• Tidak ada hasil yang ditemukan

LITERASI MEDIA BARU PADA EMERGING ADULTHOOD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LITERASI MEDIA BARU PADA EMERGING ADULTHOOD"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

i

LITERASI MEDIA BARU PADA EMERGING ADULTHOOD

HALAMAN JUDUL

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh: Dewi Christianti

149114036

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2021

(2)

ii

HALAMAN PERSETUJUAN

LITERASI MEDIA BARU PADA EMERGING ADULTHOOD

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh: Dewi Christianti NIM: 149114036

Telah disetujui oleh:

Pembimbing skripsi

(3)

iii

HALAMAN PENGESAHAN

LITERASI MEDIA BARU PADA EMERGING ADULTHOOD

SKRIPSI

Dipersiapkan dan Ditulis oleh: Dewi Christianti NIM: 149114036

Telah dipertanggungjawabkan di depan Panitia Penguji Pada tanggal 16 Juni 2021

dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Panita Penguji

Nama Lengkap Tanda Tangan

Penguji 1: Passchedona Henrietta P.D.A.D.S., S.Psi., M.A. ... Penguji 2: Dr. Y.B. Cahya Widiyanto, M.Si. ... Penguji 3: Albertus Harimurti, S.Psi., M.Hum.. ...

Yogyakarta, 23 Juli 2021 Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma Dekan,

(4)

iv

HALAMAN MOTO

Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. -Amsal 23:18-

(5)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah saya

disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 23 Juli 2021 Penulis

(6)

vi

NEW MEDIA LITERACY IN EMERGING ADULTHOOD

Dewi Christianti ABSTRACT

This study aims to determine new media literacy in emerging adulthood. Subjects in this study amounted to 284 individuals consisting of 215 women and 69 men. The sampling selection technique used is a convenience sample. The data collection tool used is the adaptation scale of new media literacy (Koc & Barut, 2016). The subjects in this study had a high tendency of media literacy, in the Functional Consumption (FC) component (35 ≤  = 268), Critical Consumption (CC) (55 ≤  = 242), Functional Prosumption (FP) (35 ≤  = 224) components, and in the Critical Prosumption (CP) component (50 ≤  = 139). Based on a different test using the "mann whitney" statistical test with the help of SPSS Windows version 25, it was found that there was no difference in media literacy skills in emerging adulthood based on education level (p = 0.588 or sig value > 0.05).

(7)

vii

LITERASI MEDIA BARU PADA EMERGING ADULTHOOD

Dewi Christianti ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui literasi media baru pada

emerging adulthood. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 284

individu yang terdiri dari 215 orang perempuan dan 69 orang laki-laki. Teknik pemilihan sampling yang digunakan adalah convenience sample. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala adaptasi new media literacy (Koc & Barut, 2016). Subjek dalam penelitian ini memiliki kecenderungan literasi media yang tergolong tinggi, pada komponen Functional Consumption (FC) (35 ≤ = 268), komponen Critical Consumption (CC) (55 ≤  = 242), Functional

Prosumption (FP) (35 ≤  = 224), dan pada komponen Critical Prosumption (CP)

(50 ≤  = 139). Berdasarkan uji beda menggunakan Tes Statistik “mann whitney” dengan bantuan SPSS Windows versi 25 diketahui bahwa tidak ada perbedaan kemampuan literasi media pada emerging adulthood berdasarkan tingkat pendidikan (p= 0,588 atau nilai sig > 0,05).

(8)

viii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma:

Nama : Dewi Christianti

NIM : 149114036

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada

PerpustakaanUniversitas Sanata Dharma Yogyakarta, karya ilmiah yang berjudul:

LITERASI MEDIA BARU PADA EMERGING ADULTHOOD

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata

Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain,

mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu

permintaan izin dari saya maupun memberi royalty kepada saya selama tetap

mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal, 23 Juli 2021

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur dan terimakasih saya ucapkan kepada Tuhan Yesus dan Bunda

Maria atas segala karunia, berkat, bimbingan, dan pendampingan selama proses

penulisan skripsi ini. Berbagai macam emosi dirasakan selama proses penulisan

skripsi. Peneliti menyadari masih banyak kekurangan dalam penelitian ini.

Peneliti ingin menyampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada semua

pihak yang telah membantu kelancaran dalam penulisan skripsi ini, baik berupa

dorongan moril maupun materil. Karena penulis yakin tanpa bantuan dan

dukungan tersebut, sulit rasanya bagi peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.

Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terimakasih kepada:

1. Ibu Dr. Titik Kristiyani M. Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma yang telah menandatangi lembar pengesahan

skripsi ini.

2. Ibu Monica Eviandaru Madyaningrum Ph.D. selaku Kepala Program Studi

Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah membantu proses

akademik selama saya berproses di program studi ini.

3. Bapak P. Eddy Suharyanto, S.Psi., M.Si. selaku Dosen Pembimbing

Akademik yang telah membimbing serta memotivasi saya selama

menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

4. Ibu Henrietta P. D. A. D. S., S.Psi., M.A. selaku Dosen Pembimbing

Skripsi yang bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing,

mengarahkan, memotivasi, memberi semangat kepada saya untuk dapat

(10)

x

5. Dr. YB. Cahya Widiyanto., M. Si. dan Albertus Harimurti., S. Psi., M.

Hum. selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan masukan dan

terimakasih untuk diskusinya sehingga dapat memperkaya hasil dari

penelitian ini.

6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata

Dharma yang telah mengajar, mendidik serta memberikan ilmu

pengetahuan dan juga nilai-nilai kehidupan yang sangat berguna bagi saya

kedepannya.

7. Seluruh Staff Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma atas

kesabaran, keramahannya, dukungan serta bantuannya dalam urusan

administrasi kemahasiswaan selama menyelesaikan studi.

8. Bapak, Ibu, Adik, dan Simbah. Terimakasih atas doa, kasih sayang, cinta,

dukungan, dan kesabarannya selama ini kepada peneliti. Berkat kalian

semua peneliti bisa bertahan dan tetap berjuang untuk menyelesaikan

skripsi ini.

9. Nanda Putri, Om Wiji, Tante Lis, Simbah Kakung Putri. Terimakasih atas

doa, bantuan dan dukungan yang telah kalian berikan kepada peneliti.

Terimakasih juga sudah mengijinkan peneliti untuk tinggal di rumah

kalian selama ini, terimakasih sudah menjadi rumah dan keluarga kedua

bagi peneliti.

10. Jennifer Fransiska yang selalu membantu, dan mensupport. Terimakasih

Jenn sudah setia menjadi teman dari awal kuliah. Terimakasih sudah

(11)

xi

untuk beristirahat. Terimakasih juga atas kebahagian, canda, tawa, dan

kekonyolan sehingga pertemanan ini semakin berwarna.

11. Teman-teman SRIKANDI SQUADelight, Anin, Anggun, Devi, Eka, dan

Atika yang selalu mensupport saya dalam segala kondisi. Terimakasih atas

waktunya, kesabaran, canda, dan tawa. Kalian guys bukan lagi

teman-teman tapi saudara.

12. Teman-teman MOODBOOSTER, Nia, Seli, dan Wati teman sejak SD

yang selalu membuat peneliti happy, terimakasih atas segala canda, tawa,

ketidakjelasan, kekocakan, yang membuat peneliti merasa dicintai.

13. Fransiska Heni yang sudah setia menjadi teman. Terimakasih sudah mau

menjadi tempat peneliti berbagi cerita, mendengarkan setiap keluh

peneliti.

14. Mas Guntur yang sudah membantu peneliti selama proses penulisan

skripsi ini. Terimakasih sudah meluangkan waktunya, saran dan masukan,

motivasi, dan sharingnya.

15. Adi Putra yang sudah sama-sama berjuang untuk menyelesaikan skripsi.

Terimakasih Adi atas waktu, kerjasama, dukungan, saran, masukan,

sharing, canda, tawa, kepanikan, kebingungan, keriwehan yang sudah kita

lalui sehingga peneliti bisa menyelesaikan proses penelitian ini.

