• Tidak ada hasil yang ditemukan

19. survei geofisika terpadu daerah panas bumi Lainea

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "19. survei geofisika terpadu daerah panas bumi Lainea"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

SURVEI GEOFISIKA TERPADU DENGAN METODA GEOMAGNET,

GAYA BERAT DAN GEOLISTRIK, DAERAH PANAS BUMI LAINEA, KABUPATEN

KONAWE SELATAN, PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Eddy Sumardi

1

, Syuhada Arsyadipoera

2

, Ary Kristianto A.W.

3 1,2,3

Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi Bandung

SARI

Daerah panas bumi Lainea adalah suatu sumberdaya panas bumi tipe entalpi

sedang, terletak di Kabupaten Konawe Selatan , Provinsi Sulawesi Tenggara. Survei

geofisika terpadu dengan metoda geomagnet, gaya berat dan geolistrik telah

dilaksanakan didaerah tersebut. Secara Objektif survei geofisika terpadu ini adalah

untuk mendeliniasi batas-batas reservoar dan struktur geologi yang mengontrol aliran

fluida panas bumi.

Dari peta anomali magnet total secara umum sebaran anomalinya

mempelihatkan pola yang cenderung rendah dibagian utara daerah penyelidikan dan

relatif tinggi dibagian selatan. Sedangkan dari analisis terhadap anomali magnet total

dengan beberapa beberapa jenis pengolahan data, antara lain dengan reduce to the

pole, upward continuation dan pseudo gravity didapat hasil yang berbeda. Dari

anomali magnet yang telah di reduce to the pole anomali magnet rendah cenderung

membentuk spot-spot dengan pola kontur yang tertutup disekitar mata airpanas.

Dengan pengolahan data secara upward continuation anomali rendah tersebar di

sekitar mata airpanas dan sedikit melebar kearah selatan. Dan dengan pengolahan

data secara pseudo gravity hasilnya hampir sama dengan pola anomali pada upward

continuation. Sedangkan pola kelurusannya (struktur geologi) agak tidak beraturan,

tetapi secara umum dari anomali magnet total trendnya berarah hampir

baratlaut-tenggara, yaitu batas antara anomali rendah dan tinggi mengikuti stuktur geologi

regional (sesar Kolono).

Peta anomali bouguer memperlihatkan 3 kelompok anomali yang cukup

mencolok, yaitu anomali rendah dibagian utara dan barat daerah penyelidikan, anomali

sedang menutupi hampir semua daerah dibagian utara, selatan dan timur, sedangkan

anomali tinggi menutupi bagian tengahnya. Perbedaan anomali yang mencolok antara

anomali sedang dan tinggi ini mungkin menunjukan adanya struktur patahan yang

mempunyi trend baratdaya-timurlaut yang mengapit kumpulan mata airpanas didaerah

ini, anomali ini juga hampir sama dengan pola anomali tinggi pada peta anomali

bouguer sisanya.

(2)

Hasil kompilasi dari ketiga metode geofisika dengan data geologi dan geokimia

menunjukan bahwa daerah prospek panas bumi Lainea terletak disekitar mata

airpanas Lainea dan meluas sedikit kearah utara dan selatan dengan luas area sekitar

15 km

2

. Kedalaman puncak reservoar belum dapat ditentukan oleh metoda geolistrik.

Estimasi potensi energi

PENDAHULUAN

Kabupaten Sanggau dan Kapuas

Hulu terletak di bagian tengah sebelah

utara provinsi Kalimantan Barat. Dari

tataan geologi yang ada, wilayah di

kedua kabupaten tersebut tidak berada

di jalur gunung api yang merupakan

daerah potensial bagi keberadaan

potensi sumber daya panas bumi.

