• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN AKAD BAI BITSAMAN AJIL (Studi Kasus Di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELAKSANAAN AKAD BAI BITSAMAN AJIL (Studi Kasus Di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara)"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Di Ajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S1)

Ilmu Syari’ah Jurusan Muamalah

Oleh

USWATUN KHASANAH

0 6 2 3 1 1 0 1 4

FAKULTAS SYARIAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

ii Jl. Prof. Hamka km 2 Ngaliyan Semarang 50181 Dra. Hj. Noor Rosyidah, M.S.I

Jl. Kampong Kebon Arum no. 37 Semarang

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Lamp. : 4 (eksemplar) Hal : Naskah skripsi

A.n. Uswatun Khasanah

Assalamu’alaikum wr.wb

Setelah saya meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini saya kirimkan naskah saudara:

Nama : Uswatun Khasanah Nim : 062311014

Jurusan : Muamalah

Judul : PELAKSANAAN AKAD BAI’ BITSAMAN AJIL (Studi Kasus Di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara)

Dengan ini saya mohon kiranya skripsi tersebut dapat segera dimunaqasahkan. Demikian harap maklum adanya.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Semarang, Juni 2011

(3)
(4)

iv





















“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” 1

1

Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Surabaya: Mekar Surabaya, 2004, hlm. 108

(5)

v       

(6)

vi

Penulis menyatakan dengan penuh kejujuran dan rasa tanggung jawab, penulis menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang telah pernah ditulis oleh orang lain atau diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.

Semarang, Juni 2011 Deklarator

(7)

vii

(studi kasus di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara)” skripsi. Semarang: program sarjana Muamalah IAIN Walisongo Semarang, 2011.

Kata kunci: akad, bai’ bitsaman ajil (BBA), penelitian kualitatif.

KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara, sebagai lembaga keuangan syariah tidak menutup kemungkinan di dalamnya terdapat ketidaksesuaian dalam melakukan praktek pembiayaan Bai’ Bitsaman Ajil (BBA), sehingga perlu diteliti bagaimana pelaksanaan akad Bai’ Bitsaman Ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara? Dan bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap pelaksanaan akad Bai’

Bitsaman Ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara?

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Adapun tehnik pengumpulan data meliputi pengamatan, dan wawancara. Sedangkan teknik analisisnya adalah analisis deskriptif yaitu metode yang dipakai untuk membantu dalam menggambarkan keadaan-keadaan yang mungkin terdapat dalam situasi tertentu serta mengetahui bagaimana mencapai tujuan yang diinginkan. Data yang diperoleh akan dianalisis dan digambarkan secara menyeluruh yang terjadi pada pelaksanaan akad Bai’ Bitsaman Ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara.

Hasil penelitian dalam praktek bai’ bitsaman ajil (BBA) yang terjadi di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara adalah transaksi jual beli antara BMT (penjual) dan calon anggota (pembeli), dengan tambahan keuntungan yang telah disepakati antara BMT dan calon anggota. Kemudian calon anggota membayar dengan cara mencicil/mengangsur kepada BMT. Tetapi BMT menyerahkan semuanya kepada calon anggota dalam hal penerimaan/pembelian barang. Apabila calon anggota menghendaki pembiayaan dalam bentuk uang bukan barang maka BMT akan memberikan pembiayaan dalam bentuk uang tersebut kepada calon anggota, dan apabila calon anggota menghendaki barang maka BMT akan memberikan barang kepada calon anggota. Hal ini dilakuakan oleh BMT karena calon anggota dianggap lebih mengetahui mengenai barang yang dibutuhkan. Dalam praktek pelaksanaan akad bai’ bitsaman ajil ini belum sesuai dengan konsep bai’bitsaman ajil secara baik dan benar.

(8)

viii

Assalamu’alaikum wr,wb.

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, penulis panjatkan puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya. Solawat diiringi salam selalu tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa pencerahan dalam kehidupan seluruh ummat manusia.

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana strata satu (S-1) dalam ilmu Muamalah di Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang.

Penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua pihak dengan berbagai bentuk kontribusi yang diberikan, baik secara moril ataupun materiil. Dengan kerendahan dan ketulusan hati. penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. H. Muhibbin M.Ag, selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang.

2. Dr. Imam Yahya, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang.

3. Moh. Arifin, S.Ag. M.Hum. selaku Ketua Jurusan Muamalah, dan Afif Noor, S.Ag. M.Hum. selaku Sekretaris Jurusan terima kasih atas kebijakan yang dikeluarkan, khususnya yang berkaitan dengan kelancaran penulisan skripsi ini. 4. Bapak H. Abdul Ghofur, M.Ag selaku pembimbing I, serta Dra. Hj. Noor

Rosyidah, M.S.I selaku pembimbing II, yang telah banyak membantu dengan meluangkan waktu dan tenaganya yang sangat berharga semata-mata demi mengarahkan dan membimbing penulis selama penyusunan skripsi ini.

(9)

ix

telah memberi izin dan layanan kepustakaan yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini.

7. Bapak M. Jauharuddin, S.Sos,I beserta pegawai KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara, yang telah membantu terselesainya skripsi ini.

8. Ayah dan Ibu dan segenap keluarga tercinta yang tidak pernah lelah mendoakan penulis, adik-adikku tercinta yang telah memberikan dorongan dan motivasi kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

9. Teman-teman MU kelas A dan B, anak-anak kost ceria 22, awak-awak rantau IMB (Ikatan Mahasiswa Borneo), teman KKN Posko 34 Kuripan, teman-teman angkatan 2004 seperjuangan dan semua pihak, baik langsung maupun tidak langsung yang telah memberikan bantuan kepada penulis sehingga skripsi ini terselesaikan.

10. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu persatu yang telah membantu penulis hingga terselesainya skripsi ini.

Semoga amal baik kalian mendapat balasan dari Yang Maha Sempurna. Pada akhirnya penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini dan masih sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan masukan baik berupa saran maupun kritik demi kelengkapan dan sempurnanya skripsi ini. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca yang budiman pada umumnya.

Wassalamu’alaikum wr,wb.

Semarang, Juni 2011

(10)

x

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN DEKLARASI ... vi

HALAMAN ABSTRAK ... vii

HALAMAN KATA PENGANTAR ... viii

HALAMAN DAFTAR ISI ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 8 C. Tujuan Penelitian ... 9 D. Telaah pustaka ... 9 E. Metode penelitian ………... 11 F. Sistematika Penelitian ... 14

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG AKAD BAI’ BITSAMAN AJIL A. Akad ………... 15

1. Pengertian akad ... 15

2. Rukun dan syarat akad ………... 16

B. Bai’ bitsaman ajil ... ... 23

1. Pengertian bai’ bitsaman ajil ……….. 23

2. Landasan bai’ bitsaman ajil ………. 25

3. Rukun dan syarat bai’ bitsamna ajil ……… 26

(11)

xi

BAB III PROFIL KSU BMT UMMAT SEJAHTERA ABADI JEPARA

A. Sejarah berdirinya BMT ... 33

B. Tujuan, visi, dan misi ... 35

C. Struktur organisasi ... 36

D. Produk-produk (simpanan dan pembiayaan) ... 37

1. Produk simpanan ………. 37

2. Produk pembiayaan ………. 41

E. Aplikasi pelaksanaan pembiayaan bai’ bitsaman ajil ... 43

BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN AKAD BAI’ BITSAMAN AJIL DI KSU BMT UMMAT SEJAHTERA ABADI JEPARA A. Analisis pelaksanaan akad bai’ bitsaman ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara ... 51

B. Tinjauan hukum Islam terhadap pelaksanaan akad bai’ bitsaman ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara .. 57

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 70 B. Saran-Saran ... 71 C. Penutup ... 72 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(12)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lembaga keuangan telah berperan sangat besar dalam pengembangan dan pertumbuhan masyarakat industri modern. Produksi berskala besar dengan kebutuhan investasi yang membutuhkan modal yang besar tidak mungkin dipenuhi tanpa bantuan lembaga keuangan. Lembaga keuangan merupakan tumpuan bagi para pengusaha untuk mendapatkan tambahan modalnya melalui mekanisme kredit dan menjadi tumpuan investasi melalui mekanisme

saving (menabung). Sehingga lembaga keuangan telah memainkan peranan

yang sangat besar dalam mendistribusikan sumber-sumber daya ekonomi di kalangan masyarakat, meskipun tidak sepenuhnya dapat mewakili kepentingan masyarakat yang luas.1

Transaksi jual beli merupakan hal yang lazim atau umum yang telah berlangsung di masyarakat. Pada zaman dulu jual beli dilakukan dengan tukar menukar barang. Namun perkembangan zaman, membuat sistem ini kurang efektif, sehingga muncullah alat tukar yang berupa uang. Transaksi jual beli ini dapat berpotensi timbulnya riba. Oleh karenanya, jual beli harus memenuhi kaidah agama Islam.2

1

Muhammad Ridwan, Manajemen Baitul Maal wa Tamwil (BMT), Yogyakarta: UII press, 2004, hlm. 51

2

(13)

Institusi yang didirikan dengan tujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip Islam, seperti lembaga keuangan syariah. Harus menggunakan prinsip-prinsip syariah yaitu :

a) Larangan riba dalam berbagai bentuk transaksi,

b) Melakukan kegiatan usaha dan perdagangan berdasarkan perolehan keuntungan yang sah,

c) Memberikan zakat.

