• Tidak ada hasil yang ditemukan

Merindukan Masuk Daftar Top 100 Universitas Dunia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Merindukan Masuk Daftar Top 100 Universitas Dunia"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Merindukan Masuk Daftar Top 100 Universitas Dunia

Seperti halnya ambisi para pelatih dan pemain sepakbola Indonesia dan juga para pengamat dan fan-nya untuk masuk piala dunia yang diselenggarakan FIFA, para dosen, guru besar, pengelola juga pengambil kebijakan dalam tata kelola perguruan tinggi sedang galau karena satu keinginan, masuk daftar ranking universitas dunia. Salah satunya adalah perankingan universitas yang dikeluarkan oleh Times Higher Education (THE) World University Ranking yang bermarkas di London.

Dalam perankingan ini universitas-universitas dunia jumpalitan jatuh bangun saling menyusul. Untuk periode 2016-2017, Harvard terperosok cukup dalam ke posisi 6, terseok didahului oleh University of Oxford, California Institute of Technology, Stanford University, University of Cambridge, dan Massachusetts Institute of Technology atau MIT.

Tentu saja urutan ini tidak begitu mencengangkan, mengingat reputasi keenam universitas ini yang memang tidak banyak bergeser. Tapi yang menarik, bahkan keseluruhan 100 universitas teratas juga tidak banyak bergeser sejak publikasi ranking berdasarkan reputasi oleh THE pertama kali diterbitkan pada tahun 2011. Amerika sampai sekarang masih terus memimpin dengan 41 universitas yang menduduki top 100, disusul Inggris dengan perwakilan 12 universitas, Jerman 9 universitas, Belanda 8 universitas, Australia 6 universitas, Canada 3 universitas, Swedia 3 universitas, Swiss 3 universitas, Hong Kong 3 universitas, Jepang 2 universitas, Cina 2 universitas, Korea 2 universitas, Singapore 2 universitas, Perancis 1 universitas, Finlandia 1 universitas. Dalam perankingan ini reputasi adalah kunci.

John Rockefeller suatu waktu pernah berkata bahwa reputasi adalah segala-galanya. Mungkin Rockefeller berbicara dalam konteks umum, tapi bagi universitas, reputasi berpengaruh pada berbagai aspek seperti pendaftaran mahasiswa baru, besaran SPP, jenis pekerjaan yang menampung alumni dan tentu saja, jumlah uang yang masuk ke universitas sangat dipengaruhi reputasi. Yang tak kalah penting untuk diselidiki adalah fakta bahwa kenapa AS begitu banyak representasinya di top 100? Fakatanya adalah bahwa perankingan sendiri bukan hal baru bagi AS, sudah beberapa dekade U.S. News and World Report menyediakan informasi serupa. Tapi bukan karena itu universitas mereka berjaya. Adalah kultur akademik dan otonomi kampus yang membuat mereka begitu lentur untuk mengatur segala urusannya. Saking otonomnya universitas di AS, sudah jadi rahasia umum, bahwa di universitas-universitas di AS, olahraga adalah salah satu penghasilan kampus yang mengiurkan di mana para pelatih basket dan football digaji lebih tinggi dari guru besar. Selain itu, hubungan kampus dengan industry yang dahsyat yang membuat kampus-kampus bersentuhan secara langsung dengan penelitian-penelitian praktis yang diperlukan industry-industri raksasa, dan tentu saja kualitas penelitian mereka teruji baik secara keilmuan maupun bisnis.

(2)

Kontras dengan perankingan di AS yang sudah lama, perankingan dalam skala internasional baru berlangsung beberapa tahun saja. Dan meskipun dari sisi kualitas dan metodologi, kredibilitas mereka sering memperoleh kritik pedas, pengaruhnya tidak bisa dianggap sepele seiring dengan pergerakan mahasiswa yang semakin mobile dalam pencarian universitas yang ideal untuk karir pendidikan mereka. Dalam sebuah laporan yang disusun oleh European University Association, Andrejs Rauhvargers menyebutkan bahwa perankingan membuat para calon mahasiswa bisa memiliki landasan untuk memilih universitas yang berkualitas. Namun demikian, perankingan juga berpengaruh pada universitas-universitas secara keseluruhan berikut kebijakan negara-negara di mana universitas2 itu berada. Di beberapa negara-negara, orang tua merekomendasikan anak-anaknya supaya mereka sekolah hanya di universitas-universitas yang memiliki ranking yang baik. Lebih jauh dari itu, perusahaan-perusahaan mulai menerapakan peraturan dalam rekrutmen pegawai mereka dengan mencantumkan preferensi bahwa vacancy hanya akan diberikan kepada para pelamar yang lulus dari universitas-universitas top dunia. Bahkan Belanda menjegal para immigran yang mau masuk ke Belanda dengan mengharuskan mereka lulus dari universitas top 150 dunia. Tak mau kalah dengan Holland, universitas-universitas di Singapore hanya membolehkan kerjasama dengan universitas-universitas top 100. Hal ini juga merupakan tekanan bagi universitas-universitas yang tidak terlalu bagus rankingnya. Mereka harus memutar otak lebih keras lagi bagaimana meningkatkan kinerja universitas mereka.

