• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mata Elang, Komik Bertema Seni Bela Diri Pencak Silat.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Mata Elang, Komik Bertema Seni Bela Diri Pencak Silat."

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

“MATA ELANG”

KOMIK BERTEMA SENI BELA DIRI PENCAK SILAT

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari

Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Seni Rupa

Oleh

Elwin Adlian Raharja

1000413

DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI RUPA

FAKULTAS PENDIDIKAN SENI DAN DESAIN

▸ Baca selengkapnya: penilaian kategori seni pencak silat

(2)

2015

LEMBAR PENGESAHAN

SKRIPSI

“MATA ELANG” KOMIK BERTEMA SENI BELA DIRI PENCAK SILAT

Oleh

Elwin Adlian Raharja

1000413

Disetujui Oleh:

Dosen Pembimbing I

Drs.Harry Sulastianto, M.Sn. NIP 196605251992021001

Dosen Pembimbing II

Suryadi, S.Pd. M.Sn. NIP 197307142003121001

Mengetahui,

(3)

Bandi Sobandi, M.Pd. NIP 197206131999031001

Lembar Persetujuan Skripsi

Elwin Adlian Raharja

1000413

“MATA ELANG” KOMIK BERTEMA SENI BELA DIRI PENCAK SILAT

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH:

Penguji I

Dra. Tity Soegiarty, M.Pd. NIP 195509131985032001

Penguji II

Drs. Hery Santosa, M.Sn. NIP 196506181992031003

(4)

Zakiah Pawitan, M.Ds. NIP 198305052005012001

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa skripsi penciptaan yang berjudul “Mata Elang,

Komik Bertema Seni Bela Diri Pencak Silat” ini sepenuhnya karya saya sendiri.

Tidak ada di dalamnya yang merupakan plagiat dari karya orang lain dan saya tidak

melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan

etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini saya

siap menanggung resiko/sangsi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian

ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau

ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Bandung, Maret 2015

Yang membuat pernyataan,

(5)

ABSTRAK

Elwin Adlian Raharja, 2014. Mata Elang, Komik Bertema Seni Bela Diri Pencak Silat

Seni bela diri yang menjadi salah satu budaya Indonesia dan juga merupakan saksi jalannya perjuangan rakyat Indonesia pada masa penjajahan adalah pencak silat. Hal tersebutlah yang mendorong penulis untuk menciptakan cerita dengan tema seni bela diri pencak silat ke dalam bentuk media komik, karena media ini bersifat visual memiliki pendekatan yang baik untuk masyarakat. Rumusan masalah dalam skripsi ini yaitu bagaimanakah deskripsi unsur-unsur komik, ilustrasi dan konsep pewarnaannya. Metode dalam penciptaan ini, melalui proses ide berkarya, menganalisis kebutuhan, stimulasi, pengolahan ide, persiapan alat dan bahan, setelah itu barulah ke proses pembuatan komik. Ide berkarya berawal dari tersisihnya kebudayaan lokal dari masyarakat, dengan mengangkat tema seni bela diri khas Indonesia dibuat bertranformasi mengikuti perkembangan zaman sehingga bisa hidup dan lestari. Komik ini menggabungkan unsur-unsur tradisional dan modern, komik bertema kebudayaan lokal bisa bersifat menghibur dan disukai. Penulis menggunakan teknik hybrid, yaitu penggabungan antara teknik manual ke digital dalam

pembuatannya. Proses pembuatan komik “Mata Elang” sangatlah panjang, tahap

(6)

Keyword : Komik, Pencak Silat, Manga.

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas kekuasaan dan izin-Nya skripsi

penciptaan ini bisa penulis selesaikan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah

kepada Nabi Muhhamad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, dan selaku kita

sebagai umatnya hingga akhir zaman.

Karya tulis ini merupakan syarat untuk meraih gelar sarjana Pendidikan di

Departemen Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain,

Universitas Pendidikan Indonesia tahun akademik 2013/2014.

Hambatan dan kesulitan merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam

penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak, akhirnya hambatan

tersebut dapat teratasi. Dalam penulisan ini, penulis menyadari masih banyak

kekurangan dalam beberapa hal. Ini mutlak keterbatasan penulis. Kritik dan saran

menjadi harapan agar penulisan selanjutnya lebih baik.

Bandung, Maret 2015

(7)

UCAPAN TERIMA KASIH

Hambatan dan kesulitan selalu hadir dalam setiap kehidupan, namun bukan

berarti tidak dapat memberikan sebuah pelajaran yang berarti agar kita bisa

mengambil hikmah dari setiap cobaan yang datang, karena Allah tidak akan

memberikan suatu cobaan yang tidak bisa dilalui oleh umat-Nya, oleh karena itu kita

harus senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberi. Alhamdulillah Banyak bantuan

yang penulis dapat saat membuat karya tulis ini. Bantuan secara fisik dan bantuan

psikis datang dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis akan menyampaikan

terima kasih tak terhingga kepada:

1. Bapak Drs. Harry Sulastianto, M.Sn., sebagai Dosen Pembimbing I yang selalu

memberikan referensi karya dan buku, beliau yang mengoreksi detail karya

saya, memberikan saya ilmu dan pengalaman.

2. Bapak Suryadi, S.Pd. M.Sn., sebagai Dosen Pembimbing II yang menjadi

dosen paling baik dengan selalu memberikan semangat dan motivasi.

3. Bu Dewi M. Syabani S.Pd. M.Ds., selaku Dosen Pembimbing akademik.

4. Bapak Bandi Sobandi, M.Pd., selaku ketua Departemen Pendidikan Seni Rupa

FPSD Universitas Pendidikan Indonesia.

5. Seluruh Staf Dosen Departemen Pendidikan Seni Rupa.

6. Bapak Yayat, Bapak Ana dan Bapak Deny, selaku Tata Usaha Departemen

Pendidikan Seni Rupa FPSD Universitas Pendidikan Indonesia, yang selalu

sabar melayani mahasiswa yang bermasalah maupun mahasiswa yang tidak

bermasalah.

(8)

memberikan apapun yang saya butuhkan selama perkuliahan dan penyusunan

karya tulis ini. Dengan materi yang diberikan untuk biaya perkuliahan.

8. Mamih dan Kakek dari keluarga Ibu dan juga keluarga Bapak, yang selalu

mendoakan cucunya sukses selalu, yang selalu mengingatkan jangan pernah

lupa solat dan mengaji.

9. Kedua adikku tersayang Elwan dan Elsa beserta keluarga untuk doa dan

dukungannya.

10.Keluarga yang memberikan tempat tinggal di Bandung, Mang Iyep, Amih,

Mang Nanang yang membuat saya merasa bersyukur memiliki keluarga

seperti mereka.

11.Dede, Heru, Aris, Hasan dan Mahmud teman-teman satu perkumpulan yang

selalu ada. Memberikan masukan, bercanda, bermain dan curhat-curhatan,

kalian seperti keluarga. Terima kasih.

12.Siti Hadiyanti yang selalu membantu memberikan contoh penulisan.

13.Semua teman-teman Seni Rupa angkatan 2010

14.Semua pihak yang telah berjasa yang tidak bisa disebutkan namanya satu

persatu.

Terima kasih atas semua bantuan dan doanya, semoga mendapat ganjaran

kebaikan yang setimpal dari sisi Allah SWT. Amin.

Bandung, Maret 2015

(9)
(10)

ABSTRAK

Elwin Adlian Raharja, 2014. Mata Elang, Komik Bertema Seni Bela Diri Pencak Silat