Sepanjang praktek perbankan konvensional tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, bank-bank Islam telah mengadopsi sistem dan prosedur perbankan yang ada. Bila terjadi pertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, maka bank-bank Islam merencanakan dan menerapkan prosedur mereka sendiri guna menyesuaikan aktivitas perbankan mereka dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Untuk itu Dewan Syariah berfungsi memberikan advis kepada perbankan Islam guna memastikan bahwa bank Islam tidak terlibat dalam unsur-unsur yang tidak disetujui oleh Islam.3

Dalam sistem keuangan Islam, lembaga-lembaga keuangan non-bank yang diperlukan memiliki peran yang hampir sama. Hanya saja perbedaan terletak pada sistem dan mekanisme operasionalnya. Dengan penghapusan prinsip bunga, baik dalam mekanisme investasi langsung ataupun tak langsung dan pasar uang antar bank, praktek sistem bebas bunga (bagi hasil) akan lebih mudah untuk diterapkan secara integral. Oleh

3

Zainul Arifin, Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2006, hlm. 2-3

(14)

karena itu untuk mewadahi kepentingan masyarakat yang belum disalurkan oleh jasa perbankan Islam, maka telah dibentuk beberapa institusi keuangan non-bank dengan prinsip yang dibenarkan oleh syariat Islam, yaitu :

1. Baitul Maal wa Tamwil (BMT) dan Koperasi Pondok Pesantren 2. Asuransi Syari’ah (Takafful)

3. Reksa Dana Syari’ah 4. Pasar Modal Syari’ah 5. Pegadaian Syari’ah (Rahn)

6. Lembaga Zakat, infaq, Shadaqah, dan Wakaf.4

Kehadiran BMT dapat menjadi antithesis dari ungkapan bahwa bisnis dan sosial tidak dapat digabung. Mengelola bisnis dengan sistem sosial memang akan berdampak negatif bagi lembaga bisnis. Sebaliknya mengelola kegiatan sosial dengan pendekatan bisnis dapat mengurangi makna sosialnya. Namun sistem BMT, dengan memadukan keduanya tersebut, bukan berarti mencampuradukkan antara sosial dan bisnis, akan tetapi BMT menyelesaikan kegiatan sosial kemudian baru menyelesaikan kegiatan bisnis atau sebaliknya. Keselarasan antara sosial dan bisnis ini dijalankan dengan sistem manajemen yang terpisah.5

Baitul maal wat Tamwil (BMT) atau usaha mandiri terpadu, adalah

lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat

4

Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah, Yogyakarta: Ekonesia, edisi 2, 2003, hlm. 8-9

5

(15)

derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan pada sistem ekonomi yang salam: keselamatan (berintikan keadilan), kedamaian, dan kesejahteraan.6

BMT berasaskan pancasila dan UUD ’45 serta berlandaskan prinsip syari’ah Islam, keimanan, keterpaduan (kaffah) kekeluargaan/ koperasi, kebersamaan, kemandirian dan profesionalisme. Dengan demikian kehadiran BMT menjadi organisasi yang syah dan legal. Sebagai Lembaga Keuangan Syari’ah, yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip syariah. Keimanan menjadi landasan atas keyakinan untuk mau tumbuh dan berkembang. Keterpaduan mengisyaratkan adanya harapan untuk mencapai sukses di dunia dan akhirat juga keterpaduan antara sisi mall dan

tamwil (sosial dan bisnis). Kekeluargaan dan kebersamaan berarti untuk

mencapai kesuksesan tersebut diraih secara bersama.7

Pada dasarnya, produk yang ditawarkan oleh perbankan syari’ah dapat dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu :

a. Produk Penyaluran Dana (financing), b. Produk Penghimpunan Dana (funding), c. Produk Jasa (service).

Dalam penyaluran dananya pada nasabah, secara garis besar produk pembiayaan syariah terbagi ke dalam empat kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu :

6

M. Nadratuzzaman Hosen, dkk, Materi dakwah Ekonomi SYARI’AH, Jakarta: PKES (Pusat Komunikasi Ekonomi Syari’ah), 2008, hlm. 167

7

(16)

1. Pembiayaan dengan prinsip jual-beli, 2. Pembiayaan dengan prinsip sewa, 3. Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil, 4. Pembiayaan dengan prinsip akad pelengkap.

Pembiayaan dengan prinsip jual-beli ditujukan untuk memiliki barang, sedangkan yang menggunakan prinsip sewa ditujukan mendapatkan jasa. Prinsip bagi hasil digunakan untuk usaha kerja sama yang ditujukan guna mendapatkan barang dan jasa sekaligus.8

Produk pembiayaan merupakan penyediaan uang dan tagihan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam diantara BMT dengan pihak lain beserta bagi hasil setelah jangka waktu tertentu. Yang didalamnya berupa pembiayaan al-murabahah (MBA), pembiayaan

al-Bai’ Bitsaman Ajil (BBA), pembiayaan al-Mudharabah (MDA),

pembiayaan al-Musyarakah (MSA).9

Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau cicilan. Dalam murabahah juga diperkenankan adanya perbedaan dalam harga barang untuk cara pembayaran yang berbeda. Murabahah muajjal dicirikan dengan adanya penyerahan barang di awal akad dan pembayaran kemudian (setelah awal akad), baik dalam bentuk angsuran maupun dalam bentuk lump sum (sekaligus).10

8

Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 87

9 Heri Sudarsono, op. cit., hlm.102 10

(17)

Bai’ muajjal (pembayaran yang di tangguhkan), dengan teknik ini,

bank membeli dan menjual kembali aset, produk, atau properti berdasarkan sistem pembayaran yang ditangguhkan. Kategori pendanaan ini meliputi BBA dan mudharabah, karena kontrak ini membolehkan menjual suatu barang berdasarkan sistem pembayaran yang ditangguhkan, dengan dicicil atau dibayar sekaligus. Harga produknya disepakati oleh pembeli dan penjual pada saat penjualan dan tidak boleh menambahkan biaya apapun untuk pembayaran yang ditangguhkan. Ketentuan umum syariah tentang penjualan harus diterapkan, yaitu bahwa objeknya harus ada, dimiliki, dan dikuasai bank, penjualannya segera dan mutlak, dan harganya pasti, tanpa ditambahi syarat apa pun.11

Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan

tambahan keuntungan yang disepakati dan tidak terlalu memberatkan pembeli. Dalam kontrak murabahah, penjual harus memberitahukan harga pokok yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai imbalannya. Kontrak murabahah dapat dilakukan untuk membeli secara pesanan, yang bisa disebut murabahah kepada pemesan pembelian.12

Sedangkan pembiayaan bai’ bitsaman ajil, yaitu pembiayaan berupa talangan dana yang dibutuhkan nasabah untuk membeli suatu barang/jasa dengan kewajiban mengembangkan talangan dana tersebut ditambah margin keuntungan bank secara mencicil sampai lunas dalam

11

Mervyn K. Lewis dan Latifa M. Algaoud, Perbankan Syariah, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2001, hlm. 79

12

(18)

jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan. Bank memperoleh margin keuntungan berupa selisih harga beli dari pemasok dengan harga jual bank kepada nasabah.13

Bai’ bitsaman ajal adalah menjual dengan harga asal ditambah

dengan margin keuntungan yang telah disepakati dan dibayar secara kredit.14

Pembiayaan atas dasar prinsip bai’ bitsaman ajil adalah akad jual beli dengan harga yang sebesar harga pokok ditambah dengan tingkat keuntungan tertentu dan pembayarannya dilakukan atas dasar angsuran. Besarnya tingkat keuntungan, jangka waktu pembayaran, dan jumlah angsuran tersebut didasarkan kesepakatan antara penjual dan pembeli. Pembiayaan ini ditujukan bagi nasabah yang akan membeli barang modal atau barang untuk tujuan investasi lainnya.15

Bai’ bitsaman ajil dalam praktek di BMT yaitu transaksi jual beli

suatu barang yang mana BMT sebagai pihak penyedia barang (penjual) dan nasabah sebagai pihak penerima barang (pembeli), dengan tambahan keuntungan (margin) yang diambil oleh pihak BMT (penjual) yang telah disepakati antara kedua belah pihak atau BMT (penjual) dan nasabah (pembeli). Dan nasabah akan membayar dengan cara pencicilan kepada BMT.

