• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH RAPAT ARUS DAN ADITIF p VANILIN TERHADAP KUALITAS LAPISAN ELEKTROPLATING Zn–Ni PADA SUBSTRAT BESI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH RAPAT ARUS DAN ADITIF p VANILIN TERHADAP KUALITAS LAPISAN ELEKTROPLATING Zn–Ni PADA SUBSTRAT BESI"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

1

PENGARUH RAPAT ARUS DAN ADITIF p-VANILIN

TERHADAP KUALITAS LAPISAN ELEKTROPLATING Zn–Ni

PADA SUBSTRAT BESI

Disusun Oleh :

TRI HADHI NUGROHO

NIM. M0303052

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagian

persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Sains Kimia

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

Maret, 2011

(2)

commit to user

HALAMAN PENGESAHAN

Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

Sebelas Maret Surakarta telah mengesahkan skripsi mahasiswa:

Tri Hadhi Nugroho NIM M0303052, dengan judul “ Pengaruh Rapat Arus dan

Aditif p-Vanilin terhadap Kualitas Lapisan Elektroplating Zn-Ni Pada Substrat

Besi”

Skripsi ini dibimbing oleh :

Pembimbing I

Drs. Mudjijono, Ph.D.

NIP. 19540418 198601 1001

Pembimbing II

Candra Purnawan, M.Sc.

NIP. 19781228 200501 1001

Dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi pada :

Hari

Tanggal :

:

Selasa

29 Maret 2011

Anggota Tim Penguji :

1. Prof. Drs. Sentot Budi Rahardjo, Ph.D. NIP. 19560507 198601 1001

2. Yuniawan Hidayat, M.Si. NIP. 1979

1. ………

2. ………

Ketua Jurusan Kimia

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Sebelas Maret Surakarta

Prof. Drs. Sentot Budi Rahardjo, Ph.D.

NIP. 19560507 198601 1001

(3)

commit to user

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul

“PENGARUH RAPAT ARUS DAN ADITIF p-VANILIN TERHADAP

KUALITAS LAPISAN ELEKTROPLATING Zn – Ni PADA SUBTRAT BESI”

belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan

tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga belum pernah ditulis atau

dipublikasikan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini

dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Surakarta, Maret 2011

TRI HADHI NUGROHO ii

(4)

commit to user

PENGARUH RAPAT ARUS DAN ADITIF p-VANILIN TERHADAP KUALITAS LAPISAN ELEKTROPLATING Zn-Ni

PADA SUBTRAT BESI

TRI HADHI NUGROHO

Jurusan Kimia. Fakultas MIPA. Universitas Sebelas Maret

ABSTRAK

Telah dilakukan pelapisan alloy Zn-Ni pada logam besi secara elektrolisis dengan aditif p-vanilin. Senyawa p-vanilin dengan variasi konsentrasi 0,000; 0,010; 0,020; 0,030; 0,040 dan 0,050 g/L ditambahkan ke dalam larutan elektrolit elektroplating Zn-Ni. Elektrolisis dilakukan pada variasi rapat arus 0,2; 0,3; 0,4; 0,5 dan 0,6 A/dm2 selama 30 menit pada suhu kamar (28 oC) dan jarak antara kedua elektroda 3 cm. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh rapat arus dan aditif p-vanilin terhadap kualitas lapisan elektroplating Zn-Ni ditinjau berdasarkan karakter berat, kekerasan dan tekstur lapisan elektroplating Zn-Ni.

Karakterisasi lapisan elektroplating Zn-Ni dilakukan dengan menggunakan neraca analitik Sartorius BP 310 S untuk mengetahui berat lapisan elektroplating Zn-Ni, Mickrohardness Tester HWMMT X 7 Underwood untuk uji kekerasan lapisan elektroplating Zn-Ni dan Mikroskop XSP-12 Series untuk mengetahui tekstur permukaan lapisan elektroplating Zn-Ni.

Hasil penelitian menunjukkan kualitas lapisan yang paling baik pada rapat arus 0,3 A/dm2 dan dengan penambahan p-vanilin 0,050 g/L, hasil karakterisasi berat lapisan elektroplating Zn-Ni 21,5 mg, nilai kekerasan lapisan elektroplating Zn-Ni sebesar 162,59 VHN dan tekstur permukaan halus.

Kata kunci : Alloy Zn-Ni, rapat arus, aditif p-vanilin, elektroplating

(5)

commit to user

THE EFFECT OF CURRENT DENSITY AND p-VANILIN ADDITIVE ON THE QUALITY OF Zn-Ni ELECTROPLATING LAYER

IN IRON SUBSTRATE

TRI HADHI NUGROHO

Department of Chemistry., Faculty of Mathematic and Science

Sebelas Maret University

ABSTRACT

The Zinc Nickel plating on the Iron substrate by electrolysis has been done using p-vanilin additive. Various concentration of p-vanilin additives which were added in Zinc Nickel plating solution, were 0.000, 0.010, 0.020, 0.030, 0.040 and 0.050 g/L. The electrolysis was operated at various current density were 0.2, 0.3, 0.4, 0.5 and 0,6 A/dm2 during 30 minutes with room temperature (28 oC) and distance between two electrode is 3 cm. The purpose of the research was to determine the effect of current density and p-vanilin additive on the quality of Zn-Ni electroplating layer viewed from the weight character, hardness, and Zn-Zn-Ni electroplating layer texture.

The characterization of Zn-Ni electroplating layer was done using Sartorius BP 310 S analytical balance to find out the weight of Zn-Ni electroplating layer, Microhardness Tester HWMMT X 7 Underwood for examining the hardness of Zn-Ni electroplating layer and Microscope XSP-12 Series to find out the texture of Zn-Ni electroplating layer surface.

The result of research shows that the best quality of layer in the current density of 0.3 A/dm2 and with p-vanilin 0.050 g/L addition, the result of Zn-Ni electroplating layer weight characterization is 21.5 mg, the hardness value of Zn-Ni electroplating layer is 162.59 VHN and the surface texture is smooth.

Keywords: Alloy Zn-Ni, current density, p-vanilin additive, electroplating

(6)

commit to user

MOTTO

Jadikanlah Sabar dan Sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah SWT bersama orang yang Sabar (Q.S. Al Baqarah: 153)

Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, Maka apabila telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakan urusan yang lainnya dengan

sungguh-sungguh (Q.S. Al-Insyirah: 6-7)

(7)

commit to user

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya kecilku ini untuk:

Ibu, maaf… maaf… dan maaf…

Bapak (Alm), mohon maaf dan terima kasih atas pelajaran hidupnya

Kakak-kakakku, Keluarga besarku, Keponakan-keponakan,

Sahabat, Teman dan Semua orang di dekatku,

Yang selalu menyemangatiku untuk tak pernah berhenti berjuang.

Terima – kasih.

(8)

commit to user

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan nikmat dan

karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul

“Pengaruh Rapat Arus dan Aditif p-Vanilin Terhadap Kualitas Lapisan

Elektroplating Zn-Ni Pada Substrat Besi”. Sholawat dan salam senantiasa penulis

haturkan kepada Rosulullah SAW sebagai pembimbing seluruh umat manusia.

Skripsi ini tidak akan selesai tanpa adanya bantuan dari banyak pihak

karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Drs. Sutarno, M.Sc, Ph.D selaku Dekan FMIPA UNS

2. Bapak Prof. Drs. Sentot Budi Rahardjo, Ph.D selaku Ketua Jurusan Kimia

FMIPA UNS beserta seluuruh stafnya.

3. Bapak Drs. Mudjijono, PhD selaku Pembimbing I yang telah membimbing

penulis selama pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi.

4. Bapak Candra Purnawan, M.Sc. Selaku Pembimbing II yang juga telah

memberikan bimbingannya dalam penelitian dan penyusunan skripsi.

5. Ibu Sri Hastuti, M.Si dan Ibu Nestri Handayani, M.Si. Apt., Selaku

Pembimbing Akademik.

6. Bapak Dr. rer. nat. Atmanto Heru Wibowo, M.Si. Selaku Ketua Sub

Laboratorium Kimia Pusat UNS beserta seluruh stafnya.

7. Bapak/Ibu Dosen di Jurusan Kimia, FMIPA UNS atas seluruh ilmu dan

pengetahuan yang telah diajarkan.

8. Bapak (Alm) dan Ibu beserta kakak-kakakku tercinta atas segala

dukungannya, motivasi dan semangat untuk menyelesaikan skripsi.

9. Himamia FMIPA UNS terima kasih atas ilmu dan pengalaman berorganisasi.

10.Teman – teman angkatan 2003, 2004, 2005 dan 2006 terima kasih atas segala

keceriaan dan bantuannya selama ini.

11.Bapak Kentriyus, Bapak Basuki, Mbak Retno, Mbak Watik dan Mbak Tutik

selaku staf Sub Laboratorium Kimia Laboratorium Pusat FMIPA UNS.

12.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas

semua bantuan dan doanya.

(9)

commit to user

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh

Karena itu penulis sangat mengharapkan saran maupun kritik yang bersifat

membangun demi hasil yang lebih baik. Namun demikian, penulis berharap

semoga karya kecil ini bermanfaat bagi pembaca.

Surakarta, Maret 2011

Tri Hadhi Nugroho

(10)

commit to user

A. Latar Belakang Masalah...

B. Perumusan Masalah...

BAB II. LANDASAN TEORI...

