“MATA ELANG”
KOMIK BERTEMA SENI BELA DIRI PENCAK SILAT
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari
Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Seni Rupa
Oleh
Elwin Adlian Raharja
1000413
DEPARTEMEN PENDIDIKAN SENI RUPA
FAKULTAS PENDIDIKAN SENI DAN DESAIN
▸ Baca selengkapnya: penilaian kategori seni pencak silat
(2)2015
LEMBAR PENGESAHAN
SKRIPSI
“MATA ELANG” KOMIK BERTEMA SENI BELA DIRI PENCAK SILAT
Oleh
Elwin Adlian Raharja
1000413
Disetujui Oleh:
Dosen Pembimbing I
Drs.Harry Sulastianto, M.Sn. NIP 196605251992021001
Dosen Pembimbing II
Suryadi, S.Pd. M.Sn. NIP 197307142003121001
Mengetahui,
Bandi Sobandi, M.Pd. NIP 197206131999031001
Lembar Persetujuan Skripsi
Elwin Adlian Raharja
1000413
“MATA ELANG” KOMIK BERTEMA SENI BELA DIRI PENCAK SILAT
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH:
Penguji I
Dra. Tity Soegiarty, M.Pd. NIP 195509131985032001
Penguji II
Drs. Hery Santosa, M.Sn. NIP 196506181992031003
Zakiah Pawitan, M.Ds. NIP 198305052005012001
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa skripsi penciptaan yang berjudul “Mata Elang,
Komik Bertema Seni Bela Diri Pencak Silat” ini sepenuhnya karya saya sendiri.
Tidak ada di dalamnya yang merupakan plagiat dari karya orang lain dan saya tidak
melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan
etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini saya
siap menanggung resiko/sangsi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian
ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau
ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Bandung, Maret 2015
Yang membuat pernyataan,
ABSTRAK
Elwin Adlian Raharja, 2014. Mata Elang, Komik Bertema Seni Bela Diri Pencak Silat
Seni bela diri yang menjadi salah satu budaya Indonesia dan juga merupakan saksi jalannya perjuangan rakyat Indonesia pada masa penjajahan adalah pencak silat. Hal tersebutlah yang mendorong penulis untuk menciptakan cerita dengan tema seni bela diri pencak silat ke dalam bentuk media komik, karena media ini bersifat visual memiliki pendekatan yang baik untuk masyarakat. Rumusan masalah dalam skripsi ini yaitu bagaimanakah deskripsi unsur-unsur komik, ilustrasi dan konsep pewarnaannya. Metode dalam penciptaan ini, melalui proses ide berkarya, menganalisis kebutuhan, stimulasi, pengolahan ide, persiapan alat dan bahan, setelah itu barulah ke proses pembuatan komik. Ide berkarya berawal dari tersisihnya kebudayaan lokal dari masyarakat, dengan mengangkat tema seni bela diri khas Indonesia dibuat bertranformasi mengikuti perkembangan zaman sehingga bisa hidup dan lestari. Komik ini menggabungkan unsur-unsur tradisional dan modern, komik bertema kebudayaan lokal bisa bersifat menghibur dan disukai. Penulis menggunakan teknik hybrid, yaitu penggabungan antara teknik manual ke digital dalam
pembuatannya. Proses pembuatan komik “Mata Elang” sangatlah panjang, tahap
Keyword : Komik, Pencak Silat, Manga.
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas kekuasaan dan izin-Nya skripsi
penciptaan ini bisa penulis selesaikan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah
kepada Nabi Muhhamad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, dan selaku kita
sebagai umatnya hingga akhir zaman.
Karya tulis ini merupakan syarat untuk meraih gelar sarjana Pendidikan di
Departemen Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain,
Universitas Pendidikan Indonesia tahun akademik 2013/2014.
Hambatan dan kesulitan merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam
penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak, akhirnya hambatan
tersebut dapat teratasi. Dalam penulisan ini, penulis menyadari masih banyak
kekurangan dalam beberapa hal. Ini mutlak keterbatasan penulis. Kritik dan saran
menjadi harapan agar penulisan selanjutnya lebih baik.
Bandung, Maret 2015
UCAPAN TERIMA KASIH
Hambatan dan kesulitan selalu hadir dalam setiap kehidupan, namun bukan
berarti tidak dapat memberikan sebuah pelajaran yang berarti agar kita bisa
mengambil hikmah dari setiap cobaan yang datang, karena Allah tidak akan
memberikan suatu cobaan yang tidak bisa dilalui oleh umat-Nya, oleh karena itu kita
harus senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberi. Alhamdulillah Banyak bantuan
yang penulis dapat saat membuat karya tulis ini. Bantuan secara fisik dan bantuan
psikis datang dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis akan menyampaikan
terima kasih tak terhingga kepada:
1. Bapak Drs. Harry Sulastianto, M.Sn., sebagai Dosen Pembimbing I yang selalu
memberikan referensi karya dan buku, beliau yang mengoreksi detail karya
saya, memberikan saya ilmu dan pengalaman.
2. Bapak Suryadi, S.Pd. M.Sn., sebagai Dosen Pembimbing II yang menjadi
dosen paling baik dengan selalu memberikan semangat dan motivasi.
3. Bu Dewi M. Syabani S.Pd. M.Ds., selaku Dosen Pembimbing akademik.
4. Bapak Bandi Sobandi, M.Pd., selaku ketua Departemen Pendidikan Seni Rupa
FPSD Universitas Pendidikan Indonesia.
5. Seluruh Staf Dosen Departemen Pendidikan Seni Rupa.
6. Bapak Yayat, Bapak Ana dan Bapak Deny, selaku Tata Usaha Departemen
Pendidikan Seni Rupa FPSD Universitas Pendidikan Indonesia, yang selalu
sabar melayani mahasiswa yang bermasalah maupun mahasiswa yang tidak
bermasalah.
memberikan apapun yang saya butuhkan selama perkuliahan dan penyusunan
karya tulis ini. Dengan materi yang diberikan untuk biaya perkuliahan.
8. Mamih dan Kakek dari keluarga Ibu dan juga keluarga Bapak, yang selalu
mendoakan cucunya sukses selalu, yang selalu mengingatkan jangan pernah
lupa solat dan mengaji.
9. Kedua adikku tersayang Elwan dan Elsa beserta keluarga untuk doa dan
dukungannya.
10.Keluarga yang memberikan tempat tinggal di Bandung, Mang Iyep, Amih,
Mang Nanang yang membuat saya merasa bersyukur memiliki keluarga
seperti mereka.
11.Dede, Heru, Aris, Hasan dan Mahmud teman-teman satu perkumpulan yang
selalu ada. Memberikan masukan, bercanda, bermain dan curhat-curhatan,
kalian seperti keluarga. Terima kasih.
12.Siti Hadiyanti yang selalu membantu memberikan contoh penulisan.
13.Semua teman-teman Seni Rupa angkatan 2010
14.Semua pihak yang telah berjasa yang tidak bisa disebutkan namanya satu
persatu.
Terima kasih atas semua bantuan dan doanya, semoga mendapat ganjaran
kebaikan yang setimpal dari sisi Allah SWT. Amin.