Kalau menelusuri kitab kejadiannya, perankingan universitas secara global bisa kita mulai dari seorang guru besar, Nian Cai Liu, yang juga merupakan dekan fakultas pendidikan di universitas Shanghai Jiao Tong, Tiongkok. Dari tahun 1999 sampai dengan 2001 ditemani oleh Dr. Ying Cheng dan dua koleganya, Prof. Liu melakukan benchmarking terhadap universitas-universitas top di China dan beberapa kelompok universitas di AS dari yang paling top sampai ke universitas yang biasa-biasa saja. Dengan satu tujuan, bagaimana kualitas universitas di China bila dibandingkan secara global. Prediksi mereka menyimpulkan bahwa universitas top di China hanya akan mampu bertenger di top 200 sampai 300 secara global. Akhirnya pada tahun 2003, Prof. Liu berhasil membuktikan asumsinya dengan mempublikasikan perankingan akademik dari universitas-universitas secara global dengan melihat jumlah hadiah nobel dan field medals pada bidang matematika yang diterima oleh universitas-universitas itu. Prof. Liu juga mengukur seberapa sering hasil penelitian universitas-universitas itu dikutip. Mereka tentu saja sadar bahwa metodologi ini akan membuat universitas-universitas yang hanya memiliki program studi ilmu sosial dengan sendirinya akan terpuruk.

Mungkin Prof. Liu dan para koleganya tidak menyangka bahwa perankingan yang mereka buat, yang sejatinya hanya dibuat untuk kepentingan para pengambil kebijakan di Tiongkok, justru membangunkan para pengambil kebijakan di seluruh dunia. Para pengambil kebijakan pendidikan tinggi di Perancis dan Jerman dikabarkan shok mendapati kenyataan bahwa universitas mereka tidak muncul dalam top 20 universitas dunia dalam daftar prof. Liu. Jepang yang terkenal dengan riset-riset mereka yang canggih, hanya

(3)

menempatkan satu saja universitas perwakilannya di top 20, yaitu the University of Tokyo yang pada Shanghai Ranking kala itu bertenger di posisi 19.

Reaksi demi reaksi terus berkembang, berbagai negara terus berusaha punya imajinasi untuk masuk top university ranking. Bahkan di Indonesia, banyak universitas membubuhkan kata “menuju universitas dunia” dalam slogan atau bahkan visi misi mereka. Negara-negara yang sedang berkembang seperti Malaysia, Taiwan, Korea Selatan dan negara-negara lainnya berlomba untuk memiliki perwakilan universitasnya dalam top 100.

Hal lain yang memikat perhatian, adalah bahwa publikasi Prof. Liu tahun 2003 itu justru memicu gelombang munculnya perankingan universitas yang sebelumnya mungkin tidak terbayangkan. Adalah Quacquarelli Symonds (atau yang sekarang lebih dikenal dengan QS ranking) yang merespon dengan cepat Shanghai Ranking dengan masuk bisnis perankingan pada tahun 2004 bekerjasama dengan Times Higher Education. QS yang bermarkas di London ini pertamanya hanya menyelenggarakan berbagai event pendidikan dan guideline tentang program-program postgraduate sebelum masuk pada bisnis ini. Dalam perjalananya, kedua perusahaan ini pecah kongsi pada tahun 2009 karena ketidaksepakatan mengenai pengukuran reputasi universitas.

