Oleh: Malik Ibrahim* Abstrak
Makalah ini diawali dengan memaparkan setting historis munculnya konsep HAM dan beberapa pengertian tentang HAM serta perbedaan antara HAM dengan hak-hak lainnya. Kemudian dipaparkan mengenai piagam pengakuan PBB tentang HAM dalam Universal Declaration of Human Right (1948). Dan apakah Indonesia sebagai salah satu anggota PBB sudah mengacu pada piagam tersebut, khususnya dalam peraturan perundang-undangannya? Serta bagaimana pelaksanaan penegakan HAM, dan kelemahan-kelemahan apa yang ditemukan dalam upaya penegakan HAM tersebut? Selanjutnnya dipaparkan secara sekilas bagaimana potret pelanggaran HAM di Indonesia, dan sejauh mana peran Komnas HAM dalam menanganinya. Kemudian dipaparkan pula bagaimana respon masyarakat terhadap kemunculan lembaga Komnas HAM tersebut.
A. Pendahuluan
Bila ditelusuri, Hak-hak Asasi Manusia (HAM/Human Rights) adalah istilah yang relatif baru, namun ia telah menjadi kepedulian etis utama masa kini. Pada dasarnya HAM berawal pada konsep kuno Yunani - Romawi yang mengaitkan sikap manusia serta mengukur baik buruknya berdasarkan keserasiannya dengan hukum alam. Konsep ini yang dikenal dengan Natural Law Doctrine (Doktrin Hukum Alam), lebih menekankan kewajiban daripada hak.1 Sejak masa Renaisans
(sekitar abad 15 M) sampai masa kini, paling tidak dalam konteks dunia Barat sekular, penekanan terhadap kewajiban-kewajiban manusia dalam kerangka hukum alam beralih kepada hak-hak manusia.
Begitu populernya istilah HAM, sehingga kelihatannya hampir semua orang mengetahui hak-hak asasinya. Kalau saja hal ini benar, dan
*Staf Pengajar Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
1Nurcholish Madjid, "Peneguhan Kesadaran HAM di Indonesia", Jakarta:
tiap manusia memang memiliki hak-hak asasi tersebut, maka tentu saja kita tidak akan melihat di atas permukaan bumi ini sekian banyak manusia yang berjuang untuk mendapatkan hak-hak asasinya.
Untuk menjamin terlindunginya hak-hak asasi tersebut, pada tahun 1948 Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengeluarkan sebuah dokumen penting yang disebut The Universal Declaration of Human Rights /UDHR (Deklarasi universal tentang hak-hak asasi manusia). Deklarasi ini pada prinsipnya diterima oleh hampir seluruh anggota PBB. Namun konsensus dunia tentang deklarasi ini tidak berarti bahwa sifat dasar, definisi serta lingkup hak-hak asasi yang dimaksud telah tuntas disepakati.2 Masih tertinggal beberapa masalah dasar yang terkait
dengan hak-hak asasi manusia yang menunggu penjelasan. Antara lain adalah kejelasan tentang sifat hak-hak manusia ini: apakah merupakan anugerah dari Tuhan, atau hak yang diperoleh dari negara, ataukah hak yang melekat pada diri tiap manusia sejak ia lahir sebagai ketentuan alam? Apakah hak-hak ini dapat dicabut (dikorbankan)? Dan siapa yang bisa mencabutnya? Hal-hal ini masih terus menjadi bahan perdebatan yang tidak berujung.3
B. Seputar Definisi dan Identifikasi HAM
Sidney Hook mencoba merumuskan definisi yang komprehensif tentang HAM. Menurutnya, maksud hak asasi manusia adalah "Suatu tuntutan yang secara moral dibenarkan, agar seluruh manusia dapat menikmati dan melaksanakan kebebasan mereka, harta benda, pelayanan-pelayanan mereka yang dipandang perlu untuk mencapai harkat kemanusiaan.4 Dalam definisi ini, HAM tidak sekedar
dikaitkan dengan sesuatu yang secara kaku menjadi kepentingan perorangan. Tuntutan-tuntutan yang secara moral bisa dibenarkan merupakan usulan untuk melihat manusia di dunia dengan cara-cara
2Subhi Mahmassani, Arkan Huququl Insan, (Konsep Dasar Hak-hak Asasi
Manusia), terjemahan Hasanuddin, cet. 1, (Jakarta: PT Tintamas Indonesia, 1993), p. 47.