A. Tinjauan Pustaka...

1. Elektroplating...

a. Pengertian Elektroplating...

b. Prinsip kerja elektroplating...

(11)

Elektro-commit to user

2. Elektrolisis...

3. Teori Proses Deposisi Logam Secara Elektrolisis...

4. Aditif Brightener...

5. p-Vanilin...

6. Analisa

a. Berat Lapisan Elektroplating Zn-Ni...

b. Uji

kekerasan...

B. Difraksi Sinar-X...

C. Kerangka Pemikiran...

D. Hipotesa...

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN...

A. Metode Penelitian...

B. Tempat dan Waktu Penelitian...

C. Alat dan Bahan yang digunakan...

1. Alat...

2. Bahan...

D. Prosedur Penelitian...

1. Persiapan Sampel Substrat Besi sebelum Elektroplating

(Treatmen Pra-plating)...

2. Pembuatan Alat Pengatur Arus Listrik...

3. Pembuatan Larutan Elektroplating Zn-Ni...

4. Proses Elektroplating...

a. Karakterisasi...

b. Berat Lapisan Elektroplating Zn-Ni...

c. Kekerasan Lapisan elektroplating Zn-Ni...

d. Tekstur Permukaan Lapisan elektroplating Zn-Ni...

e. Difraksi Sinar-X lapisan elektroplating Zn-Ni...

E. Teknik Pengumpulan Data...

(12)

commit to user

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...

A. Hasil Penelitian...

1. Pembahasan...

2. Identifikasi Senyawa yang Terbentuk dalam Lapisan Elektroplating

Zn-Ni...

3. Pengaruh Variasi Rapat Arus terhadap Karakter Lapisan

Elektroplating Zn-Ni...

a. Pengaruh Rapat Arus Terhadap Berat Lapisan

Elaktroplating Zn-Ni...

b. Pengaruh Rapat Arus Terhadap Nilai Kekerasan Lapisan

Elektroplating Zn-Ni...

c. Pengaruh Rapat Arus Terhadap Tekstur Lapisan

Elaktroplating Zn-Ni...

4. Pengaruh Konsentrasi Aditif p-Vanilin Terhadap Karakter Lapisan

Elektroplating Zn-Ni...

a. Pengaruh Konsentrasi Aditif p-Vanilin Terhadap Berat

Lapisan Elaktroplating Zn-Ni...

b. Pengaruh Konsentrasi Aditif p-Vanilin Terhadap Nilai

Kekerasan Lapisan Elektroplating Zn-Ni...

c. Pengaruh Konsentrasi Aditif p-Vanilin Terhadap Tekstur

Lapisan Elaktroplating Zn-Ni...

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN...

(13)

commit to user

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Nilai Kekerasan Vikers Beberapa Logam...

Tabel 2. Perhitungan Penetuan Arus Listrik untuk Proses Elektroplating

Zn-Ni...

Tabel 3. Data Standarisasi Mikroskop Optik XSP-12...

Tabel 4. Kelas Tingkat Kehalusan Tekstur Lapisan Elektroplating Zn-Ni

Tabel 5. Model Tabulasi Teknik Pengumpulan Data...

Tabel 6. Bentuk Tabulasi Analisis Data Pengaruh Rapat Arus terhadap

Karakter Lapisan Elektroplating Zn-Ni...

Tabel 7. Bentuk Tabulasi Analisis Data Pengaruh Aditif p-Vanilin

terhadap Karakter Lapisan Elektroplating Zn-Ni...

Tabel 8. Data Rata – rata Karakterisasi Lapisan Elektroplating Zn-Ni...

Tabel 9.Identifikasi Senyawa Lapisan Elektroplating Zn-Ni dari

Difraktogam XRD...

Tabel 10. Konstanta a,b dan R Trendline Persamaan Linier Hubungan

Berat Lapisan Elektroplating Zn-Ni Terhadap Rapat Arus

(pada rapat arus 0,2 – 0,5 A/dm2) dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Aditif p-Vanilin...

Tabel 11. Data perbandinga berat lapisan elektroplating Zn-Ni secara

perhitungan berdasarkan hukum Faraday dan percobaan...

Tabel 12. Tingkat Kelas Tekstur Lapisan Elektroplating Zn-Ni... 22

31

36

37

39

40

40

43

49

51

51

64

(14)

commit to user

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Proses elektroplating...

Gambar 2. Potensial reduksi dari alloy Zn-Ni...

Gambar 3. Zona (A) Helmholtz layer; (B) Difusion layer dan

(C) Bulk solution (fase ruah)...

Gambar 4. Mekanisme proses elektrodeposisi ion logam...

Gambar 5. Struktur p-Vanilin (4-hydroxy-3-methoxybenzaldehyde)...

Gambar 6. Kompleks Cu(II) vanilin...

Gambar 7.a Alat Uji Kekerasan Vickers...

b Indentor Piramid Vickers...

Gambar 8. Jejak Indentor Vickers...

Gambar 9. Jenis Jejak Indentor Vickers...

Gambar 10. Kondisi difraksi Bragg...

Gambar 11. Skema Rangkaian Alat Pengatur Arus Listrik...

Gambar 12. Alat Pengatur Arus...

Gambar 13. Setting alat elektroplating...

Gambar 14a. Alat uji kekerasan Mickrohardness Tester HWMMT X 7

merk Underwood dengan TV Display merk Matsuzawa...

b. Jejak indentasi uji kekerasan...

Gambar 15. Kurva standarisasi mikroskop XSP-12 series...

Gambar 16. Setting alat foto tekstur permukaan...

Gambar 17a. Foto Tekstur Permukaan Sampel Elektroplating Zn-Ni

tanpa aditif p-vanilin dan 0,010 g/L p-vanilin

(pada variasi rapat arus 0,2; 0,3; 0,4 dan 0,5 A/dm2)... Gambar 17b. Foto Tekstur Permukaan Sampel Elektroplating Zn-Ni

dengan aditif p-vanilin 0,020 dan 0,030 g/L

(pada variasi rapat arus 0,2; 0,3; 0,4 dan 0,5 A/dm2)... Gambar 17c. Foto Tekstur Permukaan Sampel Elektroplating Zn-Ni

dengan aditif p-vanilin 0,040 dan 0,050 g/L

(pada variasi rapat arus 0,2; 0,3; 0,4 dan 0,5 A/dm2)... Gambar 18. Difraktogram sampel lapisan elektroplating Zn-Ni...

(15)

commit to user

Gambar 19. Grafik hubungan berat lapisan elektroplating Zn-Ni

terhadap rapat arus pada berbagai variasi konsentrasi aditif

p-vanilin...

Gambar 20. Terbentuknya gas pada proses elektroplating Zn-Ni

pada rapat arus 0,6 A/dm2 dengan aditif vanilin 0,050 g/L. Gambar 21. Grafik hubungan nilai kekerasan lapisan elektroplating

Zn-Ni terhadap rapat arus pada berbagai variasi konsentrasi

aditif p-vanilin...

Gambar 22a. Struktur Non-packed...

b. Struktur Close-packed...

Gambar 23. Grafik hubungan diameter butiran deposit elektroplating

Zn-Ni terhadap rapat arus pada berbagai variasi

konsentrasi aditif p-vanilin...

Gambar 24a. Grafik hubungan ∆ Ya terhadap ∆Xa pada berbagai variasi

rapat arus...

b. Grafik hubungan berat lapisan elektroplating Zn-Ni per

rapat arus terhadap konsentrasi aditif p-vanilin...

Gambar 25. Grafik hubungan ∆ Yb terhadap ∆ Xa pada berbagai variasi

rapat arus...

Gambar 26. Grafik hubungan ∆ Yc terhadap ∆ Xa pada berbagai variasi

rapat arus... 50

52

53

54

54

55

57

57

60

(16)

commit to user

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Desain Penelitian...

Lampiran 2. Perhitungan kekuatan ion larutan (µ), Koefisien aktifitas

ion, Aktifitas ion Zn & Ni, Potensial reduksi Zn&Ni...

Lampiran 3. Perhitungan berat lapisan elektroplating Zn-Ni berdasarkan

rumus Faraday...

Lampiran 4. Data Berat Lapisan Elektroplating Zn-Ni...

Lampiran 5. Data Ukuran Benda Standar untuk Standarisasi Mikroskop

XSP-12 Series...

Lampiran 6. Data Nilai Kekerasan Lapisan Elektroplating Zn-Ni...

Lampiran 7.Data Pengukuran Diameter Butiran Deposit Lapisan

Elektroplating Zn-Ni...

Lampiran 8. Pola Trendline Linier grafik hubungan berat lapisan

elektroplating Zn-Ni terhadap rapat arus pada berbagai

variasi konsentrasi aditif p-vanilin...

Lampiran 9. Analisa pengaruh konsentrasi p-vanilin terhadap berat

lapisan elektroplating Zn-Ni...

Lampiran 10. Pola Trendline Linier grafik hubungan rapat arus

terhadap nilai kekerasan lapisan elektroplating Zn-Ni...

Lampiran 11. Analisa pengaruh konsentrasi p-vanilin terhadap nilai

kekerasan lapisan elektroplating Zn-Ni...

Lampiran 12. Pola Trendline Linier grafik hubungan diameter butiran

lapisan elektroplating Zn-Ni terhadap rapat arus pada

berbagai variasi konsentrsi aditif p-vanilin...

