• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Umum Daerah Penelitian

4.1.1 Kondisi geografis, luas dan batas wilayah

Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu kabupaten di Provinsi

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Secara geografis Kabupaten Aceh Besar terletak

pada 5,2º-5,8º LU dan 95,0º-95,8º BT dengan luas wilayahnya 2.974,12 km

2

.

Ibukota Kabupaten Aceh Besar adalah Kota Jantho. Kabupaten ini terdiri dari 23

kecamatan, 68 pemukiman dan 604 desa (Dinas Pariwisata dan kebudayaan 2010).

Adapun batas wilayah Kabupaten Aceh besar adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara

: Selat Malaka dan Kota Banda Aceh,

Sebelah Timur

: Kabupaten Pidie,

Sebelah Selatan

: Kabupaten Aceh Jaya,

Sebelah Barat

: Samudera Hindia.

Sebagian besar wilayah Kabupaten Aceh Besar terdiri atas perbukitan dan

areal sawah yang terbentang di sepanjang jalur darat. Wilayah Aceh Besar memiliki

jalur darat yang baik mengingat jalur ini merupakan jalur penghubung antara

kabupaten lain dan Kota Banda Aceh serta jalur industri bagi PT Semen Andalas

Indonesia (SAI).

Pantai Lampuuk merupakan salah satu pantai yang terdapat di Wilayah

Aceh Besar. Pantai Lampuuk terletak di Kecamatan Lhoknga. Jumlah desa di

kecamatan Lhoknga sebelum dan pasca tsunami tetap sama yaitu 25 desa. Di

sebelah Utara Pantai Lampuuk berbatasan langsung dengan Bukit Guhmane dan di

sebelah Selatan Pantai Lampuuk berbatasan langsung dengan Pantai Lhonkga.

Perbukitan yang terletak disebelah kanan Pantai Lampuuk umumnya digunakan

sebagai sarang burung walet. Pantai Lampuuk dan Pantai Lhoknga terletak pada

satu garis pantai yang dipisahkan oleh Sungai Aneuk Anoe. Pantai Lampuuk

memiliki luas lahan mencapai 20 Ha. Pantai ini relatif hampir datar dengan panjang

garis pantai 2 kilometer dan lebar pantai yang dapat digunakan untuk kegiatan

wisata adalah 100 sampai 200 meter.

Pantai Lampuuk menonjolkan panorama yang indah sebagai salah satu daya

tariknya. Wisatawan yang berkunjung ke pantai ini dapat melakukan berbagai

kegiatan wisata seperti berenang, memancing, duduk santai, bermain selancar (jika

(2)

ombak besar) serta sekedar menikmati kuliner di sekitar pantai. Pantai ini termasuk

pantai berpasir dengan warna pasir putih kecoklatan dan memiliki air yang jernih

serta angin yang baik.

Pantai Lampuuk memiliki bentang alam yang didominasi oleh pohon

cemara. Di sekitar tanaman darat terdapat gumuk atau bukit pasir (sand dune)

yang umumnya terdapat di pantai berpasir. Vegetasi tanaman darat cenderung

sangat sedikit ditemukan di sekitar pantai. Tumbuhan darat yang tumbuh di sekitar

pantai adalah Katang-Katang (Ipomea pescaprea). Sebelum terjadi bencana

tsunami terdapat tempat pendaratan ikan di sekitar pantai. Namun setelah bencana

tsunami melanda, tempat pendaratan ikan sudah tidak ada dan sekarang hanya

terdapat persinggahan sementara bagi nelayan. Ikan-ikan yang umumnya

tertangkap di sekitar teluk Pantai Lampuuk adalah ikan Baronang (Siganus

sp.),

ikan Kakap (Lates calcarifer) dan ikan Kerapu (Epinephelus

sp.)

4.1.2 Keadaan fisik dan kimia

a. Material penyusun pantai

Pantai Lampuuk termasuk pantai berpasir yang datar. Pantai berpasir

sebagian besar terdiri atas batu kuarsa dan

feldspar, bagian yang paling banyak

dan paling keras sisa-sisa pelapukan batu di gunung. Pantai yang berpasir dibatasi

hanya di daerah dimana gerakan air yang kuat mengangkut partikel yang halus dan

ringan. Total bahan organik dan organisme hidup di pantai yang berpasir jauh lebih

sedikit dibandingkan dengan jenis pantai lainnya. Pantai berpasir seperti Pantai

Lampuuk berpotensi memiliki peruntukkan yang bervariasi seperti selancar, renang,

snorkling

dan

diving

.

b. Kualitas perairan

Parameter kualitas perairan merupakan salah satu parameter yang diamati

dan diukur dalam penelitian ini. Parameter kualitas perairan sangat penting untuk

diamati dan diukur karena parameter ini dapat mempengaruhi kondisi daerah

disekitar kawasan wisata. Parameter kualitas perairan yang telah diukur dan

dianalisis di Pantai Lampuuk dapat disajikan pada Tabel 6

(3)

Tabel 6. Kualitas lingkungan Pantai Lampuuk

Parameter Satuan Hasil Pengamatan Baku

Mutu* Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5 Stasiun 6

Suhu ºC 31,4 31,3 31,5 31,7 32,3 32,2 Alami Kecerahan Meter 3,75 3,5 5,5 6,5 3,25 2,75 >6 Bau - Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau

Warna - Biru Biru tua Biru tua Biru Biru Biru

-DO mg/L 2,54 2,74 2,70 2,78 2,75 2,30 >5 pH - 9 9 9 9 9 9 7-8,5 Salinitas ‰ 35 35 35 35 35 35 Alami BOD5 mg/L 2,41 2,08 2,25 2,51 2,21 2,51 10 Arus m/s 0,18 0,12 0,16 0,03 0,07 0,04 -Kedalaman Meter 5 6 7 8 5 4

-Sumber : Data primer diolah 2010 (*Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 tentang baku

mutu air laut untuk wisata bahari

Suhu air merupakan faktor yang banyak mendapat perhatian dalam

pengkajian-pengkajian kelautan. Data suhu air dapat dimanfaatkan bukan saja

untuk mempelajari gejala-gejala fisika di dalam laut, tetapi juga dalam kaitannya

dengan kehidupan hewan atau tumbuhan. Suhu air permukaan di nusantara

umumnya berkisar antara 28-31

o

C. Suhu air di dekat pantai biasanya sedikit lebih

tinggi daripada yang di lepas pantai. Limbah industri atau pembangkit listrik yang

membuang bekas air pendinginnya ke laut dapat menyebabkan air menjadi cukup

panas. Secara alami suhu air permukaaan memang merupakan lapisan hangat

karena mendapat radiasi matahari pada siang hari. Suhu air di permukaan

dipengaruhi oleh kondisi meteorologi. Faktor-faktor meteorologi yang berperan

adalah angin dan penguapan, kelembapan udara, kecepatan angin dan intensitas

radiasi matahari. Oleh sebab itu suhu di permukaan biasanya mengikuti pola

musiman (Nontji 2005).

Hasil analisis kualitas perairan menunjukkan suhu di Pantai Lampuuk masih

dalam batas yang layak untuk kegiatan wisata. Seperti yang telah disebutkan dalam

Nontji (2005) bahwa suhu air permukaan di nusantara umumnya berkisar antara

28-31ºC. Dalam Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 disebutkan bahwa diperbolehkan

(4)

terjadi perubahan suhu sampai dengan <2 ºC dari suhu alami. Adanya perubahan

suhu dari suatu perairan dapat mempengaruhi kegiatan biologis maupun ekologis

dari kehidupan didalam air. Adapun perubahan suhu ini dapat dipengaruhi oleh

radiasi matahari pada siang hari serta kondisi meteorogi seperti angin dan

penguapan, kelembapan udara dan kecepatan angin (Nontji 2005).