13

Widyaningsih, dkk, Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2005, hlm. 109

14

Muhammad, Sistem Dan Prosedur Operasional Bank Syariah, Yogyakarta: UII Press, 2000, hlm. 30-31

15 Toyok Budisantoso dan Sigit Triandaru, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, edisi

(19)

Di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi praktek bai’ bitsaman ajil adalah transaksi jual beli antara BMT (penjual) dan calon anggota (pembeli), dengan tambahan keuntungan yang telah disepakati antara BMT dan calon anggota. Kemudian calon anggota membayar dengan cara mencicil/mengangsur kepada BMT. Tetapi BMT menyerahkan semuanya kepada calon anggota dalam hal penerimaan/pembelian barang. Apabila calon anggota menghendaki pembiayaan dalam bentuk uang bukan barang maka BMT akan memberikan pembiayaan dalam bentuk uang tersebut kepada calon anggota, dan apabila calon anggota menghendaki barang maka BMT akan memberikan barang kepada calon anggota.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk menyusun skripsi mengenai “PELAKSANAAN AKAD BAI’ BITSAMAN AJIL STUDI KASUS DI KSU BMT UMMAT SEJAHTERA ABADI JEPARA.

B. Rumusan Masalah

Untuk mencapai tujuan dari pembahasan judul skripsi di atas, maka penulis merumuskan dan membatasi permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan akad bai’ bitsaman ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara ?

2. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap pelaksanaan akad bai’

(20)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pelaksanaan akad bai’ bitsaman ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara ?

2. Untuk mengetahui bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap pelaksanaan akad bai’ bitsaman ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara ?

D. Telaah Pustaka

Untuk menghindari terjadinya duplikasi dan penelitian terhadap objek yang sama serta menghindari anggapan plagiasi (menjiplak) terhadap karya tertentu, maka perlu pengkajian terhadap karya-karya yang telah ada. Penelitian yang berkaitan dengan bai’ bitsaman ajil memang bukan untuk yang pertama kali, sebelumnya sudah ada penelitian yang berkaitan dengan hal tersebut, diantara penelitian yang sudah pernah dilakukan adalah sebagai berikut:

1. “Penerapan Prinsip Bai’ Bitsaman Ajil pada BPRS Arta Surya

Barokah Semarang”, oleh Joko Susilo, mahasiswa fakultas syari’ah/D3.

Hasil dari penelitian ini membahas tentang prosedur pembiayaan bai’

bitsaman ajil dan penanganan jika terjadi wan prestasi atau pembiayaan

macet pada bai’ bitsaman ajil. Maka penyelesaian pembiayaan dapat ditutup dengan dana ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah), jika mudharib (nasabah) benar-benar tidak mampu untuk membayar tunggakannya dan

(21)

termasuk dalam kategori orang yang wajib untuk diberi zakat yaitu

gharimin (orang yang berhutang).16

2. “Analisis Produk Pembiayaan Bai’ Bitsaman Ajil (BBA) Pada

BMT-MMU Sidogiri Pasuruan” oleh Dwi Riska Amalia, mahasiswa

Universitas Islam Negeri Malang. Hasil dari penelitian ini membahas tentang pembiayaan bai’ bitsamanil ajil (BBA) yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap pendapatan BMT-MMU. Jumlah penyaluran pembiayaan BBA menduduki posisi pertama. Dapat dimaklumi apabila BBA juga memberikan kontribusi yang sangat besar bagi BMT-MMU Pasuruan, hal ini disebabkan karena BBA memberikan pembayaran yang cenderung lebih pasti diterima karena telah ditentukan marginnya pada saat awal transaksinya. Upaya-upaya yang dilakukan oleh BMT-MMU Pasuruan dalam meningkatkan profitnya antara lain:

 Memperbanyak pembiayaan (ekspansi pembiayaan)

Karena dengan banyaknya pembiayaan yang masuk maka keuntungan yang diperoleh BMT akan semakin meningkat.

 Menekan biaya operasional

 Menekan NPL (Pembiayaan bermasalah)  Membangun etos kerja yang tinggi.17

16

Joko Susilo, Penerapan Prinsip Bai’ Bitsaman Ajil pada BPRS Artha Surya Barokah, Tugas Akhir Program D3 Perbankan Syari’ah Semarang, Tahun 2006.

17

Dwi Riska Amalia, Analisis Produk Pembiayaan Bai’ Bitsaman Ajil (BBA) Pada

(22)

E. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini berfokus pada “pelaksanaan akad bai’ bitsaman

ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara”. Dan dalam hal ini metode

yang digunakan adalah 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian yang menggunakan data dan sumber informasi lapangan, yang bertujuan memperoleh data-data yang diperlukan dari kancah atau obyek penelitian yang sebenarnya, dan untuk mempelajari secara intensif latar belakang, status terakhir dan interaksi yang terjadi pada suatu satuan sosial seperti individu, kelompok, lembaga atau komunitas.18

Dalam penelitian ini penulis meneliti, mengkaji, dan melakukan kunjungan langsung ke BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara.

2. Sumber Data a. Data primer

Yaitu data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan mengenakan alat pengukur atau alat pengambil data langsung pada subyek sebagai sumber informasi yang dicari.

Sumber data primer yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh langsung dari pimpinan, petugas, dan nasabah BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara.

18

(23)

b. Data Sekunder

Yaitu data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh penelitian dari subyek penelitian. Data sekunder biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen.19

Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil penelitian, surat perjanjian, dan data-data yang berkaitan dengan pelaksanaan akad bai’

bitsaman ajil.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.20

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

a) Pengamatan (observasi)

Yaitu alat pengumpulan data yang dilakukan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.21

19 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995, hlm. 85 20

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2008, hlm. 224

21

Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009, hlm. 70

(24)

Dalam penelitian ini penulis melakukan observasi dengan cara berkunjung dan mengamati secara langsung praktek pelaksanaan akad

bai’ bitsaman ajil di BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara.

b) Wawancara (interview)

Yaitu suatu percakapan, proses tanya jawab secara lisan, yang di dalamnya terdapat dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan suaranya, ini merupakan alat pengumpul informasi yang langsung untuk berbagai jenis data sosial.22 Dalam melaksanakan interview (wawancara) peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang sudah disiapkan kepada pengurus dan orang-orang yang terlibat didalamnya diminta untuk menjawab pertanyaan yang sudah diberikan tadi.

Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara langsung dengan pimpinan, karyawan/petugas, dan nasabah di BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara.

4. Metode Analisis Data

Setelah data terkumpul maka penulis akan melakukan analisis data dengan menggunakan metode deskriptif analitis dan menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif termasuk penelitian historis dan penelitian deskriptif, adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Penelitian deskriptif yaitu. suatu penelitian yang bertujuan untuk membuat deskripsi atau

22

(25)

gambaran mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki lalu menganalisis.23Dalam penelitian ini penulisan akan menggambarkan bagaimana pelaksanaan akad bai’

bitsaman ajil. F. Sistematika Penulisan

Dalam penyusunan penelitian ini, penulis membagi atas lima bab, yang mana antara bab satu dengan bab yang lain saling berkaitan.

Pada bab pertama berupa pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Pada bab dua membahas tentang gambaran umum mengenai pengertian akad, syarat dan rukun akad, dan pengertian bai’ bitsaman ajil, syarat dan rukun bai’ bitsaman ajil, serta bagan proses bai’ bitsaman ajil.

Pada bab tiga membahas tentang sejarah berdirinya, tujuan, visi dan misi, struktur organisasi, produk-produk BMT (simpanan dan pinjaman), dan aplikasi pembiayaan bai’ bitsaman ajil.