Lampiran 13. Analisa pengaruh konsentrasi p-vanilin terhadap diameter

butiran lapisan elektroplating Zn-Ni...

Lampiran 14. Data Difraktogram XRD sampel lapisan elektroplating

Zn-Ni...

Lampiran 15. Data JCPDS beberapa senyawa Zn, Ni dan Zn-Ni...

Lampiran 16. Data Identifikasi senyawa lapisan elektroplating Zn-Ni...

(17)

commit to user

DAFTAR TABEL LAMPIRAN

Halaman Tabel Lampiran 1. Molaritas bahan – bahan dalam larutan elektrolit...

Tabel Lampiran 2. Perhitungan Arus Listrik yang digunakan untuk

Elektroplating Zn-Ni...

Tabel Lampiran 3. Data Berat Lapisan Elektroplating Zn-Ni...

Tabel Lampiran 4. Data Ukuran Benda Standar untuk Standarisasi

Mikroskop XSP-12 Series ...

Tabel Lampiran 5. Data Nilai Kekerasan Lapisan Elektroplating Zn-Ni tanpa

p-Vanilin...

Tabel Lampiran 6. Data Nilai Kekerasan Lapisan Elektroplating Zn-Ni

dengan Aditif p-Vanilin 0,010 g/L...

Tabel Lampiran 7. Data Nilai Kekerasan Lapisan Elektroplating Zn-Ni

dengan Aditif p-Vanilin 0,020 g/L...

Tabel Lampiran 8. Data Nilai Kekerasan Lapisan Elektroplating Zn-Ni

dengan Aditif p-Vanilin 0,030 g/L...

Tabel Lampiran 9. Data Nilai Kekerasan Lapisan Elektroplating Zn-Ni

dengan Aditif Vanilin 0,040 g/L...

Tabel Lampiran 10. Data Nilai Kekerasan Lapisan Elektroplating Zn-Ni

dengan Aditif Vanilin 0,050 g/L...

Tabel Lampiran 11. Ukuran Diameter Butiran Deposit Lapisan

Elektroplating Zn-Ni tanpa p-Vanilin...

Tabel Lampiran 12. Ukuran Diameter Butiran Deposit Lapisan

Elektroplating Zn-Ni dengan Aditif p-Vanilin 0,010 g/L

Tabel Lampiran 13. Ukuran Diameter Butiran Deposit Lapisan

Elektroplating Zn-Ni dengan Aditif p-Vanilin 0,020 g/L

Tabel Lampiran 14. Ukuran Diameter Butiran Deposit Lapisan

Elektroplating Zn-Ni dengan Aditif p-Vanilin 0,030 g/L

Tabel Lampiran 15. Ukuran Diameter Butiran Deposit Lapisan

Elektroplating Zn-Ni dengan Aditif p-Vanilin 0,040 g/L

(18)

commit to user

Tabel Lampiran 16. Ukuran Diameter Butiran Deposit Lapisan

Elektroplating Zn-Ni dengan Aditif p-Vanilin 0,050g/L

Tabel Lampiran 17. Data Selisih Berat Lapisan Set Eksperimen dengan Set

Kontrol...

Tabel Lampiran 18. Data Selisih Nilai Kekerasan Lapisan Set Eksperimen

dengan Set Kontrol...

Tabel Lampiran 19. Data Selisih Diameter Butiran Set Eksperimen dengan

Set Kontrol...

Tabel Lampiran 20. Data Identifikasi Senyawa pada Sampel Lapisan Zn-Ni

tanpa Vanilin...

Tabel Lampiran 21. Data Identifikasi Senyawa pada Sampel Lapisan Zn-Ni

dengan Aditif Vanilin 0,030 g/L... 89

91

94

97

111

112

(19)

commit to user

DAFTAR GAMBAR LAMPIRAN

Halaman Gambar Lampiran 1. Grafik hubungan berat lapisan elektroplating

Zn-Ni terhadap rapat arus pada berbagai variasi

konsentrasi aditif p-vanilin...

Gambar Lampiran 2. Grafik hubungan ∆ Ya terhadap ∆ Xa pada

berbagai variasi rapat arus...

Gambar Lampiran 3. Grafik hubungan rapat arus terhadap nilai

kekerasan lapisan elektroplating Zn-Ni pada

berbagai variasi aditif p-vanilin...

Gambar Lampiran 4. Grafik hubungan ∆ Yb terhadap ∆ Xa pada

berbagai variasi rapat arus...

Gambar Lampiran 5. Grafik hubungan diameter butiran lapisan elektroplating Zn-Ni terhadap rapat arus pada

berbagai variasi konsentrsi aditif p-vanilin...

Gambar Lampiran 6. Grafik hubungan ∆ Yc terhadap ∆ Xa pada

berbagai variasi rapat arus...

Gambar Lampiran 7. Foto Mikroskop Benda standar untuk standarisasi

mikroskop XSP – 12...

Gambar Lampiran 8. Foto sampel yang menunjukkan lapisan kusam

pada rapat arus 0,6 A/dm2... 90

92

93

95

96

97

113

114

(20)

commit to user

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Besi merupakan logam yang banyak digunakan dalam kehidupan

sehari-hari. Misalnya, di bidang industri, otomotif, konstruksi bangunan, elektronika dan

alat-alat rumah tangga. Besi memiliki kelebihan seperti kuat, mudah di dapatkan,

mudah dibentuk dan harga relatif murah. Namun, apabila besi dibiarkan dalam

lingkungan, besi mudah teroksidasi oleh udara sekitar dan mengalami korosi

(Hartomo, 1992). Korosi pada besi akan merusak struktur material dan

menggurangi nilai kekuatan besi. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu

penanganan terkait masalah korosi pada besi.

Salah satu metode yang dilakukan untuk mencegah korosi pada besi

adalah dengan melapisi besi dengan logam lain secara lapis listrik atau disebut

elektroplating. Proses elektroplating merupakan teknik pengendapan (deposisi)

ion logam secara elektrolisis dimana endapan logam (deposit) melekat pada suatu

elektroda, dengan tujuan untuk melindungi dan melapisi permukaan elektroda

dengan sifat dan dimensi yang berbeda (ASTM 374-96). Seng (Zn) merupakan

logam yang sering digunakan untuk melapisi besi secara lapis listrik

(elektroplating Zn) karena bersifat proteksi anodik terhadap besi, mudah

didapatkan dan harga relatif murah (Nasoetion dkk., 2005).

Dewasa ini, penelitian elektroplating Zn dikembangkan pada coating alloy

(pelapisan paduan logam) salah satunya adalah elektroplating Zn-Ni. Penambahan

sedikit logam Ni dalam komposisi lapisan elektroplating Zn akan memodifikasi

potensial reduksi Zn karena secara elektrokimia berdasarkan nilai potensial

reduksi Ni lebih mulia dari Zn (Wynn et al., 2001). Selain itu, material alloy

Zn-Ni dalam sifat mekanik terjadi peningkatan kekerasan karena berdasarkan sifat

karakteristiknya Ni lebih keras daripada Zn (Hariyanti, 2007). Berdasarkan

Shivakumara et al. (2007) lapisan elektroplating Zn–Ni pada substrat besi dengan

komposisi Ni antara 8% sampai 14% berat mampu memberikan perlindungan

korosi lima hingga enam kali lebih kuat dibanding lapisan elektroplating Zn.

(21)

commit to user

Proses elektroplating Zn–Ni dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti:

rapat arus, tegangan listrik, komposisi dan konsentrasi elektrolit, pH larutan,

konduktivitas larutan, suhu larutan, jenis elektroda, jarak anoda – katoda dan

waktu elektrolisa (Purwanto dan Huda, 2005). Adapun tekstur hasil pelapisan

logam yang diperoleh dari proses elektroplating dipengaruhi oleh orientasi

pengendapan depositnya dan adanya komponen lain yang terbentuk. Tekstur

permukaan yang kasar dapat diperbaiki dengan penambahan bahan aditif tertentu

dengan konsentrasi tertentu (Adamson, 1990).

Bahan aditif di dalam industri elektroplating sering digunakan untuk

meningkatkan kualitas lapisan elektroplating. Salah satu bahan aditif adalah bahan

pencerah (brightener). Brightener sengaja diberikan di dalam larutan

elektro-plating untuk mengontrol pertumbuhan deposit agar diperoleh kualitas lapisan

yang baik meliputi: kecerahan (bright), kerataan lapisan (leveling) dan kekerasan

(hard) (Purwanto dan Huda, 2005).

Kim et al. (2004) menyatakan o-vanilin dapat berfungsi sebagai brightener

dalam elektroplating Zn dengan hasil tekstur permukaan lapisan lebih halus,

ukuran butiran deposit lebih kecil dan spektrum reflektansi tinggi. Selain itu,

Ravindran et al. (2006) menyatakan senyawa aldehide seperti acetaldehide,

anisaldehide, benzaldehide, formaldehide dan furfuraldehide dapat digunakan

sebagai brightener dalam elektroplating Zn-Ni. Senyawa o-vanilin

(2-hidroksi-3-metoksi benzaldehide) merupakan golongan aldehide. Oleh karena itu,

berdasarkan latar belakang diatas maka dimungkinkan o-vanilin dapat digunakan

sebagai brightener dalam elektroplating Zn-Ni.