Seni bela diri yang menjadi salah satu budaya Indonesia dan juga merupakan saksi jalannya perjuangan rakyat Indonesia pada masa penjajahan adalah pencak silat. Hal tersebutlah yang mendorong penulis untuk menciptakan cerita dengan tema seni bela diri pencak silat ke dalam bentuk media komik, karena media ini bersifat visual memiliki pendekatan yang baik untuk masyarakat. Rumusan masalah dalam skripsi ini yaitu bagaimanakah deskripsi unsur-unsur komik, ilustrasi dan konsep pewarnaannya. Metode dalam penciptaan ini, melalui proses ide berkarya, menganalisis kebutuhan, stimulasi, pengolahan ide, persiapan alat dan bahan, setelah itu barulah ke proses pembuatan komik. Ide berkarya berawal dari tersisihnya kebudayaan lokal dari masyarakat, dengan mengangkat tema seni bela diri khas Indonesia dibuat bertranformasi mengikuti perkembangan zaman sehingga bisa hidup dan lestari. Komik ini menggabungkan unsur-unsur tradisional dan modern, komik bertema kebudayaan lokal bisa bersifat menghibur dan disukai. Penulis menggunakan teknik hybrid, yaitu penggabungan antara teknik manual ke digital dalam

pembuatannya. Proses pembuatan komik “Mata Elang” sangatlah panjang, tahap

-tahap tersebut yaitu membuat sinopsis, storyline, storyboard, karakter tokoh verbal, mendesain karakter tokoh, visualisasi komik, pencetakan dan penjilidan. Unsur komik membahas isi cerita yang bertemakan seni bela diri pencak silat kemudian dikembangkan dengan cerita baru yang dikarang oleh penulis sendiri. Ilustrasi menggunakan gaya manga, dengan teori visual gaya semi realistis yaitu penggabungan antara gaya realistis dengan gaya penggambaran yang lain. Panel menggunakan macam-macam bentuk dan peralihannya, balon kata dengan berbagai jenisnya, efek suara, dan garis gerak dalam komik yang dibuat untuk memberikan efek gerak. Sedangkan untuk pewarnaan penulis menganalisis berdasarkan pencahayaan gelap terang. Komik “Mata Elang” yang begitu singkat ini akan susah menangkap sifat yang ada dalam diri setiap tokohnya, oleh karena itu penulis mendeskripsikan secara singkat masing-masing tokoh dalam komik. Dengan adanya komik ini diharapkan pembaca dapat sedikit belajar mengenai seni bela diri pencak silat, karena di dalam komik terdapat gerakan-gerakan dasar di setiap penanda chapter dan menjadi upaya untuk mengembangkan tradisi budaya lokal.

(11)

ABSTRAK

Martial arts as one of Indonesian culture and also witness of Indonesian struggle in colonial era isPencakSilat. This is exactly that makes the writer to create a story with pencaksilat martial arts theme in form comic, for this media visually has a good approach for society. Formulation of the problem of this thesis is how the description of the elements, illustration and concept coloring of the comic. The method in this creation, through the process of work idea, analyze needs, stimulation, processing ideas, preparation of tools and materials, then to the comic making process. Work idea begins from the exclusion of local culture from sociaety, by taking Indonesian martial arts transformed following current development so it's sustainable. This comic combines traditional and modern elements so comic with cultural theme could entertain and likeable. The witer uses a hybrid technique; the combination between manual technique to digital in making process. The process of making "Mata Elang" comic is so long, the steps are making synopsis, storyline, soryboard, character of verbal, designing characters, comic visualization, printing and binding. The elements of comic discuss the contents then developed with new story written by the writer himself. The Illustrations use manga style, with the theory of semi-realistic visual style that is merger between the words ballons with various kinds, sound ffects, and motion lines in comic is made to give motion effect. Whereas for coloring the writer analyzes based on light dark lighting. “Mata Elang” comic briefly would difficult to get the character of characters, therefore the writer describe briefly every characters in the comic. This comic is expected by the readers could teach a few about pencaksilat martial arts, because in the comic there are basic movements in each chapter marker and becomes an effort in developing local cultural traditions.

(12)

DAFTAR ISI

PERNYATAAN ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR BAGAN……….. ... xi

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian... 3

D. Manfaat Penelitian... 4

E. Metode Penciptaan ... 4

F. Sistematika Penulisan ... 4

BAB II LANDASAN PENCIPTAAN A. Pencak Silat ... 6

1. Sikap dan Gerak ... 7

2. TeknikAliran dan Jurus ... 8

(13)
(14)

BAB III METODE PENCIPTAAN

(15)
(16)

g. Samudera ... 127

h. Rama ……… 128

i. Ketua/Subroto……….. 129 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 130

B. Saran ... 131

DAFTAR PUSTAKA

(17)

DAFTAR BAGAN

Bagan 3.1

(18)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Teknik dan Istilah Pencak Silat Nasional ... 8

Tabel 2.2

Klasifikasi Genre Komik yang Beredar antara April dan Juli 1971 ... 12

Tabel 2.3

Klasifikasi Judul Komik Silat dan Roman Remaja Berdasarkan Tahun Terbit .. 12

Tabel 2.4

Sejarah Perkembangan Komik Modern ... 19

Tabel 2.5

Evolusi Komik di Indonesia, Prasejarah dan Tahap-tahap Utama ... 21

Tabel 2.6

Tahap-tahap Membuat Komik ... 44

Tabel 2.7

Tipe Karakter Khas Manga ... 50

Tabel 2.8

Warna dan Kepribadiannya ... 62

Tabel 3.1

(19)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Proporsi Tema Cerita dalam Komik Indonesia Periode Tahun 1995-2008 ... 13

Gambar 2.2

Gambar Anatomi Laki-laki ... 26

Gambar 2.3

Anatomi Wanita ... 27

Gambar 2.4

Perbedaan Ukuran Bahu, Pinggang dan Kaki ... 27

Gambar 2.5

Karakter-karakter dalam Komik Naruto ... 28

Gambar 2.6

Komik Shi Heilong ... 28

Gambar 2.7

Komik Si Buta dari Gua Hantu ... 29

Gambar 2.8

Perspektif Satu Titik Hilang ... 30

Gambar 2.9

Perspektif Dua Titik Hilang ... 30

Gambar 2.10

Perspektif Tiga Titik Hilang ... 31

(20)

Contoh Bentuk Gambar dengan Sudut Pandang Eye Level ... 32

Gambar 2.12

Contoh Bentuk Gambar dengan Sudut Pandang High Angle.. ... 32

Gambar 2.13

Contoh Bentuk Gambar dengan Sudut Pandang Low Angle ... 33

Gambar 2.14

Contoh Bentuk Gambar dengan Sudut Pandang Frog Eyes ... 33

Gambar 2.15

Contoh Bentuk Gambar dengan Sudut Pandang Bird Eyes View ... 34

Gambar 2.16

Contoh Gambar dengan Jarak Pandang Long Shot ... 34

Gambar 2.17

Contoh Bentuk Gambar dengan Jarak Pandang Full Shot ... 35

Gambar 2.14

Contoh Bentuk Gambar dengan Jarak Pandang Medium Shot ... 35

Gambar 2.19

Contoh Bentuk Gambar dengan Jarak Pandang Close Up ... 36

Gambar 2.20

Contoh Bentuk Gambar dengan Jarak Pandang Big Close Up ... 36

(21)

Gambar 2.24

Contoh Bentuk Garis Gerak dalam Komik ... 42

Gambar 2.25

Contoh Bentuk Peralihan Panel ... 43

Gambar 2.26

Alur Baca, Panel-panel Biasanya di Baca dari Kanan ke Kiri ... 43

Gambar 2.27

Proporsi Anatomi Tipe Karakter Super Deformed ... 53

Gambar 2.32

Proporsi Anatomi Tipe Karakter Chibi ... 53

Gambar 2.33

Proporsi Anatomi Tipe Karakter Realistis ... 54

Gambar 2.34

Proporsi Anatomi Tipe Karakter Semi Realistis ... 54

Gambar 2.35

(22)

Gambar 2.36

Jenis-jenis Aksesoris Kacamata dalam Manga ... 59

Gambar 2.40

Jenis-jenis Aksesoris Kepala dalam Manga ... 59

(23)

Drawing Pen 0,3 dan 0,1 ... 70

Salah Satu Halaman dalam Storyboard Komik ... 78

Gambar 3.10

Jendela pada Adobe Photoshop CS4 untuk Memulai Lembar Kerja Baru ... 82

Gambar 3.14

Memasukan Gambar ke dalam Adobe Photoshop CS4. ... 82

Gambar 3.15

Membuat Warna Hitam Solid ... 83

Gambar 3.16

Membuat Garis Grid ... 83

Gambar 3.17

Membuat Layer Background Diblok Hitam ... 84

Gambar 3.18

(24)

Gambar 3.19

Gambar yang Telah Diberi Warna ... 85

Gambar 3.20

Gambar yang Telah Diberi Pencahayaan ... 86

Gambar 3.21

Foto Awan ... 86

Gambar 3.22

Komik Halaman ke-2 Secara Utuh yang Telah Diberi Pencahayaan dan Foto.. 87

gambar 3.23

menyeleksi Screen Tone yang Akan Dipakai Efek dalam Komik ... 88

Gambar 3.24

Memindahkan Screen Tone ke Lembar Komik ... 88

Gambar 3.25

Merapihkan dan Menghapus Screen Tone ... 89

Gambar 3.26

Hasil Gambar yang Telah Diberi efek Screen Tone ... 89

Gambar 3.27

Garis Gerak ... 90

Gambar 3.28

Hasil Gambar yang Telah Diberi Efek Screen tone dan Garis Gerak ... 91

Gambar 3.29

Bentuk-bentuk Balon Kata ... 91

Gambar 3.30

(25)