Kecerahan adalah ukuran transparansi dari suatu perairan dan menunjukkan

kemampuan dari cahaya matahari untuk menembus lapisan air. Dari setiap stasiun

pengamatan terlihat bahwa sebagian besar nilai kecerahan di bawah kisaran baku

mutu. Namun jika dilihat secara keseluruhan nilai kecerahan memilki rata-rata

sebesar 4,21 meter yang artinya berada di luar kisaran baku mutu. Hal ini terkait

dengan perbedaan kedalaman di setiap stasiun. Mengingat Pantai Lampuuk

merupakan jenis pantai berpasir maka perbedaan nilai kecerahan dapat disebabkan

oleh adanya partikel yang terbawa oleh arus dimana pola arus ini dapat

mengangkat pasir yang halus serta adanya gelombang dan angin yang melepaskan

energi di pantai dan mengangkut pasir yang halus (Dahuri

et al

2004). Nilai

kecerahan yang diperoleh menunjukkan bahwa Pantai Lampuuk dapat digunakan

untuk aktivitas berenang.

Perairan Pantai Lampuuk tidak berbau. Hal ini menunjukkan perairan Pantai

Lampuuk relatif bersih dan tidak adanya pencemar yang menimbulkan bau.

Perairan Pantai Lampuuk termasuk pantai yang masih alami karena tidak

menimbulkan bau sehingga harus dijaga kealamiannya agar pada saat wisatawan

melakukan kegiatan wisata tetap merasa nyaman dan tidak terganggu.

Perairan Pantai Lampuuk memiliki warna yang bervariasi. Warna di Pantai

Lampuuk diamati secara visual dengan menggunakan indera penglihatan. Adanya

variasi warna di perairan diduga dapat disebabkan oleh keberadaan ion-ion metal

atau logam, humus, plankton, bahan tersuspensi dan bahan terlarut.

Oksigen terlarut (DO) merupakan jumlah mg/L gas oksigen yang terlarut

dalam air. Oksigen terlarut dalam air dapat berasal dari proses fotosintesis oleh

fitoplankton dan difusi dari udara. Hasil pengukuran oksigen terlarut di Pantai

Lampuuk memiliki nilai dibawah kisaran baku mutu. Hal ini dapat disebabkan

kurangnya pasokan oksigen terlarut baik yang berasal dari proses fotosintesis oleh

fitoplankton maupun difusi dari udara. Selain itu pada saat dilakukan pengamatan

suhu perairan memiliki nilai di atas suhu permukaaan air pada umumnya. Ketika

terjadi peningkatan suhu maka tingkat kelarutan oksigen di dalam air akan semakin

(5)

rendah. Jika dilihat dari sisi nilai oksigen terlarut di Pantai Lampuuk menunjukkan

bahwa tidak sesuai untuk kegiatan wisata dan kehidupan biota perairan.

Derajat keasaman (pH) merupakan sifat kimia yang berperan penting untuk

mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan orgnik di dalam

perairan. pH penting untuk diukur karena mempengaruhi kehidupan biota di

perairan. pH di sekitar lokasi pengamatan adalah 9. Nilai ini berada di atas kisaran

baku mutu. Namun perbedaan nilai pH tidak terlalu signifikan karena Dalam

Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 disebutkan bahwa diperbolehkan terjadi perubahan

pH sampai dengan <0,2 satuan pH. Parameter pH merupakan parameter yang

harus diukur dalam menentukan lokasi wisata karena didasarkan pada aktivitas

berenang yang umumnya dilakukan di lokasi wisata. Nilai pH yang tidak sesuai

dengan baku mutu dapat menyebabkan iritasi pada mata.

Air laut memiliki ciri yang khas yaitu rasanya yang asin. Hal ini disebabkan

karena di dalam air laut terlarut bermacam-macam garam, paling utama adalah

Natrium Klorida (NaCl) yang umum disebut dengan garam dapur. Salinitas adalah

jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air,

biasanya dinyatakan dengan satuan ‰ (per mil, gram per liter). Di perairan

samudera, salinitas biasanya berkisar antara 34-35 ‰. Di perairan pantai karena

terjadi pengenceran, misalnya karena pengaruh aliran sungai, salinitas bisa turun

rendah. Sebaliknya di daerah dengan penguapan yang sangat kuat, salinitas bisa

meningkat tinggi. Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti

pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai (Nontji 2005). Hasil

analisis kualitas perairan menunjukkan salinitas di Pantai Lampuuk sesuai dengan

kisaran baku mutu perairan laut yaitu 35 ‰. Perubahan yang diperbolehkan dalam

Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 hanya <5% salinitas musiman. Hasil analisis

salinitas yang sesuai dengan baku mutu menunjukkan bahwa Pantai Lampuuk

sesuai untuk kegiatan wisata.

Nilai BOD yang diukur di Pantai Lampuuk adalah nilai BOD

5

. Hasil

pengukuran BOD

5

di Pantai Lampuuk memiliki rata-rata sebesar 2,33 mg/L. Nilai

tersebut berada di bawah kisaran baku mutu dimana nilai baku mutu adalah 10

mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa proses oksidasi bahan organik oleh

mikroorganisme yang terjadi di perairan relatif kecil dan jumlah bahan organik

diperairan rendah. Rendahnya jumlah bahan organik akan mencegah terjadinya

ledakan populasi plankton (blooming algae) dan sebaliknya.

(6)

Secara umum kualitas perairan di Pantai Lampuuk masih sesuai untuk

kegiatan wisata. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengukuran parameter kualitas

perairan diantaranya suhu, kecerahan, bau, warna, pH, DO, salinitas dan BOD

5

.

Meskipun ada beberapa parameter kualitas perairan yang tidak sesuai dengan baku

mutu namun secara keseluruhan kualitas perairan di Pantai Lampuuk sesuai untuk

kegiatan wisata.

4.1.3 Kondisi geologi, oseanografi dan meteorologi

Wilayah pesisir NAD sebelum tsunami dan pasca tsunami sangat berbeda.

Hal ini ditunjukkan dengan wilayah pesisir yang semakin bergeser ke arah darat.

(Gambar 1 dan Gambar 2). Hal ini dapat disebabkan karena adanya gelombang

yang besar pada saat terjadi bencana tsunami sehingga menyebabkan adanya

pergeseran garis pantai. Dengan terjadinya peristiwa tsunami 26 Desember 2004,

kondisi pesisir dan laut di Aceh mengalami kerusakan yang parah. Kementerian

Negara Lingkungan Hidup menyatakan dampak tsunami terhadap wilayah pesisir

dan laut Provinsi NAD meliputi tercemarnya laut, air darat dan air tanah, terjadinya

perubahan garis pantai, hilangnya proteksi alam (mangrove) yang berfungsi

sebagai pelindung pemukiman dari gelombang dan angin serta sebagai daerah

pemijahan, daerah asuhan, daerah mencari makan bermacam biota laut termasuk

ikan, tercemarnya dan rusaknya terumbu karang yang berfungsi sebagai tempat

berlindung dan pemijahan ikan, berkurangnya atau hilangnya sumberdaya ikan dan

spesies pesisir, rusaknya ekosistem lahan basah dan ekosistem buatan (Wetlands

2007).

Kabupaten Aceh besar seperti daerah lain di wilayah NAD dipengaruhi oleh

iklim tropika basah yang memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim

kemarau. Musim kemarau diperkirakan masuk pada bulan Mei dengan suhu udara

berkisar 34 – 36

o

C. Sifat hujan normal artinya bahwa akumulasi curah hujan yang

terjadi di suatu daerah prakiraan musim hujan berada di sekitar nilai rata-ratanya

selama 30 tahun. Sementara itu kondisi di atas nomal diartikan bahwa akumulasi

curah hujan lebih tinggi dari batas atas nilai normalnya. Sementara itu sifat hujan

di bawah normal berarti akumulasi curah hujan selama musim hujan lebih rendah

dari batas bawah nilai normalnya (BMG 2000). Curah hujan rata-rata untuk wilayah

(7)

Aceh Besar yaitu 147,7 mm dengan suhu rata-rata berkisar 27,3

o

C serta kecepatan

angin 4,8 km/jam (Tabel 7).