Berdasarkan uraian diatas, penelitian tentang aditif vanilin sebagai

brightener dalam elektroplating Zn-Ni sangat menarik untuk dilakukan karena

dapat menambah nilai guna dari vanilin. Dalam penelitian ini akan dilakukan

elektroplating Zn-Ni pada substrat besi dengan aditif vanilin pada larutan

elektrolit Zn-Ni. Sehingga diharapkan didapatkan material besi lapis Zn-Ni yang

memiliki aspek protektif (tahan terhadap korosi) dan aspek dekoratif (warna

(22)

commit to user

B. Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Rapat arus merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam proses

elektroplating Zn-Ni. Rapat arus didefinisikan besarnya arus yang diberikan per

satuan luas bidang elektroplating (pelapisan). Rapat arus dalam proses

elektroplating berhubungan dengan transfer elektron dan laju deposisi ion logam

dalam larutan elektrolit. Semakin besar rapat arus menyebabkan transfer elektron

dan laju deposisi ion logam semakin besar sehingga akan semakin cepat

mendapatkan berat lapisan dan dengan ketebalan lapisan tertentu. Rapat arus yang

tinggi juga dapat menyebabkan terjadinya panas dalam larutan elektrolit sehingga

akan mengakibatkan lapisan elektroplating Zn-Ni menjadi kusam dengan ditandai

warna lapisan yang menghitam (Fauzi, 1994). Oleh karena itu perlu dikaji rapat

arus yang digunakan dalam proses elektroplating Zn-Ni dengan melakukan variasi

rapat arus sehingga didapatkan kualitas lapisan elektroplating Zn-Ni yang baik.

Aditif brightener di dalam proses elektroplating merupakan bahan

tambahan pada larutan elektrolit dengan jumlah sedikit dimaksudkan untuk

mengatur pertumbuhan deposit logam Zn dan Ni. Pertumbuhan deposit yang

teratur menghasilkan lapisan elektroplating Zn-Ni dengan kualitas baik meliputi

kecerahan (bright) dan kekerasan (hard) (Purwanto dan Huda, 2005). Kim et al.

(2004) menyatakan bahwa o-vanillin dapat berfungsi sebagai brightener. Vanilin

dibedakan menjadi 2 berdasarkan rumus strukturnya yaitu: o-vanillin

(2-hidroksi-3-metoksi benzaldehide dan p-vanillin (4-hidroksi-(2-hidroksi-3-metoksi benzaldehide).

Senyawa o-vanillin dapat diperoleh dari sintesis guaiakol (o-metoksi phenol)

melalui reaksi Reimer-Tiemann (Suwarso dkk., 2002) sedangkan untuk senyawa

p-vanillin dapat diperoleh dari ekstrak biji vanila (Widajanti dkk.,2002). Struktur

o-vanilin dan p-vanilin dibedakan pada posisi gugus hidroksi yang terikat

sedangkan untuk massa rumus molekul (MR) adalah sama. Berdasarkan latar

belakang tersebut kemungkinan p-vanillin dapat digunakan sebagai brightener

dalam elektroplating Zn-Ni. Konsentrasi p-vanilin yang ditambahkan akan

(23)

commit to user

mM (Kim. et al., 2004). Oleh karena itu, perlu dikaji konsentrasi aditif p-vanilin

yang akan digunakan sebagai brightener dengan melakukan variasi konsentrasi.

Lapisan elektroplating Zn-Ni tersusun atas deposit logam Zn dan Ni,

membentuk suatu sistem kristal logam. Terdapat beberapa metode yang

digunakan untuk identifikasi senyawa dalam lapisan elektroplating, diantaranya

adalah metode XRF (X-Ray Fluoresence) dan XRD (X-Ray Diffraction).

Keduanya merupakan metode analisa non-destruktif (tidak

merusak/meng-akibatkan perubahan pada sampel). Analisa dengan metode XRF dapat

menunjukkan komposisi unsur – unsur yang terdapat dalam lapisan elektroplating,

sedangkan analisa dengan XRD menunjukkan struktur kristal logam yang

terbentuk dalam lapisan elektroplating (Bicelli et al., 2008).

Kualitas lapisan elektroplating Zn-Ni dapat ditinjau berdasarkan sifat

karakterisasi dari alloy tersebut. Karakterisasi alloy Zn-Ni meliputi banyak hal

antara lain: berat lapisan, ketebalan, komposisi, tekstur permukaan, kekerasan,

kecerahan, korosivitas, sifat elektrik, sifat magnetik dan stabilitas termal.

Sehingga perlu ditentukan karakterisasi alloy lapisan elektroplating Zn-Ni

disesuaikan dengan kajian penelitiaan untuk mengetahui kualitas dari lapisan

elektroplating Zn-Ni.

2. Batasan Masalah

Dari identifikasi masalah di atas perlu adanya batasan masalah dalam

penelitian ini, antara lain:

a. Penelitian berfokus pada pengaruh rapat arus dan aditif vanilin, sehingga

faktor - faktor lain dalam proses elektroplating Zn-Ni dibuat tetap.

1) Rapat arus yang digunakan di variasi yaitu: 0,2; 0,3; 0,4; 0,5 dan 0,6

A/dm2. Variasi rapat arus yang digunakan merujuk pada penelitian Shivakumara et al. (2007).

2) Proses elektroplating Zn-Ni menggunakan sistem 2 elektroda yaitu: katoda

dan anoda. Katoda yang dipakai adalah plat besi yang merupakan substrat

yang akan dilapisi. Sampel plat besi merupakan jenis strip plat. Sampel

(24)

commit to user

sampel substrat besi ditetapkan panjang x lebar: (5 cm x 2,65 cm). Anoda

yang dipakai adalah platina (Pt). Logam platina dipilih sebagai anoda

karena bersifat inert sehingga platina tidak akan teroksidasi tetapi yang

teroksidasi adalah air.

3) Komposisi larutan elektrolit untuk elektroplating Zn-Ni mengacu pada

penelitian Shivakumara et al. (2007) yaitu:

a) ZnSO4.7H2O : 56,60 %

b) NiSO4.6H2O : 3,77 %

c) Na2SO4 : 22,64 %

d) H3BO3 : 7,56 %

e) EDTA : 5,66 %

f) NaLS : 3,77 %

Keterangan:

a) ZnSO4.7H2O dan NiSO4.6H2O sebagai sumber ion Zn dan Ni. Bahan

ZnSO4.7H2O dan NiSO4.6H2O dipilih karena mudah larut dalam air

dan anion sulfatnya mempunyai pengaruh relatif lebih kecil terhadap

konduktifitas elektrolit bila dibandingkan dengan anion klorida.

b) Na2SO4 ditambahkan dalam larutan elektrolit dimaksudkan untuk

meningkatkan konduktifitas (daya hantar listik) larutan elektrolit.

Apabila konduktifitas besar maka hambatan dalam larutan elektrolit

menjadi kecil.

c) H3BO3 berfungsi sebagai larutan penyangga (buffer) yang dapat

mempertahankan pH larutan elektrolit. Selain itu juga dapat membantu

meningkatkan daya hantar listik larutan elektrolit (Shivakumara et al.,

2007).

d) EDTA berfungsi sebagai bahan pengompleks. Ion Zn dan Ni lebih

stabil dalam bentuk kompleksnya, sehingga diharapkan tidak terbentuk

endapan Zn(OH)2 atau Ni(OH)2 (Purwanto dan Huda, 2005).

e) NaLS merupakan surfaktan yang berfungsi sebagai wetting agent

(agen pembasah) yaitu dapat menurunkan tegangan permukaan dari

gas H2 yang teradsorpsi pada permukaan katoda. Adanya gas H2 akan

(25)

commit to user 4) Jarak anoda dan katoda ditetapkan 3 cm.

Jarak anoda – katoda menentukan hantaran arus listrik dan berpengaruh

terhadap keseragaman tebal lapisan. Apabila jarak anoda-katoda dekat,

maka konduktifitas besar dan hambatan mejadi kecil, karena konduktifitas

(L) berbanding terbalik dengan hambatan (R) (Dogra, 1990). Jarak anoda

dan katoda ditetapkan 3 cm karena jaraknya tidak terlalu jauh. Selain itu,

menyesuaikan dengan dimensi dari bak elektroplating.

5) Suhu operasi elektroplating pada suhu ruang + 28 oC.

Semakin tinggi suhu elektroplating menyebabkan konduktivitas larutan

makin besar sehingga mempercepat hantaran arus listrik. Tetapi pada suhu

yang terlalu tinggi dapat menyebabkan lapisan menjadi terbakar (kusam)

dan menyebabkan terjadinya kerusakan aditif (Purwanto dan Huda, 2005).

Sehingga elektroplating dilakukan pada suhu ruang + 28 oC.

b. Vanilin yang digunakan sebagai brightener adalah jenis p-vanilin. Konsentrasi

aditif p-vanilin dalam larutan elektrolit divariasi dengan konsentrasi: 0,000;

0,010; 0,020; 0,030; 0,040; dan 0,050 g/L. Variasi konsentrasi aditif vanilin

yang digunakan, merujuk pada penelitian Kim et al. (2004) yaitu dalam range

konsentrasi antara 100 µM sampai 10 mM.

c. Identifikasi struktur dalam lapisan elektroplating Zn-Ni dilakukan dengan

instrumen X-Ray Difractometer (X-RD).

d. Karakterisasi lapisan elektroplating Zn-Ni pada penelitian ini dibatasi pada :

1) Berat lapisan elektroplating Zn-Ni. Berat lapisan elektroplating Zn-Ni

merupakan berat total dari campuran deposit logam Zn dan Ni. Uji berat

dilakukan secara gravimetri dengan neraca analitis.

