PEMANTAUAN HAMA PENYAKIT IKAN HIAS
GOLONGAN TETRA DAN EVALUASINYA
TERHADAP PARAMETER LINGKUNGAN AQUATIK
DI WILAYAH JABOTABEK
DIKRY NOVEL
SHATRIE
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN B'OGOR
BOGOK
2 0 0 6
SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam tesis saya yang berjudul : PEMANTAUAN HAMA PENYAKIT IKAN HIAS GOLONGAN TETRA DAN EVALUASINYA TERHADAP PARAMETER LINGKUNGAN AQUATIK DI WILAYAH JABOTABEK, merupakan gagasan atau hasil penelitian tesis saya sendiri, dengan pembimbingan Komisi Pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya.
Tesis ini belurn pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di perguruan tinggi lain.
Semua data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.
Bogor, Mei 2006
Dikry Novel Shatrie
ABSTRAK
DIKRY NOVEL SHATRIE. Pemantauan Hama Penyakit Ikan Hias
Golongan Tetra Dan Evaluasinya Terhadap Parameter Lingkungan Aquatik di Wilayah Jabotabek. Dibimbing oleh FACHRIYAN H. PASARIBU, ETTY
RIANI dan DEW1 RATIH AGUNGPRIYONO.
Ekspor ikan hias dari Indonesia hanya sebesar 15 % dari seluruh total ekspor ikan hias dunia. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya penyakit- penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri, parasit dan jamur. Pengamatan pada 4 lokasi ikan hias Tetra di Bogor, Cibinong, Bekasi dan Tangerang dilakukan selama bulan Pebruari sampai Juli 2005. Data yang diambil ditujukan untuk mengetahui hubungan antara parameter kualitas air, seperti suhu, pH, DO, kesadahan, nitrat dan nitrit; dengan kejadian penyakit. Data yang didapat kemudian dianalisa menggunakan analisa regresi sederhana dan T-test. Berdasarkan pengarnatan diketahui bahwa 66% dari total 1500 ekor sampel ikan tetra terinfeksi oleh bakteri, parasit dan jamur. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa suhu air merupakan faktor yang paling berperan terhadap kejadian penyakit pada ikan. Bila suhu air meningkat, maka jumlah kejadian penyakit bakterial meningkat Persentase penyakit yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila
mencapai 23% dan Pseudomonas j7uorescens mencapai 14,80%. Sedangkan bila
suhu air menurun, maka angka kejadian penyakit yang disebabkan oleh parasit
dan jamur akan meningkat. Persentase kejadian penyakit yang disebabkan oleh
Dactylogvrus sp adalah 10,13 %, sedangkan Gyrodactylus sp 9,87 %, Argulus sp
5,27 %. dan Saprolegnia sp 3,27 %. Dengan uji histopatologi ditemukan adanya myositis, peritonitis dan enteritis dari non spesifik viral dan beberapa kista
Pleistophora sp. di dalam jaringan otot ikan yang sehat. Penelitian membuktikan
bahwa menj'aga suhu air sangat penting untuk meminimalisasi kerugian yang disebabkan oleh organisme-organisme patogen pada ikan dan uji histopatologi dapat dipertimbangkan sebagai cara yang efektif untuk memastikan kesehatan ikan.
Abstract
DIKRY NOVEL SHATRIE. Tetra Fish Diseases Monitoring and Its Evaluation to Aquatic Environment Parameters in the Jabotabek Area. Under the direction of
FACHRIYAN H. PASARIBU, ETTY RIANI and DEW1 RATIH
AGUNGPRIYONO
Indonesian ornamental freshwater fish only retain 15% of total exporting ornamental freshwater fish all over the world. This matter is due by numerous causes offish disease such as bacterial, parasites and fungal infection. Disease of tetra fish which sampled from some fishes collectedfrom Bogor, Cibinong, Bekasi and Tangerang areas were monitored during February up to July 2005. The data were interrelated with water quality parameters such as air and water temperature, pH, DO, hardness, ammonia and nitrite content and analyzed using simple linear regression and T-test. Disease monitoring showed that 66% from 1500 tetra fishes were infected by bacterial, parasite and fungi. The data's statistic evaluation demonstrated that the water temperature was appeared to be the most significant factor that influences the appearance of various fish diseases. The incidence of Aeromonas hydrophila got to 23.07% and Pseudomonas
fluorescens was 14.80%. The incidences of bacterial disease rose when the water
temperature increases. However, the parasites and fungal infection had a tendency to increase while water ternperature was decreased. The incidence of parasites such as Dacfylogyrus sp., Gyrodactylus sp., and Argulus sp. are 10.13%, 9.87%, and 5.2 7%, respectively and Saprolegnia sp., fungal infection is 3.27%. Myositis, peritonitis and non spec@c viral enteritis were observed by histopathology examination and some protozoan Pleistophora sp. cyst observed within the muscular tissue from fish which clinically healthy. The study pointed that maintaining water temperature is very important in order to minimize several damages from pathogenic organism in fish and histopathology examination could be a handy tool to ensure health status offish.
O
Hak
cipta milik Institut Pertanian Bogor,, tahun 2006Hak cipta dilindungi
Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam beniuk apapun, baik cetak, fotocopi, mikrofilm, dan sebagainya
PEMANTAUAN HAMA PENYAKIT IKAN HIAS
GOLONGAN TETRA DAN EVALUASINYA
TERHADAP PARAMETER LINGKUNGAN AQUATIK
DI WILAYAH JABOTABEK
DIKRY
NOVEL SHATRIE
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Sains Veteriner
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2 0 0 6
Judul Tesis : Pemantauan Harna Penyakit Ikan Hias Golongan Tetra Dan Evaluasinya Terhadap Parameter Lingkungan Aquatik di Wilayah Jabotabek
Nama : Dikry Novel Shatrie
NRP : B 151020071
Disetujui
Komisi Pembimbing
Prof. Dr. drh. Fachriyan H.Pasaribu Ketua
Dr. Ir. dttv Riani. M.S. Anggota
drh. Dewi Ratih Anunapriyono, Ph.D. Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi ah Pascasarjana
Sains Veteriner
n
f
PRAKATA
Segala puji bagi Allah Azza Wa Ja'Alla, pencipta langit dan burni, pemilik sekalian ilmu dan hakim atas segala sesuatu urusan. Sesungguhnya karena berkah dan rahrnatNya penelitian dan penulisan tesis ini dapat diselesaikan.
Tesis ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan dalam proses penyelesaian studi di Program Sains Veteriner
-
Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.Tema penelitian yang dikerjakan adalah pemantauan dan evaluasi hama penyakit untuk mengetahui korelasi dan pola penyebaran penyakit ikan hias golongan tetra di wilayah Jabotabek dengan perubahan suhu udara.
Terima kasih yang tak terhingga kami sampaikan kepada para dosen pembimbing, Prof. Dr.drh. Fachriyan H. Pasaribu, Dr. Ir. Etty Riani, MS. d m drh. Dewi Ratih Agungpriyono Ph.D., yang telah bersedia untuk menjadi pembimbing kami, dan membagikan ilmunya yang tidak ternilai kepada kami selaku mahasiswa. Demikian juga kepada anak dan isteri tercinta atas dukungan dan doanya.
Disadari bahwa banyak kekurangan yang ada dalam penelitian ini, oleh karena itu diperlukan saran dan pertimbangan untuk menyempurnakannya lebih lanjut.
Bogor, Mei 2006
Penulis dilahirkan di kota Bogor pada tanggal 20 November 1968 dari pasangan Moedrik Shatrie (Alm.) dan Nurlaila. Penulis merupakan anak pertarna dari dua bersaudara.
Tahun 1987 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Bogor dan pada tahun 1988 melanjutkan ke Sekolah Ahli Usaha Perikanan, Jurusan Akuakultur di Jakarta, dan lulus pada tahun 1991. Pada tahun 1994 melanjutkan ke Fakultas Perikanan, Jurusan Budidaya, Universitas Juanda Bogor. Pada tahun 2002 menempuh pendidikan pada program Magister Sains Veteriner di Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Sejak tahun 1992 penulis bekerja sebagai staff pada Balai Karantina Ikan Soekarno-Hatta, Pusat Karantina Pertanian, Departemen Pertanian. Tahun 2001 sampai sekarang penulis bekerja pada Pusat Karantina Ikan, Departemen Kelautan dan Perikanan, di Jakarta.
DAFTAR IS1
Halaman DAFTAR TABEL...
DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR LAMPIRAN...
PENDAHULUAN...
Latar Belakang...
Tujuan Penelitian...
Perumusan Masalah Penelitian...
...
Hipotesa
Man faat Penelitian
...
...
TINJAUAN PUSTAKA
Kualitas Air dan Kesehatan Ikan
...
...
Suhu Air pH (Derajat Keasaman)...
Oksigen Terlarut...
