• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dokumentasi Best Practises Pendidikan (Tentang Penerapan Prinsip-Prinsip Tata Pemerintahan yang Baik dalam Pengelolaan Pendidikan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dokumentasi Best Practises Pendidikan (Tentang Penerapan Prinsip-Prinsip Tata Pemerintahan yang Baik dalam Pengelolaan Pendidikan)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Dokumentasi Best Practises Pendidikan

(Tentang Penerapan Prinsip-Prinsip Tata

Pemerintahan yang Baik dalam

Pengelolaan Pendidikan)

Best Practice :

Membebaskan SPP,

Menarik Partisipasi Masyarakat

Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD)

Jl. Tebet Barat Dalam III A no 02

Jakarta 12810, Indonesia

Phone: +62-21-83794469

Fax: +62-21-83791270

E-mail:

[email protected]

Sumber: Dokumentasi Best Practises Pendidikan

(2)

Membebaskan SPP,

Menarik Partisipasi Masyarakat

A. Latar Belakang

Pada tanggal 7 April 2001, Bupati Jembrana I Gede Winasa mengeluarkan pernyataan di depan media massa yang mengejutkan tentang pengelolaan pendidikan di kabupatennya:

Di tengah membanjirnya keluhan orang tua murid tentang mahalnya biaya pendidikan, atau kecaman atas komersialisasi pendidikan yang selalu marak di media massa pada setiap awal tahun pelajaran, pernyataan itu pastilah mengejutkan, dan tentu saja menggembirakan banyak pihak, terutama orang tua murid.

Namun, pernyataan Bupati Jembrana di atas bukanlah kebijakan sesaat. Artinya kita tentu saja akan membayangkan beberapa tahap kerja yang harus dikerjakan untuk sampai pada keputusan itu. Apalagi, seperti juga akan kita lihat di bawah nanti, keputusan tersebut ternyata menghasilkan banyak kontroversi sebagaimana tampak dalam dua petikan berita di media massa di bawah ini :

Senin, 9 April 2001

Jembrana Gratiskan Biaya Pendidikan

Denpasar, Kompas

Mulai tahun ajaran baru Juni mendatang, biaya sekolah untuk pendidikan dasar dan menengah di Kabupaten Jembrana, Bali, digratiskan. Hal itu

ditegaskan Bupati Jembrana I Gede Winasa di sela-sela workshop dalam

rangka Program Penguatan Daerah yang diselenggarakan oleh Bali Corruption Watch, Sabtu (7/4), di Denpasar.

“Sebenarnya kebijakan untuk pendidikan itu bebas biaya, namun di Iapangan ternyata banyak 'tikus-tikus'-nya. Ada saja yang masih melakukan pungutan ini-itu dan berbagai iuran,” ujar Winasa.

(3)

Bali Post, 19 Juli 2002

Siswa Bebas Uang BP3 Bertentangan dengan MPBS

Menurut Drs. Gusti Lanang Jelantik, Ketua PD PGRI Bali, membebaskan siswa dari uang BP3 justru bertentangan dengan konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPBS). Konsep ini menekankan pemberian otonomi penuh kepada sekolah untuk mengembangkan pendidikan bersama unsur orang tua siswa dan masyarakat. Nah, jika sekarang biaya itu dibebaskan, sekolah akan sulit bergerak karena banyak dana operasional yang harus ditanggung sendiri oleh sekolah... "Yang jadi problem kan birokrasi untuk mendapatkan dana itu yang panjang sementara untuk mengajar di kelas tak ada kapur tulis"

Hal senada diungkapkan Koordinator Pengawas Kota Denpasar, IGB Artha Negara. Menurutnya jika semua siswa negeri dan swasta TK-SMU/SMK dibebaskan dari uang BP3, pemkab akan kewalahan memenuhi permintaan sekolah. Karena yang diurus bukan lagi sekadar gaji guru, juga perpustakaan, lab dan operasional.

Pengamat pendidikan Drs. Redha Gunawan juga tak sependapat uang BP3 di negeri dan swasta dihapuskan atau ditanggung Pemkab. Di sekolah hampir tiap hari ada rencana dadakan misalnya lomba dan kegiatan lainnya. Kegiatan itu jelas memerlukan dana spontan, tak bisa direncanakan sebelumnya atau masuk dalam RAPBS.