3Alwi Shihab, Islam Inklusif, cet. 4, (Bandung: Mizan, 1998), p. 177.
4Sidney Hook, "Renungan tentang Hak-hak Asasi", dalam Harun
Nasution dan Bachtiar Effendy (penyunting), Hak-hak Azasi Manusia, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987), p. 1.
tertentu. Hak asasi manusia menetapkan prosedur cara bertindak yang harus diikuti oleh lembaga-lembaga pemerintah, serta masyarakat yang ada hubungannya dengan masalah kemerdekaan, harta benda, dan pelayanan-pelayanan.
Sedangkan Maurice Craston, mendefinisikan hak asasi manusia sebagai "Hak-hak moral yang universal, sesuatu yang harus dimiliki semua manusia dimanapun dan dalam waktu apapun, serta merupakan sesuatu di mana seseorang tidak dapat dicabut haknya tanpa ada penghinaan yang berarti terhadap keadilan, sesuatu yang harus diberikan kepada setiap manusia, hanya karena dia manusia".5
Dari dua definisi HAM di atas memberikan gambaran bahwa yang dimaksud dengan HAM adalah suatu hak yang memberikan kewenangan kepada setiap individu untuk melakukan sesuatu perbuatan dalam upayanya mempertahankan hidupnya sebagai manusia yang berdaulat, merdeka dan sejahtera. Sebagaimana dikatakan oleh Jan Materson, bahwa yang dimaksud HAM adalah; "Hak-hak yang melekat pada manusia, yang tanpa dengannya mustahil dapat hidup sebagai manusia".6 Yang dimaksud dengan mustahil dapat hidup
sebagai manusia yang bertanggungjawab adalah karena manusia tidak hanya memiliki hak, tetapi juga memiliki tanggungjawab atas segala perbuatannya. Kemudian setelah mengetahui makna HAM yang ternyata tidak terbatas hak kepentingan pribadi, tetapi juga mencakup kewajiban terhadap individu serta sosial, yaitu kewajiban memperhatikan kepentingan masyarakat. Demikian juga tidak mungkin mengatakan ada hak kalau tanpa adanya kewajiban. Orang yang dihormati haknya berkewajiban pula menghormati hak orang lain. Jadi, ada sikap saling menghormati.7
Para penulis hukum konstitusional modern mengajukan beberapa jenis metode untuk mengidentifikasi perbedaan hak-hak asasi dengan hak-hak lainnya. Pertama, dengan merujuk pada kebebasan dan menegaskan apakah hak yang dibicarakan sudah diungkapkan dan
5Ibid., p. 40.
6Baharuddin Lopa, Al-Qur'an dan HAM, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf
Prima Yasa, 1995), p. 1.
dilaporkan dengan semestinya. Di negara yang memiliki konstitusi tidak tertulis, hak-hak asasi dapat dikenali dengan merujuk pada aturan-aturan, konvensi-konvensi, dan contoh yudisial yang mungkin menempatkan hak-hak tertentu sebagai sesuatu yang utama bagi struktur dan isi sistem hukum.8 Kedua, berdasarkan pada putusan
pengadilan dalam hal pertentangan antar hak yang terdiri atas dasar martabat kemanusiaan dengan hak-hak yang berdiri atas dasar kebijakan sosial. Dalam hal ini yang dimenangkan adalah hak yang berdasarkan martabat kemanusiaan, karena kepentingan sosial tidak boleh mengorbankan kehormatan individu. Dan ketiga, suatu hak dikatakan asasi jika secara hukum mengandung hak yang pada dasarnya merupakan hak moral.9
C. HAM dan Sistem Hukum di Indonesia
Persoalan HAM dan pelaksanaannya di Indonesia merupakan suatu komitmen bangsa. Hal itu mengingat bahwa perikemanusiaan merupakan suatu komitmen bangsa, dan bahkan salah satu asas falsafah Pancasila. Namun kecenderungan untuk mengukur pelaksanaan HAM di Indonesia terbukti tidak bisa menghindarkan diri dari kecaman pihak luar yang masih sering melakukan kritik terhadap pelaksanaan HAM di negeri ini.