...
Kesadahan Kadar Amonia (NH3)...
...
Kadar Nitrit (N02)Ikan Hias Golongan Tetra
...
Penyakit-penyakit pada Ikan...
Sistem dan Regulasi Karantina...
...
V l l l...
BAHAN DAN METODA 22
Tempat dan Waktu
...
22Sampel Ikan dan Metode Pemeriksaan
...
22Sampel Air dan Metode Pemeriksaan
.
...
23.
...
Kerangka Kerja Penelltian 23 Analisis Pengolahan Data...
24...
HASIL DAN PEMBAHASAN 25 Parameter Kualitas Air...
.
.
.
.
.
.
...
31Suhu Air
...
32pH
...
33...
Oksigen Terlarut (DO) 33 Kesadahan Air...
34Amonia
...
35Nitrit
...
35Persentase Kejadian Penyakit
...
36A eromonus hydrophila
...
37P.seudomonus.fluorcscens
...
38Korelasi antara Suhu Air dan Prevalensi Penyakit Bakterial
...
39Hasil Pemeriksaan Histopatologi
...
41Argulu.s.sp
...
42Gyrodactylus sp
...
Korelasi antara Suhu Air dan Prevalensi Penyakit Parasiter
...
Saprolegnia sp
...
...
Korelasi antara Suhu Air dan Prevalensi Penyakit Fungi
Daerah Identifikasi Penyakit
...
KESIMPULAN...
SARAN...
...
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Halaman
...
Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan
...
Hubungan kadar oksigen terlarut dengan suhu air
Kation penyusun kesadahan dan anion penyusunnya
...
Klasifikasi nilai kesadahan air...
Toksisitas akut (LDS0 96 jam) arnonia tak terionisasi pada organisme...
akuatik
Hubungan pH dan suhu terhadap kadar amonia total
...
Parameter kualitas air yang diamati dan lokasi pengamatannya...
Rata-rata kualitas air dan persentase penyakit pada sampel ikan di lokasi A (Bogor) per bulan penelitian...
Rata-rata kualitas air dan persentase penyakit pada sampel ikan di lokasi B (Cibinong) per bulan penelitian...
Rata-rata kualitas air dan persentase penyakit pada sampel ikan di lokasi C (Bekasi) per bulan penelitian...
Rata-rata kualitas air dan persentase penyakit pada sarnpel ikan di lokasi D (Tangerang) per bulan penelitian...
Rata-rata kualitas air dan persentase penyakit pada sampel ikan.. .
selama 25 minggu penelltian...
Perbandingan kualitas air penelitian dengan standar Langdon
...
Rata-rata suhu air dan angka prevalensi (%) penyakit dari 4 daerah...
DAFTAR GAMBAR
Halaman
...
1
.
Serpae tetra longfin (Hyphessobrycon serpae)2
.
Rossy tetra (Hyphessobrycon roseus)...
3.
Neon tetra (Paracheirodon innesi)...
4.
Red nose tetra (Hemigrammus bleheri)...
...
5
.
Emperor tetra (Nemato brycon palmery).
.
6
.
Kerangka kerja penel~t~an...
7.
Grafik hubungan suhu air dengan prevalensi penyakit ikan tetra dilokasi A (Bogor)
...
8
.
Grafik hubungan suhu air dengan prevalensi penyakit ikan tetra di...
lokasi B (Cibinong)
9
.
Grafik hubungan suhu air dengan prevalensi penyakit ikan tetra di...
lokasi C (Bekasi)
10
.
Grafik hubungan suhu air dengan prevalensi penyakit ikan tetra di...
lokasi D (Tangerang)
11
.
Grafik hubungan suhu air rata-rata dengan prevalensi penyakit ikan...
tetra di semua lokasi penelitian
12 Sebaran suhu air dengan prevalensi penyakit
...
...
13
.
Ikan tetra dengan infeksi Aeromonas hydrophila14
.
Ikan tetra dengan infeksi Pseudomonas.fluorescens...
...
15
.
Korelasi suhu air dengan penyakit bakterial...
16 . Kista Pleistophora sp 17 . Arplus sp...
1 8.
Dactylogirus sp...
... 19 . Gyrodactylus sp ....
..
..
..
20
.
Korelasi suhu air dengan penyakit parasiter...
2 1.
Ikan tetra dengan infeksi Saprolegnia sp...
22.
Korelasi suhu air dengan penyakit fungi...
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
...
Kualitas air dan kejadian penyakit yang ditemukan 57
...
Hasil pemeriksaan kualitas air dan persentase kejadian penyakit 59
...
Rata-rata seluruh kualitas air dan prevalensi kejadian penyakit 61
...
Analisa regresi dan korelasi suhu air dan prevalensi A
.
hydrophila 62...
Analisa regresi dan korelasi suhu air dan prevalensi P.Juorescens 63
...
Analisa regresi dan korelasi suhu air dan prevalensi Argulus sp 64
...
Analisa regresi dan korelasi suhu air dan prevalensi Dactylog~rus sp 65
...
Analisa regresi dan korelasi suhu air dan prevalensi Gyrodactylus sp 66
...
Analisa regresi dan korelasi suhu air dan prevalensi Saprolegnia sp 67
...
Data hama dan penyakit ikan yang dilalulintaskan 68
Rataan data penelitian selama bulan Februari-April 2005
...
69...
Rataan data penelitian selama bulan Mei
-
Juli 2005 70Rataan data penelitian selama bulan Agustus 2005
...
71...
Metoda pemeriksaan sampel ikan 72
...
Hasil isolasi dan identifikasi bakteri 85
...
Data curah hujan 87
.
.
...
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kegiatan perikanan di Indonesia terus mengalami kemajuan dengan semakin meningkatnya lalu lintas komoditas perikanan antar pulau maupun antar negara. Kegiatan ekspor perikanan mempunyai peranan cukup strategis bagi Indonesia, karena saat ini ikan merupakan komoditi ekspor non migas yang cukup banyak menyumbang devisa negara. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya pengusaha ikan, baik skala kecil maupun skala besar dan meningkatnya aktifitas ekspor dan impor. Komoditas yang diperdagangkan tidak hanya ikan-ikan konsumsi, tapi juga komoditas ikan hias.
Tingginya minat para pengusaha ini didorong oleh tingginya permintaan akan komoditas perikanan dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Namun berbagai kendala, terutama hama dan penyakit ikan, seringkali menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi para petanilpengusaha ikan.
Semakin maraknya perdagangan antar pulau dan antar negara, memberikan peluang semakin banyaknya penyakit-penyakit ikan yang ditemukan di Indonesia. Penyakit golongan bakteri yang banyak ditemukan dalam budidaya perikanan di Indonesia, seperti Aeromanas sp., Vibrio sp., Pseudomonas sp. dan lain-lain, telah menimbulkan kerugian bagi para petanilpengusaha ikan. Selain penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri, ditemukan pula penyakit ikan yang disebabkan ole h parasit seperti Argulus sp., Dactylogvrus sp., Gyrodactylus sp.,
Lerneae sp. dan fungi (Saprolegnia sp).
Ikan-ikan jenis tetra merupakan ikan yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia, karena permintaan terhadap jenis ini sangat besar, sehingga menarik bagi para petani untuk membudidayakannya. Narnun ikan sangat bergantung pada lingkungannya, terutarna kualitas air tempat hidupnya, yang bukan saja akan mempengaruhi kehidupan ikan, namun juga merupakan ha1 yang mempengaruhi kesehatan ikan.
Ada beberapa parameter kualitas air yang hams selalu dipantau, parameter tersebut adalah: suhu air, pH, oksigen terlarut (DO), kesadahan, kadar amonia dan kadar nitrit. Perubahan pada salah satu parameter kualitas air secara mendadak,
terutarna suhu air akan menyebabkan perubahan-perubahan pada parameter kualitas air yang lainnya, sehingga perubahan-perubahan ini akan menyebabkan stres pada ikan yang pada akhirnya dapat menimbulkan penyakit (Langdon 1988; Effendi 2000). Bila dalam suatu perairan terjadi peningkatan kadar arnonia dan nitrat, terjadi perubahan pH (tidak optimum) dan kesadahan serta tingginya bahan organik, maka akan menyebabkan stres pada ikan.
Stres adalah kondisi dimana ikan tidak mampu mempertahankan keadaan fisiologis norrnalnya karena berbagai faktor penyebab:
Penyebab kimiawi, seperti: kualitas air yang buruk, rendahnya DO, pH yang tidak tepat, polusi, komposisi diet, nitrat dan buangan metabolisme.
Penyebab biologis, seperti: padat tebar tinggi, spesies ikan lain, mikroorganisme patogenik dan non patogenik, serta parasit internal dan eksternal.