Bali Post, Senin Paing, 30 Juni 2003

Dilema Kebijakan Bebas SPP di Jembrana

KETUA Komite SLTPN 2 Mendoyo I Ketut Sukirta saat ditemui di gedung DPRD Jembrana belum lama ini mengatakan, pungutan yang dilakukan oleh sejumlah sekolah tidak semuanya menjadi kesalahan sekolah semata. Sebab, keputusan untuk melakukan pungutan kepada orangtua siswa, sudah menjadi kesepakatan antarorangtua siswa. Mengingat sekolah membutuhkan dana tersebut untuk kegiatan yang sangat mendesak. Apalagi, semua itu untuk kepentingan dan kemajuan siswa, yang merupakan anak-anak mereka semua.

Sukirta mengatakan, bentuk pungutan yang dilakukan di sekolah tersebut berdasarkan atas kebutuhan sekolah. Karena itu, berdasarkan kesepakatan bersama, pihak orangtua siswa merasa perlu membantu penyelenggaraan pendidikan di masing-masing sekolah. Meski selama ini di Jembrana ada kebijakan bebas SPP dari pemkab, katanya, pihak sekolah terkadang kekurangan dana operasional. Biaya yang disalurkan ke sekolah-sekolah sering terlambat. Bahkan, dikatakan, ada yang sampai tiga bulan dananya belum turun.

(4)

Ternyata tidak semua pihak setuju dengan keputusan membebaskan masyarakat dari biaya SPP dan sumbangan BP3, dan ketidaksetujuan itu terutama datang dari pihak sekolah, para praktisi pendidikan, guru, kegala sekolah, pengawas sekolah dan pengamat pendidikan. Ketidaksetujuan tersebut terutama berkaitan dengan hal-hat praktis, tidak substansial. Artinya, mereka tidak menolak kebijakan tersebut, tapi meragukan pemenuhan konsekuensi dari kebijakan itu, yaitu:

a. Kalaupun SPP clan BP3 dibebaskan, apakah pemkab mampu menyediakan

anggaran untuk menanggung seluruh biaya kegiatan sekolah lain di luar gaji guru?

b. Kalaupun anggaran itu tersedia, apakah kelancaran permintaan dana dan

turunnya dana dapat sesuai dengan dinamika di sekolah dari hari ke hari? Di sini termasuk terhapusnya salah satu sumber pendapatan guru. Karena sebagian besar uang BP3 selama ini memang dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan guru, terutama untuk pembayaran kelebihan jam mengajar.

c. Terakhir, apakah pembebasan SPP dan BP3 ini berarti mengurangi partisipasi

masyarakat dalam pendidikan, yang berarti juga bertentangan dengan konsep Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPBS)?

Pada kasus best practice ini, kita akan melihat bahwa pembebasan iuran wajib

pendidikan ternyata mengakibatkan konsekwensi yang lebih besar pada manajemen pendidikan di Kabupaten Jembrana secara keseluruhan. Keputusan itu menuntut perbaikan menyeluruh setiap sektor pendidikan, mulai dari subsidi terhadap sekolah beserta mekanisme pencairan dananya sampai soal kesejahteraan guru.

Paparan di bawah ini secara kronologis akan memaparkan proses pembebasan iuran wajib pendidikan (SPP dan BP3) di Kabupaten Jembrana. Pada proses ini kita akan melihat bagaimana berbagai masalah yang muncul dengan adanya kebijakan tersebut secara konkrit berusaha diselesaikan. Karena pendokumentasian

salah satu best practice di bidang pendidikan ini dilakukan pada akhir tahun 2003,

maka di sini akan dilihat pula bagaimana keputusan tersebut berjalan selama sekitar 3 tahun ini, dan dampak signifikan apa saja yang dihasilkan selama itu.

B. Strategi Kegiatan/Proses Perubahan

Perubahan dalam pengelolaan pendidikan di Kabupaten Jembrana, seperti juga di daerah lain, pertama-tama dimungkinkan oleh desentralisasi pendidikan. Dalam

(5)

desentralisasi ini pemerintah daerah diberi keleluasaan mengurus pendidikan di daerahnya sampai pengelolaan keuangan dan gaji guru.