Terimakasih juga atas segala bentuk bantuannya. See you on toptopp, Di!

16. Leonardus Metrananda, Simon Galih, Bima Bharta, Shinta, dan Dito.

(12)

xii

peneliti dapat melalui proses perjalanan panjang ini. Sukses selalu dimana

pun kalian berada.

17. Teman-teman kelas D yang sangat luar biasa baik, peduli, dan perhatian.

Terimakasih teman-teman atas kerjasama dan dinamikanya, terimakasih

juga atas segala bentuk bantuannya meskipun sudah memiliki kesibukan

masing-masing tetap mau membantu peneliti.

18. Teman-teman bimbingan skripsi Ibu Henrietta P. D. A. D. S., S.Psi., M.A

baik angkatan 2014, 2015 dan 2018. Terimakasih sudah membantu

peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

19. Teman-teman KKN LV kelompok 49 Carys, Irin, Elen, Rina, Christo,

Aldo, Yoz, dan Jane. Terimakasih atas bantuan, dukungan, dan

kebersamaannya.

20. Seluruh teman-teman angkatan 2014 yang sangat luar biasa. Terimakasih

teman-teman atas dinamikanya. See you on top guys!

21. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang juga telah

membantu saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Semoga kebaikan kalian

membawa berkat bagi kalian dan kebaikan kalian akan peneliti ingat

sampai kapan pun.

Skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan tentunya memiliki

banyak kekurangan. Saya sangat terbuka atas kritik dan saran dari

pembaca untuk pengembangan penelitian ini kedepannya. Semoga

(13)

xiii

maaf apabila ada kata kesalahan kata dalam penulisan skripsi ini dan

(14)

xiv DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

HALAMAN MOTO ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

ABSTRACT ... vi

ABSTRAK ... vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 8 C. Tujuan Penelitian ... 8 D. Manfaat Penelitian ... 8 1. Manfaat Teoretis ... 8 2. Manfaat Praktis ... 8

BAB II LANDASAN TEORI ... 9

A. Literasi Media ... 9

1. Perkembangan Media ... 9

2. Definisi New Media Literacy ... 12

3. Komponen New Media Literacy ... 13

4. Manfaat New Media Literacy ... 17

B. Emerging Adulthood ... 17

C. Kerangka Konseptual ... 18

D. Pertanyaan Penelitian ... 21

BAB III METODE PENELITIAN ... 22

A. Jenis Penelitian ... 22

(15)

xv

C. Definisi Operasional... 22

D. Subjek Penelitian ... 23

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 23

F. Validitas Dan Reliabilitas ... 25

1. Validitas ... 25

2. Seleksi Item ... 25

3. Reliabilitas ... 26

G. Metode Analisis Data ... 26

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 29

A. Pelaksanaan Penelitian ... 29

B. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ... 29

C. Deskripsi Subjek Penelitian ... 31

D. Hasil Penelitian ... 33

1. Kategorisasi Subjek Penelitian ... 33

2. Uji Asumsi ... 44 3. Uji Beda ... 45 E. Pembahasan ... 50 BAB V PENUTUP ... 53 A. Kesimpulan ... 53 B. Saran ... 53

1. Bagi Emerging Adulthood ... 53

2. Bagi Penelitian Selanjutnya ... 54

DAFTAR PUSTAKA ... 55

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan data dari survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet

Indonesia (APJII) pada kuartal II di tahun 2019-2020 pengguna internet di

Indonesia sebanyak 196.71 juta orang atau mencapai 73.7% dari total

populasi penduduk Indonesia. Data ini menunjukkan peningkatan

sebanyak 8.9% dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2018. Peningkatan

pengguna internet diikuti juga oleh meningkatnya pengguna media sosial.

Pada tahun 2019 pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 150

juta orang dan di tahun 2020 pengguna aktif media sosial sebanyak 160

juta orang (hootsuite, 2019; hootsuite, 2020). Berdasarkan data dari We

are sosial yang diterbitkan pada 11 Januari 2021 pengguna aktif media

sosial di Indonesia saat ini mencapai 170 juta orang dan rata-rata

menghabiskan waktu selama 3 jam 14 menit sehari untuk mengakses

media sosial (hootsuite, 2021). Peran media sosial ditengah pandemi

sangat penting. Terlebih di era teknologi seperti sekarang, masyarakat

cenderung mencari informasi yang cepat, salah satunya melalui media

sosial (Liputan6.com).

Media sosial merupakan aplikasi berbasis internet dalam mana

pengguna dapat membuat dan bertukar konten, berinteraksi, dan

(17)

(2010) mendefinisikan media sosial sebagai aplikasi berbasis internet yang

dibangun di atas dasar ideologi dan teknologi media baru yang

memungkinkan pengguna dapat menciptakan dan bertukaran

user-generated content atau berbagai bentuk konten baik tulisan, video, foto, review, dan lainnya yang dibuat oleh seseorang seperti konsumen,

pelanggan, bahkan followers.

Manfaat media sosial secara umum menurut Khan, Swar, dan Lee

(2014) untuk koneksi sosial, keterlibatan sosial, mendapatkan informasi,

dan hiburan. Selain itu, menurut Sheth (2020) penggunaan media sosial

membawa banyak manfaat, terutama selama masa pandemi. Media sosial

juga menjadi sumber informasi utama selama kejadian darurat (Laato,

Islam, Islam, & Whelan, 2020; Mertens, Gerritsen, Duijndam, Salemink,

& Engelhard, 2020). Liu (2021) menyatakan bahwa media sosial menjadi

saluran infomasi penting yang dapat memberikan hasil yang positif pada

perilaku pencegahan, Hal ini dikarenakan media sosial menawarkan

fasilitas yang menarik dan bervariasi serta memberikan kemudahan dalam

hal berinteraksi, berkomunikasi dan bersosialisasi (Hariyanto, 2017).

Namun, media sosial juga kerap menimbulkan dampak negatif dan

permasalahan besar terkait arus informasi (Hariyanto, 2017). Media sosial

juga membawa trend baru dalam masyarakat sebagai ajang untuk

melakukan tindakan penindasan secara online yang dikenal dengan

sebutan cyberbullying (Utami & Baiti, 2018), pencemaran nama baik,

(18)

(Nursafala, 2020). Sehingga, untuk mengatasi atau mengurangi dampak

negatif tersebut diperlukan adanya UU yang mengatur tentang Informasi

dan Komunikasi Elektronik.

Pemerintah membuat Undang-undang Informasi dan Transasksi

Ekletronik (UU ITE). Dengan adanya UU ITE, Johny G Plate selaku

menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) meminta masyarakat

agar tidak memproduksi berita bohong atau hoaks terkait covid-19

(Permatasari, 2020). Selain itu, Henri Subiakto selaku Staff Ahli Menteri

Bidang Hukum Kemeterian Komunikasi dan Informatika juga

mengingatkan masyarakat untuk lebih selektif dan lebih bijak ketika

menerima informasi di media sosial terkait covid-19 dan vaksinnya

(Wicaksono, 2020). Upaya ini seharusnya membuat masyarakat lebih

berhati-hati dan tidak sembarangan dalam menggunakan teknologi

internet.

Faktanya masih banyak penyalahgunaan internet, seperti kasus-kasus

berikut. Seorang remaja berinisial AR (19) ditangkap oleh tim Passaka

Polres Majene karena menyebarkan berita hoaks di media sosial Facebook.

Pelaku menyebarkan berita bahwa pasien pertama positif covid-19 di

Sulbar telah meninggal dunia (Umar, 2020). Seorang remaja berinisial EP

(19) di Lombok, Nusa Tenggara Barat ditangkap karena menyebarkan

informasi hoaks tentang virus corona melalui akun media sosial facebook.

Pelaku memposting dan membagikan informasi berisi tiga korban corona

(19)

orang tak dikenal melalui pesan singkat SMS (Suud, 2020). Kasus serupa

terjadi di NTB, seorang perempuan berinisial DW (21) ditangkap petugas

Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat karea mengunggah informasi

hoaks tentang virus corona yang telah menyebar di wilayah Montong

Gamang, Kabupaten Lombok Tengah melalui akun media sosial facebook.