Penyebab fisik, seperti: suhu yang merupakan salah satu parameter kualitas air yang paling berpengaruh pada sistem imun ikan, cahaya, suara dan kadar gas- gas terlarut
Penyebab prosedural, seperti: handling, shipping dan pengobatan terhadap suatu penyakit (Floyd 200 1).
Kesehatan ikan merupakan syarat utama kelayakan sebagai ikan hias komersial. Kondisi ikan hias yang sehat sangat dibutuhkan dalam pemasaran maupun pengangkutan, terutarna untuk ekspor, karena membutuhkan waktu perjalanan yang lama.
Untuk mengetahui ikan hias yang benar-benar sehat dan tidak membawa bibit penyakit dibutuhkan pemeriksaan laboratoriurn, yang pada saat ini harus dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Karantina Ikan. Bila ikan dinyatakan sehat, maka ikan diberikan ijin untuk dilalulintaskan dan Unit Pelaksana Teknis Karantina 1kan akan mengeluarkan swat keterangan layak ekspor.
Unit Pelaksana Teknis Karantina Ikan adalah lembaga pemerintah yang berfungsi mencegah masuknya dan tersebarnya penyakit ikan karantina yang berpotensi menyebarkan penyakit ke dalam lingkungan keldi dalarn wilayah Republik Indonesia, baik yang berasal dari luar negeri maupun dari suatu daerah '
ke daerah lain di dalam wilayah Republik Indonesia. Program kzrantina untuk ikan secara khas melibatkan suatu protokol pemeriksaan yaitu penggunaan hewan
uji coba untuk mengetahui adanya agen penyakit, sertifikasi, pengeluaran suatu sertifikat yang menyatakan bahwa kelompok hewan tertentu atau suatu fasilitas produksi telah diperiksa dan bebas dari infeksi oleh patogen tertentu (Arthur
1996).
Karantina Indonesia sudah selangkah lebih maju, karena Indonesia merupakan negara Asia Tenggara pertama yang menetapkan jasa pemeriksaan karantina yang diatur dalam UU Karantina tahun 1992 (Arthur 1995), yang implementasinya dituangkan dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 17 tahun 2003. Selain ha1 tersebut di atas, juga dilakukan kerjasama regional dan internasional untuk mencegah masuknya suatu penyakit baru.
Di dalam pelaksanaannya, petugas karantina ikan hams mengetahui jenis- jenis hama dan penyakit karantina beserta media pembawanya yang ada di suatu daerah. Hal ini diperlukan untuk mencegah masuk dan tersebarnya hama dan penyakit ikan karantina dari suatu area ke area lain. Oleh karena itu dibutuhkan suatu datatinformasi mengensti penyebaran hama dan penyakit ikan karantina di dalam wilayah negara Indonesia dalam bentuk peta daerah sebar hama dan penyakit ikan karantina, sehingga dapat dilakukan prediksi mengenai penyakit yang biasanya terjadi pada suatu spesies ikan dalam suatu musim.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi prevalensi hama penyakit ikan bakterial, ektoparasit dan fungi pada ikan hias golongan tetra terhadap parameter kualitas air di lokasi ekspotir ikan hias di daerah Bogor, Cibinong, Bekasi dan Tangerang
.
Hasil penelitian ini diharapkan akan memberi informasi tentang prevalensi penyakit ikan khususnya ikan hias golongan tetra di daerah Bogor, Cibinong, Bekasi dan Tangerang yang banyak dilalulintaskan di sekitar Jabotabek.
Perurnusan Masalah Penelitian
Berdasarkan data pemantauan yang dilakukan oleh Balai Karantina Ikan '
Soekarno-Hatta, Jakarta, antara tahur. 2000 - 2004, diketahui bahwa tingkat penyebaran penyakit-penyakit parasiter, bakterial dan jamur pada ikan-ikan yang
dibudidayakan, semakin meningkat. Hal ini sangat mempengaruhi mutu dan jumlah ikan yang diekspor dari Indonesia. Tingginya permintaan pasar terhadap ikan-ikan jenis tetra dan mudah dalarn pembudidayaannya, menyebabkan ekspor ikan hias dari Indonesia, terutama ikan hias air tawar, didominasi oleh ikan jenis ini. Selain masalah yang disebabkan oleh penyakit, rendahnya tingkat ekspor ikan hias ~ndonesia juga disebabkan kurangnya pengetahuan para eksportir tentang negara-negara importir di luar negeri, sehingga hampir semua eksportir ikan hias di Indonesia hanya mengekspor ke Singapura, yang kemudian mengekspor lagi ikan-ikan tersebut ke seluruh dunia. Sampai saat ini Singapura merupakan negara pengekpor ikan hias terbesar di dunia (Dinas Perikanan
-
Jabar 2005).Mutu ikan hias sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatannya, yang berkaitan langsung dengan kualitas air di lingkungan hidupnya. Parameter- parameter kualitas air saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga pola penyebaran penyakit ikan diduga mempunyai hubungan dengan parameter kualitas air.
Di antara masalah-masalah tersebut di atas, informasi tentang hubungan antara kualitas ikan di tingkat eksportir dan kualitas air tempat ikan itu dipelihara masih minim, untuk itu diperlukan suatu penelitian yang mengamati hubungan antara liejadian penyakit dengan parameter kualitas air. Bila didapatkan suatu pola hubungan antara parameter kualitas air dan kemungkinan penyebaran penyakit ikan, maka langkah-langkah antisipatif dan preventif dapat segera diambil untuk mencegah kerugian yang lebih meluas.
Hipotesa
Diduga terdapat suatu pola hubungan antara kualitas air (suhu, pH, kesadahan, kadar amonia, kadar nitrit dan jumlah oksigen terlarut) dengan penyebaran beberapa penyakit ikan yang akan digambarkan oleh angka persentase kejadian penyakit untuk mendapatkan skala rasio yang akan digunakan dalam pengujian hipatesa secara kuantitatif.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dalam melakukan prediksi penyebaran penyakit ikan berdasarkan perubahan-perubahan pada parameter kualitas air. Sehingga dapat segera diambil tindakan antisipatif dan preventif untuk mencegah meluasnya kerugian.
Mengetahui pola penyebaran penyakit ikan dan korelasinya dengan perubahan kualitas air akan membentuk suatu sistem deteksi dini yang sangat bermanfaat untuk perkembangan dan perlindungan pada kegiatan budidaya ikan di Indonesia.
TINJAUAN PUSTAKA
Kualitas Air dan Kesehatan Ikan
Studi mengenai penyebaran penyakit pada suatu populasi sangat membutuhkan pemahaman mengenai asosiasi atau hubungan-hubungan yang terjadi antara inang, agen dan lingkungan sekitarnya. Tingkat hubungan ini akan menentukan tingkat kerapatan ruang dan waktu kejadian infeksi penyakit, iklim akan sangat mempengaruhi daya hidup inang, vektor dan agen patogen, serta mempengaruhi secara langsung tingkat distribusi vektor (Thrusfield 1995). Agen patogen yang terlibat pada timbulnya penyakit pada ikan, tidak dapat bekerja sendiri untuk menimbulkan infeksi pada ikan, harus terdapat faktor predisposisi sebagai pemicu stres (stressor), ha1 ini dapat berupa perubahan kualitas air, toksin dan perubahan siklus hidup (Hanson & Grizzle 1985).
Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1990, tentang pengendalian pencemaran air, mendefinisikan kualitas air adalah sifat air dan kandungan mahluk hidup, zat, energi atau komponen lain dalam air. Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter (Anonim 1990), yaitu:
1. Parameter fisika (suhu; kekeruhan, padatan terlarut dan sebagainya.) 2. Parameter kimia (pH, oksigen terlarut, kadar logam d m sebagainya. j
3. Parameter biologi blankton, bakteri dan sebagainya.)
Kualitas air dalam suatu usaha akuakultur harus diperhatikan dengan seksama karena sangat mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan, adapun beberapa parameter kualitas air yang sangat berpengaruh pada ikan adalah suhu, pH, oksigen terlarut, kesadahan, kadar NO2 dan kadar NH3 (Alabaster & Loyd
1980).
Suhu Air
Ikan adalah hewan ektoterm atau poikiloterm yang suhu tubuhnya tergantung pada suhu lingkungannya. Oleh karena itu suhu lingkungan sangat besar pengaruhnya bagi kesehatan ikan, terutama apabila suhu berada di luar ' kisaran suhu optimalnya.
Suhu air dipengaruhi oleh musim, letak geografis, ketinggian, sirkulasi udara, penutupan awan, adanya aliran dan kedalaman. Perubahan suhu akan berpengaruh secara langsung terhadap proses fisika, kimia dan biologi air. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi, volatilisasi, dan akan mengakibatkan penurunan kadar kelarutan gas dalam air, seperti : 02, C02, N2, CH4 dan sebagainya. (Effendi 2000).