2) Tingkat kekerasan lapisan elektroplating Zn-Ni. Uji kekerasan dalam

penelitian ini mengunakan alat Mickrohardness Tester.

3) Tekstur permukaan lapisan elektroplating Zn-Ni. Tekstur permukaan

berhubungan dengan ukuran butiran deposit yang terbentuk. Karakterisasi

tekstur permukaan lapisan elektroplating Zn-Ni menggunakan mikroskop

(26)

commit to user 3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah di atas, maka rumusan

masalah yang akan diungkapkan dalam penelitian ini adalah :

a. Bagaimana pengaruh rapat arus terhadap:

1) berat lapisan elektroplating Zn-Ni?

2) tingkat kekerasan lapisan elektroplating Zn-Ni?

3) tekstur lapisan elektroplating Zn-Ni?

b. Bagaimana pengaruh aditif p-vanilin terhadap:

1) berat lapisan elektroplating Zn-Ni?

2) tingkat kekerasan lapisan elektroplating Zn-Ni?

3) tekstur lapisan elektroplating Zn-Ni?

C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui pengaruh rapat arus terhadap berat, tingkat kekerasan dan tekstur

lapisan elektroplating Zn-Ni.

2. Mengetahui pengaruh aditif p-vanilin terhadap berat, tingkat kekerasan dan

tekstur lapisan elektroplating Zn-Ni.

D. Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini dapat memberikan manfaat yaitu:

1. Secara praktis, memberikan metode alternatif tentang salah satu cara

pencegahan korosi pada besi yaitu dengan elektroplating Zn-Ni.

2. Secara teoritis, dapat memberikan informasi tentang pengaruh rapat arus dan

penggunaan aditif p-vanilin sebagai brightener dalam hal peningkatan kualitas

(27)

commit to user

Proses elektroplating merupakan teknik pengendapan (deposisi) suatu ion

logam secara elektrolisis, dimana endapan logam melekat pada suatu elektroda,

dengan tujuan untuk melindungi dan melapisi permukaan elektroda dengan sifat

dan dimensi yang berbeda (ASTM 374-96). Ion logam diperoleh dari elektrolit

maupun berasal dari pelarutan anoda logam ke dalam elektrolit. Pengendapan

terjadi pada benda kerja yang berlaku sebagai katoda. Lapisan logam yang

mengendap disebut deposit. Selama pengendapan akan terjadi reaksi kimia pada

elektroda dan larutan elektrolit, baik reaksi oksidasi maupun reduksi (Purwanto

dan Huda, 2005).

b. Prinsip kerja elektroplating

Gambar 1 menjelaskan tentang proses elektroplating. Sumber listrik arus

searah (Dirrect Current / DC) dihubungkan elektroda di dalam larutan elektrolit.

Elektroda pada kutub negatif disebut katoda sedangkan kutub positif disebut

anoda. Benda yang akan dilapisi harus bersifat konduktif dan berfungsi sebagai

katoda. Besarnya arus terbaca oleh amperemeter. Tahanan berfungsi mengatur

besarnya arus yang masuk. Sedangkan voltmeter berfungsi mengukur besarnya

beda potensial antara anoda dan katoda.

Gambar 1. Proses elektroplating

Ion

Katoda ( - ) reaksi reduksi Anoda (+) reaksi oksidasi

Bak Plating + kation migrasi ke katoda

+

(28)

commit to user

c. Faktor – faktor yang Berpengaruh pada Proses Elektroplating

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses elektroplating diantaranya

adalah:

1) Konsentrasi elektrolit

Konsentrasi elektrolit selama berlangsungnya proses elektroplating akan

mengalami perubahan terutama karena adanya perpindahan ion logam dari larutan

yang mengendap di katoda. Pada umumnya kelebihan kadar logam akan

menyebabkan menurunnya kekilapan dan kerataan lapisan. Apabila kadar logam

rendah terjadi penurunan konduktivitas sehingga proses plating menjadi lambat.

Oleh karena itu konsentrasi elektrolit perlu dijaga konstan dengan melakukan

analisis larutan secara teratur (Purwanto dan Huda, 2005).

2) Konduktivitas larutan

Konduktivitas/Daya hantar listrik larutan bergantung pada konsentrasi dan

jenis ion dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu

ion dalam larutan. Ion yang mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik yang

besar (Hendayana dkk., 1994).

L = k (A/l) …………..……… (1)

Keterangan: L adalah daya hantar listrik (mho)

A adalah luasan daerah elektroda (m2) l adalah jarak antara elektroda (m)

k adalah hantaran jenis (mho m-1) 3) Rapat arus (Current density)

Berdasarkan hukum faraday, banyaknya endapan sebanding dengan kuat

arus. Akan tetapi dalam praktek, besaran yang diperlukan untuk elektroplating

adalah rapat arus yaitu arus per satuan luas, biasanya dinyatakan dalam

Ampere/dm2 (A/dm2) atau Ampere/foot2 (A/ft2). Rapat arus dirumuskan:

………. (2)

Keterangan : J = Rapat arus (Current density) (A/dm2) I = Arus listrik (Ampere)

(29)

commit to user

Rapat arus perlu diperhatikan agar menghasilkan lapisan yang berkualitas

baik. Pada rapat arus kecil, ion mempunyai kecepatan deposisi rendah. Rapat arus

terlalu rendah menyebabkan pelepasan ion menjadi lambat. Idealnya laju

pertumbuhan deposit permulaan (initial stage deposition) lebih cepat daripada laju

pembentukan deposit baru (deposisi berikutnya) tetapi karena laju yang sangat

rendah mengakibatkan (initial stage deposition) belum sempurna sehingga seluruh

area pelapisan tidak terlapisi dengan sempurna.

Sedangkan ketika rapat arus mulai dinaikkan, akan mempercepat ion

logam membentuk inti kristal logam (nuclei) dan menyebabkan pertumbuhan

deposit permulaan (initial stage deposition) mulai mengalami peningkatan,

sehingga kemungkinan deposit menjadi lebih fine-grained (berbentuk butiran

yang bagus) (Glasstone, 1962).

Kondisi rapat arus jika terlalu tinggi, menyebabkan laju deposisi sangat

cepat dan deposit tidak mampu menata/mengarahkan diri ke posisi yang stabil,

karena deposisi permulaan belum sempurna selesai, tetapi sudah disusul deposisi

berikutnya. Sehingga pertumbuhan deposit akan berupa butiran kristal

menyebabkan tekstur menjadi kasar (Glasstone, 1962). Selain hal itu, rapat arus

yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan timbulnya panas. Akibatnya

menghasilkan deposit yang terbakar dengan ditandai warna yang menghitam

(Purwanto dan Huda, 2005). Fenomena tersebut diterangkan oleh Hukum Joule

berikut ini:

E listrik = V. I . t

E listrik = E panas (konversi energi)

E panas ~ V. I . t ………..……….. (3)

4) Tegangan listrik (voltase)

Arus listrik yang menghasilkan perubahan kimia, mengalir melalui mediun

(logam atau elektrolit). Oleh karena adanya beda potensial (tegangan listrik)

antara elektroda menyebabkan ion-ion dalam sistem bergerak ke elektroda. Agar

terjadi proses elektrolisis, diperlukan potensial listrik sekurang-kurangnya sama

dengan potensial standar dari ion yang akan direduksi. Sehingga tegangan yang

diperlukan untuk proses elektroplating tergantung dari jenis, komposisi dan

(30)

commit to user

Hubungan antara beda potensial dan arus listrik dirumuskan melalui

hukum Ohm, yaitu:

V = I x R ... (4)

Keterangan:

V = Tegangan listrik/Beda potensial (volt)

I = Arus Listrik (Ampere)

R = Tahanan (Ohm)

Sesuai dengan hukum Ohm, bila hambatan (R) yang diberikan tetap/konstan maka

besarnya beda potensial (V) sebanding dengan besarnya arus listrik (A).

Rapat arus dapat dinaikkan dengan menaikkan tegangan, akan tetapi ini

dapat menyebabkan terjadinya polarisasi dan dapat tercapainya tegangan batas.

Pada keadaan tegangan batas, tidak terjadi aliran arus melalui elektrolit, dan bila

tegangan dinaikkan atau akan terjadi potensial lebih (over potensial) yang

menyebabkan terjadinya elektrolisis air yang menghasilkan gas hidrogen dan

oksigen (Hiskia, 1992).

5) Waktu elektrolisa

Berdasarkan hukum faraday I:

……… (5) Berat lapisan elektroplating (w) berbanding linier dengan waktu elektrolisa (t).

Semakin lama waktu elektrolisa makin banyak endapan yang terbentuk.

6) Jarak Anoda – katoda

Jarak anoda – katoda menentukan hantaran arus listrik dan sangat

berpengaruh terhadap keseragaman tebal lapisan. Besarnya konduktivitas

berbanding terbalik dengan jarak anoda dan katoda, lihat rumus (1). Apabila jarak

anoda-katoda kecil, maka konduktifitas besar dan hambatan mejadi kecil. karena

konduktifitas (L) berbanding terbalik dengan hambatan (R) (Dogra, 1990).