Kondisi geologi wilayah Lhoknga (Aceh Besar) umumnya memiliki wilayah

potensi gerakan tanah menengah-tinggi. Potensi gerakan menengah merupakan

daerah yang dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di bawah normal,

terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan

atau jika lereng mengalami gangguan. Potensi gerakan tinggi merupakan daerah

yang dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan

gerakan tanah lama dapat aktif kembali (vsi.esdm.go.id 2010). Secara ekologi,

pantai-pantai di Kabupaten Aceh Besar diklasifikasikan sebagai dataran rendah

Pantai Bukit Barisan. Kawasan pantai yang umumnya berpasir langsung berbatasan

dengan perbukitan yang panjang. Area dataran pantai relatif sempit tapi cukup

panjang yang terdiri dari pantai berpasir, muara sungai berlumpur dan hutan

mangrove. Dengan profil topografi seperti ini, pada saat terjadi tsunami

mengakibatkan timbulnya arus balik ke laut yang sangat merusak wilayah tersebut.

Tsunami 2004 telah mengakibatkan perubahan bentang alam yang cukup serius

seperti hilangnya daratan dan terbentuknya rawa-rawa pesisir serta banyak desa

yang hilang dan mengalami kerusakan fasilitas mata pencaharian (Wetlands 2007).

Tabel 7. Kondisi meteorologi, klimatologi dan geofisika Aceh Besar tahun 2009

Bulan Curah hujan Suhu rata-rata Arah angin Kecepatan angin

Januari SE 5,2 Februari 113,0 26,6 SE 4,5 Maret 114,6 26,7 SE 4,5 April 191,0 27,8 SE 4,5 Mei 178,1 27,8 SE 4,5 Juni 21,9 28,6 W 5,0 Juli 6,2 28,6 W 4,9 Agustus 118,3 27,4 W 5,0 September 126,3 27,6 W 4,8 Oktober 43,5 27,2 W 4,9 November 328,1 26,5 SE 4,8 Desember 154,0 26,7 SE 5,2 Jumlah 1772,0 327,1 7x 57,8 Rata-rata 147,7 27,3 SE 4,8

(8)

4.1.4 Sarana prasaran kawasan wisata

Sarana prasarana merupakan faktor yang cukup penting mengingat

penyediaan dan pembangunan sarana prasarana berkaitan erat dengan

pembangunan kawasan wisata di Pantai Lampuuk. Beberapa sarana prasarana

yang terdapat di Pantai Lampuuk antara lain areal parkir, kamar mandi/WC,

mushola, kios ikan bakar, kios makanan dan minuman, pertokoan yang menjual

baju renang, lapangan sepak bola, lapangan golf, loket karcis dan tempat

penyewaan sarana hiburan. Secara umum kondisi dari sarana prasarana ini masih

cukup baik dan terawat. Namun ada beberapa sarana prasarana yang harus

diperbaiki seperti kamar mandi dan areal parkir yang harus diperluas mengingat

wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata ini relatif banyak yaitu mencapai

±3000 orang setiap bulannya.

Kondisi jalan menuju ke kawasan wisata Pantai Lampuuk cukup baik.

Sarana transportasi yang dapat digunakan untuk menuju ke kawasan ini dapat

menggunakan angkutan umum (labi-labi) atau kendaraan pribadi seperti mobil dan

sepeda motor. Terdapat tiga sarana yang tidak terdapat di kawasan wisata ini yaitu

sarana penerangan (listrik), sarana air bersih (PDAM) dan sarana telepon. Setelah

tsunami melanda Aceh, sarana penerangan (listrik) tidak masuk ke kawasan wisata

ini. Sehingga membuat pedagang kios makanan dan minuman sedikit kesulitan

dalam berdagang. Sebagai pengganti listrik para pedagang kios menggunakan

genset yang artinya akan mengeluarkan biaya yang cukup mahal. Sarana air bersih

(PDAM) juga tidak terdapat di kawasan wisata ini sehingga kamar mandi/WC yang

terdapat di kawasan wisata ini menggunakan air sumur atau air tanah.

Sarana pendidikan yang terdapat di kawasan pesisir Pantai Lampuuk antara

lain Taman Kanak-Kanak, Madrasah Ibthiyah Negeri (MIN) dan Sekolah Dasar (SD).

Umumnya keadaan bangunan dari sarana pendidikan ini cukup baik. Selain

terdapat berbagai sekolah, terdapat pula Sanggar Seni PUAN. Pada saat bencana

tsunami melanda wilayah ini hampir seluruh bangunan rata dengan tanah

kemudian sarana pendidikan ini dibangun kembali oleh LSM dari luar maupun

dalam negeri.

Di sekitar wilayah Pantai Lampuuk terdapat pula sarana kesehatan berupa

puskesmas dan posyandu. Sarana kesehatan ini diharapkan dapat memberikan

kemudahan kepada masyarakat dalam melakukan pengobatan. Di sekitar wilayah

Pantai Lampuuk juga terdapat Pusat Kesehatan Hewan. Sarana kesehatan yang

(9)

diperuntukkan untuk hewan ini sengaja dibangun mengingat masyarakat yang

tinggal disekitar Pantai Lampuuk memiliki ternak berupa kambing dan lembu.

Sehingga diharapkan sarana kesehatan ini dapat dimanfaatkan semaksimal

mungkin.

Selain sarana di atas wilayah sekitar Pantai Lampuuk juga memiliki sarana

umum seperti kantor desa, balai desa dan kantor mukmin serta sarana keagamaan

seperti mesjid, meunasah dan mushala. Perbedaan antara mesjid, meunasah dan

mushala adalah dari segi ukuran nya saja. Mesjid memiliki ukuran yang lebih besar

dibanding dengan meunasah dan mushala, sedangkan meunasah memiliki ukuran

lebih besar dibanding mushala. Perkuburan massal juga terdapat di sekitar wilayah

Pantai Lampuuk. Perkuburan ini umumnya dikunjungi oleh orang-orang yang ingin

memberi doa dan berziarah.

Sarana olahraga juga terdapat di kawasan ini yaitu lapangan golf, lapangan

voli dan lapangan bola. Ketiga lapangan ini sebenarnya memiliki kondisi yang tidak

begitu layak sebagai sarana olahraga karena kondisinya yang kurang baik dan tidak

terawat. Sehingga diharapkan kepada pihak kecamatan agar dapat memperbaiki

dan merawat sarana agar dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Sarana perdagangan seperti pasar terletak agak jauh dari wilayah Pantai

Lampuuk. Masyarakat harus menggunakan kendaraan untuk menuju ke pasar

tersebut. Pasar tersebut terletak di desa tetangga yaitu Gampong Meunasah Mesjid

Lamlhom. Pasar didirikan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat.

Di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Pantai Lampuuk hampir tidak

ditemukan adanya pertokoan. Umumnya pinggiran jalan hanya ditemukan semak

belukar dan pemukiman masyarakat.

Di sekitar kawasan wisata Pantai Lampuuk terdapat industri semen PT

Semen Andalas Indonesia (PT SAI). Ketika tsunami melanda wilayah Aceh Besar,

pabrik semen PT SAI mengalami kerusakan yang cukup parah mengingat letaknya

yang berada di pinggiran pesisir Aceh Besar dan sempat tidak beroperasi untuk

beberapa waktu namun kini sudah kembali beroperasi. Limbah yang dibuang pabrik

semen PT SAI ke Pantai Lhonga dan Pantai Lampuuk akan mempengaruhi kualitas

lingkungan dari kawasan pantai. Sehingga PT SAI bekerja sama dengan Dinas

BAPEDALDA melakukan pengujian satu kali dalam setahun terhadap Pantai

Lhoknga dan Pantai Lampuuk agar limbah yang dibuang tidak mempengaruhi

kualitas lingkungan kedua pantai tersebut.

(10)

Penanganan sampah oleh masyarakat sekitar pesisir Pantai Lampuuk

umumnya diolah dengan cara tradisional yaitu dengan cara dibakar.

Sampah-sampah kebanyakan berasal dari Sampah-sampah rumah tangga berupa plastik, sisa

makanan atau kertas makanan. Hal ini disebabkan kurangnya penanganan sampah

oleh Dinas Kebersihan sehingga masyarakat mengolah sendiri sampah-sampah

terssbut.