Kecepatan metabolisme ikan tergantung pada suhu air. Penurunan suhu air akan menyebabkan kecepatan metabolisme ikan akan menurun, demikian juga sebaliknya metabolisme ikan akan meningkat sejalan dengan peningkatan suhu air. Beberapa faktor lain seperti : sistem imun, proses penyembuhan penyakit dan proses pencemaan makanan juga sangat dipengaruhi oleh suhu air. Penurunan suhu akan menyebabkan daya tahan ikan menurun, sehingga ikan mudah terinfeksi oleh agen patogen (Langdon 1988).
pH (Derajat Keasaman)
Menurut Effendi (2000) pH atau derajat keasaman menggambarkan keberadaan ion hidrogen yang bersifat asam, konsentrasi ion hidrogen pada air murni netral adalah 1 x gll, sedangkan nilai disosiasi air (Kw) adalah 10-l4 pada suhu 25' C, sehingga nilai pH dapat digambarkan sesuai dengan reaksi sebagai berikut : 2 H 2 0 +========l) H30+ + OH- H 2 0 +========+ H+ + OH- [H']
+
[OH] = Kw ; KW = 10-l4 [ ~ ~ ] = ~ w / [ 0 ~ ~ = 1 0 ~ ~ ~ / 1 0 - ~ = 1 0 ~ ~ g / l ; O H - = l ~ - ~ g / l . p H = -Log lo [H'] = Log lo 1 / [H']Sehingga klasifikasi nilai pH air adalah :
p H = 7 : netral
7 < p H < 1 4 : basa / alkali
Tebbut (1 992) berpendapat bahwa pH hanya menggambarkan konsentrasi ion hidrogen, sedangkan Mackereth el a1 (1989) berpe~idapat banwa pH berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas, dalam ha1 ini pada pH < 5 alkalinitas
akan mencapai nol, sehingga semakin tinggi nilai pH akan menyebabkan nilai alkalinitas semakin meningkat dan akan semakin sedikit kadar karbondioksida bebas.
Toksisitas suatu senyawa kimia juga dipengaruhi oleh pH, senyawa amonium yang dapat terionisasi banyak ditemukan pada perairan dengan pH rendah, bila pH meningkat maka jumlah amonium yang tak terionisasi (unionized) juga akan meningkat dan pada keadaan ini akan bersifat toksik (Tebbut 1992).
Biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH, dan rata-rata lebih menyukai kisaran pH 7 - 8,5
,
fenomena ini berkaitan dengan proses biokimiawi air sepertinitrifikasi yang dipengaruhi oleh pH, dimana proses nitrifikasi akan berakhir pada pH rendah (asam). Toksisitas logam juga akan meningkat pada pH rendah (Novotny & Olem 1994). Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabei 1. Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan
Nilai pH
I
I
-Kelimpahan total biomasa dan produktivitas tak berubahI
Pengaruh
6,O - 6,5 -Keanekaragaman plankton dan benthos mengalami sedikit penurunan
I
.I
-Kelimpahan total biomasa dan produktivitas sedikit berubahI
I
5,s - 6,O
I
I
yang semakin besarI
-Keanekaragaman plankton dan benthos mengalami penurunan
5,O - 5,5
I
I
-Kelimpahan total biomasa zooplankton dan benthos menurunI
-Algae hijau berfilamen tampak pada zona litoral
-Keanekaragaman plankton, perifiton dan benthos mengalami penurunan
I
I
-Algae hijau berfilamen tampak semakin banyak pada m n a litoralI
I
I
-Proses nitrifikasi terhambatI
I
I
yang besarI
I
-Kelimpahan total biomasa zooplankton dan benthos menurun -Algae hijau berfilamen tampak semakin banyak.
4,5 - 5,O
I
.I
:Proses nitrifikasi terhambatI
-Keanekaragaman plankton, perifiton dan benthos mengalami penurunan
I I I
Oksigen ~ e r l a r u t (Dissolve Oxygen)
Kadar oksigen terlarut di perairan alarni akan bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen akan semakin berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian dan berkurangnya tekanan atmosfer, semakin tinggi suatu tempat dari perrnukaan laut, maka tekanan atmosfer akan semakin rendah, yang mengakibatkan akan semakin sedikit oksigen yang terlarut dalam air. Kadar oksigen terlarut pada perairan tawar berkisar antara 15 mgll pada suhu 0' C dan 8 mgll pada suhu 25' C, sedangkan pada perairan laut berkisar antara 11 mgll pada suhu 0' C dan 7 mgll pada suhu 25' C. (Mc. Neely et
a1 1979). Pengaruh perubahan suhu terhadap oksigen terlarut dapat dilihat pada Tabel 2. .
Tabel 2. Hubungan kadar oksigen terlarut dengan suhu air
Sumber : Cole, 1988
Kadar oksigen pada perairan alarni biasanya kurang dari 10 mgll. Sumber oksigen terlarut yang masuk ke dalam perairan alami berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35 % dan aktifitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton, kadar oksigen di atmosfer biasanya berkisar pada angka 210 mg/l (Novotny & Olem 1994).
Suhu (O C) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Catatan : Suhu
e
c ) 14 - 15 16 17 18 19 20 2 1 22 23 24 25 26 2 7 tekanan udara Oksigen Terlarut ( m g ~ ~ ) 14,62 14,22 13,83 13,46 13,ll 12,77 12,45 12,14 11,84 1 1,56 1 1,29 1 1,03 10,78 10,54 pengukuran pada Oksigen Terlarut ( m g ~ ~ ) 10,3 1 10,08 9,87 9,66 9,47 9,28 9,09 8,9 1 8,74 8,58 8,42 8,26 8,11 7,97 760 mm Hg. Suhue
c) 2 8 2 9 30 3 1 32 33 3 4 3 5 36 37 3 8 39 40 Oksigen Terlarut (mcr/~) 7,83 7,69 7,56 7,43 7,30 7,18 7,OQ 6,95 6,84 6,73 6,62 6,s 1 6,4 1Kebutuhan oksigen terlarut tidak sama pada setiap jenis ikan, bahkan pada jenis ikan yang sama akan terdapat perbedaan, tergantung pada suhu air tempat hidupnya. Jika dalam perairan tidak terdapat senyawa beracun, maka kandungan oksigen minimum yang diperlukan adalah sekitar 2 mgll, dan kadar ini sudah cukup untuk memberikan kehidupan yang normal bagi organisme akuatik (Langdon 1 988).
Kesadahan
Kesadahan (hardness) adalah gambaran kation logam divalen (bervalensi
2), kation-kation ini dapat bereaksi dengan sabun dan membentuk endapan presipitat (presipitasi). Selain itu kation-kation ini dapat bereaksi dengan anion- anion yang terdapat di dalam air dan akan membentuk endapan atau karat pada barang logam. Tingkat kesadahan pada air tawar ditentukan oleh jurnlah kalsium dan magnesi-urn, dimana kalsium dan magnesium ini akan berikatan dengan anion penyusun sifat alkalinitas yaitu bikarbonat dan karbonat, sehingga kesadahan akan mempengaruhi stabilitas pH air (Effendi 2000). Kation dan anion penyusunnya dapat dilihat pada Tabel 3.
I I I
Sumber : Sawyer & Mc Carty, 1978
Tabel 3. Kation penyusun kesadahan dan anion penyusunnya
Klasifikasi kesadahan menurut Effendi (2000) didasarkan pada 2 hal, yaitu:
1. Berdasarkan ion logam, atau kesadahan kalsium dan kesadahan magnesium
2. Berdasarkan anion yang berasosiasi dengan ion logam, yait~i kesadahan karborlat dan kesadahan non-karbonat.
Nilai kesadahan total = kesadahan kalsium
+
kesadahan magnesiumKation Ca '+ Mg 2+ Anion HC03-
so4'-
Sedangkan untuk mendapatkan kadar kalsium dan magnesium dari nilai kesadahan, menurut Cole (1 988) adalah sebagai berikut :
Kadar kalsium (mg / 1) = 0,4
x
kesadahan kalsiumKadar magnesium (mg/l) = 0,243 x kesadahan magnesium.
Air dengan kesadahan tinggi mempunyai kandungan kalsiurn, magnesium, karbonat dan sulfat yang tinggi, air jenis ini bila dipanaskan akan membentuk deposit kerak (Brown 1987). Tetapi kesadahan yang tinggi tidak memiliki pengaruh langsung pada kesehatan manusia, bahkan kesadahan tinggi dapat menghambat sifat toksik logam berat, dimana kalsium dan magnesium akan membentuk senyawa kompleks dengan logam berat. Timbal (Pb) dengan kadar 1 mg/l akan bersifat toksik pada ikan yang di air dengan kesadahan rendah (so# water), tetapi kadar timbal yang sama tidak mematikan ikan yang hidup di air dengan kesadahan 150 mg/l CaC03 (Tebbut 1992).
