BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada bab ini akan dibahas secara rinci mengenai metode penelitian yang

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini akan dibahas secara rinci mengenai metode penelitian yang dipakai oleh penulis dalam mengumpulkan sumber berupa data dan fakta yang berkaitan dengan judul skripsi “Sunyinya Suara Petasan” (Kajian Terhadap Komunitas Perajin Petasan di Indramayu Tahun 1970-2003). Adapun permasalahan yang dikaji dalam judul tersebut mengenai perkembangan awal industri petasan, upaya pengusaha dalam mengembangkan industri petasan, kontribusi industri petasan terhadap kehidupan ekonomi dan keterkaitannya dengan perubahan masyarakatnya serta peranan Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu dalam menangani industri petasan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis, yakni suatu proses pengkajian, penjelasan, dan penganalisaan secara kritis terhadap rekaman serta peninggalan masa lampau (Sjamsuddin, 2007: 17-19). Selain itu, Gottschalk (1986 : 32), menyatakan bahwa ”metode historis adalah suatu proses mengkaji, menjelaskan, dan menganalisis secara kritis terhadap rekaman serta peninggalan masa lampau”.

Dari kedua pengertian tersebut, penulis beranggapan bahwa metode historis digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa data-data yang digunakan berasal dari masa lampau sehingga perlu dianalisis kembali tingkat kebenarannya agar kondisi masa lampau dapat digambarkan dengan baik.

(2)

Dengan demikian, metode historis merupakan metode yang paling cocok dengan penelitian ini karena data-data yang dibutuhkan berasal dari masa lampau mengenai kehidupan sosial-ekonomi masyarakat kecamatan Indramayu khususnya Desa Teluk Agung.

Adapun mengenai langkah-langkah dalam penelitian ini, menurut Ismaun (2005, 48-50) diantaranya adalah :

a. Heuristik, yaitu proses pengumpulan sumber-sumber sejarah yang berhubungan dengan industri petasan dan peranannya bagi kehidupan masyarakat desa Teluk Agung Kecamatan Indramayu tahun 1970-2003. Dalam tahap ini, penulis melakukan pencarian sumber-sumber sejarah baik yang berupa buku, dokumen, maupun artikel.

b. Kritik Sumber adalah proses menganalisa sumber yang telah diperoleh, apakah sumber tersebut sesuai dengan masalah penelitian, baik secara tertulis maupun lisan. Pada tahap ini, penulis melakukan seleksi sumber baik dengan kritik eksternal maupun internal sehingga memperoleh fakta sejarah yang berkaitan dengan tema penelitian yang dikaji.

c. Interpretasi adalah proses penafsiran dan penyusunan fakta sejarah yang diperoleh selama penelitian berlangsung dengan cara menghubungkan satu fakta dengan fakta yang lainnya sehingga didapatkan gambaran yang jelas tentang peranan industri petasan bagi kehidupan ekonomi masyarakat desa Teluk Agung Kecamatan Indramayu.

d. Historiografi merupakan proses penyusunan dan penulisan fakta sejarah yang telah diperoleh melalui berbagai macam proses baik interpretasi dan eksplanasi yang telah dilakukan berdasarkan hasil penelitian dan penemuannya yang kemudian disusun menjadi satu kesatuan sejarah yang utuh sehingga terbentuklah suatu skripsi.

Menurut Kuntowioyo (2003 : 62), dalam melaksanakan penelitian sejarah terdapat 5 (lima) tahap yang harus dilakukan, yaitu :

1. Pemilihan Topik 2. Pengumpulan Sumber

3. Verifikasi (kritik sejarah dan keabsahan sejarah) 4. Interpretasi

(3)

Dalam upaya merekonstruksi peristiwa sejarah yang menjadi objek kajian, cara mengumpulkan data dilakukan dengan cara memperoleh informasi dari buku dan dokumen serta dilengkapi wawancara dengan para narasumber. Penggunaan metode wawancara sebagai teknik dalam memperoleh data didasarkan atas pertimbangan bahwa periode kajian ini masih memiliki kesempatan didapatkannya sumber lisan. Pertimbangan pertama yang dijadikan oleh penulis untuk mendukung sumber tertulis adalah pelaku yang mengalami, melihat dan menyaksikan sendiri peristiwa yang terjadi di masa lampau, khususnya peristiwa yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini relatif masih banyak. Selain itu, penulis juga menggunakan beberapa konsep ilmu sosial dengan maksud untuk mempertajam analisis kajian.