(31)

commit to user 7) Temperatur

Temperatur berpengaruh terhadap konduktivitas. Temperatur semakin

tinggi menyebabkan konduktivitas larutan makin besar sehingga mempercepat

hantaran arus listrik. Temperatur yang terlalu tinggi dapat menyebabkan endapan

terbakar dan terjadi kerusakan aditif (Purwanto dan Huda, 2005).

d. Elektroplating Zn-Ni

Teknologi coating alloy elektroplating Zn-Ni dikembangkan sebagai

pengganti untuk elektroplating Cd (Kadmium). Hal ini karena logam Cd bersifat

racun, berbahaya untuk kesehatan, dan menyebabkan pencemaran lingkungan

selain itu juga memiliki biaya operasional yang tinggi (Zaki and Budman, 1991).

Penelitian dan pengembangan produk elektroplating Zn, telah difokuskan

pada pengembangan coating alloy (lapisan paduan logam) yang mengandung

sejumlah kecil unsur lain, seperti Fe, Co, Sn dan Ni. Dimasukkannya unsur lain ke

dalam komposisi lapisan elektroplating Zn akan memodifikasi potensial reduksi

alloy tersebut. Karena paduan ini secara elektrokimia berdasarkan nilai potensial

reduksi lebih mulia dari seng (Wynn et al., 2001). Sebagai contoh adalah

potensial reduksi alloy Zn-Ni mengalami kenaikan bila dibandingkan potensial Zn

ditunjukkan pada Gambar 2.

(32)

commit to user

Proses coating alloy juga akan mengakibatkan perubahan sifat fisik,

mekanik, dan sifat teknologi suatu material. Salah satu contoh perubahan fisik

ketika material dilapis dengan nikel adalah bertambahnya daya tahan material

tersebut terhadap korosi, serta bertambahnya kapasitas konduktifitasnya. Adapun

dalam sifat mekanik, terjadi perubahan kekuatan tarik maupun tekan/kekerasan

dari suatu material sesudah mengalami pelapisan dibandingkan sebelumnya

(Hariyanti, 2007).

2. Elektrolisis

Istilah elektrolisis berasal dari Yunani yaitu: electro artinya sifat mengenai

listrik dan lysis artinya terurai. Pada elektrolisis oleh energi listrik zat-zat dapat

terurai. Alat tempat berlangsungnya elektrolisis disebut sel elektrolisis. Dalam sel

ini terdapat:

a) Elektroda adalah penghantar tempat listrik masuk ke dalam dan ke luar dari

zat – zat yang bereaksi.

b) Perpindahan elektron antara elektroda dan zat-zat dalam sel menghasilkan

reaksi terjadi pada permukaan elektroda.

c) Zat-zat yang dapat dielektrolisi, adalah leburan ion dan larutan yang

mengandung zat terlarut.

Pada anoda terjadi reaksi oksidasi, yaitu anion (ion negatif) ditarik oleh

anoda dan jumlah elektronnya berkurang sehingga bilangan oksidasinya

bertambah. Reaksi di anode tergantung pada jenis anoda dan anion (Romdhoni,

2010).

1) Anode inert (Karbon (C), Platina (Pt), Emas (Au))

a) Ion sisa asam yang mengandung oksigen (misalnya NO3-, SO42-, PO43-)

tidak mengalami oksidasi, tetapi yang teroksidasi adalah air. Reaksinya:

Anode (+) : 2H2O ( l ) → 4H+ (aq) + O2 (g) + 4e

-b) Ion sisa asam yang lain (Contoh: Cl-, Br- ,I-) akan teroksidasi Anode (+) : 2Cl- (aq) → Cl2 (g) + 2e-

(33)

commit to user

c) Ion OH- dioksidasi menjadi H2O dan O2. Reaksinya

Anode (+) :4OH- (aq) → 2H2O ( l ) + O2 (g) + 4e

-2) Anoda tak inert (contoh: Ag, Cu, Zn) akan teroksidasi. Reaksinya:

Anode (+) : Ag (s) → Ag+ (aq) + e- Anode (+) : Cu (s) → Cu2+(aq) + 2e -Anode (+) : Zn (s) → Zn2+ (aq) + 2e

-Sedangkan pada katoda terjadi reaksi reduksi, yaitu kation (ion positif)

ditarik oleh katoda dan menerima tambahan elektron, sehingga bilangan

oksidasinya berkurang. Reaksi di katode tergantung pada jenis kation (ion logam)

(Romdhoni, 2010).

1) Kation logam golongan alkali IA (Li+, Na+, K+), alkali tanah IIA (Mg2+, Ca2+, Sr2+, Ba2+), Al3+ dan Mn2+ tidak tereduksi, tetapi air yang mengalami reduksi. Katode (-) : 2H2O (aq) + 2e-→ H2 (g) + 2OH- (aq)

2) Kation logam lain (misalnya: Ag+, Zn2+, Ni2+dan lainnya) mengalami reduksi. Katode (-) : Ag+ (aq) + e-→ Ag (s)

Katode (-) : Zn2+(aq) + 2e-→ Zn (s) Katode (-) : Ni2+ (aq) + 2e-→ Ni (s) 3) Ion H+ direduksi menjadi H2. Reaksinya:

2H+ (aq) + 2e-→ H2 (g)

Elektroplating Zn-Ni merupakan reaksi elektrolisis. Berdasarkan teori

diatas dapat dituliskan reaksi yang terjadi yaitu:

Elektrolisis larutan Zn dan Ni dengan elektroda Pt, reaksinya:

Katoda (reduksi) : 2 Zn2+ (aq) + 4e- → 2 Zn (s) 2 Ni2+ (aq) + 4e- → 2 Ni (s) 4 H+ (aq) + 4e- → 2 H2(g)

Anoda (Oksidasi) : 6 H2O (l) → 12 H+ (aq) + 3 O2 (g) + 12 e-

——————————————————————————————— + Reaksi redoks total:

(34)

commit to user

3. Teori Proses Deposisi Logam Secara Elektrolisis

Elektroplating sering juga disebut dengan istilah elektrodeposisi

(electrodeposition), bentuk singkatan dari electrolytic deposition. Proses tersebut

menggunakan arus listrik untuk mereduksi ion logam dari larutan dan dilapiskan

pada suatu material substrat.

Reaksi yang terjadi, di dalam praktek elektrodeposisi tidaklah sederhana,

melainkan lebih rumit. Terdapat tiga buah pembagian zona, yang dibedakan

berdasarkan jarak zona dengan katoda seperti terlihat pada Gambar 3 yaitu: Zona

(A) disebut sebagai Helmholtz layer berada pada batas antar muka dengan katoda.

Zona (B) disebut sebagai Difusion layer jarak dari katoda lebih jauh daripada

Helmholtz layer. Zona (C) disebut sebagai Bulk solution (fase ruah/elektrolit).

Pada zona difusi, pergerakan ion dipengaruhi oleh perbedaan kepekatan

konsentrasi ion antara zona Helmholtz dan zona elektrolit

(http://electrochem.cwru.edu/ed/encycl/art-e01-electroplat.htm).

Gambar 3. Zona (A) Helmholtz layer; (B) Difusion layer dan (C) Bulk solution (fase ruah/elektrolit)

Proses pergerakan (deposisi) ion logam ke katoda di bawah pengaruh arus

(yang diberikan). Penjelasan mekanisme proses deposisi ion logam ke katoda

(35)

commit to user

Gambar 4. Mekanisme proses elektrodeposisi ion logam

Keterangan Penjelasan Gambar 4:

1) Ion-ion logam dalam larutan elektrolit merupakan hydrate-cation artinya ion

logam ter-solvasi oleh molekul air. Hydrate-cation di dalam larutan

bermigrasi dari zona fase ruwah (bulk) memasuki zona double layer (gouy

chapman layer). Proses ini disebut dengan istilah mass transfer, yang

dipengaruhi oleh 3 faktor: arus (gaya elektrostatik), difusi konsentrasi, dan

konveksi (misal: jika diberi perlakuan pengadukan).

2) Ketika hydrate-cation memasuki zona helmholtz layer, molekul air dari

hydrate-cation tersebut mulai terdistorsi oleh elektron dari permukaan katoda

dan terdekomposisi (terlepas) dari kation.

3) Ion logam (kation) yang telah kehilangan molekul airnya (dehydrated cation)

siap menerima elektron untuk dinetralkan/direduksi membentuk atom logam

dan selanjutnya teradsorp pada permukaan katoda.

4) Molekul air terbebas dari stuktur kompleks hydrate, Sedangkan atom/kristal

logam yang teradsorp kemudian menuju titik pertumbuhan pada permukaan

katoda (Lower, 2004).

4. Aditif Brightener

Aditif brightener merupakan bahan tambahan dengan jumlah kecil

dimaksudkan untuk mengatur pertumbuhan kristal sehingga diperoleh hasil

(36)

commit to user

dan Huda, 2005). Bahan aditif brightener ditambahkan dalam jumlah yang sangat

kecil antara 100 µM sampai 10 mM, namun mampu meningkatkan kualitas

deposit yaitu: menghasilkan deposit mikrokrsital yang lembut dan butiran yang

tidak kasat (fine-grained). Aditif brightener umumnya berupa senyawa organik

yang bekerja pada rentang temperature tertentu dan dapat rusak selama proses

berlangsung (Kim et al., 2004).

