A. LATAR BELAKANG.
Selama 67 tahun sejak kemerdekaan, Republik Indonesia belum memiliki commercial code di bidang maritim. Commercial code berisi hal-hal yang menyangkut perangkat peraturan yang terkodifikasi secara sistematis mengenai perniagaan di bidang pelayaran. Padahal Indonesia sebagai negara kepulauan, pelayaran dan atau angkutan laut memiliki peran yang sangat vital dalam proses mobilisasi manusia maupun barang. Selain itu, posisi geografis Negara Indonesia juga sangat strategis ditinjau dari sudut pandang perdagangan Internasional. Namun demikian, pembangunan di bidang transportasi laut yang berlangsung di Indonesia masih jauh dari yang semestinya dapat dicapai berdasarkan potensi-potensi yang dimiliki.
Indikator yang dapat dijadikan bukti terkait dengan hal ini salah satunya adalah jumlah armada angkutan laut di Indonesia berdasarkan kepemilikannya. Data Statistik Perhubungan yang dirilis tahun 2011 menunjukkan bahwa jumlah kapal keagenan asing yang berlayar di perairan Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kapal nasional. Selama 2006-2010, rata-rata selisih jumlah kapal nasional dibandingkan dengan kapal keagenan asing adalah sebesar 459,18% (Statistik Perhubungan, 2011).
Aktivitas pelayaran yang berlangsung di Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Selain sebagai pemersatu berbagai wilayah kepulauan yang terbentang di Nusantara, aktivitas pelayaran juga mengandung dimensi bisnis yang menentukan perkembangan perekonomian, baik dalam skala makro maupun mikro. Dimensi bisnis itu nampak pada gambar fungsi angkutan laut sebagai berikut.
Gambar 1.1 Fungsi Angkutan Laut di Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
FUNGSI EKONOMI
ANGKU TAN LAU T
Selain itu, dalam konteks pelayaran, dimensi hukum sebagai “payung” yang melindungi berbagai aktivitas bisnis memiliki peranan yang sangat penting. Kegiatan bisnis pelayaran di Indonesia sudah semakin kompleks, sehingga kegiatan yang didasarkan atas peraturan yang faktual perlu dikaji lebih lanjut. Berikut adalah gambaran kompleksitas stakeholder bisnis pelayaran di Indonesia.
Gambar 1.2 Ilustrasi Kegiatan Bisnis Pelayaran di Indonesia
Sampai dengan saat ini, perlindungan terkait dengan aktivitas bisnis dan perdagangan yang berlangsung di Indonesia dipayungi oleh Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel voor Indonesie) atau yang disingkat dengan KUHD. Berbagai hal yang terkait dengan pelayaran niaga diatur dalam Buku Kedua yang berisi Hak-hak dan Kewajiban-kewajiban yang timbul dari Pelayaran. Namun demikian, KUHD tersebut merupakan produk Belanda yang bisa jadi kurang relevan lagi dengan konteks perdagangan Internasional masa kini. Perkembangan kondisi bisnis, ekspor dan impor saat ini tentunya sudah mengalami perubahan. Praktik pengangkutan baik yang menggunakan unimoda maupun multimoda telah menggunakan aturan internasional yang sudah jauh berbeda dengan aturan yang terdapat dalam KUHD. Selain itu sudah terjadi perkembangan pengaturan yang bersifat keperdataan dari jaman Belanda sampai saat ini.
Berbagai aturan hukum nasional ini kemungkinan dapat berbeda antara satu sama lainnya, yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi kelancaran transaksi perdagangan itu sendiri. Masalah yang dinilai akan timbul antara lain, mengakibatkan timbulnya keraguan dan kekhawatiran pihak-pihak pelaku bisnis terhadap keamanan, kepastian dan jaminan perlindungan hukum yang mungkin mereka peroleh.
PB M E K SP / IM P E MK L D EP O C O N T A IN ER T R U C K IN G P EL IN D O G U D A N G A S UR A N S I A L AT M O V IN G S HIP P ING LI NE
Senada dengan hal tersebut, beberapa kalangan menilai bahwa pluralisme hukum dalam sistem hukum perdata internasional merupakan sumber masalah yang sangat berpengaruh terhadap kegiatan bisnis internasional. Setiap negara merdeka memiliki sistem hukum perdata nasionalnya sendiri sehingga ragam hukum perdata internasional ada sebanyak negara merdeka yang ada (Putra, 1997). Hal ini juga yang mendasari kajian terhadap pentingnya unifikasi hukum perdata agar dapat diterima oleh seluruh pelaku bisnis internasional, tidak terkecuali bisnis di bidang pelayaran.
Kemunculan konvensi-konvensi internasional yang memiliki
keterkaitan dengan beberapa aspek perdagangan menjadi menarik juga untuk dikaji. Kemunculan konvensi-konvensi pada praktiknya tidak hanya diterapkan oleh negara-negara peserta, akan tetapi juga banyak diterima dan dipraktikan oleh ahli hukum dan hakim-hakim negara yang bukan sebagai anggota konvensi. Mereka membiarkan konvensi mengikat seperti hukum kebiasaan internasional yang mengikat kehidupan masyarakat internasional.