Pelaku mengunggah status karena kesal melihat unggahan akun milik

Sirru Wathoni yang berisi virus corona sudah masuk Montong Gamang,

tanpa mengecek kembali isi unggah Sirru Wathoni DW langsung

mengunggah di akun pribadinya (Pratama, 2020).

Berbagai bentuk perilaku yang telah dipaparkan tersebut

menunjukkan bahwa pengguna media digital di Indonesia belum paham

dalam menggunakan media digital secara baik dan benar, dan juga belum

memahami seutuhnya konsekuensi dari penggunaan media digital

(Nursafala, 2020). Menurut Samuel Abrijani Pangerapan selaku Direktur

Jendral Aptika Kemkominfo, dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan

digital agar masyarakat Indonesia dapat berkembang di era online ini

(Wardani, 2021). Selain itu, Global Head of WhatsApp Will Cathcart juga

mengatakan bahwa peningkatan literasi digital bisa mendukung

penggunaan teknologi yang positif dan membawa kebaikan (Wardani,

2021).

Eshet (2012) mendefinisikan literasi digital sebagai konsep

multidimensi yang terdiri dari teknis, kognitif, motorik, sosiologis, dan

(20)

memiliki keterampilan foto-visual, keterampilan reproduksi, keterampilan

bercabang, keterampilan informasi, keterampilan sosio-emosional, dan

pemikiran yang real-time (Eshet, 2012). Memiliki kemampuan yang

interaktif dan kritis terhadap media dapat membantu individu untuk lebih

baik dan bijak dalam menggunakan media. Namun, kemampuan untuk

menggunakan perangkat teknologi saja tidak cukup untuk mencapai

informasi yang valid dan terpercaya. Individu perlu memiliki berbagai

keterampilan media untuk dapat mengkonsumsi dan memproduksi kembali

konten media yang bijak dan bermanfaat (Koc & Barut, 2016).

Lin, Li, Deng, & Lee, (2013) menjelaskan empat komponen literasi

media yang terdiri dari: (1) functional consumsing, yang merupakan

kemampuan individu untuk mengakses konten media dan memahami

makna tekstualnya, (2) critical consuming yang merupakan kemampuan

individu untuk menganalisis dan menafsirkan konten media dalam konteks

sosial, ekonomi, politik, dan budaya tertentu, (3) functional prosuming

yang merupakan kemampuan individu untuk berpartisipasi dalam

menciptakan konten media, dan (4) critical prosuming yang merupakan

kemampuan individu untuk berpartisipasi secara interaktif dan kritis dalam

media.

Memiliki keterampilan literasi media dapat membantu individu

secara sadar dalam menggunakan media, membedakan dan mengevaluasi

konten media, memeriksa jenis media secara kritis, menyelidiki efek

(21)

pengetahuan bagi individu tentang bagaimana pesan dibuat, dikomersilkan

dan disebarkan ke seluruh dunia (Kellner & Share, 2007; Thoman & Jolls,

2004) Keterampilan literasi media sangat berguna untuk menghadapi

informasi yang ada dalam media baru seperti media sosial (Hariyanto,

2017). Keterampilan literasi media menjadi hal yang penting. Hal ini

dikarenakan penggunaan media sosial selama masa pandemi memiliki

potensi terhadap kesejahteraan psikologi individu (Liu, 2021).

Fenomena yang telah dipaparkan sebelumnya juga menunjukkan

bahwa pelaku penyebaran berita hoaks banyak dilakukan oleh kalangan

pengguna media sosial usia 18-25 tahun. Menurut Brown (2006, dalam

Coyne, Padilla-Walker, & Howard, 2013) salah satu ciri yang menonjol

dari emerging adulthood atau masa transisi menuju dewasa adalah

penggunaan media. Masa transisi menuju dewasa menandai seseorang

mulai mendapatkan otonomi untuk menjelajah dan mengembangkan

identitas mereka dalam hal cinta, pekerjaan, dan pandangan terhadap

dunia, namun pada periode ini mereka belum sepenuhnya mengambil

peran dewasa (Arnett, 2000). Proses masa transisi menuju dewasa berawal

dari usia 18 tahun dan berakhir pada usia 25 tahun. Menurut Alloy Media

& Marketing (2009, dalam Coyne, et al, 2013) emerging adulthood

menghabiskan lebih banyak waktu untuk menggunakan media daripada

terlibat dalam kegiatan lain.

Banyaknya waktu yang dihabiskan oleh emerging adulthood dalam

(22)

(Roberts, Foeher, & Rideout, 2005 dalam Coyne, et al, 2013). Masa

transisi menuju dewasa diharapkan memiliki kemampuan literasi media

yang baik. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak hanya mengkonsumsi

media, tetapi juga secara aktif berpartisipasi dalam memproduksi, kembali

menghasilkan konten media yang fungsional, dan mengkritisi konten

media dengan melibatkan aspek sosial, emosional dan aspek budaya media

baru beserta fitur teknisnya (Koc & Barut, 2016). Literasi media dalam

institusi pendidikan, kegiatan edukasi media dapat membantu siswa dalam

mengembangkan rasa percaya diri, keingintahuan intelektual dan berpikir

kritis untuk membuat penilaian tentang pesan media yang mungkin mereka

temukan di kehidupan masa depan mereka (Hobbs, 2011 dalam Koc &

Barut, 2016).

Studi meta-analisis yang dilakukan oleh Vahedi, Sibalis, dan

Sutherland (2018) menemukan efek positif pada keterampilan literasi

media dan sikap serta niat. Meta-analisis ini memberikan bukti bahwa

intervensi literasi media memiliki pengaruh positif tetapi kecil pada sikap

dan niat perilaku remaja terhadap zat, merokok, dam perilaku seksual

berisiko. Kemudian pengaruh positif yang kecil hingga sedang tentang

keterampilan literasi media yang menunjukkan bahwa keterampilan literasi

media dikaitkan dengan perubahan positif dalam sikap dan niat perilaku.

Ada juga penelitian yang dilakukan oleh Saadah (2020) terkait

kemampuan new media literacy remaja dalam mengenali cyber sexual

(23)

Surabaya memiliki kemampuan new media literacy yang baik sehingga

remaja mampu mengenali bentuk perilaku cyber sexual harassment pada

media sosial Twitter.

Berdasarkan fenomena atau fakta dan manfaat literasi media

tersebut peneliti ingin mengetahui literasi media baru pada emerging

adulthood.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan yang telah

dipaparkan diatas sebelumnya, penelitian ini ingin mengetahui

bagaimanakah literasi media baru pada emrging adulthood.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui literasi media baru pada

emerging adulthood.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu

pengetahuan dan informasi tentang literasi media baru dalam bidang

Psikologi Sosial dan Psikologi Media Massa.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi

peneliti, emerging adulthood, dan masyarakat guna meningkatkan

(24)

9 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Literasi Media

1. Perkembangan Media

Seiring dengan perkembangan teknologi, penelitian tentang

literasi media menunjukkan pergeseran yang progresif dalam

maknanya (Lin et al., 2013). Chen, Wu, & Wang (2011) secara

historis literasi telah berkembang dari literasi media klasik (membaca,

menulis, dan pemahaman) ke literasi media audiovisual (media

elektronik) ke literasi media digital (media digital) ke literasi

informasi (komputer dan media digital) dan saat ini ke literasi media

baru yang lebih komprehensif (internet dan web 2.0). Untuk

menggarisbawahi pergeseran tersebut Cappello et al., (2011)

menerapkan konsep ‘melek huruf’. Melek media mengacu pada kemampuan individu untuk dapat memproduksi konten media selain

mengkonsumsi konten media (Chen, et al, 2011). Chen et al., (2011)

mengemukakan bahwa individu perlu menjadi ‘melek’ media baru untuk dapat berpartisipasi secara bertanggungjawab di masyarakat

abad baru. Selain itu, supaya individu dapat sepenuhnya terlibat dalam

lingkungan media baru (Lin et al., 2013).