Pada bab empat membahas tentang analisis pelaksanaan akad bai’

bitsaman ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara, dan tinjauan

hukum Islam terhadap pelaksanaan akad bai’ bitsaman ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara.

Pada bab lima berupa Penutup yang meliputi kesimpulan, saran, dan penutup.

23

(26)

15

TINJAUAN UMUM TENTANG AKAD BAI’ BITSAMAN AJIL

A. AKAD

1. Pengertian Akad

Secara lughawi, makna al-aqd adalah perikatan, perjanjian, pertalian, permufakatan (al-ittifaq). Sedangkan secara istilahi, akad didefinisikan dengan redaksi yang berbeda-beda. Berbagai definisi tersebut dapat dimengerti bahwa, akad adalah pertalian ijab dan qabul dari pihak-pihak yang menyatakan kehendak, sesuai dengan kehendak syari’at, yang akan memiliki akibat hukum terhadap objeknya.24

Lafal akad adalah lafal Arab al-aqd yang berarti perikatan., perjanjian, dan permufakatan al-ittifaq. Secara terminology fiqh, akad di definisikan dengan :

Artinya : “pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan qobul

(pernyataan penerima ikatan) sesuai dengan kehendak syari‟at yang berpengaruh pada obyek perikatan”

Pencantuman kalimat “sesuai dengan kehendak syari’at” maksudnya adalah bahwa seluruh perikatan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak dianggap sah apabila tidak sejalan dengan kehendak syara’, misalnya:

24

(27)

kesepakatan untuk melakukan transaksi riba, menipu orang lain, atau merampok kekayaan orang lain. Sedangkan pencantuman kalimat “berpengaruh pada objek perikatan” maksudnya adalah terjadinya perpindahan pemilikan dari atau pihak (yang melakukan ijab) kepada pihak yang lain (yang menyatakan qabul).25

Definisi-definisi tersebut mengisyaratkan bahwa, pertama, akad merupakan keterkaitan atau pertemuan ijab dan qabul yang berpengaruh terhadap munculnya akibat hukum baru. Kedua, akad merupakan tindakan hukum dari kedua belah pihak. Ketiga, dilihat dari tujuan dilangsungkannya akad, ia bertujuan untuk melahirkan akibat hukum baru.

Persoalan akad adalah persoalan antara pihak yang sedang menjalin ikatan. Untuk itu yang perlu diperhatikan dalam menjalankan akad adalah terpenuhinya hak dan kewajiban masing-masing pihak tanpa ada pihak yang terlanggar haknya. Di sinilah pentingnya membuat batasan-batasan yang menjamin tidak terlanggarnya hak antar pihak yang sedang melaksanakan akad.26

2. Rukun dan Syarat Akad

Rukun akad dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang bisa digunakan untuk mengungkapkan kesepakatan atas dua kehendak, atau

25

Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, Jakarta : Gaya Media Pratama, cet. Ke-2, 2007, hlm. 97

26

(28)

sesuatu yang bisa disamakan dengan hal itu dari tindakan, isyarat atau korespondensi.27

Menurut jumhur ulama fiqh menyatakan bahwa rukun akad terdiri atas : 1. Al-„Aqidain, para pihak yang terlibat langsung dengan berakad,

2. Mahallul „aqd, yakni obyek akad, yakni sesuatu yang hendak diakadkan, 3. Shighat al-„aqh, yakni pernyataan kalimat akad, yang lazimnya

dilaksanakan melalui pernyataan ijab dan pernyataan qabul. Rukun menurut pengertian istilah fuqaha dan ahli ushul adalah :

“Sesuatu yang menjadikan tegaknya dan adanya sesuatu sedangkan ia bersifat internal (dakhiliy) dari sesuatu yang ditegakkannya.”

Berdasarkan pengertian diatas maka rukun akad adalah kesepakatan dua kehendak, yakni ijab dan qabul. Seorang pelaku tidak dapat dipandang sebagai rukun dari perbuatannya, karena pelaku bukan merupakan bagian internal dari perbuatannya. Sebagaimana yang berlaku pada ibadah, misalnya shalat, di mana orang yang melakukan shalat tidak dapat dipandang sebagai rukun shalat.28

Ijab adalah pernyataan yang keluar dari orang yang menyerahkan

benda, baik dikatakan oleh orang pertama atau kedua, sedangkan qabul adalah

27

Dimyauddin Djawaini, Pengantar Fiqh Muamalah, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, cetakan pertama, 2008, hlm. 50

28

Ghufron A. Mas’adi, Fiqh Muamalah Kontekstual, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 78-79

(29)

pernyataan dari orang yang menerima barang. Ini merupakan pengertian umum dipahami orang bahwa ijab adalah ucapan dari orang yang menyerahkan barang (penjual dalam jual-beli), sedangkan qabul adalah pernyataan dari penerima barang.29

Ijab dan qabul dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk (shigat) yang

dapat menunjukkan kehendak dan kesempatan. Bisa dengan menggunakan ucapan, tindakan, isyarat, atau korespondensi. Ucapan dapat diungkapkan dalam berbagai macam bentuk, yang terpenting dapat merepresentasikan maksud dan tujuannya.30

Unsur-unsur dalam akad adalah sesuatu yang merupakan pembentukan akadnya , yaitu sebagai berikut :

a. Shighat akad

Shigat akad adalah sesuatu yang disandarkan dari dua pihak yang berakad

yang menunjukkan atas apa yang ada di hati keduanya tentang terjadinya suatu akad. Hal ini dapat diketahui dengan ucapan, isyarat, dan tulisan.

Shighat tersebut biasa disebut ijab dan qabul. 31

Fiqih muamalah menetapkan sejumlah persyaratan umum yang harus terpenuhi dalam setiap shighat akad, sebagai berikut :

- Jala‟ul ma‟na (dinyatakan dengan ungkapan yang jelas dan pasti maknanya), sehingga dapat dipahami jenis akad yang dikehendaki.

29 Rachmad Syafe’ i, Fiqih Muamalah, Bandung, CV. Pustaka Setia, 2001, hlm. 46 30

Dimyauddin Djawaini, op. cit, hlm. 51

31

(30)

- Tawafuq/tathabuq bainal ijab wal-qabul (persesuaian antara ijab dan

qabul).

- Jazmul iradataini (ijab dan kabul mencerminkan kehendak masing-masing pihak secara pasti, mantap) tidak menunjukkan adanya unsur keraguan dan paksaan.

- Ittishab al-qabul bil ijab, dimana kedua pihak dapat hadir dalam satu majlis.32

b. Al-aqid (orang yang akad)

Al-aqid adalah orang yang melakukan akad. Keberadaannya sangat

penting sebab tidak dapat dikatakan akad jika tidak ada aqid. Begitu pula tidak akan terjadi ijab dan qabul tanpa adanya aqid.33

Ijab dan kabul yang merupakan esensi akad tidak akan terpenuhi kecuali

ada aqidain (kedua pihak yang melakukan akad). Dalam hal ini seorang

aqid harus memenuhi prinsip kecakapan (ahliyah) melakukan akad untuk

dirinya sendiri, atau karena mendapatkan kewenangan (wilayah) melakukan akad menggantikan orang lain atau berdasarkan perwakilan (wakalah).34

c. Mahal aqd (Al-Ma‟qud Alaih), obyek akad

Mahal aqd (Al-ma‟qud Alaih) adalah obyek akad atau benda-benda yang

dijadikan akad yang bentuknya tampak dan membekas. Barang tersebut

32 Ghufron A. Mas’adi, op. cit, hlm. 91 33

Rachmad Syafe’ i, op. cit, hlm. 53

34

(31)

dapat berbentuk harta, seperti barang dagangan, benda bukan harta, seperti dalam akad pernikahan, dan dapat pula berbentuk suatu kemanfaatan, seperti dalam masalah upah-mengupah, dan lain-lain.35

Fuqaha menetapkan syarat yang harus terpenuhi pada obyek akad :  Obyek akad harus telah ada ketika berlangsung akad.

Tidak sah mengakadkan benda yang tidak ada, seperti menjual tanaman sebelum tumbuh, dan menjual anak hewan di dalam perut induknya.

Obyek akad harus mal mutaqawwin (karta orang yang takwa).

Fuqaha sepakat terhadap persyaratan ini. Akad yang mentransaksikan

mal ghairu mutaqawwin, seperti bangkai, darah adalah batal. Karena

pada prinsipnya mal ghairu mutaqawwin tidak dapat dimiliki.  Dapat diserah-terimakan ketika akad berlangsung.