Air dengan nilai kesadahan kurang dari 120 mg/l CaC03, dan melebihi 500 mg/l CaC03 dianggap kurang baik bagi keperluan rumah tangga, pertanian dan industri. Air sadah (150 - 300 mg/l CaC03) disukai oleh organisme akuatik sebagai lingkungan hidupnya (Effendi 2000). Klasifikasi dalam penilaian nilai kesadahan dapat dilihat dalam Tabel 4.
Tabel 4. Klasifikasi nilai kesadahan air
I
Kesadahan (rngll CaCO3)/
Klasifikasi AirI
I
< 50I
Lunak (soft)I
I
50 - 150
I
Kadar Amonia (NH3)
Sumber arnonia di perairan adalah hasil penguraian nitrogen organik, yang berasal dari protein dan urea, dan nitrogen anorganik yang berasal dari dekomposisi bahan organik yang telah mati, seperti tumbuhan dan biota laut yang dilakuksn oleh mikroba melali~i proses amoriifikasi, dengar, reaksi.sebagai berikut:
Menengah (moderately hard) 150 - 300
> 300
Sadah (hard) Sangat sadah (very hard)
N organik
+
O2 3 NH3-N+
0 2 3 NO2-N+
0 2 3 NO3-NAmoniJikasi Nitr$kasi
Amonia dan bentuk garamnya sangat mudah larut dalam air dan akan membentuk ion amonium sebagai bentuk transisinya. Tinja yang berasal dari biota akuatik, reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi udara atmosfer, limbah industri dan domestik merupakan sumber amonia yang lain (Effendi 2000).
Pada pH 7 atau kurang, sebagian besar amonia akan mengalami ionisasi dan pada pH yang lebih besar dari 7, amonia tak terionisasi dan bersifat toksik (Novotny Olem 1994). Avertebrata akuatik memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap toksisitas amonia bila dibandingkan dengan ikan, karena pada ikan kadar amonia yang terlalu tinggi akan mengakibatkan gangguan pada proses pengikatan oksigen oleh darah dan akan menyebabkan sufokasi (Effendi 2000).
Kadar amonia bebas pada perairan alami biasanya kurang dari 0,l mg/l
(Mc Neely et al. 1979) dan kadar amonia bebas yang talc terionisasi (NH3) pada perairan tawar sebaiknya tidak melebihi 0,02 mg/l karena sifat toksiknya pada organisme akuatik. Pada kadar lebih dari 0,2 mg/l bersifat toksik bagi ikan (Sawyer & Mc Carty 1978). Konsentrasi pemaparan ammonia yang bersifat toksik bagi biota hewan air dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Toksisitas akut (L,D50 96 jam) amonia tak terionisasi pada organisme akuatik Spesies Oligochaeta Limnodrillus hoffmeisteri Gastropoda Lymnaea stagnalis Crustacea Gammarus pulex Asellus aquaticus Ephemeroptera (Mayfly)
Baetis rhodani (nymph)
Trichoptera (Caddisfly)
Hydropsyche angust ipennis (larva)
Chironomidae
C'hironornus riparzrs (larva)
Sumber : Moore, 199 1 96 jam (mg/l) 199 190 291 293 197 390 197
Amonia yang terukur di perairan adalah amonia total yang terdiri dari NH3
dan N H ~ + . ~ersentase amonia bebas akan meningkat sejalan dengan peningkatan pH dan suhu air. Toksisitas amonia terhadap organisme akuatik akan meningkat dengan penurunan kadar oksigen terlarut, pH dan suhu (Boyd 1988). Hubungan ammonia bebas (NH3 ) terhadap ammonia total (dalam %) dapat dilihat pada
Tabel 6. Hubungan pH dan suhu terhadap kadar amonia total
Sumber : Boyd, 1988
Kadar Nitrit (NOz)
Kadar nitrit di perairan alami pada umumnya akan lebih rendah dari kadar nitrat, karena nitrit bersifat tidak stabil bila terdapat oksigen. Nitrit adalah be~ltuk peralihan antara arnonia dan nitrat (nitrifikasi), dan juga bentuk peralihan antara
nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi), denitrifikasi adalah reduksi nitrat oleh aktivitas mikroba yang berlangsung pada kondisi anaerob (Novotny & Olem
1 994).
Nitrit menggambarkan adanya proses biologis perubahan bahan organik dengan kadar oksigen terlarut sangat rendah. Kadar nitrit di perairan alami sekitar 0,001 mgll, dan sebaiknya tidak melebihi 0,06 mg/l (Anonim 1987). Namun demikian menurut Sawyer & Mc Carty (1 978) kadar nitrit jarang sekali melebihi
1 mg/l.
Sumber nitrit adalah limbah industri dan limbah domestik, kadar nitrit lebih dari 0,05 mg/l bersifat toksik bagi organisme akuatik yang sensitif. Nitrit lebih bersifai toksik dibandingkan nitrat terhadap hewan dan manusia, batas aman kadar nitrit pada air minum menurut WHO sebaiknya tidak melebihi 1 mg/l, karena konsumsi nitrit yang berlebihan akan menyebabkan terganggunya proses pengikatan oksigen oleh hemoglobin darah yang selanjutnya akan membentuk methemoglobin yang tidak mampu mengikat oksigen (Moore 1991).
Ikan Hias Golongan Tetra
Ikan-ikan yang akan dijadikan obyek pengamatan adalah jenis-jenis ikan tetra sebagai berikut:
1. Serpae tetra (Hyphessobrycon serpae atau Hyphessobrycon eques)
Serpae tetra dikenal juga dengan sebutan blood characin. Ikan ini berukuran maksimum 4 cm, dengan suhu berkisar 24
-
28°C dan pH 5,5 -73.
Ikan ini adalah ikan yang mudah dibudidayakan Adapun klasifikasi ikan serpae tetra adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum Chordata
Class Actinopterygii
Ordo Characiformes
Family C haracidae
Genus Hyplr esso brycon
Spesies Hyphessobrycon serpae atau serpae tetra dapat dilihat pada
Gambar 1.
Gambar 1. Serpae tetra longfin (Hyphessobrycon serpae)
Sumber : (www.badmanstropica1fish.com).
2. Rossy Tetra (Hyphessobrycon bentosi)
Rossy tetra adalah kerabat dekat dari serpae tetra. Ikan ini berukuran maksimum 4 cm, dengan suhu bekisar 24 - 28°C dan pH 5,5 - 7,5. Ikan ini adalah
ikan yang mudah dibudidayakan
Klasifikasi ikan rossy tetra adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Phylum Chordata Class Actinopterygii Ordo Characiformes Family Characidae Genus Hyphessobrycon
Spesies Hyphessobrycon bentosi
Spesies Hyphessobrycon bentosi atau rossy tetra dapat dilihat pada
Garnbar 2.
Gambar 2. Rossy tetra (Hyphessobrycon roseus)
3. Neon Tetra (Paracheirodon innesi)
Neon tetra adalah ikan kecil dengan warna yang sangat terang. Ikan ini jarang mencapai panjang lebih dari 4 cm. Ikan jenis tetra ini dinarnakan neon karena adanya garis yang memanjang dari mata sampai ekor yang berwarna biru kehijau-hijauan seperti neon.
Ikan neon tetra dapat hidup pada kisaran pH 6 6,5 dan suhu 22" - 24°C
.
Adapun klasifikasi ikan neon tetra adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Phylum Chordata Class Actinopterygii Ordo Characiformes Famili Characidae Genus Paracheirodon
Spesies Paracheirodon innesi
Spesies Paracheirodon innesi atau Neon tetra dapat dilihat pada
Gambar 3.
Gambar 3. Neon Tetra (Paracheirodon innesi)
Surnber: (htt~:iiwww.centralvets.com)
4. Red Nose Tetra (Hemigrammus bleheri)
Nama umumnya adalah red-nose tetra atau rummy-nose tetra. Ikan ini berasal dari benua Afrika dan meruipakan ikan yang mudah dibudidayakan. Ikan red nose tetra dapat hidup dengan baik pada kisaran pH 6 - 6,5 dan pada suhu
Klasifikasi ikan red nose tetra dapat dilihat di bawah ini :
Kingdom : Animalia
Phylum Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class Actinopterygii
Sub Class : Neopterygii
Ordo Characiformes
Famili Characidae
Genus Hemigrammus (Gill 1858)
Species Hemigrammus bleheri (GCry and Mahnert 1986)
Spesies Hemigrammus bleheri atau red nose tetra dapat dilihat pa& Gambar 4.
