• Tidak ada hasil yang ditemukan

USULAN PENELITIAN DOSEN PEMBINA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "USULAN PENELITIAN DOSEN PEMBINA"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

1

USULAN PENELITIAN DOSEN PEMBINA

Makna Simbol Kujang Pada Masyarakat Kampung Naga

TIM PENGUSUL

Dr. Dodih Heryadi, Drs., M.Pd. NIDN 0426065801

Zulpi Miftahudin, M.Pd. NIDN 0429128101

UNIVERSITAS SILIWANGI FEBRUARI 2017

(2)

I. Judul

2. Ketua Tim Pengusul a. Nama Lengkap b. NIDN

c. Program Studi d. Perguruan Tinggi 3. Anggota Tim Pengusul

a. Jumlah Anggota b. Nama Anggota 1 4. Luaran yang dihasilkan

5. Jangka Waktu Pelaksanaan 6. Biaya Total

Makna Simbol Kujang Pada Masyarakat Kampung Naga

Dr. Dodih Heryadi, M.Pd. 0426065801 Pendidikan Sejarah Universitas Siliwangi 1 orang Zulpi Miftahudin, M.Pd.

- Makalah disampaikan dalam Pertemuan Nasional -BukuAjar -Buku Teks 1 Tahun Rp. 17 ,500,000,00 Tasikmalaya, 13-02-2017 etua Pengusul · (Dr. Dodih Heryadi, M.Pd.) NIDN/NIP 0426065801

(3)

RINGKASAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna dan persepsi Kujang Pada Masyarakat Kampung Naga. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Masyarakat Kampung Naga, sedangkan untuk menentukan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket dan kuesioner.

Kujang merupakan senjata, ajimat, perkakas, atau benda multifungsi lainnya yang memiliki berbagai ragam bentuk yang menarik secara visual. Kujang dengan keragaman bentuk gaya dengan variasi-variasi struktur papatuk, waruga, mata, siih, pamor, dan sebagainya sangat artistik dan menarik untuk dicermati karena struktur bentuk tersebut belum tentu ada dalam senjata lainnya di nusantara. Kujang sebagai senjata yang memiliki keunggulan.

Berdasarkan nilai-nilai filosofis tersebut, maka di Masyarakat Kampung Naga membangun tugu kujang sebagai simbol masyarakat sunda yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional yang telah diwariskan oleh para leluhurnya. Nilai-nilai dan konsep-konsep budaya masyarakat adat dibentuk melalui pewarisan secara lisan dan menjadi milik individu atas tumbuhnya kesadaran diri. Nilai emosional individu membimbing munculnya bentuk perilaku yang berorientasi pada dua pilihan yaitu menjungjung tinggi nilai adat karuhun atau membentuk pola perilaku berbasis nilai modernitas. Kedua hal tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat adat dalam keberlangsungan kehidupannya. Konsekuensi dari dua hal di atas, memunculkan bentuk perilaku yang berbeda, sebab manusia di dalam hidup tidak sekedar dipengaruhi oleh dunia rasional tetapi dipengaruhi oleh dunia imajinasi, artistik, mitologi dan berbagai bentuk ritual. Kenyataan ini memungkinkan lahirnya aspek keragaman sikap perilaku manusia serta dimensi-dimensi lain terutama nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam senjata kujang

(4)

DAFTAR ISI Halaman LEMBAR PENGESAHAN PERNYATAAN RINGKASAN DAFTAR ISI ... ……… vi BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 3 1.3 Batasan Masalah ... 4 1.4 Rumusan Masalah ... 4 1.5 Tujuan Penelitian ... 4 1.6 Hipotesis ... 4 1.7 Luaran Penelitian ... 5

BAB II. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka ... 6

2.2 Penelitian yang Relevan ... 12

BAB III. OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian ... 15

3.2 Lokasi Penelitian ... 16

3.3 Populasi dan Sampel ... 16

3.4 Tahapan Penelitian ... 16

3.5 Strategi Penelitian ... 17

3.6 Instrumen Penelitian ... 17

3.7 Teknik Pegumpulan dan Analisis Data ... 18 DAFTAR PUSTAKA

(5)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam khasanah kebudayaan masyarakat Jawa Barat secara umum, senjata Kujang merupakan senjata yang memiliki keterkaitan erat dengan identitas jati diri masyarakat Sunda, serta kujang diakui sebagai senjata dalam kategori senjata tradisional yang keberadaannya sudah demikian lama, yang dalam pandangan sebagian masyarakat Jawa Barat senjata Kujang memiliki nilai sakral. Secara historis awal keberadaannya masih belum banyak terungkap, namun ada beberapa pendapat yang menjelaskan bahwa Kerajaan Salakanagara merupakan kerajaan tertua di Jawa sebagai cikal bakal lahirnya kujang. Dari beberapa pendapat kehadiran senjata Kujang pada awalnya merupakan senjata yang digunakan sebagai alat perladangan atau pertanian pada masa kerajaan Salakanagara dan terus berkembang pada masa Kerajaan Tarumanegara pada abad IV ketika sudah mampu menata sistem pertanian secara baik dengan dibangunnya sistem irigasi untuk perladangan dan pertanian, mungkin kujang sudah hadir dalam konteks perkakas perladangan atau perkakas pertanian dalam pranata sosial budaya masyarakat pada saat itu. Jika demikian maka usia senjata Kujang lebih tua dari hadirnya Jawa Barat sebagai ibu kota Provinsi.

Kujang dalam pandangan sebagian masyarakat secara umum dianggap sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata sejak dahulu hingga saat ini. Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Kujang sebagai lambang atau simbol sarat dengan niali-nilai filosofis yang tinggi terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang dipakai sebagai nama

(6)

dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Provinsi Jawa Barat.

Masyarakat Jawa Barat memiliki lambang daerah berupa gambar yang di tengahnya menampilkan senjata tradisional yang disebut kujang. Kujang adalah senjata tradisional berupa senjata tajam yang bentuknya menyerupai keris, parang, dengan bentuk unik berupa tonjolan pada bagian pangkalnya, bergerigi pada salah satu sisi di bagian tengahnya dan bentuk lengkungan pada bagian ujungnya. Bagi masyarakat Sunda, kujang lebih universal dibandingkan dengan keris, kujang merupakan senjata khas dari Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram. Kujang merupakan alat yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan serta melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran, dan menjadi ciri khas baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata. Kujang dikenal sebagai benda tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa ahlimenyatakan bahwa istilah "kujang" berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang. Kujang (juga) berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti seperti tergambar dalam sosok Prabu Siliwangi dalam cerita dan sejarah Masyarakat Jawa Barat.

Pada masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah di antaranya di daerah Rancah, Ciamis, dan masyarakat Kampung Naga Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

(7)

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12. Dengan berbagai nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam kujang, maka masyarakat Jawa Barat sangat menghargai nilai-nilai tersebut.