Bandung, Maret 2015
ABSTRAK
Elwin Adlian Raharja, 2014. Mata Elang, Komik Bertema Seni Bela Diri Pencak Silat
Seni bela diri yang menjadi salah satu budaya Indonesia dan juga merupakan saksi jalannya perjuangan rakyat Indonesia pada masa penjajahan adalah pencak silat. Hal tersebutlah yang mendorong penulis untuk menciptakan cerita dengan tema seni bela diri pencak silat ke dalam bentuk media komik, karena media ini bersifat visual memiliki pendekatan yang baik untuk masyarakat. Rumusan masalah dalam skripsi ini yaitu bagaimanakah deskripsi unsur-unsur komik, ilustrasi dan konsep pewarnaannya. Metode dalam penciptaan ini, melalui proses ide berkarya, menganalisis kebutuhan, stimulasi, pengolahan ide, persiapan alat dan bahan, setelah itu barulah ke proses pembuatan komik. Ide berkarya berawal dari tersisihnya kebudayaan lokal dari masyarakat, dengan mengangkat tema seni bela diri khas Indonesia dibuat bertranformasi mengikuti perkembangan zaman sehingga bisa hidup dan lestari. Komik ini menggabungkan unsur-unsur tradisional dan modern, komik bertema kebudayaan lokal bisa bersifat menghibur dan disukai. Penulis menggunakan teknik hybrid, yaitu penggabungan antara teknik manual ke digital dalam
pembuatannya. Proses pembuatan komik “Mata Elang” sangatlah panjang, tahap
-tahap tersebut yaitu membuat sinopsis, storyline, storyboard, karakter tokoh verbal, mendesain karakter tokoh, visualisasi komik, pencetakan dan penjilidan. Unsur komik membahas isi cerita yang bertemakan seni bela diri pencak silat kemudian dikembangkan dengan cerita baru yang dikarang oleh penulis sendiri. Ilustrasi menggunakan gaya manga, dengan teori visual gaya semi realistis yaitu penggabungan antara gaya realistis dengan gaya penggambaran yang lain. Panel menggunakan macam-macam bentuk dan peralihannya, balon kata dengan berbagai jenisnya, efek suara, dan garis gerak dalam komik yang dibuat untuk memberikan efek gerak. Sedangkan untuk pewarnaan penulis menganalisis berdasarkan pencahayaan gelap terang. Komik “Mata Elang” yang begitu singkat ini akan susah menangkap sifat yang ada dalam diri setiap tokohnya, oleh karena itu penulis mendeskripsikan secara singkat masing-masing tokoh dalam komik. Dengan adanya komik ini diharapkan pembaca dapat sedikit belajar mengenai seni bela diri pencak silat, karena di dalam komik terdapat gerakan-gerakan dasar di setiap penanda chapter dan menjadi upaya untuk mengembangkan tradisi budaya lokal.
ABSTRAK
Martial arts as one of Indonesian culture and also witness of Indonesian struggle in colonial era isPencakSilat. This is exactly that makes the writer to create a story with pencaksilat martial arts theme in form comic, for this media visually has a good approach for society. Formulation of the problem of this thesis is how the description of the elements, illustration and concept coloring of the comic. The method in this creation, through the process of work idea, analyze needs, stimulation, processing ideas, preparation of tools and materials, then to the comic making process. Work idea begins from the exclusion of local culture from sociaety, by taking Indonesian martial arts transformed following current development so it's sustainable. This comic combines traditional and modern elements so comic with cultural theme could entertain and likeable. The witer uses a hybrid technique; the combination between manual technique to digital in making process. The process of making "Mata Elang" comic is so long, the steps are making synopsis, storyline, soryboard, character of verbal, designing characters, comic visualization, printing and binding. The elements of comic discuss the contents then developed with new story written by the writer himself. The Illustrations use manga style, with the theory of semi-realistic visual style that is merger between the words ballons with various kinds, sound ffects, and motion lines in comic is made to give motion effect. Whereas for coloring the writer analyzes based on light dark lighting. “Mata Elang” comic briefly would difficult to get the character of characters, therefore the writer describe briefly every characters in the comic. This comic is expected by the readers could teach a few about pencaksilat martial arts, because in the comic there are basic movements in each chapter marker and becomes an effort in developing local cultural traditions.
DAFTAR ISI
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
UCAPAN TERIMA KASIH ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR BAGAN……….. ... xi
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian... 3
D. Manfaat Penelitian... 4
E. Metode Penciptaan ... 4
F. Sistematika Penulisan ... 4
BAB II LANDASAN PENCIPTAAN A. Pencak Silat ... 6
1. Sikap dan Gerak ... 7
2. TeknikAliran dan Jurus ... 8
BAB III METODE PENCIPTAAN
g. Samudera ... 127
h. Rama ……… 128
i. Ketua/Subroto……….. 129 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 130
B. Saran ... 131
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR BAGAN
Bagan 3.1
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1
Teknik dan Istilah Pencak Silat Nasional ... 8
Tabel 2.2
Klasifikasi Genre Komik yang Beredar antara April dan Juli 1971 ... 12
Tabel 2.3
Klasifikasi Judul Komik Silat dan Roman Remaja Berdasarkan Tahun Terbit .. 12
Tabel 2.4
Sejarah Perkembangan Komik Modern ... 19
Tabel 2.5
Evolusi Komik di Indonesia, Prasejarah dan Tahap-tahap Utama ... 21
Tabel 2.6
Tahap-tahap Membuat Komik ... 44
Tabel 2.7
Tipe Karakter Khas Manga ... 50
Tabel 2.8
Warna dan Kepribadiannya ... 62
Tabel 3.1
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1
Proporsi Tema Cerita dalam Komik Indonesia Periode Tahun 1995-2008 ... 13
Gambar 2.2
Gambar Anatomi Laki-laki ... 26
Gambar 2.3
Anatomi Wanita ... 27
Gambar 2.4
Perbedaan Ukuran Bahu, Pinggang dan Kaki ... 27
Gambar 2.5
Karakter-karakter dalam Komik Naruto ... 28
Gambar 2.6
Komik Shi Heilong ... 28
Gambar 2.7
Komik Si Buta dari Gua Hantu ... 29
Gambar 2.8
Perspektif Satu Titik Hilang ... 30
Gambar 2.9
Perspektif Dua Titik Hilang ... 30
Gambar 2.10
Perspektif Tiga Titik Hilang ... 31
Contoh Bentuk Gambar dengan Sudut Pandang Eye Level ... 32
Gambar 2.12
Contoh Bentuk Gambar dengan Sudut Pandang High Angle.. ... 32
Gambar 2.13
Contoh Bentuk Gambar dengan Sudut Pandang Low Angle ... 33
Gambar 2.14
Contoh Bentuk Gambar dengan Sudut Pandang Frog Eyes ... 33
Gambar 2.15
Contoh Bentuk Gambar dengan Sudut Pandang Bird Eyes View ... 34
Gambar 2.16
Contoh Gambar dengan Jarak Pandang Long Shot ... 34
Gambar 2.17
Contoh Bentuk Gambar dengan Jarak Pandang Full Shot ... 35
Gambar 2.14
Contoh Bentuk Gambar dengan Jarak Pandang Medium Shot ... 35
Gambar 2.19
Contoh Bentuk Gambar dengan Jarak Pandang Close Up ... 36
Gambar 2.20
Contoh Bentuk Gambar dengan Jarak Pandang Big Close Up ... 36
Gambar 2.24
Contoh Bentuk Garis Gerak dalam Komik ... 42
Gambar 2.25
Contoh Bentuk Peralihan Panel ... 43
Gambar 2.26
Alur Baca, Panel-panel Biasanya di Baca dari Kanan ke Kiri ... 43
Gambar 2.27
Proporsi Anatomi Tipe Karakter Super Deformed ... 53
Gambar 2.32
Proporsi Anatomi Tipe Karakter Chibi ... 53
Gambar 2.33
Proporsi Anatomi Tipe Karakter Realistis ... 54
Gambar 2.34
Proporsi Anatomi Tipe Karakter Semi Realistis ... 54
Gambar 2.35
Gambar 2.36
Jenis-jenis Aksesoris Kacamata dalam Manga ... 59
Gambar 2.40
Jenis-jenis Aksesoris Kepala dalam Manga ... 59
Drawing Pen 0,3 dan 0,1 ... 70
Salah Satu Halaman dalam Storyboard Komik ... 78
Gambar 3.10
Jendela pada Adobe Photoshop CS4 untuk Memulai Lembar Kerja Baru ... 82
Gambar 3.14
Memasukan Gambar ke dalam Adobe Photoshop CS4. ... 82
Gambar 3.15
Membuat Warna Hitam Solid ... 83
Gambar 3.16
Membuat Garis Grid ... 83
Gambar 3.17