Obyek akad harus dapat diserahkan secepat mungkin setelah akad berlangsung. Jika pihak yang berakad tidak mampu menyerahkan, mereka menganggap akad tersebut batal.

Obyek akad harus jelas dan dikehendaki oleh pihak aqid.

Obyek akad harus diketahui oleh masing-masing pihak dengan pengetahuan sedemikian rupa dapat menghindarkan perselisihan.  Obyek akad harus suci, tidak najis dan tidak mutanajis. 36

35

Rachmad Syafe’ i, op. cit, hlm. 58

36

(32)

d. Maudhu (Tujuan) Akad.

Maudhu akad adalah maksud utama disyaratkannya akad. Dalam syariat

Islam, maudhu ini harus benar dan sesuai dengan ketentuan syara’. Sebenarnya maudhu akad adalah sama meskipun berbeda-beda barang dan jenisnya. Pada akad jual beli misalnya, maudhu akad adalah pemindahan kepemilikan barang dari penjual kepada pembeli, sedangkan dalam sewa-menyewa adalah pemindahan dalam mengambil manfaat disertai pengganti, dan lain-lain.37

Ulama fiqih menetapkan beberapa syarat umum yang harus dipenuhi oleh suatu akad. Syarat umum suatu akad adalah sebagai berikut :

1) Pihak-pihak yang melakukan akad telah cakap bertindak hukum (mukallaf) atau jika obyek akad itu merupakan milik orang yang tidak atau belum cakap bertindak hukum, maka harus dilakukan oleh walinya. Oleh sebab itu, suatu akad yang dilakukan orang gila dan anak kecil yang belum mumayyiz secara langsung, hukumnya tidak sah. Tetapi jika dilakukan oleh wali mereka, dan sifat akad yang dilakukan wali ini memberi manfaat bagi orang diam punya, maka akad itu hukumnya sah. 2) Obyek akad itu diakui oleh syara’. Untuk obyek akad ini disyaratkan:

berbentuk harta, dimiliki oleh seseorang, dan bernilai harta menurut syara’. Oleh sebab itu, jika obyek akad itu sesuatu yang tidak bernilai harta dalam Islam, maka akadnya tidak sah. Seperti khamar.

37

(33)

3) Akad ini tidak dilarang oleh nas syara’. Atas dasar syarat ini, seorang wali (pengelola anak kecil) tidak boleh menghibahkan harta anak kecil tersebut. Alasannya adalah melakukan suatu akad yang sifatnya menolong semata (tanpa imbalan) terhadap harta anak kecil tidak dibolehkan syara’. Oleh sebab itu, apabila wali menghibahkan harta anak kecil yang berada dibawah pengampunannya, maka akad itu batal menurut syara’.

4) Akad yang dilakukan itu memenuhi syarat-syarat khusus dengan akad yang bersangkutan. Artinya, disamping memenuhi syarat-syarat umum yang harus dipenuhi suatu akad, akad tersebut juga harus memenuhi syarat-syarat khusus.

5) Akad itu bermanfaat. Oleh sebab itu, jika seseorang melakukan suatu akad dan imbalan yang diambil merupakan kewajiban baginya, maka akad itu batal. Misalnya, seseorang yang melakukan kejahatan melakukan akad dengan orang lain, bahwa ia akan menghentikan kejahatannya jika ia diberi sejumlah uang (ganti rugi).

6) Ijab tetap utuh dan sahih sampai terjadinya qabul. Apabila ijab tidak utuh dan tidak sahih lagi ketika qabul diucapkan, maka akad itu tidak sah. Hal ini banyak dijumpai dalam suatu akad yang dilangsungkan melalui tulisan. 7) Ijab dan qabul itu dilakukan dalam satu majlis, yaitu suatu keadaan yang

menggambarkan proses suatu transaksi.

8) Tujuan akad itu jelas dan diakui syara’. Tujuan akad ini terkait erat dengan berbagai bentuk akad yang dilakukannya. Misalnya, dalam jual beli

(34)

tujuannya adalah untuk memindahkan hak milik penjual kepada pembeli dengan imbalan.38

B. BAI’ BITSAMAN AJIL

1. Pengertian Bai’ Bitsaman Ajil

Pengertian al-bai‟ bitsaman ajil secara tata bahasa dapat diartikan sebagai pembelian barang dengan pembayaran cicilan atau angsuran. Prinsip

bai‟ bitsaman ajil merupakan pengembangan dari prinsip murabahah. Jadi

dalam hal ini pihak bank membiayai pembelian barang yang diperlukan nasabah dengan sistem pembayaran angsuran. Dalam pelaksanaannya dengan cara bank membeli atau memberi surat kuasa kepada nasabah untuk membelikan barang yang diperlukannya atas nama bank. Selanjutnya pada saat yang sama bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga sebesar harga pokok ditambah sejumlah keuntungan atau mark-up, di mana jangka waktu serta besarnya angsuran berdasarkan kesepakatan bersama antara bank dengan nasabah.39

Murabahah adalah akad jual beli atas barang tertentu, dimana penjual menyebutkan dengan jelas barang yang dijual belikan, termasuk harga pembelian barang kepada pembeli, kemudian ia mensyaratkan atasnya

38

Muhammad, Model-Model Akad Pembiayaan di Bank Syari‟ah, Yogyakarta, UUI Press, 2009, hlm. 23-27

39

Martono, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Yogyakarta : EKONISIA, cet. Ketiga, 2004, hlm. 101

(35)

laba/keuntungan dalam jumlah tertentu.40Sedangkan bai‟ bitsaman ajil merupakan akad jual beli dan bukan merupakan pemberian pinjaman. Jual beli BBA adalah jual beli tangguh dan bukan jual beli spot (Bai‟ = jual beli,

Tsaman = harga, Ajil = penangguhan) sehingga BBA termasuk dalam kategori

perdagangan dan perniagaan yang dibolehkan Syari’ah. Oleh karena itu, keuntungan dari jual beli BBA halal, sedangkan keuntungan dari pemberian pinjaman adalah riba yang diharamkan oleh Syari’ah.41

Prinsip jual beli dengan mark-up (keuntungan) ini merupakan suatu tata cara jual beli yang dalam pelaksanaannya BMT mengangkat nasabah sebagai agen (yang diberi kuasa) melakukan pembelian barang atas nama BMT, kemudian BMT bertindak sebagai penjual, menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah harga beli ditambah keuntungan bagi BMT atau sering disebut margin mark-up. Keuntungan yang diperoleh BMT akan dibagi juga kepada penyedia/penyimpan dana. Bentuk produk prinsip ini adalah Murabahah dan Bai‟ Bitsaman Ajil.42

Pembiayaan bai‟ bitsaman ajil: pembiayaan ini hampir sama dengan pembiayaan murabahah, yang berbeda adalah pola pembayarannya yang dilakukan dengan cicilan dalam waktu yang agak panjang. Pembiayaan ini

40

Muhammad, op. cit, hlm. 57

41

Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2008, hlm. 192

42

Jamal Lulail Yunus, Manajemen Bank Syari‟ah Mikro, Malang : UIN Malang Press, 2009, hlm. 35

(36)

lebih cocok untuk pembiayaan investasi. BMT akan mendapatkan keuntungan dari harga barang yang dinaikkan.43

2. Landasan Bai’ Bitsaman Ajil

a. Landasan syari’ah dari pembiayaan bai‟ bitsaman ajil44 adalah dalam surat Al-Baqarah ayat : 282























Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah

tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”. 45

b. Landasan hukum yang diambil dari Al-Hadis46

Artinya : Dari Shalih bin Shuhayb dari ayahnya, ia berkata:

"Rasulullah SAW bersabda: “Tiga perkara di dalamnya terdapat keberkatan (1) menjual dengan pembayaran secara kredit. (2) muqaradhah (nama lain dari mudharabah). (3) mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah dan bukan untuk dijual.“ ( HR. Ibnu Majah)48

43

Ibid. hlm. 38

44

Karnaen A. Perwataatmadja dan Muhammad Syafi’i Antonio, Apa dan Bagaimana Bank

Islam, Yogyakarta : Dana Bhakti Wakaf, 1992, hlm. 28

45

Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, Surabaya: Mekar Surabaya, 2004, hlm.