Masyarakat adat Kampung Naga sebagai masyarakat yang terkategorikan sebagai masyarakat tradisional dijadikan sebagai objek penelitian dengan pertimbangan bahwa masyarakat adat Kampung Naga memiliki komitmen dalam upaya memposisikan senjata Kujang sebagai senjata yang perlu dilestarikan. Pelestarian senjata Kujang tidak sekedar wujud bendanya tetapi nilai-nilai yang terkandung dalam senjata Kujang yang sarat dengan nilai-nilai filosofis dan menjadi pedoman dalam kehidupan dan penghidupan masyarakat adat Kampung Naga. Sebagai wujud komitmen mereka, masyarakat adat Kampung Naga membangun tugu kujang sebagai simbol masyarakat sunda yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional yang telah diwariskan oleh para leluhurnya. Nilai-nilai dan konsep-konsep budaya masyarakat adat dibentuk melalui pewarisan secara lisan dan menjadi milik individu atas tumbuhnya kesadaran diri. Nilai emosional individu membimbing munculnya bentuk perilaku yang berorientasi pada dua pilihan yaitu menjungjung tinggi nilai adat karuhun atau membentuk pola perilaku berbasis nilai modernitas. Kedua hal tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat adat dalam keberlangsungan kehidupannya. Konsekuensi dari dua hal di atas, memunculkan bentuk perilaku yang berbeda, sebab manusia di dalam hidup tidak sekedar dipengaruhi oleh dunia rasional tetapi dipengaruhi oleh dunia imajinasi, artistik, mitologi dan berbagai bentuk ritual. Kenyataan ini memungkinkan lahirnya aspek keragaman sikap perilaku manusia serta dimensi-dimensi lain terutama nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam senjata kujang.

(8)

Berdasarkan gambaran diatas, Masyarakat adat kampung Naga menjadi menarik untuk diteliti dengan fokus penelitian “Makna Simbol Kujang Pada Masyarakat Kampung Naga”

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, masalah dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Pemahaman makna kujang pada Masyarakat Kampung Naga yang masih kurang

2. Pemahaman terhadap nilai-nilai filosofis yang terdapat pada Kujang di masyarakat Kampung Naga masih kurang

3. Masyarakat sulit mengaplikasikan nilai-nilai nilai-nilai filosofis yang terdapat pada senjata Kujang dalam kehidupan sehari-hari

4. Persepsi Masyarakat Kampung Naga pada kujang sebagai media penerapan nilai-nilai kearifan lokal

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, permasalahan yang ada cukup luas, sehingga perlu adanya pembatasan masalah yang akan diteliti. Maka penelitian ini akan dibatasi pada makna Kujang pada Masyarakat Kampung Naga.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, penelitian ini terfokus pada beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan topik masalah yang akan diteliti;

1. Apa makna kujang pada Masyarakat Kampung Naga?

2. Apa nilai-nilai filosofis yang terdapat pada kujang bagi Masyarakat Kampung Naga?

3. Bagaimana aplikasi nilai-nilai filosofis kujang pada masyarakat Kampung Naga dalam kehidupan sehari-hari?

(9)

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini, untuk mendeskripsikan nilai-nilai kearifan lokal dalam mendukung pelestarian lingkungan. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sebagai berikut :

1. Mengetahui apa makna kujang pada Masyarakat Kampung Naga

2. Mengetahui apa nilai-nilai filosofis yang terdapat pada kujang bagi Masyarakat Kampung Naga

3. Mengetahui bagaimana aplikasi nilai-nilai filosofis kujang pada masyarakat Kampung Naga dalam kehidupan sehari-hari

1.6 Hipotesis

Berdasarkan asumsi di atas, maka hipotesis dari penelitian ini adalah “makna dan persepsi kujang pada masyarakat Kampung Naga berpengaruh terhadap keidupan sehari-hari”.

1.7 Luaran Penelitian

Adapun target luaran wajib yang dicapai pada penelitian ini adalah: 1. Buku atau profil kujang

2. Bahan ajar pada Mata Kuliah Studi Masyarakat Indonesia dan Sejarah Kebudayaan

3. Publikasi ilmiah dalam jurnal lokal yang mempunyai ISSN atau jurnal nasional terakreditasi

(10)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Pustaka

Kujang sebagai simbol sakral sebagian masyarakat Jawa Barat, memiliki fungsi dan makna yang berdiferensiasi dalam pandangan masyarakat Sunda. Kujang sebagai senjata khas Jawa Barat dipahami dari dua sisi yang berbeda, yaitu sebagai benda atau cidra mata dalam rangka penguatan identitas Jawa Barat. Kujang merupakan senjata sakral yang sarat dengan unsur mitos dikalangan pengguna yang dalam pemeliharaannya dilindungi dan dihormati sebagai benda warisan karuhun yang harus dijaga melalui aktivitas ritual tertentu dalam suatu waktu tertentu dan bersifat normatif.

Dalam kerangka budaya, senjata Kujang termasuk dalam tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal, yaitu termasuk ke dalam unsur perlengkapan hidup dalam sistem mata pencaharian hidup. Selain sebagai alat perlengkapan hidup, Kujang memiliki keunggulan bagi mereka yang mempercayainya, Kujang dianggap sebagai benda sakral dan ditampilkan dalam uapacara-upacara keagamaan berbasis kepercayaan. Kujang merupakan simbol keperkasaan dari orang-orang tertentu dalam suatu masyarakat, Kujang memiliki kekuatan magis, Kujang seringkali dimitoskan, dan Kujang simbol keteguhan.

Masyarakat Jawa Barat yang mayoritas beretnis Sunda memiliki lambang daerah berupa gambar yang di tengahnya menampilkan senjata tradisional yang disebut kujang. Kujang adalah senjata tradisional berupa senjata tajam yang bentuknya menyerupai keris, parang, dengan bentuk unik berupa tonjolan pada bagian pangkalnya, bergerigi pada salah satu sisi di bagian tengahnya dan bentuk lengkungan pada bagian ujungnya. Bagi masyarakat Sunda, kujang lebih umum dibandingkan dengan keris.

Kujang tidak hanya dipakai untuk lambang daerah tapi juga dipakai untuk nama perusahaan (Pupuk Kujang, Semen Kujang), nama kampung (Parungkujang, Cikujang, Kujangsari, Parakankujang), nama batalion (Batalyon Kujang pada Kodam III/Siliwangi), nama tugu peringatan (Tugu Kujang di Bogor, Tugu Kujang Bale Endah), dan lain-lain. Popularitas kujang bagi masyarakat etnis Sunda sudah tidak disangsikan lagi. Akan tetapi, ironisnya, eksistensi kujang baik sebagai perkakas maupun sebagai pusaka mulai sirna. Kujang kini hanya berada di museum-museum dengan jumlah yang relatif sedikit dan dimiliki oleh para sesepuh atau budayawan yang masih mencintai kujang sebagai pusaka leluhurnya.