Secara keseluruhan sarana prasarana di kawasan wisata Pantai Lampuuk

pasca tsunami lebih baik kondisi nya dibandingkan sebelum tsunami. Walaupun ada

beberapa sarana seperti fasilitas listrik (PLN) dan fasilitas air bersih (PDAM) tidak

masuk ke kawasan wisata. Fasilitas-fasilitas tersebut dibangun kembali oleh BRR

(Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi) sehingga kondisi nya jauh lebih baik jika

dibandingkan sebelum tsunami.

4.1.5 Pemanfaatan lahan

Kabupaten Aceh besar dengan luas 2.974,12 km

2

memiliki sektor wisata dan

pertanian yang cukup besar. Sektor wisata dan pertanian masih menjadi andalan

kegiatan perekonomian di wilayah Aceh Besar. Ekonomi agraris dibangun dengan

kegiatan bertani. Hasil pertanian di daerah ini meliputi ubi kayu, jagung, cabai,

tomat dan tanaman kacang-kacangan serta tanaman buah-buahan dan

sayur-sayuran. Bukan hanya itu, penggunaan lahan untuk wilayah Aceh Besar didominasi

oleh sawah dan perkebunan. Wilayah kecamatan Lhoknga memilki lahan yang

terdiri dari areal sawah, pemukiman dan semak belukar (Dinas Pariwisata dan

Kebudayaan 2010).

4.2 Sumberdaya Pantai

Kawasan wisata Pantai Lampuuk memiliki sumberdaya pantai yang cukup

baik. Sumberdaya tersebut dapat berupa sumberdaya hayati maupun non hayati.

Sumberdaya yang terdapat di Pantai Lampuuk meliputi keindahan panorama alam,

air laut dan perbukitan yang umumnya digunakan sebagai sarang burung walet

serta berbagai sarana prasarana yang dapat dinikmati oleh wisatawan. Di sekitar

pesisir Pantai Lampuuk juga terdapat mangrove. Sumberdaya tersebut mengalami

kerusakan dan penurunan kualitas ketika bencana tsunami melanda wilayah NAD

(11)

sehingga perlu dioptimalkan kembali untuk kawasan wisata dan dikelola dengan

baik.

Pengelolaan terhadap sumberdaya harus dioptimalkan baik oleh pihak

pemerintah maupun masyarakat. Saat ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

Kabupaten Aceh Besar bekerjasama dengan masyarakat yang meliputi pemuda dan

olahraga serta Yayasan Makmur Bersama (koperasi nelayan) sedang melakukan

perencanaan terhadap pengembangan kawasan wisata di wilayah Kabupaten Aceh

Besar yang salah satu nya adalah Pantai Lampuuk. Selain itu terdapat program

yang dinamakan Bina Bahari. Bina Bahari adalah suatu program yang dilakukan

oleh masyarakat dan pemerintah untuk melindungi ekosistem karang yang terdapat

di Pantai Lampuuk agar kelestariannya tetap terjaga. Program ini juga bertujuan

agar wisatawan dapat menikmati dan melihat ekosistem karang di Pantai Lampuuk.

4.2.1 Analisis kesesuaian untuk ekowisata pantai

Kesesuaian wilayah untuk wisata pantai ditentukan dari kegiatan yang

dilakukan di pantai tersebut. Adapun kegiatan yang dilakukan di Pantai Lampuuk

adalah berenang, berjalan-jalan di sepanjang pinggiran pantai, duduk santai, wisata

olah raga,

surfing

dan aktivitas lainnya.

Surfing

hanya dilakukan jika keadaan

ombak dan angin cukup memungkinkan untuk melakukan kegiatan

surfing. Analisis

yang digunakan untuk mengetahui kesesuaian peruntukkan wilayah sebagai

kawasan wisata pantai adalah menggunakan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW).

Analisis diukur dengan memberikan bobot dan skor pada parameter yang telah

ditentukan. Hasil analisis indeks kesesuaian wisata disajikan pada Tabel 8 dan

Tabel 9 dan hasil perhitungan indeks kesesuaian wisata di kawasan Pantai

Lampuuk disajikan pada Lampiran 6.

Perhitungan nilai IKW dilakukan pada 6 stasiun. Posisi stasiun 1 dan stasiun

2 berada di dekat Bukit Guhmane yaitu di sisi kanan Pantai Lampuuk. Stasiun 3 dan

stasiun 4 mengarah ke laut lepas sedangkan stasiun 5 dan stasiun 6 berada di

sekitar perbatasan antara Pantai Lampuuk dan Pantai Lhoknga yaitu berada di sisi

kiri Pantai Lampuuk. Di setiap stasiun dilakukan pengukuran kedalaman perairan,

kecerahan, kecepatan arus dan biota berbahaya sedangkan parameter lainnya

seperti lebar pantai kemiringan pantai, penutupan lahan dan ketersediaan air tawar

dilakukan di sekitar garis pantai dan pesisir pantai.

(12)

Pantai Lampuuk merupakan tipe pantai berpasir putih kecoklatan dengan

material dasar adalah pasir dengan sedikit karang serta lebar pantai yang dapat

digunakan untuk wisata 100 sampai 150 meter. Stasiun 5 dan stasiun 6 cenderung

bermaterial dasar berupa pasir berkarang sehingga sering dilakukan kegiatan

snorkling

oleh sebagian wisatawan. Kedalaman di Pantai Lampuuk berkisar antara 5

sampai 8 meter. Kecepatan arus antara 0,03 sampai 0,25 m/s dan kecerahan

berkisar antara 2,75 sampai 6,5 serta tidak terdapat biota berbahaya.

Nilai kesesuaian wisata di Pantai Lampuuk yang berada disekitar stasiun 1,

2, 3 dan 4 masuk pada kriteria S1 yaitu sangat sesuai. Kriteria tersebut

menunjukkan bahwa tidak terdapat faktor pembatas yang serius untuk dijadikan

sebagai kawasan wisata seperti berenang, memancing,

surfing, olahraga air dan

aktivitas lainnya. Sedangkan untuk kawasan di sekitar stasiun 5 dan 6 masuk

kriteria S2 yaitu sesuai. Kriteria ini menunjukkan bahwa terdapat faktor pembatas

yang agak serius. Hal ini dapat disebabkan oleh letak stasiun 5 dan 6 yang berada

di sekitar perbatasan antara Pantai Lampuuk dan Pantai lhoknga. Pantai Lhoknga

terletak dekat dengan pabrik semen PT SAI sehingga memungkinkan mendapat

pengaruh dari limbah pabrik semen tersebut.

Tabel 8. Indeks kesesuaian lahan untuk wisata di kawasan Pantai Lampuuk

Stasiun Koordinat IKW Kelas

1 05º 29' 33,7" LU 84,52% S1 095º 13' 15,3" BT 2 05º 29' 43,6" LU 88,10% S1 095º 12' 54,8" BT 3 05º 30' 36,5" LU 83,33% S1 095º 12' 11,9" BT 4 05º 30' 14,5" LU 83,33% S1 095º 11' 18,1" BT 5 05º 28' 46,0" LU 78,57% S2 095º 13' 37,5" BT 6 05º 29' 20,5" LU 77,38% S2 095º 13' 36,3" BT

(13)

4.2.2 Daya Dukung Kawasan untuk ekowisata pantai

DDK adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat

ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan

gangguan pada alam dan manusia (Yulianda 2007). Aktivitas yang biasa dilakukan

di kawasan Pantai Lampuuk antara lain berenang,

surfing, memancing, berjemur

dan rekreasi pantai. Rekreasi pantai meliputi jalan-jalan di pinggir pantai, duduk

santai, melihat pemandangan, foto-foto dan mengobrol. Untuk dapat melakukan

aktivitas-aktivitas tersebut dibutuhkan kondisi kawasan yang baik sehingga

wisatawan yang melakukan aktivitas tersebut merasa nyaman. Kawasan akan

terjaga dengan baik jika tidak terjadi kerusakan di dalamnya dan daya dukungnya

selalu diperhatikan. Daya dukung di kawasan Pantai Lampuuk disajikan pada Tabel

10. Perhitungan daya dukung dapat dilihat pada Lampiran 7.

Tabel 10. Daya dukung ekologis di Pantai Lampuuk

Jenis Kegiatan Luas atau Panjang Area (Lt) DDK

Berenang 1000 m 40 orang

Surfing 300 m 12 orang

Banana boat 500 m 20 orang

Rekreasi pantai 1600 m 64 orang

Memancing 400 m 80 orang

Berjemur 1000 m 40 orang

Total 256 orang

Sumber : Data primer diolah 2010

Aktivitas berenang dapat dilakukan di sepanjang Pantai Lampuuk dengan

panjang area 1000 m. Untuk dapat berenang dengan nyaman diperkirakan

membutuhkan panjang area 50 m. Adapun waktu yang disediakan oleh pihak

pengelola adalah 4 jam per hari dan umumnya waktu yang dihabiskan oleh

wisatawan untuk berenang adalah 2 jam. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui

bahwa nilai daya dukung untuk aktivitas berenang adalah 40 orang. Dari hasil

perhitungan tersebut diperkirakan wisatawan dapat melakukan aktivitas berenang

dengan nyaman. Namun wisatawan harus berhati-hati ketika melakukan aktivitas

berenang mengingat ombak di Pantai Lampuuk cukup besar.