Oleh karenanya, sudah barang tentu penyempurnaan Hamburg Rules, Hague Rules 1924 yang diubah dan ditambah dengan protokol tanggal 23 Februari di Brussels, UNCLOS 1978, Multimoda Transport Code, dan perkembangan WTO, ASEAN, APEC dan beberapa regulasi internasional lain tentunya membawa perubahan pada pengaturan pengangkutan di Indonesia, di antaranya terkait dengan tugas dan tanggung jawab pengangkut, hak-hak dan kekebalan pengangkut, jangka waktu pertanggungjawaban, dasar pertanggungjawaban, batas-batas pertanggungjawaban. Berkaitan dengan hal tersebut maka perlu penyempurnaan commercial code yang berlaku saat ini.
Selain Konvensi-konvensi yang disebutkan sebelumnya, perjanjian internasional sebagai salah satu sumber hukum internasional yang penting, punya kekuatan mengikat yang sama atas dasar doktrin ‘pacta sunt servanda’, meskipun hanya bersifat bilateral, sehingga perjanjian antar negara tertentu (Indonesia dan negara tetangga) yang mengatur kemaritiman dan memiliki keterkaitan kiranya juga perlu untuk diinventarisir. Oleh karena itu, perlu diperhatikan juga keberadaan perjanjian-perjanjian dalam bidang kemaritiman yang sifatnya bilateral, yang kemungkinan mengatur perdagangan melalui pelayaran antara dua negara secara lebih spesifik. Dalam hal ini kemungkinan keberadaan perjanjian tersebut adalah antara Indonesia dengan Malaysia, Indonesia dengan Singapura, Indonesia dengan Australia, Indonesia dengan Timor Leste dan Negara-negara lain.
Selain itu, beberapa hal yang juga harus diketahui adalah ketentuan-ketentuan dalam regulasi yang sudah diterapkan dan perlu diketahui terlebih dahulu. Seperti ketentuan mengenai Alur Lintas Kepulauan (ALK) sebagai hak bagi negara-negara lain untuk melakukan perlintasan di wilayah perairan Indonesia. Meskipun Indonesia memiliki kedaulatan di wilayah perairannya, namun ALK merupakan
hak negara lain yang harus diberikan Indonesia sebagai konsekwensi negara kepulauan, sehingga dapat dibahas lebih lanjut apakah commercial code ini dapat diberlakukan juga pada ALK tersebut meskipun berada di wilayah perairan Indonesia. Berdasarkan telaah dari tim, terdapat 3 ALK di Indonesia yang pengaturanya terdapat pada Pasal (2) PP Nomor 37 Tahun 2002.
B. RUMUSAN MASALAH.
Berdasarkan latar belakang masalah yang diungkapkan di atas, maka akan dibahas rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana commercial code bidang pelayaran pada saat ini yang mengatur tentang proses pengiriman barang dari shipper hingga consignee?
2. Bagaimana sistem pengangkutan laut di Indonesia saat ini terkait dengan commercial code?
3. Bagaimana perkembangan peraturan dan implementasi yang terkait dengan commercial code di bidang pelayaran?
4. Bagaimana upaya yang harus ditempuh dalam penyempurnaan commercial code di bidang pelayaran yang berlaku saat ini?
C. MAKSUD DAN TUJUAN STUDI.
Maksud studi ini adalah menganalisis dan mengevaluasi commercial code di bidang pelayaran saat ini. Sedangkan tujuan studi ini adalah tersusunnya naskah akademis perbaikan commercial code di Indonesia.
D. RUANG LINGKUP STUDI.
1. Uraian Kegiatan.
Berdasarkan uraian di atas, maka ruang lingkup substansi penelitian ini adalah kajian tentang proses pengiriman barang dari shipper ke consignee melalui angkutan laut, meliputi :
a. Identifikasi dan inventarisasi peraturan perundang-undangan terkait dengan commercial code.
b. Identifikasi sistem pengangkutan laut di Indonesia;
c. Identifikasi perkembangan yang terkait dengan commercial code.
d. Analisis dan evaluasi perkembangan perundang-undangan nasional dan internasional di bidang commercial code.
e. Analisis dan evaluasi kelemahan pengaturan commercial code yang berlaku saat ini;
f. Penyempurnaan commercial code yang berlaku saat ini;
2. Batasan Kegiatan.
Menyusun rekomendasi untuk penyempurnaan commercial code agar sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini.
3. Indikator Keluaran dan Luaran
Indikator keluaran adalah jumlah laporan hasil studi. Sedangkan keluaran adalah 4 buku laporan hasil penelitian yang terdiri dari laporan pendahuluan (inception report), laporan antara (interim report), rancangan laporan akhir (draft final report), laporan akhir (final report) yang memuat konsep penyempurnaan commercial code.