Tahun 2001 Kabupaten Jembaran memiliki 205 SD dengan kondisi gedung sekolah 33% rusak berat dan 31% rusak ringan, serta sarana penunjang kegiatan belajar mengajar lain yang tidak memadai. Jumlah guru pun juga tidak mencukupi, sedangkan jumlah siswa menurun dari tahun ke tahun.

Menghadapi kondisi di atas, alih-alih memperbaiki kondisi gedung sekolah dan menambah jumlah guru, pemerintah kabupaten Jembrana melakukan terobosan dengan melakukan rasionalisasi jumlah sekolah. Rasionalisasi dilakukan melalui

regrouping (pengelompokan) sekolah dengan 3 kriteria:

Regrouping Normal

Diterapkan pada sekolah dengan jumlah siswa kurang dari 75 orang, jarak maksimal antar sekolah yang akan diregrouping 1,5 km, dan lama waktu yang ditempuh dengan jalan kaki maksimal 20 menit.

Regrouping Kecil

Diterapkan hanya pada siswa kelas 4,5 dan 6 yang berkumpul pada satu sekolah induk. Sedangkan siswa kelas 1,2 dan 3 tetap di sekolah asal dengan tanggung jawab kepala sekolah induk. Model ini diterapkan terutama pada daerah-daerah yang terpencil dengan jangkauan ke sekolah cukup jauh.

Regrouping Besar

Diterapkan pada sekolah-sekolah yang letaknya berdekatan atau dalam satu area, sehingga kelas-kelas yang ada diparalelkan, dengan jumlah siswa perkelas maksimal 40 orang.

Pada kasus jarak antar sekolah yang 1,5 km, sedangkan jumlah siswanya kurang dari 75 orang, maka dibentuk SD kecil dengan jumlah guru 5 orang, yaitu Kepala Sekolah, 3 orang guru kelas, dan I orang guru mata pelajaran.

Efisiensi, Penghematan Anggaran dan Peningkatan Mutu Pendidikan

Keraguan pertama dengan kebijakan tersebut adalah ketersediaan anggaran sebagai pengganti dibebaskannya SPP dan BP3. Jawaban dari pengadaan anggaran ini adalah regrouping. Karena hasil dari regrouping adalah etisiensi:

Pertama adalah efisiensi jumlah sekolah. Rasionalisasi yang berdampak pada berkurangnya jumlah sekolah ini tidak berarti berkurangnya perhatian terhadap

(6)

pendidikan. Tapi justru sebaliknya. Dengan mengelompokkan dan menggabungkan sekolah-sekolah yang tidak berfungsi maksimal, maka sekolah yang dipertahankan menjadi lebih efisien. Dan pengurangan jumlah sekolah ini tidak berarti pengurangan kesempatan belajar calon siswa. Karena regrouping sudah disesuaikan dengan jumlah anak usia sekolah.

Dampak lain dari regrouping ini adalah meningkatnya gairah belajar mengajar. Karena penggabungan ini telah meningkatkan kompetisi antar siswa, dan dengan demikian motivasi dan semangat guru dalam mengajar juga bertambah.

Kedua adalah efisiensi berkaitan dengan jumlah guru. Kalau sebelumnya dengan 205 SD (2001) Jembrana kekurangan guru, maka dengan 198 SD (2002) dan 182 (2003) Jembrana menjadi kelebihan guru. Jumlah guru yang berlebih tersebut memungkinkan pemerintah memiliki keleluasaan untuk menerapkan seleksi ketat terhadap guru yang akan mengajar. Di sini pemerintah tidak hanya berhasil mengefisiensikan anggaran, karena pemerintah dapat memenuhi kekurangan jumlah guru tanpa harus mengangkat guru baru. Dengan rasionalisasi jumlah SD ini, pemerintah mendapatkan guru-guru terbaik yang akan mengajar. Sedangkan yang tidak memenuhi syarat ditarik ke dinas pendidikan kabupaten.