Dalam hal ini, baik QS ranking maupun Times Higher Education sama-sama menempatkan reputasi dalam metodologi mereka. Hanya saja prosentasenya berbeda. Pada awalnya, QS ranking memberikan porsi 50% untuk reputasi akademik, yang kemudian tinggal 40%. Sementara Times Higher Education mendudukan reputasi dengan porsi sekitar 35% dari seluruh bobot penilaian universitas. , Sementara itu, system survey mereka juga berbeda. Times Higher Education hanya memberikan kesempatan untuk mengisi survey kepada orang-orang tertentu atas undangan mereka, sedangkan QS ranking membuatnya lebih terbuka dengan memungkinkan setiap pengelola perguruan tinggi untuk mengisi survey dan memberikan jasa konsultasi di mana universitas membayar sekitar 300 juta untuk jasa itu. Tentu saja, metode ini memberikan peluang kecurangan yang lebih terbuka. Karena pengisi survey bisa siapa saja, akibatnya seorang pengelola universitas bisa meminta kepada beberapa pengelola universitas lainnya untuk mengisi survei QS ranking dan memberikan kredit positif ke universitasnya. Sebuah kongkalikong yang dimungkinkan oleh system QS.

Sisi lain dari pengukuran menggunakan reputasi adalah kerumitannya. Reputasi adalah sebuah ungkapan kualitas tentang entitas yang umum dan cenderung simplistik. Kalau yang dianggap reputasi itu, misalnya, adalah jumlah penelitian yang dikutip secara international, maka aspek lain seperti pengajaran dan model-model pengabdian yang sangat umum di universitas-universitas di Indonesia menjadi tidak terhitung. Tentu saja penelitian dan publikasi ilmiah telah terkonsolidasi dalam berbagai jurnal yang semakin hari semakin banyak dan menjadi mudah untuk diukur. Lain halnya dengan pengajaran dan pengabdian masyarakat yang akan memerlukan instrument khusus untuk mengukurnya secara global dan itupun belum tentu ada wadah seperti halnya untuk riset. Celakanya, reputasi ini telah menjadi rujukan dalam mobilisasi mahasiswa internasional mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan

(4)

lainnya seperti biaya kuliah, isi mata kuliah, dan juga merupakan prioritas utama yang melandasi mobilitas dosen secara internasional.

Di samping faktor-faktor objektif dalam perankingan universitas dunia, apa yang sesungguhnya menjadi indikator kualitas universitas masih merupakah ranah perdebatan yang alot. Misalnya, beberapa pihak mempertanyakan prosentase jumlah dosen dan mahasiswa asing sebagai salah satu penentu ranking universitas. Bagi, misalnya, universitas-universitas Indonesia secara mayoritas, tentu kriteria ini bukan hal yang menguntungkan mengingat jumlah dosen dan mahasiswa asing di universitas kita tidak sebanyak mereka di universitas-universitas, katakanlah, Malaysia atau di Singapura.

Entah sudah berapa kali Times Higher merevisi metodologinya sejak pecah kongsi dengan Quacquarelli Symonds. Pernah terjadi pada tahun 2010-2011, sebuah universitas di Mesir, Alexandria University, mengunguli Harvard dan Stanford dalam kategori dampak penelitian yang membuat universitas ini memasuki top 200 universitas dunia. Pada kasus itu, seorang ahli matematik dari universitas tersebut terungkap mengutip dirinya sendiri dan meminta teman-temannya untuk mengutip karyanya yang membuat karyanya terkesan punya dampak luas.

Selang dua tahun berikutnya Times Higher kembali merevisi metodologinya. Tapi kemudian metodologi baru ini sempat menghebohkan juga karena menempatkan Moscow State Engineering Physics Institute sebagai yang pertama dalam kategori research impact, mengalahkan M.I.T, Harvard, Stanford dan lainnya. Yang terjadi adalah seseorang di kampus Moskow terdaftar sebagai co-penulis sebuah jurnal dua tahunan untuk bidang fisika partikel, sebuah referensi ternama di bidang itu dan menjadi rujukan utama. Metodologi ini menilai sitasi dalam kurung 2 tahun ke belakang yang membuat universitas ini memiliki dampak yang lebih besar. Celakanya lagi, metodologi baru ini memberikan bobot yang berbeda-beda kepada setiap negara, dan Russia entah bagaimana memperoleh bobot yang lebih besar sehingga jurnal-jurnalnya otomatis memperolet bobot yang lebih besar pula. Jadi ada satu hal yang perlu ditanyakan dari sisi metodologi, yang memberikan kesan bahwa pembobotan diberikan di atas dasar-dasar yang kurang begitu jelas, atau kurang dapat disepakati secara umum oleh akademisi-akademisi dunia. Walaupun secara umum Moscow State Engineering Physics Institute tidak termasuk top 200, tapi metodologi ini membuat penelitian yang focus dan spesifik memperoleh bobot yang lebih tinggi, walaupun jumlah risetnya secara keseluruhan tidak begitu banyak.