46 Karnaen A. Perwataatmadja dan Muhammad Syafi’i Antonio, op. cit. hlm. 27 47

Al-Maktabah Asy-Syamilah V-II, Kutubul al-Mutun : Sunan Ibnu Majah, Bab as-Syirkah wa al-Mudharabah, Juz VII, h. 68, Nomor hadis 2289

48

(37)

3. Rukun dan Syarat bai’ bitsaman ajil

Rukun dan syarat bai‟ bitsaman ajil tidak jauh beda dengan jual beli secara umum karena transaksi ini merupakan pengembangan dari kontrak jual beli.

Adapun rukun jual beli menurut jumhur ulama ada empat, yaitu :

a. Ada orang yang berakad atau al-mutu al-muta‟aqidain (pembeli dan penjual).

b. Ada shighat (lafaz ijab dan qabul). c. Adanya barang yang dibeli.

d. Ada nilai tukar pengganti barang.

Adapun syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang diatas adalah sebagai berikut :

1) Syarat orang yang berakad (penjual dan pembeli)49 Syaratnya adalah :

 Berakal, agar tidak terkecoh. Orang yang gila atau bodoh tidak sah jual belinya.

 Dengan kehendak sendiri (bukan dipaksa).

 Tidak mubazir (pemboros), sebab harta orang yang mubazir itu di tangan walinya.

49

(38)

 Balig, anak kecil tidak sah jual belinya. Adapun anak-anak yang sudah mengerti tetapi belum sampai umur dewasa, menurut sebagian ulama’ mereka diperbolehkan jual beli.50

2) Syarat yang terkait dengan ijab dan qabul Syaratnya adalah :

- Orang yang mengucapkan telah balig dan berakal.

- Qabul sesuai dengan ijab. Apabila ijab dan qabul tidak sesuai maka, jual beli tidak sah.

- Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majlis. Artinya, kedua belah pihak yang melakukan jual beli hadir dan membicarakan topik yang sama.51

3) Syarat barang yang dijual belikan Syaratnya adalah :

 Suci, barang najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk dibelikan, seperti kulit binatang atau bangkai yang belum disamak.

 Ada manfaatnya, tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya.

50

Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, Bandung, Sinar Baru Algensindo, Cetakan ke-43, 2009, hlm. 279

51

(39)

 Barang itu dapat diserahkan, tidak sah menjual barang yang tidak dapat diserahkan kepada pembeli, misalnya ikan dalam laut, dan barang yang sedang dijaminkan.

 Barang tersebut merupakan kepunyaan si penjual, kepunyaan yang diwakilkannya, atau yang mengusahakannya.52

4) Syarat nilai tukar (harga barang) Syaratnya adalah :

 Harga yang disepakati kedua belah pihak, harus jelas jumlahnya.  Boleh diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukum, seperti

pembayaran dengan cek atau kartu kredit. Apabila harga barang itu dibayar kemudian (berutang), maka waktu pembayarannya harus jelas.  Apabila jual beli itu dilakukan dengan saling mempertukarkan barang (al-muqa‟yadhah), maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan syara’, seperti babi dan khamar, karena dua jenis benda ini tidak bernilai dalam syara’.53

4. Bagan Proses Bai’ Bitsaman Ajil

Jual beli BBA adalah jual beli tangguh dan bukan jual beli spot (Bai‟ = jual beli, Tsaman = harga, Ajil = penangguhan) sehingga BBA termasuk dalam kategori perdagangan dan perniagaan yang dibolehkan Syari’ah. Oleh

52

Sulaiman Rasjid, op. cit, hlm. 281

53

(40)

karena itu, keuntungan dari jual beli BBA halal, sedangkan keuntungan dari pemberian pinjaman adalah riba yang diharamkan oleh Syari’ah.

Pada jual beli BBA, ada empat langkah proses yang dilakukan :

1. Nasabah mengidentifikasi asset, misalkan asset X yang ingin dimiliki atau dibeli,

2. Bank membelikan aset yang diinginkan nasabah dari pemilik aset X, misalnya dengan harga Rp.100 juta,

3. Bank menjual aset X tersebut kepada nasabah dengan harga jual beli sama dengan harga perolehan ditambah margin keuntungan yang diinginkan bank, misalnya Rp. 120 juta,

4. Nasabah membayar harga asset X yang Rp 120 juta dengan cicilan sesuai kesepakatan.

Dalam prakteknya, nasabah dan bank melakukan kontrak jual dan beli kembali (sale and buyback) yang tercermin pada perjanjian Property

Bank Nasabah

Pemilik Aset (2) Bank membeli

aset dari pemilik (1) Nasabah menentukan aset yang akan dibeli (3) Bank menjual aset kepada nasabah dengan

harga jual = harga perolehan + margin

(41)

Purchase Agreement (PPA) dan Property Sale Agreement (PSA). Dalam PPA

bank membeli aset dari nasabah disyaratkan untuk membeli aset yang telah dijual sebelumnya ke bank. Uang pembayaran dari bank akan diteruskan dari nasabah untuk dibayarkan ke pemilik awal aset. Setelah memiliki aset, bank kemudian menjualnya kembali kepada nasabah dengan PSA.54

5. Kaidah-Kaidah Khusus Yang Berkaitan dengan Bai’ Bitsaman Ajil

a. Harga barang dengan transaksi bai‟ bitsaman ajil dapat ditentukan lebih tinggi dari pada transaksi tunai. Namun, ketika harga telah disepakati, tidak dapat berubah lagi.

b. Jangka waktu pengembalian dan jumlah cicilan ditentukan berdasarkan musyawarah dan kesepakatan kedua belah pihak.

c. Manakala nasabah tidak dapat membayar tepat pada waktu yang telah disepakati maka bank akan mencarikan jalan paling bijaksana.55

Bentuk dan sifat pembiayaan perdagangan al-bai‟ bitsaman ajil yang dilakukan oleh bank Islam :

a) Bank mengangkat nasabah sebagai agen,

b) Nasabah dalam kapasitasnya sebagai agen bank, melakukan pembelian barang modal atas nama bank,

54 Ascarya, op. cit, hlm.193-194 55

Muhammad, Sistem dan Operasional Bank Syari‟ah, Yogyakarta, UII Press, 2000, hlm. 30-31

(42)

c) Bank menjual barang modal tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah harga beli ditambah keuntungan bank (mark-up),

d) Nasabah membeli barang modal tersebut dan pembayarannya dilakukan secara mencicil untuk jangka masa yang telah disetujui bersama.56

6. Bai’ Bitsaman Ajil (BBA) dengan Murabahah

Murabahah sama dengan bai‟ bitsaman ajil. Sebenarnya produk pembiayaan bai‟ bitsaman ajil secara fiqh adalah bai‟ bitsaman ajil yang

murabahah. Adapun murabahah, secara fiqh pembayarannya dapat dilakukan

lewat naqdan (tunai) atau bitsaman ajil (tangguh tempo). Dalam penerapannya diperbankan, murabahah yang naqdan tidak ada, yang ada adalah murabahah yang pembayarannya dicicil. Jadi, sebenarnya produk pembiayaan murabahah secara fiqh adalah murabahah yang bai‟ bitsaman ajil". Untuk mengetahui gambaran lengkap tentang hal ini, dapat dilihat tabel berikut; 57

No. Hal Murabahah Bai’ bitsaman ajil

1 Fiqh  Dalam sebuah kitab,

murabahah adalah salah

satu bagian dari prinsip jual beli

 Sistem pembayaran boleh secara angsur atau sekaligus

 Tidak tercantum dalam kitab fiqh manapun dan bukan bagian dari prinsip jual beli melainkan istilah baru sebagai bagian dari

murabahah

 Bai‟ bitsaman ajil adalah jual beli dengan cara angsur, tidak terdapat pembayaran secara kontan.