Media baru muncul di awal abad ke-21. Media baru mengacu

pada semua platform sosial budaya berbasis teknologi dimana setiap

(25)

setiap penggunanya (Koc & Barut, 2016). Media baru dicirikan

dengan adanya interaktivitas digital, partisipasi kreatif dan kolektif,

kemampuan jaringan, manipulasi data, modularitas, hibriditas, dan

virtualitas (Chen, et al, 2011; Lin et al, 2013). Selain itu, ciri lain dari

media baru ialah adanya fitur lingkungan komputasi dimana-mana,

yang berarti pesan digital dapat diakses dimana saja dan kapan saja

melalui perangkat digital, misalnya tablet dan ponsel pintar (Koc &

Barut, 2016).

Menurut Chen et al, (2011) literatur terbaru tentang media baru

fokus pada aspek sosial budaya. Hal tersebut sejalan dengan yang

dikatakan oleh Lievrouw dan Livingstone (2002 dalam Chen et al,

2011) bahwa definisi media baru tidak terbatas pada karakteristik

teknik, namun definisi media baru harus diperluas dengan

memasukkan karakteristik sosio budaya. Bentuk media baru yang

paling umum adalah alat web 2.0. Web 2.0 adalah generasi kedua atau

versi baru dari platform World Wide Web yang memungkinkan

user-generated content, pemograman yang dinamis dan ringan, kontribusi

aktif, folksonomy (penandaan sosial ), kecerdasaan kolektif, dan

komunikasi ke banyak web (Butler, 2012, O’Reilly, 2015; Selwyn, 2007 dalam Koc & Barut, 2016). Platform web 2.0 mempromosikan

partisipasi dan kontribusi yang proaktif, jaringan sosial, dan beragam

interaksi (Maloney, 2007; McLoughlin & Lee, 2007; Selwyn, 2007

(26)

jejaring sosial (Facebook, Twitter), situs berbagai gambar dan video

(Youtube, Istagram), blogs, wikis, mash-ups, dunia virtual 3D

(Second Life).

Meningkatnya perbincangan media baru menuntut adanya jenis

literasi baru yang disebut dengan “new media literacy” (NML). NML berfokus pada kreasi kolektif yang inovatif dari konten media, yaitu

melalui pengiriman konten statis, sosial interaksi selama selancar

terisolasi, partisipasi aktif, dan keterlibatan atas penerimaan pasif

(Jenkins, 2006; Maloney, 2007 dalam Koc & Barut, 2016). Chen et

al., (2011) mengatakan bahwa literasi media baru pada dasarnya

dipahami sebagai kombinasi antara keterampilan informasi,

keterampilan literasi, komputer konvensional, dan keterampilan

komunikasi. Berdasarkan hal tersebut kemudian Chen et al., (2011)

mengidentifikasi NML sebagai dua kontium, yaitu dari konsumsi

hingga prosumsi literasi media, dan dari fungsional ke literasi media

kritis. Dua kontinum tersebut Chen et al., (2011) kemudian membagi

menjadi empat komponen, yaitu konsumsi fungsional, konsumsi kritis,

prosumsi fungsional, dan prosumsi kritis. Menurut Chen, et al (2011)

seseorang yang melek media baru harus memiliki keterampilan yang

mencakup semua komponen tersebut. Sehingga individu dapat secara

(27)

2. Definisi New Media Literacy

Literasi media secara umum didefinisikan sebagai kemampuan

untuk mengakses media, memahami, mengevaluasi secara krtitis

berbagai aspek media dan konten media untuk menciptakan

komunikasi dalam berbagai konteks (European Commission, 2007

dalam Zhang, Zhu, & Sang 2014). Senada dengan hal tersebut Hobbs

(1999) mendefinisikan media literacy sebagai kemampuan untuk

mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan

pesan media dalam berbagai bentuk. Livingstone (2004)

menambahkan bahwa literasi media sebagai kemampuan untuk

mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat konten media

di berbagai konteks.

Eshet (2012) mendefinisikan literasi digital sebagai konsep

multidimensi yang terdiri dari teknis, kognitif, motorik, sosiologis dan

aspek emosional. Menurut Eshet (2012) seseorang yang melek digital

harus memiliki keterampilan foto-visual (memahami pesan

grafis/visual), keterampilan reproduksi (membuat konten media yang

bermakna), keterampilan bercabang (membangun pengetahuaan dari

domain kombinasi yang kompleks dan fleksibel), keterampilan

informasi (menilai akurasi dan kualitas konten media), keterampilan

sosio-emosional (berkomunikasi dan bekerja dengan orang lain di

dunia maya) dan keterampilan pemikiran real-time (multitasking atau

(28)

juga melibatkan keterampilan serupa seperti mengakses, mendekode,

menganalisis, mengevaluasi dan memproduksi baik tertulis maupun

konten elektronik media seperti teks, gambar, audio, video dan

sebagainya (Hobbs & Jensen, 2009; Zhang, Zhu, & Sang, 2014).

Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa, literasi

media baru didefinisikan sebagai kemampuan individu mengakses,

mendekode, menganalisis, mengevaluasi, memproduksi dan

mengkomunikasikan secara kritis konten media dalam berbagai

bentuk sehingga dapat membantu individu dalam mengkonsumsi dan

kembali menghasilkan konten media yang fungsional.

3. Komponen New Media Literacy

Teori kerangka kerja literasi media baru pertama kali

dikembangkan oleh Chen et al, (2011) yang terdiri dari dua kontinu

yaitu dari consuming ke prosuming dan dari functional ke critical,

yang kemudian dikembangkan menjadi empat komponen literasi

media yaitu functional consuming (FC) kemampuan individu untuk

mengakses konten media dan memahami makna tekstualnya, critical

consuming (CC) kemampuan individu untuk menganalisis dan

menafsirkan konten media dalam konteks sosial , ekonomi, politik,

dan budaya tertentu secara kritis, functional prosuming (FP)

kemampuan individu untuk berpartisipasi dalam menciptakan konten

media, dan critical prosuming (CP) kemampuan individu untuk

(29)

Keempat komponen literasi media kemudian dijabarkan oleh Lin et al

(2013) sehingga menjadi sepuluh indikator yang lebih terperinci.

a. Komponen functional consuming (FC) memiliki dua indikator

yaitu:

o Consuming skill yang merupakan serangkaian kemampuan teknis yang diperlukan individu ketika mengkonsumsi konten

media, misalnya individu mengetahui bagaimana cara

menggunakan teknologi informasi (internet), bagaimana

carnya mencari atau menemukan informasi, dan sebagainya.

o Understanding yang merupakan kemampuan individu dalam memahami makna konten media secara tepat di tingkat literal.

contohnya, kemampuan individu untuk dapat menangkap ide

orang lain di berbagai platform, misalnya video, blog, media

sosial , dll, dan dapat menafsirkan arti dari suatu bentuk

singkat terbaru atau emotikon.

b. Komponen critical consuming (CC) memiliki tiga indikator yaitu:

1) Analysis merupakan kemampuan individu untuk

mendekonstruksi pesan media yang terkandung dalam konten

media. Indikator analysis dapat dilihat sebagai ‘analisis

tekstual’ semiotic yang berfokus pada bahasa, genre, dan kode berbagai modalitas.

2) Synthesis merupakan kemampuan individu untuk

(30)

mengintegrasikan sudut pandang mereka sendiri dan untuk

merekonstruksi pesan media. Misalnya, individu diharapakan

membandingkan berita dengan tema yang sama dari berbagai

sumber. Indikator synthesis lebih dikategorikan dalam

konsumsi.