Kritik dan kecaman yang dilakukan di berbagai forum. Peristiwa yang dikritikkan misalnya menyangkut perlakuan terhadap para tahanan dalam pemeriksaan polisi dan keadaan dalam penjara. Peristiwa di Timor Timur, pembatasan terhadap kebebasan menyertakan pendapat, termasuk kebebasan pers dan kebebasan para seniman dan lain sebagainya.10
Menanggapi kritikan tersebut, mantan Menteri Luar Negeri sekaligus pakar hukum internasional Mochtar Kusumaatmadja secara tegas menyatakan, bahwa sebenarnya pihak-pihak yang melakukan kritik itu memiliki motivasi yang berbeda-beda. Ada pihak yang
8Ibid., p. 37. 9Ibid., p. 39.
10Soewoto, "Polisi, Hak Asasi Manusia dan Penegakan Hukum", Surabaya:
benar ingin HAM dihormati dan ditegakkan, sebagaimana dilakukan oleh organisasi yang mempunyai iktikad baik dan dipercaya (bonafide) seperti Palang Merah Internasional dan beberapa LSM (NGO) yang mempunyai reputasi baik.
Tetapi ada pula kritik yang dilakukan pihak yang bermaksud mendiskriditkan pemerintah Indonesia dan aparat pelaksananya. Karena di samping fakta yang tidak benar, pihak ini sering menggunakan fakta-fakta di luar konteks atau secara selektif.
Salah satu tuduhan adalah yang mengatakan seolah-olah dalam falsafah kehidupan berbangsa kita yaitu Pancasila dan UUD 1945 tidak menjiwai (sejiwa) dengan Universal Declaration of Human Rights (UDHR).
Menurut Mochtar, memang suatu fakta bahwa UUD 1945 tidak secara harfiah mengandung HAM sebagaimana tercantum dalam Universal Declaration oh Human Right. Tetapi hal ini tidak bisa dijadikan bukti bahwa Indonesia tidak menganut atau menjunjung tinggi deklarasi itu, karena UUD 1945 dirumuskan dan ditetapkan sebelum deklarasi itu ditandatangani pada tahun 1948.11 Perumusan
hak itupun berbeda, Deklarsi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) itupun bukan merupakan dokumen hukum yang mengikat, melainkan suatu dokumen politik yang mencantumkan prinsip-prinsip yang menjadi pedoman bagi bangsa-bangsa dalam masalah HAM.12
Sebaliknya UUD 1945 sebagai UUD merupakan suatu dokumen yang mengikat secara hukum.
Namun apabila diperbandingkan hak warga negara dalam UUD 1945 cukup banyak persamaan yang bisa didapati dalam prinsipnya. Bahkan menurut T. Mulya Lubis ada lima pasal dalam UUD 1945, dan jika dilakukan kajian interpretatif setidaknya UUD 1945 mengakui lima belas kategori HAM yang isinya kurang lebih sama dengan yang tercantum dalam UDHR PBB.13
11J.E. Sahetapy, Hukum di Indonesia dan Soal Hak Asasi Manusia, Jakarta:
Skh. Suara Pembaruan, 27 Desember 1993, p. II, kolom 4-9
12Subhi Mahmassani, Arkan Huququl Insan Konsep Dasar Hak-hak Asasi
Manusia, terjemahan Zainuddin, (Jakarta: PT Tintamas Indonesia, 1993), p. 263.