Aktivitas

surfing

merupakan aktivitas olahraga air yang dilakukan di atas

papan selancar ketika ombak besar. Aktivitas

surfing

dapat dilakukan di Pantai

Lampuuk dengan panjang area 300 m. Untuk dapat melakukan aktivitas

surfing

diperkirakan membutuhkan panjang area 50 m. Adapun waktu yang disediakan

(14)

oleh pihak pengelola adalah 4 jam dan umumnya waktu yang dihabiskan oleh

wisatawan untuk melakukan aktivitas

surfing

adalah 2 jam. Berdasarkan hasil

perhitungan diketahui bahwa daya dukung untuk aktivitas

surfing

adalah 12 orang.

Dari hasil perhitungan tersebut diperkirakan wisatawan dapat melakukan aktivitas

surfing

dengan nyaman.

Aktivitas

banana boat

merupakan aktivitas olahraga air yang dilakukan di

atas pelampung balon yang berbentuk seperti pisang yang kemudian ditarik dengan

menggunakan

speedboat. Aktivitas

banana boat

dapat dilakukan di Pantai Lampuuk

dengan panjang area 500 m. Untuk dapat melakukan aktivitas

banana boat

diperkirakan membutuhkan panjang area 50 m. Adapun waktu yang disediakan

oleh pihak pengelola adalah 4 jam dan umumnya waktu yang dihabiskan oleh

wisatawan untuk melakukan aktivitas

banana boat

adalah 2 jam. Berdasarkan hasil

perhitungan diketahui bahwa daya dukung untuk aktivitas

banana boat

adalah 20

orang. Dari hasil perhitungan tersebut diperkirakan wisatawan dapat melakukan

aktivitas

banana boat

dengan nyaman.

Rekreasi pantai dapat dilakukan di sepanjang Pantai Lampuuk dengan

panjang area 1600 m. Untuk dapat melakukan kegiatan ini dengan nyaman

diperkirakan membutuhkan panjang area 50 m. Adapun waktu yang disediakan

oleh pihak pengelola adalah 6 jam per hari dan umumnya waktu yang dihabiskan

oleh wisatawan untuk kegiatan ini adalah 3 jam. Berdasarkan hasil perhitungan

diketahui bahwa nilai daya dukung untuk rekreasi pantai adalah 64 orang. Dari

hasil perhitungan tersebut diperkirakan wisatawan dapat melakukan rekreasi pantai

dengan santai dan nyaman. Kegiatan rekreasi pantai yang umumnya dilakukan di

Pantai Lampuuk meliputi jalan-jalan di pinggiran pantai, melihat pemandangan,

duduk santai, foto-foto dan mengobrol. Kegiatan rekreasi pantai ini merupakan

kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh wisatawan.

Kegiatan memancing dapat dilakukan di sepanjang Pantai Lampuuk dengan

panjang area 400 m. Untuk dapat memancing dengan nyaman diperkirakan

membutuhkan panjang area 10 m. Adapun waktu yang disediakan oleh pihak

pengelola adalah 6 jam per hari dan umumnya waktu yang dihabiskan oleh

wisatawan untuk memancing adalah 3 jam. Berdasarkan hasil perhitungan

diketahui bahwa nilai daya dukung untuk kegiatan memancing adalah 80 orang.

Dari hasil perhitungan tersebut diperkirakan wisatawan dapat melakukan kegiatan

memancing dengan nyaman. Kegiatan memancing umumnya dilakukan oleh

(15)

wisatawan dengan menggunakan

speedboat

atau perahu. Namun ketika kondisi

Pantai Lampuuk dalam keadaan surut wisatawan dapat memancing tanpa

menggunakan perahu atau

speedboat.

Aktivitas berjemur dapat dilakukan di sepanjang Pantai Lampuuk dengan

panjang area 1000 m. Untuk dapat berjemur dengan nyaman diperkirakan

membutuhkan panjang area 50 m. Adapun waktu yang disediakan oleh pihak

pengelola adalah 4 jam per hari dan umumnya waktu yang dihabiskan oleh

wisatawan untuk berjemur adalah 2 jam. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui

bahwa nilai daya dukung untuk aktivitas berjemur adalah 40 orang. Dari hasil

perhitungan tersebut diperkirakan wisatawan dapat melakukan aktivitas berjemur

dengan santai dan nyaman.

Wisatawan yang berkunjung ke Pantai Lampuuk rata-rata berjumlah 3000

per bulan. Dalam sehari pengunjung dapat mencapai 100 orang per hari. Jumlah ini

masih berada di bawah batas maksimal daya dukung yang dapat ditampung di

Pantai Lampuuk. Pengelola Pantai Lampuuk harus meningkatkan jumlah wisatawan

karena jumlah wisatawan masih berada di bawah batas maksimal yang dapat

ditampung di Pantai Lampuuk. Peningkatan jumlah pengunjung dapat dilakukan

dengan cara meningkatkan jumlah sarana olahraga seperti

flying fish

atau

jetski

dan menambah sarana prasarana seperti membuat arena

outbond, arena

berkemah atau arena bersepeda. Hal ini dilakukan agar menarik minat wisatawan

sehingga jumlah wisatawan semakin meningkat. Peningkatan jumlah wisatawan ini

dapat meningkatkan pendapatan (income) daerah dimana nantinya dapat

meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Pantai

Lampuuk.

4.2.3 Analisis nilai ekonomi wisata

Penentuan nilai ekonomi wisata didasarkan pada pendekatan biaya

perjalanan wisata yaitu jumlah biaya yang dikeluarkan selama melakukan

kunjungan wisata ke Pantai Lampuuk, pendapatan wisatawan perbulan dan jumlah

kunjungan. Biaya tersebut meliputi biaya transportasi pulang pergi, biaya konsumsi,

biaya akomodasi dan lain-lain (termasuk karcis masuk). Biaya perjalanan wisata

yang didasarkan pada biaya-biaya tersebut sangat ditentukan oleh biaya

masing-masing pengunjung. Dari perhitungan yang telah dilakukan (Lampiran 8 ) diketahui

(16)

nilai utiliti (kesediaan membayar) sebesar Rp. 1.445.292 per orang nilai surplus

konsumen sebesar Rp. 795.110 per orang dan total nilai manfaat dari kawasan

wisata Pantai Lampuuk adalah Rp. 1.431.197.437/ha/tahun serta fungsi permintaan

dengan persamaan garis P = 276049 – 26363Q.

Nilai utiliti menggambarkan kesediaaan konsumen membayar atas barang

yang dikonsumsi sesuai dengan pendapatan rumah tangga sedangkan surplus

konsumen merupakan perbedaan antara jumlah yang dibayarkan oleh pembeli

untuk suatu produk dan kesediaan untuk membayar.

Berdasarkan total nilai manfaat diatas diketahui bahwa Pantai Lampuuk

memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata.

Jika kawasan wisata Pantai Lampuuk dioptimalkan pengembangannya dan

pengelolaannya dengan merawat sarana dan prasarana serta dijaga kelestariannya

maka dapat meningkatkan pendapatan daerah serta dapat mensejahterakan

masyarakat.