Berdasarkan uraian tersebut, penyusunan skripsi ini dijabarkan menjadi tiga langkah kerja penelitian sejarah. Ketiga langkah penelitian tersebut terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian, dan laporan penelitian.

3.1 Persiapan Penelitian

Pada tahap persiapan penelitian ini terdapat langkah-langkah yang harus ditempuh, antara lain :

3.1.1 Penentuan dan Pengajuan Tema Penelitian

Tahap penelitian dan pengajuan tema penelitian merupakan tahap awal penelitian dengan langkah awal mengajukan rancangan judul penelitian pada Tim Pertimbangan Penulisan Skripsi (TPPS). Rancangan penelitian tersebut disetujui

(4)

oleh Ketua TPPS sebagai tindak lanjut dari penelitian hibah kompetitif yang diketuai oleh Dra. Murdiyah Winarti, M.Hum. Setelah judul dan rancangan penelitian disetujui maka dilakukan pengesahan penelitian yang ditetapkan dengan surat keputusan oleh Ketua TPPS dan Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah Nomor 053/TPPS/JPS/2009.

3.1.2 Penyusunan Rancangan penelitian

Rancangan penelitian merupakan salah satu langkah awal sebelum melakukan penelitian dan penyusunan laporan penelitian. Rancangan ini merupakan kerangka dasar yang dijadikan sebagai acuan dalam melakukan penelitian dengan terlebih dahulu melakukan pencarian bahan pustaka dan kemudian wawancara sebagai sumber data.

Rancangan ini berupa proposal skripsi yang diajukan kembali kepada TPPS. Proposal tersebut pada dasarnya memuat hal-hal berikut :

a. Judul Penelitian

b. Latar Belakang Masalah Penelitian c. Rumusan dan Batasan Masalah Penelitian d. Tujuan Penelitian

e. Tinjauan Pustaka

f. Metode dan Teknik Penelitian g. Sistematika Penelitian

(5)

Proposal ini kemudian disetujui oleh Ketua dan Tim TPPS dengan judul “Perkembangan Industri Petasan di Kecamatan Indramayu Kabupaten Indramayu Tahun 1970-2003” (Tinjauan Sosial-Ekonomi).

3.1.3 Mengurus Perizinan

Mengurus perizinan dilakukan untuk memperlancar proses penelitian dan melakukan observasi. Selain itu, maksud dari perizinan tersebut adalah untuk menemukan sumber-sumber yang dibutuhkan dalam kajian penelitian ini. Perizinan yang dimaksud berbentuk surat keterangan dan surat pengantar kepada personal ataupun kepada instansi-instansi terkait. Surat izin penelitian tersebut ditujukan untuk Badan Pusat Statistik Kabupaten Indramayu, Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Indramayu, Kepala Camat Indramayu dan Kepala Desa Teluk Agung.

3.1.4 Mempersiapkan Perlengkapan Penelitian

Untuk memperoleh hasil penelitian yang baik maka perlengkapan penelitian harus direncanakan. Hal ini bertujuan agar berguna bagi kelancaran dalam melakukan penelitian. Adapun perlengkapan penelitian ini antara lain : a. Surat izin penelitian dari Pembantu Rektor I UPI Bandung.

b. Instrumen wawancara

c. Alat Perekam (Tape Recorder) d. Kamera Foto

(6)

3.1.5 Konsultasi

Konsultasi merupakan proses bimbingan penulisan laporan penelitian yang dilakukan dengan pembimbing I dan II. Konsultasi sangat diperlukan sebagai langkah tepat dalam proses penyusunan laporan penelitian dengan melakukan diskusi mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi peneliti sehingga hasil yang diharapkan sesuai dengan ketentuan. Proses bimbingan dilakukan dengan menentukan waktu pelaksanaan bimbingan yang dilakukan secara berkelanjutan.

3.2 Pelaksanaan Penelitian

3.2.1 Heuristik (Pengumpulan Sumber)

Heuristik adalah kegiatan mengumpulkan sumber-sumber relevan yang terkait dengan masalah penelitian, baik itu sumber primer maupun sumber sekunder. Peneliti menggunakan sumber tertulis dan sumber lisan untuk memperoleh data mengenai skripsi yang berjudul “Sunyinya Suara Petasan” (Kajian Terhadap Komunitas Perajin Petasan di Indramayu Tahun 1970-2003).