Membuat Layer Background Diblok Hitam ... 84
Gambar 3.18
Gambar 3.19
Gambar yang Telah Diberi Warna ... 85
Gambar 3.20
Gambar yang Telah Diberi Pencahayaan ... 86
Gambar 3.21
Foto Awan ... 86
Gambar 3.22
Komik Halaman ke-2 Secara Utuh yang Telah Diberi Pencahayaan dan Foto.. 87
gambar 3.23
menyeleksi Screen Tone yang Akan Dipakai Efek dalam Komik ... 88
Gambar 3.24
Memindahkan Screen Tone ke Lembar Komik ... 88
Gambar 3.25
Merapihkan dan Menghapus Screen Tone ... 89
Gambar 3.26
Hasil Gambar yang Telah Diberi efek Screen Tone ... 89
Gambar 3.27
Garis Gerak ... 90
Gambar 3.28
Hasil Gambar yang Telah Diberi Efek Screen tone dan Garis Gerak ... 91
Gambar 3.29
Bentuk-bentuk Balon Kata ... 91
Gambar 3.30
Gambar 3.31
Gambar Komik Halaman ke-2 yang Sudah Selesai ... 94
Gambar 3.35
Proses Pewarnaan dengan Adobe Photoshop CS4 ... 93
Gambar 3.36
Gambar Komik “Long Hu Men ……… 101
Penanda Chapter (Jurus-jurus Dasar) ... 103
Gambar 4.7
Penanda Chapter (Jurus-jurus Dasar) ... 104
Gambar 4.8
Penanda Chapter (Jurus-jurus Dasar) ... 104
Gambar 4.9
Cover Komik Mata Elang ... 105
Gambar 4.10
Perbandingan Antartokoh... 106
Gambar 4.11
Sketsa Perspektif pada Komik Halaman ke-56 ... 106
Gambar 4.12
Hasil Akhir Komik Halaman 56 ... 107
Gambar 4.13
Sketsa Perspektif pada Komik Halaman 47 ... 107
Gambar 4.14
Hasil Akhir Komik Pada Halaman 47 ... 108
Gambar 4.15
Gambar 4.16
Penggunaan Sudut Pandang High Angle pada Komik Halaman 82 ... 109
Gambar 4.17
Penggunaan Sudut Pandang Low Angle pada Komik Halaman 33 ... 109
Gambar 4.18
Penggunaan Sudut pandang Frog Eye’s View pada Komik Halaman 76 ... 109
Gambar 4.19
Penggunaan Sudut Pandang Bird Eye’s View pada Komik Halaman 78 ... 110
Gambar 4.21
Bentuk Peralihan Panel dari Aksi ke Aksi.. ... 113
Gambar 4.26
Bentuk Peralihan Panel dari Subjek ke Subjek ... 114
Gambar 4.27
Bentuk Peralihan Panel dari Lokasi ke Lokasi ... 114
Gambar 4.28
Gambar 4.29
Panel Jamak/Panel Majemuk 2-5 Panel ... 116
Gambar 4.30
Contoh Bentuk Balon kata dan Caption ... 117
Gambar 4.31
Bentuk Efek Suara dalam Komik ... 118
Gambar 4.32
Garis Gerak dengan Efek Radial Blur dan Zoom Line Screen Tone ... 118
Gambar 4.33
Tokoh Elang Putera dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 121
Gambar 4.37
Tokoh Senja Purnama dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 122
Gambar 4.38
Tokoh Bapak Iman dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 123
Gambar 4.39
Tokoh Winara dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 124
Gambar 4.40
Gambar 4.41
Tokoh Ucok dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 126
Gambar 4.42
Tokoh Samudera dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 127
Gambar 4.43
Tokoh Rama dan Kode Warna dalam Colour Picker ... 128
Gambar 4.44
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seni bela diri yang menjadi salah satu budaya Indonesia dan juga merupakan
saksi jalannya perjuangan rakyat Indonesia pada masa penjajahan adalah seni bela
diri pencak silat. Tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke
mulut, diajarkan dari guru ke murid. Karena hal itulah catatan tertulis mengenai asal
mula silat sulit ditemukan. Kebanyakan sejarah silat dikisahkan melalui legenda
yang beragam dari satu daerah ke daerah lain. Asal mula ilmu bela diri di Indonesia
kemungkinan berkembang dari keterampilan suku-suku asli Nusantara dalam berburu
dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan tombak.
Penggabungan kata pencak dan silat menjadi kata majemuk untuk pertama
kalinya dilakukan pada waktu dibentuk suatu organisasi persatuan dan perguruan silat
di Indonesia yang diberi nama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pada tahun 1948
di Surakarta. Sejak saat itu pencak silat menjadi organisasi resmi di Indonesia.
Perguruan-perguruan yang mengajarkan pencak silat asal Indonesia di berbagai
negara kemudian juga menggunakan istilah pencak silat.
Pencak silat merupakan seni bela diri tradisional yang berasal asli dari
Nusantara, dan merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang
berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat. Pengertian pencak silat secara umum
adalah merupakan metode bela diri yang diciptakan untuk mempertahankan diri dari
bahaya yang dapat mengancam keselamatan dan kelangsungan hidup. Sedangkan di
dalam Kamus Bahasa Indonesia (1988, hlm. 663) dijelaskan perbedaan pengertian
pencak dan silat bahwa
berkelahi, seni bela diri khas Indonesia, dengan ketangkasan membela diri dan menyerang untuk pertandingan atau perkelahian.
Meskipun pengertian pencak dan silat berbeda, namun tidak menjadi
permasalahan karena istilah tersebut menjadi kesatuan yang utuh. Banyak sekali
filosofi-filosofi hidup yang terkandung dalam seni bela diri pencak silat, tidak hanya
terpaku pada gerakan menyerang dan menangkis. Aspek lainnya adalah disiplin
pencak silat, kata disiplin mempunyai dua pengertian, yakni aturan (pepakem) dan
kepatuhan. Disiplin pencak silat mencakup disiplin individual dan sosial, disiplin
internal dan eksternal serta disiplin mental dan fisikal yang wajib ditegakan oleh
setiap manusia pencak silat. Dengan banyaknya aspek-aspek dan nilai dalam pencak
silat yang tidak hanya menonjolkan keindahan gerakan bela dirinya, banyak filosofi
hidup bisa membuat cerita kaya makna dan menjadi pelajaran hidup.
Salah satu cara melestarikan warisan kebudayaan bangsa adalah dengan
mengambil tema pencak silat, agar terus berkembang dan semakin dikenal oleh
masyarakat. Media visual yang dipakai adalah komik, karena mengikuti jejak-jejak
komikus pendahulu yang sukses mempopulerkan komik silat. Komik sendiri memiliki pengertian “sebuah dunia tutur gambar, suatu rentetan gambar yang bertutur menceritakan suatu kisah.” (Masdiono 1998, hlm.9).
Tema-tema silat yang diangkat menjadi komik bercerita tentang
pendekar-pendekar yang merantau yang mempunyai ilmu kebatinan dan ilmu sihir untuk
membasmi kejahatan. Judul komik yang paling terkenal “Si Buta Dari Gua Hantu”
karya Ganes TH, ”Djampang Djago Betawi” karya Zaidin Wahab dan Ganes TH, “Panji Tengkorak” karya Hans Jaladara dan Ganes TH, dan masih banyak lagi. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin pesat teknologi menandakan zaman
era modern, dari sanalah ide untuk membuat komik dengan tema silat bersetting
zaman sekarang. Komik yang ingin dibuat berbeda namun tetap memelihara esensi
Ketertarikan penulis terhadap komik sudah lama, sejak masih duduk di
bangku sekolah dasar. Dalam pembuatannya diperlukan observasi yang mendalam
agar cerita semakin matang dan kuat sehingga terciptalah komik yang bagus dan
menarik. Penulis berkeinginan keras agar pengetahuan dan kemampuan yang penulis
miliki dalam membuat komik dapat direalisasikan. Sehingga memberikan
pengalaman, manfaat, dan berbagi dengan orang lain, baik dalam pencak silat
maupun dalam hal membuat komik. Penulis men
gamati perkembangan seni bela diri pencak silat di kancah Internasional
lewat film dan komik “The Raid”. Untuk semakin meramaikan dan mengenalkan pencak silat, penulis berencana membuat komik tentang seni bela diri pencak silat.
Perpaduan antara unsur tradisional dan modern sehingga komik ini bersifat
menghibur tetapi berisi makna filosofis, budaya dan sejarah dari seni bela diri pencak
silat itu sendiri.
Berangkat dari pencak silat sebagai seni bela diri yang fenomenal berasal dari
Tanah Air dan aksi-aksi fantasi Elang dalam menumpas kejahatan seperti dalam film “The Raid”, komik ini bercerita bagaimana Elang harus menegakkan kebenaran, mengembalikan generasi putih dan menghapuskan generasi hitam. Supaya seni bela
diri pencak silat kembali kepada ajaran dan filosofi yang murni seperti dulu.penulis
akan membuat skripsi penciptaan berjudul: Komik “Mata Elang”.