Gambar 4. Red nose tetra (Hemigrammus bleheri)
Sumber : (www.research.arnnh.org)
5. Emperor Tetra (Nematobrycon palmery)
Narna lain dari ikan ini adalah rainbow tetra., ukuran ikan emperor tetra dewasa dapat mencapai 5 cm. Ikan ini dapat hidup dalam pH 5 - 7,8 dan pada kisaran suhu 23
-
27°C. Klasifikasi ikan emperor tetra dapat dilihat di bawah ini:Kingdom : Animalia
Phylum Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class Actinopterygii
Sub Class : Neopterygii
Genus Nematobiycon
Spesies Nematobrycon palmery.
Spesies Nematobiycon palmeiy atau emperor tetra dapat dilihat pada
Gambar 5.
Gambar 5. Emperor tetra (Nematobrycon palmery)
Sumber : (n~p:iifre~naquarium.ab~~t.com)
Penyakit-penyakit pada Ikan
1. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Menurut Wikipedia Indonesia tahun 2006, bakteri, berasal dari bahasa Latin bacterium (jamak, bacteria), yang berarti kelompok raksasa dari organisme hidup. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana tanpa nukleuslinti sel, cytoskeleton, dan organelle lain seperti mitokondria dan kloroplas. Bakteri merupakan prokaryota, untuk membedakan mereka dengan organisme yang memiliki sel lebih kompleks, disebut eukaryota. Istilah "bakteri" telah diterapkan untuk semua prokaryote atau untuk kelompok besar mereka.
Bakteri adalah organisme yang paling berkelimpahan dari semua organisme yang ada. Mereka berada di mana-mana, di tanah, air, dan sebagai simbiosis dari organisme lain. Banyak pathogen merupakan bakteri. Kebanyakan berukuran kecil, biasanya hanya berukuran 0,5-5 pm, meskipun ada jenis tertentu yang dapat mencapai diameter hingga 0,3 mm. Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti sel hewan dan jamur, tetapi dengan komposisi yang sangat berbeda (peptidoglycan).
Menurut Munday (1 988) ada dua cara penularan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, yaitu: secara vertikal dan secara horisontal. Cara vertikal, yaitu: penularan bakteri dari induk ke anak ikan melalui darah dan kemudian ke dalam
telur atau menempel di luar telur dengan cairan ovarium, seperti pada Aeromonas salmonicida. Sedangkan penularan secara horisontal, yaitu melalui kontak langsung antara ikan yang sakit dengan ikan yang tidak sakit, atau melalui medium air yang telah mengandung bakteri, seperti pada Vibrio sp., Aeromonas hydrophila dan Pseudomonas sp.
Virulensi bakteri dipengaruhi oleh banyak faktor. Bakteri-bakteri Gram negatif menghasilkan endotoksin yang dilepaskan ketika sel mati atau terdisintegrasi. Endotoksin ini adalah dinding sel bakteri yang tersusun atas komponen-komponen lipopolisakarida (terutama bagian lipid A). Untuk meningkatkan virulensi toksinnya, kebanyakan dari bakteri juga menghasilkan enzim ekstraseluler yang menyerang sel-sel ikan sehat (Anonim 2006b).
Pada Aeromonas hydrophila, faktor permukaan yang berhubungan dengan pili dari lapisan -5 asam liposakarida dan faktor enzim ekstra seluler yaitu siderophore untuk mengakuisisi besi dan mengatur eksoenzim dan eksotoksin, seperti anterotoksin, lipase dan protease, merupakan faktor yang berperan. Selain itu, peranan kualitas air dalam suatu mekanisme kejadian penyakit juga hams menjadi pertimbangan. Peranan dari faktor-faktor yang menentukan virulensi oleh bakteri patogenik itu, menjadi pertimbangan penting selama masa infeksi dan penularan untuk mengetahui etiologi penyakit (Anonim 2006b).
Tujuan utama suatu infeksi oleh bakteri adalah untuk menyerang sistim pertahanan inang. Pada saat bakteri dapat menyerang sistim imun dan menemukan tempat yang tepat, bakteri berkembang dengan cepat dan mengalahkan pertahanan inang, sehingga terjadilah penyakit.
2. Penyakit yang disebabkan oleh parasit
Semua ikan adalah inang potensial bagi parasit. Parasit dalam jumlah kecil adalah ha1 yang biasa dan mungkin hanya tidak berbahaya, namun semua parasit bisa bereproduksi dengan cepat dan dalam kondisi yang tepat dapat dengan cepat akan menjadi ancaman bagi ikan dalam kolam atau akuarium (Anonim 2006b).
Tipe parasit ada dua, yaitu: endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit adalah parasit yang ditemukan di dalarn jaringan dan organ-organ dalzm, dan
jarang ditemukan pada ikan hias. Ektoparasit adalah parasit yang ditemukan pada bagian luar tubuh ikan seperti pada kulit, sirip dan insang.
Terbatasnya kontak antar ikan akan mencegah parasit berpindah ke inang yang baru. Namun dalam industri perikanan, dimana kepadatan ikan tinggi, ikan terus menerus melakukan kontak satu sama lain sehingga parasit juga terus menerus ditularkan antar ikan. Hal ini meningkatkan survival rate juvenil yang baru menetas dan simpanan kista di dalam kolam atau akuariurn.
Ektopzrasit dapat menyebabkan kerusakan pada integumen karena aktifitas makan dan atau perpindahan mereka yang terus menerus (karena mereka menempel menggunakan pengait). Iritasi yang disebabkan ektoparasit menyebabkan produksi lendir yang berlebihan sehingga menyebabkan masalah pernapasan apabila sudah mempengaruhi insang. Parasit golongan ektoparasit misalnya berbagai jenis monogenea ( Gyrodactylus spp., Dactylogyrus spp., Neobenedenia spp.) kutu ikan (Argulus sp.); sealice (Caligus sp., Lepeophtheirus salmonis), gill maggot (Ergasilus sp.); mites (Hydroacarus).
3. Penyakit yang disebabkan oleh jamur
Jamur adalah penyakit yang biasa ditemukan pada ikan. Kebanyakan infeksi fi~ngi melibatkan jamur air dari kelas Oomycetes. Jamur ini yang paling sering ditemukan adalah Saprolegnia sp., fungi yang berfilamen. Fungi ini makan dengan mensekresi enzim pencernaan diatas area disekitarnya. Enzim ini menghancurkan sel-sel jaringan sehingga memungkinkan bagi fungi untuk menyerap nutrien seperti protein dan karbohidrat. Saprolegnia sp. adalah appotrooph (yang biasanya memakan material organik mati seperti buangan ikan, sisa pakan dan lain-lain), tetapi saprolegnia merupakan parasit opertunis, yang bisa mengambil kesempatan untuk menginfeksi ikan-ikan yang stres. Jarnur bereproduksi dengan melepaskan sprora, jamur ini sangat tahan terhadap kekeringan dan serangan kimia sehingga spora Saprolegnia sp. biasanya ditemukan pada semua kolam dan tangki. Saprolegnia sp. adalah infeksi sekunder yang paling banyak ditemukan setelah terjadinya kerusaltan integurnen ikan (kulit dan insang) yang disebabkan oleh infeksi bakteri, para~it dan virus. Faktor pemicu lainnya termasuk polusi air dan padat penebaran yang tinggi. Walaupun jarang
terjadi, Saprolegnia sp. dapat menjadi patogen primer, terutama karena menurunnya suhu sehingga sistim imun menurun.
Sistim Regulasi Karantina Ikan
Pelaksanaan pengendalian tingkat penyebaran harna dan penyakit ikan karantina diatur dalarn Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : Kep.17lMed2003, tentang penetapan jenis-jenis hama dan penyakit ikan karantina, golongan, media pembawa dan sebarannya.
Jenis harna dan penyakit karantina yang ditetapkan meliputi : virus (18 spesies), bakteri (1 1 spesies), parasit (17 spesies) dan mikotik (5 spesies). Pemeriksaan untuk tindakan pencegahan dan penangkalan bagi penyakit ikan dan organisme akuatik yang dilakukan di Balai Karantina Ikan di Bandara Soekarno- Hatta meliputi pemeriksaan fisik, gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Penemuan hama dan penyakit ikan di laboratorium akan
didokumentasikan sebelu~n dilakukan tindakan karantina pada ikan atau organisme akuatik yang bersangkutan. Tindakan karantina dilaksanakan sesuai dengan :
1. Undang-Undang nomor 16 tahun 1992, tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan
.
2. Peraturan Pemerintah nomor 15 tahun 2002, tentang Karantina Ikan.
3. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor
Kep.29lMen12002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Ikan.
BAHAN DAN METODA
Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan di 4 lokasi penarnpungan eksportir ikan hias yang terletak di Bogor, Cibinong, Bekasi dan Tangerang, dengan menggunakan peralatan standar pemeriksaan Balai Besar Karantina Ikan, Bandara Sukarno- Hatta.
Pemeriksaan sampel ikan akan dilaksanakan di Laboratorium Karantina, Balai Besar Karantina Ikan Bandara Soekarno-Hatta dan Balai Uji Standar Karantina Ikan Jakarta. Penelitian dilaksanakan selama 25 minggu pada rentang bulan Februari - Agustus 2005.