3.2.1.1 Pengumpulan Sumber Tertulis

Pada tahap ini dilakukan pencarian terhadap berbagai macam sumber yang berhubungan dengan masalah penelitian. Sumber sejarah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber tertulis berupa buku-buku, artikel dan dokumen yang dapat membantu memecahkan persoalan yang dikaji. Sumber-sumber yang berhasil dikumpulkan kemudian dibaca dan dikaji sehingga memperoleh data yang relevan dengan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat yang ada di sekitar industri petasan sesuai dengan judul penelitian.

(7)

Proses pencarian sumber tertulis dilakukan dengan melakukan kunjungan ke beberapa perpustakaan seperti Perpustakaan UPI, Perpustakaan Jurusan Pendidikan Sejarah UPI, Perpustakaan CISRA UNPAD, Perpustakaan Gedung Sate dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Indramayu. Dari tempat-tempat tersebut, penulis memperoleh data yang berkaitan dengan kajian penelitian. Lebih jelasnya, buku-buku yang diperoleh dari beberapa perpustakaan tersebut akan dijabarkan sebagai berikut.

a. Dalam kunjungan ke Perpustakaan UPI, ditempat ini penulis menemukan sumber-sumber yang berkaitan pembangunan desa dan beberapa buku tentang industri kecil. Buku-buku tersebut sangat membantu penulis dalam memahami aspek pokok pembangunan suatu desa di Kecamatan Indramayu yang membangun desanya melalui pemberdayaan industri kecil yaitu industri petasan. Kemudian penulis menemukan buku Peranan Wanita dalam Perkembangan Masyarakat Desa karangan dari Sajogyo yang diterbitkan oleh Rajawali Press, Jakarta, yang sangat membantu penulis dalam melihat peranan wanita pada industri petasan di Kecamatan Indramayu. Selain itu, penulis juga menemukan buku-buku tentang perubahan sosial sehingga penulis dapat memahami bentuk dan proses perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat di sekitar industri petasan.

b. Dalam kunjungan ke Perpustakaan Jurusan Pendidikan Sejarah di UPI Bandung, penulis menemukan buku karangan dari Sumodiningrat yang berjudul Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat yang diterbitkan oleh Bina Rena Pariwara, Jakarta. Buku ini bagi penulis sangat

(8)

membantu sekali dalam memahami pemberdayaan masyarakat dan peranan dan kebijakan dari pemerintah dalam membantu pembangunan daerahnya. Dalam konteks ini, pemberdayaan masyarakat terjadi pada masyarakat Desa Teluk Agung dalam mengembangkan industri petasan ditambah dengan adanya bantuan dari pemerintah daerah Kabupaten Indramayu berupa penyuluhan-penyuluhan mengenai aturan keamanan dalam membuat petasan. c. Kunjungan ke Perpustakaan CISRA UNPAD, dari tempat ini penulis

memperoleh buku Aspek Sosial dalam Pembangunan Pedesaan karangan dari Soedjito. Buku ini membantu penulis dalam menganalisa aspek sosial yang mempengaruhi pembangunan desa di Desa Teluk Agung Kecamatan Indramayu.

d. Dalam kunjungan ke Perpustakaan Gedung Sate. Disini penulis memperoleh beberapa buku yang sangat membantu kinerja penulis dalam menulis laporan penelitian ini, diantaranya adalah buku dari Saptari dan Holzner yang berjudul Perempuan Kerja dan Perubahan Sosial, Sebuah Pengantar Studi Perempuan , buku dari Suprayitna yang berjudul Usaha Sampingan Wanita Pedesaan Mengisi Waktu Meraup Rejeki Membantu Suami dan buku yang berjudul Sumber Daya Manusia, Peluang Kerja dan Kemiskinan dari Effendi. Buku-buku ini sangat membantu penulis dalam memahami bagaimana kondisi sumber daya manusia dan peluang kerja masyarakat di Kecamatan Indramayu serta peranan wanita (istri) dalam membantu suami menambah penghasilan keluarga demi memenuhi kebutuhan hidup.