B. Rumusan Masalah
Skripsi ini akan memfokuskan pada bidang kekaryaan seni rupa tentang
membuat karya komik dengan menggunakan tema seni bela diri pencak silat, dengan
demikian rumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimana mengembangkan ide karya komik “Mata Elang” sebagai komik
bertema seni bela diri pencak silat?
2. Bagaimana proses dan teknik membuat karya komik “Mata Elang” sebagai komik
3. Bagaimana analisis konsep dan visual estetik karya komik “Mata Elang” sebagai
komik bertema seni bela diri pencak silat?
C. Tujuan Penciptaan
Penelitian ini bertujuan:
1. Menjelaskan ide “Mata Elang” sebagai komik bertema seni bela diri pencak silat.
2. Membut dan menjelaskan tahapan pembuatan “Mata Elang” sebagai komik
bertema seni bela diri pencak silat.
3. Mendeskripsikan konsep dan visualisasi estetik “Mata Elang” sebagai komik
bertema seni bela diri pencak silat.
D. Manfaat Penciptaan
1. Manfaat Teoretik
Manfaat penelitian secara teoretik adalah untuk mengembangkan dan
menemukan konsep berkarya yang kreatif baru tentang “Mata Elang” sebagai komik
bertema seni bela diri pencak silat.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini secara praktis adalah diharapkan dapat mewujudkan karya seni
rupa yang inovatif tentang “Mata Elang” sebagai komik bertema seni bela diri pencak
silat.
E.Metode Penciptaan
Dengan mengacu pada tema seni bela diri pencak silat, diperlukan kajian yang
lebih mendalam terhadap cerita yang lebih relevan. Selain sumber bacaan yang
relevan dibutuhkan juga observasi sebagai sumber sekunder. Observasi dilakukan
Komik “Mata Elang” sebagai media penyampaian cerita seni bela diri pencak
silat memiliki tahapan yang lazim dalam proses pembuatannya, yaitu penyusunan
naskah cerita, pembuatan karakter, pembuatan sketsa, penintaan, pewarnaan,
pemberian teks dan layout, sebagian besar tahapan tersebut penulis lakukan secara
manual dan digital (hibrida).
Tahap manual dilakukan di awal, yaitu dengan pembuatan naskah dan sketsa
untuk storyboard dalam kertas berukuran A4. Kemudian pembuatan komik dilakukan
dengan teknik digital ilustrasi dengan mengacu pada storyboard. Adobe Photoshop
CS4, adalah perangkat lunak utama yang digunakan dalam proses pembuatan ilustrasi, dan pewarnaan termasuk layout halaman.
E. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam penulisan serta pembacaan laporan penciptaan
karya komik yang berjudul: “MATA ELANG” KOMIK BERTEMA SENI BELA
DIRI PENCAK SILAT. Adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN, yang berisi tentang Latar Belakang Penciptaan,
Masalah Penciptaan, Tujuan Penciptaan, Manfaat Penciptaan, Kajian Sumber
Penciptaan, Metode Penciptaan, serta Sistematika Penulisan.
BAB II LANDASAN PENCIPTAAN, bagian ini memaparkan penjelasan
tentang pencak silat, manga, komik, dan warna.
BAB III METODE PENCIPTAAN, menjelaskan tentang metode dan
langkah-langkah yang penulis gunakan dalam membuat karya ini, yaitu:
Ide Berkarya, Kontemplasi, Stimulasi Berkarya, Pengolahan Ide, Proses Berkarya:
Persiapan Alat dan Bahan, Pembuatan cerita, Pembuatan Story Line dan Story Board,
Tahap Pembuatan Sketsa (pensil), Tahap Inking, Tahap Scanning, Tahap Pewarnaan,
BAB IV ANALISIS VISUALISASI KARYA, berisi analisis dan
pembahasan karya komik yang diciptakan di antaranya membahas: Konsep berkarya
Komik, materi Komik, dan Pengemasan
BAB V PENUTUP, bagian terakhir ini berisi kesimpulan hasil penciptaan
BAB III
METODE PENCIPTAAN
A. Ide Berkarya
Bangsa Indonesia mewariskan begitu banyak kebudayaan dan sejarah, salah
satunya adalah seni bela diri pencak silat. Pencak silat menjadi bagian dari
kebudayaan bangsa karena berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat. Dalam
pencak silat bukan hanya sekedar mempelajari gerakan dan jurusnya saja, melainkan
mempelajari falsafah dan disiplin pencak silat sebagai filosofi hidup yang dijunjung
tinggi, sehingga banyak seniman, penulis, pelaku film, dan tidak terkecuali komikus
untuk mengangkat tema-tema tersebut.
Komikus-komikus pendahulu sempat mempopulerkan komik silat sehingga
merajai genre komik di Indonesia, dan tema-tema silat yang diangkat menjadi komik
bercerita tentang pendekar-pendekar yang merantau yang mempunyai ilmu kebatinan dan ilmu sihir untuk membasmi kejahatan. Judul komik yang paling terkenal “Si Buta Dari Gua Hantu” karya Ganes TH,” Djampang Djago Betawi” karya Zaidin Wahab
dan Ganes TH, “Panji Tengkorak” karya Hans Jaladara dan Ganes TH, dan masih
banyak lagi.
Seni bela diri pencak silat di kancah Internasional lewat film dan komik “The
Raid” mengangkat nama Indonesia. Film tersebut meraih sambutan dan antusias dari para penonton mancanegara, menjadikannya film fenomenal berasal dari Tanah Air
karena memamerkan gerakan-gerakan khas dan indah pencak silat. Film “The Raid” sudah dibuat dalam tiga sekuel lewat film yang pertama “Merantau”, kemudian dilanjutkan lewat “The Raid Redemption” dan yang terbaru “The Raid 2 Berandal”.
Hal ini yang mendasari sebagai pengembangan gagasan dalam berkarya seni
komik dengan cerita yang dilatarbelakangi oleh seni bela diri khas Indonesia, yaitu
pencak silat dengan perpaduan antara tradisional dan modern sehingga komik ini
bersifat menghibur tetapi berisi makna filosofis, budaya dan sejarah dari seni bela diri
Bagan 3.1
Dengan mengacu pada tema seni bela diri pencak silat, diperlukan kajian yang
lebih mendalam terhadap cerita yang lebih relevan. Selain sumber bacaan yang
relevan dibutuhkan juga observasi sebagai sumber sekunder. Observasi dilakukan
untuk mencari sumber pustaka dengan melakukan wawancara. Komik “Mata Elang”
sebagai media penyampaian cerita seni bela diri pencak silat memiliki tahapan yang
lazim dalam proses pembuatannya, yaitu mulai dari stimulus berkarya yang menjadi
ide/gagasan berkarya, menganalisis kebutuhan, riset awal, penyusunan naskah cerita,
pembuatan karakter, pembuatan sketsa, penintaan, pewarnaan, pemberian teks dan
layout, sebagian besar tahapan tersebut penulis lakukan secara manual dan digital (hibrida).
B. Proses Desain
Seniman grafis yang tidak hanya mengandalkan ketajaman intuisi serta
kecemerlangan ide namun sebuah desain grafis yang baik memiliki tujuan atau misi
tertentu saat menyampaikan pesan, memiliki segmentasi kepada siapa pesan akan
disampaikan. Informasi yang diperoleh perlu dievaluasi, dianalisis, dan diproses
dengan mengumpulkan review data dan hasil riset. Tahap selanjutnya menargetkan sasaran pembaca dan pesan apa yang akan disampaikan komik “Mata Elang” agar komik ini menjadi tepat sasaran.
C. Analisis Kebutuhan
Komik Silat pada umumnya lebih disukai kalangan dewasa dan remaja akhir,
dengan rata-rata usia 17 tahun ke atas karena ada bagian-bagian keras yang dapat
merangsang adrenalin pembaca. Karakteristik usia dewasa dan remaja akhir adalah
sudah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga sudah
mampu menyaring sesuatu tanpa ditelan mentah-mentah. Kompleks cerita dan gaya
visualnya yang lebih ekspresif dibuat untuk menghadirkan emosi yang diperlukan
dalam keperluan cerita. Untuk menargetkan usia pembaca remaja, kompleks cerita
dinikmati dua golongan umur tersebut. Dalam hal ini pemilihat gaya visual manga
dirasa bisa mewakili dua golongan umur tersebut.