Dengan demikian, sekalipun secara konstitusional hanya terdapat beberapa pasal UUD 1945 yang berisikan ketentuan HAM, karena UUD 1945 bersifat singkat dan supel, tetapi dengan didasarkan falsafah dan ideologi Pancasila, pengembangannya bisa berlangsung dengan luas. Dan sekaligus merumuskan suatu pemahaman tertentu tentang HAM dalam negara hukum Indonesia.
Pemahaman tersebut adalah, pertama, HAM dipahami dalam terminologi hubungan atau relationship. Yaitu hak menegaskan hubungan yang tepat antara individu dengan komunitasnya. Atau antara sekelompok orang dengan masyarakatnya. Hak adalah bukan masalah individual yang dipunyai seseorang atau sekelompok orang secara terpisah, atau dalam isolasi. Dia harus dilihat dalam hubungannya dengan masyarakat secara keseluruhan, dan pada saat yang sama masyarakat atau suatu komunitas berhubungan dengan hak-hak seorang individu.14
Sesungguhnya, UUD 1945 meskipun tidak seeksplisit seperti Konstitusi RIS dan UUD Sementara 1950, namun HAM juga telah diatur. Bahkan dalam alinea pertama Pembukaan UUD 1945 telah dicanangkan, penjajahan tidak akan dibiarkan atau akan dihapus. Penjajahan dalam konteks ini berarti bukan saja penjajahan dari suatu bangsa terhadap bangsa lain, melainkan juga secara implisit harus dipahami sebagai penjajahan atas bangsa sendiri oleh sekelompok kekuatan tertentu. Juga tidak akan dibiarkan apa yang dinamakan penjajahan politik, penjajahan ekonomi, penjajahan budaya dan sosial, apalagi penjajahan dari suatu agama tertentu atas agama lain.15
Sifat dan bentuk penjajahan itu bisa dimanifestasikan dalam hukum juga. Atau dengan melakukan berbagai intervensi secara langsung atau tidak langsung. Penggusuran hak-hak rakyat yang acap kali sulit dibuktikan secara yuridis formal, merupakan sebuah contoh.
Pembelian-pembelian tanah milik rakyat dengan harga yang sangat tidak layak, yang dilakukan oleh sementara konglomerat dengan menggunakan kepanjangan tangan beberapa oknum birokrat dengan
14Ibid., p. II.
15Aldrian Murjanto, "HAM Kebutuhan Bangsa Merdeka", Jakarta:
dalih demi pembangunan, merupakan salah satu manifestasi betapa HAM sama sekali belum diindahkan. Pencemaran lingkungan hidup yang dilakukan oleh industri-industri tanpa diawasi, atau sebagai suatu kebijakan seperti ketidakmengertian pihak-pihak tertentu yang berkuasa, merupakan indikator betapa ketentuan perundang-undangan yang sudah ada dilecehkan.
Kedua, dalam mengembangkan HAM, berarti menerima adanya kewajiban atau tanggungjawab manusia, human dutie. Kita pahami bahwa orang tidak bisa berbicara HAM tanpa implikasi langsung dari kewajiban masyarakat untuk menghormatinya.
Ketiga, HAM dipahami sebagi suatu kesatuan dan tidak bisa dipisah-pisahkan.16 Pemahaman ini menunjukkan bahwa pada akhirnya
hanya ada satu hak, yaitu hak untuk menjadi manusia, atau right to be human.
Selain itu, implementasi penghargaan terhadap HAM nampak juga misalnya dalam berbagai produk undang-undang seperti Kitab Undang-undang Hukum Acara baik pidana maupun perdata (KUHAP), Undang-undang (UU) Lingkungan Hidup, UU Pokok Agraria dan lain sebagainya yang di sana sini mengandung pasal-pasal HAM. Sehingga persoalannya adalah karena kesemua itu masih belum lengkap mengcover seluruh kebutuhan akan peraturan perundangan.17
Di samping itu Indonesia mempunyai sikap dan pandangan sendiri terhadap pelaksanaan HAM, seperti yang terdapat dalam Penjelasan UUD 1945 bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtstaat). Oleh karena itu asas-asas HAM sudah diatur dalam peraturan perundangan. Namun dalam pelaksanaan sehari-hari masih sering terjadi pelanggaran terhadap HAM. Oleh karena itu perlu resolusi secara represif dan preventif HAM.18 Pengalaman tiap-tiap negara
terhadap HAM sangatlah berbeda, permasalahannya adalah dalam pelaksanaan HAM yang sering dikaitkan dengan sistem kemasyarakatan
16J.E. Sahetapy, Hukum di Indonesia…, p. II.