56 Karnaen A. Perwataatmadja dan Muhammad Syafi’i Antonio, op. cit, hlm. 28 57

http://mas-roisku-muslimblogspotcom.blogspot.com/2010/09/akad-murabahah-dalam-hukum-Islam-dan.html, 8 Juni 2011

(43)

2. Teknik Perbankan

 Digunakan di seluruh perbankan syariah yang berada di Timur Tengah, Eropa, Asia, Australia, dan Amerika

 Pembiayaan untuk barang yang tidak bersifat siklus (modal kerja), kecuali pembiayaan untuk satu jenis barang dan bersifat

one shot deal

 Produk ini hanya digunakan di Malaysia

(44)

33

PROFIL KSU BMT “UMMAT SEJAHTERA ABADI”

A. Sejarah Berdirinya

Berawal dari sebuah pelatihan Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan (MHMMD) pada tahun 2006 yang diselenggarakan oleh PP.LPNU bekerjasama dengan ICMI, dengan peserta 5 orang per kabupaten. Lembaga NU dan Badan Otonomnya serta pesantren se-Jawa Tengah mengadakan pelatihan tersebut dengan diketuai oleh Abdul Ghofur Rozin (putra dari KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahmudz Kajen Pati Jawa Tengah). Dari pelatihan tersebut terbentuklah alumni MHMMD yang kemudian pada tahun 2007 melakukan serangkaian tindak lanjut, dimulai dari pelatihan kewirausahaan, pelatihan pendirian BMT sampai pelatihan manajer BMT BUS Lasem, dan juga Bank Syari’ah milik K.H M.A Sahal Mahfudz Pati yaitu BRR Syari’ah Arta Mas Abadi dengan komisarisnya Mas Faruq yang juga teman satu angkatan MHMMD (Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan) yang menjadi fasilitator pelatihan lanjutnya sampai sekarang.

Seiring dengan seleksi alam, dari 5 orang per kabupaten alumni pelatihan ini hanya 4 orang yang terlibat proses pendiriannya. Dan sampai pada tahap-tahap akhir tinggal 2 orang yang intens mendampingi pendirian. Dari 2 personil inilah yang akhirnya sebagai perintis dan pendiri BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara yaitu Drs. Mustaqim Umar, MM yang kemudian didaulat menjadi Ketua dan M.

(45)

Jauharuddin, S.Sos.I sebagai Manajernya setelah melalui perekrutan anggota pendiri. Akhirnya, BMT Ummat Sejahtera Abadi berhasil didirikan dengan mendapat badan hukum tanggal 25 Oktober 2007 dengan beroperasi secara resmi tanggal 12 Desember 2007. Yang berpusat di alamat Jl. Wakhid Hasyim No.133 Jepara.

BMT (Baitul Maal wa Tamwil) merupakan lembaga mikro yang bertujuan untuk menyejahterakan rakyat, khususnya masyarakat menengah kebawah untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga terbentuklah KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi dengan memanfaatkan peluang yang ada dari masyarakat yang cenderung menyukai kredit.58

Modal awal berdirinya KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara dari anggota pendiri yaitu masyarakat umum yang berjumlah 26 orang. Dari dana yang berupa simpanan pokok sebesar Rp.1.000.000,- per orang dan dari simpanan wajib sebesar Rp. 25.000,- per orang. Dan sampai sekarang jumlah modal sebesar Rp. 42.985.000,- dari SHU (sisa hasil usaha) per Mei 2011. Jumlah anggota bai’

bitsaman ajil 240 orang pada tahun 2010. Dan keuntungan sampai tahun 2010

sebesar Rp. 1.716.265.000,-.

58

Hasil wawancara dengan bapak M. Jauharuddin, S.Sos.I, Manager KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara, pada tanggal 4 April 2011

(46)

B. Tujuan, Visi, dan Misi

Setiap organisasi atau perusahaan mana pun pasti memiliki tujuan serta visi dan misi, sehingga dengan tujuan, visi dan misi yang dimiliki, maka perkembangan dapat terarah. Begitu juga dengan KSU BMT ”Ummat Sejahtera Abadi”, mempunyai tujuan dalam menentukan arah dan perkembangan KSU BMT ”Ummat Sejahtera Abadi” itu sendiri. Ada pun yang menjadi tujuannya, yaitu :

1. Meningkatkan kesejahteraan anggota dan calon anggota,

2. Membantu sektor perekonomian terutama usaha kecil mikro dan menyediakan lapangan kerja serta pengembangan sumber daya manusia,

3. Meningkatkan semangat gotong royong sesuai yang diamanatkan UUD 1945 pasal 33.

Kemudian yang menjadi visi dan misi dari KSU BMT “Ummat Sejahtera Abadi” ini adalah, visi “menjadi Lembaga Keuangan Mikro Syari’ah sebagai

mitra terpercaya dan terdepan dalam bermuamalah yang mampu menghantarkan kesejahteraan dan meningkatkan taraf hidup serta nilai kehidupan anggotanya berdasarkan prinsip-prinsip Syari’ah”. Sedangkan misinya adalah :

1. Melakukan jasa layanan penguatan modal dan pembiayaan kebutuhan anggota dan calon anggota,

2. Melakukan jasa perencanaan keuangan anggota dan calon anggota melalui produk-produk simpanan yang berdasarkan prinsip-prinsip syari’ah,

(47)

3. Melakukan gerakan dakwah dan keagamaan melalui kegiatan ekonomi syari’ah,

4. Partisipasi aktif dalam membangun masyarakat menjadi produktif,

5. Partisipasi aktif dalam menyejahterakan dan meningkatkan sumber daya masyarakat.

C. Struktur Organisasi

 Susunan Pengurus

a) Ketua : Drs. H. Mustaqim Umar, MM b) Sekretaris : H. Moh Ahris As

c) Bendahara : Dra. Siti Juhariyanti  Susunan Pengawas

a) Ketua : Sukardi, S.Pd b) Anggota : M. Kholil, S.Ag c) Anggota : Dosan Rif’i MA  Dewan Pengawas Syari’ah

a) Ketua : Ustad Ahmad Muzakky b) Anggota : Usrad Ahmad Syahil  Manager : M. Jauharuddin, S.Sos.I

 Administrasi : Khidmiyah, SE (Manager Cabang) : Mariya Ulfa, SE

(48)

 Marketing : Nur Rohmat, S.H.I (Manager Cabang) : Ismail Isna Umar

: Luthfiyah  Jumlah Anggota Pendiri : 26 Orang  Jumlah Anggota Biasa : 1300 Orang  Jumlah Kantor Kas : 2 Kantor Kas

1. Jl. Ratu Kalinyamat No. 01 Mantingan Tahunan Jepara

2. Jl. Raya Ngabul-Batealit (Ds. Mindahan 3/1) Batealit Jepara59

D. Produk-produk (Simpanan dan Pembiayaan)

Ada beberapa produk atau pun layanan yang di miliki oleh BMT ”Ummat Sejahtera Abadi Jepara” yaitu berupa simpanan dan pembiayaan.

1. Produk Simpanan

Adapun produk simpanan yang dimilikinya, adalah sebagai berikut : a. Si SELA (Simpanan Sejahtera Lancar)

Persiapan sejak dini merupakan langkah bijaksana mewujudkan kebahagiaan, jangan sampai kejadian yang tak terduga membuat rencana anda jadi tertunda.

Si SELA (Simpanan Sejahtera Lancar) membantu mewujudkan keinginan dan mengatasi masalah yang tidak terencana. Pembukaan rekening awal Rp. 10.000,- setoran selanjutnya Rp. 5.000,- dan dapat

59

(49)

diambil kapanpun. Kapan pun membutuhkan penarikan, BMT siap melayani.

Dengan prinsip bagi hasil yang menggunakan akad wadi’ah

yadlomanah dan mudharabah dengan memberikan keuntungan bagi anda

dengan nisbah 30% : 70% atau setara dengan kisaran jasa ± 0,7% per bulan. Tidak ada potongan biaya dari Si SELA dan bagi hasil yang diberikan bebas riba.

b. Si RAKA (Simpanan Sejahtera Berjangka)

Dengan memberikan kepercayaan penuh kepada kami, investasi jangka panjang anda kami jamin dengan sempurna. Si RAKA (Simpanan Sejahtera Berjangka) merupakan pilihan tepat untuk mendapatkan manfaat yang besar. Si RAKA dapat dijadikan sebagai agunan pembiayaan minimal sebesar Rp. 1.000.000,-.