Kategori segmen pembaca dengan usia dewasa sangat beragam, saat ini usia
dewasa secara standar pemerintah kita adalah 17 tahun, tetapi di beberapa negara ada
yang beda, mungkin 18 tahun atau ada yang 16 tahun. Gumelar memberikan segmen
pembaca dari mulai umur pra sekolah sampai dewasa, untuk komik “Mata Elang”
dengan segmen dewasa Gumelar (2009, hlm.12) menjelaskan bahwa
Cerita dewasa biasanya banyak kata-kata kasar, sumpah serapah, adegan kekerasan dan seksual. Oleh karena itu, kita harus memberikan area tertentu pada sampul buku dengan tulisan untuk “17 TAHUN KEATAS atau “Bacaan Khusus Dewasa” di bukunya agar tidak dibeli oleh anak di bawah umur, dan penjual comic juga harus peduli juga dengan tidak meletakkan comic untuk dewasa ini di area yang mudah terjangkau oleh anak-anak dan remaja yang belum dewasa.
Kelemahan yang paling menojol adalah membangkitkan adrenalin dan emosi
menggunakan media dua dimensi, tidak seperti film yang didukung oleh aspek suara.
Komik silat lebih sulit jika tidak didukung oleh cerita yang kuat dan adegan-adegan
yang seru. Ke dalam media komik silat, penguasaan teknik menggambar dan teknik
bercerita mutlak diperlukan, seperti teknik-teknik beladiri dari mulai kuda-kuda
sampai serangan. Jadi sebisa mungkin halaman komik porsi laga dan drama bisa
seimbang.
Kelebihan komik silat adalah memiliki peminat tersendiri, apalagi kerinduan
tentang komik laga yang sudah jarang sekali, juga bisa mampu meningkatkan minat
baca dan daya khayal pembaca, khususnya di Indonesia bisa menjadi lahan baru bagi
industri kreatif.
D. Stimulus Berkarya
Stimulus adalah rangsangan yang memberi inspirasi dalam menciptakan
suatu karya seni. Agar kreativitas dan hasrat dalam berkarya seni dibutuhkan stimulus
referensi-referensi lain seperti menonton film-film laga, khususnya film mengenai
pencak silat yang bisa diangkat sebagai studi bentuk.
Gambar 3.1
Film “Merantau” dan “The Raid Redemption”
(Sumber: http://asianwiki.com/The_Raid_(Indonesia_Movie.jpg dan httptwitchfilm.comassets201011MerantauBlu.jpg)
Gambar 3.2 Film “The Raid 2”
E. Pengolahan Ide
Pengolahan ide adalah proses pengolahan konsep yang kemudian diwujudkan
ke dalam bentuk karya melalui eksplorasi dan eksperimentasi dari media dan gagasan
awal. Tahap ini bisa disebut juga sebagai tahap perencanaan, di mana penulis
mengolah stimulus menjadi gagasan yang dapat dibuat menjadi sebuah karya.
Sebagian besar pengolahan ide (pembuatan karya) penulis sempurnakan dengan
menggunakan bantuan software computer program Adobe Photoshop.
F. Persiapan Alat dan Bahan
Berikut adalah alat dan bahan yang digunakan dalam proses berkarya komik
ini, yakni:
Gambar 3.3 Kertas HVS Ukuran A4 (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penulis menggunakan kertas HVS berat 100 gram, karena media yang cukup
tebal sangat cocok untuk teknik blok, karena penulis memblok bagian-bagian tertentu
dengan spidol. Penulis menyediakan kurang lebih seratus halaman untuk membuat
sketsa.
2. Pensil HB dan 2B
Penulis memakai jenis pensil HB dan pensil 2B Faber Castell untuk membuat
sketsa komik. Pensil HB untuk membuat detail wajah tokoh karakter sedangkan
pensil 2B untuk menggambar background.
3. Penghapus
Gambar 3.5 Penghapus Pensil (Sumber: Dokumen Penulis)
Penulis menggunakan penghapus Faber Castell karena lembut saat
menghapus sehingga membuat permukaan kertas tidak berubah.
Gambar 3.6
Drawing Pen 0,3 dan 0,1
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Penulis menggunakan dua jenis drawing pen merek Snowman dengan ukuran
0.3 dan 0.1. ukuran 0,1 digunakan untuk detail dan 0.3 digunakan untuk background.
5. Spidol
Gambar 3.7 Spidol
(Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penulis menggunakan spidol Snowman untuk mewarnai bagian bagian yang
akan di blok hitam.
Gambar 3.8
Laptop
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Penulis menggunakan laptop Asus ukuran 11,6” dengan Tipe Eee PC 1025CE
Seashell Series dengan spesifikasi Processor Intel (R) Atom (TM) CPU N2600 1.60 GHz. Dengan memory (RAM) 2.00 GB. Gaming Graphics 761 MB dan primary hard
disk 49 GB.
G. Proses Pembuatan Komik
1. Pembuatan Sinopsis
Dalam merumuskan sinopsis, penulis mengambil tema seni bela diri pencak
silat. Kemudian penulis mengarang sendiri cerita “Mata Elang”.
a. Tema komik
Komik ini merupakan komik laga, komik yang bertemakan seni bela diri
pencak silat. Komik pencak silat ini penulis jadikan sebagai latar belakang. Untuk
antara tradisional dan modern sehingga komik ini bersifat menghibur tetapi berisi
makna filosofis, budaya dan sejarah dari seni bela diri pencak silat itu sendiri.
b. Plot
Penulis menjabarkan bagian-bagian dalam cerita ini, yaitu bagian awal, bagian
tengah, dan bagian akhir
Bagian Pertama, diceritakan Elang bertemu dengan Samudera untuk
membicarakan banyak hal, mengenai Padepokan Merpati Putih dan Padepokan
Gagak Hitam. Sebuah rencana yang disiapkan Samudera untuk Elang untuk merebut
kembali Padepokan merpati Putih sekaligus generasi putih yang telah direnggut oleh
Padepokan Gagak Hitam. Elang yang sudah menguasai ilmu kebatinan lewat
perjalanan spritiulnya membuat Samudera percaya tugas ini dibebankan kepada
Elang.
Bagian Tengah, dilanjutkan dengan misi Elang sebagai mata-mata untuk
mengintai gerak-gerik mereka. Perubahan hidup Elang yang sederhana menjadi
seorang yang hidup serba kecukupan, semuanya karena Samudera yang memberikan
semua fasilitas kepada Elang. Samudera melakukan itu semua untuk penebusan
dosanya di masa lalu, karena telah melahirkan generasi hitam. Misi pertama Elang
adalah mengungkap rencana pembunuhan seorang politisi dan harus
menggagalkannya.
Bagian Akhir, rencana pembunuhan yang digagalkan oleh Elang menjadi titik
balik serangan balik Elang. Dengan bantuan teman-teman sepadepokan dulu ia
merebut kembali Padepokan Merpati Putih dengan mengalahkan Ketua dan anak
buahnya.
Setting cerita dalam komik ini menampilkan sebuah kehidupan di padepokan Merpati Putih dan Gagak Hitam, kedua padepokan tersebut bagaikan bumi dan langit.
Padepokan Merpati putih sangat sederhana sedangkan padepokan Gagak Hitam
sangat mewah dan besar, namun setting berubah saat dimana Elang belajar ilmu
kebatinan di sebuah pulau terpencil dan kembali ke Jakarta untuk merebut kembali
Padepokan Merpati Putih.
d. Data Komik
Komik ini berjudul Mata Elang, isinya merupakan karangan penulis sendiri
yang mengambil tema seni bela diri pencak silat. Jenis komik yang diusung adalah
komik aksi (action).
Karakter tokoh:
1) Elang Putra (Tokoh Protagonis)
2) Guru/Iman (Tokoh Protagonis)
3) Senja Purnama (Tokoh Protagonis)
4) Winara (Tokoh Protagonis)
10)Anak buah Ketua (Tokoh Figuran)
11)Dokter (Tokoh Figuran)
e. Sinopsis
Padepokan Merpati Putih adalah padepokan pencak silat yang didirikan oleh
Guru dan Samudera sejak dulu. Mengajarkan arti pencak silat yang sesungguhnya,
membuatnya ingin mendirikan padepokan besar. Seperti gayung bersambut keinginan
samudera bisa terwujud dengan adanya investor yang akan membiayai pembangunan
padepokan yang ia inginkan.