Sampel Ikan dan Metoda Pemeriksaan
Sampel ikan yang digunakan pada penelitian ini adalah ikan hias golongan tetra dengan jurnlah sampel 3 ekor
x
5 jenis ikan hias tetra per minggu yangdiambil dari-4 lokasi peternakan ikan hias di Jabotabek, dengan jenis-jenis ikan sebagai berikut :
1 . Serpae tetra (Hyphessobrycon serpae atau Hyphessobrycon eques)
2. Rossy tetra (Hyphessobrycon bentosi) 3 . Neon tetra (Paracheirodon innesi)
4. Red nose tetra (Hemigrammus bleheri)
5. Emperor tetra (Nematobrycon palmery)
Metoda pemeriksaan yang dilakukan pada sampel ikan meliputi :
1. Pemeriksaan preparat ulas darah dan cairan tubuh dengan isolasi dan identifikasi bakteri yang berasal dari insang dan hepatopankreas.
2. Identifikasi parasit dengan melakukan pemeriksaan patologi makroskopis,
pemeriksaan sediaan natif insang dan kerokan kulit dan sirip dilakukan untuk identifikasi parasit yang diarnati dibawah mikroskop.
3. Uj i pemeri ksaan histopatologi untuk melengkapi pemeriksaan makroskopis.
Jumlah kejadian penyakit &an dibedakan menjadi 3 golongan yaitu
bakteria!, parasiter dan fungi yarlg dinyatakan dalam persentase dari jumlah sarnpel yang diambil. Pemeriksaan terhadap penyakit viral tidak dilakukan pada penelitian ini.
Sampel Air dan Metoda Pemeriksaan
Sampel air diambil dari 4 lokasi peternakan ikan hias di Jabotabek. Pada setiap sampel air akan dilakukan pemeriksaan parameter-parameter kualitas air yang sangat berpengaruh pada ikan, yaitu: suhu air, pH, oksigen terlarut, kesadahan, kadar amonia dan kadar nitrit (Alabaster & Loyd 1980). Parameter pemeriksaan kualitas air ini merupakan parameter standar pemeriksaan Balai Karantina Ikan di Indonesia.
Adapun parameter kualitas air dan lokasi pengambilan sampel air dapat dilihat pada Tabel 7 di bawah ini:
Tabel 7. Parameter kualitas air yang diamati dan lokasi pengamatannya
Kerangka Kerja Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dimulai dengan menentukan tempat dan waktu pengambilan sampel. Setelah tempat dan pengambilan sampel ditentukan, maka penelitian mulai dilakukan dengan mengambil data suhu udara lingkungan bersamaan dengan pemeriksaan sampel air dan pengukuran beberapa parameter kualitas air secara in situ.(suhu air, pH dan DO), sebagian sampel air di bawa ke laboratorium untuk melanjutkan pemeriksaan parameter kualitas (kesadahan, kadar arnonia dan nitrit).
Untuk mengidentifikasi hama dan penyakit ikan diambil sampel ikan dan selanjutnya dilakukan pengamatan di laboratorium (detail prosedur pada Lampiran 14) dan hasilnya dicocokkan dengan daftar hama dan penyakit ikan karantina. Adapun kerangka kerja penelitian dapat dilihat dari skema pada Gambar 6 sebagai berikut:
Lokasi pengamatan in situ in situ in situ Laboratoriurn Laboratorium Laboratorium No. 1. 2. 3. 4. 5 . 6 .
Parameter yang diamati Suhu pH Oksigen terlarut Kadar Amonia Kadar Nitrit Kesadahan
Sarnpel Kualitas Air
I
Sarnpel IkanI
I
Perneriksaan Penyakit Ikan
Hama dan Penyakit Ikan
Daftar penyakit karantina Kep.l7/Men/Z003
Jenis-jenis Hama dan penyakit
ikan karantina
I
Korelasi antara Kualitas Air dengan Penyakit I k a nI
Gambar 6. Kerangka kerja penelitian
Analisis Pengolahan Data
Data-data yang diperoleh pada penelitian ini, terutama rataan kualitas air dan persentase kejadian penyakit (prevalensi), dianalisis dengan regresi linear sederhana dan korelasi, dengan model sbb :
Keterangan : Y = Variabel tak bebas kuantitatif dan terukur
X = Variabel bebas
Po
= Konstanta= Koefisien regresi
E, = Simpangan hasil pendugaan dari nilai sebenarnya,
(Steel & Torrie 199 1 ; Mattjik & Sumertajaya 2002)
Uji signifikansi menggunakan uji-t dan tingkat korelasi akan dinyatakan dalam koefisien determinasi (Steel & Torrie 199 1 ; Mattjik & Sumertajaya 2002).
Pada analisa data regresi dan antara kualitas air dan jumlah kejadian penyakit, parameter kualitas air yang paling berpengaruh (suhu air), akan digunakan sebagai variabel bebas (X) dan jumlah kejadian penyakit menjadi variabel tak bebas (Y).
HASIL
DAN
PEMBAHASAN
Rataan hasil pemeriksaan kualitas air dan persentase kejadian penyakit pada sarnpel ikan di lokasi A (Bogor) disajikan pada Lampiran 1 1, 12, 13, Tabel 8 d m Garnbar 7 sebagai berikut:
Tabel 8. Rata-rata kualitas air dan persentase penyakit pada sarnpel ikan di
lokasi A (Bogor) per bulan penelitian. Deskripsi Suhu udara ("C) Suhu air("C) PH DO Kesadahan (mg/l CaC03) Amonia (mgll) Nitrit (mgll)
Jenis harna penyakit : (%) Aeromonas hydrophila Pseudomonas fluorescens Argulus sp. Dactylogyrus sp. Gyrodactylus sp. Saprolegnia sp. BULAN Feb 26.5 23.8 6.8 7.9 147.3 0.02 0.03 13.3 11.7 20.0 21.7 20.0 13.3
-
Suhu -A. hydmphila +P. AuoreSCBN -A@ussP. ~ b 2 t Y l ~ ~ ~ ' p ' +GymdtKtylus=P. +SapidWasp- Mar 26.8 24.3 6.8 7.9 150.0 0.02 0.03 16.7 8.3 20.0 21.7 18.3 15.0 Mei 28.5 24.8 7.0 7.9 148.8 0.02 0.03 31.7 16.7 11.7 11.7 16.7 11.7Feb Mrr A P ~ Mei Jun Jld Agu
Wan
,
Gambar 7. Grafik hubungan suhu air dengan prevalensi penyakit ikan tetra di lokasi A (Bogor).
Dari Tabel 8 dan Garnbar 7, dapat diketahui bahwa terdapat Jun 28.3 25.5 7.1 7.9 148.8 0.02 0.03 30.0 20.0 10.0 13.3 15.0 11.7
kecenderungan adanya korelasi antara suhu air dengan prevalensi penyakit Jul 28.5 25.5 7.3 7.9 150.5 0.02 0.03 35.0 25.0 10.0 10.0 11.7 8.3 Ags 28.0 25.0 7.3 7.9 152.0 0.02 0.03 33.3 20.0 13.3 6.7 13.3 13.3
bakterial, parasiter dan fungi. Dalam ha1 ini bila suhu air naik, maka prevalensi bakterial akan cenderung naik, sedangkan prevalensi parasiter dan dan fungi cenderung akan turun. Sehingga pada bulan-bulan musim hujan, prevalensi bakterial cenderung rendah sedangkan parasiter dan fimgi cenderung tinggi. Keadaan yang sebaliknya terjadi di bulan-bulan musim kemarau. Hal ini sesuai dengan pendapat (Davis et al. 1980) yang menyatakan bahwa pada suhu yang
lebih rendah dari suhu optimumnya, akan menghambat proses sintesa protein yang disebabkan oleh lemahnya ikatan lipid sehingga pertumbuhan bakteri akan menurun. Sedangkankan siklus hidup parasit dan jamur akan lebih panjang pada saat suhu lebih, sehingga tingkat prevalensinya akan menurun.