Dampak dari efisensi tersebut tentu saja adalah penghematan anggaran. Kalau sebuah SD membutuhkan 150 juta rupiah setiap tahunnya dan ada 22 SD yang regrouping, maka pemerintah kabupaten Jembrana menghemat anggaran sebesar 3,3 milyar rupiah pertahunnya. Dana inilah yang kemudian dipakai untuk peningkatan kualitas pendidikan, tidak hanya untuk tingkat SD atau juga untuk SLTP dan SLTA. Berdasarkan anggaran ini pulalah pemerintah Kabupaten Jembrana sejak tahun anggaran 2001 berani membebaskan iuran wajib (SPP dan BP3) bagi seluruh TK Negeri, SD Negeri, SLTP Negeri, SMU dan SMK Negeri.

Penghematan sebesar 3,3 milyar rupiah hasil dari regrouping ini masih bersisa. Karena penggganti uang SPP dan BP3 yang selama ini dibebankan ke orang tua siswa, yang sekarang dibebankan ke APBD, besarnya 2,8 milyar rupiah. Dana sebesar itu sudah mencakup semua biaya operasial sekolah, termasuk ATK, PLN, PAM, telpon, Satpam dll.

Sampai di sini kita dapat melihat bahwa pemkab Jembrana ternyata mampu menyediakan dana pengganti dari pembebasan SPP dan BP3 tersebut. Bahkan dari kelebihan dari selisih di atas, dananya dipakai untuk peningkatan mutu pendidikan lewat pengadaan buku. Pengadaan buku ini ditempuh secara internal. Artinya

(7)

buku-buku tersebut ditulis sendiri oleh guru-guru yang bersangkutan, kemudian dicetak dan didistribusikan ke seluruh sekolah yang ada di kabupaten Jembrana. Pengadaan buku yang ditulis oleh guru setempat, paling tidak memiliki dua keuntungan, pertama dalam rangka pemberdayaan guru dalam menulis bahan ajar, dan yang kedua adalah masalah kelangkaan buku di sekolah bisa teratasi.

Kelancaran Biaya Operasional Sekolah Sehari-hari dan Kesejahteraan Guru

Keraguan kedua berkaitan dengan biaya pengelolaan sekolah sehari-hari termasuk dana kesejahteraan guru.

Berkaitan dengan hilangnya salah satu sumber pendapatan guru dengan dihapuskannya BP3, maka bupati Jembrana mengeluarkan SK No. 249/2003 tentang insentif guru TK- SLTA. Berbeda dengan sebelumnya, insentif ini tidak diberikan pada kelebihan jam mengajar, tapi ditambahkan pada jam mengajar secara keseluruhan. Di bawah ini adalah tabel pemberian insentif 2001-2003 pada seluruh guru negeri di kabupaten Jembrana:

Tingkat 2001 2002 2003 2004

(direncanakan)

TK-SD 1.000/jam 1.250/jam 2.000/jam 5.000/jam

SLTP 1.250/jam 1.500/jam 2.000/jam 5.000/jam

SLTA 1.500/jam 2.000/jam 2.000/jam 5.000/jam

Kepala Sekolah

50.000/bulan 50.000/bulan

Kedua soal biaya operasional sekolah yang diragukan kecepatan dan ketepatan waktunya mengingat jalur birokrasi yang lambat, panjang dan berbelit. Sedangkan kebutuhan sehari-hari sekolah tidak dapat ditunda. Berhadapan dengan kendala ini, tidak ada pilihan lain selain mengefisiensikan birokrasi. Memang usaha ini sarna sekali tidak mudah dilakukan. Namun ilustrasi laporan media massa di bawah ini dapat dijadikan bukti keseriusan tersebut:

(8)

Seperti diberitakan, program bebas biaya pendidikan yang dipancangkan pemkab Jembrana ternyata menimbulkan masalah bagi sekolah. Sejak 2,5 bulan tahun ini, sekolah negeri di Jembrana belum menerima dana rutin dari Diknas setempat.

Guna mencegah kemacetan operasional pendidikan sekolah di Jembrana kini tumbuh tradisi berhutang di kantin, koperasi atau kios sekolah

Nusa Tenggara, 22 Maret 2002

Lentera Terima 'Catatan Merah' Bupati

Negara, Nusa,

….Sesuai deadline bupati, Lentera berjanji bekerja keras untuk bisa mencairkan dana rutin sekolah tersebut minimal Jumat minggu ini. Meski demikian, ia belum berani memberikan kepastian semua sekolah menerima dana tersebut dalam minggu ini. Sebab, kondisinya sangat bergantung data dan proses yang ada. "Kami mohon maaf dan kami harapkan para guru memaklumi karena tugas-tugas birokrasi sangat berbeda dengan pelaksanaan proses belajar mengajar"...