Padepokan Gagak Hitam pun berdiri megah, menenggelamkan padepokan
Merpati Putih, namun guru dan murid-muridnya masih setia belajar disana terkecuali
Samudera yang ikut bergabung di padepokan gagak hitam. Namun lambat laun
padepokan Gagak Hitam berubah menjadi organisasi berbahaya, dibawah pimpinan
ketua padepokan itu menjadi sejarah kelam dunia pencak silat, menjadikannya
generasi hitam. Bukan lagi tempat untuk belajar bela diri namun dijadikan alat untuk
membentuk sebuah prajurit dan mata-mata untuk menjatuhkan pemerintah. Semakin
menyimpangnya padepokan Gagak Hitam membuat Samudera salah langkah,
impiannya menjadi mimpi buruk, untuk itu sebagai rasa bersalahnya ia merencanakan
sesuatu dengan Elang. Ada sebuah kitab rahasia milik guru yang berisi khazanah
pencak silat, lewat kitab itu seseorang dapat memepelajari ilmu kebatinan. Samudera
yang mengetahui rencana ketua untuk menghancurkan Padepokan Merpati Putih,
bergegas untuk menyelamatkan secara diam-diam agar tidak diketahui oleh ketua.
Rencana Samudera pun cukup berhasil walau harus mengorbankan guru yang harus
dirawat karena menerima beberapa pukulan, namun Elang berhasil diselamatkan
dengan membawa kitab tersebut. Butuh waktu satu tahun untuk Samudera
membiarkan Elang sendirian bertahan hidup agar dapat fokus mempelajari kitab
tersebut.
Ketika satu tahun kemudian samudera yang langsung menjemput Elang dan
membawanya ke kediamannya, banyak hal yang mereka bicarakan. Samudera
memberikan semua fasilitas bagi Elang, Fasilitas untuk menghapus sejarah kelam
dunia pencak silat dan melenyapkan generasi hitam, juga merebut kembali padepokan
merpati putih yang dulu pernah hilang. Elang yang menguasai ilmu kebatinan
2. Membuat Storyline
Tahap selanjutnya adalah storyline akan menjabarkan lebih detail mengenai
cerita, setting tempat, juga dialog yang terjadi antar tokoh. Berikut adalah bentuk
storyline dari komik Mata Elang.
Tabel 3.1
Contoh Storyline Komik Mata Elang Chapter Ke-1
Halaman 1
Penanda Chapter satu Jurus ke satu “Kebetulan Adalah Takdir” ilustrasi seseorang dengan gerakan pukulan papas
Halaman 2
Cerita ini pun diambil di sebuah rumah besar
Long shot: Sebuah mobil jeep yang memasuki gerbang rumah besar Long shot: mobil jeep yang sudah memasuki halaman rumah
Long shot: Terlihat Elang datang diantar oleh seseorang.
Efek suara: “TAP” Close up: Terlihat seseorang yang
sedang berjalan
Halaman 3
Cerita ini diambil di atap rumah yang sangat besar dan megah.
Long shot: sebuah atap rumah dengan desain yang klasik.
Medium shot: Terlihat Elang sedang menunggu di lantai paling atas rumah dengan atap terbuka
Efek suara: “TAP” Close up : seseorang berjalan
mendekati Elang.
Medium shot: dan seseorang itu semakin mendekat.
Halaman 4 Samudera: “Kau sudah lama
mnunggu?”
Elang :”Tidak, hanya saya saja datang terlalu cepat.”
Samudera: “Semangat sekali HAHAHA.”
Elang: “Karena itu kau mencariku?”
Long Shot: Samudera semakin dekat menghampiri Elang.
Samudera: “Benar, ada sesuatu yang
harus kau lakukan!” Close up: Memperlihatkan sosok Samudera.
Elang terlihat terdiam sejenak Close up: Memperlihatkan sosok Elang Halaman 5
Samudera: “Tidakah kau mau
membalas dendam?” Close up: Memperlihatkan sosok Samudera.
Elang: “Maksudmu? Bagaimana
keadaan Guru dan Senja?” Medium shot: memperlihatkan sosok Elang.
Samudera: “Tenang mereka selamat dan berada ditempat yang aman dengarkan aku Elang, kita harus bergerak cepat, dengan kita bekerja sama kita bisa menyelamatkan banyak orang.”
Medium Shot: Memperlihatkan sosok Elang dan Samudera
Halaman 6
Elang kembali terdiam Medium shot: Memperlihatkan sosok Elang.
Samudera: “kau cukup percaya padaku, berapa banyak lagi yang akan menjadi korban, mungkin aku terlalu naïf.
Medium shot: memperlihatkan sosok Samudera dari samping.
Samudera: “Aku menyadari hal, jalurini salah, generasi hitam yang selama ini aku jalani. Aku harus memperbaikinya. Elang aku menyebut ini bukan
kebetulan, melainkan takdir.”
Long shot: Samudera yang menjelaskan semua kepada Elang.
Halaman 7
Samudera: “Ini tiket untukmu.” Medium shot: Samudera mengeluarkan
sebuah dokumen.
Efek suara: “:SREEEK” Close up: memberikan sebuah
dokumen. dokumen-dokumen ini agar kau bisa menjadi mata-mata.”
Medium shot: terlihat Samudera memberi Elang sesuatu.
Halaman 8
mendarat. Caption: “kau cukup percaya
padaku”berapa banyak lagi yang akan menjadi korban”aku terlalu naïf”aku menyadari satu hal” jalur ini slah.”
Medium shot: memperlihatkan sosok Elang yang baru mendarat.
Caption: “generasi hitam yang selama ini aku jalani”aku harus
memperbaikinya” Elang, aku bukan menyebutnya kebetulan, melainkan takdir.”
Close up: Elang memejamkan matanya.
Halaman 9 Terlihat dari kejauhan orang yang
hanya berlalu-lalang
Long Shot: memperlihatkan Elang dan bayangan-bayangan orang yang lewat. Halaman 10
Ketua: “Rama, bisakah kau singkirkan
padepokan kumuh yang ada disana itu!” Medium shot: memeperlihatkan hanya siluet ketua. Ketua: “Padepokan itu terlihat seperti
sampah, siapa saja yang tinggal disana?’’
Medium shot: Memperlihatkan sosok wajah ketua.
Rama: “Sama seperti yang saya pikirkan Ketua, ada tiga orang yang tinggal disana.”
Medium Shot: memperlihatkan sosok Rama.
Halaman 11 Terlihat ketua yang terkena cahaya
senja membentuk siluet wajahnya.
Medium shot: memperlihatkan siluet ketua dari belakang.
Ketua: “Begitukah? Singkirkan mereka semua dan hancurkan padepokan mereka!”
Medium shot: memperlihatkan sosok ketua dari depan.
Rama: “Baik Ketua.” Medium shot: memperlihatkan sosok
Rama. Halaman 12 Ketua: “Satu lagi, bawakan aku kitab
pencak silat, kau harus mendapatkannya!”
Medium shot: memperlihatkan sosok Ketua.
Medium shot: Rama menunduk
Rama: “Baik Ketua.” Medium shot: memperlihatkan sosok Rama
Halaman 13 Samudera: “Padepokan yang ketua
bilang adalah padepoka sahabat baik saya, namun saya tidak puas dengan padepokan Merpati Putih yang
sederhana, kecil dan muridnya sedikit. Saya memiliki kekuasaan akan lahan-lahan di Padepokan Merpati Putih.”
Medium shot: prolog Samudera.
Samudera: “Saya pun akhirnya bertemu politisi dan pengusaha yang ingin membeli tanah. Seperti gayung bersambut tanah tersebut juga akan dibangun padepokan. Saya ingin berkembang akhirnya menjualnya pada mereka. Namun itu semua menjadi malapetaka.”
Medium shot: prolog Samudera.
Samudera: “Padepokan baru pun muncul padepokan Gagak Hitam. Saya lah yang mengawali geberasi hitam ini. Dan saya yang harus mengakhirinya.”
Medium shot: prolog Samudera.
3. Pembuatan Storyboard
Tahapan selanjutnya adalah storyboard, tahap ini akan memberikan sedikit
Gambar 3.9
Salah Satu Halaman Dalam Storyboard Komik (Sumber: Dokumentasi Penulis)
4. Membuat Karakter Tokoh Verbal
Untuk cerita inti tahapan ini dilakukan setelah penulis mengetahui jalan isi
cerita secara keseluruhan. Sedangkan untuk komik silat perumusan karakter tokoh
verbal berdasarkan informasi yang didapat penulis dari berbagai sumber, sehingga
dapat memberikan penjelasan mengenai sifat atau watak dari suatu tokoh dalam
komik, sekaligus membantu dalam pembuatan desain karakter.