Gambar 3.31

Gambar Komik Halaman ke-2 yang Sudah Selesai ... 94

Gambar 3.35

Proses Pewarnaan dengan Adobe Photoshop CS4 ... 93

Gambar 3.36

(26)

Gambar Komik “Long Hu Men ……… 101

Penanda Chapter (Jurus-jurus Dasar) ... 103

Gambar 4.7

Penanda Chapter (Jurus-jurus Dasar) ... 104

Gambar 4.8

Penanda Chapter (Jurus-jurus Dasar) ... 104

Gambar 4.9

Cover Komik Mata Elang ... 105

Gambar 4.10

Perbandingan Antartokoh... 106

Gambar 4.11

Sketsa Perspektif pada Komik Halaman ke-56 ... 106

Gambar 4.12

Hasil Akhir Komik Halaman 56 ... 107

Gambar 4.13

Sketsa Perspektif pada Komik Halaman 47 ... 107

Gambar 4.14

Hasil Akhir Komik Pada Halaman 47 ... 108

Gambar 4.15

(27)

Gambar 4.16

Penggunaan Sudut Pandang High Angle pada Komik Halaman 82 ... 109

Gambar 4.17

Penggunaan Sudut Pandang Low Angle pada Komik Halaman 33 ... 109

Gambar 4.18

Penggunaan Sudut pandang Frog Eye’s View pada Komik Halaman 76 ... 109

Gambar 4.19

Penggunaan Sudut Pandang Bird Eye’s View pada Komik Halaman 78 ... 110

Gambar 4.21

Bentuk Peralihan Panel dari Aksi ke Aksi.. ... 113

Gambar 4.26

Bentuk Peralihan Panel dari Subjek ke Subjek ... 114

Gambar 4.27

Bentuk Peralihan Panel dari Lokasi ke Lokasi ... 114

Gambar 4.28

(28)

Gambar 4.29

Panel Jamak/Panel Majemuk 2-5 Panel ... 116

Gambar 4.30

Contoh Bentuk Balon kata dan Caption ... 117

Gambar 4.31

Bentuk Efek Suara dalam Komik ... 118

Gambar 4.32

Garis Gerak dengan Efek Radial Blur dan Zoom Line Screen Tone ... 118

Gambar 4.33

Tokoh Elang Putera dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 121

Gambar 4.37

Tokoh Senja Purnama dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 122

Gambar 4.38

Tokoh Bapak Iman dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 123

Gambar 4.39

Tokoh Winara dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 124

Gambar 4.40

(29)

Gambar 4.41

Tokoh Ucok dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 126

Gambar 4.42

Tokoh Samudera dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 127

Gambar 4.43

Tokoh Rama dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 128

Gambar 4.44

(30)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seni bela diri yang menjadi salah satu budaya Indonesia dan juga merupakan

saksi jalannya perjuangan rakyat Indonesia pada masa penjajahan adalah seni bela

diri pencak silat. Tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke

mulut, diajarkan dari guru ke murid. Karena hal itulah catatan tertulis mengenai asal

mula silat sulit ditemukan. Kebanyakan sejarah silat dikisahkan melalui legenda

yang beragam dari satu daerah ke daerah lain. Asal mula ilmu bela diri di Indonesia

kemungkinan berkembang dari keterampilan suku-suku asli Nusantara dalam berburu

dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan tombak.

Penggabungan kata pencak dan silat menjadi kata majemuk untuk pertama

kalinya dilakukan pada waktu dibentuk suatu organisasi persatuan dan perguruan silat

di Indonesia yang diberi nama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pada tahun 1948

di Surakarta. Sejak saat itu pencak silat menjadi organisasi resmi di Indonesia.

Perguruan-perguruan yang mengajarkan pencak silat asal Indonesia di berbagai

negara kemudian juga menggunakan istilah pencak silat.

Pencak silat merupakan seni bela diri tradisional yang berasal asli dari

Nusantara, dan merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang

berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat. Pengertian pencak silat secara umum

adalah merupakan metode bela diri yang diciptakan untuk mempertahankan diri dari

bahaya yang dapat mengancam keselamatan dan kelangsungan hidup. Sedangkan di

dalam Kamus Bahasa Indonesia (1988, hlm. 663) dijelaskan perbedaan pengertian

pencak dan silat bahwa

(31)

berkelahi, seni bela diri khas Indonesia, dengan ketangkasan membela diri dan menyerang untuk pertandingan atau perkelahian.

Meskipun pengertian pencak dan silat berbeda, namun tidak menjadi

permasalahan karena istilah tersebut menjadi kesatuan yang utuh. Banyak sekali

filosofi-filosofi hidup yang terkandung dalam seni bela diri pencak silat, tidak hanya

terpaku pada gerakan menyerang dan menangkis. Aspek lainnya adalah disiplin

pencak silat, kata disiplin mempunyai dua pengertian, yakni aturan (pepakem) dan

kepatuhan. Disiplin pencak silat mencakup disiplin individual dan sosial, disiplin

internal dan eksternal serta disiplin mental dan fisikal yang wajib ditegakan oleh

setiap manusia pencak silat. Dengan banyaknya aspek-aspek dan nilai dalam pencak

silat yang tidak hanya menonjolkan keindahan gerakan bela dirinya, banyak filosofi

hidup bisa membuat cerita kaya makna dan menjadi pelajaran hidup.

Salah satu cara melestarikan warisan kebudayaan bangsa adalah dengan

mengambil tema pencak silat, agar terus berkembang dan semakin dikenal oleh

masyarakat. Media visual yang dipakai adalah komik, karena mengikuti jejak-jejak

komikus pendahulu yang sukses mempopulerkan komik silat. Komik sendiri memiliki pengertian “sebuah dunia tutur gambar, suatu rentetan gambar yang bertutur menceritakan suatu kisah.” (Masdiono 1998, hlm.9).

Tema-tema silat yang diangkat menjadi komik bercerita tentang

pendekar-pendekar yang merantau yang mempunyai ilmu kebatinan dan ilmu sihir untuk

membasmi kejahatan. Judul komik yang paling terkenal “Si Buta Dari Gua Hantu”

karya Ganes TH, Djampang Djago Betawi” karya Zaidin Wahab dan Ganes TH, “Panji Tengkorak” karya Hans Jaladara dan Ganes TH, dan masih banyak lagi. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin pesat teknologi menandakan zaman

era modern, dari sanalah ide untuk membuat komik dengan tema silat bersetting

zaman sekarang. Komik yang ingin dibuat berbeda namun tetap memelihara esensi

(32)

Ketertarikan penulis terhadap komik sudah lama, sejak masih duduk di

bangku sekolah dasar. Dalam pembuatannya diperlukan observasi yang mendalam

agar cerita semakin matang dan kuat sehingga terciptalah komik yang bagus dan

menarik. Penulis berkeinginan keras agar pengetahuan dan kemampuan yang penulis

miliki dalam membuat komik dapat direalisasikan. Sehingga memberikan

pengalaman, manfaat, dan berbagi dengan orang lain, baik dalam pencak silat

maupun dalam hal membuat komik. Penulis men

gamati perkembangan seni bela diri pencak silat di kancah Internasional

lewat film dan komik “The Raid”. Untuk semakin meramaikan dan mengenalkan pencak silat, penulis berencana membuat komik tentang seni bela diri pencak silat.

Perpaduan antara unsur tradisional dan modern sehingga komik ini bersifat

menghibur tetapi berisi makna filosofis, budaya dan sejarah dari seni bela diri pencak

silat itu sendiri.

Berangkat dari pencak silat sebagai seni bela diri yang fenomenal berasal dari

Tanah Air dan aksi-aksi fantasi Elang dalam menumpas kejahatan seperti dalam film “The Raid, komik ini bercerita bagaimana Elang harus menegakkan kebenaran, mengembalikan generasi putih dan menghapuskan generasi hitam. Supaya seni bela

diri pencak silat kembali kepada ajaran dan filosofi yang murni seperti dulu.penulis

akan membuat skripsi penciptaan berjudul: Komik “Mata Elang”.

B. Rumusan Masalah

Skripsi ini akan memfokuskan pada bidang kekaryaan seni rupa tentang

membuat karya komik dengan menggunakan tema seni bela diri pencak silat, dengan

demikian rumusan masalahnya adalah:

1. Bagaimana mengembangkan ide karya komik “Mata Elang” sebagai komik

bertema seni bela diri pencak silat?

2. Bagaimana proses dan teknik membuat karya komik “Mata Elang” sebagai komik

(33)

3. Bagaimana analisis konsep dan visual estetik karya komik “Mata Elang” sebagai

komik bertema seni bela diri pencak silat?

C. Tujuan Penciptaan

Penelitian ini bertujuan:

1. Menjelaskan ide “Mata Elang” sebagai komik bertema seni bela diri pencak silat.

2. Membut dan menjelaskan tahapan pembuatan “Mata Elang” sebagai komik

bertema seni bela diri pencak silat.