Kurva permintaan (Gambar 3) menggambarkan hubungan antara jumlah

kunjungan (Q) dengan biaya yang dikeluarkan pada saat melakukan kunjungan

atau biaya perjalanan (P). Hubungan antara kedua variabel tersebut yaitu bersifat

negatif (berbanding terbalik). Ketika biaya yang dibutuhkan untuk melakukan

kunjungan ke kawasan wisata meningkat maka jumlah kunjungan akan semakin

berkurang, demikian pula sebaliknya.

P = 2 7 6 0 4 9 - 2 6 3 6 3 Q 0 .0 0 5 0 ,0 0 0 .0 0 1 0 0 ,0 0 0 .0 0 1 5 0 ,0 0 0 .0 0 2 0 0 ,0 0 0 .0 0 2 5 0 ,0 0 0 .0 0 3 0 0 ,0 0 0 .0 0 0 .0 0 2 .0 0 4 .0 0 6 .0 0 8 .0 0 1 0 .0 0 1 2 .0 0 Q (k a li/ta h u n ) P ( R p /k a li )

(17)

4.2.4 Sosial, ekonomi dan budaya

a. Responden

a1. Karakteristik Responden

Masyarakat yang diwawancarai mayoritas berdomisili di sekitar pesisir

Pantai Lampuuk yang terdiri dari 19 orang laki-laki dan 11 orang perempuan.

Masyarakat Pantai Lampuuk berusia antara 19-24 tahun dengan persentase 47%,

25-30 tahun 10%, 31-36 tahun 27%, 37-42 tahun 3%, 43-48 tahun 3%, 49-54

tahun 3% dan 55-60 tahun 7% (Gambar 4). Hal ini menunjukkan masyarakat yang

berdomisili di sekitar pesisir Pantai Lampuuk memiliki kelompok umur produktif

lebih banyak daripada kelompok umur yang tidak produktif. Menurut Soekadijo

(1996) penduduk terdiri dari 3 kelompok yaitu kelompok anak-anak dibawah umur

kerja (kempok I), orang-orang dewasa yang bekerja produktif menghasilkan

pendapatan (kelompok II) dan orang-orang tua diatas umur kerja dan tidak bekerja

(kelompok III). Umumnya kelompok I dan sebagian kelompok III bergantung pada

kelompok II yang biasa disebut rasio dependensi (dependency rate). Setelah

bencana tsunami masyarakat yang berdomisili umumnya masyarakat pendatang

(bukan penduduk asli) karena bencana tsunami telah menelan banyak korban

terutama penduduk asli di sekitar pesisir Pantai Lampuuk.

47%

10% 27%

3%3% 3% 7%

19-24 tahun 25-30 tahun 31-36 tahun 37-42 tahun 43-48 tahun 49-54 tahun 55-60 tahun

Gambar 4. Komposisi usia responden di Pantai Lampuuk

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan

ekowisata pantai. Dalam pengelolaan ekowisata pantai yang berkelanjutan

dibutuhkan tingkat pemahaman masyarakat akan pentingnya melestarikan

lingkungan hidup dan sumberdaya lainnya. Berdasarkan tingkat pendidikan di

Pantai Lampuuk diketahui bahwa 46% berpendidikan SD, 17% berpendidikan SMP,

(18)

27% berpendidikan SMA, 7% berpendidikan D3 dan 3% berpendidikan S1 (Gambar

5). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat di pesisir Pantai

Lampuuk masih rendah sehingga kecenderungan akan tingkat kesadaran

masyarakat terhadap kelestarian lingkungan juga rendah. Kesadaran lingkungan

sangat penting dimiliki oleh masyarakat yang berada di sekitar wilayah pesisir

Pantai Lampuuk karena masyarakat memiliki peran yang cukup besar dalam

pengelolaan wilayah pesisir Pantai Lampuuk. Mengingat sumberdaya yang dimiliki

oleh Pantai Lampuuk merupakan aset yang sangat berharga dan merupakan daya

tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Pantai Lampuuk. Sehingga pemerintah

diharapkan dapat memberikan penyuluhan akan pentingnya menjaga kelestarian

serta potensi sumberdaya yang terdapat di wilayah pesisir Pantai Lampuuk.

46%

17% 27%

7% 3%

SD SMP SMA D3 S1

Gambar 5. Komposisi tingkat pendidikan responden di Pantai Lampuuk

Masyarakat pesisir Pantai Lampuuk memiliki mata pencaharian utama

sebagai nelayan dan penjaga kios. Hal ini terlihat dari persentase masyarakat yang

bermata pencaharian sebagai nelayan adalah sebesar 30% dan sebagai penjaga

kios adalah sebesar 33% sedangkan 17% bekerja sebagai pedagang, 10% sebagai

wiraswasta dan 10% sebagai buruh (Gambar 6). Mengingat kawasan wisata Pantai

Lampuuk cukup luas maka diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan baru

yang nantinya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pekerjaan yang layak

dan tingkat pendapatan yang terus meningkat diharapkan dapat meningkatkan

kesejahteraan masyarakat.

(19)

30%

17% 33%

10%

10%

nelayan pedagang penjaga kios wiraswasta buruh

Gambar 6. Komposisi jenis pekerjaan responden di Pantai Lampuuk

Masyarakat pesisir Pantai Lampuuk memiliki pendapatan yang cukup rendah

dengan persentase 56% berpenghasilan <500 ribu, 37% berpenghasilan 500 ribu-1

juta dan 7% 1 juta-2 juta (Gambar 7). Hal ini dilatarbelakangi oleh mata

pencaharian mayoritas masyarakat sebagai nelayan dan penjaga kios. Selain itu

besarnya penghasilan dilatarbelakangi juga oleh tingkat pendidikan yang rendah

dimana hal ini juga menyebabkan adanya perbedaan dalam segi pendapatan.

56% 37%

7%

< 500 ribu 500 ribu - 1 juta 1 juta - 2 juta

Gambar 7. Komposisi tingkat pendapatan responden di Pantai Lampuuk (Rp/Bulan)

a2. Persepsi responden

Sumberdaya merupakan salah satu faktor yang sangat penting dari suatu

kawasan wisata. Kondisi sumberdaya yang baik dapat menunjang suatu kawasan

wisata agar menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke kawasan

wisata tersebut. Secara keseluruhan kondisi sumberdaya di Pantai Lampuuk

dikategorikan baik. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya jumlah responden

(20)

masyarkat yang mengatakan bahwa kejernihan air laut dan keindahan pantai masih

dalam kondisi yang baik dan kondisi pasir dikategorikan dalam keadaan yang

sangat baik (Gambar 8). Kondisi sumberdaya yang seperti ini dapat dijadikan modal

awal dalam pengembangan potensi sumberdaya di Pantai Lampuuk. Sumberdaya di

Pantai Lampuuk ini harus dijaga kelestariannya agar tetap dalam kondisi yang baik.

0 5 1 0 1 5 2 0 2 5 k e je r n ih a n a ir la u t k e in d a h a n p a n ta i k o n d is i p a s ir P a r a m e t e r % k u r a n g c u k u p b a ik s a n g a t b a ik

Gambar 8. Persepsi responden terhadap kondisi sumberdaya di Pantai Lampuuk

Adapun permasalahan yang terdapat di Pantai Lampuuk adalah ancaman

terhadap tsunami sebesar 33%, pengerukan pasir 32%, pembuangan sampah

sembarangan 27% dan responden yang menjawab tidak tahu sebesar 8%.

(Gambar 9).

Permasalahan ini haruslah segera diatasi karena secara tidak

langsung akan mengancam potensi sumberdaya Pantai Lampuuk. Ancaman

tsunami memang menjadi permasalahan yang utama. Pada tahun 2004 hampir

seluruh wilayah Aceh dilanda tsunami hingga menjadikan hampir sebagian wilayah

pesisir Pantai Lampuuk rata dengan tanah. Hal ini menyebabkan masyarakat

khawatir terhadap ancaman tsunami akan datang kembali. Di sekitar kawasan

wisata hanya dibangun berupa papan penunjuk arah yang berfungsi apabila

ancaman tsunami datang maka masyarakat dapat mengikuti papan penunjuk arah

tersebut untuk melarikan diri. Namun papan penunjuk saja dirasakan tidak cukup

untuk mengatasi ancaman tsunami. Dibutuhkan tanda-tanda lainnya seperti

mercusuar yang dilengkapi dengan alarm agar apabila ancaman tsunami datang

kembali maka dapat langsung diberitahukan kepada masyarakat yang tinggal di

wilayah pesisir Pantai Lampuuk.