3) Evaluation mengacu pada kemampuan individu untuk

mempertanyakan, mengkritisi, dan menantang kredibilitas

suatu isi atau konten media. Dibandingkan analisis dan

sintesis, indikator evaluasi merepresentasikan kritikalitas yang

jauh lebih tinggi. Indikator ini menuntut individu untuk dapat

menafsirkan konten media dengan mempertimbangkan isu-isu

seperti identitas, relasi kekuasaan, dan ideologi.

c. Komponen functional prosuming (FP) memiliki tiga indikator

yaitu:

1) Prosuming skill mengacu pada kemampuan teknis yang

diperlukan individu untuk memproduksi atau menciptakan

konten media. Misalnya, melibatkan kemampuan individu

untuk membuat akun komunikatif online seperti Skype, Blog,

Gmail, Facebook, dll., kemampuan menggunakan perangkat

lunak untuk menghasilkan berbagai artefak digital seperti

gambar atau klip video, dan untuk melakukan pemrograman

(31)

2) Distribution mengacu pada kemampuan individu untuk

menyebarkan informasi yang ada. Contohnya, individu mampu

menggunakan fungsi bawaan dari situs jejaring sosial untuk

berbagi perasaan mereka dengan memberikan ‘suka/tidak suka’, berbagai pesan media dengan memfungsikan layanan bagikan di berbagai platform media.

3) Production kemampuan untuk menduplikasi (sebagian atau

seluruhnya) atau mencampur konten media. Tindakan dari

produksi termasuk memindahi atau mengetik dokumen

hardcopy ke dalam format digital, menghasilkan klip video

dengan mencampurkan gambar dan audio, dan coretan online

melalui blog atau Facebook.

d. Komponen critical prosuming (CP) memiliki dua indikator yaitu:

1) Participation mengacu pada kemampuan untuk berpartisipasi

secara interaktif dan kritis dalam lingkungan media baru yang

melibatkan kecerdasan kolektif, kesadaran akan nilai-nilai

sosial budaya, ideologi dan relasi kekuasaan yang tertanam

dalam partisipasinya di media. Misalnya, individu diharapkan

untuk secara aktif membangun dan menyempurnakan ide satu

sama lain dalam platform media tertentu seperti blog, ruang

chat, skype, facebook, dll.

2) Creation mengacu pada kemampuan membuat konten media

(32)

budaya dan ideologi yang tertanam. Creation lebih banyak

melibatkan kekritisan dari individu. Indikator creation lebih

diilustrasikan sebagai kemampuan individu untuk secara kritis

membuat konten media yang bertujuan untuk mengekspos

karya seni asli secara online, atau untuk membuat ulang konten

online menjadi kreasi mereka sendiri.

4. Manfaat New Media Literacy

Literasi media dapat membantu individu untuk mencapai

informasi yang valid dan terpercaya serta aktif berpartisipasi dalam

lingkungan media (Koc & Barut, 2016). Selain itu, memiliki beragam

literasi media dapat membantu individu dalam mengkonsumsi dan

kembali menghasilkan konten media yang fungsional (Koc & Barut,

2016). Kellner dan Share (2007) literasi media membantu individu

secara sadar dalam menggunakan media, membedakan dan

mengevaluasi konten media, memeriksa jenis media secara kritis,

menyelidiki efek media, dan selanjutnya dapat mengembangkan

konten media yang alternatif. Selain itu, literasi media juga dapat

memberikan pengetahuan kepada individu tentang bagaimana konten

media dibuat, dikomersilkan, dan disebarkan ke seluruh dunia

(Thoman & Jolls, 2004).

B. Emerging Adulthood

Emerging adulthood merupakan sebuah konsep baru dari

(33)

puluhan, dengan berfokus pada usia 18-25 tahun, teori Emerging

adulthood atau masa transisi menuju dewasa ini dipelopori oleh Arnett

(2000). Menurut Arnett (2000) secara teoritis dan empiris masa transisi

menuju dewasa dibedakan oleh kemandirian relatif yaitu dalam hal peran

sosial dan harapan normatif yang ada.

Menurut Armett (2000) pada masa transisi menuju dewasa

seseorang melepaskan ketergantungannya pada orangtua di masa

kanak-kanak dan remaja, namun mereka belum sepenuhnya memiliki

tanggungjawab sebagai orang dewasa. Hal ini memungkinkan seseorang

pada masa transisi menuju dewasa seringkali mencoba menjelajah

berbagai kemungkinan akan arah hidup dalam hal pekerjaan, cinta, dan

pandangan terhadap dunia tanpa menentukan arah masa depan secara pasti

(Arnett, 2000).

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa masa

transisi menuju dewasa adalah masa perkembangan manusia dari usia

akhir remaja hingga awal dewasa dalam batas usia 18-25 tahun yang

memiliki tugas perkembangan pembentukan identitas seperti dalam hal

pekerjaan, cinta dan pandangan terhadap dunia.

C. Kerangka Konseptual

Seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi, kehidupan

manusia tidak dapat dipisahkan dari media. Media menjadi salah satu

kebutuhan bagi masyarakat. Media seperti media sosial menawarkan

(34)

hal berinteraksi, berkomunikasi dan bersosialisasi (Hariyanto, 2017).

Namun, hadirnya media seperti media sosial seperti dua mata pisau, di satu

sisi berdampak baik dan positif, tetapi disisi lain berdampak buruk dan

negatif, sehingga individu perlu bijak dalam menggunakan dan

memanfaatkan media. Kemampuan menggunakan dan memanfaatkan

media disebut dengan literasi media.

Eshet (2012) mendefinisikan literasi digital sebagai konsep

multidimensi yang terdiri dari teknis, kognitif, motorik, sosiologis, dan

aspek emosional. Sebagai seorang yang melek digital, orang harus

memiliki keterampilan foto-visual, keterampilan reproduksi, keterampilan

bercabang, keterampilan informasi, keterampilan sosio-emosional, dan

pemikiran yang real-time (Eshet, 2012). Serupa dengan yang

dikemukankan oleh Eshet (2012), literasi media didefinisikan sebagai

kemampuan individu untuk mengakses, mendekode, menganalisis,

mengevaluasi dan memproduksi secara kritis berbagai aspek media dan

konten media baik tertulis maupun elektronik seperti teks, gambar, audio,

video dan sebagainya (Hobbs & Jensen, 2009; Zhang, Zhu, & Sang, 2014).

Memiliki kemampuan literasi media dapat membantu individu untuk

mencapai informasi yang valid dan terpercaya serta aktif berpartisipasi

dalam lingkungan media (Koc & Barut, 2016). Selain itu, memiliki

beragam literasi media dapat membantu individu dalam mengkonsumsi

dan kembali menghasilkan konten media yang fungsional (Koc & Barut,

(35)

sadar dalam menggunakan media, membedakan dan mengevaluasi konten

media, memeriksa jenis media secara kritis, menyelidiki efek media, dan

selanjutnya dapat mengembangkan konten media yang alternatif. Selain

itu, literasi media juga dapat memberikan pengetahuan kepada individu

tentang bagaimana konten media dibuat, dikomersilkan, dan disebarkan ke

seluruh dunia (Thoman & Jolls, 2004).

Keterampilan literasi media menjadi hal yang penting bagi masa

transisi menuju dewasa, terlebih hal ini dikarenakan penggunaan media

sosial selama masa pandemi memiliki potensi terhadap kesejahteraan

psikologi individu (Liu, 2021). Diharapkan pada masa transisi menuju

dewasa seseorang memiliki kemampuan literasi media yang baik. Hal ini

dimaksudkan agar seseorang pada masa transisi menuju dewasa dalam

menggunakan media tidak hanya sebatas mengkonsumsi media, tetapi juga

secara aktif berpartisipasi dalam memproduksi, kembali menghasilkan

konten media yang fungsional, dan mengkritisi konten media dengan

melibatkan aspek sosial , emosional dan aspek budaya media baru beserta

fitur teknisnya (Koc & Barut, 2016).

Berdasarkan paparan di atas, peneliti ingin mengetahui literasi

media baru pada emerging adulthood dengan menggunakan teoritical

framework empat komponen milik (Chen et al, 2011; Lin et al, 2013).