Kejanggalan dalam metodologi juga dialami oleh sempalannya, QS Ranking. Secara terbuka QS Ranking menawarkan universitas-universitas untuk menonjolkan kekuatan mereka dengan membayar sejumlah uang sehingga mereka bisa memperoleh bintang, dari mulai bintang satu sampai dengan bintang lima. Sebagai contoh, the University of Limerick di Irlandia sama sekali tidak muncul pada top 500 dalam perankingan Shanghai Jiao Tong, tidak pula muncul dalam daftar top 400 QS Ranking. Tapi pada tahun 2013, universitas ini membayar audit fee sebesar 132.236.250 juta rupiah dan biaya tahunan sebesar 91.961.250 juta rupiah. Pada tahun itu pula the University of Limerick

(5)

memperoleh bintang lima dari QS Ranking untuk kategori infrastruktur, pengajaran, dan internasionalisasi. Wow!

Terlepas dari akurasi metodologi yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga perankingan itu, pressure-nya bagi para pengelola pendidikan tinggi cukup dahsyat. Para rektor mudah baper kalau sudah bicara soal ranking universitas dunia, entah itu Times Higher, QS Ranking, bahkan Webometrics yang para praktisi IT tahu bahwa ada trik-trik IT yang disewa oleh pengelola perguruan tinggi untuk meningkatkan ranking webo-nya. Sementara itu aspek-aspek substantive yang berhubungan dengan nilai-nilai yang harus dimiliki oleh para dosen seperti dedikasi yang tinggi dan konsistensi dalam pekerjaannya, juga renumerasi atas hasil jerih payahnya cenderung terseok-seok.

Namun demikian, katakanlah metodologi Times Higher Education World University Ranking masih yang paling reputable selama ini. Adakah kriteria menurut lembaga perankingan ini mengenai apa saja yang harus dilakukan oleh sebuah universitas bila ingin masuk top 100 atau top 200 dunia? Berikut ini beberapa tips yang harus dipenuhi universitas jiga ingin masuk 100 universitas dunia yang dikutip dari laman Times Higher World University Ranking:

1. Setiap dosen dan guru besar harus berpenghasilan US$ 751.139 per tahun, atau sekitar: 9.764.807.000, sembilan milyar lebih, dgn kurs 13.000.

2. Sebanyak 20% dosen dan guru besar diambil dari pekerja asing.

3. Setiap dosen dan guru besar memperoleh dana riset sebesar US$ 229.109 per tahun, atau sekitar 2.978.417.000, hampir 3 milyar per tahun, lagi2 dgn kurs 13.000, faktanya harga dolar sekarang sudah lebih dari 13.000.

4. Mampu mempublikasikan 43% dari seluruh tulisan berbasis riset, dengan sedikitnya memiliki satu tulisan yg ditulis bersama dgn peneliti asing.

5. Rasio dosen dan mahasiswa 1 : 11.7

6. Sebanyak 19% dari mahasiswanya adalah mahasiswa asing.

Dengan enam catatan ini saja, kalau kita berani introspeksi dan jujur pada kondisi bangsa sendiri, bahkan trio UI, UGM dan ITB akan tergopoh-gopoh untuk meraihnya. (dikutip dari beberapa sumber).

(6)

Jejen Jaenudin, PhD

Head of Center for Audit and Quality Assurance

Quality Assurance Office/Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta

Phone: +62217401925, ext.1831 Email: [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian pada kelas XI IPA 5 jumlah responden ada 31 orang, KPopers jumlahnya ada 7 orang dan bukan KPopers ada 24 orang setelah mereka mendapatkan pelajaran bahasa

Solusi atas permasalahan pendidikan di desa adat Lampung Barat sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan dan mutu sumber daya manusia yang berdaya saing dapat

Kecemasan yang tidak ditangani akan mengakibatkan remaja mengalami ketakutan terus menerus, tidak bisa berkonsentrasi dan bahkan dapat timbul serangan panic sehingga remaja

Puji syukur penulis panjatkan kepada Alloh SAW yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga proposal skripsi dengan berjudul “Pengembangan Media Diorama Denah

Penelitian lain juga dilakukan oleh Nur dkk (2012) dengan variabel profitabilitas, ukuran perusahaan, kepemilikan saham publik, dewan komisaris, leverage, dan pengungkapan media

Pada pengujian sistem secara keseluruhan, saat mode otomatis lampu akan menyala sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dan banyaknya lampu yang menyala sesuai

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan

Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan tentang implementasi pembelajaran online dan optimalisasi pengelolaan pembelajaran berbasis online diperguruan tinggi Islam