Evaluasi
Pelaksanaan
BDR
Direktorat SMA
Tahun 2020
Latar
Belakang
2
Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Corona Virus Disease (COVID-19) pada Satuan Pendidikan (9 Maret 2020)
Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) (24 maret 2020)
SURAT EDARAN Sesjen Kemendikbud Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) (18 Mei 2020)
Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 01/SKB/2020 , Menteri Agama Nomor 516 Tahun , Menteri Kesehatan Nomor HK.03.01/Menkes/363/2020, Dan Menteri Dalam Negeri 2020 Nomor 440-882 Tahun 2020 Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 Dan Tahun Akademik 2020/2021 Di Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) (15 Juni 2020)
Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 03/KB/2020, Menteri Agama Nomor 612 Tahun 2020, Menteri Kesehatan Nomor HK.01.08/Menkes/502/2020, Dan Menteri Dalam Negeri 2020 Nomor 119/4536/SJ Tentang Revisi Perubahan Atas Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, Dan Menteri Dalam Negeri Nomor 01/Kb/2020, Nomor 516 Tahun 2020, Nomor Hk.03.01/Menkes/363/2020, Nomor 440-882 Tahun 2020 Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 Dan Tahun Akademik 2020/2021 Di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) (7 Agustus 2020)
3
Waktu
Pelaksanaan
4
RESPONDEN
Responden
5
Responden Pendataan Keterlaksanaan Pembelajaran
di Masa Pandemi Covid adalah :
34 Orang
34 Orang
Kepala Bidang SMA Disdik
Provinsi di seluruh Indonesia
Kepala LPMP
6
D
at
a
K
ab
up
at
en
/K
ot
a
P
en
yel
en
gg
ar
a
PTM
dan
P
JJ
8
Dalam menentukan penyelenggaraan sekolah (Pembelajaran Tatap Muka atau Belajar
Dari Rumah) pihak dinas pendidikan daerah melibatkan unsur siapa saja?
P
ene
n
tua
n
P
en
yel
eng
gar
aa
n
PTM/
PJJ
9
10
11
Dukungan Pemerintah Daerah Terhadap Pembelajaran di
12
Dukungan Pemerintah Daerah Terhadap Pembelajaran di
13
14
15
RESPONDEN
GURU SMA
16
Metodologi
17
Metode Sampling
1. Metode Pengambilan sampel sekolah menggunakan multistage random sampling, yaitu dalam menentukan pengambilan sampel SMA dengan cara acak sederhana menggunakan bilangan acak
2. Metode pengambilan sampel responden dengan cara acak sederhana dari setiap sampel SMA yang terpilih
Ukuran Sampel
Ukuran sampel (ditentukan menggunakan rumus Slovin) dengan jumlah populasi N sebanyak 13998 = jumlah SMA dapodik per 2 Oktober 2020
Sebaran
Sampel
18
Total Sampel:
Responden
19
Responden Survey Keterlaksanaan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 adalah sebagai berikut :
9 orang guru yang dipilih secara acak dari 389 SMA yang telah terpilih secara acak
20
Identitas
Responden
21
Metode
Komunikasi
95,32%
4,02% 0,66% < 5 > 5 Tidak PernahFrekuensi
Komunikasi
dengan
Siswa/Orang
tua siswa
(per minggu)
87,57%
11,17% 1,14% 0,13%Media Digital Komunikasi Langsung Kombinasi Lainnya
Metode
Komunikasi
dengan
Siswa/Orang tua
siswa
Lainnya
Kombinasi
Media Digital
Komunikasi
Langsung
22
Metode
Pembelajaran
23
Metode
Pembelajaran
Aplikasi yang Digunakan untuk
Pembelajaran Secara Daring
Pelaksanaan Pembelajaran
Secara Luring
24
25
26
27
28
29
30
31
Tindak
Lanjut
Kesimpulan
32 • Program kebijakan SKB 4 Menteri terkait Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 dinilai memberikan respon positif terhadap orang
tua siswa, terbukti dengan adanya komunikasi secara aktif melalui media sosial sebanyak 87,57%, komunikasi langsung sebanyak 11,17%, sisanya menggunakan komunikasi gabungan antara media sosial dan langsung sebanyak 1,27% . Demikian juga kalau dilihat dari kuantitas komunikasi yang dilakukan, pada umumnya (95,32%) orang tua melakukannya 1-5 kali perminggu serta ada yang lebih dari 5 kali perminggu (4,02%). Sedangkan sisanya (0,66%) tidak pernah melakukan komunikasi.
• Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode daring (47,36%), metode kombinasi daring dan luring (45,81%) dan sisanya metode luring (6,83%). Untuk metode daring aplikasi yang paling banyak digunakan adalah Google Classroom sebanyak 34,84% dan pembelajaran luring dilakukan paling banyak dengan tatap muka sebanyak 56,37%.
• Berdasarkan hasil survey terkait pelatihan dan bahan ajar yang digunakan, sebanyak 79% sudah mendapatkan pelatihan bahan ajar. Bahan ajar yang digunakan oleh guru dalam metode daring berupa video pembelajaran 58,62%, sebanyak 54,25% menggunakan buku/modul, sebanyak 46,92% bahan ajar power point dan sebanyak 16,61% menggunakan bahan ajar lainnya. Sedangkan untuk bahan ajar yang digunakan dalam metode luring sebagian besar menggunakan buku paket/modul cetak, bahan ajar power point dan lembar kerja.
• Sebanyak 52,10% guru menggunakan sumber belajar dalam metode daring berupa, buku paket/modul digital, Google classroom, youtube, quipper. Untuk selanjutnya, 33,88% memanfaatkan Rumah Belajar, 33,34% memanfaatkan Ruang Guru, 12,8% menggunakan Sekolahmu, 11,33% menggunakan Zenius dan sebanyak 6,64% menggunakan Kelas Pintar
• Dalam hal penilaian pembelajaran, guru telah melakukan penilaian (asesmen diagnostik) sebanyak 90% dan waktu yang digunakan untuk melaksanakan penilaian tsb pada saat mengakhiri pembelajaran sebanyak 51%, lainnya sebanyak 49% melakukannya pada awal pembelajaran. Selanjutnya guru menindaklanjuti penilaian tersebut dengan cara diajar di kelas bersama-sama(45,4%), membagi kelompok dan mengajar secara terpisah (38,03%), titip ke kelas bawah (0,85%) dan lainnya (38,03%).
• Dalam menentukan muatan RPP berdasarkan survey, guru menentukannya melalui penyesuaian KI dan KD Kurikulum 2013 sebanyak 85,6%, menyesuaikan dengan silabus 9.20% dan RPP disusun sesuai kondisi pandemi covid sebanyak 5,2%. Media yang digunakan untuk menyampaikan informasi RPP kepada orang tua adalah media digital (77,54%), tatap muka (12,59%), radio (0,19%), televisi (0,03%) dan media lainnya (9,65%).
Kesimpulan
33
• Guru yang telah menyiapkan Lembar Aktivitas Peserta Didik 85%, dan guru menginformasikan kepada peserta didik/orang tua/wali untuk mengisi lembar aktivitas tersebut sebanyak 1-3 kali per minggu (69%), sebanyak 4-5 kali per minggu (15%), sebanyak 6 kali perminggu (14%) dan sisanya tidak menginformasikan hal tsb kepada orang tua siswa (2%).
• Dalam rangka mengikuti perkembangan pembelajaran peserta didik, guru melakukannya melalui penugasan belajar sebanyak 72,79%, refleksi pembelajaran oleh masing-masing peserta didik sebanyak 24,68%, metode lainnya sebanyak 2,37% dan guru tidak mengikuti perkembangan pembelajaran masih ada sebanyak 5%.
• Guru yang memberikan tugas sebanyak 1-3 kali perminggu (86%), 4-5 kali perminggu (7%), setiap hari (7%) dan tidak ada guru yang tidak memberikan tugas. Muatan penugasan berupa penugasan berupa soal-soal atau permasalahan (74,61%), merangkum materi/membuat refleksi dari materi yang sudah diajarkan (15,87%), menggunakan bahan video (6,48%) dan memberikan tugas langsung sesuai dengan karakteristik matapelajaran (3,04%). Untuk pengumpulan tugas, tugas dikumpulkan setiap akhir minggu (74%), setiap hari sebanyak (11%), 3 hari sekali (9%), 2 hari sekali (2%) dan tidak pernah dikumpulkan tugas (1%).