(11)

Pada masyarakat etnis Sunda ada kelompok yang masih akrab dengan kujang dalam pranata kehidupan sehari-hari, yaitu masyarakat Sunda “Pancer Pangawinan” yang tersebar di Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak, Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor, di Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi, dan masyarakat Sunda Wiwitan Urang Kanekes (Baduy) di

Kabupaten Lebak.

Kujang (Kujang Pamangkas) dalam lingkungan budaya mereka masih digunakan untuk upacara nyacar (menebang pohon untuk lahan huma) setahun sekali. Sebagai patokan pelaksanaan nyacar tersirat dalam ungkapan unggah kidang turun kujang yang artinya jika bintang kidang (orion) muncul di ufuk timur waktu subuh, pertanda waktu nyacar telah tiba dan kujang digunakan sebagai pembuka kegiatan perladangan.

Bukti keberadaan kujang diperoleh dari naskah kuno di antaranya Serat Manik Maya dengan istilah kudi, Sanghyang Siksakandang Karesian dengan istilah kujang, dan dari berita pantun Pajajaran Tengah (Pantun Bogor). Kujang adalah pusaka tradisi Sunda, sejarah yang menceritakan awal keberadaannya masih belum terungkap. Kalau saja Kerajaan Salakanagara yang merupakan kerajaan tertua di Jawa sebagai cikal bakal lahirnya kujang, diyakini keberadaan kujang sudah sangat tua. Alasan tersebut diperkuat bahwa apabila kujang yang diperkirakan sebagai alat perladangan atau pertanian maka Kerajaan Tarumanegara pada abad IV sudah mampu menata sistem pertanian secara baik dengan dibangunnya sistem irigasi untuk perladangan dan pertanian, mungkin kujang sudah hadir dalam konteks perkakas perladangan atau perkakas pertanian dalam pranata sosial budaya masyarakat pada saat itu. Kujang diakui keberadaannya sebagai senjata khas masyarakat etnis Sunda. Kujang merupakan warisan budaya Sunda pramodern.

Kujang merupakan senjata, ajimat, perkakas, atau benda multifungsi lainnya yang memiliki berbagai ragam bentuk yang menarik secara visual. Kujang dengan keragaman bentuk gaya dengan variasi-variasi struktur papatuk, waruga, mata, siih, pamor, dan sebagainya sangat artistik dan menarik untuk dicermati karena struktur bentuk tersebut belum tentu ada dalam senjata lainnya di nusantara. Kujang sebagai senjata yang memiliki keunggulan.

Berbagai pendapat dari berbagai tokoh masyarakat mengarah ke sana.Kujang koleksi Sumedang Sejarah kerajaan yang tumbuh di Sumedang pada masa lalu erat kaitannya dengan Kerajaan Pajajaran. Koleksi kujang Pajajaran yang dimiliki Museum Prabu Geusan Ulun relatif banyak bahkan mungkin paling banyak jika dibandingkan dengan museum-museum yang ada di Jawa Barat atau Indonesia sekalipun. Kujang-kujang tersebut

(12)

beragam varian Kujang Ciung, beragam varian Kujang Naga, Kujang Kuntul, Kujang Pamangkas, Kujang Wayang, dan sebagainya. Kujang-kujang yang tersimpan cukup terpelihara dengan baik di mana fisik waruga, pamor, siih, dan mata kujang masih banyak yang utuh. Bahkan, persepsi dari kebanyakan masyarakat bahwa semua kujang berlubang terbantahkan dengan masih adanya beberapa koleksi kujang di museum ini yang masih memiliki penutup lobang atau penutup mata. Mungkin hilangnya penutup lobang karena penutup lobang terbuat dari bahan-bahan yang bernilai seperti logam-logam mulia, permata, dan sejenisnya. Hilangnya pun mungkin diambil atau jatuh akibat dari ceruk lubangnya yang korosif. Kujang merupakan produk budaya masyarakat peladang. Penamaannya cenderung pada makhluk-makhluk yang banyak hidup di daerah ladang seperti Kujang Ciung dari burung Ciung, Kujang Naga dari ular, Kujang Bangkong dari kodok, Kujang Kuntul dari burung kuntul. Bahkan, Kujang Wayang

diperkirakan sebagai simbol untuk kesuburan.

Tokoh wanita pada kujang wayang mengingatkan pada simbol-simbol kesuburan, misalnya patung purba Venus Willendorf di Eropa yang berbentuk manusia berperawakan subur sebagai simbolisasi kesuburan. Tokoh Dewi Sri dikenal sebagai dewi kesuburan. Mencermati secara fisik Kujang Wayang ini pun yang tidak memiliki sisi tajam di bagian tonggong dan beuteung yang mungkin sangat berbeda dengan kujang lainnya (kujang dua pangadekna/kujang memiliki dua sisi yang tajam) diperkirakan untuk kepentingan upacara yang erat kaitannya dengan kepentingan kesuburan.

2.1.1 Bagian-bagian Kujang

Secara umum, berikut bagian-bagian yang terdapat pada kujang 1. Papatuk (Congo); bagian ujung kujang yang runcing, gunanya untuk

menoreh atau mencungkil.

2. Eluk (Siih); lekukan-lekukan atau gerigi pada bagian punggung kujang sebelah atas, gunanya untuk mencabik-cabik perut musuh.

3. Waruga; nama bilahan (badan) kujang.

4. Mata; lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan kujang yang pada awalnya lubang- lubang itu tertutupi logam (biasanya emas atau perak) atau juga batu permata. Tetapi kebanyakan yang ditemukan hanya sisasnya berupa lubang lubang kecil. Gunanya sebagai lambang tahap status si

(13)

pemakainya, paling banyak 9 mata dan paling sedikit 1 mata, malah ada pula kujang tak bermata, disebut “Kujang Buta”.

5. Pamor; garis-garis atau bintik-bintik pada badan kujang disebut Sulangkar atau Tutul, biasanya mengandung racun, gunanya selain untuk memperindah bilah kujangnya juga untukmematikan musuh secara cepat. 6. Tonggong; sisi yg tajam di bagian punggung kujang, bisa untuk mengerat

juga mengiris.

7. Beuteung; sisi yang tajam di bagian perut kujang, gunanya sama dengan bagian punggungnya.

8. Tadah; lengkung kecil pada bagian bawah perut kujang, gunanya untuk menangkis dan melintir senjata musuh agar terpental dari genggaman. 9. Paksi; bagian ekor kujang yang lancip untuk dimasukkan ke dalam gagang

kujang.

10. Combong; lubang pada gagang kujang, untuk mewadahi paksi (ekor kujang).

11. Selut; ring pada ujung atas gagang kujang, gunanya untuk memperkokoh cengkeraman gagang kujang pada ekor (paksi).

12. Ganja (landéan); nama khas gagang (tangkai) kujang. 13. Kowak (Kopak); nama khas sarung kujang.

Di antara bagian-bagian kujang tadi, ada satu bagian yang memiliki lambang “ke-Mandalaan”, yakni mata yang berjumlah 9 buah. Jumlah ini disesuaikan dengan banyaknya tahap Mandala Agama Sunda Pajajaran yang juga berjumlah 9 tahap, di antaranya (urutan dari bawah): Mandala Kasungka, mandala Parmana, Mandala Karna, Mandala Rasa, Mandala Séba, Mandala Suda, Jati Mandala, Mandala Samar, Mandala Agung. Mandala tempat siksaan bagi arwah manusia yang ketika hidupnya bersimbah noda dan dosa, disebutnya Buana Karma atau Jagat Pancaka, yaitu Neraka.