Yang terdiri dari: (1) functional consumsing, yang merupakan kemampuan

individu untuk mengakses konten media dan memahami makna

(36)

untuk menganalisis dan menafsirkan konten media dalam konteks sosial,

ekonomi, politik, dan budaya tertentu, (3) functional prosuming yang

merupakan kemampuan individu untuk berpartisipasi dalam menciptakan

konten media, dan (4) critical prosuming yang merupakan kemampuan

individu untuk berpartisipasi secara interaktif dan kritis dalam media.

Penelitian ini akan mendeskripsikan kemampuan literasi media

baru pada emerging adulthood. Komponen literasi media yang dihasilkan

menggambarkan bagaimana kemampuan literasi media baru pada

emerging adulthood.

D. Pertanyaan Penelitian

(37)

22 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Penelitian

kuantitatif merupakan jenis penelitian yang menggunakan analisis data

dengan menggunakan prosedur statistik. Menurut Creswell (2009 dalam

Supratiknya, 2015) penelitian kuantitatif adalah metode pengujian teori

secara objektif dengan cara memeriksa atau meneliti hubungan antar

variabel-variabel yang dapat diukur, sehingga data numerik yang

dihasilkan dapat dianalisis secara statistik. Penelitian ini adalah penelitian

deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk

menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik

mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu (Azwar, 2009).

B. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah new media

literacy.

C. Definisi Operasional

Definisi operasional dari literasi media baru didefinisikan sebagai

kemampuan emerging adulthood dalam mengakses, mendekode,

menganalisis, mengevaluasi, memproduksi dan mengkomunikasikan

secara kritis konten media dalam berbagai bentuk sehingga dapat

(38)

konten media yang fungsional. Media literacy akan diukur dengan

menggunakan skala new media literas yang diadaptasi dari Koc dan Barut

(2016). Skor total pada skala menunjukkan tinggi rendahnya media

literacy subjek. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi

tingkat literasi medianya, begitu sebaliknya. Semakin rendah skor yang

diperoleh, semakin rendah tingkat literasi medianya.

D. Subjek Penelitian

Subjek diperoleh dengan menggunakan convenience sample, yaitu

anggota sampel dipilih berdasarkan kemudahan atau ketersediaan untuk

mengaksesnya (Creswell, 2014; Supratiknya, 2015). Penelitian ini

menggunakan subjek penelitian dengan kriteria atau ciri-ciri sebagai

berikut:

a. Subjek penelitian berusia 18-25 tahun

b. Subjek memiliki akun media sosial

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah dengan menyebarkan alat ukur berupa skala yang berisi tentang

pernyataan-pernyataan terkait new media literacy. Skala adalah alat ukur

psikologis yang disusun dari stimulus yang berupa pertanyaan atau

pernyataan untuk mengungkap atribut-atribut tertentu melalui respon

subjek terhadap pertanyaan atau pernyataan yang diberikan (Azwar, 2009).

Model skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala

(39)

dan mudah dipahami. Selain itu, model penskalaan ini dapat menunjukkan

pro dan kontra, positif dan negatif serta mengungkapkan kesetujuan dan

ketidaksetujuan seseorang pada suatu objek sosial (Azwar, 2009).

Penskalaan model likert, subjek akan diminta untuk menyatakan

kesetujuan-ketidaksetujuannya dalam sebuah kontinum yang terdiri dari

tujuh respon yaitu: “sangat sesuai”, “sesuai”, “agak sesuai”, “antara sesuai dan tidak”, “agak tidak sesuai”, “tidak sesuai” dan “sangat tidak sesuai”. Pemberian skor pada pernyataan dalam skala yaitu “sangat sesuai” diberi skor 7, “sesuai” diberi skor 6, “agak sesuai” diberi skor 5, “antara sesuai dan tidak” diberi skor 4, “agak tidak sesuai” diberi skor 3, “tidak sesuai” diberi skor 2 dan “sangat tidak sesuai” diberi skor 1.

Penelitian ini menggunakan skala new media literacy yang

diadaptasi dari Koc dan Barut (2016). Skala ini berisikan

komponen-komponen yang terdapat di dalam media literacy, yaitu functional

consuming (FC), critical consuming (CC), functional prosuming (FP), dan critical prosuming (CP).

Skala new media literacy milik Koc dan Barut (2016) ini skala

berbahasa asing. Oleh karena itu, peneliti melakukan adaptasi dengan

menerjemahkan skala ke dalam Bahasa Indonesia terlebih dahulu melalui

metode back-translation. Back-translation ialah proses menerjemahkan

dokumen atau teks yang sebelumnya diterjemahkan kembali ke bahasa

sumbernya. Terjemahan balik melibatkan penerjemahan kuesioner kembali

(40)

Proses penerjemahan melibatkan dua penerjemah dan dosen pembimbing.

Penerjemah pertama adalah seorang Warga Negara Indonesia yang

berlatarbelakang Pendidikan Bahasa Inggris, aktif menggunakan bahasa

Inggris dan memiliki pengalaman tinggal di negara lain yang bahasa

utamanya adalah bahasa Inggris. Kemudian penerjemah kedua adalah

seorang Warga Negara Indonesia yang berlatarbelakang Pendidikan

Bahasa Inggris, bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga

bahasa, serta aktif menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan

bahasa Inggris. Tujuannya untuk mengidentifikasi perbedaan di antara

versi keduanya yang mungkin disebabkan oleh kesalahan dalam

terjemahan sebenarnya, yaitu terjemahan dari sumber ke dalam bahasa

target (Behr, 2016).

F. Validitas Dan Reliabilitas

1. Validitas

Validitas adalah kualitas esensial yang menunjukkan sejauh

mana suatu alat tes sungguh-sungguh mengukur atribut psikologis

yang hendak diukur (Supratiknya, 2014). Valid tidaknya suatu alat

ukur dapat dilihat dari ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam

menjalankan fungsi ukurnya (Azwar, 2011).

2. Seleksi Item

Peneliti melakukan pengujian daya beda item melalui proses uji

coba skala. Hal ini dilakukan untuk melihat kualitas dari skala

(41)

satunya dengan melihat koefisien korelasi item total (rit) (Azwar,

2011). Nilai korelasi item total dipandang memuaskan jika nilai rit ≥

0,20, makin tinggi korelasi item total, makin baik (Supratiknya, 2014).

Uji coba terpakai dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2021 sampai

dengan tanggal 12 Mei 2021 dengan responden sejumlah 284 orang.

Perhitungan dilakukan dengan bantuan aplikasi IMB SPSS Statistics

versi 25.

3. Reliabilitas

Reliabilitas adalah konsistensi hasil pengukuran jika prosedur

pengetesan dilakukan secara berulangkali terhadap suatu populasi

individu atau kelompok (Supratiknya, 2014). Penelitian ini akan

menggunakan koefisien Alpha’s Cronbach untuk menghasilkan

reliabilitas konsistensi internal (Supratiknya, 2014). Reliabilitas

ditentukan berdasarkan koefisien reliabilitas internal yang bergerak

dari angka 0 sampai 1,00. Koefisien reliabilitas dipandang memuaskan

jika menghasilkan angka ≥ 0,70 yang berarti reliabilitas tesnya reliabel

(Kline, 1986 dalam Supraktiknya, 2014).

G. Metode Analisis Data

Metode analisis data merupakan metode yang digunakan dalam

melakukan analisis data, seperti analisis deskriptif, analisis korelasi, dan

lain-lain (Priyatno, 2010). Analisi data penelitian bertujuan menghitung

(42)

peneliti menggunakan analisis uji normalitas dan uji deskriptif. Pertama

peneliti melakukan uji normalitas, uji normalitas dilakukan untuk

mengetahui data terdistribusi normal atau tidak dan dalam uji normalitas

peneliti menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov Test (Priyatno, 2010).

Dalam melakukan uji normalitas peneliti menggunakan aplikasi IMB

SPSS Statistics versi 25. Pengambilan keputusan uji normalitas dilihat

berdasarkan taraf signifikasi (Asymp.sig), jika taraf signifikasinya

(Asymp.sig) > 0,05 menunjukkan bahwa data terdistribusi dengan normal,

sedangkan jika taraf signifikansinya (Asymp.sig) < 0,05 menunjukkan

bahwa data tidak terdistribusi dengan normal (Priyatno, 2010).