3. Mendeskripsikan konsep dan visualisasi estetik “Mata Elang” sebagai komik

bertema seni bela diri pencak silat.

D. Manfaat Penciptaan

1. Manfaat Teoretik

Manfaat penelitian secara teoretik adalah untuk mengembangkan dan

menemukan konsep berkarya yang kreatif baru tentang “Mata Elang” sebagai komik

bertema seni bela diri pencak silat.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini secara praktis adalah diharapkan dapat mewujudkan karya seni

rupa yang inovatif tentang “Mata Elang” sebagai komik bertema seni bela diri pencak

silat.

E.Metode Penciptaan

Dengan mengacu pada tema seni bela diri pencak silat, diperlukan kajian yang

lebih mendalam terhadap cerita yang lebih relevan. Selain sumber bacaan yang

relevan dibutuhkan juga observasi sebagai sumber sekunder. Observasi dilakukan

(34)

Komik “Mata Elang” sebagai media penyampaian cerita seni bela diri pencak

silat memiliki tahapan yang lazim dalam proses pembuatannya, yaitu penyusunan

naskah cerita, pembuatan karakter, pembuatan sketsa, penintaan, pewarnaan,

pemberian teks dan layout, sebagian besar tahapan tersebut penulis lakukan secara

manual dan digital (hibrida).

Tahap manual dilakukan di awal, yaitu dengan pembuatan naskah dan sketsa

untuk storyboard dalam kertas berukuran A4. Kemudian pembuatan komik dilakukan

dengan teknik digital ilustrasi dengan mengacu pada storyboard. Adobe Photoshop

CS4, adalah perangkat lunak utama yang digunakan dalam proses pembuatan ilustrasi, dan pewarnaan termasuk layout halaman.

E. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam penulisan serta pembacaan laporan penciptaan

karya komik yang berjudul: “MATA ELANG” KOMIK BERTEMA SENI BELA

DIRI PENCAK SILAT. Adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN, yang berisi tentang Latar Belakang Penciptaan,

Masalah Penciptaan, Tujuan Penciptaan, Manfaat Penciptaan, Kajian Sumber

Penciptaan, Metode Penciptaan, serta Sistematika Penulisan.

BAB II LANDASAN PENCIPTAAN, bagian ini memaparkan penjelasan

tentang pencak silat, manga, komik, dan warna.

BAB III METODE PENCIPTAAN, menjelaskan tentang metode dan

langkah-langkah yang penulis gunakan dalam membuat karya ini, yaitu:

Ide Berkarya, Kontemplasi, Stimulasi Berkarya, Pengolahan Ide, Proses Berkarya:

Persiapan Alat dan Bahan, Pembuatan cerita, Pembuatan Story Line dan Story Board,

Tahap Pembuatan Sketsa (pensil), Tahap Inking, Tahap Scanning, Tahap Pewarnaan,

(35)

BAB IV ANALISIS VISUALISASI KARYA, berisi analisis dan

pembahasan karya komik yang diciptakan di antaranya membahas: Konsep berkarya

Komik, materi Komik, dan Pengemasan

BAB V PENUTUP, bagian terakhir ini berisi kesimpulan hasil penciptaan

(36)

BAB III

METODE PENCIPTAAN

A. Ide Berkarya

Bangsa Indonesia mewariskan begitu banyak kebudayaan dan sejarah, salah

satunya adalah seni bela diri pencak silat. Pencak silat menjadi bagian dari

kebudayaan bangsa karena berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat. Dalam

pencak silat bukan hanya sekedar mempelajari gerakan dan jurusnya saja, melainkan

mempelajari falsafah dan disiplin pencak silat sebagai filosofi hidup yang dijunjung

tinggi, sehingga banyak seniman, penulis, pelaku film, dan tidak terkecuali komikus

untuk mengangkat tema-tema tersebut.

Komikus-komikus pendahulu sempat mempopulerkan komik silat sehingga

merajai genre komik di Indonesia, dan tema-tema silat yang diangkat menjadi komik

bercerita tentang pendekar-pendekar yang merantau yang mempunyai ilmu kebatinan dan ilmu sihir untuk membasmi kejahatan. Judul komik yang paling terkenal “Si Buta Dari Gua Hantu” karya Ganes TH,” Djampang Djago Betawi” karya Zaidin Wahab

dan Ganes TH, “Panji Tengkorak” karya Hans Jaladara dan Ganes TH, dan masih

banyak lagi.

Seni bela diri pencak silat di kancah Internasional lewat film dan komik “The

Raid” mengangkat nama Indonesia. Film tersebut meraih sambutan dan antusias dari para penonton mancanegara, menjadikannya film fenomenal berasal dari Tanah Air

karena memamerkan gerakan-gerakan khas dan indah pencak silat. Film “The Raid sudah dibuat dalam tiga sekuel lewat film yang pertama “Merantau”, kemudian dilanjutkan lewat “The Raid Redemption” dan yang terbaru “The Raid 2 Berandal”.

Hal ini yang mendasari sebagai pengembangan gagasan dalam berkarya seni

(37)

komik dengan cerita yang dilatarbelakangi oleh seni bela diri khas Indonesia, yaitu

pencak silat dengan perpaduan antara tradisional dan modern sehingga komik ini

bersifat menghibur tetapi berisi makna filosofis, budaya dan sejarah dari seni bela diri

(38)

Bagan 3.1

(39)

Dengan mengacu pada tema seni bela diri pencak silat, diperlukan kajian yang

lebih mendalam terhadap cerita yang lebih relevan. Selain sumber bacaan yang

relevan dibutuhkan juga observasi sebagai sumber sekunder. Observasi dilakukan

untuk mencari sumber pustaka dengan melakukan wawancara. Komik “Mata Elang”

sebagai media penyampaian cerita seni bela diri pencak silat memiliki tahapan yang

lazim dalam proses pembuatannya, yaitu mulai dari stimulus berkarya yang menjadi

ide/gagasan berkarya, menganalisis kebutuhan, riset awal, penyusunan naskah cerita,

pembuatan karakter, pembuatan sketsa, penintaan, pewarnaan, pemberian teks dan

layout, sebagian besar tahapan tersebut penulis lakukan secara manual dan digital (hibrida).

B. Proses Desain

Seniman grafis yang tidak hanya mengandalkan ketajaman intuisi serta

kecemerlangan ide namun sebuah desain grafis yang baik memiliki tujuan atau misi

tertentu saat menyampaikan pesan, memiliki segmentasi kepada siapa pesan akan

disampaikan. Informasi yang diperoleh perlu dievaluasi, dianalisis, dan diproses

dengan mengumpulkan review data dan hasil riset. Tahap selanjutnya menargetkan sasaran pembaca dan pesan apa yang akan disampaikan komik “Mata Elang” agar komik ini menjadi tepat sasaran.

C. Analisis Kebutuhan

Komik Silat pada umumnya lebih disukai kalangan dewasa dan remaja akhir,

dengan rata-rata usia 17 tahun ke atas karena ada bagian-bagian keras yang dapat

merangsang adrenalin pembaca. Karakteristik usia dewasa dan remaja akhir adalah

sudah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga sudah

mampu menyaring sesuatu tanpa ditelan mentah-mentah. Kompleks cerita dan gaya

visualnya yang lebih ekspresif dibuat untuk menghadirkan emosi yang diperlukan

dalam keperluan cerita. Untuk menargetkan usia pembaca remaja, kompleks cerita

(40)

dinikmati dua golongan umur tersebut. Dalam hal ini pemilihat gaya visual manga

dirasa bisa mewakili dua golongan umur tersebut.

Kategori segmen pembaca dengan usia dewasa sangat beragam, saat ini usia

dewasa secara standar pemerintah kita adalah 17 tahun, tetapi di beberapa negara ada

yang beda, mungkin 18 tahun atau ada yang 16 tahun. Gumelar memberikan segmen

pembaca dari mulai umur pra sekolah sampai dewasa, untuk komik “Mata Elang”

dengan segmen dewasa Gumelar (2009, hlm.12) menjelaskan bahwa

Cerita dewasa biasanya banyak kata-kata kasar, sumpah serapah, adegan kekerasan dan seksual. Oleh karena itu, kita harus memberikan area tertentu pada sampul buku dengan tulisan untuk “17 TAHUN KEATAS atau “Bacaan Khusus Dewasa” di bukunya agar tidak dibeli oleh anak di bawah umur, dan penjual comic juga harus peduli juga dengan tidak meletakkan comic untuk dewasa ini di area yang mudah terjangkau oleh anak-anak dan remaja yang belum dewasa.