Daerah tersebut berada pada bagian

barat Pulau Kalimantan yang merupakan

jalur subduksi tua hasil dari tumbukan

lempeng samudera Laut Cina Selatan

dengan lempeng benua Eurasia. Namun

pada kenyataannya di kedua kabupaten

tersebut dijumpai indikasi keberadaan

sumber daya panas bumi berupa

pemunculan mata air panas, yaitu dua di

Kabupaten Sanggau, mata air panas

Sipatn Lotup 1 dan Sipatn Lotup 2, dan

satu di Kabupaten Kapuas Hulu, mata

air panas Nanga Dua.

Selama ini, belum ada informasi yang

menjelaskan mengenai adanya

penelitian kepanasbumian di kedua

daerah tersebut. Namun demikian

beberapa penelitian kegeologian tercatat

pernah dilakukan, antara lain oleh

Bemmelen (1939), JICA (1982),

Supriatna, dkk., (1993), dan Surono,

dkk., (1993). Penelitian geologi oleh

Supriatna, dkk. menunjukkan bahwa

aktivitas vulkanisme di daerah ini telah

berlangsung sejak Trias hingga Awal

Kapur, diinterpretasikan sebagai busur

magmatik. Kemudian aktivitas tersebut

masih berlanjut dari Kapur Atas sampai

Oligosen pada jalur Busur Magmatik

tepian Benua yang mencirikan adanya

tubuh terobosan dan erupsi vulkanik.

Pemunculan manifestasi air

panas pada daerah dengan tataan

geologi seperti tersebut di atas menarik

untuk dipelajari. Dalam rangka

inventarisasi potensi panas bumi dan

untuk mempelajari karakteristik sistem

panas bumi yang ada di Kabupaten

Sanggau dan Kapuas Hulu dilakukan

penyelidikan pendahuluan panas bumi

dengan menggunakan metode geologi

dan geokimia. Dari penyelidikan ini

didapatkan parameter-parameter

kepanasbumian yang akan menentukan

tindak lanjut penyelidikan

kepanasbumian di daerah ini.

METODOLOGI

Penyelidikan panas bumi di

Kabupaten Sanggau dan Kapuas Hulu

dilakukan dengan metode penyelidikan

geologi dan geokimia. Metode

penyelidikan geologi mempelajari

sebaran batuan dan manifestasi panas

bumi, serta beberapa parameter geologi

lain yang berperan terhadap pemunculan

manifestasi dan pembentukan sumber

daya panas bumi di kedua daerah

tersebut. Metode ini dilakukan melalui

pengamatan, pengukuran langsung

gejala-gejala geologi, pengambilan

contoh batuan, dan analisis laboratorium

(petrografi, PIMA, dan fission

track/K-Ar/X-Ray defraction).

(3)

sampel mata air panas dan mata air

dingin yang dijumpai di daerah

penyelidikan. Metode ini juga

mempelajari pola sebaran temperatur,

pH dan senyawa kimia tertentu dalam

tanah dan udara tanah sebagai upaya

memperkirakan luas dan lokasi daerah

prospek panas bumi (lokasi dan luas

reservoir panas bumi secara lateral).

Metode ini dilakukan melalui

pengamatan kenampakan gejala panas

bumi, pengukuran sifat fisika manifestasi

panas bumi, pengambilan contoh air

panas dan air dingin, pengambilan

contoh tanah dan udara tanah pada

kedalaman maksimal satu meter, dan

analisis laboratorium.

HASIL PENYELIDIKAN

Hasil penyelidikan menunjukkan

bahwa di Kabupaten Sanggau dijumpai

pemunculan dua mata air panas yaitu

mata air panas Sipatn Lotup 1 dan

Sipatn Lotup 2 dengan temperatur

55,6

o

C dan 57

o

C, pH 6,97 dan 7,19,

serta debit 4 dan 1 liter/detik. Sementara

di Kabupaten Kapuas Hulu dijumpai

sebuah mata air panas yaitu mata air

panas Nanga Dua dengan temperatur

28

o

C, pH 7,63 dan debit 2 liter/detik.

Lokasi mata air panas Sipatn Lotup 1

dan Sipatn Lotup 2 di desa Sape,

Kecamatan Jangkang, Kabupaten

Sanggau, sementara mata air panas

Nanga Dua di desa Nanga Dua,

Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten

Kapuas Hulu. Berdasarkan sebaran

manifestasi panas bumi yang dijumpai di

kedua daerah tersebut, selanjutnya

daerah penyelidikan dikelompokan ke

dalam dua daerah yaitu daerah panas

bumi Sape dan Nanga Dua.

Daerah Panas Bumi Sape

Geologi

Berdasarkan bentuk bentang alam

dari ciri–ciri di permukaan dan

perhitungan analisis morfometri serta

morfografi, geomorfologi daerah Sape

dikelompokkan menjadi daerah

perbukitan bergelombang dan daerah

pedataran yang berbentuk zona depresi

yang dibentuk oleh aktivitas tektonik

yang berkembang di daerah daerah

tersebut.

Analisis petrografi terhadap sampel

batuan yang diambil di lapangan

menunjukkan bahwa stratigrafi batuan di

daerah panas bumi Sape terdiri dari tiga

satuan batuan, yaitu satuan batuan

malihan, berupa satuan meta

batugamping berumur Karbon, dan dua

satuan batuan sedimen yaitu batupasir

dan batulempung berumur Karbon-Perm.

Sementara struktur geologi yang

berkembang didominasi oleh sesar-sesar

normal berarah baratdaya-timurlaut yang

di bagian tengah daerah survei

membentuk suatu zona depresi sempit

dan juga mengontrol kemunculan

manifestasi mata air panas Sipatn Lotup.

Total energi panas yang hilang (heat

loss) pada manifestasi panas bumi

daerah Sape adalah sebesar 576 kW

th

.

Geokimia

Manifestasi panas bumi yang

dijumpai di wilayah Kab. Sanggau hanya

berupa pemunculan mata air panas yaitu

mata air panas Sipatn Lotup 1 dan

Sipatn Lotup 2 dengan temperatur 55,6

o

C dan 57

o

C, pH 6,97 dan 7,19, serta

debit 4 liter/detik dan 1 liter/detik. Kedua

air panas tersebut dijumpai di kampung

Pruntan, Desa Sape, Kec. Jangkang .

(4)

bikarbonat, sementara plot pada diagram

segitiga Na-K-Mg menunjukkan bahwa

sampel air panas tersebut termasuk

immature water. Hasil analisis tersebut

mengindikasikan bahwa mata air panas

di Sape telah mengalami percampuran

dengan air permukaan dalam

perjalanannya menuju ke permukaan.

Hal ini diperkuat dengan hasil analisis

dengan grafik Schoeller yang

menunjukkan kemiripan pola antara

grafik logaritma konsentrasi anion dan

kation air panas dengan air dingin.

Plot pada grafik isotop Oksigen

18 dan Deuterium menunjukkan bahwa

terjadi pengayaan oksigen 18, namun

posisi sampel air panas yang berada

tidak begitu jauh dari garis air meteorik

mengindikasikan adanya percampuran

dengan air permukaan.

Pendugaan suhu reservoir dilakukan

dengan geothermometer ion/senyawa

terlarut dalam sample air panas.

Pendugaan suhu dengan metode

diagram silika entalpi diperkirakan

merupakan cara terbaik mengingat

kemungkinan adanya percampuran air

panas dengan air permukaan. Hasil

pendugaan menunjukkan suhu reservoir

daerah panas bumi Sape sekitar 135

o

C.

Hasil analisis sampel tanah

menunjukkan konsentrasi Hg tanah

daerah panas bumi Sape bernilai antara

21,12 ppb sampai dengan 574,58 ppb.

Berdasarkan hasil penghitungan nilai

ambang (background value) Hg tanah

dengan metode distribusi dan populasi

dari semua titik amat, diperoleh

kesimpulan bahwa nilai anomali

konsentrasi Hg tinggi (diatas 200 ppb)

berada di sekitar pemunculan mata air

panas.

Daerah Panas Bumi Nanga Dua

Geologi

Daerah panas bumi Nanga Dua

memiliki geomorfologi yang didominasi

oleh perbukitan bergelombang dan

pedataran

Stratigrafi daerah Nanga Dua

disusun oleh 3 satuan batuan, yang

terdiri dari 1 satuan batuan sedimen

berupa perselingan batuan serpih,

batulempung, dan batupasir berumur

Kapur, serta 2 satuan batuan beku

berkomposisi granodiorit dan diorit

berumur Eosen.

Dari hasil pentarikhan jejak belah (fission

track)

pada satuan batuan diorit

menunjukkan umur 42 ± 2,5 juta tahun

atau Kala Eosen, satuan ini diperkirakan

sebagai produk terakhir aktivitas

magmatik di daerah ini.

Struktur geologi yang

berkembang di daerah penyelidikan

didominasi oleh sesar-sesar mendatar

berarah relatif barat-timur dan baratlaut

tenggara yang mengontrol pemunculan

manifestasi di daerah Nanga Dua, serta

sesar normal berarah baratlaut-tenggara.

Manifestasi panas bumi di daerah

penyelidikan berupa pemunculan mata

air panas Sipatn Api, dengan temperatur

38°C dan pH netral (7.63) . Total energi

panas yang hilang (heat loss) pada

manifestasi panas bumi daerah Nanga

Dua adalah sebesar 106,76 kW

th

.

Geokimia

Manifestasi panas bumi yang

dijumpai di wilayah Kab. Kapuas Hulu

berupa mata air panas yaitu mata air

panas Sipatn Api dengan temperatur

28

o

C, pH 7,63 dan debit 2 liter/detik. Air

panas tersebut dijumpai di Desa Nanga

Dua, Kec. Bunut Hulu.

(5)

mata air panas di daerah Sape, hasil

analisis tersebut juga mengindikasikan

bahwa mata air panas di Nanga Dua

telah mengalami percampuran dengan

air permukaan dalam perjalanannya

menuju ke permukaan. Hal ini diperkuat

dengan hasil analisis dengan grafik

Schoeller yang menunjukkan kemiripan

pola antara grafik logaritma konsentrasi

anion dan kation air panas dengan air

dingin.

Plot pada grafik isotop Oksigen

18 dan Deuterium menunjukkan bahwa

terjadi pengayaan oksigen 18, namun

posisi sampel air panas yang berada

tidak begitu jauh dari garis air meteorik

mengindikasikan adanya percampuran

dengan air permukaan.

Perkiraan suhu reservoir daerah

Nanga Dua juga dilakukan dengan

metode diagram silika entalpi dan

menunjukkan suhu reservoir daerah

panas bumi Nanga Dua sekitar 115

o

C.

Hasil analisis sampel tanah

menunjukkan konsentrasi Hg tanah

daerah panas bumi Nanga Dua bernilai

antara 30,78 – 1113,68 ppb. Nilai

anomali konsentrasi Hg tinggi (diatas

500 ppb) berada di sekitar pemunculan

mata air panas.

DISKUSI DAN PEMBAHASAN

Sistem Panas Bumi

Pembentukan sistem panas bumi

di daerah Sape dan Nanga Dua

diperkirakan berkaitan dengan reservoir

batuan sedimen. Pada reservoir batuan

sedimen ini ada beberapa kemungkinan

proses terbentuknya sistem panas bumi.

Berdasarkan data geologi daerah survei

yang merupakan bagian dari kraton

Kalimantan yang batuan dasarnya atau

basementnya merupakan batuan granit

dan ditutupi oleh pengendapan batuan

sedimen yang sangat tebal yang

kemudian diterobos oleh batuan beku

Tersier, maka ada 2 kemungkinan sistem

panas bumi yang terbentuk, yaitu sistem

radiogenik dan sistem sirkulasi dalam

(extention-driven).

Sistem radiogenik terbentuk

ketika terjadi peluruhan alamiah unsur

radioaktif (thorium, potassium,uranium)

yang banyak ditemukan pada batuan

beku granitik dan kemudian memanasi

air meteorik yang masuk di kedalaman

(Anderson & Lund, 1979). Sistem

sirkulasi dalam (extention-driven)

merupakan hasil dari sirkulasi dalam air

meteorik sepanjang zona sesar atau

zona rekahan pada daerah yang memiliki

heat flow yang tinggi (Anderson & Lund,

1979). Pembentukan sistem ini

berasosiasi dengan aktivitas sesar pada

pola extensional dimana sumber panas

diperkirakan berhubungan dengan

peningkatan gradien thermal di

kedalaman.

(6)

Perkiraan Potensi Panas Bumi

Perhitungan potensi panas bumi

dilakukan dengan metode perbandingan

atau rapat daya yang didasarkan pada

data-data di lapangan lain yang telah

dikembangkan. Besaran potensi pada

metode akan ditentukan oleh dua

parameter yaitu luas daerah prospek dan

temperatur reservoir. Temperatur

reservoir digunakan untuk

mengasumsikan nilai rapat daya atau

daya per satuan luas (MWe/km

2

),

didapatkan dari hasil pendugaan

temperatur reservoir dengan

geotermometer air. Luas daerah prospek

diperkirakan dari penyebaran manifestasi

permukaan, pelamparan struktur

geologinya secara global, dan dari data

geokimia berupa anomali Hg tanah dan

anomali CO

2

udara tanah.

Dari hasil perhitungan, daerah

panas bumi Sape mempunyai suhu

reservoir sebesar 135°C yang termasuk

dalam entalpi sedang sehingga

digunakan rapat daya sebesar 10

MWe/km

2

. Hasil kompilasi data geologi

dan geokimia menunjukkan luas daerah

prospek Sape sebesar 1,5 km

2

,

sehingga didapatkan nilai potensi pada

kelas sumber daya spekulatif daerah

Sape sebesar 15 MWe. Adapun daerah

panas bumi Nanga Dua diperkirakan

mempunyai temperatur reservoir

sebesar 115°C yang termasuk dalam

entalpi rendah dengan rapat daya

sebesar 5 MWe/km

2

. Dengan luas

daerah prospek sebesar 1 km

2

, maka

didapatkan nilai potensi daerah panas

bumi Nanga Dua sebesar 5 MWe pada

kelas sumber daya spekulatif.

KESIMPULAN

Sistem panas bumi daerah Sape,

Kabupaten Sanggau diperkirakan

berkaitan dengan proses peluruhan

unsur radioaktif pada batuan dasar

(granit) yang mengakibatkan terjadinya

anomali panas sehingga memanasi air

meteorik yang masuk di kedalaman

(radiogenic system?), sedangkan sistem

panas bumi daerah Nanga Dua,

Kabupaten Kapuas Hulu kemungkinan

berkaitan dengan sistem sirkulasi dalam

(extention-driven).

Daerah panas bumi Sape,

Kabupaten Sanggau diperkirakan

memiliki potensi panas bumi sebesar 15

Mwe pada kelas sumber daya spekulatif,

sedangkan daerah panas bumi Nanga

Dua diperkirakan memiliki potensi panas

bumi sebesar 5 MWe pada kelas yang

sama.

SARAN

Perlu dilakukan penelitian yang

lebih mendalam untuk mengetahui

gambaran sistem panas bumi yang

berkembang di sana, studi geokimia

isotop (Helium) merupakan salah

satunya. Terkait dengan pengembangan

daerah panas bumi Sape dan Nanga

Dua, untuk saat ini kedua daerah

tersebut belum merupakan prioritas

untuk dikembangkan.

PUSTAKA

Anderson, D.N. and J.W. Lund (Editors),

1979.

Direct Utilization of

Geothermal Energy: A Technical

Handbook, SpecialReport No. 7,

Geothermal Resoureces Council,

Davis,CA, 250 p.

JICA, Januari 1982, Report on

Geological Survei of West

Kalimantan.

(7)

Nicholson, Keith, 2003, Geothermal

Fluids : Chemistry and Exploration

Technique, Springer Verlag, Inc,

Berlin

O’Brien, Jeremi Mark, 2010,

Hydrogechemical Characteristics

of the Magmatic Geothermal Field

and Comparison with the Orakei

Koraka Thermal Area, New

Zealand, University of Canterbury.

R.W. Van Bemmelen, 1939, De Geologie

van het Westelijke en Zuiddenlijk

deel van de Westerafdeling van

Borneo

Supriatna S. dkk, 1993, Geologi Lembar

Sanggau, Kalimantan. Publ.P3G,

Bandung

(8)

Gbr 1. Peta indeks lokasi survei

Gbr 2. Peta geologi daerah panas bumi

lainea,Sultra.

(9)

Gbr 4a. Peta anomali magnet total daerah panas bumi Lainea

Gbr. 4b. Perbandingan anomali magnet total,anomali magnet total hasil reduksi ke kutub dan anomali pseudo gravity dari data magnet

Gbr. 4c. Anomali magnet hasil reduksi ke kutub dan upward continuation

-25 0

(10)

Gbr. 5. Peta anomali Bouguer daerah panas bumi Lainea, Sultra

Gbr. 6. Peta anomali Sisa daerah panas bumi Lainea – Sultra

Gbr. 7a. Peta tahanan jenis semu AB/2 = 250 m daerah panas bumi Lainea

(11)

Gbr. 7c. Peta tahanan jenis semu AB/2 = 750 m daerah panas bumi Lainea

Gbr. 7d. Peta tahanan jenis semu AB/2 = 750 m daerah panas bumi Lainea

Gbr. 8a. Penampang tahanan jenis semu lintasan A daerah panas bumi Lainea

Gbr. 8b. Penampang tahanan jenis semu lintasan B daerah panas bumi Lainea

25

50 50

75

75

100

100

200

B2000 B2500 B3000 B3500 B4000 B4500 B5000 B5500

-1000 -500 0 500

(12)

Gbr. 8c. Penampang tahanan jenis semu lintasan C daerah panas bumi Lainea

Gbr. 8d. Penampang tahanan jenis semu lintasan D daerah panas bumi Lainea

Gbr. 8e. Penampang tahanan jenis semu lintasan E daerah panas bumi Lainea

Gbr. 8f. Penampang tahanan jenis semu lintasan F daerah panas bumi Lainea

Gbr. 8g. Penampang tahanan jenis semu lintasan G daerah panas bumi Lainea

(13)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga listrik itu Pemerintah Pusat melalui Pusat Sumber Daya Geologi telah melakukan survai terpadu energi alternatif panas bumi di Kampung

Zona prospek diperkirakan berada di bagian selatan, sekita manifestasi air panas Sumani, Tangjung Bikuang dan Lubuk jange yang didukung oleh adanya kumpulan anomali

SURVEI GEOLOGI DAN GEOKIMIA DAERAH PANAS BUMI TAMIANG HULU KABUPATEN ACEH TAMIANG, PROVINSI

Aplikasi metode geofisika gaya berat dan Audio Magnetotellurik (AMT) dilakukan untuk mengidentifikasi sesar geologi yang diperkirakan mengkonstruksi sistem panas

Tahanan jenis rendah < 20 Ohm-m terdapat secara konsisten berada di lintasan B dekat airpanas dan di lintasan C disekitar titik amat C- 8000 yaitu disekitar terdapatnya

Setelah dilakukan pengolahan dan analisis data seluruh prospek panas bumi daerah penelitian ditinjau dari geologi dan geokimia, kemudian tahap akhir dilakukan

Tugas akhir ini berjudul Eksplorasi Panas Bumi Dengan Metode Geofisika dan Geokimia Pada Daerah Bonjol, Kabupaten Pasaman-Sumatera Barat dan diajukan sebagai syarat

peta kompilasi daerah panas bumi Wapsalit (Gambar 8). 1) Prospek panas bumi daerah Wapsalit berada di lingkungan batuan metamorf derajat rendah. 2) Sumber Panas sistem panas