• Terkait umpan balik atas hasil belajar peserta didik, guru memberi nilai kuantitatif sebanyak 74,19%, melalui respon kritis (kualitatif) sebanyak 17,87% dan kombinasi keduanya sebanyak 7,94%. Tindak lanjut yang dilakukan guru atas hasil belajar peserta didik adalah memberikan nilai kepada peserta didk (11,23%), melaksanakan remedial (67,85%), memberikan pengayaan (15,23%), melakukan analisis sebagai dasar perbaikan pembelajaran serta menentukan materi apa yang belum dikuasai peserta didik (5,67%) dan jawaban peserta didik dikembalikan dan diberikan motivasi untuk lebih meningkatkan pemahamannya (0,03%).
• Selanjutnya, terkait dengan adanya kebijakan jika pembelajaran tatap muka di perluas untuk wilayah oranye pada era pandemi sebanyak 64% menyatakan setuju dan sebanyak 36% menyatakan tidak setuju.
34
Rekomendasi
35
• Karena respon positif orangtua yang aktif melakukan komunikasi dengan guru (87,57%) terhadap program Belajar Dari Rumah selama masa Pandemi Covid 2019, maka perlu disusun panduan/contoh alternatif yang lebih teknis bagaimana Belajar Dari Rumah itu diterapkan, baik panduan untuk guru/pihak sekolah maupun panduan untuk orang tua/masyarakat terkait. Hal tersebut juga diperlukan, karena masih ada orang tua yang tidak terlalu merespon (kurang perhatian), sehingga pada panduan/juknis tersebut perlu dijelaskan peran orang tua dalam membantu peserta didik untuk pelaksanaan Belajar dari Rumah, disamping untuk guru dan stakeholder lain yang terkait.
• Memberikan panduan/contoh alternatif penggunaan metode atau model pemebelajaran daring maupun luring atau kombinasi keduanya untuk memperkuat kompetensi guru dalam mendukung pelaksanaan Belajar dari Rumah, serta contoh pembuatan bahan ajar digital maupun bahan ajar cetak/modul, serta pemanfaatan sumber belajar yang sudah ada maupun memanfaatkan/memilih sumber lain yang relevan, seperti Rumah Belajar, Zenius, atau Kelas Pintar.
• Memperhatikan banyak dan seringnya guru (86%) yang memberikan tugas atau aktifitas kepada peserta didik, maka perlu adanyan contoh alternatif pembelajaran/aktifitas peserta didik dan penilaiannya secara daring atau luring, agar peserta didik dapat tetap belajar dalam kondisi yang terbatas tanpa terbebani dengan banyaknya lembar tugas atau aktifitas.
36
• Hanya sebagian kecil 5,2% guru yang membuat RPP dengan muatan materi dalam KD disesuaikan dengan kondisi peserta didik terkait dengan pandemi Covid 19, memperhatikan hal tersebut maka masih diperlukan peningkatan pemahaman guru terhadap penentuan muatan khusus RPP yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik dalam kondisi tertentu.
• Memperhatikan masih banyaknya guru yang memberikan penugasan secara perorangan per matapelajaran, maka perlu dibuatkan contoh alternatif Belajar Dari Rumah dengan model kolaborasi antar guru agar peserta didik tidak terlalu banyak mengerjakan soal-soal.
• Berdasarkan hasil di atas, maka perlu penjelasan lebih tentang tindak lanjut hasil belajar peserta didik, selain untuk remedial dan pengayaan, terutama untuk penentuan umpan balik/perbaikan pembelajaran (pemberian contoh kasus dan alternatif tindak lanjutnya)
• Memperhatikan masih 36% tidak setuju untuk pembelajaran tatap muka, maka sebaiknya pembelajaran secara terintegrasi, (blended learning) perlu lebih diperhatikan, terutama dari segi kualitas metode, bahan ajar, dan kuantitas aktifitas/tugas yang harus dikerjakan peserta didik.