Kelemahan yang paling menojol adalah membangkitkan adrenalin dan emosi

menggunakan media dua dimensi, tidak seperti film yang didukung oleh aspek suara.

Komik silat lebih sulit jika tidak didukung oleh cerita yang kuat dan adegan-adegan

yang seru. Ke dalam media komik silat, penguasaan teknik menggambar dan teknik

bercerita mutlak diperlukan, seperti teknik-teknik beladiri dari mulai kuda-kuda

sampai serangan. Jadi sebisa mungkin halaman komik porsi laga dan drama bisa

seimbang.

Kelebihan komik silat adalah memiliki peminat tersendiri, apalagi kerinduan

tentang komik laga yang sudah jarang sekali, juga bisa mampu meningkatkan minat

baca dan daya khayal pembaca, khususnya di Indonesia bisa menjadi lahan baru bagi

industri kreatif.

D. Stimulus Berkarya

Stimulus adalah rangsangan yang memberi inspirasi dalam menciptakan

suatu karya seni. Agar kreativitas dan hasrat dalam berkarya seni dibutuhkan stimulus

(41)

referensi-referensi lain seperti menonton film-film laga, khususnya film mengenai

pencak silat yang bisa diangkat sebagai studi bentuk.

Gambar 3.1

Film “Merantau” dan “The Raid Redemption”

(Sumber: http://asianwiki.com/The_Raid_(Indonesia_Movie.jpg dan httptwitchfilm.comassets201011MerantauBlu.jpg)

Gambar 3.2 Film “The Raid 2”

(42)

E. Pengolahan Ide

Pengolahan ide adalah proses pengolahan konsep yang kemudian diwujudkan

ke dalam bentuk karya melalui eksplorasi dan eksperimentasi dari media dan gagasan

awal. Tahap ini bisa disebut juga sebagai tahap perencanaan, di mana penulis

mengolah stimulus menjadi gagasan yang dapat dibuat menjadi sebuah karya.

Sebagian besar pengolahan ide (pembuatan karya) penulis sempurnakan dengan

menggunakan bantuan software computer program Adobe Photoshop.

F. Persiapan Alat dan Bahan

Berikut adalah alat dan bahan yang digunakan dalam proses berkarya komik

ini, yakni:

(43)

Gambar 3.3 Kertas HVS Ukuran A4 (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Penulis menggunakan kertas HVS berat 100 gram, karena media yang cukup

tebal sangat cocok untuk teknik blok, karena penulis memblok bagian-bagian tertentu

dengan spidol. Penulis menyediakan kurang lebih seratus halaman untuk membuat

sketsa.

2. Pensil HB dan 2B

(44)

Penulis memakai jenis pensil HB dan pensil 2B Faber Castell untuk membuat

sketsa komik. Pensil HB untuk membuat detail wajah tokoh karakter sedangkan

pensil 2B untuk menggambar background.

3. Penghapus

Gambar 3.5 Penghapus Pensil (Sumber: Dokumen Penulis)

Penulis menggunakan penghapus Faber Castell karena lembut saat

menghapus sehingga membuat permukaan kertas tidak berubah.

(45)

Gambar 3.6

Drawing Pen 0,3 dan 0,1

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Penulis menggunakan dua jenis drawing pen merek Snowman dengan ukuran

0.3 dan 0.1. ukuran 0,1 digunakan untuk detail dan 0.3 digunakan untuk background.

5. Spidol

Gambar 3.7 Spidol

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Penulis menggunakan spidol Snowman untuk mewarnai bagian bagian yang

akan di blok hitam.

(46)

Gambar 3.8

Laptop

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Penulis menggunakan laptop Asus ukuran 11,6” dengan Tipe Eee PC 1025CE

Seashell Series dengan spesifikasi Processor Intel (R) Atom (TM) CPU N2600 1.60 GHz. Dengan memory (RAM) 2.00 GB. Gaming Graphics 761 MB dan primary hard

disk 49 GB.

G. Proses Pembuatan Komik

1. Pembuatan Sinopsis

Dalam merumuskan sinopsis, penulis mengambil tema seni bela diri pencak

silat. Kemudian penulis mengarang sendiri cerita “Mata Elang”.

a. Tema komik

Komik ini merupakan komik laga, komik yang bertemakan seni bela diri

pencak silat. Komik pencak silat ini penulis jadikan sebagai latar belakang. Untuk

(47)

antara tradisional dan modern sehingga komik ini bersifat menghibur tetapi berisi

makna filosofis, budaya dan sejarah dari seni bela diri pencak silat itu sendiri.

b. Plot

Penulis menjabarkan bagian-bagian dalam cerita ini, yaitu bagian awal, bagian

tengah, dan bagian akhir

Bagian Pertama, diceritakan Elang bertemu dengan Samudera untuk

membicarakan banyak hal, mengenai Padepokan Merpati Putih dan Padepokan

Gagak Hitam. Sebuah rencana yang disiapkan Samudera untuk Elang untuk merebut

kembali Padepokan merpati Putih sekaligus generasi putih yang telah direnggut oleh

Padepokan Gagak Hitam. Elang yang sudah menguasai ilmu kebatinan lewat

perjalanan spritiulnya membuat Samudera percaya tugas ini dibebankan kepada

Elang.

Bagian Tengah, dilanjutkan dengan misi Elang sebagai mata-mata untuk

mengintai gerak-gerik mereka. Perubahan hidup Elang yang sederhana menjadi

seorang yang hidup serba kecukupan, semuanya karena Samudera yang memberikan

semua fasilitas kepada Elang. Samudera melakukan itu semua untuk penebusan

dosanya di masa lalu, karena telah melahirkan generasi hitam. Misi pertama Elang

adalah mengungkap rencana pembunuhan seorang politisi dan harus

menggagalkannya.

Bagian Akhir, rencana pembunuhan yang digagalkan oleh Elang menjadi titik

balik serangan balik Elang. Dengan bantuan teman-teman sepadepokan dulu ia

merebut kembali Padepokan Merpati Putih dengan mengalahkan Ketua dan anak

buahnya.

(48)

Setting cerita dalam komik ini menampilkan sebuah kehidupan di padepokan Merpati Putih dan Gagak Hitam, kedua padepokan tersebut bagaikan bumi dan langit.

Padepokan Merpati putih sangat sederhana sedangkan padepokan Gagak Hitam

sangat mewah dan besar, namun setting berubah saat dimana Elang belajar ilmu

kebatinan di sebuah pulau terpencil dan kembali ke Jakarta untuk merebut kembali

Padepokan Merpati Putih.

d. Data Komik

Komik ini berjudul Mata Elang, isinya merupakan karangan penulis sendiri

yang mengambil tema seni bela diri pencak silat. Jenis komik yang diusung adalah

komik aksi (action).

Karakter tokoh:

1) Elang Putra (Tokoh Protagonis)

2) Guru/Iman (Tokoh Protagonis)

3) Senja Purnama (Tokoh Protagonis)

4) Winara (Tokoh Protagonis)

10)Anak buah Ketua (Tokoh Figuran)

11)Dokter (Tokoh Figuran)

e. Sinopsis

Padepokan Merpati Putih adalah padepokan pencak silat yang didirikan oleh

Guru dan Samudera sejak dulu. Mengajarkan arti pencak silat yang sesungguhnya,

(49)

membuatnya ingin mendirikan padepokan besar. Seperti gayung bersambut keinginan

samudera bisa terwujud dengan adanya investor yang akan membiayai pembangunan

padepokan yang ia inginkan.

Padepokan Gagak Hitam pun berdiri megah, menenggelamkan padepokan

Merpati Putih, namun guru dan murid-muridnya masih setia belajar disana terkecuali

Samudera yang ikut bergabung di padepokan gagak hitam. Namun lambat laun

padepokan Gagak Hitam berubah menjadi organisasi berbahaya, dibawah pimpinan

ketua padepokan itu menjadi sejarah kelam dunia pencak silat, menjadikannya

generasi hitam. Bukan lagi tempat untuk belajar bela diri namun dijadikan alat untuk

membentuk sebuah prajurit dan mata-mata untuk menjatuhkan pemerintah. Semakin

menyimpangnya padepokan Gagak Hitam membuat Samudera salah langkah,

impiannya menjadi mimpi buruk, untuk itu sebagai rasa bersalahnya ia merencanakan

sesuatu dengan Elang. Ada sebuah kitab rahasia milik guru yang berisi khazanah

pencak silat, lewat kitab itu seseorang dapat memepelajari ilmu kebatinan. Samudera

yang mengetahui rencana ketua untuk menghancurkan Padepokan Merpati Putih,

bergegas untuk menyelamatkan secara diam-diam agar tidak diketahui oleh ketua.