(14)

2.1.1.1 Jenis-jenis Kujang

Karaktaristik sebuah kujang memiliki sisi tajaman dan nama bagian, antara lain : papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak). Selain bentuk karakteristik bahan kujang sangat unik cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam.

Dalam Pantun Bogor sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk. Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain : Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang). Sedangkan berdasarkan bentuk bilah ada yang disebut Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan), Kujang Ciung (menyerupai burung ciung), Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango), Kujang Badak (menyerupai badak), Kujang Naga (menyerupai binatang mitologi naga) dan Kujang Bangkong (menyerupai katak). Disamping itu terdapat pula tipologi bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan.

2.1.1.2 Proses Pembuatan Kujang

Pada zamannya Kerajaan Pajajaran Sunda masih jaya, setiap proses pembuatan benda-benda tajam dari logam termasuk pembuatan senjata kujang, ada patokan-patokan tertentu yang harus dipatuhi, di antaranya:

1. Patokan Waktu

Mulainya mengerjakan penempaan kujang dan benda-benda tajam lainnya, ditandai oleh munculnya Bintang Kerti, hal ini terpatri dalam ungkapan “Unggah kidang turun kujang, nyuhun kerti turun beusi”, artinya ‘Bintang Kidang mulai naik di ufuk Timur waktu subuh, pertanda

(15)

masanya kujang digunakan untuk “nyacar” (mulai berladang). Demikian pula jika Bintang Kerti ada pada posisi sejajar di atas kepala menyamping agak ke Utara waktu subuh, pertanda mulainya mengerjakan penempaan benda-benda tajam dari logam (besi-baja)’. Patokan waktu seperti ini, kini masih berlaku di lingkungan masyarakat “Urang Kanékés” (Baduy).

2. Kesucian “Guru Teupa” (Pembuat Kujang)

Seorang Guru Teupa (Penempa Kujang), waktu mengerjakan pembuatan kujang mesti dalam keadaan suci, melalui yang disebut “olah tapa” (berpuasa). Tanpa syarat demikian, tak mungkin bisa menghasilkan kujang yang bermutu. Terutama sekali dalam pembuatan Kujang Pusaka atau kujang bertuah. Di samping Guru Teupa mesti memiliki daya estetika dan artistika tinggi, ia mesti pula memiliki ilmu kesaktian sebagai wahana keterampilan dalam membentuk bilah kujang yang sempurna seraya mampu menentukan “Gaib Sakti” sebagai tuahnya.

3. Bahan Pembuatan Kujang

Untuk membuat perkakas kujang dibutuhkan bahan terdiri dari logam dan bahan lain sebagai pelengkapnya, seperti:

a. Besi, besi kuning, baja, perak, atau emas sebagai bahan membuat waruga (badan kujang) dan untuk selut (ring tangkai kujang).

b. Akar kayu, biasanya akar kayu Garu-Tanduk, untuk membuat ganja atau landean (tangkai kujang). Akar kayu ini memiliki aroma tertentu.

c. Papan, biasanya papan kayu Samida untuk pembuatan kowak atau kopak (sarung kujang). Kayu ini pun memiliki aroma khusus.

d. Emas, perak untuk pembuatan “mata” atau “pamor” kujang pusaka ataukujang para menak Pakuan dan para Pangagung tertentu. Selain itu,

(16)

khusus untuk “mata” banyak pula yang dibuat dari batu permata yang indah-indah.

e. Peurah” (bisa binatang) biasanya “bisa Ular Tiru”, “bisa Ular Tanah”, “Bisa Ular Gibug”, ”bisa Kelabang” atau “bisa Kalajengking”. Selain itu digunakan pula racun tumbuh-tumbuhan seperti ”getah akar Leteng” “getah Caruluk” (buah Enau) atau “serbuk daun Rarawea”, dsb. Gunanya untuk ramuan pelengkap pembuatan “Pamor”. Kujang yang berpamor dari ramuan racun-racun tadi, bisa mematikan musuh meski hanya tergores. f. Tuah “Gaib Sakti” sebagai isi, sehingga kujang memiliki tuah tertentu.

Gaib ini terdiri dari yang bersifat baik dan yang bersifat jahat, bisa terdiri dari gaib Harimau, gaib Ulat, gaib Ular, gaib Siluman, dsb. Biasanya gaib seperti ini diperuntukan bagi isi kujang yang pamornya memakai ramuan racun sebagai penghancur lawan. Sedangkan untuk Kujang Pusaka, gaib sakti yang dijadikan isi biasanya para arwah leluhur atau para “Guriyang” yang memiliki sifat baik, bijak, dan bajik.

4. Tempat (Khusus) Pembuatan Kujang

Tempat untuk membuat benda-benda tajam dari bahan logam besi-baja, baik kudi, golok, sunduk, pisau, dsb. Dikenal dengan sebutan Gosali, Kawesen, atau Panday. Tempat khusus untuk membuat (menempa) perkakas kujang disebut Paneupaan. Dalam khazanah kebudayaan masyarakat tatar Sunda, maung atau harimau merupakan simbol yang tidak asing lagi. Beberapa hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan eksistensi masyarakat Sunda dikorelasikan dengan simbol maung, baik simbol verbal maupun non-verbal seperti nama daerah (Cimacan), simbol Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi.

2.2 Penelitian yang Relevan

Manusia sebagai mahluk sosial dalam kehidupannya memiliki kepentingan terhadap lingkungan. Lingkungan social, budaya, alam dalam kehidupan manusia memiliki saling keterkaitan satu sama lain, dan akan

(17)

saling mengisi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Lingkungan melalui sentuhan manusia dapat dipelihara dengan baik apabila manusia memperlakukan alam dengan baik pula. Jika manusia mengekplorasi alam secara berlebihan, akibatnya bencana menimpa dalam kehidupan manusia.