17Tim Redaksi Suara Pembaruan, "Aktualisasi Kreatif Terhadap HAM",
18 Mei 1994, p. VII, kolom 4-9.
18Benjamin Mangkudilaga, "Lembaga PTUN dan Komnas HAM, Kompas,
yang dianut oleh suatu negara. Padahal hak dan martabat kemanusiaan orang perorangan di dalam masyarakat itu harus dihormati dan dijamin, supaya manusia tetap utuh harkat dan martabat kemanusiaannya.19
Salah satu sumber kesulitan dalam usaha menunjang pelaksanaan dan perhatian kepada HAM di Indonesia serta peningkatan kesadaran dalam masyarakat, ialah persepsi yang sering kurang tepat tentang kesenjangan antara nilai-nilai universal dan pola-pola sosial budaya lokal. Sama halnya dengan negara-negara berkembang lainnya, di Indonesia banyak ditemukan pandangan bahwa konsep tentang HAM adalah buatan Barat, dengan konotasi sebagai kelanjutan kolonialisme dan imperialisme.20 Dalam retorika yang
menyangkut masalah pandangan hidup, HAM yang merupakan konsep Barat itu adalah sama dengan sekularisme, jika bukan atheisme.
D. Eksistensi Komnas HAM
Dalam suasana seperti tersebut di atas pada tahun 1993 lahirlah Komnas HAM. Mula-mula kemunculannya ditanggapi dengan sikap skeptis, mungkin malah sinis, oleh beberapa kalangan. Namun akhirnya melalui kiprah para pemimpin dan tokohnya yang tegar dan konsisten, Komnas HAM tumbuh menjadi salah satu tumpuan harapan rakyat untuk memperoleh keadilan.
Komnas HAM yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 50 tahun 1993 pada dasarnya menyandang sejumlah tugas mulia. Komnas HAM bukan hanya bertugas memantau dan memberikan pertimbangan kepada badan pemerintah mengenai pelaksanaan HAM. Lebih dari itu, Komnas HAM juga bertanggung jawab untuk menyebarluaskan kepada masyarakat mengenai HAM.21 Pendek kata,
tugas Komnas HAM adalah sebagai salah satu motor penggerak proses demokratisasi masyarakat.
19Hudiyat dan Humala, "Konsep HAM dalam Pandangan Indonesia",
Merdeka, 16 Mei 1994, p. VI, kolom 4-9.
20Alwi Shihab, Islam Inklusif…, p. 178.
21Tim Redaksi Kompas, Sikap Dasar dan Cara Kerja Komnas HAM Menjadi
Karena kehadiran lembaga ini dibentuk dari "atas", sejak awal kelahirannya Komnas HAM memang harus menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Eksistensi Komnas HAM selain sangat diragukan kemandiriannya, juga dalam banyak hal sering dipandang dengan sebelah mata. Dilecehkan sebagai lembaga yang tidak mungkin berani bersikap vokal mengungkap kebenaran dan ketidakadilan. Beberapa pakar hukum bahkan dengan tegas menolak duduk dalam lembaga tersebut dan sebagian lain menyatakan sebaiknya Komnas HAM tidak usah dibentuk.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Komnas HAM berhasil membuktikan bahwa dugaan sebagian pihak akan dirinya itu ternyata keliru. Pelan-pelan namun pasti Komnas HAM sedikit banyak akhirnya telah berhasil menunjukkan bahwa ia ternyata tidaklah seburuk yang disangka banyak pihak. Meskipun dipimpin oleh para mantan pejabat tinggi negara yang notabene orang pemerintah, Komnas HAM ternyata tetap berani bersikap vokal.