Nusa Tenggara, 21 Maret 2002

Dana Rutin Tersendat, Bupati Ultimatum Diknas

Negara, Nusa,

Tersendatnya pencairan dana rutin sekolah tahun anggaran 2002 membuat malu Bupati Jembrana I Gede Winasa. Mengetahui dana tersebut tersendat di Dinas Pendidikan Nasional (Diknas), Senin (18/3) pagi, Winasa langsung memanggil dan memberi ultimatum 'rapor merah' beberapa pejabat diknas... Anehnya setelah dipertemukan para pejabat tersebut 'ngonek' (saling menyalahkan). Kadis Diknas Drs Lentera yang sedianya dipanggil tak hadir karena tugas keluar.

Di luar konteks pencairan dana rutin tersebut. kebijakan ini sudah matang. Indikasinya, dana untuk menopang kebijakan itu Rp 52 miliar sudah ada dan siap digunakan. Dari jumlah ini, Rp. 2,8 miliar untuk dana rutin antara lain pengadaan ATK, bantuan OSIS, ekstrakurikuler, insentif guru dan penjaga sekolah (satpam).

(9)

Membebaskan SPP dan BP 3, menarik Partisipasi Masyarakat

Apakah pembebasan SPP dan BP3 ini berarti mengurangi partisipasi masyarakat dalam pendidikan? Pertanyaan lebih mendasar lagi, apakah kebijakan ini bertentangan dengan konsep Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPBS)?

Penghapusan uang BP3 tidak berarti mengurangi partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan, tetapi justru merupakan titik awal dari pengembangan partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan yang sebenarnya. Hal ini tampak dari model bantuan yang diberikan oleh Bupati kepada sekolah.

Bupati didampingi Kepala Dinas Pendidikan turun langsung ke sekolah-sekolah, dengan membawa laporan Tim penaksir proposal biaya rehab sekolah, pengadaan mobuler, atau pembangunan ruang baru, yang diajukan sekolah-sekolah tersebut. Dalam dialog dengan Komite Sekolah, tokoh adat, tokoh masyarakat, kepala desa, dan masyarakat lainnya, Bupati merundingkan tentang bagaimana pembiayaan perbaikan tersebut dipenuhi.

Dalam proses ini terjadi tawar menawar tentang berapa besar biaya yang harus disediakan pemerintah, dan berapa yang harus disediakan sendiri oleh masyarakat. Misalkan disepakati masyarakat menanggung 50% dari biaya rehab tersebut, yaitu 25 juta rupiah. Angka ini kalau dihitung dengan dana yang didapat dari BP3 maka jumlahnya jauh lebih banyak. Sebab dengan BP3 hanya didapat 1,8 juta rupiah (150 siswa x 12 bulan x Rp. 1000). Artinya partisipasi masyarakat meningkat tajam dari 1,8 juta pertahun (Iewat BP3), menjadi 25 juta dalam 6 bulan.

Hal penting yang perlu diingat, partisipasi 25 juta tersebut memang besar secara nominal. Namun bila dihitung bentuk-bentuk partisipasi lain, maka pemenuhannya menjadi masuk akal, dalam arti terjangkau oleh masyarakat, asalkan semua terlibat. Misalnya partipasi dalam bentuk bahan baku, ataupun tenaga.

Misalnya saat merehabilitasi gedungnya, SDN 2 Melaya memperoleh sumbangan dalam bentuk tenaga dari para tukang yang mengerjakan perbaikan gedung tersebut. Para tukang yang salah satu anggota keluarganya sekolah atau pernah bersekolah di SDN 2 Melaya memberikan potongan ongkos kerja yang biasa mereka terima. Sehingga dari Rp 8.700.000 yang seharusnya dibayar, sekolah hanya perlu membayar Rp 6.120.000. Contoh lain SLTPN I Jembrana misalnya, mendapatkan bantuan dari masyarakat berupa I pasir truk? tanah urug 2 truk, I kipas angin, I TV