(9)

e. Perpustakaan Daerah Kabupaten Indramayu, penulis mendapatkan buku yang berhubungan dengan proses peralihan mata pencaharian penduduk terutama dalam hal ini buku Transformasi Pertanian, Industrialisasi dan Kesempatan Kerja dari Rahardjo sangat membantu dalam menganalisis peralihan mata pencaharian masyarakat desa Teluk Agung yang biasanya sebagai petani tetapi ketika menjelang bulan puasa berubah menjadi perajin petasan.

3.2.1.2 Pengumpulan Sumber Lisan

Dalam menggali sumber lisan dilakukan dengan teknik wawancara, yaitu melakukan tanya jawab dengan beberapa pihak yang terkait dengan penelitian baik pelaku maupun saksi di mana penulis mengajukan beberapa pertanyaan yang sesuai dengan permasalahan yang dikaji untuk memperoleh informasi yang diharapkan dapat membantu penelitian ini. Menurut Kuntowijoyo (2003 : 74), teknik wawancara merupakan suatu cara untuk mendapatkan informasi secara lisan dari narasumber sebagai pelengkap dari sumber tertulis. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan dari dilakukannya wawancara adalah mendapatkan informasi tambahan atas kekurangan data dari sumber tertulis yang ada.

Teknik wawancara dilakukan antara pelaku atau saksi dan penulis. Sebelum wawancara terlebih dahulu daftar pertanyaan disiapkan. Daftar pertanyaan tersebut dijabarkan secara garis besar. Pada pelaksanaannya, pertanyaan tersebut diatur dan diarahkan sehingga pembicaraan berjalan sesuai dengan pokok permasalahan. Apabila informasi yang diberikan narasumber kurang jelas, maka penulis mengajukan kembali pertanyaan yang masih terdapat dalam kerangka pertanyaan besar. Pertanyaan-pertanyaan itu diberikan dengan

(10)

tujuan untuk membantu narasumber dalam mengingat kembali peristiwa sehingga informasi menjadi lebih lengkap.

Narasumber yang diwawancarai adalah mereka yang mengetahui keadaan pada saat itu dan berasal dari berbagai kalangan, yaitu para pengusaha, pekerja, dan sebagainya. Teknik wawancara ini berkaitan erat dengan penggunaan sejarah lisan (oral history), seperti yang dikemukakan pula oleh Kuntowijoyo (2003 : 28-30) bahwa :

Sejarah lisan sebagai metode dapat dipergunakan secara tunggal dan dapat pula sebagai bahan dokumenter. Sebagai metode tunggal sejarah lisan tidak kurang pentingnya jika dilakukan dengan cermat. Banyak sekali permasalahan sejarah bahkan zaman modern ini yag tidak tertangkap dalam dokumen-dokumen. Dokumen hanya menjadi saksi dari kejadian-kejadian penting menurut kepentingan pembuat dokumen dan zamannya, tetapi tidak melestarikan kejadian-kejadian individual dan yang unik yang dialami oleh seseorang atau segolongan. Selain sebagai metode, sejarah lisan juga dipergunakan sebagai sumber sejarah.

3.2.2 Kritik Sumber

Setelah menyelesaikan langkah pertama, yaitu heuristik, langkah kedua yang harus dilakukan adalah kritik sumber. Kritik sumber dapat diartikan sebagai suatu proses menilai sumber dan menyelidiki kesesuaian, keterkaitan, dan keobjektivitasan dari sumber-sumber informasi yang telah berhasil dikumpulkan dengan masalah penelitian. Kritik sumber sejarah adalah penilaian secara kritis terhadap data dan fakta sejarah yang ada. Kritik sumber dilakukan setelah sumber-sumber sejarah yang diperlukan telah diperoleh.

Adapun fungsi dari kritik sumber bagi sejarawan erat kaitannya dengan tujuan sejarawan itu dalam rangka mencari kebenaran (Sjamsuddin, 2007 : 132). Sumber-sumber sejarah yang telah dikumpulkan selama tahap heuristik kemudian

(11)

dikelompokkan menjadi dua, yaitu kritik terhadap sumber tertulis dan sumber lisan. Pengelompokkan terhadap sumber informasi dilakukan untuk mempermudah penulisan dalam melakukan kritik.

3.2.2.1 Kritik Terhadap Sumber Tertulis

Pada tahap ini diupayakan semaksimal mungkin untuk melakukan penelitian sumber tertulis. Adapun sumber-sumber tertulis tersebut adalah buku-buku, artikel, dan arsip-arsip atau dokumen-dokumen. Seluruh sumber sejarah yang dipakai sebagai sumber tulisan memberikan informasi berupa data yang diklasifikasikan sesuai dengan tujuan penelitian, hingga pada akhirnya diperoleh fakta yang kredibel tentang kajian sosial-ekonomi masyarakat desa Teluk Agung Kecamatan Indramayu pada industri petasan tahun 1970-2003.