Rataan hasil pemeriksaan kualitas air dan persentase kejadian penyakit pada sampel ikan di lokasi B (Cibinong) disajikan pada Lampiran 11, 12, 13, Tabel 9 dan Gambar 8 sebagai berikut:
Tabel 9. Rata-rata kualitas air dan persentase penyakit pada sampel ikan di
lokasi B (Cibinong) per bulan penelitian. Deskripsi
Suhu udara (OC) Suhu air("C) P H DO (rngll) Kesadahan (rng/l CaCO3) Amonia (mg/l) Nitrit (mgil)
Jenis harna penyakit : (%)
Aerontonus Iydroplr ilu Pseudomonas~uorescens Argulus sp. Dactylogyrus sp. Gyrodactylus sp. Saprolegnia sp. BULAN Feb 26.5 23.5 6.9 7.9 148.0 0.02 0.03 13.3 13.3 10.0 18.3 20.0 6.7 Mar 27.3 24.8 6.8 8.0 148.5 0.02 0.03 15.0 13.3 1.7 11.7 13.3 0.0 Apr 28.5 25.0 6.9 8.0 149.8 0.02 0.03 20.0 16.7 1.7 10.0 5.0 0.0 Mei 29.0 25.5 7.0 7.9 148.8 0.02 0.03 25.C 20.0 3.3 8.3 10.0 0.0 Jun 29.5 25.8 7.1 7.9 149.8 0.02 0.03 23.3 20.0 0.0 6.7 6.7 0.0 Jul 30.0 26.3 7.2 7.9 150.0 0.02 0.03 23.3 20.0 0.0 10.0 5.0 0.0 Ags 30.0 26.0 7.1 7.9 150.0 0.02 0.03 26.7 20.0 0.0 13.3 0.0 0.0
Feb Ma- Mei Jm Jul
Bulan
Gambar 8. Grafik hubungan suhu air dengan prevalensi penyakit ikan tetra di lokasi B (Cibinong).
Dari Tabel 9 dan Gambar 8 dapat diketahui bahwa terdapat kecenderungan adanya korelasi antara suhu air dengan prevalensi penyakit bakterial, parasiter dan fungi, dalam hal ini bila suhu air naik maka prevalensi bakterial akan cenderung naik, sedangkan parasiter dan dan fungi cenderung akan turun. Sehingga pada bulan-bulan musim hujan prevalensi bakterial cenderung rendah, sedangkan parasiter dan fungi cenderung tinggi. Keadaan sebaliknya te rjadi di bulan-bulan musim kemarau. Hal ini sesuai dengan pendapat (Davis et al. 1980) yang menyatakan bahwa pada suhu yang lebih rendah dari suhu optimurnnya, akan menghambat proses sintesa protein yang disebabkan oleh lemahnya ikatan lipid sehingga perturnbuhan bakteri akan menurun. Sedangkankan siklus hidup parasit
dan jamur akan lebih panjang pada saat suhu lebih, sehingga tingkat prevalensinya
akan menurun
Rataan hasil pemeriksaan kualitas air dan persentase kejadian penyakit
pada sarnpel ikan di lokasi C (Bekasi) disajikan pada Lampiran 1 1, 12, 13 dan Tabel 10 serta Gambar 9 sebagai berikut:
Tabel 10. Rata-rata kualitas air dan persentase penyakit pada sarnpel ikan di
lokasi C (Bekasi) per bulan penelitian.
Deskripsi BULAN
Mei Jun Jul Ags
30.0 30.5 30.3 32.0 25.5 26.0 26.0 26.0 7.1 7.2 7.2 7.2 7.9 8.0 7.9 7.9 148.5 148.5 147.5 147.0 0.02 0.02 0.02 0.02 0.03 0.03 0.03 0.03 Feb
I
MarI
AprSuhu udara ("C) Suhu air("C) PH DO (mg/l) Kesadahan (mg/l CaCO3) Amonia (mg/l) Nitrit (mg/l)
Jenis hama penyakit : (%) Aeromonas hydrophila Pseudomonas_fluorescens Argulus sp. Dactylogvrus sp. Gyrodactylus sp. Saprolegnia sp.
Feb Mei Jun AW
W a n 28.5 23.3 7.2 7.9 148.5 0.02 0.03 20.0 6.7 6.7 13.3 11.7 0.0
Gambar 9. Grafik hubungan suhu air dengan prevalensi penyakit ikan tetra di lokasi C (Bekasi).
Dari Tabel 10 dan Gambar 9 dapat diketahui bahwa terdapat
kecenderungan adanya korelasi antara suhu air dengan prevalensi penyakit bakterial, parasiter dan fungi, dalam hal ini bila suhu air naik maka prevalensi bakterial akan cenderung naik, sedangkan parasiter dan dan fungi cenderung akan
turun. Sehingga pada bulan-bulan musim hujan prevalensi bakterial cenderung
rendah sedangkan parasiter dan fungi cenderung tinggi. Keadaan yang sebaliknya terjadi pada bulan-bulan di musim kemarau. Hal ini sesuai dengan pendapat (Davis et al. 1980) yang menyatakan bahwa pada suhu yang lebih rendah dari
suhu optimwnnya, akan menghambat proses sintesa protein yang disebabkan oleh lemahnya ikatan lipid sehingga pertumbuhan bakteri akan menurun. Sedangkankan siklus hidup parasit dan jamur akan lebih panjang pada saat suhu lebih, sehingga tingkat prevalensinya akan menurun.
Rataan hasil pemeriksaan kualitas air dan persentase kejadian penyakit pada sampel ikan di lokasi D (Tangerang) disajikan pada Lampiran 11, 12, 13 dan Tabel 1 1 serta Gambar 10 sebagai berikut:
Tabel 11. Rata-rata kualitas air dan persentase penyakit pada sampel ikan di
lokasi D (Tangerang) per bulan penelitian.
Feb Mar Me1 Jun Jul
Butan Deskripsi
-
suhu -A. hydrophila +P. RwresOens -A@ussp. *DktylOgyM SP. -Gyrodactylus SP. t s w d e g n i a s p . BULANFeb
(
MarI
Apr(
MeiI
JunI
JulI
AgsGambar 10 Grafik hubungan suhu air dengan prevalensi penyakit ikan tetra di
Dari Tabel 11 dan Gambar 10 dapat diketahui bahwa terdapat kecenderungan adanya korelasi antara suhu air dengan prevalensi penyakit bakterial, parasiter dan fungi, dalam ha1 ini bila suhu air naik maka prevalensi bakterial akan cenderung naik, sedangkan parasiter dan dan fungi cenderung akan turun. Sehingga pada bulan-bulan musim hujan prevalensi bakterial cenderung rendah, sedangkan parasiter dan fungi cenderung tinggi. Keadaan yang sebaliknya terjadi pada bulan-bulan musim kemarau. Hal ini sesuai dengan pendapat (Davis
et al. 1980) yang menyatakan bahwa pada suhu yang lebih rendah dari suhu
optimumnya; akan menghambat proses sintesa protein yang disebabkan oleh lemahnya ikatan lipid sehingga pertumbuhan bakteri akan menurun. Sedangkankan siklus hidup parasit dan jamur akan lebih panjang pada saat suhu lebih, sehingga tingkat prevalensinya akan menurun.
Rataan hasil pemeriksaan kualitas air dan persentase kejadian penyakit pada sarnpel ikan yang bertujuan mengetahui perbandingan prevalensi kejadian penyakit selama bulan Februari hingga Agustus 2005 di lokasi-lokasi yang berbeda di Jabotabek dapat dilihat pada Tabel 12 dan Gambar 11, serta Lampiran 2.
Tabel 12. Rata-rata kualitas air clan persentase penyakit pada sampel ikan selama
25 minggu penelitian
Deskripsi Suhu udara (OC) Suhu air("C) PH DO (mgfl) Kesadahan (mgll CaC03) Amonia (mgll) Nitrit (mg/l)
Jenis hama penyakit : (%)
Aeromonas hydrophila Pseudomonas fluorescens Argulus sp. DactyIogyrus sp. Gyrodactylus sp. Saprolegnia sp.
S u h u
*A. hydrophila
*P. mr€-
Bogor Cibinong Bekasi Tanggerang LOKASI PENELlTlAN
Gambar 11. Hubungan suhu air rata-rata dengan prevalensi penyakit ikan tetra di semua lokasi penelitian.
Dari Tabel 12 dan Gambar 11 dapat diketahui bahwa rataan hasil pemeriksaan pada sampel air selama 25 minggu menunjukkan suatu h a i l yang hampir seragam, lokasi-lokasi pemeriksaan yang berbeda (A di Bogor, B di Cibinong, C di Bekasi dan D di Tangerang) yang secara klimatologi agak berbeda, tampak telah di antisipasi oleh pengelola lokasi penampungan 1 peternakan ikan dengan manajemen air yang cukup baik.
Selisih suhu air dan parameter mutu air lainnya di lokasi Cibinong, Bekasi dan Tangerang yang secara klimatologi memiliki suhu lingkungan yang lebih panas, dengan lokasi terletak di Bogor dengan suhu lingkungan yang lebih rendah, tarnpak telah mendekati seragam, yang berarti pengusaha di lokasi Cibinong, Bekasi dan Tangerang berusaha untuk memperbaiki kualitas air dengan manajemen yang cukup intensif.
Paramete* b a l i t a s Air
Perbandingan rata-rata nilai parameter kualitas air selama 25 minggu penelitian (Lampiran 2) dengan kualitas air menurut Langdon (1 988) dapat dilihat pada Tabel 1 3.