Suryadi melakukan penelitian dengan judul “Kujang Sebagai Pusaka Sunda: Tinjauan Estetik dan Simbolik (2006) diterbitkan oleh STKIP Setiabudhi Rangkas Bitung. Dalam penelitian itu, Suryadi, mengungkapkan Penelitian ini berangkat dari fenomena kujang sebagai senjata khas masyarakat etnis Sunda. Kujang adalah warisan budaya Sunda pra-modern dan merupakan senjata, ajimat, perkakas atau multifungsi lainnya. Kujang dengan keragaman bentuk dengan variasi- variasi struktur papatuk, waruga, mata, siih, tadah, pamor dan sebagainya tidak dimiliki pada senjata lainnya di Nusantara. Kujang sebagai senjata yang memiliki keunggulan visual juga memiliki struktur estetik dan makna simbolik. Penelitian meliputi kujang yang dikoleksi Musium Sri Baduga Bandung, Musium Geusan Ulun Sumedang, Museum Keraton Kasepuhan Cirebon. Museum tersebut berada di wilayah yang memiliki hubungan sangat erat dengan sejarah peradaban masyarakat Sunda pada zaman dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur estetik pada kujang dan mengetahui makna simbolik pada kujang. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan penjelasan tentang kujang secara visual maupun simbolik khususnya pada masyarakat etnis Sunda, dapat menumbuhkan kesadaran untuk melestarikan artefak peninggalan para leluhur Sunda terutama pusaka kujang, dan dapat meningkatkan apresiasi terhadap pusaka kujang sebagai artefak peninggalan para leluhur Sunda. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitik kualitatif, menggunakan pendekatan multidisiplin dengan penekanan pada pendekatan kebudayaan melalui kajian eksoteri (bentuk) kujang dengan penekanan pada estetika (tampilan) dan isoteri (makna simbolik). Disiplin lain dianggap dibutuhkan untuk membedah kajian analisis penelitian seperti antropologi, sejarah, estetika, dan hermeneutika. Visualisasi estetis

(18)

kujang ditinjau dari bentuk sangat beragam terdiri dari kujang ciung, jago, kuntul, bangkong, naga, wayang, kudi dan masih ada bentuk yang lainnya. Jenis kujang terdiri dari kujang pusaka, pakarang, pangarak, pamangkas. Kujang memiliki fungsi untuk simbolisasi keagungan, untuk alat berperang, untuk alat upacara, untuk alat pertanian. Secara historis, kujang dibuat sebagai alat pertanian, namun seiring dengan perkembangan jaman kujang menjadi simbolisasi dalam pranata sosial masyarakat etnis Sunda lama. Kujang memiliki struktur sistem sebagai simbol dan kerangka berfikir masyarakat Sunda. Kujang sebagai simbol “tritangtu” masyarakat Sunda, sebagai filosofi dasar cara berfikir masyarakat Sunda lama “kesatuan dualistik”, sebagai simbol kultur masyarakat huma / “pola tiga” dalam sistem budaya primordial Indonesia..

Penelitian kedua oleh Basuki Teguh Yuwono (2013) yang berjudul “Kujang Jejak Budaya Pesona Sunda”. Penelitian ini membahas Jejak historis, proses pembuatan sampai dengan tata cara pembawaan Kujang sehari-hari memperlihatkan Kujang sebagai "tradisi asli" masyarakat Desa, khususnya bagi petani atau peladang/mahuma. Berbeda dengan keris yang berasal dari lingkungan keraton, sehingga fungsi Keris lebih pada senjata dan pusaka, ketimbang perkakas sehari-hari. Kujang mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam kehidupan perkakas sehari-hari, souvenir yang multi-guna, sampai dengan bentuk Kujang sebagai pusaka yang mencegah "tragedi impor beras" di negeri ini.

2.3. Landasan Teoritis.

Makna adalah pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata). (Djajasudarma, 2009:7). Makna merupakan istilah yang paling ambigu dan kontroversial dalam teori kebahasaan (Ullmann, 2011:65). Makna sebagai penghubung bahasa dengan dunia luar sesuai dengan kesepakatan para pemakainya sehingga dapat saling mengerti. Makna mempunyai tiga

(19)

tingkatan, yakni: 1) pada tingkat pertama, makna menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan, 2) pada tingkat kedua, makna menjadi isi dari suatu kebahasaan, 3) pada tingkat ketiga, makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan informasi sesuatu. (Djajasudarma 2009:8). Pada tingkat pertama dan kedua makna dilihat dari segi hubungan dengan penutur, sedangkan pada tingkat ketiga makna lebih ditekankan pada makna dalam komunikasi.

Memahami pandangan diatas, kecenderungan adanya perbedaan dalam suatu penafsiran terhadap suatu objek sangat mungkin terjadi, hal ini lebih disebabkan oleh perbedaan perkembangan yang terjadi di masyarakat, seperti dalam memberikan makna terhadap mitos Maung Panjalu yang selama ini dijadikan sebagai kerangka dalam beraktivitas khususnya berkenaan dengan keberadaan hutan lindung dan hutan keramat di Panjalu yang dalam pandangan masyarakat dimaknai sebagai kawasan peninggalam karuhun Panjalu yang harus dijaga karena dianggap sebagai kawasan religius. Namun demikian kecenderungan terjadi adanya pemaknaan yang berbeda terhadap mitos Maung Panjalu sangat mungkin terjadi.

Djajasudarma (2009:7) mengemukakan terdapat adanya 12 jenis makna, yakni: 1) makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran, 2) makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan, 3) makna kognitif adalah makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan, 4) makna konotatif dan emotif, makna yang dibedakan dari makna

(20)

emitif karena yang disebut pertama bersifat negatif dan yang disebut kemudian bersifat positif, 5) makna referensial, adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), 6) makna kontruksi (contruction meaning), adalah makna yang terdapat dalam kontruksi, 7) makna leksikal dan

gramatikal (lexical meaning, semantic meaning, external meaning) adalah makna-makna unsur-unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa, dan lain-lain. Makna leksikal ini dimiliki unsur-unsur bahasa secara tersendiri lepas dari konteks, makna gramatikal, adalah makna yang menyangkut hubungan intra bahasa atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat, 8) makna idesional (ideational meaning) adalah makna yang muncul sebagai akibat penggunaan kata yang berkonsep, 9) makna proposisi (propositional meaning) adalah makna yang muncul bila kita membatasi pengertian tentang sesuatu, 10) makna pusat (contral meaning) adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran, 11) makna Piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca, 12) makna idiomatic adalah makna leksikal terbentuk dari beberapa kata yang menghasilkan makna berlainan.

(21)

BAB III

METODE PENELTIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Cara ilmiah berarti dalam mendapatkan data dilandasi oleh metode keilmuan. Menurut Sugiyono (1997:1) menyatakan bahwa “Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu”.

Moleong (2011:4) menyatakan bahwa “Metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati”. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang mengungkap situasi sosial tertentu dengan mendeskripsikan kenyataan secara benar, dibentuk oleh kata-kata berdasarkan teknik pegumpulan data dan analisis yang relevan yang diperoleh dari situasi alamiah”.

Pemilihan metode penelitian berdasarkan pada suatu permasalahan yang akan diteliti, karena penggunaan metode penelitian yang tepat menunjukkan tingkat relevansi dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai. Menurut pendapat Winarno Surakhmad (1994:13) mengemukakah bahwa metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan teknik dan alat-alat tertentu. Cara utama ini dipergunakan setelah peneliti memperhitungkan kewajaran ditinjau dari penelitian serta situasi dan kondisi peneliti.