Kedua, peneliti melakukan analisis deskriptif. Analisis deskriptif

digunakan untuk merepresentasikan karakteristik dari fenomena sosial.

Analisis dekriptif bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subjek

penelitian berdasarkan data dari variabel yang diperoleh dari kelompok

subjek yang diteliti dan tidak bermaksud untuk menguji hipotesis (Azwar,

(43)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2021 dan berakhir

pada tanggal 12 Mei 2021. Pengambilan data dalam penelitian ini

dilakukan secara online menggunakan Google Forms. Tautan dari

kuesioner dicantumkan pada profil akun Instagram dan akun Twitter

peneliti, sehingga subjek penelitian dapat dengan mudah mengakses

kuesioner tersebut. Peneliti juga meminta bantuan dari beberapa teman,

saudara, dan selebtwitt untuk turut menyebarkan tautan kuesioner pada

sosial media mereka seperti WhatsApp, Instagram, Twitter, dan Line.

Peneliti memperoleh 284 subjek penelitian yang berasal dari berbagai

daerah.

B. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Pada skala literasi media, berdasarkan perhitungan korelasi skor

antara item dengan skor total skala menggunakan Pearson’s product

moment correlation tidak ditemukan item yang memiliki rit ≤ 0,20

(44)

Tabel 1

Koefisien Korelasi Item Total (rit)

No. Komponen Literasi Media Kisaran rit

1. Functional Consuming (FC) 0,257 – 0,560

2. Critical Consuming (CC) 0,447 – 0,617

3. Functional Prosuming (FP) 0,425 – 0,637

4. Critical Prosuming (CP) 0,404 – 0,637

Koefisien Alpha’s Cronbach pada skala literasi media setelah dilakukan

uji coba item menghasilkan ɑ = 0,934. Nilai tersebut menunjukkan bahwa

skala literasi media secara keseluruhan memiliki reliabilitas yang tinggi

dan sangat memuaskan.

Tabel 2

Koefisien Reliabilitas Tiap Komponen Literasi Media No. Komponen Literasi

Media Koefisien Reliabilitas Jumlah Item 1. Functional Consuming (FC) 0,731 7 2. Critical Consuming (CC) 0,865 11 3. Functional Prosuming (FP) 0,819 7 4. Critical Prosuming (CP) 0,879 10

Berdasarkan hasil uji analisis menggunakan IMB SPSS Statistics versi

25, koefisien Alpha’s Cronbach untuk setiap komponen Literasi Media

(45)

Prosuming (FP) dan Critical Prosuming (CP) masing-masing

mendaptakan nilai 0,731, 0,865, 0,819 dan 0,879. Nilai tersebut

menunjukkan bahwa setiap komponen literasi media memiliki reliabilitas

yang tinggi dan sangat memuaskan.

C. Deskripsi Subjek Penelitian

Pengguna media sosial (whatsapp, instagram, facebook, dll) yang

berpartisipasi dalam penelitian ini sejumlah 284 subjek. Berikut adalah

deskripsi subjek dalam penelitian ini:

Tabel 3

Subjek penelitian berdasarkan usia

Usia Jumlah Presentase Total

18 29 10,2% 284 19 19 6,7% 20 16 5,6% 21 22 7,7% 22 25 8,8% 23 38 13,4% 24 62 21,8% 25 73 25,7%

Berdasarkan usia, dapat diketahui sebanyak 29 subjek berusia 18

tahun, 19 subjek berusia 19 tahun, 16 subjek berusia 20 tahun, 22 subjek

berusia 21 tahun, 25 subjek berusia 22 tahun, 38 subjek berusia 23 tahun,

(46)

Tabel 4

Subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Presentase Total

Laki-laki 69 24.3%

284

Perempuan 215 75.7%

Berdasarkan jenis kelamin, dapat diketahui sebanyak 69 subjek

berjenis kelamin laki-laki dan sebanyak 215 subjek berjenis kelamin

perempuan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa subjek penelitian

didominasi oleh subjek berjenis kelamin perempuan.

Tabel 5

Subjek penelitian berdasarkan tingkat pendidikan

Pendidikan Jumlah Presentase Total

SMA/SMK 116 40.8% 284 S1 134 47.2% S2 4 1.4% Akademi 21 7.4% Lainnya 9 3.2%

Berdasarkan tingkat pendidikan, subjek didominasi oleh subjek

dengan tingkat pendidikan Strata 1/S1 yaitu sebanyak 134 subjek.

Kemudian subjek dengan tingkat pendidikan SMA/SMK sebanyak 116

subjek. Sementara subjek dengan tingkat pendidikan Akademi sebanyak

21 subjek, 9 subjek berada ditingkat pendidikan lainnya, dan 4 subjek

(47)

D. Hasil Penelitian

1. Kategorisasi Subjek Penelitian

a. Kategorisasi komponen Functional Consumption (FC)

Peneliti melakukan perhitungan data secara manual untuk

mencari mean teoritis. Hal tersebut dirumuskan sebagai berikut:

Mean Teoritis = (Skor terendah x jumlah item) + (Skor tertinggi x jumlah item)

2 Mean Teoritis = (1 x 7) + (7 x 7) 2 = 7 + 49 2 = 56/2 = 28

Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan diperoleh mean teoritis

dari variabel literasi media komponen Functional Consumption (FC)

yaitu 28. Setelah dilakukan pengukuran mean teoritis kemudian

dilakukan perhitungan standar deviasi dengan rumus sebagai berikut:

Range = Xmax  Xmin

= (7 x 7)  (1 x 7) = 49  7 = 42 Std. Deviasi = Range / 6 = 42 / 6 = 7

Peneliti membuat kategorisasi untuk mengelompokkan subjek pada

tiga kategori Functional Consumption (FC) yaitu rendah, sedang, dan

(48)

Kategori Rendah =   M  1SD   28  1(7)   28 7  < 21 Kategori Sedang = M  1SD ≤   M + 1SD 28  1(7) ≤   28 + 1(7) 28  7 ≤   28 + 7 21 ≤   35 Kategori Tinggi = M + 1SD ≤  28 + 1(7) ≤  28 + 7 ≤  35 ≤  Tabel 6

Kategorisasi komponen Functional Consumption (FC)

Kategori Frekuensi Presentase

Rendah    - -

Sedang 21 ≤  < 35 16 5.6%

Tinggi 35 ≤  268 94.4%

Berdasarkan hasil kategori komponen Functional Consumption

(FC) pada variabel literasi media, diketahui bahwa sebagian besar

subjek berada pada kategori tinggi yaitu sebanyak 268 subjek dengan

presentase 94.4%. Kemudian sebanyak 16 subjek berada pada kategori

(49)

bahwa literasi media pada komponen Functional Consumption (FC)

sebagian besar subjek berada pada kategori tinggi. Sehingga, dapat

diketahui bahwa literasi media baru pada emerging adulthood tinggi

pada komponen Functional Consumption (FC).

b. Kategorisasi komponen Critical Consumption (CC)

Peneliti melakukan perhitungan data secara manual untuk

mencari mean teoritis. Hal tersebut dirumuskan sebagai berikut:

Mean Teoritis = (Skor terendah x jumlah item) + (Skor tertinggi x jumlah item)

2 Mean Teoritis = (1 x 11) + (7 x 11) 2 = 11 + 77 2 = 88/2 = 44

Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan diperoleh mean teoritis

dari variabel literasi media komponen Critical Consumption (CC)

yaitu 28. Setelah dilakukan pengukuran mean teoritis kemudian

dilakukan perhitungan standar deviasi dengan rumus sebagai berikut:

Range = Xmax  Xmin

= (7 x 11)  (1 x 11) = 77  11 = 66 Std. Deviasi = Range / 6 = 66 / 6 = 11

Kemudian dilakukan perhitungan kategorisasi untuk mengelompokkan

subjek pada tiga kategori Critical Consumption (CC) yaitu rendah,

(50)