v
Polling
Hasil Polling Facebook dan Website Dit. SMA
38
Jumlah Responden
Total Responden
25,491
Responden
Guru
8%
Siswa
58%
Masyarakat
1%
Orang Tua
Siswa
33%
Polling
39
90
%
50
%
34
%
64
%
Pembukaan Sekolah di Zona Hijau dan Kuning
Perluasan Pembukaan Sekolah di Zona Orange
Implementasi Pembelajaran sudah baik
Kepuasan terhadap Kebijakan Kemendikbud
Responden Guru (
2,070
Responden)
64% Responden menyatakan puas terhadap kebijakan Kemendikbud dalam menghadapi masa pandemi 90% responden menyatakan setuju terhadap pembukaan sekolah zona hijau dan zona kuning
50% Responden yang menyatakan setuju terhadap pembukaan sekolah
di zona orange
34% Responden yang
menyatakan setuju bahwa implementasi pembelajaran sudah baik selama masa pandemi
40
82
%
52
%
36
%
50
%
Pembukaan Sekolah di
Zona Hijau dan Kuning Sekolah di Zona OrangePerluasan Pembukaan
Implementasi Pembelajaran sudah baik
Kepuasan terhadap Kebijakan Kemendikbud
Responden Siswa (
14,904
Responden)
82% responden menyatakan setuju terhadap pembukaan sekolah zona hijau dan zona kuning
52% Responden yang menyatakan setuju terhadap pembukaan
sekolah di zona orange
36% Responden yang
menyatakan setuju bahwa implementasi pembelajaran sudah baik selama masa pandemi 50% Responden menyatakan puas terhadap kebijakan Kemendikbud dalam menghadapi masa pandemi
Polling
76
%
42
%
40
%
56
%
Pembukaan Sekolah di Zona Hijau dan Kuning
Perluasan Pembukaan Sekolah di Zona Orange
Implementasi Pembelajaran sudah baik
Kepuasan terhadap Kebijakan Kemendikbud
Responden Orang Tua Siswa (
8,328
Responden)
76% responden
menyatakan setuju terhadap pembukaan sekolah zona hijau dan
zona kuning
42% Responden yang
menyatakan setuju terhadap pembukaan sekolah di zona orange
40% Responden yang
menyatakan setuju bahwa implementasi pembelajaran sudah baik selama masa pandemi 56% Responden menyatakan puas terhadap kebijakan Kemendikbud dalam menghadapi masa pandemi
Polling
Polling
71
%
47
%
37
%
53
%
Pembukaan Sekolah di Zona Hijau dan Kuning
Perluasan Pembukaan Sekolah di Zona Orange
Implementasi Pembelajaran sudah baik
Kepuasan terhadap Kebijakan Kemendikbud
Responden Masyarakat (
187
Responden)
71% responden
menyatakan setuju terhadap pembukaan sekolah zona hijau dan
zona kuning
47% Responden yang menyatakan setuju terhadap pembukaan sekolah
di zona orange
37% Responden yang
menyatakan setuju bahwa implementasi pembelajaran sudah baik selama masa pandemi 53% Responden menyatakan puas terhadap kebijakan Kemendikbud dalam menghadapi masa pandemi
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Laporan Monitoring dan
Evaluasi Pelaksanaan
Pembelajaran Tatap Muka
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Hasil Pemantauan Persiapan/Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka
44 17,14% 28,57% 34,29% 5,71% 8,57% 5,71% Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Lampung Nusa Tenggara Barat Sulawesi Tenggara
Responden per Provinsi
Untuk responden yang mengisi Instrumen Tatap Muka sebanyak 5,71% Provinsi Sulawesi Tenggara, sebanyak 8,57% Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebanyak 5,71% Provinsi Lampung, sebanyak 34,29% Provinsi Jawa Timur, sebanyak 28,57% Provinsi Jawa Tengah dan sebanyak 17,14% Provinsi Jawa Barat. Jadi Provinsi terbanyak yang mengisi Instrumen Tatap Muka pada Provinsi Jawa Timur artinya di provinsi tersebut banyak sekolah yang sudah melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Total responden sebanyak 35 sekolah.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Hasil Pemantauan Persiapan/Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka
45
Sekolah tersedia toilet atau kamar mandi bersih yang mencukupi sebanyak 91,43% dan yang tidak memiliki sebanyak 8,57%. Jadi beberapa sekolah masih belum memenuhi persyaratan sesuai SKB 4 Menteri tetapi sudah melaksanakan PTM.