Dengan prinsip bagi hasil yang kompetitif menggunakan akad

wadi’ah yadlomanah dan mudharabah memberikan keuntungan bagi anda

dengan nisbah sebagai berikut :

Jangka Waktu Nisbah Kisaran Jasa

1 bulan 35% : 65% ± 0,8% 3 bulan 40% : 60% ± 0,9% 6 bulan 45% : 55% ± 0,1% 12 bulan 50% : 50% ± 1,2% 18 bulan 55% : 45% ± 1,3% 24 bulan 60% : 40% ± 1,4%

(50)

Tidak ada potongan biaya dari si RAKA dan bagi hasil yang diberikan bebas riba.

c. Si RADIK (Simpanan Sejahtera Pendidikan)

Mari menggapai masa depan gemilang menjadi anggota Si RADIK. Anda bisa merencanakan biaya pendidikan putra putri anda sejak lahir sampai perguruan tinggi. Ketentuan setoran per bulan kelas A besar setoran Rp. 100.000,- sedangkan kelas B besar setoran Rp. 50.000,- dan kelas C besar setoran Rp. 25.000,-.

d. Si WAKA (Simpanan Siswa Sekolah)

Sekolah mengemban tanggung jawab yang mulia untuk mempersiapkan generasi yang handal demi masa depan. Dengan simpanan sekolah kami mengajak bapak/ibu Guru mewujudkan generasi yang mampu menatap masa depan. Tidak ada batasan jumlah minimal simpanan dari para siswa. Dengan prinsip bagi hasil yang menggunakan akad

mudharabah yang memberikan keuntungan bagi sekolah dengan nisbah

40% : 60% atau setara dengan ± 0,9% per bulan. e. Si HARYA (Simpanan Hari Raya)

Si HARYA merupakan produk dari KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi dengan menggunakan akad mudharabah yang siap menampung dana simpanan hari raya anda, yaitu simpanan yang setiap saat dapat anda setorkan dan pengambilannya 1 (satu) tahun sekali yaitu minimal 1 (satu) bulan menjelang hari raya Idul Fitri. Sehingga saat menjelang hari raya

(51)

anda tidak perlu bingung mencari dana. Setoran awal minimal Rp. 10.000,- dan seterusnya minimal Rp. 5.000,-. Dengan prinsip bagi hasil 35% : 65%.

Dengan keistimewaan yaitu anggota akan mendapatkan bonus berupa bingkisan barang untuk setiap penarikan dana menjelang hari raya idul fitri. Dihitung berdasarkan besar kecilnya saldo rata-rata harian. f. Si SENA (Simpanan Sejahtera Rencana)

Si SENA merupakan salah satu produk simpanan di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi yang menggunakan akad mudharabah, yaitu akad bagi hasil dimana pihak yang memiliki dana (penyimpan) disebut shahibul

maal mempercayakan dananya untuk dikelola oleh BMT sebagai mudharib, dan atas manfaat dana tersebut, keuntungan yang diperoleh

dibagi bersama dengan nisbah 50 : 50 per bulan.

Setoran dilakukan setiap bulan dan tidak dapat ditarik sewaktu-waktu, si SENA hanya dapat ditarik sesuai dengan jangka waktu yang disepakati.

Dengan keistimewaan dapat dijadikan jaminan pembiayaan sebesar 80% dana yang pernah disimpan. Table perkiraan si SENA : 60

No Criteria

Setoran perbulan

Saldo akhir / uang yang diterima JW 5 thn JW 4 thn JW 3 thn 1 No 100.000 8.000.000 6.000.000 4.000.000 2 Si Sena 2 200.000 16.000.000 12.000.000 8.000.000

60

(52)

3 Si Sena 3 300.000 24.000.000 18.000.000 12.000.000 4 Si Sena 4 400.000 32.000.000 24.000.000 16.000.000 5 Si Sena 5 500.000 40.000.000 30.000.000 20.000.000 6 Si Sena 10 1.000.000 80.000.000 60.000.000 40.000.000 7 Si Sena 15 1.500.000 120.000.000 90.000.000 60.000.000 8 Si Sena 20 2.000.000 160.000.000 120.00.000 80.000.000 9 Si Sena 25 2.500.000 200.000.000 150.000.000 100.000.000 10 Si Sena 30 3.000.000 240.000.000 180.000.000 120.000.000 2. Produk Pembiayaan

Adapun produk pembiayaan yang dimilikinya adalah sebagai berikut : a. Pembiayaan mudharabah (bagi hasil)

Adalah pembiayaan modal sepenuhnya sedangkan nasabah menyediakan usaha dan manajemennya. Hasil keuntungan akan dibagikan sesuai dengan kesepakatan bersama berdasarkan ketentuan hasil. Pertama kali mengajukan pembiayaan dan setelah dilaksanakan akad kemudian adanya kesepakatan bersama mengenai bagi hasil. Sebagai contoh kesepakatan 70% : 30%. Untuk calon anggota 70% dan untuk BMT 30%. b. Pembiayaan musyarakah (penyertaan)

Adalah pembiayaan berupa sebagian modal keseluruhan. Masing-masing pihak bekerja dan memiliki hak untuk turut serta mewakili atau menggugurkan haknya dalam usaha manajemen usaha tersebut. Keuntungan dari usaha ini akan di bagi menurut proses penyertaan modal sesuai dengan kesepakatan bersama. Keuntungannya dibagi berdua sesuai dengan kesepakatan bersama. Bisa berupa 60% : 40%. Untuk calon anggota 60% dan BMT 30%.

(53)

c. Pembiayaan murabahah (jual beli dengan cara pembayaran jatuh tempo) Adalah pembiayaan atas dasar jual beli dimana harga jual didasarkan atas harga asal yang diketahui bersama ditambah keuntungan bagi BMT. Keuntungan adalah selisih harga jual dengan harga asal yang disepakati bersama. Jual beli dengan cara pembayarannya jatuh tempo. Jangka atau jatuh temponya 3 bulan dan maksimal 4 bulan.

d. Pembiayaan bai’ bitsaman ajil (jual beli dengan cara mengangsur/mencicil)

Adalah pembiayaan dengan sistem jual beli dengan cara angsuran terhadap pembelian suatu barang. Jumlah kewajiban yang harus di bayar oleh pengguna jasa sejumlah harga barang dan mark up yang telah disepakati bersama. Jual beli dengan mengambil keuntungan. Contohnya BMT membeli tv seharga Rp. 1.000.000 kemudian dijual kepada calon anggota dengan harga Rp. 1.2000.000. Selisih harga itulah yang menjadi keuntungan BMT setelah disepakati bersama oleh calon anggota. 61

61 Hasil wawancara dengan Ibu Titik selaku kasir KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara,

(54)

E. Pelaksanaan Pembiayaan Bai’ Bitsaman Ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara.

Bai’ bitsaman ajil merupakan produk pembiayaan yang dimiliki oleh

BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara. Syarat dan rukun bai’ bitsaman ajil adalah sebagai berikut :

a) Adanya penjual dan pembeli

b) Adanya barang yang diperjual belikan c) Adanya akad.

Prosedur pembiayaan bai’ bitsaman ajil yaitu :

1. Calon anggota yang ingin mengajukan pembiayaan langsung datang ke BMT Ummat Sejahtera Abadi, untuk mendapatkan informasi mengenai pembiayaan, 2. BMT Ummat Sejahtera Abadi memberikan syarat-syarat dan ketentuan

bersama yang harus dipenuhi oleh calon anggota untuk memperoleh pembiayaan adalah sebagai berikut :

a) Mengisi formulir permohonan pembiayaan, b) Fotocopy KTP suami dan istri atau wali, c) Fotocopy KSK/KK,

d) Fotocopy rekening listrik,

e) Fotocopy jaminan (berupa BPKB, sertifikat tanah, emas), f) Fotocopy legalitas bagi badan usaha,

g) Menjadi anggota atau mitra usaha, h) Membuka rekening tabungan,

(55)

i) Bersedia di survey.

3. Kemudian pihak marketing atau customer servis mengadakan survey kepada calon anggota yang mengajukan pembiayaan,

4. Setelah di rekomendasi oleh marketing, kemudian dilanjutkan rapat komite membahas mengenai pembiayaan yang telah diajukan oleh calon anggota, 5. Apabila permohonan pembiayaan diterima, kemudian calon anggota dan pihak

BMT melaksanakan akad dengan catatan calon anggota melaksanakan administrasi diawal yaitu :

 Biaya administrasi 2% dari total pembiayaan seluruhnya  Materai 1 lembar

 Simpanan si Sela.

6. Setelah itu calon anggota menerima pembiayaan yang telah diajukan untuk pembelian barang sesuai yang di inginkan.

Penerapan akad bai’ bitsaman ajil di KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi Jepara adalah sebagai berikut :

a. Adanya akid.

Yaitu pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi akad bai’ bitsaman

ajil adalah pihak pertama selaku KSU BMT Ummat Sejahtera Abadi, dan

Gambar

Tabel angsuran akad bai’ bitsaman ajil  Periode  Angsuran  Sisa  Pembiayaan  Angsuran Pokok  Angsuran Margin  Jumlah  1  8.510.000  250.000  120.000  370.000  2  8.140.000  250.000  120.000  370.000  3  7.770.000  250.000  120.000  370.000  4  7.400.000  2

Referensi

Dokumen terkait