Fungsi dari aditif brightener adalah mengatur pertumbuhan kristal

(deposit) yaitu dengan cara menghambat laju deposisi dari ion logam (Purwanto

dan Huda, 2005). Mekanisme yang dipercayai untuk menjelaskan prinsip

brightener adalah dengan pengompleksan ion logam, yaitu dengan menambahkan

ligan yang berikatan koordinasi dengan ion logam. Penjelasan tentang aditif

brightener menghambat laju deposisi ion logam, dapat dijelaskan berdasarkan

teori elektrodeposisi (Gambar 4). Ketika senyawa aditif (ligan) dengan struktur

yang lebih besar dari hydrate (misal: p-vanilin) ditambahkan dalam larutan

elektrolit, jumlah hydrate-cation akan berkurang karena terbentuk kompleks

vanilin-cation. Mekanisme aditif brightener pada proses elektrodeposisi sebagai

berikut:

a. Kompleks vanilin-cation (aditif) dapat mengalami reaksi reduksi. Reaksi

reduksi pada senyawa kompleks akan mengkibatkan jarak ikatan, sudut ikatan

antara logam dengan unsur yang terkoordinasi berubah dan pada saat tertentu

keseluruhan struktur kompleks dapat terdistorsi atau bahkan senyawanya dapat

terdekomposisi (Takeuci, 2006). Mekanisme reduksi kompleks vanilin-cation

sama seperti mekanisme reduksi pada hydrate-cation (lihat Gambar 4), tetapi

karena secara struktural molekul kompleks vanilin-cation (aditif) lebih besar

daripada molekul hydrate-cation mengakibatkan laju deposisi vanilin-cation

(aditif) lebih lambat.

b. Komplek vanilin-cation (aditif), menghalangi proses deposisi hydrate-cation.

Karena hydrate-cation mendapatkan rintangan/halangan sterik dari kompleks

vanilin-cation (aditif) mengakibatkan menurunnya laju deposisi dari

(37)

commit to user

Ketika pergerakan deposisi ion logam menjadi lambat (tidak terlalu cepat),

akan dihasilkan deposit yang teratur dan penuh (close packed), karena deposit

memiliki waktu rileks dan memungkinkan deposit menata/mengarahkan diri ke

titik-titik pertumbuhan pada permukaan katoda. Dengan kata lain, adanya

senyawa aditif berfungsi menghambat laju deposisi ion logam untuk

memproduksi kristal kecil (fine grain) dan lembut (smooth), sehingga dihasilkan

lapisan yang terlihat cerah.

.

5. p-Vanilin

Vanilin secara umum digunakan sebagai bahan-bahan/agen pemberi rasa

dan aroma (flavor) dalam industri makanan, minuman dan farmasi (Widayanti,

2002). p-Vanilin atau (4-hydroxy-3-methoxybenzaldehyde), merupakan senyawa

organik dengan rumus molekul C8H8O3 dan berat molekul 152,15 g/mol.

p-Vanillin mudah larut dalam air, dengan tingkat kelarutan 1 g/100ml air (pada suhu

25 oC). p-Vanilin memiliki kelompok gugus fungsional meliputi aldehida, eter, dan fenol (Wikipedia). Struktur p-vanilin dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Struktur p-vanilin (4-hydroxy-3-methoxybenzaldehyde)

Struktur p-vanilin mempunyai beberapa atom donor elektron, yaitu O pada

gugus ›C=O, C–O–C dan –O-H serta elektron π yang terdelokalisasi (awan

elektron) pada cincin benzena. Apabila p-vanilin ditambahkan dalam larutan

elektrolit Zn-Ni, dengan adanya atom donor elektron pada gugus vanilin

(38)

commit to user

Kozlevčar et al. (2004) telah melakukan sintesa kompleks dengan p-vanilin sebagai ligan dengan atom pusatnya adalah ion Cu2+. Hasil struktur kompleks Cu(II) vanilin disajikan dalam Gambar 6.

Gambar 6. Kompleks Cu(II) vanilin (Kozlevčar et al., 2004)

6. Analisa

a. Berat Lapisan Elektroplating Zn-Ni

Berat lapisan elektroplating Zn-Ni merupakan berat total endapan logam

Zn dan Ni pada katoda. Apabila elektoplating hanya satu macam logam,

hubungan antara banyaknya logam yang mengendap pada katoda dengan arus

listrik yang dialirkan digunakan dalam proses elektroplating berdasarkan Hukum

Faraday yaitu:

1) Pada elektrolit zat yang diendapkan berbanding lurus dengan waktu dan arus

listrik.

2) Jumlah arus listrik yang sama akan membebaskan sejumlah zat pada elektroda

Hukum Faraday I dirumuskan :

………..………..………….. (7)

Untuk elektroplating 2 logam, misal Zn dan Ni karena dilakukan secara

bersamaan maka arus yang dialirkan digunakan untuk mereduksi kedua logam Zn

dan Ni, sehingga arus yang dialirkan berhubungan dengan aktifitas ion dari

masing – masing logam Zn dan Ni.

(39)

commit to user

………...………(9)

= + …..…..(10)

Keterangan:

W = Berat logam yang diendapkan (gram)

e = (Ar/n) atau ( berat atom logam/elektron valensi logam)

= aktivitas ion logam

i = Arus listrik (Ampere)

t = waktu elektrolisa (detik)

n = elektron valensi logam

F = Bilangan Faraday ( 96487)

Secara teknis, berat lapisan elektroplating Zn-Ni dihitung dengan cara

sebagai berikut :

∆W = W1 - W0 ... (11)

Keterangan W0 = berat substrat besi sebelum elektroplating Zn-Ni

W1 = berat substrat besi setelah elektroplating Zn-Ni

W = berat lapisan elektroplating Zn-Ni

b. Uji kekerasan

Kekerasan (Hardness) adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical

properties) dari suatu material. Kekerasan didefinisikan sebagai kemampuan

suatu material untuk menahan beban identasi atau penetrasi (penekanan). Uji

kekerasan dengan cara indentansi terdapat beberapa metode yang sering

digunakan yaitu : metode Brinnel, metode Rockwell dan metode Vickers. Untuk

mengetahui tingkat kekerasan lapisan elektroplating Zn-Ni digunakan uji

kekerasan metode Vickers. Alat Uji kekerasan Vickers pada Gambar 7a Uji

kekerasan Vickers menggunakan indentor berbentuk piramida dari bahan intan

(40)

commit to user

a. b.

Gambar 7.a Alat uji kekerasan vickers b Indentor piramid vickers

Harga kekerasan vickers sebanding dengan berat beban indentor (p) dibagi

luas permukaan bidang jejak yang diindentasi. Dirumuskan :

( )

2 2

854 , 1 2 2

d p d

Sin p

VHN = =

q

………(12)

Keterangan:

VHN = Vickers Hardness Number (angka kekerasan vickers) (Kg/mm2) p = Beban indentor yang diberikan (Kg)

d = Panjang diagonal jejak indentor (mm)

θ = Sudut puncak piramida indentor (136O)

Hasil jejek indentasi pada permukaan lapisan material berbentuk segi

empat seperti pada Gambar 8.

Gambar 8. Jejak indentor vickers

Indentansi sempurna akan berbentuk bujur sangkar sempurna seperti pada

Gambar 9a. Kelainan dapat juga terjadi yaitu bentuk bujur sangkar cekung

kedalam Gambar 9b, hal ini disebabkan oleh penyusutan logam ke dalam

permukaan datar dari piramid indentor dan mengakibatkan pengukuran diagonal

yang terlalu panjang (over estimate). Kelainan yang lain adalah bentuk bujur

(41)

commit to user

mengakibatkan pengukuran lebih pendek harga kekerasan meningkat. Uji

kekerasan vickers dapat dilakukan pada logam dengan kekerasan yang lunak

hingga logam yang paling keras yaitu pada 5 – 1500 VHN (Anggara, 2007).

.

a b c Gambar 9. Jenis Jejak Indentor Vickers

Nilai kekerasan beberapa logam dengan 2 macam tipe pembuatan yaitu

secara metalurgi dan elektrodeposisi tersaji dalam Tabel 1. Semakin tinggi angka

kekerasan vikers (VHN) menunjukkan logam semakin keras (Hariyanti, 2007).

Tabel 1. Nilai Kekerasan Vikers Beberapa Logam

No. Logam Nilai Kekerasan vikers (VHN) (Kg/mm2)

Lapisan elektroplating Zn-Ni disusun dari deposit Zn dan Ni membentuk

suatu sistem kristal logam. Kisi kristal logam terdiri atas atom logam yang terikat

dengan ikatan logam. Elektron valensi dalam atom logam mudah dikeluarkan

(karena energi ionisasinya yang kecil) menghasilkan kation. Bila dua atom logam

saling mendekat, orbital atom terluarnya akan tumpang tindih membentuk orbital

molekul. Bila atom ketiga mendekati kedua atom tersebut, interaksi antar

orbitalnya terjadi dan orbital molekul baru terbentuk. Jadi, sejumlah besar orbital

molekul akan terbentuk oleh sejumlah besar atom logam dan orbital molekul yang

dihasilkan akan tersebar di tiga dimensi. Karena orbital atom bertumpangtindih

(42)

commit to user

oleh banyak atom lain. Elektron semacam ini tidak harus dimiliki oleh atom

tertentu, tetapi akan bergerak bebas dalam kisi yang dibentuk oleh atom-atom ini.