8,57%
91,43%
Tersedia toilet atau kamar mandi bersih yang mencukupi
Tidak Ya
Sekolah tersedia sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau cairan pembersih tangan (Hand
sanitizer) yang mencukupi sebanyak
100,00%. Artinya sudah sesuai dengan SKB 4 Menteri untuk pelaksanaan PTM.
100,00% 0,00%
Tersedia sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau
cairan pembersih tangan (Hand sanitizer) yang mencukupi
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Hasil Pemantauan Persiapan/Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka
46
Di sekolah tersedia disinfektan yang mencukupi sebanyak 97,14%, dan masih ada yang belum menyediakan disinfektan sebanyak 2,86%.
2,86%
97,14%
Tersedia disinfektan yang mencukupi
Tidak Ya
Sekolah mampu mengakses Fasilitas Pelayanan Kesehatan, seperti Puskesmas, Klinik, Rumah Sakit dan lainnya sebanyak 100,00%. Artinya sudah sesuai dengan SKB 4 Menteri untuk pelaksanaan PTM.
100,00 % 0,00%
Mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas, Klinik,
Rumah sakit, dan lainnya
Ya Tidak
Sekolah memiliki Thermogun (pengukur suhu tubuh) yang mencukupi sebanyak 100,00%. Artinya sudah sesuai dengan SKB 4 Menteri untuk pelaksanaan PTM.
100,00 % 0,00%
Memiliki Thermogun (pengukur suhu tubuh) yang mencukupi
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Hasil Pemantauan Persiapan/Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka
47
Sekolah yang sudah memiliki data warga sekolah dengan kondisi medis comorbid sebanyak 54,29%. Sisanya sebanyak 45,71% sekolah belum memiliki data tersebut tetapi sudah melaksanakan PTM.
45,71%
54,29%
Memiliki data warga satuan pendidikan yang memiliki kondisi medis comorbid
yang tidak terkontrol
Tidak Ya
Sekolah memiliki data warga sekolah yang tidak memiliki akses transportasi yang memungkinkan penerapan jaga jarak sebanyak 74,29%. Sisanya sekolah yang tidak memiliki data tersebut sebanyak 25,71%.
25,71%
74,29%
Memiliki data warga satuan pendidikan tidak memiliki akses transportasi yang
memungkinkan penerapan jaga jarak
Tidak Ya
Sekolah memiliki data sekolah yang memilki riwayat perjalanan dari ZONA KUNING, ORANGE, MERAH dan belum menyelesaikan isolasi mandiri selama 14 (empat belas) sebanyak 62,86%. Sisanya sekolah yang tidak memiliki data tersebut sebanyak 37,14%.
37,14%
62,86%
Memiliki data warga satuan pendidikan yang memilki riwayat perjalanan dari ZONA KUNING, ORANGE, MERAH dan
belum menyelesaikan isolasi mandiri selama 14 (empat belas)
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Hasil Pemantauan Persiapan/Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka
48
Sekolah memiliki data warga satuan pendidiakan yang memiliki riwayat kontak dengan orang tekonfirmasi positif Covid-19 dan belum menyelesaikan isolasi mandiri selama 14 (empat belas) sebanyak 48,57%. Sisanya sekolah yang belum memiliki data tersebut sebanyak 51,43%.
51,43% 48,57%
Memiliki data warga satuan pendidiakan yang memiliki riwayat
kontak dengan orang tekonfirmasi positif Covid-19 dan belum menyelesaikan isolasi mandiri selama
14 (empat belas)
Tidak Ya
Sekolah melibatkan komite sekolah untuk menentukan kesiapan pembukaan sekolah sebanyak 100,00%. Artinya semua responden sekolah yang mengisi instrument tatap muka tealah meminta persetujuan kepada komite sekolah terkait kesiapan pembukaan sekolah.
100,00 % 0,00%
Sekolah melibatkan komite sekolah untuk menentukan kesiapan
pembukaan sekolah
Ya Tidak
Sekolah membentuk satuan tugas tim pembelajaran, psikososial, dan tata ruang sebanyak 97,14% dan masih ada sekolah yang belum membentuk satuan tugas pembelajaran, psikososial dan tata ruang sebanyak 2,86%.