Dari sekian banyak kasus yang telah ditangani, yang paling spektakuler boleh jadi adalah kasus Marsinah. Keberanian Komnas HAM mengumumkan kemungkinan adanya tersangka lain dalam kasus pembunuhan Marsinah, bukan saja akan berfungsi positif mendorong terwujudnya transparansi proses peradilan yang jujur dan berkeadilan. Lebih dari itu, keberanian Komnas HAM mengungkap fakta yang sesungguhnya juga akan besar manfaatnya dalam mendorong terciptanya kesadaran dan sikap kritis masyarakat.22
Meningkatnya kesadaran akan HAM di negeri ini sebenarnya dapat dipandang sebagai pancaran kehadiran Komnas HAM itu sendiri.23 Usaha-usaha terarah memang dilakukan, namun efektifitas
kehadiran Komnas HAM dalam menciptakan suasana umum yang mendukung tumbuhnya kesadaran hak-hak asasi adalah yang lebih utama. Keputusan-keputusan dan sikap-sikap yang diambil untuk berbagai kasus, yang dirasakan oleh umum sebagai cukup adil dan obyektif, telah menimbulkan lingkungan sosial politik yang
22Bagong Suyanto, "Ke Mana Komnas HAM Harus Melangkah", Jawa Pos,
16 April 1994, p. IV, kolom 5-9.
berkepercayaan kepada nilai-nilai hak asasi. Demikian pula penampilan para tokohnya, baik melalui seminar, wawancara, dan pernyataan telah meninggalkan bekas yang cukup positif bagi usaha penumbuhan penghargaan dan kesadaran akan hak-hak asasi.24
Dari perspektif pendekatan keamanan, meningkatnya sikap kritis masyarakat mungkin bisa dilihat sebagai semacam gangguan yang dikhawatirkan bisa menimbulkan keresahan dan ketidakstabilan. Tetapi, dari sisi lainnya penyebarluasan kebenaran dan meningkatnya sikap kritis akan dilihat sebagai bentuk perwujudan penghargaan terhadap HAM dan akan fungsional dalam mendorong terciptanya proses demokratisasi dalam masyarakat.
Semua indikasi ke arah meningkatnya penghargaan dan kesadaran umum terhadap HAM itu sangat membesarkan hati. Namun memang masih banyak hal yang harus ditanggulangi. Sekali lagi, jika diukur dengan berbagai poin nilai-nilai hak asasi seperti tercantum dalam berbagai dokumen historis tersebut di bagian terdahulu,25 maka
keadaan di Indonesia masih cukup jauh dari semestinya. Sumbernya diperkirakan ada dua, pertama, lemahnya konstitusi, dalam arti tidak memadai ketentuan tentang hak-hak asasi karena tidak ada pencantuman yang tegas dan spesifik. Kedua, refleksi dari kelemahan konstitusi itu berupa kuatnya aspirasi etatis pada pihak pemegang kekuasaan, jadi masalah power relations, masih perlu mendapatkan perhatian.
E. Penutup
Prinsip-prinsip HAM bersifat universal, yang dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya masing-masing negara. Namun diakui, tidak berarti setiap negara mengakui konsep HAM secara universal yang berlaku di seluruh dunia, serta bersifat fundamental atau hakiki.
HAM yang merupakan hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia secara kodrati dan universal, berkaitan dengan hak atas hidup dan kehidupan, keselamatan, keamanan, kemerdekaan, keadilan,
24Nurcholish Madjid, "Peneguhan Kesadaran ... ", p. XIII. 25Alwi Shihab, Islam Inklusif…, p. 178.
persamaan, kebersamaan, dan kesejahteraan sebagai karunia Tuhan yang tidak boleh dirampas oleh siapapun.26 Di samping hak-hak dasar
tersebut, setiap warga negara juga memiliki hak dan kewajiban yang timbul sebagai akibat perkembangan kehidupan dalam bermasyarakat. Bangsa Indonesia mempunyai cara pandang mengenai HAM yang didasarkan oleh ajaran berbagai agama serta bersumber pada nilai luhur budaya bangsa.