Rencana Samudera pun cukup berhasil walau harus mengorbankan guru yang harus

dirawat karena menerima beberapa pukulan, namun Elang berhasil diselamatkan

dengan membawa kitab tersebut. Butuh waktu satu tahun untuk Samudera

membiarkan Elang sendirian bertahan hidup agar dapat fokus mempelajari kitab

tersebut.

Ketika satu tahun kemudian samudera yang langsung menjemput Elang dan

membawanya ke kediamannya, banyak hal yang mereka bicarakan. Samudera

memberikan semua fasilitas bagi Elang, Fasilitas untuk menghapus sejarah kelam

dunia pencak silat dan melenyapkan generasi hitam, juga merebut kembali padepokan

merpati putih yang dulu pernah hilang. Elang yang menguasai ilmu kebatinan

(50)

2. Membuat Storyline

Tahap selanjutnya adalah storyline akan menjabarkan lebih detail mengenai

cerita, setting tempat, juga dialog yang terjadi antar tokoh. Berikut adalah bentuk

storyline dari komik Mata Elang.

Tabel 3.1

Contoh Storyline Komik Mata Elang Chapter Ke-1

Halaman 1

Penanda Chapter satu Jurus ke satu “Kebetulan Adalah Takdir” ilustrasi seseorang dengan gerakan pukulan papas

Halaman 2

Cerita ini pun diambil di sebuah rumah besar

Long shot: Sebuah mobil jeep yang memasuki gerbang rumah besar Long shot: mobil jeep yang sudah memasuki halaman rumah

Long shot: Terlihat Elang datang diantar oleh seseorang.

Efek suara: “TAP” Close up: Terlihat seseorang yang

sedang berjalan

Halaman 3

Cerita ini diambil di atap rumah yang sangat besar dan megah.

Long shot: sebuah atap rumah dengan desain yang klasik.

Medium shot: Terlihat Elang sedang menunggu di lantai paling atas rumah dengan atap terbuka

Efek suara: “TAP” Close up : seseorang berjalan

mendekati Elang.

Medium shot: dan seseorang itu semakin mendekat.

Halaman 4 Samudera: “Kau sudah lama

mnunggu?”

Elang :”Tidak, hanya saya saja datang terlalu cepat.”

(51)

Samudera: “Semangat sekali HAHAHA.”

Elang: “Karena itu kau mencariku?”

Long Shot: Samudera semakin dekat menghampiri Elang.

Samudera: “Benar, ada sesuatu yang

harus kau lakukan!” Close up: Memperlihatkan sosok Samudera.

Elang terlihat terdiam sejenak Close up: Memperlihatkan sosok Elang Halaman 5

Samudera: “Tidakah kau mau

membalas dendam?” Close up: Memperlihatkan sosok Samudera.

Elang: “Maksudmu? Bagaimana

keadaan Guru dan Senja?” Medium shot: memperlihatkan sosok Elang.

Samudera: “Tenang mereka selamat dan berada ditempat yang aman dengarkan aku Elang, kita harus bergerak cepat, dengan kita bekerja sama kita bisa menyelamatkan banyak orang.”

Medium Shot: Memperlihatkan sosok Elang dan Samudera

Halaman 6

Elang kembali terdiam Medium shot: Memperlihatkan sosok Elang.

Samudera: “kau cukup percaya padaku, berapa banyak lagi yang akan menjadi korban, mungkin aku terlalu naïf.

Medium shot: memperlihatkan sosok Samudera dari samping.

Samudera: “Aku menyadari hal, jalurini salah, generasi hitam yang selama ini aku jalani. Aku harus memperbaikinya. Elang aku menyebut ini bukan

kebetulan, melainkan takdir.”

Long shot: Samudera yang menjelaskan semua kepada Elang.

Halaman 7

Samudera: “Ini tiket untukmu.” Medium shot: Samudera mengeluarkan

sebuah dokumen.

Efek suara: “:SREEEK” Close up: memberikan sebuah

dokumen. dokumen-dokumen ini agar kau bisa menjadi mata-mata.”

Medium shot: terlihat Samudera memberi Elang sesuatu.

Halaman 8

(52)

mendarat. Caption: “kau cukup percaya

padaku”berapa banyak lagi yang akan menjadi korban”aku terlalu naïf”aku menyadari satu hal” jalur ini slah.”

Medium shot: memperlihatkan sosok Elang yang baru mendarat.

Caption: “generasi hitam yang selama ini aku jalani”aku harus

memperbaikinya” Elang, aku bukan menyebutnya kebetulan, melainkan takdir.”

Close up: Elang memejamkan matanya.

Halaman 9 Terlihat dari kejauhan orang yang

hanya berlalu-lalang

Long Shot: memperlihatkan Elang dan bayangan-bayangan orang yang lewat. Halaman 10

Ketua: “Rama, bisakah kau singkirkan

padepokan kumuh yang ada disana itu!” Medium shot: memeperlihatkan hanya siluet ketua. Ketua: “Padepokan itu terlihat seperti

sampah, siapa saja yang tinggal disana?’’

Medium shot: Memperlihatkan sosok wajah ketua.

Rama: “Sama seperti yang saya pikirkan Ketua, ada tiga orang yang tinggal disana.”

Medium Shot: memperlihatkan sosok Rama.

Halaman 11 Terlihat ketua yang terkena cahaya

senja membentuk siluet wajahnya.

Medium shot: memperlihatkan siluet ketua dari belakang.

Ketua: “Begitukah? Singkirkan mereka semua dan hancurkan padepokan mereka!”

Medium shot: memperlihatkan sosok ketua dari depan.

Rama: “Baik Ketua.” Medium shot: memperlihatkan sosok

Rama. Halaman 12 Ketua: “Satu lagi, bawakan aku kitab

pencak silat, kau harus mendapatkannya!”

Medium shot: memperlihatkan sosok Ketua.

Medium shot: Rama menunduk

(53)

Rama: “Baik Ketua.” Medium shot: memperlihatkan sosok Rama

Halaman 13 Samudera: “Padepokan yang ketua

bilang adalah padepoka sahabat baik saya, namun saya tidak puas dengan padepokan Merpati Putih yang

sederhana, kecil dan muridnya sedikit. Saya memiliki kekuasaan akan lahan-lahan di Padepokan Merpati Putih.”

Medium shot: prolog Samudera.

Samudera: “Saya pun akhirnya bertemu politisi dan pengusaha yang ingin membeli tanah. Seperti gayung bersambut tanah tersebut juga akan dibangun padepokan. Saya ingin berkembang akhirnya menjualnya pada mereka. Namun itu semua menjadi malapetaka.”

Medium shot: prolog Samudera.

Samudera: “Padepokan baru pun muncul padepokan Gagak Hitam. Saya lah yang mengawali geberasi hitam ini. Dan saya yang harus mengakhirinya.”

Medium shot: prolog Samudera.

3. Pembuatan Storyboard

Tahapan selanjutnya adalah storyboard, tahap ini akan memberikan sedikit

(54)

Gambar 3.9

Salah Satu Halaman Dalam Storyboard Komik (Sumber: Dokumentasi Penulis)

4. Membuat Karakter Tokoh Verbal

Untuk cerita inti tahapan ini dilakukan setelah penulis mengetahui jalan isi

cerita secara keseluruhan. Sedangkan untuk komik silat perumusan karakter tokoh

verbal berdasarkan informasi yang didapat penulis dari berbagai sumber, sehingga

dapat memberikan penjelasan mengenai sifat atau watak dari suatu tokoh dalam

komik, sekaligus membantu dalam pembuatan desain karakter.

Tabel 3.1

Gambaran Tokoh Secara verbal

No. Nama Tokoh Gambaran Tokoh Secara Verbal

(55)

dengan memakai kopiah. Namun semua itu berubah saat Elang harus menerima kenyataan pahit, karena padepokan yang menjadi rumah baginya hancur beserta orang-orang yang sangat dia cintai. Mendalami ilmu kebatinan lewat kitab khazanah pencak silat, membuatnya memiliki kemampuan inderawi yang lima kali lipat dari orang biasa matanya tajam, mampu melihat benda-benda tersembunyi, pendengarannya tajam mampu mendengar tetesan air, gerakannya cepat dan lincah. 2 Senja Purnama Tokoh perempuan berusia 23 tahun dengan wajah cantik

dan ayu rambutnya panjang menggerai, perempuan yang sangat disukai oleh Elang. Sebelum Elang mendapat kekuatan ia selalu kalah bertanding melawan Senja, karena ia adalah anak perempuan satu-satunya dari guru padepokan pencak silat merpati putih. Ia pun sudah tidak memiliki ibu dan hanya tinggal berdua dengan ayahnya sebelum Elang ikut tinggal di sana.