2,86%
97,14%
Sekolah membentuk satuan tugas tim pembelajaran, psikososial, dan tata
ruang
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Hasil Pemantauan Persiapan/Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka
49
Sekolah membentuk satuan tugas tim kesehatan, kebersihan dan keamanan sebanyak 100,00%. Artinya semua responden sekolah yang mengisi instrumen tatap muka telah membentuk satuan tugas tim kesehatan, kebersihan dan keamanan.
100,00 % 0,00%
Sekolah membentuk satuan tugas tim kesehatan, kebersihan dan keamanan
Ya Tidak
Sekolah yang telah membentuk satuan tugas tim pelatihan dan humas sebanyak 91,43% dan masih ada sekolah yang belum membentuk tim tersebut sebanyak 8,57%.
8,57%
91,43%
Sekolah membentuk satuan tugas tim pelatihan dan humas
Tidak Ya
Sekolah yang membuat prosedur pemantauan dan pelaporan kesehatan warga sekolah sebanyak 94,29%. Masih ada sekolah yang belum membuat prosedur tersebut sebanyak 5,71%
5,71%
94,29%
Sekolah membuat prosedur pemantauan dan pelaporan kesehatan warga satuan pendidikan
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Hasil Pemantauan Persiapan/Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka
50
Tim kesehatan, kebersihan dan keamanan sekolah yang telah membuat prosedur pemantauan dan pelaporan kesehatan warga sekolah sebanyak 94,29% dan masih ada sebanyak 5,71% tim kesehatan, kebersihan dan keamanan sekolah yang belum membuat prosedur tersebut.
5,71%
94,29%
Tim kesehatan, kebersihan dan keamanan membuat prosedur
pemantauan dan pelaporan kesehatan warga satuan pendidikan
Tidak Ya
Tim kesehatan, kebersihan, dan keamanan sekolah telah memberikan informasi kepada kepala sekolah terkait kebutuhan penyediaan sarana prasarana kesehatan dan kebersihan sesuai pada daftar periksa sebanyak 100,00%. Artinya sudah sesuai dengan SKB 4 Menteri untuk pelaksanaan PTM.
100,00% 0,00%
Tim kesehatan, kebersihan, dan keamanan memberikan informasi
kepada kepala satuan pendidikan terkait kebutuhan penyediaan sarana
prasarana kesehatan dan kebersihan sesuai pada daftar periksa
Ya Tidak
100,00% tim kesehatan, kebersihan, dan keamanan melakukan pembersihan dan disinfeksi di sekolah setiap hari selama 1 (satu) minggu sebelum penyelenggaraan tatap muka dimulai dan dilanjutkan setiap hari selama sekolah menyelenggarakan PTM. Artinya sudah sesuai dengan SKB 4 Menteri untuk pelaksanaan PTM.
100,00% 0,00%
Tim kesehatan, kebersihan, dan keamanan melakukan pembersihan
dan disinfeksi di satuan pendidikan setiap hari selama 1 (satu) minggu
sebelum penyelenggaraan tatap muka dimulai dan dilanjutkan setiap
hari selama satuan pendidikan…
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Hasil Pemantauan Persiapan/Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka
51
Tim kesehatan, kebersihan dan keamanan sekolah yang telah membuat prosedur pengaturan pedagang kaki lima dan warung makanan di sekitar lingkungan sekolah sebanyak 80,00% dan sebanyak 20,00% belum membuat prosedur tersebut.
20,00%
80,00%
Tim kesehatan, kebersihan, dan keamanan membuat prosedur pengaturan pedagang kaki lima dan warung makanan di sekitar lingkungan
satuan pendidikan
Tidak Ya
Tim pelatihan dan humas yang telah melakukan sosialisasi kepada para pemangku kepentingan di lingkungan sekolah sebanyak 94,29% dan sebanyak 5,71% belum melakukan sosialisasi tersebut.