Pelaksanaan kritik eksternal dalam hal ini tidak dilaksanakan secara ketat oleh peneliti, terutama untuk dokumen yang diperoleh dari BPS. Tindakan ini diambil dengan pertimbangan karena instansi tersebut secara nasional diakui sebagai lembaga yang dinilai kompeten dalam melakukan pendataan dan pendokumentasian hingga otentisitasnya terjamin. Dari proses ini peneliti menemukan sejumlah fakta mengenai data dari BPS tentang jumlah penduduk, mata pencaharian dan tingkat pendidikan masyarakat di Indramayu yang berkaitan dengan pembahasan yang dikaji.

Berbeda halnya dengan kritik eksternal yang tidak dilakukan secara ketat, dalam kritik internal penulis melakukannya lebih mendalam dan menyeluruh. Hal ini bertujuan agar fakta yang diperoleh benar-benar sesuai dengan permasalahan

(12)

yang dikaji. Kritik internal adalah suatu cara pengujian yang dilakukan terhadap aspek dalam, yaitu isi dari sumber. Langkah kerja yang dilakukan adalah memeriksa dengan teliti kesesuaian antara isi sumber dengan topik yang dibahas dan kurun waktu kajian. Hal ini didasarkan atas penemuan dua penyelidikan bahwa arti sebenarnya kesaksian itu harus dipahami serta kredibilitas saksi harus ditegakkan. Oleh karena itu, sumber harus memiliki kredibilitas yang tinggi (Sjamsuddin, 2007 : 147).

Dalam kritik internal ini, seluruh sumber sejarah yang dipakai menjadi sumber tulisan yang memberikan informasi berupa data yang sesuai dengan tujuan penelitian. Informasi yang didapatkan dari buku yang satu dibandingkan dengan buku yang lain sehingga diperoleh fakta yang dapat digunakan untuk mengkaji pokok permasalahan penelitian.

Setelah melakukan kritik internal, ternyata penulis menemukan beberapa fakta yang termuat dalam sumber tertulis yang juga berhubungan dengan permasalahan yang dikaji. Dalam hal ini, fakta tersebut sangat berhubungan dengan kondisi lingkungan industri petasan, yaitu Desa Teluk Agung. Desa Teluk Agung merupakan salah satu desa di Kecamatan Indramayu yang memproduksi petasan.

Desa ini mempunyai kondisi wilayah yang subur di mana sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani, namun ditengah kesibukkannya sebagai petani dalam waktu-waktu tertentu misal pada saat menjelang bulan puasa mereka beralih profesi menjadi perajin petasan dan hal itu sudah mereka jalani cukup lama.

(13)

3.2.2.2 Kritik Terhadap Sumber Lisan

Pada tahapan ini, penulis melakukan kritik terhadap data-data yang diperoleh dari hasil wawancara. Kritik terhadap sumber lisan dilakukan dengan kritik eksternal dan internal. Kritik eksternal adalah suatu penelitian atas asal-usul dari sumber, suatu pemeriksaan atas catatan atau peninggalan itu sendiri untuk mendapatkan semua informasi yang mungkin dapat dijadikan sebagai sumber pendukung dari sumber tertulis dan untuk mengetahui apakah pada suatu waktu sejak asal mulanya sumber itu telah diubah oleh orang-orang tertentu atau tidak (Sjamsuddin, 2007 : 133-134). Kritik eksternal terhadap sumber yang berasal dari wawancara dilakukan dengan mengidentifikasi narasumber apakah pelaku sejarah atau saksi. Dari kritik eksternal ini, penulis memperoleh sejumlah pelaku sejarah ataupun saksi yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Adapun narasumber yang di wawancarai, diantaranya yaitu Bapak Supandi (Ketua LSM Perak), bapak Aswirto, bapak Yayat Supriatna dari Diskopindag, yang merupakan pelaku, dan Bapak Haeruman yang menjadi saksi.