Kategori Rendah =   M  1SD   44  1(11)   44  11  < 33 Kategori Sedang = M  1SD ≤   M + 1SD 44  1(11) ≤   44 + 1(11) 44  11 ≤   44 + 11 33 ≤   55 Kategori Tinggi = M + 1SD ≤  44 + 1(11) ≤  44 + 11 ≤  55 ≤  Tabel 7

Kategorisasi komponen Critical Consumption (CC)

Kategori Frekuensi Presentase

Rendah   33 1 0.4%

Sedang 33 ≤  < 55 41 14.4%

Tinggi 55 ≤  242 85.2%

Berdasarkan hasil kategori komponen Critical Consumption

(CC) pada variabel literasi media, diketahui bahwa sebagian besar

subjek berada pada kategori tinggi yaitu sebanyak 242 subjek

dengan presentase 85.2%. Kemudian sebanyak 41 subjek berada

(51)

subjek pada kategori rendah dengan presentase 0.4%. Dengan

demikian, dapat diketahui bahwa literasi media pada komponen

Critical Consumption (CC) sebagian besar subjek berada pada

kategori tinggi. Sehingga, dapat diketahui bahwa literasi media

baru pada emerging adulthood tinggi pada komponen Critical

Consumption (CC).

c. Kategorisasi komponen Functional Prosumption (FP)

Peneliti melakukan perhitungan data secara manual untuk

mencari mean teoritis. Hal tersebut dirumuskan sebagai berikut:

Mean Teoritis = (Skor terendah x jumlah item) + (Skor tertinggi x jumlah item)

2 Mean Teoritis = (1 x 7) + (7 x 7) 2 = 7 + 49 2 = 56/2 = 28

Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan diperoleh mean teoritis

dari variabel literasi media komponen Functional Prosumption (FP)

yaitu 28. Setelah dilakukan pengukuran mean teoritis kemudian

dilakukan perhitungan standar deviasi dengan rumus sebagai berikut:

Range = Xmax  Xmin

= (7 x 7)  (1 x 7) = 49  7 = 42 Std. Deviasi = Range / 6 = 42 / 6 = 7

(52)

Kemudian dilakukan perhitungan kategorisasi untuk mengelompokkan

subjek pada tiga kategori Functional Prosumption (FP) yaitu rendah,

sedang, dan tinggi. Hal tersebut dirumuskan sebagai berikut:

Kategori Rendah =   M  1SD   28  1(7)   28  7  < 21 Kategori Sedang = M  1SD ≤   M + 1SD 28  1(7) ≤   28 + 1(7) 28  7 ≤   28 + 7 21 ≤   35 Kategori Tinggi = M + 1SD ≤  28 + 1(7) ≤  28 + 7 ≤  35 ≤  Tabel 8

Kategorisasi komponen Functional Prosumption (FP)

Kategori Frekuensi Presentase

Rendah   21 2 0.7 %

Sedang 21 ≤  < 35 58 20.4 %

Tinggi 35 ≤  224 78.9 %

Berdasarkan hasil kategori komponen Functional

(53)

sebagian besar subjek berada pada kategori tinggi yaitu sebanyak

224 subjek dengan presentase 78.9%. Kemudian sebanyak 58

subjek berada pada kategori sedang dengan presentase 20.4%, dan

diikuti 2 subjek pada kategori rendah dengan presentase 0.7%.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa literasi media pada

komponen Functional Prosumption (FP) sebagian besar subjek

berada pada kategori tinggi. Sehingga, dapat diketahui bahwa

literasi media baru pada emerging adulthood tinggi pada

komponen Functional Prosumption (FP).

d. Kategorisasi komponen Critical Prosumption (CP)

Peneliti melakukan perhitungan data secara manual untuk

mencari mean teoritis. Hal tersebut dirumuskan sebagai berikut:

Mean Teoritis = (Skor terendah x jumlah item) + (Skor tertinggi x jumlah item)

2 Mean Teoritis = (1 x 10) + (7 x 10) 2 = 10 + 70 2 = 80/2 = 40

Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan diperoleh mean teoritis

dari variabel literasi media komponen Critical Prosumption (CP) yaitu

28. Setelah dilakukan pengukuran mean teoritis kemudian dilakukan

perhitungan standar deviasi dengan rumus sebagai berikut:

Range = Xmax  Xmin

= (7 x 10)  (1 x 10) = 70  10

(54)

Std. Deviasi = Range / 6 = 60 / 6 = 10

Kemudian dilakukan perhitungan kategorisasi untuk mengelompokkan

subjek pada tiga kategori Critical Prosumption (CP) yaitu rendah,

sedang, dan tinggi. Hal tersebut dirumuskan sebagai berikut:

Kategori Rendah =   M  1SD   40  1(10)   40  10  < 30 Kategori Sedang = M  1SD ≤   M + 1SD 40  1(10) ≤   40 + 1(10) 40  10 ≤   40 + 10 30 ≤   50 Kategori Tinggi = M + 1SD ≤  40 + 1(10) ≤  40 + 10 ≤  50 ≤  Tabel 9

Kategorisasi komponen Critical Prosumption (CP)

Kategori Frekuensi Presentase

Rendah   30 9 3.2 %

Sedang 30 ≤  < 50 136 47.9 %

(55)

Berdasarkan hasil kategori komponen Critical Prosumption

(CP) pada variabel literasi media, diketahui bahwa sebagian besar

subjek berada pada kategori sedang yaitu sebanyak 139 subjek

dengan presentase 48.9%. Kemudian sebanyak 136 subjek berada

pada kategori tinggi dengan presentase 47.9%, dan 9 subjek pada

kategori rendah dengan presentase 3.2%. Dengan demikian, dapat

diketahui bahwa literasi media pada komponen Critical

Prosumption (CP) sebagian besar subjek berada pada kategori

tinggi. Sehingga, dapat diketahui bahwa literasi media baru pada

emerging adulthood tinggi pada komponen Critical Prosumption (CP)

(56)

Tabel 10

Kesimpulan kategorisasi literasi media

No. Komponen Frekuensi Total

1. Functional Consumption (FC) Rendah - 284 Sedang 16 Tinggi 268 2. Critical Consumption (CC) Rendah 1 284 Sedang 41 Tinggi 242 3. Functional Prosumption (FP) Rendah 2 284 Sedang 58 Tinggi 224 4. Critical Prosumption (CP) Rendah 9 284 Sedang 136 Tinggi 139

Berdasarkan tabel 10, literasi media baru pada emerging adulthood

yang berada pada kategori rendah terdapat pada komponen Critical

Prosumption (CP) sebanyak 9 subjek, kemudian pada komponen Functional Prosumption (FP) 2 subjek, dan kategori rendah pada

(57)

literasi media baru yang paling sedikit yaitu pada komponen Critical

Consumption (CC) 1 subjek.

Berdasarkan tabel tersebut, literasi media baru pada emerging

adulthood yang berada pada kategori sedang yang paling banyak

terdapat pada komponen Critical Prosumption (CP) sebanyak 136

subjek. Selain itu, komponen Functional Prosumption (FP) yang

berada pada kategori sedang sebanyak 58 subjek. Kemudian pada

komponen Critical Consumption (CC) yang berada pada kategori

sedang sebanyak 41 subjek. Sementara itu, pada komponen Functional

Consumption (FC) literasi media baru pada emerging adulthood pada

kategori sedang yang peling sedikit dimiliki oleh subjek yaitu 16

subjek.

Selanjutnya, berdasarkan tabel tersebut, literasi media baru pada

emerging adulthood pada kategori tinggi yang paling tinggi pada

komponen Functional Consumption (FC) yaitu sebanyak 268 subjek.

Literasi media baru pada emerging adulthood kategori tinggi ke dua

pada komponen Critical Consumption (CC) sebanyak 242 subjek.

Kemudian pada komponen Functional Prosumption (FP) sebanyak

224 subjek, dan kategori tinggi yang paling sedikit pada komponen

Referensi

Dokumen terkait