(10)

Kompas Selasa 19 November 2002

Digratiskan, SPP SD dan SL TP Negeri di DKI

Jakarta, kompas Sebanyak 700.000 siswa yang bersekolah di 2.334 sekolah dasar (SD) negeri se-Jakarta akan mengenyam pendidikan sekolah secara gratis pada tahun ajaran baru 2003 mendatang. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merencanakan akan memberikan dana subsidi untuk pendidikan dasar sebesar Rp 196 milyar dari Rp 10,48 trilyun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) DKI Jakarta tahun 2003. Selain SD negeri, sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) negeri juga akan bebas sumbangan pembinaan pendidikan (SPP).

“Usulan SPP gratis sudah di-sampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Insya Allah, wakil rakyat menyetujuinya," kata Kepala Sub-Dinas Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Dasar DKI Berbagai bentuk partisipasi di atas, tentu saja tidak datang secara tiba-tiba. Keterlibatan masyarakat tersebut datang sebagai respon balik dari usaha pemerintah membebaskan uang SPP dan BP3. Setelah membebaskan SPP dan BP3, pemkab Jembrana berhasil membuktikan komitmennya pada peningkatan pendidikan. Dan hasilnya, pemerintah mendapatkan lebih banyak lagi dari masyarakat. Masyarakat merasa terpacu untuk meningkatkan komitmen mereka pada pendidikan dengan terlibat pada pengelolaan sekolah yang ada di lingkungan mereka.

Satu hal yang berperan penting dalam proses ini adalah kultur Banjar di Jembrana dan Bali pada umumnya. Dengan tradisi adat Banjar ini, masyarakat dengan cepat menjadikan sekolah yang ada dalam lingkungan mereka sebagai bagian/milik mereka. Karena itu mereka merasa wajib bertanggung jawab. Yang dilakukan pemkab Jembrana dalam konteks ini adalah memicu rasa tanggung jawab tersebut dengan memberikan contoh.

C. Pembelajaran dan Perkembangan Terakhir

Sampai tahun akhir tahun 2003, Kabupaten Jembrana telah 3 tahun membebaskan SPP dan BP3 bagi semua siswa sekolah negeri di wilayahnya. Beberapa daerah pun berencana mengikuti jejak kebijakan ini. Pemkot Surabaya menjanjikan pembebasan SPP untuk semua siswa SMU Negeri. Bahkan Gubernur Imam Utomo menjanjikan bebas SPP untuk seluruh pelajar di Jawa Timur bila dia terpilih lagi

sebagai gubernur untuk periode 2003- 2008 (Media Indonesia, 22 Juli 2003).

Usulan lebih konkrit misalnya datang dari pemerintah DKl Jakarta seperti dikutip di bawah ini :

(11)

Dalam konteks pembelajaran dan kemungkinan penerapan kebijakan ini di daerah lain, maka apa yang terjadi selama rentang waktu pelaksanaan kebijakan bebas SPP dan BP3 di Jembrana menjadi penting. Selama 3 tahun pelaksanaan kebijakan ini, tentu saja banyak masalah terus bermunculan, dan tidak pula berarti bahwa benar-benar tidak ada pungutan di sekolah-sekolah. Kebijakan ini terus menerus dipertanyakan efisiensinya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Jembrana.

Keberatan yang datang berdasarkan fakta bahwa masih ada sekolah yang melakukan pungutan seperti yang terjadi di SLTPN 2 Melaya pada pertengahan Desember 2003. Bahkan keputusan ini disahkan pula oleh Komite Sekolah SLTPN 2 Melaya dan surat permohonan sumbangan ini juga ditembuskan pada Bupati Jembrana.

Untuk kasus-kasus semacam ini, pemkab Jembrana menghadapinya sebagai pelanggaran kebijakan bupati. Kepala Sekolah SLTPN 2 Melaya dan Ketua Komite Sekolahnya yang juga PNS, dianggap melanggar disiplin sebagai pegawai negeri. Namun kritik yang lebih serius berkaitan dengan mutu pendidikan secara umum di Kabupaten Jembrana setelah kebijakan tersebut diterapkan. Seperti dilansir media di bawah ini:

(12)

Dalam kutipan berita di atas sekali ditunjukkan, bahwa keberatan atas kebijakan tersebut tetap berkait dengan teknis birokrasi. Bahwa dana yang tersedia tidak bisa mengalir dengan cepat sesuai dengan dinamika pengelolaan sekolah sehari-hari. Lambannya birokrasi ini membuat banyak kegiatan yang terhambat dan berujung pada tuduhan menurunnya kualitas pendidikan.