(21)

27%

33% 32%

8%

pembuangan sampah sembarangan ancaman tsunami pengerukan pasir tidak tahu

Gambar 9. Permasalahan pada sumberdaya alam di Pantai Lampuuk

a3. Keterlibatan responden

Masyarakat memiliki keterlibatan yang cukup besar dalam pengembangan

kawasan wisata Pantai Lampuuk. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa

sebesar 80% masyarakat terlibat secara langsung dan 20% tidak terlibat (Gambar

10). Besarnya keterlibatan masyarakat ini disebabkan kawasan wisata Pantai

Lampuuk merupakan sumber mata pencaharian dan sumber penghasilan tambahan

bagi masyarakat. Keterlibatan masyarakat ini diharapkan dapat membantu dalam

pengembangan wisata di kawasan Pantai Lampuuk yang nantinya dapat

meningkatkan pendapatan masyarakat.

80% 20%

terlibat tidak terlibat

Gambar 10. Keterlibatan responden dalam kegiatan wisata

Keterlibatan masyarakat yang cukup besar dalam pengembangan wisata di

kawasan Pantai Lampuuk tidak terlepas dari peran masyarakat yang bermata

pencaharian disekitar kawasan wisata. Hal ini ditunjukkan 67% masyarakat yang

(22)

terlibat secara langsung karena memiliki mata pencaharian di sekitar kawasan

Pantai Lampuuk dan 33% masyarakat yang mencari penghasilan tambahan dari

kawasan wisata Pantai Lampuuk (Gambar 11).

67% 33%

mata pencaharian utama penghasilan tambahan

Gambar 11. Alasan keterlibatan responden dalam kegiatan wisata

b. Pengunjung

b1. Karakteristik pengunjung

Wisatawan yang diwawancarai mayoritas berasal bukan dari wilayah Aceh

Besar yang terdiri dari 18 orang laki-laki dan 12 orang perempuan. Wisatawan yang

berkunjung ke Pantai Lampuuk berusia antara 19-24 tahun dengan persentase

34%, 25-30 tahun 23%, 31-36 tahun 27%, 37-42 tahun 7%, 43-48 tahun 3%,

49-54 tahun 3% dan 55-60 tahun 3% (Gambar 12). Hal ini menunjukkan wisatawan

yang berkunjung ke Pantai Lampuuk memiliki kelompok umur produktif lebih

banyak daripada kelompok umur yang tidak produktif. Seperti yang telah

dikemukan oleh Soekadijo (1996) bahwa kelompok umur yang produktif

dikategorikan kedalam kelompok II yaitu orang-orang dewasa yang bekerja

produktif menghasilkan pendapatan. Umumnya kelompok I dan sebagian kelompok

III bergantung pada kelompok II yang biasa disebut rasio dependensi (dependency

rate). Semakin besar rasio dependensinya maka makin besar kelompok I dan

kelompok III bergantung kepada kelompok II dan semakin kecil pula tambahan

penghasilan yang tersisa di dalam masyarakat yang dapat digunakan untuk

mengadakan perjalanan wisata. Kelompok II lah yang umumnya memerlukan

rekreasi sebagai pelepasan dari rutinitas kerja. Dari sini dapat diketahui bahwa

daerah wisata Pantai Lampuuk merupakan daerah sumber wisatwan yang potensial

(23)

dan diketahui pula bahwa kelompok umur produktiflah yang banyak mengadakan

perjalanan wisata.

34% 23% 27% 7% 3% 3% 3%

19-24 tahun 25-30 tahun 31-36 tahun 37-42 tahun 43-48 tahun 49-54 tahun 55-60 tahun

Gambar 12. Komposisi usia pengunjung di Pantai Lampuuk

Wisatawan yang berkunjung ke Pantai Lampuuk yaitu yang berasal dari

Banda Aceh adalah sebesar 70%, Bireuen 13%, Sigli 7%, Simeulue 3% dan

Lambaro 7% (Gambar 13). Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan yang

berkunjung ke Pantai Lampuuk umumnya berasal dari Banda Aceh. Besarnya

persentase wisatawan yang berkunjung ke Pantai Lampuuk dikarenakan jarak

tempuh yang rekatif dekat antara Banda Aceh dan Pantai Lampuuk. Hanya

dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk tiba di Pantai Lampuuk.

7 0 % 1 3 %

7 % 3 %

7 %

B a n d a Ace h B ire u e n S ig li S im e u lu e L a m b a ro

Gambar 13. Komposisi daerah asal pengunjung di Pantai Lampuuk

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan

ekowisata pantai. Dalam pengelolaan ekowisata pantai yang berkelanjutan

dibutuhkan tingkat pemahaman yang baik akan pentingnya melestarikan

lingkungan hidup dan sumberdaya lainnya. Berdasarkan tingkat pendidikan di

Pantai Lampuuk diketahui bahwa 50% berpendidikan S1, 27% berpendidikan SMA,

(24)

17% berpendidikan D3, 3% berpendidikan S2 dan 3% berpendidikan SMP (Gambar

14). Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Pantai Lampuuk

memiliki pendidikan yang cukup tinggi sehingga diharapkan memiliki kecenderunga

akan pentingnya melestarikan dan menjaga sumberdaya di kawasan Pantai

Lampuuk seperti dengan tidak membuang sampah sembarangan serta memiliki

kesadaran dalam menjaga sarana prasarana yang terdapat di Pantai Lampuuk.

0% 3% 27% 17% 50% 3% SD SMP SMA D3 S1 S2

Gambar 14. Komposisi tingkat pendidikan pengunjung di Pantai Lampuuk

Wisatawan yang berkunjung ke Pantai Lampuuk memiliki mata pencaharian

utama sebagai wiraswasta. Hal ini terlihat dari persentase masyarakat yang

bermata pencaharian sebagai wiraswasta adalah sebesar 40%, sebagai Pegawai

Negeri Sipil adalah sebesar 27%, 23% sebagai mahasiswa, 10% sebagai ibu

rumah tangga (Gambar 15).

40%

10% 23%

27%

wiraswasta IRT mahasiswa PNS

(25)

Wisatawan yang berkunjung ke Pantai Lampuuk memiliki pendapatan yang

cukup tinggi dengan persentase 43% berpenghasilan 1-2 juta, 37% berpenghasilan

500 ribu-1 juta dan 20% > 2 juta (Gambar 16). Hal ini dilatarbelakangi oleh mata

pencaharian mayoritas wisatawan sebagai wiraswasta dan Pegawai Negeri Sipil.

Selain itu besarnya penghasilan dilatarbelakangi juga oleh tingkat pendidikan yang

cukup tinggi.

0 % 3 7 % 4 3 % 2 0 % < 5 0 0 rib u 5 0 0 rib u - 1 ju ta 1 ju ta - 2 ju ta > 2 ju ta

Gambar 16. Komposisi tingkat pendapatan pengunjung di Pantai Lampuuk

(Rp/Bulan)

b2. Persepsi pengunjung

Pengembangan ekowisata di suatu kawasan wisata haruslah mendapat

dukungan oleh masyarakat setempat, pengelola kawasan wisata dan pengunjung

wisata. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan pengunjung

diketahui bahwa kejernihan air laut, keindahan pantai dan kondisi pasir masih

dalam keadaan yang cukup baik (Gambar 17). Kondisi sumberdaya ini dapat

menarik perhatian pengunjung karena hal ini merupakan salah satu keunggulan

yang dimiliki oleh Pantai Lampuuk.