Dalam hal ini, sila-sila Pancasila mengandung nilai-nilai dan prinsip serta ketentuan HAM yang dimuat dalam UUD 1945 masih perlu diikuti oleh peraturan perundangan sebagai penjabarannya dengan mencari pendekatan yang lebih obyektif.
Pelaksanan HAM dalam proses peradilan, dapat dilihat dengan memperhatikan kebebasan dan kemandirian kekuasaan kehakiman untuk menegakkan hukum, keadilan dan kebenaran untuk menghormati putusan pengadilan. Dengan demikian masyarakat dapat sepenuhnya mempercayai putusan pengadilan, sedangkan kewenangan hakim dalam melaksanakan tugasnya bebas dari berbagai tekanan, baik itu yang langsung atupun tidak langsung.
Adanya jaminan dan perlindungan terhadap HAM dalam peraturan Hukum Acara baik Pidana maupun Perdata,27 mempunyai
arti yang sangat penting sekali. Hal tersebut mengingat sebagian besar dari rangkaian proses Hukum Acara tersebut menjurus kepada pembatasan-pembatasan HAM seperti, penangkapan, penahanan, penyitaan, penggeledahan dan penghukuman yang pada hakekatnya adalah pembatasan-pembatasan HAM.
Daftar Pustaka
Hook, Sidney, "Renungan tentang Hak-hak Asasi", dalam Harun Nasution dan Bachtiar Efendy (penyunting), Hak-hak Azasi Manusia, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987.
26Immanuel Kant, Hukum Moral, terjemahan S.P. Lili Tjahjadi,
(Yogyakarta: Kanisius, 1991), p. 55.
27M. Khoidin, "Pelanggaran HAM dalam Proses Penyidikan Perkara
Hudiyat dan Humala, "Konsep HAM Dalam Pandangan Indonesia", Merdeka, 16 Mei 1994.
Kant, Immanuel, Hukum Moral, terjemahan S.P. Lili Tjahjadi, Yogyakarta: Kanisius, 1991.
Khoidin, M, "Pelanggaran HAM dalam Proses Penyidikan Perkara Pidana", Pelita, 16 Maret 1994.
Kompas, Tim Redaksi, "Sikap Dasar dan Cara Kerja Komnas HAM Menjadi Inspirasi Bagi yang Lain-Lain", Kompas, 28 Februari 1995.
Lopa, Baharuddin, Al Qur'an dan Hak-hak Asasi Manusia, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf Prima Yasa, 1995.
Madjid, Nurcholish, "Peneguhan Kesadaran HAM di Indonesia", Republika, 29 April 1997.
Mahmassani, Subhi, Arkan Huququl Insan (Konsep Dasar Hak-Hak Asasi Manusia), terjemahan Hasanuddin, cet. I, Jakarta: PT Tintamas Indonesia, 1993.
Mangkoedilaga, Benjamin, "Lembaga PTUN dan Komisi Nasional HAM", Kompas, 16 Desember 1996.
Murjanto, Aldrian, "HAM Kebutuhan Bangsa Merdeka", Republika, 28 Mei 1997.
Sahetapy, J E, "Hukum di Indonesia dan Soal Hak Asasi Manusia", Suara Pembaruan, 27 Desember 1993.
Shihab, Alwi, Islam Inklusif, Bandung: Mizan, 1998.
Soewoto, "Polisi, Hak Asasi Manusia dan Penegakan Hukum", Surya, 1 Juli 1996.
Suara Pembaruan, Tim Redaksi, "Aktualisasi Kreatif terhadap HAM", Suara Pembaruan, 18 Mei 1994.
Suyanto, Bagong, "Ke Mana Komnas HAM Harus Melangkah?", Jawa Pos , 16 April 1994.