3 Guru/Bapak Iman Tokoh panutan Elang, orang yang mengajarkannya semua tentang bela diri pencak silat, dengan perawakan cukup tua namun fisiknya terlihat seperti muda dengan gagah dan tegap. Berusia 51 tahun dengan pengalaman hidup makan asam garam, dan merupakan sahabat dari Samudera yang kini Samudera telah beralih ke padepokan Gagak hitam. Penampilan guru sangatlah sederhana dengan sering mengenakan baju koko dan kopiah.

4 Winara Tokoh laki-laki yang ikut belajar di padepokan Merpati Putih bersama Elang. Laki-laki tampan dan kaya berusia 25 tahun dengan cukup tampan. Winara sangat menyukai Senja dia belajar dipadepokan merpati putih selain karena Senja, juga Winara sudah bosan dengan padepokan-padepokan lain yang sudah ada kepentingan-kepentingan pribadi dan dinodai dengan hal-hal yang tidak perlu. Bersama adiknya Winari ia belajar kemurnian seni bela diri pencak silat.

(56)

6 Ucok Tokoh paling berantakan ialah Ucok, berusia paling tua dari teman-teman sebayanya 29 tahun, dengan brewok dan rambut yang ikal. Ucok adalah pengangguran dan paling suka dengan meminjam uang alias ngutang.

7 Samudera Tokoh yang bisa disebut sebagai terjadinya keberadaan Padepokan Gagak Hitam. Berusia 48 tahun, dengan perawakan berbeda dari temannya iman, ia lebih gagah dengan selalu mengenakan jas dan dasi. Samudera adalah teman baik dari guru padepokan merpati putih, namun ia tidak puas dengan padepokan merpati putih yang sederhana, kecil dan muridnya hanya itu-itu saja, ia memiliki kekuasaan atas tanah-tanah disekeliling padepokan merpati putih. Iapun akhirnya menemukan seorang politisi dan penguasa yang ingin membeli tanahnya. Seperti gayung bersambut tanah tersebut juga akan dibangun padepokan, Samudera yang ingin berkembang akhirnya merelakan tanah dan dirinya untuk mengabdi padanya.

8 Rama Tokoh yang menjadi tangan kanan ketua, dengan perawakan yang sangat muda dan berbakat. Kecerdasan Rama yang menjadikannya tangan kanan ketua. Dengan usia yang baru 25 tahun ia sudah memiliki segalanya, pertahanan, koneksi dan kekuasaannya mampu membuat orang tunduk. Selain itu kemampuan bela dirinya sangat hebat, menjadikannya dijuluki perfect man.

9 Ketua/Subroto Tokoh paling antagonis dengan perawakan cukup tua dengan janggut yang lebat, Subrotolah yang membangun padepokan baru nan canggih bernama padepokan gagak hitam yang menenggelamkan padepokan kecil dan sederhana Merpati Putih. Dengan penampilan seperti bos, selalu mengenakan jas dan dasi layaknya mafia, dia menciptakan generasi kelam, generasi hitam. Dengan membuat kepentingan pribadi di atas nama padepokan pencak silat ia membangun kerajaan dan prajurit untuk menentang pemerintah dan berkuasa.

Sumber: (Dokumentasi Penulis)

5. Mendesain Karakter Tokoh

Setelah perumusan karakter tokoh secara verbal, tahap selanjutnya adalah

(57)

Gambar 3.10

Desain Karakter dalam Komik (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.11

(58)

Gambar 3.12

Desain Karakter dalam Komik (Sumber: Dokumentasi Penulis)

6. Visualisasi Komik

a. Review

Hal pertama yang dilakukan dalam memasuki visualisasi komik adalah

melakukan sinkronisasi antara stroryline dengan storyboard. Dalam sinkronisasi ini

akan dikaji ulang segi visual seperti panel, sudut pandang, anatomi, posisi karakter

dan lain-lain. Hal ini dilakukan agar karya yang dihasilkan sesuai dengan yang

diharapkan oleh penulis. Setelah ini barulah masuk ke tahap komputerisasi secara

menyeluruh.

b. Layout Panel dan background

Dari hasil mengkaji ulang tersebut disalurkan dalam layout panel yang

(59)

kerja baru dalam Adobe Photoshop CS4. Berikut adalah tahap-tahap dalam

pembuatannya.

1) Tekan tombol Ctrl+N, kemudian lakukan pengaturan ukuran (size A4), resolusi

(resolution 300) dan mode warna yang digunakan (colour mode RGB).

Gambar 3.13

Jendela pada Adobe Photoshop CS4 untuk Memulai Lembar Kerja Baru (Sumber: Dokumentasi Penulis)

2)Masukkan gambar yang sudah dipindai ke dalam layer Adobe Photoshop CS4.

Gambar 3.14

(60)

3) Untuk membuat warna hitam solid dari bekas pindaian, menggunakan Adjusment Treshold.

Gambar 3.15 Membuat Warna Hitam Solid (Sumber: Dokumentasi Penulis)

(61)

Gambar 3.16 Membuat Garis Grid (Sumber: Dokumentasi Penulis)

5) Dalam layer background garis pinggir di blok hitam dengan menggunakan paint bucket tool.

Gambar 3.17

Membuat Layer Background di Blok Hitam (Sumber: Dokumentasi Penulis)

6) Buat layer baru, pilih menu layer pada menu, lalu pilih new kemudian klik layer.

Bisa juga dengan langsung menekan tombol Shift+Ctrl+N pada keyboard. Maka akan

langsung muncul keterangan layer dan pengaturannya, ganti nama layer sesuai yang

(62)

Gambar 3.18

Jendela Keterangan untuk Membuat Layer Baru (Sumber: Dokumentasi Penulis)

c. Pewarnaan

Karena pembuatan gambar dilakukan secara manual, dengan proses sketsa,

inking dan scanning tahap selanjutnya setelah merapihkan outline dan background adalah pewarnaan.

1) Tahap pertama adalah dengan memberikan warna dasar pada tiap elemen seperti

(63)

Gambar 3.19

Gambar yang Telah Diberi Warna (Sumber: Dokumentasi Penulis)

1) Gelap terang (pencahayaan)

Bagian pencahayaan dilakukan dengan menggunakan brush tool jenis soft

(64)

Gambar 3.20

Gambar yang Telah Diberi Pencahayaan (Sumber: Dokumentasi Penulis)

2) Pemberian template

Untuk bagian awan, penulis menggunakan foto awan agar menambah kesan

realistis.

(65)

Foto Awan

(Sumber: sky+Photos+and+wallpapers+02.jpg)

Gambar 3.22

Komik Halaman Ke-2 Secara Utuh yang Telah Diberi Pencahayaan dan Foto (Sumber: Dokumentasi Penulis)

d. Screen tone dan garis gerak

Ada beberapa halaman komik yang menggunakan screen tone, khususnya

pada adegan-adegan aksi dan pertarungan. Agar memperkuat momen dalam

(66)

1) Seleksi area screen tone yang akan dipakai dengan menggunakan rectangular

marquee tool. Penulis di sini memakai skybase zoom line.

Gambar 3.23

Menyeleksi Screen Tone yang Akan Dipakai Efek Dalam Komik (Sumber: Dokumentasi Penulis)

2) Pindahkan screen tone yang sudah diseleksi dengan Ctrl+C kemudian Ctrl+V ke

(67)

Gambar 3.24

Memindahkan Screen Tone ke Lembar Komik (Sumber: Dokumentasi Penulis)

3) Rapihkan screen tone, menyesuaaikan dengan panel-panel dalam komik dan

menyeleksi screen tone yang tidak terpakai dengan delete.

Gambar 3.25

(68)

Gambar 3.26

Hasil Gambar yang Telah Diberi Efek Screen Tone (Sumber: Dokumentasi Penulis)

4) Garis gerak adalah garis untuk menambah efek pada gerakan-gerakan dan

adegan-adegan cepat sehingga membuat gerakan seperti hidup. Garis gerak ini penulis buat

(69)

Gambar 3.27 Garis Gerak

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

5) Kemudian Garis gerak dimasukkan ke dalam gambar yang sudah diberi efek

(70)

Gambar 3.28

Hasil Gambar yang Telah Diberi Efek Screen Tone dan Garis Gerak (Sumber: Dokumentasi Penulis)

a) Balon Kata

Balon kata dengan berbagai variasi, mulai dari kotak narasi, balon suara

terkejut, marah, balon suara untuk berbicara di dalam hati dan lain-lain.

Gambar 3.29 Bentuk-bentuk Balon Kata

(71)

1) Seleksi area balon kata yang diinginkan dengan menggunakan rectangular marquee tool.

Gambar 3.30

Menyeleksi Balon Kata yang Diinginkan (Sumber :Dokumentasi Penulisan)

2)Klik Ctrl+C kemudian Ctrl+V pada lembar komik.