5,71%
94,29%
Tim pelatihan dan humas melakukan sosialisasi kepada para pemangku kepentingan di lingkungan satuan
pendidikan
Tidak Ya
Tim pelatihan dan humas sekolah telah menempelkan poster dan/ atau media komunikasi, informasi, dan edukasi lainnya pada area strategis di lingkungan sekolah sebanyak 100,00%. Artinya semua responden sekolah telah melakukan sesuai dengan SKB 4 Menteri terkait penempelan poster ini.
100,00 % 0,00%
Tim pelatihan dan humas
menempelkan poster dan/ atau media komunikasi, informasi, dan edukasi
lainnya pada area strategis di lingkungan satuan pendidikan
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Hasil Pemantauan Persiapan/Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka
52
Tim pembelajaran, psikososial dan tata ruang yang telah melakukan pembagian kelompok belajar dan pengaturan jadwal pelajaran untuk setiap kelompok belajar sesuai dengan ketentuan pada masa transisi sebanyak 94,29% dan sebanyak 5,71% belum melaksanakan pembagian tersebut.
5,71%
94,29%
Tim pembelajaran, psikososial dan tata ruang melakukan pembagian kelompok belajar dan pengaturan jadwal pelajaran
untuk setiap kelompok belajar sesuai dengan ketentuan pada masa transisi
Tidak Ya
100,00% tim pembelajaran, psikososial dan tata ruang sekolah telah melakukan pengaturan tata letak ruangan dengan memperhatikan minimal jarak 1,5 m, kecukupan ruang terbuka dan sirkulasi udara.
100,00 % 0,00%
Tim pembelajaran, psikososial dan tata ruang melakukan pengaturan tata letak
ruangan dengan memperhatikan minimal jarak 1,5 m, kecukupan ruang
terbuka dan sirkulasi udara
Ya Tidak
Tim pembelajaran, psikososial dan tata ruang sekolah yang telah melakukan pengaturan lalu lintas 1 (satu) arah di lorong/koridor dan tangga sebanyak 91,43% dan masih ada sebanyak 8,57% sekolah belum melakukan hal ini.
8,57%
91,43%
Tim pembelajaran, psikososial, dan tata ruang melakukan pengaturan lalu lintas 1
(satu) arah di lorong/koridor dan tangga
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Hasil Pemantauan Persiapan/Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka
53
Tim pembelajaran, psikososial dan tata ruang sekolah yang telah mempersiapkan layanan bantuan kesehatan jiwa dan psikososial bagi seluruh warga sekolahnya sebanyak 77,14% dan sebanyak 22,86% belum mempersiapkan hal ini.
22,86%
77,14%
Tim pembelajaran, psikososial dan tata ruang mempersiapkan layanan bantuan
kesehatan jiwa dan psikososial bagi seluruh warga satuan pendidikan
Tidak Ya
100,00% responden yang seluruh warga sekolahnya menggunakan masker. Artinya hal ini sudah sesuai dengan SKB 4 Menteri dalam pelaksanaan PTM.
100,00 % 0,00%
Seluruh warga satuan pendidikan menggunakan masker
Ya Tidak
Sekolah yang seluruh warga sekolahnya telah menerapkan jaga jarak minimal 1,5 m sebanyak 94,29%, dan masih sekitar 5,71% sekolah masih belum menerapkan jaga jarak minimal 1,5 m.
5,71%
94,29%
Seluruh warga satuan pendidikan menerapkan jaga jarak minimal 1,5 m
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Hasil Pemantauan Persiapan/Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka
54
100,00% responden sekolah telah melakukan pemantauan kesehatan warga sekolahnya meliputi suhu tubuh dan menanyakan adanya gejala. Artinya sudah sesuai dengan SKB 4 Menteri dalam pelaksanaan PTM.
100,00% 0,00%
Sekolah melakukan pemantauan kesehatan warga satuan pendidikan: suhu tubuh dan menanyakan adanya gejala
Ya Tidak
Sekolah yang sudah menerapkan kapasitas ruang kelas 50% dari total 36 peserta didik sebanyak 97,14% dan masih ada 2,86% tidak melakukan pembagian kapasitas ruang kelasnya sesuai dengan SKB 4 Menteri yakni maksimal diisi 50% kapasitas normal.
2,86%
97,14%
Kapasitas ruang kelas hanya 50% dari total 36 peserta didik
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
Kesimpulan dan Rekomendasi
55