Metode penelitian adalah sebuah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Data yang diperoleh adalah data empiris (teramati), mempunyai kriteria tertentu, valid antara data yang sesunggguhnya pada objek dan data yang dikumpulkan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, karena objek yang diamati adalah manusia dalam kawasannya sendiri

(22)

dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasa dan peristilahannya. (Moleong, 1994:3).

Berdasarkan pendapat di atas, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang mendeskripsikan suatu peristiwa, perilaku orang atau suatu keadaan pada tempat tertentu secara rinci dan mendalam dalam bentuk narasi. Karakteristik metode penelitian kualitatif adalah dilakukan dalam kondisi ilmiah, langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen kunci, penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada produk, pendekatan etnografi digunakan dalam upaya melengkapi data baik secara lisan maupun secara tertulis.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini adalah Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya

3.3 Populasi dan Sampel.

Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dalam lima cara, 1) seleksi sederhana yaitu menggunakan satu kriteria, 2) seleksi konprehnsif yaitu seleksi berdasarkan unsur relevan, 3) seleksi kuota, yaitu populasi dijadikan beberapa kelompok, 4) seleksi menggunakan perbandingan, yaitu untuk memperoleh ciri tertentu.

Sampling adalah merupakan teknik pengumpulan sampel, untuk digunakan dalam suatu penelitian. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel bertujuan (purposive sampling) berstrata yang disesuaikan dengan objek penelitian. Agar data yang diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian, maka dibutuhkan adanya sejumlah informan yang dijadikan sumber data dalam penelitian ini.

3.4 Tahapan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan. Tahapan pertama dari kegiatan penelitian ini meliputi penyusunan instrumen yang dibutuhkan, baik itu instrumen yang dibutuhkan untuk memperoleh data kualitatif. Tahap selanjutnya

(23)

yaitu pengujian instrumen yang akan digunakan. Adapun prosedur dari kegiatan penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

(Gambar 3.1. Tahahapan-Tahapan Penelitian)

3.5 Strategi Penelitian

Pada kegiatan penelitian ini strategi/model yang digunakan adalah strategi triangulasi konkuren. Dalam menggunakan strategi ini peneliti mengumpulkan data kualitatif dalam satu waktu yang bersamaan.

Pada strategi ini pencampuran kedua data dilakukan pada saat interpretasi dan pembahasan. Pencampuran tersebut dilakukan dengan menggabungkan kedua data secara berdampingan dalam pembahasan agar dapat dilihat masing-masing data yang diperoleh saling mendukung. Alasan pemilihan strategi ini adalah karena strategi ini dapat dilakukan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Hal ini karena pengumpulan data kualitatif dilakukan dalam satu waktu yang sama. 3.6 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen penelitian atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Penelitian kualitatif sebagai indikator

Studi Pendahuluan

Analisis Lingkungan Penyusunan instrumen

Pengambilan Data Pengolahan Data Kesimpulan

(24)

penelitian instrumen berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas semuanya. Dalam penelitian kualitatif segala sesuatu yang akan dicari dari objek penelitian belum jelas dan pasti masalahnya, sumber data, hasil yang diharapkan semuanya belum jelas.

Rancangan penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti memasuki objek penelitian. Realitas penelitian bersifat holistik (menyeluruh), dinamis, tidak dapat dipisahkan kedalam variabel-variabel penelitian.

3.7 Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Djam’an Satori dan Aan Komariah (2011:27) menyatakan bahwa “penelitian kualitatif pergi kelapangan dan mengamati serta terlibat secara intensif sampai ia menemukan secara utuh apa yang dimaksudnya”. Maleong (2011:11) menyatakan bahwa “ ciri penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka”. Dengan demikian data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini merupakan hasil pengamatan langsung berupa kata-kata, gambar, yang akan dianalisa serta diinterpretasikan untuk mencapai tujuan penelitian.

Untuk memudahkan dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu :

1. Observasi yang bertujuan untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan focus penelitian, yaitu makna dan persepsi kujang dan bentuk aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat yang berada disekitar antar objek penelitian. Teknik ini digunakan dengan mempertimbangkan pengamat dapat melihat secara langsung dilapangan, menghindarkan adanya data yang meragukan dan terbatasnya wilayah penelitian. Observasi lapangan sebagai teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan untuk mendapatkan gambaran yang aktual secara sistematik terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek.

(25)

2. Observasi partisipasi adalah mencari informasi dengan cara peneliti terlibat dalam kegiatan di masyarakat.

3. Teknik wawancara yaitu suatu bentuk komunikasi verbal yang bertujuan memperoleh informasi. Adapun jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terbuka, wawancara terstruktur, dan wawancara tidak terstruktur.

Triangulasi adalah mengecek kebenaran data atau informasi yang diperoleh peneliti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan cara mengurangi sebanyak mungkin bias yang terjadi pada saat pengumpulan dan analisis data sebagai cara untuk meningkatkan pengukuran validitas. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi teori dengan cara mengecek kebenaran temuan atau data teori-teori yang ada, triangulasi sumber data dengan cara mencari data dari sumber yang beragam yang masih terkait satu sama lain, dan triangulasi pakar dengan cara mengecek kebenaran temuan atau data dengan konfirmasi kepada beberapa orang yang dinilai oleh kalangan sebagai ahli atau pakar dibidang yang bersangkutan.

Pengolahan dan analisis data secara kualitatif dilakukan dengan dua cara. Menurut pendapat Sumaatmaja (1998:14) analisis data merupakan pengolahan dan interpretasi data untuk menguji kebenaran hipotesis dan menarik kesimpulan hasil penelitian.

Secara sistematis langkah-langkah dalam penelitian adalah : a. Analisis data dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung b. Analisis data dilakukan setelah data terkumpul

Cara pertama dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

a. Penegasan pada tujuan penelitian yaitu kearifan lokal pada upacara hajat laut yang berpengaruh terhadap pelestarian lingkungan

b. Berpedoman pada pertanyaan wawancara

c. Memasukkan data pada bagan sesuai dengan fokus penelitian

d. Memberikan pemaknaan secara umum tterhadap data yang diperoleh e. Memberikan catatan-catatan khusus apabila diperlukan

(26)

Cara kedua, data yang terkumpul sebagai hasil pengamatan, wawancara, direkonstruksi kedalam teks, kemudian dianalisis. Reduksi data dilakukan dengan cara merangkum memilih hal-hal pokok dan penting sehingga memberi gambaran yang jelas dan mempermudah peneliti mengumpulkan data.

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (1997). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bina Aksara

Awan Mutakin. (1987). Studi Masyarakat Indonesia. Bandung : Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah

Azwar, Saifuddin.(1998). Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Edisi ke-2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Bratha. (1991). Partisipasi, komunikasi, Persuasi, dan Disiplin dalam Pembangunan, Penerbit Alumni, Bandung

Dodih Heryadi. (2005). Mitos : Nilai Kearifan Masyarakat Tradisional. Tasikmalaya : tanpa penerbit

Djam’an satori dan Aan Komariah. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta

Khairuddin, (2000). Pembangunan Masyarakat, Yogyakarta : Liberty

Koentjaraningrat (1998). Masyarakat Desa di Indonesia, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, Jakarta.