Gambar 3.31

(72)

3) Masukan teks dialog dengan menggunakan horizontal type tool dalam balon kata

ataupun caption, font yang digunakan Comic Sans MS.

Gambar 3.32

Balon Kata yang Dapat Dimasukkan Teks (Sumber: Dokumentasi Penulis)

b)Bunyi Huruf (Efek Suara)

Pembuatan bunyi huruf dilakukan di layer yang sama dengan layer balon kata

yang sudah memiliki stroke atau outline. Gunakan brush tool atau horizontal type

(73)

Gambar 3.33

Hasil Pembuatan Bunyi Huruf (Sumber: Dokumentasi Penulis)

(74)

Gambar 3.34

(75)

Pada dasarnya setiap komikus atau ilustrator mempunyai teknik

masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut terletak dari

media, bahan ataupun tahap pembuatan yang tidak selalu berurutan.

Gambar 3.35

Proses Pewarnaan dengan Adobe Photoshop CS4 (Sumber: Dokumentasi Penulis)

3)Pencetakan dan Penjilidan

Setelah semua halaman komik selesai dibuat, file disusun berdasarkan

halaman yang berurutan. Cetak semua halaman pada kedua sisi di kertas HVS ukuran

A5 dengan printer biasa sehingga menjadi sebuah komik setengah jadi atau disebut

juga dummy. Dummy merupakan sebuah prototype atau komik tiruan sebelum naik

cetak. Tujuan dibuatnya adalah untuk merevisi komik jika ada dialog atau narasi yang

salah. Sebelumnya dummy dikoreksi oleh pembimbing, dalam hal ini pembimbing

(76)

Gambar 3.36

Dummy Komik

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Selain untuk merevisi, pembuatan dummy juga dapat membantu proses layout

halaman agar komik siap naik cetak. Layout halaman dilakukan dalam program di

komputer bernama Adobe Photoshop CS4. File komik pada ukuran A3 di mana setiap

page diatur berdasarkan halaman cetak. Misal jika suatu buku atau komik terdiri dari 4 halaman maka halaman yang diatur dalam lembar kerja Adobe Photoshop adalah

halaman 1 dan 2 pada lembar pertama dan halaman 3 dan 4 pada lembar kedua.

(77)

Gambar 3.37 Ilustrasi Layout Halaman (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.38

Proses Layout Halaman dengan Adobe Photoshop CS4 (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Setelah file diatur sesuai dengan halaman yang diinginkan, maka komik siap

naik cetak. Pencetakan komik Mata Elang diilakukan di Percetakan Tirta Anugerah

Bandung pada kertas jenis art paper 150 g ukuran A3, sedangkan untuk cover, art

(78)

Gambar 3.39

(79)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Komik “Mata Elang” merupakan karya ilustrasi bertema seni bela diri khas

Indonesia, yaitu pencak silat. Bela diri ini digunakan sebagai latar belakang,

sedangkan cerita inti merupakan cerita fiksi aksi yang dikarang penulis sendiri.

Pembuatan komik Mata Elang dibuat berdasarkan gerakan-gerakan asli pencak silat

karena sudah terlebih dahulu dirundingkan dengan guru pencak silat. Komik ini

ditujukan bagi remaja dan dewasa, dengan pertimbangan bahwa remaja dan dewasa

sudah mampu menangkap cerita serta adegan-adegan perkelahian yang terdapat

dalam komik secara bijaksana. “Mata Elang” adalah judul yang penulis pilih karena

kata Elang memberikan banyak sekali arti, dimulai dengan nama tokoh utama yaitu

Elang Putera yang mempunyai tatapan seperti Elang. Elang juga adalah jenis burung

terkuat sama seperti teknik garuda yang menjadi simbol burung terkuat diantara jenis

burung lainnya, karena memiliki kemampuan bertarung yang paling tinggi sehingga

munculah jurus Mata Elang.

Dalam proses visualisasi komik penulis menggunakan teknik hybrid, yaitu

gabungan antara teknik manual dan teknik digital, dengan proses sketsa dan

penintaan (inking) secara manual dan kemudian proses pewarnaan secara digital

(digital coloring) dengan bantuan Adobe Photoshop CS4. Banyak tahapan yang

penulis lakukan dalam membuat komik ini, tahap-tahap tersebut yaitu membuat

sinopsis, storyline, storyboard, karakter tokoh verbal, mendesain karakter tokoh,

visualisasi komik, pencetakan dan penjilidan.

Dalam proses pembuatan komik, sinopsis dibuat untuk memberikan cerita

(80)

storyboard akan lebih memberikan gambaran visual komik yang lebih lengkap, setelah mengetahui inti cerita barulah bisa terlihat karakter tokoh dan mendesain

karakter tokoh komik. Visualisasi komik yang dilakukan secara manual ke digital

penulis jabarkan sedetail mungkin. Pencetakan dicetak dengan print laser A3+ dan

penjilidan dengan (soft cover). Tahapan pembutan komik yang sangat panjang

membuat penulis harus memiliki rancangan yang tepat dan target sehingga

komiktersebut dapat selesai tepat pada waktunya, penulis menyadari meskipun telah

melakukan alur pembuatan tersebut banyak sekali kendala-kendala dan gangguan

baik bersifat internal maupun eksternal namun penulis berusaha untuk tetap berusaha agar komik “Mata Elang” ini dapat selesai tepat waktu. Kelebihan dan kekurangan menggunakan teknik hybrid adalah gambar awal dapat dibuat sedetail mungkin

karena dibuat secara manual sedangkan untuk proses digital membuat komik menjadi

lebih rapi dan menarik karena proses pewarnaan dan layout dalam computer.

Selain proses pembuatan komik, penulis juga menyajikan deskripsi

berdasarkan unsur-unsur komik, pewarnaan, dan tokoh pada karakternya. Deskripsi

unsur-unsur komik membahas isi cerita yang bertemakan seni bela diri pencak silat,

ilustrasi yang menggunakan gaya manga dan gaya komik “Hell Boy”, panel dengan

macam-macam bentuk dan peralihannya, balon kata dengan berbagai jenisnya, efek

suara yang dibuat menyerupai/mewakili sumber suaranya, dan garis gerak dalam

komik yang dibuat untuk memberikan efek gerak. Sedangkan untuk pewarnaan

penulis menganalisis berdasarkan gradasi dan pencahayaan. Komik Mata Elang yang

ceritanya cukup singkat akan membuat susah menangkap sifat yang ada dalam diri

setiap tokohnya, oleh karena itu penulis memberikan deskripsi singkat tentang

masing-masing tokoh dalam komik. Juga dalam penyimbolan unsur-unsur warna

yang mendeskripsikan sifat dan watak seseorang. Jadi untuk membuat komik yang

baik harus diimbangi dengan kemampuan dan pengetahuan yang cukup.

Komik “Mata Elang” merupakan hasil akhir dari proses yang cukup panjang,

Gambar

Gambar 3.4 Pensil 2B dan HB
Gambar 3.5 Penghapus Pensil
Gambar 3.7 Spidol
Gambar 3.8 Laptop
+7

Referensi

Dokumen terkait

L Teknik tangkisan dalam olahraga pencak silat adalah usaha dengan cara mengadakan kontak langsung dengan serangan dengan tujuan mengalihkan serangan dari lintasannya dan

Sesuai dengan konsep yang diajukan dalam bab pendahuluan, bahwa dalam eksistensi pencak silat mengetengahkan ketiga aspek tersebut di atas (olah raga, seni tari dan seni

Dalam bela diri pencak silat ini mengandung unsur bela diri, olahraga, seni dan budaya yang berisi teknik pembelaan dan penyerangan, Aplikasi panduan pencak silat

Konten media komik ini juga didukung dari hasil survey terhadap 100 orang responden yang dilakukan penulis, bahwa mayoritas responden mengetahui pencak silat dari jurus -

Hasilnya adalah (1) norma pencak silat yang secara konseptual ditemukan dalam sikap kinerja, gerak langkah, serangan, dan pertahanan (be- laan), (2) gaya seni bela diri (aliran

Hasilnya adalah (1) norma pencak silat yang secara konseptual ditemukan dalam sikap kinerja, gerak langkah, serangan, dan pertahanan (be- laan), (2) gaya seni bela diri (aliran

Perancangan komik sejarah Pencak Silat Merpati Putih ini diharapkan memberikan kontribusi untuk ilmu Desain Komunikasi Visual dalam memetakan masalah dengan teori Desain

Pencak Silat Merentang waktu oleh O’ong Maryono, buku ini mengungkapkan berbagai aspek pada pencak silat sehingga memberikan peluang pemahaman yang lebih baik