Tabel 3.1
Gambaran Tokoh Secara verbal
No. Nama Tokoh Gambaran Tokoh Secara Verbal
dengan memakai kopiah. Namun semua itu berubah saat Elang harus menerima kenyataan pahit, karena padepokan yang menjadi rumah baginya hancur beserta orang-orang yang sangat dia cintai. Mendalami ilmu kebatinan lewat kitab khazanah pencak silat, membuatnya memiliki kemampuan inderawi yang lima kali lipat dari orang biasa matanya tajam, mampu melihat benda-benda tersembunyi, pendengarannya tajam mampu mendengar tetesan air, gerakannya cepat dan lincah. 2 Senja Purnama Tokoh perempuan berusia 23 tahun dengan wajah cantik
dan ayu rambutnya panjang menggerai, perempuan yang sangat disukai oleh Elang. Sebelum Elang mendapat kekuatan ia selalu kalah bertanding melawan Senja, karena ia adalah anak perempuan satu-satunya dari guru padepokan pencak silat merpati putih. Ia pun sudah tidak memiliki ibu dan hanya tinggal berdua dengan ayahnya sebelum Elang ikut tinggal di sana.
3 Guru/Bapak Iman Tokoh panutan Elang, orang yang mengajarkannya semua tentang bela diri pencak silat, dengan perawakan cukup tua namun fisiknya terlihat seperti muda dengan gagah dan tegap. Berusia 51 tahun dengan pengalaman hidup makan asam garam, dan merupakan sahabat dari Samudera yang kini Samudera telah beralih ke padepokan Gagak hitam. Penampilan guru sangatlah sederhana dengan sering mengenakan baju koko dan kopiah.
4 Winara Tokoh laki-laki yang ikut belajar di padepokan Merpati Putih bersama Elang. Laki-laki tampan dan kaya berusia 25 tahun dengan cukup tampan. Winara sangat menyukai Senja dia belajar dipadepokan merpati putih selain karena Senja, juga Winara sudah bosan dengan padepokan-padepokan lain yang sudah ada kepentingan-kepentingan pribadi dan dinodai dengan hal-hal yang tidak perlu. Bersama adiknya Winari ia belajar kemurnian seni bela diri pencak silat.
6 Ucok Tokoh paling berantakan ialah Ucok, berusia paling tua dari teman-teman sebayanya 29 tahun, dengan brewok dan rambut yang ikal. Ucok adalah pengangguran dan paling suka dengan meminjam uang alias ngutang.
7 Samudera Tokoh yang bisa disebut sebagai terjadinya keberadaan Padepokan Gagak Hitam. Berusia 48 tahun, dengan perawakan berbeda dari temannya iman, ia lebih gagah dengan selalu mengenakan jas dan dasi. Samudera adalah teman baik dari guru padepokan merpati putih, namun ia tidak puas dengan padepokan merpati putih yang sederhana, kecil dan muridnya hanya itu-itu saja, ia memiliki kekuasaan atas tanah-tanah disekeliling padepokan merpati putih. Iapun akhirnya menemukan seorang politisi dan penguasa yang ingin membeli tanahnya. Seperti gayung bersambut tanah tersebut juga akan dibangun padepokan, Samudera yang ingin berkembang akhirnya merelakan tanah dan dirinya untuk mengabdi padanya.
8 Rama Tokoh yang menjadi tangan kanan ketua, dengan perawakan yang sangat muda dan berbakat. Kecerdasan Rama yang menjadikannya tangan kanan ketua. Dengan usia yang baru 25 tahun ia sudah memiliki segalanya, pertahanan, koneksi dan kekuasaannya mampu membuat orang tunduk. Selain itu kemampuan bela dirinya sangat hebat, menjadikannya dijuluki perfect man.
9 Ketua/Subroto Tokoh paling antagonis dengan perawakan cukup tua dengan janggut yang lebat, Subrotolah yang membangun padepokan baru nan canggih bernama padepokan gagak hitam yang menenggelamkan padepokan kecil dan sederhana Merpati Putih. Dengan penampilan seperti bos, selalu mengenakan jas dan dasi layaknya mafia, dia menciptakan generasi kelam, generasi hitam. Dengan membuat kepentingan pribadi di atas nama padepokan pencak silat ia membangun kerajaan dan prajurit untuk menentang pemerintah dan berkuasa.
Sumber: (Dokumentasi Penulis)
5. Mendesain Karakter Tokoh
Setelah perumusan karakter tokoh secara verbal, tahap selanjutnya adalah
Gambar 3.10
Desain Karakter dalam Komik (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Gambar 3.11
Gambar 3.12
Desain Karakter dalam Komik (Sumber: Dokumentasi Penulis)
6. Visualisasi Komik
a. Review
Hal pertama yang dilakukan dalam memasuki visualisasi komik adalah
melakukan sinkronisasi antara stroryline dengan storyboard. Dalam sinkronisasi ini
akan dikaji ulang segi visual seperti panel, sudut pandang, anatomi, posisi karakter
dan lain-lain. Hal ini dilakukan agar karya yang dihasilkan sesuai dengan yang
diharapkan oleh penulis. Setelah ini barulah masuk ke tahap komputerisasi secara
menyeluruh.
b. Layout Panel dan background
Dari hasil mengkaji ulang tersebut disalurkan dalam layout panel yang
kerja baru dalam Adobe Photoshop CS4. Berikut adalah tahap-tahap dalam
pembuatannya.
1) Tekan tombol Ctrl+N, kemudian lakukan pengaturan ukuran (size A4), resolusi
(resolution 300) dan mode warna yang digunakan (colour mode RGB).
Gambar 3.13
Jendela pada Adobe Photoshop CS4 untuk Memulai Lembar Kerja Baru (Sumber: Dokumentasi Penulis)
2)Masukkan gambar yang sudah dipindai ke dalam layer Adobe Photoshop CS4.
Gambar 3.14
3) Untuk membuat warna hitam solid dari bekas pindaian, menggunakan Adjusment Treshold.
Gambar 3.15 Membuat Warna Hitam Solid (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Gambar 3.16 Membuat Garis Grid (Sumber: Dokumentasi Penulis)
5) Dalam layer background garis pinggir di blok hitam dengan menggunakan paint bucket tool.
Gambar 3.17
Membuat Layer Background di Blok Hitam (Sumber: Dokumentasi Penulis)
6) Buat layer baru, pilih menu layer pada menu, lalu pilih new kemudian klik layer.
Bisa juga dengan langsung menekan tombol Shift+Ctrl+N pada keyboard. Maka akan
langsung muncul keterangan layer dan pengaturannya, ganti nama layer sesuai yang
Gambar 3.18
Jendela Keterangan untuk Membuat Layer Baru (Sumber: Dokumentasi Penulis)
c. Pewarnaan
Karena pembuatan gambar dilakukan secara manual, dengan proses sketsa,
inking dan scanning tahap selanjutnya setelah merapihkan outline dan background adalah pewarnaan.
1) Tahap pertama adalah dengan memberikan warna dasar pada tiap elemen seperti
Gambar 3.19
Gambar yang Telah Diberi Warna (Sumber: Dokumentasi Penulis)
1) Gelap terang (pencahayaan)
Bagian pencahayaan dilakukan dengan menggunakan brush tool jenis soft
Gambar 3.20
Gambar yang Telah Diberi Pencahayaan (Sumber: Dokumentasi Penulis)
2) Pemberian template
Untuk bagian awan, penulis menggunakan foto awan agar menambah kesan
realistis.
Foto Awan
(Sumber: sky+Photos+and+wallpapers+02.jpg)
Gambar 3.22
Komik Halaman Ke-2 Secara Utuh yang Telah Diberi Pencahayaan dan Foto (Sumber: Dokumentasi Penulis)
d. Screen tone dan garis gerak
Ada beberapa halaman komik yang menggunakan screen tone, khususnya
pada adegan-adegan aksi dan pertarungan. Agar memperkuat momen dalam
1) Seleksi area screen tone yang akan dipakai dengan menggunakan rectangular
marquee tool. Penulis di sini memakai skybase zoom line.
