan di masyarakat.
Perkembangan teknologi yang dialami oleh masyarakt teknologi adalah dengan munculnya teknologi informasi. Perkembangan teknologi ini sudah mulai sejak abad ke-19, menuju abad ke 20. Dapat diprediksikan bahwa abad ke 21 akan mempunyai perkembangan teknologi yang lebih mutakhir yang akan lebih bermanfaat bagi manusia. Teknologi informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data. Pengolahan tersebut termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang relevan, kurat dan tepat waktu. Informasi ini nantinya yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi strategis untuk pengambilan keputusan.
Salah satu alat yang termasuk pada teknologi informasi adalah gadget. Gadget adalah suatu perangkat yang memiliki fungsi lebih spesifik, bersifat praktis dan dirancang dengan teknologi canggih. Beberapa contoh perangkat yang masuk pada kategori gadget diantaranya adalah: Laptop, MP3 Player, Netbook, E-Reader, Kamera, Xboox, Smartphone, Tablet dan masih banyak perangkat lain yang memiliki fungsi khusus dan berbeda-beda.
Aplikasi dari penggunaan gadget ini tak lain adalah untuk terhubung ke internet dengan tujuan agar mendapatkan berbagai macam nuansa baru kehidupan. Akan tetapi jika penggunaan ini tidak diawasi oleh berbagai pihak maka akan menimbulkan permasalahn-permasalahan terlebih dalam permasalahan sosial karena Media teknologi sebagai ancaman bagi anak-anak. Seperti yang sudah terlihat banyak sekali kejadian-kejadian yang terjadi dan menimpa anak-anak bangsa akibat dari media, baik media massa, social maupun media elektronik (munif chatib, 2013 )
Di Indonesia, demam perangkat ini sudah berlangsung sejak 2008, tepat ketika Facebook naik daun dan penetrasi telefon seluler di negeri ini melewati angka 50 persen. Indonesia kini bahkan telah menjadi salah satu negara dengan pengguna Facebook dan Twitter terbesar di dunia, yang penggunanya masing-masing mencapai 51 juta dan 19,5 juta orang. Ini adalah kenikmatan
penduduk dunia abad ke-21. Jarak dan waktu bagaikan terbunuh oleh kemajuan teknologi informasi semacam ini.
Seorang pecandu gadget akan sulit untuk menjalani kehidupan nyata, misalnya mengobrol. Perhatian seorang pecandu gadget hanya akan tertuju kepada dunia maya. Dan bahkan jika dia dipisahkan dengan gadget, maka akan muncul perasaan gelisah.
Gadget ini sudah marak digunakan di berbagai kalangan, terlebih pada siswa. Respon siswa terhadap hal-hal baru, termasuk dalam kecanggihan dan keberagaman gadget, cukup tinggi. Walaupun belum tentu penggunaan gadget tersebut dimanfaatkan seluruhnya secara optimal dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Jika kita membuat bagan dari permasalah ini, maka akan terbentuk bagan sebagai berikut :
D.
Gambar. 2.2 Alur Pemikiran Penelitian
Menurut Krech, Crutchfield dan Ballachey (1982) dalam Rusli Ibrahim (2001), perilaku sosial seseorang itu tampak dalam pola respons antar orang
Dampak Positif - Memperluas wawasan - Sebagai sumber tambahan
pelajaran
- Sarana komunikasi jarak jauh - Memperbanyak teman Penggunaan Gadget Siswa siswa Perkembangan Teknologi Dampak Negatif - Munculnya kejahatan - Sosialisasi sangat berkurang - Memunculkan ketergantungan - Pikiran teracuni oleh sesuatu
yang dapat merusak moral - Hidup individual
yang dinyatakan dengan hubungan timbal balik antar pribadi. Perilaku sosial juga identik dengan reaksi seseorang terhadap orang lain (Baron & Byrne, 1991 dalam Rusli Ibrahim, 2001). Perilaku itu ditunjukkan dengan perasaan, tindakan, sikap keyakinan, kenangan, atau rasa hormat terhadap orang lain.
Maraknya penggunaan gadget oleh siswa tanpa adanya pengawasan akan memberikan dampak yang negative terhadap perilaku sosialnya, karena pada dasarnya siswa itu adalah makhluk sosial (W.A. Gerungan, 1978) yang membutuhkan pergaulan dengan orang lain, apabila pergaulannya terganggu oleh intensitas penggunaan gadgetnya maka secara tidak sadar siswa tersebut akan cenderung bersifat apatis dan acuh terhadap lingkungan sosialnya.
Selain itu bentuk dan perilaku sosial seseorang dapat pula ditunjukkan oleh sikap sosialnya. Sikap menurut Akyas Azhari (2004:161) adalah “suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Sedangkan sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap obyek sosial yang menyebabkan terjadinya cara-cara tingkah laku yang dinyatakan berulang-ulang terhadap salah satu obyek sosial (W.A. Gerungan, 1978). Apabila siswa dapat memanfaatkan teknologi dengan baik, maka akan memberikan dampak yang baik bagi perilakunya dan sebaliknya.