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

k ejernihan air laut k eindahan pantai k ondis i pas ir

P a ra m e te r % k urang c uk up baik s angat baik

(26)

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan diketahui bahwa seluruh

pengunjung setuju mengenai pengembangan ekowisata di kawasan Pantai

Lampuuk (Gambar 18). Menurut pengunjung pengembangan ekowisata di kawasan

Pantai Lampuuk dapat meningkatkan pendapatan (income) masyarakat yang

tinggal di daerah pesisir Pantai Lampuuk serta menjadikan pariwisatanya menjadi

lebih baik sehingga banyak turis atau wisatawan yang tertarik untuk berkunjung.

100% 0%

ya tidak

Gambar 18. Persepsi pengunjung mengenai pengembangan ekowisata

Sarana prasarana yang memadai merupakan salah satu daya tarik bagi

wisatawan yang berkunjung ke suatu kawasan wisata. Sarana prasarana yang

terdapat di Pantai Lampuuk antara lain penginapan, air bersih, transportasi, kios

makanan, jalan, instalasi penerangan, tempat sampah dan tempat ibadah.

Berdasarkan hasil wawancara dengan wisatawan diketahui bahwa secara umum

sarana prasarana yang meliputi penginapan, air bersih, transportasi, instalasi listrik

dan tempat sampah di Pantai Lampuuk masih kurang. Sedangkan kios makanan,

jalan dan tempat ibadah tergolong cukup memadai (Gambar 19). Kurangnya sarana

prasarana ini dapat menghambat pengembangan wisata di Pantai Lampuuk karena

kurangnya sarana dan prasarana dapat membuat wisatawan menjadi tidak nyaman

yang kemudian berakibat pada penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke

Pantai Lampuuk. Sehingga diharapkan bagi pengelola untuk memperbaiki sarana

dan prasarana yang terdapat di Pantai Lampuuk.

(27)

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 peng inap an air b ersi h trans porta si kios mak anan jala n listri k tem pat s am pah tem pat i bada h % kurang cukup baik sangat baik tidak tahu

Gambar 19. Persepsi pengunjung terhadap sarana prasarana di Pantai Lampuuk

Berbagai macam kegiatan wisata dapat dilakukan di Pantai Lampuuk seperti

berenang, memancing, jalan-jalan, olahraga, duduk-duduk dan melihat

pemandangan. Umumnya kegiatan yang dilakukan oleh pengunjung yang berwisata

ke Pantai Lampuuk adalah berenang (Gambar 20). Banyaknya pengunjung yang

melakukan kegiatan berenang dikarenakan Pantai Lampuuk memiliki kejernihan air

laut yang baik sehingga membuat pengunjung lebih tertarik melakukan kegiatan

berenang.

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 Ber enan g Mem anci ng Jala n-ja lan Ola hrag a Dud uk-d uduk Mel ihat pem anda ngan %

(28)

4.3 Arahan pengembangan ekowisata di kawasan Pantai Lampuuk

Kawasan wisata Pantai Lampuuk memiliki potensi yang sangat besar untuk

dikembangkan. Hal ini dapat dilihat dari daya dukung ekologisnya yang masih

dapat dioptimalkan pemanfaatannya serta nilai total manfaat yang mencapai Rp

1.431.197.437/ha/tahun. Adapun arahan pengembangan yang dapat dilakukan

antara lain mengelola dan melestarikan potensi sumberdaya baik hayati maupun

non hayati yaitu

o

Mengatasi permasalahan yang terjadi di Pantai Lampuuk yaitu dengan

menyediakan tempat sampah agar memudahkan wisatawan serta tidak membuang

sampah secara sembarangan, memberi peringatan awal terhadap bencana tsunami

misalnya dengan membangun mercusuar serta memberi sanksi terhadap

pihak-pihak yang melakukan pengerukan pasir karena akan menyebabkan abrasi pantai

o

Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pantai Lampuuk belum melebihi

daya dukung kawasan sehingga pengelola kawasan wisata dapat meningkatkan

jumlah wisatawan dengan melakukan berbagai upaya seperti menambah sarana

prasarana agar menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Pantai Lampuuk

o

Dari hasil analisis Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) diketahui bahwa

terdapat faktor pembatas yang agak serius sehingga harus selalu waspada

terhadap faktor tersebut karena nantinya dapat menurunkan kualitas lingkungan

dari kawasan wisata Pantai Lampuuk

o

Merawat sarana prasarana yang terdapat di kawasan wisata Pantai

Lampuuk. Hal ini harus dilakukan karena sarana prasarana ini merupakan salah

satu keunggulan dari Pantai Lampuuk yang tidak dimiliki oleh kawasan wisata

pantai yang lain sehingga dapat menarik minat wisatawan dan dapat meningkatkan

jumlah kunjungan

o

Pasir merupakan salah satu daya tarik dari kawasan wisata Pantai Lampuuk

sehingga perlu dilakukannya penghijauan. Penghijauan di wilayah pantai ini terdiri

dari penanaman kembali tumbuhan di atas bukit pasir dan bagian pantai yang lebih

tinggi. Penghijauan ini bertujuan untuk menangkap pasir dan untuk tersedia proses

dinamis pantai guna perlindungan pantai. Penumbuhan tanaman tersebut agar

mendorong tertangkapnya pasir dalam skala besar sehingga volume pasir tidak

berkurang

o

Perlu dilakukan pemagaran pasir yang berfungsi untuk mempertahankan

(29)

terbawa oleh angin. Pemagaran ini sangat efisien dan efektif karena material yang

digunakan dapat diperoleh dari daerah sekitar (lokal) dan tidak memerlukan biaya

yang mahal. Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari batang pohon, dedaunan,

cabang pohon dan alang-alang

o

Melakukan program penyuluhan untuk menjaga kelestarian lingkungan

kawasan wisata Pantai Lampuuk misalnya penyuluhan kepada masyarakat sekitar

untuk menjaga lingkungan kawasan wisata dan memberikan pemahaman tentang

pentingnya menjaga lingkungan sekitar kawasan wisata. Dukungan positif dari

masyarakat sangatlah membantu dalam pengembangan kawasan wisata Pantai

Lampuuk. Pengelola dapat memberikan motivasi kepada masyarakat dan

wisatawan untuk menjaga kualitas lingkungan baik fisik maupun biologi agar

kawasan wisata Pantai Lampuuk tetap terjaga kelestariannya

o

Memanfaatkan media massa maupun elektronik lokal untuk melakukan

Gambar

Tabel 6. Kualitas lingkungan Pantai Lampuuk
Tabel 7. Kondisi meteorologi, klimatologi dan geofisika Aceh Besar tahun 2009 Bulan Curah hujan Suhu rata-rata Arah angin Kecepatan angin
Tabel 8. Indeks kesesuaian lahan untuk wisata di kawasan Pantai Lampuuk
Tabel 10. Daya dukung ekologis di Pantai Lampuuk
+7

Referensi

Dokumen terkait

Data ini menunjukkan bahwa ketiga kultur bakteri ini mampu melakukan proses denitrifikasi pada media yang mengandung 1000 ppm carbaryl, yang berarti kultur bakteri cukup

Kim (32) dan Huang (33) mengamati apoptosis pada kanker servik yang diberi perlakuan dengan radioterapi dan memperoleh bahwa indeks apoptosis spontan yang rendah mencerminkan

Penjabaran lebih lanjut dalam perencanaan tahunan dituangkan kedalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2017 dan Kebijakan Umum APBD serta Prioritas dan Plafon

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas preoperative teaching terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien preoperasi di ruang rawat inap RSUD

Seperti yang diungkapkan oleh (Rachmah, 2015) berdasarkan hasil penelitiannya pada mahasiswa Program Pascasarjana, mahasiswa menyadari bahwa mereka memiliki sejumlah

3.1. Logo Simbol, yaitu logo berupa ‘tanda’ yang sudah dikenal dan dipahami oleh banyak komunitas bahkan antara bangsa karena sudah menjadi kesepakatan bersama, dima- na

o Clip, digunakan untuk ‘memotong’ dan ’menggunting’ suatu layer (layer yang bertindak sebagai objek) berdasarkan (batas- batas yang di miliki oleh) layer yang lain

Hasil dari data diatas menunjukan bahwa secara deskriptif kuantitatif, Pajak Bumi dan Bangunan pada Dinas Bapenda Kabupaten Lebak rata-rata mengalami fluktuatif