Namun demikian, yang harus diperiksa pertama-tama adalah parameter pengukuran kualitas pendidikan. Kalau hasil kompetisi adu kepandaian siswa-siswa yang mewakili kabupaten-kabupaten yang dijadikan acuan, rasanya terlalu sulit diterima. Sebab kualitas pendidikan daerah tertentu tidak bisa dilihat dari hanya capaian-capaian terbaik dari satu dua orang siswanya, tapi kondisi pendidikan secara umum. Misalnya perbandingan jumlah sekolah dan jumlah anak usia sekolah, perbandingan jumlah sekolah, guru, dan siswa sampai fasilitas pendidikan. Kalau kompetisi yang mau dipakai sebagai acuan, barangkali jumlah siswa yang diterima di PTN favorit lebih mungkin dijadikan acuan.

Kalau SPP bebas menyebabkan guru kurang bersemangat mengajar, berarti motivasi gurunya yang harus ditambah, dengan meningkatkan kesejahteraan lewat

Bali Post, Sabtu Kliwon, 20 Desember 2003

Menurun, Kualitas Pendidikan di Jembrana Buntut Kebijakan Bebas SPP

---Negara (Bali Post) -

Kebijakan bebas biaya pendidikan atau SPP yang diterapkan oleh Pemkab Jembrana ternyata berdampak kurang baik bagi mutu pendidikan. Masalahnya, saat ini ada kecenderungan mutu pendidikan di daerah ini menurun. Hal ini dapat dilihat dari perolehan juara dalam mengikuti beberapa lomba antarkabupaten.

Meski diakui kebijakan bebas SPP sesungguhnya merupakan ide yang sangat bagus, sayangnya kebutuhan sekolah akan biaya operasional dirasakan masih sangat kurang. Betapa tidak, niat untuk meningkatkan kualitas anak didik, terbentur dengan tidak tersedianya anggaran yang memadai.

la mencontohkan, bila sekolah ingin melakukan peningkatan mutu siswa melalui kegiatan ekstra, memerlukan biaya tambahan. Biaya ini baru bisa keluar setelah mengajukan proposal kepada pemkab. Belum lagi, prosesnya sangat lama atau kemungkinan ditolak. "Nah kalau seperti ini, bagaimana kami bisa meningkatkan kualitas siswa," tanyanya. Kelemahan yang ditimbulkan oleh kebijakan itu harus diatasi pemkab. Kalau berlangsung lama, dikhawatirkan sejumlah calon siswa akan banyak yang memilih sekolah di luar Jembrana. "Kini sudah banyak anak- anak tamanan SLTP yang memilih sekolah di Denpasar. Terutama yang memikirkan masalah kualitas," ujarnya.

(13)

baik dan terbukti meringankan masyarakat yang tidak mampu dan berhasil membangkitkan partisipasi masyarakat.

D. Kontak

Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Jembrana Jl. Surapati No. 1 Negara

Jembrana, Bali

(14)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menentukan analisis kebutuhan dan desain dari Computer Based Instruction-Flipped Classroom dan hasil penelitian yang

Daiber, Litherland, & Thode (1991) described the following techniques to assess the technological literacy level of students in a specific technology education course or

[r]

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah Menganalisis pengaruh sikap individu dan perilaku teman sebaya terhadap praktek safety riding pada remaja (study kasus siswa

[r]

Berbekal dari permasalahan yang terjadi di atas maka penulis menggunakan media gambar berseri yang akan menarik anak untuk mengoptimalkan kemampuannya sesuai

Yaitu factor yang berhubungan dengan keadaan jasmani atau yang sering disebut dengan faktor fisiologis. Keadaan fisik, baik yang berasal dari keturunan yang

Bencana gempa bumi dan gelombang tsunami yang melanda Provinsi Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 mengakibatkan Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Aceh juga