Setelah kritik eksternal selesai dilakukan, penulis juga melakukan kritik internal terhadap hasil wawancara sehingga isi dari sumber-sumber yang diperoleh layak untuk dijadikan sebagai bahan dalam penulisan skripsi. Adapun untuk kritik internal sendiri penulis mempunyai beberapa kriteria yang harus diperhatikan dari para narasumber agar dapat memperoleh fakta yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji. Hal-hal yang harus diperhatikan dari narasumber tersebut adalah faktor mengenai mental dan fisik (kesehatan), perilaku meliputi kejujuran, umur yang dapat dipercaya bisa memberikan kesaksian yang bisa dipertanggungjawabkan, tepat dan memadai.

(14)

Kritik ini pada dasarnya menekankan kompetensi dan kebenaran informasi yang dipaparkan narasumber kepada penulis, yang artinya mendekati kepada kebenaran dan tingginya reliabilitas yang disampaikan narasumber. Untuk menghindari subjektivitas informasi yang disampaikan oleh narasumber, penulis melakukan cross checking antara narasumber yang satu dengan yang lain untuk mendapatkan fakta sejarah yang relevan. Adapun dari proses ini, penulis memperoleh fakta yang berkaitan dengan industri petasan, yaitu fakta bahwa keberadaan industri petasan memang telah menjadi kegiatan turun temurun dan jenis petasan yang diproduksi warga Desa Teluk Agung memang jenis korek api.

3.2.3 Interpretasi

Interpretasi merupakan proses pemberian penafsiran terhadap fakta yang telah dikumpulkan. Pada tahap ini, fakta-fakta yang telah dikumpulkan dipilih dan diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan yang dikaji sehingga dapat menjawab permasalahan yang diajukan dalam Bab I.

Pada proses interpretasi ini, penulis menggunakan pendekatan interdisipliner. Pendekatan interdisipliner adalah pendekatan dalam suatu pemecahan masalah dengan menggunakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang relevan secara terpadu. Dalam hal ini, ilmu sejarah dijadikan sebagai disiplin ilmu utama dalam mengkaji permasalahan penelitian. Untuk membantu mempertajam analisis, penulis menggunakan konsep ilmu-ilmu sosial lainnya seperti ilmu sosiologi dan ekonomi.

(15)

Dari kedua ilmu tersebut, penulis menggunakan beberapa konsep, diantaranya pemberdayaan masyarakat dan kewirausahaan, pembangunan industri pedesaan, kebijakan pemerintah terhadap industri kecil dan perubahan sosial-ekonomi untuk membantu mengkaji masyarakat yang berada di sekitar industri petasan di Desa Teluk Agung Kecamatan Indramayu pada tahun 1970-2003. Dengan menggunakan pendekatan ini diharapkan penulis dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai permasalahan yang dikaji dan mempermudah dalam proses penafsiran.

3.3 Laporan Penelitian

Langkah ini merupakan langkah terakhir dari keseluruhan prosedur penelitian. Dalam metode historis, langkah ini dikenal dengan historiografi. Pada tahap ini, penulis melakukan penulisan akhir dari ketiga tahapan sebelumnya, yaitu heuristik, kritik sumber dan interpretasi. Dalam tahapan ini pula, penulis mengerahkan segenap kemampuan segala daya pikir dengan pikiran yang kritis dan menganalisisnya sehingga memperoleh suatu sintesis dari keseluruhan hasil penelitian dan penemuan ke dalam suatu penulisan yang utuh (Sjamsuddin, 2007 : 155-156).

Laporan hasil penelitian ini ditulis dengan menggunakan sistematika yang terdapat dalam buku pedoman penulisan karya ilmiah yang dikeluarkan oleh UPI Bandung. Adapun sistematika dari penulisan skripsi ini terbagi ke dalam lima bagian, yaitu :

Bab I Pendahuluan Bab II Tinjauan Pustaka

(16)

Bab III Metodologi Penelitian

Bab IV Perubahan Ekonomi Masyarakat Sekitar Kawasan Industri Petasan di Desa Teluk Agung Kecamatan Indramayu Tahun 1970-2003.

Bab V Kesimpulan dan Saran

Tujuan dari penulisan ini adalah mengkombinasikan hasil temuan atau penelitian kepada umum sehingga temuan yang diperoleh dari hasil penelitian tidak saja memperkaya wawasan sendiri melainkan juga dapat memberikan sumbangan ilmu kepada masyarakat luas dan memberikan solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan industri petasan di Indramayu.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :