• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PEMBERIAN NAFKAH OLEH ISTRI KEPADA KELUARGA : STUDI KASUS DI KELURAHAN SEMOLOWARU KECAMATAN SUKOLILO KOTA SURABAYA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS YURIDIS TERHADAP PEMBERIAN NAFKAH OLEH ISTRI KEPADA KELUARGA : STUDI KASUS DI KELURAHAN SEMOLOWARU KECAMATAN SUKOLILO KOTA SURABAYA."

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PEMBERIAN NAFKAH

OLEH ISTRI KEPADA KELUARGA (STUDI KASUS DI

KELURAHAN SEMOLOWARU KECAMATAN

SUKOLILO KOTA SURABAYA)

SKRIPSI

OLEH

Deni Setiawan

NIM.C71212133

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Fakultas Syari’ah dan Hukum

Jurusan Hukum Perdata Islam Prodi Hukum Keluarga

SURABAYA

(2)

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PEMBERIAN NAFKAH

ISTERI KEPADA KELUARGA (STUDI KASUS DI

KELURAHAN SEMOLOWARU KECAMATAN

SUKOLILO KOTA SURABAYA)

SKRIPSI

Diajukan kepada

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu

Ilmu Syari’ah

Oleh : Deni Setiawan NIM. C71212133

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Syari'ah dan Hukum

Jurusan Hukum Perdata Islam Prodi Hukum Keluarga SURABAYA

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

ABSTRAK

Skripsi yang berjudul “Analisis Yuridis Terhadap Pemberian Nafkah Oleh

Istri Kepada Keluarga (Studi Kasus Di Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya)”. ini merupakan hasil penelitian lapangan untuk menjawab pertanyaan: 1. Bagaimana istri memberikan nafkah (lebih dominan dari suami) terhadap keluarga di Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya ? 2. Bagaimana analisis yuridis terhadap pemberian nafkah oleh istri kepada keluarga di Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya ?

Data penelitian dihimpun dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui pengumpulan data dengan teknik wawancara dan observasi. Selanjutnya data yang telah dihimpun diatur dan disesuaikan dengan akar permasalahnnya kemudian dianalisis menggunakan teori pola pemikiran deduktif. Adapun metodenya adalah deskriptif analisis verifikatif yaitu teknik analisa dengan cara mengambarkan data tentang pemberian nafkah oleh istri terhadap keluarga dan diverifikasi dengan mengunakan teori hukum islam yakni Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan UU Perkawinan Tahun 1974.

Dalam hasil penelitian, bahwa seorang suami tidak bisa memberikan nafkah kepada keluarga dikarenakan adanya faktor-faktor, diantaranya : tingkat pendidikan antara istri dengan suami. kurangnya peran suami dalam hal nafkah, pengaruh perasaan seorang istri sebagai pemberi nafkah terhadap keharmonisan dalam rumah tangga. Seorang istri yang lebih dominan dalam hal nafkah dari pada suami membuat keharmonisan keluarganya berkurang. Istri yang merasa beban tanggung jawabnya bertambah membuat istri tersebut memiliki perasaan kesal dan jengkel kepada suami. Akan tetapi suami juga tidak semerta-merta meniggalkan tanggung jawabnya sebagai pemberi nafkah keluarga. Suami tetap membantu kebutuhan keluarga meskipun dengan adanya faktor yang membuat suami tidak bisa memenuhi nafkah keluarga sepenuhnya. Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 80 Ayat 6, Pasal 77 Ayat 2 dan Undang- undang Perkawinan Tahun 1974 Pasal 31 Ayat 1, Pasal 33 Ayat 1. Memperbolehkan seorang istri membantu menafkahi keluarga. Akan tetapi kewajiban utama dalam menafkahi keluarga adalah suami. Dan istri hanya berkewajiban membantu suami. Namun akan tetapi penghasilan istri lebih besar dari suami, hal itu akan menyebabkan timbulnya konflik dalam keluarga. Diantaranya istri tidak patuh dan taat kepada suami.

(8)

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ...i

PERNYATAAN KEASLIAN ...ii

PENGESAHAN ...iii

MOTTO ...iv

PERSEMBAHAN ...v

KATA PENGANTAR ...vii

ABSTRAK ...x

DAFTAR ISI ...xi

DAFTAR TRANSLITERASI ...xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ...1

B. Identifikasi dan Batasan Masalah ...11

C. Rumusan Masalah ...12

D. Kajian Pustaka...12

E. Tujuan Penelitian ...16

F. Kegunaan Hasil Penelitian ...16

G. Definisi Operasional ...17

H. Metode Penelitian ...18

I. Sistematika Pembahasan ...22

BAB II PEMBERIAN NAFKAH DALAM KELUARGA MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF A. Hak dan Kewajiban Suami Istri ...24

(9)

2. hak dan kewajiban suami ...27

3. hak dan kewajiban istri ...30

B. Hak dan Kewajiban Suami Istri dalam (KHI) ...32

C. Hak dan Kewajiban Suami Istri dalam Undang- undang Perkawinan Tahun 1974 ...37

D. Pemberian Nafkah dalam Keluarga ...40

1. Pemberian nafkah menurut hukum islam ...40

2. Pemberian nafkah menurut hukum positif ...42

3. Pengertian nafkah ...43

4. Peran istri kaitanya dengan nafkah ...45

5. Peran suami kaitanya dengan nafkah……….46

BAB III PENELITIAN MENGENAI ISTRI MEMBERIKAN NAFKAH (LEBIH DOMINAN DARI SUAMI) TERHADAP KELUARGA DI KELURAHAN SEMOLOWARU KECAMATAN SUKOLILO KOTA SURABAYA A. Gambaran Umum Kelurahan Semolowaru ...49

B. Deskripsi tentang Istri Memberikan Nafkah (Lebih Dominan dari Suami) terhadap Keluarga ...52

C. Dampak Pemberian Nafkah oleh Keluarga terhadap Keluarga ...55

BAB IV ANALISIS YURIDIS TERHADAP PEMBERIAN NAFKAH OLEH ISTERI KEPADA KELUARGA MENURUT (KHI) DAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN TAHUN 1974 A. Analisis Faktor Penyebab Istri Memberikan Nafkah (Lebih Dominan dari Suami) terhadap Keluarga di Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya ...59

(10)

2. Kurangnya peran suami dalam hal nafkah ...65

3. Pengaruh perasaan seorang istri sebagai pemberi nafkah terhadap keharmonisan dalam rumah tangga ...68

B. Analisis Yuridis terhadap Pemberian Nafkah oleh Istri kepada Keluarga di Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya menurut Perpektif (KHI) dan Undang-undang Perkawinan Tahun 1974 ...73

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ...79

B. Saran ...80

DAFTAR PUSTAKA ...81

BIODATA PENULIS ...82

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Perkawinan adalah suatu akad yang menghalalkan pergaulan antara seorang

laki-laki dan perempuan yang bukan mahram serta menimbulkan hak dan

kewajiban antara keduanya. Dengan kata lain, perkawinan menimbulkan peranan

dan tangggung jawab suami dan istri dalam keluarga, baik masing-masing

maupun sendiri-sendiri.1 Dalam pandangan shara, perkawinan itu diperintahkan,

diperbolehkan, dan terkadang diharuskan dengan tujuan untuk mendapatkan

keturunan, mendirikan sebuah keluarga, dan untuk melindungi dan menjaga

kelestarian masyarakat.2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

perkawinan menjelaskan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara

seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk

keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang

Maha Esa.3 Dan dalam Undang-undang Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 3

1 Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perorangan dan Kekeluargaan di Indonesia, (Jakarta: Sinar

Grafika, 2006), 337.

(12)

2

tentang dasar-dasar perkawinan menjelaskan bahwa perkawinan bertujuan untuk

mewujutkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan rahmah.4

Disamping itu perkawinan merupakan ikatan yang sangat kuat antara suami

istri. Selain itu dengan perkawinan seseorang akan terpelihara kehormatannya

dalam keluarga dan masyarakat. Sebagaimana Alquran surah Annisa’ ayat 21:



Artinya: Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagi suami istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin ) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-nya) lagi Maha mengetahui. (Q.S. Annur: 32)6

Seperti mahluk lainya, manusia juga bebas mengikuti nalurinya dalam

berhubungan dengan lawan jenisnya. tetapi, untuk membedakan antara manusia

dengan hewan ataupun mahluk lainya serta demi menjaga martabat dan

4 Pasal 3 Undang-undang Kompilasi Hukum Islam.

(13)

3

kehormatan manusia, maka Allah Swt mengadakan hukum sesuai dengan

martabat tersebut. Dengan demikian, hubungan antara laki-laki dan perempuan

diatur secara terhormat berdasarkan kerelaan suatu ikatan perkawinan.

Perkawinan merupakan kebutuhan hidup seluruh masyarakat sejak zaman dahulu,

sekarang dan masa yang akan datang sampai akhir zaman. Perkawinan juga

merupakan pertemuan dua hati yang berbeda yang akan saling melengkapi satu

sama yang lain dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang. Adalah salah satu

cara atau solusi yang tepat dalam upaya mengembangkan keturunan yang

didasarkan pada agama.7

Pernikahan merupakan jalan yang sangat mulia untuk mengatur kehidupan

rumah tangga sekaligus sebagai jalan untuk melanjutkan keturunan. Karena

begitu pentingnya tujuan pernikahan, maka Islam memberi banyak peraturan

untuk menjaga keselamatan dari pernikahan sekaligus melindungi hak dan

kewajiban suami istri dalam perkawinan itu sendiri. Dengan mengetahui hak dan

kewajiban suami istri, diharapkan bagi pasangan suami istri dapat saling

menyadari tentang pentingnya melaksanakan hak dan kewajiban. Sehingga dapat

bekerja sama menggapai sebuah keluarga sakinah, mawadah, rahmah. Tujuan

perkawinan yang mulia adalah membina keluarga bahagia, kekal, abadi

berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, maka terdapat pengaturan mengenai hak

dan kewajiban suami istri masing-masing. Apabila terpenuhi, maka dambaan

(14)

4

suami istri dalam kehidupan berumah tangga akan dapat terwujud karena didasari

rasa cinta dan kasih sayang.8

Hak dan kewajiban suami salah satunya memberikan nafkah kepada

istrinya. Pengertian nafkah sendiri adalah pemberian dari suami yang diberikan

kepada istri setelah adanya suatu akad pernikahan. Nafkah wajib karena adanya

akad yang sah, penyerahan diri istri kepada suami, dan memungkinkan untuk

terjadinya bersenang-senang. Syari’at mewajibkan nafkah atas suami kepada

istrinya. Nafkah hanya diwajibkan atas suami karena tuntutan akad nikah dan

karena keberlangsungan bersenang-senang sebagaimana istri wajib taat kepada

suami, selalu menyertainya, mengatur rumah tangga, mendidik anak-anaknya. Ia

tertahan untuk melaksanakan haknya, “Setiap orang yang tertahan untuk hak

orang lain dan manfaatnya, maka nafkahnya atas orang yang menahan

karenanya”. Yang dimaksud dengan nafkah di sini adalah seluruh kebutuhan dan

keperluan istri yang berlaku menurut keadaan dan tempat, seperti makanan,

pakaian, rumah, dan sebagainya.9

Kedudukan suami dalam keluarga adalah sebagai kepala keluarga. Yang

mana suami wajib memberikan nafkah baik rumah, sandang, maupun pangan. Istri

berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengatur keuangan dalam rumah tangga

yang diperoleh dari nafkah yang diberikan oleh suami kepada istri.

8 Sulaiman Rasyid, Fikih Islam, (Jakarta: Sinar Baru Al Gesindo), 374.

(15)

5

Nafkah yang seharusnya menjadi tanggung jawab suami tidaklah

sepenuhnya dilaksanakan oleh suami. di Kelurahan Semolowaru, Kecamatan

Sukolilo, Kota Surabaya terdapat seorang istri yang mencari nafkah dan menjadi

tulang punggung dikarenakan pendapatan seorang suami tidak bisa memenuhi

kebutuhan keluarga. Seorang istri tersebut bekerja sebagai wanita karir disebuah

perkantoran, istri yang melihat suaminya tidak mendapatkan pekerjaan, sehingga

istri tersebut membuatkan sebuah usaha kepada suaminya. Sehingga dapat

dikatakan suami tersebut tidak melalaikan kewajibanya menafkahi keluarga, akan

tetapi karena keadaan yang membuat suami tersebut tidak bisa menafkahi

keluarganya secara penuh. Istri yang bekerja sebagai wanita karir disebuah

perkantoran memiliki gaji yang tentunya lebih besar dari hasil yang diperoleh

suami, sehingga membuat didalam keluarga tersebut kurang harmonis dan sering

adanya percecokan di dalamnya. Dan wanita tersebut tidak taat dan patuh

suaminya.

Sebagaimana diatur dalam Pasal 79 Kompilasi Hukum Islam (KHI)

berbunyi : “(1) Suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga; (2) Hak

dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam

kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dengan masyarakat.”10

Faedah terbesar dalam suatu pernikahan ialah untuk menjaga dan

memelihara perempuan, sebab seorang perempuan, apabila ia sudah menikah,

(16)

6

maka nafkahnya (biaya hidupnya) wajib ditanggung oleh suaminya. Dengan

adanya pernikahan maka suami wajib menafkahi istrinya baik nafkah lahir

maupun batin. Kewajiban suami adalah pembimbing, terhadap istri dan rumah

tangganya, akan tetap mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang

penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama. Suami wajib melindungi istrinya

dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan

kemampuannya.

Jika seorang istri tinggal bersama suaminya, maka sang suamilah yang

menanggung nafkahnya dan bertanggung jawab mencukupi kebutuhannya, yang

meliputi makanan, pakaian dan sebagainya. Maka dalam hal ini istri tidak perlu

menuntut nafkah, karena suami wajib memenuhi kebutuhan istri. Dan ketika

suami meninggalkan istri tanpa memberikan nafkah serta tanpa alasan yang

dibenarkan, maka istri berhak meminta kebutuhan nafkah yang meliputi

makanan, pakaian, dan tempat tinggal, lalu pihak hakim menetapkan kebutuhan

nafkah untuk istri. Dan bagi suami harus menjalankan keputusan hakim itu, jika

dakwaan terhadapnya terbukti.11

Salah satu Tujuan dari rumah tangga adalah agar pasangan suami istri bisa

saling mengerti, memahami mana yang menjadi wewenang dari masing-masing.

Sesuai dengan Pasal 80 Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang kewajiban suami

yang berbunyi :

(17)

7

1. Suami adalah pembimbing, terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi

mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh

suami istri bersama.

2. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan

hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuanya.

3. Sesuai dengan penghasilanya suami menanggung:

a. Nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi istri.

b. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan

anak.

c. Biaya pendidikan bagi anak.

Dalam Pasal 79 Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang kedudukan seorang

suami yang berbunyi : “Suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah

tangga”.12 Dan dalam Pasal 83 Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang kewajiban

istri yang berbunyi :

1. Kewajiban utama bagi seorang istri ialah berbakti lahir dan batin kepada

suami didalam dan dibenarkan oleh hukum islam.

2. Istri menyelengarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari

dengan sebaik-baiknya.

(18)

8

Undang-undang Perkawinan Tahun 1974 mengenai hak dan kewajiban

suami istri di Pasal 31 yang berbunyi : “suami adalah kepala keluarga dan istri

adalah ibu rumah tangga”. Serta di Pasal 34 yang berbunyi :

1. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan

hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuanya.

2. Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.

3. Jika suami atau istri melalaikan kewajibanya masing-masing dapat

mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama. 13

Tujuan dari suatu perkawinan juga dijelaskan dalam Pasal 3 yang berbunyi “

perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah,

mawadah, rahmah”. Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa suatu

perkawinan itu bukan hanya soal mengenai suatu ikatan antara suami istri untuk

selalu hidup bersama, akan tetapi juga menjelaskan mengenai pentingnya saling

memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pasangan. Ketika dalam

perkawinan itu antara pasangan suami istri tidak bisa saling memenuhi apa yang

seharusnya menjadi hak dan kewajiban mereka. Maka akan mengakibatkan

konflik dalam hubungan rumah tangga pasangan suami istri tersebut. Seperti

ketika seorang suami yang tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga dengan baik

maka istri akan merasa bahwa apa yang seharunya menjadi haknya tidak dipenuhi

suami. apalagi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan keluarga

(19)

9

semakin lama semakin banyak. Seperti mengenai kebutuhan belanja dan juga

kebutuhan yang diperlukan anak semakin tinggi terkadang membuat suami

merasa berat dalam pemenuhan kewajiban nafkah keluarga. Apalagi dengan

pendapatan yang sedikit membuat suami harus pasrah dengan keadaan yang ada.

Sehingga banyak dalam keluarga tersebut sering terjadi pertukaran kewajiban

menafkahi keluarga. Seorang istri yang seharusnya mempunyai kewajiban

mengurus kebutuhan dapur dan juga anak-anaknya, kini harus juga mengurus

perekonomian keluarga. Dalam hal ini istri mencari nafkah untuk kebutuhan

rumah tangganya. Sedangkan Seorang suami yang seharusnya berkewajiban

memberikan nafkah malah lalai dengan kewajibanya. Sehingga yang terjadi

kebanyakan istri yang menafkahi keluarga.

hal ini juga terjadi dalam satu keluarga yang bertempat tinggal di Kelurahan

Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya. Dimana seorang suami kurang

bisa memenuhi kewajibanya menafkahi keluarga dikarenakan pendapatan yang

kurang layak, nanum suami masih berusaha mencari nafkah untuk keluarganya.

Sehingga dari penghasilan suami yg kurang layak, membuat istri membantu

untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Akan tetapi seorang istri yang bekerja

diperkantoran yang pendapatan perbulanya diatas tiga juta perbulan sedangkan

suami yang hanya bekerja sebagai penjual warung kopi yang pendapatanya

perharinya dibawah seratus lima puluh ribu membuat istri lebih dominan dalam

(20)

10

Mengakibatkan sering kali adanya percecokan antara keduanya bahkan istri tidak

patut dan taat lagi kepada suami. Serta adanya faktor perasaan dari istri yang

merasa beban pekerjaannya bertambah, yaitu mengurus pekerjaan rumah tangga

dan anak-anaknya istri juga harus menafkahi keluarga juga harus membantu

suami memenuhi nafkah keluarga. Sehingga istri merasa marah pada suami. Hal

ini juga dapat menimbulkan tidak harmonisnya keluarga.

dari permasalahan tersebut menimbulkan beberapa dampak negatif maupun

dampak positif. Dampak negatifnya ialah membuat keluarganya tidak harmonis,

sedangkan dampak positifnya membuat kebutuhan keluarga suami istri terpenuhi.

Dari hal tersebut seharusnya seorang istri tetap patuh dan taat kepada

keluarganya karena ketika seorang istri tidak lagi patuh dan taat kepada suami

maka istri tersebut akan berdosa. Sebaliknya juga seorang suami juga harus tahu

apa yang menjadi kewajibanya. Suami harus terus berusaha dan tidak pantang

menyerah untuk mencukupi kebutuhan tersebut.

Dari permasalahan yang telah diuraikan di atas, dan dengan adanya

pengamatan penulis mengenai permasalahan di atas, maka penulis merasa tertarik

untuk membahas serta mengungkapkan dan mengatakan dalam bentuk skripsi

yang berjudul : “Analisis Yuridis terhadap Pemberian Nafkah oleh Istri kepada

Keluarga (Studi Kasus di Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota

(21)

11

B.Identifikasi dan Batasan Masalah

Dari latar belakang yang telah penulis paparkan di atas, maka dapat

diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :

1. Istri memberikan nafkah (lebih dominan dari suami) terhadap keluarga di

Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya.

2. Hak dan kewajiban suami istri menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan

Undang-undang Perkawinan Tahun 1974.

3. Analisis yuridis terhadap pemberian nafkah oleh istri kepada keluarga di

Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya.

4. Dampak pemberian nafkah oleh istri dalam keluarga di Kelurahan

Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya.

Dari identifikasi masalah di atas, agar penelitian ini maksimal maka penulis

akan batasi pada permasalahan sebagai berikut :

1. Istri memberikan nafkah (lebih dominan dari suami) terhadap keluarga di

Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya.

2. Analisis yuridis terhadap pemberian nafkah oleh istri kepada keluarga di

(22)

12

C.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dijelaskan

sebelumnya, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana istri memberikan nafkah (lebih dominan dari suami) terhadap

keluarga di Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya ?

2. Bagaimanakah analisis yuridis terhadap pemberian nafkah oleh istri kepada

keluarga di Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya ?

D. Kajian Pustaka

Kajian pustaka adalah deskripsi ringkasan tentang kajian atau penelitian

yang sudah pernah dilakukan di seputar masalah yang akan diteliti sehingga

terlihat jelas bahwa kajian yang dilakukan tidak merupakan pengulangan atau

duplikat dari penelitian yang telah ada14:

Pertama ; Sri Rahayu, dengan judul skripsi “ Pengaruh Istri sebagai Pencari

Nafkah Utama terhadap Kehidupan Rumah Tangga dalam Perpektif Hukum Islam

(Studi Kasus di Dusun Jolupo, Desa Banjarsari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten

Temanggung)”. Skripsi ini menjelaskan bahwa sejatinya seorang suami

mempunyai kewajiban untuk memenuhi nafkah keluarga sedangkan istri

mempunyai kewajiban utama mengatur rumah tangga dengan sebaik-baiknya.

Tetapi dalam hal ini seorang istri yang harus memenuhi nafkah keluarganya. Hal

14 Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, Petunjuk Teknis Penulisan Skripsi, (Surabaya: UIN Sunan

(23)

13

ini disebabkan karena suami kurang bertanggung jawab dan lalai dengan

kewajibanya. Pokok permasalahan ini adalah apa saja pengaruh istri sebagai

pencari nafkah utama terhadap kehidupan rumah tangga, kemudian bagaimana

pengaruh istri sebagai pencari nafkah utama terhadap kehidupan rumah tangga

dalam perpektif hukum islam. Penelitian ini mengunakan teknik kuantitatif

bersifat dekriptif analisis.15 Yang membedakan antara kajian pustaka terdahulu

dengan penelitian ini adalah kajian pustaka terdahulu menjelaskan pengaruh istri

sebagai pencari nafkah utama terhadap kehidupan rumah tangga. Hukum islam

yang digunakan analisis yuridis, alquran dan pendapat ulama. Sedangkan skripsi

yang disusun penulis mengunakan analisis (KHI) dan Undang-undang Perkawinan

Tahun 1974. Maka sekripsi yang dibuat oleh penulis berbeda dengan kajian

pustaka terdahulu karena sekripsi ini menjelaskan mengenai suami yang kurang

bisa menafkahi keluarga bukan suami yang lalai dalam menafkahi keluarga.

Kedua ; Siti Fadhilatur Rohma,dengan judul skripsi “ Tinjauan Hukum

Islam terhadap Peranan Istri sebagai Tulang Punggung Keluarga (Studi Kasus

Keluarga TKW di Desa Arjowilangon Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang)”.

Skripsi ini menjelaskan bahwa peranan istri sebagai tulang punggung keluarga di

desa tersebut karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi: Pertama, suami

tidak memiliki pekerjaan tetap. Kedua, suami tidak memiliki pekerjaan sama

15 Sri Rahayu, Pengaruh Istri sebagai Pencari Nafkah Utama terhadap Kehidupan Rumah Tangga

(24)

14

sekali. Ketiga, suami meninggal dunia. Karena adanya faktor tersebut menjadikan

munculnya inisiatif seorang istri untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan

ekonomi keluarga dengan tujuan untuk membantu suami. Namun, jika istri

tersebut bekerja menjadi TKW, maka hal itu tidak sesuai dengan tugas utama

seorang istri. Ia memiliki tugas utama untuk mengurus rumah tangga dan

mendidik anak. Sebagaimana bunyi Hadis Nabi Muhammad saw yang

diriwayatkan Imam Bukhori bahwa istri sebagai penanggung jawab rumah tangga

suami dan anak. Selain itu juga diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada

Pasal 83 Ayat (2) mengenai kewajiban istri yang berbunyi: Istri

menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari dengan

sebaik-baiknya. Berbeda halnya dengan fakta yang terjadi pada masyarakat

Arjowilangun, para istri lebih memilih bekerja menjadi TKW, karena bagi mereka

bekerja menjadi TKW merupakan solusi yang sangat tepat. Sehingga

menyebabkan para istri tidak dapat menjalankan kewajibannya dalam keluarga.16

Yang membedakan antara kajian pustaka terdahulu dengan penelitian ini adalah

Kajian pustaka terdahulu menjelaskan peran istri sebagai pekerja TKW jadi yang

menjadi obyek penelitian istri yang bekerja sebagai TKW dan analisis yang

digunakan adalah yuridis dan para pakar ilmu fiqh sedangkan penelitian yang

dilakukan oleh penulis obyek penelitianya mengunakan satu keluarga dan analisis

16 Siti Fadhilatur Rahma, Tinjauan Hukum Islam terhadap Peranan Istri sebagai Tulang Punggung

(25)

15

yang digunakan mengunakan (KHI) dan Undang-undang Perkawinan Tahun 1974.

Maka sekripsi yang dibuat oleh penulis berbeda dengan kajian pustaka terdahulu

meskipun sama-sama menjelaskan mengenai istri yang memenuhi kebutuhan

keluarga.

Ketiga ; Ahmad Ansori, dengan judul skripsi “Peran Istri Ketika Suami

Lalai Dalam Tanggung Jawabnya pada Istri dalam Perpektif Sosiologi Hukum

Islam (Studi Kasus di Desa Poreh Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep)”.

Skripsi ini menjelaskan bahwa sejatinya seorang suami mempunyai kewajiban

untuk memenuhi nafkah keluarga sedangkan istri mempunyai kewajiban utama

mengatur rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Tetapi dalam hal ini seorang istri

yang harus memenuhi nafkah keluarganya. Hal ini disebabkan karena suami

kurang bertanggung jawab dan lalai dengan kewajibanya. Penelitian ini

dilakukian dengan mengunakan perpektif hukum sosiologi.17 Yang membedakan

antara kajian pustaka terdahulu dengan penelitian ini adalah Kajian pustaka

terdahulu menjelaskan peran istri ketika suami lalai dalam tanggung jawabnya.

Yang menjadi obyek penelitian adalah suami yang tidak bekerja, kemudian di

analisis dengan sosiologi hukum. sedangkan penelitian yang dilakukan oleh

penulis ialah suami tetap menafkahi keluarga akan tetapi dengan adanya

faktor-faktor yang membuat tidak bisa menafkahi keluarga secara penuh sedangkan

17 Ahmad Ansori, “Peran Istri Ketika Suami Lalai dalam Tanggung Jawabnya pada Istri dalam

(26)

16

analisisnya mengunakan KHI dan Undang-undang Perkawinan Tahun 1974. Maka

sekripsi yang dibuat oleh penulis berbeda dengan kajian pustaka terdahulu karena

sekripsi ini menjelaskan mengenai suami yang kurang bisa menafkahi keluarga

bukan suami yang lalai dalam menafkahi keluarga.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini dibuat adalah untuk menjawab pertanyaan

sebagaimana rumusan masalah diatas sehingga nantinya, dapat diketahui secara

jelas dan terperinci tujuan diadakanya penelitian ini. Adapun tujuan tersebut

adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana istri memberikan nafkah (lebih dominan dari

suami) terhadap keluarga di Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota

Surabaya.

2. Untuk mengetahui bagaimana analisis yuridis terhadap pemberian nafkah oleh

istri kepada keluarga di Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota

Surabaya .

F. Kegunaan Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dari dua aspek yaitu :

(27)

17

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat

umumnya bagi pembaca dan khususnya bagi mahasiswa-mahasiswi yang

pemahamannya dikonsentrasikan pada Hukum yang terdapat pada KHI dan

Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974 dibidang pemenuhan Hak dan

Kewajiban suami istri.

2. Kegunaan secara praktis

Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat kepada para

praktisi hukum, khususnya hakim Pengadilan Agama yang menangani

kasus-kasus perdata, khususnya kasus-kasus tentang pemenuhan hak dan kewajiban suami

istri. Serta diharapkan dapat memberikan pertimbangan serta solusi dari

permasalahan di bidang pemenuhan hak dan kewajiban suami istri.

G. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan definisi yang menunjukan apa yang harus

dilakukan dan bagaimana melakukanya, apa yang diukur dan bagaimana

mengukurnya. Maksudnya bahwa definisi operasional memuat penjelasan tentang

pengertian yang bersifat operasional dari konsep penelitian sehingga dapat

dijadiakan acuan dalam menelusuri dan menguji konsep tersebut melalui

penelitian.

Penelitian ini berjudul “ Analisis Yuridis terhadap Pemberian Nafkah oleh

(28)

18

Sukolilo Kota Surabaya). Untuk memperjelas arah dan tujuan penelitian, serta

memudahkan pemahaman dalam penelitian ini, maka perlu dijelaskan terlebih

dahulu beberapa kata kunci sebagai definisi operasional :

1. Yuridis : yuridis yang dimaksud dalam penelitian ini ialah Kompilasi Hukum

Islam (KHI) yaitu Pasal 80 Ayat 6, Pasal 77 Ayat 2 dan Undang-undang

Perkawinan Tahun 1974 yaitu Pasal 31 Ayat 1, Pasal 33 Ayat 1 tentang

diperbolehkanya seorang istri memberikan nafkah kepada suami.

2. Pemberian nafkah oleh istri kepada keluarga : segala kebutuhan yang di

perlukan oleh keluarga, baik kebutuhan primer maupun sekunder yang

diberikan oleh seorang istri.

H. Metode Penelitian

Supaya dalam pembahasan skripsi yang akan dibahas dapat di pertanggung

jawabkan, maka penulis membutuhkan data yang menunjukan pemberian nafkah

oleh istri kepada keluarga.

1. Data yang dikumpulkan

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah :

a. Data mengenai istri memberikan nafkah (lebih dominan dari suami)

dampak dari pemberian nafkah oleh istri kepada keluarga di Kelurahan

(29)

19

b. Data mengenai dampak dari pemberian nafkah oleh istri kepada keluarga

di Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya.

c. Data tentang analisis yuridis hukum Islam (KHI) Pasal 80 Ayat 6 dan

Pasal 77 Ayat 2 serta Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974 Pasal 31

Ayat 1 dan Pasal 33 Ayat 1 mengenai hak dan kewajiban suami istri serta

mengenai nafkah.

2. Sumber Data

a. Sumber data primer yang digunakan penulis dalam penelitian ini: Data

yang bersumber dari pihak yang terkait secara langsung yaitu pasangan

suami istri sebagai titik poin penelitian ini.

b. Sumber data sekunder yang digunakan penulis dalam penelitian ini: Data

yang digunakan dalam penelitian untuk mendukung dan memperjelas data

primer. Penelitian ini mengunakan data sekunder berupa teori-teori hukum

dari KHI dan Undang-undang Perkawinan Tahun 1974 serta buku-buku,

segala bentuk referensi baik jurnal, artikel maupun karya tulis lainnya

(30)

20

3. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini

adalah :

5. Wawancara (interview), yaitu cara memperoleh data atau keterangan

melalui wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dengan obyek

penelitian secara langsung.18

6. Observasi merupakan pengamatan langsung dan pencatatan secara

sistematis terhadap fokus permasalahan yang diteliti.19

4. Teknik pengolahan data

a. Editing

Yaitu memeriksa kembali semua data- data yang diperoleh dengan

melilih dan menyeleksi data tersebut dari berbagai segi yang meliputi

kesesuaian, keselarasan satu dengan yang lain, keaslian, kejelasan serta

relevansinya dengan permasalahan.20 Teknik ini digunakan penulis untuk

memeriksa kelengkapan data-data yang sudah penulis dapatkan, dan akan

digunakan sebagai sumber-sumber studi dokumentasi.

18 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta : Rineka Cipta, 1996),

144.

19 Ibid., 145

(31)

21

b. Organizing

Yaitu mengatur dan menyusun data sumber dokumentasi

sedemikian rupa sehingga dapat memperoleh gambaran yang sesuai

dengan rumusan masalah, serta mengelompokan data yang diperoleh.21

Dengan teknik ini diharapkan penulis dapat memperoleh gambaran

tentang “Analisis Yuridis Terhadap Pemberian Nafkah Oleh Istri Kepada

Keluarga”.

c. Analyzing

Yaitu dapat memberikan analisis lanjutan terhadap hasil editing

dan organizing data yang telah diperoleh dari sumber-sumber penelitian,

dengan mengunakan teori dan dalil-dalil lainya, sehingga diperoleh

kesimpulan.22

5. Teknik analisis data

Metode penelitian yang digunakan untuk menganalisis data ialah

mengunakan deskriptif analisis verifikatif, yaitu teknik analisa dengan cara

mengambarkan data yang real mengenai pemberian nafkah oleh istri kepada

keluarga, kemudian dianalisis dan diverifikasi dengan mengunakan teori

hukum Islam yaitu Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan Undang-undang

Perkawinan Tahun 1974.

21Ibid., 154.

(32)

22

Adapun dalam menentukan pola pikir, penulis cenderung mengunakan

pola pikir deduktif, artinya memaparkan teori yang bersifat umum terlebih

dahulu baru kemudian dianalisis memakai teori khusus.

I. Sistematika Pembahasan

Pembahasan dalam skripsi ini nantinya terdiri dari lima bab yang

masing-masing mengandung sub-sub, yang mana sub-sub tersebut erat hubungannya

antara satu dengan yang lain. Dari kesatuan sub bab-sub bab tersebut tersusun

integritas pengertian dari skripsi.

Bab pertama diawali dengan pendahuluan yang merupakan desain

penelitian. Bab ini berisi latar belakang, identifikasi dan batasan masalah,

rumusan masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan hasil penelitian,

definisi operasional, metode penelitian dan diakhiri dengan sistematika

pembahasan.

Bab kedua berisi tentang pengertian hak dan kewajiban, hak-hak serta

kewajiban suami istri, teori-teori hukum yang terdapat di Kompilasi Hukum

Islam (KHI) Pasal 77, 78, 79, 80, 81 dan 83 serta Undang- undang Perkawinan

Tahun 1974 Pasal 30, 31, 32, 33, 34 mengenai hak dan kewajiban suami istri,

pemberian nafkah menurut hukum islam, pemberian nafkah menurut hukum

positif, pengertian nafkah, peran suami istri dalam keluarga kaitannya dengan

(33)

23

Bab ketiga memuat data penelitian berisi tentang gambaran umum

Kelurahan Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya, penelitian mengenai

istri memberikan nafkah (lebih dominan dari suami) terhadap keluarga, dampak

pemberian nafkah oleh istri kepada keluarga di Kelurahan Semolowaru

Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya.

Bab keempat menjelaskan tentang analisis faktor penyebab terjadinya istri

memberikan nafkah (lebih dominan dari suami) terhadap keluarga di Kelurahan

Semolowaru Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya dan analisis yuridis terhadap

pemberian nafkah oleh istri berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan

Undang-undang Perkawinan Tahun 1974.

Bab kelima yaitu bab penutup yang menyajikan kesimpulan-kesimpulan

yang dilengkapi dengan saran-saran. Selain itu, dalam bab terakhir ini akan

(34)

BAB II

PEMBERIAN NAFKAH DALAM KELUARGA MENURUT HUKUM ISLAM

DAN HUKUM POSITIF

A.Hak Dan Kewajiban Suami Istri

1. Pengertian hak dan kewajiban

Apabila akad nikah telah berlangsung dan sah memenuhi syarat dan

rukunya, maka akan menimbulkan akibat hukum. dengan demikian

menimbulkan pula hak dan kewajibannya selaku suami istri dalam

keluarga.1 Secara pengertian hak adalah kekuasaan atau wewenang yang

dimiliki seorang untuk mendapatkan atau berbuat sesuatu.2

Sedangkan yang di maksud dengan hak ialah suatu yang merupakan

milik atau dapat dimiliki oleh suami atau istri yang diperoleh dari hasil

perkawinannya. Hak ini juga dapat hapus apabila yang berhak rela apabila

haknya tidak dipenuhi atau dibayar oleh pihak lain. Adapun yang dimaksud

dengan kewajiban ialah hal-hal yang wajib dilakukan atau diadakan oleh

salah seorang dari suami-istri untuk memenuhi hak dari pihak lain.3

1 Abd. Rahmad Ghazaly, Fiqih Munakahat, (Jakarta: Kencana, 2006), 155.

2 J.C.T. Simorangkir, Rudi T. Erwin, J.T. Prasetyo, Kamus Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005),

60.

3 Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, (Yogyakarta: Liberty,

(35)

25

Menurut C.S.T Cancil hak adalah izin atau kekuasaan yang diberikan

oleh hukum kepada seseorang. Sedangkan menurut Van Apeldoorn hak

adalah hukum yang dihubungkan dengan seseorang manusia atau subyek

hukum tertentu, dengan demikian menjelma menjadi suatu kekuasaan.4

Jika suami istri sama-sama menjalankan tangung jawabnya

masing-masing, maka akan terwujudlah ketentraman dan ketenangan hati, sehingga

sempurnalah kebahagiaan hidup berumah tangga. Dengan demikian, tujuan

hidup berkeluarga akan terwujud sesuai dengan tuntutan agama, yaitu

sakinah, mawadah, rahmah. 5

Dalam (KHI) hak dan kewajiban suami istri adalah :

a. Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah

tangga yang sakinah, mawadah, rahmah yang menjadi sendi dasar dari

susunan masyarakat.

b. Suami istri wajib saling mencintai, saling menghormati, setia dan

memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.

c. Suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara

anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani, maupun

kecerdasan dan pendidikan agamanya.

d. Suami istri wajib menjaga kehormatannya.

4 C.S.T. Cancil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka. 1989),

120.

(36)

26

e. Jika suami atau istri melalaikan kewajibanya, masing-masing dapat

mengajukan gugatan kepada pengadilan agama.

f. Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.

g. Rumah kediaman yang di maksud dalam ayat (1), di tentukan oleh

suami istri bersama.6

Dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974

menjelaskan mengenai hak dan kewajiban suami istri diantaranya dalam

Pasal 33 “ suami istri wajib saling mencintai, hormat-menghormati, setia

dan memberi bantuan lahir dan batin yang satu kepada yang lain”. Dan di

Pasal 30 “ suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan

rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari suatu masyarakat”.

Seorang suami maupun istri yang mencintai dan saling menghormati

tidak mungkin akan mencemarkan nama baik mereka masing-masing.

Sedangkan membuka rahasia orang lain sama hukumnya dengan fitnah

sedangkan fitnah itu lebih berbahaya dari pada pembunuhan. Seorang

suami-istri membuka rahasia masing-masing kepada pihak ketiga berarti

tidak ada lagi unsur hormat-menghormati dan saling memberi bantuan lahir

dan batin.7

(37)

27

2. Hak dan kewajiban suami

Suami wajib memenuhi kebutuhan meliputi makanan, pakaian,

tempat tinggal dan lain-lain yang termasuk kebutuhan rumah tangga pada

umumnya. Selain tempat tinggal, maka keperluan rumah tangga yang wajib

dipenuhi oleh sisuami meliputi meliputi : belanja dan keperluan rumah

tangga sehari-hari, b\elanja pemeliharaan kehidupan anak-anak, belanja

sekolah dan pendidikan anak-anak, suami sebagai kepala keluarga.

Menurut hukum Islam, didalam hubungan suami-istri maka suamilah

sebagai kepala keluarga. Pengurus rumah tangga sehari-hari dan pendidikan

anak adalah kewajiban istri. Hal ini disebabkan pada umumnya keadaan

jiwa laki-laki adalah lebih stabil dari wanita, demikian juga dalam hal fisik

laki-laki lebih adalah lebih kuat dari wanita.8

Menurut Wahbah Zuhaili hak kepemimpinan keluarga yang diberikan

kepada suami ini adalah karena seorang suami memiliki kecerdasan, fisik

kuat, serta kewajiban memberikan mahar dan nafkah terhadap istrinya.

Sehingga dalam implementasinya seorang suami adalah kepala rumah

tangga dan istri adalah ibu rumah tangga. Hal yang sama juga dikemukakan

oleh Hamka adalah laki-laki wajib memimpin perempuan, dan kalau tidak

(38)

28

dipimpin berdosa. Argumen tersebut dikarenakan laki-laki dilebihkan tuhan

dari pada perempuan.9

Dalam hal ini pembagian hak dan kewajiban disesuaikan dengan

porsinya masing-masing. Bagi pihak yang di dikenakan kewajiban lebih

besar berarti ia akan mendapatkan hak yang lebih besar pula. Sesuai dengan

fungsi dan perannya.10

Dalam Undang-undang Perkawinan Tahun 1974 Tentang Perkawinan

di jelaskan bahwa kewajiban yang dibebankan oleh Undang-undang ini

terhadap suami adalah kewajiban memberi nafkah.11

Berikut ini adalah hak dan kewajiban yang diperoleh oleh sorang

suami :

a. Istri wajib melayani suaminya.

b. Mendidik anak-anaknya.

c. Istri harus menyambut suaminya dengan senyuman dan wajah yang

berseri.

d. Suami harus memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya dengan

cara baik,meliputi pakaian dan tempat tinggal. 12

9 Paparan dari Wahbah Zuhaili, Kedudukan Perempuan Dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Panjimas,

1983), 69.

10 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum

Agama, (Bandung: Mandar Maju, 1990), 115-116.

11 R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Pradnya

Paramitha, 2014), 547-548.

12 Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Bin Abdullah At-Tuwaijiri, Ensikloedi Islam Kaffa, (Surabaya:

(39)

29

Di dalam Pasal 80 Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berbunyi:

a. Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangga, akan tetapi

mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting di

putuskan oleh suami istri bersama.

b. Suami wajib melindungi istrinya dan memberi segala sesuatu

kebutuhan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuanya.

c. Suami wajib memberikan pendidikan agama kepada istrinya dan

memberi kesempatan mempelajari pengetahuan yang berguna dan

bermanfaat bagi agama, nusa dan agama.

d. Sesuai dengan penghasilannya suami menaggung nafkah pakaian, biaya

rumah tangga, biaya pendidikan bagi anak.

Selain di dalam Pasal 80 di sebutkan juga kewajiban suami istri yaitu

didalam Pasal 130 dan Pasal 34 yang berbunyi :

a. Calon mempelai pria wajib membayar mahar kepada calon mempelai

wanita yang jumlah, bentuk dan jenisnya disepakati oleh kedua belah

pihak.

b. Kewajiban menyerahkan mahar bukan merupakan rukun dari dalam

perkawinan.

c. Kelalaian menyebutkan jenis dan jumlah mahar pada waktu akad nikah,

tidak menyebabkan batalnya perkawinan, begitu pula halnya dalam

(40)

30

Mahar sebagai kewajiban suami yang dibayarkan kepada istri maka

dalam kaitan ini istri harus tahu menahu dan paham menentukan kadar

jumlah, jenis dan lain-lain sampai apakah dia bisa membebaskan sebagian

atau seluruh mahar.13

3. Hak dan kewajiban istri

Dalam hal ini hak istri ada dua yaitu berupa kebendaan (materi) dan

bukan kebendaan. Yang termasuk dalam kebendaan (materi) adalah

sandang, papan, pangan. Sedangkan bukan kebendaan adalah nafkah batin

(digauli), mendapatkan pendidikan yang layak.

Hak istri menurut Undang-undang Perkawinan Tahun 1974 dan (KHI)

diantaranya :

a. Istri berhak atas persamaan kewajiban dengan suami

Pada dasarnya istri memunyai persamaan dan kewajiban yang

sama dengan suami dalam pengaturan kehidupan rumah tangga.

Sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Perkawinan Tahun

1974 Pasal 31 dan (KHI) Pasal 79 yang menyatakan bahwa “hak dan

kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami

dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam

masyarakat”. Sebab hak suami dari istri adalah sama dengan hak istri

dari suami tanpa dibedakan atas pertimbangan jenis kelamin.

(41)

31

b. Istri berhak mendapat serta membelanjakan atau mengunakan mahar

dari suaminya.

Suami diwajibkan memberi mahar kepada istri bukan kepada

orang tua perempuan yang dinikahi. Dan kepada orang yang paling

dekat kepadanya, sekalipun tidak dibenarkan menjamah harta benda

istrinya tersebut kecuali dengan ridanya dan kemauanya sendiri. Jika

istri menerima mahar tanpa paksaan dan tipu muslihat. Kalau ia

berikan sebagian maharnya kepadamu maka terimalah dengan baik.

Hal tersebut tidak disalahkan atau dianggap dosa bila istri dalam

memberikan sebagian maharnya karena malu atau takut, maka tidak

halal menerimanya. Selain itu mahar dapat menumbuhkan tali kasih

sayang dan cinta-mencintai.

c. Istri berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal

Dalam Pasal 34 ayat (2) Undang-undang Perkawinan Tahun

1974 berbunyi “suami wajib melindungi istrinya dan memberikan

segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan

kemampuanya” dan di dalam (KHI) Pasal 80 Ayat (4) berbunyi

“sesuai dengan penghasilanya suami menanggung nafkah, pakaian dan

tempat kediaman bagi istri, biaya rumah tangga, biaya perawatan dan

biaya pengobatan bagi istridan anaknya.14

(42)

32

d. Istri berhak membelanjakan harta

Istri berhak membelanjakan harta pemberian suami guna

melakukan kewajibanya sebagai seorang istri yang baik maka harus

mengatur masalah keperluan sehari-hari. Dan istri berhak

membelanjakan harta pemberian dari suami maupun harta yang

dibawa, diperoleh sebelum adanya perkawinan untuk memenuhi

kebutuhan istri.15

e. Istri berhak mendapatkan perlakuan yang baik dari suaminya

Pasal 33 Undang-undang Perkawinan Tahun 1974 dan Pasal 77

Ayat (1) dan (2) berbunyi “suami istri wajib saling cinta mencintai,

hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu

kepada yang lain”. Istri dalam mendapatkan perlakuan yang baik dari

suaminya itu diantaranya, seorang wanita bangga akan dirinya seperti

juga seorang pria ia ingin dihormati orang yang lain.16

B. Hak Dan Kewajiban Suami IstriDalam Kompilasi Hukum Islam (KHI)

Hak dan kewajiban suami istri Pasal 77:

1. Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah

tangga yang sakinah, mawadah dan rahmah yang menjadi sendi dasar dan

susunan masyarakat.

(43)

33

2. Suami istri wajib salin cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan

memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain.

3. Suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak-anak

mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani maupun

kecerdasannya dan pendidikan agamanya.

4. Suami istri wajib memelihara kehormatanya.

5. Jika suami atau istri melalaikan kewajibanya masing-masing dapat

mengajukan gugatan kepada pengadilan agama.

Pasal 78 Kompilasi Hukum Islam:

1. Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.

2. Rumah kediaman yang dimaksud dalam Ayat 1 ditentukan oleh suami istri

bersama.

Kedudukan suami istri Pasal 79 :

1. Suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga.

2. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami

dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam

masyarakat.

(44)

34

Kewajiban suami Pasal 80:

1. Suami adalah pembimbing, terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi

mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan

oleh suami istri bersama.

2. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala Sesuatu keperluan

hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuanya.

3. Suami wajib memberikan pendidikan agama kepada istrinya dan memberi

kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama,

nusa dan bangsa.

4. Sesuai dengan penghasilanya suami menanggung:

a. Nafkah, pakaian dan tempat kediaman bagi istrinya.

b. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri

dan anak.

c. Biaya pendidikan bagi anak

5. Kewajiban suami terhadap istrinya seperti tersebut pada Ayat 4 huruf a dan

b diatas mulai berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari istri.

6. Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap dirinya

sebagaimana tersebut pada Ayat 4 huruf a dan b.

7. Kewajiban suami sebagaimana dimaksud ayat 5 gugur apabila istri nusyuz.

(45)

35

1. Suami wajib menyediakan tempat kediaman bagi istri dan anak-anaknya

atau bekas istri yang masih dalam idah.

2. Tempat kediaman adalah tempat tinggal yang layak untuk istri selama

dalam ikatan perkawinan, atau dalam idah talak atau idah wafat.

3. Tempat kediaman disediakan untuk melindungi istri dan anak-anaknya dari

gangguan pihak lain, sehingga mereka merasa aman dan tentram. Tempat

kediaman juga berfungsi sebagai tempat menyimpan harta kekayaan,

sebagai tempat menata dan mengatur alat-alat rumah tangga.

4. Suami wajib melengkapi tempat kediaman sesuai dengan kemampuannya

serta disesuaikan dengan keadaan lingkungan tempat tiggalnya, baik berupa

alat perlengkapan rumah tangga maupun sarana penunjang lainya. 17

Dalam KHI Pasal 80 dijelaskan dengan jelas kata-kata, ; suami adalah

pembimbing terhadap istri dan rumah tangga, akan tetapi mengenai hal-hal

urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami istri.

Selanjutnya ada kata melindungi pada Ayat 2 menjelaskan bahwa suami

melindungi istri dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah

tangga sesuai dengan kemampuan. Kemudian berkenaan dengan kata

menanggung dijelaskan pada Ayat 3 yang berbunyi “ suami wajib

memberikan pendidikan agama kepada istrinya dan memberikan

(46)

36

kesempatan belajar pengetahuan yang bergunan dan bermanfaat bagi

agama, nusa dan bangsa.

Selanjutnya suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah

tangganya, akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang

penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama. Selanjutnya kata

menanggung dengan redaksi (a) nafkah pakaiandan tempat kediaman bagi

istri dan (b) yaitu biaya rumah tangga biaya perawatan dan biaya

pengobatan bagi anak. Dengan demikian bunyi-bunyi pasal diatas sangat

terang dan jelas mengadopsi konsep-konsep yang ditawarkan oleh ajaran

Agama. Dan yang ingin dikatakan dalam hal kedudukan suami yang lebih

tinggi dan berkuasa sedangkan istri ditempatkan sebagai pemimpin kedua.

Perlu dicatat alquran hadir sebenarnya dalam upaya memproklamasiakan

keseimbangan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. 18

Menurut Pasal 77 Ayat I dan 2 menyatakan bahwa “suami istri wajib

saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan

lahir batin yang satu kepada yang lain” istri dalam mendapatkan perlakuan

yang baik dari suaminya itu diantaranya, seorang wanita bangga akan

dirinya seperti juga seorang pria ingin dihormati. Suami akan tersinggung

jika dihina, suami merasa senang bila dihormati dan merasa benci kepada

(47)

37

orang-orang yang menghinannya. 19 Dan Pasal 83 menyebutkan “istri

menyelengarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari dengan

baik-baiknya” peranan sebagai ibu rumah tangga banyak diterangkan dalam

alquran dan hadits. Sebagai ibu rumah tangga perananya lebih ditekankan

pada usia pembinaan keluarga untuk mewujudkan keluarga bahagia atau

keluarga sakinah. Ibu yang melahirkan, merawat dan memelihara anak.

Peranannya sangat penting dalam mencetak generasi penerus. Sebagai ibu

harus bertanggung jawab dalam mendidik anak agar anaknya menjadi orang

yang beriman dan terhindar dari siksa neraka.20

C.Hak dan Kewajiban Suami Istri dalam Undang-undang Perkawinan Tahun 1974

Pasal 30:

“ Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga

yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat ”.

Pasal 31

1. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami

dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam

masyarakat.

2. Masing-masiang pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.

3. Suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga.

19Dedi Jumaidi, Bimbingan Perkawinan , (Jakarta: Phademna Presindo, 2001) , 114-116

(48)

38

Pasal 32

1. Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.

2. Rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam Ayat 1 pasal ini ditentukan

oleh suami istri bersama.

Pasal 33

“ Suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan

member bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain”.

Pasal 34

1. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan

hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuanya.

2. Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik baiknya.

3. Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat

menajukan gugatan kepada pengadilan agama.21

Sesuai dengan prinsip perkawinan yang terkandung dalam

Undang-undang Perkawinan 1974 di atas, Pasal 31 sangat jelas disebutkan bahwa

kedudukan suami istri adalah sama dan seimbang, baik dalam kehidupan

rumah tangga maupun dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Sedangkan

menurut Yahyah Harahap khusus menyangkut Pasal 31 Ayat 1 merupakan

hal yang sangat wajar mendudukkan suasana harmonis dalam kehidupan

(49)

39

rumah tangga. Dan ini merupakan perjuangan emansipasi yang sudah lama

berlangsung.22

Sayuti Thalib berpendapat setidaknya ada lima hal yang sangat penting

dalam keluarga. yang pertama , pergaulan hidup suami istri yang baik dan

tentram dengan rasa cinta mencintai dan santun menyantuni. Artinya

masing-masing pihak wajib mewujudkan pergaulan yang makruf kedalam

rumah tangga ataupun bermasyarakat. Kedua , suami memiliki kewajiban

dalam posisinya sebagai kepala rumah tangga dan istri juga memiliki

kewajiban dalam posisinya sebagai ibu rumah tangga. Ketiga , rumah

kediaman disediakan oleh suami, dan suami istri wajib tinggal dalam satu

kediaman tersebut. Keempat , belanja kehidupan merupakan tanggung jawab

suami, sedangkan istri wajib membantu suami mencukupi biaya hidup

keluarga. kelima , istri bertanggung jawab mengurus rumah tangga dan

membelanjakan biaya rumah tangga yang diusahakan suaminya dengan

cara-cara yang benar, wajar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Menurut Martiman hak dan kewajiban suami istri adalah ;

a. Cinta mencintai satu dengan yang lain.

b. Hormat dan menghargai satu sama yang lain.

c. Setia satu sama yang lain.

d. Saling memberi dan menerima bantuan lahir batin satu sama yang lain.

(50)

40

e. Sebagai suami berkewajiban mencari nafkah bagi anak-anaknya dan istri,

serta wajib melindungi istri serta memberikan segala keperluan hidup

rumah tangga, lahir batin, sesuai dengan kemampuan.

f. Sebagai istri berkewajiban mengatur rumah tangga sebaik-baiknya.23

D. Pemberian Nafkah Dalam Keluarga

1. Pemberian nafkah menurut hukum Islam

Nafkah termasuk kewajiban suami, maksudnya ialah menyediakan

segala keperluan istri seperti makanan pakaian, tempat tinggal mencari

pembantu dan obat-obatan, apabila suaminya itu kaya kewajiban itu

ditetapkan oleh alquran, sunnah dan ijmak. Seperti firman Allah :

terikat oleh suaminya, dan suaminya berhak penuh untuk menikmati dirinya.

(51)

41

Ia wajib taat kepada suaminya, tinggal dirumah suaminya, mengatur rumah

tangga suaminya, mengasuh anak suaminya dan sebagainya.

Dan sebagai penyeimbang atas semua itu, suami wajib untuk

mencukupi kebutuhan istri dan menafkahinya, selama hubungan suami

istrimasih ada antara keduanya dan selama tidak ada kedurhakaan atau sebab

lain yang menghalangi pemberian nafkah.

Adapun syarat-syarat dalam pemberian nafkah :

a. Akad pernikahan yang dilakukan adalah sah.

b. Istri menyerahkan dirinya pada suami.

c. Istri memukinkan suami untuk menikmatinya.

d. Istri tidak menolak untuk berpindah ketempat mana pun yang

dikehendaki suami.

e. Keduanya memiliki kemampuan untuk menikmati hubungan

suami istri.

Nafkah wajib bagi istri selama ia menunaikan berbagai tanggungannya.

Yaitu memenuhi batasan-batasan fitrahnya sebagai istri. Dan ketika seorang

istri itu tidak bisa memenuhi kewajibanya sebagai istri, diantaranya istri

(52)

42

Allah, melampau suami dalam tujuan kehidupan rumah tangga maka istri

tidak berhak mendapatkan hak ini.24

Istri wajib bersikap wajar dan tidak berlebihan dalam nafkah, tempat

tinggal, makanan, minuman, dan dalam berpakaian baik untuk mereka

maupun untuk anak-anak mereka. Bukankah hal itu dapat merusak,

sesungguhnya hal itu dapat membuat cemburu, karena sebagian tetangga

kerabat melakukanya. Allah pun telah melarangnya secara tegas. Ketika

nafsu manusia tunduk kepada semua itu, ia akan menghadapi berbagai

kesulitan karena ketamakanya yang tidak mengenal cukup dan batas.25

Adapun suami untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Suami

wajib memenuhi kebutuhan dapur, yakni memenuhi kebutuhan belanja

pokok atau sembako, membiayai pendidikan anak, kesehatan dan

sebagainya. Istri tidak wajib mencari nafkah kalaupun istri bekerja hal itu

harus dilakukan atas izin suami dan sifatnya membantu perekonomian

keluarga. Jika suami tidak menghendaki istri bekerja maka ia harus

mentaatinya.26

2. Pemberian Nafkah Menurut Hukum Positif

Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 78 Ayat 1 yang berbunyi “ suami

istri memunyai tempat kediaman yang tetap “. Dan dalam Pasal 81 Ayat 1

24 Dr. Ali Yusuf As-Subki, Fiqih Keluarga Pedoman Berkeluarga Dalam Islam, (Jakarta: Amza, 2009),

187.

25 Prof. Dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Prof. Dr. Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Munakahat Khitbah Nikah dan Talak, (Jakarta: Imprint Bumi Perkasa, 2009), 216.

(53)

43

“suami wajib menyediakan tempat kediaman bagi istri selama dalam ikatan

perkawinan, atau dalam idah talak atau idah wafat. Tempat kediaman yang

tetap adalah menjadi tanggung jawab suami.

Serta menurut Pasal 80 Ayat 4 Kompilasi Hukum Islam menjelaskan “

sesuai dengan penghasilannya suami menanggung :

a. Nafkah pakaianh dan tempat kediaman bagi istri.

b. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri

dan anak.

c. Biaya pendidikan bagi anak.

Dalam Undang-undang Perkawinan Tahun 1974 menjelaskan

mengenai nafkah suami kepada istri seperti dalam Pasal 34 Ayat 1 yang

berbunyi “suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu

keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuanya”.

3. Pengertian nafkah

Nafkah secara etimologi berarti sesuatu yang dibagi atau diberikan

kepada orang, dan membuat kehidupan orang yang mendapatkanya tersebut

berjalan lancar karena dibagi atau diberikan, maka nafkah tersebut secara

fisik habis atau hilang dari pemiliknya.

Secara terminologi, nafkah itu adalah sesuatu yang wajib diberikan

berapa harta untuk memenihi agar dapat bertahan hidup. Dari pengertian ini

(54)

44

papan.27 Namun yang dimaksud dengan nafkah di sini adalah seluruh

kebutuhan dan keperluan istri yang berlaku menurut keadaan dan tempat,

seperti makanan, pakaian, rumah dan keperluan keluarga.28 Lalu banyaknya

nafkah yang diwajibkan adalah sekedar mencukupi keperluan dan

kebutuhan serta mengingat keadaan dan kemampuan orang yang

berkewajiban.29

Dalam hal ini nafkah dibagi menjadi dua yaitu nafkah materil dan

nafkah non materil, adapun yang termasuk nafkah materil adalah nafkah

pakaianh dan tempat tinggal, biaya rumah tangga, biaya perawatan dan

biaya engobatan bagi istri dan anak-anaknya, biaya pendidikan bagi anak30

Kemudian nafkah non materil adalah berlaku sopan antara suami

maupun istri, memberikan perhatian baik suami maupun istri, berlaku setia,

saling mengingatkan dalam hal kebaikan31.

Dalam Undang-undang Perkawinan tidak didapati istilah nafkah.32

Walaupun tidak ditemukan istilah nafkah tetapi sebelumnya didalam salah

satu pasal di Undang-undang tersebut mengatur tentang masalah nafkah.

Tetapi Undang-undang Perkawinan tersebut tidak mengatur secara khusus

27 Mardani, Hukum Perkawinan Islam: Di Dunia Islam Modern, (Yogyakarta: Graba Ilmu, 2011), 75. 28 Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, (Bandung: Sinar Baru Algensido Bnadung Anggota IKAPI, 2012),

421.

29 Ibid., 421.

30 Yusuf Al-Qardawi, Panduan Fikih Perempuan, (Yogjakarta: Salma Pustaka, 2004), 152. 31 Slamet Abidin, Fikih Munakahat I, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), 171.

32 Abdul Manan, Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, (Jakarta: Prenada Media,

(55)

45

dan rincian tentang masalah nafkah. Masalah nafkah hanya diatur dalam

Pasal 34 Ayat (1) “suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala

sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuanya”.33

Adapun didalam suatu perkawinan terdapat yang namanya hak belanja yaitu

kewajiban suami untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga yang

menyangkut kebutuhan pangan. Suami berkewajiban menafkahi istriuntuk

seluruh kebutuhan dapur, yakni memenuhi belanja kebutuhan pokok atau

sembako, membiayai kebutuhan anak, kesehatan, dan sebagainnya.

4. Peran istri kaitanya dengan nafkah

Pada dasarnya peran istri dalam keluarga adalah patuh dan taat

terhadap suami dan mendidik anak-anaknya. Namun dalam perkembangan

zaman istri bukan lagi bertugas untuk menjaga rumah saja namun sekarang

juga istri dapat mengemban tugas sebagai pencari nafkah. Menurut Alquran

setiap suami memunyai kewajiban member nafkah lahir batin kepada istri

dan anak-anaknya. Suami yang tidak mencari nafkah berarti dia tidak

melaksanakan kewajibanya sebagai suami. Artinya, suami berdosa.

Sedangkan bila seorang istri sibuk mencari nafkah, itu tidak dilarang

oleh Agama Islam asal tidak mengorbankan apa yang menjadi kewajiban

dirinya selaku istri dari suaminya atau sebagai ibu terhada anak-anaknya,

dan sepanjang diizinkan oleh suaminya. Dalam kondisi tertentu mungkin

(56)

46

saja seorang istri tersebut malah menjadi wajib mencari nafkah, dan dalam

keadaan tertentu seorang suami tidak boleh mencari nafkah, karena suatu

uzur yang dapat di benarkan agama.34

Seorang istri yang bekerja harus dengan rida dari suami. Istri yang

berprofesi sebagai wanita karir harus ikut memikul dari nafkah jika suami

menuntut, karena pekerjaan wanita didasarkan perhitungan maslahat suami.

tentunya tidak diragukan lagi bahwa kesibukan bekerja dan segala

permasalahanya mengambil banyak tenaga istri. Ia pulang kerumah dengan

keadaan lelah dan terpecah pikiran. Ia butuh orang yang menghilangkan

kepayahannya dan menenangkan jiwannya. Suami tidak dapat menemuinya

selain selain hari-hari kerja. Jika kedua pasangan suami istri rida bahwa

harta mereka menyatu maka tidak ada masalah, dan jika suami membiarkan

gajinya dan tetap menanggung nafkanya maka bagi suami pahala.35

5. Peran suami kaitanya dengan nafkah

Nafkah yang wajib diberikan oleh suami kepada istrinya berupa

nafkah lahir dan nafkah batin. Nafkah tersebut wajib dilaksanakan dan

menjadi utang kalau tidak dilaksanakan dengan sengaja. Utang nafkah batin

hendaklah dibayar dengan jalan melakukan perbaikan diri dan perbaikan

sikap kepada istri, sehingga istrisiap memaafkan suaminya dan siap

memberikan pelayanan kepada suaminya dengan penuh keikhlasan dan

34 Miftah Faridl, 150 Masalah Nikah Keluarga, (Jakarta: Gema Insani, 1999), 86.

Gambar

Tabel I
  Tabel III Jumlah penduduk menurut agama

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan untuk variabel status pekerjaan yang tidak memiliki hubungan signifikan tetapi memiliki nilai signifikan p < 0,25 selanjutnya di analisis multivariat

Masalah sampah laut ini tidak terlepas dari kurangnya peran masyarakat dalam menjaga kebersihan terutama budaya masyarakat kita yang belum sadar untuk tidak

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Permberian MOL limbah tomat dan limbah air kelapa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi nasabah berdasarkan kondisi geografis tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan produk pembiayaan di BMT

Perhatian yang dilakukan oleh daulah-daulah dalam pengelolahan wakaf tersebut merupakan indikasi bahwa wakaf tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap

Pengangkutan ternak adalah kegiatan mengangkut atau memindahkan ternak dari suatu tempat ke tempat lain dengan bantuan sarana alat angkut. Kegiatan mengangkut atau

Persentase perkecambahan spora A.solani pada ekstrak daun tomat lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak batang tomat dan air destilasi pada semua waktu pengamatan.. Demikian

Dalam penerapannya data mining dengan menggunakan metodologi CRISP-DM telah banyak dilakukan, salah satu contohnya dalam jurnal “Business and Data Understanding