Jadi, elektron-elektron ini disebut dengan elektron bebas (Takeuci, 2006).

Metode yang digunakan untuk menganalisis zat padat berupa kristal secara

kualitatif dan kuantitatif adalah XRD atau difraksi sinar X. Analisa XRD

merupakan metode analisa non-destruktif artinya tidak merusak atau mengubah

bahan yang akan dianalisa.

Difraksi sinar-X terjadi dalam suatu zat, bila jarak antar

partikel-partikelnya yang tersusun teratur dan panjang gelombang cahaya yang digunakan

sebanding. Gelombang terdifraksi akan saling menguatkan bila gelombangnya

sefasa, tetapi akan saling meniadakan bila tidak sefasa. Bila Kristal dikenai

sinar-X monokromatis, akan diperoleh pola difraksi. Pola difraksi ini bergantung pada

jarak antar titik kisi yang menentukan apakah gelombang akan saling menguatkan

atau meniadakan.

Gambar 10. Kondisi difraksi Bragg.

Andaikan panjang gelombang sinar-X adalah λ (Gambar 10). Bila selisih

antara lintasan optik sinar-X yang direfleksikan oleh atom di lapisan pertama dan

oleh atom yang ada di lapisan kedua adalah xy + yz = 2d sinθ, sama dengan

kelipatan bulat panjang gelombang maka gelombang-gelombang itu akan saling

menguatkan dan menghasilkan pola difraksi. Intensitas pola difraksi akan

memberikan maksimum bila:

nλ = 2dsinθ ……….. (11)

Persamaan ini disebut dengan kondisi Bragg

Keterangan : d = Jarak interplanar (titik kisi)

l = Panjang gelombang logam standar

(43)

commit to user

Nilai d spasing tidak dapat digunakan untuk menentukan jarak interatom

dari suatu molekul, namun dapat digunakan untuk merefleksikan jarak interplanar

atau jarak interlayer antar kisi-kisi atom dalam suatu material. Pengaturan

atom-atom tersebut dapat diinterpretasikan melalui analisa d spasing dari data diffraksi

sinar X. Selain nilai d spasing, observasi tingkat kristalinitas bahan dan perubahan

struktur dapat pula diketahui melalui data diffraksi sinar X. Puncak yang melebar

menunjukkan kristalinitas rendah (amorf), sedangkan puncak yang meruncing

menunjukkan kristalinitas yang lebih baik (Takeuci, 2006).

Identifikasi senyawa yang terdapat dalam sampel dilakukan dengan cara

membandingkan puncak – puncak difraksi sampel dengan puncak difraksi standar

hasil konversi dari data JCPDS (Joint Committe on Powder Diffraction Standars).

B. Kerangka Pemikiran

Elektroplating Zn-Ni merupakan sel elektrolisis dimana energi listrik

digunakan untuk berlangsungnya suatu reaksi kimia (Dogra, 1990). Dengan

diberikannya aliran arus searah dengan potensial (voltase) luar yang melebihi

potensial deposisi (E deposisi) dari ion Zn dan Ni dalam larutan elektrolit, maka

akan terjadi transfer elektron yang mengakibatkan terjadinya reaksi redoks.

Reaksi reduksi pada terjadi katoda dan reaksi oksidasi terjadi pada anoda. Reaksi

yang terjadi dalam elektroplating Zn-Ni adalah:

Katoda (reduksi) : Zn2+(aq) + 4e- → 2 Zn (s) Ni2+ (aq) + 4e- → 2 Ni (s) 2 H+ (aq) + 4e- → H2( g)

Anoda (Oksidasi): 2 H2O (l) → 4 H+ (aq) + O2 (g) + 4 e

-Hubungan arus listrik (i) dan berat endapan elektrolisis (W) dirumuskan

oleh Faraday yaitu:

W=eit/F

Untuk waktu elektrolisis yang sama (ditetapkan), berat endapan elektrolisis (W)

berbanding linier terhadap arus listrik (i). Semakin besar arus listrik maka berat

(44)

commit to user

sebanding dengan arus listrik (i) karena luas bidang pelapisan (A) sama, sehingga

semakin besar rapat arus (J) maka berat endapan elektrolisis (W) akan semakin

besar.

Rapat arus berhubungan dengan laju deposisi ion Zn2+ dan Ni2+ dan transfer elektron. Laju deposisi berpengaruh pada proses deposisi dan deposit

yang terbentuk. Rapat arus yang terlalu kecil menyebabkan transfer elektron

sedikit dan laju deposisi ion lambat, mengakibatkan pertumbuhan deposit belum

sempurna melapisi seluruh luas bidang pelapisan. Sedangkan untuk rapat arus

yang terlalu tinggi menyebabkan transfer electron banyak dan laju deposisi sangat

cepat. Transfer elektron yang besar menyebabkan ion logam yang terdeposisi

semakin banyak. Laju deposisi yang cepat menyebabkan deposit tidak mampu

menata/mengarahkan diri ke posisi yang stabil sehingga pertumbuhan depositnya

menghasilkan susunan yang tidak teratur, tidak penuh (non-packed) dan berupa

deposit dengan butiran besar (bergerombol).

Rapat arus yang tinggi juga mengakibatkan terbentuknya gas H2 (hasil

reaksi reduksi ion H+) semakin banyak. Apabila Gas H2 teradsorp pada

permukaan lapisan elektroplating Zn-Ni maka akan menghasilkan pori (lubang)

dan menyebabkan lapisan tidak rata. Adanya pori tersebut menghasilkan lapisan

yang rapuh. Fenomena ini disebut sebagai kerapuhan hidrogen (hydrogen

embritlemen) (Purnawan, 2003). Rapat arus tinggi juga dapat menyebabkan

timbulnya panas dan mengakibatkan deposit menjadi kusam dengan ditandai

warna yang menghitam (Purwanto dan Huda, 2005).

Kaitannya dalam penelitian ini, Pengaruh rapat arus terhadap kualitas

lapisan elektroplating Zn-Ni ditinjau dari aspek karakter berat, nilai kekerasan dan

tekstur lapisan elektroplating Zn-Ni adalah sebagai berikut:

a) Semakin besar rapat arus menghasilkan berat lapisan elektroplating Zn-Ni

yang semakin besar. Akan tetapi, pada rapat arus yang besar lapisan yang

dihasilkan kemungkinan rapuh dan ikatan antar deposit kurang kuat sehingga

dimungkinkan pada rapat arus yang tinggi akan terjadi penurunan berat

(45)

commit to user

b) Kekerasan suatu material berhubungan dengan keteraturan penataan atom dan

jenis atom penyusunnya. Dalam proses deposisi, susunan deposit yang teratur

dan penuh (close-paked) akan menghasilkan lapisan yang keras. Semakin

cepat penyusunan suatu sistem akan menghasilkan sesuatu yang tidak teratur.

Semakin besar rapat arus menghasilkan susunan deposit yang tidak teratur

dan tidak penuh (non-packed). Hal ini akan mengakibatkan semakin

menurunnya tingkat kekerasan lapisan elektroplating Zn-Ni. Rapat arus yang

menghasilkan lapisan elektroplating Zn-Ni dengan nilai kekerasan tertinggi di

duga adalah pada rapat arus rendah.

c) Tekstur permukaan berhubungan dengan orientasi penataan deposit dan

ukuran deposit. Semakin besar rapat arus maka laju deposisi semakin besar,

menghasilkan pertumbuhan deposit yang tidak teratur dan berupa deposit

dengan butiran besar (bergerombol). Semakin tinggi rapat arus akan

mengakibatkan tekstur menjadi kasar. Rapat arus yang menghasilkan tekstur

lapisan elektroplating Zn-Ni paling halus di duga adalah pada rapat arus

rendah.

Variasi rapat arus pada proses elektroplating Zn-Ni akan memberikan

pengaruh terhadap berat, tekstur dan nilai kekerasan dimana pada rapat arus

tertentu, akan diperoleh berat, tekstur dan nilai kekerasan optimum. Berdasarkan

penelitian sebelumnya, rapat arus optimum pada 0,4 A/dm2 karena pada rapat arus yang lebih besar terbentuk lapisan yang kusam dan rapuh (Shivakumara et al.,

2004). Lapisan elektroplating Zn-Ni dengan kualitas yang baik adalah lapisan

yang telah melapisi seluruh area substrat, dengan tekstur yang halus dan tingkat

kekerasan yang tinggi.

Salah satu upaya meningkatkan kualitas lapisan elektroplating Zn-Ni

adalah dengan menambahkan p-vanilin sebagai brightener dalam larutan

elektroplating Zn-Ni. Aditif brightener berfungsi untuk mengatur pertumbuhan

deposit Zn dan Ni. Mekanisme aditif brightener dalam mengatur pertumbuhan

deposit pada proses elektroplating Zn-Ni adalah dengan menghambat laju deposisi

Gambar

Gambar 2. Potensial reduksi dari alloy Zn-Ni commit to user
Gambar 3. Zona (A) Helmholtz layer; (B) Difusion layer dan
Gambar 4. Mekanisme proses elektrodeposisi ion logam
Gambar 6. Kompleks Cu(II) vanilin (Kozlevčar et al., 2004)
+7

Referensi

Dokumen terkait