Koswara, E. (1999). Motivasi Teori dan Penelitiannya. Bandung : Alumni. Lexi J. Moleong (2009). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : UI

Lexi J. Moleong (2011). Edisi Revisi:Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : UI Marfai, Muh Aris. (2012). Pengantar Etika Lingkungan dan Kearifan Lokal.

Gajah Mada University Press. Yogyakarta

Mutakin, Awan. (1997). Studi Masyarakat Indonesia. FIPS IKIP : Bandung Natawijaya, Rochman. (1994). Metodologi Penelitian. Bandung : Bumi Aksara. Satori, Djam’an dan Komariah, Aan (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung : Alfabeta

(28)

Lampiran 1 :

Anggaran Biaya Penelitian 1 GAJI DAN UPAH

Honor Honor/Jam (Rp) Waktu (Jam/Minggu) Total Minggu Honor Per Tahun

Ketua 17.500 5 32 Rp 2.800.000

Anggota 12.500 5 32 Rp 2.000.000

SUB TOTAL Gaji dan Upah Rp 4.800.000 2

Material Justifikasi Pemakaian Kuantitas Satuan Harga Satua Biaya Per Tahun

Pengadaan Catridge Black Printout 1 350.000 350.000

Pengadaan Catridge Colour Printout 1 400.000 400.000

Pengadaan Modem Searching dan Browsing 2 350.000 700.000

Flasdis Penyimpanan Data 2 250.000 500.000

Hardisk Eksternal Penyimpanan Data 1 950.000 950.000

Sub Total 2.900.000

3 Bahan habis pakai

CD-R Menyimpan Data 1 Pack 100.000 100.000

Plastik CD Tempat CD 1 Pack 20.000 20.000

Label CD Identitas CD 1 Pack 20.000 20.000

Kertas HVS A4 80gr Print out 5 40.000 200.000

Kertas Polio Rancangan Instrumen 1 37.000 37.000

Kertas Buram Penelitian 2 30.000 60.000

Spidol Menulis 2 80.000 160.000

Stepler ATK 2 20.000 40.000

File Holder Penyimpanan Dokumen 4 25.000 100.000

Materai 6000 Usulan dan laporan penelitian 10 6.000 60.000

Materai 3000 Laporan penelitian 30 3.000 90.000

Ballpoint Kebutuhan lapangan 60 7.500 450.000

Pulsa Internet Browsing Studi Literatur 12 Paket 150.000 1.800.000 Map Penyimpan bahan dokumentasi 1 Paket 25.000 25.000 Blok Note Mencatat data lapangan 2 Lusin 80.000 160.000

Cutter Kebutuhan lapangan 3 Buah 16.000 48.000

Gungting Kebutuhan lapangan 3 Buah 10.000 30.000

Isi Stepler Kebutuhan lapangan 1 Pack 30.000 30.000

Stepler Kebutuhan lapangan 2 Buah 15.000 30.000

Spidol Kebutuhan lapangan 2 Dus 70.000 140.000

Tinta Pencetakan laporan 4 Buah 100.000 400.000

Pulsa Telepon Komunikasi 1 1.000.000 1.000.000

Sub Total 5.000.000 3 lain-lain Dokumentasi Dokumentasi 1 400.000 400.000 Publikasi 1 700.000 700.000 Photocopy laporan 1 200.000 200.000 Photocopy Proposal 1 100.000 100.000

Biaya penyebaran Instrumen 1 400.000 400.000

Biaya Perjalanan (BBM) 1 1.500.000 1.500.000

Photocopy Studi Literatur 1 1.500.000 1.500.000

Sub Total 4.800.000

Total 17.500.000

(29)

LAMPIRAN 2. Biodata Ketua dan Anggota

1. Biodata Ketua Peneliti A. Identitas Diri

1

Nama Lengkap (dengan gelar)

Dr. Dodih Heryadi. Drs., M.Pd.

2 Jenis Kelamin Laki-laki

3 Jabatan Fungsional Lektor 4 NIP/NIK/Identitas lainnya

-5 NIDN 0426065801

6 Tempat dan Tanggal Lahir Tasikmalaya, 26 Juni 1958

7 E-mail [email protected]

8 Nomor Telepon HP 08132312990

9 Alamat Kantor Jl. SiliwangiNo. 24 Kota Tasikmalaya 10 Nomor Telepon Faks

11 Lulusan yang Telah Dihasilkan S1 = - orang, S2 = - orang, S3 = - orang 12 Mata Kuliah yang Diampu

1. Studi Masyarakat Indonesia 2. Pengantar Ilmu Sosial 3. Sejarah Sosial

A. Riwayat Pendidikan

No. Nama Sekolah / Perguruan Tinggi Tahun

1 SD Negeri Bojong 1971

2 SMP Negeri 2 Tasikmalaya 1974

3 SMA Negeri 2 Tasikmalaya 1978

4 S – 1 Antropologi / UNPAD Bandung 1983

5 S – 2 PKLH / Universitas Siliwangi Tasikmalaya 2004

6 S – 3 Ilmu Budaya / UNPAD Bandung 2014

B. Pengalaman Kerja / Jabatan

No. Lembaga / Instansi Tahun

1. Dosen Tidak Tetap pada Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNSIL 1986

(30)

No. Lembaga / Instansi Tahun 3. Dosen Tidak Tetap Pasca Sarjana UNSIL 2014 – skrg 4. Kepala Microteaching FKIP Universitas Siliwangi 2015-sekarang

C. Pengalaman Seminar atau Workshop

No. Tema Tempat Tahun Keterangan

1. Nara Sumber Seminar Budaya Tasikmalay 2015 Narasumber 2. Manajemen Pertunjukan Tasikmalaya 2015 Narasumber 3. Seminar Pendidikan Wawasan kebangsaan Tasikmalaya 2016 Narasumber

D. Penelitian yang Pernah Dilakukan / Penulisan Buku

No. Judul Sumber Dana Tahun

1.

Simbol Kuda Kuningan Sebagai Nilai Kearifan

Masyarakat Kuningan. Mandiri 2008

2. Mitos dan Pelestarian

Lingkungan Mandiri 2011

3. Peran Mitos Maung Panjalu

Sebagai Media Konservasi Mandiri 2014

E. Pengalaman Berorganisasi / Kemasyarakatan

No. Nama Organisasi Jabatan Tahun

1 Paguyuban Sundawani Penasehat 2013-skrg

2 MSI Anggota 2004-skrg

 

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima risikonya. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu syarat dalam pengusulan Penelitian Dosen

(31)

Pembina dengan Judul “Makna Simbol Kujang Pada Masyarakat Kampung Naga”.   Tasikmalaya, 13 Februari 2017 Dr. Dodih Heryadi, Drs., M.Pd. NIDN 0426065801

(32)

2. Biodata Anggota Peneliti

B. Identitas Diri

1

Nama Lengkap (dengan

gelar) Zulpi Miftahudin, M.Pd.