Gambar 3.23
Menyeleksi Screen Tone yang Akan Dipakai Efek Dalam Komik (Sumber: Dokumentasi Penulis)
2) Pindahkan screen tone yang sudah diseleksi dengan Ctrl+C kemudian Ctrl+V ke
Gambar 3.24
Memindahkan Screen Tone ke Lembar Komik (Sumber: Dokumentasi Penulis)
3) Rapihkan screen tone, menyesuaaikan dengan panel-panel dalam komik dan
menyeleksi screen tone yang tidak terpakai dengan delete.
Gambar 3.25
Gambar 3.26
Hasil Gambar yang Telah Diberi Efek Screen Tone (Sumber: Dokumentasi Penulis)
4) Garis gerak adalah garis untuk menambah efek pada gerakan-gerakan dan
adegan-adegan cepat sehingga membuat gerakan seperti hidup. Garis gerak ini penulis buat
Gambar 3.27 Garis Gerak
(Sumber: Dokumentasi Penulis)
5) Kemudian Garis gerak dimasukkan ke dalam gambar yang sudah diberi efek
Gambar 3.28
Hasil Gambar yang Telah Diberi Efek Screen Tone dan Garis Gerak (Sumber: Dokumentasi Penulis)
a) Balon Kata
Balon kata dengan berbagai variasi, mulai dari kotak narasi, balon suara
terkejut, marah, balon suara untuk berbicara di dalam hati dan lain-lain.
Gambar 3.29 Bentuk-bentuk Balon Kata
1) Seleksi area balon kata yang diinginkan dengan menggunakan rectangular marquee tool.
Gambar 3.30
Menyeleksi Balon Kata yang Diinginkan (Sumber :Dokumentasi Penulisan)
2)Klik Ctrl+C kemudian Ctrl+V pada lembar komik.
Gambar 3.31
3) Masukan teks dialog dengan menggunakan horizontal type tool dalam balon kata
ataupun caption, font yang digunakan Comic Sans MS.
Gambar 3.32
Balon Kata yang Dapat Dimasukkan Teks (Sumber: Dokumentasi Penulis)
b)Bunyi Huruf (Efek Suara)
Pembuatan bunyi huruf dilakukan di layer yang sama dengan layer balon kata
yang sudah memiliki stroke atau outline. Gunakan brush tool atau horizontal type
Gambar 3.33
Hasil Pembuatan Bunyi Huruf (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Gambar 3.34
Pada dasarnya setiap komikus atau ilustrator mempunyai teknik
masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut terletak dari
media, bahan ataupun tahap pembuatan yang tidak selalu berurutan.
Gambar 3.35
Proses Pewarnaan dengan Adobe Photoshop CS4 (Sumber: Dokumentasi Penulis)
3)Pencetakan dan Penjilidan
Setelah semua halaman komik selesai dibuat, file disusun berdasarkan
halaman yang berurutan. Cetak semua halaman pada kedua sisi di kertas HVS ukuran
A5 dengan printer biasa sehingga menjadi sebuah komik setengah jadi atau disebut
juga dummy. Dummy merupakan sebuah prototype atau komik tiruan sebelum naik
cetak. Tujuan dibuatnya adalah untuk merevisi komik jika ada dialog atau narasi yang
salah. Sebelumnya dummy dikoreksi oleh pembimbing, dalam hal ini pembimbing
Gambar 3.36
Dummy Komik
(Sumber: Dokumentasi Penulis)
Selain untuk merevisi, pembuatan dummy juga dapat membantu proses layout
halaman agar komik siap naik cetak. Layout halaman dilakukan dalam program di
komputer bernama Adobe Photoshop CS4. File komik pada ukuran A3 di mana setiap
page diatur berdasarkan halaman cetak. Misal jika suatu buku atau komik terdiri dari 4 halaman maka halaman yang diatur dalam lembar kerja Adobe Photoshop adalah
halaman 1 dan 2 pada lembar pertama dan halaman 3 dan 4 pada lembar kedua.
Gambar 3.37 Ilustrasi Layout Halaman (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Gambar 3.38
Proses Layout Halaman dengan Adobe Photoshop CS4 (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Setelah file diatur sesuai dengan halaman yang diinginkan, maka komik siap
naik cetak. Pencetakan komik Mata Elang diilakukan di Percetakan Tirta Anugerah
Bandung pada kertas jenis art paper 150 g ukuran A3, sedangkan untuk cover, art
Gambar 3.39
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Komik “Mata Elang” merupakan karya ilustrasi bertema seni bela diri khas
Indonesia, yaitu pencak silat. Bela diri ini digunakan sebagai latar belakang,
sedangkan cerita inti merupakan cerita fiksi aksi yang dikarang penulis sendiri.
Pembuatan komik Mata Elang dibuat berdasarkan gerakan-gerakan asli pencak silat
karena sudah terlebih dahulu dirundingkan dengan guru pencak silat. Komik ini
ditujukan bagi remaja dan dewasa, dengan pertimbangan bahwa remaja dan dewasa
sudah mampu menangkap cerita serta adegan-adegan perkelahian yang terdapat
dalam komik secara bijaksana. “Mata Elang” adalah judul yang penulis pilih karena
kata Elang memberikan banyak sekali arti, dimulai dengan nama tokoh utama yaitu
Elang Putera yang mempunyai tatapan seperti Elang. Elang juga adalah jenis burung
terkuat sama seperti teknik garuda yang menjadi simbol burung terkuat diantara jenis
burung lainnya, karena memiliki kemampuan bertarung yang paling tinggi sehingga
munculah jurus Mata Elang.
Dalam proses visualisasi komik penulis menggunakan teknik hybrid, yaitu
gabungan antara teknik manual dan teknik digital, dengan proses sketsa dan
penintaan (inking) secara manual dan kemudian proses pewarnaan secara digital
(digital coloring) dengan bantuan Adobe Photoshop CS4. Banyak tahapan yang
penulis lakukan dalam membuat komik ini, tahap-tahap tersebut yaitu membuat
sinopsis, storyline, storyboard, karakter tokoh verbal, mendesain karakter tokoh,
visualisasi komik, pencetakan dan penjilidan.
Dalam proses pembuatan komik, sinopsis dibuat untuk memberikan cerita
storyboard akan lebih memberikan gambaran visual komik yang lebih lengkap, setelah mengetahui inti cerita barulah bisa terlihat karakter tokoh dan mendesain
karakter tokoh komik. Visualisasi komik yang dilakukan secara manual ke digital
penulis jabarkan sedetail mungkin. Pencetakan dicetak dengan print laser A3+ dan
penjilidan dengan (soft cover). Tahapan pembutan komik yang sangat panjang
membuat penulis harus memiliki rancangan yang tepat dan target sehingga
komiktersebut dapat selesai tepat pada waktunya, penulis menyadari meskipun telah
melakukan alur pembuatan tersebut banyak sekali kendala-kendala dan gangguan
baik bersifat internal maupun eksternal namun penulis berusaha untuk tetap berusaha agar komik “Mata Elang” ini dapat selesai tepat waktu. Kelebihan dan kekurangan menggunakan teknik hybrid adalah gambar awal dapat dibuat sedetail mungkin
karena dibuat secara manual sedangkan untuk proses digital membuat komik menjadi
lebih rapi dan menarik karena proses pewarnaan dan layout dalam computer.
Selain proses pembuatan komik, penulis juga menyajikan deskripsi
berdasarkan unsur-unsur komik, pewarnaan, dan tokoh pada karakternya. Deskripsi
unsur-unsur komik membahas isi cerita yang bertemakan seni bela diri pencak silat,
ilustrasi yang menggunakan gaya manga dan gaya komik “Hell Boy”, panel dengan
macam-macam bentuk dan peralihannya, balon kata dengan berbagai jenisnya, efek
suara yang dibuat menyerupai/mewakili sumber suaranya, dan garis gerak dalam
komik yang dibuat untuk memberikan efek gerak. Sedangkan untuk pewarnaan
penulis menganalisis berdasarkan gradasi dan pencahayaan. Komik Mata Elang yang
ceritanya cukup singkat akan membuat susah menangkap sifat yang ada dalam diri
setiap tokohnya, oleh karena itu penulis memberikan deskripsi singkat tentang
masing-masing tokoh dalam komik. Juga dalam penyimbolan unsur-unsur warna
yang mendeskripsikan sifat dan watak seseorang. Jadi untuk membuat komik yang
baik harus diimbangi dengan kemampuan dan pengetahuan yang cukup.
Komik “Mata Elang” merupakan hasil akhir dari proses yang cukup panjang,