2 Jenis Kelamin Laki-laki

3 Jabatan Fungsional Asisten Ahli 4 NIP/NIK/Identitas lainnya 4112086044

5 NIDN 0429128101

6 Tempat dan Tanggal Lahir Cianjur, 29 Desember 1981

7 E-mail [email protected]

8 Nomor Telepon HP 08121435681

9 Alamat Kantor Jl. SiliwangiNo. 24 Kota Tasikmalaya 10 Nomor Telepon Faks

11 Lulusan yang Telah Dihasilkan S1 = - orang, S2 = - orang, S3 = - orang 12 Mata Kuliah yang Diampu 4. Sejarah Intelektual 5. Belajar dan Pembelajaran Sejarah

C. Riwayat Pendidikan S1 S2 S3 Nama Perguruan Tinggi Universitas Siliwangi Universitas Siliwangi -

Bidang Ilmu Pendidikan Sejarah PKLH -

Tahun Masuk-Lulus 2000-2004 2009-2011 -

Judul skripsi/ Tesis/ Disertasi Pengaruh Nilai-nilai Tradisional Masyarakat Kampung Naga Terhadap Tingkat Pendidikan Anak Masyarakat Kampung Naga Perbedaan hasil belajar pada model pembelajaran contextual teaching and learning (ctl) dengan model pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement divisions (stad) -

(33)

(studi pada mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup materi pokok pencemaran lingkungan di kelas xii-ipa sma al-muttaqin kota tasikmalaya) Nama Pembimbing/

Promotor

Dodih Heryadi,

M.Pd. Prof. Dr. H. Ahman Sya, M.Pd.

-

D. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir

(Bukan Skripsi, Tesis, maupun Disertasi)

No Tahun Judul Penelitian Pendanaan Sumber * Jml(Juta Rp)

1. 2015

Pengaruh penerapan model

pembelajaran kooperatif tipe

team games tournament (tgt)

pada materi sejarah hindu

budha

dalam

upaya

meningkatkan hasil belajar

ips

(penelitian terhadap siswa

kelas v sd negeri mangunreja

2

Kabupaten tasikmalaya)

Mandiri 5.000.000

2. 2012 penerapan model pembelajaran kooperatif

tipe team games tournament (tgt) pada mata kuliah sejarah intelektual untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa program studi pendidikan sejarah fkip universitas siliwangi

LPPM 2.500.000

(34)

E. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir No Tahun Judul Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan

Sumber * Jml(Juta Rp)

1 2012 Penyuluhan pengelolaan Situs Sejarah Nagara Tengah di Cineam Kabupaten Tasikmalaya LPPM Unsil 1.500.000 2 2014 Sosialisasi Kurikulum 2013 di SD Negeri Sukasari 1 Mandiri

*Tuliskan sumber pendanaan baik dari skema pengabdian kepadamasyarakat DIKTI maupun dari sumber lainnya

F. Publikasi Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun Terakhir

No Judul Artikel Ilmiah Jurnal Nama Volume/Nomor/Tahun

1. Pengembangan pembelajaran Sejarah berbasis IT

Peadago gi

Vol. 1/ No.1/ 2013

G. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir No. Nama Pertemuan Ilmiah/ Seminar Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat

1. Seminar nasional menyongsong kurikulum Seminar nasional menyongsong kurikulum Univ. Siliwangi

H. Penghargaan dalam 10 Tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau institusi lainnya)

No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan Tahun

1. Pelatihan Karya Tulis Ilmiah dan Peranan Media Massa dalam Dunia Pendidikan

2010

2. Workshop Pengembangan Program

Latihan Propesi (PLP) 2014

3. Workshop Penyusunan Pedoman Penulisan Skripsi

2014 4. Workshop Evaluasi Kurikulum dan

Pengembangan Silabus

2014

5. Workshop Pengembangan KKNI 2014

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima risikonya. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu syarat dalam pengusulan Penelitian Dosen

(35)

Pembina dengan Judul "Makna Simbol Kujang Pada Masyarakat Kampung Naga". Tasikmalaya, 13 F ebruari 2017 Pengusul Zulpi Miftahudin, M. d. NIDN 0429128101

(36)

-Lampiran 4: Surat Pernyataan Ketua Peneliti

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SILIWANGI

Jl. Siliwangi Nomor 24 Kotak Pos 164 Tlp. (0265) 323532 Fax. (0265) 325812 Tasikmalaya 45115

Website: fkip.unsil.ac.id Email: fkip [email protected]

SURAT PERNYAT AAN KETUA PENELITI

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Dr. Dodih Heryadi, Drs., M.Pd.

NIDN : 0426065801

Pangkat/ Golongan : Penata Utama

I

Hid

Jabatan Fungsional : Lektor

Dengan ini menyatakan bahwa proposal penelitian saya dengan judul : "Makna Simbol Kujang Pada Masyarakat Kampung Naga". yang diusulkan dalam skema Penelitian Dosen Pembina untuk tahun anggaran 2017 bersifat original dan belum pernah dibiayai oleh lembaga atau sumber dana lain. Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengembalikan seluruh biaya yang sudah diterima ke kas negara.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan

sebenar-benarnya. Tasikmalaya, 13 Februari 2017 RUPIAH . ~ '1<_- - -Dr. Dodih Heryaai, Drs., M.Pd. NIDN 0426065801

'

Referensi

Dokumen terkait

4.2.1.1 Nilai perpindahan termal menyeluruh atau OTTV untuk setiap bidang dinding luar bangunan gedung dengan orientasi tertentu, harus dihitung melalui persamaan:. OTTV = α [(U W

Dalam hal ini, subtitusi bahasa antar etnis Melayu Sambas dengan etnis Jawa di Dusun Kedondong berbeda dan menyebabkan perubahan budaya yang terjadi saat

Sebagai perbandingan bangunan fasilitas cottage, ada beberapa kawasan wisata dengan fasilitas akomodasinya yang memanfaatkan lingkungan sekitarnya sehingga fasilitas wisata

Hal ini dapat terjadi melalui dua mekanisme yaitu diawali dengan terjadinya hipertrofi ventrikel kiri yang menyebabkan kepayahan otot jantung dalam memompa, maupun

Hasil penelitian klien III (SBN) klien kurang bertanggung jawab dan kurang perhatian dari orangtua yang menyebabkan ia berani dengan orang tua. Penerapan

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang berjudul “PELAKSANAAN PENDAFTARAN HAK ATAS TANAH UNTUK MEMPEROLEH KEPASTIAN HUKUM MELALUI PROGRAM NASIONAL AGRARIA

Orang Kelantan, walau pun yang berkelulusan PhD dari universiti di Eropah (dengan biasiswa Kerajaan Persekutuan) dan menjawat jawatan tinggi di Kementerian atau di Institusi

bahwa dengan telah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler